Lembaran Yang Hilang Part 14 END + Teaser Season 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Cerita Dewasa Lembaran Yang Hilang Part 14

Cerita Dewasa Lembaran Yang Hilang Part 14

Catch Me If You Can

♪ I’m sorry but
♪ Don’t wanna talk, I need a moment before I go
♪ It’s nothing personal
♪ I draw the blinds
♪ They don’t need to see me cry
♪ ‘Cause even if they understand
♪ They don’t understand​

—-POV REGA—-

.

.

.

.

Hampir satu jam kemudian Taxi yang mengantarku pulang dari restoran baru saja tiba di depan rumah. Saat turun dari Taxi aku melihat pemandangan yang ganjil dari rumah kost. Aku terheran-heran dengan keadaan rumah yang gelap gulita. Seingatku sebelum berangkat ke restoran tadi semua lampu sudah kunyalakan. Menengok rumah-rumah tetangga di sepanjang blok, hanya rumah kost yang lampunya padam. Seharusnya tidak sedang terjadi pemadaman listrik. Aku semakin terheran-heran saat menyadari kalau pintu pagar terbuka begitu lebar. Perasaan tadi aku juga tidak lupa menutupnya, pikirku.

Lalu sorot lampu yang sangat terang menyilaukan mata mendekatiku yang masih berdiri di depan rumah. Begitu terang sorot cahayanya sampai membuatku harus menyipitkan mata. Sebuah mobil SUV dengan desain yang elegan dan mewah berhenti tepat di depanku.

Itu adalah mobil super mahal miliknya Angel. Mobil premium dengan lekukan yang sangat seksi dan menawan. Gimana ya rasanya naik mobil mahal?. Hmm Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan bisa mempunyai atau membeli mobil seperti itu. Jangankan untuk memiliki, bisa menaiki mobil mewah seperti itu pun aku tidak pernah memimpikannya.

Kemudian Angel dengan celana jeans ketatnya turun dari mobil.

Angel dan mobilnya, keduanya sama-sama membuatku tergoda untuk menaikinya. Shit. Apa yang sedang kupikirkan?. Selalu saja aku tidak bisa menahan apa yang ada didalam pikiranku setiap melihat Angel dengan setiap lekukan tubuhnya yang seksi itu. Saat ini Angel memakai atasan tank top ketat warna hitam berleher rendah yang tidak bisa menutupi bagian atas tubuhnya. Belahan dan sebagian dari dua gundukan favoritku cukup terlihat dengan jelas. Bohong jika aku berkata tidak ingin menikmati tubuh Angel. Fuck..Fuck.. aku harus menghentikan pikiran itu, apalagi saat aku sedang bersamanya seperti sekarang.

Ini pasti gara-gara Mommy. Semenjak bertemu dan bercinta dengan Mommy entah kenapa aku selalu merasa bergairah setiap saat. Bayangan sedang rebahan di pangkuan Mommy tidak bisa kuhilangkan dari kepalaku.

Haruskah malam ini aku mengendap-endap kesana lagi?.

Tiap teringat akan malam yang penuh gairah bersama dengan Mommy, aku selalu punya keinginan dan keberanian untuk nekat mengunjunginya lagi. Seakan semua keraguan dan rasa takut itu hilang. Tapi saat bertemu dengan Mira, rasa bersalah karena telah bercinta dengan Mamanya serasa menampar-nampar wajahku. Aku tidak akan kesana. Setidaknya tidak untuk malam ini, karena Winry sedang menginap disana. Jadi Lain Kali?. Fuck. Apa yang salah denganku?. Aku satu tahun yang lalu pasti tidak akan ragu untuk melakukan apapun. Karena dengan pengaruh alkohol aku bisa dan berani melakukan apa saja yang aku mau, tidak peduli itu baik atau buruk dan masa bodo dengan hari esok.

“Ngapain kamu disini??” Tanya Angel membuyarkan lamanunanku “listriknya mati?” Tanya dia lagi sambil memandang ke arah rumah yang gelap.

“entahlah, aku juga barusan datang dari makan malam bersama Winry, tapi malam ini dia menginap di rumah temannya” jawabku. Tiba-tiba seseorang dari belakangku menyapaku dan Angel dari arah belakangku.

“Hai Sorry…” Serunya. Saat Aku menoleh kebelakang, ada seorang cewek berjalan mendekati kami.

Eh? Dia kan cewek yang saat itu….?.

**** FROM CHAPTER BEFORE

Seorang cewek, mungkin usianya lebih muda dariku. Dia baru saja melepas pakaiannya. Aku sama sekali tidak bergeming melihat pemandangan ini, sampai saat cewek itu akan membuka kait bra-nya tiba-tiba dia melihat ke arahku.

Tidak salah lagi. Dia memang cewek yang saat itu kulihat dari jendela kamarku sedang berganti pakaian di dalam kamarnya.

“Umm.. Mungkin kalian harus tau,” Ucap Cewek imut itu ”umm.. baru aja sebelum kalian dateng, ada beberapa orang yang mencurigakan keluar dari rumah ini.” Ucapnya menunjuk rumah kost.

“Hah???” Aku terkejut mendengar ucapannya. Siapa? Rampok? Sebaiknya aku telepon polisi.

“Berapa orang?” Tanya Angel.

“um kayaknya empat orang,” jawab cewek itu.

“Seperti apa mereka?” Tanya Angel lagi.

“nggak begitu jelas sih, aku ngelihat mereka dari jauh”

“mereka semua pake baju item-item?” Tanya Angel lagi.

“iya, bagaimana kamu bisa tau?. oiya mereka semua juga pake topi item” Jelas cewek itu.

Pakaian serba hitam dan topi hitam?. Mira juga melihat cewek dengan ciri-ciri seperti itu tadi sore, yang sempat kukira AL.

**** FROM CHAPTER BEFORE

“oiya, di depan ada cewek, Berdiri nyender di tiang lampu lagi ngelihatin rumah ini. siapa ya?” Jelasnya.

“Cewek?” Tanyaku

“Iya, mukanya ga keliatan karena dia pake topi item, tinggi, rambutnya panjang, pake celana dan atasan warna item juga”

Mungkinkah yang dilihat Mira dan cewek ini adalah orang yang sama?. Angel mengambil dua langkah kebelakang setelah mendengar penjelasan cewek itu.

“Lalu dimana mereka sekarang?” Tanya Angel serius sambil melihat sekeliling. “Dimana anggotamu yang lain?” Angel terlihat waspada. Cewek itu terlihat kebingungan dengan pertanyaan Angel.

“APA YANG KALIAN INGINKAN?” Tanya Angel lagi dengan nada tinggi. Cewek itu semakin kebingungan dan terlihat ketakutan dibentak Angel.

“kamu ngomong apa sih?” Tanyaku pada Angel. “marah-marah nggak jelas, kamu mabuk?”

“Kamu nggak Lihat baju yang dia pakai?!” Ucap Angel kepadaku. Cewek itu memang saat ini sedang memakai atasan hitam dan celana hitam. Bahkan dia juga sedang memakai topi warna hitam.

“eh? Bukan.. Bukan.. !!” Seru cewek itu “Aku nggak tau mereka siapa dan Kebetulan aja aku memakai baju yang sama dengan mereka, itu rumahku,” Jelasnya sambil menunjuk rumah tepat di sebelah rumah kost “aku juga barusan pulang diantar temanku. Waktu aku mau masuk ke dalam rumah, aku melihat mereka keluar dari sini, lalu buru-buru pergi dengan mobil mereka”

“Kamu bisa saja membodohi dia, karena dia memang idiot” Ucapnya menunjukku “Tapi Aku gak akan tertipu semudah itu” Seru Angel.

