Lembaran Yang Hilang Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Lembaran Yang Hilang Part 2

Start Lembaran Yang Hilang Part 2 | Lembaran Yang Hilang Part 2 Start

NIGHTMARE

—-POV WINRY—-

“Love You” ucapnya sambil tersenyum menatapku.

Badannya yang lebih tinggi dariku membuatku harus mendongak untuk menatapnya. Wajahnya begitu dekat, meskipun pernah lebih dekat daripada sekarang ini. Setelah semua yang telah kami lalui dan yang telah kami lakukan bersama, kedekatan ini masih membuatku tidak nyaman. Masih membuatku salah tingkah ketika tatapan matanya yang tajam menatapku begitu dalam. Namun kadang kala, tatapan matanya itu terasa begitu nyaman. Sebuah perasaan yang begitu membahagiakan, salah satu perasaan terbaik yang pernah kurasakan selain pelukan hangat darinya.

Perasaan dekat dengan seorang yang dicintai memang terasa begitu aneh dan menyenangkan secara bersamaan. Ya, inilah cinta. Cinta membuatku bisa merasakan banyak perasaan meskipun hanya lewat tatapan matanya. Bahkan tatapan matanya pernah membuat tubuhku rela melakukan apapun perintahnya kepadaku. Seperti sharingan milik klan Uciha yang bisa menghipnotis, aku hanya bisa pasrah menerima apapun yang ingin dia lakukan kepadaku.

Di balik tembok tinggi pagar sebuah rumah mewah di ujung blok K komplek perumahan aku berdiri. Rumahku tak jauh dari sini, hanya berjarak sekitar tujuh rumah dari ujung jalan dan masih di blok yang sama dengan rumah besar dibelakangku ini. Namun kupastikan keberadaanku disini sudah cukup jauh dari rumahku. Cukup jauh agar orang-orang di rumah terutama papa tidak tahu jika aku sedang berada disini, bersandar pada sebuah tembok pagar berwarna biru berhadap hadapan dengan seorang cowok yang satu tangannya menyentuh tembok terlihat seperti sedang memojokkanku, seakan dia punya kuasa akan diriku.

Posisi kami berdua seperti ini terlihat begitu romantis, aku hanya berharap posisi ini tidak berubah menjadi lebih erotis. Tetapi wajahnya yang semakin dekat dengan wajahku membuatku semakin pesimis. Karena dia sudah terbiasa tiba-tiba mencium bibirku tanpa terlebih dulu meminta persetujuan dariku. Dia masih menatapku, seorang cowok yang baru saja mengucapkan kata cinta untukku. Namun,

“Kamu sudah mengatakannya lima kali Senior” Balasku kepadanya.

“Kalau gitu, aku akan mengatakannya kepada cewek lain saja” Ucapnya dengan begitu mudahnya.

“Ya sudah sana!” seruku” Katakan kepada semua cewek cewek cantik yang selalu nempel dilenganmu” kemudian memalingkan wajahku kesamping. Dia pasti bisa melihat wajahku yang sedang cemberut.

Aku tau dia sedang menggodaku. Dia pernah mengatakan kalau dia merasa senang dan bahagia jika berhasil membuatku cemburu. Katanya, itu tandanya aku sangat mencintainya dan takut kehilangan dia.

Minggu lalu aku tak sengaja melihat dia duduk diapit dua cewek disamping tubuhnya ketika dia sedang rapat di organisasi. Kedua cewek itu memang selalu kulihat bersamanya saat organisasi mengadakan acara. Namun apa yang kulihat minggu lalu membuatku geram, kedua wanita itu terlihat begitu centil dan kegatelan duduk disebelahnya. Bahkan dengan jelas kulihat cewek itu sengaja menggesekkan payudaranya yang besar di lengannya.

Aaahhhhh !! ingin rasanya kulabrak mereka. Padahal dia sudah memperkenalkanku sebagai ceweknya kepada semua anggota organisasi. Semunya juga sudah tau kalau aku adalah ceweknya, karena kami selalu terlihat bersama-sama. Namun saat itu Mira sekuat tenaga menahan emosiku dan berusaha menenangkanku. Memang sudah resiko punya cowok yang begitu populer, pasti banyak fansnya dan banyak yang deketin. Bahkan Mira sangat iri denganku. Apalagi dia termasuk cowok yang sangat aktif di organisasi. Semua cewek pasti gatel ingin mendekatinya dan menunggu kesempatan untuk dilirik olehnya. Termasuk cewek cewek yang cantik, tinggi, dan sexy yang ada di organisasi itu. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. pfttt.

“kamu masih marah? ” tanya dia “kamu boleh percaya dengan apa yang kamu lihat minggu lalu, tapi aku ingin kamu percaya dengan apa yang kamu yakini selama ini, bahwa Aku hanya milikmu sayang, hatiku ini seluruhnya milikmu dan hanya untukmu. ”

Kembali kutatap wajahnya. Senyum diwajahnya kulihat semakin lebar. Kemudian dia mengusap rambut diatas kepalaku.

Dia selalu melakukan itu, dan aku selalu membenci saat dia melakukannya. Karena membuat rambut pendekku terlihat berantakan dan acak-acakan. Kalau rambut pendek Yui Hirasawa salah satu tokoh favoritnya di serial K-On! berantakan, dia masih akan terlihat imut. Sedangkan jika rambutku yang acak-acakan, aku akan terlihat seperti Samara, sosok hantu menyeramkan di film hororr populer The Rings dengan rambut lusuh yang menutupi wajahnya.

Aku sempat marah kepadanya setelah apa yang kulihat minggu lalu. Tapi Aku percaya dengan kesungguhannya mencintaiku. Benar yang dikatakannya, Aku marah karena aku mencintainya, aku cemburu karena aku takut kehilangan dia. Dan aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi setelah mama pergi meninggalkanku untuk selamanya.

TINN! TINN! TIIINNNNN!

Suara klakson mobil mengagetkan kami berdua. Mobil itu cukup dekat dengan kami. Mobil itu sudah sejak tadi parkir di pinggir jalan sebelum tikungan menuju blok K. Kulihat dia reflek menoleh ke arah mobil yang ditumpangi teman-temannya itu, sampai dia menurunkan tangannya yang daritadi memegang tembok. Sedangkan aku tak sedikitpun berpaling dari wajahnya. Entah kenapa saat itu aku tiba-tiba memegang tangannya begitu erat. Dia menatapku lagi.

“Jangan pergi Senior!! .” ucapku

.

.

.

.

Aku terbangun. Mataku menatap langit-langit kamarku. Kemudian mematikan alarm ponsel di dekat bantalku yang suaranya terdengar begitu nyaring.

Mimpi?

Aku duduk diatas tempat tidurku, duduk diam merenungi mimpi yang baru saja kualami. Namun aku tidak mau terlalu larut memikirkannya. Aku harus berterima kasih kepada alarm ponselku karena telah membangunkanku dari mimpi buruk. Kulihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai jendela kamarku. Semalam aku ketiduran lagi, pikirku. Terlihat dari lampu kamarku yang masih menyala. Oh Tidak.

Mataku langsung tersadar sepenuhnya setelah aku menyadari kalau aku lupa memakai celana dalamku lagi. Panik melihat tubuh telanjangku, aku reflek menoleh pintu kamar. Bukan karena aku terbiasa tidur dalam keadaan telanjang. Tetapi karena apa yang aku lakukan semalam sampai akhirnya aku ketiduran hingga lupa memakai celana dalamku lagi. Aku penasaran, apakah semua cewek seumuran denganku sering melakukan seperti yang aku lakukan semalam? Dan apakah mereka meneteskan air mata setelahnya? Atau cuma aku?.

