Kisah Riki Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 3

Kegelisahan​

“Rik.. bangun.. bangun..” ucap Om Heri membangunkanku.

“Rik.. cepat siapin mobil.. Tantemu udah mau lahiran..” ucap Om Heri yang membuatku langsung bangkit.

Aku melihat jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku kemudian segera berganti pakaian dan berlari ke garasi untuk menyiapkan mobil.

Setelah mobil siap, aku kemudian berlari ke dalam ikut membantu Om Heri yang sedang memapah Tante Septi yang terlihat menahan sakit karena sudah merasa akan melahirkan. Aku juga mengambil tas yang sudah dipersiapkan berisi pakaian dan meletakkannya di antara sayuran yang sudah tertata di atas mobil pick up.

Setelah Tante Septi masuk dan duduk di dalam mobil, aku sempat kembali ke rumah untuk mengecek dan mengunci pintu – pintu rumah.

“udah Om.. jalan..” ucapku yang berdiri menyempil di antara sayuran – sayuran, karena tidak memungkinkan untuk duduk di depan bertiga.

Kemudian Om Heri memacu mobil dengan cukup kencang menuju rumah sakit. Sesampainya disana, aku kemudian melompat dan berlari mengambil kursi roda. Setelah membantu Tante Septi duduk, kemudian Om Heri mendorongnya masuk ke dalam. Aku kemudian memarkirkan mobil kemudian menyusul masuk ke dalam.

Setelah menyelesaikan pendaftaran, Om Heri kemudian menghampiriku yang sedang duduk di ruang tunggu. Beberapa saat kemudian terdengar panggilan yang ditujukan untuk keluarga ibu Septi. Om Heri bergegas menghampiri petugas yang memanggil tersebut dan setelah berbincang sebentar kemudian Om Heri ikut masuk ke dalam.

Gelisah yang aku rasakan selama menunggu proses persalinan, aku juga merasa harap – harap cemas dengan kondisi Tante Septi yang sedang berjuang di dalam sana. Beberapa kali aku sempat keluar rumah sakit untuk sekedar merokok dan menghilangkan kegelisahanku.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya terlihat Om Heri keluar ruangan. Terlihat wajahnya yang berbahagia dengan mata yang berkaca – kaca.

“gimana Om..?” tanyaku pada Om Heri saat menghampirinya.

“Alhamdulillah lancar Rik.. adikmu cowok..” ucap Om Heri yang kemudian memelukku.

“Alhamdulillah.. selamat Om.. selamat..” balasku sambil menepuk – nepuk punggungnya.

“hufh.. huuhh.. makasih Rik makasih..” ucap Om Heri sambil menghapus air matanya.

“ayo masuk.. kita lihat adikmu..” ajak Om Heri tersenyum.

Aku kemudian tersenyum mengangguk dan berjalan mengikuti Om Heri. Setelah masuk kamar, aku kemudian mengucapkan selamat kepada Tante Septi yang terlihat masih lemah.

Pandanganku kemudian tertuju pada sebuah box bayi yang berada di sebelah Tante Septi. Setelah melihat apa yang ada di dalamnya, sungguh momen yang membahagiakan dan haru saat pertama kali melihat bayi yang baru lahir. Rasa lelah seketika sirna saat melihat wajah mungilnya. Aku yang tersenyum haru saat melihatnya tanpa terasa meneteskan air mata.

“siapa Om nama jagoanku ini..?” tanyaku yang masih melihat adik sepupuku ini.

“Alfian.. Alfian Hadi Sanjaya..” jawab Om ku bergetar.

Aku melihat Om Heri dengan mata yang berkaca – kaca. Kenapa aku menangis saat mendengar nama yang di ucapkan oleh Om ku? Karena Hadi Sanjaya adalah nama kakekku, kakek yang sangat menyayangiku.

Saking sayangnya padaku, hampir setiap hari aku menghabiskan waktu bersama kakekku. Beliau sering mengajakku jalan – jalan dan sampai tidur pun aku sering sama kakek. Sungguh aku merindukan kakekku.

Aku yang masih terharu jadi teringat akan sosok kakekku. Aku yang merasa sangat kehilangan saat kakekku meninggal, aku yang berkali – kali menangis sampai harus ditenangkan oleh Bundaku. Dan sekarang di depanku adalah salah satu keturunannya, semoga dia juga mewarisi kehebatan kakeknya.

Malam semakin larut, kebahagiaan yang kami rasakan dengan kehadiran anggota baru di keluarga kami dan kebahagiaan yang tentu dirasakan juga oleh yang lain.

Om Heri sempat memberi kabar lewat pesan pada Ayahku dan Tante Hilda, karena kalau telepon pasti akan mengganggu jam istirahat dan sekarang kulihat jam menunjukkan pukul 2 pagi.

“Rik.. kamu tunggu sini dulu ya.. aku mau ke pasar, mau pamit dulu kalau besok libur sekalian kasih kabar ke ibu mertuaku..” ucap Om Heri saat kami sedang duduk.

“Om aja yang tunggu sini, biar aku aja yang kepasar. Lagian gak usah libur juga gak papa Om.. kasihan nanti petani – petani yang nganter sayuran ke rumah, sama pedagang di pasar yang nunggu sayuran kita..” balasku panjang lebar menjelaskan.

“terus kamu sendirian donk..?” ucap Om Heri yang terlihat ragu.

“Om kira aku gak mampu..?” jawabku sinis.

“hehehe… kalau kamu pingsan gimana..?” ucapnya mengejekku.

“gak bakal.. aku udah terbiasa” jawabku santai.

“baguslah.. biar lebih kuat dan gak lemah lagi..” balasnya terkekeh.

“hmm..” balasku yang malas menanggapinya lagi.

Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi. Aku kemudian pamit pada Om ku untuk mengantar sayur ke pasar. Karena aku yang mau mengabarkan ke mertua Om Heri juga, maka aku putuskan untuk berangkat lebih awal.

Setelah sampai pasar, aku langsung mengantarkan sayuran ke pedagang – pedagang disana. Karena sudah setiap hari melakukannya, aku jadi tidak kesulitan walau melakukannya sendiri.

Saat mengantar sayuran, beberapa pedagang sempat bertanya padaku kenapa aku mengantar sendirian. Aku memberitahukan bahwa Om Heri sedang menunggu istrinya yang baru lahiran di rumah sakit. Terlihat wajah sumringah mereka saat mengetahui anak Om Heri sudah lahir.

Setelah selesai mengantarkan sayuran, aku mulai merasa sedikit mengantuk karena semalaman tidak tidur. Aku kemudian berjalan mencari warung untuk ngopi sebentar, sekalian tanya rumah mertuanya Om Heri. Dari kejauhan, aku melihat Mang Karjo salah satu penarik becak di pasar sedang duduk sambil ngopi, aku kemudian menghampiri warung tersebut.

“pak kopi satu ya.. gulanya dikit aja..” ucapku pada penjual

“siap mas..” balasnya.

“eh Rik.. sendirian aja..” sapa Mang Karjo setelah melihatku.

“iya Mang.. hehe..” balasku sambil duduk.

“Mang.. tau rumah mertuanya Om Heri gak..?” tanyaku pada Mang Karjo.

“tau.. emangnya kenapa..?” jawab Mang Karjo.

“mau kasih kabar kalau cucunya sudah lahir..” balasku kemudian.

“eh beneran.. Septi udah lahiran..? Cowok apa cewek anaknya..?” tanya Mang Karjo yang terlihat antusias.

“cowok mang..” balasku sambil menyeruput kopi.

“Alhamdulillah… akhirnya Bang Heri punya anak..” ucap Mang Karjo yang terlihat bahagia.

“dimana Mang rumah mertuanya..” tanyaku lagi pada Mang Karjo.

“udah.. biar aku aja nanti yang kasih kabar, sekalian aku ngasih kabar ke yang lain..” balas Mang Karjo tersenyum.

“wah.. makasih Mang kalau gitu..” ucapku berterima kasih.

“halah.. santai aja Rik.. rumahnya juga deket kok sama rumahku..” balas Mang Karjo menjelaskan.

Setelah ngobrol – ngobrol kemudian aku pamit untuk pulang.

Sesampainya di rumah, aku segera mandi dan bersiap berangkat sekolah. Aku berangkat ke sekolah menggunakan motor Om Heri, karena Om Heri yang masih menunggu di rumah sakit, jadi jelas motornya nganggur gak dipakai.

Aku mengikuti pelajaran sekolah seperti biasa sampai kegiatan belajar mengajar usai. Saat pulang aku sempat mampir sebentar ke rumah sakit kemudian pulang ke rumah menunggu petani – petani yang mengantar sayuran.

***

Pagi harinya, aku berangkat sendiri lagi ke pasar mengantar sayuran. Setelah selesai mengantar ke pedagang – pedagang, aku kemudian ke warung kopi yang kemarin dan kulihat Mang Karjo yang sudah duduk disana.

“gimana Rik.. kira – kira udah bisa pulang kapan..?” tanya Mang Karjo menanyakan tentang kepulangan adik bayi dari rumah sakit.

“hari ini kayaknya udah bisa pulang Mang..” jawabku pada Mang Karjo.

“cocok.. pas malam minggu.. nanti kita mau ramai – ramai nengokin bayi..” ucap Mang Karjo yang terlihat bersemangat.

Aku hanya tersenyum melihat Mang Karjo yang sangat bersemangat.

“Mang.. boleh tanya sesuatu..?” tanyaku pada Mang Karjo.

“iya Rik.. tanya apa..?” jawabnya sambil membakar rokok.

“hmm..” aku yang bingung mau memulainya dari mana.

“tanya tentang Om mu ya?” ucap Mang Karjo yang seperti mengerti kebingunganku.

“iya.. Mang..” jawabku tersenyum.

“apa yang buat kamu bingung..?” tanya Mang Karjo tersenyum.

“hmm.. jadi gini Mang.. kok aku merasa setiap bertemu orang – orang yang di pasar, mereka terlihat menghormati dan segan pada Om Heri. Dan selama 2 hari ini aku kesini sendiri, setiap orang yang kutemui selalu menanyakan tentang Om Heri termasuk Mang Karjo juga..” ucapku menjelaskan rasa penasaranku.

Kulihat Mang Karjo hanya tersenyum, kemudian dia meminum kopinya.

“jadi gini Rik..” ucap Mang Karjo yang akan mulai bercerita.

“dulu, Bang Heri itu bisa dibilang penguasa di tempat ini. Mulai dari pasar sampai ke ujung jalan sana..” jelas Mang Karjo dengan menunjuk ke arah ujung jalan.

“walau dia penguasa atau bisa dibilang preman, tapi Bang Heri tidak pernah meminta jatah preman kepada kami, karena Bang Heri disini juga bekerja sebagai tukang parkir. Selain itu, Bang Heri juga menjaga keamanan tempat ini yang membuat kami merasa aman dan nyaman. Hal itu yang membuat kami merasa segan pada Bang Heri” ucap Mang Karjo bercerita.

Aku dengan seksama mendengarkan cerita dari Mang Karjo yang bagiku sungguh sangat menarik. Setelah membakar rokok, Mang Karjo melanjutkan ceritanya.

“pernah suatu ketika ada kelompok yang mau mengambil alih tempat ini, Bang Heri dan teman – temannya yang kemudian melawan kelompok itu. Penyerangan terjadi tidak hanya sekali, dan semuanya bisa dilawan sampai akhirnya mereka tidak berani untuk datang lagi” ucap Mang Karjo bercerita.

“Om mu itu baik dan terlihat senang bercanda Rik, tapi kalau sudah diganggu.. hmm luar biasa ngeri Rik.. pernah suatu ketika ada dua orang sedang mabuk yang memalak pembeli disini, dan Om mu yang melihat itu langsung menghajar dua orang itu tanpa ampun.

Yang satu orang gigi atasnya sampai rontok, dan orang satunya tangannya patah. Kami ya melihat kejadian itu tidak berani melerai, padahal saat kejadian juga ada polisi yang kebetulan sedang melintas” ucap Mang Karjo yang menceritakan tentang Om Heri.

Wah.. ngeri juga ternyata Om ku ini, aku sendiri sampai gak nyangka. Dibalik sikapnya yang santai, suka bercanda dan terkesan selengekan, ternyata dulunya adalah preman pasar yang sangat disegani.

“Bang Heri itu mulai berubah saat dia mulai mengenal seorang gadis. Gadis itu adalah anak dari salah satu pedagang sayuran disini, namanya Yu Darmi dan nama anaknya Septi. Perlahan tapi pasti, Bang Heri mulai meninggalkan dunia yang penuh kekerasan. Setelah menikah, Bang Heri sudah berhenti total dan beralih menjadi pemasok sayuran” ucap Mang Karjo bercerita dan aku hanya manggut – manggut.

“terus kenapa kami sangat menghormati Bang Heri..? Karena saat Bang Heri memutuskan untuk berhenti, kami yang hidupnya tergantung dari pasar jadi gelisah dan sempat takut apabila ada penguasa baru yang mengambil alih tempat ini.

Ternyata dugaan kami salah, walau Bang Heri sudah berhenti tetap tidak ada yang berani mengganggu tempat ini, karena Bang Heri memasok sayurannya juga disini” ucap Mang Karjo menjelaskan panjang lebar.

Aku hanya manggut – manggut mendengar cerita dari Mang Karjo tentang kisah masa lalu dari Om Heri. Ternyata dibalik sifat santainya, tersimpan kisah kehidupan yang keras. Aku yang terlalu asik mendengarkan cerita Mang Karjo sampai tak sadar kalau hari sudah mulai terang, yang tandanya aku harus segera pulang untuk bersiap berangkat sekolah.