“Hoii,, Dia memang tinggal di sebelah tau’ “ Ucapku pada Angel.

“BAGAIMANA KAMU BISA YAKIN?” Tanya Angel dengan nada tinggi.

“Orang aku pernah lihat dia di kamarnya dari jendela kamarku” Ucapku meyakinkan Angel. Aku langsung tersadar dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Ohh Fuckkk. Cewek itu langsung menatapku tajam.

“oh.. ? jadi itu yang kamu lakukan sepanjang hari di dalam kamarmu? Mengintip tetangga?.. dasar cowok mesum” Ucap Angel lalu berjalan begitu saja masuk ke dalam rumah. Meninggalkanku bersama cewek yang mungkin sedang berpikir macam-macam setelah mendengar ucapan Angel. Angel sialan, mulutnya minta diapain sih tu cewek?. Shitt, ini sangat akward dan sangat memalukan.

“Jangan didengerin !! dia emang rada-rada gila.. cantik sih, tapi gila” Ucapku pada cewek itu.

“kamu harus telepon polisi, takutnya mereka itu perampok. Daerah sini sering banget kejadian ” Ucap cewek itu.

“uhmm ya,, aku mikirnya juga gitu..”

“JANGAN ADA YANG TELEPON POLISI” Teriak Angel dari dalam halaman rumah.

“Hadeeeh tu cewek… Umm, sebaiknya aku memeriksa ke dalam dulu,, btw, makasih ya” Ucapku pada cewek itu. Dia menganggukan kepala dan aku masuk ke dalam halaman menyusul Angel.

Angel sedang berdiri dekat pintu garasi. Disana dia memeriksa meteran Listrik dengan bantuan cahaya senter di ponselnya. Walaupun gelap, aku bisa melihat sebagian kulit punggung Angel karena bagian bawah tank topnya tersingkap ke atas saat dia memeriksa meteran listrik. Tak lama kemudian semua lampu di dalam rumah menyala. Wow. Aku cukup terkesan dia tau tentang listrik. Kemudian dia berjalan menuju beranda. Aku mengikutinya dari belakang.

“Modus mematikan listrik? Pasti mereka perampok.. lebih baik kita hubungi polisi” Ucapku dibelakangnya.

Tiba-tiba saja Angel berbalik badan tepat di hadapanku. “Sudah kubilang. JANGAN TELEPON POLISI!!” Bentaknya.

“Kenapa sih?” Tanyaku “Mereka sudah membobol rumah ini. lalu kita diam aja gitu? Bagaimana kalau ada barang yang hilang?”

“mereka bukan perampok, mereka nggak akan mengambil apapun” Jawabnya.

“Sok tau,,. Lalu untuk apa mereka dateng kesini kalau bukan untuk merampok? Pokoknya Aku akan menelepon polisi” Ucapku. Angel terlihat semakin emosi. Wajahnya berubah menjadi menyaramkan dengan sorot matanya yang tajam menatapku.

“DENGER YA. KALAU ADA BARANG APAPUN DI RUMAH INI YANG HILANG. BERAPAPUN JUMLAHNYA, BERAPAPUN HARGANYA. AKU YANG AKAN MENGGANTINNYA” Teriaknya kepadaku. Lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Shit. Mentang-mentang anak orang kaya maunya seenaknya sendiri. Angel sedikit mengingatkanku dengan Kak Neta, guru PPL cantik nan seksi yang juga merupakan anak dari seorang konglomerat. Mereka berdua sungguh beruntung dilahirkan dari kalangan orang yang mampu, termasuk kakak tiriku. Tapi bedanya, Rein tidak terlalu berlebihan menghambur-hamburkan uang yang diberikan Papanya.

Aku memeriksa gagang pintu rumah, tidak rusak atau tidak ada tanda-tanda pintu ini dipaksa untuk dibuka. Aku sih yakin mereka pasti masuk ke dalam rumah karena waktu tadi Angel membukanya, pintu ini sudah dalam keadaan tidak terkunci. Sepertinya mereka perampok yang profesional bisa membuka pintu tanpa merusaknya.

Sejujurnya aku tidak terlalu khawatir jika ada yang membobol rumah ini. Karena pertama, rumah ini bukan rumahku. Kedua, semua barang-barang disini milik keluarganya Jessica. Itupun tidak ada barang yang terlalu mewah disini, bahkan brankas yang ada di dalam kamar bawah tidak ada isinya. Aku juga tidak menyimpan barang-barang berharga di kamarku. Satu-satunya barang mewah di rumah ini adalah mobilnya Angel. Jadi Meskipun mereka perampok profesional, mereka membobol rumah yang salah, hahaha.

Wait.. Kamarnya Winry?? Oh Shit. Aku langsung bergegas ke lantai atas untuk memeriksa kamarnya Winry. Aku sedikit berlari saat menaiki anak tangga. Mendahului Angel yang juga sedang menaiki anak tangga. Malam ini Winry terlihat sangat down, dia seperti sedang menanggung beban kesedihan yang sangat berat. Tidak bisa kubayangkan jika dia mendengar kabar kalau seisi kamarnya diacak-acak orang atau barang berharganya dicuri. Dia pasti akan semakin sedih.

Saat kucoba membuka pintu kamarnya Winry, pintu itu tidak bisa terbuka alias masih terkunci. Aku sedikit lega. Siapapun itu, mereka tidak masuk ke dalam kamarnya Winry. Melihat ke arah kamarku, pintunya juga masih tertutup. Tidak ada tanda-tanda kalau rumah ini telah dirampok. Jadi apa yang sebenarnya orang-orang itu lakukan disini?.

Tepat di depan pintu kamarnya Winry adalah kamarnya Angel. Disana Angel berdiri terdiam menatap pintu kamarnya yang terbuka. Saat aku mendekatinya, aku terkejut melihat dari luar kondisi kamarnya Angel yang berantakan tak karuan. Barang-barang di dalam kamarnya Angel berserakan di lantai. Pecahan kaca di mana-mana dan begitu banyak serpihan barang-barang elektronik seperti layar monitor, laptop, keyboard, kabel, dan lain-lain. Apa yang dilakukan Angel dengan semua peralatan komputer sebanyak itu?. Kupandang Angel, dia hanya diam. Tidak sedikitpun kulihat ekspresi shock ataupun terkejut dari wajahnya. Seakan dia tau hal ini pasti akan terjadi. Angel berjalan pelan ke dalam kamarnya.

Aku mengikutinya masuk ke dalam kamar. Berjalan perlahan menghindari pecahan kaca yang berserakan di lantai. Saat aku sudah di dalam, semakin terlihat betapa berantakannya kamar ini.

Lemari pakaian dan semua laci terbuka. Kaca yang berserakan di lantai ternyata adalah cermin di meja rias yang hancur berantakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa hanya kamarnya Angel yang berantakan?.

Angel memungut mini laptop yang ada di lantai. Mencoba menyalakan laptop yang monitornya sudah retak itu.

“aku harus segera pergi” Ucapnya, lalu menatapku “kamu juga harus pergi dari sini” Ucapnya kepadaku

“Kenapa?” tanyaku

“karena mereka belum mendapatkan apa yang mereka cari, mereka pasti akan kembali sebentar lagi”

“Jadi Kamu tau Siapa Mereka? Apa yang mereka cari??”

“pergilah kalau kalau kamu masih belum bosan bermain-main dengan banyak cewek,” Ucapnya sambil berjalan ke arahku bermaksud keluar dari kamar. Tapi aku menghadang jalannya.

“Apa maksudmu? Katakan apa yang sebenarnya terjadi” Ucapku dihadapannya “Wait,, jangan-jangan yang mereka cari itu sebenarnya adalah kamu? Kamu sedang bermasalah dengan orang-orang itu?” Tanyaku. Angel terdiam beberapa saat.

“bukan urusanmu” Ucapnya dingin. Lalu memaksa berjalan melewatiku. Pundaknya menabrak pundakku.

“Kenapa sih kamu selalu egois dan mementingkan dirimu sendiri?. Kamu ga mikir kalau aku dan Winry juga akan kena akibat dari apapun masalahmu ini?” Ucapku, Angel tidak mempedulikanku dan tetap berjalan keluar kamar “Fine, sana pergi.. Aku akan tetap disini menunggu polisi yang akan datang setelah aku menghubunginya”.

Mendengar ucapanku, Angel langsung menghentikan langkahnya sebelum keluar dari kamar. Dia berbalik badan menatapku lagi.

“Jangan lakukan itu” Ucapnya sambil berjalan mendekat “jangan katakan apapaun tentang hal ini kepada siapapun, apalagi kepada polisi”

“Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi atau aku akan mengatakan semua yang terjadi kepada polisi” Ancamku.

“Ffuckkkkkk” Angel mengumpat lalu berjalan kembali ke arah tempat tidurnya dan duduk disana. Dia terlihat sangat kesal. Perlu beberapa saat sampai akhirnya dia bicara.

“kamu benar. Mereka mencariku” Ucapnya pelan. “Percaya aku. sebentar lagi mereka akan datang kesini. Dan jika mereka melihatmu bersamaku. Kamu juga akan …….” Angel tidak melanjutkan kalimatnya.

“kenapa? Kenapa orang-orang berpakaian hitam itu mencarimu?”

“Karena sesuatu yang telah aku lakukan membuat mereka kesal. Itu sebabnya mereka mencariku”

“Apa yang sudah kamu lakukan? Shit.. bisak nggak sih kamu mengatakannya lebih jelas lagi, jangan sepotong-potong”

“Kamu gak perlu tau apa yang aku lakukan. Ini masalahku, percalah kamu gak akan mau terlibat dengan masalah ini,, bisa nggak setidaknya kita pergi dari sini dulu?” Angel menatapku. Aku menggelengkan kepala.

“Jika kamu sedang bermasalah dengan orang-orang itu. Kenapa kamu gak mau melibatkan polisi? Minta bantuan mereka,, lihatlah apa yang sudah mereka lakukan?” Ucapku sambil melihat sekeliling kamar Angel yang berantakan. Angel terdiam, dan melihat ke arah lain.

“apa sebenarnya masalahmu dengan orang-orang itu Angel? Katakan kepadaku”

Cukup lama Angel terdiam lagi. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengehembuskannya. Kemudian dia menatapku.

“Jangan salahkan aku jika akhirnya mereka juga akan memburumu karena mengetahui hal ini.” Ucapnya “mereka mencariku karena aku berusaha ngehack mereka. mengacaukan operasi mereka” Ucapnya.

“Hack?? Kamu hacker?”. Tanyaku. Aku sangat terkejut dengan pengakuannya. Angel terdiam. Berarti apa yang dia katakan adalah benar. Dan menjelaskan kenapa banyak peralatan dan perlengkapan komputer di dalam kamarnya ini.

Tunggu dulu.. Mendengar pengakuannya membuat sel-sel di otakku berpikir keras. Mencoba menyambungkan berbagai macam informasi yang telah kuterima di memori otakku menjadi satu. Seperti sebuah benang merah dari serangkaian peritiwa yang terjadi, semuanya saling berhubungan. Jika mendengar tentang Hacker, masih segar di ingatanku tentang serangan hacker pada UNI-BANK. Karena aku selalu mengikuti perkembangan kasus itu di berita. Aku pernah tidak sengaja mendengar Angel berkata tentang alasannya ngekost di tempat ini adalah untuk bersembunyi.

**** FROM CHAPTER BEFORE

Tiba-tiba terdengar suara Angel dari dalam kamar.

“Jika bukan karena aku membutuhkan tempat untuk bersembunyi, aku ga akan tinggal disini”

Hah? Bersembunyi?

Jadi alasan dia mau-maunya tinggal di sini dibandingkan dengan rumahnya yang seperti istana itu karena dia ingin bersembunyi. Tapi bersembunyi dari apa? Siapa? Mungkinkah dia sedang sembunyi dari keluarganya? Atau mungkin dia sedang sembunyi dari cowoknya? Entahlah bukan urusanku, aku tidak mau ikut campur. Belum tentu juga rumah besar di pusat kota itu rumahnya Angel. Sekali lagi itu bukan urusanku. Urusanku adalah menagih uang sewa kamar darinya.

Itu sebabnya sejak awal dia memaksa untuk tinggal disini. Dan dia mulai ngekost disini setelah serangan itu.

“Kamu terlibat dalam serangan itu kan? SHUTDOWN!?” Tanyaku. Angel menatapku “Dan mereka yang sebenarnya mencarimu itu polisi kan? Itu sebabnya daritadi kamu melarangku menghubungi mereka.. karena kamu adalah pelaku serangan itu”

Angel menatapku begitu dalam. Meskipun aku tidak secerdik Detective Conan dalam memecahkan sebuah kasus Atau sepintar master deduksi, Sherlock Holmes. Tapi aku sangat yakin dengan dugaanku. Semunya masuk akal sekarang. Gaya hidupunya yang glamour dan mobil mewahnya itu pasti hasil dari tindak kejahatan dunia maya. Tak kusangka pelaku serangan mengerikan yang sudah menyengsarakan banyak orang itu selama ini bersembunyi tepat di sebelah kamarku.

“Sebaliknya, mereka yang tadi kesini, yang mengacak-acak kamarku ini dan yang sedang mengejarku adalah dalang dibalik serangan itu.” Ucapnya. “Tadi sudah kubilang kalau aku membuat mereka kesal dengan apa yang aku lakukan. Mereka kesal dan memburuku karena aku berusaha mengembalikan data catatan keuangan milik para nasabah UNI-BANK”

Whatt?? Benarkah yang dia katakan?.

“Dua hari sebelum serangan itu terjadi.” Angel melanjutkan penjelasnnya “Aku dan para penghuni underground dunia maya mendapatkan info anonim mengenai rencana serangan pada sebuah Bank, tanpa menyebutkan nama Bank-nya. Kami yang concern dengan rencana serangan itu telah melakukan segala cara untuk mencegahnya. Karena kami tau jika serangan itu benar-benar terjadi, tidak hanya para nasabah yang menjadi korban tapi juga akan berdampak besar pada komunitas hacker. Kami mencari tau siapa mereka, siapa target mereka, dan kapan serangan itu akan terjadi. Tapi Kami tidak mendapatkan apapun sampai akhirnya serangan itu terjadi.”

Angel berdiri kemudian memeriksa ke arah luar jendela kamarnya. Aku belum bisa memastikan kebenaran dari apa yang dia katakan. Tapi seingatku, serangan itu terjadi pada malam hari sebelum hari ketiga kegiatan ospek. Pada hari itu pertama kalinya aku melihatnya saat dia menerima penghargaan. Saat itu dia terlihat sangat mengantuk dan kelelahan.

**** FROM CHAPTER BEFORE

“Tim Cyber Crime pasti sedang lembur sekarang menyelidiki kasus ini, sibuk memperbaiki kerusakan dan sibuk mencari mencari pelakunya, kira-kira siapa ya pelakunya?” Ucap Dicky.

“…. ANGELA NAFANDRA” Terdengar Suara MC acara kegiatan ospek diatas panggung menyebut nama seseorang, kemudian semua orang bertepuk tangan setelah mendengar nama itu disebut. Aku masih belum tau kenapa semua orang bertepuk tangan.

“Angela ? siapa?” tanyaku.

“itu yang duduk dibelakang” Ucap Dicky “Dia anak teknik satu angkatan dengan kita, dia akan mendapatkan penghargaan sekaligus menjadi contoh sempurna bagi mahasiswa baru karena berturut turut selama dua semester mendapat nilai IP sempurna.” Jelas Dicky kepadaku.

Dua semester berturut turut mendapat nilai 4? Gilakkkk. Pinter banget tuh anak. Aku langsung menoleh ke belakang setelah mendengar penjelasan dari Dicky. Aku melihat satu satunya mahasiswa yang duduk sambil memejamkan matanya di deretan kursi paling belakang.

“Cewek yang sedang tidur itu?” tanyaku.

Jika yang dia katakan tadi benar. Artinya malam sebelum dia naik panggung itu dia sedang berusaha mencegah serangan itu?.

Angel melanjutkan penjelasannya. “Dengan persiapan yang sistematis, akses yang tepat, dan virus yang mematikan, mereka merusak data keuangan para nasabah UNI-BANK, mengenkripsi semua data sehingga tidak bisa terbaca, semua data nasabah hilang, mulai dari catatan tabungan, kartu kredit, pinjaman para nasabah semua tidak bisa di akses dan mungkin untuk selamanya. Bahkan ahli IT cyber crime pun kurasa tidak bisa memecahkan data yang telah ter-enkripsi itu. Tanpa data keuangan itu, Bank tidak bisa mengembalikan uang semua nasabah. Aku baca berita tadi pagi. Banyak nasabah yang nge-klaim tabungan atau deposito mereka dengan membawa bukti print out, namun pihak Bank tetap tidak bisa memverifikasi bukti itu tanpa data keuangan. Pihak Bank mengatakan kalau bukti prin out bisa dipalsukan. Kamu bisa bayangkan betapa mengerikannya serangan ini kan?. Orang-orang berteriak di jalanan menuntut uang mereka. Para pemilik tabungan dan pemilik deposito jutaan sampai milyaran.”

Aku hanya bisa melongo, merinding dan tercengang mendengar penjelasannya Angel. “Aku memang tidak tau banyak tentang hal ini, tapi bukankah seharusnya Bank mempunyai data cadangan untuk menghindari hal-hal seperti ini?” Tanyaku.

“UNI-BANK menyimpan data data mereka di dua tempat. Mereka mempunyai pusat data di sini, tepatnya di kota sebelah, satu lagi ada di luar negeri. Dan semua data di dua tempat penyimpanan itu hancur secara bersamaan. Seperti yang kukatakan tadi, persiapan yang sistematis, akses yang tepat, dan virus yang mematikan. Tapi lagi-lagi sebuah info anonim datang entah dari mana, mengatakan kalau data cadangan nasabah UNI-BANK masih tersembunyi di pusat data mereka di kota sebelah. Aku mencoba memeriksa info itu, aku berhasil masuk ke sistem mereka dan berusaha mencari data terenkripsi itu”

“Jadi kamu berhasil melakukannya?” tanyaku.

Angel menggelengkan kepalanya pelan. “Virus yang kubuat tidak berjalan dengan semestinya. Mereka yang melakukan serangan itu masih menguasai sistem pusat penyimpanan data di kota sebelah. Aku ketahuan. Dengan kemampuan mereka, mudah saja bagi Mereka untuk melacakku. Itu sebabnya mereka memburuku, minggu lalu mereka mengejarku di jalanan tapi aku berhasil lolos. Malam itu aku sampai harus berputar-putar di jalanan sepanjang malam sampai pagi untuk memastikan kalau aku benar-benar lolos dari mereka. Tapi sepertinya mereka sudah berhasil menemukanku disini”

“minggu lalu? Saat tiba-tiba kamu pingsan itu?” Tanyaku. Jadi itu alasannya siang hari itu Angel terlihat pucat sampai akhirnya dia pingsan. “siapa mereka sebenarnya? Orang-orang yang melakukan serangan itu, orang-orang yang sedang mencarimu” Tanyaku.

“Mereka adalah Kelompok hacker paling ditakuti di Dunia. Mereka tidak mempunyai kode etik. Mereka nge-hack siapa saja demi kepentingan mereka. Mereka dekat dengan orang-orang yang menjalankan dunia ini secara diam-diam. Ada yang bilang kalau mereka juga berafiliasi dengan teroris. Anggotanya bertebaran di mana-mana, di setiap negara. Mereka sangat berbahaya, berani melakukan apa saja, melakukan apapun kepada siapapun yang menghalangi mereka”

“Dan mereka baru saja masuk ke dalam rumah ini? Gilaaak” Seruku. kutarik kursi beroda di samping meja dan mendudukinya. Aku masih tercengang mendengar penjelasan Angel tentang profil pelaku serangan itu. Sepertinya aku menyesal telah bertanya tantang hal ini. “kenapa kamu berani melakukan ini Angel? membahayakan dirimu sendiri berurusan dengan orang-orang itu?” Tanyaku.

“Aku tidak bisa hanya diam saja disaat seharusnya aku merasa bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan simpanan para nasabah. Tapi aku gagal, aku benar-benar kacau, Padahal Temanku sudah berusaha mencegahku untuk tidak melakukannya.”

♪ I’m taking my misery
♪ Make it my bitch; ​

♪ can’t be everyone’s favorite girl​

Ternyata Angel tidaklah seburuk yang kukira. Dibalik sipaknya yang dingin kepadaku, ternyata dia adalah seorang yang peduli. Seorang pejuang kebenaran berhati malaikat yang tidak bisa membiarkan kejahatan merajalela. Dia salah satu orang yang menyadari bahwa Dunia ini adalah tempat yang paling kejam saat orang-orang sudah tidak peduli dengan sekitarnya. Meskipun akhirnya dia gagal, setidaknya dia sudah berusaha untuk menolong orang-orang yang tertindas, tidak peduli meskipun harus menempatkan dirinya dalam bahaya. Sekejap saja Angel membuatku kagum. Aku merasa bersalah selama ini men-judge dia hanya dari luarnya.

“kenapa kamu melihatku seperti itu?” Tanya Angel

“eh? ,, enggak,, aku masih nggak percaya kalau kamu adalah seorang hacker” Ucapku.

“kamu pikir hacker itu seperti apa?”

“umm,yang pasti cowok, kurus, gondrong, pake kacamata tebal dan selalu memakai jaket.” Jawabku “kamu sama sekali tidak terlihat seperti seorang hacker”

“Emangnya aku terlihat seperti apa?” Tanya dia lagi.

“Seorang Model mungkin?, kamu modis, cantik, seksi, dan….”

“Diam..” Serunya pelan

“Sorry ,sorry aku terlalu jujur ya? Hehe..” Ucapku, lalu tiba-tiba Angel mendekatiku dan membungkam mulutku.

“Ssstt.. Mereka datang..” Ucapnya.

Aku langsung panik saat aku mengintip keluar jendela. Ada sebuah mobil berwarna hitam yang baru saja berhenti di depan rumah. Setelah mendengar cerita dan penjelasan Angel, melihat mobil itu kini terasa begitu menyeramkan. Firasatku mengatakan kalau ini bahaya mendatangi kami.

“Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku pada Angel.

“Fuckk. Kita tersudut. tidak akan bisa sembunyi ataupun lari dari mereka” Serunya.

“hah? Kira-kira apa yang akan dia lakukan kepada kita?” tanyaku. Aku begitu tegang melihat mobil itu.

“entahlah, mungkin mereka akan membawa kita ke sebuah tempat, mengurung kita disana, menyiksa kita sampai mati,, atau jika beruntung, mereka langsung menembak kita ditempat” Ucapanya.

Ucapan dan nada bicaranya semakin membuatku ketakutan. Tanganku langsung bergetar, kakiku goyah, kepalaku berkunang-kunang.

“kamu kenapa?” Tanya Angel. Dia pasti melihatku wajahku yang pucat karena ketakutan. Aku dan Angel masih berdiri berdekatan sambil mengntip ke arah luar jendela.

“Aku masih belum mau mati,,,“ Seruku.

“Astaga. Kamu ini cowok atau cewek sih?”

“Mereka akan menangkap kita. Kenapa kamu masih terlihat tenang?” Tanyaku.

“jika kamu gak bisa mengendalikan apa yang ada di kepalamu, kamu gak akan bisa mengendalikan apa yang kamu lakukan. aku sedang berpikir bagaimana cara gar bisa lolos dari mereka”

Kemudian empat orang keluar dari mobil itu. Persis yang dikatakan cewek tetangga tadi, semua orang yang keluar dari mobil itu berpakaian serba hitam, dan memakai topi hitam. Ada empat orang. Yang satu bertubuh besar. Yang dua bentuk tubuhnya normal, dan satu lagi bertubuh langsing berambut panjang. Cewek? Sepertinya cewek itu yang tadi sore dilihat Miranda. Kemungkinan sore tadi mereka melakukan pengamatan pada rumah ini. Kemudian tiba-tiba cewek itu menatap ke arah jendela kamar Ini, aku langsung reflek menutup tirai jendela. Suasana terasa semakin menegang.

“bisa nggak mikirnya lebih cepat? Mereka akan masuk ke dalam rumah.”

“Fakyyuu,kamu benar-benar cowok yang tidak berguna.. harusnya kamu membantuku berpikir, “ Serunya “Mereka sudah melewati pagar, tidak ada pilihan lain, kita harus menghadapi mereka jika kita ingin selamat. Menurutmu apa perbedaan antara pertahanan diri dan pembunuhan yang direncanakan? Jika aku membunuh seseorang karena aku tidak ingin mati, apakah itu pertahanan diri? atau itu pembunuhan?” tanya Angel.

“what the..? kamu bicara apa sih? Kamu mau ngapain? Melawan mereka?” tanyaku

“mau gimana lagi coba?” Shit. Aku yang tidak ingin megambil resiko langsung meraih tangan Angel dan mengajak dia keluar kamar.

“Heh..? Mau kemana?” Tanya Angel pelan saat kuajak dia berlari secepat mungkin menuju ke belakang rumah. Kemudian kami berdua menaiki tangga sempit di lantai dua menuju ruangan yang dulunya digunakan kakaknya Jessica sebagai studio musik.

**** FROM CHAPTER BEFORE

“diatas ada sebuah ruangan yang dulu dijadikan kakakku sebagai studio musik. Kalau kamu suka dengan seks yang berisik atau Kalau kamu ingin gila-gilaan dengan Luna tanpa takut didengar orang lain, kamu bisa gunakan ruang itu karena disana kedap suara. Kakakku sering mengajak ceweknya ke ruangan itu” Ucap Jessica.

Tangga sempit itu terhubung pada sebuah pintu ruangan. Aku dan Angel masuk ke dalam ruangan itu, menyalakan lampu dan langsung mengunci pintunya. Jantungku berdebar-debar tak karuan. Nafasku memburu. Tanganku masih bergetar hebat. Lalu aku duduk di lantai yang kotor dan berdebu, bersandar pada pintu. Kemudian Angel melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang berubah sejak terakhir kali aku masuk ke dalam ruangan yang berdebu ini. Semenjak pertama kali pindah, ruangan ini belum sempat kubersihkan. Masih ada beberapa kardus-kardus, meja dan kursi yang rusak, peralatan band seperti buss drum yang kulitnya sobek, stand mic dan beberapa speaker.

“Bodoh banget kamu ya? percuma kita sembunyi disini, menurutmu berapa lama lagi sampai akhirnya mereka memeriksa ruangan ini?” Ucap Angel.

“lebih baik bersembunyi daripada rencana gilamu untuk menghadapi mereka” Seruku,

“Kamu meragukan kemampuan membela diriku hah?” Tanya dia. “aku gak pernah takut kepada apapun, siapapun. Meskipun akhirnya aku harus kalah, setidaknya aku gak akan lari dari pertarungan seperti seorang pecundang ”

Sial. “emang kamu pernah berkelahi sebelumnya?” Tanyaku.

“hanya di tempat latihan”

“sama saja dengan bunuh diri..” Sindirku.

“ITU LEBIH BAIK DARIPADA SEMBUNYI DI TEMPAT SEPERTI INI SEPERTI ANAK KECIL YANG KETAKUTAN..” Teriaknya “Ohh wait, kamu emang masih kecil” Gantian dia menyindirku.

“Songong banget. Kita seumuran.. “

“DIEM !!. Anak kecil banyak omong. “

Sial. Angel kembali menjadi cewek yang menyebalkan. Menit demi menit berlalu. Perasaanku semakin tidak karuan. Kapanpun mereka akan segera menemukan kami di ruangan ini. Bahkan aku terlalu takut memikirkan apa yang akan terjadi jika orang-orang itu menangkap kami. Aku menyesal melibatkan diri dalam kekacauan ini. Harusnya tadi aku tidak ragu untuk langsung pergi mengunjungi Mommy.

“bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan?” Tanyaku.

“daritadi kamu tanya seperti itu terus, seakan aku tau jawabannya” Ucapnya “Aku menerima saran” Serunya.

“ini semua salahmu, kamu yang membawa mereka kesini, ini tanggung jawabmu” Ucapku. Dia terlihat marah mendengar ucapanku.

“AKU? AKU YANG SALAH? TADI AKU SUDAH BILANG KALAU MEREKA AKAN KEMBALI. KAMU MALAH MENAHANKU DISINI. ”

“MANA AKU TAU KALAU MEREKA BENAR-BENAR AKAN KEMBALI SECEPAT INI” Jawabku

“GAK USAH TERIAK-TERIAK. KAMU PENGEN MEREKA TAU KALAU KITA ADA DISINI HAH?”

“RUANGAN INI KEDAP SUARA. MEREKA GAK AKAN MENDENGAR KITA.. LAGIPULA DARITADI KAMU JUGA TERIAK-TERIAK”

“AKU BENCI BANGET SAMA KAMU” Teriaknya.

“YAUDAH SAMA” Balasku.

Siaaall. Seandainya Rein ada disini. Aku harus menghubungi dia. Meskipun nantinya dia akan marah besar kepadaku karena terlibat hal seperti ini, tapi Dia pasti tau apa yang harus dilakukan. Kuraih handphoneku di saku celana.

“Ngapain?” Tanya Angel.

“mencari bantuan. Aku menghubungi kakakku dan menyuruhnya kesini”

“Bodoh banget sih? Kamu pengen kakakmu kenapa-kenapa? apalagi dia cewek”

Aku mengurungakan niatku menghubungi Rein setelah mendengar penjelasan Angel. Karena benar yang dia katakan, dengan menyuruh Rein kesini sama saja aku membahayakan kakakku itu. Wait.. Kok dia tau kakakku itu cewek??

“lalu apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi mereka pasti menemukan kita disini.” Ucapku. Kemudian Angel berdiri.

“disana !!” Serunya sambil menunjuk ke atap. Dibagian atap ruangan ini terdapat dua kaca jendela yang menghadap ke angkasa.

“itu jalan keluar kita untuk pergi dari sini” Imbuhnya.

Aku juga ikut berdri. “Misalnya kita sudah sampai di atas. Lalu? Lalu apa selanjutnya? Bagaimana cara kita turun dari atap?” Tanyaku

“kita turun dari rumah tetangga. Setiap rumah besar pasti menyediakan tempat terbuka di bagian belakang atas rumahnya sebagai tempat untuk menjemur pakaian. Setelah di atas, kita cari jalan menuju tempat jemuran itu. Mobilku masih diluar. Kita bisa kabur dari mereka. Yang perlu kita lakukan adalah menghubungi cewek tadi. Untuk membukakan pintu ” Sebenarnya bukan ide yang buruk. Tapi.

“bagaimana kita bisa menghubungi cewek tadi? Aku bahkan tidak tau namanya”

“Serahkan padaku” Seru Angel lalu mengambil handphone dari sakunya. Tidak sampai dua menit kemudian.

“Aku mendapatkannya. Namanya Nindita.” Lalu dia memberikan handphonenya kepadaku “bergunalah sedikit. Kamu yang bicara sama dia”

Di handphone-nya sudah ada belasan digit angka. Aku masih heran, Bagaimana dia bisa mendapatkan informasi secapat itu?

“. bagaimana caranya kamu bisaa…?”

“udah cepet telepon dia”

Kutekan tombol hijau. Memanggil nomor yang tertera di handphonenya Angel. Nada panggilan pertama berbunyi. Tidak terjawab sampai dengan nada panggilan kelima. Dia mungkin sudah tidur. Atau memang dia tidak akan mengangkat telepon dari nomor yang belum dia kenal. Apalagi ini sudah hampir larut malam.

“Halo,,,”

Eh? Tersambung. Terdengar suara cewek di telepon.

“Hai, uhm Nindita?” Tanyaku

“Iya, siapa ya?” tanya dia

“aku Rega, tetangga sebelah. Kita tadi ngobrol di depan rumahku”

“Beneran? Bagaimana kamu bisa tau nomorku?”

“uhmm, aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya, bisakah aku meminta bantuanmu?”

“Apa?”

“apa benar di belakang rumahmu ada tempat untuk menjemur pakaian?”

“ii-iya diatas, kenapa sih?”

“kamu bisa membukakan pintu ruangan itu? plisss..”

“hahh? Ngapain? Pintu ruangan itu gak pernah dikunci”

“Perfect. Aku akan menjelaskannya nanti, kita ketemu disana uhm mungkin lima sampai sepuluh menit lagi. Dan jangan bangunkan semua orang.”

“Hei,,tunggu dulu apa maksudnya?” Angel langsung merebut ponselnya dariku dan mematikannya.

“sekarang kita harus cepat naik ke atas” Ucap Angel

Aku langsung memposisikan tubuhku jongkok tepat di bawah kaca jendela yang tingginya tidak sampai tiga meter itu.

“Ngapain kamu?” Tanya Angel

“Cepat naik ke pundakku, aku akan mengangkatmu.” Seruku

“kamu mau curi-curi kesempatan megang-megang aku atau kamu memang bodoh?” Tanya dia “TUMPUK MEJA DAN KARDUS-KARDUS ITU UNTUK NAIK KE ATAS.”

Benar juga, kenapa aku gak kepikiran yah?. Aku terus-terusan mempermalukan diriku sendiri didepan Angel. Kemudian aku dibantu Angel menyusun meja dan kardus-kardus itu untuk dijadikan tumpuan agar bisa naik ke atap. Aku memanjat duluan dan berusaha membuka jendela. Perlu tenaga ekstra untuk membukanya karena selotnya sudah berkarat. Lalu kutarik jendela itu ke arah dalam ruangan.

Dengan berpegangan di pinggiran bingkai jendela , aku mengangkat tubuhku naik ke atas. Dalam sekejap aku telah berada di atap bagian belakang rumah, menghirup udara segar malam hari. Sepanjang yang kulihat adalah atap-atap bangunan rumah-rumah tetangga. Ternyata benar dugaan Angel, di bagian belakang rumah tetangga terdapat tempat untuk menjemur pakaian. Dan aku melihat seseorang berdiri disana, Nindita dengan baju tidurnya model babydoll. Dia menatapku aneh, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kemudian aku melambaikan tanganku ke arahnya. Dia membalas lambaian tanganku dengan kikuk.

Kemudian aku membantu Angel untuk naik ke atas. Kami tidak bisa melihat bagian depan rumah karena terhalang genteng rumah. Bagian depan rumah ini memang tidak saling berdempetan dengan rumah tetangga kanan kiri. Tapi bagian belakang rumah saling berdekatan dan berhimpitan.

Dengan sekali pengamatan, aku dan Angel tahu bagian atap mana yang harus kami lewati agar sampai di rumahnya Nindita. Lalu dengan cepat kami menyusuri bagian samping atap rumah yang merupakan sebuah talang air. Nindita semakin kebingungan melihat aku dan Angel berhasil melompati sebuah struktur besi di bagian belakang rumahnya yang digunakan sebagai tempat menaruh tangki penyimpanan air yang besar.

“ngapain sih kalian malam-malam seperti ini?” Tanya Nindita setelah kami tidak membuang-buang waktu untuk menuruni struktur besi itu dan berada di ruang jemuran rumahnya Nindita. Aku merasa sangat lega bisa sampai disini.

Aku dan Angel saling berpandangan, dia menyuruhku menjawab pertanyaan Nindita tapi dengan mata yang berkedip beberapa kali. Apakah itu artinya aku tidak boleh mengatakan apa yang terjadi?

“uhh ini,,, kami sedang,, umm melakukan simulasi”

“Simulasi?”

“ii-iya,, jadi kami coba-coba untuk melarikan diri apabila ada perampok yang tiba-tiba mendatangi rumah kami di malam hari. He he” Jelasku. Nindita terlihat bingung dan tidak percaya dengan ucapanku.

“Kenapa ga langsung telepon polisi?” Tanya Nindita.

“Uhmm itu,,,” Shit, aku tidak tau lagi harus berkata apa.

“terima kasih sudah mengijinkan kami berada disini” Ucap Angel kepada Nindita “Dan kami gak ingin mengganggumu terlalu lama lagi,, Bisakah kamu membuka kan pintu agar kami bisa kembali? plissssss”

“ii-ya. Lewat sini..”

Kemudian Nindita mengantarku dan Angel menuju depan rumah. Sebagain besar ruangan-ruangan di rumahnya Nindita sudah gelap. Dia menyuruh kami agar berjalan perlahan dan tidak berisik agar keluarganya tidak bangun.

“cukup sampai disini saja” Ucap Angel kepada Nindita saat kami sudah melewati pintu rumah “kamu tidak perlu mengantar kami sampai luar. Sekali lagi terima kasih” Ucapnya lalu menarik tanganku agar berjalan lebih cepat. Aku hanya tersenyum kepada Nindita yang masih terheran-heran dengan tingkah kami berdua.

Sebelum sampai pagar rumahnya Nindita, Rein melepaskan tanganku dan berbalik badan melihat kembali ke arah pintu. Disana Nindita masih mengawasi kami.

“kenapa cewek itu masih belum masuk ke dalam rumah?” Ucapnya berbisik-bisik, lalu dia melambaikan tangannya dan ke arah Nindita dan memasang muka yang begitu manis. Nindita membalas lambaian tangan Angel lalu masuk ke dalam rumah.

“Hei, bukankah lebih baik kita tetap berada di sini sampai pagi? Menunggu sampai orang-orang itu pergi” Ucapku pelan pada Angel. “Mungkin Nindita gak keberatan kita disini sampai pagi”

“terlalu beresiko. Saat mereka tau kita kabur lewat atap. Pasti mereka akan mencari kita disini. kamu mau tanggung jawab jika cewek itu dan seluruh keluarganya dihabisi orang-orang itu?” Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.

“Baiklah, lalu bagaimana cara kita kabur dari mereka? langsung menuju mobilmu dan pergi secepat mungkin dari sini??” Tanyaku. Angel terdiam beberapa saat sambil memandangku.

“Setelah kupikir-pikir lagi, kamu tetaplah disini. biar aku yang menggring mereka untuk pergi dari sini” Ucapnya

“whatt?? Kenapa??”

“mereka belum melihatmu, lebih baik tetap seperti itu. ini masalahku, kamu jangan terlibat lebih jauh lagi..”

“Gak bisa. Aku akan membantumu”

Apa aku sudah gila mengatakan itu kepadanya? Aku sadar kalau mereka adalah orang-orang berbahaya. Dan aku memang harus tidak melibatkan diri lebih jauh lagi dalam masalah ini. Tapi aku tidak bisa membiarkan Angel seorang diri menghadapi ini. Aku harus membantunya.

“Setelah semua yang sudah kukatakan padamu tentang siapa orang-orang itu dan apa yang bisa mereka lakukan, kenapa kamu masih ngotot untuk membantuku?”

“Karena aku asistenmu, ingat??” Ucapku.

“Fuck.. aku tidak punya waktu untuk drama” Ucapnya “denger ya Rega,, terima kasih kamu mau membantuku,, tapi jika kamu tetap bersamaku, kamu hanya menjadi bebanku, karena kamu tidak terlihat seperti seorang fighter”

Aku langsung drop mendengar penjelasannya. Kenapa dia sejujur itu sih?. Ahhh aku pengen nangis.. aku tidak berguna sama sekali di dalam cerita ini . eh. Tapi dia barusan menyebut namaku kan? Wow, itu pertama kalinya.

“kamu masih tetap bisa membantuku dengan tidak mengatakan apapun tentang apa yang terjadi malam ini dan semua yang sudah aku ceritakan kepadamu kepada siapapun. Termasuk kepada cewek mesum itu” Ucapnya

“Cewek mesum? Siapa?”

“itu yang tinggal di depan kamarku”

“Winry?” Kenapa dia memanggil Winry seperti itu.

“Aku serius, pokoknya jangan katakan kepada siapapun, demi keselamatanmu dan orang-orang disekitarmu. Berjanjilah kepadaku. Meskipun nantinya terjadi apa-apa denganku, berjanjilah kalau kamu tetap merahasiakan ini hanya untuk dirimu sendiri”

“wait,, apa maksudmu? Kamu akan kembali kan?” tanyaku. Angel menggelengkan kepalanya.

“Meskipun akhirnya malam ini aku bisa lolos dari mereka, aku tidak akan kembali kesini” Ucapnya “aku harus segera pergi” Lalu saat Angel berbalik badan bermaksud untuk keluar pagar rumahnya Nindita, kuraih tangannya.

Saat dia berbalik badan menghadapku lagi, tanganku yang lain meraih pinggulnya lalu mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Kemudian saat tubuh kami sudah saling menempel, nekat kucium bibirnya. Kurasakan bibir lembut cewek yang selama ini bikin aku kesal itu. Angel hanya bisa membeku dengan kedua matanya yang terbuka lebar, dia pasti tidak menyangka aku akan berani mencium bibirnya.

Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik. Lalu Angel mendorongku tubuhku dengan kuat. Dia terlihat emosi dengan wajah yang merah. Tangannya mengepal.

“Angel.. aku tau kamu akan marah, kamu ingin menamparku atau memukulku. Tapi kamu harus segera pergi kan?” Ucapku “kamu bisa memarahiku, mengomeliku, atau menamparku sesukamu saat kita bertemu lagi…. Jadi kamu harus kembali, Pliss kembalilah kesini, dan satu lagi, aku minta kamu untuk tidak menyerah membantu para nasabah UNI-BANK. Kamu satu-satunya harapan semua orang-orang itu. Jangan menyerah, lawan terus, meskipun kamu pernah gagal,, kamu harus bangkit lagi, kamu harus menemukan cara lain. aku percaya kamu pasti bisa melakukannya, selesaikan apa yang kamu mulai”

Angel mengurungkan niatnya untuk memarahiku. Dia berbalik badan dan keluar pagar rumahnya Nindita tanpa berkata apapun. Lalu aku mengintipnya dari balik pagar. Angel sedang berjalan menuju mobil mewahnya yang parkir di depan rumah, di belakang mobil hitam milik orang-orang berpakaian hitam itu. Angel terlihat waspada.

Diluar dugaan, ternyata masih ada satu orang lagi didalam mobil para penjahat itu. Orang kelima?. Angel terkejut saat orang itu keluar dari dalam mobilnya dan mengenali Angel. Orang dengan tubuh cukup besar itu langsung menyerang Angel. Namun Angel dengan sigap menangkis serangan yang ditunjukkan kepadanya dan memukul mundur orang itu. Orang itu langsung berteriak kesakitan mendapat pukulan mentah dari Angel. Shit,, Ternyata dia memang bisa berkelahi. Seperti Rein.

Melihat lawannya tidak berdaya, Angel berlari ke arah mobilnya dan menyalakan mobil itu. Tanpa menunggu terlalu lama, mobil Angel berjalan kencang. Seperti sebuah adegan slow motion, saat mobilnya Angel tepat melintas di depanku, aku bisa melihat wajahnya dari samping. Dia sama sekali tidak melihatku. Kemudian dia dan mobilnya pun berlalu dari pandanganku.

Tak lama kemudian, setelah mendengar anggotanya diserang, semua orang berpakaian hitam-hitam yang berada di dalam rumah kost berhamburan keluar. Lalu dengan cepat mereka semua masuk ke dalam mobil mereka dan seperti mobilnya Angel, Mobil mereka melaju kencang di jalanan komplek yang sepi.

Aku harap Angel bisa lolos dari mereka.

.

.

.

.

—-POV ANGEL—-

Menciumku agar aku kembali?

Cowok mesum sialan.

Awas aja.

Kalau ketemu lagi akan kubunuh dia karena sudah berani memperawani bibirku

Tapi kata-kata terakhirnya tadi..

Membuatku tersenyum dengan apa yang dia katakan.

Terima kasih..