Turun dari tempat tidurku, aku menemukan celana dalamku tergeletak dibawah tempat tidur. Kemudian aku berjalan cepat menuju pintu kamarku hanya untuk memastikan kalau semalam aku tidak lupa menguci pintu kamarku. Terkunci, lega sekali rasanya!!. Aku tidak bisa membayangkan jika papa atau kakakku melihatku tidur dalam keadaan telanjang.

Masih berdiri didepan pintu, aku menghela nafas besar melihat keadaan kamarku yang sangat berantakan. Mama tolong aku!. Kamarku lebih terlihat seperti gudang daripada sebuah kamar seorang cewek. Pakaian dan barang-barangku tergeletak di mana-mana. Sneakers favoritku yang biasanya kulihat berpasangan kini terpisah jauh, yang satu tergeletak di atas lantai yang satu berada diatas meja belajarku. Seakan mereka sedang marahan. Komik dan novel berjatuhan dibawah meja belajar. Aku juga melihat beberapa novel diatas tempat tidur. Di atas meja belajar itu juga kulihat laptopku masih menyala, masih memutar serial Clannad : after story yang semalam kutonton tapi tidak kulanjutkan karena terlalu baper sampai membuatku menangis.

Padahal dulu aku selalu rajin membersihkan kamarku sendiri sesuai keinginan mama yang memintaku untuk mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Tetapi itu hanya sementara, dari rutinitas sehari sekali membersihkan kamar, menjadi seminggu sekali, lalu berubah menjadi sebulan sekali. Dan sekarang aku lupa kapan terakhir kali aku membersihkan kamarku. Pfftt. Kulirik jam dinding, tidak akan sempat pikirku. Aku harus segera bersiap-siap karena hari ini adalah hari pertama ospek di kampus. Biarlah nanti sepulang dari kampus akan kurapikan kamarku, ucapku dalam hati. Kemudian setelah itu aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamarku.

Setelah selesai mandi, dengan tergesa gesa aku memakai celana dalam yang kuambil dari dalam lemari pakaian, dan memilih dengan asal bra dari dalam lemari untuk menutupi payudaraku yang bentuknya kecil, hampir rata. Jadi kalian tidak perlu susah susah membayangkan bentuk payudaraku. Kemudian kuambil Celana Jeans hitam dan kemeja putih polos yang telah kusiapkan beberapa hari yang lalu. Untungnya kampus hanya memberikan ketentuan kemeja putih dan bawahan hitam sebagai outfit kegiatan ospek. Mereka tidak mengharuskan memakai rok untuk cewek, karena aku tidak begitu suka memakainya. Aku hanya memakai rok saat memang diharuskan memakai rok. Terbayang betapa senangnya aku ketika lulus sekolah? Aku tidak perlu lagi memakai rok setiap hari.

Kulihat pantulan tubuhku di depan cermin sambil mengancingkan satu persatu kancing kemejaku sampai tato di atas dadaku tidak terlihat lagi. Kubiarkan satu kancing paling atas terbebas. Kemudian kusisir rambut pendekku yang halus dan lurus sambil memastikan pakaian yang menutupi tubuh kecilku sudah rapi. Sekarang tinggal memakai….. Kulirik laci meja belajarku melalui cermin, aku sangat ketakutan melihat laci itu, seakan disana bersembunyi monster yang sangat menyeramkan. Padahal sebenarnya laci itu adalah tempat di mana aku menyimpan segala produk kecantikan dan peralatan make up lainnya. Kudekati meja belajarku, tanganku gemetar ketika membuka lacinya. Tidak sampai kebuka seluruhnya, dengan cepat kututup kembali laci itu. Brakk!!

Aku putuskan untuk membiarkan wajahku yang mulus tampil polos apa adanya tanpa make up. Ahh, Miranda pasti marah melihatku seperti ini. Karena dia yang telah membelikan semua produk-produk kecantikan itu untukku dan kemarin dia mengingatkanku untuk memakainya. Pasti dia akan menceramahiku tentang pentingnya seorang cewek memakai make-up. Memangnya salah cewek tidak merias wajahnya? Seakan akan cewek tanpa make up itu adalah sebuah tindakan kriminal. Bagiku make up adalah hal yang paling tidak menyenangkan di dunia ini. Aku selalu tidak nyaman memakai riasan di wajahku. Membayangkan rasa lipstik di bibirku saja sudah membuatku mual. Ada perasaan aneh ketika melihat wajahku sendiri di cermin saat aku terpaksa harus memakai make up. Seperti bukan wajahku yang kulihat di cermin. Biarlah aku tampil seperti ini, lagipula Make Up tidak begitu penting untuk cewek anti sosial yang tidak punya banyak teman sepertiku.

Kuraih ponselku diatas tempat tidur dan mendapati ada satu pesan masuk yang langsung kubaca.

Pagi Maba :hati:

Aku tersenyum membaca pesan darinya. Sekarang dia pasti sudah tidur. Dengan gerakan tangan yang cepat, kubalas pesan darinya.

Setelah melihat foto mama yang ada di meja belajarku, Kemudian aku keluar dari kamarku

Ketika keluar kamar, aku mendapati Bi’ Tati berada dibalik pintu kamarku. Aku memergokinya sedang mengintip ke dalam kamarku ketika aku menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu aku tersenyum kepadanya. Dia pasti sempat melihat kamarku yang berantakan.

“Biarkan Bibi membersihkan kamarnya eneng” ucapnya.

“eh, jangan Bi’, aku akan membersihkannya sendiri nanti. Lagipula tidak terlalu..”

“Neng !!” Bi’ Tati memotong ucapanku “Memang mamanya neng Winry meminta agar Neng Winry tidak merepotkan orang lain. Tapi mamanya Neng Winry juga berpesan kepada Bibi untuk selalu memperhatikan Neng Winry dan menjaga eneng. ijinkan Bibi melaksankan permintaan mamanya eneng, karena jika bukan Bibi, siapa lagi yang akan peduli dengan neng Winry?”

Tidak ada. Di rumah ini tidak ada lagi yang peduli denganku salain Bi’ Tati. Di rumah ini Hanya Bi’ Tati yang masih ramah kepadaku. Hanya Bi Tati yang masih menganggap keberadaanku di rumah ini adalah nyata. Tidak seperti penghuni yang lain, mereka menganggapku seperti debu, kecil hampir tidak terlihat, yang biasanya Cuma mengotori ruangan ruangan di rumah ini.

Aku mengangguk kepadanya dan memberikan kunci kamarku kepadanya.

“Makasih Bi’ ”

“Bapak ingin bertemu dengan eneng, beliau ada di ruang makan.” Ucapnya, aku mengangguk pelan.

Setelah itu aku menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan langsung melangkahkan kakiku menuju ruang makan. Aku sangat tau kenapa papa ingin bertemu denganku. Sesampainya di ruang makan aku melihat papa sedang membaca koran, sebuah rutinitas yang selalu dia lakukan di pagi hari. Dia sudah bersiap berangkat ke tempatnya bekerja. Didekatnya, aku melihat sebuah amplop putih di atas meja makan persis seperti dugaanku. Jika kalian ingin tahu, Amplop itu berisi tidak lain selain uang. Uang untuk kebutuhanku selama sebulan yang rutin selalu dia berikan untukku. Hanya itu bentuk perhatiannya kepadaku. Sebuah perhatian dari seorang ayah untuk anak tirinya.

