Kisah Riki Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 20

Hari Yang Melelahkan​

Perjalanan hidup manusia tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan, untuk menjalani hidup yang kita inginkan tidak hanya sekedar menjalani hidup yang sudah kita terima tanpa adanya perjuangan dalam menghadapinya, banyak tahapan hidup yang akan dan harus kita lalui sebagai proses menuju pendewasaan diri.

Seperti jalan hidupku yang terbilang masih awal tapi sudah terasa berliku, ternyata adalah sebuah proses yang harus aku lalui untuk menghadapi tahapan hidup yang selanjutnya. Susah, senang, sedih, gembira, marah, sabar, cinta, benci, malu dan cemburu adalah perasaan yang pasti akan kita temui dan akan kita rasakan.

Aku mendapat banyak penjelasan setelah berkunjung ke tempat mbah Wongso untuk menceritakan apa saja yang telah aku alami akhir – akhir ini dan mbah Wongso menjelaskan padaku apa saja tahapan hidup yang akan di lalui oleh setiap manusia.

Setiap manusia pada awalnya akan mengalami tahapan yang bernama Maskumambang, tahapan ini adalah tahapan ruh dimana manusia masih mengapung atau kumambang di alam ruh yang kemudian berada di dalam kandungan yang gelap.

Tahapan selanjutnya adalah Mijil yang artinya keluar, ini adalah tahapan bayi dimana kita mulai mengenal kehidupan dunia dan belajar bertahan hidup di alam yang baru. Berikutnya adalah Sinom yang berarti masa muda, masa dimana kita mulai tumbuh dan berkembang untuk mengenal hal – hal yang baru.

Tahapan selanjutnya adalah tahapan yang menentukan nasib dan kelangsungan hidup untuk menghadapi tahapan – tahapan berikutnya. Tahapan itu adalah Kinanthi dan Asmaradhana, Kinanthi adalah masa pencarian jati diri, cita – cita dan makna hidup, sedangkan Asmaradhana adalah masa yang paling susah dan berapi – api dalam pencarian teman dan permasalahan cinta. Bisa dibilang sekarang aku sedang melalui kedua tahapan tersebut dimana aku yang menghadapi permasalahan hidup dan masalah perasaan hati.

Mbah Wongso selalu berpesan padaku untuk selalu ikhlas menjalani dan menghadapi setiap permasalahan yang datang silih berganti, beliau berkata bahwa permasalahan adalah bagian dari proses untuk pembentukan diri dan jalan untuk menuju kedewasaan. Intinya adalah selalu berfikir dengan tenang untuk menentukan perasaan dan mengendalikan nafsu.

Aku menjalani hari – hariku seperti biasa, hubunganku dengan Ratna sudah berjalan dengan baik, walau terkesan lebih banyak diam, tapi aku merasa senang karena dia sudah bisa menjaga sikapnya saat nongkrong bersama – sama. Untuk hubunganku dengan Selly juga tidak ada masalah, kami kadang bertemu saat dia sedang libur dan sedang berada di rumahnya Nisa.

Selly tau kalau aku tidak mau untuk ke kostnya karena aku yang menjaga jarak dengan Ratna. Sedangkan untuk Nisa sikapnya masih seperti biasa, dia juga tidak keberatan saat aku yang datang ke rumahnya hanya untuk menjemput Selly. Satu lagi cewek yang masih menghindariku adalah Monic, dia tidak pernah mau menemuiku saat aku beberapa kali datang ke rumahnya, walaupun begitu aku sudah merasa sedikit lega karena sekarang sikapnya sudah mulai melunak saat melihatku di sekolah, dan nampaknya Monic sudah tidak marah lagi denganku walau belum mau bertemu denganku.

Untuk hubunganku dengan penghuni kost juga berjalan dengan baik, seperti dengan mas Rahmat dan mas Anang yang lebih sering ketemu saat pagi atau malam hari, mas Adit dan mbak Ririn lebih seringnya siang atau sore, dan untuk mas Bagas aku kadang main ke tempat usahanya, tapi kalau di ajak ke club aku selalu menolaknya, selain aku yang malas juga karena aku takut bertemu makhluk setengah jadi semacam Supri Pensil.

Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang ke kost dari rumah mbah Wongso, setelah beberapa hari kemarin aku menginap di tempat Om Heri dalam rangka menikmati liburan semester setelah selesai ujian. Saat pulang dari tempat Om Heri, aku hendak mampir ke tempat bu Asih, tapi karena suaminya sedang pulang, jadi aku memutuskan ke tempat mbah Wongso untuk menceritakan permasalahan dan unek – unekku. Sekarang pikiran dan perasaanku menjadi lebih tenang setelah mendapat pencerahan dan nasehat yang luar biasa dari mbah Wongso.

Setelah sampai kost, aku melihat mbak Ririn yang duduk sendirian di depan kost seperti sedang menikmati sore yang cerah ini.

“kok udah balik Rik..?” tanya mbak Ririn saat melihatku datang.

“iya mbak.. aku gak bawa baju ganti banyak..” balasku ke mbak Ririn.

“oh.. mana oleh – olehnya..?” ucap mbak Ririn tersenyum.

“oleh – olehnya capek mbak.. mau..?” balasku tersenyum.

“huu.. pelit..” ucap mbak Ririn menjulurkan lidah.

“hehehe… sendiri aja mbak..? Mas Adit kemana..?” tanyaku ke mbak Ririn.

“lagi keluar beli makan.. udah kamu mandi dulu sana..” balas mbak Ririn menyuruhku.

“bentarlah mbak.. istirahat dulu..” ucapku sambil duduk di depan kamarku.

“kalau capek tuh mandi dulu terus buat tiduran..” ucap mbak Ririn padaku.

“salah mbak.. kalau capek tuh ya di pijit..” balasku mendebat.

“ya sana pijit aja.. cari tukang pijit..” ucap mbak Ririn kemudian.

“pijitin mbak.. hihihi..” balasku terkekeh.

“mau..?” ucap mbak Ririn melirikku.

“mau..” balasku nyengir.

“beneran..?” ucap mbak Ririn yang terlihat serius.

“hehehe.. enggak mbak becanda aja kok..” balasku tertawa.

“padahal aku mau beneran lho..” ucap mbak Ririn padaku.

“eh.. serius..?” balasku yang kaget.

“iya.. tapi pake kaki..” ucap mbak Ririn cuek.

“lah.. sama aja boong donk..” balasku kesal.

“hihihi..” mbak Ririn tertawa setelah menggodaku.

Tak berapa lama kemudian terlihat mas Adit yang datang mengendarai motornya dan mbak Ririn pamit ke dalam mau menyiapkan alat makan.

