KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3 Start

Hari kedua KKN, kami sekelompok ramai-ramai ke Kantor Desa untuk audiensi dengan pak kuwu/kades. Setelah mendapatkan paparan dari pak kuwu mengenai kondisi desa, aku menyampaikan program kerja yang akan kami jalankan selama disini. Standard aja sih, kayak ngajar anak SD, mengadakan lomba tujuh belasan, ngontrol kehamilan ibu-ibu di Desa Plosomulyo, ikut membantu mengajar ngaji anak-anak TPA, dan mengadakan penyuluhan pertanian. Kebetulan dosen pembimbing kelompok kami berasal dari Fak. Pertanian. Pak kuwu menerima gagasan kami dengan baik. Gerak cepat, beliau pun langsung menghubungi sekolah-sekolah yang akan kami tuju untuk mengajar.

Tak terasa waktu hampir pukul 11 siang dan Plosomulyo semakin panas. Kami pun berpamitan dengan pak kuwu beserta jajarannya untuk kembali ke rumah. Singkat cerita kami sampai basecamp.

Siang yang panas, aku nyalakan kipas angin yang kubawa dari ruang tamu ke pelataran basecamp sambil ngerokok. Tanpa kuminta, kopi sudah dibuatkan Yuri buat aku. Aku dan Yuri melanjutkan obrolan ngalor-ngidul tentang apapun, tentang kesetaraan gender lah, HAM, atau isu-isu yang cukup berbobot. Yuri menyandarkan kepalanya dipangkuanku dan tentunya ia meraba-raba otot perut sampai dadaku.

“Gue suka deh sama cowok yang atletis,” kata Yuri sambil meraba-raba otot perut dan dadaku.

Pernyataan itu seolah memberikan lampu hijau buatku, kuraba-raba juga perutnya yang langsing. Terkadang aku juga curi-curi kesempatan mendekatkan tanganku ke arah toketnya, walaupun masih takut kena gampar kayak kemarin sih hehehe.

Singkat cerita, hari sudah gelap dan adzan maghrib telah berkumandang sekitar setengah jam lalu. Kami sekelompok bergegas menuju kantor desa untuk menghadiri rapat desa sekaligus perkenalan dengan warga desa. Acara berlangsung dengan khidmat, meskipun sederhana. Aku sebagai koordinator juga diberi kesempatan oleh pak kuwu untuk memberi kata sambutan dan memaparkan program yang akan kami kerjakan.

“…..bahwa desa sering dianggap sebagai satuan wilayah yang dianggap tertinggal, dianggap sebagai beban negara, bahkan dimiskinkan. Padahal cita-cita kemerdekaan negara kita bukan itu, Bung Karno menyatakan bahwa kemerdekaan tidak hanya membuat kita lepas dari kekuasaan penjajahan, namun juga membawa kemakmuran bagi rakyat terutama di pedesaan….Satu bulan waktu kami di Desa Plosomulyo akan kami gunakan sebaik-baiknya untuk bergotong royong bersama warga desa ! Sekian terima kasih” ucapku dalam sambutan.

Hadirin pun bertepuk tangan setelah aku memberi kata sambutan, bahkan beberapa diantara mereka ada yang memekikkan, “Merdeka ! Hidung Bung Karno !”. Sementara Yuri mengejekku dengan manja,

“Cieee udah cocok jadi caleg mas, 2019 maju dong hehehe.”

“Haha…nggak deh. Kamu aja mending” jawabku tersipu malu.

Setelah selesai acara rapat desa, kami kembali ke basecamp. Aku, Salim, dan Rahman masih di pelataran rumah sambil ngobrol-ngobrol santai. Tiba-tiba Yuri keluar ke pelataran, dan menyalakan rokok. Kami para cowok terkesima dengan tampilan Yuri yang sexy malam ini, ia mengenakan tanktop warna putih yang terlalu sempit buat toketnya, dilapisi cardigan dan menggunakan celana tidur.

