Lembaran Yang Hilang Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Lembaran Yang Hilang Part 5

Start Lembaran Yang Hilang Part 5 | Lembaran Yang Hilang Part 5 Start

MENINGGALKAN RUMAH​

—-POV WINRY—-

Tubuhku yang letih membutuhkan penyegaran. Selesai mandi kuambil novel berjudul Deception Point di rak. Kemudian beranjak ke atas tempat tidur dan memposisikan tubuhku senyaman mungkin dengan duduk bersandar di kepala ranjang, menarik selimut panjang menutupi sebagian besar tubuhku lalu melanjutkan membaca novel karya Dan Brown ini.

Beberapa menit membolak balikan lembar demi lembar halaman novel tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku begitu kaget saat pintu itu terbuka. Astaga aku lupa mengunci pintu kamarku lagi, pikirku. Kukira Bi Tati yang masuk, tapi aku salah. Ternyata Dion yang merupakan kakak tiriku tiba-tiba masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ataupun memberi peringatan kalau dia akan masuk. Aku sedikit kesal dengannya, bagaimana jika dia masuk saat aku sedang ganti pakaian?.

Kalau boleh jujur aku tidak begitu dekat dengannya. Dia juga tidak begitu dekat dengan Mama, walaupun mama tetap berusaha baik kepadanya. Aku berpikir kalau sebenarnya dia tidak setuju papanya menikah dengan mamaku.

“What?” Tanyaku padanya saat dia duduk di tepian ranjang di sebelahku. Aku tidak perlu berbasa basi denganya atau tanya baik-baik maksud kedatangannya. Karena dia juga tidak ada itikad baik masuk ke dalam kamar seorang cewek. Dia masih diam sambil menatapku.

Tanpa menjelaskan maksud kedatangannya, tiba-tiba dia mengusap rambutku dengan tangannya. Aku yang tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan langsung menepis tanganya itu.

“Apa-apaan sih?” bentakku padanya. Sekilas aku merasakan aroma alkohol saat tangannya mengusap rambutku.

Kemudian dia membuatku terkejut dan begitu ketakutan saat tiba-tiba dia membekap mulutku dengan tangannya yang besar itu. Lalu dengan cepat dia naik ke atas ranjang dan merangkak di atas tubuhku kemudian menindihku. Aku meronta, aku berusaha mendorong tubuhnya tapi tanganku yang kecil tidak akan bisa mendorong tubuhnya yang lebih besar dari tubuhku.

Tangannya yang lain mulai mengusap dan menekan payudaraku lalu tangannya itu menyusup melalui bagian bawah kaosku. Aku bisa merasakan telapak tangannya mengusap kulit perutku lalu disana tangannya menyentuh dan meremas dengan kuat bra yang menutupi payudaraku. Aku semakin ketakutan dengan semua yang dia lakukan, aku tidak bisa meronta ataupun berteriak meminta pertolongan.

Tangannya yang besar meremas dengan kuat payudaraku yang kecil sesekali mencubit ujung payudaraku dengan kasar. Ahhhh rasanya sakit sekali. Kemudian dia melepaskan dekapan tangannya di mulutku, dan berusaha mengecap bibirku dengan sangat rakus. Beberapa kali aku bisa menghindari bibirnya, namun pada akhirnya dia berhasil mendaratkan mulutnya tepat di mulutku.

Dion semakin menggila saat berhasil mendapatkan bibirku dengan mengecap setiap sudut bibirku dengan ganas. Kurasakan dia sedang berusaha memasukkan lidahnya, tapi aku berusaha menutup bibirku rapat-rapat. Tidak berhasil memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, Dion yang seperti sedang kerasukan iblis itu kini berusaha menarik celana pendek yang kupakai sampai ke bawah kaki. Sementara aku hanya terdiam lemas melihat dia sedang berusaha menanggalkan celanaku. Aku ingin mencegahnya tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.

Kenapa aku diam saja ? Aku seperti tidak bisa menggerakkan tangan ataupun seluruh tubuhku lagi, padahal tadi aku berusaha sekuat tenaga berontak agar bisa lepas dari cengkramannya. Kenapa? aku tidak menginkan ini.

Melihat tidak ada perlawanan dariku, lalu dengan mudahnya dia melucuti satu persatu pakaian dan bra yang menutupi payudaraku. Kini aku sudah setengah telanjang di atas tempat tidur hanya menyisakan celana dalam menutupi bagian paling sensitif dari tubuhku, diatas tubuhku Dion menatap tubuh telanjangku liar seperti serigala yang akan memangsa buruannya. Dan aku masih tidak bisa menggerakkan tubuhku, bahkan aku tidak bisa mencegah saat Dion mulai melumat satu persatu ujung payudaraku secara bergantian.

“engnghhhhh ahhh”

Aku mendesis dan mengerang ketika merasakan lidahnya yang basah memainkan puting payudaraku. Aku semakin kebingungan, kenapa aku bisa mengerang tapi aku tidak bisa meminta pertolongan atau melakukan perlawanan?. Seolah tubuhku memang mengingkan ini, menerima apapun yang dilakukan Dion pada tubuhku padahal pikiranku sama sekali tidak mengharapkannya. Puas menjilati payudaraku, Dion mengarahkan wajahnya ke wajahku lagi lalu mencium bibirku, bahkan tanganku dengan sendirinya membimbing wajahnya itu untuk mencium bibirku. Kami berciuman sangat panas, saling menghisap dan melumat bibir satu sama lain. Rasanya, ahh aku tidak mau merasakan bibirnya, plisss stopppp. Kuraskan Dion menekan nekan tubuhnya yang kekar ke tubuhku dengan begitu antusias yang merupakan sebuah sinyal kuat kalau dia sangat ingin menyetubuhiku.

Beberapa menit kemudian setelah puas berciuman Dion menegakkan badannya lalu melucuti satu satunya kain yang masih menutupi tubuhku. Kemudian dia melebarkan kakiku dengan kedua tangannya lalu menatap milikku begitu intens dan tersenyum senang seperti telah menemukan harta karun yang sangat berharga. Kemudian dengan cepat dia mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya.

