KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10

KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1

Start KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1 Start

PROLOG​

Tahun 2019, Jakarta.

Jalanan ibukota padat merayap di hari Senin itu lumrah. Ini kenyataan yang kuhadapi setelah lulus kuliah dan bekerja di salah satu lembaga tinggi negara yang terletak di Senayan. Pekerjaanku saat ini tidak bisa dipandang remeh oleh sebagian orang, yakni Tenaga Ahli Ketua Fraksi salah satu partai di DPR. Meskipun lembaga tinggi negara tempatku bekerja sering mendapat kritik tajam dari masyarakat.

HP yang kupegang bergetar, ada notifikasi WA yang masuk. Nomor yang nggak ada di kontak.

“Halah, paling timses si bos” runtukku. Maklum, pemilihan umum sebentar lagi. Bukannya nggak mau mengabdi kepada rakyat sih, tapi tiap hari selalu ada telepon, WA, SMS, bahkan email dari tim sukses si bos di daerah pemilihan yang bikin HP ku geter hampir tiap menit. Mintanya pun macem-macem, oke skip.

Kubuka pesan WA itu. “Hai jar, apa kabar ? Yuri.” tulisan itu yang muncul di pesan itu.

Pikiranku berjalan mundur mengingat memori yang terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya waktu KKN dikala masih mahasiswa.

Tahun 2016, Bandung.

Namaku Putra Fajar Soekarno, biasa dipanggil Fajar. Bapak & ibuku memang Soekarnois banget, jadilah aku diberi nama yang sama dengan nama bapak bangsa. Aku lahir dan besar di Ponorogo, Jawa Timur. Sehabis lulus SMA, aku melanjutkan studi ke Fakultas Hukum di universitas yang terletak di Bandung. Kalau boleh curhat, selama kuliah logat medokku ini masih kental. Kadang agak gimana gitu kalau ngomong lu-gue hehehe.

Tampangku nggak ganteng-ganteng amat, khas mas-mas ndeso lah, tinggi badan cuma 173 cm. Tapi badanku sering dipuji atletis sama teman-teman maupun tetangga, soalnya otot dada, lengan, dan perut udah terbentuk. Walaupun masih kalah kalau dibandingin sama Cristiano Ronaldo hehehe. Itu semua cuma bonus bagiku, karena rajin olahraga dan bantu orangtua mengurus ternak. Sedangkan ukuran ‘dedekku’ sendiri 17 cm ketika ereksi, kalau diameter nggak pernah kuukur, cuma selalu terasa sempit di memek para mantan.

Di kampus sendiri, aku dicap teman-teman sebagai mahasiswa aktivis. Tercatat sebagai pengurus di BEM maupun organisasi eksternal mahasiswa, jadi relatif nggak ada waktu kalau buat hura-hura. Lagipula aku ini dari keluarga pas-pasan, hemat adalah keharusan. Meskipun sibuk kayak pejabat, kuliah tetep berjalan lancar, bahkan ada beberapa prestasi akademik mewakili kampus yang kutorehkan selama enam semester kuliah.

Nggak terasa UAS udah selesai, yang artinya aku harus siap-siap buat KKN yang dihitung jadi mata kuliah 3 SKS. Masa plotting/penempatan, gathering kelompok, sama pembekalan dari universitas udah kulalui. Hari Senin Bulan Juli, ratusan mahasiswa yang KKN diberangkatkan pake bus dari kampus Sumedang ke tujuan masing-masing. Aku masuk dalam Kelompok 11 yang ditempatkan di Desa Plosomulyo, Kabupaten Indramayu. Kelompok 11 ada sebelas orang, tiga orang cowok delapan orang cewek, boleh dibilang Kelompok 11 paling minim cowok diantara kelompok-kelompok lain yang KKN. Berdasarkan kesepakatan waktu pembekalan, ada dua rumah yang kita pakai menginap, jadi cowok-cewek tidur terpisah. Untungnya rumah cowok sama cewek deket banget, cuma berjarak satu rumah. Rumah cewek dijadikan basecamp & dapur umum, karena jauh lebih luas dibandingkan rumah cowok. Jadi kalau ngumpul atau makan, para cowok harus ke rumah mereka.

Di dalam bus aku tertidur pulas sejak berangkat, jadi nggak banyak interaksi sama teman satu kelompok. Harap maklum soalnya ada rapat BEM sama kepanitiaan semalam suntuk. Jarum jam tangan menunjuk Pukul 12.30, aku terbangun dan bus baru berhenti di depan kantor kuwu*. Setelah disambut beberapa perangkat desa, kita diantar ke rumah buat naruh barang-barang bawaan. Sebagai gentlemen aku harus bantu cewek-cewek ngangkutin barang-barang mereka yang banyak, kayak pindahan rumah menurutku, tapi cewek mah wajar. Kontras sama aku yang cuma bawa tas bermerk E*ger yang sering kugunakan naik gunung.

P.S *Kuwu : sebutan untuk Kepala Desa di Indramayu.

Aku berinisiatif membantu salah seorang cewek sekelompok di depanku yang kelihatannya sibuk nurunin barang bawaannya yang banyak dari bagasi. Tapi belum pernah kulihat cewek ini waktu gathering maupun pembekalan KKN.

“Punten teh, ada yang perlu dibantu ?” sapaku ramah.

“Lu bawa koper ini yak” jawabnya seperlunya sembari menyodorkan koper warna merah.

Lalu kita Kelompok 11 bareng-bareng jalan kaki ke rumah kontrakan, dan cewek ini selalu jalan di sampingku. Aku perhatikan cewek ini sembunyi-sembunyi. Dilihat dari face dan perawakan, dia tipeku banget ! Dia menggunakan kaos warna merah dibalut jas almamater, dengan bawahan rok span. Facenya menurutku cantik, walaupun kelihatan judes. Tingginya pun lumayan, sedaguku kalau diukur. Kulitnya kuning langsat, meskipun dibasahi keringat, maklum suhu Indramayu panas. Bodynya pun bak gitar Spanyol ditunjang sama pantanya yang berisi. Sayangnya toketnya ketutup jas almamater, jadi nggak bisa perkirakan ukurannya berapa.

“Teh, maaf belum kenal. Kenalin nama saya Fajar dari FH” kubuka obrolan diikuti uluran tangan gesture orang berkenalan.

“Hai Fajar, salam kenal. Nama gue Yuri. Agatha Yuri Renata” jawabnya sembari menyambut uluran tanganku. Ternyata Yuri dari FISIP dan satu angkatan di atasku, baru ambil mata kuliah KKN katanya. Dia berasal dari Jakarta.

Singkat cerita habis bersih-bersih rumah yang ditempati bareng dua orang penghuni rumah cowok selain aku, Rahman dari FK dan Salim dari FKG, kita jalan ke rumah cewek. Sehabis naruh barang-barang dan mindahin perabotan yang ada di rumah cewek, kita semua kumpul di pelataran buat ngadain rapat. Agendanya tiga, milih koordinator kelompok, membagi jadwal piket maupun tugas rumah tangga, dan ngerancang kegiatan.

Sialnya, aku dipilih jadi koordinator sama anak-anak. Suara bulat & aklamasi. Padahal aku udah diwanti-wanti supaya nggak usah jadi koordinator, ribet kalau kata temen-temen BEM yang sudah pernah KKN. Tapi keuntungannya, nilai mereka yang satu kelompok ada campur tanganku.

Setelah panjang lebar diskusi soal agenda rapat, tidak terasa waktu udah sore. Adzan Ashar berkumandang di musholla yang berjarak sepuluh rumah dari basecamp. Sebagian bersiap menuju masjid, termasuk Salim dan Rahman. Sedangkan sebagian lagi bersiap untuk mandi, yang tentunya mengantri. Aku tetap duduk di pelataran, merokok sambil memainkan HP. Tiba-tiba Yuri datang menghampiriku sambil menenteng handuk.

“Kagak sholat lu ?” tanya Yuri.

“Haha buat apa. Wong aku Islam KTP” jawabku. Aku emang dididik dari kultur abangan alias Islam KTP, dalam setahun paling cuma sholat dua kali, Idhul Fitri sama Idhul Adha.

“Mantap, sama lah kita. Bagi rokok dong, gue belum sempet beli” ujar Yuri

Aku menatap heran dan berkata, “Kamu ngerokok mbak ?” Tangan gue tetap menawarkan bungkus rokok Sampoerna Mild ke dia. Maklum, bagiku yang wong ndeso, sangat jarang melihat cewek yang merokok.

Sepetinya dia menangkap keherananku, “Emang cewek kagak boleh ngerokok ?” tanyanya balik dan mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.

Refleks aku menyalakan korek dan mengarahkan ke dia. Entah Yuri sadar atau nggak, mataku melirik ke arah toketnya. “Jangkrik, bulat berisi !” umpatku dalam hati. Kira-kira 34C ukuran bra yang dia pakai.

“Mbak Yuri, aku mau nanya, mohon maaf kalau kurang berkenan. Mbak kok baru ambil KKN ? Terus kemarin waktu gathering sama pembekalan mbak kok nggak datang ?”

“Elah, santai aja bro. Gak salah kok pertanyaan lu, tapi jangan panggil gue mbak dong, Yuri aja. Kalau kemarin-kemarin gue sidang proposal skripsi sama bantu bokap reses anggota DPR” jawab Yuri rileks. Aku berasumsi kalau Yuri ini anak anggota DPR atau setidaknya saudara anggota DPR.

Mengenai alasan baru mengambil KKN, dia menjelaskan kalau sempat cuti satu semester untuk ikut pemilu legislatif 2014 sebagai calon anggota DPRD kabupaten di Jawa Tengah. Dia sendiri didorong ayahnya untuk nyaleg, mengingat pimpinan cabang partai tersebut kesulitan untuk merekrut kader perempuan. Meskipun dia belum berhasil terpilih karena masih belum dikenal masyarakat, sedangkan caleg saingannya banyak yang berlatar berlakang sebagai anggota DPRD petahana maupun tokoh masyarakat. Obrolan kita pun terasa hangat karena sama-sama tertarik di bidang politik dan punya pilihan politik yang sama.

“Lu sendiri punya keinginan terjun ke dunia politik nggak bro ?” selidik Yuri sembari menghembuskan asap rokok ke atas.

“Jujur aku punya cita-cita buat ikut mewujudkan kesejahteraan & kesetaraan, setidaknya di Ponorogo. Politik kekuasaan mah cuma satu jalan, jalan lain kan masih banyak,” kataku sebelum menghisap rokok yang hampir habis.

“Hahaha dasar aktivis. Serius amat omongan lu, pantesan jomblo !”

“Eh, lu doyan minum gak ? Kayaknya cuma kita doang nih yang bisa kobam (re : mabok). Temenin gue dong jar” sambungnya

“Emang kamu bawa ?” kataku dengan nada ragu

“Naif sekali kau anak muda. Gue bawa tas segitu banyaknya lu pikir cuma baju sama make up doang ? Lu harus belajar menyelundupkan sesuatu” jawabnya enteng sambil mematikan rokok yang sudah dia hisap.

Gila juga cewek ini, udah ngerokok, minum, badannya sexy pula, gumamku dengan senyum iblis. Entah apa yang ingin kurencanakan terhadapnya, tak ada seorangpun yang boleh tahu.

Aku pun gembira dan berkata, “Ya udah yur, nanti di rumah cowok aja. Aku kondisikan nanti. Semoga aja mabukmu nggak parah hehehe”. Bercandaanku setengah mengejek Yuri memang.

“Ah, dasar patriarki ! Lihat aja nanti” jawabnya sambil berdiri dan ngeloyor ke kamar mandi. Sedangkan aku balik ke rumah cowok untuk mandi.

Bersambung

END – KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1 | KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 1 – END

FIRST CHAPTER | Selanjutnya(KKN (Kuliah Kerja Ngewe) Part 2)