Ketika Kita Muda Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 8

Start Ketika Kita Muda Part 8 | Ketika Kita Muda Part 8 Start

The Show

Sesuai janji, aku Regas dan Angga pulang sekolah hari itu mampir ke Studio Band untuk mulai latihan persiapan seleksi Band Pensi yg sekitar 3 minggu lagi dan acara Pensi nya sendiri satu bulan lagi.
“Kita mainin lagu apa?” tanya Regas sebelum memulai latihan.
“L’arc en ciel aja.” tanggap Angga.
“Heh, kita band baru. Jangan bawain lagu yg cuma lo doang yg tau. Harus yg familiar.” sahutku memberi saran.
“Pop? Ogah.” tolak Regas.
“Yg agak ngebeat dikit, macam greenday atau blink gimana?” tawarku.
“Boleh tuh.” sahut Regas
Akhirnya kami me-list beberapa lagu yg akan kami mainkan untuk latihan. Nantinya yg paling kami kuasai dan paling asik untuk diajak sing a long akan kami pilih untuk dibawakan saat seleksi nanti.
Hari itu aku pulang diantar Regas dengan motornya setelah pulang latihan band sempat kerumah Angga karena memang Regas selalu menaruh motornya disana dan berangkat nebeng mobil Angga.

Sesampainya dirumah sekitar pukul 6 sore aku mendengar ibuku sedang berbicara dan tertawa dengan seseorang di dapur.
“Assalamualaikum.” sapaku begitu masuk rumah dan berjalan ke arah dapur untuk bersalaman dengan ibuku.
“Walaikumsalam.” sahut ibuku dan seseorang yg cukup membuatku terkejut.
“Vina? Ngapain kamu disini?” tanyaku menyelidik.
“Ketemu Mama kamu. Boleh kan tante?” jawabnya manja seraya memeluk ibuku dari samping.
“Iya boleh.” jawab ibuku seraya tersenyum kearah Vina.
“Kamu mending mandi sana nji, heran Mama kamu tuh udah kelas tiga masih aja pulang sore.” lanjut ibuku protes yg tak kujawab dan berlalu ke arah kamarku.

Dikamar saat sedang merapikan barang-barangku, pintu kamar diketuk yg kupikir Vina.
“Bentar.” sahutku seraya berjalan ke pintu dengan bermalasan namun begitu kubuka ternyata ibuku.
“Nji. Mama mau ngomong sebentar.” ucap ibuku yg membuatku heran seraya masuk kamar dan menutup pintu.
“Nji.” ujar ibuku sambil menatapku serius.
“Apaan sih mah? Serius amat.” sahutku.
“Kamu jangan judes gitu sama Vina. Mama tau kamu udah punya Clara, tapi kalian kan masih bisa berteman. Kasian Vina. Kamu kan tau Vina selalu sendiri di rumahnya mungkin dia kesepian makannya datang kesini.” ujar ibuku panjang lebar.
“Tapi kan ga harus kerumah juga mah.” protesku.
“Ya udah anggap aja dia nemuin Mama bukan kamu, udah sana kamu mandi abis itu ikut makan udah siap masakannya.” tutup ibuku yg kujawab dengan cemberut.
Bagaimanapun juga aku kepikiran terkait permintaan Clara yg memintaku menjauhi Vina dan tidak lagi berhubungan dengannya. Kedatangan Vina kerumah tentu cepat atau lambat akan berdampak buruk bagi hubunganku dan Clara kedepannya. Aku hanya bisa menghela nafas dan pasrah akan keadaan. Mungkin ini yg dimaksud Vina sebagai cara dia merebut aku dari Clara, menggunakan ibuku.