Aku tau apa yang dia akan lakukan kepadaku, dan itu membuatku begitu takut tapi aku tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegahnya. Aku ingin menangis tapi tidak setetespun air keluar dari mataku. Aku sempat berpikir kenapa dia nekat melakukan ini kepadaku? Meskipun aku bukan saudara kandungnya. Kenapa dia dengan mudahnya melakukan hal se-sakral ini kepada sembarang orang? Apakah karena alkohol? Atau memang sudah insting seorang cowok yang ingin segera mendapatkan kepuasan kapanpun mereka sedang bergairah? Walaupun dengan cara paksa seperti yang akan Dion lakukan kepadaku. Tapi tubuhku tidak merasa dipaksa olehnya, rasanya seperti tubuhku daritadi sangat menikmati segala yang dilakukan Dion pada tubuhku bahkan kurasakan basah diantara pangkal pahaku akibat rangsangan yang daritadi dia lancarkan pada tubuhku.

Aku menikmatinya? Aku menginginkannya? Aku mengharpakan dia untuk… … TIDAKKKKK, AKU MASIH BELUM INGIN MELAKUKANNYA. APALAGI DENGAN COWOK SEPERTI DIA. Aku berteriak di dalam hati, kemudian memejamkan mataku saat Dion baru saja selesai melepaskan semua pakaiannya. Kurasakan tangan Dion menyentuh kedua pahaku untuk membuka kakiku lebar-lebar. Aku benar-benar tidak bisa menghadangnya.

Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat besar masuk dan berhasil menembus punyaku dengan sangat kasar.

“AAAAHHHHHHH SAKITTTT HENTIKAN HENTIKAN” teriakku. Aku merasakan sakit yang teramat sakit pada punyaku. Pertama kalinya aku merasakan sakit yang begitu luar biasa pada tubuhku. Rasanya seperti sedang dikuliti hidup-hidup. Aku sampai mencengkaram sprei dengan kuat.

“AHHHHHHHHHH PLEASEEE STOPPPPPP SAKITTTTT”

“Fuckkk sempit banget. kamu masih perawan?, kenapa gak dari dulu aku menikmati tubuhmu.” Ucap Dion. Aku melihat darah segar keluar dari area kewanitaanku.

“Hentikan please, kamu menyakitiku” pintaku.

“Menghentikan kenikmatan ini? aku akan menghentikannya setelah kamu melayaniku berkali-kali malam ini sampai aku bosan, aku tidak peduli dengan rasa sakit yang kamu rasakan,” Astaga. Kenapa dia sejahat ini kepadaku? Dia tidak hanya menyiksa tubuhku, tapi juga menyiksa batinku.

Saat aku sedang merasakan sakit yang luar biasa pada area kewanitaanku, Dion semakin kesetanan menghentak tubuh kecilku dengan tubuhnya yang besar sambil melenguh merasakan nikmatnya penetrasi yang kata kata orang adalah surga Dunia.

Dion semakin menyikasku dengan menggerakkan penisnya dengan cepat tanpa ampun. Membuatku semakin merasakan sakit dan perih menjadi satu, rasanya sampai mau pingsan. Tubuhku yang daritadi tak bisa kugerakkan kini semakin melemah akibat merasakan sakit di satu titik bagian tubuhku.

MAMAA TOLONGGG. Ucapku dalam hati.

Seperti sebuah aliran listrik yang mengaliri tubuhku, aku bisa merasakan kendali atas tubuhku lagi. Aku melihat novel yang tadi kubaca diatas tempat tidur. Segera kuraih dan kupukulkan buku novel setebal 556 halaman itu ke kepalanya Dion. Dia langsung merasakan kesakitan di kepalanya, walapun rasa sakitnya tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang baru saja kualami.

“Bangsatt” Umpatnya,

Kemudian kudorong tubuhnya dengan kuat sampai dia terdorong kebelakang. Kugunakan kesempatan ini untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi karena sakit yang kurasakan di pangkal pahaku, aku tidak bisa langsung berdiri dan berlari begitu saja. Aku hanya bisa merangkak di atas tempat tidur bermaksud untuk turun. Namun saat sedang berusaha merangkak turun sampai ke tepi ranjang, dari belakang Dion mencengkram kakiku seperti serigala yang tidak ingin kehilangan buruannya. Kurasakan perih di pergelangan kakiku karena cengkaramannya itu sangat kuat. Tubuhku terhempas tengkurap diatas ranjang, kemudian dia membalikkan tubuhku dan bersiap untuk menindihku lagi. Amarah Dion terlihat begitu jelas, bahkan kedua matanya berubah menjadi merah menyala. Astaga, Aku semakin bingung dan ketakutan melihat wajahnya yang menyeramkan. Dia terlihat seperti monster.

Sebelum dia mendekapku lagi, kutahan tubuhnya dengan kedua telapak kaki dan kudorong sekuat mungkin tubuhnya sampai dia terhempas ke belakang. Kudengar teriakan yang sangat menyeramkan ketika tubuhnya terhempas. Bersamaan dengan itu tubuhku terjatuh ke bawah tempat tidur akibat doronganku yang begitu kuat sampai aku tidak bisa menahan keseimbangan.

BRUGHHHHHH

“Auwww”

Rasa Sakit di lenganku terasa saat tubuhku terhempas ke lantai kamar. Anehnya rasa sakit yang kurasakan di pangkal pahaku hilang. Pakaian yang tadi kukenakan juga masih melekat pada tubuhku. Hah?. Kemudian dengan perlahan dan was was aku mengintip ke atas tempat tidur, tidak ada apa-apa disana. Tidak ada Dion atau monster apapun itu namanya. Di atas tempat tidur hanya ada novel yang tadi kubaca.

“Mimpi?”

Aku pasti ketiduran saat tadi sedang membaca novel. Seketika kuhempaskan tubuhku lemas diatas ranjang setelah menyadari semua kegilaan tadi hanya terjadi di mimpiku. Kemudian beranjak ke kamar mandi di dalam kamarku. Membilas beberapa kali wajahku dengan air dan memukul wajahku pelan dengan kedua telapak tanganku sambil melihat pantulan wajahku di cermin wastafel. Masih terbayang dengan mimpi yang barusan kualami.

“it just a dream, really a bad dream” ucapku lirih. Tapi Kenapa aku bisa mimpi bersetubuh dengan Dion? Sepertinya aku harus menghentikan kebiasaanku yang iseng streaming hentai, terutama yang bergenre Rape.

Astaga, tak seharusnya aku mengatakan hal semacam itu kepada kalian.

Aku tau apa yang ada di pikiran kalian setelah mengetahui rahasia kecilku. Terserah kalau kalian menilai dan menyebutku sebagai cewek mesum. Tapi yang jelas Aku bukanlah cewek sempurna. Asal kalian tahu, tak sedikit cewek yang suka nonton film porno. Miranda juga sering memaksaku untuk nonton film panas korea bersama dikamarnya.

Terkadang aku iseng streaming hentai di sela-sela menunggu proses download serial anime terbaru selesai. Dan terkadang aku sengaja streaming hentai hanya untuk merasakan sensasinya melihat adegan yang dilakukan para karakternya yang kemudian membantuku untuk. oke cukup, sepertinya aku terlalu banyak mengumbar privasiku kepada kalian. Kita harus berhenti membicarakan tentang hentai atau film dewasa, karena Aku bukan tipe orang yang suka mengumbar aib, masalah, ataupun hal-hal pribadi yang sensitif kepada orang lain. Dan Please, jangan kasih tau kepada siapapun tentang rahasia kecilku ini. Oke?

Kemudian aku kembali ke tempat tidur, waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Kuraih handphoneku diatas meja belajar disamping tempat tidur lalu kutuliskan pesan untuk seseorang.

Hai

lagi ngapain?​

Dia pasti akan membalas pesanku, karena hanya dia satu-satunya orang dunia ini yang akan membalas pesanku selarut ini. Kemudian kutaruh novel yang tadi kubaca ke tempat asalnya, mematikan lampu kamar dan kembali lagi ke atas tempat tidur. Tidur miring memeluk guling kesayanganku kemudian berusaha memejamkan mata. Dan benar saja, tak lama kemudian dia membalas pesanku, lalu kami saling berbalas pesan.

Hai

lagi ngapain?​

Hai, ini sedang nyiapin presentasi.

Can’t Sleep?

Aku baru saja terbangun

Apakah aku mengganggumu?​

senangnya jadi orang

pertama yang kamu pikirkan

Saat kamu terbangun dari tidurmu.

Sebaiknya Jangan terlalu bahagia dengan itu !!

bisa membuatmu gagal fokus,

akan menghancurkan presentasimu

Di depan dosen​

gagal fokus karena kamu?

banyak quotes mengatakan untuk

“fokus pada hal yang paling penting”

Itu yang sedang kulakukan. Cz masa depanku

tidak hanya berfokus pada karir dan pendidikan

Coba katakan hal itu kepada orang tuamu

Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka​

Wkwkwk hororr.

Btw, Apa kabar

bintang-bintang malam disana?

Masih bersinar,Tapi kali ini begitu indah

Sudah lama aku tidak melihat

Pemandangan seindah ini​

Padahal belum tentu langit malam ini sedang penuh dengan bintang. Seharusnya kubuka jendela kamarku untuk memastikannya tapi tidak kulakukan. Aku bisa menjawab pertanyaannya seperti itu karena tadi siang di kampus aku melihat bintang di balik kacamata yang dipakai Kak Rega. Terasa begitu hangat dan menenangkan saat menatapnya, keindahannya membuatku ingin berlama-lama memandangnya, perasaan yang sama kurasakan ketika aku memandang dan mengagumi Bintang. Karena telah banyak cerita yang kurangkai bersama malam dan bintang, aku begitu bahagia bisa melihatnya lagi melalui Kak Rega.

Tak terasa pikiranku melayang di keheningan kamarku yang gelap. Semakin kubenamkan wajahku pada guling di dekapanku dan memeluknya dengan erat sambil membayangkan sedang memeluk seseorang. Beberapa saat kemudian aku semakin larut dalam hayalan. Membayangkan bibirnya yang basah menyapu leher dan dadaku. Tiba-tiba aku mempunyai keinginan untuk meraba payudaraku sendiri. Tanganku sudah berada disana untuk menuruti keinginan yang mendesak di pikiranku sambil membayangkan jari jemarinya yang hangat meraba-raba payudaraku. Aku begitu menikmati sensasi sentuhan dan belaian tanganku pada payudaraku sendiri.

Tak kuhiraukan suara nada pesan masuk di handphoneku yang berbunyi beberapa kali. Fantasiku semakin liar, tubuhku semakin memanas padahal di dalam kamarku sangatlah dingin. Jantungku semakin berdegup dengan cepat. Sambil terpejam dan menggerakkan tanganku sendiri aku membayangkan tangannya meremas kuat kedua payudaraku untuk menaikkan gairahku lalu dia berkata kalau sangat menyukai bentuk payudaraku meskipun tidak seranum payudara cewek kebanyakan. Kemudian kubayangkan tangannya itu menelusuri setiap inchi kulit perutku, lalu turun membelai pahaku dengan lembut dan kemudian membayangkan tangannya memegang penuh punyaku, lalu jari tengahnya masuk ke dalam…..

“Acchhhh Seniorrrr…”

Aku tak kuasa menahan erangan keluar dari mulutku tatkala jari-jariku mengusap punyaku sendiri di balik celana dalamku sambil menyebut orang yang daritadi ada di hayalan dan fantasiku yang liar.

.

.

.

.

.

.

KEESEOKAN HARINYA

—-POV REGA—-

Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya Rein menyapaku saat aku terbangun dari tidur. Aku tidak mendapati tubuh seksi kakakku diatas tempat tidur. Padahal semalam sebelum aku akhirnya bisa memejamkan mata, terakhir kali kulihat dia tidur pulas disampingku. Dengan langkah yang gontai karena masih mengantuk, aku turun ke lantai bawah. Mbak Tina memberitahu kalau Rein sedang berenang saat aku bertanya padanya. Kemudian aku pun menuju ke bagian belakang rumah untuk bertemu dengan Rein. Semenjak hubungan kami kembali seperti dulu, aku selalu merasa ingin terus bersama raganya entah itu sebelum tidur ataupun saat aku terbangun dari tidur. Aku pasti selalu mencarinya saat dia tidak ada disampingku.

Sesampainya di belakang rumah aku baru menyadari ternyata Matahari sudah cukup tinggi. Astaga, siang sekali aku bangun. Tapi meskipun sudah cukup siang, tapi aku masih begitu mengantuk sampai menguap beberapa kali. Di belakang rumah aku duduk di sebuah kursi di dekat kolam renang sambil melihat kakakku berenang dari ujung ke ujung dengan begitu cepat. Tak berselang lama dia menyadari kehadiranku kemudian dia berenang menuju ke tepi kolam untuk naik ke permukaan.

Lembaran Yang Hilang Part 5

Mata kami bertemu. Kemudian mataku tak kuasa dipaksa untuk menelusuri tubuhnya yang dibalut oleh bikini warna putih favoritnya. Lekuk tubuhnya yang indah terlihat begitu jelas. Cowok manapun yang memandang Rein pasti langsung jatuh cinta melihat keindahan tubuhnya yang seksi. Bahkan temanku Billa, dia cewek tapi dia sange melihat tubuh kakakku. Tidak ada yang bisa menahan daya tarik seksual dari tubuhnya yang sempurna.

Saat ini Rein sedang mengeringkan badannya dengan handuk yang sudah tersedia di tepi kolam lalu dia berjalan ke arahku. Tidak mempedulikan bikininnya yang basah, dengan manjanya dia duduk menyamping di pangkuanku.

Lembaran Yang Hilang Part 5

Tanganku menopang tubuhnya dengan memeluknya. Membelai lekukan pinggulnya yang masih terasa basah.

“tidurmu lama sekali Dek” Ucapnya “tapi kamu masih saja terlihat mengantuk. Sana Mandi !!” matanya mengamati wajahku.

“Aku baru bisa tidur menjelang subuh Rein”

“ngapain aja? Ngeliatin aku tidur? Atau semalem masih kurang? kenapa kamu tidak membangunkanku?”

Aku menatap wajahnya dan tersenyum. Aku tidak akan pernah meraasa cukup melakukan dengannya. Aku selalu merasakan sensasi yang berbeda jika bercinta dengan Rein. Karena aku menyayanginya, dan dia begitu menyayangiku. Tidak ada yang lebih indah selain mencapai puncak kenikmatan bersama cewek yang paling kusayangi di dunia ini. Apalagi sudah cukup lama kami tidak melakukannya. Membuatku ingin melakukan dengannya lagi. Lagi dan lagi. Tapi apakah dia merasakan hal yang sama? Haruskah aku bertanya padanya?

“Yap. aku tidak bisa tidur karena tetekmu ada di depan wajahku” Tidak, aku tidak berani bertanya padanya. Apalagi disaat-saat seperti ini, dimana semuanya baru saja kembali seperti dulu antara aku dan dia. Aku tidak ingin merusak momen ini , aku takut dia merasa kalau aku hanya menginginkan tubuhnya.

“Bohong!!” Serunya, Rein menatapku “pasti ada yang menggangu pikiranmu. Dulu aku pernah bilang, jika kamu ada masalah, ceritakan padaku !! kalau ada yang mengganggu pikiranmu, beritahu aku !!. Jangan kamu pendam sendiri Dek”

“enggak Rein,, aku bener-..”

“Ada seseorang yang sedang kamu pikirin” Ucapnya memotong ucapanku “Dan kayaknya,,,, aku tahu siapa dia” Ucapnya padaku.

“Eh,, aku ga mikirin siapa-siapa. Aku beneran tidak bisa tidur, aku juga tidak tau kenapa”

Rein masih menatapku tajam selama beberapa saat.Sepertinya Dia masih tidak percaya denganku.

“Jika kamu benar-benar tidak bisa tidur, mungkin karena semalam ada seseorang yang sedang memikirkanmu, memimpikanmu”

“hmm? Siapa?” tanyaku.

“tau’ !! dia mungkin” Ucap Rein sambil melihat ke arah belakangku. Aku mengikuti arah dia memandang, disana kulihat Mbak Tina datang menghampiri kami.

Lembaran Yang Hilang Part 5

Mbak Tina membawa jus yang terbuat dari campuran beberapa jenis buah-buahan yang selalu Rein minum tiap pagi. Katanya sih, itu Jus untuk menjaga bentuk tubuhnya yang indah.

Saat Mbak Tina menaruh minuman itu diatas meja dekat kami, Rein semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Satu lengannya merangkul pundakku, kemudian dia menyandarkan kepalanya dengan rambut yang masih basah itu ke dadaku. Seolah dia ingin menunjukkan ke Mbak Tina kalau aku ini miliknya, jangan coba-coba merebutku darinya. Rein masih curiga kalau aku sering main-main dengan Mbak Tina dibelakangnya.

Aku menangkap lirikan mata Mbak Tina kepadaku setelah menaruh minuman itu di meja. Kemudian dia meninggalkan kami. Aku masih mengamati langkah Mbak Tina menuju ke dalam rumah. Apa maksud lirikannya tadi? Apakah dia masih ingin aku untuk membantunya melampiaskan nafsunya yang gede? Tidak, Aku tidak mau lagi melakukan dengannya, karena dia sudah punya suami di Desa dan Rein pasti sangat marah kalau tau aku bercinta lagi dengan Mbak Tina.

Tiba-tiba memori saat aku “main-main” dengan Mbak Tina merasuk ke dalam otakku, terbayang tubuh bugil Mbak Tina saat aku dan dia bercinta di kamar bunda dan Papa.

                                       

Penisku menegang membayangkan itu. Kecuali, Mbak Tina memintanya dengan cara mengancamku lagi seperti dulu, aku tidak bisa menolaknya dan terpaksa harus kuturuti kemauannya. Shit, apa yang sedang kupikirkan? Kenapa aku malah berharap Mbak Tina mengancamku lagi. Aku harus berhenti membayangkan tubuh Mbak Tina atau berhenti mengingat kejadian itu. Suatu saat nanti, aku akan menceritakan kepada kalian kejadian dengan Mbak Tina.

Mbak Tina sudah masuk ke dalam rumah. Saat aku menoleh Rein dia memandangku dengan tatapan mata yang tajam dan sangat menyeramkan. Gawat, berapa lama tadi aku memandangi Mbak Tina?

“Sange Lihat Mbak Tina? Iya ? Pengen? Hmmm?”, dia tersenyum, tapi dengan raut wajah yang menyeramkan.

“hah? Engg,,engg..ggak kok, ga mungkin aku.. ” aku berusaha mengelak.