“loh Rik.. kamu udah balik..” ucap mas Adit padaku.

“hehe.. iya mas..” balasku ke mas Adit.

“wah.. tau gitu aku beliin sekalian makanmu..” ucap mas Adit kemudian.

“santai aja mas.. aku habis ini mau keluar kok..” balasku menanggapi.

“atau makan bertiga sini..” ucap mas Adit lagi.

“sekalian suap – suapan ya mas..” balasku bercanda.

“hahaha..” kami tertawa bersama.

“ya udah mas.. aku masuk dulu mau mandi..” pamitku ke mas Adit.

“sip..” balas mas Adit yang kemudian juga masuk ke kamarnya.

Setelah masuk ke kamar aku langsung mandi kemudian mengistirahatkan badanku sejenak. Saat aku yang sudah merasa lapar, aku kemudian pergi keluar untuk membeli makan. Aku hanya makan di warung rames tidak jauh dari kost, selain harganya yang murah juga porsinya yang sesuai selera kita, karena nasinya ambil sendiri. Hehehe…

Setelah selesai makan, aku langsung pulang menuju ke kost. Setelah sampai, aku teringat kalau rokokku yang habis, akhirnya aku berjalan ke depan ke tempat warungnya pak Narto.

“pak rokoknya 1 bungkus..” ucapku ke pak Narto.

“weh.. kok cepet Rik pulang kampungnya..” balas pak Narto sambil menyerahkan rokok.

“gak pulang kampung pak.. cuma maen ketempat saudara aja..” ucapku menjelaskan sambil menyerahkan uang rokok.

“oh.. kemarin kata mas Anang kamu pulang kampung..” balas pak Narto kemudian.

“emang tempat saudaraku di desa pak.. bisa dibilang kampung juga..” ucapku saat hendak kembali ke kost.

“ah.. iya.. iya.. kok buru – buru aja Rik, sinilah ngobrol – ngobrol dulu..” ucap pak Narto mengajakku.

“ya udah pak.. sekalian minta teh panasnya..” balasku menyanggupi.

“nah gitu dong.. bentar aku buatin..” ucap pak Narto yang terlihat senang.

Saat sedang menunggu pak Narto membuat minuman, tiba – tiba ada seseorang yang datang.

“pak.. rokoknya dong..” ucap mas Bagas yang kemudian duduk di sebelahku.

“bentar mas.. minum sekalian gak..?” balas pak Narto ke mas Bagas.

“iya.. kopi aja..” ucap mas Bagas meminta.

“tumben mas jam segini udah balik..?” tanyaku ke mas Bagas.

“iya Rik..” balas mas Bagas lesu.

Aku kemudian melihat mas Bagas yang terlihat tidak bersemangat, saat aku perhatikan lagi ternyata ada bekas lebam di wajahnya. Sepertinya mas Bagas habis berantem.

“habis berantem mas..?” tanyaku penasaran.

“iya Rik.. udah kemarin kok..” balas mas Bagas.

“oh.. masalah apa mas..?” tanyaku lagi.

“biasa Rik.. masalah cewek..” balas mas Bagas yang mulai tersenyum.

“oalah.. emang gimana ceritanya..?” tanyaku yang penasaran.

“kemarin kan aku udah dapet cewek Rik, eh tiba – tiba ada yang mau rebut. Aku emang udah tau kalau orang itu suka nyari cewek juga, tapi selama gak ganggu aku sih ya aku cuek – cuek aja. Entah kenapa malam itu dia maksa mau ngajak cewek yang lagi bareng aku, aku yang merasa tidak terima direbut paksa, langsung aku hajar aja dia Rik..” ucap mas Bagas menggebu – gebu.

“terus akhirnya..?” balasku menanggapi.

“waktu kita lagi berantem, kemudian datang dua temannya membantu dan langsung mengeroyokku, aku yang dikeroyok juga gak mau kalah Rik. Tapi sialnya ceweknya malah pergi, akhirnya aku dan orang itu sama – sama gak dapetin itu cewek..” ucap mas Bagas yang bercerita penuh semangat.

“wah.. hebat mas Bagas.. dah ini diminum dulu sambil ngobrol..” ucap pak Narto menyerahkan minuman kami.

“iya pak.. untungnya kami langsung dipisah, kalau enggak udah aku hajar tiga orang itu..” balas mas Bagas dengan bangga.

Aku yang mendengar cerita mas Bagas hanya manggut – manggut saja mengiyakan, tapi entah kenapa aku kok tidak percaya kalau mas Bagas melakukan itu ya..? Ah.. sudahlah ngapain juga aku pikirin, toh itu juga bukan urusanku. Akhirnya kami melanjutkan ngobrol bertiga sampai hampir tengah malam, aku yang melihat pak Narto sudah terlihat mengantuk kemudian balik ke kost bersama mas Bagas. Aku yang juga sudah merasa ngantuk memutuskan untuk langsung tidur.

***

Kring.. kring.. kring..

Kring.. kring.. kring..

Aku terbangun karena ada panggilan masuk di HP ku, aku yang masih ngantuk karena tidur belum lama akhirnya mengangkat telepon dengan malas – malasan.

“halo..” ucapku tanpa melihat siapa yang menelpon.

“haaallloooo…” ucapku lagi dengan agak keras.

“Rik.. tolong..” balas suara cewek dengan nada lemah.

Aku yang tadinya masih merem kemudian membuka mata dan melihat siapa yang menelpon, setelah aku lihat ternyata yang menelponku adalah Selly.

“halo Sel.. halo.. kamu kenapa..?” ucapku yang panik.

“tolong..” balas Selly lemah.

“iya.. iya.. kamu dimana..?” ucapku lagi.

“kamar mandi.. *kletakk..*” balas Selly yang kemudian terdengar HP nya yang jatuh.

“halo Sel.. halo..” ucapku dan sudah tidak ada jawaban.

Aku kemudian melihat jam yang menunjukkan pukul 3 lebih, dan aku menduga kalau Selly masih di tempat kerjanya. Aku yang langsung berganti celana dan mengambil jaketku kemudian langsung pergi ke tempat Selly.

Aku memacu motorku dengan cepat sambil terus mendengarkan suara yang ada di telepon, aku sengaja tidak mematikan panggilan telepon dan menjepitkan HP ku di telinga dan helmku. Aku merasa sangat panik karena mendengar suara Selly yang lemah meminta tolong.

“DUGH.. DUGH.. di dalam sini..!!” terdengar suara seseorang yang memukul pintu.

“DUGH.. DUGH.. woi buka..!!” suara orang berteriak dan pintu yang di dobrak.

