Lembaran Yang Hilang Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Lembaran Yang Hilang Part 1

Start Lembaran Yang Hilang Part 1 | Lembaran Yang Hilang Part 1 Start

PROLOG​

Hai !! ini aku, Rega. Seorang wanita pernah berkata kepadaku bahwa setiap individu di dunia ini mempunyai jalan cerita yang berbeda. Mereka berperan di dalam ceritanya masing-masing dengan alur cerita kehidupan yang penuh warna. Aku, dia dan kalian pasti punya cerita. Entah itu cerita yang menyenangkan, menyedihkan, membahagiakan, cerita tentang indahnya cinta, cerita tentang perjuangan hidup, cerita tentang sebuah kehilangan, cerita panjang yang tak pernah berakhir dan masih banyak cerita lain yang telah berakhir ataupun cerita yang baru saja kita mulai. Kita bisa memasukkan orang lain untuk berperan ke dalam cerita kita.

Atau bisa jadi secara tidak sadar kita telah berperan di dalam cerita kehidupan orang lain. Aku hftt ! sorry !. Aku pernah mempunyai sebuah keinginan dan pengharapan agar aku dan dia berada di dalam cerita yang sama untuk waktu yang lama atau mungkin untuk selamanya. Tetapi semua kembali seperti yang pernah dia katakan, kalau setiap individu di dunia ini mempunyai jalan cerita yang berbeda. Begitu pun juga aku dan dia.

Seandainya cerita kehidupan setiap orang dituangkan dalam tulisan, tentu akan menghasilkan lembaran lembaran kertas yang membingkai segala memori dan kenangan untuk cerita di masa depan. Dia juga mengatakan bahwa Kita tidak akan bosan meski harus membaca seluruh jalan cerita kehidupan orang lain. Karena cerita kehidupan tiap orang mempunyai keunikannya masing-masing, konflik yang beraneka ragam dan sebuah klimaks yang berbeda. Tidak jauh berbeda dengan berbagai cerita fiksi buatan manusia seperti novel, manga, anime, film dan banyak lainnya. Semua karya fiksi maupun yang terisnpirasi dari kisah nyata itu dibuat karena ada sesuatu hal ingin diceritakan atau ada kisah yang ingin disampaikan.Walaupun terkadang tidak semua cerita masa lalu yang telah usai harus diceritakan.

Sebagian cerita masa laluku sengaja kusimpan hanya untuk diriku sendiri. Karena cerita itu terlalu menyeramkan untuk diceritakan. Bukan !! bukan seperti cerita horor yang biasa diceritakan para orang tua untuk menakut-nakuti anaknya yang masih kecil agar segera tidur di malam hari. Hanya saja, meskipun aku sudah mencoba untuk melupakan cerita itu atau sekuat hati menghilangkan memori itu, kejadian itu tetap ada didalam ingatanku dan tidak mau pergi sampai sekarang.

Terkadang memori itu datang saat Rein kakakku atau orang-orang membicarakan tentangnya, atau terkadang memori itu mengahantui tidur malam malamku, ataupun tiba-tiba saja tanpa peringatan memori itu mendatangi lamunanku yang seketika menimbulkan rasa sesak yang teramat sakit di dada ini. Dan penyesalan itu muncul lagi, kejadian paling traumatik kedua di dalam hidupku sepeninggal Alexa. Tentu kalian masih ingat Alexa dan apa yang terjadi padanya bukan?. Nyatanya, Dihantui berbagai penyesalan masa lalu sepanjang hidup rasanya lebih menyeramkan daripada cerita horor yang paling menakutkan. Ya, bahkan lebih horor dari cerita saat aku, Rein, Resty dan Ressa diteror makhluk astral disebuah rumah ditengah-tengah hutan.

Itulah sebabnya selama ini aku memilih untuk tidak mengungkap cerita itu hanya untuk menahan penyesalanku, memendam rasa yang selama ini kutahan dari dalam diriku yang tak ingin kurasakan kembali, yaitu rasa bersalahku kepadanya. Cukup beberapa orang yang turut berperan dalam cerita itu yang tahu. Biarkan cerita itu tetap menjadi sebuah kenangan yang tak tergantikan sebagai pengantar lembaran baru kehidupanku yang saat ini kujalani.