“bener?”

“iya beneran Rein”

“ Lalu ini apa namanya kalo gak sange? Hah?”

Ucapnya sambil dia meremas penisku yang sedang menegang dengan sangat kuat.

“AAAUUWWWWW ADUHHHH ADDUHHH REEEINN AMPUNN. AMPUNNNN SAKITT” Gila sakit banget, sadisnya keluar ni cewek.

“Kamu bener-bener gak bisa dipercaya” Ucapnya setelah akhirnya melepaskan penisku ”aku yakin ada apa-apa diantara kalian” Mukanya terlihat sangat bete. Lalu dia meminum jus yang dibawakan Mbak Tina tadi.

Aku tidak berusaha mengelak ataupun menjelaskan lagi kepada Rein. Aku takut salah bicara ataupun keceplosan yang bisa membuatnya semakin marah, yang ada nanti dia malah memotong penisku.

“untungnya sebentar lagi kamu segera meninggalkan rumah ini, aku jadi ga terlalu khawatir kamu ada apa-apa dengan Mbak Tina. Ah tapi tapi, belum tentu kamu akan lebih baik jika tinggal bersama temen-temenmu, ahhhh Fuckkk kenapa aku jadi khawatir dengan keputusanku.”

Rein masih ngomel-ngomel gak jelas sambil galau dengan keputusannya untuk membiarkanku tinggal di tempat kos bersama teman-temanku. Aku sudah memutuskan untuk menyetujui rencana Rein itu setelah aku bicara dengan Bunda. Bicara tentang hal itu, Siang ini aku dan Rein akan mengunjungi dan melihat rumah yang rencananya akan aku tinggali.

“Oiyah Rein, jam berapa nanti kita kesana?” tanyaku padanya.

“Kamu sendiri yang akan kesana, aku gak ikut!!“ jawabnya singkat dengan muka yang masih bete.

“Astaga, kamu masih marah? Aku beneran gak ada apa-apa dengan Mbak Tina”

“aku ada janji dengan temenku, jadi, aku gak bisa menemanimu” Ucapnya.

“hahhh? Siapa? Cowok?”

“Kalau iya kenapa? kamu cemburu lagi kayak kemaren??”

Eh? gawat. Terakhir kali aku mempertanyakan padanya tentang cowok yang sedang bersamanya, Rein membuatku harus merasakan rasanya menginap di Rumah Sakit selama beberapa minggu. Tapi percuma juga aku tanya-tanya hal pribadinya, dia tidak akan memberitahuku.Yang ada dia akan membalikkan semua pertanyaan kepadaku.

“padahal kamu yang ngerencanain ini, Yaudah mending dibatalin aja rencana itu” ucapku kecewa.

“Gausah manja deh, kamu tinggal dateng ngelihatin rumahnya, kamar-kamarnya, fasilitasnya, suasananya. Apa susahnya sih?” Ucapnya “cocok atau enggak kamu dengan rumah itu, segera beritahu aku. karena sesuai kesepakatan, hari ini juga papa akan membayar sewanya untuk satu tahun pertama. Oke??”

Padahal dia sudah janji akan selalu menemaniku sampai semester baru dimulai. Seperti yang kubilang tadi, aku ingin terus bersama raganya karena itu yang membuatku bahagia. Aku merasa tidak lengkap saat aku tidak bersamanya. Hufftt, kenapa aku jadi se-egois ini? rasanya seperti dejavu ketika aku merasa Rein sudah tidak mempedulikanku lagi. aku harus segera sadar kalau dia punya kehidupan dan dunianya sendiri aku tidak boleh egois menginginkan dia selalu ada untukku.

“Dekkk?”

“iya iya, nanti aku akan kesana” jawabku dengan nada masih kecewa.

“Satu jam lagi, Pak Gunawan temennya Papa akan menunggumu disana, sebaiknya kamu segera bersiap-siap, pake aja mobilku !!”

“hmm? Lalu kamu?”

“Biar nanti aku naik Taxi, kamu lebih membutuhkannya untuk mencari alamat rumah itu. Tapi berjanjilah kamu tidak akan menabrakkan mobilku lagi”

“hehe, i..iya” Padahal bukan aku yang menabrakkan mobilnya.

“Satu lagi” Ucapnya sambil mengubah posisi duduknya, kini dia duduk dipangkuanku dengan menghadapku sambil kedua lengannya merangkul leherku “seandainya kamu benar-benar jadi meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama temen-temenmu, berjanjilah untuk tidak– ”

Aku tau apa yang akan dikatakan Rein, kupotong ucapannya “aku tidak akan tinggal bersama mereka Rein, kamu tidak perlu khawatir. Kalau perlu aku tidak akan tinggal bersama siapapun dan tidak perlu meninggalkan rumah ini”

Rein menggelangkan kepalanya pelan. “Aku tidak ingin kamu merasa sendirian lagi Dek, aku tidak ingin melihat kamu menderita seperti kemarin. tinggalah bersama teman-temenmu. Tapi aku sangat berharap kali ini kamu benar-benar memilih siapa temanmu, teman yang tidak akan membawamu ke dalam keburukan.”

Dia seringkali berkata seperti itu kepadaku. Aku paham siapa yang dia maksud dengan teman yang membawaku ke dalam keburukan. “sebenarnya, aku berpikir untuk mengundurkan diri dari keanggotaan HIMA” Rein terkejut dengan ucapanku, kemudian dia tersenyum.

“Aku senang mendengarnya, dan aku akan sangat senang jika itu benar-benar terjadi. Percayalah, jika kamu meninggalkan orang-orang yang salah, hal-hal baik akan segera terjadi kepadamu”

Aku tau Rein sangat tidak suka aku bergaul dengan mereka dan berkali kali memintaku untuk menjauhi mereka. Karena memang berteman dengan mereka lah yang menjadi awal mula aku terjerumus ke dalam kegelapan. Jiwaku yang masih sangat labil akibat masih belum bisa merelakan kepergian seseorang yang kucintai membuatku sangat mudah terpengaruh untuk melakukan hal-hal negatif. Bersama mereka, aku melakukan segala cara untuk bisa melupakan kesedihanku.

Beberapa minggu dirawat di rumah sakit membuatku sadar kalau selama itu aku menjadi bukan diriku sendiri. Yang paling tidak bisa kulupa adalah tangisan Rein saat aku dirawat intensif. Dia begitu sedih melihat keadaanku saat itu. Aku merasakan betapa hancur hatinya melihat kondisiku. Sekarang aku berjanji untuk merubah hidupku menjadi lebih baik lagi demi diriku sendiri dan juga demi kakakku yang sangat kusayangi. Aku tidak ingin melihat orang yang paling kusayangi sedih dan menangis lagi, terlebih lagi menangis karena ulahku sendiri.

Setelah berdamai dengan Rein. Rencanaku berikutnya adalah menarik diri dari pengaruh negatif dan meninggalkan lingkungan pergaulan yang buruk. Untuk itu aku memutuskan mengundurkan diri keanggotaan HIMA atau menjauhi beberapa orang anggota HIMA. Aku akan mencoba minta pendapat Luna tentang rencanaku itu. Karena tidak semua anggota HIMA berperilaku buruk.

“Dek.” Rein mendekatkan wajahnya dengan wajahku “bukankah sudah waktunya kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu nyaman untuk mengeluarkan semua unek-unekmu? Bukan seseorang yang hanya kamu jadikan tempat untuk mengeluarkan cairan dalam tubuhmu sepanjang malam. Bukan juga seseorang yang kamu ajak bertelanjang ria di dalam rumah setiap hari”

Sial, Rein mengejekku. Padahal hanya sekali dia memergoki aku berkeliaran di dalam rumah sambil telanjang bersama seorang cewek.

“Maksudku, bukankah Sudah saatnya kamu mencintai lagi?. Temukan seseorang yang mencintaimu apa adanya, bukan seseorang yang ingin kamu menjadi seperti apa yang dia inginkan”

Seseorang juga pernah mengatakan hal yang sama kepadaku. Menyuruhku membuka hati untuk suatu hubungan yang baru.

“Apa perlu aku membantumu mencarikannya?” tanya Rein “Aku tau kamu lebih tertarik dengan cewek yang lebih dewasa, Aku punya banyak teman yang cantik di asrama dan tentunya mereka cewek baik-baik tidak seperti—“

“Apakah ada diantara mereka yang seperti kamu?” Kupotong lagi ucapannya.

Dia langsung terdiam mendengar pertanyaanku. Mata kami saling memandang selama beberapa saat kemudian dia berdiri. Lalu tanpa berkata apapaun dia berjalan meninggalkanku menuju ke dalam rumah.

Tidak, di dunia ini kurasa tidak akan menemukan cewek lain sepertimu Rein.

Rein, sebenarnya aku ingin tau

Masih adakah cinta didalam hatimu untukku?

.

.

.

—-POV REIN—-

Barusan Rega memberi kabar kalau dia jadi menempati rumah itu, padahal tadi dia bilang tidak suka dengan rumahnya. Apa yang membuatnya berubah pikiran begitu cepat? Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku masih kepikiran apa yang dikatakan Rega tadi dirumah.

Apakah ada diantara mereka yang seperti kamu?

Meskipun sudah beberapa jam berlalu tapi pertanyaan Rega tadi masih terngiang di kepalaku. Cukup lama aku memikirkannya sambil duduk termenung didalam sebuah café yang ada di pusat kota. Aku masih tidak mengerti Kenapa dia bertanya seperti itu saat kusarankan dia mencari seseorang untuk dia cintai lagi.

Bodoh. Kamu benar-benar bodoh Dek.

Tak berselang lama sebuah mobil baru saja memasuki halaman parkir café ini. Aku bisa melihatnya dengan jelas karena dinding depan café ini seluruhnya berupa kaca. Kemudian seseorang yang daritadi kutunggu kedatangannya keluar dari mobil mewah itu. Lalu dia berjalan memutari mobil mendekati pintu pengemudi, bersamaan dengan itu perlahan kaca jendela pintu mobil itu terbuka pelan. Lalu dia memasukkan kepalanya ke dalam mobil melalui jendela yang terbuka. Meskipun samar-samar karena cahaya matahari, melalaui kaca depan mobil aku bisa melihat dia dan pengemudi itu mengecup bibir beberapa kali.

Kenapa dia tidak melakukan itu saat masih di dalam mobil tadi sih?

Beberapa saat kemudian mobil itu pergi meninggalkan tempat ini. Dengan wajah yang ceria, orang yang daritadi kutunggu kedatangannya itu berjalan masuk ke dalam café. Dia melihatku, dan langsung menghampiriku.

“Sorry I’m late” ucapnya merasa bersalah lalu duduk diatas sofa di sebelahku.

Dia adalah Melly, salah satu sahabat baikku sejak SMA dulu. Aku yakin kalian sudah mengenalnya saat aku menjadikannya sebagai kado ulang tahunnya Rega. Akhir-akhir ini aku dan Melly sering bertemu. Uhmm sebenarnya aku yang memintanya untuk menemuiku. Aku butuh dia untuk mencurahkan segala kegelisahanku dan menceritakan semua masalah yang terjadi antara aku dan Rega. Karena dulu beberapa kali Melly sering bertemu dengan Rega untuk dijadikan sebagai obyek Fetish-nya yang suka bercinta dengan cowok yang sedang diikat atau cowok menidurinya saat dia terikat. Dia bilangnya cuma beberapa kali main-main dengan adikku, tapi aku tidak tahu berapa banyak yang tidak dia katakan padaku saat aku tidak tinggal dirumah. Meskipun hubungan mereka Cuma sekedar pelampiasan nafsu, tapi Melly pasti sedikit banyak tau tentang Rega dan cara berpikirnya. Terkadang aku meminta pendapatnya untuk bagaimana seharusnya aku bersikap kepada Rega.

“aku gak lihat mobilmu diluar. Kamu sudah lama menunggu?” Tanya Melly.

“Hampir dua jam. Menurutmu?”

“hahaha dari dulu kamu memang ga suka basa basi” Jawab Melly sambil dia menjulurkan tangannya ke atas bermaksud untuk memanggil pelayan café.

“Kenapa aku harus melakukan hal yang penuh dengan kepalsuan seperti itu? kenapa ga langsung to the point?” Seorang pelayan café mendatangi meja kami.

