Ketika Kita Muda Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 5

Start Ketika Kita Muda Part 5 | Ketika Kita Muda Part 5 Start

Loser

Sepulang sekolah aku masih duduk di meja kelas sendirian dimana Regas dan Angga sudah jalan duluan karena aku ada janji mengantar Vina pulang, walaupun lebih tepatnya dipaksa mengantarnya pulang.
Aku sengaja mengulur waktu untuk memastikan Clara sudah meninggalkan sekolah lebih dulu karena aku tidak mau dirinya melihat aku berboncengan dengan Vina meskipun aku yakin saat di kantin tadi Clara sudah mendengar percakapanku dengan Vina namun buatku setidaknya Clara tidak perlu hingga melihat kami berduaan diatas motor.
Saat sedang berpikir alasan apa yg akan kupakai nanti jika Clara membahas ini, tiba-tiba Vina datang ke kelasku yg hanya menyisakan aku sendiri didalam kelas.

Ilustrasi Vina

“Iduuuung! Ditungguin daritadi di parkiran ko masih disini sih.” ujarnya protes.
“Eh sori ada yg ketinggalan tadi, tapi udah ketemu ko. Yuk.” ajaku untuk segera meninggalkan kelas karena aku tak ingin ada yg melihat kami berduaan di dalam kelas.
Kami berjalan berdua tak lama ketika mendekati parkiran aku berjalan lebih cepat mendahului Vina untuk memastikan sudah tak ada mobil Clara disana dan benar saja dewi fortuna mengabulkan permintaanku saat itu, jazz hitam milik Clara sudah tidak terlihat di parkiran.
Vina yg melihat aku berjalan cepat segera menyusul dan protes.
“Ngapain sih tiba-tiba ko kamu buru-buru?”
“Oh engga aku pikir tadi melihat Angga dan Regas taunya bukan.” ucapku asal.
“Emang mereka tadi ga pamit ke kamu pas pulang?” lanjut Vina.
“Udah yuk pulang jadi malah ngobrol.” elaku segera menaiki motor dan disusul Vina dibelakangku.
Saat Vina sudah duduk dibelakang aku baru menyadari satu hal, berbeda dari biasanya kali ini Vina menggunakan rok pendek bukan rok panjang.
“Lah kamu sejak kapan pake rok pendek Vin?” tanyaku heran.
“Telat kamu dung, dari kelas tiga aku udah g pernah pake rok panjang lagi kali. Itu kan rok buat junior hihihi.” jawabnya centil.
“Tapi kan naik motor gini kamu bakal diintip orang-orang nanti.” ujarku serius yg memang rok pendeknya membuat paha Vina terlihat apalagi posisi duduknya saat itu menghadap depan bukan menyamping.
“Biarin liat gratis, pegang bayar.” jawanya masih dengan nada centil yg hanya ku balas dengan menggelengkan kepala.
“Udah yuk jalan.” ajaknya dan aku pun segera melajukan motorku kearah rumah Vina.

Ditengah jalan Vina memintaku untuk mengantarnya ke suatu tempat karena ada urusan yg awalnya ku tolak namun Vina tak berhenti merengek membuat kupingku panas.
“Ayo duuung, sebentar aja aku perlu kesana.” pintanya manja sambil menarik-narik lengan bajuku.
Aku yg tidak tahan mendengar ocehannya akhirnya menyanggupi walaupun aku tidak tahu kemana.
“Iya iyaaa.” jawabku kesal.
Vina yang puas mendapat jawaban ya dariku begitu semangat dan tiba-tiba memeluku erat. Fuck gumamku dalam hati.
Aku yg baru ingat bahwa ia belum menyebutkan tempat tujuan pun bertanya padanya mengingat motor ini masih melaju ke arah rumah Vina.
“Jadinya kita mau mampir kemana Vin?”
“Oh iya lurus aja dung, searah ko sama rumahku. Itu loh tempat bimbel (Ia menyebutkan salah satu tempat bimbel terkenal di daerah Tebet. Ya tempat dimana Clara juga bimbel.)”
“What? Serius?” ujarku kaget.
“Kenapa sih?” tanyanya heran.
“Mau ngapain kamu?” tanyaku lagi menyelidik.
“Mau daftar bimbel lah masa mau daftar masak.” jawabnya santai.
“Kenapa dung?” tanyanya sekali lagi.
“Gak apa-apa vin.”
Aku tidak punya alasan lagi untuk menolak karena tadi sudah terlanjur mengiyakan permintaan Vina. Ingin rasanya memaki diri sendiri yg tak bisa berpikir logis hanya karena tak kuat dengan ocehan dan rengekan Vina tadi.
Padahal tadi di sekolah aku sengaja mengulur waktu untuk menghindar bertemu Clara, sekarang malah aku menuju tempat dimana Clara berada.
Rasanya motor ini ingin aku lajukan kearah metro mini dan menabraknya umpatku dalam hati.