Padahal dia dulu sangat peduli denganku, apalagi saat sebelum dia menikah dengan mama. Dia sempat kuanggap pantas menikah dengan mama untuk menggantikan papa yang meninggal terlebih dahulu ketika aku kecil. Saat itu dia sangat baik kepada mama dan juga kepadaku. Tapi berubah berbalik setelah mama meninggal. Perlahan akhirnya aku tau sifat asli papa. Aku menyadari kalau dia bukan pria yang baik, aku sering memergoki dia membawa wanita yang berbeda ke rumah. Kalian tau apa yang terjadi setelahnya, aku tidak perlu menjelaskan. Mungkin itu alasan dia ditinggalkan istrinya yang dulu.

Sejak itu, aku seperti tidak dianggap lagi di keluarga ini. Seperti orang asing yang tidak lagi diharapkan kehadirannya berada di rumah ini. Aku tidak pernah lagi ngobrol lama ataupun sekedar saling menyapa dengan papa ketika kami bertemu di rumah ini. Dia akan bicara denganku ketika aku berbuat salah atau saat aku melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Dia tidak lagi mengajakku makan bersama di meja makan dengannya. Bahkan dia sama sekali tidak peduli dengan kuliahku, dia hanya memberikan uang untuk aku mendaftar kuliah. Sisanya aku yang mengurus sendiri pendaftaran kuliahku dibantu dengan Mira. Sekarang dia hanya peduli dengan anaknya sendiri, seorang cowok yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di kota sebelah.

Jika tidak karena memang aku masih membutuhkannya, aku tidak akan mau lagi menerima uang darinya. Sejujurnya aku tidak mau tinggal disini lagi.

Dengan enggan kuambil begitu saja amplop itu dan bergegas melangkah menuju depan.

“Winry !!”

Baru beberapa langkah, dia memanggilku. Aku begitu terkejut, karena sudah lama aku tidak mendengar dia memanggilku atau menyebut namaku. Aku berbalik badan ke arahnya. Kulihat dia masih membaca korannya.

“Jangan lupa mencuci mobilmu, mobilmu kulihat sangat kotor.”

Astaga, hanya itu yang dia pedulikan? Dia lebih peduli dengan mobil yang dia berikan untukku dibandingkan denganku? Tanpa menjawabnya aku bergegas keluar rumah menuju mobil dan berangkat ke kampus.

Disepanjang perjalanan aku sempat meneteskan air mata,. Aku sudah tidak betah lagi, aku ingin segera pergi dari rumah itu.

Tapi kemana harus pergi? Aku tidak punya siapa siapa lagi.

Aku harus bagaimana? Aku sendirian

Aku benar-benar sendirian di dunia ini.

Mobil yang kukendarai berhenti tepat di bawah TRAFFIC LIGHT di sebuah jalan yang di juluki sebagai jalan terpanjang di dunia, sebuah candaan orang-orang di kota ini karena sesuai dengan nama jalannya yang terdiri dari nama dua benua besar. Sebuah mobil baru saja berhenti tepat di sebelah mobilku.

Seandainya kamu masih ada disini, aku tidak akan merasa sendiri di Dunia ini. kamu pasti akan menjadi orang pertama yang memintaku untuk tidak menyerah. Kamu pernah bilang tidak akan membiarkanku melaluinya sendirian. Tetapi sekarang kamu telah pergi, meninggalkanku bersama bayanganmu yang tidak mau pergi dari hatiku. Meninggalkan kenangan-kenangan indah yang kini berubah menjadi mimpi buruk yang selalu menghiasi setiap tidur malamku. Seandainya kamu menyadari betapa besarnya rasa kehilangan yang kuderita.

.

.

.

.

SEMENTARA ITU DI TEMPAT LAIN

——POV REGA——

Satu persatu bunga mawar yang kupegang berjatuhan ke tanah saat seseorang entah dari mana datangnya menabrak tubuhku. Aku langsung bisa mengenali orang itu meskipun dia sedang berlari membelakangiku.

AL ?

Alexa berlari ke tengah jalan mendatangi dan mendorong tubuh Rein kebelakang agar terhindar dari terjangan mobilnya Galih. Kemudian Alexa melihat mobil yang ditumpangi Galih berjalan sangat kencang sedang menuju ke arahnya. Namun Alexa tidak berusaha menghindar, dia hanya diam berdiri di tengah jalan kemudian menatapku.

“AL ? Pergi dari sana !!” teriakku kepadanya.

Tapi dia masih tetap diam saja. Aku ingin mendekatinya, tapi seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan. Alexa menjulurkan tangannya mengarah kepadaku

“Rega, tolong aku !!” Ucapnya “Rega !! kenapa kamu diam saja? Tolong aku”

Sial. Kenapa denganku?. Tubuhku sangat berat. Semakin aku berusaha untuk bergerak, tubuh ini semakin berat kurasakan.

“Kenapa Rega ?? kenapa kamu tidak mau menolongku? Kamu tidak mencintaiku?”

Alexa terlihat sangat kecewa denganku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak sampai akhirnya mobilnya Galih menabrak tubuh Alexa.

“ALEXAAAAAAAAA”

.

.

.

.

Aku langsung terbangun dari tidurku. Nafasku begitu berat dan tubuhku berkeringat hingga membuat sebagian kaos yang kupakai basah karena keringat.

Mimpi?. Aku berada di atas tempat tidur kamarku. Malam masih begitu larut. Kemudian seseorang menyalakan lampu tidur yang berada di sebelah tempat tidur.

“Sayang kamu kenapa?” Tanya Alexa disampingku “Mimpi buruk?”

Aku mengangguk sambil menatapnya. Tangan Alexa yang hangat mengusap-usap lenganku, mencoba untuk menenangkanku dan berhasil membuatku sedikit tenang. Dia pasti ikut terbangun karena mendengar teriakanku. Alexa dengan wajah cantiknya terlihat begitu khawatir melihatku. Kemudian tangan Alexa menyentuh pipiku dan mendekatkan wajahnya lalu dia mencium bibirku dengan penuh kasih sayang. Kurasakan bibirnya yang lembut memagut bibirku beberapa kali. Rasanya begitu nyaman dan membahagiakan. Alexa selalu punya cara untuk menghiburku.

”Sudah lebih tenang?” tanya Alexa setelah melepas ciumannya.

“Aku akan lebih tenang jika kamu melakukannya sekali lagi” Ucapku sambil tersenyum.

”Tidak pernah cukup hanya sekali?” Tanya Alexa sambil berpindah duduk diatas pangkuanku menghadapku. Kemudian kedua tangannya merangkul leherku, mendekatkan wajahnya dan Alexa mulai menciumku lagi.

Ciuman bibirnya yang awalanya lembut sekarang menjadi lebih bergairah. Tanpa sadar tanganku sudah bergilya di balik baju Alexa. Mengusap lembut punggungnya yang mulus sampai ke atas, aku tidak menemukan tali BrA disana. Hingga akhirnya Beberapa saat kemudian Alexa melepaskan ciumannya. Kini dia hanya diam memelukku sangat erat. Kuhentikan gerakan tanganku di balik bajunya, aku tidak akan memaksa melakukan lebih jauh lagi. Mungkin dia masih capek setelah dua kali melakukannya sebelum tidur tadi. Lalu Kubenamkan wajahku di samping lehernya. Kukecup sekejap lehernya yang putih. Kurasakan tubuhnya tak kalah hangat dengan telapak tangannya. Bisa kuhirup aroma tubuhnya yang begitu wangi.

“Apa yang terjadi di mimpimu sampai membuatmu ketakutan seperti tadi?” ucapnya tiba-tiba sambil tangannya mengusap punggungku.

“Mimpi yang sangat buruk” Ucapku sambil tetap memeluknya “Ada sebuah mobil yang menabrakmu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu. Kupikir aku telah kehilanganmu untuk selamanya. Aku tidak mau kehilanganmu AL. untunglah semua itu hanya mimpi dan kamu masih disini menemaniku.”

“Rega. Jika mimpimu benar-benar terjadi” Ucapnya ”Kamu akan menyelamatkanku?” tanya dia setelah beberapa saat.

“Tentu” Jawabku “sekuat tenaga aku akan menjagamu. Karena aku sangat mencintaimu AL. Takkan kubiarkan hal buruk terjadi kepadamu.”

“Lalu kenapa yang terjadi adalah sebaliknya?” Ucapnya. Aku tidak mengerti apa maksud dari perkatannya.

“Apa Maksudmu?” Tanyaku

”Kenapa kamu tidak menolongku? Kenapa kamu membiarkan mobil itu menabrakku?”

Hah? . Tubuh Alexa yang sebelumnya kurasakan cukup hangat kini terasa sangat dingin seperti es. Kemudian kulepas pelakuanku. Betapa terkejutnya aku melihat wajah Alexa yang tadi terlihat cantik kini penuh darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.

“AL? Kamu kenapa?” Ucapku, aku sangat ketakutan melihat kondisi Alexa. Tanganku gemetar memegang kedua lengannya.

“Kamu membunuhku Rega” ucapnya dengan raut wajah penuh dengan kemarahan.

“tidak AL. Aku tidak….”

“AL?”

“AL?”

.

.

.

.

.

“AAAAAAAAAAAAAALLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL”

Apa yang kulihat kini berbeda lagi. Sial, bagaimana aku bisa bermimpi berlapis-lapis seperti itu?. Mimpi buruk itu datang lagi. Sambil membenarkan posisi kacamataku, mataku mengamati sekeliling. Semua orang yang menduduki deretan kursi disekitarku melihatku dengan tatapan aneh. Bahkan ada yang sengaja berdiri dari tempat duduknya agar lebih jelas melihatku. Hmm, kenapa mereka menatapku seperti itu? Kemudian kudengar mereka berbisik-bisik, tak terkecuali dengan orang yang duduk tepat di seberang tempat dudukku. Dia berbisik dengan orang di sebelahnya sambil tetap sesekali melihatku.

“Dia bukan temanku, aku tidak kenal dia” ucap seseorang yang duduk tepat disampingku dekat dengan jendela. Aku bisa melihat awan putih melalui jendela itu.

“Dia bukan temanku, aku tidak kenal dia” Dia mengatakannya lagi, memberikan penjelaskan kepada dua orang yang duduk di seberang tempat duduk kami. Dia juga berkata seperti itu kepada dua orang yang duduk dibelakang dan di depan tempat duduk kami.

“Kamu kenapa sih Dick?” Tanyaku padanya.

“Maaf, anda siapa ya?” ucapnya.

Mendegar ucapannya, langsung kudorong pelan kepalanya. Orang yang sedang berpura-pura tidak mengenalku ini namanya adalah Dicky, padahal dia adalah teman kuliahku. Selama di kampus, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama dia dan satu temanku lagi namanya Billa. Kami bertiga pasti terlihat bersama di sela-sela waktu jam kuliah. Aku mengenal Dicky sejak hari pertama ospek sekitar setahun yang lalu. Seorang remaja gaul dari ibu kota yang mencoba peruntungan kuliah di kota tempatku tinggal hanya agar bisa berpacaran dengan cewek cewek cantik dan sexy dimana dia tidak mendapatkan kesempatan itu di kota tempatnya berasal, walaupun sampai sekarang dia belum berhasil menjalin hubungan dengan siapapun. Dia pernah mengatakan kalau cita-citanya itu bakal susah terwujud jika dia terus-terusan bergaul denganku.

Jika membandingkan tingkat intelegensi, aku dan Dicky kompak sama-sama berada di tingkat kejeniusan di bawah rata-rata. Seakan akan selama dua semester kebelakang, otak kami berdua tidak mau diajak bekerja sama saat jam kuliah berlangsung. Otaknya Dicky akan bekerja maksimal hanya pada saat membicarakan atau mengendus tentang hal-hal yang berhubungan dengan cewek, anatomi tubuh wanita khususnya organ organ seksual seorang wanita. Pokoknya Yang ada di pikirannya hanya hal hal mesum dan dan tentang seks. Uang bulanan yang diberikan uang tuanya biasanya dia habiskan untuk mendatangi tempat-tempat hiburan malam atau terkadang jika uangnya sudah terkumpul banyak, dia akan memesan PSK secara online.

Pernah sekali dia terlanjur memesan lady escort kelas atas namun dia tidak sanggup membayar biaya servisnya. Wanita itu menolak untuk membatalkan pesanan Dicky dan mengancam akan melaporkan Dicky jika tidak membayar penuh meskipun tidak jadi kencan. Selanjutnya yang terjadi DIcky membawa wanita itu ke rumahku dan menyuruhku menikmati dan membayar service lady escort itu. Aku terpaksa menuruti permintaan Dicky setelah dia memohon mohon kepadaku walaupun terpaksa memangkas sebagian uang tabunganku. Namun kuakui lady escort itu memang sangat cantik dan sexy. Jadi tidak rugi membayar mahal untuk jasa service satu malam itu hihi. Untungnya malam itu di rumah tidak ada orang. Hanya ada mbak Tina.

Meskipun sama-sama di bawah rata-rata, tapi nilai IPK ku selama dua semester masih dibawah nilai nya Dicky. Nilai IP ku semester genap kemarin sangat jelek hingga membuat IPK ku terjun bebas, Sial. Hal itu tidak terlepas dari kejadian-kejadian yang terjadi setahun kebelakang. Aku tidak akan membicarakan tentang itu sekarang. Yang penting aku sudah bertekad untuk berubah dan memperbaiki nilaiku, dan yang lebih terpenting memperbaiki hidupku lebih baik lagi setelah semua yang terjadi setahun belakangan ini.

“Elu tu yang kenapa? teriak-teriak ga jelas kayak orang gila” ucap Dicky “Lagian kenapa sih lu masih manggil-manggil si AL? kan lu sendiri yang bilang kalau dia tidak ikut kita balik. Emang dia mau kemana sih?”

Tiba-tiba kurasakan turbelensi ringan, hingga membuat seisi kabin pesawat yang kutumpangi ini bergetar selama beberapa saat. Oh ya. Aku, Dicky, beberapa anggota HIMA dan teman teman yang lain berada dalam pesawat yang akan membawa kami pulang ke kota tempat kami tinggal. Kami baru saja pulang usai menghadiri acara Dreamfields.

”Entahlah, aku tidak tau pasti” Jawabku “Tapi yang pasti dia tidak akan pernah kembali, lebih baik lupakan dia dan jangan pernah menyebut namanya lagi, terutama di depan kakakku” Aku tidak ingin Rein tau tentang dia.

“beneran?” tanya Dicky, Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dicky.

“Sayang sekali, padahal kulihat dia sangat peduli denganmu” Ucapnya

Dia tidak hanya sekedar peduli denganku, dia lebih dari itu. Tapi Benarkah yang dia katakan di bandara tadi? Kalau dia tidak akan kembali lagi. Seandainya aku bisa mencegahnya untuk pergi lagi. Tetapi . Ucapannya terdengar sangat serius. Separuh hatiku berharap dia akan segera kembali secepatnya.

“BAPAK DAN IBU YANG TERHORMAT, PESAWAT AKAN MENDARAT. WAKTU SETEMPAT SEKARANG MENUNJUKKAN PUKUL 7 LEWAT 15 MENIT DI PAGI HARI. SILAHKAN MENGENAKAN SABUK PENGAMAN ANDA. PASTIKAN JENDELA DI SAMPING ANDA TETAP DALAM KEADAAN TERBUKA. LAPTOP DAN ALAT ELEKTRONIK LAINNYA KAMI MOHON UNTUK DIMATIKAN SEKARANG. TERIMAKASIH”

Seperti itu bunyi pengumuman yang kudengar. Kami semua yang berada di dalam pesawat pun mengikuti arahan flight attendants tersebut. Aku dan teman teman anggota HIMA yang lain memang sengaja memilih penerbangan pertama karena ada beberapa anggota HIMA senior setelah mendarat nanti harus segera bergegas ke kampus untuk ikut mengawal kegiatan ospek mahasiswa baru di hari pertama.

Setelah turun dari pesawat, aku dan Dicky berjalan beriringan bersama teman teman yang lain menuju pintu keluar Bandara. Kulihat mereka masih ada yang mengantuk dan terlihat enggan menarik kopernya. Suasana bandara sudah sibuk meskipun masih sangat pagi sekali. Saat sedang berjalan itulah seseorang mendorong tubuhku dari belakang dengan cukup keras. Sepertinya dia sengaja melakukan itu. Tubuhku langsung terpental ke depan dan terjatuh ke lantai bandara karena kuatnya dorongan. Sampai membuat kacamatku terlepas dan terjatuh. Meskipun pandanganku terbatas karena kacamataku yang terlepas, tetapi aku tau siapa yang mendorongku. Dia adalah BENI, wakil ketua HIMA. Aku bisa mengetahuinya dari tubuhnya yang tinggi dan besar, itu sebabnya dia dijuluki BIG BEN, seperti nama menara jam raksasa di kota london. Aku melihatnya berjalan santai bersama anggota HIMA yang lain tanpa sedikitpun merasa bersalah setalah sengaja mendorongku sampai aku terjatuh.

Dan satu-satunya alasan kenapa Beni seperti itu kepadaku adalah seseorang yang baru saja mengenakan kacamata di wajahku ini.

“Rega kamu gapapa?” Tanya dia

Namanya adalah LUNA. Seorang Cewek yang sangat cantik seperti boneka barbie dengan tubuhnya yang sempurna, warna mata yang begitu indah, bulu mata lentiknya, semua cowok di kampus pasti kenal dengannya dan tergila-gila dengan kecantikannya termasuk aku. Tinggi badanya bisa dibilang cukup tinggi untuk seorang cewek, hampir menyamai tinggi badanku dan sama seperti Rein dan juga Alexa. Luna memiliki rambut lurus panjang dan sedikit bergelombang di bagian bawahnya yang terlihat begitu indah dan dicat berwarna coklat seperti gaya rambut cewek kekinian. Dengan status sosial yang tinggi, kecerdasan diatas rata-rata serta multi talent menjadi latar belakang yang sempurna bagi kecantikan fisiknya yang juga empurna. Semua hal yang dia punya itu membuatnya begitu mudah untuk dikagumi semua cowok di kampus. Luna adalah salah satu wanita di kampus yang ku puja puja kecantikannya selain wali dosenku, Bu Fiona.

“Hellooooo ! Rega??” Seru Luna. Sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajahku

“Eh. Iya Lun, kenapa?” Sial. Dia memergokiku sedang melamun.

“Sepertinya kamu baik-baik saja” ucapnya lalu tersenyum dan membantuku berdiri.

Kemudian Luna mengapit lenganku dan mengajakku berjalan bersamanya, Meninggalkan Dicky di belakangku yang sedang geleng-geleng melihatku digandeng Luna.

“Mulai sekarang Beni akan terus mengganggumu” ucap Luna

”Resiko yang sepadan” balasku, kemudian tersenyum kepadanya.

Beni kesal denganku setelah melihat apa yang aku lakukan bersama Luna semalam. Karena seperti yang kukatakan tadi bahwa semua semua cowok di kampus tergila-gila dengan Luna, termasuk Beni. Dan apa yang aku lakukan semalam bersama Luna pasti membuatnya sangat marah.

”Kamu memang penuh kejutan Rega” Ucapnya, kami saling berpandangan sambil tetap berjalan menuju pintu keluar bandara.

Setelah beberapa hari ini bersamanya, seharusnya aku yang berkata seperti itu kepadanya. Luna yang selama ini kukenal anggun dan sopan ternyata memiliki sisi lain yang begitu liar dan nakal. Malam itu dia berhasil mengejutkanku dengan aksinya.

“Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan” ucapnya tiba-tiba. “Kamu sedang memikirkan malam itu”

”Eh, bagaimana kamu bisa tau?” tanyaku. Segampang itukah cewek mengetahui apa yang ada dipikiran cowok? ataukah Luna memang mempunyai kekuatan telepati yang bisa membaca pikiran seseorang?.

“Haruskah aku khawatir kamu akan menceritakan tentang malam itu kepada teman-temanmu?” tanya dia “Kepada temanmu yang sedang memperhatikan kita dari belakang itu”

“aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun, apa yang terjadi disana tetap berada disana, tidak akan ada yang tau” ucapku meyakinkannya. Walaupun sebenarnya ada seseorang yang tau apa yang kami lakukan malam itu.

Kemudian Luna berhenti berjalan, membuatku juga menghentikan langkahku Dia menatapku lagi. Tangannya masih mengapit lenganku.

“Aku percaya kamu” ucapnya. “tapi aku sedikit kecewa dengan apa yang kamu katakan barusan”

“Hah? Ucapanku yang mana?” tanyaku

”Tentang apa yang terjadi disana tetap berada disana” ucapnya kemudian tersenyum dengan senyuman yang penuh arti. Eh. Apa maksud perkataannya itu?. Kenapa aku tidak mengerti dengan ucapanku sendiri.

“By the way. Mau bareng pulang? Kamu tidak bawa mobil kan?” ajak Luna.

“Seingatku, Kamu juga tidak membawa mobil kan?”

“Tuh sudah ada yang menjemputku.” Ucapnya sambil menunjuk seseorang berpenampilan rapi yang sedang berjalan mendekati kami. Seorang pria dewasa, yang kutebak adalah seorang sopir.

“Ah tidak Lun, makasih. Biar nanti aku pulang bersama Dicky. Lagipula kamu harus segera bergegas ke kampus.”

“baiklah, kalau gitu sampai ketemu lagi hari rabu. Bye Regaaaa”

Akhirnya dia melepaskan tanganku. Sayang sekali. Padahal aku sudah mulai terbiasa dengan tangannya yang mulus hihi. Kulihat Luna berjalan bersama sopir pribadinya itu mendahuluiku.

“ati-ati lu dengan Luna.” Ucap Dicky sambil menyerahkan tas ranselku yang tadi terjatuh.

“Kenapa?”

“Kalau begini terus, kamu bisa bahagia” ucapnya. Aku sedikit terkejut dengan ucapannya. Aku dan Dicky masih terdiam memandang Luna yang sedang berjalan bagaikan bidadari yang akan segera pergi menuju kahyangan setelah memberikan kehangatan dan cinta di atas muka bumi.

Bahagia karena wanita?. Sudah lama aku tidak merasakan hal itu. Beberapa hari yang lalu Seseorang memintaku untuk membuka hatiku lagi, memulai suatu hubungan dari awal lagi, meskipun akan terasa sangat berat setelah pernah merasakan kehilangan yang begitu dalam, tetapi dia menyuruhku untuk belajar mencintai lagi. Tapi siapa? Tidak semudah itu, Bukankah cinta itu butuh alasan?.

Aku masih melihat Luna berjalan sampai akhirnya sosoknya menghilang diantara kerumunan orang-orang di bandara.

Dia juga memintaku untuk tidak terburu-buru untuk belajar mencintai lagi, katanya cinta akan datang dengan sendirinya saat aku membuka hatiku. Dan dia menambahkan kalau pada akhirnya aku akan menemukan alasan untuk mencintai.

“Apa gue pernah bilang kalau lu itu cowok yang sangat beruntung bisa dekat dengan cewek cewek cantik dan hot?” Tanya Dicky, kami melanjutkan berjalan lagi menuju pintu keluar bandara.

“Kamu sering mengatakannya.”

“Bahkan lu punya kakak yang body nya seperti bintang majalah dewasa dengan tetek ukuran dewa” imbuhnya. “mujur banget banget nasib lu cui” Aku hanya tersenyum mendengar Dicky yang iri dengan kedekatanku dengan cewek cewek cantik.

“Nanti ke kampus yuk?” ajak Dicky.

“Ngapain?” tanyaku “Kita kan di suruh datang di hari ketiga”

Beberapa kali aku menyebutkan tentang HIMA. Di kampus, Aku dan Dicky tergabung dalam Organisasi Himpunan Mahasiswa atau HIMA prodi Manajemen. Termasuk Beni dan Luna, mereka satu tingkat di atasku. Sebenarnya awal mula aku tergabung dalam organisasi karena aku dipaksa para senior senior HIMA terutama anggota cewek ceweknya agar aku ikut bergabung ke dalam organisasi. Sedangkan Dicky dari awal memang sudah niat untuk gabung HIMA setelah tau kalau anggota-anggota ceweknya cantik cantik dan sexy. Dan pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini, beberapa anggota yang masih tergolong baru ditugaskan mengawal kegiatan ospek mahasiswa baru di hari ketiga, termasuk aku dan Dicky.

“semester baru adalah sebuah kesempatan baru untuk kita” Ucap Dicky sambil mengepalkan tangannya “Kesenangan sejati menanti kita dikampus. pasti banyak maba yang berparas cantik bertebaran di sana, cewek cewek polos yang baru saja selesai dalam masa pertumbuhan, cewek-cewek dengan senyuman tak berdosa di wajah manisnya, dan Buah dada yang sudah matang dan siap untuk dipetik, kita harus bergerak cepat bersaing dengan yang lain. Jika beruntung malam ini kita akan ngentot dengan salah satu dari mereka. hahaha”

“Tidak tertarik. Pergilah sendiri, aku mau pulang saja. capek” Ucapku

“Memang Sia-sia mengajak orang yang sudah berpacaran dengan cewek secantik Luna. Oiya, emang lu nggak mau nemenin Luna?” tanya dia.

“Aku tidak berpacaran dengan Luna” jawabku datar atas pernyatannya yang ngasal.

“Jika kalian tidak berpacaran, lalu semalam itu apa namanya? Hah? Lalu yang barusan tadi apa?”

“Pokoknya aku dan Luna tidak berpacaran” sebenarnya aku juga tidak tau kenapa Luna bisa seperti itu denganku. Apakah dia? Ah tidak mungkin. Terlepas dari alasan Luna seperti itu, ternyata Luna adalah sosok cewek yang menyenangkan, tidak seperti yang kubayangkan selama ini.

“Ayolah bray. Sebagai temenlu selama setahun ini, temenin gue ke kampus ya?. Meskipun gak pinter, tapi Elu itu populer di kampus. Pasti banyak Maba yang pengen tidur dengan elo. Ntar lu kenalin mereka ke gue. Oke? Dapet sisa sisa dari elu juga gapapa dah”

“Nope, usahalah sendiri. Good Luck!!”

Dicky kelihatan kecewa. Seperrtinya Dicky sudah menyerah memaksaku untuk datang ke kampus. Tiba-tiba wajahnya terlihat sangat suram. Dia hanya berjalan pelan, menunduk merenungi nasibnya sambil menggerutu.

“Gue pikir saat masuk kuliah setahun yang lalu gue akan mudah mendapatkan pacar, tidur ditemani cewek cewek kampus bertetek besar setiap hari. Kenapa gue masih jomblo? Huaaaa. Hidup ini memang sangat berat dan tidak adil.”gerutunya di belakangku,

Bagaiamana dia bisa punya pacar jika otaknya masih omes seperti itu. Ketika kami berdua hampir sampai di pintu keluar bandara. Aku melihat seseorang yang kukenal tepat di pintu keluar Bandara. Dia berdiri menyilangkan lengannya dibawah payudaranya yang besar itu. Orang itu menatapku dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menyeramkan. mengetahui keberadaanya membuatku menghentikan langkah sampai Dicky menabrak tubuhku.

“Dick temenin aku !” Ucapku pada Dicky. Mataku masih memandang orang itu.

“Ke kampus?” tanya Diacky.

“temani aku bertemu dia”

Dia adalah Amanda Rein. Kenapa dia ada disini?. Asal kalian tahu, hubunganku dengan kakakku itu belakangan ini sedang tidak baik. Berawal dari keputusan Rein tinggal di asrama mahasiswa dua tahun yang lalu, dia hampir tidak punya waktu untukku. Ditambah dia juga aktif di sebuah organisasi di kampusnya, Rein hampir tidak pernah pulang lagi. Apalagi sejak Papa dan Bunda harus berangkat ke Korea. Tak ayal aku seorang diri kesepian di rumah sebesar itu hanya ditemani keheningan. Dan kesendirian perlahan membuat pikiranku sesak akan rasa rindu, kehilangan serta bercampur dengan rasa bersalahku kepada seseorang yang kini telah pergi. Kesendirian membuatku sangat menderita dan Rein tidak ada untukku saat aku membutuhkannya. Rein hanya memikirkan tentang kuliahnya, tak sedikitpun ada waktu untukku. Saat itu aku sangat marah dan kecewa kepada Rein dan menganggap kalau dia sudah tidak peduli lagi denganku.

Renggangnya hubunganku dengan Rein tidak semuanya diakibatkan karena dia tidak ada waktu untukku. Kesendirian dan rasa kehilangan membuatku terpaksa melakukan segala hal agar aku bisa lupa dengan penderitaanku. Aku rela melakukan apa saja agar terbebas dari rasa sakit yang sering datang di malam-malamku. Dan tidak semua yang kulakukan itu adalah perbuatan yang baik. Aku semakin terjerumus dalam kegelapan saat bertemu dengan teman-teman baru di awal kuliah. Rein yang tahu tentang itu sangat marah besar kepadaku. Akhirnya dia sering pulang ke rumah hanya untuk memastikan keadaanku, tapi semua sudah terlambat. Bukannya semakin membaik, hubunganku dengan dia semakin meruncing. Kami sering terlibat dalam pertengkaran. Dia sempat melarangku untuk bertemu dengan teman-teman baruku lagi. Bahkan sebenarnya Rein tidak mengijinkanku untuk berangkat beberapa hari yang lalu.

Tetapi sekarang aku sudah sadar bahwa selama ini aku egois dan hanya mementingkan diriku sendiri. Harusnya dari dulu aku menyadari kalau Rein juga punya kehidupannya sendiri, dunianya sendiri, dia juga punya hal-hal lain yang harus dia pedulikan selain menghabiskan tenaga dan pikirannya untukku. Aku semakin sadar kalau selama ini aku hanya menjadi beban hidupnya. Aku semakin membebaninya saat aku tidak lagi menjadi diriku sendiri. Dia pasti sangat sedih melihatku menjadi seorang monster. Akhirnya aku sadar, alasan dia sering-sering marah dan ngomel kepadaku itu agar aku tidak jatuh semakin dalam ke dalam dunia gelap. Agar kehidupanku tidak semakin hancur karena ulahku sendiri. Aku sudah berjanji untuk merubah hidupku menjadi lebih baik lagi. Dan pertama kali yang harus kulakukan adalah berdamai dengan Rein.

“Kakakmu memang cantik dan sexy, tapi nyeremin kalau sedang marah. Sampai sekarang gue masih gak menyangka kalau cewek secantik kakakmu itu bisa membuatmu harus dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari . Gak mau ah. Takut gua.” Ucap Dicky “gua duluan ya bro.”

Dalam hitungan detik Dicky sudah berada jauh dari tempatku berdiri. Dia sangat ketakutan saat Rein berjalan mendekatiku. Rein sudah semakin dekat. Aku pasarah jika Rein ngomel dan memarahiku di hadapan semu orang yang ada di bandara ini. Aku janji tidak akan membantahnnya. Aku juga siap jika dia membuatku sampai harus dirawat di Rumah Sakit lagi. Saat dia semakin dekat, aku tidak berani menatap wajahnya. Tetapi yang kutakutkan tidak terjadi. Ketika dia sudah tepat dihadapanku, dia malah memelukku. Aku sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan. Rein memelukku sangat erat. Sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali dia memelukku seperti ini.

“Kamu bersenang-senang disana?” tanya dia padaku.

“i…iya” jawabku dengan terbata.

Aku pun membalas pelukannya. Menempelkan wajahku ke wajahnya. Mengusap lembut punggungnya, dan menghirup aroma segar yang tercium dari tubuhnya. Sudah sangat lama aku tidak merasakan aroma tubuhnya.

“Ayo pulang” ucapnya setelah pelukan kami terlepas “Aku sudah memasak makanan favoritmu” Ucapnya lalu tersenyum menatapku. Sama sekali tidak kutemukan ekpresi marah di wajahnya. tidak seperti dugaanku sebelumnya.

Setelah itu aku dan Rein sudah berada di dalam mobilnya. Rein berada dibalik kemudi, sesekali dia menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku juga masih tidak tau harus berkata apa kepadanya, munbkin aku harus minta maaf terlebih dahulu.

“Dek” akhirnya dia berusara lebih dulu “maafkan aku kalau selama ini selalu memarahimu, membentakmu, aku juga berutang maaf setelah apa yang aku lakukan padamu di acara reuni itu. Saat itu aku sangat berlebihan,” Ucapnya sambil tetap fokus menyetir.

“Kamu tidak perlu meminta maaf Rein, aku yang salah. Aku sudah menyakiti perasaanmu dengan segala perbuatanku, aku yang harusnya minta maaf kepadamu. Aku minta maaf atas segala yang kuperbuat kepadamu atau kepada diriku sendiri. Aku janji akan berubah menjadi lebih baik lagi dan aku janji tidak akan membuatmu menangis karena aku lagi, aku tidak akan membantahmu lagi, mulai sekarang aku akan menuruti segala perkataanmu. Karena sekarang aku sadar, kamu marah kepadaku dan keras kepadaku karena kamu ingin menjagaku, karena kamu peduli dan menyayangiku dan juga tidak ingin terjadi hal yang buruk kepadaku ”

“Kita sama sama tau kalau kamu seperti itu karena ulah temanmu itu. tapi Aku sangat senang mendengarnya, Aku akan selalu menyayangimu Dek, meskipun terkadang kamu sangat menyebalkan“ Ucapnya, kulihat senyum tipis di bibirnya ketika aku menatapnya.

“Setelah ini aku akan berusaha selalu ada untukmu. Meskipun aku tidak akan untukmu setiap hari. Tapi aku akan mencoba unuk melakukannya” ucapnya.

“Kamu tidak harus melakukannya, aku gapapa kok, janji aku tidak akan seperti dulu lagi. Lebih baik Kamu fokus ke kuliahmu yang hanya tinggal beberapa semester lagi”

“Aku masih kakakmu Dek, meskipun bukan kakak kandung. tidak seharusnya aku meninggalkanmu begitu saja seperti kemarin. Aku sudah membicarakan tentang masalahmu ke Papa dan Bunda”

Ucapan Rein membuatku reflek untuk menatap lagi wajahnya.

“Apa yang kamu katakan kepada mereka?” Tanyaku

“Jangan khawatir, aku hanya mengatakan apa yang perlu mereka dengar. Aku tidak tega mengatakan ke Bunda tentang apa yang terjadi padamu selama ini, tak bisa membayangkan betapa sedihnya bunda jika sampai tahu.”

Syukurlah, aku sangat lega mendengarnya. Bunda pasti marah dan kecewa dan marah kepadaku jika tau yang sebenarnya terjadi kepadaku.

“Aku katakan kepada mereka tentang kamu selama ini merasa kesepian sendirian di rumah, dan aku meminta pendapat mereka tentang bagaiamana jika kamu tinggal di suatu tempat bersama teman-temanmu yang lain agar kamu tidak merasa kesepian lagi. Mereka setuju dengan saranku. ”

Hah? Aku sangat terkejut dengan apa yang dia katakan. Bagaimana mungkin dia mempunyai ide seperti itu? bukankah selama ini dia malah melarangku dan mati-matian mencegahku bergaul dengan teman-teman kuliahku.

”Kamu pasti merasa aneh mendengar ideku ini, padahal selama ini aku mengekangmu, berusaha menjauhkanmu dari segala hal yang merusak dirimu termasuk menjauhkanmu dari temanmu,, tapi akhirnya aku sadar jika aku terlalu berlebihan melakukannya, aku malah membuat luka dihatimu semakin dalam, hal itu hanya akan membuatmu semakin berontak hingga akhirnya kamu tidak bisa mengontrol dirimu sendiri, tidak seharusnya aku egois berusaha melindungimu dengan cara membatasi kebebasanmu dek, harusnya aku bisa lebih percaya denganmu,”

Tak kusangka Rein memikirkan hal itu, tapi ”Áku sudah tidak memerlukannya lagi Rein, sekarang aku hanya ingin menjalani hidupku dengan baiik, memperbaiki nilai IPK ku, aku janji tidak akan berbuat hal buruk lagi”

“Keputusan ada ditanganmu, Sebaiknya kamu pikirkan sekali lagi, malahan papa sudah mencarikan rumah tak jauh dari kampusmu, kebetulan rekan bisnis papa punya rumah di daerah sana yang sedang disewakan, gunakan rumah itu untuk kamu tinggali bersama teman-temanmu, aku harap kamu bisa memilih dengan baik teman-temanmu yang akan tinggal bersamamu disana sampai kamu lulus nanti”

Tinggal bersama teman-temanku? Siapa? Teman-teman yang selama setahun ini selalu bersamaku? Dicky dan Billa? Atau aku harus mencari teman baru yang lain? Seorang teman yang tidak akan menjerumuskanku ke dunia gelap lagi. Entahlah aku tidak harus memikirkannya sekarang. Yang penting Rein sudah percaya denganku lagi. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan kakakku lagi.