“Amanda sayang,, basa basi itu penting untuk mempererat sosial antar masyarakat” Ucapnya setelah memilih menu yang akan dia pesan kepada pelayan café.

“Jadi itu yang selama ini kamu pelajari di jurusan bahasa dan sastra? Mempelajari cara orang berbicara satu sama lain? Boring !!” Balasku.

“Bukan cuman mempelajari tata berbicara, disana aku belajar tentang menulis, kajian puisi, fonologi, morfologi. menurutmu itu membosankan?” Tanya Melly.

“Sangat membosankan dan gak penting” ucapku “Kamu yakin ga salah jurusan?? emang masih kurang dari sejak SD belajar Bahasa? kalau lulus mau jadi apa? Mau kerja apa? Dimana??”

Diberondong pertanyaan seperti itu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya langsung terlihat suram. Aku sih yakin dia tidak terlalu bermininat dengan jurusan apapun yang dia ambil. Yang penting dia masih bisa kuliah sambil tetap bekerja menjadi cewek panggilan.

Hal itu dia lakukan semata-mata hanya untuk uang. Bagi semua orang yang kenal dan tau dengan pekerjaan Melly. Mereka taunya Melly menggunakan uang itu hanya untuk bersenang-senang dan memang Melly sengaja ingin semua orang menganggapnya seperti itu. Padahal sebenarnya, dia menggunakan sebagian besar uangnya untuk keluarganya dan untuk masa depan adik-adiknya. Dia pernah berkata kepadaku kalau akan terus menekuni pekerjannya sampai dia memastikan tabungannya cukup untuk masa depan adik-adiknya. Aku sangat salut dengannya, rela berkorban demi keluarganya.

Meskipun Melly adalah seorang cewek panggilan. Tapi dia termasuk cewek panggilan yang “berkelas”. Dengan wajah cantik, warna kulit yang putih bersih dan tubuh sempurna, dia memasang tarif yang cukup tinggi kepada pelanggannya yang ingin menikmati tubuhnya dan merasakan kenikmatan seksual bersamanya. Dia juga selektif dalam memilih pelanggannya. Kebanyakan yang menjadi pelangganya adalah para ekspatriat asing atau eksekutif muda lokal berwajah tampan dan berkantong tebal. Dia tidak akan melayani pelanggan yang sudah tua ataupun dia rasa tidak menarik untuk dilihat. Tak peduli berapapun dia akan dibayar, dia pasti akan menolak tawaran yang tidak sesuai dengan kriterianya.

“karena kamu terlambat datang, kamu yang bayar minumanku” ucapku padanya.

“Loh? Loh? Hufftt Iya..iya..aku yang akan bayarin minumanmu. Jadi temen perhitungan banget sihhh,,!! padahal kamu yang mengajakku kesini” Mukanya terlihat semakin bete. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya.

“Tadi yang mengantarmu kesini, pasti dia orang yang selama ini kamu ceritakan” Tanyaku. Dia pernah mengatakan kalau sedang jatuh cinta dengan salah satu pelanggannya.

“kok tau?” tanya dia heran.

“Karena aku melihat apa yang kalian lakukan sebelum kamu masuk kedalam`” Dan dia tidak akan seperti itu kepada semua pelangganya.

“Aahhhh,, kamu melihatnya?” Ucapnya sambil memegang lenganku “iya itu dia orangnya..Bener kan yang aku bilang? uda tampan, keren, masih muda, selain itu, dia romantis banget” Melly terlihat senang dan ceria saat membicarakan orang itu.

“Sayangnya Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari sini” jawabku.

“yaaaahh, besok besok aku kenalin deh. kamu tidak akan percaya dengan apa yang tadi kami lakukan.” Ucapnya.

“apa? Kali ini kamu yang diborgol?” jawabku asal. Aku masih tidak habis pikir, emang Apa enaknya sih pake diikat ikat gitu?. Melly menggelengkan kepalanya.

“tadi dia mengajakku bercinta di atas tempat tidur yang biasa digunakan bersama dengan istrinya. Dia mengajakku kerumahnya saat istrinya sedang bekerja. Gila banget kan? Aku belum pernah merasakan sensasi seperti tadi, jantung berdebar, adrenalin meninggi karena was-was dan takut jika seketika istrinya pulang. Tapi nikmatnya,, hmmm gak bisa aku jelasin deh rasanya, enak banget pokoknya. Aku tidak akan menolak jika besok dia mengajakku kesana lagi”

Astaga, aku sampai benar benar tidak percaya mendengar mendengar penjelasannya. Apalagi dia tidak sedikitpun merasa bersalah. Apakah dia sama sekali gak mikirin bagaimana perasaan istri orang itu?

“kok bisa sih? Dari sekian banyak pria, kenapa Kamu harus jatuh cinta dengan pria yang sudah beristri?.” Ucapku.

“Amanda.. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. karena rasa itu datang sendirinya secara tidak terduga dalam diri kita” ucapnya.

Tapi apapun alasannya, itu adalah pilihannya dan aku tidak ingin terlalu mencampurinya. Dia sudah cukup dewasa untuk mengerti resiko mencintai dan menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Mungkin dia pernah melakukan hal ini sebelumnya? Secara dia pasti sudah sering mendapatkan pelanggan pria yang sudah beristri. Sebagai teman, aku tidak akan menghakiminya. Tapi aku akan terus mengikuti sampai sejauh mana kisah cinta terlarang ini akan bertahan. Aku hanya berharap Melly tidak telalu serius dengan hubungannya itu. Aku khawatir pria itu sengaja menjalin hubungan dan mengobral kata cinta kepada Melly hanya untuk sekedar menidurinya tanpa dia harus membayar. Tapi aku tidak enak hati mengatakannya kepada Melly, aku takut dia akan tersinggung dengan kekhawatiranku yang belum tentu benar. Apalagi dia terlihat begitu mencintai pria itu.

“kamu harus hati-hati Mee.. sepintar-pintarnya dia menyembunyikanmu dari istrinya. Cepat atau lambat kalian akan ketahuan. Kamu harus– “

“Stop!! Cukup sampai disitu” Serunya, memotong ucapanku “Amanda !!, aku tau kok apa yang aku lakukan. Dari dulu aku tau apa yang aku lakukan. Aku bisa jaga diri, Kamu jangan terlalu khawatir. Oke?” ucapnya. mengusap lenganku. Aku mengangguk pelan.

“sekarang kembali ke alasan kenapa kamu mengajakku kesini. kamu sudah bicara dengan Rega?? Dia baik-baik saja kan? Kalian sudah berdamai?” Tanya Melly.

“Ya” ucapku pelan “dia baik-baik saja kok, bahkan sejauh ini dia semakin membaik daripada sebelumnya. Semua kembali seperti dulu lagi antara aku dan dia, kami bercanda lagi, makan bersama lagi, dan kami…” Kuhentikan ucapanku, Kami juga tidur bersama lagi, hal yang tidak mungkin kukatakan kepada Melly, atau kepada siapapun. “kami menghabiskan waktu bersama sama lagi”

“bener kan? Kamu tuh yang terlalu mengkhawatirkannya. Menangis dan kebingungan hanya karena dia pergi bersama teman temannya ke Bali, bahkan sampai kamu ingin menyusulnya kesana,, menurutku itu terlalu berlebihan, untung aku melarangmu untuk menyusulnya saat itu.” ucapnya.

“Jika kamu jadi aku yang punya adik seperti dia, aku yakin kamu akan selalu khawatir padanya, apalagi setelah yang dia lakukan selama ini”

“Manda, kita berdua tau kenapa dia seperti itu, dia mengalami tahun-tahun yang berat setelah kehilangan– ” Melly tidak melanjutkan kalimatnya “Sorry” imbuhnya.

“Dia seperti itu karena kehilangan Alexa, dan Alexa pergi karena salahku. kamu tidak perlu ragu mengatakannya.” Ucapku “Dulu sebelum Alexa pergi, Rega melihatku seperti seorang kakak yang selalu dia kagumi, tapi, setelah kepergian Alexa. Saat Rega menatapku, aku selalu merasakan kekecewaan dalam dirinya, aku merasa kalau dia menyalahkanku atas apa yang terjadi kepada Alexa”

Melly mengusap lenganku “Itu sama sekali tidak benar, Rega gak akan berpikiran seperti itu, berhentilah menyalahkan dirimu.”

Memang seperti itu kenyatannya. Jika seandanya hari itu Alexa tidak mendorongku, jika aku tidak bertengkar dengan Galih dan jika aku tidak egois memendam kebencian yang salah kepadanya. Alexa masih akan ada di Dunia ini dan Rega tidak perlu merasakan penderitaan kehilangan Alexa. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah kepada Rega dan juga Alexa. Dan aku akan terus merasakannya sepanjang hidupku sebagai pengingat tak berhujung bahwa aku yang telah memisahkan cinta mereka disaat mereka saling mencintai.

“heiii..” Ucap Melly, berusaha mengalihkanku dari pikiranku sendiri “Ceritakan keadaan Rega saat ini”

“meskipun keadaan sudah kembali seperti dulu, tapi aku masih sering mendapati dia melamun, tenggelam dengan pikirannya sendiri. Dan dia masih belum mengatakan apapun yang ada dipikirannya siapa yang sedang dia pikirkan, padahal dulu dia selalu berbagi apapun kepadaku.”

“setiap orang punya rahasia yang tidak ingin mereka katakan. Beri dia waktu untuk menenangkan diri ! aku yakin dia akan kembali sepenuhnya menjadi Rega yang menyenangkan dan menyebalkan seperti dulu lagi” Ucap Melly.

Mendengar ucapannya membuatku tersenyum karena memang itu yang aku harapkan. Berharap Rega kembali seperti dulu lagi. Kembali menjadi Rega yang menyenangkan, menyebalkan, menggemaskan dan penuh kasih sayang. Aku akan berusaha memastikan dia agar tidak jatuh lagi ke dalam lubang kegelapan yang sama. Untuk itulah aku membutuhkan bantuan Melly.

“Aku membutuhkan bantuanmu Mee !!. Tolong kamu awasi Rega selama dia di kampus, tidak perlu terlalu dekat, cukup katakan padaku siapa-siapa saja yang sedang bersamanya.”

Meskipun Rega sudah bilang kalau dia akan mengundurkan diri keanggotannya di Organisasi. Tapi aku masih khawatir Rega masih dekat dengan mereka. Sebenarnya, aku hanya mengkhawatirkan satu orang diantara mereka yang bisa membuat Rega kembali menjadi monster.

“Astaga. Kamu serius? Itu sama saja kamu masih belum percaya kepadanya, Kalau Rega sampai tahu, dia akan sangat marah kepadamu dan,,dan hubungan kalian akan berantakan lagi. .Sudahlah, Jangan terlalu posesif padanya, Dia juga punya keinginan untuk kebebasan.” Ucap Melly yang tidak setuju dengan niatku.

“Menurutmu apa alasanku memutuskan utuk tinggal di asrama dua tahun lalu.? Padahal seharusnya aku tidak perlu tinggal disana. Aku memberikan dia kebebasan agar dia tidak terlalu terlalu bergantung kepadaku. Dan lihat kan apa yang terjadi saat dia kuberi kebebasan?” ucapku.

“Benarkah itu alasanmu meninggalkannya sendirian di rumah? Atau alasan sebenanya kamu meninggalkannya itu adalah untuk menghindarinya, karena kamu.. masih mencintainya?”

Aku langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan Melly. Ada apa dengan hari ini? kenapa semua orang bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tidak bisa kujawab dengan mudah. Meskipun aku tidak ingin mengakuinya tapi aku khawatir jika yang dikatakan Melly adalah memang alasan sesungguhnya aku meninggalkan Rega. Kukira aku akan bisa mencintainya hanya sebagai adikku seperti yang pernah kukatakan padanya. Tapi aku menyadari perasaan yang pernah ada tidak bisa menguap begitu saja di udara. Saat aku tidak menahan perasaan ini lagi aku menghindarinya, pergi darinya. Aku akan terus melakukannya saat perasaan itu menguat, bukan hanya untuknya tapi demi menjaga hatiku sendiri.

Huftt, kenapa aku tidak bisa menghilangkan persasaan ini? ternyata benar yang dikatakan Melly, Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta.

.

.

.

Bersambung

END – Lembaran Yang Hilang Part 5 | Lembaran Yang Hilang Part 5 – END

(Lembaran Yang Hilang Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Lembaran Yang Hilang Part 6)