Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 28

Start Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 28 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 28 Start

Sarah

Be Careful what you wish for!​

Pacaran..

Sebenernya apa sih yang menentukan dua orang itu pacaran atau engga?

Apabila seorang cowo yang mendekati cewe kemudian cewe itu merespon dan mau dideketin itu adalah tanda bahwa mereka pacaran?

Ataukah harus ada status yang menegaskan bahwa mereka kini telah berpacaran?

Bagaimana jika keduanya sudah tau bahwa mereka saling menyayangi, dan tidak pernah menegaskan status mereka secara gamblang? Apakah keduanya bisa disebut sudah berpacaran?

Karena itulah yang terjadi sama gue dan Sarah sekarang ini. Sudah hampir sebulan semenjak Valentine dan kita berdua sekarang ini sudah seperti orang yang sedang berpacaran. Kita sering pergi berduaan. Dia pulang kuliah gue jemput.. Sarah sering main ke kampus gue.. Klo Sarah mau ngapa ngapain dia minta pendapat gue dan begitu juga sebaliknya.

Itu adalah tanda kalo gue dan Sarah berpacaran kan?

Tapi kenapa temen temen gue selalu bilang klo gue harus mempertegas status kita berdua, supaya ga cuma dibilang TTMan.

Dosa misalnya.. Waktu gue, Radit, Dosa, dan geng cantiknya itu lari sore di Sabuga, Dosa menanyakan gimana kelanjutan antara gue dengan Sarah. Setelah bertemu di lapangan futsal sebelum hari Valentine, gue emang ga pernah ketemu Dosa dan Radit hingga hari ini, makanya Dosa penasaran karena dia berasumsi gue dan Sarah pergi berduaan malam itu makanya ga nyusulin anak anak kosan yang makan di daerah Pasir Kaliki.

Setelah Sarah memberikan gue coklat di malam itu, malam berikutnya, masih di hari Valentine, gue mengajak dia makan malam di sebuah restoran di Dago Pakar. Tadinya emang tujuan gue untuk menyatakan perasaan gue ke Sarah. Tapi entah kenapa pembicaraan gue dan Sarah malam itu tidak pernah mengarah ke momen itu. Emang sih beberapa kali sempet timbul momen romantis.. Tapi ada aja yang menganggu momen itu, entah itu makanan penutup yang baru dateng lah, dapet telepon dari salah satu donatur acara kampus Sarah yang ternyata belom dapet proposal, atau bahkan, Sarah yang alergi makan kismis setelah mendapati Cheese Cake yang ia makan ternyata ada kismisnya.

“Jadi elo sampe sekarang ga pernah nembak dia lagi, Ler?” Tanya Dosa kaget mendengar cerita gue saat kita semua sedang berlari.

“Ya abis ga dapet momennya..” Jawab gue singkat tanpa menatapnya. Gue bisa denger tawa kecil temen temennya yang berlari persis di belakang gue. Somehow gue bisa denger tawa Layna yang paling sinis. Ugh cewe yang satu itu memang..

“Lagian gue yakin dia tau lah hubungan gue sama dia itu udah bukan temenan lagi sekarang.. ” Lanjut gue santai.

“Mau lo jadiin ttm ya, Ler?” Tanya Radit kemudian disusul tertawa semuanya. Haha, Judul Lagu Ratu yang satu itu bener bener booming dan segera menjadi istilah bahasa slang yang populer, teman tapi mesra.

“Anjirr.. Engga lah.. Dan gue ga suka banget tuh sama lagu itu!” Respon gue dengan cepat di tengah tawa mereka. Entah kenapa lagu yang sebenarnya catchy itu sangat mengganggu di telinga gue. Yully pun sama kaya gue, ga suka sama lagu itu. Mungkin karena anak anak eksis sering nyanyiin lagu itu di kandang berkali kali dengan nada bercanda juga kali yaa..

“Ntar keburu dideketin orang lain, Ler.. Baru deh elo nyesel.. ” Kata Dosa agak serius setelah tawa nya reda.

