Kisah Riki Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 12

Keterbukaan​

Setelah melewati liburan dengan kegiatan masing – masing, hari yang dinanti telah tiba yaitu hari pertama masuk sekolah. Sekarang aku sudah kelas 3 SMA dan tinggal selangkah lagi aku akan lulus kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Para siswa kelas 2 dan 3 terlihat senang dan bersemangat saat masuk hari pertama, karena mereka mulai mencari – cari dan mengincar siswa baru yang mereka anggap menarik dan cantik. Dengan modal senioritas mereka dengan mudah bisa mendekati atau hanya untuk sekedar berkenalan.

Aku kadang tersenyum melihat teman – temanku yang menyibukkan diri untuk tampil sekeren mungkin dan menebar pesona demi mendapatkan perhatian dari gadis yang mereka incar.

Saat teman – temanku yang sedang menikmati kegembiraan dengan caranya masing – masing, aku malah kembali disibukkan dengan permasalahanku sendiri. Permasalahanku dengan Dini, Monic, Nisa dan Farah belum lagi tanggung jawabku sebagai ketua MEDUSA.

Hufhh.. pelan – pelan aku harus menyelesaikan masalahku satu – satu, aku tidak ingin permasalahanku semakin berlarut – larut yang nantinya malah jadi beban pikiran.

Sekarang aku sedang nongkrong di kamar mandi belakang bersama temanku Yudha.

“gimana bro liburan kemarin..?” tanyaku ke Yudha.

“aman bro.. cuma kemarin sempet mau ribut..” balas Yudha.

“emang ribut masalah apa..?” tanyaku penasaran.

“ribut gara – gara Akbar..” balas Yudha yang terlihat jengkel.

“emang ngapain dia..?” ucapku bertanya apa yang dilakukan Akbar.

“ane gak begitu ngerti awalnya Rik, cuma pas ane datang udah mau pada berantem gitu..” ucap Yudha menjelaskan.

“emang berantem sama siapa..?” tanyaku penasaran.

“anak SMA 10. Kebetulan ketemu gitu disana.. untung langsung di lerai sama pak Tri..” balas Yudha.

“oh.. ya syukur kalau gak jadi berantem..” ucapku yang merasa lega.

“belum aja Rik..” sahut Yudha kemudian.

Saat aku akan menanggapi Yudha, tiba – tiba Ferdi datang dan langsung bergabung dengan kami.

“dari mana ente..?” tanya Yudha ke Ferdi.

“kantin..” balas Ferdi.

“pasti kabur lagi.. hahaha..” ucap Yudha yang tertawa.

“ya mau gimana lagi..” balas Ferdi kemudian melirikku.

“apa enaknya mau ketemu temen aja harus sembunyi – sembunyi..” ucap Yudha kemudian.

“nasib..” balas Ferdi yang terlihat pasrah.

Aku yang mendengar percakapan Yudha dan Ferdi jadi merasa bersalah, lagi – lagi karena aku. Aku merasa kasihan sama Ferdi yang jadi terkekang karena tidak boleh bergaul dengan temannya terutama denganku. Saat bel berbunyi tanda jam istirahat selesai, kami kemudian bergegas untuk kembali ke kelas.

“Fer.. bisa minta tolong gak..?” ucapku pada Ferdi.

Kami yang akan kembali ke kelas kemudian berhenti, untuk Yudha yang sempat berhenti kemudian pamit untuk duluan balik ke kelas.

“kenapa Rik..?” tanya Ferdi heran.

“bisa gak ente ajak Farah untuk ketemu ane di luar..?” ucapku ke Ferdi.

“mau ngapain bro..? Trus ane bilangnya juga gimana..?” balas Ferdi yang terlihat bingung.

“ya ente gak usah bilang mau ketemu ane.. ajak aja cewek ente buat makan diluar gitu kek.. nanti ente tinggal kabarin ane tempatnya..” ucapku menjelaskan.

“hmm.. bisa – bisa.. emang ada perlu apa bro..?” balas Ferdi.

“ane cuma butuh ngomong bentar doank.. kalau bisa sekalian ajak Nisa juga Fer..” ucapku memohon.

“kalau Farah sih bisa Rik.. tapi kalau Nisa ane gak bisa janji..” ucap Ferdi padaku.

“gak papa Fer.. sebisanya aja..” balasku.

“okelah.. udah yok balik ke kelas..” ajak Ferdi padaku.

“makasih bro..” ucapku ke Ferdi.

“santai..” balasnya tersenyum.

Aku dan Ferdi kemudian kembali ke kelas kami masing – masing dan mengikuti pelajaran.

Setelah bel berbunyi tanda jam pulang sekolah, para siswa kemudian bergegas untuk pulang. Aku kemudian mengambil motorku tapi tidak langsung pulang, aku berhenti di pinggir jalan sambil merokok dan menunggu kabar dari Ferdi.

Setelah sekitar 10 menit menunggu, ada sebuah pesan dari Ferdi yang memberitahukan bahwa dia sedang berada di sebuah cafe di kota ini. Setelah membaca pesan dari Ferdi, aku kemudian memacu motorku menuju cafe yang disebutkan oleh Ferdi.

Setelah sampai disana, aku kemudian memarkirkan motorku dan masuk ke dalam cafe mencari keberadaan Ferdi. Saat aku yang sudah menemukan keberadaan mereka, aku langsung menuju ke meja yang mereka duduki. Dan aku merasa sedikit lega karena aku melihat Nisa yang ada disana.

Saat aku sudah berdiri di dekat mereka, Nisa melihatku dengan tajam dan Farah terlihat emosi melihatku datang.

“beb.. ini maksudnya apa..??!!” ucap Farah yang berdiri terlihat emosi.

“aduh.. bentar beb.. aku jelasin dulu..” balas Ferdi yang ketakutan melihat Farah emosi.

“aku cuma mau ngomong bentar, setelah itu aku akan pergi..” ucapku pada mereka.

