Ketika Kita Muda Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 7

Start Ketika Kita Muda Part 7 | Ketika Kita Muda Part 7 Start

Dilema

Tak lama setelah keluarga Rian meninggalkan rumahku, jazz hitam Clara akhirnya tiba dan berhenti tepat didepan aku berdiri lalu kaca mobilnya terbuka.
“Panjiiii maaf telat aku agak bingung tadi nyari rumah kamu.” keluhnya dengan nada manja yang tentunya ku maklumi dan Clara pun membuka pintu mobil untuk segera bertukar posisi mengemudi dengan ku.
“Aku ga disuruh pamit dulu nih ama calon mertua?” protes Clara.
“Masih bisa besok, udah telat nih yuk.” ajaku yg diturutinya namun dengan wajah cemberut.

Di mobil aku terus menggodanya agar berhenti ngambek hingga akhirnya Clara kesel sendiri.
“Kamu emang mau pacaran ama akunya cuma hari ini? Masa cuma gara-gara ga bisa ketemu mertua pagi ini doang ngambek. Besok kamu masih pacar aku loh. Apa udah ga mau?” godaku.
“Ih rese! Nyebelin ah.” jawabnya ngambek sambil mencubit bahuku.
“Ih pegang-pegang, emang kita cowo apaan!” ledeku lagi dengan nada kemayu yg membuatnya tertawa dan lupa akan ngambeknya.

Akhirnya kami tiba di sekolah dan mobil ini berhenti tepat di lokasi Clara biasa parkir, ternyata kami masih belum terlambat. Aku menoleh ke arah Clara.
“Sudah sampai tuan putri.” ujuarku seraya memandang wajahnya yg menurutku sangat cantik sambil membelai rambutnya.
“Kalo tuan putri, kamu itu turun terus bukain pintu aku.” jawabnya sambil semakin mendekatkan wajahnya kearahku.
“Ay! Ay! Captain!” jawabku meniru opening kartun Sponge Bob.
“I can’t hear youuuuu.” lanjut Clara menanggapi.
“Ay! Ay! Captaaaiiinn!!” jawabku semakin berteriak sambil keluar dari mobil dan memutar untuk membuka pintu Clara.
“Pacaran ama kamu geblek aku lama-lama.” ujarnya sambil tertawa manis dan kamipun berjalan bersama kearah kelas.

Ilustrasi Clara

Sudah dapat ditebak, satu kelas menyoraki kami ketika aku dan Clara datang berdua namun bukan salah tingkah aku dan Clara malah melenggak lenggok bak model seraya memberikan kiss bye dengan tangan kami kepada seisi kelas yg membuat Clara tertawa terpingkal-pingkal.
“Seneng deh liat mba dan masnya hepi.” ledek Helen yg menghampiri kami berdua yg dijawab Clara hanya dengan menarik lenganku dan menyandarkan kepalanya dibahuku.
“Seinget gue nih ya dulu tuh ada yg bilang ngapain kita usaha buat sesuatu yg ga mungkin kita dapatkan.” ujar Angga meniru ucapanku beberapa bulan lalu yg kubalas dengan melempar kapur kearahnya.
“Siapa yg ngomong gitu ngga?” tanya Clara penasaran.
“Jangan percaya Angga, musyrik!” sahutku.
“Cukup pacarannya, Claranya gue ambil lagi.” ujar Helen.
Akhirnya Helen menarik Clara ke tempat duduk mereka namun aku dan Clara malah berakting seperti orang yg enggan dipisahkan namun tanpa bersuara yg membuat Helen mencubit Clara dan Angga menempeleng diriku.
“Geblek emang ini anak dua.” ucap mereka.
Aku tak menyangka Clara yg anggun bisa diajak selon (mungkin kalo anak sekarang menyebutnya alig). Clara memang sangat supel, namun predikat primadona sekolah tentunya kupikir akan membuat dia jaim tapi ternyata pikiran ku salah. Aku jadi menyadari satu hal, aku belum banyak mengenal Clara.

Saat bel istirahat pertama berbunyi aku segera menghampiri Clara dan menariknya untuk ikut bersamaku seraya ijin kepada Regas Angga Helen dan gengnya untuk tidak ikut bergabung ke kantin.
“Mau kemana sih nji?” tanya Clara heran yg kubawa masuk ke dalam perpustakaan dan memintanya duduk disana sambil aku mencari beberapa buku serta kembali duduk lagi di depan Clara yg sedang mengerutkan dahi heran apa yg mau aku lakukan.
“Oke, mulai sekarang tiap jam istirahat pertama adalah waktunya kamu belajar sama aku. Aku g mau jadi alasan kamu nanti putus hanya karena nilai kamu turun.” jelasku kepada Clara
“Selain itu aku juga ga mau backstreet dari orangtua kamu jadi aku mau bikin nilai kamu tetep bagus walaupun pacaran dengan aku, jadi nanti aku bisa dikenalkan dengan orangtua kamu sebagai pacar kamu di hari kelulusan nanti, ngerti?” lanjutku tegas menjelaskan misi dan rencanaku kedepan sambil menatap wajah Clara.
“Kalau bukan di sekolah udah aku cium kamu.” jawabnya dengan wajah manja.
Ya begitulah kegiatan aku dan Clara setelah jadian, aku pikir jam istirahat pertama perut belum terlalu kosong jadi tak masalah jika menjadikan waktu untuk mengajar Clara sekalian berduaan dengannya dibanding di kantin. Namun siangnya di jam istirahat kedua aku dan Clara tetap bergabung makan siang bersama yang lain.

Sepulang sekolah aku mengantar Clara hingga mobilnya karena ia seperti biasa harus langsung bimbel walaupun awalnya ia merengek untuk bolos hari ini namun tak kuijinkan.
“Njiiii ini kan udah hari Kamis, minggu depan lagi aja bimbelnya aku mau main kerumah kamu.”
“Gak boleh. Kamu main kerumah nanti weekend aja.” jawabku yg ditanggapi Clara dengan cemberut.
“Oke gini, besok kan ada kuis matematikanya Pak Syaiful. Kalo nilai kamu bisa lebih tinggi dari aku, kamu besok bisa bolos bimbel dan kerumahku.” tantangku untuk membuatnya berhenti manyun.
“Nilai matematika kamu kan seratus terus gimana ngalahinnya woooo licik!” ujarnya kesal.
“Ya besok aku salahin lah satu atau dua soal.” jawabku meledek Clara yg tanggapinya dengan mencubit bahuku.
“Sombong!!” ujarnya kembali cemberut.
“Udah sana jalan nanti telat.” pintaku.
“Kamu nanti langsung pulang?”
“Ya gak lah, kan aku bareng Angga jadi ke rumah dia dulu. Nanti Regas yg nganter aku ke rumah.” jawabku menjelaskan kepada Clara.
“Oke, jangan telat makan, jangan nakal, jangan ganjen, jangan ngecengin cewe-cewe. Awas kalo sampe ketauan!” ancamnya.
“Iya Clara Anastasya!!” jawabku yg ditanggapinya dengan senyum seraya aku mengelus dahi dan rambutnya.
“I love you nji. Bye.” pamit Clara yg kubalas dengan menempelkan dua jariku ke bibirku dan menempelkannya ke bibirnya.
“I love you more. Hati-hati.” ujarku yg dijawab Clara dengan anggukan dan senyum.
Mobil jazz hitam itu pun keluar gerbang sekolah dan belalu dari hadapanku.

Aku yg hendak berjalan ke arah kantin depan sekolah tempat dimana Regas dan Angga menungguku melihat disebrang parkiran sana berdiri Vina seperti sedang menunggu seseorang yg membuatku teringat ucapan Rian.
Mungkin aku harus meminta penjelasan darinya serta memohon maaf karena telah menuduhnya macam-macam. Aku pun berlari kearah Vina sambil melambaikan tangan saat ia menoleh kearahku untuk memintanya menungguku. Sambil ngos-ngosan akupun memulai pembicaraan.
“Tawaran yg kemarin masih berlaku kan?” tanyaku kepada Vina.
“Aku pikir malah kamu yg udah g mau ketemu aku dung.” jawab Vina.
“Rian udah pindah ke Malang.” ujarku memberitahu Vina.
“Iya aku tau, Rian sempat pamit lewat telepon. Tadi pun sudah diumumkan di kelas.” jelas Vina yg memang sekelas dengan Rian.
“Ada yang aku mau minta penjelasan dari kamu vin, Rian kemarin..” belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku Vina memotong.
“Dung, taksi aku udah dateng. Kamu bawa motor? Lanjut di rumahku aja yuk.” ajak Vina yg kujawab dengan gelengan kepala.
“Ga dicancel aja taksinya?” ujarku.
“Rugi bayaran cancel ama tarif sampe rumah sama ayo ikut aku naik taksi aja.” pintanya seraya menarik tanganku. Entah kenapa aku tidak menolak sama sekali saat itu dan hanya mengirimkan pesan singkat ke Regas dan Angga bahwa aku ada urusan bertemu dengan Vina sehingga mereka tidak perlu menungguku.

