KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2 Start

“Tanpa KKN tidak akan ada cinlok, tikung-menikung, dan putus sama pacar” sabda seorang senior yang jadi panutanku di kampus. Makanya jangan heran kalau ada couple yang plotting di satu desa yang sama. Bahkan temanku satu kelas ada yang lebih gila. Kebetulan dia ditempatkan di desa yang beda sama ceweknya, untungnya ada anak FH yang satu kelompok KKN sama ceweknya akhirnya dia minta tukeran kelompok sama anak FH itu. Kejadian yang jamak di KKN adalah si cewek pasti diapelin sama pacarnya minimal seminggu/dua minggu sekali.

Tapi Yuri nggak begitu, dia kurang suka sama cowok yang protekif. Seolah-olah si cewek nggak bisa jaga komitmen katanya. Menurut dia budaya patriarki di Indonesia mulai kelihatan sejak pacaran.

“Emang apa sih hak pacar buat ngelarang ini itu ? Toh dia kan belum terikat secara hukum sama pacarnya, menurut gue sih belum punya hak dan kewajiban !” papar Yuri dengan semangat.

“Mungkin takut ditinggalin ceweknya kali. Namanya juga cinta hehehe” jawabku agak ngasal.

“Ya nggak bisa gitu dong, setiap orang berhak ninggalin pacarnya, cari yang lebih baik. Cinta butuh alasan rasional bro !”

“Yaaa aku setuju sama kamu yur, tapi persepsi orang kan ndak bisa diseragamkan. Kadang cinta itu irasional hahaha”

Yuri sendiri cerita kalau pacarnya kuliah di luar negeri, jadi lah dia jarang hubungan komunikasi sama cowoknya. Lagipula hubungan Yuri sama cowoknya murni dari relasi antar orang tua, singkat kata upaya perjodohan. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul sampe akhirnya membincang latar belakang keluarga masing-masing. Ternyata bapak Yuri adalah anggota DPR, asli Jawa Tengah. Sedangkan ibu Yuri berasal dari Bengkulu, seorang pengusaha sekaligus pengacara di Jakarta.

Dia sendiri anak tunggal, kurang perhatian dari orang tuanya, sampai menceritakan betapa sibuknya bapak dan ibunya. Sehingga Yuri mencari pelarian dari kondisi itu. Ia pernah terjerumus dalam dunia malam ketika SMA. Mengenal dunia sex, miras, rokok, bahkan hampir mencoba narkoba !

Entah kenapa pada saat cerita soal keluarga, dia bersandar di dadaku. Supaya dia nggak sedih, kurangkul dan kuelus rambutnya. Kadang tindakan itu bisa lebih cepat daripada kecepatan otak berpikir, secara spontan kucium ubun-ubunnya. Dia menatapku tajam,

“Jar, thanks ya lu udah mau dengerin cerita gue”

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia meninggalkanku di pelataran & masuk ke rumah. Aku berpikir apa dia risih sama kelakuanku tadi ya ? Duh, jadi nggak enak. Tapi bodo amat lah, lagian dia anak yang cukup vokal. Menurutku dia tipikal bojo galak, yang vianisty pasti hafal liriknya dong hehe.

Sebagai koordinator kelompok yang baik, aku sowan ke kantor kepala desa siang hari, biar akrab sama pak kuwu/kades sih. Sering aku dapat cerita kalau pernah terjadi satu kelompok KKN bermasalah sama kuwu, sehingga tidak dapat nilai A. Ya rugi sih buatku kalau KKN nggak dapat 3 SKS, buat yang IPK nya menengah ngebantu banget kalau dapat nilai A dari KKN. Meskipun kuwu ini nggak ngasih nilai kayak dosen pembimbing atau koordinator kelompok, tapi laporan kuwu kadang juga memengaruhi dosen pembimbing. Untung pak kuwu orangnya ramah dan bahkan mengundang kami untuk audiensi besok.

Selepas maghrib, aku chat grup WA mengingatkan anak-anak untuk berkumpul kembali di basecamp buat makan malam. Pada makan malam ini aku sampaikan ke anak-anak kalau tadi siang pak kuwu menyampaikan kalau besok ada audiensi sama pak kuwu dan malamnya ada rapat desa sekaligus perkenalan kelompok KKN Mahasiswa.

Sebagai koordinator yang baik, aku mengajak anak-anak buat main fun game sehabis makan malam bersama. Tujuannya sih biar chemistry di antara kita makin kuat sebagai kelompok. Tak terasa satu jam bermain bersama, kita berhenti, mengingat waktu sudah jam 9 malam dan tidak enak dengan tetangga. Salim & Rahman pamit buat balik ke rumah cowok, udah ngantuk katanya. Sepertinya aku merasa beda sama mereka berdua, aku suka begadang mereka nggak, aku ngerokok mereka nggak, aku suka ngomongin hal-hal berat mereka nggak. Tapi ya udah lah aku nggak bisa maksa orang kan ya ?

“Nih kopi, gue bikinin. Minum ya !” Yuri datang membawakan secangkir kopi dari arah dapur.

“Duh, perhatian banget. Udah cantik, baik lagi. Mau dong jadi pacarnya !” kutanggapi dengan guyonan.

Tangannya menoyor kepalaku, “Geblek, gue mah kesini kagak cari pacar !”

“Hahahaha his name is also effort, namanya juga usaha yur”

Yuri mengenakan kaos ketat dan celana tidur, toketnya yang bulat dan besar membuatku terpana. Kemudian ia menyalakan rokok yang baru tadi sore dia beli. Tentu saja aku minta rokok, rokokku sudah habis soalnya hehehe.

Aku orang yang sangat antusias sama dunia politik, bahkan aku punya cita-cita untuk jadi anggota DPR atau gubernur. Yuri sempat cerita kalau dunia politik itu keras banget. Seorang politikus bisa ‘menjual’ nama orang lain untuk kejayaannya sendiri. Aku sih manggut-manggut aja, berhubung dia sudah berpengalaman di bidang politik praktis.

“Waktu kamu nyaleg, apa sih program yang kamu tawarkan ke pemilihmu ?” tanyaku penasaran.

“Nggak ada yang spesifik sih, gue mah cuma janji ke pemilih kalau gue bakal jadi anggota DPRD yang bersih, pro rakyat, yang bisa dihubungi sama mereka.” Yuri menjelaskan dengan gamblang.

Nah, disinilah kelemahan Yuri waktu nyaleg, dia nggak punya program spesifik buat pemilihnya. Selain dia kalah modal duit dari calon lain, karena rata-rata menghabiskan dana kampanye sampai 500 juta dia cuma menghabiskan dana 75 juta. Padahal kalau dia menawarkan program kongkrit, kuyakin dia bakal kepilih. Jujur aku makin kagum sama Yuri, dia nggak mengandalkan popularitas bapaknya, meskipun ada di satu daerah pemilihan yang sama. Buatku ini keuntungan KKN, bisa saling share gagasan, yang notabene dari fakultas yang beda-beda.

“Yur, kalau aku boleh ngasih saran sebagai orang biasa dan punya hak pilih, tanpa maksud menggurui kamu. Kamu harus lihat kebutuhan mereka, si pemilih. Misalnya, ngonsep gimana produk pertanian nggak dipermainkan harganya sama tengkulak. Atau kamu sebagai anggota DPRD berjanji dorong pemkab buat nyediakan beasiswa bagi anak berprestasi yang kurang mampu buat kuliah, dan sebagainya. Set standard mu sebagai caleg, di atas caleg lawanmu. Aku sebagai pemilih merasa miris kalau lihat kampanye caleg ke kampung-kampung cuma bagi-bagi duit, emangnya kita pengemis apa. Juga penting menurutku buatmu membangun basis massa jauh sebelum pemilu. Maaf-maaf ya, kadang aku ngerasa caleg kok cuma keliatan mukanya pas mau pemilu, dan di poster-poster doang lagi. Kan konyol kalau ada orang yang nggak pernah kenal tau-tau minta kita buat dipilih,” paparku panjang lebar dan berapi-api. Aku emang kritis sama gaya politik elit-elit di Indonesia.

Yuri terkesima sama paparanku tadi dan memujiku. Hehehehe, kadang terlihat cerdas itu menutupi muka yang pas-pasan. Dia pun menawarkan ke aku untuk magang sebagai staff bapaknya yang anggota DPR. Aku sih menerima tawaran itu, tapi masih belum pengen kalau jadi anggota partai.

“Yur, ini bukannya aku maksud ngegombal, tapi aku kagum sama kamu yang udah mulai ambil inisiatif dibanding orang-orang seumuran kita.”

“Ah bisa aja lu, kalau soal ide gagasan kayaknya lu lebih jago dibanding gue. Justru gue kudu banyak belajar dari lu tau !”

Kebetulan dia pengagum Bung Karno sama kayak aku. Ini momenku untuk membuat dia kagum, cerita soal gagasan dan perjuangan Bung Karno. Penjelasan dan pemaparanku membuat dia makin terkesima. Dia jarang punya teman yang bisa diajak ngobrol hal-hal berat.

Tiba-tiba Yuri mendekatkan bibirnya ke bibirku. Kami pun berciuman, entah dorongan darimana aku memasukkan lidahku ke mulutnya. Tak cukup dengan french kiss, aku berusaha memegang-megang toketnya dari luar kaos. Ia bereaksi dengan menarik bibirnya dari ciumanku, dan PLAKKK. Yuri menamparku pipiku agak kencang. Walaupun nggak sakit, tapi malu cuy ! Ia menyandarkan punggungnya ke tembok dan diam.

“Yur, sorry aku kebawa nafsu” kataku penuh sesal.

“Sorry juga gue udah nampar lu, padahal gue yang mulai duluan.”

“Jar, gue nyaman ama lu. Tapi gue nggak nyaman kalau digrepe-grepe tanpa persetujuan gue ! Pacar atau selingkuhan gue aja nggak gue izinin ngewe gue kalau gue nggak mau !”

“I’m sorry, I won’t do it again.”

“Me too” jawab Yuri sedikit awkward atau canggung. Setelah itu aku pamit pulang ke rumah cowok, ya masih awkward sih intinya.

Di rumah cowok aku masih termenung, kenapa bisa sebodoh ini. Harusnya aku nggak melakukan itu, tapi nasi sudah jadi bubur. Berharap aja Yuri nggak menjauh dariku. Setengah jam kemudian HP ku berbunyi, ada pesan WA dari Yuri.

“Jar, gue nginep di rumah cowok dong. Gak muat nih basecamp.”

Kubalas, “Ok. Kesini aja.”

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Aku segera bukakan karena itu pasti Yuri. Kuminta dia masuk dan menempati kamar yang biasa kupakai tidur, sementara aku pindah ke kamar yang dipakai Salim & Rahman tidur. Tiba-tiba Yuri mencegahku,

“Jar, elu tidur sini aja bareng gue. Takut gue tidur sendirian.”

Batinku, “Dasar cewek aneh, tidur banyakan kesempitan. Tidur sendirian takut, hadeh.”

Jadi deh aku tidur sekasur sama Yuri, bohong sih kalau aku nggak pengen. Wong kontolku udah ngaceng dari tadi. Tiba-tiba dia memecah keheningan,

“Mas, adeknya tolong ‘ditidurin’. Masak sarung nggak ada beda sama tenda hahaha” Yuri ketawa dan melihat kontolku yang ngaceng di dalam sarung yang kukenakan.

“Hmmmm….ini tandanya kudu dibantuin ‘tidur’ Yur.”

“Emang dedeknya mau ‘ditidurin’ sama aku ? Ogah ah kalau bentar doang udah tidur.”

Keberanianku entah datang darimana, aku mengangkat sarungku dan melepas CD. Kontolku yang cukup panjang buat ukuran orang Indonesia, berdiri tegak dengan gagahnya. Kulihat Yuri terkagum-kagum lihat kontolku.

“Mau ‘nidurin’ dedekku nggak Yur ?”

“Okay, no sex tapi ya.”

Tangannya yang halus memegang kontolku, perlahan-lahan ia mengelus-elus kontolku. Anjirrr, tangannya pro banget kayak bintang bokep. Karena terdorong nafsu, kami berciuman dengan ganas di atas kasur, posisi tidur kami menyamping berhadap-hadapan. Tempo kocokan tangannya makin kencang, perlahan memelankan tempo. Amboy, enak banget dikocokin sama bidadari Kelompok 11.

“Aku boleh megang toketmu nggak ?” Aku bertanya agar nggak salah paham lagi.

Dia menghentikan aktivitas ngocok, membuka baju ketatnya, dan menyisakan bra warna putih yang dipakai. Mungkin dia takut pejuhku kena bajunya. Kulepaskan kaitan bra, agar leluasa meremas-remas toketnya yang bulat dan besar. Toketnya seolah bikin air liurku menetes, pentilnya pink kecoklatan. Kuubah posisi di atas, sementara Yuri terlentang di bawahku biar gampang grepe-grepe toketnya dan ia tetap bisa mengocok kontolku. Inisiatif kukulum pentilnya agar dia terangsang. “Mmmmhhhh….Ohhhhh….Enakkkk,” desah Yuri saat toketnya kujilat dan kukulum. Tak terasa kontolku ingin memuntahkan cairan sperma, emang tangan Yuri pro sih.

“Sayy, aku mau keluarrrr…mmmhhh”

CROTT CROTTT CROTT. Kira-kira cuma dua puluh menitan, aku sudah ngecrot. Karena tidak bisa kutahan kukeluarkan saja pejuhku di perut sexy Yuri. Kuhitung sampai tujuh kali kontolku mengeluarkan sperma. Bahkan ada cairan spermaku yang mengenai leher Yuri. Kuambil tisu yang kebetulan kubawa dan kubersihkan cairan hinaku yang menempel di perut dan lehernya. Tidak lupa kubersihkan juga kontolku yang masih ada sedikit pejuhku yang menetes. Kusuruh dia memakai bajunya kembali, takut kepergok Salim atau Rahman, akhirnya aku dan Yuri tidur lelap ke alam mimpi masing-masing. Entah kenapa aku mulai suka sama Yuri, tapi nggak tau perasaan Yuri gimana.

Tapi aku tak sadar kalau ada sepasang bola mata yang mengintip dari pintu yang tidak kututup rapat. Aku tak tau sejak kapan dia disana, dan siapakah dia ?

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2 – END

(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 3)