Dia juga menambahkan, meskipun cerita kehidupan setiap orang itu berbeda tetapi ada satu hal yang sama. Seperti novel, manga, anime dan film, semua cerita selalu ada awal dan akhir. Kemudian dia bertanya kepadaku sambil menatap mataku “Senior !! Akhir cerita seperti apa yang kamu inginkan?”

“BEEP! BEEP!”

Kudengar suara handphoneku berdering cepat dua kali. Menandakan ada sebuah pesan masuk. Kuraih handphoneku yang berada diatas meja lampu di samping tempat tidur.

Dia kembali !!!

Begitu bunyi pesan yang dikirimkan oleh Angel untukku. Angel adalah temanku saat kuliah dulu. Meskipun berbeda fakultas, tapi dulu kami tinggal satu atap selama beberapa semester. Dia juga yang turut membantuku mengatasi masalahku dengan Danu Wicaksono yang saat ini kasusnya sedang bergulir di pengadilan. Dan bunyi pesan yang dia kirimkan untukku seketika membuatku ketakutan, tanganku bergetar dengan sendirinya dan jantungku berdetak cepat. Aku sangat tahu akan siapa yang dimaksud oleh Angel, membuatku tiba-tiba merasa cemas dan gelisah. Kenapa dia harus kembali? Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.

“dari siapa Bee ? Dias?” Tanya Meta membuyarkan pikiranku.

Jka ada yang belum mengenalnya, Wanita cantik yang sedang tersenyum menggodaku dengan mata sipitnya yang sengaja dia lebarkan dan yang selalu berhasil membuatku terpesona itu namanya Maredta. Keluarga dan teman-temannya memanggilnya Meta. Kalau aku memanggilnya dengan panggilan sayang, Bee. Dia juga memanggilku seperti itu. Aku sangat menyayanginya dan kami saling mencintai. Meta adalah hal paling berharga di hidupku. Dia adalah duniaku, pantai tempatku untuk kembali dan satu-satunya alasan kebahagiaanku. Setelah berbagai peristiwa pahit yang terjadi belakangan ini diantara kami, dia masih mau memaafkan segala kesalahanku kepadanya dan bersedia menerima kembali cintaku bersamaan dengan dia bersedia menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Meta adalah seluruh masa depanku, dan suatu saat nanti dia akan menjadi seorang ibu dari anak-anakku.

“Bukan Bee !! Angel !” jawabku padanya “Kenapa sih kamu masih curiga sama Dias? Aku dan dia sudah tidak ada apa-apa lagi, sampai kapan kamu akan terus-terusan curiga sama Dia?”. Ucapku dengan nada agak tinggi.

“aku Cuma bercanda Bee, kok jadi kamu yang marah gini sih?” Ucapnya

Senyum manis diwajahnya nya tadi berubah cemberut. Kemudian dia tidur membelakangiku dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Sial !! Malah dia yang marah.

“maaf” Ucapku merasa bersalah “aku ga bermaksud memarahimu sayang” sambil kukecup pipinya kemudian kupeluk tubuhnya dari belakang. Tidak ada reaksi darinya.

Malam ini aku dan Meta berdua diatas tempat tidur apartemen mewah miliknya.Kami sedang menunggu jam 12 malam untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Rein kakakku melalui sambungan video call. Rencananya besok pagi kami berdua akan berangkat ke kota sebelah untuk ikut merayakan acara pesta ulang tahunnya Rein di rumah.

“Ssshh !! sakit banget bee ! Help !” Ucapnya memecah keheningan “rasanya seperti sedang terjadi tindak kejahatan di perutku. Shhhh!!” dia kemudian menarik telapak tanganku dan menaruhnya di balik baju tidurnya tepat diatas perutnya.

Meta sedang dalam masa siklus bulanan yang biasa dialami semua wanita dunia yaitu menstruasi. Sejak sore dia merasakan sakit diperutnya, itu sebabnya dia sensitif banget dari tadi. Dan sebaiknya aku tidak mengganggu suasana hatinya atau menyinggung perasaanya, karena Meta bisa berubah menjadi monster yang sangat menakutkan kalau dia marah dalam kondisi seperti ini. Tapi sebenarnya aku jadi khawatir dengannya, sore tadi dia mengeluh sakit yang luar biasa di perutnya sampai dia menangis. Aku menyarankan untuk memeriksakannya ke dokter, tapi dia tidak mau dan mengatakan kalau sudah biasa seperti ini. Beneran dia tdak apa-apa? Aku jadi khawatir dan bingung dengan apa yang harus aku lakukan untuk membantunya atau menghiburnya.

“Kamu pengen aku ngapain Bee? Mau aku buatin teh hangat?” tanyaku, dia hanya menggelengkan kepalanya

“Mau aku belikan coklat? Atau apa gitu? Apapun yang bisa mengurangi rasa sakitnya”

“Gak mau Bee ! cukup peluk aku, hanya itu yang aku butuhkan saat ini!” jawabnya,

“Baiklah” kuturuti kemauannya untuk tetap memeluknya dari belakang dan kueluskan tanganku di perutnya yang langsing “seandainya kamu bisa mentransfer rasa sakit itu kepadaku, biar aku saja yang merasakan sakitnya” lalu kukecup sekali lagi pipinya, kulihat senyum di ujung bibirnya.

“Angel ngapain Bee?”

“Eh, itu dia memberi tahu kalau besok dia tidak bisa datang ke acara ulang tahunnya Rein” aku sengaja berbohong kepada Meta tentang isi pesan yang dikirimkan Angel kepadaku tadi.

“ohh ! Selain cantik, Angel sepertinya wanita yang baik, awalnya kukira dia itu saudaranya Rein, mereka berdua kelihatan mirip” ucap Meta.

“Percayalah, pertama kali kenal dengannya hampir setiap hari aku bertengkar dengannya. Segala hal yang kami bicarakan selalu berubah menjadi sebuah pertengkaran. Winry selalu menjadi penengah, dan tidak jarang Winry hanya membiarkan kami bertengkar” Ceritaku kepada Meta tentang Angel.

“Sampai akhirnya kamu tidur dengannya dan dia mencintaimu. Iya?” komentar Meta

“hah? No !! dia tidak mencintaiku !!” jawabku, kemudian kudengar tawa sinis dari meta.

“kamu memang tidak pernah mengerti tentang perasanaan seorang wanita Bee”

Eh? Benarkah Angel pernah mencintaiku? Ucapan Meta membawaku pikiranku kembali ke masa masa kuliah dulu. Mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian yang dulu aku alami bersama Angel.

“Bee !” Lagi-lagi Meta membuyarkan lamunanku. “Bagaiamana jika suatu saat nanti dia kembali?” Tanya dia kepadaku.

“Angel? Memangnya kenapa kalau dia kembali?” jawabku

”aku tidak sedang membicarakan tentang Angel” Ucap Meta sambil membalikkan badannya menghadapku, dan menatapku “tapi tentang Winry”

DEG! DEG! astaga, kenapa Meta tiba-tiba bertanya seperti itu?

“Dia tidak akan kembali” ucapku lirih.

“kenapa kamu bisa begitu yakin?” tanya Meta “Selama ini kamu hanya mengatakan kalau Winry pergi. Apa yang sebenarnya terjadi?” imbuhnya.

“Bee ! kita bicarakan hal ini lain waktu saja. Oke?” Wajahnya kembali cemberut lagi.

“Kamu lupa janjimu waktu di pantai? No More Secrets” Ucapnya semakin menyudutkanku.

Sial. Aku berpaling darinya dan turun dari tempat tidur berjalan menuju jendela apartemen, kubuka tirai jendela itu dan memandang keluar. Dibalik jendela, Pemandangan jalanan ibu kota yang masih ramai meskipun sudah hampir larut terlihat jelas dari kamar apartemennya Meta di lantai 38 ini.

“di pantai itu kamu bilang sudah tidak peduli dengan masa laluku, dan kamu sudah menerimanya” ucapku kepada Meta, aku melihatnya melalui pantulan kaca jendela. Kemudian dia bangun dan duduk diatas temapt tidur.

“Aku akan selalu menerima apapun masa lalumu Bee, seburuk apapun itu! aku hanya tidak ingin suatu saat nanti saat kita sudah nyaman dengan hubungan kita, Masa lalumu tiba-tiba muncul dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kamu merahasiakannya dariku. Aku tidak mau kehilangamu lagi Bee”

Aku tidak bisa menyalahkan rasa keingintahuan Meta. Itu adalah sikap yang wajar dari seorang pasangan. Dia punya alasan untuk bertanya kepadaku. Satu, karena dia sangat mencintaiku dan dua, karena sifat burukku yang selalu menyembunyikan sesuatu darinya.

“aku akan selalu mencitaimu Bee. Aku tidak peduli lagi dengan wanita lain atau wanita dari masa laluku” ucapku kepadanya. Kali ini kulihat dia turun dari tempat tidur dan berdiri dibelakangku.

”Aku percaya kamu mencintaiku, aku tidak lagi meragukan cintamu sejak kamu melingkarkan cincin ini dijariku, kuatkan kepercayaanku dengan menceritakan sepenuhnya masa lalumu yang belum kamu ungkap kepadaku. Please!”

Sepertinya aku tidak bisa menghindar lagi. Baiklah ! Demi masa depanku dengan Meta, akan kuungkap masa laluku. Sebagian dari Lembaran hidupku yang sengaja ingin kuhilangkan dari ingatanku. Sebuah cerita dengan akhir yang tak seperti yang kuinginkan.

“Winry !! dia tidak akan pernah kembali” Ucapku sambil membuka jendela kamar apartemennya Meta. Seketika angin malam menabrakku dan memaksa masuk kedalam apartemen. Kemudian aku berjalan menuju ujung balkon kamar apartemen sambil melihat ke langit ibu kota yang malam ini sangat cerah. Terdengar riuh suara kota di malam hari. Meta mengikutiku dari belakang.sambil berjalan, Aku mencari sesuatu diatas sana. Dan akhirnya bisa kutemukan apa yang aku cari. Sebuah bintang yang paling terang sinarnya diantara bintang-bintang yang lain. Kemudian aku tersenyum melihat bintang itu.

“Karena sekarang dia sudah berada di tempat yang lebih baik” Ucapku kepada Meta.

“hmm? Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?” Tanya meta semakin terheran-heran. Dia mendekatiku.

”Aku akan menceritakannya, biar kamu tau alasan kenapa selama ini aku menyembunyikannya darimu atau dari orang orang lain. Cerita ini akan sangat panjang, karena cerita ini tidak hanya tentang Aku dan Winry” Ucapku kepada Meta

”Aku akan menamimu sepanjang malam” ucapnya kemudian dia tersenyum “lagipula aku tidak bisa tidur dengan rasa sakit diperutku ini”

“Rasa sakitmu akan semakin parah saat tau semua kelakuanku saat kuliah dulu” ucapku menggodanya

“Aku siap dengan itu ! tapi aku tidak janji tidak bisa menahan untuk menamparmu saat mendengar sesuatu yang membuatku telingaku panas” ucapnya.

Eh?

“hahaha, bercanda Bee sayang.” Kemudian Meta mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. “ceritakan semuanya kepadaku !” ucapnya sambil tersenyum.

“Wait ! apakah lebih buruk dari rahasiamu tentang selama ini kamu bercinta dengan kakakmu sendiri?” Tanya Meta penuh curiga

“Rein bukan kakak kandungku” protesku

“sama saja” balasnya dengan sedikit sinis

“Baik buruknya sebuah cerita itu tergantung pembaca atau pendengar dalam memahami sebuah cerita dengan apa yang dia rasakan, biasanya mereka mempunyai tafsiran yang berbeda, Biarkan aku menyelesaikan ceritaku dulu, terserah nanti bagaimana kamu menilai masa laluku seperti apa” ” Ucapku sambil tersenyum mengusap kepalanya

Kemudian Sambil duduk di sebuah kursi yang ada di balkon apartemennya Meta, aku memulai ceritaku. Meta dengan santainya duduk di atas pangkuanku, dengan raut wajah antusias dia menatapku.

“Pertemuanku kembali dengan Winry terjadi sesaat setelah mimpi-mimpi buruk itu usai”

Bersambung

END – Lembaran Yang Hilang Part 1 | Lembaran Yang Hilang Part 1 – END

FIRST CHAPTER | Selanjutnya(Lembaran Yang Hilang Part 2)