Gue ga menjawab perkataan Dosa, tapi harus diakui gue ga kepikiran sampe situ. Walaupun sih ya, kalo Sarah merasa gue dan dia udah saling terikat, harusnya dia ga mau kalo ada cowo lain yang deketin dia. Tapi itu kalo dia ngerasa terikat sama gue..

Kalo engga?

Waduh..

Bener kata Dosa, bisa nyesel sendiri gue yang ada nanti.

“Hei.. ” Tangan Sarah menepuk pelan pundak gue dan menyadarkan gue dari lamunan. Kamu kenapa? Kok bengong?” Tanya dia kemudian.

“Oh engga.. ” Jawab gue tidak memberitahu apa yang gue pikirkan tadi. “Jadi gimana? Bisa dihubungin ga dia? Kita kesana aja atau gimana?” Tanya gue mengalihkan pembicaraan.

Saat ini gue baru aja jemput Sarah dan nemenin dia untuk bertemu dengan salah satu donatur yang kemaren bilang belom dapet proposal acara kampus Sarah.

“Kamu beneran mau nemenin? Aku ga apa apa ko kalo kamu ada urusan.. Nanti aku sama anak anak panitia aja kesananya.. ” Kata Sarah ragu.

“Apa deeehh.. Ayo kita kesana deh yu, sekarang.. kan kalo ga dikasih sekarang dia keburu keluar negeri kan?” Ujar gue kemudian menjalankan mobil gue.

Donatur yang mau kita samperin ini adalah salah satu alumnus kampus Sarah yang terkenal kaya raya dan setia kepada almamaternya. Tiap ada acara dari kampus Sarah, pasti orang ini selalu memberikan donasi yang lumayan besar, apalagi kali ini acaranya berasal dari Fakultas dulu ia kuliah, pasti akan mendapat donasi yang lebih besar lagi. Nah entah kenapa, hingga mendekati Hari H acara ini, sang donatur tersebut ternyata belum diberikan proposal sama sekali. Sarah yang adalah ketua tim pencarian dana langsung kaget mendengar dia belum dapet proposal, dan lebih kaget lagi hingga hari ini juga belum diberikan. Ada miskomunikasi antara dia dan anggotanya.

Besok, si donatur ini akan pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali dalam jangka waktu tiga bulan, jadi kalo hari ini ga dikasih juga, panitia dana akan kehilangan kesempatan mendapatkan donasi dari dia. Suatu hal yang tentunya tidak diinginkan oleh panitia.

“Rumahnya gede amat.. ” Ucap gue saat pintu pagar rumah si donatur ini dibuka oleh satpam rumahnya dan memperlihatkan halaman rumah yang luas ditumbuhi pepohonan pinus di kiri dan kanan jalan masuk menuju bangunan utama.

“Banget! Kaya Istana Negara yaa?” Jawab Sarah yang juga mengangumi luasnya rumah itu.

“Aa, jalan terus aja ke depan nanti parkir di samping kolam ikannya aja.. ” Kata si Satpam memberi instruksi. Gue mengikuti instruksinya dan segera memarkir mobil persis di samping kolam ikan yang di tengahnya terdapat air mancur kecil.

Suasana sejuk dan tenang langsung terasa saat gue dan Sarah keluar dari mobil. Suara air mancur yang terdengar jelas disamping kami menambah tenang suasana. Kami lalu melangkah menuju bangunan utama dan saat akan tiba disana pintu utamanya terbuka. Keluarlah seorang Ibu ibu yang mungkin berusia 50 tahunan dari balik pintu itu dan menyapa kami.

“Halo Sarah.. Apa kabar?” Sapa ibu itu dengan suara yang dewasa lalu mencium pipi Sarah. Gue lalu menyodorkan tangan gue untuk bersalaman dengannya.

“Ooh ini Radit ya? Ketua panitianya?” Kata si Ibu itu sambil menjabat tangan gue dan bertanya ke kita berdua.

“Bu-bukan tante, dia bukan ketuanya.. ” Kata Sarah. Gue juga tersenyum malu dan bingung harus bilang apa.

“Oooh bukan.. anggota kamu berarti? Kemarin waktu ketemu kayanya ga ada dia.. ” Kata si Ibu.

“Bukan ibu.. ” Ucap gue memotong Sarah yang akan menjawab, “Saya ga sekampus sama Sarah.. Cuma nemenin dia aja kesini.. ” Lanjut gue dengan sopan.

“Oalah.. Kirain.. Yasudah ayo masuk masuk.. ” Kata Ibu itu berbalik badan dan mempersilahkan kita berdua masuk ke rumahnya. Rumahnya yang besar dan beratap tinggi memberikan kesan luas dan elegan, apalagi interiornya bergaya romawi dengan pilar pilar besar menopang pojok ruangan. Furniture furniture mewah bergaya eropa klasik makin membuat rumah ini seperti berada bukan di Indonesia.

“Ayo duduk dulu, silahkan.. Pacarnya Sarah ya?” Kata ibu itu tiba tiba ketika mempersilahkan kami duduk.

DEG.

Gue dan Sarah tersentak mendengar pertanyaan si Ibu itu. Kita berdua liat liatan.

“Te-temenan, bu.. ” Ucap gue cepat. Dan secepat itu juga gue menyesali apa yang baru saja keluar dari mulut gue. Ngapain gue ngomong gitu? Harusnya gue biarin Sarah aja yang jawab. Ah ******.. Blunder benget!

“Aduh saya jangan dipanggil ibu deh.. Panggil tante aja, terlalu formal kalo dipanggil ibu.. ” Kata si Ibu itu kepada gue.

Sepanjang pertemuan dengan si Ibu itu gue hanya bisa terdiam aja. Gue kepikiran sama omongan gue tadi. Mungkin karena gue terlalu gugup makanya gue sampe ngomong kaya gitu. Gue ngeliat si Sarah kayanya ga terpengaruh sama jawaban gue. Dia sibuk berdiskusi dengan si ibu mengenai acaranya dan memperlihatkan yang ada di proposal. Mereka berdua terlibat perbincangan hangat mengenai acara tersebut sementara gue duduk terdiam aja mendengarkan mereka.

“Yasudah sebentar saya ambil uang dulu.. Ini cemilan di toples juga silahkan diambil lho, gausah malu malu ya?” Kata si ibu santai kemudian bangkit berdiri dan berlalu meninggalkan gue dan Sarah.

Yak ini dia..

Canggung canggung deh ini gue sama Sarah.

Duh mau ngomong apa ini gue? Gue bahas apa engga? Gue alihin topik apa engga? Tapi kalo gue alihin, kesannya gue nganggep tadi kaya bukan apa apa..

Aduh tapi masa gue bahas kaya gitu di rumah orang sih?

Jir bingung gue harus gimana kalo gini caranya..

“Aku tegang deeh.. ” Kata Sarah tiba tiba membuyarkan semua pikiran gue.

“Te-tegang kenapa?” Tanya gue hati hati. Gue masih belum tau harus ngomong gimana dan belum tau arah pembicaraan ini mau kemana.

“Iyaa.. kira kira dia ngasih banyak ga yaa? Tadi presentasi aku bagus ga sih? Meyakinkan ga?” Tanya Sarah.

Waduh?

Sar, gue ga merhatiin nih.. Daritadi gue bengong doang.. Merenungkan apa yang sebelumnya gue ucapin.

“Mmm.. Bagus sih sepertinya.. Kamu keliatan meyakinkan kok tadi.. ” Ucap gue berbohong. Gue sama sekali ga tau gimana presentasi Sarah tadi.

Sarah kemudian tersenyum dan menggenggam tangan gue. “Makasih ya udah nemenin.. Kamu pasti bosen ya daritadi dengerin aku sama si tante ngobrol?” Kata Sarah.

Hmm.. Sarah sepertinya ga terlalu ambil pusing soal tadi..

“I-iya, sama sama.. Engga ko.. aku seneng ko bisa nemenin kamu.. ” Jawab gue.

Baru selesai gue ngomong, dateng seorang wanita muda yang kayanya asisten rumah tangga si ibu. Dia datang membawakan tiga gelas teh hangat, secangkir gula cair, dan satu teko yang gue asumsikan isinya teh. Lagi lagi bergaya eropa.. Seperti kebiasaan minum Teh ala bangsawan Inggris sana.

Si ibu ga lama kemudian keluar dengan membawa sebuah amplop coklat. Ia lalu duduk dan memberikan amplop coklat itu kepada Sarah.

“Coba itu kamu hitung dulu yaa.. Saya donasikan tiga puluh juta.. ” Kata si Ibu saat Sarah menerima amplop coklatnya. Sarah menurut dan langsung mengeluarkan uang yang ada di amplop tersebut kemudian menghitungnya. Ia lalu memberi gue isyarat untuk ikutan bantuin dia ngitung.

Yaampun ga konsen deh gue jadinya gara gara kesalahan gue tadi..

Segera gue mendekat ke Sarah dan membantunya menghitung uang tersebut.

“Coba kalian datengnya dari kemarin kemarin.. Saya bisa kasih lebih pasti.. Ini kalian dadakan sih.. ” Kata si ibu sambil menyeruput teh hangat yang disediakan tadi.

“Iya tante, Sarah miskom sama temen temen yang lain.. ” Jawab Sarah sambil tetep konsen menghitung uang.

“Ya engga apa apa deh.. Asalkan ga miskom sama yang ini ajaa.. ” Kata si Ibu sambil melirik gue dan membuat gue kebingungan dengan maksud si ibu. “Kalian berdua kalo saya perhatiin cocok loh.. ” Lanjutnya. Sarah langsung terkekeh.

“Si Tante bisa aja nih.. ” Kata Sarah malu dan melirik gue sambil tersenyum lebar. “Pas nih Tante, Tiga Puluh Juta Rupiah ya, tante.. ” Lanjut Sarah setelah selesai menghitung. Ia lalu memberikan tanda terima dari kepanitiaannya kepada si Ibu itu untuk ditanda tangani.

“Jadi beneran nih kalian ga ada apa apa?” Kata si Ibu itu setelah selesai menanda tangani tanda terima tersebut. Sarah dan gue nampak ragu menjawabnya. Ngepet ni ibu satu, pertanyaannya ga bisa yang lain apa? Kaya misalnya : Gimana kuliahnya? Gimana rasanya ngekos? Atau apalah itu pertanyaan basa basi lainnya.. Ini malah begitu terus pertanyaannya.. Zzz..

“Kalo ga ada apa apa, nanti kamu mau tante kenalin nih sama keponakan Tante.. ” kata tante itu tiba tiba.

Eh? Mau ngenalin ke cowo lain?

Ya kali deh..

Gue langsung pengen ngomong kalo gue lagi deketin Sarah, bodo amat deh, gue tembak sekarang juga kalo perlu si Sarah ini..

“Oh ya? Siapa Tante? Mau doongg dikenaliinn… ” Kata Sarah mendadak girang.

HAH?

Gue ga salah denger???

Ko.. Ko.. Kok Sarahh gitu sih??

Pikiran gue langsung tenggelam dengan apa yang barusan gue denger. Ga gue peduliin lagi apa yang Sarah dan si Ibu itu omongin, gue masih shock denger Sarah dengan gampangnya mau dikenalin ke cowo lain.. Jirr.. Emosi gue..

Dan akhirnya gue menyadari sesuatu!

Oohh pantes Sarah ga marah sama gue waktu gue bilang kita cuma temenan.. Ternyata dia ga nganggep gue se deket itu selama ini sama dia.. Ooh gituu.. Ternyata dia emang tipe cewe yang gampang banget akrab sama cowo.. Ooh gituu.. Jadi gue selama ini cuma geer aja berarti..

Tapi berusaha gue tahan semuanya karena ga enak dengan si Ibu itu. Jadi gue biarin mengalir aja dulu semuanya. Gue dengerin aja obrolan basa basi Sarah dengan si Ibu itu sampai akhirnya kita keluar dari rumahnya dan masuk ke mobil gue lagi. Masih gue tahan semuanya sampai mobil gue melaju keluar dari pagar rumah si Ibu itu.

Kebalikan dari gue yang kesel, Sarah justru keliatan seneng banget.

“Yeaayy, makasih yaa udah nemenin aku dapet tiga puluh jutaa!” Kata Sarah dengan girang sambil melihat isi amplop coklat tersebut. Gue ga banyak bereaksi, hanya sedikit tersenyum aja sambil konsen nyetir.

Ceritanya ngambek.. Biar si Sarah nanyain gue kenapa..

Tapi kayanya Sarah terlalu seneng sama keberhasilannya mendapatkan dana 30 juta sehingga ga menyadari gue lagi ngambek.. Kampret emang.. Keki sendiri gue jadinya.

“Kamu mau makan ga?” Tanya Sarah pelan.

“Terserah.. ” Jawab gue pendek.

“Yaudah ayo makan yuk.. Kamu suka Pizza kan? Mau makan pizza ga?” Tanya Sarah.

Jrit.

Sogokannya Pizza pulak..

“Terserah kamu aja.. Aku ngikut aja.. ” Jawab gue dingin. Meskipun dalem hati gue jadi seneng karena diajakin makan Pizza.. Ah damn, semurah ini harga diri gue.. Satu loyang Pizza doang harganya..

Kita lalu menuju ke restoran Pizza Hut terdekat di daerah Dago. Tampak restoran tersebut sedang penuh oleh aktivitas. Pelayannya sibuk silih berganti melayani konsumen, membersihkan meja, membawakan loyang pizza dan seterusnya. Gue dan Sarah mendapat satu meja kecil yang pas untuk dua orang dan kita duduk berhadapan. Letaknya agak ke pojok ruangan dan jauh dari keramaian orang orang.

“Satu Super Supreme Pizza yang ukuran medium, satu Garlic Bread, satu Spaghetti Bolognaisse, satu Iced Lemon Tea, dan satu English Breakfast Tea ya, Teteh.. ” Ucap Sarah dengan sopan saat mbak waitress datang menghampiri kita membawakan menu. Si mbaknya terlihat kaget karena Sarah langsung memesan tanpa melihat menu terlebih dahulu dan buru buru mencatat pesanan Sarah. Dia lalu membacakan ulang pesanan tadi untuk mengkonfirmasi dan berlalu meninggalkan kita.

“Tau darimana aku mau pesen itu?” Tanya gue heran dan sedikit dingin.

“Ada deeehh.. Lagian kan emang yang paling populer di Pizza Hut itu ya Super Supreme Pizza.. Kalo ga Meat Lovers sih.. ” Jawab Sarah riang. “Tapi bener kaann kamu suka Super Supreme?” Tanya Sarah sambil tersenyum.

“Selama itu pizza sih aku suka suka aja.. ” jawab gue singkat.

Kita berdua kemudian ga ngobrol karena Sarah lagi telepon teleponan sama Radit si ketua Panitia untuk ngelapor bahwa dia baru aja dapet dana tiga puluh juta. Gue juga sengaja ga mau ngobrol sama Sarah, masih kesel aja gue..

Untungnya kekesalan gue mereda ketika seporsi Garlic Bread dan Spaghetti Bolognaisse dateng.

“Kamu makan gih Spaghetti nyaa.. ” Ucap Sarah pelan sambil melihat gue dan menggeser kursinya mendekat ke samping gue serta menyodorkan piring spaghetti itu mendekat ke gue. “Supaya ga jutek jutek lagi sama aku.. ” Lanjutnya lagi dan melirik gue agak takut takut.

Melihat Sarah seperti sedikit membuat gue luluh, mungkin karena pengaruh laper dan sogokan makanan yang ada di depan gue juga yang makin membuat gue luluh sama dia. Gue akhirnya tersenyum dan bilang, “Makasih yaa.. ” Kemudian gue mengambil spaghetti tersebut lalu Sarah mengelap garpu dan pisau dengan tissue untuk diberikan kepada gue.

“Mmm.. Kamu marah sama aku karena kenapa sih? Aku beneran ga tau.. ” Ujarnya sembari memberikan garpu dan pisau tadi kepada gue, ia terlihat bingung dan ragu. Gue mengambil pisau dan garpu itu tanpa menjawab apapun.

“Karena mau dikenalin cowo sama si tante itu?” Tebak Sarah menatap gue.

Nah itu tau.. gumam gue dalem hati sambil bersiap makan.

“Kalo beneran karena itu, aku ga serius lho itu.. Kan aku ga enak aja nolak si tante, apalagi dia ngasih cukup gede kan tadi donasinya..” Sarah berusaha menjelaskan kenapa dia mau mau aja tadi dijanjiin mau dikenalin ke cowo sama si ibu donatur. Okay, jadi itu alesan dia toh.. Tapi gue masih belom percaya..

“Lagian aku kirain selama ini aku udah pacaran.. ternyata tadi cowo yang selama ini udah aku anggep pacar aku malah ngomong aku hanya temen dia doang.. ” Ucap Sarah lagi dengan nada sedikit pelan. Matanya melirik gue dan lantai.

Jir Beler!

Gue langsung sadar sama kebodohan gue sendiri yang udah mikir aneh aneh duluan.

Ini semua gara gara gue tadi pake sok sokan ngomong cuma temen doang nih..

Gue langsung menatap Sarah dengan perasaan bersalah dan malu. Kok gue bisa sedodol ini ya.. Di samping gue ada seorang cewe yang udah mau nemenin gue kuliah, yang dateng buat ngasih support gue pas main futsal, yang bela belain beli coklat pas valentine buat gue, dan gue masih berpikir kalo dia belom tentu sayang sama gue.

Beler, kadang kadang elo kalo udah bego suka ga ketolong lagi deh!

“Maaf yaa.. Aku tau sih kita emang ga pernah jadian selama ini.. ” Sarah lanjut ngomong lagi. “Tapi entah kenapa itu ngebikin aku makin sayang sama kamu.. Itu ngebikin aku ngerasa hubungan kita ini dewasa banget.. Bukan cinta cintaan kaya anak sma lagi.. ” Ucap Sarah sepenuh hatinya. Tangannya mengenggam jari jemarinya sendiri. Ia bahkan ga berani menatap gue lagi saat berkta seperti itu.

Jrit ler..

NGOMONG LEERRR!

INI CEWE UDAH NGUNGKAPIN APA YANG DIA RASAIN DI HADAPAN LO DAN ELO GA NGOMONG APA APA!???

“Kalo emang kamu nganggep aku selama ini cuma teme.. “

Perkataan Sarah terhenti karena gue langsung mencium bibirnya. Sarah tampak kaget dengan apa yang gue lakukan, tapi dia ga bergeming sedikitpun, bahkan saat gue selesai mengecupnya, dia tetap diam tidak bergerak. Muka gue masih berada dalam beberapa centimeter aja dari mukanya, kita berdua saling menatap, Sarah masih keliatan kaget dan tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia lalu menghela nafasnya kemudian tersenyum dan kemudian gantian mengecup bibir gue.

Kecupan yang berlangsung tidak lebih dari lima detik, ga ada lidah yang beradu, hanya dua bibir yang saling bertemu satu dengan yang lain, tapi entah kenapa gue merasakan sengatan listrik di sekujur tubuh gue. Seperti ada sesuatu yang tidak bisa gue tahan dari dalam hati gue menjalar ke seluruh tubuh gue hingga ke otak.

“Aku sayang kamu, Sarah.. ” Ucap gue singkat dengan tidak melepaskan tatapan mata gue ke Sarah.

“Aku sayang kamu juga, sayang.. ” Jawab Sarah tersenyum manis dan kembali menyambut kecupan dari bibir gue.

Perasaan gue langsung plong denger kata kata itu. Lega rasanya bisa ngungkapin itu semua ke Sarah. Dan gue bingung juga, kenapa ga gue lakukan ini secepet mungkin sih ke Sarah? Kenapa gue harus nunggu sampe kaya gini dulu baru gue bilang? Untung belom terlambat..

Gebleek ah elo, ler..

Dan anjrit, ini kan tempat umum.. seenaknya banget gue main nyium nyium anak orang di bibir.. Kalo diliatin gimana coba?

Gue langsung ngeliat keadaan sekeliling dan mendapati restoran ini terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri dan ga sepertinya ga ada yang ngeliat adegan ‘mesum’ gue barusan.

“Makan gih Spaghettinya.. Ntar dingin lho, Sayang.. ” Kata Sarah kemudian. Hati gue tersenyum kecil mendengar ada panggilan itu dari Sarah. Gue nurut dan mulai makan. Sarah sesekali minta dan gue suapin sambil makan Garlic Breadnya.

Pizza nya belum dateng, Spaghetti itu udah abis duluan, gue dan Sarah akhirnya bercanda canda sambil ngobrolin acara kampusnya itu.

“Nanti kamu dateng aja.. Kalo anak luar kampus harus bayar sih, tapi masa iya pacarnya panitia harus bayaarr.. ” Kata Sarah sambil nyengir, tangannya dengan erat mengenggam tangan gue.

“Kamu jangan ninggalin aku tapi pas acara.. mati gaya pasti aku nanti ga kenal siapa siapa.. ” Jawab gue.

“Engga laahh masa aku ninggalin kamu.. lagian kalopun ada urusan, kan ada Radit sama Dosa yang kamu kenal.. ” Sarah mencoba menenangkan gue.

“Iya sih ada mereka, tapi itu kalo mereka ga sibuk pacaran.. Ya kalo ga nanti aku ajak temen aja laahh biar bisa nemenin aku, boleh dong aku minta free pass satu lagi.. ” Jawab gue enteng sambil bercanda. Sarah tertawa mendengar jawaban gue.

“Haduuhh bangkrut deh ini acara aku nanti.. ” Kata Sarah sok gusar, “Emang kamu mau bawa siapa siih?” Tanyanya kemudian dengan manja.

“Yully paling.. Siapa lagi kalo bukan dia.. ” Jawab gue santai kemudian menyeruput Ice Lemon Tea gue.

Senyum Sarah lama lama memudar saat gue selesai menyeruput Ice Lemon Tea itu. Senyum kali ini terlihat sedikit kecut, sekecut Lemon Tea tadi.

“Kamu tau ga? Kenapa aku bisa nebak kamu suka Super Supreme Pizza? Ice Lemon Tea? Spaghetti Bolognaisse? Bahkan kamu main futsal dimana waktu itu aku bisa tau, kamu tau ga darimana aku bisa tau?” tanya Sarah tiba tiba.

Gue ga yakin harus jawab apa..

“Yully.. ” Kata Sarah. “Aku tau semuanya dari Yully..” Lanjut Sarah sambil mencoba tersenyum.

Oh no.. Gue tau nih kemana arah pembicaraan ini..

“Yully tuh tau banyak banget tentang kamu yaa.. ” Kata Sarah.

Yep.. Here we go.. Again..

“Saraahh.. Dia itu te.. “

“Temen kamu dari kecil, iya aku tau.. ” Potong Sarah.

“Selama ini aku selalu mikir, alesan kamu ga mau nembak aku itu karena.. Yully.. ” Kata Sarah lagi.

Yaampun.. Engga sama sekali.. Emang gue aja yang agak geblek nangkep sinyal.. Please jangan ngomong gitu Saraahh..

“Makanya aku juga ga mau maksain kejelasan hubungan kita selama ini.. ” Lanjut Sarah.

Gue langsung mengenggam kedua tangan Sarah dan gue tatep dalam dalam mata dia.

“Sarah, aku sama Yully ga lebih dari temen.. Aku ga pernah mikir Yully itu lebih dari temen.. Kakak atau adek aku, iya, tapi lebih dari itu? Engga, Sarah.. ” Ucap gue dengan tegas.

Sarah mencoba tersenyum mendengar apa yang gue ucapkan barusan.

“Kamu janji, Yully ga akan jadi penghalang buat kita?” Tanya Sarah pelan.

Bersambung

END – Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 28 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 28 – END

(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 27)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 29)