Ilustrasi Vina

Malam itu Vina ikut makan malam bersama keluargaku, ayahku yg saat itu baru mengenal Vina cukup heran juga namun suasana mudah cair mengingat sifat Vina yg memang sangat mudah bergaul.
“Vina, kau itu harus hati-hati dengan Panji. Culun-culun begini, ia mewarisi ketampanan dan playboynya om waktu muda dulu hahaha.” ujar ayahku yg malah memuji dirinya sendiri.
“Om kasih tau Panji dong, suruh balikin hatinya Vina. Kan dia udah punya yang baru.” sahut Vina menanggapi ayahku.
“Itulah resikonya kalo sudah kena pesona ketampanan keluarga Darmawan, iya ga nji? Hahaha” jawab ayahku yg disertai tertawa bersama Vina.
“Apaan sih pah.” tanggapku cemberut, ya malam itu sepertinya hanya aku yang bad mood.
Tak lama setelah selesai makan, Vina pamit untuk pulang yg tentu saja ayah dan ibuku memaksku untuk mengantarnya mengingat hari sudah malam. Aku hanya bisa pasrah tidak bisa menolak perintah ayah dan ibuku.
“Kamu sengaja ya ngerencanain begini?” ucapku membuka obrolan dengan Vina sambil menyetir.
“Ih geer. Papa Mama mu yg nyuruh kamu loh bukan aku.” elaknya dengan nada centil.
“Ga usah sok polos deh.” jawabku ketus.
“Aku kerumah kamu emang niatnya ketemu Mama kamu kali, bukan kamu weeek.” sahutnya.
“Ya kalo pulangnya bisa dianterin kamu anggap aja itu namanya bonus hihihi.” lanjutnya lagi seakan puas dengan rencananya yg sukses hari ini.
“Vin, bisa ga sih kamu ga ganggu hidup aku lagi.” tiba-tiba aku mengucapkan sesuatu yg menurutku terlalu keras tapi aku terpaksa daripada hubungan ku dengan Clara makin runyam. Vina tidak menjawab, aku menoleh untuk memperhatikan wajahnya namun posisinya membuang muka menghadap kearah jendela samping yg membuatku hanya bisa melihat samar dari pantulan kaca jendela mobil.
“Vin, sorry.” aku melanjutkan kembali omonganku setelah sekian lamanya Vina terdiam. Aku merasa bersalah saat itu karena sepertinya ucapanku terlalu kasar dan membuatnya tersinggung.
“Vin?” sahutku lagi yg ia jawab hanya dengan menoleh lalu tersenyum.
Malam itu sisa perjalanan hingga rumah Vina tak ada lagi obrolan yang keluar dari mulut kami kecuali ucapan terimakasih Vina saat sudah sampai dan masuk rumahnya berlalu meninggalkanku. Aku hanya bisa mengehela nafas, aku pikir ini jalan terbaik bagi kami.

Keesokan harinya sesuai janji Clara datang kerumahku meskipun cukup pagi sekitar jam 10 yg kusambut didepan rumah dan mempersilahkan masuk. Pagi itu Clara sangat cantik menurutku meski dengan gaya casual, menggunakan kaos tipis lengan panjang berwana putih dipadu celana panjang gantung 7/8 berwarna crem serta yang membuatnya beda adalah ia memakai kacamata model Harry Potter tidak seperti biasanya.
“Kamu tumben pake kacamata?” tanyaku heran.
“Gaya aja biar beda hihihi.” jawabnya centil.
Akupun membawa Clara bertemu ayah dan ibuku yang sedang menonton tv diruang keluarga.
“Nah ini dia mantuku yang cantik.” sapa ayahku menyambut Clara yg datang.
“Apa kabar sayang?” tanya ibuku sambil cipika cipiki dengan Clara.
“Sehat tante.” jawab Clara sambil tersenyum manis.
“Mau kemana kalian pagi-pagi gini?” tanya ayahku kepada kami.
“Gak kemana-mana pah.” jawabku singkat.
“Maen disini aja om, ketemu om ama tante PDKT hehe boleh kan?” lanjut Clara.
“Ya boleh lah bagus itu malah om suka pacaran di rumah daripada keluar nanti macam-macam.” sahut ayahku.
“Macem-macem apasih pah.” jawabku ketus.
“Ya udah temenin tante masak aja yuk buat makan siang.” tawar ibuku kepada Clara.
“Mau tanteeee.” jawab Clara semangat seraya menyerahkan tasnya ke tanganku dan segera menggandeng ibuku ke arah dapur.

Ilustrasi Clara

Aku naik ke kamarku sebentar untuk menaruh tas Clara dan mengambil gitarku lalu turun lagi kebawah duduk di meja makan berniat sambil main gitar untuk berlatih persiapan seleksi pensi nanti seraya sesekali memperhatikan Clara dan ibuku yg sedang sibuk masak.
“Kalo Panji suka makanan apa tante?” tanya Clara kepada ibuku.
“Hmmm apa yah. Dia mah omnivora, semua di makan.” tanggap ibuku yg membuat mereka berdua tertawa.
“Ehem. Kuping pengeng nih diomongin.” sahutku yg malah membuat Clara dan ibuku makin puas tertawa sambil melanjutkan masaknya.
Berbeda dengan Vina, Clara terlihat kesulitan membantu ibuku memasak. Malah sepertinya Clara hanya menambah pekerjaan ibuku karena harus mengajarinya satu-satu dan beberapa hal dasar, namun ibuku mengajari Clara dengan telaten. Aku sama sekali tidak membandingan Clara dengan Vina, bagiku melihatnya sangat semangat dan berupaya untuk mendekati ibuku sudah lebih dari membuatku sangat senang.
Akhirnya masakan pun selesai dan Clara tentunya ikut makan siang bersama keluargaku.
“Enak kan kalo masak buatan sendiri sayang?” tanya ibuku pada Clara.
“Hehe iya tante. Puas yah makannya.” sahut Clara.
“Nah! Kau harus sering-sering kesini makannya Clara, belajar masak dengan calon mertuamu.” tambah ayahku sambil tetap mengunyah makanan.
“Ditelen dulu kali pah.” tanggapku.
“Yang suka ngelarang kesini sering-sering panji om.” ujar Clara mengadu.
“Lah ko aku?” responku tidak terima dengan tuduhan Clara.
“Tak usah lah kau ijin dulu ke panji, langsung saja datang kesini.” ujar ayahku menghiraukan jawabanku.
“Siap om.” sahut Clara semangat sambil menjulurkan lidahnya kearahku meledek.
Kami pun melanjutkan makan sambil mengobrol dan tertawa hingga habis seluruh lauk diatas meja, ya keluarga ku memegang tradisi setiap makan yg disajikan harus dihabiskan. Hal itu cukup membuat Clara kekenyangan karena memang selama ini porsi makan Clara hanya sedikit tipikal cewe yg menjaga berat badan.

Setelah selesai makan dan membereskan meja makan bersama ibuku, Clara langsung ku gandeng keatas menuju kamarku. Seperti orang yg baru pertama kali datang pada umumnya, Clara berputar-putar memperhatikan kamarku.
“Jauh dari bayanganku.” ucapnya tiba-tiba.
“Maksudnya?” tanyaku kepada Clara.
“Aku kira kamar kamu bakal kaya perpustakaan isinya buku-buku tebel, taunya komik doang.” komentarnya yang kujawab hanya dengan menggelengkan kepala.
“Kita ngobrol disini aja ra.” pintaku seraya menyalakan AC kamar.
“Ih orang aku kesini mau PDKT ama papa mama malah diajak berduaan ama kamu.” protesnya sambil cemberut.
“Oh jadi ga mau nih diajak berduaan ama pacarnya.” sahutku sambil memeluk Clara dari belakang dan mencium rambutnya.
“Ketemu kamu mah bisa tiap hari di sekolah weeek.” jawabnya sambil menolehkan wajahnya kebelakang meledeku.
Aku melepaskan pelukanku dari tubuh Clara dan membantingkan diriku di kasur sambil cemberut.
“Ya udah kalo ga mau diajak berduaan.”
“Cielah pacarku ngambek.” ledek Clara yg langsung duduk disebelahku seraya mencolek hidungku.
“Nanti sore nonton yuk sayang.” pinta Clara tiba-tiba.
“Hah? Apa?” tanggapku
“Nonton ih ke bioskop!” jawabnya sambil mencubit bahuku.
“Bukan yang itu, sebelumnya tadi nonton yuk apa?”
Clara berpikir sejenak.
“Sayang?” jawabnya dengan muka heran.
“Lagi dong lagi.” pintaku manja.
“Apasih kamu.” sahut Clara sambil menyerangku dengan cubitannya.
“Emang aku ga boleh manggil pacar aku sayang!” protes Clara.
“Bukan ga boleh, kan kamu jarang banget manggil aku sayang.” jawabku menjelaskan.
“Bodo! Nyebelin! Harusnya kamu duluan! Apa-apa aku mulu yg duluan huh!” Clara makin protes dan cemberut yg langsung aku serang dengan mengkelitiki perutnya hingga ia menggelinjang seperi cacing kepanasan.
“Ampun panji ihhh!! Panjii!! Udah ga enak teriak-teriak kedengeran papa ama mama kamu.” jawabnya yg langsung tiduran disampingku persis setelah selesai aku mengkelitiki badannya.
“Jahat kamu aku tuh masih kekenyangan tau! Malah dikelitikin!” jawabnya sambil menoleh kearahku memukul bahuku.
“Makannya jangan ngambek mulu.” ujarku sambil menatap wajah cantiknya.
“Kamu cantik banget hari ini.” lanjutku sambil melepas kacamatanya.
“Gombal!” sahutnya sambil terus menatapku.
Aku mulai mendekatkan wajahku kearahnya sambil terus menatapnya.
“Aku sayang kamu ra.” ucapku seraya mendekatkan bibirku dengan bibirnya yg merah muda merona lalu mencium bibir lembut milik Clara.
Kami berciuman tanpa lumatan hanya menempelkan bibir masing-masing dan menikmati perasaan cinta ini. Ciuman yg sangat berbeda dari yg kurasakan dengan Vina.
Setelah beberapa menit aku melepaskan ciuman dan menatap wajah Clara yg masih memejamkan matanya lalu membuka perlahan.
“Aku lebih sayang banget sama kamu nji.” jawab Clara sambil memeluk tubuhku.

Sorenya sekitar jam 4 kami berpamitan kepada orangtuaku untuk pergi nonton, aku pun langsung melajukan mobil Clara ke arah Mall di daerah senayan agar nanti pulangnya dekat dengan rumah Clara.
Selama di bioskop kami hanya nonton sambil saling merangkul, dan pulangnya sempat kuajak Clara makan gulai yg sangat terkenal tak jauh dari situ yaitu didaerah Blok M.
“Kamu pasti belum pernah kan kesini?” tanyaku yg dijawab Clara dengan menggelengkan kepalanya.
“Jangan nilai dari tempatnya, cobain dulu g kalah rasanya sama restoran di Mall sana.” jelasku kepada Clara.
“Aku nasinya setengah aja nji.” pintanya yg mungkin masih kenyang.
“Disini porsinya dikit ko, kalo kata Regas bukan makan gultik kalo belom 2-3 porsi.”
“Ah itu mah emang kalian aja paling demen malakin Angga.” tanggap Clara yg disertai tawa kami berdua.
Kamipun menyantap gulai yg membuat Clara ketagihan namun saat kutawari untuk nambah ia menolak, sungguh prinsip dietnya luar biasa sekali anak ini.

Sekitar jam 8 aku mengantar Clara hanya sampai depan kompleknya, mengingat hubungan kami masih backstreet dari orangtua Clara. Seperti biasa setelah melakukan ritual cium lewat dua jari kami pun berpisah dan aku pulang menggunakan ojek.
Sampai rumah Clara menelepon untuk memastikan aku sudah sampai rumah dan kami mengobrol sebentar hingga Clara pamit tidur serta ijin besok minggu ia akan bersama keluarganya seharian mulai dari pagi ibadah ke Gereja, menemani ibunya berbelanja dan dinner bersama keluarga. Oh iya sepertinya aku memang belum menceritakan bahwa aku dan Clara berbeda agama tapi bagiku itu bukan masalah besar mengingat hubungan kita masih pacaran, orangtuaku pun tidak melarang hubungan kami mungkin karena sama berpikir aku dan Clara saat itu masih cinta monyet.
Begitulah hubungan aku dan Clara, Senin-Jumat kami hanya bertemu di sekolah, Sabtu Clara berkunjung kerumahku hingga sore lalu biasanya nonton atau hanya sekedar keliling Mall ditutup dengan makan malam sedangkan hari Minggu adalah waktu Clara bersama keluarganya.

Tak terasa waktu dua minggu berlalu, artinya persiapan band kami hanya tinggal seminggu lagi. Regas memberi usul untuk mengajak Helen dan Clara untuk ikut agar ada yg bisa menilai penampilan kami. Clara pun menyanggupi untuk bolos bimbel dan terpaksa kuijinkan karena tidak mungkin mengajak Helen sendiri.
Kami pun berangkat ke studio band secara terpisah, aku dan Clara menggunakan mobilnya sedangkan Angga Helen dan Regas menggunakan mobil Angga.
Begitu sampai di studio, kami mulai menunjukan hasil latihan 2 minggu dengan menyanyikan sekitar 5 lagu yg ditutup dengan standing aplause oleh Clara dan Helen.
“Keren! Keren!” sahut Helen.
“Kamu nanti dipanggung jangan tebar pesona kaya tadi yah bo!” protes Clara.
Ya sudah seminggu ini Clara memanggilku dengan sebutan Kebo. Hal itu terjadi semenjak setiap menemani belajar di jam istirahat pertama aku selalu tertidur saat Clara ku beri latihan soal. Clara bilang g mau kalah dari mantanku yg punya panggilan sayang hidung, dia pun memanggil aku kebo. Meski berapa kali aku protes bahwa Vina bukan mantanku tapi tak dihiraukan olehnya.
“Lah? Pacar lo kan vokalis ra, mesti gitu lah.” protes Regas kepada Clara.
“Nanti banyak yg naksir pacarku! Aku aja meleleh kalo dinyanyiin kebo satu ini.” ujar Clara yg disambut gelak tawa oleh Regas Angga dan Helen.
“Lo doang kali yang kena peletnya Panji!!” sahut Regas Angga dan Helen kompak.
“Wey! Orangnya disini wey!!” ucapku kesal.
“Regas atau Angga aja yg nyanyi!” pinta Clara seolah masih teguh dengan pendiriannya.
“Mana bisa gue nyanyi sambil maen drum.” protes Regas.
“Gue kalo nyanyi lupa maenin bass nanti ra.” jelas Angga yg memang kalo maen bass perhatiannya masih full ke senarnya.
Mendengar ketidaksanggupan kedua sahabatku Clara hanya manyun yg langsung dipeluk Helen.
“Nyonya satu ini ngambek mulu, kan kalopun banyak yg suka Kebo mu itu tetep milikmu sayang.” ujar Helen mencoba merayu Clara.
“Punya penganggu satu aja repot gimana banyak.” mungkin maksud Clara adalah Vina.
“Sekalian ngetes kesetiaan yayangmu, kalo dia macem-macem tinggal aja.” tambah Helen.
“Oh iya bener. Awas kamu bo macem-macem.” ujar Clara mengancamku.

Perkataan Clara ada benarnya terkait punya satu penganggu yg harus selalu ia waspadai, aku mengamini kalo feeling wanita itu kuat.
Vina dua minggu belakangan ini masih suka datang kerumahku bertemu ibuku sekitar 2-3 kali, meskipun ada yg berubah. Ketika aku pulang, tak lama Vina pun pamit pulang. Alasannya ke ibuku mumpung masih sore jadi bisa naik taksi dan selama itu pula kami tidak pernah sekalipun berbicara. Hal tersebut tentu cukup membuatku merasa tak nyaman bahkan merasa seperti diteror. Namun aku mencoba mengabaikan kondisi tersebut dengan tidak membahas masalah itu dengan ibuku sama sekali.

“Woy kampret! Malah bengong, ayo mulai lagi!” ucap Angga mengagetkanku dari lamunan.
“Eh sorry.” jawabku yg langsung memulai kembali memainkan lagu terakhir di studio band sore itu.
Sepanjang lagu aku terus memperhatikan Clara yg juga memperhatikanku, sesekali Clara terlihat bersenandung mengikuti aku bernyanyi dan saling melempar senyum dibagian lirik-lirik yg romantis.
Hari itu pun setelah selesai kami berganti posisi, Clara pulang bersama Helen sedangkan aku ikut Regas dan Angga.

Singkat cerita band kami lolos seleksi, yg tentu membuat heboh satu kelas mengingat untuk pertama kalinya kelas ini ikut berpartisipasi dalam acara pentas seni sekolah yg cukup bergengsi tersebut. Helen pun mengkomando satu kelas untuk kompak dengan dress code yg sama di hari pensi nanti untuk mendukung band kami diatas panggung.
Pokoknya Helen menjadi orang yang paling sibuk mempersiapkan penampilan kami nanti.

Akhirnya hari pensi pun tiba, aku Regas dan Angga cukup nervous karena untuk pertama kalinya akan tampil diatas panggung dimana penontonnya bukan hanya dari sekolah kami tapi juga sekolah lain yg diundang dan dari penjualan tiket umum sedangkan saat seleksi hanya di ruang seni dan beberapa penonton serta juri.
Oh iya saat itu sekolahku mengadakan pensi di salah satu venue olahraga indoor di daerah senayan dan juga mengundang bintang tamu band indie kelas wahid yg cukup terkenal sehingga pengunjung pensi saat itu bisa dikatakan sangat ramai.
Band kami mendapat giliran tampil sekitar jam 4 sore mendekati prime time dan waktu tampil bintang tamu jadi seolah semacam opening band meskipun ada dua band lagi setelah kami. Tapi itu cukup membuat penonton sekitar panggung sudah riuh ramai.
“Mampus, kenapa ga tadi aja sih jam 12 siang tampilnya.” keluh Angga yg sepertinya paling panik diantara aku dan Regas.
“Inget kata Helen. Kenangan terakhir kita nyet.” ucap Regas mencoba menyemangati.
“Popop siap-siap setelah ini.” ucap salah satu panitia mengagetkan kami.

Begitu kami masuk panggung anak-anak kelas 3 IPA 1 yg dikomandoi Helen sudah berada di barisan paling depan dan berteriak.
“Popop! Popop! Popop!”
Ya itulah nama band kami, tidak usah ditanya apa artinya karena tidak ada hanya biar mudah mengingat dan menyebutnya.
Setelah check sound sebentar aku mulai memainkan intro lagu pertama kami. Kami saat itu membawakan lagu Basket Case – Green Day dimana diawali dengan solo gitar dan vokalku yg sukses membuat semua penonton teriak saat itu. Aku pun cukup kaget mendapat respon heboh seperti itu meski awalnya teriakan hanya berasal dari anak-anak kelas kami tapi akhirnya semua penonton ikut sing a long bersama kami. Aku memandang wajah Clara yang direspon dengan mengkerutkan hidung seolah memberi isyarat dasar tukang tebar pesona.
Saat lagu selesai penonton riuh meneriakan encore.
“Lagi! Lagi! Lagi!”
Ya memang kami diberi jatah dua lagu jadi tanpa diminta lagi pun kami lanjut memainkan lagu kedua kami dari Blink 182 – All the Small Thing.
Sepanjang lagu aku hampir selalu memandangi Clara memberi isyarat dibagian lirik romantisnya itu untuknya.

Always I know
Selalu kutahu
You’ll be at my show
Kau kan ada di pertunjukanku
Watching, waiting
Saksikan, menunggu
Commiserating
Berbelas kasihan

Say it ain’t so
Katakan tak begitu
I will not go
Aku takkan pergi
Turn the lights off
Matikan lampunya
Carry me home
Bawa aku pulang

Na-na, na-na, na-na, na-na, na-na
Na-na, na-na, na-na, na-na, na-na
Na-na, na-na, na-na, na-na, na-na
Na-na, na-na, na-na, na-na, na-na

Keep your lips still
Kuncilah mulutmu
I’ll be your thrill
Aku kan jadi kegembiraanmu
The night will go on
Malam kan terus berjalan
My little windmill
Kincir angin kecilku

Pertunjukan kami pun berjalan sukses hari itu. Bahkan setelah selesai teriakan encore masih terdengar, namun tentu kami hanya diberi jatah 2 lagu harus langsung turun.
Kami bertiga langsung berpelukan dibelakang panggung merayakan kebahagiaan, sungguh kami harus berterimakasih kepada Helen karena jika ia tidak mengusulkan hal ini kami akan melewati masa SMA tanpa kenangan.
“Kak Panji.” tiba-tiba ada yg memanggilku disaat kami bertiga sedang saling berpelukan. Aku pun menoleh, seorang wanita aku tidak mengenalnya namun ia menggunakan baju panitia. Kupikir anak kelas dua atau satu mengingat ia memanggilku dengan sebutan kakak.
Regas dan Angga pun menyuruhku mendekati siswi itu.
“Iya? Ada apa?” tanyaku yg ia balas dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat dan kubalas, kami pun bersalaman.
“Siska kak, aku anak kelas 2 IPA 3.” ujarnya memperkenalkan diri.
“Panji.” jawabku singkat.
“Aku minta tandatangan dong kak, mulai sekarang aku mau jadi fans Kak Panji.” ujarnya centil.
“Kampret, peletnya si monyet udah mulai bekerja lagi.” sahut Angga.
“Nyesel gue nyuruh dia jadi vokalis.” tambah Regas.
Aku pun menandatangani baju panitia yg ia gunakan dengan spidol yg ia bawa lalu ia pun berterimakasih serta sempat memberikan secarik kertas kepadaku.
“Nomor telepon aku kak. Kali aja mau ngobrol, aku tunggu loh.” jawabnya centil seraya pergi meninggalkanku.
Tak lama kertas tersebut direbut seseorang yg datang mengagetkanku, ya Clara.

0856xxxxxxx save and call me ❤ Siska

“Hmm udah ada yg mulai nyari mangsa yah.” ucap Clara sambil menatapku tajam menunjukan ketidaksukaannya.
“Ra, awalnya tadi dia cuma minta tandatangan aku mana tau kalo dia tiba-tiba ngasih nomor telpon. Aku ga minta ra.” jawabku membela diri.
“Tanya Regas ama Angga.” tambahku seraya menunjuk kearah mereka berdua yg ternyata sudah hilang entah kemana. Kampret ujarku dalam hati.
“Kebo nyebeliiiin.” akupun pasrah menerima serangan cubitan dari Clara.

Kalian mungkin pernah mendengar istilah bahwa katanya cowo itu kalo jomblo tidak menarik, tapi ketika ia sudah punya pasangan appeal pointnya muncul yg membuat daya tariknya meningkat. Jika kalian pernah tau atau bahkan pernah merasakan dan setuju dengan istilah tersebut ya itulah yg kurasakan semenjak jadian dengan Clara.

Tepat keesokan harinya di minggu sore aku dikejutkan dengan kedatangan Clara kerumah.
“Hey, kamu tumben hari minggu kesini?” sapaku kepada Clara yg saat itu tampak anggun menggunakan blouse terusan selutut berwarna peach serta kacamata Harry Potter yg selalu ia gunakan saat diluar sekolah.
Bukannya membalas sapaanku, ia malah menyelonong masuk menemui ayah dan ibu yg kebetulan sedang di ruang tv seraya menyapa mereka.
“Ah mantu ku yg cantik, ku pikir kau minggu ini tak berkunjung.” sapa ayahku yg menyambut Clara.
“Darimana sayang sore-sore gini.” sapa ibuku sambil cipika cipiki dengan Clara.
“Abis dari gereja tante terus kesini, kangen ama om tante kan sabtu kemarin sibuk acara pensi.” jawabnya.
Clara lanjut mengobrol dengan ayah dan ibuku, aku yg paham ia kesini pasti minta diajak kencan segera masuk kamar dan bersiap. Saat turun dalam kondisi berpakaian rapi ayah menanyakan rencana kami.
“Mau kemana kalian? Kupikir mau makan malam disini.” tanya ayahku.
“Ngajak kencan mantu ayah yg lagi ngambek ama Panji.” sahutku asal.
“Ih geer, aku kesini mau ketemu papa mama kamu bukan kamu.” jawabnya ketus.
“Clara disini ko makan malem bareng om ama tante. Ga mau ikut cowo ganjen itu.” lanjutnya mengklarifikasi sambil tetap menunjukan ngambeknya disertai tawa ayah dan ibuku.
Aku yg sudah hafal sifat Clara kalo sudah seperti ini hanya ingin dipaksa pun segera menghampirinya.
“Udah jangan protes, pamit sana sama mertua. Aku mau ngajak kamu ke tempat special.”

Clara luluh juga dengan ajakanku, akhirnya kami pun ijin keluar ke ayah dan ibuku.
“Kita mau kemana sih bo?” ujarnya penasaran.
“Ada deh, pokoknya kita belum pernah kesana.” jawabku singkat untuk membuatnya penasaran.
“Kenapa baru sekarang ngajaknya? Nunggu aku ngambek dulu?” sahutnya ketus.
“Acaranya cuma hari minggu, kita kencan setiap sabtu. Jadi gimana aku bisa ngajak kamu kesana Clara Anatasya sayaaaaang.” jawabku greget dengan sifat ngambeknya yg hanya dibalas dengan menganggukan kepalanya.

Ya saat itu memang untuk pertama kalinya aku mengajak Clara ke salah satu Cafe didaerah Radio Dalam yg ada Live Musiknya yg sering aku kunjungi karena kenal salah satu penyanyinya.
“Keren, ini kan demo lagu yg suka kamu stel di mobil aku ya bo?” ucap Clara setelah penyanyi diatas panggung tersebut selesai membawakan satu lagu.
“Iyah, itu penyanyinya. Mau aku kenalin?” tawarku.
“Erik!” teriaku memanggilnya seraya melambaikan tangan. Erik yg paham maksudku langsung turun dari panggung kecil itu dan berjalan menghampiriku dan Clara.
“Ih ko dipanggil? Mau ngapain?” sahut Clara heran dan sedikit panik.
“Dia sepupu aku.” jawabku tak lama Erik berdiri dihadapan kami dan aku pun bangkit dari duduk seraya bersalaman dengannya.
“Kenalin Clara.” ujarku memperkenalkan Clara.
“Erik.”
“Clara.”
“Erik ini yg ngajarin aku sampe bisa nyanyi dan maen gitar sejago sekarang.” lanjutku menjelaskan kepada Clara yg dijawabnya dengan anggukan.
“Oh jadi ini Clara yg sering lo ceritain.” ucap Erik yg memang pernah mendengar cerita tentang Clara dariku.
“Kamu cerita apa tentangku?” jawab Clara sambil menoleh kearahku dengan muka curiga.
“Katanya di sekolah ada cewe nyebelin sok cantik jaim dan ga mau temenan gitu ama dia.” sahut Erik membeberkan semua kartuku.
“Fitnah!” ujar Clara tidak terima sambil mencubit perutku.
“Kan dulu cerita ama Eriknya baru sempet yg jeleknya doang hehe.” jelasku mengelak.
“Kata Panji kamu jago nyanyi.” tembak Erik kelada Clara.
“Nyumbang lagu yuk.” lanjut Erik menawarkan.
“Ih engga, Panji mah suka bikin gosip.” jawab Clara salah tingkah.
“Udah sana.” bujuk ku.
Tangan Clara pun digandeng oleh Erik untuk maju keatas panggung.
Aku sendiri sebenernya tidak pernah mendengar Clara bernyanyi, memang saat di mobil kami sering bernyanyi bersama sambil mendengarkan musik tapi sepertinya Clara hanya bernyanyi asal tanpa menunjukan keahliannya.
Namun karena pernah mendengar informasi dari Helen yg juga teman satu Gerejanya bahwa Clara ini sangat bagus suaranya tentu membuatku sangat penasaran ingin mendengarnya itulah mengapa hari ini kesempatanku untuk mengajaknya kesini.

“Para pengunjung, pada kesempatan kali ini saya akan bernyanyi ditemani oleh rekan saya yg sangat cantik yg ingin menyumbangkan suaranya. Selamat menikmati.” ujar Erik membuka sesi pertunjukan mereka.
Clara terlihat agak salah tingkah dan wajahnya sedikit memerah serta menoleh kearahku seolah memohon pertolongan namun aku jawab dengan senyuman serta menganggukan kepala sambil bertepuk tangan menyemangatinya.
“Selamat malam. Ini pertama kalinya saya bernyanyi di panggung, bukan pertama kali sih. Tapi bernyanyi di panggung umum dimana isinya orang-orang yg tentu belum mengenal saya itu baru pertama kali, jadi agak nervous. Semoga semua suka sama penampilan saya.” tutup Clara sambil berjalan kearah Erik membisikan sesuatu sepertinya memberitahu lagu yg ingin ia bawakan dan kembali ke depan mic bersiap.

My love,
cintaku
There’s only you in my life
hanya ada kamu dalam hidupku
The only thing that’s right
satu-satunya hal yang benar

My first love,
cinta pertamaku
You’re every breath that I take
kamu adalah setiap nafas yang ku hirup
You’re every step I make
kamu adlah setiap langkah yang aku buat

And I
dan aku
(I-I-I-I-I)
aku
I want to share
aku ingin berbagi
All my love with you
seluruh cintaku denganmu
No one else will do…
tidak ada yang lain yang akan melakukannya

And your eyes
dan matamu
Your eyes, your eyes
matamu,matamu
They tell me how much you care
mengatakan seberapa besar kamu peduli padaku
Ooh yes, you will always be
dan ya, kamu akan selalu menjadi
My endless love
cintaku yang abadi

Two hearts,
2 hati,
Two hearts that beat as one
2 hati yang berdetak menjadi 1
Our lives have just begun
hidup kita baru dimulai

Forever
selamanya
(Ohhhhhh)
ohhh
I’ll hold you close in my arms
aku akan mendekapmu didadaku
I can’t resist your charms
aku tidak bisa menahan pesonamu

And love
dan cinta
Oh, love
oh cinta
I’ll be a fool
aku akan menjadi bodoh
For you,
untukmu
I’m sure
aku yakin
You know I don’t mind
kamu tahu, aku tidak keberatan
Oh, you know I don’t mind
oh, kamu tahu aku tidak keberatan

‘Cause you,
karena kamu
You mean the world to me
kamu adalah duniaku
Oh
oh
I know
aku tahu
I know
aku tahu
I’ve found in you
aku menemukanmu
My endless love
cinta abadiku

Tepuk tangan penonton pun riuh menutup nyanyian Clara, ia tersenyum tersipu malu sambil menatapku dari atas panggung.
“Terimakasih atas tepuk tangannya. Selamat malam.” tutup Clara dan segera berlari kearahku.
“Ih kamu tuh! Sengaja ya ngerjain aku.” selidiknya seraya mencubit perutku.
“I’m impress, you were so gorgeous on the stage!” pujiku sambil membelai rambutnya.
“Really?” sahutnya manja yg salah tingkah atas pujianku dan kujawab dengan anggukan.

“Pulang yuk aku mau nyium kamu di mobil.” tutupnya manja sambil mengigit bibir bawahnya.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 8 | Ketika Kita Muda Part 8 – END

(Ketika Kita Muda Part 7)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 9)