Rega

Melihat kaca spion tengah mobilku. Mataku menangkap cahaya mobil di belakang mobilku. Itu pasti mereka. Kubesarkan volume musik di mobilku.

♪ So take aim and fire away
♪ I’ve never been so wide awake
♪ No, nobody but me can keep me safe
♪ And I’m on my way​

Lalu kuinjak pedal gas lebih dalam lagi untuk menambah kecepatan.

“Tangkap aku jika kalian bisa”

.

.

.

.

.

2 HARI BERIKUTNYA

—-POV REGA—-

Sabtu sore. Disaat aku sedang berada di atas tubuh telanjangnya Billa di sebuah hotel pusat kota. Sebuah pesan masuk di handphoneku. Kebetulan saat itu aku baru saja mendapatkan orgasmeku yang pertama. Kuraih ponselku di atas meja dan ada pesan WA dari Dicky.

“Kayak mobilnya Angel?” Bunyi pesan Dicky ditambah sebuah link berita. Aku mengklik link berita itu dengan cepat.

Headline berita itu berbunyi “MOBIL MEWAH DITEMUKAN DI DASAR JURANG KAWASAN WISATA PUNCAK, PENGEMUDI DIPASTIKAN TEWAS”

Tanganku bergetar membaca berita itu. Aku langsung mmepoisikan diri duduk di tepi ranjang. Saat aku men-scroll ke bawah, terdapat beberapa gambar kondisi mobil yang hancur. Dan itu memang mobilnya Angel.

Astaga Angel apa yang terjadi…?

.

.

.

.

Satu minggu berlalu sejak kejadian menegangkan di rumah kost. Dan Angel masih belum kembali. Setelah berita kecelakaan mobil di puncak itu, aku mencari semua berita tentang kejadian kecelakaan itu di media koran ataupun digital. Bahkan aku sampai mendatangi tempat dimana mobil yang sudah di hancur itu disimpan hanya untuk memastikan kalau itu memang mobilnya Angel.

Meskipun polisi mengatakan kalau pengemudi dipastikan tewas, tapi jasadnya sampai sekarang belum ditemukan. Polisi mengatakan tidak akan ada yang selamat jika jatuh dari ketinggian seperti itu. dan mereka mengatakan kalau mayat pengemudi mobil mewah itu terbawa arus sungai. Dan tiga hari yang lalu proses pencarian tidak dilanjutkan karena medan yang sulit dan tidak jelas siapa pemilik mobil itu.

Angel kamu baik-baik saja kan?

Aku yakin kalau Angel baik-baik saja. Aku juga meyakini kalau malam ini dia sedang tidur pulas di suatu tempat. Dan aku percaya, dia akan kembali.

Tapi enam bulan kemudian, saat semseeter ganjil telah usai dan semester genap sudah dimulai sejak satu bulan yang lalu. Angel belum juga kembali, selama itu juga aku tidak mendapatkan kabar tentangnya.

Apakah dia memang tidak akan pernah kembali?

END SEASON 1

TEASER!!!

Akhirnya., senang bisa melewati PART I Semoga kita bersama-sama bisa melewati PART II. karena Perjalanan Rega di masa kuliahnya masih panjang dan masih banyak yang akan terjadi. dan sedikit teaser. See you soon

TEASER PART II

—-POV REGA—-

Saat itu memang masih baru jam setengah sembilan pagi, tetapi perkuliahan mata kuliah statistik sudah usai. Kebahagiaan terpancar di wajah para mahasiswa lain termasuk Dicky. Mereka terlihat senang karena Kuliah di hari Jumat ini selesai lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang paling menyenangkan selain bisa memulai aktivitas akhir pekan ini lebih awal.

“Ayo cabut” Ajak Dicky. Aku dan dia masih berada di luar lab statistik di lantai 5 Gedung G.

“kamu duluan deh” Ucapku masih memandang pintu lab dimana mahasiswa masih bergantian keluar dari dalam ruangan.

Tapi aku merasa aneh dengan keadaan ini. Bukannya aku mengeluh karena waktu kuliah yang hanya sebentar. Hanya saja, Pagi ini aku merasa Bu Fiona tidak terlihat seperti biasanya. Tidak biasanya Bu Fiona menutup jam kuliah untuk hari ini begitu cepat. Tadi setelah dia datang terlambat, Bu Fiona hanya memberikan tugas untuk kami lalu mempersilahkan kami keluar dari lab statistik.

Bu Fiona terlihat sungguh berbeda. Selain pagi ini kurang bersemangat untuk mengajar, kulihat wajahnya yang biasanya terlihat ceria, segar dan murah senyum kali ini terlihat muram. Apakah dia sedang ada masalah? Seolah sebuah masalah yang sangat berat menutupi seluruh aura kecantikannya. Setelah kejadian Winry dan juga Angel, aku ingin menjadi orang yang lebih peka lagi dengan orang-orang di sekitarku.

Lima belas menit berlalu sejak semua mahasiswa meninggalkan ruangan. Aku masih menunggu Bu Fiona di depan pintu lab yang tertutup. Tetapi tidak ada tanda-tanda Bu Fiona keluar dari dalam lab. Aku mencoba mengintip dengan membuka sedikit pintu lab. Yang kupikirkan benar-benar terjadi, Bu Fiona terlihat kusut, dia menangis seorang diri di dalam ruangan. Perlahan aku masuk ke dalam ruangan mendekati Bu Fiona yang masih duduk di Mejanya.

Dia menyadari kedatanganku lalu berusaha menyeka air matanya dengan tangannya. Matanya memerah karena menangis. Seandainya aku membawa tisu bersamaku.

“Oh Hai Rega, ada yang ketinggalan? Atau ada yang ingin kamu tanyakan?” Ucapnya dengan suara yang parau. Walaupun sekuat tenaga mencoba untuk tersenyum kepadaku tetapi Air mata di ujung matanya tidak bisa menahan untuk tidak jatuh membasahi pipinya maskipun dia telah mengusapnya.

“Bu Fiona kenapa? apa yang terjadi?” Tanyaku.

“tidak terjadi apa-apa Rega, aku baik-baik saja kok” Ucapnya masih berusaha tersenyum.

“Aku memang bukan mahasiswa yang pintar, tapi aku tidak sebodoh itu percaya kalau Ibu sedang baik-baik saja” Ucapku. “Dan mungkin aku tidak bisa memberikan solusi untuk apapun masalahmu, tapi aku bisa jadi pendengar yang baik, siapa tau dengan menceritakannya kepadaku bisa membuatmu lebih lega”

Bu Fiona menatapku.

.

.

.

.

.

Dengan mengendari mobil masing-masing, aku dan Bu Fiona bertemu di sebuah kédai kopi modern di pusat kota. Aku dan dia duduk bersebelahan.

Menit demi menit berlalu dia masih diam saja. Kubiarkan dia menenangkan diri. Beberapa kali aku lihat air mata jatuh membasahi pipinya dengan sendirinya. Tatapannya kosong. Aku jadi semakin khawatir dengan Dosen cantik di sebelahku ini. Seberat apakah masalahnya?

Hingga akhirnya dia pun mulai bersuara.

“Sepertinya suamiku membawa wanita lain ke dalam rumah kami”

Ucapnya pelan tanpa melihatku. Whattt?? Aku tidak tahu harus bagaimana mengekpresikan keterkejutanku mendengar ucapannya.

Bu Fiona sudah menikah?

Pria bodoh macam apa yang menyelingkuhi wanita sempurna seperti dia?

END TEASER

(Lembaran Yang Hilang Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(SEASON 2)