“Wah maen api lo nyet, jangan bawa-bawa gue ama Angga lagi ya.” balas Regas di pesan singkatnya. Aku meyakini diriku hanya ingin membuat urusanku dengan Vina jelas dan tak ada masalah lagi kedepannya. Jadi kupikir Clara pasti akan mengerti, nanti aku sendiri yg akan memberitahunya.

Sesampainya di rumah Vina, aku langsung duduk di ruang tamu dan seperti biasa rumah ini sepi mengingat masih pukul setengah 5.
Vina kembali ke ruang tamu tempat ku menunggu tanpa berganti pakaian sambil membawa minuman menaruhnya diatas meja dan duduk disebelahku.

Aku pun memulai obrolan melanjuti pembicaraan tentang Rian karena saat dijalan kami mengobrol tentang hal lain termasuk menanyakan kenapa hari itu ia pulang sendiri naik taksi tidak diantar oleh Indra atau adiknya yg ia jawab lagi pengen sendiri aja.

Ilustrasi Vina

“Rian bilang kalo selama ini lo diancam dia buat jadi pacarnya. Karena kalo lo nolak dia bakal mukulin gue. Apa itu bener Vin?” tanyaku menyelidik sambil menatap wajahnya.
Vina sempat terdiam beberapa saat dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Ga ko nji, itu Rian ngebelain gue doang.” ucap Vina.
“Bisa dijelasin ga sih Vin sejujurnya gimana, ga usah ada drama lagi plis. Gue g akan marah, gue cuma mau tau cerita sebenernya. Itu aja.” pintaku kepada Vina.
Vina pun akhirnya menjelaskan panjang lebar bahwa awalnya sebelum ia mengenalku, Rian memang sedang mendekatinya. Namun bukannya makin dekat dengan Rian, kehadiranku yg tidak disengaja itu malah justru membuat Vina nyaman denganku dan mejauh dari Rian.

Selanjutnya seperti yg Vina pernah akui, ketidakjelasan hubungan ia denganku membuatnya akhirnya kembali dekat dengan Rian dan menerimanya.
Sadar bahwa berpacaran dengan Rian malah membuatnya semakin jauh denganku, Vina pun meminta putus dengan Rian yg tentunya tidak terima atas pemutusan Vina.
Rian saat itu mengikuti ku dan Vina di hari saat Vina kembali muncul dihadapanku mengajak bertemu di Cafe TB dan mengira bahwa akulah penyebab alasan Vina putus dengan Rian.
Mengetahui hal itu Rian pun mengancam Vina apabila kembali denganku akan mencelakakan diriku yg diakui Vina hal itu sangat membuatnya takut sehingga menuruti kemauan Rian untuk balikan berpacaran dengannya jadi itu alasannya mengapa Vina tidak seagresif biasanya ketika kembali meminta untuk dekat denganku, Vina mencoba mengulur waktu hingga bisa lepas dari Rian.
“Awalnya aku pikir itu hanya sementara hingga nanti aku cari jalan keluarnya tapi aku melihat kamu deket dengan Clara.”
Deg. Feeling cewe emang kampret ya gumamku dalam hati.
“Aku khawatir kehilangan kamu dung, makannya aku saat itu sengaja mengajak kamu pulang bareng. Bahkan aku memintamu untuk bimbel bareng dengan harapan di bimbel nanti aku bisa berduaan denganmu tanpa diganggu Rian. Tapi keputusan bodoh dan egoisku saat itu malah bikin kamu dipukuli Rian.” jelas Vina yg langsung menangis.

Melihat Vina menangis aku langsung merangkulnya namun bukannya reda Vina malah nangis sejadi-jadinya yg membuatku menarik tubuhnya kepelukanku dan mendekapnya.
“Sssttt udah, semuanya udah lewat ga usah kamu pikirin lagi yah.” ucapku mencoba menenangkan Vina.
Sekitar satu atau dua menit kami tetap pada posisi tersebut saling berpelukan erat hingga tangis Vina perlahan mereda dan aku mulai melepas pelukanku.

Aku memegang wajah Vina dan mengangkatnya untuk saling berhadapan serta menghapus air mata yg berlinang dipipinya.
“Thanks dung udah mau dengerin penjelasan aku.”
“Udah ga usah dibahas lagi, sekarang semuanya kan udah selesai.” jawabku menenangkannya kembali.

Vina menatap wajahku dalam, yg kubalas dengan senyuman dan juga menatapnya. Lama kami mematung dalam posisi tersebut, hanya nafas kami yg terdengar.
“Aku kangen kamu dung.” jawab Vina sambil menggigit bibir bawahnya dan mulai memajukan wajahnya kearah ku yg membuatku sangat gemas namun akal sehatku masih mencoba mengajak berpikir rasional. Inget resikonya jika aku dan Vina kembali berciuman, ini tak seperti dulu. Sekarang aku sudah memiliki Clara risauku dalam hati namun aku berpikir terlalu lama sehingga bibir Vina sudah menempel dengan bibirku dan mulai melumatnya.

Kamipun mulai saling berciuman, bibirnya yg lembut dan basah mulai bersentuhan dengan bibirku serasa ujung saraf-saraf pembangkit hormon dopamin ini berproduksi. Kami mulai saling melumat bibir dan sesekali aku mengigit bibirnya lembut yg membuat Vina gemas dan melumat habis lidahku. Ciuman ini semakin panas dan membuatku belingsatan ketika Vina mulai mengeluarkan desahan seksinya.
“Mmmmhhhh”
“Ssshhh mmmm”
Lidah kami saling beradu yg menambah rasa ciuman ini semakin basah, hangat, geli dan nikmat karena sentuhan lembut bibir Vina dengan bibirku juga lidah kami yg terus beradu.
“Bibirhh kamuuh enakk dunggh” ucap Vina ditengah lumatannya yg membuatku semakin nafsu menggigit bibir bawahnya lembut dan mengulumnya lagi dan lagi.

Saraf motorik memerintahkan tanganku untuk bergerak menyentuh lembut kulit lengan Vina semakin keatas kearah bahunya yg masih dibungkus seragam SMA ketatnya. Jariku menyelinap masuk diantara lengan bajunya, mengelusnya perlahan sambil tetap berciuman dan melumat bibir Vina.
“Mmhhh” erang Vina yg terus mendesah nikmat membuat otak ini untuk terus bertindak lebih daripada ini.

Tanganku mulai berpindah dari bahu kearah leher jenjangnya yg hangat dan mengelusnya untuk menimbulkan rasa bergesekan dengan tanganku yg begitu sensitif membuat Vina sedikit menggelinjang.
Perlahan tanganku pun turun kearah bongkahan toket Vina yg sedari tadi sengaja ku jamah paling akhir sebagi hidangan utama. Aku mengelus-ngelus dari luar seragamnya dan meremasnya lembut yg membuat Vina melepaskan ciumannya untuk mengerang kenikmatan.
“Aahhhh dung iyyhaa gituuu terussshh” desahnya yg menatapku nakal dan kembali melumat bibirku yang kusambut dengan kuluman dalam lidahnya sementara tangan kananku semakin asik meremas toketnya yg gede dan kenyal.

Tangan kiriku yg sedari tadi menahan tubuh Vina untuk bersandar perlahan kulepaskan dan mulai berpindah ke toket kiri Vina sehingga posisi kami saat itu saling berciuman dengan kedua tanganku meremas toket gedenya membuat pemandangan ini sangat menggairahkan.
Vina semakin mengerang atas serangan tanganku terhadap toketnya yg membuat suasana kami semakin diburu nafsu.
“Akhh teruushh dungg enakk ah ah ah remas toketku duunggg uhhh.”
Gerakan erotis dan desahan seksi Vina semakin membuatku berbuat lebih jauh lagi, kini tanganku seraya meremas toketnya perlahan melepas kancing seragamnya satu per satu dan hingga terlepas lalu melepaskan seragam itu dari tubuh Vina sambil terus berciuman.

Aku terdiam sejenak melihat pemandangan dua bongkah toket Vina yg dibungkus tangtop ketat dan bh yang juga nampak kekecilan tak sanggup manampung sebagian isi toketnya membuat darah ini mendesir ingin segera menjamahnya sambil terus meremas dengan kedua tanganku. Perlahan ciumanku turun ke leher jenjangnya yg membuat Vina menggelinjang kegelian dan terus kebawah kebongkahan toketnya yg tak tertampung bh nya.
Ku kecup lembut dan mulai menciuminya dengan bibirku sehingga ketika bersentuhan bibir dengan kulit toket Vina sungguh kegelian dan rangsangan yg luar biasa nikmat menerpa tubuh kami.
“Mhhh dung teruss sayaanggg uhhh” desah Vina terus memenuhi seisi ruang tamu ini.
Bibir ku yg mulai ketagihan menciumi toket vina yg menyembul dari bh nya mulai memberikan sentuhan lidah dan menjilatinya hingga basah. Aku menikmati setiap centi bongkahan toket gede mulus dan kenyal milik Vina yg membuatnya terus belingsatan dan mendesah seksi.

Tanganku mulai turun kearah pahanya yg terpampang karena Vina hanya menggunakan rok pendek, mengelusnya perlahan hingga pangkal selangkangannya.
“Ssshhh uhh nakal kamu dungghh uhhh” rintih Vina yg semakin menikmati permainan ini.
Vina agak sedikit bangkit dan naik keatas pangkuanku yg otomatis pantatnya yg bulat menekan persis diatas kontolku yg sedari tadi sudah mengeras.

Tangannya naik membetulkan rambutnya untuk diikat, sungguh pemandangan yg sangat seksi dan semakin meningkatkan nafsuku untuk segera menikmati pergumulan selanjutnya.
Vina tersenyum seraya mendekapkan wajahku kearah toketnya yg gede aku kembali mengecup menciumi dan menjilatinya lalu perlahan aku gigit ujung cup bhnya yg kanan dan menariknya ke bawah yg membuat toket gede Vina melompat keluar.

“Fak gede banget vin” yang tanpa menunggu waktu langsung ku lumat putingnya, mengulum dan menjilatinya.
“Aakhhh ooohhh geli bangetthh enakkk dunggg mhhhh” desah Vina merintih keenakan.
Tangan kiri ku menarik tali tangtop beserta tali bh nya untuk membuat toket kiri Vina juga melompat keluar dan langsung kuremas. Pertemuan saraf kulit telapak tanganku dan kulit mulus toketnya membuat rasa geli bercampur nikmat.

Tangan Vina yg sedari tadi diam dan hanya melingkar dileherku mulai bergerak kearah selangkanganku mencari kontolku yg sudah mengeras dan menggesek-geseknya dari luar celana abu-abuku. Aku yg sudah tidak lagi tahan dengan posisi ini segera melepaskan sabuk dan menurunkan celanaku yg langsung disambut tangan Vina dengan menyelinap ke celana dalamku dan mengelurakan kontolku yg langsung dielus dan dikocok olehnya sambil aku terus mengulum puting toket kanan dan kirinya secara bergantian diiringi dengan desahan Vina.
Vina mulai turun dari pangkuanku dan bersimpuh untuk berlutut dihadapan kontolku, jantungku berdegup kencang menanti apa yang akan dilakukan oleh Vina walaupun sebenarnya aku sudah bisa menebaknya.

Vina mulai mengocok kontolku perlahan mengurutnya dari pangkal hingga ujung kepala kontolku sambil wajahnya menatapku nakal.
“Sekarang gantian aku yg bikin kamu enak.” ucap Vina seraya membuka mulutnya dan mulai mengulum kontolku.
Mulut kecil Vina hanya mampu menampung 2/3 kontolku, perlahan mulutnya mengemut membuat bibir lembutnya dan kulit kontolku saling bergesekan dan membuatku benar-benar keenakan atas blowjobnya.
Sesekali giginya mengigit lembut kepala kontolku yg membuatnya terasa linu namun geli dan nikmat lalu lidahnya menjilatin dari pangkal hingga ujung kepala kontolku. Basah, hangat, lembut, geli serta nikmat bercampur di kontolku yg membuatku tak tahan untuk mengerang nikmat.
“Aakhhhhh nikmat viiin uhhh” desahku memuji kuluman Vina.

Vina semakin mempercepat tempo kulumannya yg membuat kontolku semakin ngilu dan panas serasa ingin orgasme namun aku imbangi gerakan Vina sambil sesekali meremas toketnya yg menggantung.
Kontolku yg semakin diemut dan jilati sebasah-basahnya semakin tegak berdiri yg membuat Vina berinisiatif melakukan agean yg selama ini hanya bisa kubayangkan di film porno, Vina menjepit kontolku dikedua bongkah toketnya besarnya dan mulai menggerakannya naik turun membuat kontolku bergesekan dengan belahan toketnya.
Aku mendesah sejadi-jadinya karena perlakuan Vina
“Aargghh ga kuat Vin mau keluar.” ujarku yg dijawab Vina.
“Keluarin sayaaang.”
Crooot crooooot crooooooot kontolku menyemprotkan spermanya kearah dada Vina hingga leher dan wajahnya. Sungguh seksi sekali penampilan Vina yg saat itu hanya menggunakan tangktop dan bh yg sudah turun hingga toket gedenya terpampang bebas ditambah tetesan keringat bercampur spermaku.

Vina bangkit mendekat kearahku dan kembali berciuman denganku.
“Aku bersih-bersih dulu yah, takut Miko pulang. Lengket semua gara-gara kamu nih.” ujarnya centil.
“Kamu pake kamar mandi disamping dapur aja dung kalo mau bersih-bersih.” ucap Vina menambahkan sambil teriak dan berlalu keatas lantai dua rumahnya.

Setelah kami berdua bersih-bersih Vina kembali dengan menggunakan kaos ketat dan celana pendek dan duduk disampingku sambil menyandarkan kepalanya di bahku. Kami terdiam cukup lama, aku tidak tahu apa yg ada dipikirannya namun yang ada dipikiranku adalah rasa bersalah terhadap Clara dan juga Vina tentunya. Bagaimana mungkin aku bisa berbuat sejauh ini padahal aku dan ia tidak ada hubungan apa-apa. Aku memaki diriku sendiri dalam keheningan yg langsung dikagetkan oleh Vina.
“Dung! Hey kamu bengong sih.”
“Eh sorry kamu ngomong apa tadi?”
“Makan yuk laper nih, kita pake mobilku aja nyari makan keluar.” ajak Vina.
Aku berpikir sejenak yg sebenernya tahu bahwa seharusnya aku segera pulang namun ada rasa bersalah apabila langsung meninggalkan Vina setelah apa yg kulakukan terhadapnya tadi dan aku memilih untuk menurutinnya menemani Vina makan.

Kami makan tidak jauh dari rumahnya yang sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sepanjang jalan dan saat makan aku cukup banyak diam sore itu.
“Dung. Daritadi irit banget sih ngomongnya.” ucap Vina membuka obrolan.
“Vin, kamu udah mulai bimbelnya? Gimana ada peningkatan ga nilai kamu?” jawabku mengalihkan pembicaraan yg Vina jawab hanya dengan anggukan.
“Dung.” tegur Vina yg kujawab dengan menoleh memperhatikan wajahnya.
“Selamat yah kamu ama Clara udah jadian.” lanjutnya yg membuatku langsug menelan makanan dimulutku tanpa mengunyahnya.
“Kamu tau?” tanyaku kaget yg Vina jawab dengan anggukan.
Kalau Vina sudah tau mengapa ia tidak menolak melakukan hal tadi denganku, pikiran ku bertanya sendiri. Apa ia sengaja? Kembali menjebaku dalam permainannya?
Kami menyelesaikan makan sore itu dengan keheningan, aku tidak tahu harus berkata apalagi. Minta maaf ke Vina? Atas perbuatan tadi? Atau menuduhnya seperti masalah kemarin? Tidak, semuanya konyol gumamku dalam hati.
Saat berpamitan dengan Vina di cafe tersebut, aku berdiri dihadapan Vina yg sudah duduk didalam mobil dan membuka jendelannya. Vina sempat mengatakan sesuatu yg membuatku cukup khawatir.
“Salam buat Clara, kalo ga bisa jaga cowonya siap-siap nanti aku rebut. Tapi kamu ga usah khawatir masalah yg tadi dirumahku, aku g bakal pake cara murahan kaya gitu buat rebut kamu.”
“Hati-hati dijalan dung, bye!” pesannya seraya menjalankan mobilnya menghilang dari pandanganku. Apa maksudnya kampret umpatku dalam hati.

Tak lama kemudian handphone ku berdering dan ternyata Clara.
“Nji, kamu dimana? Kata Regas ama Angga kamu gak sama mereka.” tanya Clara disebrang telpon.
“Aku abis ketemu Vina ra.” jawabku mengakui sebelum Clara nanti tau dari mulut orang lain.
“Maaf belum sempet ngabarin kamu, tadi juga ga sengaja ketemunya. Kebetulan masih ada yg mau omongin sama Vina.” lanjut ku menjelaskan.
Cukup lama Clara diam tak menanggapi penjelaskanku yg membuatku cemas.
“Sekarang masih sama Vina?” tak lama kemudian suara Clara kembali yg membuat ku menghela nafas lega.
“Ini udah dijalan ko mau pulang.” jawabku.
“Ya udah hati-hati, kabarin kalo sudah sampai rumah.” pintanya yang kujawab dengan mengiyakan permintaannya.

Keesokan harinya aku pun cukup dikagetkan dengan kedatangan Clara karena begitu selesai mandi, bersiap dan turun untuk sarapan sudah ada Clara disana bersama ayah dan ibuku.
“Nji cepat lah kau, sudah ditunggu ini.” perintah ayahku untuk segera menyusul mereka sarapan.
“Maaf ya om tante pagi-pagi udah ngerepotin ikut sarapan gini, abis kemarin kesiangan terus dilarang panji ketemu sama om dan tante.” ujar Clara mengadu kepada ayah dan ibuku.
“Malu-malu emang dia ra, tapi kalo udah kenal kan kamu tau sendiri malu-maluin.” jawab ibuku dan diiring gelak tawa ayah dan Clara.
“Terus aja teruuus omongin orangnya ke Bhagdad ikut perang.” sahutku protes.
Aku dan Clara pun tak lama kemudian pamit untuk berangkat sekolah.

Ditengah jalan Clara cukup banyak diam, aku yakin pasti karena masalah Vina kemarin dan akupun mencoba membuka obrolan dengannya.
“Cemberut aja sih daritadi, ga pengen dapet pahala apa pagi-pagi senyumin pacarnya gitu.” yg dijawab Clara dengan hanya meliriku dan memanyunkan bibirnya.
“Kamu masrah ya? Eh mastah? Eh masih masuh merah mentah apa ya.” ujarku meledek namun memasang wajah serius.
“Maraaaah! Aku maraaah!! Iya abis kamu nyebelin!!” jawab Clara seraya menyerangku dengan cubitan bertubi-tubi dibahuku.
“Aduh sakit ra, kekerasan dalam rumah tangga nih.” tanggapku masih meledeknya.
“Biarin! Siapa suruh pacarnya belajar ini malah enak-enakan ama cewe lain!” jawabnya judes yg kupikir ia sepertinya beneran ngambek.
“Ya udah sebagai permohonan maaf nanti aku ngalah deh di kuis Pak Syaiful biar kamu menang terus kita bisa kencan.” rayuku kepada Clara.
“Gak mau tuh. Aku mau bimbel. Belajar biar pinter. Ketemu mentor ganteng week.” jawabnya yg belum juga selesai ngambek.

Begitu sampai di sekolah, Clara tak kunjung berhenti ngambek bahkan aku tak diberi kesempatan untuk membukakan pintu untuknya.
“Ga usah bisa sendiri.” jawabnya judes namun sesaat setelah berjalan dengan Clara yg agak menjaga jarak denganku saat itu berpapasan dengan Vina.
Deg rasanya jantungku berhenti.
Vina tersenyum kearah kami berdua, aku pun sangat canggung menanggapi situasi ini namun Clara tiba-tiba menarik tanganku dan menggandengku berjalan melewati Vina tanpa menyapa. Aku lega kelakuan Clara menyelamatkanku dari situasi kampret tadi.

Setelah agak jauh aku meledek Clara yg masih asik menggandengku seakan lupa dirinya tadi sedang marah.
“Katanya tadi ngambek sekarang malah nempel, cemburu yah?” yg dijawab Clara dengan melepaskan tangannya dariku dan menginjak sepatuku lalu berjalan meninggalkanku yg kesakitan.
“Sukurin!” ujarnya berlalu.

Aktifitas kami berjalan seperti biasa hari itu, entah Clara tipe yg gampang lupa akan masalah atau gimana pas jam istirahat pertama ia tetap menghampiri mejaku mengajaku ke perpustakaan seperti biasanya.
Disana aku kembali mengajarinya terutama untuk persiapan kuis matematika Pak Syaiful setelah ini. Namun aku tertidur saat Clara sedang asyik mengerjakan soal yg aku berikan.
“Ko tidur sih bangun ih” paksa Clara sambil mencubit diriku.
“Aduh sakit ra.”
“Lagian malah enak tidur! Dasar kebo!” protesnya sambil memberikan kertas hasil latihan soal yg kuberikan tadi. Setelah kuperiksan hanya ada satu soal yg salah, dan kujelaskan cara mudahnya yg membuat Clara langsung paham. Tak lama bel pun berbunyi dan aku langsung mengajak Clara kembali ke kelas.
“Kamu ga usah ngalah nanti, aku yakin bisa nyamain nilai kamu.” ujar Clara menantang.
“Oke kalo gitu.” jawabku yg menerima tantangan Clara.

Ketika pelajaran matematika berakhir dan memasuki jam istirahat kedua, aku menghampiri Clara di bangkunya yg memang sedang cemberut. Ya Clara kalah dariku di kuis matematika tadi, sehingga aku mau menghiburnya dengan mengatakan akan tetap memberinya hadiah kencan dengan bolos bimbel hari ini.
“Hey. Udah ga usah cemberut, nilai kamu naik loh dari kuis minggu lalu 70 sekarang 90. Jadi hadiahnya kita tetep kencan ko.” ujar ku menghibur Clara yg masih cemberut.
“Gak. Aku mau menang beneran, aku mau belajar lagi. Jadi nanti aku bimbel aja.” ucapnya ketus.
“Yakin? Aku ngasih hadiah karena nilai kamu naik loh bukan karena ngerasa bersalah masalah kemarin.” jawabku mencoba menjelaskan ke Clara.
“Ih diingetin lagi masalah kemarin, akunya udah lupa juga.” jawab Clara yg sepertinya perkataanku malah membuatnya makin ngambek dan bangkit meninggalkanku ke kantin. Aku pun segera menyusulnya.

Dikantin kami seperti biasa berkumpul bersama Regas Angga Helen dan gengnya, hanya saja saat itu Clara memilih duduk disamping Helen dan melendot menyandarkan kepalanya di bahu Helen aku Regas dan Angga duduk didepan mereka yg dipisahkan oleh meja.
“Lo apain sih nji temen gue sampe cemberut gitu?” tanya Helen.
“Biasa belum dicas.” jawabku asal.
Regas seperti biasa langsung mengambil alih pembicaraan dengan guyonan dan cerita-cerita humornya sehingga membuat kita semua tertawa saat itu sambil sama-sama menikmati makan siang kami.
“Eh bulan depan kan sekolah kita pensi tahunan, kalian bertiga ikutan nyumbang dong buat bawa nama kelas. Ngeband gitu misalnya. Udah kelas tiga loh, tahun lalu juga kelas 2 IPA 1 jadi satu-satunya kelas yg ga nyumbang apa-apa. Ga punya kenangan nanti kalo udah pada gede nyesel loh.” pinta Helen kepada kami bertiga yg membuat kami saling pandang.
“Gue bisa sih maen drum.” ucap Regas.
“Yayangku juga bisa maen gitar sambil nyanyi.” jawab Clara mempromosikan ku.
“Tau deh yg ditembak pake solo gitar sambil nyanyi.” sahut Helen menimpali Clara yg membuatnya tersenyum malu.
Aku dan Regas menoleh kepada Angga.
“Gue bisa jadi manager kalian.” yg disambut gelak tawa oleh kami semua.
“Ya udah lo belajar bass aja nyet, kan gampang.” tawar Regas kepada Angga.
“Lo kan tau band-band yg tampil di pensi sekolah kita band jagoan semua, kita ga bakal lolos seleksi kalo gue masih belajar.” ucap Angga.
“Dicoba dulu kali beb.” sahut Helen menyemangati Angga.
“Skill lo bakal ketutup ama tampang lo ko tenang.” tambah Regas.
“Makasih loh itu bukan pujian.” jawab Angga yg membuat kita tertawa.
Akhirnya hari itu kita sepakat pulang sekolah nanti bakal mampir ke studio band untuk memulai latihan.

Sepulang sekolah seperti biasa aku mengantar Clara ke parkiran.
“Kamu bener nih ga mau ke rumah aku?” tanyaku masih mencoba mengajaknya.
“Ga usah nanti aja kalo nilai aku udah bisa nyaingin kamu baru aku bolos bimbel.” sahutnya sambil tersenyum yg kujawab dengan anggukan.
“Nji aku boleh minta sesuatu ga?” Clara melanjutkan bicaranya.
“Apa?” tanyaku.
“Bisa ga mulai sekarang kamu ga usah deket-deket dan berhubungan lagi ama Vina. Aku ga suka.” pintanya yg membuatku sedikit berpikir apa bisa mengingat bagaimana Vina sering muncul tiba-tiba, belum lagi pesan Rian kepadaku namun aku anggap Clara punya hak atas itu, akhirnya aku jawab permintaannya dengan senyum dan mengangguk yakin.
“Makasih sayang.” sahutnya yg membuatku senang, untuk pertama kalinya sejak jadian Clara memanggilku sayang.
“Iyah, udah sana jalan hati-hati.” pintaku sambil mengelus rambutnya.
“Bye nji, see you.” pamit Clara seraya mencium kedua jarinya lalu menempelkannya kebibirku dan ku balas melakukan hal yg sama.
“Bye. See you too.” jawabku.
Mobil jazz hitam Clara pun berlalu dari hadapanku.

Selain tukang ngambek ternyata Clara cukup posesif gumamku dalam hati.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 7 | Ketika Kita Muda Part 7 – END

(Ketika Kita Muda Part 6)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 8)