Kisah Lu Dia Gw Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41

Kisah Lu Dia Gw Part 31

Start Kisah Lu Dia Gw Part 31 | Kisah Lu Dia Gw Part 31 Start

Hari telah pagi dan ini hari terakhirku di kota T, nanti sore aku berencana pulang dengan menaiki kereta. Walaupun aku sudah terbangun, tetapi aku masih memejamkan mataku. aku sengaja seperti ini karena mendengar suci yang sedang bertelefon dengan seseorang.

“suci lagi telfonan sama siapa ya?” batinku.
“aku masih sama andi, nanti sore dia baru pulang.” Suara suci yang sedang telfonan.
“aku gak bisa kesana, masih ada andi ih.”
“kok gitu sih, kamu ngertiin sedikit dong.”
“yaudah iya abis ini aku kesana.”
“iya bener sayang.” Kata suci lirih namun masih terdengar olehku.

Aku merasakan jantungku sempat berhenti sejenak mendengar ucapan suci. dia sedang telfonan dengan siapa sebenernya sampe manggil sayang dengan si penelfon. Kubuka mataku dan ku arahkan pandanganku menuju suara suci.

Suci terlihat sudah memakai pakaian rapi pagi ini, namun belum menggunakan jilbabnya. Terlihat rambut panjangnya yang masih basah. Ia masih berbicara di telfon sambil duduk di kursi, suci masih belum menyadari bila aku sudah bangun. Perlahan-lahan aku mulai emosi dan mulai berbicara “lagi telfon siapa kamu?”

Suci langsung memandangku dengan raut wajah khawatir, “eh ini lagi telfon ema yang hehe.” Kata suci dengan senyum yang terlihat aneh. Ia terlihat langsung mematikan telfonnya dan langsung menaruhnya di meja.

Aku mulai bangun dari kasur dan langsung menuju kamar mandi, kubasuh mukaku dan langsung kembali keluar dari kamar mandi. “jam berapa sekarang?” tanyaku kepada suci.

“eehhmm jam 9.” Kata suci sambil menundukan wajahnya.
“kamu udah rapi aja, mau kemana emang?” tanyaku.
“mau ketemu temenku yang.” Jawab suci lirih.
“oh temen yang dipanggil sayang tadi?” kataku mulai menghampirinya lalu menuntun tangan suci untuk duduk di pinggiran kasur.
“maksudnya apa yang?” kata suci sambil memasang raut wajah bingung.
“aku denger percakapanmu di telfon tadi, apa yang kamu tutupin dari aku?” tanyaku dan menatapnya tajam.
“gak ada yang aku tutupin yang, beneran aku tadi telfonan sama ema.” Kata suci.

Aku kini mulai berdiri dan menuju meja untuk mengambil hp suci. aku langsung membuka kunci layar yg ada di hpnya. Aku langsung melihat histori panggilannya pagi ini dan munculah sebuah nama kontak telfon yang membuatku kaget sekaligus tak percaya. Ya, kontak telfon itu bernama “TOMI”.

Pikiranku langsung tertuju kepada tomi kakak angkatan suci dulu saat di kampus. Memang dari dulu tomi terlihat ingin merebut suci dariku.

“oh nomer ema kamu kasih nama tomi di hpmu ini?” kataku sambil mmemperlihatkan layar hp ke pemiliknya.
“tunggu yang, aku bisa jelasin.” Kata suci sambil menghampiriku.
“mau jelasin apa lagi hah? Udah jelas semuanya ci. Jadi ini yang membuat kamu beda dari kemaren-kemaren.” Kataku dengan sedikit berteriak karena emosi.
“aku bisa jelasin semuanya kok, kamu jangan marah dulu huhuhu.” Kata suci yang kini mulai menangis.
“aku gak nyangka, kamu bisa kayak gini dibelakangku. Aku di kota M selalu jaga hatiku Cuma buat kamu. Tapi kayak gini balesanmu? Iya kayak gini hah?” kataku dengan berteriak.
“maafin aku, kamu denger dulu penjelasanku dong.” Kata suci dengan tetap menangis.