Sesampainya disana benar saja aku melihat mobil jazz hitam milik Clara terparkir yg membuat aku menolak untuk turun, aku berkata pada Vina ingin menunggu disini saja mamun ia memaksa aku untuk ikut menemaninya.
“Ayo dung ikut ngapain coba disini panas.” paksanya sambil menarik-narik lenganku yg membuatku risih dan akhirnya mengikuti maunya daripada harus jadi perhatian orang-orang disana.
Didalam Vina langsung ke meja resepsionis untuk mencari informasi sementara aku berdiri didepan papan pengumuman yg kebetulan menghadap dalam ruangan bimbel ini, sehingga posisi aku membelakangi arah dalam bimbel dengan tujuan menghindari berpaspasan dengan Clara.
Lagi-lagi Vina memanggilku untuk menghampirinya yg langsung kuturuti daripada suaranya atau rengekannya membuat berisik satu gedung bimbel ini.
“Dung, kamu selasa-jumat kosong kan? Ikut yg jadwal ini yuk. Jadi pulangnya kita bisa main?” ujarnya yg membuatku mengerutkan dahi.
“Yang mau daftar kan kamu, ngapain nanya jadwal aku.” jawabku datar.
“Aku juga sekalian daftarin kamu biar ada temennya.” jawabnya cuek.
What? Ini cewe apa hitler sih, seenaknya kalo udah punya mau umpatku dalam hati.
“Ya gak bisa gitu dong vin, kamu belom nanya aku mau atau engga lagian ini kan perlu biaya.” jawabku mulai ketus karena kesal.
“Gampang, aku udah minta mami aku ko.” jawabnya lagi santai tanpa beban.
“Ya gak segampang itu juga vin, ini bukan uang seratus dua ratus ribu.” Aku sempat melirik brosur tersebut untuk melihat harganya dan melanjutkan kalimatku.
“Empat juta. Ga sedikit. Aku ga mau punya hutang sebanyak itu.” jawabku yg masih kesal.
“Aku minta kamu buat nemenin bukan bayar dung. Jadi kamu g berhutang ama aku.” jelasnya masih dengan gayanya yg cuek seakan dirinya ini hitler yg permintaannya harus dituruti.
“Pokoknya aku g mau. Aku ga butuh bimbel. Aku ga bego.” jawabku reflek karena kesal yg ketika menyelesaikan kalimat itu aku baru sadar itu bisa menyinggung Vina.
Aku menoleh kearah Vina memperhatikan wajahnya yg tertunduk melihat brosur sambil memainkan rambutnya. Aku yakin ia tersinggung.
“Vin, sorry.” jelasku sambil mendekatkan wajahku kearahnya untuk memastikan responnya yg langsung dijawab dengan tinjunya tepat dipipiku.
Fuck.
Akhirnya Vina menyerah, aku dibiarkannya menolak ajakannya untuk bimbel namun ia tetap mendaftar. Kami pun meninggalkan tempat bimbel tersebut setelah Vina menyelesaikan administrasiya dan aku merasa lega tak bertemu Clara disana. Hari ini sudah dua kali Dewi Fortuna mengabulkan doaku.

Sebagai ganti penolakan atas ajakan Vina untuk menemaninya ikut program bimbel, aku terpaksa mengikuti satu kemauannya lagi yaitu belok ke sebuah Cafe di daerah Tebet untuk makan bareng.
“Dung Angga ama Helen lagi deket ya?” ujarnya membuka obrolan kami sambil ia mulai menikmati chicken cordon blue pesanannya.
“Iya bisa dibilang begitu. Ko kamu tau?” jawabku yg mengakui hubungan Angga dan Helen dengan maksud agar ia tidak curiga apabila aku Regas dan Angga sedang bersama gengnya Clara. Walaupun aku sendiri bingung mengapa harus menutupi ini dari Vina, tapi untuk sementara sepertinya lebih baik begitu kalo harus mengingat sifat hitlernya Vina. Aku khawatir dia akan merusak hubungan PDKT ku dengan Clara.
“Terus kalo kamu ama Clara ada hubungan apa?” tanya sambil agak cuek tapi seperti busur panah yg tepat pada sasaran bagiku yg langsung membuatku tersedak.
“Hubungan gimana? Ya temen sekelas aja. Kebetulan Helen kan temen segengnya jadi suka ikut kumpul bareng.” jelasku agak terbata-bata.
“Oke baik.” jawabnya singkat yg tak kumengerti apa benar-benar baik atau ada sesuatu dibalik itu.
Kamipun akhirnya melanjutkan obrolan lain, hingga makanan diatas meja kami habis. Aku sedikit tenang begitu obrolan tentang Clara tak lagi diperpanjang oleh Vina saat itu.

Akhirnya akupun mengantar Vina pulang kerumahnya yg selama perjalanan tak berhenti memeluku. Seperti biasa begitu sampai didepan rumahnya sekitar pukul setengah 8 malam ia memaksaku untuk mampir namun kutolak dengan berbagai alasan yg akhirnya ia terima.
“Ya udah buka dulu helmnya sebelum pulang.” pintanya pada ku, aku yg tak paham maksudnya membuka helm yg saat itu memang menggunakan helm model full face.
Setelah aku membuka helm dan menghadapkan wajahku ke arahnya serta menanyakan apa lagi yg ia inginkan Vina hanya memajukan wajahnya ke arahku dan mengecup bibir ku.
“Terima kasih hari ini dung.” ucapnya setelah mengecup bibir ku.
Aku yg tak mau ini menjadi panjang langsung hanya merespon Vina dengan tersenyum dan menggunakan helm ku kembali lalu melajukan motorku ke arah rumah yang diiringi teriakan Vina.
“Hati-hati di jalan dung.”

Malam itu aku melaju ke arah rumahku didaerah Mampang melewati Pancoran lurus melalui Jalan Raya Pasar Minggu padahal biasanya aku belok ke Jalan Gatot Subroto. Entah kenapa mungkin karena posisi ku saat itu ada disebelah kiri jalan akibat melamun atas kelakuan Vina tadi sehingga begitu sadar tidak memungkinkan untuk belok langsung tapi kupikir sama saja aku masih bisa belok di Jalan Duren Tiga didepan sana.
Saat itu jalan di daerah duren tiga sana masih cukup sepi mengingat hanya dipenuhi komplek rumah penduduk, jajaran ruko hanya beberapa saja tidak sebanyak sekarang.
Tak lama setelah berbelok ke jalan tersebut, sekelompok motor mendekati ku yg kupikir hanya sedang konvoi namun mereka semakin mempersempit ruang gerakku dan terus menggiringku ke pinggir seakan memerintahkan untuk berhenti. Aku yg terpojok pun berhenti dan sudah dalam kondisi terkepung oleh mereka. Kuperhatikan sepertinya mereka adalah anak SMA karena celana abu-abunya dan beberapa motor tersebut terlihat familiar bagiku.
Benar saja begitu salah satu dari mereka mendekatiku dan membuka helmnya ia adalah Rian.
“Apa kabar bro! Malem banget pulangnya, darimana?” sapa Rian seraya merangkulku.
Aku cukup lama terdiam tak menjawab pertanyaannya untuk memahami situasi saat ini yg sepertinya mulai tak enak bagiku.
“Lo daritadi sengaja ngikutin gue ya yan?” selidiku menanggapi basa-basi Rian.
“Gimana enak abis ngajak jalan pacar orang?” jawabnya yg belum sempat kutanggapi tinju Rian langsung menghantam perut ku tepat diuluh hati yg membuatku langsung tersungkur berlutut. Rasanya leherku langsung dipenuhi sisa makan malam dengan Vina tadi. Belum selesai hilang rasa sakit diuluh hati serta rasa ingin muntah ditenggorokan ku, kaki Rian kembali melayangkan tendangannya ke arah wajah sampingku tepat mengenai kuping dan pipiku yang langsung membuat penglihatanku kabur dan bunyi pengang serta rasa sakit seperti ditusuk paku menjalar dari rahang hingga ujung hidungku.
Rambutku ditarik oleh seseorang dibelakangku yang aku tidak tahu siapa seraya mengangkat tubuhku untuk berdiri dan sekali lagi Rian meninjuku tepat diwajah dan hidungku berkali-kali yang sukses membuatku mimisan. Orang dibelakangku mendorongku dan langsung memukul leher belakangku dengan benda tumpul seperti stik baseball yg membuatku tersungkur jatuh ke arah Rian yg berdiri didepanku.
Rian berjongkok dan mendekati diriku yg sudah babak belur dengan membisikan sesuatu yg sudah bisa ku tebak.
“Jauhi Vina atau lo lebih parah dari ini nji.” seraya menepuk pundaku dan meninggalkanku yg tergeletak tak berdaya. Pandanganku semakin kabur disertai menghilangnya lampu-lampu motor Geng Rian dan tak lama kemudian aku pingsan.

Aku sedikit tersadar melihat diriku yg dibawa petugas Rumah Sakit dan masuk ke sebuah ruangan yg kuyakini adalah UGD. Aku saat itu hanya bersyukur masih ada yg menolong diriku tergeletak dipinggir jalan tadi. Samar-samar aku melihat ayahku sedang menenangkan ibuku yg menangis sambil beridiri melihat kearahku tak lama kemudian semua hanya gelap dan aku kembali tak sadarkan diri.

Aku perlahan kembali membuka mata dari tidurku yg singkat, disamping kanan dan kiri ku sudah ada Regas, Angga, Clara dan Helen.
“Ini di Rumah Sakit nyet ga usah sok drama nanya dimana ya.” ledek Regas yg melihatku tersadar.
“Lo cuma pingsan sehari ga sampe berbulan-bulan jadi jangan sok belaga lupa ingatan.” tambah Angga yg langsung dipukul Helen.
“Kalian ih temen baru sadar udah diledekin.” bela Helen.
“Nji, temen gue ada yg kelojotan nih daritadi pagi khawatirin lo kasian.” ujar Helen yg tak lama seseorang yg merasa disindir Helen langsung memukulnya seraya berkata.
“Apaan sih len rese deh.” jawab Clara.
“Dih, padahal yg khawatir kan ada Regas Angga yg lain, kenapa lo yg geer ra.” lanjut Helen yg masih meledek Clara dan sukses membuatnya salah tingkah.
Aku hanya tersenyum dan menahan tawa mengingat rahangku masih sakit.
Oh iya saat itu aku sudah di kamar perawatan tidak lagi di ruang UGD.
Regas, Angga diajak Helen meninggalkanku untuk memberi kesempatan Clara hanya berdua denganku yg walaupun ditanggapin Clara malu-malu awalnya namun ia tetap tinggal disampingku saat mereka bertiga keluar.

Ilustrasi Clara

Clara menatapku dan duduk dikursi sambil menggeser agar lebih dekat denganku.
“Kamu sekarang istirahat aja nji, biar cepet pulih. Kasian mama kamu khawatir.” pesannya kepadaku sambil tersenyum. Clara yg saat itu pertama kalinya memanggilku dengan sebutan kamu membuatku geer namun sekali lagi hanya bisa kujawab dengan senyum dan anggukan.
“Udah sore nji, aku pulang yah. Biar kamu banyak istirahat, besok aku kesini lagi.” lanjut Clara yg kali ini aku berusaha menjawabnya walau dengan terbata-bata.
“Ma ka sih ya ra.” singkat namun cukup membuat rahang ini ngilu.
Clara tersenyum lalu bangkit dari kursinya dan mengelus dahiku.
“Cepet sembuh ya nji.” tutupnya lalu pamit walaupun sempat masuk lagi bersama Regas Angga dan Helen untuk menemani Helen pamit juga denganku. Mereka berdua akhirnya pulang menyisakan Regas dan Angga.

Aku yakin mereka berdua selain masih ingin menemaniku juga ingin menginterogasi ku lebih lanjut tentang kejadian ini namun mereka justru menyinggung hubunganku dengan Clara dahulu.
“Kagak bilang-bilang ye lagi deketin Clara, kalo gue ga jadian ama Helen kita ga tau nih kampret.” ujar Angga.
“Tau gitu kan kemaren pas Vina nyamperin lo gue usir nyet.” lanjut Regas sambil tertawa dan kemudian mereka berdua terdiam cukup lama.
“Siapa nyet yg ngelakuin ini? Ga mungkin kan lo cuma korban salah pukul atau begal. Motor lo masih ada disana.” selidik Regas memulai sesi interogasinya.
Aku terdiam sejenak untuk berpikir memberitahu mereka atau tidak tapi toh mereka akan memaksa jika tidak tidak diberitahu dan akhirnya aku menjawab singkat.
“Ri an.”
“Anjing! Si kampret, masalah apaan sih? Vina?” tanggap Angga mulai emosi yg kujawab dengan anggukan.
“Kita mesti bales nyet.” lanjut Angga berbicara kepada Regas yg belum sempat ditanggapi aku menarik tangan Angga yg ada di atas kasur dekat tanganku saat itu seraya menggelengkan kepala untuk memintanya tidak usah melakukan hal itu.
“Oke kita ga bales, tapi lo harus aduin masalah ini ke kepala sekolah nyet.” lanjut Angga kepaada Regas masih emosi.
“Kalo itu gue setuju.” tanggap Regas yg segera kutanggapi walaupun rahang ini tak bisa diajak kompromi.
“Please gas ngga. Ja ngan. Kita u dah ke las tiga. Ga lu cu kalo Rian di DO. Apa la gi cuma masa lah ce we. Fak.” jawabku ditutup dengan umpatan atas rahang ini dan kesal begitu ingat ucapan Rian yg mengaku Vina adalah pacarnya, jadi siapa yg bohong kampret umpatku dalam hati.
“Lo masih aja peduli ama si anjing satu itu?” protes Angga emosi.
Aku tetap pada pendirianku, bagaimanapun juga Rian dulu sahabatku dan aku yakin yg membuat ia seperti sekarang ini adalah pergaulannya yg salah atau mungkin memang aku yg salah karena sudah mengajak pacarnya jalan bareng ya walaupun itu bukan kemauanku tapi ah sudah lah aku muak dengan masalah ini.
Regas dan Angga seperti tak puas dengan sikapku namun mereka akhirnya menuruti dan tak lama kemudian akhirnya pamit untuk pulang, namun sebelum pulang Regas kembali berbalik untuk meminta sesuatu kepadaku.
“Yang kali ini tolong jangan lo tolak, gue bakal larang Vina nemuin lo apapun alasannya.” pinta Regas serius yg kujawab dengan senyum dan menganggukan kepala.
“Thanks gas ngga.” jawabku sambil menahan sakit rahang kampret ini.

Keesokan harinya keadaanku berangsur membaik walaupun kepala ini masih sakit seperti dihujam satu sak semen namun rahangku mulai mendingan mungkin karena obat penahan rasa sakit yg diberikan. Seharian aku hanya tergeletak di kasur dan masih belum bisa banyak bergerak, sementara ayah dan ibu gantian menjagaku. Di malam hari saat pulang tugas ayah ku yg menemani mulai sekitar jam 7 dan ia pergi di pagi hari sekitar jam setengah 8 untuk kembali bertugas, ibuku baru ke Rumah Sakit menemani ku sekitar jam 9 mungkin setelah selesai menyiapkan sarapan dan beres-beres rumah namun begitu jam 3 sore sudah pulang lagi meninggalkanku untuk menyiapkan makan malam di rumah.
Jam 4 sore lebih sedikit Regas Angga Clara dan Helen hari itu datang lagi menjenguk. Beruntung Rumas Sakit ini tidak begitu ketat dengan jam besuk ditambah meski hanya di ruang kelas 1 bukan VIP namun kasur sebelahku kosong jadi di tidak perlu khawatir keberisikan kami mengganggu karena di kamar itu hanya aku sendiri.
Kami mengobrol banyak hal dan bercanda tentang kejadian-kejadian di sekolah yg kulewatkan walaupun aku lebih banyak mendengarkan saja mengingat rahang ini belum sepenuhnya pulih.
Seperti biasa Regas Angga dan Helen memberikan waktuku berdua dengan Clara sebelum mereka pulang.
“Maaf ya ra jadi bikin kamu bolos bimbel cuma buat menjengukku.” ucapku membuka obrolan dengannya.
“Apa sih, bimbel mah bisa tiap hari. Tapi kamu di Rumah Sakit kan ga tiap hari.” jawabnya.
“Kalo tiap hari di Rumah Sakit bangkrut orangtua aku ra.” tanggapku bercanda yg membuat Clara tertawa.
“Udah ih ngomongnya jangan sembarangan. Sekarang itu kamu fokus istirahat biar cepet pulih, emang ga kangen sekolah.” ujar Clara sambil tersenyum manis.
“Yang bikin kangen sekolahnya juga udah pada disini.” jawabku mencoba gombal namun masih belum berani sepenuhnya frontal yg Clara jawab dengan tertawa sambil memukul tanganku.
“Aduh.” responku menerima pukulannya.
“Ya ampun sakit ya? Maaf nji.” jawabnya panik.
“Becanda hehe.”
“Ih rese!” ujarnya yg tak lama kemudian Regas Angga dan Helen kembali.
“Udah puas belom pacarannya? Clara nya mau gue bawa pulang nih.” ledek Helen yg membuat Clara salah tingkah dan mencubitnya.
Mereka pun akhirnya pamit pulang seperti biasa Regas dan Angga masih belum pulang namun Angga sempat mengantar Helen dan Clara keparkiran.
“Tadi di sekolah Vina ke kelas nanyain lo ke gue ama Angga. Tapi gue udah ultimatum buat ga perlu lagi ngedeketin lo.” ujar Regas memberitahuku soal Vina.
“Gue juga udah minta Helen dan gengnya serta anak-anak satu kelas buat g ada yg ngasih info apapun apalagi dimana lo di rawat. Ditambah tadi gue juga udah minta perawat sini kalo ada yg ngaku namanya Vina buat larang untuk jenguk lu.” jelas Regas panjang lebar yg menunjukan usaha terbaik untuk sahabatnya yg membuatku bersyukur punya temen kaya dia dan Angga.
Tak lama Angga kembali dan kami mengobrol beberapa hal tentang sekolah, hubungan mereka dengan geng Clara dan hal lain yg sekitar 30 menit berlalu Regas dan Angga pun pamit pulang.

Hari ketiga aku di Rumah Sakit tidak seperi biasanya, hanya Clara yang datang menemui sore itu.
“Gak tau, anak-anak katanya ada urusan tadi.” jawab Clara sambil cemberut menceritakan alasan mengapa ia hanya sendiri yg menjenguku namun aku yakin itu hanya akal-akalan Regas Angga dan Helen.
“Kamu bolos bimbel lagi dong ra?” tanyaku mengingatkannya.
“Eh iya kamu kan udah mendingan, biar ga lupa ama pelajaran sekolah bantuin aku ngerjain tugas yuk.” ucapnya mendadak semangat begitu mendapatkan ide tanpa menghiraukan kekhawatiranku akan dirinya yg sudah dua hari membolos bimbel.
Kamipun asik mengerjakan tugas yg memang cukup banyak namun bersyukur aku masih paham sehingga walaupun aku yg sudah tiga hari tidak masuk sekolah justru Clara yg aku ajari menyelesaikan soalnya bukan sebaliknya.
Tak terasa Clara menemaniku hingga malam dan membuatnya bertemu dengan ayahku.
“Wah ada tamu rupanya, cantik sekali siapa ini nji? Pacar kau?” sapa ayahku dengan logat bataknya saat pertama datang. Ayahku ini sebenernya asli orang jawa namun hanya karena pernah sekitar 7 tahun ditugaskan di Medan saat aku kecil hingga lulus SD membuat logat bicara seperti batak. Ya batak kw menurutku dan di satuannya ia dijuluk letbal Letnan Batak Abal (abal itu palsu).
“Malam om.” sapa Clara yg memperkenalkan diri.
“Temen sekolah pah.” ujarku menjelaskan kepada ayah.
“Halah kau pikir aku tak pernah muda, mana mungkin cuma teman paham lah aku.” ujar ayahku yg membuat Clara salah tingkah.
“Kalaupun belum pacaran minimal pasti ada lah rasa suka, bisa ku lihat dari raut wajah kalian ini.” lanjut ayahku yg membuat Clara wajahnya memerah makin tersipu malu.
Ayahku tak lama pamit sebentar untuk mencari makan katanya dan saat ia meninggalkan kamar ini aku dan Clara saling berpandangan dan tertawa.
“Ajaib ya bokap gue?”
“Ajaib banget.” ujar Clara
“Tapi asik ko nji.” lanjut Clara tersenyum.
Akhirnya Clara pun pamit saat ayahku kembali dan ayah sempat menawarkan untuk mengantar pulang mengingat hari sudah malam namun ditolak halus oleh Clara dan menjelaskan bahwa dirinya membawa mobil yg menbuat ayahku tenang.

Selama seminggu aku dirawat penuh di Rumah Sakit selama itu pula setiap pulang sekolah Clara menemuiku seorang diri membawakan makanan, mengerjakan tugas-tugas sekolah dan mengajarinya soal-soal. Aku yakin Regas Angga dan Helen sengaja membiarkan Clara menjenguku sendiri untuk memberikan waktu kami hanya berduaan. Aku yg mengkhawatirkan bimbel Clara pun dijawab santai karena toh di Rumah Sakit ia tetap belajar denganku yg menurutnya lebih gampang masuk ke otaknya dibanding mentornya di bimbel sana.
Clara pulang saat ayahku tiba walaupun sempat berbincang sedikit sekitar 15 menit dan kemudian pamit.

Hari sabtu giliran Regas dan Angga yg menjengukku, Clara absen karena harus menemani Mamanya namun ia sempat menelepon dan itu lebih dari cukup membuatku makin geer akan hubungan kami.
Minggu siang aku diijinkan pulang, akhirnya bisa kembali ke rumah dan tak sabar ingin segera masuk sekolah walaupun aku masih diminta istirahat di rumah selama tiga hari. Aku pun mengabari Regas dan Angga khawatir mereka berdua akan menjengukku lagi.

Senin pagi aku sempat memaksa ibuku untuk mengijinkan ku masuk sekolah namun ditolak, ibu tetap memintaku untuk istirahat hingga kontrol lagi di hari selasa dan mendapat persetujuan dokter untuk kembali bersekolah. Aku hanya bisa tertunduk lemas dan menggerutu. Bosan rasanya dirumah tidak melakukan apapun padahal seluruh badanku sudah merasa baikan, akupun akhirnya hanya tiduran di kamarku.
Sekitar jam 10 pintu kamarku ada mengetuk, aku pun menjawab dengan menpersilahkan masuk karena kupikir ibuku namun justru yg masuk adalah seseorang berpakaian seragam putih abu yang sudah seminggu ini aku lupa pernah mengenalnya.

“Vina.”

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 5 | Ketika Kita Muda Part 5 – END

(Ketika Kita Muda Part 4)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 6)