“terima kasih…. Kak, aku akan memikirkannya!” ucapku tidak berani menatap wajahnya karena malu memanggilnya kakak.

“Please jangan membuatku menyesali keputusanku ini. aku tidak ingin melihatmu menderita seperti kemarin lagi. Alexa juga pasti sedih melihatmu seperti itu. iya kan Dek?” Ucapnya.

Sial, kenapa Rein menyebut nama Alexa. “Jangan membicarakan tentang Alexa, aku sedang tidak ingin bicara tentang dia” ucapku datar. Mataku masih memandang ke jalanan kota yang macet di pagi hari ini.

“Kenapa?” tanya Rein lagi

“Karena aku tidak ingin merasakan apapun lagi tentang Alexa. Semua yang telah terjadi kepadaku itu karena dia, semua perbuatan yang aku lakukan selama ini kulakukan karena dia ”

Alexa membuatku mengerti arti rasa rindu. Rindu akan sosoknya, wajahnya, senyumnya dan cintanya untukku. Saat itu Rasa rindu kepadanya membuatku sangat menderita karena rasa rinduku itu tidak pernah sampai kepadanya. Rasa rindu yang tak tersampaikan kepada Alexa membuatku mengerti tentang arti rasa kehilangan untuk pertama kalinya. Rasa kehilangan membuatku selalu menangis diam-diam di malam hari. Rasa Rindu dan rasa Kehilangan akan sosok Alexa itu sangat membelengguku. Aku telah melakukan segala cara untuk melepas belenggu yang sangat menyakitkan itu. Dan itu yang menjadi awal mula aku terjerat dan menjadi budak kegelapan, merubahku menjadi seorang monster.

Mobilnya Rein berhenti pada sebuah TRAFFIC LIGHT, sebuah mobil sudah terlebih dulu berhenti. Rein menggunakan kesempatan ini untuk mengusap tanganku.

“Tapi kita harus tetap membicarakan tentang ALexa, kita tidak bisa berhenti mengingatnya , atau berhenti mencintainya” Ucap Rein “Karena sampai kapan pun Alexa akan selalu mencintaimu, menyayangimu, menyayangi kita berdua meskipun dia sudah tidak bersama kita. Kita harus tetap menghidupkannya di dalam hati kita. Di dalam setiap doa kita.”

Pikiranku menerawang jauh setelah mendengar apa yang dikatakan Rein.

Seandainya….

—–POV WINRY:

Seandainya kamu masih ada disini, aku tidak akan merasa sendiri di Dunia ini. kamu pasti akan menjadi orang pertama yang memintaku untuk tidak menyerah. Kamu pernah bilang tidak akan membiarkanku melaluinya sendirian. Tetapi sekarang kamu telah pergi, meninggalkanku bersama bayanganmu yang tidak mau pergi dari hatiku. Meninggalkan kenangan-kenangan indah yang kini berubah menjadi mimpi buruk yang selalu menghiasi setiap tidur malamku. Seandainya kamu menyadai betapa besarnya rasa kehilangan yang kuderita.

Tanpamu…

—–POV REGA:

Tanpamu aku seperti terombing-ambing di tengah lautan. Aku tidak tahu lagi arus mana yang harus kuikuti. Aku sempat mencoba lari dari kenyataan yang menakutkan ini, kenyataan bahwa kamu tidak lagi bersamaku. Tetapi lari ke dalam kegelapan pun tidak bisa membuatku menghindari kenyataan pahit ini. Seandainya kamu tahu betapa aku sangat mengharapkan kehadiranmu disini.

Kini…

—–POV WINRY:

Kini aku harus melalui semuanya sendiri. Entah sampai kapan aku bisa bertahan tanpa hadirmu dalam cerita panjang tak berujung ini. Sampai sekarang pun Aku masih tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan sejauh ini. Tetapi aku sudah berjanji tidak akan lagi menangisi kepergianmu.

—–POV REGA:

Sudah cukup aku membasahi jalan-jalan kota ini dengan air mata karena kehilanganmu. Aku akan melalui hari hariku kedepan tanpamu, aku akan melakukannya meski tanpa kehadiranmu lagi.

Dan sekarang….

—–POV REGA & WINRY:

Aku akan belajar mencintai lagi tanpa dirimu.

.

.

.

.

—–POV WINRY:

Mobilku berjalan lagi setelah Lampu lalu lintas itu berganti menjadi hijau. Kulajukan mobilku lebih cepat daripada sebelumnya. Miranda sudah mengabari lewat pesan kalau dia sudah sampai di kampus dan dia sudah menungguku. Rumahnya Miranda tidak jauh dari kampus, seharusnya dia tidak perlu naik mobil.

Setibanya di kampus aku di sambut oleh keramaian mahasiswa baru lainnya yang berpakaian sama denganku yang berkeliaran di luar kampus maupun di dalam. Ternyata masih banyak yang mendaftar untuk kuliah di kampus ini setelah tragedi yang menimpa salah satu mahasiswi kampus ini setahun yang lalu. Ketika sudah menemukan tempat parkir untuk mobilku, aku berjalan menuju tempat di mana Miranda sudah menungguku. Itu dia !!.

Aku melihat Miranda duduk di deretan tempat duduk panjang bersama mahasiswa baru yang lain. Dia menyadari kedatanganku, kemudian berdiri dan menghampiriku.

Saat kami berdua bertemu. Aku langsung memeluknya begitu erat, Mira sangat kaget dengan aksiku yang tiba tiba. Untungnya masih ada sahabat baikku yang menemaniku. Kuluapkan semua emosi yang kupendam di dalam hatiku dengan cara memeluknya.

“heeeehh. Kamu ngapain sih Win?” Ucap Mira sambil berusaha melepaskan pelukanku.

“uhmm aku hanya Senang melihatmu pagi ini Mir” Ucapku padanya setelah melepaskan pelukanku, kemudian aku hanya tersenyum padanya. Sedangkan dia masih bingung denganku yang tiba-tiba memeluknya.

.

.

.

.

——POV REGA——

Sesampainya di rumah aku bergegas munuju kamarku untuk segera mandi. Aku harus cepat karena Rein sudah menungguku di ruang makan, dia sudah memasak sesuatu untukku dan akan menemaniku sarapan, Senang sekali rasanya semua akan kembali seperti yang dulu lagi.

Ketika aku memasukkan tas dan barang-barangku ke dalam lemari, aku tidak sengaja menjatuhkan sesuatu dari dalam lemari. Benda itu jatuh begitu saja ke lantai.

BERSAMBUNG

END – Lembaran Yang Hilang Part 2 | Lembaran Yang Hilang Part 2 – END

(Lembaran Yang Hilang Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Lembaran Yang Hilang Part 3)