Kisah Riki Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Kisah Riki Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Kisah Riki Part 11

Kisah Masa Lalu​

Mengalah bukan berarti kalah, dan mundur bukan berarti penakut. Ungkapan itu mungkin yang cocok untuk menggambarkan keadaanku sekarang. Keadaan yang aku alami karena sebuah kesalahpahaman, yang membuat hari – hariku kian tak nyaman.

Kadang kita memang harus berkorban demi mencapai sesuatu dan tak jarang kita juga mengalami kegagalan. Sabar dan ikhlas adalah kuncinya, walaupun berat menjalaninya, tapi apa salahnya kita berusaha mencoba.

Hari ini adalah liburan kenaikan kelas dimana pihak sekolah mengadakan kegiatan study tour ke pulau yang terkenal dengan sebutan pulau seribu pura. Kegiatan ini ditujukan bagi kami anak kelas 2 yang akan naik ke kelas 3.

Semua siswa menyambut gembira dengan adanya kegiatan ini, kecuali aku. Ya aku sendiri yang tidak merasakan kesenangan itu. Aku merasa tidak nyaman apabila nanti ikut pergi tapi tidak bisa menikmatinya, begitu juga mungkin yang akan dirasakan oleh para cewek yang saat ini menghindariku.

Aku tak ingin dengan kehadiranku menjadikan mereka tidak nyaman dan tidak bisa menikmati liburan. Karena kegiatan ini sifatnya tidak wajib, maka aku memutuskan untuk tidak ikut study tour.

Disamping biayanya yang cukup mahal, aku juga tak ingin membebani orang tuaku untuk menambah uang sakuku karena aku ikut pergi kesana.

Akhirnya aku lebih memilih untuk pulang kampung dari pada uang itu aku pakai untuk acara study tour yang mungkin akan terasa hambar. Selain aku sudah kangen dengan keluargaku, aku juga ingin sejenak melupakan masalah yang lumayan membebani pikiranku.

Mungkin juga aku akan merasakan kesenangan dan ketenangan bersama dengan orang – orang yang aku sayangi.

Aku melihat ada dua orang gadis cantik yang melambaikan tangan padaku saat aku berjalan keluar dari pintu kedatangan. Aku langsung berjalan menghampiri mereka yang sudah menunggu kedatanganku.

“kakak…” teriak dua gadis tersebut kemudian menghambur ke arahku.

“wah.. adik – adikku makin cantik aja..” ucapku pada mereka.

“jelas Riska yang lebih cantik kan..” ucap adikku Riska.

“hihihi… semua orang tau kalau Evi lebih cantik.. weekkk..” ucap Selvi adik sepupuku yang tidak mau kalah.

“iya.. iya.. kalian semua cantik kok..” ucapku tersenyum pada kedua adikku.

“eh Rik.. kamu udah sampai..” ucap seseorang yang ternyata adalah Tante Hilda.

“iya Tan..” balasku yang kemudian salim pada Tanteku.

“udah yuk kita pulang..” ucap Tanteku mengajak pulang.

Kami kemudian pergi ke parkiran mobil dan pergi meninggalkan bandara. Aku sempat menawarkan pada Tanteku biar aku yang menyetir, tapi Tanteku menolaknya karena takutnya aku masih capek setelah penerbangan.

“udah lama Tan tadi nunggunya..?” tanyaku saat di perjalanan.

“ya lumayan lah.. gimana kabarmu..?” balas Tante Hilda.

“baik Tan.. keluarga gimana Tan..?” ucapku balik bertanya.

“baik juga..” balas Tante Hilda.

“Om gimana kabar Tan..?” tanyaku pada Tante Hilda.

“baik Rik.. sekarang lagi pindah tugas di kota seberang” jawab Tanteku.

“gak ada rencana pindah Tan..?” tanyaku lagi.

“adalah.. tapi nunggu adikmu lulus dulu baru pindah.. bukan pindahnya pas tengah – tengah semester.. hihihi..” balas Tante Hilda yang kemudian menyindirku.

“hmm.. ngomongnya gak usah di jelas – jelasin juga kali Tan..” balasku mencibir.

“hihihi… oh iya.. kamu mau makan apa..?” tanya Tanteku kemudian.

“terserah mereka aja Tan..” balasku menunjuk adik – adikku.

“adek… kalian mau makan apa..?” tanya Tante Hilda pada kedua adikku.

“terserah kak Riki aja mah..” balas Selvi.

“iya terserah kak Riki aja Tan..” sahut Riska menimpali.

“kalau terserah.. aku makan aja kalian… aarrgghhh..” ucapku pada adik – adikku.

“ihhhh…. takuttt….” balas mereka dibuat seimut mungkin.

Sebenarnya adik – adikku emang imut sih walau tidak dibuat – buat. Hehehe…

“Dek… ayolah… keburu sampai ini…” ucapku memohon pada mereka.

“makan soto aja kak..” balas Riska.

“kamu itu.. gak disini, gak disana kok makannya soto aja..” ucapku pada Riska.

“yee.. beda kali kak.. walaupun sama – sama soto tapi kan beda daerah, rasanya juga beda…” balas adikku Riska.

Akhirnya kami berhenti untuk makan siang di warung soto yang diminta Riska. Setelah selesai kemudian Tante Hilda mengantar aku dan Riska pulang ke rumah.

***

“Assalamualaikum..” ucapku saat masuk rumah.

“Waalaikumsalam..” balas seseorang dari arah dapur.

“kakak..” ucap Bundaku yang melihat aku datang.

Aku langsung salim dan memeluk Bundaku. Hufh… baru berapa bulan gak ketemu rasanya kangen banget aku sama keluargaku.

“kakak gimana kabar..? Sehat – sehat kan..?” tanya Bundaku.

“baik Bun.. kakak sehat – sehat aja kok..” balasku tersenyum.

“kakak makan dulu yuk… itu Bunda udah masakin..” ucap Bundaku.

Aku yang masih kenyang mau menolak merasa tidak enak karena Bundaku sudah capek – capek masakin buat aku.

“Ayah mana Bun..?” tanyaku mengalihkan.

“Ayahmu belum pulang.. paling sebentar lagi…” balas Bundaku.

“ya udah nanti makannya bareng Ayah aja Bun..” ucapku mencari alasan.

“ya udah kamu istirahat dulu sana..” balas Bundaku.

Hufh… akhirnya aku bisa cari alasan sampai soto yang aku makan tadi turun dulu, jadi nanti biar bisa lahap makan masakan Bundaku. Hehe..

Aku kemudian ke kamar dan berganti pakaian. Karena hari masih siang dan Ayahku belum pulang, aku ingin jalan – jalan dulu ke kampung belakang untuk menemui seseorang.

Saat aku sudah berjalan beberapa ratus meter, sampailah aku di tempat yang aku tuju dan aku melihat ada seorang pemuda yang terlihat sedang sibuk mengutak – atik motor tuanya.

“mas.. kalau rusak buang aja ganti yang baru..” ucapku pada pemuda yang sedang jongkok membelakangiku.

“bangsatt..!!” ucapnya saat menoleh dan melihat aku yang datang.

Pemuda itu adalah temanku di rumah maupun di sekolahku yang dulu. Namanya Taufan, tapi teman – teman lebih sering memanggilnya Topenx.

“kalau kamu berani macam – macam sama si pitung (julukan motornya), aku injak itu mulutmu” ucap Topenx yang berdiri menghampiriku.

“cuk.. aku bukan hom – hom, jangan peluk – peluk..” ucapku pada Topenx yang mendekatiku.

“hahaha.. sini Mut duduk dulu..” ucap Topenx mengajakku duduk kemudian dia pergi untuk cuci tangan.

Mut dari kata Marmut adalah panggilan dari Topenx yang ditujukan padaku. Sebenarnya kalau di ingat – ingat lucu juga sih kenapa aku sampai bisa dapat julukan itu. Julukan yang malah terkesan imut dan gak ada garang – garangnya sama sekali.

Aku dulu sempat memelihara seekor marmut. Dan suatu ketika, marmut peliharaanku itu mati dan parahnya aku menangisi hewan yang aku pelihara sudah lama itu. Dan pada saat aku sedang bermain dengan teman – temanku, aku terlihat murung karena kematian marmut kesayanganku.

Topenx yang melihat sikapku kemudian bertanya pada adikku Riska, saat Topenx tau kalau aku murung gara – gara marmut, dia tertawa terbahak – bahak, dia tidak berhenti tertawa sampai – sampai dia ngompol. Sejak saat itu, aku lebih dikenal dengan julukan Riki Marmut.

“gimana Mut kabar..?” tanya Topenx yang kemudian duduk disebelahku.

“baik Penx.. ngomong – ngomong sumurmu kering Penx..?” jawabku yang kemudian menyindirnya.

“bangsaatt..!!” ucap Topenx yang kemudian masuk ke dalam rumahnya.

Tak berapa lama kemudian Topenx keluar membawa segelas teh dan secangkir kopi. Hmm.. ternyata temanku masih ingat kalau aku lebih suka teh dari pada kopi.

“Penx.. kulkasmu rusak ya..?” ucapku pada Topenx.

“anjiiinggg..!!” balas Topenx yang baru saja duduk kemudian pergi lagi ke dalam rumahnya lagi.

Beberapa saat kemudian Topenx membawa baskom berisi es batu dan beberapa toples berisi makanan ringan. Kemudian dia merogoh sakunya dan mengambil sebungkus rokok beserta koreknya dan diletakkan atas di meja.

“nihh… awas kamu minta macam – macam lagi..” ucap Topenx yang terlihat kesal.

“hehehe..” aku hanya tertawa melihat temanku aku kerjain.

Aku kemudian mengambil rokok dan membakarnya sambil menikmati es teh manis. Kami mengobrol dan saling bercerita tentang kegiatan kami masing – masing. Aku sempat membahas tentang motor tua milik Topenx yang hampir setiap hari mengantarkanku ke sekolah, karena aku dulu tidak punya motor makanya aku berangkat sekolah selalu nebeng sama Topenx.

Aku sempat heran pada Topenx karena dia yang saking cintanya pada motor tua itu. Walau kadang rewel atau mogok, tapi Topenx tidak pernah mau menjualnya. Saking sukanya pada motor itu, dia tidak mau kalau berangkat sekolah tanpa motor kesayangannya.

Apesnya saat lagi rewel atau mogok, aku yang terpaksa harus mendorongnya, makanya tak jarang dulu waktu berangkat sekolah badanku sudah basah oleh keringat gara – gara mendorong motor.

Sebenarnya Topenx punya motor lain yang dibelikan oleh orang tuanya, tapi dia jarang memakainya dan tetap setia dengan motor tuanya. Malahan dulu aku yang lebih sering memakainya karena Topenx yang meminjamkannya padaku.

Tanpa terasa waktu hampir sore, aku yang tadi hanya pamit sebentar tidak terasa kalau aku perginya sudah lama. Asiknya aku dan Topenx berbagi cerita menjadikan kami lupa waktu.

“oh… disini rupanya..” tiba – tiba Riska datang dengan berkacak pinggang.

“eh Dek..” ucapku yang kaget melihat Riska yang tiba – tiba datang.

“adik cantik sini duduk dulu…” ucap Topenx dengan sok manis.

“enggak..!!” ucap Riska melotot.

“sekarang cepat pulang..!!” ucap adikku menyuruhku.

“bentar lagi dek.. kamu duluan aja” balasku yang malu karena pulang maen aja sampai dijemput.

“sekarang..!! Atau aku bilangin Bunda kalau kakak ngrokok..!!” ancam adikku.

“iya.. iya..” balasku mengalah karena ancaman adikku.

“bilangin aja Ris.. biar kapok.. hahaha..” ucap Topenx mengompori.

Akhirnya aku berjalan dengan gontai mengikuti Riska pulang ke rumah.

“kakak lama amat sih jalannya..” ucap Riska yang kemudian menarik tanganku untuk berjalan lebih cepat.

“hahaha…” terdengar Topenx yang tertawa terbahak – bahak karena melihatku seperti anak kecil yang lagi main disuruh pulang.

Setelah sampai rumah aku kemudian mandi dan berkumpul dengan keluargaku. Saat sedang berkumpul, tiba – tiba Ayah mengajakku ke depan.

“gimana nak kabarmu disana..?” tanya Ayahku membakar rokok.

“baik Yah..” jawabku sambil melihat Ayahku menikmati rokoknya.

“kabar Om, Tante sama adikmu gimana..?” tanya Ayahku kemudian.

“baik juga Yah..” balasku menelan ludah kepengen ngrokok juga.

“yuk ke pos ronda depan aja nak..” ajak Ayahku pergi ke pos ronda.

Aku dan Ayahku kemudian berjalan menuju pos ronda yang letaknya tidak jauh dari rumah. Setelah sampai dan duduk disana, kemudian Ayah mengeluarkan bungkus rokok dan meletakkannya di dekatku.

“ambilah nak.. Ayah tau kalau dari tadi kamu juga pengen..” ucap Ayahku tersenyum.

Aku kemudian mengambil sebatang dan membakarnya. Huffhhh… nikmatnya akhirnya bisa ngrokok juga. Hehe.. kemudian suasana menjadi hening karena kami sama – sama terdiam.

“Ayah lihat kamu sekarang lebih tenang dan lebih dewasa nak.. apa kamu juga sudah bisa mengendalikan emosimu..?” tanya Ayahku memecah keheningan.

“Riki masih belajar Yah..” jawabku ke Ayah.

“Ayah senang lihat perubahanmu dan kakekmu pasti juga senang melihat dirimu yang sekarang..” ucap Ayahku.

“kamu pasti sudah banyak mendengar cerita dari Mbah Wongso tentang keluarga kita. Ayah harap kamu menyikapinya dengan bijak karena kita semua punya kisah masa lalu. Ayah sebenarnya ingin lepas dari masa lalu itu dan membuka lembaran baru, salah satunya dengan kita yang pindah kesini. Tapi perjalanan hidup tidak bisa kita tebak dan harapan hanya tinggal harapan karena pada akhirnya takdir yang membawamu kembali kesana” ucap Ayahku menjelaskan panjang lebar.

“nak.. mau tidak mau kamu sudah terlibat dalam lingkaran masa lalu, salah satunya kamu sudah bertemu dengannya..” ucap Ayahku melanjutnya.

“Surya Wijaya..” ucapku menanggapi Ayahku dan Ayah hanya mengangguk.

Aku kembali berfikir tentang apa yang sudah aku alami, apa semua sudah direncanakan..? Apa memang jalan hidupku yang seperti ini..?

Teringat cerita Mbah Wongso yang menyebut bahwa semua berawal dari kakekku, dan apakah semua permasalahan itu berlaku turun temurun walau kakekku sudah meninggal. Atau karena kegilaan Ayahku dulu yang menyebabkan dendam yang tidak berkesudahan.

“Yah.. apa yang sebenarnya menyebabkan kakek meninggal..?” tanyaku pada Ayahku dan beliau terlihat kaget.

“ihhh…. kalian dicari – cari ternyata disini..!!” ucap Riska yang tiba – tiba muncul berkacak pinggang.

“cepet pulang.. udah ditunggu Bunda..!!” ucap adikku yang menyuruh aku dan Ayah pulang.

“ayo nak.. dari pada nanti dimarahin Bundamu..” ucap Ayahku mengajak pulang.

Aku hanya mengangguk kemudian berjalan bersama Ayahku untuk pulang ke rumah. Hufhh.. lagi – lagi aku tidak menemukan jawaban, mungkin benar kata bu Asih. Aku harus mengikhlaskannya.

Sesampainya di rumah kami kemudian makan malam bersama dan istirahat.

***

Aku merasa ada yang menggoyang – goyangkan badanku untuk membangunkanku, dan siapa lagi kalau bukan adikku Riska.

“kak.. bangun.. udah siang ini..” ucap Riska membangunkanku.

“jam berapa sih dek..” balasku yang masih ngantuk.

“udah jam 8 ini.. ayo cepet bangun terus buruan mandi..!!” ucap Riska yang menggangguku.

“iya.. iya..” balasku dengan malas.

Aku sebenarnya jam 3 tadi sudah bangun, mungkin karena kebiasaanku yang bangun jam segitu untuk pergi ke pasar. Tapi karena aku yang sekarang tidak sedang bersama Om Heri, jadi ya aku tidur lagi. Hehehe..

Setelah mandi dan sarapan, aku kemudian bertanya pada adikku yang terlihat sedang berdandan.

“dek mau kemana..?” tanyaku pada Riska.

“jalan – jalan donk..” jawabnya sambil bercermin.

“sama siapa..?” tanyaku lagi.

“sama kakak lah..” balas adikku.

“loh sama aku.. emang mau naik apa..?” tanyaku heran.

“naik angkutan kan bisa..” jawab adikku.

Hufh.. di rumahku memang hanya ada satu motor, dan motor itu dipakai kerja Ayahku. Aku jadi kasihan sama adikku kalau mau jalan – jalan masa pakai angkutan umum. Disamping ribet, aku juga merasa kurang nyaman kalau mau pergi kemana – mana.

“ya udah tunggu bentar..” ucapku pada Riska.

Aku kemudian berganti pakaian dan pergi ke tempat temanku Topenx. Lagi – lagi aku merepotkannya karena aku yang akan meminjam motornya.

“Penx..” panggilku pada Topenx yang terlihat sedang mengutak – atik motornya.

“napa Mut..?” tanya Topenx yang melihatku datang.

“itu motor emang rusak apa sengaja ente rusak, dari kemarin ente bongkar – bongkar terus..” ucapku pada Topenx.

“eh.. ini gak kelar – kelar gara – gara ente kemarin kesini jing..!!” balas Topenx melotot.

“hehehe… biasa aja ngomongnya..” balasku terkekeh.

“Penx, ane mau ngerepotin nih..” ucapku pada Topenx.

“kenapa emang..?” balas Topenx bertanya.

“ane kalau boleh mau minjem motor..” ucapku yang merasa tidak enak.

“oh.. bentar..” balas Topenx yang kemudian berdiri dan masuk kedalam.

Tak berapa lama Topenx keluar mendorong sebuah motor, kemudian Topenx juga menyerahkan surat kendaraan padaku.

“sory Penx kalau ngerepotin.. ane pinjem dulu ya..” ucapku pada Topenx.

“Mut.. kalau ente ngomong gitu lagi, mending gak usah kenal sama ane..” balas Topenx padaku.

“hehehe.. makasih ya..” ucapku kemudian.

“bilang makasih lagi ane lempar ente pakai kunci pas..!!” balas Topenx yang terlihat kesal.

“njing.. ane pakai motornya dulu ya.. nanti ane balikin kalau ane udah puas makai..!!” ucapku pada Topenx.

“nah.. itu baru temenku… hehe..” balas Topenx tersenyum lebar.

Memang aneh temanku yang satu ini, dibilang ngrepotin gak mau, di ucapin makasih malah marah, giliran di maki malah senang. Hahaha.. tapi itulah temanku, teman yang setia menjalani suka dan duka bersamaku.

Aku kemudian memacu motor untuk pulang ke rumah, dan terlihat Riska yang sudah menungguku di depan.

“motor dari mana kak..?” tanya Riska yang melihatku datang membawa motor.

“motor minjam dek.. udah ayo buruan..” balasku menyuruh Riska bergegas.

Aku kemudian memacu motor untuk pergi ke suatu tempat wisata di kota ini. Riska yang ingin pergi kesana dan aku senang – senang saja karena aku sudah lama tidak ke tempat ini.

Setelah memarkirkan motor, aku dan adikku jalan – jalan di sekitar tempat itu. Aku kemudian melihat ada sebuah bangku dari beton dan mengajak Riska untuk duduk disana.

“dek.. besok kamu mau masuk SMA mana..?” tanyaku ke Riska saat kami sudah duduk.

“SMA kakak yang dulu.. Evi kan juga disana..” balas adikku menjelaskan.

Aku kemudian termenung teringat kembali saat aku masih bersekolah di SMA lamaku. Aku tersenyum mengingat banyak hal yang sudah aku lalui, masa dimana aku mulai beranjak dewasa dan mengenal yang namanya cinta.

“kakak ingat yang dulu ya..” ucap Riska membuyarkan lamunanku.

“ah enggak kok.. kakak cuma lagi liat – liat tempat ini, kok udah banyak yang berubah..” balasku berkilah.

“kak..” panggil Riska senyum – senyum.

“hmm.. kenapa..?” tanyaku aneh.

“gimana kabar kak Monic..?” tanya Riska mengagetkanku.

“emm.. baik kok.. kenapa kamu tanya itu..?” balasku ke Riska.

“emang kalau tanya kabar gak boleh..?” ucap Riska membalasku.

“ya boleh sih..” balasku ke Riska.

“kak..” panggil Riska lagi.

“apa lagi sih dek..” ucapku ke Riska.

“kakak kok galak sih.. aku cuma pengen ngobrol sama kak Monic..” ucap Riska padaku.

“ya besok kalau ketemu ngobrol..” balasku ke adikku.

“maunya sekarang kak..” ucap Riska mengagetkanku.

“kak cepet telpon..” ucap Riska menyuruhku.

Sebenarnya aku agak ragu untuk menelpon Monic karena selama ini dia mendiamkanku, takutnya telponku nanti malah gak di angkat. Tapi kalau di angkat ya aku seneng – seneng aja, karena aku sudah lama tidak mendengar suaranya.

“iya.. iya.. tapi nanti di loud speaker ya..” balasku ke Riska.

Aku kemudian menghubungi nomer telpon Monic. Setelah terdengar telpon di angkat, aku segera mengubah mode ke loud speaker dan menyerahkan HP ku ke Riska.

“halo..” terdengar suara Monic yang datar.

“haloo kak…” balas Riska menjawab telepon.

“Riska..?” ucap Monic yang kaget.

“iya kakak cantik.. gimana kabarnya..?” balas Riska yang terlihat girang.

“baik dek.. eh sebentar.. sebentar..” ucap Monic yang terdengar sedang berjalan.

“halo.. maaf dek.. tadi suaranya bising..” ucap Monic ke Riska dan sekarang suasana tempat Monic tidak seramai tadi.

“iya kak.. emang kakak lagi dimana..?” tanya Riska.

“lagi ke Bali dek..” balas Monic.

“wah.. asyikkk… lagi liburan nih.. hihihi..” ucap Riska cekikikan.

“enggak dek.. ini lagi study tour.. acara sekolah kok..” balas Monic menjelaskan.

“ohh…” ucap Riska yang kemudian melirikku.

“emang sekarang adek lagi dimana..?” tanya Monic ke Riska.

“lagi jalan – jalan kak di tempat wisata di kotaku..” balas Riska menjelaskan.

“ohh.. berarti Riki lagi pulang kampung ya..” ucap Monic, kemudian Riska melotot padaku.

“iya kak.. ni orangnya di sebelahku.. kakak mau ngomong..?” balas Riska yang terlihat geram padaku.

“eh.. gak usah dek..” balas Monic yang terlihat kaget.

“Mon ayoo buruan..!!” terdengar suara yang memanggil Monic.

“eh dek.. udahan dulu ya.. kakak udah disuruh kumpul.. daa Riska..” ucap Monic pamitan.

“iya kak.. daa kakak cantik..” balas Riska yang kemudian menutup telepon.

Riska langsung menatapku dengan tajam setelah telpon di tutup. Pasti dia akan melempar banyak pertanyaan setelah ini.

“sekarang cerita..!!” ucap adikku yang menatapku tajam.

“apa yang ingin kamu tau..?” tanyaku pada Riska.

“semuanya..!! Kenapa kakak gak ikut study tour..? Kenapa kak Monic gak tau kalau kakak pulang kampung..? Sebenarnya ada masalah apa kak..?!!” tanya Riska geram.

Aku kemudian menceritakan masalahku mulai dari Dini yang menamparku gara – gara aku berkelahi dengan kakaknya. Kemudian Farah dan Nisa yang ikut menjauhiku karena Dini yang marah padaku.

Yang terakhir saat Nisa yang melihatku jalan dengan Monic di warung soto, dan setelah itu Monic menjauhiku makanya dia tidak tau aku pulang kampung.

Aku kemudian menceritakan alasanku kenapa aku tidak ikut study tour. Aku beralasan karena acara itu tidak wajib dan biayanya yang mahal, makanya dari pada buat study tour, lebih baik uang itu aku pakai buat pulang kampung. Lagian juga kalau aku ikut, malah mengganggu liburan mereka nantinya.

“jadi kakak lari dari masalah..” ucap Riska padaku.

“enggak dek.. aku akan menyelesaikannya setelah ini.. aku disini hanya ingin menenangkan pikiranku sejenak..” balasku menjelaskan.

“kakak pasti bisa menyelesaikannya..” ucap Riska tersenyum.

“kak.. aku penasaran dengan yang namanya Dini..” ucap Riska melanjutkan.

“apa yang membuatmu penasaran..?” tanyaku heran.

“apa istimewanya Dini sampai kakak bisa jatuh hati padanya..” balas Riska yang membuatku kaget.

“kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu..?” tanyaku penasaran.

“cerita tadi menjelaskan bagaimana perasaan kakak..” balas Riska yang membuatku terdiam.

Harus aku akui kalau perasaan cewek lebih peka dari pada cowok. Riska bisa menyimpulkan perasaanku hanya berdasarkan sebuah cerita. Dan aku juga tidak memungkiri bahwa yang dikatakan adikku itu benar.

Hari sudah hampir sore, aku kemudian mengajak adikku untuk pulang. Setelah sampai rumah aku beristirahat sebentar kemudian mandi dan bersiap mengembalikan motor Topenx.

***

“kenapa gak dibawa dulu motorku..” ucap Topenx saat aku sudah di rumahnya.

“besok aja kalau ane butuh lagi” balasku ke Topenx.

“trus sekarang ente mau ngapain..?” tanya Topenx padaku.

“ya pulang lah.. emang mau ngapain..?” balasku karena memang aku sudah tidak acara lagi.

“ah gak asik ente.. nongkrong aja yuk..” ucap Topenx mengajakku pergi.

“ayolah.. tapi jangan malam – malam.. ane belum pamit tadi..” balasku ke Topenx.

“iya.. iya..” ucap Topenx mengiyakan.

Aku yang membonceng Topenx kemudian pergi ke salah satu cafe yang ada di kota ini. Setelah memarkirkan motor, kami kemudian masuk dan memesan minuman.

Saat aku dan Topenx sedang asik mengobrol, tiba – tiba aku melihat sepasang muda – mudi yang datang kemudian duduk di salah satu meja. Aku yang mengenal mereka kemudian mendatanginya hanya untuk sekedar menyapa teman lama.

“hai Liz.. apa kabar..?” ucapku kepada si cewek.

“eh.. Riki.. kamu pulang..” balas Liza yang kaget melihatku.

“enggak.. aku cuma liburan aja..” balasku tersenyum.

“halo Ngga.. gimana kabar..?” tanyaku pada si cowok.

“baik Rik..” balasnya yang juga kaget melihatku yang datang.

“sory ya Ngga buat waktu itu..” ucapku ke Rangga.

“i.. iyaa.. Rik..” balasnya tergagap.

Aku kemudian melihat mereka berdua terlihat canggung karena kehadiranku, dan aku juga tidak nyaman melihat mereka berdua.

“ya udah aku balik dulu ya.. maaf mengganggu kencan kalian..” ucapku yang kemudian pergi meninggalkan mereka.

Aku sengaja memperjelas kata kencan saat aku bicara pada mereka karena aku yakin kalau mereka sudah pacaran.

“anjing.. ane kira ente mau berantem lagi Mut..” ucap Topenx yang terlihat panik dan aku hanya tersenyum padanya.

“sudah berapa lama mereka..?” tanyaku ke Topenx.

“setelah ente di keluarin dari sekolah..” balas Topenx padaku.

Aku hanya tersenyum mendengar yang di ucapkan Topenx. Cewek yang baru saja aku temui itu bernama Liza, dia dulu adalah mantanku walau kami hanya pacaran selama 1 minggu. Sedangkan untuk si cowok bernama Rangga. Hufh.. kenapa sih orang yang bermasalah denganku namanya mirip.

Rangga ini dulu adalah kakak kelasku, karena dia anak orang kaya menjadikannya banyak teman dan berlagak sok preman, padahal teman – temannya itu hanya memanfaatkan uangnya saja. Hehehe…

Permasalahanku dengan Rangga berawal saat dia yang mengganggu adikku Selvi. Kejadian itu tepat 1 minggu setelah aku dan Liza pacaran. Aku masih ingat waktu itu saat temannya Selvi yang datang menemuiku dan bilang kalau Selvi nangis – nangis. Dia bilang kalau Selvi habis diganggu sama Rangga.

Aku kemudian bertanya apa yang dilakukan Rangga sampai membuat Selvi nangis. Dia kemudian bercerita saat dia dan Selvi yang habis dari kamar mandi kemudian berpapasan dengan Rangga, setelah berpapasan tiba – tiba Rangga meremas dada Selvi dari belakang sambil tertawa, Selvi yang merasa dilecehkan hanya bisa menangis karena takut.

Aku yang mendengar penjelasan dari teman Selvi seketika itu langsung emosi dan gelap mata. Aku kemudian pergi mendatangi kelas Rangga dan langsung masuk ke dalam. Aku yang melihat Rangga sedang duduk mengikuti pelajaran langsung mendatanginya dan menghajarnya sampai pingsan.

Setelah kejadian itu aku langsung dikeluarkan dari sekolah karena pelanggaran berat. Aku menghajar seorang siswa saat jam pelajaran di dalam kelasnya dan ada guru yang sedang mengajar. Kalau dipikir – pikir gila juga ya. Hahaha.. tapi aku tidak menyesal melakukan itu karena aku tidak bisa terima kalau ada yang berani mengganggu keluargaku, walau resiko yang harus aku terima adalah dikeluarkan dari sekolah.

Sebenarnya waktu itu ayahnya Rangga ingin mengkasuskanku, tapi karena usaha dari Om dan Tanteku, aku bisa terbebas dari jeratan hukum dan konsekuensinya aku harus keluar dari kota ini dan melanjutkan sekolah di kota kelahiranku.

Kembali ke saat ini, aku yang sedang duduk bersama Topenx merasa kurang nyaman karena kehadiran Rangga dan Liza. Aku kemudian mengajak Topenx untuk pergi pindah tempat.

“Penx.. warung samping terminal itu masih ada gak..?” tanyaku ke Topenx.

“masih.. kenapa.. ente mau..?” balas Topenx padaku.

“iya.. pengen anget – anget..” ucapku ke Topenx.

Kemudian Topenx mengarahkan motor menuju warung samping terminal tempat jual minuman. Aku kemudian membeli 3 botol cap orang tua dan segelas air mineral. Aku kemudian mengajak Topenx untuk meminumnya di taman kota.

“anjing.. ini bukannya anget tapi mabuk sampai teler..” gerutu Topenx.

“emang berapa botol biar bisa jadi anget..?” tanyaku ke Topenx.

“satu botol cukup lah..” balas Topenx.

“satu botol buat kencing ilang Penx..” balasku ke Topenx dan dia hanya geleng – geleng.

Aku kemudian membuka gelas air kemasan dan menjadikannya untuk wadah memutar minuman.

Setelah habis 2 botol tiba – tiba ada dua orang yang datang menghampiri kami.

“ngapain kalian disini..!!” ucap seseorang berteriak kepada kami.

“maaf Bang.. kita hanya bentar.. habis ini pergi..” balas Topenx ketakutan.

“enak aja main pergi.. kalian harus bayar dulu baru boleh pergi..!!” ucap orang itu.

Aku yang merasa akan dipalak menjadi geram. Aku paling benci sama orang yang mau dapat uang tapi gak mau kerja.

“kalau aku gak mau bayar kalian mau apa..?” ucapku berdiri sambil membawa botol kosong yang aku sembunyikan di belakangku.

“Rik.. udah Rik.. jangan cari masalah..” ucap Topenx yang ketakutan.

“sudah hebat kamu ya.. kamu gak tau berurusan dengan..” ucap orang itu terpotong.

“PRANKKK..” suara botol pecah.

“arghh…” teriak orang itu mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya yang berdarah.

“anjingg..!!” teriak orang satunya yang langsung maju menyerangku.

Wuuttt..

Sebuah pukulan dari orang itu yang dapat aku hindari dengan mundur satu langkah.

BUGH

Tendangan berputarku masuk mengenai kepalanya yang membuatnya terlempar. Aku kemudian mendatanginya dan memukulnya sampai pingsan. Kemudian aku mendatangi temannya yang masih memegangi kepalanya yang berdarah terkena botol tadi.

“ampun mas.. ampun..” ucap orang itu menyerah.

“udah Rik.. ayo pulang aja..” ucap Topenx yang mengajakku pergi.

“bentar Penx.. aku mau ngabisin ini dulu sambil liatin muka mereka..” ucapku yang kemudian duduk.

Aku kemudian meminum sisa satu botol sendirian karena Topenx yang udah gak mau minum lagi. Aku kemudian melihat orang yang kepalanya berdarah sedang berusaha menyeret temannya yang masih pingsan.

“jangan pergi dulu.. aku belum selesai..!!” ucapku pada orang itu.

Kemudian orang itu tidak jadi pergi dan duduk disamping temannya yang masih pingsan. Aku kemudian melanjutkan minumku. Setelah minumanku habis, aku kemudian mendatangi kedua orang tersebut.

“buka bajumu..!!” ucapku pada orang yang kepalanya berdarah.

Dengan agak ragu kemudian orang itu melepas bajunya. Aku kemudian merobek baju itu memanjang kemudian mengikat kepalanya yang berdarah. Bersamaan dengan itu, temannya yang pingsan sudah mulai siuman dan terlihat kaget. Aku kemudian mengambil beberapa lembar uang berwarna biru dan memberikannya pada mereka.

“kalau besok aku lihat kalian masih malakin orang, aku buat kalian lebih parah dari ini..!!” ucapku pada kedua orang itu.

“i.. iyaa.. mas.. makasih mas..” balas orang itu.

“ayo Penx kita pulang..” ajakku pada Topenx yang terlihat bengong.

Setelah itu kami pergi dan Topenx mengantarku pulang ke rumah.

Saat aku masuk rumah, aku kaget melihat Bundaku yang ternyata belum tidur. Setelah melihatku yang sempoyongan, Bunda langsung pergi masuk ke kamar. Aku kemudian masuk kamar untuk tidur dan siap – siap besok kena marah.

***

Aku terbangun dari tidurku dan merasakan kepalaku yang masih sedikit pusing. Aku kemudian mandi dan mencari keberadaan yang lain. Aku tidak melihat keberadaan Ayahku karena jam segini sudah berangkat kerja, dan aku juga tidak melihat keberadaan adikku, kira – kira kemana ya. Aku kemudian ke dapur dan melihat Bundaku yang sedang mencuci piring.

“Bun..” panggilku dan Bundaku hanya diam tidak menjawabku.

Duh.. Bunda kalau marahnya diem lebih serem dari pada mengomel. Aku mending di omelin Bunda dari pada cuma di diemin gini, rasanya gak enak banget.

Aku kemudian menghampiri Bundaku dan memeluknya dari belakang.

“Bun..” panggilku lagi sambil memeluk Bunda.

Kemudian Bunda menangis sesenggukan yang membuatku merasa sedih. Aku merasa bersalah karena sudah menyakiti hati Bunda sampai membuatnya menangis.

“kak..” ucap Bundaku yang sudah mulai tenang kemudian berbalik menghadapku.

“kakak ada masalah apa..?” tanya Bundaku.

“gak ada Bun..” balasku menunduk.

“kenapa kakak sampai seperti ini..?” ucap Bundaku yang membuatku merasa bersalah.

“maaf Bun..” balasku lirih.

“kakak merokok Bunda masih bisa memaklumi, tapi kalau sampai mabuk – mabukan Bunda tidak bisa menerima..” ucap Bunda memarahiku.

“maaf Bun..” balasku menunduk hanya bisa meminta maaf.

“kak.. lihat Bunda..” ucap Bundaku kemudian aku menegakkan kepalaku.

“seorang laki – laki harus bertanggung jawab, selesaikan masalahmu baik – baik..” ucap Bunda yang mulai tersenyum.

“iya Bun..” balasku.

“ya udah.. ayo sarapan dulu..” ucap Bunda mengajakku.

Aku kemudian sarapan ditemani Bunda. Bunda sempat mengomel padaku karena semalam aku pergi tanpa membawa HP, jadi aku tidak sempat untuk pamit. Sebenarnya kemarin niatku hanya mengembalikan motornya Topenx, tapi karena aku yang tiba – tiba di ajak nongkrong jadi gak sempat ambil HP. Aku rencananya juga cuma pergi sebentar, tapi karena tanpa sengaja bertemu mantan pacar dan mantan musuh, membuatku lupa diri ditambah aku dan Topenx yang malah minum di taman kota.

Aku kemudian bertanya pada Bunda kalau Riska pergi kemana, kata Bunda adikku pergi main ke tempat tanteku dan berangkatnya tadi bareng Ayahku. Setelah sarapan aku kemudian pamit ke Bunda untuk ke tempat Topenx. Bunda sempat berpesan padaku untuk tidak mabuk – mabukan lagi.

Sisa hari liburku aku habiskan dengan bersama keluargaku dan temanku Topenx, kadang sesekali aku juga main ke tempat Tante Hilda dan menginap disana.

Pernah saat aku dan Topenx yang sedang jalan – jalan tanpa sengaja bertemu dengan preman yang akan memalakku saat di taman kota, orang itu yang aku pukul kepalanya pakai botol, dan saat aku tanya dia sedang apa ternyata dia habis mengantar penumpang, dia bilang padaku kalau sekarang bekerja sebagai tukang ojek di sekitar terminal.

Syukurlah…

Akhirnya liburanku telah usai dan aku harus kembali ke kota kelahiranku untuk bersekolah. Aku sengaja pulang hari sabtu dan hari minggu bisa aku gunakan untuk istirahat di rumah. Setelah selesai makan siang, aku bersiap – siap untuk pergi ke bandara.

Setelah berpamitan dengan keluargaku, aku kemudian di antar temanku Topenx menuju ke bandara. Ayahku tidak bisa mengantarku karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, makanya Topenx yang kemudian mengantarku.

Setelah sampai bandara, Topenx langsung pergi meninggalkanku karena ada urusan, aku sempat ngomel padanya karena kalau aku tau dia mau ada acara, dia tidak perlu mengantarku. Setelah Topenx pergi, aku langsung bergegas masuk untuk check in penerbangan.

***

Sampailah aku di kota kelahiranku. Setelah keluar dari pintu kedatangan, aku kemudian mencari angkutan untuk membawaku pulang. Aku sengaja tidak memberi tau Om Heri kapan aku pulang karena aku tidak ingin merepotkan Om ku kalau sampai menjemputku.

Jarak dari bandara ke rumah Om Heri terbilang jauh, aku yang naik angkutan umum sampai harus pindah jalur sampai 3x dan tentu saja membutuhkan waktu yang lama. Hari semakin gelap dan aku sedang menunggu angkutan terakhir yang membawaku ke rumah Om Heri.

Aku yang sedang duduk di pinggir jalan menunggu angkutan tiba – tiba dikagetkan oleh seseorang yang datang menggunakan motor dan berhenti di dekatku.

“ngapain kamu disini.. cepat naik..!!” ucap orang tersebut menyuruhku.

Aku kemudian berjalan menghampirinya dan berdiri di depannya.

“ngapain masih berdiri.. cepet naik..!!” ucap Ratna yang menyuruhku untuk memboncengnya.

Aku hanya geleng – geleng karena aku belum pernah dan gak mau dibonceng sama cewek. Melihatku yang masih berdiri kemudian Ratna turun dari motor dan mendekatiku.

“sini tasmu..!!” ucap Ratna yang meminta untuk membawa tas ranselku.

Aku kemudian menyerahkan tasku dan naik ke atas motornya. Ratna langsung memboncengku dan langsung memelukku dengan erat. Aku sempet heran dengan cewek satu ini, kalau ngomong judesnya minta ampun, giliran bonceng motor langsung main peluk. Aku kemudian menjalankan motor dengan kecepatan sedang.

“jangan pulang dulu.. kita mampir makan dulu..!!” ucap Ratna dan aku hanya mengangguk.

Aku sengaja tidak menjawab semua ucapan Ratna karena aku bingung dengan sikapnya yang judes padaku sejak pertama kita bertemu. Aku bingung dengan sikapnya yang selalu marah – marah padaku, emang aku punya salah apa sama dia sampai dia bersikap seperti itu.

“kamu marah ya sama aku..?” tanya Ratna dengan nada yang lembut.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku benar – benar bingung dengan sikap Ratna, tadi dia galak dan sekarang bersikap lembut.

“kalau gak marah kenapa kamu diam..?” ucap Ratna kemudian dan aku hanya diam tidak menanggapi.

“aku kangen kamu..” ucap Ratna yang kemudian memelukku tambah erat.

Sekarang aku benar – benar bingung dan tidak tau harus bagaimana menghadapi cewek satu ini. Saat ketemu galak dan marah – marah, waktu memboncengku langsung meluk erat, kemudian tiba – tiba bicaranya lembut, dan yang terakhir bilang kangen ke aku. Sumpah ini rasanya lebih pusing dari pada minum sampai berbotol – botol.

Setelah sampai di tempat makan, aku dan Ratna langsung menuju ke sebuah meja. Kemudian Ratna pergi untuk mengambil makanan. Tak berapa lama, Ratna datang membawa dua piring nasi rames dan dua gelas es teh manis dengan nampan.

“emm.. sebenarnya..” ucapku terpotong.

“nanti aja tanyanya.. sekarang makan dulu..!!” sahut Ratna menimpali omonganku.

Aku kemudian memakan makananku tanpa bicara. Aku bingung dengan sikap Ratna yang selalu ketus padaku. Tapi ngomong – ngomong kok dia tau kalau aku lebih suka pakai lauk telur dadar dari pada lauk ayam seperti yang Ratna makan. Eh ngapain juga sih bahas lauk, kan sekarang aku ingin tau kenapa Ratna bersikap seperti itu padaku.

Saat aku sudah menyelesaikan makanku, aku masih diam dan menunggu Ratna yang terlihat masih makan.

“kenapa diem.. kamu mau ngomong apa tadi..” ucap Ratna padaku yang membuatku aarrggghhh…

Hufh.. sabar.. sabar.. makhluk yang namanya wanita memang tidak bisa ditebak, sifat satu dengan yang lainnya juga tidak bisa disamakan.

“kamu kan masih makan..” ucapku pada Ratna.

“kamu kan udah selesai..” balas Ratna padaku dengan cueknya.

Tadi katanya suruh selesaiin makan dulu, giliran aku yang nunggu dia selesai makan malah di omelin. Andai aku duduknya deket tembok, udah aku jedot – jedotin ini kepalaku ke tembok.

“kenapa sikapmu selalu judes ke aku..?” tanyaku ke Ratna.

“karena aku sebel sama kamu..” balas Ratna dengan ketus.

“apa yang membuatmu sebel..?” tanyaku penasaran.

“kangen..” jawab Ratna mengagetkanku.

Kangen..? Gak salah denger aku.. dia kangen sama aku..?

“ehmm.. maaf..?” ucapku meminta Ratna untuk mengulangi.

“aku kangen sama kamu Riki..” ucap Ratna cemberut dengan berkata lebih jelas.

Aku hanya diam karena bingung. Jujur aku bingung, bagaimana ceritanya dia bisa kangen sama aku..? Aku bertemu Ratna hanya beberapa kali dan itu juga bareng temen – temenku.

“kamu beneran lupa sama aku ya..?” tanya Ratna berkata lebih lembut.

“lupa..? Bukannya kita baru bertemu beberapa kali kan..” balasku yang heran.

“kamu jahat Rik.. padahal aku gak penah lupa sama kamu..” ucap Ratna yang terlihat sedih.

“maaf.. bisa tolong kamu jelaskan apa yang sedang terjadi..” ucapku memohon.

“kamu ingat siapa yang ngasih Gembul ke kamu..?” tanya Ratna padaku.

Ratna menyebutkan nama Gembul. Setelah aku ingat – ingat Gembul itu adalah nama marmut kesayanganku, dan yang memberikannya dulu adalah seorang gadis seusiaku.

“Nana..” ucapku lirih setelah ingat nama gadis yang memberiku seekor marmut.

“kamu Nana..?” tanyaku ke Ratna dan dia tersenyum dengan manisnya.

Nana adalah teman masa kecilku dan aku dulu sering bermain dengannya karena Ayahku dan Ayah Nana teman dekat. Dulu saking akrabnya, aku dan Nana bersama – sama memelihara seekor marmut yang kemudian kami beri nama Gembul karena bulunya yang agak lebat menjadikannya terlihat gemuk.

Suatu hari kemudian, orang tua Nana berpisah dan Nana ikut ibunya pindah ke luar kota. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Nana.

“maaf Na.. aku benar – benar tidak ingat sama kamu, kamu sekarang terlihat..” ucapku terpotong.

“cantik..” sahut Ratna memotong ucapanku.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk karena jujur aku melihat Ratna yang sekarang terlihat beda sampai aku tidak bisa mengenalinya lagi.

“maaf Rik.. aku selama ini ketus sama kamu karena aku tuh sebel sama kamu..” ucap Ratna padaku.

“aku yang minta maaf Na karena aku benar – benar tidak mengenalimu..” ucapku meminta maaf.

Setelah itu kami mengobrol biasa bertanya tentang kabar masing – masing dan menceritakan masa kecil kita. Ratna juga bertanya kalau aku dari mana kok bawa tas ransel sambil duduk menunggu angkutan.

Ratna juga cerita setelah ibunya menikah lagi, hidupnya jadi menderita karena ayah tirinya yang sering marah – marah dan ibunya juga sering menyalahkan Ratna. Hal itu yang membuatnya tidak betah kemudian memutuskan untuk kembali ke kota ini dan tinggal sendiri di kost. Tak terasa hari semakin larut, aku kemudian mengajak Ratna untuk pulang.

“Rik.. kamu antar aku pulang dulu ya..” ucap Ratna padaku.

“iya..” balasku ke Ratna.

Aku memang berniat mengantar Ratna pulang karena hari yang sudah malam. Aku tak tega kalau dia mengantarku dulu baru pulang ke kostnya, yang ada malah gak tenang aku nanti. Lagian aku nanti pulang dari kost Ratna bisa naik ojek.

Setelah sampai di kost Ratna, aku kemudian memasukkan motornya ke garasi dan siap – siap pulang.

“Rik.. mampir dulu..” ucap Ratna saat aku memarkirkan motor Ratna di garasi.

“aku langsung pulang aja Na.. udah malem soalnya..” balasku menolaknya.

“pokoknya mampir dulu..!! Kalau gak nanti aku bilangin ke Yudha..” ucap Ratna mengancamku.

Akhirnya aku menuruti Ratna yang memaksaku untuk masuk ke dalam kostnya dari pada nanti aku ribut sama Yudha kan gak lucu. Setelah membuatkan minuman, kemudian Ratna pamit untuk mandi.

Selesai mandi, Ratna kemudian menyuruhku untuk mandi juga. Aku yang merasa gerah karena seharian belum mandi, kemudian memutuskan untuk mandi.

Karena aku tadi terburu – buru masuk kamar mandi, aku hanya mengambil handukku saja tanpa membawa baju ganti, dan baju gantiku masih berada di dalam tas ranselku.

“Na.. tolong ambilin tasku donk.. aku lupa ngambil baju ganti..” ucapku dengan sedikit membuka pintu kamar mandi.

“ya sebentar..” balas Ratna padaku.

Tak berapa lama pintu kamar mandi diketuk, saat aku yang membukanya pelan – pelan, tiba – tiba Ratna mendorong pintu kamar mandi jadi terbuka lebar. Aku seketika itu langsung kaget karena aku masih telanjang belum berpakaian, dan lebih kagetnya lagi ternyata Ratna juga tidak memakai sehelai benang pun.

Ratna kemudian berjalan mendekatiku dan langsung memelukku.

“aku kangen sama kamu..” ucap Ratna yang langsung menciumku.

Aku yang sudah terangsang saat melihat Ratna bugil ikut membalas ciuman Ratna. Kami saling mencumbu seakan melepaskan rindu yang sudah lama terpendam. Ratna kemudian mendorongku ke belakang untuk duduk di atas kloset yang tertutup, kemudian dia berlutut dan langsung mengulum kontolku.

“ahh…” desahku yang merasa nikmat saat Ratna memainkan kontolku dengan mulutnya.

Beberapa menit kemudian, Ratna berdiri dan memposisikan tubuhnya untuk duduk di pangkuanku.

“ahh…” desah kami bersamaan saat kontolku yang amblas ke dalam memeknya.

Kemudian Ratna mulai menaik turun kan tubuhnya di atas pangkuanku. Dadanya yang bergoyang di depan wajahku tidak aku sia – siakan, aku langsung meremas – remas dadanya dan menghisap – hisap putingnya.

Ratna yang mendesah nikmat terus bergoyang di atasku, sampai beberapa saat kemudian gerakan Ratna makin liar dan dia semakin mendesah hebat. Tak berapa lama kemudian Ratna memelukku erat dengan membenamkan wajahku ke dadanya yang kenyal.

“aaahhhh….” desah panjang Ratna yang berhenti bergoyang bersamaan itu kontolku seperti tersiram cairan hangat.

Aku masih mendiamkan Ratna yang terlihat masih mengatur nafasnya, setelah agak tenang kemudian dia berdiri dan menungging dengan bertumpu pada tembok kamar mandi.

Aku kemudian berdiri dan memasukkan kontolku ke memek Ratna dari belakang. Aku langsung memompa kontolku dengan kecepatan sedang sambil meremas – remas dadanya. Beberapa menit kemudian memek Ratna terasa berkedut dan mencengkeram kontolku. Tiba – tiba..

“aahhh….” teriak Ratna yang mengalami orgasme keduanya.

Bersamaan itu kaki Ratna seperti lemas dan terlihat mau ambruk. Aku yang melihat itu langsung memeluknya dan menahannya untuk tetap berdiri dengan kontolku yang masih tertancap di memeknya.

Beberapa saat kemudian Ratna sudah bisa berdiri lagi dengan sedikit menungging dan bertumpu pada tembok kamar mandi. Aku kemudian kembali memompa kontolku yang masih keras, semakin lama sodokanku semakin cepat dan aku merasakan akan keluar.

Kami sama – sama mendesah dan saling menikmati pergumulan ini. Aku semakin cepat memompa kontolku karena aku yang merasa sudah dekat, dan Ratna juga mengimbangi gerakanku dengan menghentakkan pantatnya setiap aku menyodoknya.

“aku mau keluar..” ucapku yang sudah semakin dekat.

Tiba – tiba Ratna melepas kontolku dan langsung berjongkok di depanku, kemudian dia langsung mengulum kontolku dan menghisapnya dengan kuat.

CROT.. CROT.. CROT..

“ahh..” desahku saat maniku tumpah di mulutnya.

Ratna masih mengulum kontolku dan menghisap – hisapnya sampai maniku tak bersisa. Setelah itu dia melepaskan kontolku kemudian menelan spermaku sambil tersenyum.

Setelah kami membersihkan diri, Ratna kemudian mengajakku untuk tidur di kasurnya dengan kami yang masih terlanjang bulat.

“kenapa kamu liat aku seperti itu..?” tanyaku pada Ratna yang melihatku sambil tersenyum saat kami tidur berhadapan.

“aku bahagia bisa ketemu kamu lagi..” balasnya tersenyum padaku.

“tapi apa harus seperti ini..?” tanyaku padanya.

“kenapa emangnya..? Aku senang kok melakukannya..” balas Ratna.

“tapi aku gak enak sama Yudha..” ucapku yang merasa bersalah pada Yudha karena sudah meniduri pacarnya.

“biarlah ini menjadi rahasia kita..” balas Ratna tersenyum.

Aku yang merasa sangat lelah kemudian memutuskan untuk tidur.

***

Aku terbangun karena merasakan kontolku yang terasa geli tapi juga terasa nikmat, saat aku membuka mata aku melihat Ratna yang sedang mengulum kontolku.

“selamat pagi..” ucap Ratna tersenyum melihatku sudah bangun.

“pagi..” balasku tersenyum.

Aku merasakan nikmatnya dunia saat terbangun dari tidur dengan kontol yang berada di mulut seorang cewek. Sejak aku mengenal seks dari bu Asih, aku sangat menikmati setiap tahap saat berhubungan intim.

Aku merasa sangat senang apabila pasanganku terlihat puas, dan aku sangat bersemangat saat lawan mainku mendesah kenikmatan.

Seperti menu sarapanku pagi ini, yaitu sarapan memeknya Ratna. Aku menggarap Ratna sampai dia kelelahan dan aku sampai crot dua kali di atas perutnya, untuk Ratna entah sudah berapa kali dia orgasme karena aku tidak menghitungnya.

Setelah mandi, aku kemudian pamit untuk pulang. Ratna sempat ingin mengantarku pulang tapi aku menolaknya, aku kasihan melihatnya yang kelelahan setelah bertempur, jadi aku memilih untuk pulang naik angkutan.

Saat aku sedang menunggu angkutan, aku kembali berfikir dengan apa yang baru saja aku lakukan. Di satu sisi aku sangat menikmati persetubuhanku dengan Ratna, tapi di sisi yang lain aku merasa sangat bersalah pada temanku Yudha, karena secara tidak langsung aku sudah berselingkuh dengan pacarnya.

Dia adalah Ratna, teman masa kecilku.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat