Kisah Riki Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 16

Perasaan Ini​

Terkadang ada hal yang membuat kita tenang ketika kita ikhlas menerima semua masalah yang kita hadapi, hal – hal yang tidak bisa kita kendalikan dan hal – hal yang membutuhkan keajaiban. Ada kalanya kita merasa yakin terhadap kemampuan kita dalam menghadapi segala konsekuensi, itulah mengapa kita semua berani mencoba dan mau mengambil resiko. Disaat kita sudah merasa gagal, kita akan berani untuk mengulanginya lagi dan kita akan merasa lebih yakin pada kemampuan kita.

Aku selalu merasa yakin pada kemampuanku, tapi kenyataan yang aku hadapi tidak seperti yang aku pikirkan. Aku menganggap segala permasalahan bisa aku selesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain, dan sekarang aku kemakan oleh keegoisanku sendiri karena aku bingung untuk menghadapi masalah tersebut.

Entah kenapa setiap aku menyakiti Monic, aku juga merasakan kesedihan itu, dan parahnya aku tidak hanya sekali menyakitinya. Aku benar – benar merasa kehilangan saat Monic yang marah padaku dan aku merasa benar – benar bodoh karena telah menyakitinya. Apa aku sayang Monic..? Iya.. aku sayang dia, aku merasa tenang bersamanya, aku merasa nyaman saat di dekatnya, tapi aku terlalu pengecut untuk berani jujur padanya.

Mungkin orang beranggapan kalau aku itu munafik, sok kegantengan, sok jual mahal, atau apalah. Disaat ada cewek yang dekat dan mengungkapkan rasa sayangnya padaku, aku malah terkesan menggantungnya tanpa memberikan kepastian.

Kalau boleh jujur, kenapa aku seperti takut untuk menjalin suatu hubungan..? Pertama, apa aku bisa membahagiakan orang yang aku sayang. Kedua, aku sadar diri dengan keadaanku, aku bukanlah orang yang berada yang bisa menikmati pemberian orang tua dengan semau kita. Aku hanyalah orang biasa yang hidup menumpang dengan segala keterbatasannya.

Kebahagiaan akan kita rasakan apabila kita bisa merasakan kasih sayang keluarga, dan aku beruntung karena terlahir dari kasih sayang Ayah dan Bundaku. Orang tuaku sangat sayang pada anak – anaknya dan mereka rela berkorban demi membahagiakan aku dan adikku.

Aku pernah menangis saat tau kalau motor dan HP yang dibelikan oleh Ayahku waktu itu adalah uang tabungan dari hasil menjual rumah warisan kakekku yang seharusnya untuk tambahan modal usaha Ayahku, aku menangis karena terharu dengan orang tuaku yang rela berkorban hanya untuk mencukupiku.

Sebenarnya aku masih tercukupi karena aku yang jarang jajan karena masih hidup menumpang dan aku yang setiap bulan diberi uang oleh Om Heri karena aku yang membantunya mengantar sayuran ke pasar, aku sempat menolaknya dan Om Heri tetap memaksaku untuk menerimanya karena dia menganggap kalau itu bukan upah, hanya tambahan untuk uang jajan. Aku sangat bahagia karena Om dan Tanteku menganggapku sudah seperti anaknya, dan aku juga menganggap demikian walau tak jarang kita malah lebih akrab sebagai teman.

Kembali ke saat sekarang, aku yang sedang duduk berdua dengan Yudha di kamar mandi belakang seperti sedang menikmati masalah kami masing – masing. Yudha bercerita bahwa dia sudah putus dengan Ratna karena sudah tidak kuat dengan sikapnya, sedangkan aku bercerita bahwa terjadi kesalahpahaman dengan Monic.

“jadi sekarang udah bisa move on dari Dini..?” tanya Yudha padaku.

“gak tau bro.. ane udah gak mikirin Dini lagi..” balasku ke Yudha.

Kenapa Yudha bertanya padaku tentang Dini..? Karena Yudha juga tau saat Dini yang marah – marah padaku di kantin sempat menyinggung aku dan Monic yang bergandengan tangan saat menonton pertandingan sepak bola, Yudha menganggap bahwa masih ada kecemburuan yang ditunjukkan oleh Dini kalau dilihat dari sikapnya.

“kalau masalah Monic, ane yakin ente pasti bisa baikan lagi..” ucap Yudha padaku.

“caranya..?” tanyaku yang bingung.

“ente pasti bisa lah cari cara, secara kan ente yang paling pinter kalau nyari solusi..” balas Yudha padaku.

Solusi.. solusi.. solusi.. kenapa saat ini aku kebingungan mencari solusi..? Pikiranku seperti stuck dan tidak tau harus berbuat apa. Yang jelas aku hanya ingin bertemu dengan Monic dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi.

Disaat aku sedang ngobrol dengan Yudha, tiba – tiba seseorang mendatangi kami dan dia adalah adikku Bayu.

“mas..” panggil Bayu padaku.

“kenapa dek..?” tanyaku ke Bayu.

“bisa ngomong sebentar gak..?” balas adikku.

“ya udah ngomong aja..” ucapku santai.

“berdua..” balas Bayu berharap.

Aku yang mendengar itu merasa tak enak untuk meninggalkan Yudha atau menyuruhnya pergi.

“ya udah Rik.. ane balik ke kelas dulu..” ucap Yudha yang mengetahui kebingunganku.

“sory bro..” balasku yang merasa tak enak dan Yudha hanya mengacungkan jempolnya.

Setelah Yudha pergi kemudian Bayu yang duduk di sebelahku. Bayu terlihat bingung karena hanya diam dan seperti ragu untuk berbicara.

“kenapa dek kok malah diem..?” tanyaku ke Bayu.

“maaf mas.. aku merasa bersalah karena membuat mas dan mbak Monic jadi berantem..” ucap Bayu merasa bersalah.

“itu bukan salahmu kok..” balasku tenang.

“tapi aku yang mengajak mbak Nana mas.. aku kira mas Riki mau ngajak teman cowok, jadi aku ajak mbak Nana biar nanti Isna ada temennya..” ucap Bayu menjelaskan.

“aku kira mas Riki dan mbak Nana belum pernah ketemu, makanya aku ajak mbak Nana biar bisa ketemu mas Riki..” ucap Bayu melanjutkan.

“ya udah dek gak papa.. lagian sudah berlalu juga..” balasku menenangkan.

“terus hubungan mas sama mbak Monic gimana..?” tanya Bayu padaku.

“kalau itu gak usah kamu pikirin..” balasku ke Bayu.

“tapi aku gak enak sama mas dan bingung sama mbak Nana..” ucap Bayu kemudian.

“emang Nana kenapa..?” tanyaku penasaran.

“setelah mas pergi, mbak Nana nangis teriak – teriak mas.. aku sama Isna bingung gimana nenanginnya, sampai akhirnya aku sama Isna yang nganter mbak Nana pulang..” balas Bayu menjelaskan.

Aku sebenarnya kasihan sama Ratna karena secara tidak langsung aku sudah menyakitinya, aku yang marah – marah padanya karena aku sudah muak dengan tingkah konyolnya. Aku juga tidak tau Ratna menangis karena apa, entah karena dia yang melihatku bersama Monic atau menangis karena aku yang marah – marah, yang jelas aku sudah tidak ingin mengingat kejadian itu lagi.

“ya udah dek.. sudah terjadi juga gak perlu disesali.. maaf aku sudah mengacaukan acaramu..” ucapku ke Bayu dan dia hanya manggut – manggut.

“dia cemburu mas sama mbak Monic..” ucap Bayu kemudian.

“bisa jadi..” balasku.

“mas sama mbak Monic udah pacaran berapa lama..?” tanya Bayu penasaran.

“eh.. aku sama Monic belum pacaran dek..” balasku kaget.

“serius..?” tanya Bayu yang tidak percaya dan aku hanya mengangguk.

Mungkin Bayu menganggap aku dan Monic itu sudah pacaran karena beberapa kali dia melihatku yang bergandengan tangan dan mengantar Monic pulang, terlebih saat aku datang berdua dengan Monic waktu acara makan – makannya. Aku juga sebenarnya ingin seperti yang Bayu pikirkan, tapi kembali lagi ke sikapku yang terlalu pengecut.

Setelah bel tanda jam istirahat selesai, aku dan Bayu kembali ke kelas kami masing – masing. Aku mengikuti pelajaran sampai selesai, saat jam pulang sekolah aku juga langsung pulang ke rumah untuk persiapan pindah rumah.

***

Minggu pagi aku, Om Heri dan mang Karjo sudah mulai mengangkuti barang – barang yang dibawa ke rumah baru naik ke atas truk. Mang Karjo langsung ikut bersama kami setelah mengantar sayuran di pasar. Om Heri menyewa sebuah truk untuk membawa barang – barang pindahan kami, dan sisanya nanti dibawa menggunakan mobil pick upnya.

Setelah semua barang sudah terangkut, kemudian kami pergi bersama – sama menuju rumah baru. Om Heri, Tante Septi dan dek Fian naik mobil pick up yang di ikuti oleh truk yang membawa barang – barang kami, sedangkan mang Karjo naik motornya Om Heri dan aku naik motorku sendiri.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya kami sampai di rumah baru. Kami langsung menurunkan barang – barang dan menatanya. Dengan dibantu supir truk dan kernetnya, pekerjaan jadi cepat selesai dan tanpa terasa waktu sudah lewat jam makan siang.

Setelah semuanya selesai, kami kemudian makan siang bersama sambil beristirahat, supir truk sempat di ajak makan sekalian tapi mereka menolak karena beralasan masih ada pekerjaan lain.

“Jo.. nanti kamu pulangnya bawa motorku aja..” ucap Om Heri setelah selesai makan.

“gak usah Om.. nanti aku antar aja..” sahutku pada Om Heri.

“beneran Rik gak papa..?” tanya Om Heri padaku.

“santai Om.. sekalian aku jalan – jalan..” balasku.

Aku selain mengantar mang Karjo juga karena niatku yang ingin mengunjungi Bayu, aku teringat janjiku untuk mengunjunginya mumpung rumah Bayu dan mang Karjo jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kami cukup beristirahat, aku kemudian mengantar mang Karjo untuk pulang ke rumahnya.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu, kami sampai di rumah mang Karjo.

“Rik sini mampir dulu..” ajak mang Karjo padaku.

“aku langsung aja mang..” balasku menolak.

“ayolah.. kapan lagi kamu bisa kesini..” ucap mang Karjo memaksa.

“baiklah..” balasku menyanggupi.

Aku tidak enak menolak karena mang Karjo yang seperti berharap agar aku singgah dulu, aku akhirnya menyanggupi karena kapan lagi aku kesini kalau tidak ada perlu. Saat ditawari kopi oleh mang Karjo, aku meminta teh saja karena aku tidak terlalu suka kopi. Beberapa saat kemudian keluar istri mang Karjo membawakan minum dan makanan ringan.

“silahkan mas diminum..” ucap istri mang Karjo tersenyum.

“iya makasih bu..” balasku tersenyum.

“tamunya siapa ini pak..?” tanya istri mang Karjo.

“ini anaknya mas Herman..” balas mang Karjo ke istrinya.

“woalahhh… kok sudah besar kamu sekarang..” ucap istri mang Karjo dan aku hanya tersenyum.

“ya udah ibu tinggal dulu ya.. kamu mbok ya sering – sering kesini..” lanjut istri mang Karjo.

“iya bu..” balasku tersenyum.

Setelah istri mang Karjo masuk ke dalam, aku meminum teh sambil menikmati rokok di teras rumah mang Karjo.

“kamu habis ini mau langsung pulang atau kemana Rik..?” tanya mang Karjo padaku.

“mau mampir tempat saudara mang..” jawabku.

“saudaramu siapa..?” tanya mang Karjo penasaran.

“Bayu anaknya Lek Narsi..” balasku menjelaskan.

“Narsi istrinya Gatot (ayahnya Bayu)..?” ucap Mang Karjo bertanya.

“iya..” balasku ke mang Karjo.

“oalah.. kasihan itu Gatot, masih muda sudah meninggal..” ucap mang Karjo prihatin.

“iya mang..” balasku yang ingat saat ayah Bayu meninggal.

“dulu kalau dia mau nurut sama Ayahmu, mungkin dia masih hidup..” ucap mang Karjo yang membuatku kaget.

“maksudnya..? Kan Lek Gatot meninggalnya kecelakaan kerja mang..?” balasku bingung.

“iya.. dia ditemukan meninggal di tempat kerja, tapi malamnya dia sempat diculik..” ucap mang Karjo mengagetkanku.

“kok bisa..?” tanyaku heran.

“malam harinya sebelum kejadian, kami semua sedang berkumpul di tempat kakekmu termasuk aku, saat itu Ayahmu meminta untuk jangan ada yang pulang sampai hari sudah terang, saat itu hanya Gatot yang bersikeras ingin pulang karena tidak tega meninggalkan istri dan anaknya dirumah. Pagi harinya kami semua mendapat kabar kalau Gatot meninggal di tempat kerja..” ucap mang Karjo menjelaskan.

“kamu tau Rik.. seorang pekerja tower tidak mungkin bekerja sendirian, apalagi saat itu jadwal Gatot sebenarnya libur..” lanjut mang Karjo.

“kalau Lek Gatot dibunuh, harusnya polisi tau kalau kematian Lek Gatot tidak wajar..” ucapku yang heran.

“saat itu polisi sudah dikuasai oleh musuh kakekmu, segala sesuatu bisa diatur, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar tergantung pemegang kekuasaan” balas mang Karjo menjelaskan.

Aku benar – benar kaget mendengar penjelasan dari mang Karjo, ternyata apa yang aku pikirkan semuanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Aku benar – benar masih awam untuk mengenal kehidupan yang keras.

“saat itu kamu masih kecil Rik dan kamu belum mengerti tentang kerasnya hidup, apalagi seperti kami yang hidup di jalanan. Mungkin Ayahmu sudah berhenti dari jalanan, tapi dia tidak bisa lepas untuk tidak terlibat dengan masalah yang berhubungan dengan masa lalunya..” ucap mang Karjo menjelaskan.

“kamu jangan menganggap semua polisi itu buruk, karena banyak juga polisi yang baik, salah satunya yang sudah menolongmu..” lanjut mang Karjo.

“maksudnya pak Eko..?” tanyaku ke mang Karjo.

“iya.. dia juga yang dulu menginformasikan ke Ayahmu bahwa akan ada pergerakan dari musuh kakekmu..” balas mang Karjo menjelaskan.

Wah.. berarti permusuhan ini sudah berlangsung lama, aku jadi teringat ucapan Ayahku yang menyebut bahwa aku sudah terlibat dalam lingkaran masa lalu dan aku sudah bertemu dengannya.

“mang.. apa ini ulahnya pak Surya..?” tanyaku ke mang Karjo.

“Surya siapa..? Surya Botak..?” balas mang Karjo bertanya.

“iya..” jawabku.

“bukan Rik.. Surya itu baru anak kemarin sore, dia hanya pion dari musuh kakekmu yang ditugaskan untuk mengganggu keluargamu. Dia merekrut anak buah dengan mengandalkan uangnya, beberapa temanku ada yang ikut dengannya karena tergiur dengan iming – iming gaji yang besar” ucap mang Karjo menjelaskan.

“jadi siapa sebenarnya musuh kakekku..?” tanyaku penasaran.

“musuh kakekmu sudah tidak berada di kota ini, tapi pengaruhnya masih ada lewat kroni – kroninya..” balas mang Karjo menjelaskan.

“pak… anaknya kemana kok udah sore belum pulang..!!” teriak istri mang Karjo tiba – tiba dari dalam rumah.

“ya gak tau bu..” jawab mang Karjo.

“gak tau gimana toh.. wong anak gadisnya pergi kok gak tau..!!” ucap istri mang Karjo yang sepertinya marah.

“ibu ki piye toh.. lha wong aku dari pagi udah gak dirumah..!!” balas mang Karjo kesal.

Aku yang mendengar perdebatan suami istri ini jadi merasa tidak enak, akhirnya aku memutuskan untuk pamit saja. Dan mang Karjo sempat meminta maaf padaku karena keributan tadi.

Aku kemudian pergi meninggalkan rumah mang Karjo dan menuju ke rumah saudaraku. Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di rumah Bayu yang di depannya terdapat warung kelontong.

“Assalamualaikum.. permisi..” ucapku saat berada di depan warung.

“Waalaikumsalam..” jawab seorang wanita dari dalam warung.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul seorang wanita yang aku kenal.

“mau beli apa mas..?” ucap Lek Narsi padaku dan nampaknya dia tidak mengenaliku.

“Bayu nya ada bu..” balasku bertanya.

“oh temennya Bayu.. Bayu nya lagi keluar sebentar nganter temennya, paling sebentar lagi pulang..” ucap Lek Narsi menjelaskan.

“ya udah saya tunggu aja bu..” balasku ke Lek Narsi.

Kemudian Lek Narsi kembali masuk ke dalam dan aku hanya duduk diluar menunggu Bayu datang. Aku sengaja tidak memperkenalkan diriku pada Lek Narsi yang lupa padaku biar nanti ada kejutan setelah dia tau. Hehehe…

Setelah menunggu beberapa menit, terlihat Bayu yang datang mengendarai motornya dan dia terlihat kaget saat melihatku yang duduk diluar.

“loh mas.. kok gak masuk..?” tanya Bayu padaku.

“enak duduk disini dek..” balasku tersenyum.

“lah.. gimana sih..” ucap Bayu heran.

“Mak…!! Mamak…!!” teriak Bayu memanggil ibunya.

“apa sih Le (tole = panggilan untuk anak laki – laki) kok teriak – teriak..” balas Lek Narsi dari dalam.

“Mamak gimana sih.. kok mas Riki gak disuruh masuk..!!” ucap Bayu ke ibunya.

Beberapa saat kemudian Lek Narsi keluar dan melihatku heran.

“Riki..?” ucap Lek Narsi yang seakan tidak percaya.

“gimana Lek kabarnya..?” balasku tersenyum.

Lek Narsi langsung menghambur dan memelukku sambil menangis.

“kenapa kok tadi diem aja gak bilang kalau itu kamu..!!” ucap Lek Narsi geram.

“salah sendiri lupa sama aku.. hehe..” balasku tertawa.

“kurang ajar.. gimana aku gak lupa kalau kamu sekarang udah beda.. kamu sekarang gagah kayak Ayahmu..” ucap Lek Narsi padaku.

“hehehe..” balasku tertawa.

Kemudian Lek Narsi mengajakku masuk ke dalam, kami kemudian mengobrol dan saling bertanya kabar. Lek Narsi sempat ngomel padaku karena aku sudah lama disini kenapa baru datang. Aku hanya menjawab karena aku yang sibuk dan baru ada waktu.

Aku juga bilang ke Lek Narsi kalau sekarang Om Heri sudah pindah rumah di desa, Lek Narsi sempat heran kok pindahnya jauh banget, aku hanya menjelaskan kalau Om Heri yang ingin punya halaman yang luas untuk berkebun.

“kamu sudah punya pacar Rik..?” tanya Lek Narsi padaku.

“belum Lek.. kenapa..?” balasku bertanya.

“nahh.. tuh dengerin.. mas mu aja belum pacaran kok kamu malah udah..” ucap Lek Narsi ke Bayu dan kulihat Bayu cuma nyengir.

“ya gak papa toh Lek.. namanya juga anak muda..” sahutku menanggapi.

“tapi kan Bayu masih sekolah, masih kelas 1 juga..” ucap Lek Narsi menyangkal.

“ya siapa tau kalau Bayu pacaran, sekolahnya jadi tambah semangat..” balasku membela.

“kamu itu kok malah dukung Bayu pacaran.. untung aja aku udah tau anaknya..” ucap Lek Narsi kemudian.

“loh.. emang udah pernah ketemu Lek..?” tanyaku heran.

“tadi kan baru dari sini.. aku yang pengen ketemu Rik, dan pengen tau anaknya seperti apa..” balas Lek Narsi menjelaskan.

“oh gitu…” ucapku menanggapi.

Sebenarnya gara – gara aku juga sih Bayu itu pacaran, karena waktu Isna yang berkenalan denganku membuat Bayu pucat, karena itu aku jadi tau kalau Bayu suka sama Isna, aku yang kemudian memaksanya untuk mengejarnya dan ternyata tak lama kemudian mereka jadian. Aku juga sedikit tenang karena sepertinya Lek Narsi bisa menerima Isna karena kalau aku lihat Isna itu anak baik – baik. Tapi ngomong – ngomong Lek Narsi kok belum punya pasangan lagi ya..? Apa dia gak kepengen, padahal kan dia masih terlihat muda.

“Lek.. gak pengen nikah lagi..?” tanyaku ke Lek Narsi.

“eh.. emm.. gak tau Rik..” balas Lek Narsi kaget dan aku melihat Bayu juga kaget.

“kok gak tau..” ucapku penasaran.

“mana ada sih Rik yang mau sama janda yang sudah punya anak..” ucap Lek Narsi.

“ada Lek.. cuma belum ketemu aja..” balasku menyemangati.

“ah kamu.. kenapa sih malah bahas itu.. udah ayo makan malam dulu..” ucap Lek Narsi mengelak kemudian pergi ke dapur.

Kemudian kami bertiga makan malam bersama sambil ngobrol, setelah selesai makan aku pergi ke depan bersama Bayu untuk merokok.

“kamu gak ngrokok..?” tanyaku ke Bayu dan dia hanya menggeleng.

“gak berani ya..” ucapku lagi dan Bayu hanya mengangguk.

“dek maaf ya gara – gara aku maksa kamu pacaran jadi kamu dimarahin..” ucapku ke Bayu.

“aku gak kepaksa kok.. lagian Mamak juga gak marah..” balas Bayu padaku.

“respon Mamakmu gimana setelah ketemu..?” tanyaku penasaran.

“seneng – seneng aja.. malah mereka tadi akrab mas..” balas Bayu yang membuatku heran.

“lah berarti tadi marahnya pura – pura..” ucapku gemas.

“sebenernya Mamak nyindir kamu mas.. hehehe..” balas Bayu yang tertawa.

Lah bangke.. ternyata aku ditipu sama aktingnya emak – emak, pantesan dari tadi Bayu cuma cengar – cengir aja waktu diomelin. Setelah hari semakin larut, aku kemudian pamit ke Lek Narsi untuk pulang.

***

Pagi harinya aku dan Om Heri tidak pergi ke pasar karena belum ada pasokan sayuran dari petani, Om Heri baru akan mencari lagi petani yang mau memasok sayuran sambil menanam sendiri di kebun. Untuk aku yang ke sekolah, aku berangkatnya jadi lebih awal karena jarak tempuh yang lebih jauh dari biasanya dan tentu saja memakan waktu yang lebih lama.

Aku mengikuti pelajaran seperti biasa dan setelah kegiatan belajar mengajar selesai aku langsung pulang ke rumah. Aku sengaja pulang lebih awal karena membantu mempersiapkan acara untuk nanti malam. Om Heri mengadakan acara untuk menempati rumah baru dengan memanggil tetangga sekitar dan untuk perkenalan sebagai warga baru.

Acara dilaksanakan malam hari tepatnya setelah isya yang dihadiri oleh warga sekitar dan ada ketua RT yang memberi sambutan dan ucapan selamat datang kepada Om Heri dan keluarga. Kemudian acara dilanjutkan dengan perkenalan para warga yang kemudian ditutup dengan acara doa bersama. Setelah acara selesai dan warga sudah pamit pulang, aku dan Om Heri kemudian membereskan dan membersihkan tempat acara.

Saat kami sedang beres – beres, aku mendengar Tante Septi yang menyuruh Om Heri untuk mengantarkan makanan ke tempat mang Karjo. Aku yang mendengar itu kemudian menawarkan diri untuk mengantarkannya karena kasihan melihat Om Heri yang sudah terlihat capek.

Aku kemudian memacu motorku menuju rumah mang Karjo untuk mengantar makanan, setelah sampai disana terlihat rumah sudah sepi karena hari sudah malam. Aku yang sudah terlanjur sampai sini mencoba untuk tetap bertamu walau sudah malam.

“tok.. tok.. tok.. Assalamualaikum.. permisi..” ucapku mengetuk pintu.

Beberapa saat kemudian pintu dibuka dan aku terkejut melihat siapa yang membuka pintu.

“loh..” ucapku kaget.

“loh mas..” ucap Isna yang juga kaget.

“siapa Nduk..?” terdengar suara mang Karjo.

“mas Riki pak..” teriak Isna ke mang Karjo.

Beberapa saat kemudian mang Karjo keluar.

“ada apa Rik..?” tanya mang Karjo padaku.

“ini mang.. nganter syukuran pindahan rumah..” balasku ke mang Karjo.

“oh.. makasih ya.. duduk dulu sebentar..” ucap mang Karjo yang kemudian masuk ke dalam membawa bungkusan makanan.

“mas kamu lupa sama aku ya..?” ucap Isna padaku.

“maksudnya gimana..?” tanyaku yang bingung.

“kita dulu udah pernah ketemu mas..” ucap Isna menjelaskan.

“masa sih..?” balasku yang heran.

“aku dulu pernah ke rumahmu tau..!!” ucap Isna yang jengkel.

“hah..?” balasku yang tambah bingung.

“ngapain kalian bisik – bisik..” ucap mang Karjo yang sudah kembali ke depan.

“mas Riki nyebelin pak..” ucap Isna ke bapaknya.

“lha kok..?” balasku heran.

“nyebelin kenapa..?” tanya mang Karjo.

“masa dia lupa kalau kita dulu pernah ke rumahnya..!!” balas Isna kesal.

“oh.. ya wajar kalian kan waktu itu masih kecil..” ucap mang Karjo menjelaskan.

“lah emang beneran udah pernah mang..?” tanyaku penasaran dan mang Karjo hanya mengangguk.

“duh maaf ya Is.. aku cuma tau kalau kamu pacarnya..” ucapku terpotong.

“mas..!!” sahut Isna melotot memotongku.

“loh Nduk.. kamu udah punya pacar..? Siapa..? Anak mana..?” ucap mang Karjo yang terlihat geram.

Isna yang ketauan sepertinya ketakutan karena dia yang langsung masuk ke dalam rumah. Aku sempat heran karena mang Karjo sepertinya tidak tau kalau Isna sudah pacaran, berarti Bayu mengantar Isna pulang tidak sampai rumah.

“kamu tau Rik siapa pacarnya Isna..?” tanya mang Karjo padaku dan aku hanya mengangguk.

“siapa namanya..? Gimana orangnya..?” ucap mang Karjo kembali bertanya.

“besok aku suruh anaknya kesini, biar mang Karjo bisa nilai sendiri..” balasku tersenyum.

“oh iya mang, emang Isna dulu pernah ketemu aku..?” tanyaku yang masih penasaran.

“pernah.. dulu waktu kalian masih kecil..” balas mang Karjo menjelaskan.

“kok aku gak inget ya..?” tanyaku.

“ya mungkin karena Isna mainnya sama adikmu bukan sama kamu..” balas mang Karjo menjelaskan.

Ah bener juga ya, dulu aku emang jarang main sama cewek kecuali Ratna. Lagian Isna sama Riska kan sama – sama cewek dan mereka juga seumuran, makanya mainnya sama Riska bukan sama aku. Karena hari semakin larut aku memutuskan untuk pamit pulang kepada mang Karjo.

***

Pagi hari disekolah, aku sempat mengirim pesan pada Bayu untuk menemuiku saat jam istirahat sekolah. Aku yang sudah menunggunya di kamar mandi belakang tak lama kemudian Bayu datang menemuiku.

“ada apa mas..?” tanya Bayu padaku.

“duduk dulu sini..” ucapku ke Bayu menyuruhnya duduk.

“dek.. kamu kalau pacaran sering pergi keluar gak..?” tanyaku setelah Bayu duduk.

“ya kadang – kadang aja sih mas..” balas Bayu padaku.

“terus kalian ketemunya dimana..?” tanyaku lagi.

“aku jemput ke rumah Isna mas..” balas Bayu kemudian.

“yang bener..?” tanyaku meliriknya.

“di dekat rumahnya mas..” jawab Bayu lirih.

“besok lagi kamu jemput dirumahnya, terus pamit sama orang tuanya kalau mau pergi..” ucapku yang membuat Bayu kaget.

“tapi mas..” balas Bayu ragu.

“kamu itu cowok… kalau kamu bawa pergi anak gadis orang ya harus ijin sama orang tuanya.. awas kamu kalau aku masih tau kalian perginya diam – diam..” ucapku mengancam.

“i.. iyaa mas..” balas Bayu yang sepertinya takut.

“ya udah sana balik ke kelas..” ucapku menyuruh Bayu pergi.

Sebenarnya aku tidak memarahi Bayu, hanya saja aku sedikit keras padanya biar dia bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya. Aku juga gak pengen kalau sampai terjadi apa – apa saat diluar dan orang tua mereka tidak tau.

Hari – hariku berjalan seperti biasa yaitu menjalankan kewajibanku sebagai pelajar dan membantu pekerjaan Om Heri. Untuk nongkrong aku kadang – kadang masih melakukannya walau tidak sering, dan untuk mengantar sayur ke pasar sudah jarang aku lakukan, disamping belum banyaknya sayuran yang di antar juga karena aku punya kesibukan lain.

Kesibukanku sekarang lebih banyak membantu Om Heri berkebun, karena aku yang sudah tidak pernah olah raga saat minggu pagi dikarenakan jarak rumah yang sekarang dengan alun – alun cukup jauh, aku menggantinya dengan berkebun karena bisa menjaga badanku tetap bugar.

Hari – hari aku jalani dengan semangat dan hasilnya aku sedikit bisa melupakan permasalahanku dengan para wanita yang sedang marah padaku. Aku sengaja melakukannya karena aku ingin fokus menjalani kehidupanku tanpa terbebani oleh permasalahanku.

Hari minggu adalah waktu yang tepat untuk kita beristirahat setelah enam hari kita disibukkan oleh aktifitas kita. Tapi hari ini aku berencana untuk pergi membeli barang yang aku butuhkan.

Sudah beberapa hari ini aku meminjam charger Om Heri untuk mengisi baterai HP ku, karena charger HP ku rusak saat dipakai adik sepupuku bermain, yah namanya anak kecil kan tidak tau barang yang dipegangnya itu apa, dan aku juga memakluminya karena anak kecil masih belum paham dan punya rasa keingintahuan yang tinggi.

Om Heri menyuruhku untuk memakai chargernya saat kapan pun aku butuh, tapi yang namanya dipakai bergantian lama kelamaan aku juga merasa tidak enak dan kurang nyaman. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli lagi yang baru karena barang itu memang aku butuhkan.

Mumpung hari libur dan aku tidak ada kegiatan, aku kemudian pamit pada Om dan Tanteku untuk pergi jalan – jalan. Aku pergi ke salah satu mall di kotaku karena letak toko yang menjual charger HP merk HP ku ada disana.

Aku memang berniat membeli yang asli walaupun harganya sedikit lebih mahal, dari pada aku beli yang KW malah takutnya tidak awet. Selain beli charger aku juga berniat untuk jalan – jalan untuk melepas penat.

Setelah membeli barang yang aku butuhkan, aku kemudian pergi menuju food court di mall tersebut untuk membeli minuman, aku yang merasa haus karena cuaca yang panas saat perjalanan ke mall tadi. Setelah membeli minuman aku melihat sekitar untuk mencari tempat menikmati minumanku.

Saat sedang mencari – cari tempat duduk, pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk sendirian dan sedang memainkan HP nya, aku yang mengenal orang itu kemudian berniat untuk menghampirinya.

“boleh aku duduk disini..” ucapku pada Nisa.

“eh Riki.. iya duduk aja..” balas Nisa saat melihat aku yang datang.

“kamu sendirian aja..?” tanyaku setelah duduk.

“iya Rik.. aku bosan Rik dirumah, tapi gak ada yang mau aku ajak pergi..” balas Nisa terlihat sedih.

“maaf Nis.. gara – gara aku kalian..” ucapku terpotong.

“Rik.. bukan salahmu.. kita semua punya pilihan untuk menentukan jalan kita masing – masing..” sahut Nisa memotong ucapanku.

“Nis.. gimana kabar Monic..?” tanyaku ke Nisa.

“kamu kangen ya sama dia..?” balas Nisa bertanya dan aku hanya mengangguk.

“Monic baik – baik aja kok.. tapi sebenarnya apa yang membuatnya marah padamu..” ucap Nisa kemudian.

“hanya sebuah kesalahpahaman Nis, dan aku belum bisa menjelaskannya ke Monic..” balasku ke Nisa.

“temuilah dan jelaskan baik – baik, aku yakin Monic pasti bisa menerimanya..” ucap Nisa padaku.

“aku bingung bagaimana caraku bertemu dengan Monic, apa kamu mau membantuku untuk bertemu dengannya..” ucapku ke Nisa.

“Riki yang aku kenal selalu punya cara untuk menyelesaikan permasalahannya tanpa bantuan orang lain..” balas Nisa tersenyum.

“untuk kali ini aku tidak yakin kalau aku bisa Nis..” ucapku lesu.

“tapi aku yakin kalau kamu bisa..” balas Nisa tersenyum meyakinkanku.

“makasih Nis..” ucapku ke Nisa.

Kemudian kami saling mengobrol dan bercerita tentang kehidupan kami masing – masing. Nisa bercerita kalau orang tuanya sama – sama bekerja yang membuat mereka jadi jarang dirumah, hal itu yang membuat Nisa jadi sedikit kesepian sehingga lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman – temannya. Dari yang aku tau ternyata Nisa juga anak tunggal sama seperti Monic, yang membedakan adalah Nisa punya saudara sepupu yang sesekali menginap dirumahnya sehingga dia merasa punya teman.

Kami semakin larut dalam obrolan dan kami menjadi lebih akrab, tak terasa kami sudah cukup lama terlibat obrolan dan rasa – rasanya kami sama – sama menikmatinya.

“Rik.. kenapa aku terlambat mengenalmu..?” tanya Nisa padaku.

“maksudnya gimana Nis..?” balasku yang tidak mengerti.

“sekarang aku jadi paham kenapa wanita yang dekat denganmu bisa jatuh hati setelah mengenalmu..” ucap Nisa menjelaskan.

“mereka merasakan kenyamanan seperti yang aku rasakan..” lanjut Nisa yang membuatku kaget.

“tapi aku hanya bisa menyakiti mereka..” balasku ke Nisa.

“menyakiti bukan berarti tidak sayang, tersakiti bukan berarti tidak cinta.. bibir bisa berkata tidak, tapi hati tidak bisa berbohong..” ucap Nisa yang terlihat sangat dewasa.

Aku terdiam memikirkan kata – kata Nisa, memang aku telah menyakiti wanita yang pernah dekat denganku, tapi bukan berarti aku tidak menyayangi mereka. Tapi apa benar mereka yang tersakiti dan marah padaku karena rasa cintanya padaku. Aku benar – benar bingung dengan yang aku alami, ditambah Nisa yang bilang nyaman denganku, rasa – rasanya kepalaku seperti mau pecah tidak kuat memikirkan semua ini.

“kamu tenang aja Rik.. aku tidak pernah memaksakan perasaan seseorang, dan aku juga tidak berharap perasaanku terbalas. Aku memang merasa nyaman sama kamu, tapi kamu tidak harus membalas perasaanku karena bagiku sudah cukup bisa mengenalmu sebagai teman..” ucap Nisa tersenyum.

“makasih Nis..” balasku yang bingung.

“udah mau sore Rik.. kamu gak pulang..?” tanya Nisa kemudian.

“eh iya.. kamu kesini tadi naik apa..?” balasku yang tersadar.

“aku tadi kesini di antar..” ucap Nisa padaku.

“oh.. mau pulang bareng..?” ajakku tanpa sadar.

“boleh..” balas Nisa menyanggupi.

“tapi aku cuma pakai motor..” ucapku memastikan.

“memangnya kenapa kalau pakai motor..” balas Nisa tersenyum.

Aku yang berjalan bersama Nisa ke parkiran malah dibingungkan oleh ajakanku sendiri, kira – kira nanti Nisa boncengnya hadap depan apa menyamping ya..? Aku yang sudah sampai di parkiran masih bingung hanya garuk – garuk kepala. Kenapa juga sih aku tadi pakai nawarin pulang bareng kalau akhirnya aku malah bingung sendiri, aku bingung karena melihat Nisa yang sedikit tertutup dan menjaga diri terhadap lawan jenis, hal itu yang membuatku sedikit ragu untuk berboncengan dengannya karena aku yang menghormatinya.

“kita nunggu apa Rik..?” tanya Nisa yang melihatku malah bengong.

“eh enggak Nis..” jawabku yang kemudian mengambil motorku.

Setelah aku naik ke atas motor, Nisa kemudian ikut naik memboncengku.

“loh Nis.. kok gak duduk nyamping..?” tanyaku karena Nisa memboncengku menghadap depan.

“aku kan pakai celana Rik, apa gak aneh kalau aku duduk nyamping..” balas Nisa menjelaskan.

“oh iya..” ucapku setuju.

Memang gak ada salahnya sih kalau pakai celana duduk menyamping, tapi kalau dipikir – pikir memang agak aneh kalau dilihat. Walau Nisa memboncengku menghadap depan, tapi untungnya dia menjaga jarak jadi aku sedikit merasa tenang. Aku menjalankan motorku dengan kecepatan sedang karena jika aku mengerem mendadak, Nisa masih bisa mempertahankan diri untuk menjaga jarak.

“Nis.. ini lewat mana..?” tanyaku ke Nisa karena aku belum tau rumahnya.

“apaa..?” balas Nisa yang sepertinya tidak mendengarku.

“lewat mana..?” ucapku lagi mengulangi.

Hal yang tidak aku duga tiba – tiba Nisa mendekatkan dirinya sehingga menempel ke badanku, dan aku juga merasakan dadanya yang kenyal menempel di punggungku.

“ada apa Rik..?” tanya Nisa padaku.

“ee.. ini lewat mana Nis..?” tanyaku yang gugup.

“terus aja nanti perempatan kedua belok kanan..” balas Nisa menjelaskan.

Aku tidak tau daerah ini karena kita lewat jalan tembus untuk sampai ke rumah Nisa, kenapa aku meminta untuk tidak lewat jalan utama, karena Nisa tidak pakai helm. Tapi ngomong – ngomong kok Nisa masih nempel ya..

“Nis..” panggilku.

“ya kenapa Rik..?” balas Nisa bertanya.

“ini kok..” ucapku yang bingung.

“ini kenapa..?” tanya Nisa kemudian.

“maaf Nis.. aku grogi kalau nempel gini..” ucapku menjelaskan.

“sebenernya aku juga Rik.. karena aku belum pernah..” balas Nisa yang membuatku kaget.

“tolong ijinkan aku untuk pertama kalinya merasakan memeluk cowok..” ucap Nisa yang kemudian melingkarkan tangannya ke perutku.

Entah apa yang aku pikirkan malah dengan kurang ajarnya menggenggam tangan Nisa, Nisa yang aku pegang tangannya kemudian mempererat pelukannya padaku. Aku merasakan perasaan yang berbeda pada setiap wanita yang pernah memelukku dan hanya satu yang aku rasakan sama, perasaan nyaman.

“makasih ya Rik udah nganter aku pulang..” ucap Nisa padaku saat sudah sampai rumahnya.

“iya Nis.. sama – sama..” balasku ke Nisa.

“aku harap setelah ini kamu tidak menjauhiku..” ucap Nisa kemudian.

“kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu..?” tanyaku heran.

“gak tau Rik.. walau pun kita hanya berteman, aku tidak mau kita berakhir dengan permusuhan..” balas Nisa menjelaskan.

“Nis.. aku tidak akan pernah menjauhimu, kecuali kamu yang menjauhiku..” ucapku meyakinkan.

“makasih Rik..” balas Nisa tersenyum.

“ya udah.. aku pulang dulu ya..” pamitku ke Nisa.

“hati – hati ya..” balas Nisa tersenyum.

Setelah pamit ke Nisa, aku kemudian memacu motorku untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku kembali berfikir dengan semua yang telah aku alami.

Entah perasaan senang atau gundah yang sekarang aku rasakan, Nisa yang berkali – kali menegaskan kata “teman” padaku yang aku sendiri bingung untuk mengartikannya, apa itu hanya cara Nisa untuk menutupi perasaannya..? Rasanya aku sudah terlalu pusing memikirkan masalah Dini, Ratna dan Monic. Dan sekarang ada seseorang yang hadir di kehidupanku dengan mengungkapkan perasaannya, dan orang itu adalah Annisa Zahra Kirani.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat