Kisah Riki Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 13

Emosi Sesaat​

Kehidupan manusia tak lepas dari berbagai peristiwa, tantangan, rintangan, kesempatan dan pengalaman. Semua itu bisa dijadikan pelajaran hidup bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman mengajarkan kita untuk selalu ingat pada sesuatu yang pernah kita lakukan. Adapun pengalaman yang pernah kita lewati tidak begitu menyenangkan.

Pernah suatu hari aku bermimpi tentang kejadian yang ingin aku lupakan, kejadian dimana aku menjadi orang lain yang aku sendiri tidak mengenalnya. Sebuah mimpi memang unik karena kadang mimpi itu tidak masuk akal dan kita juga tidak bisa mengaturnya seperti keinginan kita.

Sama halnya dengan perjalanan hidup, kita tidak akan pernah tau dengan apa yang akan kita hadapi di depan sana, seperti tantangan dan rintangan yang menguji kita untuk melewati jalan hidup kita.

Sekarang aku sedang duduk dengan temanku Yudha di kamar mandi belakang, kami sama – sama terdiam dan merokok seakan sedang menikmati permasalahan kami masing – masing.

“bro.. ente ada masalah apa..?” tanyaku ke Yudha karena akhir – akhir ini dia terlihat kurang bersemangat.

“masalah hati Rik..” balas Yudha lemas.

“emang ente lagi ada masalah sama Ratna..?” tanyaku ke Yudha.

“entah Rik.. ane pusing mikirin tu anak..” balas Yudha padaku.

“emang Ratna kenapa..?” tanyaku penasaran.

“akhir – akhir ini dia sering marah – marah Rik..” balas Yudha.

“lah.. bukannya emang dia sering marah ya..?” ucapku menanggapi.

“iya sih.. tapi marahnya beda Rik.. seperti ada masalah gitu..” ucap Yudha yang membuatku terdiam.

Aku sepertinya merasa kalau masalah Ratna itu berhubungan denganku yang selalu menghindarinya.

“apalagi sekarang dia mulai merokok lagi..” lanjut Yudha yang terlihat sedih.

“emang Ratna merokok..?” tanyaku pada Yudha.

“dia itu kalau merokok biasanya sedang ada masalah, seperti dulu waktu dia ada masalah dengan keluarganya..” balas Yudha menjelaskan.

“dulu setiap aku tanya pasti dia mau cerita Rik, tapi entah kenapa yang sekarang dia selalu bilang gak ada masalah..” ucap Yudha melanjutkan.

“mungkin untuk yang sekarang, dia gak pengen ente tau bro..” balasku ke Yudha.

“sepertinya begitu Rik.. mungkin dia bisa bilang gak ada masalah, tapi dari sikap dan tindakannya menjelaskan kalau dia sedang ada masalah..” ucap Yudha kemudian.

“ya udah.. tar ente temuin terus bicara baik – baik..” balasku menenangkan.

Inilah yang aku takutkan, setelah Ratna bersamaku waktu itu, sikapnya menjadi berbeda dan imbasnya malah Yudha yang sekarang kena. Aku jadi serba salah dan bingung untuk bersikap, lebih parahnya aku tidak tau harus bagaimana.

Setelah jam istirahat selesai, aku dan Yudha kembali ke kelas kami masing – masing untuk mengikuti pelajaran. Saat jam pulang sekolah, aku dan Yudha kemudian menuju ke cafe tempat kami nongkrong.

Sampai disana terlihat teman – temanku sudah berkumpul, aku melihat ada Reno, Wahyu, Ucup, Anggi dan Ratna yang terlihat sedang mengobrol. Saat aku dan Yudha bergabung, aku melihat Ratna menunjukkan tatapan sinis yang pernah aku lihat. Hufh.. pasti dia ngambek sama aku, karena sikapnya yang judes dan tidak menyenangkan.

Saat kami sedang ngobrol, tiba – tiba Ratna mengeluarkan rokok dan membakarnya, semua teman – temanku terlihat kaget kecuali Yudha, sedangkan aku merasa risih saat melihat cewek merokok, jujur walau aku merokok tapi aku paling tidak suka melihat cewek yang merokok apalagi aku mengenalnya.

Ratna sengaja melakukannya di depanku untuk menunjukkan rasa marahnya padaku, aku yang melihat itu mencoba untuk bertahan dan berusaha tidak memperhatikannya. Semakin lama aku merasa muak dengan Ratna yang dengan sengaja terus menghisap rokoknya di depanku.

“ane ke belakang dulu sob.. sakit perut..” ucapku pada teman – temanku.

Aku sengaja beralasan untuk pergi ke belakang karena aku yang malas melihat Ratna yang terus merokok di depanku. Aku muak melihat Ratna yang terlihat sengaja agar aku memperhatikannya. Setelah beberapa saat, aku yakin rokok Ratna sudah habis dan aku kemudian kembali bergabung dengan teman – temanku.

Saat aku sudah kembali duduk bersama teman – temanku, aku melihat Ratna yang terlihat cemberut. Aku dengan cuek tidak memperhatikannya dan asik ngobrol dengan Reno. Hingga kemudian Ratna yang kembali mengambil rokoknya yang membuatku geram, Ratna yang melihatku emosi malah tersenyum mengejek seolah tidak peduli dengan sikapku.

“sob ane pulang dulu ya.. pala ane pusing..” ucapku berdiri saat melihat Ratna membakar rokok.

“loh.. yang sakit perut apa kepala ente sih..?” ucap Reno yang melihatku tiba – tiba berdiri.

“perut ane pusing..” balasku asal sambil berlalu pergi.

Aku kemudian memacu motorku pergi meninggalkan cafe. Aku tidak mengarahkan motorku untuk pulang tapi aku mengarahkan motorku ke kost Ratna. Setelah sampai disana, aku menunggunya sampai dia datang.

Setelah menunggu hampir 1 jam, aku melihat Ratna yang pulang dan terlihat kaget saat melihatku menunggu di depan kostnya.

“loh Rik.. kamu disini..” ucap Ratna yang terlihat kaget.

Aku hanya diam tidak menjawabnya dan dia terlihat takut menatapku karena melihat aku yang terlihat emosi. Setelah memarkirkan motor, kemudian Ratna menarik tanganku mengajakku masuk ke dalam kostnya, saat aku dan Ratna sudah masuk ke kamar, aku langsung memepet Ratna ke dinding dan langsung mencium bibirnya.

Entah apa yang ada di dalam pikiranku yang jelas aku hanya ingin melakukannya.

Aku mencium Ratna dengan agak kasar dan Ratna hanya diam tidak berusaha memberontak, sampai saat aku merasakan ada air yang membasahi pipiku, kemudian aku menghentikan ciumanku dan melihat Ratna yang menangis.

Aku tersadar bahwa aku sudah kasar padanya dan aku menyesal kenapa aku sampai bisa melakukan itu. Aku merasa emosiku tak terkendali hingga aku lupa diri.

“maaf Na..” ucapku yang merasa bersalah.

“maafkan aku sudah kasar sama kamu..” ucapku kemudian memeluk Ratna yang masih menangis.

“aku yang maaf Rik sudah buat kamu emosi..” balas Ratna.

“kenapa kamu melakukan itu..?” tanyaku padanya.

“aku kangen sama kamu..” balas Ratna yang masih memelukku.

“kenapa saat aku sudah menemukanmu, kamu malah menjauhiku..” ucap Ratna kemudian.

Aku hanya diam dan tidak bisa berkata – kata. Jujur aku bingung harus menjawab apa.

“jawab Rik.. kenapa..?” ucap Ratna yang kembali bertanya.

“karena kamu pacar temanku, dan aku tidak ingin menyakitinya..” jawabku menjelaskan.

“tapi kamu menyakitiku..” ucap Ratna yang terlihat sedih.

“Na.. Yudha itu temanku dan..” ucapku terpotong.

“cukup..” sahut Ratna memotong perkataanku.

“aku tidak ingin membahas dia, ini hanya antara aku dan kamu..” ucap Ratna kemudian.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.

“Rik.. tolong perlakukan aku dengan lembut..” ucap Ratna dengan tatapan sayu.

Entah perasaan sayang atau nafsu yang kemudian mendorongku untuk mencium Ratna dan dia membalas ciumanku dengan lembut. Kami berciuman dengan penuh perasaan dan saling menikmati. Aku kemudian meraba dadanya yang masih terbungkus dengan tetap berciuman. Ciumanku kemudian turun ke lehernya yang membuatnya mendesah nikmat.

Aku kemudian melepas pakaian serta bra nya, Ratna yang tidak mau kalah kemudian juga melepas pakaianku sehingga kami sama – sama bertelanjang dada. Kemudian aku melumat dadanya dan meremas – remasnya, saat aku menghisap putingnya, Ratna mendesah dan mencengkram rambutku.

Aku kemudian membawa Ratna ke kasur dan merebahkannya. Lalu aku melepas bagian bawahnya dan sekarang dia sudah telanjang bulat. Aku kemudian berjongkok dan mengarahkan kepalaku ke selangkangannya, memeknya yang bersih langsung aku garap dengan menjilat – jilat dan menghisap – hisapnya sampai Ratna yang mendesah ke enakan.

Beberapa menit kemudian memeknya terasa berkedut dan pahanya menjepit kepalaku. Ratna yang terus mendesah semakin kuat menjepit kepalaku, aku yang tau kalau dia akan keluar makin cepat menggarap memeknya. Hingga..

Crut.. crut.. crut..

“aahhhh…..” desah panjang Ratna.

Paha Ratna yang menjepit kepalaku dengan badannya yang sedikit melengkung dan terasa ada cairan yang keluar dari memeknya. Aku menjilatnya sampai bersih kemudian menegakkan badanku dan melihat Ratna yang masih mengatur nafas.

Setelah nafasnya agak tenang, kemudian Ratna menarikku ke bawah sampai posisiku yang menindihnya kemudian mengajakku berciuman. Beberapa saat kemudian, Ratna menggulingkan badanku sehingga posisiku yang rebahan di bawah. Ratna kemudian melepas celanaku dan melemparnya. Kontolku yang dari tadi sudah tegang keluar dari sarangnya dengan tegak menantang.

Ratna kemudian memainkan kontolku dengan mengulumnya, menjilat dan menghisapnya. Aku yang merasa nikmat tanpa sadar mendesah karena permainan mulut Ratna. Setelah beberapa menit puas memainkan kontolku, Ratna kemudian berjongkok di atasku dan mengarahkan memeknya ke kontolku.

“aahhh…” desah kami bersamaan saat kontolku masuk ke memeknya.

Perlahan Ratna mulai bergerak naik turun memompa memeknya, dadanya yang bergoyang di depanku tidak aku sia – siakan, aku meremas – remas dadanya yang kenyal sesekali memilin putingnya yang membuatnya kelonjotan.

Semakin lama gerakan Ratna semakin cepat. Ratna yang mendesah hebat terus bergerak naik turun, hingga aku yang merasakan kontolku seperti dicengkram oleh memeknya. Beberapa saat kemudian gerakan Ratna makin liar kemudian dia menegakkan badannya dan mengejang.

“aahhhhh…” teriak Ratna yang kemudian ambruk menimpaku.

Aku merasakan kontolku tersiram cairan hangat dan kontolku terasa di remas – remas.

“aku sayang kamu Rik..” ucap Ratna yang ngos – ngosan di atasku.

Setelah agak tenang, Ratna kemudian berguling ke samping dengan posisi terlentang. Kemudian dia menarikku agar aku segera menyetubuhinya.

Aku kemudian berjongkok dan mengarahkan kontolku ke memeknya.

“aahhh..” desah Ratna saat kontolku amblas di memeknya.

Aku kemudian memompa kontolku dengan kecepatan sedang dan Ratna mendesah setiap kontolku mentok di memeknya. Perlahan goyanganku semakin cepat dan Ratna yang berteriak sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. Aku yang merasa sudah dekat semakin cepat memompa kontolku. Tiba – tiba..

Crut.. crut.. crut…

“aahhhh…” Ratna mendesah hebat saat mencapai orgasme yang ketiga.

“hah.. hah.. hah..” terlihat Ratna yang ngos – ngosan mengatur nafas.

Aku yang sudah mau keluar terhenti karena Ratna mencapai orgasme, aku yang merasa tanggung langsung memompa kontolku yang masih menancap di memek Ratna.

“ahh.. udah sayang.. udah..” ucap Ratna yang memintaku untuk berhenti.

Aku yang sebentar lagi akan sampai tidak menghiraukannya dan terus memompa kontolku dengan cepat.

“ahh.. udaahhh yannggg…” teriak Ratna yang sudah kepayahan.

Aku yang terus memompa akhirnya tidak kuat menahannya lagi. Aku kemudian mencabut kontolku.

CROT.. CROT.. CROT..

“ahh…” desahku saat maniku tumpah di atas perut Ratna.

Aku kemudian mengatur nafasku dan melihat Ratna yang sudah tertidur. Aku yang merasa lelah akhirnya ikut tidur di sebelah Ratna.

***

Aku terbangun karena ada yang menciumi bibir dan pipiku, saat aku membuka mata melihat Ratna yang tersenyum dengan manisnya.

“kamu manis kalau enggak lagi galak..” ucapku pada Ratna yang tersenyum.

“emang aku galak ya..?” tanya Ratna padaku.

“banget..” ucapku menggodanya.

“ihhh…” Ratna yang gemas menggigit lenganku.

“aaww.. aduh.. aduh..” teriakku yang kesakitan.

“jahaatt..” ucap Ratna manja kemudian merebahkan kepalanya di dadaku.

Aku kemudian terdiam sambil mengelus kepalanya.

“berdua sama kamu mengingatkan dulu waktu kita bersama – sama merawat si Gembul..” ucap Ratna memecah keheningan.

“maaf Na.. dia mati tak lama setelah aku pindah karena aku tidak bisa membawanya..” balasku pada Ratna.

“mungkin dia merasakan kehilangan seperti aku yang merasa kehilangan kamu..” ucap Ratna kemudian.

Aku kembali terdiam teringat marmut kesayanganku. Dulu saat pindah aku merasa sedih karena tidak bisa membawanya, jadi aku terpaksa menitipkan Gembul ke Om Heri. Suatu hari kemudian Ayah mendapat kabar dari Om Heri kalau si Gembul mati, aku yang mendengar itu langsung menangis dan Riska yang saat itu mencoba menghiburku dengan mengajakku untuk beli lagi. Aku saat itu menolak bukan karena bisa membeli lagi, tapi aku teringat dengan siapa yang memberi.

“Na.. yang kita lakukan ini salah..” ucapku merasa bersalah.

“bagiku enggak..” balas Ratna tanpa beban.

“aku sudah menghianati pacarmu dan dia itu temanku sendiri..” ucapku yang merasa bersalah.

“aku mau memutuskan Yudha asal kamu mau sama aku..” balas Ratna yang menatapku.

“bukan seperti itu cara menyelesaikan masalah..” ucapku kemudian berdiri mencari pakaianku.

“kenapa kamu gak mau sama aku..?” tanya Ratna kemudian.

Aku hanya tersenyum dan tidak menjawabnya.

“apa karena ada cewek lain..?” ucap Ratna kemudian.

“sudah aku mau pulang dulu..” balasku tidak menanggapinya.

Aku kemudian memakai pakaianku dan bergegas untuk pulang, tiba – tiba Ratna memelukku dari belakang.

“kamu gak mau lagi yank..?” ucap Ratna manja.

Aku kemudian berbalik menghadapnya, Ratna masih telanjang dan belum memakai pakaian sama sekali.

“aku gak mau kamu pingsan lagi..” ucapku tersenyum kemudian mencium keningnya.

Aku kemudian pergi meninggalkan kost Ratna dan bergegas untuk pulang. Ternyata aku tertidur cukup lama karena hari sudah malam. Aku kembali berfikir dengan apa yang sudah aku lakukan, di satu sisi aku tidak ingin menyakiti Ratna, di sisi yang lain aku sudah menghianati temanku Yudha.

Kenapa juga setiap aku bertemu dengan Ratna selalu berakhir dengan tidur bareng, dan bangsatnya aku juga menikmatinya. Entah apa yang aku rasakan, apakah aku juga sayang padanya atau hanya nafsu semata..? Hufh.. Riki.. Riki.. belum kelar masalah dengan Dini, sudah muncul masalah yang lain.

***

Pagi hari di sekolah terasa berbeda, para siswa terlihat bersemangat karena siangnya tim sepak bola sekolah kami akan bertanding. Mereka terlihat tidak sabar untuk segera hadir untuk mendukung tim sekolahnya bertanding.

“bro ente nanti ikut kan..?” tanya Akbar padaku.

“hmm.. ya liat nanti lah..” balasku yang malas karena aku tidak terlalu suka sepak bola.

“seru ini nanti.. ente harus ikut..” ucap Akbar padaku.

“emang lawan SMA mana..?” tanyaku.

“SMA 10..” sahut Yudha yang tiba – tiba datang.

“bro ikut ane bentar..” ucap Yudha kemudian.

Aku dan Yudha kemudian berjalan ke kamar mandi belakang.

“ada apa bro..?” tanyaku pada Yudha yang terlihat khawatir.

“nanti kayaknya bakalan rusuh bro..” balas Yudha padaku.

“gara – gara waktu study tour ya..?” ucapku ke Yudha dan dia mengangguk.

“ya udah nanti koordinasi ke anak – anak suruh pada ikut..” ucapku kemudian.

Aku sebenarnya tidak ingin kalau sampai rusuh – rusuh, tapi yang namanya sepak bola kan gak mungkin kalau gak ada suporternya. Berkaca dari persepakbolaan di negeri yang terkenal dengan suap dan korupsinya, mereka dengan tega memakan uang yang seharusnya diberikan pada rakyat, mereka malah berfoya – foya dan membeli barang – barang mewah dengan uang hasil korupsi. Lho kok malah jadi ngomongin yang lain.

Kita melihat persepakbolaan di negeri kita ini, masing – masing klub sepak bola memiliki kelompok suporter yang fanatik, tak jarang mereka sampai tawuran cuma gara – gara saling ejek atau tim yang mereka dukung kalah. Hal itu tidak kita pungkiri bisa terjadi juga pada tim sekolah kami.

Aku mencoba meminta teman – temanku untuk tidak memancing keributan, di samping kita sedang bertanding di markas polisi, tim kami juga tidak ingin di diskualifikasi gara – gara tawuran.

Pertandingan ini di adakan dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara, kemudian di adakan pertandingan sepak bola antar SMA yang sifatnya kompetisi dan dilaksanakan dengan sistem gugur. Jadi masing – masing tim harus menang untuk bisa melaju ke babak selanjutnya.

Saat jam pulang sekolah kami sempat berkumpul dahulu dan akhirnya berangkat ke lapangan bersama – sama. Setelah sampai tujuan dan masuk, aku bersama – sama temanku sudah berada di sekitar lapangan dan untuk tim sepak bola kami sedang memperoleh pengarahan dari seorang pelatih, disana aku juga melihat pak Tri yang sepertinya menjadi salah satu wakil dari pihak sekolah yang ikut mendampingi tim sepak bola sekolah kami bertanding.

Setelah briefing selesai kemudian para pemain melakukan pemanasan. Bersamaan dengan itu, aku melihat pak Tri yang berjalan ke arahku.

“Rik.. kamu bawa berapa orang..?” tanya pak Tri saat menemuiku.

“hmm… maksudnya pak..?” balasku yang ragu.

“anggota MEDUSA yang ikut berapa orang..?” tanya pak Tri memperjelas.

“total hampir 30 orang pak, tapi sebagian dari mereka jadi pemain..” balasku menjelaskan.

“hmm.. ya udah.. bilang ke teman – temanmu jangan terpancing..” ucap pak Tri padaku kemudian pergi.

Aku kemudian berfikir dengan apa yang disampaikan oleh pak Tri, apa ini buntut dari kejadian waktu di Bali..? Atau pak Tri mengingatkanku untuk jangan terpancing memulai keributan. Aku kemudian mengajak Akbar dan Yudha untuk berkumpul, dan untuk anak kelas 1 dan 2 ada beberapa anak yang mewakili, karena Sony dan Bayu ikut jadi pemain.

“bro.. barusan pak Tri berpesan agar kita tidak terpancing, entah ini ada hubungannya dengan kejadian di Bali atau tidak kita tidak tau..” ucapku ke teman – temanku.

“ada hal yang lain juga Rik.. mereka emang suka memancing kerusuhan..” sahut Yudha menanggapi.

“hmm.. ya udah kalau gitu kita tahan dulu, kalau mereka maju duluan baru sikat..” ucapku kemudian.

Tak berselang lama kemudian datang massa dengan jumlah sangat banyak, dan ternyata mereka adalah rombongan tim SMA 10 berserta suporternya. Jumlah mereka hampir dua kali lipat dari jumlah kami dan suasana seketika itu menjadi sangat ramai.

“anjing.. banyak banget mereka..” gerutu Akbar yang melihat banyaknya pihak lawan.

“bisa mampus ini kalau jadi ribut..” sahut Samo terlihat pucat.

Aku kemudian melihat teman – temanku yang lain juga terlihat memucat, sepertinya mereka sudah takut duluan saat melihat jumlah lawan yang sangat banyak. Aku kemudian melihat sekitarku dan memikirkan cara untuk menenangkan mereka.

Aku melihat di dekatku ada gerbang yang tidak terlalu lebar tapi lumayan tinggi, dan gerbang tersebut langsung mengarah ke kantor polisi karena letak lapangan yang agak terpisah dengan gedung kantor.

Apabila kami diserang, kami bisa memanfaatkan gerbang itu untuk melawan musuh karena untuk melewati gerbang itu tidak bisa banyak orang sekaligus. Kami juga cukup waktu untuk kesana karena pihak lawan harus menyeberang lapangan dulu untuk sampai ke tempat kami.

“udah santai aja..” ucapku yang membuat teman – temanku melihatku.

“santai gimana Rik.. ente gak liat apa jumlah mereka banyak banget..” ucap Akbar geleng – geleng.

“iya Rik.. nanti kalau kita di serang gimana..” ucap Samo menambahkan.

“terus apa rencanamu Rik..” ucap Yudha yang ikut berbicara.

“kita lawan mereka..” balasku terpotong.

“kaaannnn…. kita ngikutin orang gila.. ane sih bisa lawan 2 sampai 3 orang sekaligus, kalau Samo lawan 1 aja udah kepayahan dia..” ucap Akbar yang mengomel.

“eh anjing.. kenapa ente bawa – bawa ane..!!” balas Samo yang tidak terima.

“ya emang bener kan secara ente itu lambat..” ucap Akbar ke Samo.

“bangsaattt…!! Ane buat lawan 5 orang macam ente cukup sendirian..!!” balas Samo ke Akbar.

“woi.. udah.. udah diem..!!” teriak Yudha menengahi.

“udah belum ngomelnya..?” ucapku ke mereka.

“udah Rik lanjutin..” balas Yudha menanggapi.

“kalau nanti kita di serang, kita lawan mereka disana..” ucapku sambil menunjuk ke gerbang.

“terus terang kalau kita lawan mereka secara terbuka kita jelas kalah jumlah, tapi dengan memanfaatkan gerbang itu kita bisa melawan mereka dari dalam karena mereka tidak bisa masuk semuanya sekaligus. Nanti kita atur sebagian menjaga gerbang kanan kiri untuk mengganggu mereka, dan kita yang di tengah langsung menghajar mereka yang masuk..” ucapku menjelaskan pada teman – temanku.

“kalian lihat gedung itu..?” ucapku menunjuk gedung kantor polisi.

“itu adalah kunci kemenangan kita, apabila terjadi kerusuhan otomatis polisi yang melihat itu langsung datang dan membubarkan. Saat polisi sudah datang, mereka akan tau kalau kita yang di serang, hal itu tentu saja menguntungkan kita..” lanjutku menjelaskan.

“HAHAHA…” Akbar yang tiba – tiba tertawa dengan keras.

Saking kerasnya suara Akbar yang tertawa membuat semua orang di sekitar melihat ke arah Akbar, sampai para pemain yang sedang pemanasan pun juga melihat ke arah Akbar. Aku kemudian melihat teman – temanku yang tadi sempat memucat sekarang sudah bisa tersenyum.

“HAHAHA… kamu memang idolaku…” ucap Akbar yang masih tertawa dan berusaha memelukku.

“anjing..!! Gak usah peluk – peluk..!! Aku bukan hom – hom..!!” balasku sambil mendorong – dorong Akbar agar menjauh.

“hahaha…” ucap Akbar yang masih tertawa kemudian memeluk Samo.

“woi sikat WC..!! Gak usah peluk – peluk anjingg..!!” ucap Samo yang risih saat di peluk Akbar.

“hahaha…” kami yang tertawa melihat tingkah Akbar dan Samo.

Aku tersenyum melihat teman – temanku yang sudah tidak terlihat tegang dan mereka juga sudah bisa tertawa. Semoga saja hal yang aku takutkan tidak terjadi, karena aku juga merasa khawatir kalau sampai terjadi tawuran, pasti akan ada korban dan hanya itu yang bisa aku rencanakan untuk meminimalisir kemungkinan terburuk.

Yudha kemudian menepuk – nepuk pundakku sambil tersenyum dan mengajakku untuk menonton pertandingan yang segera akan dimulai.

Kick off babak pertama sudah dimulai dan yang melakukan kick off dari tim kami. Pertandingan berjalan dengan tempo lambat karena masing – masing tim sedang membaca permainan lawan dan mengatur strategi untuk membongkar pertahanan lawan.

Pertandingan berjalan seru karena masing – masing tim saling menyerang dan bertahan dengan baik, hingga berakhirnya babak pertama kedudukan masih sama kuat dengan skor imbang 0 – 0.

Setelah istirahat turun minum, kemudian babak kedua dilanjutkan kembali. Terlihat dari masing – masing tim merubah strategi dan melakukan beberapa pergantian pemain. Pertandingan yang tadinya berjalan dengan tempo lambat berubah menjadi cepat, masing – masing tim berusaha untuk mencetak goal ke gawang lawan.

“Rik.. ente perhatikan itu yang nomor 10..” ucap Yudha yang tiba – tiba menghampiriku.

“yang baru masuk ya..” balasku ke Yudha karena aku tidak melihatnya bermain di babak pertama.

“iya.. dia itu masih kelas 2 Rik tapi dia udah bisa nguasai SJ..” ucap Yudha padaku.

“SJ nama genk SMA 10 ya..?” tanyaku ke Yudha.

“iya.. Sempak Jaran..” balas Yudha.

“hah..?” ucapku yang heran.

“SJ itu singkatan dari Sempak Jaran. Dulu setahuku artinya Selalu Kompak dan Jarang Tawuran, tapi itu hanya nama Rik karena mereka sering memancing keributan yang kemudian berakhir dengan tawuran..” balas Yudha menjelaskan.

“yang nomer 10 itu namanya Febri dan dia yang kemudian mengubah kata “Jarang” menjadi “Jago”. Dia menganggap jumlah massa yang banyak menjadikan SJ sebagai jago tawuran.” Lanjut Yudha bercerita.

“ente tau semua ini dari mana..?” tanyaku ke Yudha.

“dari temenku Rik.. dia anak SMA 10 juga..” balas Yudha padaku.

“BANGSAATT… WOII KALAU MAIN JANGAN KASAR – KASAR ANJINGG..!!” teriak Akbar mengagetkanku.

“LEMAAHH GOBLOKKK… HAHAHA…!!” teriak suporter dari pihak lawan.

Aku kemudian melihat ke lapangan dan terlihat salah satu pemain kami sedang tergeletak kesakitan. Ternyata pemain kami habis di kasari oleh pemain lawan nomor 10, dan yang membuatku heran karena dia hanya diberi peringatan oleh wasit.

“bro.. tolong ente tenangin Akbar..” ucapku menyuruh Yudha untuk nenangin Akbar.

Aku kembali menyaksikan pertandingan dan memang pertandingan berjalan dengan keras dan menjurus ke kasar. Aku tetap memperhatikan pemain nomor 10 itu yang dari tadi terlihat memprovokasi pemain kami.

Saat tendangan sudut untuk pihak lawan, para pemain terlihat berkumpul di depan gawang. Aku yang terus memperhatikan nomor 10 terlihat di jaga oleh Sony, tiba – tiba anak itu menyikut perut Sony dan Sony yang merasa tidak terima langsung mendorong si nomor 10 itu.

Si nomor 10 yang di dorong Sony kemudian menjatuhkan diri dan pura – pura kesakitan seperti habis dipukul, wasit yang melihat kejadian itu langsung menghentikan pertandingan. Karena dianggap bermain tidak sportif, kemudian Sony diberi kartu merah yang membuatnya harus keluar lapangan.

“WUUU… BANCII MAIN KASAR..!!” teriak suporter lawan.

“WOII… ITU CUMA PURA – PURA..!!” teriak Akbar yang tidak mau kalah.

“NOMOR 10 ANJINNGG… BERANTEM AJA AYOO…!!” ucap Akbar yang terlihat emosi.

Saat merasa dia disebut, kemudian si nomor 10 melihat Akbar yang dari tadi teriak – teriak. Aku sebenarnya emosi juga melihat itu, tapi aku tahan karena aku yang disuruh oleh pak Tri untuk tidak terpancing.

Setelah itu pertandingan dilanjutkan, tapi kami dirugikan akibat pelanggaran dari Sony yang berada di dalam kotak pinalty yang akhirnya pihak lawan di untungkan karena memperoleh hadiah tendangan pinalty. Tendangan pinalty dilakukan oleh pemain nomor 10 dan..

“GOOAAALLL…” teriak suporter lawan saat gawang kami kebobolan.

Goal terjadi karena penjaga gawang salah menebak arah bola yang menjadikan kami tertinggal dengan skor 0 – 1. Pemain nomor 10 itu terlihat mengejek kami saat melakukan selebrasi dan kami yang melihat itu menjadi geram terutama Akbar.

Pertandingan dilanjutkan dengan tim kami yang hanya 10 pemain, hal itu membuat pertahanan tim kami sedikit keteteran karena posisi yang ditinggalkan oleh Sony adalah posisi bertahan. Setelah menarik salah satu penyerang dan memasukkan pemain bertahan, permainan kembali stabil dan tim kami bisa mengancam gawang lawan lewat serangan balik.

Aku melihat peran Bayu yang cukup merepotkan pihak lawan, karena dengan kelincahan dan kecepatannya bisa beberapa kali membuat peluang. Saat tim kami sedang menyerang, terlihat Bayu yang sedang menggiring bola terlihat dijaga oleh salah satu pemain lawan, kemudian Bayu bisa melewatkan bola dan berlari mengejar bola melewati pemain yang menjaganya, tiba – tiba dari arah samping berlari seseorang yang menuju ke arah Bayu.

“BANGSAATT..!!” teriakku saat melihat Bayu yang terjatuh.

Aku seketika itu langsung emosi melihat adikku yang berguling kesakitan memegang kakinya, dan emosiku bertambah karena yang menjatuhkan Bayu adalah si nomor 10, dia sengaja tidak mengincar bola tapi mengincar adikku karena bukan bola yang di tendang tapi kaki adikku.

“WOOO… MANJAA ITUU MANJAA..!!” ejek suporter lawan meneriaki Bayu yang kesakitan.

“WOII… UDAHH AYO BERANTEM AJA SINI… ANJINGG..!!” teriak Akbar yang juga emosi.

Aku benar – benar emosi melihat permainan nomor 10, dan parahnya lagi wasit hanya memberinya kartu kuning karena pelanggaran tadi. Aku benar – benar sudah tidak tahan lagi dan ingin menyerang, walau akhirnya nanti kalah aku juga tidak peduli, karena yang terpenting bagiku adalah bisa menghajar si nomor 10 itu.

Saat tanganku yang sudah terkepal dan siap untuk maju, tiba – tiba ada yang menggenggam tanganku dan melepaskan kepalanku. Saat aku menengok ke belakang ternyata yang melakukannya adalah Monic.

Monic ternyata sudah dari tadi berada di belakangku dan aku tidak menyadarinya. Saat aku melihat sekitar ternyata banyak cewek juga yang menonton, hal itu tentu membahayakan mereka kalau sampai terjadi tawuran.

Aku yang tersadar akan hal itu kemudian mengurungkan niatku dan menahan diri. Aku juga merasakan emosiku perlahan turun karena Monic yang terus menggenggam tanganku.

“Mon.. kalau dilihat orang gimana..?” tanyaku ke Monic yang menggenggam tanganku.

“sudah biarin aja..” balas Monic padaku.

Aku kemudian melihat sekitarku dan mendapati Ferdi yang sedang bersama Farah berdiri tidak jauh dariku, mereka terlihat cuek dan pura – pura tidak melihatku yang sedang bergandengan dengan Monic. Saat aku melihat ke arah samping, Yudha tersenyum sambil memainkan alisnya saat melihatku yang terlihat grogi.

“Mon..” panggilku lagi.

“ssttt…” balas Monic menyuruhku diam.

Akhirnya aku kembali menyaksikan sisa pertandingan dengan tangan yang saling terkait. Aku juga melihat Bayu yang sudah kembali bertanding walau terlihat agak pincang. Perlahan aku mulai merasa nyaman dan membalas genggaman tangan Monic. Monic yang merasakan balasanku kemudian bersandar di lenganku yang membuatku tambah nyaman.

Akhirnya pertandingan berakhir dengan skor akhir 0 – 1 untuk kemenangan pihak lawan. Walau tim kami kalah, kami tetap mendukung dan menghargai perjuangan para pemain yang bertanding di lapangan.

Aku kemudian menuju ke tempat pemain berkumpul untuk melihat keadaan Bayu, saat aku berjalan kesana Monic tetap tidak melepas genggaman tangannya dan ikut berjalan denganku.

“dek.. gimana kakimu..?” tanyaku pada Bayu yang sedang duduk beristirahat.

“gak papa mas.. cuma sedikit nyeri..” balas Bayu sambil melirik tanganku.

“ya udah habis ini langsung pulang kan..?” tanyaku lagi.

“iya mas..” balas Bayu tersenyum.

“ya udah hati – hati ya..” ucapku kemudian pergi meninggalkan Bayu.

Aku kemudian berjalan bersama Monic yang masih menggandengku.

“Mon.. kok gak lepas – lepas..” ucapku menyindir.

Kemudian Monic melepaskan tanganku dengan muka yang cemberut. Aku tersenyum melihat Monic yang ngambek kemudian menggandeng tangannya lagi.

“kamu tadi kesini naik apa..?” tanyaku ke Monic.

“di antar..” balas Monic datar.

“terus pulangnya..?” tanyaku lagi.

“sama kamu..” balas Monic yang masih cemberut.

“aku gak mau..” ucapku yang membuat Monic menghentikan langkah dan melihatku.

“aku gak mau nganter kamu kalau masih cemberut..” ucapku tersenyum.

“iihhhh…” balas Monic yang gemas sambil mencubitku.

“hehehe…” aku tertawa melihat Monic yang tersenyum malu.

Saat kami sampai parkiran motor, aku kemudian melihat teman – temanku yang sudah berkumpul dan bersiap untuk pulang. Beberapa saat kemudian, rombongan anak – anak SMA 10 melintas melewati kami dengan motor yang di geber – geber.

Aku melihat Febri si nomor 10 tadi yang berada di depan memimpin rombongan menggunakan motor RX Kong warna merah, muka – muka mereka terlihat mengejek kami karena berhasil memenangkan pertandingan.

“AWAS KAU BANGSAAATT..!!” teriak Akbar yang terlihat emosi.

Mereka yang diteriaki Akbar terlihat geram tapi tidak berani berhenti karena terlihat ada beberapa polisi yang berjaga mengatur jalan. Setelah rombongan itu pergi, kami kemudian pergi untuk pulang ke rumah masing – masing.

Aku kemudian memacu motorku untuk mengantar Monic pulang. Monic memboncengku dengan memelukku dan aku merasa kangen dengan pelukan ini, pelukan yang bisa menenangkan hatiku dan membuatku merasa nyaman. Aku teringat bahwa dari siang aku belum makan.

“Mon.. kita mampir makan ya..” ucapku ke Monic.

“boleh..” balas Monic.

“kamu mau makan apa..?” tanyaku kemudian.

“yang dekat sini aja..” balas Monic padaku.

“aku kira kamu mau jawab terserah.. hehe..” ucapku mengajak bercanda.

“besok yah kalau aku udah siap ketemu keluargamu..” balas Monic yang ternyata ingat.

Aku teringat saat terakhir kali mengajak Monic untuk makan, dan saat itu aku menggodanya untuk aku ajak ke rumah gara – gara kata “terserah”. Ternyata Monic juga masih mengingatnya saat aku tadi mengajaknya bercanda.

Beberapa saat kemudian kami berhenti di sebuah warung makan, aku tau tempat ini karena aku pernah makan disini dan ini sejalur dengan arah ke rumah Monic. Aku dan Monic kemudian mengambil makanan dan mencari tempat duduk.

Saat kami makan, aku melihat Monic yang terlihat sangat lahap.

“Mon.. kamu laper apa doyan..?” ucapku yang melihat Monic makan dengan lahap.

“hihihi… makanannya enak Rik.. kamu pernah kesini..?” balas Monic padaku.

“pernah.. eh sebentar..” ucapku yang melihat ada nasi di samping bibir Monic.

Mungkin karena Monic yang makannya lahap jadi tidak tau kalau ada nasi yang nempel di samping bibirnya, saat aku sedang membersihkannya aku melihat seseorang yang berdiri di belakang Monic menatapku dengan tajam, dan orang itu adalah Ratna. Ratna yang melihatku sedang bersama seorang cewek terlihat sangat marah, kemudian aku melihatnya yang langsung pergi dengan terburu – buru.

“sudah Mon..” ucapku setelah membersihkan nasi yang menempel.

“makasih..” balas Monic tersenyum.

Setelah selesai makan, kami langsung bergegas untuk pergi. Sepanjang perjalanan aku hanya diam memikirkan yang baru saja terjadi, kenapa aku bisa gak kepikiran kalau warung makan itu dekat kostnya Ratna, dan yang pasti kalau Ratna cari makan juga disitu karena aku tau tempat itu juga dari Ratna. Hufh… bodoh.. bodoh..

“Rik.. kok kamu diam aja..?” tanya Monic saat perjalanan.

“eh.. enggak Mon.. aku lagi mikir belum ngerjain PR..” balasku berbohong.

“ohh.. perlu aku bantuin..?” ucap Monic menawarkan.

“gak usah Mon..” balasku

Setelah sampai rumah Monic, aku kemudian pamit dan bergegas untuk pulang.

***

Saat jam istirahat sekolah, aku sedang duduk di kantin bersama dengan temanku Yudha. Saat kami sedang mengobrol, tiba – tiba aku melihat Dini, Monic, Nisa dan Farah yang datang ke kantin dan duduk tidak jauh dari tempatku.

Yang membuatku heran adalah sikap Dini yang tidak seperti biasanya, Dini yang sehari – harinya bersikap acuh dan tidak mau melihatku, kini dia melihatku dengan tajam, dan anehnya dia melakukannya tidak hanya sekali. Ada apa ya kira – kira dengan Dini..?

Aku berfikir mengenai sikap yang dilakukan Dini, apakah itu suatu sinyal bahwa dia sudah mau bertemu dan bicara denganku..? Jika itu benar, maka aku harus mencari cara untuk bisa bertemu dengannya, tapi aku harus mulai dari mana, rumahnya saja aku tidak tau dimana.

“Rik.. nanti pulang sekolah ente ada acara gak..?” ucap Akbar yang tiba – tiba datang membuyarkan lamunanku.

“eh.. ada apa bro..?” tanyaku ke Akbar.

“ane mau minta temenin ke daerah X, nanti kita boncengan aja..” balas Akbar menjelaskan.

“hmm.. sory bro ane ada acara..” ucapku menolak Akbar karena aku sudah menemukan cara untuk bertemu Dini.

“oh gitu.. ya udah gak papa..” balas Akbar yang terlihat kecewa.

“emang ente mau ngapain kesana..?” tanya Yudha ke Akbar.

“ane mau ngambil pesanan bokap..” balas Akbar menjelaskan.

“ya udah nanti ente pulang dulu ganti baju terus kesana..” ucap Yudha ke Akbar.

“halaahh… kelamaan malah muter – muter..” balas Akbar yang kemudian pergi.

Selama permbicaraan tadi aku tidak terlalu memperhatikan karena aku sedang fokus dengan rencanaku untuk bertemu dengan Dini, aku berencana mengikutinya pulang yang paling tidak aku bisa tau dulu rumah Dini.

Setelah jam istirahat selesai, aku dan Yudha kembali ke kelas masing – masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Saat jam pulang sekolah, aku segera menuju ke parkiran dan menunggu disana. Aku memperhatikan Dini yang terlihat sedang menunggu jemputan, aku juga sempat melihat Akbar yang pergi berboncengan dengan Samo.

Setelah menunggu beberapa menit, terlihat mobil jemputan Dini datang, setelah Dini masuk kemudian mobil itu pergi meninggalkan sekolah. Aku yang melihatnya kemudian memacu motorku untuk mengikuti mobil Dini. Aku sengaja menjaga jarak karena rencana awalku hanya ingin tau dulu rumah Dini.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tiba – tiba HP ku bergetar pertanda ada telepon masuk, aku mendiamkannya karena kalau aku berhenti dulu untuk mengangkat telepon takutnya aku kehilangan jejak Dini.

Setelah beberapa panggilan yang sempat berhenti, aku merasakan HP ku bergetar lagi tanda ada telepon masuk, aku menduga bahwa ini telepon penting karena tidak biasanya ada yang menelponku sampai berkali – kali, aku akhirnya menepikan motor dan menyudahi untuk mengikuti mobil Dini.

Saat aku mengambil HP ku dari saku, aku melihat nama Yudha yang menelpon.

“halo bro..” ucapku ke Yudha.

“Rik ente dimana..?” tanya Yudha padaku.

“lagi di jalan.. kenapa..?” jawabku.

“Akbar sama Samo masuk rumah sakit.. mereka habis di keroyok..” ucap Yudha mengagetkanku.

“sekarang ente dimana..?” tanyaku sedikit panik.

“ini lagi mau ke rumah sakit..” balas Yudha.

“ya udah kita ketemu disana..” ucapku mengakhiri telepon.

Aku kemudian melihat layar HP ku ada 3 panggilan tidak terjawab dan itu semua dari Akbar, dia berusaha mengabariku tapi aku tidak merespon makanya kemudian dia mengabari Yudha.

Aku kemudian memacu motorku dengan cepat menuju rumah sakit, setelah sampai sana aku kemudian bertemu Yudha yang sudah disana terlebih dahulu.

“bro.. gimana..?” tanyaku ke Yudha.

“Akbar luka – luka sama lebam, tapi kalau Samo sampai gak sadarkan diri Rik..” balas Yudha padaku.

“kejadiannya gimana..?” tanyaku ke Yudha.

“kata Akbar tadi mereka di pepet sama 3 motor di daerah X, mereka di keroyok sampai kemudian ditolong warga..” balas Yudha menjelaskan.

“ciri – cirinya tau gak..?” tanyaku lagi.

“Akbar cuma tau motor yang menutup jalannya dari depan pakai RX Kong warna merah, Akbar tidak tau orangnya karena mereka pakai slayer..” balas Yudha bercerita.

“ane boleh masuk gak ini..” ucapku kemudian.

“kayaknya gak boleh Rik, ane aja tadi disuruh keluar..” balas Yudha padaku.

“oh.. ya udah ane keluar bentar..” ucapku ke Yudha.

“kemana Rik..?” tanya Yudha yang melihatku pergi.

“beli rokok bentar..” balasku meninggalkan Yudha.

Aku tersadar karena aku merasa bodoh, kenapa gara – gara Dini aku jadi tidak peka dengan temanku. Akbar yang memintaku untuk mengantarkannya ke daerah X dan Yudha yang menyuruh Akbar pulang dulu untuk ganti pakaian, dari situ kan aku harusnya tau kalau daerah X itu dekat dengan SMA 10, dan kita sedang bersitegang gara – gara masalah sepak bola tempo hari. Bangsat.. bangsat.. aku jadi merasa bersalah pada Samo, karena harusnya aku yang dikeroyok bukan dia.

Aku kemudian mengambil motorku dan mengarahkannya ke SMA 10, aku sengaja berbohong pada Yudha karena aku ingin mendatanginya sendiri. Aku teringat dengan ciri – ciri motor yang disebutkan oleh Yudha, aku ingat kalau itu sama dengan motor yang dipakai Febri dan aku yakin pasti Febri juga pelakunya. Aku seketika itu merasa emosi mengingat apa yang telah Febri lakukan pada temanku dan adikku.

Saat aku sampai di SMA 10, aku kemudian mengitari daerah tersebut. Aku menyisir beberapa kali tempat tersebut tapi tidak menemukan apa yang aku cari. Aku yang mulai putus asa kemudian berhenti di pinggir jalan, aku yang hendak akan pulang malah mengambil HP ku dan menelpon Reno.

“halo Rik ada apa..?” ucap Reno menjawab teleponku.

“Ren.. tau nongkrongnya anak SMA 10..?” tanyaku ke Reno.

“anak SJ ya..? Emang ada urusan apa..?” balas Reno yang heran.

“enggak Ren, cuma mau nemuin temanku..” ucapku beralasan.

“ohh.. bentar aku coba tanya Wahyu..” balas Rendi kemudian.

Aku mendengar Reno dan Wahyu yang sepertinya sedang bercakap, berarti Reno dan Wahyu sedang nongkrong di cafe.

“Rik.. haloo..” ucap Reno memanggilku.

“iya Ren..” balasku.

“kata Wahyu di sebelah barat SMA ada jalan tanah di tengah kebun, ente masuk aja nanti..” ucap Reno terpotong karena aku memutus telepon.

Aku yang sudah tidak sabar kemudian mengarahkan motorku seperti yang dikatakan Reno tadi, saat aku menemukan jalan yang dimaksud, aku mengarahkan motorku kesana. Aku melewati perkebunan yang di kanan kirinya hanya terlihat pepohonan, beberapa saat kemudian aku menemukan sebuah gubuk yang di depannya terparkir 3 motor dan salah satunya motor yang aku cari.

Perasaan marah dan benci bersatu membuat emosiku semakin memuncak, aku langsung masuk ke dalam warung dengan membawa sebuah kayu yang aku ambil saat di depan tadi. Aku melihat ada 5 orang yang sedang memutar minuman dan salah satunya adalah Febri, orang yang aku cari. Mereka terlihat kaget saat melihat kedatanganku.

“woii mau apa kamu..!!” teriak Febri saat melihatku membawa kayu.

BUGH.. BUGH.. BUGH.. BUGH..

Dua orang langsung tumbang setelah aku memukul mereka menggunakan kayu.

BUGH..

Sebuah tendangan dari Febri yang membuatku termundur. Aku seketika itu langsung memukul menggunakan kayu pada seseorang yang berada di kananku, pukulanku dapat ditahan walau dia kesakitan. Tiba – tiba..

BUGH.. BUGH.. BUGH.. BUGH..

Seseorang menyerangku dari samping yang membuatku oleng dan kayu yang aku bawa terlempar, aju langsung dihujani pukulan bertubi – tubi oleh dua orang hingga tiba – tiba seseorang memukulku dengan kayu dari samping.

Aku yang terjatuh langsung di injak – injak oleh 3 orang sekaligus. Aku yang hanya bisa bertahan merasa sangat emosi karena tujuanku ke sini untuk menghajar Febri, bukan untuk kalah.

Tiba – tiba aku merasakan hawa panas menjalar di tubuhku dan emosiku terasa seperti meledak – ledak.

“AARRRGGGGHHHHH….” teriakku memberontak mendorong mereka bertiga.

Aku langsung berdiri dan menatap mereka dengan tajam. Aku merasakan pandanganku menjadi lebih tajam dan badanku terasa lebih ringan.

“bantai.. bantai.. bantai..” terdengar suara bisikan.

“AARRRGGGGHHHHH….” teriakku menyerang mereka bertiga.

BUGH.. BUGH.. BUGH.. BUGH..

Aku menyerang mereka dengan brutal dan mereka yang aku serang berusaha membalas seranganku. Dengan pandanganku yang lebih tajam dan badanku yang terasa ringan membuat gerakanku menjadi lebih cepat. Aku bisa menghindar sekaligus menyerang secara bersamaan walau beberapa pukulan sempat masuk mengenaiku, hingga kemudian satu orang tumbang terkena tendanganku. Kemudian satu orang lainnya terlihat berlari pergi seperti ketakutan, sehingga hanya tersisa Febri seorang diri.

“bantai.. bantai.. bantai..” suara bisikan yang terus menggema.

Febri langsung maju berusaha menyerangku dan aku yang sudah siap bisa menahan dan balas menyerangnya. Aku merasa emosiku tersalurkan setiap memukul Febri karena tujuanku kesini memang untuk menghajarnya, aku menyerangnya bertubi – tubi sampai saat dia terjatuh pun aku terus memukulinya.

BUGH.. BUGH.. BUGH.. BUGH..

“amm.. puunn..” terdengar suara lirih dari Febri yang membuatku tersadar.

Aku seperti orang bingung saat melihat keadaan sekitarku. Posisiku menduduki Febri yang diam tidak bergerak dan ada 3 orang lainnya yang berada tidak jauh dariku dengan keadaan pingsan. Aku kemudian mencoba untuk berdiri.

“uhh..” rintihku yang merasakan tubuhku terasa sakit semua.

Aku kemudian berdiri dan melihat ada 1 botol minuman yang belum dibuka. Setelah mengambilnya, aku berjalan dengan gontai keluar dari gubuk kemudian duduk di sebuah bangku. Aku merasakan sangat capek sekali dan badanku terasa sakit semua.

Sambil menikmati minuman, aku merenung memikirkan yang baru saja terjadi. Aku seperti tak percaya bisa melakukan semua itu, apa yang aku lakukan seperti tidak masuk akal dan herannya aku seperti tidak sadar saat melakukannya.

Di satu sisi aku mengingat setiap detail tindakanku, tapi di sisi yang lain aku merasa tidak terkendali, apalagi bisikan – bisikan yang aku dengar membuatku tambah menggila.

Beberapa menit kemudian datang polisi yang menggunakan beberapa mobil. Beberapa orang turun kemudian menyisir lokasi dan ada seorang polisi yang mendatangiku.

“kamu yang tadi melaporkan terjadi penyerangan..?” tanya polisi itu padaku.

“bukan pak..” jawabku.

“mana temanmu yang lain..?” tanya polisi kembali.

“gak ada pak..” balasku yang membuat polisi tersebut heran.

“lapor Ndan.. tidak ada orang di sekitar lokasi, hanya ada 4 orang di dalam gubuk, mereka semuanya pingsan..” ucap seorang polisi kepada polisi yang ada di depanku.

Polisi tersebut setelah mendapat laporan dari anak buahnya langsung mendekatiku kemudian mengecek bet lokasi sekolah di lenganku.

“berarti kamu yang melakukan penyerangan..?” tanya polisi itu padaku.

“iya pak..” jawabku.

“kenapa kamu tidak lari..?” tanya polisi itu heran.

“saya capek pak..” balasku lemas.

Mungkin polisi itu heran melihatku yang malah duduk santai sambil minum, bukannya lari setelah melakukan penyerangan.

“segera lakukan olah TKP dan bawa anak ini ke kantor..” ucap polisi tersebut ke anak buahnya.

“siap Ndan..!!”

Aku kemudian di giring masuk ke dalam mobil polisi dan di bawa ke kantor, setelah sampai disana barang bawaanku di sita semua dan aku di masukkan ke dalam sebuah ruangan.

Setelah beberapa menit kemudian datang seorang polisi yang kemudian duduk di depanku, polisi tersebut kemudian melihat – lihat suatu berkas yang dibawanya.

“apakah benar saudara yang bernama Riki Putra Sanjaya..?” tanya polisi padaku.

“benar pak..” jawabku.

“apa alasan saudara melakukan penyerangan..?” tanya polisi.

“tidak ada pak..” jawabku.

“apa alasan saudara melakukan penyerangan..!!” ucap polisi dengan nada yang lebih keras.

“saya hanya ingin melakukannya..” balasku datar.

“berarti anda sudah merencanakannya..?” tanya polisi lagi.

“iya pak..” jawabku.

“baik.. akibat tindakan yang saudara lakukan, anda telah melanggar pasal 353 KUHP tentang penganiayaan berencana dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Walau status anda masih pelajar, itu tidak berpengaruh pada proses hukum yang berlaku, karena anda sudah berumur lebih dari 18 tahun..” ucap polisi menjelaskan.

“apa ada seseorang yang ingin anda hubungi..?” tanya polisi kemudian.

“tidak ada pak..” balasku.

“baik.. saya kira keterangan saudara sudah cukup..” ucap polisi yang kemudian pergi meninggalkanku.

Tak berapa lama, datang seorang polisi lain yang kemudian memasukkanku ke dalam sel penjara. Sepertinya aku hanya sendirian di dalam sel karena aku lihat sel lain juga terlihat sepi. Aku sudah pasrah apabila memang harus dihukum akibat tindakan yang telah aku lakukan.

Aku yang merasa lelah kemudian merebahkan diriku. Karena emosi sesaat akhirnya aku harus tidur dengan merasakan dinginnya lantai di balik jeruji besi.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat