Ketika Kita Muda Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 6

Start Ketika Kita Muda Part 6 | Ketika Kita Muda Part 6 Start

Confession

Di depan ku berdiri seseorang yg dalam seminggu ini aku sudah lupa pernah mengenalnya, penipu ulung, ratu drama sejati, dan pemaksa sekelas hitler. Vina.
Aku mengingat kembali ucapan Regas yang mengatakan akan menjauhi Vina dariku, memberinya ultimatum untuk tidak lagi muncul dihadapanku, menyembunyikan semua informasi tentangku tapi sepertinya Regas melewatkan satu hal yg penting, ia lupa Vina punya Ibuku yang tidak tahu masalah kemarin dan tidak pula berencana untuk diberitahu.

Ilustrasi Vina

Aku bangkit dari tempat tidur ku, berdiri mendekatinya menatapnya tajam penuh amarah. Ingin rasanya kalimat kasar keluar dari mulutku, tapi aku ingat ini di rumahku, ada ibu ku dibawah yg pasti akan mendengar jika aku ribut dengan Vina di kamar ini. Vina sedari tadi hanya menatapku dengan raut wajah yg takut, aku yakin ia pun memikirkan kalimat apa yg pantas untuk memulai dramanya. Aku pun mencerna segala diksi untuk digunakan menjadi sebuah kalimat yg bertujuan mengusirnya dari hadapanku sebelum ia mengucapkan satu patah kata pun, namun sementara aku baru mau mengatakannya muncul Ibu ku dibelakang Vina.
“Panji, kenapa kamu ga jujur ke Papa dan Mama kalo yg mukulin kamu itu Rian?” selidik Ibuku meminta alasan yang masuk akal dari mulutku.
“Kamu yg cerita?” tanyaku kepada Vina seraya menoleh menatap wajahnya dengan emosi yg makin memuncak karena ulahnya lagi-lagi membuatku geram.
“Panji! Kamu belum jawab pertanyaan Mama. Dan kamu jangan menyalahkan Vina, apa yg dia lakukan itu sudah benar. Kejadian kemarin itu bukan masalah kecil. Itu kriminal nak! Masih untung kamu bisa selamat. Papa harus tau masalah ini termasuk pihak sekolah. Ayo Vina ikut Tante.” jawab Ibuku panjang lebar seraya menarik tangan Vina untuk mengikutinya namun Vina sempat mengatakan sesuatu sebelum pergi.
“Setelah ini kamu boleh benci denganku.”
Benci terlalu bagus untuk mu Vin, aku tidak akan lagi menganggap kamu pernah ada dihidupku gumamku dalam hati.

Ibuku bersama Vina naik taksi meninggalkan rumah, kupikir mereka akan kesekolah.
Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku hanya bisa pasrah membayangkan berita ini akan membuat satu sekolah heboh, setelah itu beredar gosip-gosip bahwa aku berkelahi dengan Rian memperebutkan Vina dan bagian terburuknya adalah gosip itu tentunya akan sampai ke telinga Clara.

Dua hari berlalu semenjak orangtua ku mengetahui bahwa yang bertanggungjawab dalam kejadian pemukulan terhadapku saat itu adalah Rian dan melaporkannya ke sekolah.
Sekarang aku ayahku dan orangtua Rian berada di Kantor Polisi, jika kalian berpikir bahwa aku dan ayahku melaporkan pengaduan atas tindakan penganiayaan diriku oleh Rian dan gengnya maka kalian salah. Kami disini karena sudah dua hari Rian menghilang dari rumahnya.
Hal itu terjadi saat Ibuku dan Vina datang kesekolah untuk melaporkan masalah pemukulan Rian dan gengnya kepadaku yg otomatis membuat Kepala Sekolah langsung memanggil semua orangtua mereka hari itu juga dan memberi sanksi sementara berupa skorsing kepada semua siswa yg terlibat sambil menunggu keputusan Dewan Guru atas sanksi lanjutan yg bisa berujung DO atau tidaknya mereka dari sekolah.
Menurut cerita Regas dan Angga, Vina memegang bukti pengakuan Rian bahwa ia yg melakukan pemukulan terhadapku. Ayah Rian yg saat itu menghadap ke sekolah langsung memukuli Rian dan akan menggiringnya ke polisi karena sudah muak akan tingkah Rian yg selalu berbuat onar. Namun saat itu para guru yg berusaha melindungi Rian dari pemukulan ayahnya sendiri justru berhasil membuat Rian melarikan diri dan belum diketemukan lagi keberadaannya hingga hari ini.

Malamnya setelah kejadian di sekolah siang itu, kedua orangtua Rian yg memang mengenal keluargaku berkunjung ke rumahku bermaksud meminta maaf atas perlakuan Rian terhadapku dan saat itu ayahnya sudah sangat pasrah apabila keluargaku mau mengambil jalur hukum.
“Saya malu kepada Pak Soesilo dan keluarga yg selama ini sudah sangat baik, tapi karena ketidakbecusan kami mendidik Rian sehingga bisa melakukan tindakan bodoh semacam itu. Kami pun tidak akan menghalangi jika Pak Soesilo dan keluarga ingin membawa ini ke jalur hukum. Biar Rian bertanggungjawab atas kesalahanya.” jelas ayahnya saat itu dihadapan orangtuaku yg juga ada aku disitu.
“Pak Joko tak perlulah bicara seperti itu. Macam mana pun juga Rian dan Panji ini kan berkawan. Kita pun sudah saling lama mengenal. Bisa lah kita selesaikan ini secara kekeluargaan saja.” jawab ayahku dengan nada yg tinggi karena logat bataknya yg maksa itu.
“Saya pun melaporkan hal ini kepada pihak sekolah dengan tujuan agar sekolah jauh lebih mengawasi anak-anak kita. Saya yakin Rian hanya korban pergaulan. Sehingga saya pikir sekolah pun harus ikut bertanggungjawab.” tambah Ibuku.
“Makasih sekali Bapak dan Ibu Soesilo atas kebaikannya, kami tidak tahu bagaimana harus berterimakasih.” jawab Ibunya Rian sambil menangis.
“Kalian tanya Panji lah, tak ada dendampun dalam dirinya.” tanggap ayahku meminta pendapatku.
“Om, Tante, saat itu Rian pasti cuma tersulut emosi karena diprovokasi oleh teman-temannya. Rian memukul Panji dengan tangan kosong, Panji yakin tak ada niat dari Rian untuk mencelakai Panji.” jawabku membela Rian untuk menenangkan orangtuanya.
“Nah kalian sudah dengar sendiri kan. Sekarang lebih baik Pak Joko dan Ibu segera mencari Rian, kasihan anak itu. Kalo perlu bantuan aku dan Panji siap membantu.” ujar ayahku.
Akhirnya orangtua Rian pamit malam itu dan kupikir secara teknis harusnya masalah ini sudah selesai.

Esoknya sepulang kontrol dari dokter, aku yg ditemani ayahku saat itu langsung meluncur ke kantor polisi karena ayah Rian menelepon sudah dua hari Rian belum kembali dan tidak bisa dihubungi sehingga ayahnya meminta tolong diriku memberikan keterangan untuk membantu penyelidikan.
Disana aku memberikan semua keterangan yg kutahu tentang Rian dan gengnya, jumlah anggotanya, ciri-ciri mereka, dimana mereka biasa kumpul, jenis motor beserta plat nomor yg beberapa ku hafal. Setelah memberikan semua keterangan itu aku dan ayahku pamit kepada orang tua Rian yg masih di kantor polisi untuk menyelesaikan beberapa urusan lagi.
Setahuku orang tua Rian juga disibukan dengan tuntutan orang tua siswa lain yg merasa anaknya terlibat dalam pemukulan terhadapku adalah karena di provokasi Rian dan menuduh Rian adalah otak dibalik pemukulan tsb.

Didalam perjalanan pulang aku yg saat itu sedang menyetir dikagetkan oleh ayahku yg tiba-tiba mengajak ngobrol.
“Kasian aku sama Pak Joko itu, semenjak kejadian ini rumahnya tak pernah sepi didatangi orangtua yg lain. Ya menuntut lah. Ya menyalahkan lah. Aku paling tidak suka dengan orangtua macam itu yg menyalahkan anak orang lain atas kelakuan anaknya sendiri.” ucap ayahku panjang lebar.
“Kalo kau ada di posisi itu aku pun tak akan membelamu nji. Tapi aku beruntung punya anak macam kau. Bangga aku sama kau nji.” lanjut ayah ku seraya menepuk pundaku yg ku jawab dengan senyuman.
“Hey. Sudah lama aku tak jumpa pacar kau. Apa kabar dia?” tiba-tiba ayahku menanyakan Clara.
“Maksud Papa Clara? Dia bukan pacar Panji pah cuma temen.” balasku yg membuatku teringat sudah dua hari ini Clara tidak menghubungiku.
“Kenapa tak kau pacari? Kau cintakan dengan dia?”
“Ya panjang pah ceritanya ga sesimpel itu.” jawabku asal karena sedang tidak ingin membahas Clara.
“Panjang gimana?” selidik ayahku lagi.
“Ya panjang.”
“Ah kau ini.” akhirnya ayahku menyerah menginterogasiku.

Ya semenjak disibukan dengan kasus ini aku lupa sudah dua hari itu pula Clara tidak menghubungiku namun otaku sedang tidak ingin memikirkan Clara, pikiranku masih dipenuhi masalah ini dan ingin segera selesai. Mendengar berita tentang orangtua Rian yg disibukan masalah dengan orangtua siswa lain pikiranku langsung tertuju pada Vina. Bagiku ialah penyebab semua masalah ini dan ini harus bertangungjawab.
“Pah nanti setelah sampai rumah aku pinjam mobil yah, mau ketemu Regas dan Angga.” ijinku berbohong kepada ayah karena ingin menemui Vina yg dijawab ayah dengan anggukan.

Setelah mengantar ayah pulang, aku langsung melajukan mobil ini kearah rumah Vina. Aku sengaja tidak turun dulu ke rumah, khawatir ibu nanti melarangku.
Sesampainya disana sekitar pukul 7 malam, Vina sendiri yg membukakan pagar dan mempersilahkanku masuk.
Kami berdua hanya membisu saat berjalan kedalam menuju ruang tamunya, namun aku dikagetkan begitu bertemu sosok yg sangat ku kenal duduk disana. Rian.
Ia berdiri seraya menghampiriku dengan tatapan penuh dendam.
“Jangan lo pikir dengan ga nyeret gue ke polisi bikin gue berterimakasih ama lo.” tegasnya sambil menunjuk jarinya kearah dadaku.
“Jangan kegeerean yan, gue cuma ngebantu orangtua lo bukan elo.” jawabku yg akhirnya mulai terpancing emosi dan membuat Rian mulai memainkan tangannya kekerah bajuku dan siap memukulku lagi.
“Pukul yan pukul! Belom puas kemaren? Pukul!” tantangku kepadanya.
Disaat yg bersamaan Vina mencoba melerai kami dengan menarik tangan Rian dari kerah bajuku.
“Udah cukup.” teriak Vina.
“Kalo lo ga ngambil Vina dari gue, ini g bakal kejadian!” teriak Rian membela diri.
“Tanya cewe lo! Siapa yg minta tolong dianterin kesana kemari! Lo tanya cewe lo siapa yang ngaku udah putus dari lo!” balasku meneriaki Rian.
“Elo cuma dimaenin ama Vina. Sampe kapan lo sadar ******!” tambah ku kepada Rian kesal.
Rian yg emosi dengan ocehanku kembali maju sambil mengepalkan tinjunya bermaksud memukul wajahku namun saat itu Vina bergerak dan terkena pukulan Rian.
Vina terjatuh dan menangis yg langsung ditolong oleh Rian sambil meminta maaf.
Melihat mereka berdua sedang tidak fokus, aku segera mengirimkan pesan singkat kepada ayah Rian tentang keberadaan Rian di rumah Vina serta mengirimkan alamatnya.
Mataku kembali kepada Rian yg masih sibuk menenangkan Vina, aman pikirku ia tidak melihat sekarang aku hanya tinggal mengulur waktu hingga orangtua Rian datang.
“Jawab pertanyaan aku Vin! Jelasin ke orang didepan lo siapa yg datang ke aku dan mengaku sudah putus. Siapa yg datang ke aku dan mengaku bahwa hubungannya dengan Rian cuma pelarian. Jawab jujur vin!” teriaku terbawa emosi yg dijawab dengan tangisan Vina yg semakin menjadi.
Rian bangkit dari duduknya dan menatapku semakin marah, bagus pikirku teruslah emosi yan emosimu yg akan mengantarmu kepada kekalahanmu sendiri, dan bagian terburuknya adalah lo kalah hanya karena wanita ini yg udah mainin hati lo hanya demi keegoisan pribadinya gumamku dalam hati.
“Heran gue Vina bisa jatuh cinta ama orang ****** kaya lo. Pengecut. Egois. Dan..” belum sempat Rian menyelesaikan kalimatnya bunyi sirene terdengar didepan rumah Vina.
“Bangsat lo nji.” ucap Rian yg sudah tak bisa lari lagi dan dirinya menyerahkan diri tanpa perlawanan kepada pihak kepolisian dan dibawa bersama ayahnya. Ayahnya sebelum pergi mengucapkan terimakasih padaku.
Vina sempat ditanya beberapa hal oleh pihak kepolisian namun sementara keterangannya hanya sebatas itu dan tidak diminta ikut ke kantor polisi.
Aku yg merasa urusan Rian sudah selesai segera masuk kedalam mobil untuk pulang namun Vina sempat mengetuk kaca mobilku untuk membuka jendelanya.
“Pintu rumah aku selalu terbuka buat kamu dung, kalo ada hal yg masih kamu mau cari tahu.” ujarnya yg tak kujawab seraya menutup kembali jendela mobil dan meninggalkannya. Semenjak kenal Vina, kenapa hidupku jadi banyak drama gini sih umpatku dalam hati tapi setidaknya satu masalah ini telah usai, sekarang bagaimana dengan Clara.

Keesokan harinya aku diantar ayahku ke sekolah karena masih tidak diijinkan membawa motor, walaupun lebih tepatnya menyupiri diriku sendiri hingga sekolah dan sesampainya disana baru aku turun dan ayahku berganti posisi ke bangku pengemudi untuk berangkat ke tempatnya bertugas seraya memberi nasihat dan berteriak menitip salam untuk Clara.
“Hati-hati kau di sekolah. Salam untuk Clara!”
Aku berdiri sambil melambaikan tangan kearah ayahku hingga mobilnya menjauh dan hilang dari pandangan. Lalu aku menoleh kearah sekolah, menghela nafas dan berjalan kedalam. Entah bagaimana cara ku agar bisa berkomunikasi dengan Clara lagi nanti gumamku dalam hati.

Begitu di kelas aku dikejutkan oleh penyambutan teman-teman sekelasku.
“Surprise!! Selamat datang kembali Panji!!” teriak mereka dengan kue donat satu biji ditambah lilin diatasnya yg dipegang Regas dan dikelilingi Angga Helen serta teman sekelas yg lain ditambah ornamen kelas balon-balon bahkan tulisan di papan tulis Selamat Datang Kembali Panji.
“Gue cuma sakit seminggu kampret bukan abis pulang perang dari Irak! Mana cuma donat doang sebiji.” jawabku karena salah tingkah dan malu juga mendapat hal seperti ini.
“Jarang-jarang nyambut anoa punah.” jawab Angga asal.
Akhirnya acara penyambutan berlebihan dan maksa ini berakhir karena guru matematika kami Pak Syaiful datang.
Ia sempat memberi ucapan syukur atas kondisiku yg sudah pulih, memberikan nasihat kepada kami sekelas untuk lebih berhati-hati dalam bergaul dan menutupnya dengan meminta ijin menghapus tulisan di papan tulis yg membuat anak-anak satu kelas tertawa.
Aku baru menyadari satu hal, dimana Clara tadi ia tidak ikut anak-anak menyambutku seraya wajahku menoleh ke arah tempat ia duduk dan tertunduk lemas begitu mengetahui Clara ada disana.
Have we done ra? gumamku dalam hati.

Ilustrasi Clara

Sepanjang pelajaran pikiranku kosong, bingung dengan perubahan sikap Clara. Aku pun tak punya keberanian untuk mulai menyapa padahal di jam istirahat seperti biasa aku Regas dan Angga duduk satu meja dengan Clara Helen dan geng mereka meski posisi kami yg biasanya berhadapan kini berjauhan.
“Ngelamun mulu nyet daritadi. Mikirin apaan sih?” tegur Regas yg melihatku hanya diam sedari tadi dan kujawab hanya dengan menggelengkan kepala.
“Vina?” tanyanya lagi.
“Bisa ga bahas masalah itu lagi ga?” pintaku dengan muka yg datar menatap kosong kedepan tanpa menoleh kearah Regas.
“Oke sorry.” jawab Regas singkat seraya menepuk pundaku.

Selama jam pelajaran berikutnya selama itu pula aku tidak fokus, hari ini aku benar-benar kosong hingga bel istirahat kedua berbunyi mengakhiri praktikum Biologi hari itu.
Aku merapikan meja lab ku dengan perlahan seakan seonggok manusia yang tak punya gairah.
Regas dan Angga mengajaku untuk ke kantin yg kujawab agar mereka bisa duluan aku menyusul nanti namun kedua manusia itu tidak juga beranjak dari tempat mereka berdiri.
“Lo kenapa ga ngomong langsung aja ke Clara sih nyet.” ujar Regas.
“Helen juga gue tanya ga ngomong apa-apa.” jawab Angga menambahkan.
“Jangan ngulangin kesalahan yg sama nyet. Take it or leave it.” saran Regas seraya menepuk pundak ku.
Aku menjawab mereka dengan anggukan kepala dan mengatakan akan menemui Clara nanti. Mereka berdua pun berlalu meninggalkan ku ke kantin.

“Nji!” sapa Helen mengagetkanku yang tiba-tiba nongol dari belakang tak lama setelah Regas dan Angga pergi seraya tangannya mencengram pundak ku.
“Gila lu. Untung gue ga punya penyakit jantung.” jawabku sedikit kesal.
“Angga udah ke kantin tadi.” lanjutku memberitahu Helen.
“Gue nyariin lu kali.” jawab Helen.
“Ada apa? Tumben?” aku yakin ini ada kaitannya dengan Clara sehingga membuatku sedikit bersemangat.
“Lo ama Vina masih ada hubungan apa sih?” selidiknya penuh penasaran dan karena kupikir Helen akan menjadi informasi Clara aku harus memberitahu ia sejelas-jelasnya.
Aku pun mengajaknya duduk dan menjelaskan hubunganku dengan Vina dari awal hingga hari ini meskipun bagian aku pernah jatuh cinta dengan Vina tak ku ceritakan.
“Terus perasaan lo ke Clara gimana?”
“Masa gue harus jelasin len? Emang kurang jelas ya?” jawabku heran.
“Ya buktinya kmaren lo pulang dari Rumah Sakit ga ngabarin Clara bahkan sampe sekarang masuk sekolah lagi g pernah kan sekalipun ngehubungin Clara.” jelas Helen yg perlu diakui semuanya ucapannya benar.
Aku baru sadar saat pulang dari Rumah Sakit aku sama sekali tidak memberitahu Clara dan justru dua hari setelahnya malah berharap ia yg menghubungiku. Bego umpatku dalam hati.
“Cewe mana yang ga galau abis seminggu rajin jenguk pas pulang malah ga dikabarin.” lanjut Helen yg semakin membuatku merasa bersalah.
“Oke. Itu murni ketololan gue. Gue lupa. Gue malah nungguin dia ngehubungin duluan.” jawabku mengakui kesalahanku.
“Terus gue harus gimana len sekarang? Kayanya Clara udah males banget ama gue, buktinya seharian ini..” belum sempat aku menuntaskan kalimatku langsung dipotong oleh Helen.
“Stop. Sekarang kalo emang Clara berarti buat lo, tunjukin. Kemarin seminggu Clara udah berjuang, sekarang gantian lo yg berjuang dong.” jelas Helen.
“Berjuang?”
“Ya tembak kek, anak orang kasih kejelasan. Ah ga peka banget sih lo nji.” ujar Helen kesal.
“Bukannya Clara ga boleh pacaran?” tanyaku heran yg dijawab Helen dengan menjentikan jari kelingkingnya.
“I have an idea. Please closer.” (Aku punya ide, coba sini agak mendekat) ujarku kepada Helen seraya membisikinya sesuatu.
Helen pun langsung bersemangat dan kita pun langsung saling toss. Let’s do it for Clara!

Akhirnya aku dan Helen langsung beranjak dari tempat duduk kami, aku ke kantin untuk menemui Regas dan Angga serta Helen menjalankan misinya.
“Abis ngaapain lo lama amat? Katak buat praktikum ga lo cemilin kan?” tanya Angga penasaran begitu aku tiba.
“Muka lo juga sekarang agak cerahan. Abis minjem face washnya siapa?” lanjut Regas yg kutanggapi hanya dengan senyum dan menaikan kedua alis. Regas dan Angga saling berpandangan seraya menggelengkan kepala.

5 menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi aku ijin keluar untuk ke toilet yg tentunya hanya sebagai alasan, aku segera berlari ketempat dimana aku akan menunggu untuk memulai rencanaku dengan Helen dan menunggu Clara tiba dengan dengan ritme jantung seperti pelari marathon.
Saat Clara masuk dan menutup pintu mobilnya. Disinilah aku duduk di jok belakang mobil Clara dengan gitar yg kupinjam dari ruang seni dan memetiknya bersamaan untuk mengagetkan Clara.
Jreeeeng bunyi gitarku
“Mamaaaaaa.” teriak Clara yang kaget seraya menutup wajahnya.
Aku pun mulai memetik gitarku dan memainkan lagu dimana perlahan Clara memulai mengangkat tangannya yg menutupi wajahnya lalu menengok ke arah belakang jok mobilnya dan tersenyum salah tingkah ketika aku memulai bernyanyi.

If i had to live my life without you near me
(Jika aku harus jalani hidup tanpamu disisiku)
The days would all be empty
(Hari-hari ku ‘kan terasa hampa)
The nights would seem so long
(Malam-malam ku pun ‘kan terasa membosankan)

With you I see forever oh so clearly
(Bersamamu ku lihat keabadian oh begitu jelas)
I might have been in love before
(Mungkin saja aku pernah jatuh cinta sebelumnya)
But it never felt this strong
(Namun tak pernah merasa sekuat ini)

Our dreams are young and we both know
(Impian kita baru saja terbentuk dan kita berdua sama-sama tahu)
They’ll take us where we want to go
(Impian itu ‘kan membawa kita kemanapun kita ingin melangkah)
Hold me now, touch me now
(Kini peluklah aku, sentuhlah aku)
I don’t wanna live without you
(Ku tak ingin jalani hidup tanpamu)

Reff:
Nothing’s gonna change my love for you
(Tiada yang mampu mengubah cintaku untukmu)
You oughta know by now
(Kini kau harus tahu)
How much i love you
(Betapa aku mencintaimu)
One thing you can be sure of
(Satu hal yang dapat meyakinkan mu)
I’ll never ask for more than your love
(Ku takkan pernah meminta lebih daripada cintamu)

Nothing’s gonna change my love for you
(Tiada yang mampu mengubah cintaku untuk mu)
You oughta know by now
(Kini kau harus tahu)
How much i love you
(Betapa aku mencintaimu)
The world may change my whole life through
(Dunia mungkin saja mengubah seluruh hidupku)
But nothing’s gonna change my love for you
(Namun tiada yang mampu mengubah cintaku untuk mu)

If the road ahead is not so easy
(Jika jalan hidup tak begitu mudah)
Our love will lead the way for us
(Cinta kita ‘kan menuntun jalan untuk kita)
Like a guiding star
(Layaknya sebuah bintang penuntun)

I’ll be there for you if you should need me
(Ku ‘kan ada untukmu jika kau membutuhkanku)
You don’t have to change a thing
(Kau tak mesti mengubah apapun dalam dirimu)
I love you just the way you are
(Aku cinta kau apa adanya)

So come with me and share this view
(Maka ikutlah denganku dan tataplah aku)
I’ll help you see forever too
(Aku ‘kan membantumu melihat keabadian)
Hold me now, touch me now
(Kini peluklah aku, sentuhlah aku)
I don’t wanna live without you
(Ku tak ingin jalani hidup tanpamu)

Reff:
Nothing’s gonna change my love for you
(Tiada yang mampu mengubah cintaku untukmu)
You oughta know by now
(Kini kau harus tahu)
How much i love you
(Betapa aku mencintaimu)
One thing you can be sure of
(Satu hal yang dapat meyakinkan mu)
I’ll never ask for more than your love
(Ku takkan pernah meminta lebih daripada cintamu)

Nothing’s gonna change my love for you
(Tiada yang mampu mengubah cintaku untuk mu)
You oughta know by now
(Kini kau harus tahu)
How much i love you
(Betapa aku mencintaimu)
The world may change my whole life through
(Dunia mungkin saja mengubah seluruh hidupku)
But nothing’s gonna change my love for you
(Namun tiada yang mampu mengubah cintaku untuk mu)

Sepanjang aku bernyanyi Clara tersenyum dan memandangku sangat dalam, yg membuatku sesekali memalingkan wajah karena tak sanggup bertatapan mata dengannya. Ketika lagu ku telah selesai, aku tersenyum kearahnya.
Clara mengambil tisu diatas dashboardnya dan melemparkannya kewajah ku.
“Gombal banget lagunya!” ucapnya.
“Kampret.” jawabku kesal karena kelakuannya merusak suasana.
“Could you teach me how to say will you be my girl in Bahasa?” lanjutku meledeknya.
“Maukah kamu menjadi pacarku?” jawabnya sambil matanya terus menatap ku.
“Mau.” jawabku singkat yg membuat raut wajah Clara berubah menjadi cemberut.
“Panjiiiiii!! Licik!! Ko malah jadi aku yg minta.” rengeknya yg kubalas dengan tertawa.

Hari itu aku resmi jadian dengan Clara.

Pagi berikutnya aku sangat bersemangat berangkat sekolah, Clara bahkan meminta untuk menjemput diriku sehingga kami bisa berangkat bersama mengingat aku masih belum diijinkan naik motor.
Aku turun ke meja makan disana sudah ada ayah dan ibuku yg sedang sarapan dan mengajaku segera bergabung.
Ibuku yg melihat tingkahku sangat ceria pagi itu menanyakan ada apa yg kujawab dengan semangat.
“Papa ga usah nganter panji nanti, panji berangkat ama gebetan hehe.” jawabku cengengesan.
“Wah mantap kau, akhirnya berani juga kau menyatakan cinta.” tanggap ayahku.
“Akhirnya Mama bisa sering-sering ngajak Vina masak bareng.” jawab Ibuku yg membuat aku tersedak.
“Siapa itu Vina? Pacar Panji ini Clara mah.” protes ayahku.
“Siapa Clara? Vina pah, iya kan nji?” jawab Ibuku.
Perdebatan ayah dan ibuku berhenti ketika suara bel rumah kami berbunyi, aku yg berpikir itu Clara langsung kedepan rumah sambil pamit kepada ayah dan ibuku.
“Sorry..” belum sempat aku melanjutkan ucapanku aku mematung ternyata dihadapanku beridiri Rian dan orangtuanya.
“Pah Mah ada tamu.” teriak ku kemudian mempersilahkan mereka masuk.
Ternyata keluarga Rian pamit untuk pindah ke Malang, ya kalian semua pasti bisa mengira apa alasannya.
Ibuku dan Ibunya Rian berpelukan lama sembari menangis, dan saling meminta maaf.
Rian yg daritadi diam tiba-tiba mendekat kearahku dan seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Lo salah nji, selama ini Vina ga pernah mainin gue sama sekali. Gue yg maksa Vina untuk mau jadi pacar gue. Bagian yg paling parah adalah, gue ngancem Vina bakal nyelakain lo kalo dia ga mau nerima gue. Gue emang bego. Gue minta maaf dan gue harap lo bisa bikin dia bahagia sebagai ganti kesalahan gue. Gue titip Vina ya nji.” ucapnya seraya pamit sambil menepuk pundaku.

Drama apalagi ini gumamku dalam hati.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 6 | Ketika Kita Muda Part 6 – END

(Ketika Kita Muda Part 5)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 7)