“Bosen nonton film, yang dipake nonton film juga laptop gue.”

Sebagian besar cewek lagi nonton film, kebetulan koleksi film di laptop Yuri banyak banget. Aku ajak mereka bertiga main poker. Jadilah Yuri gabung main poker dengan kami para cowok di pelataran. Meskipun Salim & Rahman anak baik-baik & sholeh menurtku, tapi mereka masih mau diajak main poker. Biarpun bukan judi kami menetapkan hukuman berupa ‘bedak kapur’ bagi yang kalah. Singkat cerita muka kami berempat sudah banyak coretan, dan di game terakhir player yang kalah bakal dikasih dare atau tantangan yang harus dilakukan. Di game terakhir, Yuri banyak menyisakan kartu lemah sehingga harus kalah.

“Darenya apa nih ? Buruan, jangan kebanyakan mikir !” ucap Yuri dengan nada kesal

Kami bertiga sibuk berpikir masing-masing, tiba-tiba Salim ngusulin dare buat Yuri,

“Mmmm….yur, gue pengen lu handjob kita bertiga. Gimana ?” ujar Salim tanpa bersalah. Kuduga dia tau ‘aktivitas’ yang kulakuin bareng Yuri kemarin malam.

“Eh buset, kamu jangan ngawur ya lim ! Ini bisa masuk ranah pelecehan seksual ! Ati-ati kamu” ancamku pada Salim. Jujur aku agak cemburu sih hehe. Gila… kupikir Salim bocah yang alim, taunya bejat juga.

Tapi dalam hati aku bersyukur Salim ngedare itu, siapa tau ada kesempatan ML sama Yuri !

“Sesuai kesepakatan yur, lu kalah di game terakhir. Kedua, kita kan juga nggak nentukan batasan dare kayak gimana. Selama itu masih possible dilaksanakan nggak masalah kan ? Iya nggak anak hukum ?” lirik Rahman padaku setelah berargumentasi.

Edan juga si Rahman, kupikir dia sholeh ternyata sama aja kayak Salim.

Dengan tenang Yuri berkata, “Udah jar, santai aja, gue bersedia kok, asal lu bertiga kagak merkosa gue. Lagipula ngocokin doang, paling beberapa menit udah keluar hahaha” jawabnya santai tapi terlihat melecehkan. “Toh, memek gue cuma buat pacar” timpalnya blak-blakan.

“Ya udah ayo buru ke rumah cowok” ujar Salim dengan semangat.

“Kalian berdua aja duluan balik, terus aku, baru Yuri” tawarku mengatur dare hina ini.

“Elu tadi katanya kagak mau bro hahaha” kata Rahman dengan kencang.

Sumpah bego bener si Rahman, kalau sampai kedengeran cewek-cewek yang ada di dalam bisa bahaya. Aku nggak tau cewek-cewek di dalam ada yang denger atau nggak. Kemudian Rahman dan Salim jalan pulang ke rumah cowok sambil senyum-senyum mesum. Biar terskema, aku pura-pura meninggalkan HP. Sehingga nanti Yuri ke rumah cowok dengan menggunakan alasan mengembalikan HP ku yang tertinggal. Tidak lama kemudian Yuri menyusul kami di rumah cowok dan tanpa tedeng aling-aling masuk ke rumah kami tanpa permisi. Ya ngapain juga pake permisi, orang sudah terencana hehehe.

Dengan santainya dia melepas cardigan warna hitam yang dikenakannya, dengan menyisakan tank top warna putih yang menutupi bra berwarna hitam dan tentunya toket Yuri yang besar. Yang kusuka dari tubuh Yuri selain toketnya adalah ketiaknya yang putih dan mulus kayak pantat bayi hehe. Sesampainya di dalam rumah, Salim mengunci pintu depan agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Sampai di kamar, Yuri melepas celana tidurnya sehingga dia mengenakan tank top dan CD warna hitam.

“Ayo buka baju kalian ! Masak gue yang kudu bukain juga” perintah Yuri pada kami bertiga. Bak banteng dicucuk lubang hidungnya, aku melepaskan celana training dan baju yang kukenakan. Kontolku pun sudah ngaceng berat, gimana dong bosku, lihat cewek sexy yang binal.

“Bentar yur, bentar, kita kan belum bikin aturan main” cegah Rahman. “Gue mau lu giliran ngocokin kita di kamar, biar private. Yang nunggu giliran mending di luar” tambahnya.

“Ada jaminan nggak kalau Yuri nggak diperkosa ? Kalau kita bertiga sama-sama di ruangan ini kan enak, setidaknya ada pencegahan” aku berargumen membantah Rahman.

“Ah, kalian mau dikocokin aja bacot ! Pengen enak gak sih ? Yang bugil sekarang yang gue ladenin, kalau nggak gue ogah !” ujar Yuri jengah dengan kelakuan kita. Pengen enak tapi ribet hehehe.

Kejengahan Yuri nampaknya menstimulus Salim buat melepaskan pakaian dan celananya, mengingat nafsunya sudah di ubun-ubun. Melihat aku dan Salim bugil, mau tidak mau Rahman menelanjangi dirinya sendiri. Kalau boleh sombong dibandingin sama kontolku, kontol mereka berdua mah standard. Aku akan menyiapkan rencana jahil buat dua anak cupu ini.

“Yur, aku pipis dulu yak. Biar mereka duluan” ujarku keluar pura-pura ke kamar mandi padahal mengambil HP. Tak lama kemudian, aku mengintip di balik pintu dan melihat Yuri ngocokin Salim dan Rahman bersamaan. Yuri berjongkok dihadapan mereka berdua yang berdiri, dan tanpa sepengetahuan mereka bertiga aku merekam momen itu. Walaupun aku bersyukur sama dare yang mereka kasih buat Yuri, tapi sebenarnya aku nggak rela Yuri handjob mereka berdua. Makanya rekaman ini adalah caraku buat bikin Salim & Rahman mati kutu selama KKN.

“Arrgghhhh….Enak yur…terussss….lebih kenceng…..duhhhh” erang Salim

“Uhhhhh…..Aduuhhhhhh……Nikmatttttt” dan CROTTTTT, pejuh Rahman muncrat dari kontolnya. Tak lebih dari lima menit dia sudah keluar. Pejuhnya mengenai muka, rambut, dan dada Yuri yang masih ngocok kontol si Salim. Kuhentikan kegiatanku merekam aksi mereka, toh sudah cukup jelas terekam. Aku kembali ke kamar dan menghampiri mereka.

“Yur, habis Salim kocokin aku ya” kataku sambil menggoyang-goyangkan kontolku di hadapan Yuri. Dia hanya mengangguk pelan, menatapku penuh arti. Kocokannya pada Salim pun makin kencang dan CROTTTT CROOTTTT CROOTTTTT, banyak juga pejuh Salim yang mengenai muka Yuri dan kemudian dijilat oleh Yuri.

“Timeout dulu ya jar, gue mau bersihin pejuh mereka nih. Lengket semua.” ujar Yuri meninggalkan kami bertiga di kamar. Salim dan Rahman terkulai lemas di kasur bak orang yang kehabisan banyak darah. Tak lama kemudian mereka tertidur. Melihat mereka aku cuma ketawa dan mengejek mereka, “Dasar anak cupu !”

“Udah siap yur ? Kalau mau minum ada di belakang, kalau mau time out dulu juga gak apa-apa. Aku mau kamu rileks aja yur, nggak perlu buru-buru kayak mereka” kataku dengan senyum.

“Iya nih, emang ****** mereka berdua. Nafsu-nafsu sendiri, lemes-lemes sendiri. Ngerokok dulu yuk” jawab Yuri.

“Rokokku apa rokok Sampoerna ?”godaku.

“Dua-duanya pengen, tapi satu-satu ya” jawabnya manja.

Kami jalan bareng ke ruang keluarga, dan duduk sofa yang ada. Kami menghisap sebatang rokok bergantian sembari membincang latar belakang keluarga. Ternyata bapak Yuri adalah anggota DPR, asli Jawa Tengah. Sedangkan ibu Yuri berasal dari Bengkulu, seorang pengusaha sekaligus pengacara di Jakarta. Dia sendiri anak tunggal, kurang perhatian dari orang tuanya, sampai menceritakan betapa sibuknya bapak dan ibunya. Sehingga Yuri mencari pelarian dari kondisi itu. Ia pernah terjerumus dalam dunia malam ketika SMA. Mengenal dunia sex, miras, rokok, bahkan hampir mencoba narkoba ! Cerita mirisnya membuatku merangkul dan memeluknya, sambil mengelus rambutnya. Secara spontan kucium ubun-ubunnya. Kalau kontolku jangan ditanya, masih ngaceng maksimal hehehehe

“What I want to dare is your cock, honey” katanya dengan nada menggoda.

“Monggo” balasku kepadanya.

Tiba-tiba dia mengocok kontolku dengan tempo pelan dan menjilati kepala kontolku. “Uhhhh….terusss….babeee” erangku lirih. Gerakan lidahnya berputar-putar di palkonku sembari tangan kirinya mengusap otot perutku yang kencang. Dia menghentikan aktivitas di kontolku, Yuri benar-benar memegang kendali. Bibir Yuri mendekati bibirku dan kusambut dengan penuh nafsu. “CUUPPP….SLURPPP…CUAPPP” suara beradunya bibir dan lidah kami. Kami sama-sama memejamkan mata, menikmati pertautan lidah kami, bertautnya bibir kami yang saling menyedot. Tak terasa kami berciuman hampir 15 menit.

“Rasakan lidah pro ku, anak muda. Kontolmu emang gede, sukaa” dia memegang kontolku dan kepalanya turun ke arah kontolku.

Posisiku sendiri terlentang di sofa, layaknya orang pasrah. Biar nyaman, Yuri menurunkan kaki dan badannya ke lantai, sehingga cuma kepalanya saja yang sejajar dengan badan dan kontolku.

“Say, pelan-pelan masukin ke mulut. Jangan sampai kena gigi…ahhhh,” kataku sambil mendesah keenakan. Pelan tapi pasti, setengah bagian dari kontolku yang berukuran 17 cm sudah masuk ke dalam mulutnya. Refleks kupegang kepalanya, kutarik pelan agar masuk lebih dalam. “Uduhhhh juurr” katanya sambil menghisap kontolku, mungkin dia mengaduh soalnya mentok di kerongkongannya.

Kemudian Yuri menaik-turunkan kepalanya, tangannya juga aktif mengocok bagian bawah kontolku. “Ahhhhhh…….Aduhhhhhh…..Weennnnakkk…..Terussss…..” erangku lirih, takut membangunkan tetangga hehe. Kadang dia menghisap kontolku dengan memutar kepalanya searah jarum jam. Walaupun enak, tapi belum ada tanda-tanda klimaks.

“Kamunya kuat banget, bisa dower mulutku lama-lama..” ujarnya manja.

Ide mesumku muncul, “Gimana kalau gesekin kontolku ke memekmu, biar kita sama-sama enak”

“Hmmmmm aku setuju sama kamu. Asal jangan kamu masukin ya, aku udah punya pacar.” ujarnya, kemudian dia melepaskan celana tidurnya bersama CD yang dikenakan. Tapi masih mengenakan tank top warna putihnya.

“Buruuu beb” ujarnya padaku. Kulihat memeknya ditumbuhi bulu yang cukup lebat.

Sekarang posisinya berbalik, Yuri terlentang di sofa sementara aku mengambil posisi di atasnya. Segera ku posisikan kontolku di memeknya dan dengan tempo sedang ku gesek-gesekkan kontolku ke memeknya. Kontolku terasa tergelitik karena bulu jembut Yuri yang lebat, kurasakan juga kalau memeknya basah. Kira-kira lima menit gesek-gesekan, Yuri memegang kontolku dan menghentikanku.

“Jar, kamu jadi pacarku sampai KKN selesai ya. Masukin kontolmu gih” kata Yuri tanpa konfirmasi jawabanku. Dia langsung melebarkan paha kakinya, sepertinya memeknya sudah tidak tahan pengen dikontolin. Dengan tuntunan tangan Yuri, perlahan kontolku memasuki lubang memeknya. Rasanya sempit banget gan, kayak perawan, padahal baru kepala kontol yang masuk. Tanganku pun bergerak meremas-remas lembut toket Yuri yang masih tertutup tank top dan bra.

“Mhhhmmm…sempit banget memekmu say” ujarku menahan nikmat sepenuh kontol sambil kumaju mundurkan perlahan.

“Ahhh….mhhhh…..iiyaaa….udah….empat..bulan…argghhh” jawabnya mendesah keenakan sekaligus kesakitan ketika kontolku sudah mentok di memeknya. Perlahan memeknya sudah mulai terbiasa sama kontolku dan mulai kugoyang dengan tempo sedang. Suara desahan kamipun beradu memenuhi ruangan ini.

Kulihat sekilas jam dinding, sudah menunjukkan pukul 23.15. Segera kupercepat goyanganku, dan PLOKKK PLOKK PLOKKK, suara nyaring paha kami yang bertumbuk.

“Mhhh…ahhh….jarrr…ke…keluarinnn…barengggg” teriak Yuri yang hampir klimaks

“Mhhhmmm….luarrr..daleemmm….” jawabku menanyakan ingin disemprot pejuhku di luar atau dalam memeknya, maklum kepala kontolku terasa ingin segera muncrat.

“Uhhhhh…..da….dalemmmm…” jawabnya sembari mengunci bokongku dengan kakinya agar kontolku masuk lebih dalam. Refleks kucium bibirnya biar tambah hot.

CRIIITTT CRIIIITTT, kurasakan ada percikan cairan di kepala kontolku, tanda kalau dia sudah orgasme. “Ahhhh….ahhhhh….ee…..nakkkkk…..” teriak Yuri keenakan orgasme.

Cuma beberapa detik setelah orgasme Yuri, kontolku terasa berkedut-kedut. “Yuuurrr…..aaahhhh….ke…keee…luar…….” teriakku sambil merasakan enaknya CROT, rasanya banyak sperma yang kutumpahkan di memek Yuri. Kutarik keluar kontolku dan kulihat pejuhku mengalir keluar dari memeknya sampai membasahi sofa, saking banyaknya spermaku. Tubuh kami pun penuh dengan keringat, saking panasnya pertempuran.

“Kok dikeluarin di dalem ? Kalau kamu hamil gimana ?” tanyaku setengah khawatir

“Kalau aku hamil tinggal kamu nikahin aja dong !” seru Yuri tanpa beban.

“Hahaha nggak bakalan kok, aku udah siap sedia Pil KB” kata dia menghapus kekhawatiranku.

“Enak kan say ? Bebersih yuk” ajakku ke Yuri yang masih lemas, sembari bangkit dan menarik tangannya untuk berdiri. Setelah bebersih sebentar, aku dan Yuri masuk kamar. Kami sudah mengenakan pakaian masing-masing.

Di atas kasur kucium keningnya dan berbisik, “Aku ketagihan memekmu, politisi muda mesum.”

“Yeps, I want your cock more, aktivis mesum !” jawabnya menggoda.

Yuri memejamkan mata, lelah dengan pertempuran panas kita di sofa. Aku tertawa geli mengingat aktivitas kita tadi. Padahal darenya cuma dikasih handjob aja, nggak taunya aku yang diajak ngentot. Bagiku, KKN adalah singkatan dari KULIAH KERJA NGENTOT. Ngentot sama Yuri.

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 4)