Aku yang mendengar itu langsung mempercepat laju motorku, jalanan yang sepi membuatku bebas menerobos setiap lampu merah. Aku sudah tidak peduli ada polisi atau tidak karena yang aku pikirkan hanyalah agar cepat sampai di tempat Selly.

Setelah sampai disana suasana terlihat sudah sepi dan aku langsung mengarahkan motorku menuju pintu samping tempat keluar masuk karyawan. Setelah turun dari motor aku langsung berlari masuk mencari dimana letak kamar mandi.

Sayup – sayup aku mendengar suara orang yang berteriak dan menggedor – gedor pintu, aku langsung berlari menuju ke arah suara tersebut. Sesampainya disana, aku melihat ada dua orang yang sedang berusaha mendobrak pintu. Aku yakin kalau Selly yang ada di dalam karena aku mendengar suara orang yang sama seperti suara yang di telepon.

Cepat – cepat aku mengantongi HP ku dan berlari ke arah dua orang tersebut.

BUGH.. GUBRAKK…

Aku yang berlari kemudian menendang orang pertama hingga membuatnya terlempar dan jatuh.

BUGH.. BUGH.. BUGH.. BUGH..

Kemudian aku memukul orang kedua yang terlihat kaget dengan kedatanganku. Saat orang kedua terkapar dan berusaha untuk bangun, langsung aku tendang wajahnya yang membuatnya tidur terlentang dan tidak bergerak lagi.

Aku kemudian melihat orang pertama yang aku tendang tadi berusaha untuk berdiri, saat mencoba untuk berdiri dia terlihat sempoyongan dan nampaknya dia susah berdiri bukan karena tendanganku, tapi karena dia yang mabuk. Aku yang melihat itu langsung melakukan tendangan berputar yang tepat mengenai kepalanya, orang itu langsung jatuh tersungkur dan diam tidak bergerak.

Aku kemudian berusaha mendobrak pintu kamar mandi, dan nampaknya pintu kamar mandi tersebut memang kuat sehingga susah di jebol. Saat aku yang sedang sibuk membuka pintu kamar mandi, tiba – tiba aku melihat seseorang yang datang membawa sebuah besi.

Sepertinya dia akan membuka pintu kamar mandi dengan besi itu, tapi yang membuatku heran karena orang itu menggunakan seragam yang sama seperti yang dipakai Selly, berarti dia bersekongkol dengan dua orang yang sudah pingsan untuk berbuat jahat kepada Selly.

Aku melihat orang itu terlihat geram melihat dua temannya terkapar, kemudian dia berlari ke arahku dengan mengayunkan besi yang dia bawa. Aku yang sudah bersiap bisa menghindarinya dengan menunduk dan membalasnya dengan memukul dadanya dengan keras.

BUGH.. HUPP.. KLONTANGG…

Pukulanku masuk telak yang membuatnya susah bernafas dan besi yang dibawanya terjatuh. Aku kemudian mengambil besi yang jatuh dan orang tersebut berjalan mundur dengan ketakutan.

“amm.. puunn mas..” ucap orang tersebut yang kemudian berlari pergi.

Aku yang membiarkan orang itu pergi kemudian menggunakan besi yang aku bawa untuk mencongkel pintu kamar mandi. Setelah pintu berhasil dibuka, aku yang masuk ke dalam melihat Selly yang terduduk di lantai dengan bersandar pada tembok dan terlihat HP nya yang jatuh di dekatnya.

Aku langsung mengambil HP Selly dan memasukkan ke dalam tasnya, kemudian aku membopong Selly yang pingsan keluar menuju motorku. Aku dengan hati – hati mendudukkannya di motorku dan aku langsung naik di depannya, aku memposisikan Selly dengan memelukku dan melingkarkan tangannya di perutku.

Aku menjalankan motorku tidak terlalu kencang dengan terus memeganginya agar tidak terjatuh. Sepanjang jalan aku berusaha memanggil – manggil Selly agar dia tersadar.

“Sel.. Selly..” panggilku sepanjang perjalanan.

“hmm..” balasan dari Selly yang aku dengar.

Tiba – tiba aku merasakan tanganku di genggam erat oleh Selly dan..

HUEEKKK…

Selly yang muntah di punggungku dan terkena jaketku.

“Sel.. kamu gak papa..?” tanyaku yang panik.

“maaf..” balasan lemah dari Selly yang memelukku.

Setelah sampai di kostku aku langsung menggendongnya, setelah masuk kamar aku menurunkannya pelan – pelan kemudian merebahkannya di kasurku. Aku kemudian melihat bajunya yang terkena muntahan dan celananya yang basah karena duduk di lantai kamar mandi. Aku kemudian bergegas mengambil kaos dan celanaku dari lemari.

“maaf Sel..” ucapku sambil membuka bajunya pelan – pelan.

Kemudian aku juga melepas celananya yang basah, saat aku yang tidak sengaja memegang bokongnya, ternyata celana dalamnya juga basah. Akhirnya dengan terpaksa aku melepas celana dalamnya juga dan hanya menyisakan bra saja. Setelah itu aku langsung buru – buru memakaikan kaos dan celana pendek yang sudah aku ambil tadi.

Tidak ada rasa nafsu atau pun terangsang saat aku menelanjangi dan melihat tubuh Selly, yang ada di pikiranku hanyalah perasaan khawatir dengan apa yang terjadi padanya. Aku yang panik kemudian membuat teh hangat agar Selly lebih enakan.

“Sel.. ini diminum dulu..” ucapku sambil memposisikannya lebih tinggi.

HUEEKK… HUEEKK..

Bukannya lebih enakan malah Selly muntah lagi, dan kali ini muntahnya air dan lebih banyak.

“aduh.. aduh..” ucapku yang panik karena melihat Selly yang muntah.

Aku bergegas mengambil handuk untuk membersihkan muntahan, aku melihat kaos Selly yang jadi basah terkena muntahan dan aku langsung mengambil lagi kaos yang masih kering.

“maaf Sel..” ucapku sambil melepas kaos Selly.

Saat aku melihat branya yang juga basah, mau tak mau aku juga harus melepaskannya. Setelah aku melepaskan bra Selly, aku memakaikannya kaos lagi. Aku yang bingung kemudian keluar kamar menuju kamar mas Adit.

“tok.. tok.. tok..”

“tok.. tok.. tok.. mas..” panggilku mengetuk pintu.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan terlihat mas Adit yang muncul.

“astaga..!!” teriakku yang kaget.

“apaan Rik..” ucap mas Adit yang terlihat baru bangun tidur.

“kenapa gak pakai celana dulu mas..!!” balasku yang melihat mas Adit bugil.

“kelamaan.. ada apaan sih..” ucap mas Adit terlihat kesal.

“itu.. ee.. kalau orang habis mabuk, biar sadar dikasih apa mas..” tanyaku yang bingung.

“oalah.. kasih susu beruang..” balas mas Adit sambil garuk – garuk peler.

“anjing..!! Gak usah garuk – garuk juga kale mas..!!” ucapku kesal.

“hehe.. kayak gak pernah liat aja kamu..” balas mas Adit cengengesan.

Aku yang kembali masuk ke kamarku melihat Selly yang merintih.

“Sel.. kamu kenapa..?” tanyaku yang panik.

“kepalaku pusing..” balas Selly lemah.

“sebentar ya..” ucapku sambil menyelimutinya.

Aku kemudian bergegas pergi ke minimarket untuk membeli susu beruang seperti yang dikatakan oleh mas Adit tadi. Karena hari masih pagi, hanya minimarket 24 jam yang buka jam segini, dan jaraknya dari kost juga agak lumayan jauh.

Setelah aku menemukan dan membeli yang aku cari, kemudian aku bergegas untuk kembali ke kost. Sesampainya di kost, aku melihat pintu kamarku yang terbuka dan saat aku masuk, aku melihat mbak Ririn yang sedang memijit kepala dan tengkuk Selly.

“loh mbak..” ucapku yang kaget.

“dari mana kamu..?” tanya mbak Ririn setelah melihatku datang.

“beli ini mbak..” balasku sambil mengeluarkan susu beruang dari dalam tas plastik.

“ngapain kamu beli itu..!!” ucap mbak Ririn gemas.

“tadi kata mas Adit suruh beli ini..” balasku bingung.

“dia ini pusing bukan karena mabuk, tapi karena kena obat..!!” ucap mbak Ririn kesal.

“lah terus gimana mbak..” balasku yang bingung.

“sekarang kamu cari air kelapa muda..!!” ucap mbak Ririn menyuruhku.

“jam segini cari dimana..” balasku bingung.

“terserah..!! Cepat sana pergi..!!” bentak mbak Ririn padaku.

“iya.. iya..” balasku menurut.

Aku kemudian pergi lagi dengan motorku untuk mencari air kelapa muda, tapi aku bingung kalau jam segini carinya dimana..? Orang yang jual es kelapa muda kalau pagi – pagi gini mana ada yang buka. Akhirnya aku teringat kalau ada yang jual kelapa muda yang masih utuh di pasar. Aku langsung memacu motorku menuju ke pasar terdekat.

Sesampainya disana aku langsung mencari tempat orang yang jual kelapa muda. Setelah sempat bertanya, tak lama kemudian aku sudah menemukannya.

“pak.. beli satu..” ucapku kepada penjual kelapa muda.

“ya udah kamu pilih aja yang mana..” balas penjual.

“bisa dibukain sekalian gak..?” tanyaku ke penjual.

“wah gak bisa..” balas penjual yang sedang sibuk menata barang dagangannya.

Aku kemudian pergi ke tempat orang jual sayuran dan meminta plastik yang agak besar, setelah diberi kemudian aku kembali ke tempat penjual kelapa muda tadi.

“pak pinjam parangnya..” ucapku kepada penjual kelapa muda.

“loh.. beneran mau kamu buka..?” balas penjual yang heran.

“iya.. sini cepat pinjam..” ucapku yang gemas.

“nih..” balas penjual menyarahkan parangnya.

Aku kemudian membuka kelapa muda tersebut dan hanya memindahkan airnya ke plastik. Setelah membayar aku kemudian pergi untuk mengambil motorku. Saat aku melewati orang yang berjualan bubur, aku kemudian membelinya untuk sarapan.

Saat sampai di kost, aku bertemu dengan mbak Ririn yang sudah bersiap berangkat kerja dengan di antar oleh mas Adit.

“gimana Rik..? Dapet..?” tanya mbak Ririn padaku.

“dapet mbak.. di pasar..” balasku ke mbak Ririn.

“ya udah kamu minumkan biar cepet sembuh..” ucap mbak Ririn menyuruhku.

“iya mbak.. makasih..” balasku yang kemudian masuk ke kamar.

Aku melihat Selly yang tiduran dengan mata terpejam, setelah memindahkan air kelapa muda ke gelas, aku kemudian menyuapi Selly.

“Sel.. ini di minum dulu..” ucapku menyuapinya.

“sekarang makan ya..” ucapku lagi dan Selly hanya mengangguk.

Aku kemudian menyuapi Selly bubur yang aku beli di pasar tadi, Selly mau memakannya walau harus pelan – pelan. Setelah habis beberapa suap.

“udah Rik.. aku mual..” ucap Selly menolak.

“ya udah.. ini diminum lagi ya..” balasku menyuapi air kelapa muda.

“aku pusing..” ucap Selly setelah meminum sedikit.

“ya udah kamu bobo aja..” balasku dan Selly hanya mengangguk.

Setelah Selly tertidur, aku kemudian menghabiskan sisa bubur dan memakan bubur yang aku beli untukku. Setelah habis, aku ke depan kamar untuk merokok dan beristirahat sejenak.

Aku masih tidak menyangka dengan apa yang aku lakukan, seumur – umur aku belum pernah merasa sangat khawatir dan memperlakukan wanita seperti itu. Aku merasa tergerak secara naluri untuk melindungi dan memberikan kasih sayang kepada seorang wanita. Aku merasa senang bisa merawat Selly dan aku merasa jadi orang yang berguna karena aku melakukannya dengan tulus.

Setelah menghabiskan rokokku, aku merasa lelah dan ngantuk karena semalam aku yang kurang tidur. Akhirnya aku masuk ke dalam dan merebahkan diri untuk tidur.

***

Aku terbangun karena merasakan ada seseorang yang membelai pipiku, saat aku membuka mata aku melihat Selly yang sedang duduk disampingku sambil menatapku tersenyum dengan manisnya. Aku melihat wajahnya juga sudah cerah dan sepertinya dia juga habis mandi.

“kamu udah bangun Sel..” ucapku yang kaget.

“kamu yang tidurnya pules banget..” balas Selly tersenyum.

“maaf Sel..” ucapku sambil duduk menghadapnya.

Aku melihat Selly yang masih menatapku dalam sambil tersenyum dan aku yang terus di tatap lama – lama merasa grogi juga.

“Sel.. kok liatnya gitu amat..” ucapku yang merasa grogi.

“kenapa kamu baik banget sama aku..” ucap Selly padaku.

“jujur aku belum pernah diperlakukan seperti ini..” lanjut Selly yang masih menatapku.

“emm..” balasku yang bingung.

“benar yang dikatakan Nisa kalau kamu memang berbeda, kamu tidak seperti laki – laki lainnya yang mendekati seorang wanita hanya untuk memanfaatkan tubuhnya. Kamu bisa saja menjamahku disaat aku sedang tidak berdaya, tapi yang kamu lakukan malah sebaliknya, kamu merawatku dengan penuh kasih sayang dan aku merasa dihargai sebagai seorang wanita..” ucap Selly yang membuatku terdiam.

“kenapa kamu mau melakukan itu Rik..?” lanjut Selly bertanya.

“emm.. karena.. aku..” balasku yang bingung mau berkata apa.

“sstt.. tidak perlu kamu jawab..” ucap Selly yang kemudian beranjak dan duduk di pangkuanku.

“aku sudah mendapat jawaban dari perhatian yang kamu berikan padaku..” lanjut Selly yang langsung menciumku.

Selly yang duduk di pangkuanku menciumku dengan lembut dan penuh perasaan, aku yang membalas ciuman Selly juga merasakan kalau ciuman ini adalah ciuman yang tulus dan penuh perasaan. Aku dan Selly menikmati ciuman cukup lama yang membuatku lupa diri.

“uhh..” ucap Selly melepaskan ciumannya.

Aku melihat Selly yang mendesah dan terlihat sangat menikmati.

“nakal..” ucap Selly manja sambil tersenyum.

Aku kemudian tersadar kalau tangan kananku ternyata sedang meraba dada Selly, walau masih terhalang oleh kaos tetap masih terasa empuk dan kenyal karena di dalamnya Selly tidak menggunakan bra.

“maaf Sel..” ucapku yang tersadar dan buru – buru melepaskan rabaanku.

“aku tidak keberatan kamu melakukan itu..” balas Selly tersenyum manis.

“berarti aku sama saja dengan laki – laki lainnya..” ucapku menatap Selly.

“kamu tetap berbeda karena aku yang menginginkannya..” balas Selly yang kemudian menciumku lagi.

Aku membalas ciuman Selly yang terasa semakin memanas dan aku sudah tidak ragu lagi meraba dadanya. Aku sangat menikmati percumbuan ini dan nampaknya Selly merasakan hal yang sama. Kemudian aku merebahkannya di atas kasur sambil terus menciumnya.

Saat aku akan menarik kaosnya, aku melihat Selly untuk menunggu persetujuan, dan Selly yang paham kemudian mengangguk tanda setuju. Saat aku sudah melepas kaos Selly, aku melihat payudaranya yang indah terpampang dengan jelas. Walau bukan yang pertama kali aku melihatnya, tapi jelas berbeda perasaan yang timbul karena situasi dan kondisinya juga berbeda.

Aku kemudian menciumi dan meraba dada Selly dengan lembut, Selly nampaknya menikmati rangsangan yang aku berikan padanya sampai dia mendesah.

“uhh.. uhh..” desahnya sambil memegang kepalaku.

Aku yang mendengar semakin bersemangat untuk mengulum dan menghisap – hisap putingnya. Kemudian Selly menarik kaosku ke atas dan melepaskannya, aku kemudian melepaskan celanaku dan celana Selly juga sehingga kami sudah sama – sama telanjang bulat.

Aku kemudian menindih dan mencium bibir Selly yang terasa lembut, saat aku akan meraba memeknya tiba – tiba Selly menahan tanganku.

“jangan..” ucap Selly melepas ciuman.

Aku kemudian menatap wajah Selly terlihat sudah terangsang.

“jangan pakai tangan..” lanjut Selly sayu.

Aku hanya mengangguk dan memposisikan diri di selangkangannya. Sebenarnya aku meraba memek Selly hanya untuk memastikan sudah basah apa belum, dan saat aku yang menggesekkan kepala penisku ke bibir memeknya hanya terlihat ada sedikit pelumas yang keluar.

“kamu yakin..?” tanyaku meyakinkan dan Selly hanya mengangguk.

Aku kemudian mencoba mendorong pelan kontolku ke memek Selly yang sempit dan belum begitu basah, saat aku melihat wajahnya terlihat Selly yang menggigit bibir bawahnya dan terlihat raut wajah menahan sakit.

Aku kemudian menghentikannya sambil terus menatap Selly, Selly yang sadar kalau aku berhenti kemudian menatapku dengan heran.

“kenapa..?” tanya Selly heran dan aku hanya menggelengkan kepala.

Aku kemudian langsung turun ke bawah dan langsung menjilati memek Selly.

“Rik.. Rik.. ahhh…” ucap Selly yang bingung saat aku malah ke bawah dan mendesah saat mulutku mencium memeknya.

“uhh.. ahh.. ihh..” suara desah Selly saat aku menggarap memeknya.

“Rikk.. gelii.. ahh.. enakk.. Rikk..” racau Selly yang belingsatan.

“udah Rik.. udah.. ahh.. pipiss.. aku mau pipis..” ucap Selly yang semakin tidak karuan.

Aku yang mendengar itu makin mempercepat jilatanku dan menghisapnya dengan kuat.

CRET.. CRET.. CRET..

“ahhhh…” desah panjang bersamaan dengan keluarnya cairan kenikmatan.

Terlihat kepalanya yang menengadah dan pinggangnya yang di angkat saat merasakan orgasme, saat pinggangnya sudah turun terlihat Selly yang tergolek lemas dan terlihat sedang mengatur nafas. Aku kemudian naik lagi ke atas dan melihat wajahnya yang terlihat capek.

“apa itu tadi Rik..” ucap Selly yang terlihat lemas.

Aku yang mendengar ucapan Selly hanya tersenyum karena aku bingung antara senang bisa membuatnya puas dan bertanya – tanya maksud ucapannya itu.

Aku membelai wajah Selly dengan lembut hingga beberapa saat kemudian aku melihat Selly yang sudah terlihat tenang.

“Rik lanjutkan pakai itumu..” ucap Selly padaku dan aku hanya mengangguk.

Kemudian aku memposisikan lagi ke arah selangkangannya, dan kali ini terlihat memeknya yang sudah basah. Saat aku mendorong kontolku pelan terlihat Selly yang terlihat menahan dan sepertinya dia belum siap. Aku kemudian menindihnya sambil menciumnya agar Selly tidak tegang.

“emh..” terdengar suara saat kami berciuman dan aku yang mendorong kontolku pelan.

Terasa sempit untuk masuk walau memek Selly sudah basah. Saat kepala kontolku sudah masuk, terasa mengganjal dan seret, aku kemudian mendorongnya lebih keras dan akhirnya masuk.

“aakkkhhh…” teriak Selly melepaskan ciuman.

Aku yang kaget kemudian melihat Selly yang terlihat menahan sakit, saat aku melihat ke bawah aku menjadi lebih kaget dengan apa yang aku lihat.

“darah..” batinku terkejut.

“ka.. kamu.. masih perawan Sel..?” ucapku tergagap.

Selly hanya mengangguk dan terlihat air matanya yang keluar.

“sebentar Rik..” ucap Selly yang masih menahan sakit.

Disini aku menjadi dilema antara enak karena kontolku yang diremas – remas memek Selly dan merasa bersalah karena baru saja memecah perawan seorang gadis. Dari sini aku baru sadar kenapa Selly yang bingung setelah aku oral sampai mendapatkan orgasme dan dia yang terlihat tegang saat kontolku yang akan masuk. Walau aku sudah pernah berhubungan badan, tapi ini adalah pengalaman pertamaku berhubungan dengan perawan, dan nampaknya aku harus lebih tenang untuk bisa membawa suasana karena pastinya ini adalah yang pertama bagi Selly.

“Rik..” panggil Selly yang sudah terlihat tenang.

“aku goyang ya..” ucapku tersenyum.

“pelan – pelan..” balas Selly megangguk.

Aku kemudian memompa kontolku dengan pelan dan terlihat Selly yang sedikit menahan sakit, aku terus memompanya dengan pelan hingga terlihat Selly yang sudah merasa nyaman.

“uhh..” desah Selly memejamkan mata.

Sungguh pemandangan yang menggairahkan, Selly terlihat sangat cantik saat dia menikmati setiap sodokan kontolku. Beberapa menit kemudian, terasa memek Selly yang berkedut dan mencengkram kuat.

“Rik.. aduh.. aku.. mau pipis.. lagi..” ucap Selly yang merasakan nikmat.

Aku terus memompanya dengan agak cepat, terlihat nafas Selly yang memburu sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. Hingga kemudian tangannya yang mencengkram lenganku dengan kuat.

CRETT.. CRETT.. CRETT..

“ahhh…” lenguhan panjang Selly saat mencapai orgasme keduanya.

Aku melihat Selly terkulai lemas mengatur nafasnya, hingga beberapa menit kemudian Selly sudah kembali tenang.

“Rik.. udah.. perih..” ucap Selly mengiba.

Aku yang melihat itu menjadi kasihan walaupun aku merasa kentang karena belum keluar, akhirnya aku mencabut kontolku dan mengambil handuk untuk membersihkan bercak di selangkangan Selly, kemudian aku ke kamar mandi dan membersihkan kontolku.

Saat aku keluar dari kamar mandi dan akan memakai celanaku, Selly menahannya.

“jangan Rik..” ucap Selly menahanku.

“kenapa..?” tanyaku yang bingung.

“kamu kan belum keluar..” ucap Selly yang merasa bersalah.

“udah gak papa..” balasku tersenyum.

“tapi.. aku bisa bantu pakai tangan kok..” ucap Selly tersenyum.

“emang kamu udah pernah..?” tanyaku ke Selly dan dia menggelengkan kepala.

“ajari aku..” ucap Selly malu – malu.

Aku yang masih nanggung akhirnya mau juga, walau cuma pakai tangan juga tak masalah dari pada hasratku tidak tuntas. Aku kemudian duduk di sebelah Selly dan memposisikan tangan Selly.

“kamu pegang terus kamu kocok naik turun..” ucapku ke Selly.

Selly yang terlihat masih kaku kemudian memegang kontolku dan mengocoknya. Mungkin karena baru pertama, Selly menggenggam dengan kuat dan langsung mengocoknya dengan cepat. Aku yang dikocok bukan merasakan nikmat tapi sakit, apalagi tidak ada pelicinnya.

“aduh.. aduh.. sakit Sel..” ucapku yang mengaduh.

“eh.. maaf.. aku gak tau..” balas Selly yang panik.

“pegangnya yang lembut.. terus kamu kocok pelan – pelan Sel..” ucapku mengajarinya.

“ah.. iya..” balas Selly yang menurut.

Kemudian kontolku diperlakukan dengan lembut dan dikocok dengan pelan, walau gerakannya masih kaku tapi aku sudah mulai merasakan nikmat.

“enak ya..?” ucap Selly yang melihat ekspresiku.

“iya.. apalagi kalau ada pelicinnya..” balasku menikmati.

Selly terus mengocok kontolku dengan lembut, sampai beberapa menit kemudian gerakannya mulai tidak beraturan.

“masih lama ya..?” ucap Selly padaku.

“kamu capek..?” balasku bertanya dan dia mengangguk.

“hufh.. ya udah..” ucapku kemudian Selly menghentikan kocokannya.

Saat aku hendak berdiri, Selly terlihat bingung.

“kamu mau kemana..?” tanya Selly heran.

“mau aku keluarin sendiri..” balasku ke Selly.

“sebentar..” ucap Selly menahanku.

Terlihat Selly yang sedang berfikir, aku yang melihatnya jadi heran. Udah kentang, pakai tangan juga gak keluar, mau aku keluarin sendiri malah ditahan.

“kenapa..?” tanyaku heran.

“hmm.. kalau pakai mulut gimana..” ucap Selly yang mengagetkanku.

“kamu mau coba..?” balasku ke Selly.

“aku belum pernah..” ucap Selly malu – malu.

“ya udah gak usah..” balasku yang mulai jengkel karena gak keluar – keluar.

“ihhh…” Selly gemas yang menahanku saat hendak berdiri.

“kamu jangan marah dong.. aku kan belum pernah..” ucap Selly tersenyum menatapku.

“hufhh… maaf..” balasku menghela nafas.

Kemudian Selly menciumku dengan lembut dan melepaskannya sambil tersenyum.

“aku coba ya..” ucap Selly kemudian dan aku hanya mengangguk.

Selly kemudian turun ke bawah dan memegang kontolku, terlihat dia yang masih ragu hanya melihatnya saja. Kemudian Selly mencoba untuk menjilat kepala kontolku dan beberapa saat kemudian dia mulai mengulumnya. Tak berselang lama dia mulai terbiasa dan mulai menaik turunkan kepalanya untuk mengocok kontolku dengan mulutnya. Hal yang tidak aku duga karena kontolku juga serasa dihisap – hisap oleh Selly, bagiku ini terasa sangat nikmat dan saat Selly melakukannya terlihat sudah ahli, bukan seperti baru pertama kali.

“ahh..” desahku yang menikmati kuluman Selly.

Aku yang merasa nikmat tidak hanya diam karena aku juga sambil meremas – remas dada Selly. Selly yang aku mainkan dadanya menjadi tambah semangat saat mengulumku. Hingga beberapa menit kemudian aku merasa akan keluar.

“Sel.. aku mau keluar..” ucapku yang sudah tidak tahan lagi.

Selly yang mendengar ucapanku malah mempercepat kulumannya dan menghisapnya dengan kuat. Aku yang sudah tidak kuat lagi akhirnya…

CROTT.. CROTT.. CROTT..

“ahhh…” desahku saat maniku keluar di mulut Selly.

Saat aku melihat Selly terlihat dia yang masih menahan kontolku di mulutnya dan menghisapnya dengan mata berkaca – kaca. Saat Selly melepaskannya terlihat dia yang mual dan mau muntah, dan hal yang tidak aku duga kemudian dia mencoba menelan spermaku. Aku jadi tidak tega melihat dia yang seperti memaksa menelan spermaku.

“jangan dipaksa kalau tidak bisa..” ucapku sambil memberinya botol air mineral.

Setelah Selly meminum air yang aku berikan kemudian dia tersenyum padaku.

“kamu aja bisa masak aku gak bisa..” balasnya tersenyum.

“kamu gak menyesal kan..?” ucap Selly yang membuatku mengerutkan dahi.

“harusnya kan aku yang tanya gitu..” balasku heran.

“bukan masalah perawanku Rik.. tapi apa kamu puas..?” tanya Selly ragu.

“kamu sendiri puas gak..?” balasku bertanya dan Selly mengangguk malu.

“berarti aku juga puas..” ucapku tersenyum dan Selly kemudian memelukku.

Disaat aku dan Selly yang masih sama – sama bugil sedang menikmati pelukan, tiba – tiba ada yang mengagetkan kami.

“glekk.. glek.. tok.. tok.. tok.. Rik..!!” teriak mbak Ririn di depan kamar.

“tok.. tok.. tok.. Rik.. tumben dikunci..!!” ucap mbak Ririn lagi.

“bentar..!!” balasku yang mencari celana.

Aku dan Selly sama – sama panik karena tiba – tiba ada yang mengetuk pintu, aku kemudian menuju ke pintu dan Selly yang berlari masuk kamar mandi.

“kenapa mbak..?” tanyaku setelah membuka pintu sedikit.

“tumben pintu di kunci..” balas mbak Ririn yang mendorong pintu dan masuk.

“ups..” ucap mbak Ririn yang kaget melihat kamarku berantakan.

Aku yang tidak sempat membereskannya sedikit malu karena terlihat baju yang berserakan dan sprei yang kusut tergulung.

“ohh.. temanmu belum pulang toh.. hihihi..” ucap mbak Ririn menyindir.

“ada apa sih mbak..?” tanyaku ke mbak Ririn.

“aduh.. aku jadi lupa mau apa ya..” ucap mbak Ririn yang kemudian keluar kamar.

Aku hanya bisa menggeleng kepala karena kedatangan mbak Ririn yang gak jelas. Setelah menutup pintu, kemudian aku menyusul ke kamar mandi dan melihat Selly yang menahan tawa.

“kamu gak usah ketawa..” ucapku ke Selly dan langsung memeluknya.

“hihihi..” Selly yang tertawa geli melihat aku yang malu ketahuan mbak Ririn.

Aku dan Selly kemudian mandi bareng sambil bermesraan, kami hanya berciuman dan saling meraba. Selly menolak untuk main lagi karena katanya masih perih, dan akhirnya aku crot sekali lagi setelah dikocok Selly pakai sabun.

Setelah selesai mandi, aku kemudian menemui mbak Ririn untuk meminjam pakaian ganti untuk Selly. Setelah berpakaian, aku dan Selly kemudian pergi untuk makan diluar.

Sambil makan, Selly kemudian bercerita tentang kejadian yang di alaminya. Semua berawal dari teman kerjanya yang bernama Wisnu, Selly bercerita kalau Wisnu itu adalah karyawan yang masih baru dan dia juga masih kuliah. Wisnu sering di datangi oleh teman – temannya, dan teman – teman Wisnu juga tak jarang membuat onar. Selly pernah melihat mas Bagas yang dikeroyok oleh teman – temannya Wisnu gara – gara rebutan cewek sampai mas Bagas yang ampun – ampun karena dipukuli.

“dan malam itu saat selesai kerja, Wisnu memberiku sebotol air mineral. Aku yang haus tanpa pikir panjang langsung meminumnya. Setelah minum sedikit, aku merasakan kalau rasanya aneh dan aku jadi sedikit pusing. Aku yang merasa ada yang tidak beres buru – buru mengambil tasku dan segera pergi. Saat aku sampai di depan kamar mandi, aku sudah tidak kuat dan langsung masuk ke dalam dan menguncinya. Setelah menelponmu aku merasa tidak kuat lagi sampai ambruk dan tiba – tiba aku udah gak sadar..” ucap Selly bercerita.

Aku hanya terdiam mendengarkan cerita dari Selly. Aku tidak bisa membayangkan kalau saja aku telat datang pasti mereka sudah membawa Selly. Dan aku sekarang juga tau kalau ternyata mas Bagas yang dipukuli dan bukan yang memukuli.

“makasih Rik.. aku gak tau gimana kalau kamu tidak datang menolongku, pasti aku sudah..” ucap Selly tertahan.

“ssttt… sudah Sel.. yang penting kamu gak papa..” sahutku memotong Selly.

“terus sekarang apa rencanamu..?” tanyaku ke Selly.

“besok aku akan menemui pihak manajemen untuk melaporkan kasus ini..” balas Selly geram.

“besok aku antar..” ucapku dan Selly mengangguk.

Setelah selesai makan, aku mengantar Selly ke kostnya untuk mengambil pakaian ganti karena Selly yang mau menginap lagi di kostku. Aku hanya mengantar Selly di depan karena kalau masuk takutnya nanti malah ketemu Ratna. Setelah mengambil pakaian, aku dan Selly kemudian menuju ke kostku untuk istirahat. Kami yang sudah sama – sama capek akhirnya memutuskan untuk tidur bersama.

***

Pagi harinya aku terbangun karena merasakan kontolku yang ngaceng tertindih sesuatu, saat aku melihatnya ternyata kaki Selly yang menindihnya karena Selly yang tidur memelukku. Saat aku mencoba bergeser ternyata malah membuat Selly bangun.

“pagi..” ucap Selly dengan tersenyum.

“pagi.. maaf kamu jadi bangun..” balasku tersenyum.

“kan emang udah waktunya.. eh..” ucap Selly yang kaget saat tangannya tanpa sengaja menyentuh tonjolan di celanaku.

“kok yang bawah juga bangun..” ucap Selly yang malah mengelus – elus dari luar celana.

“pagi – pagi kan emang bangun..” balasku tersenyum.

“oh.. gitu ya..” ucap Selly yang sepertinya baru tau.

“Sel..” panggilku karena Selly yang terus mengelus kontolku.

“hihihi.. aku pengen lagi Rik..” balas Selly tersenyum.

Aku dan Selly kembali mengulang pergumulan kami di pagi hari ini, Selly terlihat sangat bersemangat dan lebih bergairah. Banyak gaya yang kami coba dan kami sama – sama menikmatinya, sampai pada posisi doggy yang menurut Selly adalah favoritnya, Selly sangat menikmati setiap sodokanku hingga aku yang harus menutup mulutnya karena Selly yang berteriak kenikmatan.

Setelah selesai memadu kasih, aku dan Selly kemudian mandi bersama dan bersiap untuk pergi. Aku yang keluar duluan saat menunggu Selly berdandan dikejutkan oleh mas Bagas yang berada di depan kamarnya.

“loh mas.. tumben udah bangun..” ucapku yang kaget saat melihat mas Bagas.

“iya.. nungguin kamu..” balas mas Bagas yang membuatku heran.

“emang ada perlu apa mas..?” tanyaku penasaran.

“mau liat cewekmu Rik.. tumben – tumbenan kamu bawa cewek ke kost, bolehlah aku di kenalin..” balas mas Bagas dengan memainkan alisnya.

Saat aku akan menjawab, tiba – tiba Selly keluar menyusulku karena sudah selesai berdandan.

“Selly..” ucap mas Bagas yang kaget saat melihat Selly yang keluar dari kamarku.

“iya mas ini Selly..” balasku tersenyum sambil melihat mas Bagas yang bengong seperti tidak percaya.

“ngapain kamu liat – liat..!!” bentak Selly yang membuat aku dan mas Bagas kaget.

“eh.. enggak kok Sel..” balas mas Bagas nyengir.

Aku kaget melihat Selly yang tiba – tiba berubah galak, dan saat aku melihat mas Bagas yang masih kaget terlihat salah tingkah saat bertemu Selly.

“kok kalian bisa..” ucap mas Bagas yang penasaran.

“kenapa..!! Belum kapok ya kamu yang dipukulin sampai ampun – ampun gara – gara rebutan cewek..!!” bentak Selly yang langsung membuat mas Bagas menciut.

Aku kasihan melihat mas Bagas yang hanya bisa garuk – garuk kepala menahan malu, dan aku masih tak menyangka Selly tega mempermalukan mas Bagas seperti itu.

“gak papa mas.. aku kalau dikeroyok juga minta tolong kok..” ucapku menengahi agar mas Bagas tidak terlalu malu.

Setelah itu aku pamit ke mas Bagas untuk pergi dulu. Aku melihat Selly yang masih bersikap acuh kepada mas Bagas seperti sangat geram. Aku kemudian mengajak Selly untuk mampir sarapan dulu.

“Sel.. kok kamu gitu banget ke mas Bagas..” ucapku saat kami sedang sarapan.

“habisnya aku sebel liat dia yang sok kegantengan..” balas Selly yang terlihat jengkel.

“tapi ya gak harus kamu permalukan seperti itu..” ucapku lagi.

“maaf Rik.. aku gak suka aja lihat dia yang suka mainin cewek..” balas Selly kesal.

“boleh kamu gak sudah sama kelakuannya, tapi jangan kamu benci juga orangnya. Sebenernya mas Bagas itu orangnya baik kok..” ucapku ke Selly.

“jadi kamu lebih belain si Kampret dari pada aku..” balas Selly ketus.

“eh.. ya gak gitu juga sih.. aduh kok malah aku sih yang di salahin..” ucapku yang bingung.

“hihihi… enggak sayang.. aku gak benci kok, aku cuma mau ngasih dia pelajaran..” balas Selly tersenyum.

Hah..? Sayang..? Selly manggil aku sayang..? Aduh.. pikiranku yang tadinya sudah mulai tenang kini mulai bergemuruh lagi. Belum selesai masalah hatiku dengan yang lain sudah bertambah lagi, dan yang jelas bikin kepalaku cekot – cekot.

Setelah selesai sarapan aku langsung mengantar Selly di sebuah hotel di samping tempat kerjanya, ternyata hotel dan club tempat Selly bekerja itu satu manajemen dan kantornya berada di hotel tersebut.

Setelah cukup lama menunggu di lobby hotel, aku melihat Selly yang keluar dari lift dan berjalan menuju ke arahku.

“gimana Sel..?” tanyaku penasaran.

“udah selesai kok..” balas Selly tersenyum.

“hasilnya..?” tanyaku lagi.

“aku berhenti kerja Rik..” balasnya yang membuatku kaget.

“hah..? Kok bisa..?” tanyaku yang penasaran.

“udah yuk kita pergi dulu..” balas Selly mengajakku pergi.

Di perjalanan Selly bercerita kalau tadi melaporkan kejadian yang di alaminya pada pihak manajemen. Pihak manajemen menerima dengan baik laporan itu tapi tidak bisa memprosesnya, karena Wisnu yang sudah berhenti bekerja dan sudah bukan tanggung jawab pihak manajemen lagi.

Selly yang merasa dirugikan dan merasa pihak manajemen seolah lepas tangan karena tidak mau melanjutkan kasus ini akhirnya memilih untuk keluar dan berhenti bekerja. Dia merasa itu adalah keputusan yang tepat karena merasa sudah tidak nyaman lagi bekerja di tempat itu.

Aku yang mendengar cerita Selly juga ikut geram karena dengan melepaskan pelaku begitu saja, pasti mereka akan mengulanginya lagi karena tidak ada efek jera. Aku hanya meminta Selly bersabar dan ikhlas menerima semuanya, dan tidak larut serta melupakan permasalahan ini.

Aku kemudian memacu motorku menuju ke rumah Nisa karena Selly yang minta untuk di antarkan kesana. Setelah sampai disana tak lama kemudian terlihat Nisa yang keluar dan menghampiri aku dan Selly. Aku kemudian pamit kepada Selly dan Nisa untuk kembali ke kost. Aku seperti menjalani hari yang melelahkan setelah sebelumnya aku yang kurang tidur dan seharian kemarin bersama dengan Selly hingga bobo bareng. Sekarang aku mau beristirahat untuk memulihkan tenagaku dan bersiap menatap hari esok.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat