Kisah Riki Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 7

Selamat Ulang Tahun

“Mbah.. Mbah..” panggilku pada Mbah Wongso saat sudah berada di depan gubuknya.

“Mbah..!!” panggilku lagi dengan sedikit berteriak.

Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan terlihat Mbah Wongso yang melihatku dengan sinis. Nampaknya beliau tidak nyaman dengan suaraku yang sedikit berteriak. Kemudian Mbah Wongso menyuruhku duduk di lincak yang berada di depan gubuknya dan beliau kembali masuk ke dalam. (Lincak = bangku panjang yang terbuat dari kayu atau bambu).

Beberapa saat kemudian Mbah Wongso keluar dengan membawa segelas air yang langsung diberikan padaku.

“minum..!” ucapnya sambil menyerahkan gelas padaku.

Aku tanpa bertanya langsung meminum air itu sampai habis.

“huek..” aku yang merasa mual karena air yang aku minum rasanya gak enak banget dan baunya seperti air cucian.

“air apaan sih ini Mbah..” tanyaku pada Mbah Wongso.

“biar kamu gak emosi lagi.. kekeke..” balas Mbah Wongso terkekeh.

Memang sih aku jadi gak emosi lagi, tapi perutku terasa mual dan rasanya ingin muntah.

“tunggu sini..” ucap Mbah Wongso yang kemudian masuk ke dalam lagi.

Aku tak tau apa yang dilakukan Mbah Wongso di dalam, karena selama menunggu aku sampai menghabiskan dua batang rokok saking lamanya.

“nak sini masuk..” panggil Mbah Wongso dari dalam gubuknya.

Aku kemudian masuk dan melihat Mbah Wongso yang sedang duduk menghisap rokok lintingannya.

“sana bersihkan dulu badanmu.. aku sudah siapkan air..” ucap Mbah Wongso menyuruhku ke belakang untuk membersihkan diri.

Aku yang sudah sampai di belakang hanya bingung tolah – toleh mencari kamar mandi. Karena di belakang hanya ada sebuah sumur dan ada sebuah bangunan kecil setinggi dada tanpa atap yang hanya di tutup dengan anyaman bambu. Saat aku mengintip isi di dalamnya yang ternyata adalah jamban.

“Mbah.. kamar mandinya mana..?” ucapku berteriak pada Mbah Wongso.

“dasar anak manja.. sudah mandi disitu cepat..!!” ucap Mbah Wongso yang berdiri di pintu belakang sambil menunjuk sebelah ember di dekat sumur.

Gila bro.. ini ruang terbuka.. kalau ada yang lihat gimana coba. Masa mandi di samping sumur yang letaknya diluar tanpa ada tembok sama sekali.

Dengan agak ragu aku kemudian membuka baju dan kaosku. Saat aku akan membuka celana, aku melihat Mbah Wongso yang masih berdiri di pintu belakang. Aku hanya nyengir karena Mbah Wongso masih melihatku dengan melotot.

“kenapa..? Cepat buka..!!” ucap Mbah Wongso menyuruhku segera membuka celana.

Dengan berat hati akhirnya aku melepaskan celana dan celana dalamku hingga sekarang kondisiku telanjang bulat.

“dasar perjaka..!!” ucap Mbah Wongso yang kemudian masuk ke dalam.

Aku kemudian berjongkok di depan ember dan menyentuh airnya. Ternyata air dalam ember tersebut adalah air hangat dan baunya seperti air rebusan daun sirih. Aku kemudian mengambil gayung dan menyiramkannya dari atas kepalaku.

“aarrgghhhh…” teriakku kesakitan saat air itu mengenai luka di wajahku.

Aku yang merasa perih hanya bisa menahannya dan memejamkan mataku. Kalau dirasakan dari perihnya, ini bukan hanya air rebusan daun sirih, pasti ada campuran lainnya.

“arghh..” rintihku saat aku menyiramkan air lagi. Rasanya masih perih tapi tidak sesakit yang pertama.

Akhirnya aku melanjutkan mandiku. Rasa perih yang tadi sempat terasa perlahan mulai hilang. Sampai aku menyelesaikan mandiku, sudah tidak terasa perih lagi pada lukaku.

Aku kemudian mengeringkan badan dan memakai pakaianku kembali. Aku kemudian mencari Mbah Wongso yang ternyata sedang duduk di depan. Aku kemudian menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Mbah.. sebenarnya apa yang terjadi pada diriku..?” ucapku bertanya.

“minumlah dulu..” balas Mbah Wongso memberiku secangkir minuman.

“air apa lagi ini Mbah..?” ucapku bertanya. Jujur aku jadi parno sendiri dengan minuman – minuman yang diberikan oleh Mbah Wongso.

“teh panas..” balas Mbah Wongso singkat.

Aku kemudian mengambil cangkir tersebut dan meminumnya. Waw.. rasa tehnya beda dan enak. Badanku jadi terasa hangat setelah meminum teh tersebut.

“kamu ingin tau dengan apa yang terjadi padamu..?” tanya Mbah Wongso padaku.

“iya Mbah..” jawabku tegas.

Dengan tenang Mbah Wongso mulai bercerita.

“semua berawal dari kakekmu. Hadi Sanjaya atau lebih dikenal dengan sebutan Hadi Ndawe adalah seorang petarung jalanan yang akhirnya menjadi preman yang ditakuti karena banyaknya daerah yang ditaklukkan. Banyak yang kemudian ikut menjadi anak buah kakekmu sampai akhirnya terbentuk suatu kelompok yang besar.

Kerasnya hidup di jalanan menjadi tanda bahwa tidak selamanya daerah yang dikuasai menjadi aman. Pertempuran demi pertempuran biasa terjadi hanya demi memperebutkan kekuasaan” ucap Mbah Wongso bercerita sambil melinting rokok. Setelah membakar rokok, Mbah Wongso melanjutkan ceritanya.

“kakekmu yang seorang pimpinan kelompok adalah sosok yang vital untuk ditaklukkan, berbagai serangan coba diarahkan ke kakekmu mulai dari serangan fisik sampai yang non fisik. Untuk menjaga dirinya, anak buah kakekmu sampai ada yang berjaga secara bergantian.

Dan kakekmu sempat lelaku (mencari ilmu/wangsit) di sebuah hutan yang letaknya di bagian timur pulau ini. Disitulah akhirnya kakekmu bertemu dengan Gembong, khodam penjaga yang setia dan selalu menemani kakekmu” ucap Mbah Wongso menceritakan asal usul Gembong.

“seiring berjalannya waktu, kakekmu mulai berkeluarga dan kemudian memiliki tiga orang anak. Saat Ayahmu semakin beranjak dewasa, ternyata kelakuan kakekmu menurun ke Ayahmu. Ayahmu yang suka berkelahi dan berbuat ulah menjadikan dirinya banyak musuh. Hal itu tentu saja membuat kakekmu khawatir yang kemudian kakekmu meminta bantuanku untuk memindahkan Gembong. Kakekmu ingin mewariskan Gembong pada anaknya dan memutuskan berhenti dari dunia yang membesarkannya.” ucap Mbah Wongso bercerita.

Aku yang mendengar cerita Mbah Wongso jadi tau kalau aku selama ini benar – benar polos dan tidak tau tentang sejarah keluargaku.

“keinginan kakekmu untuk mewariskan Gembong ternyata tidak berjalan dengan mulus. Setelah Ayahmu menyatu dengan Gembong, ternyata membuat Ayahmu semakin liar dan tidak terkendali. Hal itu menjadikan suasana menjadi semakin panas hingga nenekmu tewas dalam suatu penyerangan. Kakekmu memintaku untuk menarik kembali Gembong dari tubuh Ayahmu. Hal itu ternyata tidak berpengaruh apapun sampai akhirnya Ayahmu bertemu dengan wanita yang bisa meredamnya, wanita itu adalah Bundamu.” ucap Mbah Wongso menjelaskan.

Memang aku dari kecil belum pernah bertemu dengan nenekku, ternyata penyebab nenek meninggal adalah penyerangan suatu kelompok. Dan sekarang aku jadi mengerti. Kenapa saat aku emosi kemarin langsung dipeluk oleh Tanteku, dan emosiku langsung mereda dan hilang. Mungkin itu juga yang terjadi pada Ayahku dulu yang kemudian diredakan oleh Bundaku.

“kalau Om Heri..?” tanyaku pada Mbah Wongso.

“sama.. tidak berhasil juga. Walau Om mu sempat liar, tapi tidak separah Ayahmu.” balas Mbah Wongso.

“kakekmu sempat sedih karena meninggalnya nenekmu. Kakekmu juga sedih karena Herman dan Heri tidak mampu mengendalikan Gembong. Dan aku yang bilang pada kakekmu waktu itu kalau Gembong itu tidak bisa dikendalikan, karena yang seharusnya dikendalikan adalah emosi orang yang bersamanya. Gembong hanya bisa lebih tenang dengan orang yang dia pilih.” ucap Mbah Wongso menjelaskan.

“berarti Gembong juga tidak bisa aku kendalikan Mbah..?” ucapku bertanya dan Mbah Wongso hanya tersenyum menggeleng kepala.

“kita semua adalah makhluk ciptaan-Nya, kita juga tidak bisa saling mengendalikan. Yang harus kita kendalikan adalah emosi kita dan kita juga harus saling menyayangi kepada sesama. Tunjukkan kasih sayangmu, maka sekitarmu juga akan menyayangimu..” ucap Mbah Wongso menasehati.

“tapi kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku Mbah..?” tanyaku heran karena saat aku emosi, seperti hilang akal.

“karena otakmu bebal..!!” jawab Mbah Wongso yang langsung membuatku dongkol.

Ini orang sudah tua tapi ngomongnya bebas banget. Tanpa ba bi bu langsung ngatain orang otak bebal. Coba deh bilangnya agak halusan dikit, kan jadi lebih enak di dengernya.

“terus aku harus gimana Mbah..?” tanyaku jengkel.

“udah kita istirahat dulu, dilanjut besok lagi.. jadi bloon nanti kamu kalau kebanyakan denger ceritaku..” balas Mbah Wongso yang kemudian pergi ke dalam.

Akbar ngatain aku bego, Om Heri ngatain aku otak kosong, adikku Riska bilang aku rada oon, terus sekarang Mbah Wongso bilang otakku bebal dan bilang aku bloon.. Arrghhh… separah itukah otakku?

Aku yang sempat pamit ke Om Heri dengan mengirim pesan kalau aku tidak pulang dengan alasan menginap di rumah teman. Aku juga sempat mengirim pesan pada Dini memberitahukan kalau besok tidak bisa pergi olahraga di alun – alun. Disamping badanku yang masih sakit, aku juga tidak mau dia melihat kondisi wajahku yang terluka.

Malamnya Mbah Wongso memberiku singkong rebus untuk makan malam, dan memberiku sebuah sarung untuk aku tidur di luar. Aku sempat meminta untuk ikut tidur di dalam, tapi jawaban dari Mbah Wongso membuatku mengelus dada.

“tamu itu harus nurut sama pemilik rumah, sudah mending aku ijinin kamu tidur disini dari pada aku suruh kamu tidur disana..!!” ucap Mbah Wongso sambil menunjuk pemakaman.

Hufh.. dimana – mana tuh kalau yang namanya tamu itu adalah raja, selayaknya diperlakukan dengan sebaik – baiknya. Sayangnya aku bukan raja, hanya seorang pemuda yang takut pulang dan mencari tempat pelarian.

Akhirnya aku tidur di luar dengan berselimutkan sarung yang tipis menahan dingin dan gigitan nyamuk.

***

Paginya aku dibangunkan oleh Mbah Wongso dan disuruh sarapan bubur. Anehnya, kapan Mbah Wongso beli bubur? Terus naik apa beliau? Karena yang aku tau, area makam ini agak jauh dari pemukiman penduduk dan yang pasti yang jual bubur juga jauh.

Apa Mbah Wongso sempat masak ya? Tapi kan beliau makannya cuma umbi – umbian yang direbus. Ah.. kenapa juga mikirin itu, yang penting aku bisa sarapan.. hehehe..

“habis ini kamu mandi, terus nanti ikut aku..” ucap Mbah Wongso saat aku masih sarapan.

“iya Mbah..” jawabku menghabiskan sarapan.

Setelah sarapanku habis aku kemudian bergegas untuk mandi, dan air yang aku pakai untuk mandi sama seperti kemarin. Saat aku mencoba meraba luka – lukaku terasa sudah tidak sakit lagi dan lukanya sudah mulai mengering hanya tinggal bekas – bekasnya saja. Wah.. sungguh ajaib ramuan yang dibuat oleh Mbah Wongso ini.

Selesai mandi aku di ajak Mbah Wongso menuju area pemakaman. Kami kemudian berhenti di sebuah bangunan. Setelah membuka kunci, Mbah Wongso mengajakku masuk.

“kita mau ngapain Mbah..?” tanyaku bingung karena bangunan ini seperti gudang yang isinya ada keranda, payung dan peralatan lainnya.

“ambil cangkul itu..” ucap Mbah Wongso menyuruhku.

Setelah mengambil cangkul, Mbah Wongso mengajakku berjalan lagi sampai kemudian kami berhenti di suatu tanah kosong sekitar pemakaman.

“cepat gali disitu.. nanti siang ada yang mau dimakamkan disini..” ucap Mbah Wongso sambil menunjuk lokasi yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

Hah..? Jadi aku di ajak kesana kemari cuma disuruh buat gali makam. Aku kira mau di ajarin caranya buat mengendalikan emosi atau mau diceritain sesuatu oleh Mbah Wongso. Dan yang membuatku heran, kenapa gali lubangnya tidak berdekatan dengan makam yang lain malah agak jauh dan terpisah.

Aku tanpa banyak bertanya lagi langsung membuka pakaianku dan mencangkul tanah tersebut. Aku hanya diam dan mengerjakan karena takut dimarahin sama Mbah Wongso. Setelah kedalaman sekitar 1 meter, tiba – tiba Mbah Wongso menyuruhku berhenti.

Aku sempat heran karena yang aku tau, kedalaman makam itu setinggi orang berdiri. Aku yang sudah letih merasa senang – senang saja disuruh berhenti.

“kenapa tadi disuruh mandi dulu Mbah kalau akhirnya cuma keringatan lagi..” ucapku yang sedang duduk beristirahat.

“cuma mau ngecek badanmu sudah pulih apa belum..” jawab Mbah Wongso yang membuatku bertanya – tanya.

“jadi gak ada yang mau dimakamkan disini Mbah..?” tanyaku lemas.

“hekekeke…” balas Mbah Wongso terkekeh.

Kemudian Mbah Wongso mengajakku pergi mengembalikan cangkul dan balik ke gubuk. Aku yang sudah letih hanya bisa menurut tanpa banyak protes.

Setelah sampai gubuk, Mbah Wongso memberiku teh yang sama seperti kemarin. Aku yang langsung meminumnya merasakan hangat di badanku dan tenagaku seperti pulih kembali.

“dulu waktu kamu kecil, kakekmu sering mengajakmu jalan – jalan kesini..” ucap Mbah Wongso saat kami duduk di depan gubuk.

Aku tidak terlalu ingat pergi kemana, yang aku ingat memang kakekku sering mengajakku jalan – jalan. Mungkin karena aku yang masih kecil, jadi aku tak mengingat tempat ini.

“tujuan kakekmu membawamu kesini sebenarnya agar Gembong mengenalimu. Mengingat kegagalan Herman dan Heri, membuat kakekmu mempersiapkanmu lebih dini..” ucap Mbah Wongso bercerita.

“sebenarnya kamu sendiri sudah bisa mengendalikan emosimu, tapi karena otakmu yang bebal membuatmu jadi tidak fokus..” ucap Mbah Wongso kemudian.

“maksudnya gimana Mbah..?” tanyaku yang belum paham.

“ya kamu itu bebal… lambat berfikir..!!” ucap Mbah Wongso tegas.

Aku kemudian menilai diriku sendiri, aku menyadari kalau aku sering tidak fokus yang membuatku lambat berfikir dan lama untuk memahami sesuatu.

“terus bagaimana caranya aku mengendalikan emosiku Mbah..?” tanyaku pada Mbah Wongso.

“yang bisa mengendalikan emosimu ya hanya kamu sendiri.. atau..” ucap Mbah Wongso terhenti.

“atau apa Mbah..?” tanyaku penasaran.

“atau dengan cara membuatmu lebih fokus, jadi kamu akan bisa mengendalikan emosimu sendiri..” jawab Mbah Wongso.

“caranya..?” tanyaku yang makin penasaran.

“melepas keperjakaanmu..” jawab Mbah Wongso yang membuatku kaget.

Hah..? Serius..? Emang dengan melepas keperjakaan terus aku bisa fokus dan mengendalikan emosi? Emang ada hubungannya gitu? Cara yang menurutku benar – benar tidak masuk akal.

“ke.. kenapa harus begitu Mbah..?” tanyaku tergagap karena masih kaget.

“kita manusia punya akal, perasaan dan nafsu. Semua harus berjalan seimbang dan berurutan. Menggunakan akal untuk menilai perasaan dan untuk mengendalikan nafsu adalah cara yang seharusnya dilakukan. Apabila kita hanya mengedepankan perasaan atau nafsu, maka akalmu tidak bisa berfikir yang menjadikanmu hilang kendali” jawab Mbah Wongso menjelaskan.

“apa harus dengan seorang wanita Mbah..?” tanyaku memastikan.

“maksudmu coli sendiri gitu..?” balas Mbah Wongso bertanya dan aku hanya nyengir mengangguk.

“untuk permasalahanmu ini tidak bisa sembarangan. Harus seorang wanita yang benar – benar mengerti dan bisa membantumu untuk melakukannya. Tidak bisa sembarang wanita, karena dia harus bisa membuat perasaanmu nyaman dan nafsumu tersalurkan dengan benar. Hal itu akan membuat pikiranmu menjadi tenang dan membuatmu jadi lebih fokus” ucap Mbah Wongso menjelaskan.

Wah.. benar – benar berat caranya. Aku pikir kalau cuma asal wanita sih aku bisa saja jajan, habis melakukan bayar selesai. Hehehe.. atau aku mengajak salah satu temanku? Terus gimana ngajaknya? Masa datengin terus tiba – tiba bilang “hai.. ML yuk..” bukan jawaban setuju tapi yang ada malah digampar aku.

“gak ada cara yang lain Mbah..?” tanyaku berharap ada cara lain.

“ada..” jawab Mbah Wongso yang membuatku antusias.

“gimana Mbah..?” tanyaku bersemangat.

“kamu minum air cucian seperti yang kamu minum kemarin saat kamu emosi.. kekekeke..” jawab Mbah Wongso tertawa.

Wah.. bener kan dugaanku.. ternyata yang aku minum kemarin air cucian. Pantas saja rasa dan baunya aja bikin mau muntah. Untuk yang ini jelas aku gak mau, karena membayangkannya saja aku sudah mual, apalagi kalau sampai minum lagi. Hueekk..

“enggak Mbah.. gak mau..” balasku nyengir.

“ya udah.. aku siapkan air dulu.. setelah mandi kamu pulang..” ucap Mbah Wongso yang kemudian masuk ke dalam.

Setelah mandi Mbah Wongso sempat mengecek luka – lukaku dan kata Mbah Wongso lukaku sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya saja. Aku kemudian berpamitan pada Mbah Wongso dan bergegas pulang.

***

Setelah sampai dirumah, aku kemudian berganti pakaian dan ikut bergabung dengan Om Heri dan Tante Septi yang sedang makan siang.

“dari mana saja kamu Rik..?” tanya Tante Septi saat di meja makan.

“dari rumah teman Tan..” jawabku dan Om Heri hanya melirikku.

“besok lagi kalau mau nginep, bawa baju ganti..” ucap Tante Septi.

“iya Tan..” balasku menghabiskan makanan.

Setelah selesai makan siang aku dan Om Heri ke belakang rumah untuk merokok.

“gimana Rik..?” tanya Om Heri setelah membakar rokok.

“gimana apanya Om..?” jawabku yang juga membakar rokok.

“temanmu..” balas Om Heri.

“temanku yang mana..?” balasku heran.

“katanya kamu dari tempat temanmu..” ucap Om Heri menyeringai.

Wah pintar juga Om Heri memancingku. Aku yang bingung mau jawab apa hanya bisa nyengir.

“disuruh apa aja kamu..?” tanya Om Heri yang membuatku mengernyitkan dahi.

“maksudnya..?” tanyaku heran.

“disuruh gali makam berapa..?” balas Om Heri yang membuatku kaget.

Ternyata Om Heri tau aku pergi kemana dan disuruh ngapain aja. Yang aku heran, Om Heri kok bisa tau dari mana ya..

“kok Om bisa tau..?” tanyaku penasaran.

“luka bisa sembuh dengan cepat hanya hitungan hari, dimana lagi kalau bukan di tempat Mbah Wongso..” balas Om Heri yang membuatku diam.

“maaf Om..” ucapku merasa bersalah karena tidak berterus terang.

“hmm..” balas Om Heri.

“semoga disana kamu sudah menemukan apa yang kamu cari..” ucap Om Heri yang kemudian pergi meninggalkanku.

Aku masih duduk sambil memikirkan yang dikatakan oleh Om Heri. Memang aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku, tapi yang aku bingung bagaimana cara menjawabnya. Akhirnya aku hanya pasrah dan membiarkan waktu yang menjawabnya.

***

Aku terbangun oleh suara dering telepon di HP ku. Aku yang masih mengantuk langsung mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelpon.

“halo..” ucapku di telepon dengan nada malas.

“halo nak.. kamu gak pergi ke pasar..?” terdengar suara Ayahku di telepon yang membuatku langsung melek.

“eh Ayah.. enggak yah.. Om Heri nyuruh aku gak ikut..” balasku sambil melihat jam yang menunjukkan pukul setengah 5 pagi.

“oh.. ini Bundamu mau ngomong..” ucap Ayahku yang kemudian menyerahkan telepon.

“halo kakak…” ucap Bundaku di telepon.

“iya Bun..” balasku pada Bunda.

“gimana kabar kakak.. baik – baik aja kan..?” tanya Bundaku kemudian.

“Alhamdulillah baik Bun.. gimana kabar disana..?” balasku ke Bunda.

“kita semua baik – baik aja Kak..” ucap Bunda yang membuatku tenang.

“tumben pagi – pagi telepon Bun..?” tanyaku heran karena biasanya kalau telepon tuh sore atau malam.

“emang gak boleh ya kalau teleponnya pagi..?” balas Bundaku balik bertanya.

“eh.. bukan gitu Bun.. boleh kok boleh..” balasku yang merasa bersalah.

Kenapa juga aku nanyain seperti itu, lagian kan orang tuaku mau telepon kapan saja juga bebas. Apalagi yang di telepon anak kesayangan… hehehe..

“Kak..” panggil Bundaku di telepon.

“iya Bun..” jawabku.

“selamat ulang tahun ya kakak.. semoga kakak selalu menjadi pribadi yang baik, bertanggung jawab dan selalu sayang keluarga..” ucap Bundaku yang membuatku kaget.

Aku yang masih kaget kemudian tersadar kalau sekarang hari ulang tahunku. Aku sama sekali tidak ingat karena kemarin aku disibukkan oleh permasalahan yang menyita pikiranku. Aku merasa terharu karena keluargaku tidak pernah lupa hari ulang tahunku.

“makasih Bun..” balasku yang tidak bisa banyak berkata – kata.

“kak..” panggil Bunda kemudian.

“iya Bun.. ‘sroott” balasku menahan haru.

“sayangilah orang – orang yang menyayangimu.. “ ucap Bundaku berpesan.

“iya Bun..” balasku.

“Bun gantian..” terdengar suara Riska.

“kak.. ini adikmu mau ngomong..” ucap Bundaku yang kemudian menyerahkan telepon ke Riska.

“halo kakakku yang ganteng..” ucap Riska di telepon.

“halo Dek..” balasku tersenyum mendengar suara adikku.

“selamat ulang tahun yah kak.. semoga kakak selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.. Aamiin..” ucap Riska padaku.

“Aamiin.. makasih Dek..” balasku yang merasa bahagia.

“adek buruan mandi.. nanti telat sekolahnya..” terdengar suara Bunda menyuruh Riska untuk mandi.

“bentar Bun..” balas Riska ke Bunda..

“kak..” panggil adikku.

“ya..?” balasku ke Riska.

“hmm.. kakak jangan terlalu cuek ya sama cewek.. apalagi sama yang tulus mencintai kakak..” ucap adikku berpesan.

“hush.. kamu masih kecil udah ngomongin cinta – cinta..” balasku menyangkal.

“ihh.. kakak kalau dibilangin pasti gitu…” ucap Riska yang terlihat kesal.

“udah.. udah.. gantian Ayah yang ngomong..” terdengar suara Ayahku yang meminta telepon.

“iya.. iya.. daahh kakak.. muach..” ucap Riska yang kemudian menyerahkan telepon ke Ayahku.

“nak..” panggil Ayahku.

“iya Yah..?” balasku.

“sekarang umurmu sudah 18 tahun.. kamu seharusnya bisa lebih dewasa lagi.. Kendalikan emosimu..” ucap Ayahku menasehati.

“iya Yah..” balasku pada Ayah.

“udah dulu ya nak.. kamu juga mau berangkat sekolah kan..” ucap Ayahku.

“iya Yah..” balasku.

“eh iya.. selamat ulang tahun ya nak..” ucap Ayahku mengucapkan selamat.

“makasih Yah..” balasku tersenyum yang kemudian Ayah menutup telepon.

Aku tersenyum bahagia merasakan kasih sayang dari keluagaku. Walaupun hanya lewat suara aku bisa merasakan ketulusan dan perhatian dari orang – orang yang aku sayangi.

Mengingat aku yang harus berangkat sekolah, aku kemudian bergegas untuk mandi. Saat menuju kamar mandi, aku melihat Tante Septi yang sedang menyiapkan sarapan dan aku juga melihat Om Heri yang sudah pulang dari pasar.

Setelah selesai mandi, aku terkejut saat membuka pintu kamar mandi. Di depan pintu berdiri Om Heri, Tante Septi dan adek Fian yang sedang digendong. Om Heri terlihat membawa sebuah mangkok yang berisikan makanan dan di atasnya ada sebuah lilin yang menyala.

“selamat ulang tahun..” ucap Tante Septi tersenyum padaku.

“makasih Om, Tan, adek..” balasku terharu.

Aku merasa terharu karena ternyata mereka juga tau kalau hari ini adalah ulang tahunku. Dan yang membuatku sangat bahagia, karena mereka sampai repot – repot menyiapkan kejutan.

“sebelum tiup lilin, buatlah permintaan..” ucap Tante Septi tersenyum padaku.

“semoga aku selalu bisa membahagiakan orang – orang sekitarku.. hufhh..” batinku yang kemudian meniup lilin.

“yeeyyy…” ucap Tante Septi yang kemudian bertepuk tangan.

“selamat ulang tahun ya..” ucap Om Heri yang kemudian memelukku.

“makasih Om makasih..” balasku pada Om Heri.

“selamat ulang tahun yah Rik.. semoga kamu bisa lebih dewasa lagi..” ucap Tante Septi yang kemudian memelukku menyamping, karena ada adek Fian yang sedang di gendong.

“makasih Tan.. Makasih..” balasku.

Kemudian aku bergegas untuk memakai seragamku dan sarapan.

“sory Rik.. di pasar gak ada kue ulang tahun.. adanya cuma gethuk.. hehehe..” ucap Om Heri tertawa.

“gak papa Om.. yang penting bukan barangnya, tapi nilainya..” balasku tersenyum.

“tumben kamu bijak.. biasanya kamu ngejek..” balas Om Heri yang heran.

“Yah..” ucap Tante Septi menegur Om Heri.

“hehehe..” Om Heri yang ditegur hanya bisa tertawa.

“gak papa Tan.. karena ini hari ulang tahunku, dia bebas..” ucapku yang membuat Om Heri melirikku.

“maksudnya..?” tanya Om Heri melotot.

“hehehe…” aku hanya tertawa menanggapinya.

Setelah sarapan, aku kemudian pamit dan segera berangkat ke sekolah. Karena tadi sempat ada acara tiup lilin, menjadikanku agak kesiangan. Untungnya aku tidak sampai terlambat saat sampai di sekolah. Karena upacara akan segera dimulai, aku hanya meletakkan tasku di atas motor dan langsung mengikuti upacara.

Saat upacara selesai, aku kembali ke parkiran motor untuk mengambil tasku, kemudian bergegas untuk masuk ke kelas.

“eh bro.. ada berita heboh..” teriak Akbar saat melihatku datang masuk kelas.

“apaan..?” tanyaku yang sudah duduk di sebelah Akbar.

“kak Doni mengundurkan diri, tapi tidak menunjuk pengganti..” jawab Akbar yang terlihat antusias.

“kak Doni siapa..?” balasku yang tidak tau dengan orang yang dimaksud.

“kak Doni.. ketua genk MEDUSA bro..” ucap Akbar menjelaskan.

“oh.. tau dari mana..?” tanyaku penasaran.

“ini.. lagi ramai di grup..” jawab Akbar sambil menunjukkan sebuah aplikasi perpesanan.

“kita besok harus ikut acara pemilihan ketua bro.. siapa tau kita masuk kandidat..” ucap Akbar yang terlihat bersemangat.

“kita..? Ente aja kali.. ane sih ogah ikut – ikut gituan..” balasku malas, karena aku memang malas untuk ikut.

“ente kan juga anggota bro.. makanya wajib ikut..” ucap Akbar kemudian.

“anggota..? Sejak kapan ane daftar jadi anggota..?” balasku bertanya.

“itu waktu ente mukulin orang kan udah masuk seleksi..!!” ucap Akbar yang geram mengingatkanku saat aku menghajar Benny.

“biasa aja ngomongnya gak usah pake melotot..” balasku terkekeh.

“anjing…!” ucap Akbar kesal.

Selama pelajaran berlangsung Akbar berkali – kali membahas tentang pemilihan ketua MEDUSA yang membuatku sampai malas menanggapi dan mendengarnya. Hingga jam istirahat sekolah pun Akbar terus mengikutiku sampai ke kantin sekolah.

Aku sedang duduk di kantin sekolah bersama Akbar, Ferdi dan Yudha. Nampaknya teman – temanku tidak ada yang tau kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sih senang – senang saja karena tidak perlu mentraktir mereka. Hehehe.. Kami hanya mengobrol ringan sambil bercanda, dan lagi – lagi Akbar menyinggung tentang MEDUSA.

“eh bro.. ngomong – ngomong kenapa ya kak Doni kok tiba – tiba mundur tanpa menunjuk pengganti..?” tanya Akbar yang membuatku geram.

“mungkin dia muak liat muka ente.. jadi gak bilang – bilang..” balasku asal.

“hahaha..” Ferdi dan Yudha hanya tertawa mendengar ucapanku.

“eh.. serius anjing.. ini pasti ada sesuatu..” ucap Akbar yang masih penasaran.

“iya.. sesuatu di dalam sempakmu..” balas Yudha menanggapi Akbar.

“anjing..” umpat Akbar kesal.

“hahaha..” aku, Ferdi dan Yudha tertawa melihat Akbar yang kesal.

Kami yang sedang bercanda dan tertawa tiba – tiba dikagetkan oleh seseorang yang menarikku dengan kasar.

“PLAKKK..” suara tamparan yang keras mengenai pipi kiriku yang membuat pengunjung kantin langsung melihat ke arahku.

“JANGAN PERNAH GANGGU KELUARGAKU LAGI DAN JANGAN COBA – COBA DEKATI AKU LAGI..!!!” teriak Dini yang terlihat sangat marah dan kemudian pergi meninggalkanku.

Aku hanya terdiam mematung dan tidak bisa berkata apa – apa. Aku bingung dengan Dini yang tiba – tiba menamparku dan marah padaku. Apa salahku sampai dia yang begitu marah padaku. Aku yang sebenarnya ingin mendapat hadiah kebahagiaan dari Dini saat hari ulang tahunku, malah hadiah tamparan yang kudapat darinya.

Aku masih terdiam saat melihat Dini yang pergi meninggalkanku dengan wajah yang terlihat sangat emosi.

“kamu kenapa Rik..? Apa salah kak Doni sampai kamu menghajarnya..” ucap Farah yang tadi datang bersama Dini.

“beb.. tunggu..” ucap Ferdi yang kemudian pergi mengejar Farah.

Aku kemudian duduk termenung memikirkan yang baru saja terjadi. Farah tadi menyebut nama yang aku hajar adalah Doni, berarti orang yang berkelahi denganku tempo hari itu adalah orang yang dimaksud.

“beneran bro..? Beneran ente menghajar kak Doni..?” tanya Akbar dan hanya aku balas dengan anggukan.

“wah.. berarti bener kak Doni mundur karena sudah ente kalahkan, secara otomatis ente yang menggantikan..” ucap Akbar yang tidak aku hiraukan.

Aku tidak menanggapi Akbar yang malah mengurusi masalah genk, bagiku yang terpenting saat ini adalah masalah hati. Aku masih berpikir keras dengan apa yang terjadi. Kenapa Dini sampai melakukan itu padaku.

Apa hubungannya aku menghajar Doni dengan Dini yang marah padaku..? Dini tadi sempat menyebut kata “keluarga”. Apa berarti Doni dan Dini ada hubungan keluarga?

“Doni itu kakaknya Dini.. dan dulu mereka satu sekolah denganku waktu SMP..” ucap Yudha yang membuatku kaget.

Terjawab sudah permasalahan ini yang ternyata Doni adalah kakaknya Dini. Aku jadi mengerti kenapa Dini begitu marahnya padaku. Memang kuakui kalau aku salah karena sudah menghajar kakaknya, tapi aku melakukannya juga atas permintaan Doni yang mengajakku berduel.

Tapi kenapa cuma aku yang disalahkan? Aku harus menjelaskan semuanya pada Dini, karena ini hanya sebuah kesalah pahaman.

Aku dengan pikiran yang kacau akhirnya memutuskan untuk membolos pelajaran dan nongkrong di kamar mandi belakang untuk menenangkan diri. Aku yang duduk sendirian di sudut belakang sambil merokok mencoba menenangkan diriku. Sampai jam sekolah selesai pun aku juga masih belum beranjak, hingga kemudian datang seseorang mendekatiku.

“bro.. ayo ikut ane..” ucap seseorang mengajakku.

Saat aku melihat orang tersebut adalah Yudha yang juga terlihat membawa tasku. Setelah menyerahkan tasku, kemudian Yudha menarikku berdiri dan mengajakku pergi.

Aku hanya mengikuti Yudha yang berjalan lebih dulu dengan motornya. Kemudian kami berhenti di sebuah café. Yudha sempat bilang padaku kalau dia biasa nongkrong disini. Bangunan café tersebut tidak terlalu besar, tapi halaman di dalamnya cukup luas yang terdapat banyak meja dibawah pepohonan.

Yudha terus mengajakku masuk sampai kemudian berhenti di salah satu meja yang sudah ditempati oleh 3 orang yang duduk disana.

Aku kemudian dikenalkan oleh teman – teman tongkrongan Yudha, yang kemudian aku tau nama mereka adalah Reno, Wahyu dan Yusuf atau biasa dipanggil Ucup.

Aku yang baru mengenal mereka hanya mendengarkan obrolan mereka. Ucup yang anaknya cengengesan, Wahyu yang lebih banyak diam tapi suka tersenyum dan Reno yang orangnya paling rame. Aku mulai nyaman mengobrol dengan mereka karena sesekali aku juga menyahut.

“sob.. temen ente kenapa kok kayaknya murung..?” tanya Reno pada Yudha.

“patah hati..” balas Yudha yang berbisik.

“hmm.. enaknya minum jamu ini.. hehehe..” ucap Reno yang kemudian bangkit dan pergi.

Aku tau yang dimaksud jamu oleh Reno adalah minuman keras. Aku sebenarnya jarang mabuk sih, cuma waktu aku masih tinggal di pulau seberang, aku kadang minum sama teman – temanku.

Tak berapa lama Reno datang membawa 4 botol minuman bergambar orang tua. Reno kemudian membuka 1 botol dan menuangkannya ke gelas. Reno yang meminum pertama, selanjutnya diputar ke yang lain. Sampai pada giliranku, aku masih sempat berfikir.

Apa dengan mabuk aku bisa menyelesaikan masalahku? Atau aku hanya ingin lari dari masalah dan melampiaskannya dengan mabuk?

Akhirnya aku putuskan untuk minum. Aku ingin sejenak melupakan masalahku, karena aku sudah terlalu lelah untuk berpikir. Gelas demi gelas kami minum secara bergantian, sampai habis 4 botol kemudian mereka pulang.

Aku masih duduk sendiri dan kembali merenung tentang permasalahanku. Aku yang merasa masih nanggung hanya bisa garuk – garuk kepala. Gimana gak nanggung, 4 botol untuk lima orang. Aku yang malas pulang dan merasa gerah akhirnya memutuskan untuk numpang mandi di café tersebut.

Aku sekarang membawa baju ganti karena teringat pesan Tante Septi tempo hari kalau sewaktu – waktu aku tidak pulang.

Setelah mandi badanku terasa segar, tapi yang jadi masalah mabukku malah hilang. Aku yang ingin sejenak melupakan masalah dengan mabuk malah jadi dongkol. Akhirnya aku membeli 2 botol minuman dan duduk di bagian pojok café seorang diri. Aku sempat mengirim pesan pada Om Heri kalau aku tidak pulang, karena aku gak mau pulang dalam kondisi mabuk dan terlihat banyak masalah.

Aku menikmati minumanku seorang diri sambil merokok. Saat minumanku sudah habis 1 botol, aku melihat Reno yang datang sendirian kemudian menghampiri seorang cewek yang sudah menunggunya di salah satu meja.

Aku yang sedang menikmati kesendirianku melihat Reno dan teman ceweknya seperti sedang berdebat. Tak berapa lama tiba – tiba cewek itu berdiri dan pergi meninggalkan Reno dengan marah – marah. Reno yang masih duduk terlihat hanya mengusap – usap kepalanya.

Aku menduga kalau mereka itu pacaran dan entah ada masalah apa mereka jadi berantem. Aku tidak terlalu memperdulikan karena itu bukan urusanku. Reno yang terlihat masih bingung tiba – tiba menoleh ke arahku dan melihatku duduk sendirian.

Dia kemudian mendatangiku, dan saat dia datang aku memberinya segelas minuman. Setelah minum kemudian Reno pergi dan tak berapa lama dia datang membawa 2 botol minuman.

“wah.. apa orang yang ada masalah selalu larinya ke minum..?” batinku bertanya.

“sama kita sob..” ucap Reno padaku dan aku hanya tersenyum padanya.

“apa semua cewek selalu bikin pusing..” ucap Reno kemudian dan aku hanya mengangguk mengiyakan.

“ente sekolah dimana sob..?” tanyaku pada Reno.

“SMA 8 sob.. ente sekelas sama Yudha..?” jawab Reno yang kemudian bertanya.

“enggak.. ane beda kelas sama dia..” balasku.

Kemudian kami mulai asik bercerita dan saling bertanya satu sama lain. Dari yang aku tau, ternyata Reno tinggal sendiri di kontrakan. Dia beralasan karena Ayah tirinya tidak mau tinggal bersama dengannya, jadi ibunya mengontrak rumah untuk ditempati Reno. Dia tinggal sendirian dan dicukupi semuanya fasilitasnya termasuk motor dan mobil.

Walaupun serba berkecukupan, tapi aku melihat Reno seperti kesepian dengan dia yang jarang pulang dan lebih sering nongkrong. Untungnya Reno orangnya asik dan mudah bergaul, membuatnya gampang mendapat teman. Seperti aku yang baru saja kenal dengannya, terasa seperti sudah teman lama.

Tak terasa sudah 2 botol kami habiskan sambil mengobrol, Reno kemudian pamit untuk pulang karena dia sudah merasa tidak kuat. Reno sempat mengajakku untuk menginap di kontrakannya dan aku jelas menolaknya karena ngapain juga tidur tempat cowok, takutnya kalau dia hom – hom malah diperkosa aku nanti.. hahaha…

Satu botol tersisa setelah Reno pergi, aku yang sudah merasa mabuk tetap kupaksakan untuk meminumnya. Sampai aku yang sudah tidak kuat lagi akhirnya tertidur ditempat.

***

Paginya aku dibangunkan oleh seseorang yang ternyata adalah tukang bersih – bersih café tersebut. Aku sempat meminta maaf padanya dan kemudian bergegas untuk pergi. Aku mendorong motorku keluar area cafe karena kepalaku yang masih terasa pusing. Disamping café tersebut ada sebuah ruko yang nampaknya tutup. Aku mendorong motorku kesana kemudian duduk di bangku yang ada di depan ruko tersebut.

Aku kemudian membuka HP ku dan melihat ada beberapa panggilan dan pesan yang masuk. Panggilan dari Om Heri dan pesan dari Akbar.

“bro.. kenapa ente gak masuk..?” pesan dari Akbar yang hanya aku baca.

Aku melihat jam di HP ku menunjukkan pukul 9 kurang yang berarti aku bolos sekolah. Aku hanya duduk menunduk karena kepalaku masih sedikit pusing. Kembali aku teringat pada permasalahanku dengan Dini. Ternyata mabuk hanya membuat permasalahan kita terlupakan sesaat, setelahnya permasalahan itu malah terasa semakin berat.

Aku yang masih menunduk tiba – tiba dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di depanku. Aku yang melihatnya sempat kaget. Bagaimana dia bisa tau kalau aku disini..? Dia melihatku dengan wajah yang terlihat khawatir.

“Mon..?” panggilku pada Monic yang berdiri di depanku.

Aku yang merasa malu dengan kondisiku kembali menundukkan kepalaku. Jujur aku merasa malu karena aku yang malah larut dengan permasalahanku. Sebagai seorang lelaki harusnya aku bangkit dan menyelesaikan masalahku, bukan malah mencari pelarian yang menjadikanku terpuruk.

Monic kemudian mendekatiku dan menyandarkan kepalaku di perutnya. Dia membelai rambutku dengan lembut yang membuatku merasa nyaman. Tanpa terasa air mataku mengalir dengan bangsatnya. Kenapa wanita ini yang hadir disaat aku terpuruk? Dia hadir menenangkanku dan memberiku kenyamanan, dan bangsatnya malah aku menyakitinya.

Monic kemudian mengangkat wajahku dan tersenyum padaku.

“antar aku pulang..” ucap Monic tersenyum.

Aku hanya mengangguk kemudian berdiri menaiki motorku. Monic yang langsung memboncengku memelukku dengan erat.

Sepanjang perjalanan kami sama – sama terdiam. Aku merasakan pelukan Monic benar – benar tulus. Aku juga merasakan kenyamanan saat dia memelukku.

Setelah sampai Monic menyuruhku duduk di teras, kemudian dia masuk ke dalam. Tak berapa lama Monic keluar membawa sepiring nasi dan segelas air. Monic juga terlihat sudah berganti dengan pakaian rumahan.

“makanlah dulu..” ucap Monic memberiku sepiring nasi berserta lauknya.

“terus kamu..?” tanyaku pada Monic.

“aku sudah sarapan.. kamu kan belum..” balas Monic tersenyum.

Aku kemudian makan dengan lahapnya, karena aku merasa benar – benar lapar. Seharian kemarin aku sama sekali tidak makan dan hanya minum sampai aku teler.

Setelah selesai Monic memberiku segelas air yang langsung aku habiskan. Melihat aku yang terlihat kehausan kemudian Monic kembali ke dalam mengambil botol yang berisi air putih.

“Mon..” panggilku pada Monic.

“yah..?” jawabnya yang kemudian melihatku.

“kamu bisa tau aku disana dari mana..?” tanyaku yang merasa penasaran.

“sebelum aku jawab, aku mau tanya dulu sama kamu..” balas Monic.

“kenapa kamu seperti ini..?” tanya Monic yang membuatku hanya bisa menunduk.

“apa yang sebenarnya terjadi..? Kamu ada masalah apa sama kak Doni sampai Dini begitu marah padamu..” ucap Monic kemudian dan aku masih tetap diam.

“Rik.. tolong jawab.. aku mohon..” ucap Monic memohon.

“Mon.. aku mau cerita, tapi tolong jangan bilang ke siapa pun termasuk Dini..” ucapku yang dibalas anggukan oleh Monic.

Aku mulai bercerita tentang Akbar yang mengajakku sparing dengan KOMBAT. Kemudian aku juga bercerita tentang aku yang menghajar Benny sampai aku yang dipanggil oleh Bimo karena masalah aliansi yang pecah. Aku kemudian bercerita saat aku dan Bimo yang akan bertarung dan tiba – tiba terhenti karena kedatangan Doni.

Aku yang saat itu harus bertarung dengan terpaksa menghajar Doni. Aku menjelaskan pada Monic kalau saat itu aku tidak tau siapa Doni dan tidak tau juga kalau Doni adalah kakaknya Dini.

“berarti ini hanya kesalah pahaman..” ucap Monic yang terlihat kaget.

“aku harus menjelaskan..” ucap Monic terpotong.

“Mon..” panggilku memotong perkataan Monic.

“tolong berjanjilah.. jangan terlibat dalam permasalahan ini..” ucapku memohon.

“tapi Rik..” balas Monic yang merasa tidak terima.

“aku tidak mau persahabatan kalian hancur gara – gara aku..” ucapku yang membuat Monic berkaca – kaca.

“aku masih bisa bertahan dengan perasaanku..” ucapku yang membuat Monic menangis.

Setelah acara tangis – tangisan kami kemudian mengobrol ringan. Kadang kami juga bercanda bersama. Ternyata memang dasarnya Monic orangnya ceria, yang membuat beban masalahku sedikit berkurang. Monic juga pintar menghidupkan suasana, dari yang awalnya terasa canggung berubah menjadi lebih terbiasa.

Tanpa terasa hari sudah semakin siang, aku kemudian pamit pada Monic untuk pulang ke rumah.

“Mon.. aku pulang dulu ya.. makasih untuk semuanya..” ucapku pada Monic.

“iya Rik.. hati – hati ya..” balas Monic padaku.

“maaf ya.. gara – gara aku kamu jadi bolos sekolah..” ucapku yang merasa tidak enak.

“sudahlah.. gak usah dipikirin..” balas Monic tersenyum.

“eh iya Rik.. tunggu sebentar..” ucap Monic yang kemudian berlari ke dalam.

Beberapa saat kemudian Monic kembali dan terlihat membawa sesuatu.

“ini buat kamu..” ucap Monic menyerahkah kotak kecil yang bertalikan pita.

“eh.. ini apa Mon..?” tanyaku yang kaget.

“selamat ulang tahun.. maaf yah telat” ucap Monic tersenyum.

Aku sangat kaget saat menerima kado dari Monic. Darimana dia bisa tau kalau aku habis ulang tahun? Sedangkan teman – temanku yang lain tak ada satu pun yang tau kalau aku ulang tahun.

“makasih Mon..” ucapku yang merasa senang.

Aku yang merasa senang dapat kado langsung ingin membukanya.

“eh jangan dibuka disini..” ucap Monic menghentikanku saat akan membuka kado.

“nanti dibuka dirumah aja ya..” ucap Monic tersenyum dan aku mengangguk setuju.

“ya udah aku pulang dulu ya..” ucapku sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

Monic tidak membalas salamanku malah memegang pipiku.

“cuph..” Monic mengecup bibirku dengan lembut.

“hati – hati yah..” ucapnya tersenyum.

Aku hanya mengangguk dan kemudian pergi untuk pulang ke rumah. Sesampainya di kamar aku langsung masuk ke kamar dan menutup pintu. Aku kemudian mengambil bungkusan yang diberikan oleh Monic tadi. Setelah aku buka, aku melihat sebuah benda dan ada secarik kertas yang terlipat. Aku mengambil kertas itu dan membacanya.

Sehebat apapun usahaku,

Sebanyak apapun namamu dalam doaku,

Seperih apapun perjuanganku.

Akhirnya akan tetap sama.

Aku tak akan pernah menjadi seseorang yang kau impikan.

Apalagi menjadi seseorang yang hatinya kau simpan.

Kupikir mencintaimu saja sudah cukup.

Melihatmu tertawa meski dengannya sudah membuat aku lega.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat