Kisah Lu Dia Gw Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41

Cerita Dewasa Kisah Lu Dia Gw Part 34

Cerita Dewasa Kisah Lu Dia Gw Part 34

Pov Andi

Sudah 2 bulan aku putus dengan suci, kini aku sudah kembali melanjutkan kuliahku. Aku semester ini hanya ada 2 mata kuliah dan skripsi yang masih harus ku tempuh. Belum terbiasa rasanya dalam 2 bulan terakhir ini tanpa hadirnya suci. kami berdua sudah tidak berkomunikasi sejak suci memilih untuk berpisah.

Aku hanya mengetahui kabar tentangnya lewat status atau sesekali aku menghubungi ema untuk sekedar menanyakan suci, aku sudah menyuruh ema untuk tidak memberitahu suci bila aku sering menanyakan kabarnya.

Terkadang masih ada rasa cemburu yang ku rasakan, saat melihat ia memasang foto bersama tomi kekasihnya saat ini. Suci terlihat bahagia di foto itu, sedangkan aku hanya bisa merasakan getirnya cemburu yang menghinggapi.

Hari ini, aku hanya menghabiskan waktu di kamar hingga petang. Aku tidak ke kampus, padahal sudah ada janji dengan dosen pembimbingku. Apalagi 2 bulan lagi akan di adakan siding skripsi di kampusku. Sudah tidak bersemangat lagi untuk kuliah, kurasakan semua impian yang sudah ku bangun hancur saat peristiwa 2 bulan lalu.

Pakde, bude beserta kak dewi sering menasehatiku agar semangat kuliah, apalagi kini aku sedang menempuh skripsi. Kak dewi kini sudah bekerja di sebuah perusahaan di kota ini. Terkadang ia mengajakku keluar untuk sekedar minum kopi atau membeli cemilan di luar. Namun aku selalu menolaknya.

Saat aku sedang diam di kamar, tiba-tiba pintu kamarku langsung terbuka. Aku mengarahkan pandanganku ke arauh pintu dan ternyata kak dewi yang membuka pintu secara tiba-tiba. Dia masih memakai pakaian kerjanya, lengkap dengan tas kecil yang ia bawa.

“maghrib-maghrib jangan ngelamun dong.” Ujar kak dewi saat mulai masuk ke dalam kamar.

Aku yang melihat kak dewi masuk mulai bangun dan duduk bersandarkan tembok.

“kamu hari ini ke kampus gak?” tanya kak dewi sambil duduk di pinggir kasurku.

Aku hanya diam dan menggelengkan kepala.

“ndi, kamu tuh udah gede. Jangan males-malesan gini, kamu juga lagi skripsian. Kamu kan katanya mau cepet-cepet lulus trus ngejar impianmu.” Kata kak dewi.

Aku hanya diam setelah mendengar kak dewi berbicara, lalu aku berkata dengan lirih “impianku udah pergi kak.”

“udah pergi apanya sih, dengan kamu nyelesaiin kuliah tepat waktu itu udah selangkah menuju impianmu.” Kata kak dewi dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.

“bukan itu.” kataku masih tanpa menatapnya.

“trus apa impianmu?” tanya kak dewi.

“suci, hidup sama dia itu salah satu impianku kak.” Ujarku sambil kini mulai menatapnya.

Kini giliran kak dewi yang terdiam setelah mendengar ucapanku.

“iya ndi kakak tau, tapi kamu juga harus ngelanjutin impianmu yang lain.” kata kak dewi kini sambil memegang tangan kananku.

Aku hanya diam.

“kaka tuh gak ngerti yang aku rasain itu gimana, pisah sama suci itu hal yang paling aku benci sampe saat ini. Kenapa harus kayak gini sih anjing.” Kataku dengan sedikit emosi dan tangan kiriku memukul kasur dengan keras.

“heh sabar, gak usah kayak gitu juga.” Kata kak dewi berusaha menenangkanku.

Lalu tiba-tiba budeku sudah berada di pintu kamarku, “kenapa dew?” tanya bude.

“gapapa bu, biasa anak muda masih galau ini haha.” Kata kak dewi.

“oh kirain kenapa, ndi makan dulu yuk. bude udah masak nih, kamu dari pagi juga belom makan” Kata bude dengan sedikit tersenyum.

“iya nanti aja bude belom laper hehe.” Kataku dengan senyum yang sedikit kupaksakan.

Bagaimanapun bude dan pakde adalah orang yang harus kuhormati. Aku tak mau memasang wajah murung atau emosi di hadapannya. Stelah menyuruhku untuk makan, bude langsung pergi dari pintu kamarku.

“kamu belom makan dari pagi?” tanya kak dewi setelah bude pergi.

Aku hanya mengelengkan kepalaku.

“yaudah yuk makan, abis makan kakak mau ajak kamu keluar mumpung besok kakak libur” kata kak dewi sambil melepaskan tanganku dan langung berdiri.

“mau kemana?” tanyaku.

“bikin kamu buat ngelupain suci sebentar.” Katanya dan langsung berjalan keluar dari kamarku.

Aku lagi-lagi diam dan tak merespon ucapannya. Kurebahkan kembali tubuhku di kasur. Ku buka hpku dan langsung menuju galeri. Ku lihat foto-fotoku bersama suci saat kami masih pacaran. Ku scroll kebawah foto-foto hpku hingga mulai muncul beberapa foto saat kami masih SMA dulu. Masa-masa dimana kami baru menjalin hubungan.

Suci memang terlihat cantik sejak dulu, kugeser-geser foto-foto itu hingga pergerakan jariku berhenti di sebuah foto yang menampilkan wajah suci saat sedang kesal. Ya, aku dulu sempat memfoto dirinya saat ia sedang kesal kepadaku.

Di foto itu suci terlihat kesal dan mengembungkan kedua pipi tembemnya. Aku tersenyum melihat fotonya, “suci-suci” kataku lirih.

“sial malah jadi kangen suci kan” batinku.

“heh malah masih di kamar, ayo makan dulu.” Sebuah suara menyadarkanku.

Aku langsung menoleh kea rah suara itu, dan ternyata kak dewi sudah berdiri di depan pintu. Namun aku sedikit terkejut, bukan karena kehadirannya yang tiba-tiba. Namun akibat penampilannya saat itu, ia menggunakan tanktop pink dengan tali di kedua pundaknya ditambah celana pendek diatas lutut yang ia gunakan.

“ni anak malah bengong” katanya sambil masuk ke kamar dan mendekatiku di kasur.

Aku masih terpaku dengan tubuhnya sekaligus pakaian yang ia gunakan. Kini terlihat jelas belahan payudaranya yang sediit dibalik tanktop dan bh hitam yang ia gunakan. “liatin apa sih ndi?” kata kak dewi lirih namun menyadarkanku saat masih menatap belahan payudaranya.

“eh enggak.. gak liatin apa-apa kak.” Kataku sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain.

Kak dewi hanya diam dan terdengar bila ia sedng menahan tawa sambil menatapku. Aku hanya mentapnya bingung, “kenapa sih kak?”

“aku tau kok kamu ngeliatini kan? Haha” ujar kak dewi sambil tatapan matanya menuju belahan payudaranya sendiri.

Aku sangat malu, ternyata kak dewi menyadari bila aku sedari tadi memandangi belahan payudaranya. “hehe iya kak maaf ya.” Kataku sambil kini sedikit tersenyum.

“eh ndi, tapi kayaknya gedean punya suci ya dari pada punyaku?” tanya kak dewi dengan tatapan tajam mengarah kepadaku.

“apaan sih, bawa-bawa suci.” kataku dengan sedikit kesal.

“ih gitu aja marah haha.” Kata kak dewi.

“yaudah yuk makan dulu, abis ini aku mau ajak kamu nongkrong.” Lanjut kak dewi lalu ia berjalan keluar dari kamarku.

Tak lama setelah kak dewi keluar dari kamarku, aku juga keluar dan menuju meja makan. Memang aku sudah merasakan lapar karena dari tadi pagi belum makan. Aku, kak dewi, dan bude akhirnya akan malam bersama. Setelah selesai, kak dewi meminta izin kepada bude bila ingin keluar bersamaku.

Aku kini telah berganti pakaian dan sudah bersiap untuk pergi bersama kak dewi. Kulihat kak dewi juga sudah siap, ia memakai kaos merah, jaket dan celana jeans tak lupa ia memakai jilbab. kami pergi menggunakan motor kak dewi.

Suasana jalan malam ini sangat ramai, karena memang besok adalah hari libur. Sesekali kami terjebak macet saat menuju tempat yang belum aku ketahui. Kak dewi hanya mengarahkan jalan, tanpa memberitahu tempat tujuannya.

Setelah melakukan perjalanan selama 40 menit, akhirnya kami tiba di sebuah tempat. Ternyata kak dewi mengajakku ke tempat karaoke. “mau ngapain kesini kak?” tanyaku sesaat setelah memarkirkan motor.

“mau makan pecel lele.” Kata kak dewi santai.

“hah? Maksudnya? Ini kan tempat karaoke kak.” Kataku sambil masih berdiri di samping motor.

“ya kamu udah tau kalo ini tempat karaoke, kok masih nanya mau ngapain.” Kata kak dewi.

Kak dewi mengajakku untuk masuk ke dalam dan langsung memesan ruangan untuk kami berdua. Kami berdua diantar oleh karyawan karaoke menuju sebuah ruangan. Sebelumnya, kak dewi sudah mengonfirmasi kepada karyawan karaoke bila ia membooking selama 2 jam.

Kami langsung duduk di sofa panjang, dan karyawan tersebut sedang mempersiapkan 2 buah mic untuk kami sambil ia menjelaskan fungsi-fungsi tombol di layar untuk memilih lagu.

“mau pesan minum apa mas mbak?” tanya karyawan itu.

Kak dewi langsung mengambil dan melihat menu-menu yang ada. “saya pesen ice blend coklat 1 ya mas, nih ndi kamu mau pesen apa?” kata kak dewi.

Aku melihat menu minuman dan makanan yang ada, aku saat ini sedang tidak ingin minuman yang biasa malam ini. Kuarahkan pandanganku ke menu yang menunjukan minuman yang beralkohol.

“mas saya pesen ini 1 paket trus sama kacang kulit ya.” Kataku sambil menunjukan minuman yang aku pesan.

“apa-apaan sih, malah pesen begituan.” Kata kak dewi dengan nada suara yang agak tinggi.

“loh katanya kakak mau bikin aku buat ngelupain suci?” kataku.

“yaudah terserah kamu.” Kata kak dewi.

Karyawan karaoke pun langsung keluar setelah kami selesai memesan minuman dan cemilan. Kini hanya aku dan kak dewi di dalam ruangan ini. Suasana menjadi canggung akibat perdebatan kecil tadi. Kuperhatikan kak dewi hanya diam sambil memainkan hp nya. Ia masuk duduk di sampingku dan belum memilih lagu yang ingin ia nyanyikan.

Kami saling diam cukup lama, hingga akhirnya pintu ruangan di ketuk dan masuklah seorang karyawan yang sudah membawa pesanan kami tadi. “pesanannya udah semua ya mas, nanti kalo mau pesen agi tinggal klik tombol yang ada di monitor aja.” kata karyawan itu.

“iya mas, makasih ya.” Kataku.

Kini aku dan kak dewi kembali hanya berdua di dalam ruangan ini, kami masih saling diam. “ah gak enak juga diem-dieman gini.” Batinku.

Aku langsung mengambil sebungkus rokok yang ada di saku celana ku. langsung kubakar sebatang rokok, “fffuuhhh” mulai ku keluarkan asap dari mulutku.

“kak.” Kataku mulai berusaha mencairkan suasana.

“iya ndi.” Kata kak dewi masih sambil memainkan hpnya.

“maaf ya aku pesen minuman ini.” Kataku.

Tak ada jawaban dari kak dewi, kuperhatikan ia meletakan hp nya di meja. “haha iya gpp kok ndi, santai aja. tapi kamu jangan sering-sering minum gituan ya.” Kata kak dewi yang kini mulai tertawa.

“haha iya enggak sering-sering lah kak, boros.” Kataku.

Suasana kembali cair, kami berdua sudah tak saling diam. “kamu mau nyanyi lagu apa ndi?” tanya kak dewi sambil memilih-milih lagu.

“kak dewi pilih lagu duluan aja, nanti aku milih sendiri gampang.” Kataku.

Kak dewi langsung memilih beberapa lagu yang akan ia nyanyikan. Mulai terdengar suara musik yang dengan volume yang agak keras di ruangan ini. Kak dewi terlihat sudah mulai memegang mic dan siap bernyanyi.

“ndi, matiin aja lampunya biar gak keliatan dari luar.” Suruh kak dewi.

Aku langsung mematikan lampu ruangan ini, memang ada sebuah kaca berbentuk persegi di pintu ruangan ini, namun kaca tersebut tidak besar.

Setelah ruangan menjadi gelap kak dewi mulai bernyanyi, “bagus juga suaranya” batinku. Kak dewi bernyanyi sambil duduk disampingku. Kubuka jaketku dan ternyata suhu ruangan ini cukup dingin. Mulai kubuka tutup botol minuman yang sudah kupesan, lalu kutuang air ke sebuah sloki kecil dan langsung meminumnya.

Mulai kuteguk minuman itu, dan lama kelamaan tubuhku mulai hangat. Sambil masih memperhatikan kak suci bernyanyi aku minum sambil makan kacang yang kupesan tadi. Entah sudah berapa kali aku minum, hingga kini aku mulai merasakan sedikit mabuk.

Aku kambali mengingat peristiwa yang sudah ku lalui bersama suci dulu, dan kuakhir dengan meminum minuman yang sudah kutuang ke sloki setelah mengingat peristiwa itu satu persatu. Kulihat tv besar di hadapanku dan ternyata sudah 45 menit kami berada di ruangan ini. Kulihat botol minumanku, baru tersadar bila minumanku sudah mau habis.

Kusandarkan tubuh dan kepalaku di sofa, sambil kupejamkan kedua mataku. pikiranku kembali dipenuhi tentang suci, tentang senyumnya, tingkah lakunya, wajahnya saat ngambek kepadaku, hingga saat kami memadu kasih di kamar hotel.

Aku kini malah merasakan sedikit horny akibat megingat apa saja yang telah kulakukan kepada suci. ditambah suhu ruangan yang dingin dan minuman yang sudah ku tenggak. Ku rasakan perlahan kontolku mulai berdiri dan membuat celanaku sempit, “duh kok aku malah jadi pengen gini.” Batinku sambil masih tetap memejamkan kedua mataku.

Suara kak dewi yang sedang bernyanyi kembali menyadarkanku dan mulai membuka kedua mataku. kini ku lirik dia yang sedang bernyanyi. Kuperhatikan mulai bibirnya yang sedang bernyanyi, lalu kuturunkan pandanganku ketubuhnya hingga pahanya. Namun hal itu malah membuatku menjadi horny, untungnya aku masih sedikit sadar dan dapat mengendalikan pikiranku.

Kualihkan kembali pandanganku ke layar dihadapanku, aku mulai memilih sebuah lagu “she’s gone” yang ingin kunyanyikan nanti. Ku ambil minumanku dan langsung ku minum langsung dari botol. Kutenggak hingga habis minumanku yang memang hanya tinggal sedikit, “aaahhh” setelah aku menghabiskan minumanku.

Kembali kubakar rokokku dan tak lupa memakan kacang kulit. Belum ada sejam aku sudah menghabiskan 1 botol minuman, aku merasa belum puas. Maka aku menekan tombol untuk memesan satu botol minuman lagi. Tak lama setelah aku menekan tombol itu, mulai terdengar pintu diketuk dan masuk lah karyawan yang tadi. Kak dewi yang menyadari ada seorang karyawan masuk, mulai menghentikan nyanyiannya. “ada yang bisa dibantu mas?” tanya karyawan itu kepadaku.

“eeee.. pesen minuman ini 1 paket lagi ya mas.” Kataku sambil mulai merasakan mataku mulai susah untuk melek.

“itu aja pesenannya mas?” tanya karyawan itu lagi.

Aku hanya mengangguk, dan karyawan itu keluar dan tak lama langsung kembali untuk membawakan pesananku. Karyawan tersebut langsung pergi setelah mengantarkan pesananku. Langsung kubuka tutup botol itu dan langsung kuminum langsung dari botol.

“ndi, dibilang jangan banyak-banyak.” Kata kak dewi yang sudah selesai bernyanyi.

“iya kak iya ah, abis ini gak nambah lagi kok.” Kataku sambil menghisap rokok.

Kak dewi masih terlihat acuh dan ia melanjutkan bernyanyi setelah meminum minumannya. Lagi-lagi kak dewi menjadi pusat perhatianku. Lama-kelamaan rasa horny di tubuhku sulit dikendalikan, perlahan-lahan kudekatkan tubuhku ke tubuhnya dan langsung melingkarkan kedua tanganku di perutnya sambil kepalaku kusandarkan di pundaknya.

Kak dewi mulai terlihat risih, beberapa kali ia berusaha menyingkirkan tanganku dari perutnya. Namun aku tetap berusaha memeluknya. Kini ku belai-belai perutnya dan kak dewi mulai merespon dengan menggoyangkan tubuhnya. tangannya tetap berusaha menyingkirkan tanganku di perutnya.

Mungkin ia sudah mulai menyerah untuk menyingkirkan tanganku, kini ia melanjutkan bernyanyi namun sudah mulai tidak konsen seperti tadi. “kak, aku kangen suci.” racauku tak jelas.

Perlahan-lahan elusan tangan kananku yang tadinya hanya di perutnya mulai naik keatas hingga merasakan bh kak dewi yang mengganjal tanganku untuk lebih naik ke atas. Kuulangi elusan tanganku yang naik turun dari perut hingga bagian bawah payudara kanan kak dewi.

Aku kini mulai mersakan tidak puas, kuturunkan kedua tanganku menuju ujung kaosnya. Dengan gerakan cepat, kedua tanganku kini sudah mulai masuk ke dalam kaosnya. “eehh” suara kak dewi yang terdengar keras akibat ia berbicara di depan mic.

“kak, aku kangen suci kak.” Racauku lagi sambil mulai mengelus perutnya secara langsung.

“ndi, jangan gini dong ah.” Katanya sambil meletakan mic di meja.

Kak dewi mulai sedikit berontak dan berusaha sekuat tenaga menyingkirkan kedua tanganku dari dalam kaosnya. Namun kedua tanganku masih bertahan di dalam kaosnya, kak dewi mulai mengendurkan perlawanannya.

Ia kembali mengambil mic dan kembali bernyanyi, mungkin ia memaklumi keadaanku yang mulai agak mabuk. Kini kak dewi bernyanyi dengan suara lirih dan terkadang berhenti lalu melanjutkan nyanyi lagi. Kedua telapak tanganku mulai merasakan hangatnya kulit perut kak dewi.

“aaahhhh” suara kak dewi saat merasakan kedua payudaranya langsung kugenggam melalui bawah bhnya.

Kini kedua payudaranya sudah berada dalam genggaman tanganku. Langsung kuremas dan sesekali kumainkan kedua putingnya. Kak dewi kini telah berhenti bernyanyi, namun ia masih memegang mic yang tadi digunakan.

“mmhh ndi, jangan nanti keliatan dari luar.” Katanya sambil berusaha melepaskan gengggaman tanganku di kedua payudaranya.

Aku tak menghiraukannya, masih ku mainkan kedua payudaranya. Lama kelamaan kak dewi mulai meletakan mic di meja dan mulai menyandarkan tubuhnya ke tubuhku.

“ndiii mmhhh.” Desahnya lirih.

Mendengar desahnya, aku semakin semangat memainkan kedua payudaranya. Cukup puas dengan payudaranya, kini aku sedikit menarik tubuh kak dewi ke belakang agar bersandar di sofa. Kak dewi telah bersandar di sofa, kedua matanya menatapku. Kumajukan wajahku menuju wajahnya, kami saling menatap hingga akhirnya kedua bibir kami bertemu. Langsung ku lumat bibirnya yang merona, namun itu tak berlangsung lama karena kak dewi langsung mendorong tubuhku ke belakang.

“plaaakkk” sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.

Kepalaku sampai menoleh ke kiri akibat tamparan keras dari kak dewi. Seketika kepalaku pening dan pipiku panas lalu pandangan kedua mataku perlahan kabur. Kesadaranku mulai pulih, mungkin akibat tamparan keras tadi.

“kamu kalo lagi mabok jangan pernah melakukan hal seperti itu kepadaku.” Kata kak dewi dengan sedikit emosi.

Aku hanya diam tak membalas ucapannya itu, kulihat ia sedang merapikan pakaian dan bh yang tadi kutarik keatas. lalu kuambil botol minumanku, Saat aku ingin minum seperti ada yang menahan tanganku. “cukup, ayo kita pulang sekarang.” Ujar kak dewi.

“tapi masih ada waktu kak, minumanku juga belum habis.” Kataku.

“ndi, aku gak mau kamu tambah mabok lagi.” Kata kak dewi sambil kedua tangannya menggenggam tanganku yang masih memegang botol.

Kami saling diam hingga akhirnya suara intro lagu pilihanku mulai bergema di ruangan ini. “temani aku nyanyi lagu ini kak, habis itu kita pulang.” Kataku sambil meletakan botol di meja dan langsung mengambil mic yang akan kugunakan.

Kak dewi hanya diam lalu menatap layar yang mulai menampilkan lirik lagu. Kurangkul pundaknya agar lebih dekat ke tubuhku hingga aku mulai bernyanyi. Aku bernyanyi sambil merangkul pundaknya, hingga kak dewi mulai menyandarkan kepalanya di pundak kanannya.

“ndi, cepet move on dong kamu. Suci udah bahagia sama yang lain, kamu juga harus bisa bahagia walaupun gak sama dia.” Kata kak dewi saat aku telah selesai bernyanyi.

“sulit kak, aku belum bisa ngelupain dia sampe saat ini.” Kataku dengan masih merangkul pundaknya.

“kamu gak bisa ngelupain dia Karena kamu gak mau ngebuka hati kamu buat yang lain.” Kata kak dewi sambil melepaskan tubuhnya dari rangkulanku.

Aku kini merubah posisi dudukku, kini kami saling berhadapan. Kupandang wajah kak dewi, “kak maafin soal yang tadi ya.” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraannya.

“iya ndi gpp kok.” Kata kak dewi.

“pulang yuk kak.” Ajakku.

“yuk, nyalain dulu dong ndi lampunya.” Suruh kak dewi.

Aku langsung berdiri dan menyalakan lampu ruangan ini. Kulihat kak dewi langsung mengeluarkan kaca kecil dari tasnya. Ia sempat merias wajahnya sebentar sebelum kami berdua keluar dari ruangan ini. Kami berdua langsung menuju kasir untuk membayar, “aku bayar dulu ndi.” Kata kak dewi.

“eh gausah kak, aku aja yang bayar.” Kataku sambil langsung mengeluarkan kartu atm dari dompetku untuk melakukan pembayaran via debit.

Setelah membayar, aku dan kak dewi langsung keluar untuk menuju parkiran. “ndi, kamu yakin masih kuat bawa motor.” Kata kak dewi sambil memakai helm nya.

“kuat kak, tenang aja. aku masih sadar kok.” Kataku

Akhirnya kami langsung pulang menuju rumah. Aku membawa motor dengan pelan, karena sesekali mataku sulit dikendalikan hingga akhirnya kami berdua telah sampai di rumah.

*****

Keesokan harinya aku bangun tidur hingga jam 1 siang, kepalaku masih sedikit pusing. Kuambil hpku, dan langsung mengcek hpku namun tak ada pesan dari siapapun. “ngapain juga aku ngecek hp, gak ada yang ngehubungin juga.” Batinku

Aku langsung keluar kamar dan berniat langsung mandi. “baru bangun ndi?” tanya pakdeku saat melihatku keluar kamar.

“hehe iya pakde.” Kataku

“yaudah sana mandi trus makan, budemu udah masak tuh.” Kata pakde lalu ia langsung masuk ke kamarnya.

“siap.” Kataku langsung menuju belakang.

Aku langsung menuju kamar mandi dan setelah mandi aku langsung makan di meja makan. “eh udah bangun ndi?” kata kak dewi dari arah depan.

“udah kak.” Kataku sambil melanjutkan makan.

“nanti abis makan anterin aku ke mall ya.” Kata kak dewi sambil berdiri di depanku.

“ngapain kak?” ujarku.

“mau beli celana, yaudah aku ganti baju dulu. Abis makan kamu langsung siap-siap ya.” Katanya sambil berlalu ke kamarnya.

Aku hanya menganggukan kepalaku lalu menghabiskan makanan di piring. Selesai makan langsung kucuci piring yang tadi kupakai, lalu ke kamar untuk mengganti pakaian sekaligus bersiap-siap. Kak dewi menghampiriku di kamar, “udah siap ndi?” tanya kak dewi.

“udah nih kak, Cuma mau beli celana doang kan?” kataku sambil merapihkan rambut di depan cermin yang ada di kamar.

“iya lah, emang mau kemana lagi.” Kata kak dewi.

“kirain mau karaokean lagi.” Kataku sambil membalikan badanku kearahnya.

“aduuhh” erangku saat kak dewi menoyor kepalaku ke belakang.

“mau kayak gitu lagi?” katanya sambil emmasang wajah marah.

“hehe ya mau lah.” Kataku sambil tersenyum.

Tiba-tiba sambil masih berdiri, kak dewi memajukan wajahnya. Saat sudah dekat, kak dewi langsung mengalungkan kedua tangannya di leherku. “duhh kak dewi mau ngapain nih?” batinku dengan agak gugup.

Saat bibir kami hampir bersentuhan kak dewi berkata, “makannya cari pacar.” Katanya lirih.

Setelah mengatakan itu, kak dewi langsung melepaskan tangannya dari leherku lalu berjalan keluar dai kamarku. Aku masih berdiri mematung, ku kira dia akan menciumku padahal aku sudah berharap begitu hehe.

***

kami sudah berada di sebuah mall dan kak dewi langsung mengajakku ke kafe. Aku sempat bingung karena ia tadi bilangnya ingin membeli celana. “loh kak, katanya mau beli celana?” tanyaku saat sudah duduk di sebuah kursi.

“eh iya ndi, aku mau ketemu temen sekalian trus janjian disini.” Katanya sambil memainkan hpnya.

“oh gitu.” Kataku

Seorang pelayan langsung menghampiri kami sambil membawa menu. Aku dan kak dewi langsung memesan minuman untuk kami berdua. Waktu terus berlalu dan teman kak dewi tak kunjung tiba hingga pesanan minum kami datang.

“kak, temennya masih lama?” tanyaku.

“bentar lagi kok, ini udah sampe parkiran.” Ujar kak dewi.

Aku lalu mengeluarkan hp ku dan langsung membuka sosmed, “sial, ngapain harus mucul ginian sih.” Batinku saat melihat foto suci bersama tomi di layar hpku. Ya, foto mereka terpampang paling atas di beranda sosmedku.

Lagi, aku teringat suci untuk sekian kalinya. Aku masih memandang foto itu foto yang menampilkan keceriaan ‘mereka’. Aku merasa kesal dan langsung mengunci hp ku lalu meletakannya di meja dengan sedikit dibanting.

“kenapa ndi? Kok kayak kesel gitu?” tanya kak dewi.

“eh gpp kok kak.” Kataku lalu meminum kopi pesananku tadi.

Saat aku sedang meminum kopi, terdengar suara wanita dari arah sampingku. “yaampun maaf ya, udah bikin nunggu.” Suara itu. Aku langsung menoleh ke arah suara itu dan aku melihat dua wanita yang cantik dan mirip.

“iya gpp kok, sini duduk-duduk.” Kata kak dewi sambil menyuruh mereka bergabung dengan kami.

“eh ndi, ini kenalin cindy temenku trus itu dini adiknya.” Ujar kak dewi.

“oh kakak adik, pantes mirip. Oiya aku andi.” kataku sambil bersalaman dengan kak cindy dan dini.

“emang mirip ya ndi?” tanya kak cindy.

“iya mirip hehe.” Kataku.

Dini terlihat hanya tersenyum mendengar aku berbicara. Posisi duduk kami saat itu kak dewi bersebelahan dengan kak cindy sedangkan aku dengan dini.

“kalian pesen gih, aku sama andi udah pesen nih.” Kata kak dewi.

Kak cindy memiliki tubuh yang lumayan sintal dan tinggi dan dini terlihat lebih pendek namun terbilang seksi daripada kakaknya, namun mereka sama-sama cantik. Kak dewi masih asik mengobrol, sedangkan aku kembali memainkan hpku karena bingung harus berbicara apa.

“ndi, dari tadi kok diem aja. itu dini diajak ngobrol.” Kata kak dewi.

“haha iya adikku diajak ngobrol dong ndi.” Tambah kak cindy.

Aku tersenyum lalu memperhatikan dini disampingku, ia juga tersenyum kepadaku. Aku sempat terdiam melihat dini tersenyum, lagi-lagi aku mengingat suci. senyuman suci yang membuatku candu kini hadir dihadapanku. “eh bukan, dia bukan suci.” batinku.

“yee malah geleng-geleng.” Kata kak dewi menyadarkanku dari lamunan.

“eh iya kak.” Kataku.

“kamu itu lho, disuruh ngajak ngorbrol malah geleng-geleng.” Kata kak dewi.

“iya-iya aku ngajak ngobrol.” Kataku.

“dini.” Kataku kepada dini.

“iya mas.” Kata dini sambil tersenyum.

“ngobrol yuk.” kataku.

“ayuk.” Kata dini.

Ku alihkan pandanganku ke kak dewi, “tuh kak, udah ngobrol kan?” kataku.

“andddiiiii ih, gak gitu juga. Gimana mau dapet cewek kalo begitu.” Kata kak dewi.

“apaan sih kak, begitu mulu.” Kataku dengan mendengus kesal.

“haha andi malu kali wi, kita tinggal dulu aja yuk.” kata kak cindy.

“iya deh yuk cin.” Kata kak dewi.

“eh mau pada kemana?” tanyaku.

“aku mau keluar dulu ndi, mau beli celana sama cindy. Kamu disini dulu ya, temenin dini” Kata kak dewi sambil beranjak dari kursinya.

“eh kok gitu.” Protesku.

“ndi, titip adikku bentar ya.” Kata kak cindy yang juga mulai beranjak dari kursinya.

Mereka berdua telah pergi meninggalkan aku dan dini di kafe ini. Aku dan dini saling diam selepas ditinggal mereka berdua. Kami saling memainkan hp masing-masing dan suasana ini membuatku bingung harus gimana.

Cukup lama kak dewi dan kak cindy meninggalkan kami berdua di sini. Aku masih memainkan hpku sambil curi-curi pandang ke arah dini. Dini terlihat anggun dengan balutan pakaian yang ia gunakan ditambah rambutnya yang dikuncir kuda menambah kesan imut pada dirinya, ia terkadang senyum-senyum sendiri sambil menatap layar hpnya.

Akuyang dilanda rasa bosan kini memberanikan diri untuk menyapanya.

“din.” Sapaku.

“iya mas kenapa?” katanya sambil meletakan hpnya di meja lalu menatapku.

“eh jangan panggil mas dong.” Protesku.

“trus aku manggil apa?” tanya dini.

“panggil andi aja ya.” Kataku.

“emang gpp mas?” katanya.

“iya gpp kok, agak aneh aja gitu di dengernya kalo kamu manggil mas hehe.” Kataku.

“hehe iya deh mas.” Kata dini.

“loh kok mas lagi?” tanyaku.

“eh iya ann..di hehe.” Katanya sambil tersenyum.

“cantik juga dini kalo diperhatiin.” Batinku.

“oiya, kamu masih kuliah apa kerja?” tanyaku.

“aku kuliah mas, masih semester 4.” Kata dini.

“tuh kan mas lagi.” Protesku.

“haha iya lupa maaf ndi.” Dini kini tertawa di hadapanku.

“kuliah dimana emang?” tanyaku sambil mengambil gelas kopiku.

“kuliah di univ xxx.” Kata dini.

“serius? Berarti kita satu kampus dong? Kamu fakultas apa?” kataku sambil meletakan kembali gelas kopiku ke meja.

“aku ekonomi ndi.” Ujar dini

“oh pantes aku gak pernah liat.” Kataku sambil manggut-manggut.

Kami akhirnya lanjut membicarakan tentang kuliah, musik dan hobi. Aku tak berani menanyakan tentang hal yang bersifat pribadi kepadanya. Tak terasa kami mengobrol hingga minuman kami berdua telah habis. Kulihat jam dan kini waktu sudah menunjukan pukul 5 sore dan berarti kak dewi dan kak cindy telah meninggalkan kami selama hampir 3 jam.

Aku mengambil hpku dan menelfon kak dewi, “halo kak? Lagi dimana kok gak balik lagi kesini.” Tanyaku saat telfonku diangkat.

“hehe iya ndi, aku udah pulang tadi sama cindy.” Kata kak dewi yang terdengar tak ada rasa bersalah meninggalkan kami berdua.

“kok gitu sih, pulang gak bilang-bilang.” Kataku dengan nada yang seidkit kesal.

“jangan marah dong sepupuku yang jomblo. Kamu kalo mau pulang ya pulang aja, tapi jangan lupa anterin dini dulu haha.” Kata kak dewi.

“aku kan gak tau rumahnya kak, gimana sih.” Kataku dengan masih kesal.

“ya minta kasih tau sama dini dong haha, udah dulu ya ndi aku mau mandi. Eh iya, bayarin minumanku sama cindy sekalian ya.” Kata kak dewi yang langsung menutup telfonku.

“nyebelin banget sih.” Kataku sambil mendengus kesal.

“kenapa ndi?” kata dini yang menyadari aku sedang kesal.

“ini kak dewi malah udah pulang duluan, mana gak bilang.” Kataku.

“iya ini kakakku juga barusan ngechat kalo dia sudah pulang duluan.” Kata dini.

Aku hanya diam dan kulihat dini mulai beranjak dari kursinya, “eh kamu mau kemana?” tanyaku.

“mau ke kasir, trus pulang.” Katanya sambil mengambil tas kecilnya.

“aku aja yang bayar, trus nanti kamu aku anter sampe ke rumah.” Kataku yang kini juga beranjak dari kursi.

“emang gpp?” tanya dini dengan memasang wajah polos.

“gpp kok, santai aja. tunggu bentar ya, aku bayar dulu.” Kataku lalu berjalan menuju ke kasir untuk membayar pesanan di meja kami tadi.

Selesai membayar, aku kembali ke dini dan langsung mengajaknya ke parkiran. Aku memakai helm ku setelah itu aku memberikan helm kak dewi kepada dini, “pake ini din.”

“iya ndi.” Katanya sambil menerima helm dan langsung memakainya.

Kunyalakan motorku dan dini mulai naik membonceng. “udah din?” tanyaku

“udah ndi.” Katanya.

Kujalankan motorku untuk meninggalkan mall ini. Aku cukup gugup berboncengan dengan dini ditambah suasana jalanan sore ini sangat macet. Pengguna motor yang lain juga saling srobot jalan dan aku terkadang mengerem motorku dengan mendadak.

Punggungku mulai merasakan empuk saat aku mengerem dan kuyakin itu adalah payudara dini yang menghimpit punggungku. “din, maaf ya.” Kataku yang takut dikira sengaja melakukan rem mendadak.

“iya gpp ndi.” Suara dini terdengar lirih.

Sekitar 30 menit kemudian akhirnya kami berdua telah sampai di rumah dini yang berada di salah satu perumahan yang terbilang elit di kota ini.

“huh sampe juga.” Kata dini saat turun dari motorku.

“hehe iya, ini rumah kamu din?” tanyaku sambil melihat rumahnya yang terlihat megah.

“iya ndi, kenapa emang?” kata dini sambil melepas helm yang ia gunakan.

“eh gpp kok hehe.” Kataku.

“mau mampir dulu?” kata dini.

“mhhh besok aja kapan-kapan, udah maghrib juga din” kataku.

“yaudah hati-hati ya, makasih udah dianter pulang.” Katanya dengan diakhiri sebuah senyuman.

Aku hanya menganggukan kepalaku lalu memutar motorku, saat aku ingin menjalankan motor terdengar suara dini memanggilku “andi.”

Aku membuka kaca helm, “iya din?”

“mampir masjid dulu buat shalat, takutnya sampe rumah gak keburu.” Kata dini mengingatkanku.

Aku hanya menganggukan kepalaku sambil tersenyum lalu berkata, “assalamuallaikum.”

Dini hanya tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangannya. Aku lalu mengendarai motorku untuk pulang. Sebelum sampai rumah aku sempatkan ke masjid untuk melaksanakan kewajibanku lalu melanjutkan perjalananku pulang.

Benar saja, jalanan saat itu sangat macet dan aku tiba di rumah pukul setengah 8 malam. “benar juga kata dini, aku sampe rumah jam segini. Untung mampir masjid dulu.” Batinku. Ya, aku hanya lah seorang hamba yang tak luput dari dosa, namun aku berusaha untuk lebih baik lagi.

“assalamuallaikum.” Kataku sambil mengetuk pintu.

“wallaikumsalam.” Terdengar jawaban dari dalam dan tak lama pintu rumah terbuka.

Ternyata kak dewi yang membuka pintu, “eh ndi, dini kamu anter pulang kan?” tanya kak dewi.

Aku yang masih merasa kesal dengannya hanya diam lalu masuk ke dalam. Aku langsung menuju kamarku dan kak dewi mengikutiku hingga ke dalam. Ia duduk di kasurku, “ditanya kok malah diem.” Katanya.

“iya kak, dini aku anter pulang kok.” Kataku sambil melepas jam tanganku.

“trus gimana? Cantik kan?” tanya kak dewi lagi.

Aku hanya diam saja dan aku melepas jaket yang tadi kugunakan, lalu ku sampirkan di belakang pintu kamar.

“kamu minta nomer dia gak tadi?” kak dewi bertanya.

“enggak.” Kataku.

“ih gimana sih, bukannya minta.” Katanya.

“kak, aku mau ngerjain skripsi ku nih. Kakak bisa keluar dulu gak?” kataku.

“iya iya, yaudah kamu kerjain skripsi biar bisa sidang semester ini.” Kata kak dewi yang beranjak dari kasurku lalu keluar kamar.

Setelah kak dewi keluar dari kamar, aku menutup pintu dan menguncinya. Aku langsung mengabil laptopku dari tas dan langsung kubuka. Malam itu aku mengerjakan revisianku yang telah di berikan dosen pembimbingku.

(Kisah Lu Dia Gw Part 33)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisah Lu Dia Gw Part 35)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game