KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6 Start

Banyak yang percaya kalau mahasiswa itu status yang mulia. Karena ada embel-embel ‘Maha’ di depan ‘Siswa’. Kadang aku berpikir, kok bisa disematkan kata ‘Maha’ ? Kan Maha hanya pantas untuk Tuhan ? Di luar negeri sekalipun orang itu mahasiswa doktoral tetep aja disebut “Student”, sama kayak anak SD disana. Pertama kali ospek aku merasa jijik mendengar kata-kata senior komisi disiplin yang bilang gini,

“Kalian ini agent of change, agen perubahan, gimana bisa mengubah masyarakat kalau kalian sendiri tidak disiplin ? Ingat, kalian anak hukum ! Patuhilah aturan !”

Dalam hati aku bilang, “Tai kucing aja kalau mahasiswa agen perubahan ! Mengubah apa ? Mengubah masyarakat ? Wong dirinya sendiri masih harus belajar kepada masyarakat ! Toh mengubah diri sendiri aja belum bisa.”

Bagiku kuliah di pendidikan tinggi hanya sebuah proses belajar. Bukan tugasnya mahasiswa pula untuk menggurui masyarakat, sebetulnya masyarakat juga tau bagaimana cara untuk hidup. Yang perlu ditanamkan adalah bagaimana kita saling berbagi pengalaman ! Toh, pengalaman masing-masing individu berbeda-beda.

Aku mungkin merasakan hal yang lebih karena aku tinggal di desa. Ya, jadi kebanggaan tersendiri bagi desaku. Di desaku sendiri bisa dihitung dengan jari anak muda yang berkuliah, itu pun tidak jauh dari Ponorogo. Apa yang kurasakan selama di kampungku sepertinya dirasakan oleh kami semua di Desa Plosomulyo. Warga Desa Plosomulyo menyambut kedatangan kami dengan ekspresi wajah kekaguman, terutama dari anak-anak SD maupun SMP. Begitu juga denganku ketika masih SMP, merasa kagum dan terinspirasi dengan kedatangan kakak-kakak mahasiswa KKN di desaku dari sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Setidaknya selama sebulan kami disini, ada harapan supaya ada satu atau dua anak yang meneruskan pendidikan sampai jenjang sarjana.

Pagi ini, hari Sabtu, kelompok kami akan mengadakan kegiatan sosial di SDN 01 Plosomulyo. Kami cuma mengajar anak kelas I sampai kelas III, karena anggota kelompok kami terbatas (cuma sepuluh orang, minus Fitri yang belum balik-balik) dan yang bisa diajak fun game cuma mereka. Aku sendiri cuma jadi pengawas Kegiatan Belajar Mengajar, wajar dong aku kan koordinator hehehe.

Mula-mula kami kumpulkan mereka di lapangan sekolah untuk mendengarkan dongeng yang dibawakan Mala. Anak-anak kecil memang lebih suka diberikan pelajaran moral/budi pekerti dari dongeng dibanding menghafal teks buku. Karena anak kecil lebih bisa mencerna nilai dari tindakan visual ketimbang dari teks, setidaknya itu jadi catatan bagi pendidikan di Indonesia. Setelah selesai, kami kembalikan ke kelas masing-masing untuk melakukan KBM santai ala kami.

Suara HP ku berbunyi, notifikasi WA masuk. “Kamu lagi dimana ? Aku bosen” dari Yuri.

“Ya udah, keluar aja. Jajan di warung depan sekolah yuk.”

Aku menanti di ujung lorong yang dekat dengan ruang kelas I, dimana Yuri berada. Kugandeng tangannya dan kutarik sambil berlari.

“Ihhhh, Fajar, ngapain sih lari-lari. Kayak anak kecil aja !”

“Bodo.”

Setelah sampai di warung, kami memesan teh manis hangat dan ngemil jajanan yang ada. Intinya dia bosen di kelas soalnya murid-murid kelas I susah diatur, ya wajar sih namanya juga bocah. Kemudian Yuri mengalihkan topik pembicaraan,

“Say, aku izin ke Jakarta dari hari Minggu ya…” mohon Yuri.

“Lho kenapa ? Sabtu depan kan pak dospem ngadain penyuluhan pertanian.”

“Tadi pagi habis mandi, aku ditelepon ayah buat ikut kaderisasi partai.”

“Widihh, petugas partai. Sampai kapan beb ?” tanyaku.

“Dari hari Senin sampai Kamis, besok ayahku jemput kesini. Ntar kukenalin deh !”

“Buat jadi apa ? Calon mantu yaaa ?” godaku pada Yuri.

“Huuuu….sembarangan. Mau dijadiin kader partai !” ucapnya sambil menoyor jidatku.

“Dih emoh, mosok aku mau dijadiin petugas partainya Simbok !” ejekku bercanda.

“Heh sembarangan ya kalau ngomong, tak kruwes lambemu ntar !” ujar Yuri dan aku menghindar dari tangannya.

Pedagang warung cuma senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala seolah berkata, “Duh, anak muda.”

“Nanti kalau aku kangen kamu gimana ?”

“Ya…. coli aja lah hehehe”

Jawabannya bikin hasratku naik.

“Quickie di kamar mandi sekolah yuk !” bisikku pada Yuri.

“Yuk !”

“Pak, saya balik ke sekolah bentar ya. Ambil uang, nanti saya balik lagi” kataku ke pedagang warung.

Aku dan Yuri langsung berjalan ke sekolah. Mumpung masih jam KBM dan kondisi masih sepi, kami bergegas menuju kamar mandi. Kukunci kamar mandi, tak lama kemudian aku dan Yuri melepas celana beserta CD yang dikenakan.

Yuri menungging, seolah sudah siap untuk disodok. Kusingsingkan kaos dan bra nya, kemudian toketnya kuremas-remas pelan. Dengan kontol yang sudah ngaceng maksimum, aku mengarahkannya ke lubang memeknya. Meskipun tangan kananku mengarahkan kontol, tangan kiriku meremas-remas toket Yuri.

Kurasakan memeknya masih belum basah betul, sehingga kumasukkan perlahan. “Issshhh….” desah Yuri sambil mengigit bibir bagian bawahnya. Agar membuat Yuri basah, aku memilin-milin pentilnya perlahan-lahan. Kudiamkan setengah batang kontolku di dalam memeknya, kemudian kumundurkan lalu kutancapkan lebih dalam.

“Ahhhh….” Yuri berteriak agak kencang karena sodokanku.

Namanya juga Quickie, buru-buru dong, nggak lucu kalau ketauan ena-ena di sekolah hehehe. Kupercepat sodokanku di memek Yuri yang sempit.

CRITTT…CRIITT…SEERRRR…. kurasakan memek Yuri berkedut-kedut mengeluarkan cairan klimaks. “Ahhhhh…..” desah nikmatnya karena orgasme. Sementara kontolku belum merasakan tanda-tanda ngecrot, makanya aku genjot terus memek Yuri tanpa memberi jeda.

“Yang, buru dong….. Nanti ketauaannn” kata Yuri keenakan karena sodokanku.

“Mmhhhh…. bentar lagi say.”

PLOKKK…PLOKKK…PLOKKK…

Di tengah-tengah menggenjot Yuri, tanpa kuduga dia menengok kebelakang dan melumat bibirku. Jujur, ini merangsang kontolku untuk ngecrot. CROOTTT….CROOOT…CROTTT. Pejuhku menyemprok memek Yuri yang terasa mencengkram kontolku.

“Mmmmhhh….” lenguhku kenikmatan.

“Angettt…” ungkap Yuri sehabis kusemprot pejuh. PLOP, suara memeknya melepaskan kontolku. Kemudian ia berjongkok membersihkan kontolku dari pejuh dengan hisapan mulutnya.

“Aku duluan ya, biar anak-anak nggak curiga” kataku setelah Yuri kembali berdiri.

Setelah mengenakan celana dan celingak-celinguk keadaan di luar kamar mandi, aku keluar dan menuju ruang kelas. Sedangkan Yuri masih membersihkan memeknya dari pejuhku.

Singkat cerita, kegiatan kami selesai dan tidak ada kejadian-kejadian hot di hari ini. Ya gimana lagi, wong aku & Yuri capek sehabis aktivitas siang tadi hehehe. Malam ini kami cuma bersenda gurau, gitaran & nyanyi-nyanyi aja.

Keesokan hari, sekitar pukul 9.00 WIB, ada Fortuner yang berhenti di depan basecamp. Pasti itu ayah Yuri sembari kuamati dari rumah cowok. Perawakan tegap, agak kurus, berambut putih dan berkacamata. Ia mengenakan kemeja batik khas pejabat. Langkahnya mantap, berkharisma, keluar dari mobil dan kemudian berjalan menuju pekarangan basecamp. Kemudian dia mengeluarkan HP dari kantong batiknya dan menelpon. Sepertinya menelpon Yuri.

Aku keluar dari rumah dan menghampiri bapak itu. Memang aku tau bapak itu karena sering muncul di TV, berbicara mewakili partainya kepada wartawan. Ya, Yuri benar kalau ayahnya memang anggota DPR RI.

“Nuwun sewu pak, bade madosi sinten nggih ?”* sapaku dengan bahasa Jawa halus (Kromo Inggil) sembari membungkukkan badan dan meraih tangannya untuk mencium tangannya.

*Permisi pak, mau cari siapa ya ?

Tahu bahwa aku ingin mencium tangannya, dia mengulurkan tangan dan kucium tangannya. Kemudian ia menjawab dan bertanya kepadaku,

“Saya nyari Yuri dek, adek satu kelompok sama dia kan ? Saya ayahnya Yuri” ujarnya dengan logat khas Jawa Tengahan.

“Nggih bapak, kulo setunggalipun kelompok kaliyan Yuri”* jawabku sesopan mungkin. Aku memang dididik oleh kedua orang tuaku untuk sopan dan berbincang menggunakan bahasa Kromo Inggil kepada orang yang lebih tua. Miskin boleh, tapi harus tahu sopan santun, begitulah kata bapakku.

*Betul pak, saya sekelompok sama Yuri.

Membuat tamu berdiri, apalagi anggota dewan yang terhormat, rasanya tidak pantas, “Bapak, monggo pinarak dateng kursi mriko.” Aku mempersilahkan bapak untuk duduk di sofa yang sudah kami pindahkan di pelataran basecamp.

“Pak, bade ngunjuk nopo ?”* tawarku pada Ayahnya Yuri.

*Pak, mau minum apa ?

“Tulung gawekne teh tawar anget wae. Oh iyo, nyuwun tulung timbali Yuri ya dek.”*

*Tolong bikinin teh tawar hangat saja. Oh ya, minta tolong panggilin Yuri ya dek.

Segera aku masuk ke dapur, membuatkan teh tawar sebagaimana permintaannya. Setelah selesai aku minta tolong ke Mala yang saat itu menjemurkan pakaian untuk memanggilkan (baca: membangunkan, soalnya Yuri pelor !) Yuri karena ayahnya datang. Mala kemudian meninggalkan jemuran dan masuk ke ruang keluarga, sementara aku berjalan keluar dapur ke pelataran dengan secangkir teh yang kubuat.

“Ini tehnya pak, monggo diunjuk*” kuletakkan cangkir beserta tatakannya di atas meja.

*diunjuk = diminum

“Nggih matur sembah nuwun nggih dek” ucapnya kepadaku dan menyeruput teh yang kubuat.

“Soko ndi asalmu dek ? Kok alus tenan bosomu ?”* tanyanya seolah penasaran sekaligus keheranan. Kumaklumi karena di kampusku memang jarang yang berasal dari Jawa, apalagi nama kampusku memang khas Tanah Pasundan hehehe.

*Darimana asalmu dek ? Kok halus sekali bahasamu ?

“Perkenalkan pak, asma kulo Putra Fajar Soekarno, saking Ponorogo.”*

*Perkenalkan pak, nama saya Putra Fajar Soekarno, dari Ponorogo.

“Weladalah, pantes kok bosomu alus tenan. Adoh tenan yo olehmu ngerantau. Jenengmu apik tenan le, Bung Karno banget !”

*Weladalah, pantes kok bahasamu halus sekali. Jauh sekali ya kamu merantau. Namamu bagus sekali nak, Bung Karno banget.

“Lha pripun malih pak, ketampinipun dateng mriki. Memang bapak kaliyan ibu kulo niku Soekarnois pak, pejah gesang nderek Bung Karno.”*

*Lha bagaimana lagi pak, keterimanya disini. Memang bapak sama ibu saya itu Soekarnois pak, mati hidup ikut Bung Karno.

“Nuwun sewu pak, kulo bade tanglet, menawi mboten klintu asma bapak niku Sugeng Suyudhi nggih ?” tanyaku pada Ayah Yuri.

*Permisi pak, saya mau tanya, kalau saya tidak salah nama bapak itu Sugeng Suyudhi ya ?

“Nggih, ternyata kamu mengikuti berita-berita politik ya. Padahal kebanyakan anak muda jaman sekarang itu apatis sama politik.”

Beliau adalah Sugeng Suyudhi, anggota DPR yang mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah. Ia sendiri adalah kader sekaligus pengurus pusat partai yang berlogo banteng moncong putih. Aku mengingat muka beliau ketika pembahasan panas RUU Pilkada pada Tahun 2014 akhir yang disiarkan live di TV. Mewakili partainya, ia berdebat panas dengan kubu oposisi yang pada saat itu menginginkan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD, bukan oleh rakyat. Mungkin para suhu sudah tau bagaimana kelanjutan proses RUU Pilkada saat itu.

“Nggih pak, kulo niki remen kaliyan isu-isu politik.* Kebetulan kulo niki mahasiswa Hukum dan peminatan kulo niku Hukum Tata Negara yang bersentuhan sama politik. Sekarang saya juga aktif sebagai pengurus BEM dan masih berstatus sebagai kader aktif Organ Mahasiswa Nasional Indonesia (OMNI)” terangku kepada Pak Suyudhi, ayah dari Yuri.

*Ya pak, saya ini suka sama isu-isu politik.

“Kamu kader OMNI juga tho ? Saya ini alumni, dulu aktif waktu kuliah di Yogyakarta.” ujarnya antusias. Nah, inilah saat yang kutunggu-tunggu. Ketika kamu berbicara dengan politisi, tonjolkanlah kesamaan latar belakang atau kesamaan nilai yang kamu anut.

Tiba-tiba Yuri nongol dari dapur, kelihatan habis cuci muka. Dengan langkah gontai, ia menghampiri ayahnya dan mencium tangannya.

“Kamu ini anak wadon* kok mbangkongan*.”

*wadon=perempuan, mbangkongan=sering bangun kesiangan.

Yuri hanya menjawab dengan cengengesan, “Yah, aku mandi dulu ya. Ini Fajar, dia koordinator kelompok. Kalau KKN nya ada apa-apa salahin dia aja hehehe.”

“Halah kamu ini nduk, wes gek ndang mandi. Gek ndang budhal !” jawab Pak Suyudhi menyuruh anaknya, Yuri, untuk segera mandi. Yuri pun segera masuk ke rumah untuk mandi.

“Titip Yuri ya dek Fajar, dia memang begitu anaknya.” ujar Pak Suyudhi padaku.

“Nggih bapak, semua anggota kelompok juga tanggung jawab kulo.”

Obrolan kami berlangsung santai, membincang soal DPR terutama. Beliau mengakui kalau kinerja DPR sebagai lembaga masih rendah dan harus dikritisi masyarakat.

Aku tahu kalau Pak Suyudhi ini berada di Komisi IV DPR, bidang pertanian, pangan, maritim, dan kehutanan. Dengan latar belakangnya, aku akan menawarkan sesuatu,

“Pak, kebetulan hari Sabtu minggu depan ada penyuluhan pertanian dari dosen pembimbing. Bapak ini kan dari komisi yang membidangi pertanian nggih ? Kalau bapak berkenan, mohon untuk jadi pembicara dalam penyuluhan pertanian yang kami adakan. Permasalahan yang dialami petani disini memang ada beberapa pak, seperti kesulitan mencari pupuk murah, sulit mencari penggarap, bahkan menghadapi harga beras pasca panen yang sangat rendah. Kulo berharap bapak sebagai anggota dewan kerso mendengar keluhan-keluhan petani disini.”

Mendengar tawaran dan penjelasanku, Pak Suyudhi menjawab,

“Bagus dek tawaranmu, nanti tolong buatkan surat undangan kepada saya. Biar bisa saya proses sebagai kunjungan kerja anggota komisi. Meskipun masalah yang kamu sampaikan itu sudah umum di Indonesia, tapi saya kepengin tahu lebih jauh apalagi permasalahan petani disini. Cerdas kamu !”

Mendengar pujian beliau, aku merendah, “Mboten pak, kulo niki namung mengamati dan mendengar keluhan mereka.”

Singkat cerita, Yuri sudah berpakaian lengkap dan membawa satu koper menghampiri kami berdua di pelataran.

“Yo wes, ayo. Biar kita segera sampai di kantor DPP, kan kamu harus TM dulu tho.” ujar Pak Suyudhi pada Yuri.

“Eh dek, sebentar, saya belum catat nomor HP kamu. Berapa nomor HP dek Fajar ?” tanyanya padaku. Kemudian ia mencatat nomor HP ku dan misscall ke HP ku.

Kemudian Pak Suyudhi dan Yuri masuk ke dalam mobil. Aku cuma berdiri di pekarangan.

“Dek Fajar sini dulu,” panggil Pak Suyudhi dari dalam mobil.

“Dek, ini diterima ya, buat keperluan anak-anak KKN” ujarnya sambil menyerahkan bungkusan coklat, kutebak isinya uang hehehe.

Rejeki nggak boleh ditolak, selama itu bukan suap ya kuterima lah, “Matur sembah nuwun Pak Suyudhi, hati-hati di jalan nggih” ucapku penuh keramahan.

Kaca mobil ditutup dan melaju meninggalkan basecamp. Kemudian kubuka bungkusan coklat itu, “Wowww….isinya 2 juta” batinku. Rejeki anak sholeh. Eh tapi nggak cuma buatku ya, kuputuskan untuk mengambil sepuluh lembar uang seratus ribu dan kumasukkan ke dompetku. Sementara setengahnya lagi kuserahkan pada bendahara kelompok, Mala, untuk digunakan sebagai uang belanja.

Duit bapaknya kuembat, memek anaknya juga kuembat. Boleh lah kalian mendakwa aku Agent of Change BEJAT !

Tapi ketiadaan Yuri selama beberapa hari kuakui membuatku akan gabut, nggak ada yang dikontolin sih hehehe. Tiba-tiba HP ku berbunyi, notifikasi WA ku muncul, nomor itu belum tercatat. Kubuka pesan itu dan kubaca,

“Mas Fajar lagi ngapain ? Rusmini.” Apakah ini pertanda ???

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 6 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 5)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 7)