Kostanku Berhantu Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5  

Cerita Dewasa Kostanku Berhantu Part 4

Cerita Dewasa Kostanku Berhantu Part 4

Bagian Empat — Dita

Pagi ini, aku terbangun dengan keadaan badan yang remuk redam. Rasanya kayak capek luar biasa sampai bikin badanku pegal-pegal semua. Apalagi ditambah masuk angin karena tidur telanjang, jadinya aku ambruk deh dan terpaksa harus izin ga masuk kuliah.

Setelah kabarin salah satu temen kampus, aku kembali rebahan. Pikiranku melayang-layang, berusaha inget-inget kejadian aneh semalam. Meskipun aku ga tau pasti kalau semalam itu aku beneran diperkosa hantu, tapi aku yakin semalam terlalu jelas untuk dibilang mimpi. Juga… terlalu enak. Pengalaman seks pertamaku, ternyata sama hantu.

Engga, ini ga normal. Gimana bisa aku menikmati diperkosa oleh sesuatu yang aku sendiri bahkan ga bisa lihat wujudnya? Jelas-jelas ada sesuatu yang salah disini. Semua kejadian ini pasti ada penyebabnya. Berbulan-bulan aku ngekos di Delima, tapi kenapa baru akhir-akhir ini kejadian anehnya?

“Bu Kos pasti tau sesuatu,” gumamku. Akhirnya, aku putusin kalau hari libur ini kupakai untuk cari tau asal-usul kamar kost ku.

•​

“Ayo, diminum dulu tehnya. Mumpung masih hangat.” Bu Marni, pemilik kos, mempersilahkanku minum teh manis yang dia suguhkan.

“Terima kasih, Bu.”

Bu Marni pun duduk, anggun banget cara duduknya. Dia nunggu aku selesai menyeruput teh ku, baru memulai pembicaraan. “Ada apa to, kamu tiba-tiba mau bicara penting sama saya?”

Aku diam, ga siap sama pertanyaan Bu Marni yang straight to the point. Harus banget ga sih aku cerita semua, sejelas-jelasnya? Atau sebaiknya aku cukup mengorek informasi soal kamarku aja? Soalnya, aku yakin kalau aku cerita masalah utamanya, pasti nanti akan merembet kemana-mana, dan aku pasti terpaksa cerita ke Bu Marni kalau kamar kosnya suka aku pakai untuk… masturbasi.

Aib dong, jangan lah! Gila kali cerita semuanya.

“Gini Bu… gimana bilangnya ya? Ini soal kamar kos yang aku tempatin…”

Badan Bu Marni langsung condong ke depan. “Kenapa kamarmu? Langit-langitnya ada yang bocor? Atau kunci pintunya rusak?”

Aku menggeleng. “Bukan Bu, kondisi kamarnya baik-baik aja kok. Tapi ini hal lain….”

“Hal lainnya apa? Ada yang ganggu kamu?”

Kali ini, aku ngangguk.

“Siapa yang ganggu? Kamar yang mana? Atau kamu belum tau siapa orangnya?”

“Ini… bukan orang, Bu.” Kedua tanganku mengepal diatas paha yang kurapatkan. Sikap aku yang keliatan resah gini membuat Bu Marni makin memberondongku dengan pertanyaan lainnya.

“Lantas, kalau bukan orang ya apa yang ganggu kamu? Hantu? Setan?”

Agak ragu, aku mengangguk. “Ga hantu juga sih Bu, tapi sepertinya. Aku juga belum yakin.”

Bu Marni pun ngeliatin aku terus, hampir tanpa kedip. Aku liat air mukanya mengeras, jadi tegang gitu. “Memang kamu diganggunya bagaimana?”

“Itu… akhir-akhir ini aku selalu mimpi buruk, Bu. Mimpinya bersambung, tapi buruk. Memang cuma mimpi, tapi itu mengganggu banget. Aku jadi ga nyaman dan takut, Bu.”

Aku berusaha ngumpulin keberanian untuk bertanya. Gimanapun juga, aku harus tau di kamar itu pernah terjadi apa sampai harus ada hantu mesum yang memperkosaku semalam. “Maaf Bu, bukannya aku mau lancang, tapi apa pernah terjadi sesuatu di kamar yang aku tempatin itu? Kalau Ibu tau sesuatu, ceritain ke aku Bu,” akhirnya, aku bisa juga ngomong lugas ke Bu Marni.

Bu Marni tarik nafas panjang, lalu dihembus pelan dan teratur. “Kirain kamu diganggu apa. Ternyata cuma dikasih mimpi buruk saja.”

Cuma? Aku sudah ga perawan gara-gara diperkosa setan dan ibu kostku bilang itu ‘cuma’? Tapi gimanapun juga, ini salahku karena ga cerita semuanya. Bener deh, aku ga akan sanggup kalau cerita semuanya ke Bu Marni. Entah nanti aku dianggap gila, atau aku jadi super malu karena ternyata dibalik sikap dan penampilanku yang kelihatan baik-baik, aku kecanduan masturbasi.

“Ndak pernah terjadi sesuatu di kamar itu, Dita. Ndak ada kejadian aneh-aneh sebelumnya. Ini saya ngomong jujur. Kalau kamu masih ragu karena saya yang bilang hanya supaya bikin kamu tenang, kamu boleh tanya sama penghuni kost lain yang paling lama tinggal. Ada dua orang yang bisa kamu tanya, dan saya yakin jawaban mereka juga sama dengan jawaban saya. Kamu bisa tanya ke Pak Ramdan di lantai satu, dan Raras di lantai dua. Mereka yang paling lama tinggal disini.”

Aku mengangguk. Aku pikir, aku ga bisa percaya begitu aja dengan pengakuan Bu Marni, karena gimanapun Bu Marni adalah pemilik kos, dan jadi kewajiban pemilik kos untuk menutupi sesuatu yang bisa menyebabkan usahanya ga laku. Yaudah deh, aku pamit sama Bu Marni, mau balik ke kamarku. Tapi sebelum pergi, aku distop sama Bu Marni.

“Tapi gimanapun juga, saya coba bantu cari tahu masalah kamu. Tentu, kalau kamu izinkan, nak Dita.”

“Bu Marni bantu akunya gimana? Ibu… bisa ngelakuin hal-hal supranatural gitu?”

Bu Marni geleng-geleng, sambil senyum misterius. “Bukan saya. Ada teman saya yang sering saya minta bantuan untuk masalah seperti ini. Secepatnya saya kabari. Kamu juga kabari saya kalau ada apa-apa lagi.”

Aku mengangguk, lalu mengulang pamit ke Bu Marni.

•​

Sorenya, ada tamu yang main ke kamarku. Dia kenalin diri sebagai Raras, cewek satu-satunya yang menghuni deretan kamar di lantai dua. Badannya langsing, berkulit sawo matang dengan wajah ayu khas wanita Jawa. Ada tahi lalat di bibir bawahnya, sebelah kiri. Raras ini kayaknya umurnya sudah dua puluh lima ke atas, taksirku.

“Iya, Ibuk telepon tadi, bilang katanya kamu ada perlu sama aku. Ada apa ya?”

“Ibuk?”

“Bu Marni.”

Aku langsung manggut-manggut. “Beliau ga cerita ke Mbak Raras detilnya?”

“Engga tuh, cuma bilang gitu aja. Emang ada apa sih?”

“Emmm… jadi gini…” Lalu, aku ceritain deh tuh semua yang aku ceritain ke Bu Marni. Tentu aja, yang ga aku ceritain ke Bu Marni, ga aku ceritain juga ke Mbak Raras. Dengerin ceritaku, Mbak Raras responnya tuh antara manggut-manggut dan hmmm hmmm ga jelas gitu. Aku malah ragu kalau dia ngerti apa yang aku ceritain.

“Jadi gini, eh nama kamu siapa tadi? Dita ya? Ehem, jadi gini Dit, setau aku sih penghuni kamar kamu ini sebelumnya suami-istri gitu. Mereka ga punya anak selama tinggal di kamar ini. Tapi mereka baik-baik aja kok selama tinggal, mungkin ada kali tiga tahunan. Ga pernah ada cerita aneh-aneh dari mereka soal kamar ini. Makanya aku kaget sama cerita kamu. Karena sebelumnya, ya emang ga pernah ada kejadian aneh-aneh disini,” kata Mbak Raras sehabis dengerin ceritaku.

“Terus mereka pindahnya kenapa, Mbak? Masa tiga tahun tinggal ga ada apa-apa, tiba-tiba pindah?”

Mbak Raras malah ketawa denger pertanyaan aku. “Lucu ah kamu,” katanya, “ya mereka pindah mungkin karena udah mampu punya tempat tinggal yang lebih baik. Lagian pindahnya ga tiba-tiba kok, kan jauh hari sebelumnya mereka kasih tau orang-orang sini kalau mereka mau pindah. Sedih sih, karena Mas Indra dan Mbak Ayu itu salah satu tetangga paling baik dan supel disini, jadi pas mereka bilang mau pindah, kami tuh semacam merasa kehilangan gitu.”

Ga ada yang mencurigakan dari keterangannya Mbak Raras. Kalau Mbak Raras aja yang tinggal paling lama disini bilang ga ada kejadian aneh di kamarku, ya mungkin berarti memang ga ada yang aneh disini, dan aku yang lagi apes. Tapi parah sih, apesnya sampai hilang perawan. Sama hantu lagi. Ah, tapi enak juga, jangan nyesel-nyesel amat lah, Dit.

“Oh iya, kalau kamu ga keberatan, boleh ga sekali-sekali aku main kesini? Jarang punya temen aku, suntuk jadinya.”

“Emang Mbak Raras tinggal sendirian?”

Dia ngangguk. “Tujuh tahun ngekos, ga pernah punya temen sekamar. Sedih ya?”

“Ya sama Mbak, aku juga. Meskipun ga selama Mbak Raras sih,” bales aku, “yaudah Mbak Raras kalo lagi suntuk main aja kesini. Aku juga seneng bisa ada temen ngobrol jadinya.”

Mbak Raras pamit, katanya dia mau kerja. Ternyata dia kerja di pabrik deket sini, dapet shift sore yang pulangnya tengah malem. Aku pun nganterin dia sampai depan kamarku. Sekilas, Mbak Raras bengong, yang bikin aku heran jadinya.

“Dit, misal nih ya, ini misalnya. Kalau misalnya yang berhantu bukan kamar kamu, gimana?”

Pertanyaan Mbak Raras ga bisa aku jawab. Aku cuma angkat bahu, dan bengong ngeliatin Mbak Raras berjalan menjauh, ke kamarnya. Dan aku masih bengong di depan pintu, mikirin pertanyaan tadi. Pertanyaan Mbak Raras, kayak dentingan lonceng yang bangunin kesadaran aku.

Mengutip slogan film Insidious pertama yang pernah aku tonton, aku menggumamkan kalimat itu pelan-pelan. “It is not the house, that haunted.”

(Cerita Dewasa Kostanku Berhantu Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Dewasa Main Api Sama Sepupu Part 5)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game