Aku kembali menuju kasur dan duduk dipinggirannya, suasana hatiku sedang kalut. Pikiran ku kacau ditambah dengan emosi yang kini mempengaruhiku. Aku masih tak percaya suci menghianatiku, kenapa dia bisa begini.
“aaaarrrrrgghhhh” aku berteriak lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku langsung mandi supaya pikiranku sedikit tenang, setelah itu aku keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangku. Ku ambil pakaianku di tas dan langsung menuju ke kamar mandi kembali untuk memakainya.

Setelah berpakaian aku keluar kamar mandi dan kulihat suci sedang melihatku sambil matanya masih mengeluarkan air mata. Aku hanya menatapnya dengan sedikit emosi yang masih kurasakan. Terdengar kembali tangisan suci di kamar ini dan aku tak memperdulikannya. Aku lebih memilih merapikan barang dan pakaianku untuk dimasukan ke dalam task arena nanti siang aku harus check out dari kamar ini.

Saat aku telah selesai memasukan barang dan pakaian ke dalam tas, kurasakan pundak kananku seperti meraskan elusan sebuah tangan. Ku tolehkan kepalaku kebelakang dan ternyata suci yang telah mengelus pundakku.

Langsung ku singkirkan tangannya dari pundakku dan aku langsung berdiri dan mnuju jendela kamar, kubuka gorden dan kaca jendelanya. Langsung kubakar sebatang rokok dari bungkusan di kantongku. “fffuuuhhh” kebulan asap mulai keluar dari bibirku.

“andi, aku minta maaf. Aku udah bohongin kamu, aku udah hianatin kamu. Aku udah tega ngeduain kamu huhuhu.” Kata suci sambil menangis.
Aku hanya diam dan masih fokus menghisap rokokku.

“tapi aku juga sayang sama kamu ndi, aku bingung harus gimana lagi. Aku butuh kamu selalu ada disampingku, Tapi kamu lagi jauh disana. Aku butuh perhatianmu, tapi kadang kamu juga sibuk sama tugas kuliahmu. aku gak bisa jauh-jauh dari kamu. Aku butuh seseorang yang selalu ada disampingku.” Lanjut suci sambil sedikit sesenggukan.

Aku masih saja diam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“aku minta maaf kalo aku punya salah sama kamu, aku minta maaf banget. Aku sadar aku udah banyak salah.” Kata suci.

Kuhisap dalam-dalam rokokku lalu mengeluarkan asapnya kembali, “jadi itu alesan kamu jadi begini? Jadi selingkuh di belakangku? Iya begitu?” kataku sambil mematikan rokokku lalu menghampiri untuk duduk disampingnya.

“kamu tau, kita berjauhan kayak gini juga Karena tuntutan kuliah ci. Aku juga gak mau jauh-jauh dari kamu. Aku pikir kamu bisa ngertiin keadaan kita yang jarang ketemu karena ada jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita berdua. Tapi ternyata malah begini.” Lanjutku.
Kini giliran suci yang diam sambil menangis.

“aku berusaha nerima kamu, apapun yang udah terjadi sama kamupun aku terima. Tapi kenapa balesnmu begini? Kenapa?” kataku dengan suara yang sedikit bergetar karena aku menahan emosiku.

“dia tomi kakak angkatmu itu kan?” kataku sambil memandang suci yang masih menundukan wajahnya sambil masih menangis.

Suci masih diam dan menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa benar orang yang aku tuduh itu adalah kakak angkatannya di kampus.

“Sejak kapan kamu ngejalin hubungan sama dia tanpa sepengetahuanku?” tanyaku.

“dari 1 tahun kemarin, pas aku magang kerjaku ndi.” Kata suci dengan masih menangis.

Aku hanya diam saja, ternyata suci sudah menghianatiku sejak tahun kemarin. Lalu suci menceritakan semuanya dari awal kepadaku. Aku hanya diam mendengar penjelasan suci dari awal kenapa ia bisa selingkuh dibelakangku.

“aku juga udah beberapa kali tidur sama dia ndi huhuhu.” Kata suci diakhir penjelasannya dan tangisnya kembali pecah.

Lagi-lagi aku diam dan kini perasaanku telah hancur dibuatnya. Aku bingung haru gimana lagi, aku masih tidak percaya ini telah terjadi. Aku geram dan mengepalkan tangan kiriku, sambil menahan air mataku supaya tidak turun.

“aku minta maaf ndi, aku belom bisa jadi yang terbaik buat kamu. Aku mau kita pu…tus.” Kata suci lirih sambil memegang tanganku.

Aku menolehkan kepalaku dan melihat suci yang sedang menatapku dengan kedua mata yang masih mengeluarkan air mata. Aku memandangnya, “kamu lebih milih dia daripada aku?” kataku.

“aku gak pantes buat kamu, aku perempuan jahat, perempuan gak tau diri. Kamu pantes buat dapet yang lebih dari aku ndi.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku.

“taa..pi gak harus putus juga kan ci. Aku tuh sayang sama kamu, aku nerima kamu apa adanya.” Kataku dengan membalas genggaman tangannya.

“andi, kamu inget sama ucapanmu yang dulu pas masih SMA dan sering kamu ucapin kalo kita lagi berantem?” kata suci.

“ucapan apa?” tanyaku.

“kamu dulu pernah bilang, kamu gak pernah ninggalin aku. Kamu bakalan ninggalin aku, kalo aku yang minta. Kamu inget itu kan?” kata suci.

Aku hanya diam dan menganggukan kepalaku.

“dan sekarang aku minta buat kamu ninggalin aku ndi, kamu gak pantes dapet perempuan kayak aku.” Kata suci sambil memegang wajahku.

“ta..tapi aku gak bisa pisah sama kamu suci.” kataku.

“aku jahat ndi, aku udah ngebagi cinta kamu dan sekarang aku udah cinta sama tomi ndi.” Kata suci sambil meyakinkanku agar aku mau berpisah dengannya.

Aku hanya diam dan membelai wajah wanita yang sangat aku cinta, dia yang aku sayang, dan dia juga yang menyuruhku untuk meninggalkannya.
“jadi kamu lebih milih tomi daripada aku?” pertanyaan itu aku ucapkan kembali.

“iya aku pilih dia ndi, maaf.” Kata suci sambil melepaskan tanganku diwajahnya dan ia langsung menuju kamar mandi.

Aku hanya diam dan memperhatikan dia yang menuju kamar mandi. Setelah itu suci keluar dengan wajahnya yang basah, mungkin ia baru saja cuci muka. Suasana kamar menjadi hening dan ia langsung memakai jilbab untuk menutupi rambut dan kepalanya.
Setelah itu ia langsung memasukan barang dan pakaiannya ke dalam tas miliknya. setelah selesai ia langsung menghampiriku yang masih duduk di pinggiran kasur. “aku pamit dulu ya ndi, makasih buat semuanya.” Kata suci yang mulai melangkahkan kakinya enuju pintu.

Aku mulai teringat sesuatu, “suci tunggu” kataku dengan sedikit berteriak. Aku lalu membuka tas untuk mengambil sebuah kado untuknya. Langsung ku hampiri suci yang masih berdiri di dekat pintu kamar.

“ini kado buat kamu, maaf aku Cuma bisa kasih ini. Sebenernya mau aku kasih nanti pas di stasiun, kan aku kira kamu bakalan nganter aku sampe stasiun. Eh, tapi malah kayak gini hehe. Nih buat kamu.” Kataku dengan sedikit senyum kepadanya.

Suci hanya diam dan menatapku sebentar lalu ia memeluk tubuhku. Kurasakan pelukannya sangat erat, aku mulai membalas pelukannya. Kubelai kepalanya menggunakan tangan kiriku. Kuciumi kepalanya yang terbalut jilbab.
Jujur, aku belum siap berpisah dengan suci. namun ini sudah pilihan yang suci tentukan, kini kami harus mengakhiri hubungan yang sudah kami jalani sejak SMA.

Suci melepaskan pelukannya, lalu berkata lirih kepadaku “berikan aku ciuman terindahmu ndi.”

Aku masih diam dan bingung dengan permintaannya. “kamu udah gak mau cium aku ya, yaudah gpp kok.” Kata suci sambil tersenyum.

“aku tau aku udah banyak saa…eeemmpphhh.” Tanpa menyelesaikan ucapannya aku langsung menarik tubuhnya dan langsung kucium bibirnya.
Kami berciuman cukup lama, suci mulai memeluku lagi sambil masih berciuman.
Kupejamkan mataku dan mulai kurasakan ciuman yang mungkin ini adalah terakhir kalinya aku menciumnya. Perlahan kurasakan air mataku turun, aku masih belum siap untuk melepas suci untuk pria lain. Kurasakan tangan suci mengelap air mata yang turun dari mataku. aku langsung membuka mataku dan menarik wajahku untuk mengakhiri ciumanku di bibirnya.

“ini buat kamu ci.” Kataku sambil memberikan kado kepada suci.

Suci langsung menerima kado pemberianku, “makasih buat semuanya ya ndi.” Kata suci.

“nanti jam 3 temui aku di kafe sebrang kampusmu itu, yang dulu kita sering makan disana. Jangan lupa ajak tomi ya.” Kataku.

“kamu mau apa ketemu tomi?” tanya suci penasaran.

“aku Cuma mau ketemu dia aja, sekarang pergilah dan jangan lupa nanti temui aku.” Kataku sambil membuka pintu kamar untuk mempersilahkan suci pergi.

“aku pergi ya.” Kata suci sambil keluar kamar.

Ia langsung keluar kamar dan menuju lift untuk turun. Ku masih memandang suci yang perlahan berjalan hingga tiba di depan lift dan menekan tombol di samping lift. Suci kembali menolehkan kepalanya ke arahku dan ia tersenyum lalu masuk ke dalam lift.

Setelah suci hilang dari pandanganku, aku langsung menutup pintu kamar dan menuju kasur untuk merebahkan tubuhku. Meski berat, namun kini aku harus menerima bila hubungan kami telah berakhir. Kuambil hp ku dan langsung kutelfon ema.

“halo ma” kataku.

“kenapa ndi? Suci asih sama lu?” tanya ema.

“kamu lagi dimana? Bisa ketemu di mall deket hotelku menginap.” Kataku kepada ema tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya.

“jam berapa ndi?” tanya ema.

“jam 1 ya ma, bisa kan?” kataku.

“iya bisa ndi.” Kata ema.

“oke ma, sampai nanti ya.” Kataku sambil menutup telfonku.

Skip
Kini aku sudah berada di coffee shop yang berada di mall. Aku sedang menunggu ema disini yang sebelumnya sudah kukabari dimana aku menunggunya. Tak berselang lama, ema pun tiba dengan membawa segelas minuman di tangannya.

“udah daritadi ndi? Eh suci mana?” katanya sambil duduk di depanku.

“suci udah pergi dari tadi.” Kataku.

“pergi? Maksud lu gimana sih?” tanya ema penasaran.

“kita udah putus, suci minta putus tadi.” Kataku sambil meminum kopi setelah menyelesaikan ucapanku.

“putus? Jangan bercanda deh ndi.” Kata ema tak percaya.

“aku gak bercanda ma, dia selingkuh dibelakangku. Dia diem-diem ngejalin hubungan sama tomi kakak angkatan kalian di kampus.” Kataku sambil menjelaskan kepada ema.

“hhmm.. gue sebenernya udah tau kalo mereka deket ndi. Gue minta maaf juga gak ngasih tau lu, pas kemarin dia juga pergi sama si tomi ndi. Tapi gue gak bisa ngomong sama lu, apa lagi lu udah nyiapin kejutan buat suci.” kata ema.

Aku diam dan tak menyangka bila ema sebenernya tau kalo suci dekat dengan tomi.

“gue minta maaf ndi, tapi sumpah gue gak tau kalo suci udah ngejalanin hubungan sama tomi. Gue taunya Cuma deket doang. Suci juga gak pernah cerita kalo dia udah jadian juga sama tomi. Sekali lagi maaf ndi.” Kata ema dengan memasang wajah yang menunjukan sangat menyesal kepadaku.

“iya gpp kok ma, santai aja. aku ngerti kok, lagian sekarang suci lebih milih dia daripada aku.” Kataku.

“yaampun, suci kok bodoh banget sih malah milih dia daripada lu. Ih kesel banget gue sama dia.” Kata ema.

“udah gpp ma, kamu jangan marah sama dia ya. Aku Cuma mau titip pesen buat kamu, dampingin suci terus ya, jangan pernah tinggalin dia. Kamu kan sahabatnya, aku Cuma titip pesen itu aja.

“iya ndi pasti, tapi gue masih gak nyangka aja suci ninggalin lu kayak gini.” Kata ema.

Akhirnya kami saling diam setelah itu dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul jam 2 siang, “kamu kesini naik apa ma?” tanyaku.

“gue naik motor ndi, kenapa?” kata ema.

“aku tadi minta ketemu suci sama tomi jam 3 di kafe depan kampus kalian. Anterin aku kesana ya.” Kataku kepada ema.

“eh yaudah sekarang aja yuk, kan pasti macet juga di jalan.” Kata ema.

Akhirnya kami berdua menuju kafe menaiki motor milik ema. Memang benar, di jalan ternyata sangat macet. Hingga akhirnya kami kini telah tiba di kafe, aku memarkiran motor ema dan langsung melepas helm yang kugunakan.

Aku dan ema langsung menuju kedalam kafe, saat aku membuka pintu kafe aku pandanganku langsung tertuju ke sebuah meja. Ya, ternyata suci dan tomi sudah tiba terlebih dahulu daripada aku. Aku sempat terdiam saat melihat suci duduk berdua dengan tomi. Kulihat suci masih menggunakan pakaian yang digunakan di hotel tadi. Suci dan tomi sama-sama sedang melihat ke arahku, “ayok ndi, tuh mereka udah nunggu.” Kata ema sambil mengajakku untuk menghampiri suci dan tomi.

Aku berjalan perlahan menuju suci, keadaan menjadi canggung saat itu. pengunjung kafe saat itu juga tidak terlalu ramai. “sini duduk ndi” kata ema untuk menyuruhku duduk di kursi sebelahnya.

“gak usah ma, aku Cuma mau ngomong sebentar aja kok sama dia.” Kataku sambil menunjuk tomi.

“mau ngomong apa lu sama gue?” kata tomi dengan nada sedikit emosi.

Suci terlihat sedikit menenangkan tomi agar tidak emosi kepadaku, lagi-lagi hatiku sakit melihat suci yang sedang menenangkan tomi. Aku memandang suci sebentar dan suci sempat memandangku.

Aku lalu menarik nafas dalam-dalam dan langsung berbiacara kepada tomi. “Terima kasih ya mas tomi, udah bikin hubunganku sama suci jadi begini.” Kataku kepada tomi.

Aku langsung membalikan badanku dan mulai melangkahkan kakiku untuk keluar, “oiya ma, makasih ya. Aku pamit dulu.” Kataku kepada ema dan kembali melanjutkan langkah kakiku menuju pintu kafe.

Saat aku ingin membuka pintu, kutolehkan kepalaku ke belakang. Dan terlihat suci mulai menangis di pelukan ema. Kepala suci disandarkan di bahu ema sambil menangis dan menatapku. Aku hanya tersenyum sebentar kepada suci lalu membuka pintu kafe berjalan keluar.

Aku langsung menunggu taksi di depan kafe, aku ingin langsung menuju stasiun karena ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini. Akhirnya ada taksi yang lewat dan aku langsung memberhentikannya, aku masuk kedalam taksi “ke stasiun ya pak.” Kataku sambil menutup pintu taksi.

“oke mas.” Kata supir taksi.

Sampai jumpa di update selanjutnya ya hu..

END – Kisah Lu Dia Gw Part 31 | Kisah Lu Dia Gw Part 31 – END

(Kisah Lu Dia Gw Part 30)Sebelumnya | Selanjutnya(Kisah Lu Dia Gw Part 32)