Setelah Farah dan Nisa duduk kembali, aku kemudian juga ikut duduk bersama mereka.

“maaf sebelumnya, aku yang merencanakan ini semua dan tujuanku hanya ingin menyampaikan beberapa hal kepada kalian..” ucapku pada Nisa, Farah dan Ferdi.

“aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang memang harus aku sampaikan, karena aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan ini..” ucapku kemudian.

Aku kemudian mulai menceritakan tentang aku yang menghajar Benny, kemudian permasalahanku dengan MEDUSA yang menyebabkan aku berduel dengan Doni. Untuk masalah Dini yang menamparku, aku jujur pada mereka bahwa saat itu aku belum tau kalau Doni adalah kakaknya Dini.

Kemudian aku bercerita tentang penyerangan ke sekolah itu secara tidak langsung adalah runtutan masalahku dengan Benny. Aku kemudian menceritakan saat acara perpisahan MEDUSA, aku menceritakan ke mereka saat Doni yang menghajar Angga sampai pingsan, dan saat aku bertanya ke Doni alasan dia menghajar Angga, Doni hanya menjawab kesalahpahaman.

Dan khusus untuk Nisa, aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak pernah mempermainkan perasaan siapa pun. Permasalahanku dengan Dini murni karena kesalahpahaman, dan untuk Monic aku menjelaskan pada Nisa bahwa aku juga tulus padanya. Dan saat Nisa melihatku bersama Monic di warung soto, itu karena aku yang tidak sengaja bertemu dengan Monic di alun – alun.

“aku hanya berusaha menjelaskan dan meluruskan permasalahan ini, karena jujur aku merasa tidak nyaman apalagi kita saling bermusuhan hanya karena sebuah kesalahpahaman. Sekarang terserah kalian bagaimana akan bersikap, karena aku juga tidak memaksa kalian untuk percaya pada semua ceritaku..” ucapku mengakhiri penjelasanku.

“aku percaya..” ucap Nisa yang membuat Farah kaget.

“maksudmu..?” tanya Farah ke Nisa.

“iya.. aku percaya semua omongan Riki..” balas Nisa tenang.

“bagaimana bisa..?” ucap Farah yang seakan tidak percaya.

“pertama.. aku minta maaf karena selama ini aku sudah salah sangka sama kamu Rik..” ucap Nisa padaku dan aku hanya mengangguk.

“untuk masalah Dini, jujur awalnya aku tidak tau sebab permasalahan kalian, aku hanya tau dari Dini yang bercerita padaku. Setelah kak Doni yang tiba – tiba menemuiku dan bertanya tentang masalah Riki dan Dini, aku sempat kaget dan ragu untuk menceritakannya ke kak Doni.

Setelah di desak aku kemudian menceritakan semuanya, dan cerita dari Dini awalnya berasal dari cerita kak Angga. Sekarang aku jadi tau kenapa kak Doni sampai menghajar kak Angga, karena ternyata semua cerita yang aku dapat hanyalah cerita karangan dari kak Angga..” ucap Nisa menjelaskan.

Aku yang mendengar itu juga kaget karena ternyata sumber masalahnya ada di Angga, makanya kenapa Doni terlihat sangat emosi sekali saat menghajar Angga.

“dan untuk masalah Monic, aku benar – benar minta maaf Rik.. aku yang memaksa Monic untuk menjauhimu dan sekarang aku benar – benar menyesal..” ucap Nisa dengan mata berkaca – kaca.

“aku minta maaf Rik.. karena selama ini aku sudah salah sangka sama kamu..” ucap Farah yang terlihat merasa bersalah.

“aku juga Rik..” sahut Ferdi nyengir.

“Rik.. setelah ini aku akan menjelaskan semuanya ke Dini dan Monic..” ucap Nisa yang terlihat sedih.

“jangan..” ucapku menolak.

“kenapa Rik.. aku juga bisa bantu menjelaskan..” ucap Farah mencoba membantu Nisa.

“jangan.. aku mohon jangan..” balasku memohon.

“aku akan menyelesaikannya sendiri..” ucapku menjelaskan.

“tapi..” ucap Farah yang belum terima.

“aku mohon.. biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri..” ucapku meyakinkan mereka.

“aku hanya minta satu hal ke kalian dan aku mohon kalian mau mengabulkannya..” ucapku pada temanku dan mereka hanya mengangguk.

“aku hanya minta kalian tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk pada Dini..” ucapku pada mereka.

Akhirnya mereka mau menyanggupi permintaanku dan mereka berjanji untuk tidak ikut campur tentang permasalahanku dengan Dini, walau mereka terlihat seperti terpaksa. Setelah dirasa permasalahan ini sudah selesai, aku kemudian pamit untuk pergi.

Mereka juga senang karena akhirnya permasalahan ini selesai, walau kami sudah baikan tapi mereka belum bisa untuk berkumpul bersamaku hanya karena mereka merasa tidak enak dengan Dini. Aku menerima keputusan itu karena yang penting bagiku adalah sudah tidak ada permusuhan dan salah paham lagi.

Setelah berpamitan, aku kemudian pergi menuju suatu tempat untuk menemui seseorang. Setelah sampai di depan sebuah rumah, aku kemudian mengirimkan sebuah pesan.

“aku pengen ketemu sama kamu..” tulis pesanku.

“maaf.. aku gak bisa..” sebuah pesan balasan.

“kamu sekarang dimana..? Apa kamu sedang sibuk..?” tulis pesanku lagi.

Setelah beberapa saat aku menunggu dan tidak ada pesan balasan, aku kemudian mengirim sebuah pesan lagi.

“mungkin besok aku ke rumahmu lagi..” tulis pesanku.

Aku kemudian mengantongi HP ku dan bersiap untuk pulang. Saat aku sedang menyalakan motorku, tiba – tiba terdengar suara pintu terbuka dan seseorang yang memanggilku.

“Riki..” ucap seseorang yang memanggilku.

Aku kemudian menoleh dan melihatnya berlari ke arahku.