Setelah berpamitan dengan Mang Karjo, aku segera memacu mobil pick up milik Om Heri untuk segera sampai rumah. Setelah mandi dan bersiap, aku berangkat ke sekolah menggunakan motor Om Heri lagi.

Saat di sekolah aku tidak terlalu fokus mengikuti pelajaran, di samping aku yang merasa agak ngantuk karena semalaman tidurku gak nyenyak, juga karena aku memikirkan untuk persiapan di rumah nanti. Persiapan untuk menyambut tamu – tamu yang akan datang menengok bayi. Teringat kata Mang Karjo tadi pagi yang akan datang ramai – ramai.

Saat kegiatan belajar mengajar usai, aku langsung bergegas untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku dikejutkan karena sudah ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah.

“wah.. udah ada tamu aja nih siang – siang” batinku saat memarkirkan motor.

Karena ada tamu, maka aku berputar lewat pintu samping untuk masuk ke rumah. Saat sampai di teras samping, aku melihat seorang gadis yang sedang duduk dengan wajah yang menunduk di bangku teras samping. Begitu aku sudah dekat, kemudian gadis itu melihatku dengan tersenyum manis.

“lhoh Dek..” ucapku yang kaget karena gadis itu adalah adikku Riska.

“hai Kak..” balasnya tersenyum yang kemudian salim padaku dan memelukku.

“kapan datang? Sama siapa? Trus naek apa? Itu mobil siapa?” tanyaku yang mengelus rambut adikku.

“ihh… Kakak… banyak amat tanyanya… kenapa gak kabar dulu sih yang ditanyain..” balas adikku cemberut membuatnya terlihat gemesin banget.

“hehehe… maaf.. maaf..” balasku sambil memencet hidungnya.

“Kakak udah pulang..” tiba – tiba suara mengagetkan muncul dari pintu.

“eh.. Bunda..” ucapku yang melihat Bundaku tersenyum.

Aku menghampiri Bundaku kemudian salim dan memeluknya.

“Kakak kok jadi kelihatan agak item..” ucap Bundaku.

“gak papa Bun.. biar kelihatan lebih macho.. hehehe..” balasku terkekeh.

“macho apaan.. yang bener tuh jadi dekil..” sahut adikku mencibir.

“biarin.. weekk…” balasku memeletkan lidah pada Riska adikku.

“ihhh… Bunda.. Kak Riki itu lhoo..” rengek adikku yang merasa tidak terima.

“adiknya jangan digodain terus nak.. nanti nangis lho..” tiba – tiba terdengar suara Ayahku.

“Yah..” ucapku yang kemudian salim dan memeluknya.

“Ayahhhh…. ihhh…” terdengar suara Riska yang merajuk.

“udah.. udah.. ini Ayah sama Kakak sukanya godain Adek terus..” ucap Bundaku menengahi yang kemudian memeluk Riska.

“hahaha…” aku dan Ayahku yang hanya tertawa melihat adikku ngambek.

Kemudian kami bersama – sama masuk ke dalam. Setelah berganti pakaian, kemudian aku, Ayah dan Om Heri makan siang bersama. Sedangkan Bunda dan Riska menemani Tante Septi dan dedek bayi di kamar.

“gimana nak kabarnya..?” tanya Ayahku saat kami masih di meja makan.

“baik yah..” jawabku senang karena bisa berkumpul dengan Ayahku lagi.

“syukurlah.. katanya sekarang kamu bantuin Heri di pasar ya..” ucap Ayahku kemudian.

“iya Yah.. cuma bantu – bantu aja kok.. sekalian jagain Om Heri biar gak godain cewek disana..” balasku menggoda.

“uhukk.. uhukk.. kurang ajar..!!” ucap Om Heri sambil melotot.

“hahaha.. pelan – pelan Om.. sendoknya jangan dimakan juga..” ucapku puas bisa mengerjai Om Heri.

Kulihat dia hanya melirikku tak berani membalas. Mungkin karena ada Ayahku jadi dia merasa sungkan. Aku yang melihat ekspresi Om Heri geram karena tidak bisa membalasku membuatku tersenyum lebar tanda kemenangan.

Setelah selesai makan, kemudian aku, Ayah dan Om Heri pindah ke halaman belakang. Setelah duduk kemudian mereka mengeluarkan rokoknya masing – masing dan membakarnya.

Setelah membakar rokoknya, Om Heri sengaja meletakkan rokok dan koreknya di meja dekatku. Aku yakin dia sengaja melakukannya karena ingin membalasku. Aku yang meliriknya hanya dibalas dengan tersenyum mengejek darinya.

“kamu mau merokok nak..?” tanya Ayahku tiba – tiba.

“enggak Yah..” balasku salah tingkah.

Ayahku sebenarnya tau kalau aku juga sering merokok, tapi aku melakukannya kalau sedang di luar rumah. Aku tidak pernah melakukannya di depan Ayahku, apalagi di depan Bundaku. Bisa dimarahin habis – habisan nanti aku, “masih SMA aja udah berani merokok”. Begitulah omelan Bundaku saat dulu pernah ketahuan merokok sama teman – temanku di dekat rumah.

Aku yang dari tadi hanya duduk melihat Ayahku dan Om Heri yang sedang merokok, membuat mulutku terasa kecut ingin merokok juga. Terlihat Om Heri dengan sengaja mengejekku, dari cara merokoknya yang sengaja dipamer – pamerkan dan saat mengebulkan asap yang diarahkan padaku.

Kalian pernah dengar istilah “Mbak Endang lungguh mekokok, bar madang enake ngrokok” (Mbak Endang duduk ngangkang, setelah makan enaknya merokok), itulah yang sedang aku alami saat ini, habis makan tapi gak bisa merokok. Kecut.. kecut..

“Ayah.. udah merokoknya.. sekarang anterin Bunda pergi..!” ucap Bundaku di dekat pintu.

“mau kemana Bun..?” tanyaku pada Bundaku.

“mau beli makanan kalau nanti ada tamu.. sama beli oleh – oleh juga, takutnya besok gak sempat..” balas Bundaku menjelaskan.

“ayo Riki antar aja..” ucapku yang emang pengen pergi karena males lihat Om Heri yang dari tadi ngebal – ngebul mengejekku.

“gak bisa kalau naik motor Kak.. Riska juga mau ikut..” balas Bundaku.

“ya naik mobil Bun.. sini Yah pinjam mobilnya..” ucapku yang meminta kunci pada Ayahku dan Ayahku hanya terlihat bengong saja. Mungkin beliau berfikir kalau aku belum bisa menyetir mobil.

Setelah Ayahku menyerahkan kunci, kemudian aku mengajak Bundaku untuk segera berangkat. Saat berjalan menuju mobil, kudengar Riska yang berbisik pada Bundaku.

“Bun.. emang Kakak udah bisa nyetir..?” tanya adikku yang berbisik pada Bundaku dan Bundaku hanya menyuruh Adikku untuk diam saja.

Setelah naik mobil, aku kemudian menjalankan mobil menuju tempat jualan jajanan pasar.

“Kakak sejak kapan udah bisa nyetir..?” tanya Bundaku saat di perjalanan.

“ya udah sebulanan lebih Bun.. di ajari Om Heri..” jawabku.

“oh..” balas Bundaku yang masih kaget karena baru tau kalau aku udah bisa nyetir mobil.

Setelah perjalanan beberapa menit kemudian sampailah kami pada tempat yang berjualan jajanan pasar. Saat Bunda dan Riska sedang sibuk memilih jajanan yang mau dibeli, aku mencuri – curi kesempatan untuk merokok dengan jongkok dan bersembuyi di balik mobil.

‘hufh… akhirnya bisa ngebul juga..” batinku saat menghembuskan asap rokok.

Lagi asik – asiknya menikmati rokokku tiba – tiba Riska muncul berdiri di sampingku.

“ohh… disini rupanya.. cepet bukain bagasi..!” ucap adikku yang terlihat menenteng tas plastik di tangan kanan dan kirinya.

Aku segera membuang rokokku dan bergegas membukakan bagasi. Adikku sebenarnya tau kalau aku sering merokok, dia juga tidak pernah melarangku. Tapi saat kepergok olehnya, dia selalu menjadikannya sebagai senjata untuk meminta ini itu padaku, sebagai gantinya dia tidak mengadu pada Bundaku.

“Dek.. jangan bilang Bunda ya..” ucapku memelas.

“lihat aja nanti..” balasnya tersenyum licik kemudian berlalu pergi ke tempat jualan lagi.

Tak berapa lama Bundaku dan Riska sudah kembali menuju mobil. Setelah menaruh jajanan yang dibeli kemudian kami masuk mobil dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

“kemana lagi Bun..?” tanyaku saat mobil sudah berjalan.

“cari oleh – oleh dulu ya buat orang – orang rumah..” jawab Bundaku.

“Bun..” panggil Riska yang duduk di tengah.

“kenapa Dek..?” balas Bundaku.

Kulirik dari kaca spion tengah terlihat Riska yang tersenyum menggoda. Awas aja kalau sampai dia mengadu ke Bunda kalau aku habis merokok.

“hmm.. gak jadi kok Bun.. hehehe” ucap Riska terkekeh.

Wah… kalau udah begini, pasti ada maunya ini anak.

Setelah sampai di tempat oleh – oleh, Bunda membeli beberapa oleh – oleh yang nantinya dibagikan ke orang – orang rumah. Setelah selesai kami segera pulang ke rumah karena hari sudah semakin gelap.

Setelah habis maghrib tamu – tamu mulai berdatangan, mereka silih berganti untuk mengucapkan selamat dan ingin melihat dedek bayi. Mulai dari tetangga – tetangga yang dekat sampai yang jauh juga. Yang tidak aku sangka, kepala sekolahku pak Saiman juga sempat datang bersama istrinya untuk melihat dedek bayi.

Saat jam menunjukkan sekitar pukul 8 malam, datang rombongan dengan menggunakan beberapa mobil. Setelah melihat siapa saja yang turun, ternyata mereka adalah rombongan dari pasar karena sebagian besar aku mengenalnya.

Kemudian rombongan masuk dan menyalami kami. Aku sempat dikenalkan pada Bu Darmi, ibunya Tante Septi yang ternyata ikut di rombongan tersebut.

“mas Herman..” ucap Mang Karjo yang kemudian menyalami Ayahku.

“wei.. kamu Jo..” balas Ayahku menyalami Mang Karjo.

Terlihat para tukang parkir dan tukang becak di pasar yang bergantian menyalami Ayahku. Yang membuatku heran, ternyata mereka semua kenal sama Ayahku. Terutama Mang Karjo yang terlihat akrab dengan Ayahku.

Hari semakin malam dan para tamu juga terlihat sudah puas bercengkrama dengan keluargaku, sekitar pukul 9 malam para tamu ijin untuk pamit. Bu Darmi sempat disuruh untuk tetap tinggal, tapi beliau menolak karena nanti malah merepotkan kami dan harus mengantarkan pulang, juga karena keterbatasan kamar di rumah ini yang membuat beliau memutuskan untuk ikut pulang bersama rombongan.

“nak.. pagi nanti kamu nganter sayur ke pasar..?” tanya Ayahku saat para tamu sudah pergi.

“hmm.. iya Yah..” jawabku yang agak malu.

“nanti Ayah ikut ya..” balas Ayahku yang membuatku kaget.

“eh.. tapi Yah..” ucapku terpotong.

“udah gak papa… biar Heri dirumah jagain Septi..” balas Ayahku tenang.

Ah.. bukan masalah Om Heri yang mau ikut apa enggak, tapi aku yang malu sama Ayahku. Waktu di rumah aku gak pernah bantu – bantu orang tua, kerjaanku hanya pergi main terus. Pekerjaan Ayahku aja gak pernah aku tengok apalagi bantuin, ini malah sekarang aku mengerjakan pekerjaan Om Heri.

“udah nak gak usah malu.. Ayah senang kok dengan apa yang kamu lakukan..” ucap Ayahku tersenyum.

“iya Yah..” balasku malu.

“ya udah sekarang kita istirahat.. biar nanti gak telat..” ajak Ayahku.

Kemudian aku ke ruang tengah depan tv dan tidur disana bersama Ayahku, karena di rumah ini hanya ada dua kamar. Satu kamar yang sudah dipakai Tante Septi dan kamarku yang dipakai Bunda sama Riska.

***

Pagi harinya jam 3 aku sudah berangkat ke pasar bersama Ayahku. Sampai disana Ayah sempat mau membantuku mengangkat sayuran.

“gak usah Yah.. Ayah tunggu aja disana… gak lama kok ini..” ucapku yang menunjuk warung kopi tempat Mang Karjo duduk.

“ya udah nak.. Ayah tunggu aja disana..” balas Ayahku yang kemudian berjalan menuju warung kopi.

Aku mengantarkan sayuran ke pedagang dengan cepat karena isi muatannya tidak terlalu banyak. Hal itu karena beberapa petani sayur yang masih tetangga dengan Om Heri tidak menyetor sayurannya kemarin sore.

Petani yang dari jauh terlanjur datang menyetor sayuran karena tidak tau kalau istri Om Heri habis lahiran. Om Heri yang tak tega karena sudah jauh – jauh mengantar akhirnya tetap menerimanya.

Aku yang sudah selesai mengantar sayuran kemudian menghampiri Ayahku yang sedang asik mengobrol dengan Mang Karjo.

“udah Yah..” ucapku pada Ayahku.

“oh udah selesai.. ya udah yuk pulang.. kami balik dulu ya Jo..” ucap Ayahku berpamitan.

“iya mas.. hati – hati dijalan..” balas Mang Karjo.

Aku yang kemudian juga pamit pada Mang Karjo bergegas meninggalkan pasar. Saat diperjalanan pulang aku dan Ayahku hanya mengobrol ringan.

“nak.. besok ijin sekolah ya.. besok temani Ayah pergi..” ucap Ayahku di sela obrolan.

“iya Yah..” balasku.

“tumben Ayah nyuruh aku gak masuk sekolah, pasti ada hal penting ini” batinku.

Setelah sampai rumah aku kemudian bergegas ganti pakaian dan memakai sepatu. Karena ini hari minggu, aku tak ingin melewatkan untuk tidak datang ke alun – alun.

“mau kemana Kak..” tanya Riska yang melihatku sedang memakai sepatu.

“ke alun – alun mau olah raga..” jawabku yang agak tergesa – gesa.

“ikut..” balas Riska yang membuatku kaget.

“udah gak usah.. “ jawabku menolaknya karena aku mau ketemu sama Dini disana.

“pokoknya ikut… kalau enggak…” ucap Riska memaksa sambil memainkan alisnya. Aku tau dia mengancamku, kalau tidak diperbolehkan ikut mau melaporkanku pada Bunda karena merokok.

“arghh.. ya udah ayok buruan..” balasku yang akhirnya mengalah.

“hehehe…” tawa adikku yang kemudian masuk ke dalam.

Ah.. lama amat kalau cewek dandan tuh.. bisa – bisa aku kesiangan ini, takutnya gak ketemu Dini nanti disana.

“Dek… lama amat…” teriakku yang udah mulai gak sabaran.

“iya.. iya.. sabar..” balas Riska kemudian menyusulku keluar.

“mau olah raga aja pake dandan segala..” gerutuku yang sudah naik di atas motor.

“yee.. namanya juga cewek.. harus cantik donk..” balasnya yang gak mau kalah.

“udah cepetan naik..” ucapku geram.

“hihihi… Kakak lucu deh kalau lagi cemberut gini..” balas Riska yang kemudian naik memboncengku.

Aku segera memacu motor mengarah ke alun – alun. Aku yang merasa udah kesiangan jadi khawatir kalau Dini menungguku terlalu lama.

Sesampainya disana aku menuju ke tempat biasa aku menunggu dan duduk disana. Setelah menunggu beberapa lama aku mulai merasa gelisah karena tidak terlihat tanda – tanda Dini dan yang lain akan datang. Apa jangan – jangan aku yang kesiangan jadi mereka sudah pulang?

“Kak.. ngapain sih kita disini..?” tanya Riska yang terlihat mulai bosan.

“istirahat bentar..” balasku yang masih menunggu.

“olahraga aja belum kok istirahat.. udah ayok pergi aja..” ucap Riska yang berdiri dan menarik – narikku.

“sabar Dek.. bentar lagi..” balasku yang masih berharap.

“ihh… ayo berdiri gak… kalau gak nanti aku…” ucap Riska terpotong.

“iya.. iya.. dasar tukang ngadu..” balasku yang kemudian berdiri dan mengikuti Riska.

“hihihi..” Riksa yang terkikik sambil menggandeng lenganku.

Riska mengajakku sarapan di warung soto dekat stasiun. Aku yang menyanggupinya karena dia memintanya disertai sedikit ancaman. Aku dan adikku berjalan bersama menuju ke tempat motor terparkir sambil sesekali aku menoleh melihat kebelakang, berharap siapa tau Dini atau yang lain datang. Tapi saat melihat tempat biasa kami bertemu itu kosong, sungguh terasa sedih hati ini.

“maaf Din, mungkin karena aku yang datang kesiangan jadi kamu sudah pulang” batinku sedih.

Aku memacu motorku menuju warung soto yang diminta oleh Riska. Saat sedang makan dengan adikku, aku sedikit terkejut karena melihat seseorang yang aku kenal dan dia melihatku dengan tatapan tajam.

Pov Dini

Hatiku yang senang menyambut minggu pagi yang cerah ini karena aku akan bertemu dengan Riki hanya berdua saja. Monic yang kemarin sempat ku ajak ternyata mau pergi dengan mamahnya, sedangkan Nisa ada acara dengan keluarganya.

Aku pura – pura merasa sedih karena mereka tidak bisa ikut ke alun – alun, padahal dalam hati aku gembira karena bisa berduaan dengan Riki.

Aku pergi ke alun – alun di antar oleh pak Rahmat, sopir keluargaku. Sesampainya disana, aku belum melihat kehadiran Riki di tempat biasa dia menunggu. Akhirnya aku putuskan untuk menunggunya datang dan tetap di dalam mobil.

Setelah menunggu cukup lama, aku melihat Riki yang datang menuju tempat biasa dia menunggu. Tapi yang membuatku jengkel, dia datang tidak sendiri melainkan datang bersama seorang cewek.

Aku jadi makin sebel karena Riki yang datangnya udah kesiangan, ditambah lagi saat mereka jalan pakai gandeng – gandengan tangan. Jujur aku merasa cemburu waktu melihatnya, tapi aku sadar kalau aku bukan siapa – siapanya juga.

Aku yang masih di dalam mobil terus memperhatikan mereka. Riki mungkin tidak sadar kalau aku dari tadi memperhatikannya, karena aku yakin Riki tidak mengenali mobil yang sekarang aku pakai. Mobil yang biasa dipakai untuk mengantarku lagi dipakai sama Kakakku, jadi aku di antar oleh pak Rahmat pakai mobil lain.

Semakin lama aku melihat mereka, aku merasa semakin jengkel, sedih dan kecewa. Sedih karena mereka terlihat akrab dan mesra, kecewa karena ternyata Riki cuma memainkan perasaanku. Kemarin dia bilang nyaman sama aku, sekarang dia jalan sama cewek lain.

“pak.. kita pulang aja..” ucapku pada pak Rahmat dengan kesal.

“kenapa Non? Temennya gak datang ya..?” tanya pak Rahmat heran.

“iya pak.. udah kita pulang aja..” balasku berbohong dan menyuruh pak Rahmat untuk segera jalan.

“baik Non..” balas pak Rahmat yang kemudian menjalankan mobil.

Selama perjalanan aku yang merasa sedih hanya bisa merenung. Aku yang gak pernah dekat sama cowok sekalinya dekat malah dia udah punya pacar. Aku yang sudah terlanjur suka merasa sedih dan kecewa. Tapi aku bisa apa? Mau melabrak cewek itu terus marah – marah sama dia? Emang aku inj siapa, pacarnya aja bukan.

Sampai rumah aku malas mau ngapa – ngapain, akhirnya aku memilih tidur untuk menenangkan diri.

“Din.. Dini..” terdengar suara membangunkanku.

Aku yang membuka mata melihat Nisa yang membangunkanku. Tumben banget Nisa kerumahku, apalagi sendirian.

“eh Nis.. tumben ada apa?” tanyaku yang kemudian bangkit dari tidurku.

“hmm.. duh gimana ya ngomongnya..” balas Nisa yang terlihat bingung.

“Nis.. ada apa?” tanyaku heran. Tumben Nisa sikapnya begini, biasanya dia terlihat tenang.

“aku mau ngomong sesuatu..” ucap Nisa yang masih ragu – ragu.

“ada apa sih Nis.. kok kamu kayak bingung gitu.. ngomong aja gak papa” balasku yang menyuruhnya untuk segera bicara.

“Hufh.. ini tentang Riki Din.. aku tadi lihat dia waktu makan di warung soto dekat stasiun” ucap Nisa yang membuatku kaget.

“aku lihat dia datang sama cewek.. mereka terlihat mesra” sambung Nisa yang menceritakan yang dia lihat.

Aku tidak bisa berkata apa – apa hanya bisa diam. Ternyata yang aku lihat tadi juga dilihat oleh Nisa. Aku yang mendengar apa yang dikatakan Nisa membuatku merasa semakin sedih, mungkin memang benar kalau cewek itu pacarnya Riki.

“terus apa hubungannya denganku..” ucapku yang tidak melihat ke arah Nisa dan pura – pura tidak peduli.

“aku tau kalau kamu suka sama Riki..” balas Nisa kemudian.

“enggak..!!” ucapku bergetar memotong ucapan Nisa dan mataku mulai berkaca – kaca.

“Din..” panggil Nisa yang tidak aku hiraukan.

“Din.. lihat sini..” panggil Nisa yang menarikku menghadap ke arahnya.

Aku yang tidak bisa lagi menahan air mataku yang akhirnya tumpah deras mengalir di pipiku.

“bibir bisa berkata tidak, tapi perasaan tak bisa bohong Din..” ucap Nisa yang kemudian memelukku.

“hiks.. hiks.. hiks..” aku hanya bisa menangis sesenggukan.

Nisa masih memelukku dan mengelus punggungku mencoba menenangkanku. Beberapa saat kemudian aku mulai merasa sedikit tenang.

“kamu benar Nis.. aku suka sama Riki..” ucapku pada Nisa.

“sshhh.. udah Din.. kamu tenangin diri kamu dulu yah..” balas Nisa.

“aku udah terlanjur..” ucapku yang terpotong.

“sshhhh.. besok kita bicarain lagi ya.. sekarang kamu istirahat dulu aja.. tenangin dirimu..” ucap Nisa menenangkanku.

Aku hanya mengangguk kepada Nisa. Setelah itu Nisa pamit untuk pulang. Aku kemudian merebahkan diri dan memikirkan nanti saat bertemu Riki.
Apa yang harus aku lakukan?

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat