Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58

Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 25

Start Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 25 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 25 Start

D O S A

Christmas Comes Early This Year​

Bunyi Kokangan senjata terdengar silih berganti dari kiri dan kanan telinga gue. Gue perhatikan satu persatu teman teman yang berada di belakang gue. Dua orang sudah bersiap dengan senapan serbu laras panjang AK47, dua orang lagi terlihat memegang senapan penembak runduk Bolt Action L96 ‘AWP’. Masing masing dari mereka sudah membawa satu Frag Grenade dan satu Flashbang. Gue sendiri udah mempersiapkan smoke grenade untuk mengacaukan penglihatan musuh dan bisa memberikan teman teman gue kesempatan untuk melakukan manuver ke kiri ataupun ke kanan musuh.

Semua orang tidak ada yang berbicara sama sekali. Kami semua sudah tahu tugas kami masing masing. Begitu mendengar aba aba bergerak, kami semua langsung bergerak maju dengan cepat. Tiga orang termasuk gue segera berbelok di belokan pertama menuju sebuah gang kecil sementara dua orang yang membawa AWP terus berlari lurus ke depan untuk mengantisipasi musuh yang akan datang dari sana.

Derap langkah kaki kami semua terdengar menderu di tanah yang sebagian tertutup pasir gurun. Semua eksterior tempat ini terlihat berwarna cream dan tertutup oleh banyaknya pasir gurun. Tapi gue dan teman teman gue tidak mempedulikan kondisi yang cukup berat itu dan terus melaju hingga ujung gang itu dan berbelok ke kanan dimana sebuah gang yang lebih luas dan sepi tidak ada penduduk sudah menanti kami. Satu bangunan kosong dengan sebuah akses pintu besar dari kayu berada di kiri kami. Gue memimpin teman teman gue untuk maju dan berhenti tepat sebelum pintu itu.

Di kejauhan terdengar bunyi tembakan yang menggelegar. Sepertinya dua teman kami yang memegang AWP telah melakukan kontak senjata dengan musuh. Gue menengok ke belakang untuk melihat teman teman gue yang sudah mengantri di belakang gue. Mereka semua sudah siap untuk bertempur. Gue segera memberi isyarat dengan tangan gue agar mereka melemparkan flashbang, sebuah granat yang saat meledak akan mengeluarkan cahaya silau dan membutakan sementara penglihatan mereka yang melihat ledakan tersebut secara langsung. Flashbang akhirnya dilempar masuk ke dalam pintu kayu besar tersebut hingga masuk ke dalam. Terlihat ada kilatan cahaya kecil dan sebuah ledakan kecil pertanda flashbang telah meledak.

Gue memberikan komando untuk menyerbu masuk dan segera masuk ke dalam pintu kayu tersebut dan mendapati sebuah ruangan yang kosong tidak ada apapun kecuali tumpukan kotak kotak kayu dengan pencahayaan yang minim. Di dekat pintu tersebut ada sebuah kotak kayu besar. Tampaknya bangunan ini adalah gudang yang tidak jelas untuk menyimpan apa, yang jelas, bukan ruangan ini yang menjadi target gue dan tim gue. Target gue dan tim gue adalah untuk meledakkan kotak kotak berisi suplai senjata yang akan digunakan musuh untuk menyerang kami suatu saat nanti.

Gue perhatikan lagi ruangan ini. Ruangan ini terdapat dua lorong masing masing menuju ke kiri dan ke kanan. Dari salah satu lorong tersebut terdengar derap langkah kaki di kejauhan. Musuhkah?

Gue melihat ke AK47 kepunyaan gue untuk memastikan senjata buatan Uni Soviet itu siap ditembakkan. Kemudian gue dan salah satu teman gue maju untuk mengintip di lorong itu apakah benar ada musuh yang masuk. Gue keluarkan sedikit kepala gue dari pojok ruangan dan melihat ke lorong di sebelah kiri. Lagi lagi terdapat sebuah kotak kayu yang ditumpuk tumpuk hingga hampir menyentuh langit langit ruangan ini.

Gue memfokuskan pandangan gue dan melihat ada sebuah senapan yang terlihat menyembul sedikit di balik kotak kayu itu.

Sergapan! Ternyata musuh sudah menunggu kami!

Untunglah gue bisa melihat posisi mereka terlebih dahulu. Sekarang gue bisa berbalik menyergap mereka. Pelan pelan gue melangkah menuju kotak kayu itu dengan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara sedikitpun. Setelah gue sampai di kotak kayu tersebut, gue segera bergerak cepat menyergap musuh yang berada di balik kotak kayu itu.

Dalam sepersekian detik gue melihat musuh yang nampak kaget dengan kemunculan gue yang tiba tiba dan tidak sempat mengarahkan senjatanya kepada gue. Gue gerakkan tangan gue dan mengarahkan AK47 gue ke hadapannya, dan gue tekan jari gue dalam dalam ke pelatuk senapan gue. Saat itulah gue melihat dari ekor mata gue ada flashbang yang terlempar di dekat gue.

Bersamaan dengan jari gue yang menekan pelatuk senapan gue, ledakan kecil diiringi cahaya putih yang sangat terang muncul dan langsung menyilaukan pandangan gue. Bunyi tembakan AK47 gue terdengar keras membahana di seluruh ruangan dan terdengar juga bunyi tembakan dari senjata lain. Silaunya pandangan gue tidak membuat gue luput dari rasa sakit yang gue rasakan di sekujur tubuh gue saat peluru demi peluru menembus badan gue hingga akhirnya cahaya putih itu berubah menjadi cahaya hitam pekat.

Gue menemui ajal gue.

. . . . .

. . . .

. . .

. .

.

“BANGSAAAATTTTTTT! BOT TOLOL! Ngapain lagi ngelempar flashbang!?? Mati kan gue!” Ucap gue berteriak setengah mati ke layar komputer gue. Tangan gue memukul meja komputer gue dengan kencang hingga berderit meja itu.

“Hahahaha.. Mampoosss! Sok sok maju sih lo lagian” Dari jauh terdengar suara ketawa Tom yang ngeledekin gue yang mati duluan.

Yep. Gue lagi main CS di map De_Dust sama anak kosan gue.

Counter Strike 1.6, sebuah game bergenre First Person Shooter yang sudah menjadi game wajib anak kosan (apalagi kosan cowo kaya kosan gue ini). Semenjak pemilik kosan gue ini memasang kabel LAN, gue dan anak anak kosan gue seperti kecanduan dengan game Counter Strike atau biasa disingkat CS. Hampir setiap hari kita satu kosan pasti main rame rame. Apalagi saat weekend seperti sekarang ini, sudah dari pagi kita semua bangun dan nge LAN CS bersama sampe lupa kalo ini sudah waktunya jam makan siang.

“Bukan salah gue ya njiingg! Itu BOT tolol ngapain ngelempar Flashbang pas gue lagi maju.. ” Teriak gue sewot ke pintu kamar gue yang sedikit terbuka, berharap suara teriakan gue terdengar sampai ke kamar Tom. Gue cuma bisa menggerutu kesal aja menunggu ronde pertempuran ini berakhir. Paling engga bisa makan waktu 3 – 5 menit menunggu ronde ini berakhir dan bisa bermain kembali di ronde berikutnya.

“Ler?” Suara Dosa terdengar saat ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar gue. “Elo masih main?” Tanya dia.

“Masih.. Kenapa, Sa?” Tanya gue bingung sama kemunculan dia. Tadinya gue pikir kamar Radit kosong ga ada orang karena udah kita ketok ketok ga ada yang buka. Eh ternyata ada Dosa toh.. Semenjak kepindahan Radit ke kosan ini, Dosa yang adalah ceweknya, sering banget nginep di kamar Radit. Ga perlu dibahas lah ya mereka ngapain aja di kamar Radit.. Yang pasti ga sekali dua kali gue denger suara desahan yang merangsang birahi gue yang tedengar dari kamar Radit di tengah malam. Gue juga kalo jadi Radit, ga mungkin kuat menahan iman gue kalo cewe gue kaya Dosa..

“Temenin gue dooongg ke Warung depan.. ” Ucap Dosa membuyarkan lamunan gue tentang dia. Dosa lalu membuka pintu kamar gue lebar lebar sehingga terlihatlah seluruh badan dia yang mengenakan celana piyama dan baju kaos yang aga ketat, apalagi di bagian dadanya yang menantang.

“Mau ngapaaiinn?” Ucap gue setangah males. Duh, lagi main soalnya, Sa.. Maaf maaf aja nih bukannya ga peduli sama lo nih..

“Beli Aqua galooonn.. ” Ucapnya sambil ngeluyur masuk ke kamar gue dan menuju ke dispenser air gue. “Bagi air ya, Ler.. Aus banget gue” lanjut Dosa terus langsung ngambil gelas.

“Delivery aja sih.. Kan bisa?” Jawab gue bingung kenapa Dosa ga delivery aja.

“Udah gue telepon tadi, tapi mereka bilang lagi ga bisa nganter.. Yang biasanya nganter lagi ga masuk hari ini katanya.. ” Kata Dosa sambil menenggak habis segelas air yang ia ambil tadi. “Temenin gue yuuukkk.. ” Bujuk Dosa sambil sedikit merengek manja ke gue. Ini nih ‘senjata andalan’ Dosa (dan sepertinya semua cewe juga), menggunakan suara manja untuk memohon kepada kaum pria agar menuruti keinginan mereka. Biasanya gue ga mempan sama yang kaya gini ginian. Entah udah berapa ribu kali Yully menggunakan senjata ini ke gue sampe akhirnya udah ga mempan lagi. Biasanya sekarang Yully cuma bisa ngasih tau dia pengen apa dan cuma bisa berharap gue mau, ga pernah lagi pake suara manja. Dan biasanya juga cewe cewe lain yang mencoba menggunakan taktik ini ke gue selalu menemui kegagalan.

Tapi untuk Dosa, agak sedikit berbeda..

Agak sedikit susah buat menolak suara manja dia yang ditambah dengan aura sensual yang selalu timbul dari melihat mukanya yang setengah terlihat horny setengah pasrah. Ada sensasi tersendiri yang timbul ketika melihat Dosa merengek manja kaya gitu. Sensasi pemberontakan di celana gue.

Senjata andalan Dosa itu berbeda level dengan cewe cewe kebanyakan. Senjata andalan Dosa ini selain menggunakan suara manja, juga menggunakan aura seksual.

Dan seksual, adalah Kryptonite nya Pria normal dimanapun di dunia ini.

Gue melihat Dosa yang masih merengek di depan gue, melihat gumpalan kedua payudaranya yang berguncang naik turun setiap kali Dosa menggerakkan dadanya saat ia merengek, dan gue melihat layar komputer gue yang masih juga hitam karena Ronde kali ini belum juga selesai.

Ah sudahlah.. Bodo amat deh sama CS.. Udah waktunya jam makan siang juga.. Mendingan beli makanan sekalian nemenin Dosa beli galon Aqua aja lah.

“Yauda, gue temenin, ke Indomaret depan aja deh ya sekalian?” Ucap gue ke Dosa. Mukanya langsung berseri mendengar jawaban gue.

“Naahh gitu doongg! Gue ganti baju dulu deh ya, abis itu kita jalan.. ” Ucap Dosa kemudian menaruh gelas di meja komputer gue kemudian ngeluyur keluar meninggalkan gue setengah berfantasi bagaimana bentuk badan Dosa yang ada di balik pakaiannya itu.

Gue yakin banget gue dan seisi kosan diam diam ngejadiin Dosa bahan buat fantasi seksual kita. Ya gimana engga? Dengan wajah yang cantik dan bentuk badan yang ‘Bohay’ kalo kata Tom, adalah kombinasi sempurna untuk menjadi khayalan seksual pria pria. Apalagi kelakuan Dosa yang seperti sadar akan tubuh indahnya dan selalu memamerkan lekuk tubuhnya dengan baju yang fashionable dan terkadang menguji batas kelayakan wanita timur pada umumnya berpakaian.

Seperti sekarang ini saat gue menemani dia berbelanja di minimart deket kosan gue. Dosa memilih menggunakan celana jeans ekstra pendek yang tingginya jauh diatas lutut dan lebih dekat ke perut. Lalu ia memakai baju kaos hitam yang sedikit longgar dan sedikit kebesaran sehingga memamerkan bra merahnya dan kulit pundaknya yang putih merona. Gue cuma bisa berharap iman gue cukup kuat untuk tidak melihat ke area dada dia waktu Dosa ngebungkuk mencari barang yang ia perlukan.

“Elo mau beli makanan apaan, Ler?” Tanya Dosa sambil melihat produk produk yang berjejeran di area Snack.

“Emm.. Apaan ya? Lo ada ide ga?” Jawab gue. Kebiasaan gue, suka bingung milih makan apa kalo ditanya mau makan apa.

“Yeee nanya balik.. Tadi si Tom ga nitip apa gitu? Biar sekalian elo beli makanan disitu,, hemat waktu.. ” Kata Dosa. Matanya masih sibuk melihat snack snack yang menghiasi etalase.

“Si Tom mau pergi makan sama cewe yang waktu itu kenalan pas lari, Sa.. ” Ucap gue jadi ikutan ngeliatin snack snack juga.

“Oh ya?” Dosa terlihat kaget dan langsung nengok gue. “Sama cewe yang di Sabuga itu?” Tanyanya. Gue mengangguk.

“Gilaa.. Lanjut ternyata.. Gue kirain engga ada kelanjutannya.. ” Kata Dosa sambil menggeleng heran. Ia lalu mengambil sebuah snack dan ia lihat tulisan dibelakangnya. Sepertinya melihat kandungan gizi yang tertera di belakang kemasan snack tersebut.

“Lo ntar malem ga jalan, Ler?” Dosa kembali bertanya setelah menaruh snack yang ia pilih ke dalam keranjang.

“Engga kayanya.. Di Kosan aja ah main CS.. “ Jawab gue enteng. Mau jalan kemana? Bosen gue kalo harus ikutan temen temen kampus gue nongkrong di PVJ, sebuah mall baru yang lagi tenar tenarnya di Bandung.

“Serius lo? Sedih amat sih jomblo yang satu ini.. “ Kata Dosa kemudian berbelok ke lorong Mie Instant. Seperti biasa, orang Indonesia selalu aja ada di lorong ini. Selain CS, Mie Instan udah menjadi bahan pokok buat mereka yang mengaku anak kosan sejati. Jadi ga heran kalo lorong ini ada beberapa orang yang sedang memilih dan memilah mie instan mana yang akan mereka beli. Beberapa kali gue nangkep basah mata mereka melirik ke arah Dosa.

“Makanya cariin gue pacar doong.. Temen lo banyak juga.. Cantik cantik lagi.. “ Celoteh gue sambil melirik ke etalase mie instant.

“Tuh si Layna.. Lagi single lho diaa.. “ Dosa langsung ngejawab.

Duh, si Layna.. Cantik banget sih emang.. Tapi sombongnyaa.. Ga nahan gue..

“Ga ada yang lain? Ketinggian banget gue kalo Layna.. Kaya dia mau aja sama gue.. “ Ucap gue merendah. Ga mungkin juga gue bilang si Layna itu sombong di depan Dosa.

“Hahaha, lebay lo! Lagian gue mau ko sama lo..” Ucap Dosa menggoda gue dan mengedipkan matanya sok centil. Dosa dosa.. emang pantes banget nama lo disingkat jadi Dosa..

“Eh bentar.. Elo bukannya kenalan sama cewe ya yang waktu makan sama Yully itu?” Muka Dosa berubah jadi penasaran dalam sekejab. Tangannya bertolak pinggang.

Ah iya.. Sarah.. Si cewe cantik yang mau kenalan sama gue gara gara wastafel.

“Iya kenalan.. Sarah namanya.. “ Jawab gue ke Dosa. Gue jelasin juga ke Dosa gimana gue bisa kenalan sama dia.. Gimana Wastafel dan salah kira gue punya pacar jadi awal gue bisa dapetin nomer dia. Cerita yang sebenernya cukup lucu juga kalo diceritain.

“Nah, terus gimana sama dia? Ajakin jalan aja.. Gimana deh lo.. “ Kata Dosa bingung. Gue juga bingung jawabnya gimana.

Udah seminggu semenjak gue dikasih nomer telepon dia, tapi gue belom juga menelpon dia. Entah kenapa, gue pengen terlihat ga agresif kali ya.. Buat nunjukkin kalo gue tuh bukan tipikal cowo cowo biasanya yang langsung nelpon cewe secepat mungkin. Biar si cewe ga kegeeran aja.. Itu juga yang gue jelasin ke Dosa, kenapa gue ga ngajak dia jalan malam ini.

“Lagian juga belom tentu kan itu cewe suka sama gue.. Kan Cuma kenalan doang.. “ Ucap gue enteng.

“Astaga Beleeerrr! Ih elo mah suka oon deh.. ” Bentak Dosa setengah berteriak. Beberapa orang yang sedang berbelanja di lorong yang sama dengan kita berdua terdiam dan nengok ke gue dan Dosa.

“Sa! Sianji.. Gausah teriak teriak juga sih.. ” Ucap gue yang kaget, setengah berbisik sambil membuat isyarat dengan tangan gue agar Dosa mengecilkan suaranya. Dosa sadar sendiri kalo suaranya tadi terlalu kencang dan sedikit malu karena diliatin orang orang.

Ia lalu mencubit lengan gue sambil lanjut ngomong dengan suara berbisik, “Elo sih lagian suka dodol!” Ucapnya. Ekspresinya wajah terlihat masih gemas dengan apa yang gue ceritain tadi. “Masa sih elo ga bisa ngeliat gelagat cewe? Udah berapa kali jadian sih?” Lanjutnya.

Gue mengernyitkan kepala gue bingung, “Gimana gue bisa tau coba? Gue ga punya bakat telepati!” Ucap gue sambil melihat jejeran mie instan yang tertumpuk rapi.

“Huuh.. Dasar ya cowo.. ” Gerutu Dosa. “Terus lo mau gimana sekarang?” Tanya Dosa sambil ikut memilih mie instan yang akan ia beli.

Gue menaikkan punggung dan alis gue. “Ga tau deh.. ” kemudian mengambil beberapa bungkus mie instant goreng ke dalam keranjang yang Dosa pegang.

Dosa ga berkomentar lagi, mungkin dia cape juga ngeladenin gue yang tetep kekeuh untuk ga ngontak si Sarah ini. Lagipula gue pasti ngontak ko ntar.. Di waktu yang tepat.

“Lo mau beli makanan apa nih jadi?” Tanya Dosa saat kita berdua lagi mau bayar di kasir. Si penjaga kasir itu tampak sedikit ga konsen antara melakukan tugasnya dan mencuri curi pandang melihat Dosa. Gue senyam senyum aja ngeliatin gelagat si penjaga kasir itu.

“Udah ah makan indomie aja.. Di kamar gue masih ada kornet sama telor juga, paling gue makan mie nya pake itu.. “ Jawab gue sambil menaruh uang untuk membayar belanjaan gue. Gue terus ngangkat galon Aqua yang Dosa beli ke dalem mobil dan kita balik ke kosan dimana anak anak masih juga main CS.

Gue memilih memasak Mie Instan yang tadi gue beli dengan telor dan kornet yang ada di kulkas kamar gue. Terus gue makan di kamar gue dimana Tom akhirnya datang untuk bagi makanan gue karena nyium bau mie yang semerbak ke seantero kosan. Dosa juga nyengar nyengir dateng ke kamar gue dan ikutan bagi.

Mereka berdua lalu akhirnya sepakat untuk memasak mie instant buat mereka sendiri, kemudian makan bersama gue di kamar gue sambil nonton DVD. Kita bertiga duduk di lantai sambil bersandar ke tembok. Selesai makan, satu persatu kembali ke kamar masing masing dimana gue dan Tom kembali bermain CS, sedangkan Dosa entah ngapain.. Internetan mungkin..

Ga kerasa hari itu udah berlanjut sampai sore, Tom akhirnya pamit dari game karena dia ingin bersiap siap jalan bersama cewe kenalannya itu. Kemudian berturut turut satu persatu anak anak kosan juga keluar dari game karena mau malem mingguan. Tinggalah gue bermain sendiri melawan komputer. Dan barulah gue ngerasain bosennya bermain sendiri.

Gue keluar dari kamar dan mengetuk kamar Radit, berharap Dosa masih ada.

Dosa ngebuka kamar dan memperlihatkan dirinya yang sedang memakai bra tapi badan dan rambutnya ditutup handuk. Dia baru saja mandi dan sedang siap siap pergi.

“Kenapa, Ler?” Tanya Dosa yang membukakan pintu kemudian ngeluyur ke meja belajar Radit yang setengahnya dipenuhi alat make up Dosa. Ia lalu melepaskan handuk yang melilit di kepalanya dan menggerai rambut panjangnya.

“Elo mau kemana, Sa?” Tanya gue.

“Mau ke kampus.. si Radit daritadi disana.. Lagi prepare fakultas dia mau ada acara soalnya.. “ Kata Dosa yang konsen menyisir rambutnya. Dosa lalu nengok ke gue. “Kenapaa? Bosen yaa di kamar sendirian?” Ucapnya sambil tersenyum menggoda gue.

Gue tersenyum malu. “Gue ngikut dong, Sa.. Iya nih.. mati gaya juga kalo sendirian gini.. “ Ucap gue.

“Huuu.. Dasaarr! Coba lo ngikutin kata kata gue, elo bisa jalan kan tuh sama tu cewe.. “ Kata Dosa puas.

“Iyee iyeee… Yaudah sih.. Boleh ngikut ga nih jadi gue?” Tanya gue memastikan.

Dosa mengangguk. “Iya boleeehh.. Gue sama Radit mau makan juga ko ntar.. Buruan deh elo siap siap.. Gue mau ganti baju nih.. Jadi cowo gue dulu kalo mau liat badan gue“ Kata Dosa langsung mengomandoi gue, seperti biasa bahasanya suka menggoda gue.

Gue langsung buru buru bersiap dan nemenin Dosa pergi ke kampus dia dan Radit.

Suasana kampus mereka memang berbeda banget sama suasana kampus gue yang penuh aura bercanda. Kampus mereka terlihat seperti kampus orang pintar.. Dimana setiap orang yang bergerombol pasti sedang mendiskusikan sesuatu atau sedang rapat. Karena hari sudah mulai gelap, lampu lampu penerangan di sekitar kampus juga sudah menyala. Ga pernah gue berada di area kampus selarut ini. Di kampus gue, gue pasti udah cabut dibawah jam lima. Jadi suasana ini adalah suasana yang sangat baru buat gue.

Gue dan Dosa sedang duduk di sebuah kursi dekat taman. Kita berdua lagi ngobrol ngobrol biasa aja sembari nungguin Radit yang sebentar lagi selesai rapat. Dosa ngejelasin denah kampus dia dan curhat curhat dikit soal hubungan dia dan Radit. Lagi asik asiknya ngobrol, Radit ternyata udah selesai rapat dan dia datang bersama beberapa orang yang gue asumsikan adalah teman teman panitianya.

“Oit Ler.. Ga malming lo?” Tanya Radit setelah dia mencium kening Dosa. “Sorry yak lama, acaranya bentar lagi sih jadi banyak yang diomongin.. “ Kata Radit meminta maaf.

“Eiya kenalin nih temen kosan gue.. Kalo cewe gue udah pada tau kan?” Ucap Radit tiba tiba kepada teman temannya. “Nih, jomblo nih.. Kalo ada yang berminat, silahkan lho.. “ Kata dia sambil tertawa. Beberapa temennya emang ada yang cewe sih, tapi ya ga segitunya juga dit.. Kampret emang dia.

Gue pun mengulurkan tangan gue untuk berkenalan dengan mereka.

“Beler.. “ Ucap gue memperkenalkan nama gue sambil menjabat tangan mereka satu satu.

“Dimas”

“Beler.. “

“Kiki”

“Be.. “

Ucapan gue terhenti waktu gue memandang orang ketiga yang akan berkenalan sama gue.

“Sarah?”

Bersambung

END – Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 25 | Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 25 – END

(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 24)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisahku Saat Ngekost di Bandung Part 26)