“kamu mau kemana..?” ucap Monic padaku.

“mau pulang..” balasku tersenyum.

“jangan..” ucap Monic yang memegang tanganku.

“aku bisa kesini lagi besok saat kamu sudah mau ketemu denganku..” ucapku pada Monic.

“aku mau sekarang..” balas Monic memohon sambil memegang tanganku.

Aku mengangguk setuju kemudian memarkirkan motorku dan berjalan bersama Monic menuju teras rumahnya.

Saat kami sudah sama – sama duduk, aku dan Monic sama – sama diam tidak berbicara. Monic yang terlihat bingung hanya bisa menunduk, dan aku yang sudah lama tidak bertemu dengannya terus menatap wajahnya. Jujur aku merasa kangen dengannya.

“Rik.. jangan melihatku seperti itu..” ucap Monic yang merasa sedang aku tatap.

“aku kangen kamu..” balasku dan Monic langsung melihatku.

“aku merasa kehilangan saat kamu menjauh dariku..” ucapku yang membuat Monic berkaca – kaca.

“maaf Rik.. aku..” ucapnya terpotong.

“aku sudah tau..” sahutku memotongnya.

“aku sudah bertemu dengan Nisa dan Farah” ucapku kemudian dan Monic langsung menangis.

Aku membiarkan Monic menangis dan membiarkannya meluapkan perasaannya. Setelah agak tenang, aku kemudian kembali bicara padanya.

“aku kesini bukan untuk melihatmu bersedih..” ucapku pada Monic dan dia mengusap air matanya.

“maafkan aku Rik..” balas Monic yang terlihat merasa bersalah.

“aku mau memaafkanmu tapi dengan syarat..” ucapku kemudian.

“apa yang kamu inginkan..?” tanya Monic yang terlihat bingung.

“aku ingin melihat senyum manismu..” ucapku tersenyum dan Monic tersenyum malu – malu.

Aku dan Monic sudah mulai terbiasa saat mengobrol. Dia sempat bertanya padaku bagaimana aku bisa bertemu dengan Nisa dan Farah. Aku kemudian bercerita pada Monic kalau aku meminta bantuan Ferdi untuk mengajak Farah makan diluar, aku juga meminta Ferdi untuk mencoba mengajak Nisa juga, dan ternyata rencanaku berhasil yang akhirnya aku bisa bertemu mereka dan menjelaskan semuanya.

Monic terlihat sangat senang karena aku bisa menyelesaikan permasalahanku dengan mereka walau aku belum bisa untuk berkumpul bersama mereka.

Tidak terasa hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pamit pulang ke Monic.

“Rik.. tunggu sebentar..” ucap Monic saat aku yang berpamitan padanya.

Kemudian aku melihat Monic yang membuka pintu rumahnya dan terlihat dia sedang melihat ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian Monic kembali menutup pintunya dan langsung menghambur ke arahku.

Monic langsung memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Oh.. aku benar – benar kangen suasana seperti ini. Setelah itu Monic melepaskan ciumannya dan tersenyum padaku.

“hati – hati ya..” ucapnya dengan tersenyum manis.

Aku hanya tersenyum mengangguk kemudian pergi meninggalkan Monic.

Hufhh… aku merasa lega dan bebanku terasa berkurang. Satu – persatu aku bisa menyelesaikan masalahku dengan tenang dan masih tersisa satu lagi orang yang belum aku temui, yaitu Dini.

***

Setelah selesai mengantar semua sayuran ke pedagang, aku dan Om Heri memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sekarang aku dan Om Heri sedikit lebih santai saat mengantar sayuran ke pasar dan tidak terburu – buru pulang karena aku yang harus berangkat ke sekolah.

Setelah aku dan Om Heri yang mulai menerapkan caraku mengantar sayuran dengan mengelompokkannya terlebih dahulu dan mengantarkannya dengan sejalan, maka waktu yang kami butuhkan jadi lebih singkat dan tersisa banyak waktu sebelum kita pulang.

Aku sekarang sedang duduk di warung kopi bersama Om Heri dan Mang Karjo.

“Rik.. kamu habis pulang kampung ya..?” tanya Mang Karjo padaku.

“iya Mang..” jawabku ke Mang Karjo.

“kapan kamu balik kesininya..?” ucap Mang Karjo bertanya.

“sabtu Mang..” balasku dan Om Heri langsung melirikku.

“eh.. minggu Mang..” sambungku karena sadar aku yang dilirik oleh Om ku.

“ohh…” ucap Mang Karjo.

Kami kemudian mengobrol biasa dan Om Heri masih melirikku menyelidik. Setelah hari mulai terang, aku dan Om Heri kemudian pamit untuk pulang.

“kemarin sabtu kamu nginep dimana..?” tanya Om Heri saat perjalanan pulang.

Aku yang ditanya oleh Om Heri jadi bingung. Aku bingung harus jawab apa ke Om ku, masa aku harus jujur ke Om ku bilang kalau nginep di tempat temenku terus tidur bareng.

“sudah gak usah dijawab.. yang penting kamu bisa jaga diri..” ucap Om ku kemudian.

Aku hanya mengangguk pada Om Heri. Aku merasa lega karena aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang susah untuk dijawab. Hehe..

Setelah sampai rumah aku kemudian mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

***

“Rik.. ane mau ngadain seleksi buat anggota baru..” ucap Akbar saat melihatku datang masuk kelas.

“oh.. kapan..?” tanyaku ke Akbar setelah duduk di sebelahnya.

“nanti beberapa hari lagi, ane lagi nyusun acara sama nentuin tempatnya..” ucap Akbar yang terlihat bersemangat.

“ya udah atur aja bro..” ucapku ke Akbar.

“siap.. beres pokoknya..” balas Akbar yang terlihat sangat senang.

“nanti ane minta tolong Yudha buat bantuin..” ucapku ke Akbar.

“gak usah bro.. ane bisa sendiri..” balas Akbar menolak.

Aku tersenyum melihat Akbar yang sangat bersemangat mengurus MEDUSA, dia juga sampai meluangkan waktu dan pikiran untuk mengadakan seleksi. Semuanya Akbar yang mengurus mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaannya. Aku merasa tenang karena urusan genk tidak ada masalah dan berjalan dengan baik.

Saat hari pelaksanaan seleksi, Akbar sempat memberi tauku waktu dan tempatnya, aku yang malas datang kemudian meminta Yudha untuk mengawasi jalannya acara. Sampai acara selesai, semua di handle oleh Akbar mulai dari mengatur sampai menentukan. Dan tentunya acara berjalan dengan lancar.

Dari yang aku dengar, anggota baru yang bergabung cukup banyak. Mereka sangat bersemangat karena Akbar yang begitu aktif mengumpulkan dan membimbing anggota baru untuk jadi lebih kompak.

Akbar juga membuat sebuah peraturan dan tata tertib genk yang sempat di perlihatkan padaku, aku setuju – setuju saja karena peraturan yang dibuat tidak membahayakan dan menyimpang.

Seiring berjalannya waktu, MEDUSA jadi lebih solid dan semakin kompak, di dukung oleh Akbar yang selalu aktif mengurusinya hingga kemudian Akbar yang lebih dikenal sebagai ketua MEDUSA. Akbar terlihat sangat senang dan bangga dengan itu, maka tak jarang juga dia menyebut dirinya sebagai ketua MEDUSA.

“Rik.. sekali – sekali ente muncul lah di markas..” ucap Yudha padaku saat kami sedang nongkrong di kamar mandi belakang.

“emang mau ngapain bro..?” tanyaku ke Yudha.

“ya biar pada tau lah kalau ente itu ketua MEDUSA..” balas Yudha yang terlihat tidak senang.

“emang ada masalah apa..?” tanyaku ke Yudha.

“gak ada sih.. cuma anak – anak kelas 1 taunya Akbar yang jadi ketua bukan ente..” ucap Yudha yang terlihat tidak terima.

“terus masalahnya dimana..?” tanyaku lagi.

“aarrgghhh… susah ngomong sama ente.. malah bikin emosi..” ucap Yudha yang terlihat kesal.

Aku hanya tersenyum melihat Yudha yang emosi karena masalah status ketua genk, bagiku itu tidak terlalu masalah karena yang paling penting adalah tidak adanya permasalahan di genk.

“udahlah bro.. ngapain juga sih pakai emosi..” ucapku menenangkan.

“ane cuma gak terima aja kalau Akbar ngaku – ngaku sebagai ketua MEDUSA..” ucap Yudha menjelaskan.

“bro.. segala sesuatu itu pasti ada baik buruk dan kurang lebihnya. Mungkin ente merasa kurang nyaman dengan apa yang dilakukan Akbar, tapi bagi ane itu bukanlah sebuah masalah. Lagian apa yang telah dicapai Akbar saat ini adalah hasil dari kerja kerasnya selama ini, karena ada Akbar juga MEDUSA jadi lebih kompak dan terasa makin hidup” ucapku ke Yudha menjelaskan dan dia hanya manggut – manggut.

“terus kalau nanti ada masalah gimana..?” tanya Yudha padaku.

“itulah kenapa ane minta tolong ente buat ngawasin..” balasku ke Yudha.

Kemudian terdengar bel tanda jam istirahat telah selesai. Aku dan Yudha kemudian bergegas untuk kembali ke kelas masing – masing. Saat akan pergi dari kamar mandi belakang, aku melihat ada seseorang yang terlihat sedang menungguku.

“Mon..” panggilku yang melihat Monic berdiri tidak jauh dari kamar mandi belakang.

“Rik.. ane duluan ya..” ucap Yudha yang kemudian pergi menuju kelasnya.

“ada apa Mon..?” tanyaku pada Monic yang sudah berdiri di dekatku.

“kapan kamu mau ketemu Dini..?” tanya Monic mengagetkanku.

Memang selama ini aku masih diam dan belum berusaha menemui Dini, disamping aku yang belum ada waktu juga karena susahnya untuk menemui Dini apalagi untuk bisa bertemu empat mata.

“aku usahakan secepatnya.. memangnya kenapa..?” balasku ke Monic.

“aku pengen kita bisa kumpul bersama – sama lagi..” ucap Monic berharap.

“tapi apa nanti kamu..” ucapku terpotong.

“aku gak papa Rik.. yang penting kalian bisa baikan lagi..” sahut Monic memotong ucapanku.

Aku terdiam mendengar apa yang di ucapkan Monic. Aku sebenarnya ingin segera menyelesaikan permasalahanku dengan Dini, tapi apa aku nanti bisa menjaga perasaan Monic apabila kami sudah baikan karena sewaktu aku dan Dini belum ada masalah, aku melihat ada kecemburuan yang dirasakan Monic saat aku bersama dengan Dini.

Hufh.. semoga saja aku bisa menghadapi semuanya, lagian aku juga belum bertemu dengan Dini. Aku akan mencari cara untuk bisa bertemu dan menjelaskan ke Dini.

Setelah membahas permasalahan Dini, aku dan Monic kemudian kembali ke kelas kami masing – masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

***

Waktu berlalu hari berganti, aku menjalani kewajibanku sebagai siswa dengan bersekolah setiap harinya. Untuk hari minggu aku masih menyempatkan diri untuk berolah raga di alun – alun.

Aku lebih sering sendiri walau kadang ada Monic yang menemaniku dan pernah ada Nisa juga yang ikut untuk berolah raga. Perlahan hubunganku dengan Monic, Nisa dan Farah semakin membaik dan sudah seperti biasa, tentunya itu semua tanpa sepengetahuan Dini yang masih marah padaku.

Hari – hari di sekolah juga berjalan seperti biasa dan sikap Monic, Nisa dan Farah juga sudah tidak terlihat acuh lagi, walau kami tidak bertegur sapa atau berkumpul bersama, kami bisa menjalaninya dengan biasa dan wajar.

Untuk hubunganku dengan Akbar selama ini juga baik – baik saja, memang aku merasakan ada sedikit perubahan pada dirinya belakangan ini. Akbar sekarang terkesan lebih cuek padaku atau bisa dikatakan sombong, mungkin itu yang ditakutkan oleh Yudha yang berkali – kali memberitahuku tentang apa yang dilakukan Akbar. Aku sempat berfikir untuk menyerahkan ketua MEDUSA kepada Akbar karena selama ini dialah yang lebih banyak mengurus MEDUSA, tapi aku teringat akan janjiku kepada kakak kelasku dulu yang sepakat menunjukku sebagai ketua, berarti aku juga harus bertanggung jawab karena aku sudah mau menerimanya.

Aku melihat sekarang Akbar sedang diatas angin, dengan aktifnya dia mengurus MEDUSA hingga dia yang lebih dikenal sebagai ketua genk, hal itu membuatnya merasa lebih mampu dan lebih pantas untuk dia yang mengemban jabatan sebagai ketua.

Aku yang berkali – kali dimarahi Yudha juga tidak bisa menyalahkan Akbar, karena ini adalah resiko yang aku terima karena aku juga yang meminta Akbar untuk mengurus MEDUSA. Aku juga sadar diri karena aku juga salah karena sikapku yang terlalu cuek dan lebih banyak meminta Yudha untuk mengawasi urusan genk.

Suatu pagi aku melihat Akbar yang diam saja dan terlihat murung. Aku juga melihat beberapa bagian di wajahnya ada yang bengkak, kalau dilihat sepertinya dia habis berkelahi.

“bro.. ente kenapa..?” tanyaku ke Akbar dan dia hanya diam saja tidak menjawab.

“ente habis berantem sama siapa..?” tanyaku lagi dan Akbar tetap diam.

Karena Akbar hanya diam saja, aku kemudian mendatangi Samo yang dari tadi senyum – senyum.

“Sam.. Akbar kenapa..?” tanyaku ke Samo.

“malu dia..” balas Samo puas.

“malu kenapa..?” tanyaku heran.

“malu karena ketauan kalau dia bukan ketua MEDUSA.. hahaha..” balas Samo dengan suara yang keras kemudian tertawa terbahak – bahak.

Akbar yang mendengar itu langsung melihat tajam ke arah Samo, kemudian dia berdiri dan hendak mendatangi Samo. Aku yang melihat Akbar terlihat marah kemudian mencegahnya dan mengajaknya untuk kembali duduk.

“sebenarnya ada apa bro..?” tanyaku ke Akbar saat kami sudah duduk.

“sory Rik.. ane selama ini sudah salah sama ente..” ucap Akbar yang merasa bersalah.

“memangnya kenapa..?” tanyaku ke Akbar.

“ane selama ini mengaku sebagai ketua MEDUSA ke anak – anak baru..” balas Akbar mengakui.

“ohh.. kan ente juga pimpinan MEDUSA bro.. pimpinan sama ketua itu sebenarnya sama saja..” ucapku santai.

“jadi ente gak marah sama ane Rik..?” ucap Akbar yang terlihat kaget.

“dengan alasan apa kok ane harus marah sama ente..” balasku tersenyum.

“anjing.. anjing.. ane bener – bener malu sama ente Rik..” ucap Akbar yang terlihat menyesal.

“sudah bro gak usah dipikirin..” balasku menenangkan Akbar.

“jadi apa yang sebenarnya terjadi..?” tanyaku kemudian.

“kemarin ada anak kelas 1 yang ingin menjadi ketua dengan menantang duel satu lawan satu.. Sony yang mendengar itu mera

sa tidak terima dan ingin melawan anak kelas 1 tersebut. Ane yang mendengar itu langsung menyetujuinya, jika dia bisa mengalahkan Sony, dia baru bisa lawan ane..” ucap Akbar menjelaskan.

“ternyata Sony tumbang oleh anak itu dan mau tidak mau ane harus lawan dia..” lanjut Akbar menjelaskan.

“terus ente juga kalah..” ucapku ke Akbar dan dia mengangguk.

“anjing.. ane bener – bener malu Rik.. selain malu karena kalah dari anak kelas 1, ane juga malu karena ane bilang ke dia kalau ane bukan ketua MEDUSA..” ucap Akbar menjelaskan.

“terus dia gimana..?” tanyaku ke Akbar.

“ya dia marah – marah kemudian pergi, dia bilang besok akan datang lagi untuk menantang duel ketua MEDUSA yang sebenarnya..” balas Akbar padaku.

“ya udah besok ente siap – siap buat ngelawan dia lagi..” ucapku tersenyum.

“makanya jadi orang gak usah sok – sokan..” ucap Samo yang tiba – tiba datang mengejek Akbar.

“anjing kau Samo Hung..!! Sini kalau berani duel sama ane..!!” balas Akbar emosi.

“ogahh.. ane gak tega liat ente kalah lagi..” ucap Samo dengan cueknya.

“bangsaaattt…!!” balas Akbar melotot.

“sudah.. sudah..” ucapku melerai mereka.

“lagian kenapa juga sih ente malah gangguin Akbar yang sedang meratapi kemaluannya..” ucapku ke Samo menyindir Akbar.

“kok ente malah ikut – ikutan ngejek ane Rik..” ucap Akbar terlihat jengkel.

“bangkee…!!” teriak Akbar yang memeteng leherku.

“hahaha…” aku dan Samo yang tertawa melihat tingkah Akbar.

Aku merasa senang karena Akbar sudah bisa tertawa dan tidak terlihat sedih lagi, dia juga sudah tidak marah saat di ejek Samo. Hal itu menyadarkan kita bahwa sehebat apapun kita, pasti ada yang lebih hebat dari kita. Maka dari itu kita tidak boleh sombong dan cepat puas pada sesuatu yang telah kita capai. Seperti pepatah, di atas langit masih ada langit.

Hari – hari kami lewati seperti biasa dengan berkumpul dan bercanda dengan teman – temanku. Seperti Samo dan Yudha yang tak henti – hentinya mengejek Akbar saat kami sedang berkumpul dan Akbar yang terlihat pasrah dan menyerah karena sudah tidak bisa lagi membela diri.

Aku tersenyum melihat keakraban teman – temanku yang menjadikanku semakin bersemangat menjalani hidup.

Sabtu pagi aku melihat Akbar yang terlihat gelisah menungguku datang ke sekolah. Saat aku masuk ke kelas dia terlihat tidak sabar dan cepat – cepat menyuruhku duduk.

“ada apa sih bro..?” tanyaku ke Akbar.

“ente di tantang duel satu lawan satu Rik..” ucap Akbar yang terlihat panik.

“sama anak kelas 1 yang kemarin..?” balasku ke Akbar.

“iya..” balas Akbar yang terlihat tidak senang.

“ente gak mau balas itu anak..?” tanyaku ke Akbar.

“gak mau dia Rik.. dia bilang gak mau buat ane malu untuk kedua kalinya..” balas Akbar padaku.

“anjing.. sombong amat tuh bocah..!!” lanjut Akbar menggerutu.

“ya udah mau kapan..?” tanyaku ke Akbar.

“dia minta nanti siang pulang sekolah..” jawab Akbar.

“oke..” balasku menyanggupi.

Kami kemudian mengikuti pelajaran seperti biasa, hingga kemudian bel berbunyi tanda kegiatan belajar mengajar telah usai, kami para siswa bergegas untuk pulang.

“Rik nanti gimana..?” tanya Akbar saat kami berjalan ke parkiran motor.

“gimana apanya..?” balasku ke Akbar.

“ya itu..” ucap Akbar yang ragu.

“kalau ane kalah..?” sahutku ke Akbar dan dia mengangguk.

“kalau ane kalah ya dia yang jadi ketua..” ucapku ke Akbar.

“udah gitu aja..?” balas Akbar yang seperti tidak rela.

“ya mau gimana lagi.. kan ente sendiri yang buat peraturan itu..” ucapku ke Akbar mengingatkan tentang peraturan yang dia buat.

Setelah mengambil motor aku, Akbar, Samo dan Yudha kemudian ke markas MEDUSA di warung belakang sekolah. Sampai disana sudah berkumpul teman – temanku tapi kami belum melihat anak yang dimaksud.

Setelah menunggu beberapa saat, kemudian datang rombongan anak kelas 1 yang di pimpin oleh anak yang menantangku berduel. Kemudian anak itu menemui Akbar dan bertanya padanya.

“mana ketua MEDUSA..!!” ucap anak itu yang terlihat sudah tidak sabar.

Akbar yang terlihat geram kemudian menunjukku yang berada di pojok ruangan. Saat anak itu melihatku, dia terlihat sangat kaget. Aku yang ditunjuk oleh Akbar kemudian mendatangi anak itu.

Saat aku sudah berada di dekatnya, tiba – tiba anak itu langsung menyerangku dengan brutal tanpa aba – aba. Aku yang belum siap bertarung sempat terkena beberapa kali pukulan hingga aku yang kemudian hanya bisa bertahan.

Anak itu masih terus menyerangku bertubi – tubi sampai aku yang kemudian terdesak dan tidak bisa membalas. Hingga pada suatu kesempatan aku mendapat celah untuk membalas dan aku bisa melayangkan tendangan ke arah perutnya.

“BUGH..” tendanganku ke arah perutnya yang membuat dia mundur ke belakang.

Aku kemudian memasang kuda – kuda dan bersiap untuk bertarung. Anak itu kemudian menyerangku lagi dengan brutal, aku yang sudah siap bisa menahan dan menghindari serangannya.

Suasana sangat riuh karena anak – anak kelas 1 yang terdengar menyemangati temannya dan aku juga mendengar teman – temanku yang berteriak agar aku membalas menyerang.

“BUGH..” sebuah tendangan kembali aku arahkan ke perut anak itu yang membuatnya termundur kebelakang.

“lagi..?” ucapku ke anak itu yang membuatnya semakin emosi.

Anak itu kembali menyerangku secara bertubi – tubi dan lagi – lagi aku hanya menahan dan tidak membalasnya. Akbar terlihat kesal karena aku terus – terusan bertahan dan menghindar, dia berkali – kali meneriakiku untuk membalas serangan anak itu.

Aku yang mulai terdesak karena terus – terusan bertahan kemudian melancarkan serangan balasan. Saat anak itu akan melayangkan pukulan, aku menyambut pukulan itu dengan sebuah pukulan yang sangat keras.

“BAGH..” suara tanganku dan anak itu beradu.

“arrgghhh..” teriak anak itu kesakitan.

Karena kerasnya pukulanku saat tangan kami beradu, membuat tangan anak itu sampai terlempar. Anak itu terlihat kesakitan sambil memegang tangannya, dan untuk tanganku juga lumayan terasa nyeri akibat beradu pukulan. Aku sengaja melakukan itu karena ingin mengakhiri pertarungan tanpa terlalu banyak menyakiti.

“lagi..?” ucapku kepada anak itu yang meringis kesakitan.

“udah mas cukup..” balas anak itu padaku.

Aku kemudian mendekatinya dan akan mengajaknya bersalaman. Anak itu tidak membalas salamanku tapi malah memelukku. Suasana yang tadinya ramai seketika menjadi hening, mungkin mereka bingung melihat anak ini malah memelukku. Aku kemudian mengajak anak itu mendekat ke teman – temanku.

“bro.. ini adikku..” ucapku pada teman – temanku yang terlihat bingung.

“serius Rik..?” balas Akbar yang seakan tidak percaya.

“iya..” balasku tersenyum.

Bayu ini adalah cucu dari adik nenekku, jadi bisa dibilang kami ini saudara sepupu. Aku dengan Bayu akrab dari kecil karena dulu kami sering bersama – sama. Bapaknya Bayu meninggal saat dia masih kecil dan ibunya Bayu yang saat itu tidak bekerja menjadi berat untuk mengurus Bayu.

Akhirnya Bundaku yang kemudian membantu merawat Bayu seperti anaknya sendiri, dan aku juga sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Aku terakhir bertemu dengannya sebelum keluargaku pindah ke luar pulau.

“wah.. ternyata adiknya orang gila..” ucap Akbar menghampiriku.

“sory kak yang kemarin..” ucap Bayu ke Akbar.

“besok ane balas ente..” balas Akbar tersenyum.

Akhirnya suasana yang tadi sempat tegang berubah menjadi lebih nyaman. Kami semua berbaur menjadi satu dalam kebersamaan. Anak – anak kelas 1 juga sekarang jadi tau siapa ketua MEDUSA yang ternyata adalah kakaknya Bayu yang dianggap sebagai pentolan anak – anak kelas 1.

Dari situ aku kemudian menjadikan Bayu sebagai komando untuk anggota MEDUSA yang masih kelas 1, untuk komando anak kelas 2 aku serahkan kepada Sony, dan untuk yang kelas 3 di atur oleh Akbar dan Yudha.

Semakin lama kami semua semakin asik terlibat dalam perbincangan, tak jarang Akbar membuat lelucon yang membuat kami semua tertawa. Disaat semuanya masih berkumpul, aku mengajak Bayu untuk ke depan warung, aku ingin mengobrol berdua dengannya karena sudah lama kami tidak bertemu.

“gimana kabarmu dek.. Lek Narsi juga gimana kabar?” tanyaku menanyakan kabar Bayu dan ibunya.

“baik mas.. Mamak juga sehat..” jawab Bayu padaku.

“syukurlah.. sekarang kerja apa Mamakmu..?” tanyaku ke Bayu.

“ya masih sama mas.. masih nunggu warung.. Mamak udah gak mau pergi – pergi lagi..” balas Bayu menjelaskan.

Aku jadi ingat dengan warung kelontong yang dulu dibuatkan oleh Ayahku untuk ibunya Bayu. Dulu setelah bapaknya Bayu meninggal, ibunya kerja serabutan dan Bayu jadi tidak terurus sampai Bundaku yang merawatnya.

Karena Ayahku kasihan melihat saudaranya yang kerja banting tulang untuk menghidupi keluarga sampai jarang pulang, akhirnya Ayahku memberikan modal ke ibunya Bayu untuk membuka warung kelontong di rumahnya, sehingga ibunya Bayu tidak perlu pergi – pergi lagi dan bisa mengurus Bayu di rumah.

“Ayah sama Bunda gimana mas kabarnya..? Riska sekarang juga gimana..?” tanya Bayu padaku.

“mereka semua baik kok.. Riska ya masih sama, masih cerewet dan suka usil..” balasku dan Bayu terlihat tersenyum.

“aku kangen sama mereka mas..” ucap Bayu yang terlihat sedih.

“aku yakin mereka juga kangen sama kamu..” balasku tersenyum.

Aku merasakan apa yang dirasakan Bayu. Kehilangan sosok keluarga saat masih kecil membuatnya menjadi anak yang sering terlihat murung. Disaat dia dirawat oleh keluargaku, menjadikannya kembali ceria dan terlihat bahagia.

Dia seperti kembali mendapatkan sosok keluarga hingga menganggap Ayah dan Bundaku sebagai orang tuanya dan aku serta Riska sebagai saudaranya. Aku dan Riska yang selalu menghiburnya, terutama Riska yang suka usil dan mengajaknya bercanda membuat kami seperti saudara kandung.

Disaat Bayu sudah menemukan sosok keluarga, dia kembali harus merasakan kehilangan karena aku dan keluargaku yang terpaksa harus pindah dan meninggalkan Bayu.

“waktu aku sama Mamak nengok bayi, Om Heri bilang kalau Ayah sekeluarga lagi disini, aku sama Mamak nunggu sampai sore ternyata kalian belum pulang juga” ucap Bayu menceritakan.

“oh.. waktu itu kami sampai rumah udah petang dek..” balasku yang teringat waktu itu aku pergi sekeluarga.

“hmm.. ya besok aku kapan – kapan main ke rumahmu dek..” ucapku menghiburnya.

“iya mas.. Mamak pasti juga kangen sama kamu..” balas Bayu padaku.

Aku melihat Bayu yang merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan keluargaku. Tapi aku juga melihat dia yang terlihat senang saat bertemu denganku, aku juga merasa senang karena dia dulu sangat dekat denganku.

“mas.. waktu itu aku ketemu mbak Nana dan dia nyariin kamu mas..” ucap Bayu yang mengagetkanku.

“kapan itu..? Kamu ketemu Nana dimana..?” tanyaku ke Bayu.

“ya udah lama sih mas.. sekitar 2 tahun yang lalu..” balas Bayu yang membuatku tambah kaget.

“mbak Nana datang ke rumah mas.. setelah diberi tau kalau kalian sekeluarga sudah pindah dan rumah juga sudah dijual, mbak Nana langsung menangis mas..” ucap Bayu menceritakan.

Ratna mencariku 2 tahun yang lalu, berarti waktu itu saat dia kembali ke kota ini dan aku yang masih di pulau seberang. Tak salah jika Ratna yang marah padaku waktu itu karena aku yang tidak mengenalinya, berarti selama ini dia memang mencariku dan dia mengungkapkan rasa kangennya padaku setelah bertemu.

“ya udah dek.. semoga saja aku bisa ketemu dengannya..” balasku ke Bayu.

Karena hari sudah hampir sore, aku kemudian pamit ke teman – temanku untuk pulang duluan.

Saat di perjalanan, aku kembali teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bayu. Aku yang selama ini jarang nongkrong di cafe karena aku sengaja ingin menghindari Ratna. Aku beralasan karena dia adalah pacarnya Yudha dan aku tidak mau hubungan mereka terganggu gara – gara aku.

Ternyata segala sesuatu yang kita anggap benar belum tentu sama di mata orang lain, seperti yang telah aku lakukan pada Ratna. Aku menganggap menghindari Ratna adalah keputusan yang tepat, tapi hal itu tentu saja menyakitinya karena dia telah mencariku selama ini.

Aku sadar harus menentukan sikap, karena semakin lama aku menghindarinya, semakin perih sakit yang dirasakan.

Pov Nisa

Semakin hari aku merasa sedih melihat Dini yang terlihat lebih banyak diam. Dan untuk masalah Dini, aku masih bingung dengan kak Doni yang tiba – tiba bertanya padaku tentang permasalahan Dini dan Riki.

Kenapa kak Doni bertanya itu padaku, harusnya kan dia sudah tau penyebabnya. Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur untuk permasalahan ini karena yang terpenting bagiku adalah bisa menghibur sahabatku Dini.

Suatu hari aku sedang pergi bersama saudaraku dan kami mampir makan di warung soto langgananku, saat aku masuk ke dalam warung lagi – lagi aku melihat Riki yang sedang bersama seorang gadis, dan untuk saat itu aku sangat mengenal gadis yang bersama Riki karena dia adalah sahabatku Monic.

Aku benar – benar emosi melihat itu karena Riki yang sudah membuat Dini sedih, kenapa juga Monic yang harus jadi korban selanjutnya. Aku berniat untuk marah dan mendatangi mereka, tapi aku mengurungkan niatku karena selain tempat umum, aku juga akan membuat Monic malu. Hufh.. kenapa juga sih Monic mau – maunya jalan sama si brengsek Riki.

Pagi harinya aku menemui Monic dan bicara padanya, dia beralasan tidak sengaja bertemu dengan Riki dan acara makan juga terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Aku tidak mau tau alasan Monic karena aku hanya tidak ingin kejadian yang dialami Dini juga terjadi padanya.

Aku meminta Monic untuk tidak menemui Riki lagi karena aku mengancamnya, apabila itu tidak dilakukan, aku akan menceritakannya pada Dini dan Farah.

Semakin hari aku semakin geram melihat Riki yang terlihat biasa – biasa saja seperti tidak merasa bersalah, saat aku lihat dia yang baru saja dari kamar mandi belakang, aku memanggilnya dan ingin bicara padanya.

Saat aku bertanya padanya, Riki menjawab dengan tenang seolah tidak terjadi apa – apa, aku yang kemudian marah – marah padanya malah mendapat jawaban yang membuatku tidak bisa berkata – kata.

Memang benar aku belum pernah mendengar penjelasannya, tapi yang membuatku terdiam karena dia menyinggung perubahan sikapku yang tidak pernah aku lakukan.

Akhirnya aku hanya diam dan bingung harus berbuat apa, di satu sisi aku heran dengan sikap Riki yang merasa tidak bersalah, di sisi yang lain aku melihat teman – temanku yang terlihat sedih gara – gara Riki. Aku sebenarnya merasa kasihan pada Monic yang sering terlihat murung, tapi aku yang memintanya untuk menjauhi Riki semata – mata juga untuk kebaikannya.

Suatu siang saat jam pulang sekolah, tiba – tiba Farah mengirimkan pesan yang memintaku untuk datang ke sebuah cafe dan katanya penting. Aku yang sedang perjalanan pulang kemudian meminta supirku untuk mengantarkanku ke cafe tersebut, saat aku datang dan bertemu Farah, dia malah bingung saat melihatku datang.

Saat aku menjelaskan padanya bahwa aku datang karena permintaannya, dia kemudian mengecek HP nya dan memang benar ada pesan yang dikirimkan padaku, tapi bukan dia yang mengirimkan melainkan Ferdi pacarnya.

Saat Farah dan Ferdi sedang berdebat masalah pesan yang dikirimkan padaku, tiba – tiba Riki datang dan mengagetkanku serta Farah. Aku saat itu hendak pergi karena aku malas bertemu dengan Riki, tapi dia menjelaskan hanya ingin bicara sebentar dan akan pergi setelahnya. Akhirnya aku duduk kembali dan mencoba mendengarkan apa yang mau dikatakannya.

Riki mulai menjelaskan awal permasalahan sampai dia berduel dengan kak Doni yang kemudian membuat Dini marah. Riki kemudian juga bercerita tentang kak Doni yang menghajar kak Angga, hal itu yang membuatku terkejut karena ternyata cerita dari kak Angga dan Riki bertolak belakang, itulah kenapa kak Doni sampai bertanya padaku dan sampai menghajar kak Angga.

Kemudian Riki menjelaskan bahwa masalah dengan Dini hanya sebuah kesalahpahaman, dan untuk masalah Monic dia menjelaskan padaku bahwa pertemuannya dengan Monic hanya kebetulan saja. Aku yang mendengar penjelasan dari Riki jadi sadar karena yang aku lakukan selama ini adalah salah, aku sudah menghakimi Riki tanpa tau cerita yang sebenarnya.

Aku hanya bisa meminta maaf dan berjanji akan membantu permasalahan Riki dengan menjelaskan semuanya ke Dini dan Monic. Hal yang tidak aku duga karena Riki malah menolak dan ingin menyelesaikannya sendiri, Farah yang juga ingin membantu juga ditolaknya.

Riki kemudian memintaku dan Farah untuk tidak bercerita kepada siapa pun termasuk Dini, hal itu tentu saja membuat aku dan Farah heran, kenapa dia mau menanggung semuanya sendirian.

Setelah semuanya terbuka, permasalahan ini kami anggap selesai dan kami juga sudah baikan walau kami belum bisa untuk berkumpul bersama lagi, setidaknya sudah tidak ada lagi permusuhan dan salah paham lagi di antara kami.

Akhirnya Riki pamit untuk pergi dan aku yakin dia akan menemui seseorang yang sedang menunggunya, dia adalah sahabatku Monic.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat