Ketika Kita Muda Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 4

Start Ketika Kita Muda Part 4 | Ketika Kita Muda Part 4 Start

The Accident

Siang itu sekolah pulang lebih cepat dari biasanya karena masih minggu orientasi anak-anak kelas satu sehingga pukul 1 siang semua siswa sudah bubar. Aku yg memang sudah janjian dengan Vina langsung melajukan motorku ke arah Cafe TB tempat kami bertemu. Sebelum itu Regas dan Angga yg mengetahui aku akan menemui Vina menyarankan untuk meminta penjelasan Vina yg kujawab dengan anggukan.

Ilustrasi Vina

Dan sekarang disinilah aku dan Vina, duduk di tempat cafe tempat biasa kami menghabiskan waktu sepulang sekolah dulu bahkan masih diposisi favorit Vina, dipinggir dekat jendela yg terdapat rak majalah disebelahnya.
“Udah berapa lama ya dung kita ga kesini?.” ucapnya membuka obrolan kami yg kujawab hanya dengan menaikan kedua pundaku.
“Irit banget sih daritadi ngomongnya dung.” lanjut Vina.
“Langsung aja Vin, ada apa ngajak ketemu disini?” pintaku singkat dengan nada sedikit ketus.
“Kamu kenapa menjauh sih dari aku dung.” tanya Vina seraya tangannya mendekat kearah tanganku dan memegangnya.
“Kalo gara-gara berita hubungan aku dengan Rian, aku bisa jelasin dung.” lanjutnya menjelaskan kepadaku.
“Apa yg mau dijelasin Vin? Kan udah jelas kalian jadian. Aku kan bukan siapa-siapa kamu jadi ga perlu penjelasan lebih dari itu.” elaku yg tentunya ucapan ini berlawan dengan kata hatiku.
“Dung. Aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu dung.” ujarnya yang itu membuatku heran. Vina ini apa sih, ratu drama atau memang terobsesi menjadi artis gumamku dalam hati.
“Aku bingung dung, setelah sekian lamanya kita deket ga pernah sedikitpun pengakuan pacar keluar dari mulut kamu untuk aku.”
“Setelah aku mencoba masuk dalam hidup kamu, kenal sahabat-sahabat kamu, mama kamu tapi kayanya itu masih belum cukup untuk membuatku diakui oleh kamu dung.” lanjutnya menjelaskan dengan nada mulai terbata-terbata seakan menahan tangis.
“Lalu akhirnya kamu memilih untuk jadian dengan Rian karena lelah mengikutiku yg tidak ada kejelasan? Sepenting itu status bagi kamu dibanding perasaan?” tanyaku dengan nada yg rendah namun menyelidik seperti menyindir.
“Aku memilih jadian dengan Rian karena aku tahu dia pernah jadi sahabat kamu, dan rumah kalian berdekatan. Kupikir dengan berjadian dengan Rian bisa membuatku lebih dekat dengan mu, mendapat informasi tentangmu yg belum kuketahui. Apalagi saat itu selama liburan try out kamu hilang entah kemana. Aku kangen dung. Aku kerumah Rian cuma berharap ketemu kamu.” lanjutnya panjang lebar menjelaskan dengan nada terisak seakan tak mampu menahan air matanya yg jatuh perlahan di pipinya.
Aku yg mendengar penjelasannya sangat binggung saat itu, logika ku menolak semua penjelasan Vina yg sangat tidak masuk akal. Jadian dengan Rian hanya untuk dekat dengan ku? Jalan pikir macam apa itu gumam ku dalam hati. Namun disaat yg bersamaan aku pun tidak tega melihat Vina yg terisak-isak menahan tangis didepanku.
“Aku sekarang sudah putus dengan Rian, karena begitu jadian dengannya hanya membuat kamu semakin menjauh dari aku. Aku tidak tahan dung. Makannya sekarang aku datang lagi, berharap setelah kamu tau aku dan Rian sudah tidak ada hubungan lagi kita bisa dekat lagi kaya dulu.” ujar Vina melanjutkan pejelasannya.
“Ga segampang itu Vin. Kamu tau sejak kamu jadian dengan Rian gosip apa yg beredar di sekolah tentang aku? Lalu apa jadinya jika sekarang aku kembali dekat dengan mu.” jawabku saat itu yg apabila kuingat kembali sekarang jawabanku itu benar-benar sangat egois. Namun begitulah aku saat itu yg mungkin pola pikirnya masih didominasi oleh hormon puber.
“Aku paham dung. Maafin aku. Aku tau semuanya perlu waktu, tapi tolong kasih aku kesempatan.” pintanya iba yg membuatku tak sanggup untuk menolak permintaanya.
“Vin gini, kamu ga usah minta maaf, aku terima penjelasan kamu. Aku g akan lagi menghindar dari kamu. Tapi satu hal, aku saat ini belum bisa kaya dulu lagi. Aku harap kamu ngerti.” jawabku berharap itu bisa menenangkan Vina.
Vina tersenyum dengan mata sembabnya dan mengangguk.
Tak lama kemudian aku mengajaknya pulang, entah mengapa aku ingin segera pergi dari tempat itu karena khawatir apabila ada anak sekolahku yg melihat aku dan Vina berduaan.
Saat itu kami berpisah di Cafe, aku tidak mengantarnya pulang karena ia dijemput oleh adiknya. Vina tidak ingin memaksaku mengantarnya yg tau diriku masih ingin menjaga jarak darinya.
Maafkan aku vin, rasa ini sudah terlanjur kubuang dan kalah oleh keegoisanku.

Seminggu berlalu, masa orientasi pun telah selesai. Aktifitas sekolah berjalan berangsur normal bahkan lebih ketat dari biasanya terutama untuk kami para anak kelas 3 selain untuk persiapan ujian nasional dan SPMB serta beban tambahan sebagai kelas unggulan 3 IPA 1 harus diminta melewati rekor pendahulu kami dalam persentasi lolos universitas negeri dan luar negeri.

Beberapa kepengurusan organisasi pun mulai saling serah terima jabatan kepada anak kelas 2, yang juga otomatis Regas sudah tidak lagi aktif di OSIS dan membuat kami bertiga semakin sering kumpul di rumah Angga untuk belajar walaupun lebih banyak waktu main ps dan ngabisin isi kulkasnya dibanding belajar.

Hubungan ku dengan Vina baik-baik saja, namun aku tak pernah lagi menemuinya secara rutin seperti dahulu bahkan apabila bertemu dengan Vina tak pernah berdua lagi hampir selalu berempat dengan Regas dan Angga sambil makan siang di kantin. Perasaanku ke Vina? Entahlah, sepertinya sudah hambar. Bertemu dan mengobrol dengannya sudah tidak lagi membuatku antusias seperti dulu. Respon Vina pun tak banyak berubah, meski masih memanggilku dengan sebutan hidung ia tak lagi mengajak bertemu berdua atau meminta untuk diantar pulang, menelopon pun sudah tidak pernah. Aku harap ini semua sudah normal tanpa perlu ada lagi rasa diantara aku dan Vina, cukuplah predikat ‘teman’ menemani hubungan kami.

Sementara itu sekitar dua bulan berlalu aku yg mulai bosan dengan keadaan kelasku yg selalu sibuk dengan pelajaran bahkan disaat jam istirahat selalu mengajak Regas dan Angga keluar kelas disela mata pelajaran tambahan. Biarku jelaskan sedikit, anak kelas 3 saat itu mulai diberikan tambahan pelajaran sepulang sekolah sehingga jam pulang kami semakin mundur ke jam 4 sore.
Selama satu jam tambahan pelajaran guru biasanya membuka kelas memberikan sedikit penjelasan dan contoh soal lalu meninggalkan kami setelah memberikan tugas menyelesaikan sekitar 50 soal latihan UN. Nah disaat guru pergi meninggalkan kelas tsb yg sering aku Regas dan Angga gunakan untuk keluar dan pindah ke kantin lalu kembali sekitar 15 menit sebelum kelas usai.
Suatu hari jam tambahan diganti dengan praktikum Kimia sebagai salah satu persiapan ujian praktek nanti. Mengingat ini adalah kegiatan praktikum dimana guru harus mengawasi maka aku Regas dan Angga tidak bisa melakukan aktifitas keluar kelas seperti biasa yg membuat otaku lelah dan mengantuk ingin segera rasanya jam pelajaran ini berakhir. Sepertinya semua anak-anak satu kelas memiliki pemikiran yg sama denganku sehingga saat bel berbunyi sontak semua langsung semangat untuk bergegas pulang.
Aku yg sedang bertugas piket hari itu terpaksa merapihan dulu alat-alat lab ketempatnya semula dan ditinggal oleh Regas dan Angga yg meluncur ke kantin karena sudah kelaparan.
Ditengah aktifitas ku yg sedang fokus merapihkan alat-alat dengan terburu-buru karena ingin segera menyusul Regas dan Angga, tiba-tiba aku menabrak seseorang dibelakangku ketika melangkah mundur dengan membawa beberapa gelas kimia yg tersusun dalam palet kayu ditanganku.
“Bukk! Prangg!!” terdengar cukup keras saat itu yg membuat beberapa gelas kimia tadi pecah dan dilanjut dengan rintihan suara seorang wanita.
“Aduuuuh sakiiiit.”
Aku langsung berbalik badan dan melihat ternyata Clara yg tersungkur dan masih duduk dibawah lantai merintih kesakitan.
“Ya ampun sori ra.” ujarku segera meletakan kayu tempat gelas kimia ke meja dan duduk melihat kondisi Clara.
Kuperhatikan sikut tangannya biru seperti membentur lantai dan lengannya tergores pecahan gelas kimia lumayan panjang sehingga darahnya mengalir.
Aku berusaha untuk tidak panik dan segera mengambil kain kasa di kotak obat yg ada di ruang lab dan kembali untuk mengelap darah yg mengalir dilengan Clara.
“Tolong pegang dulu ra.” ujarku kepada Clara untuk memegang kain kasa tadi menekan ke lukanya untuk menahan aliran darahnya sembari aku melipat kasa baru dengan ukuran luka yg sama dilengan Clara. Lalu kulumuri betadine dan memintanya untuk mengangkat kasa yg dia pegang kemudian mutupnya dengan kain kasa lipatan ku tadi dan merekatkannya dengan plester.
“Ini hanya sementara, gue anter ke UKS ya ra.” pintaku karena perbanku sangat tidak rapih dan tentunya khawatir apabila luka goresan pecahan gelas bekas bahan kimia tadi bereaksi infeksi terhadap lukanya.
Permintaan ku tadi dijawab Clara dengan anggukan dan kami berjalan kearah UKS bersama dimana aku sembari membawakan tas dan beberapa buku miliknya.

Ilustrasi Clara

Di UKS anak PMR pun hanya mengganti kasa yg kubuat dengan kasa yg lebih rapih setidaknya itu membuat aliran darah dilengan Clara terhenti dan mereka tetap menyarankan Clara untuk ke dokter memastikan tidak ada infeksi pada lukanya.
Mengetahui hal tersebut aku pun menawarkan diri untuk mengantar Clara ke Rumah Sakit sebagai permintaan maafku.
“Gue anter lo ke Rumah Sakit ya ra.” pintaku yg masih membawa tas serta bukunya berjalan berdua kearah parkiran sekolah.
“Ga usah nji gue bisa sendiri, ada dokter yg biasa dikunjungi keluarga gue di rumah sakit itu ko (Clara menyebutkan salah satu Rumah Sakit swasta di daerah Semanggi).” ujarnya seraya tersenyum meyakinkan aku bahwa ia baik-baik saja.
“Oh oke, kalo gitu gue boleh minta nomor telepon?” ucapanku terhenti sejenak dan melanjutkan alasanku agar ia tak salah paham.
“Gue mau mastiin lo baik-baik aja, atau kalau perlu biayanya nanti gue yg bayar.” lanjutku.
“Nomor telepon dokternya nji?.” tanyanya salah paham.
“Nomor telepon elo lah ra.” jawabku yg diiring tertawa kecil dirinya. Sungguh anggun dan membuat rasa uluh hatiku tersesak, perasaan apa ini gumamku dalam hati.
“Oh bilang dong nji, ngomong setengah-setengah sih.” ucap Clara seraya menyebutkan nomor handphone miliknya yg segera ku simpan ke handphone ku.
Sebelum Clara masuk kedalam mobil miliknya aku sekali lagi menawarkannya untuk mengantar tapi dia tetap menolak dan meyakinkan aku kalo ia baik-baik saja. Mobil jazz hitam itu pun berlalu didepan mataku meninggalkan gerbang sekolah.

Ada sesuatu yg mengganjal pikiran ku saat itu, sesuatu yg tidak biasa dan sesuatu itu adalah bagaimana ceritanya Clara sendiri sedari tadi. Kemana perginya teman-temannya yg centil itu, gumamku dalam hati. Namun ditengah pertanyaan tersebut dalam otaku, aku langsung menaiki motorku dan mengarahkannya kerumah Angga seperti biasa.

“Tumben lama nyet?” sapa Regas begitu aku tiba masuk ke kamar Angga.
“Abis jatohin anak orang.” jawabku asal yg malah ditanggapi serius oleh Angga dengan mem’pause’ gamenya bersama Regas.
“Serius nyet? Tabrakan?”
Aku pun menceritakan secara detail kejadian Clara tadi kepada Regas dan Angga.
“Beruntung lo nyet.” tanggap Regas.
“Ko gitu?” tanyaku penasaran.
“Iyalah, coba kalo Clara ga nolak. Lo emang sanggup bayar tagihan Rumah Sakitnya?” ledek Regas kepadaku.
“Kan ada Angga hehe.” tanggap ku sambil cengengesan yang dibalas Angga dengan melempar stik ps nya kearahku.

Malamnya di rumah aku seperti cacing kepanasan yg tak bisa diam, bergerak kesana kemari memutari kamarku hanya untuk mengumpulkan keberanian menelepon Clara. Sambil berusaha mencari kalimat yg pas untuk memulai obrolan nanti. Aku pun heran kepada diri ku saat itu, mengapa sebegitu gugupnya hanya untuk menelepon Clara. Padahal dulu kami sempat saling sapa dan bercanda ketika dibeberapa pelajaran kami sekelompok bareng. Pikiranku malah menerawang jauh mengingat kembali sejak kapan sebenarnya aku dan Clara berhenti berkomunikasi. Memang aku pernah bercerita tentang kejadian saat praktikum Biologi dimana aku dan Clara dihukum untuk berdiri dibawah tiang bendera dan sejak saat itu aku dipisahkan kelompok dengan Clara yg membuat kami hampir tidak pernah berkomunikasi lagi. Namun aku masih mencoba mengingat apa ada alasan lain diluar itu, dan obrolan lain dengan Clara diluar itu.

“Aaakhhhh” teriaku kesal tak bisa mengingat dan menemukan jawabannya. Kuperhatikan waktu menunjukan pukul 7.30 malam, tersadar waktu semakin larut aku segera menelepon Clara khawatir dirinya sudah tidur.
Hanya butuh dua kali nada dering teleponku pun diangkat Clara yg langsung ku sapa dirinya dengan sedikit gugup.
“Hai ra, malam.”
“Malam, siapa ya?” selidiknya.
Aku lupa Clara tidak tahu nomorku, ini adalah pertama kalinya aku menghubungi dia.
“Panji ra.”
“Oh pelaku tabrak lari tadi ya. Hahaha” sapanya ramah begitu mengetahui aku yg menelepon sambil tertawa.
Sepertinya ia baik-baik saja gumamku dalam hati.
“Jangan gitu, gue tadi tanggungjawab loh, kan elo yg nolak.” jawabku.
“Iya becanda nji. Kenapa? Mau minta billing tagihan berobat gue tadi?” ledeknya.
“Oh iya ra kirim aja gak apa-apa, kan emang salah gue.” jawabku yg cukup kaget ia masih mengingat terkait tawaranku tadi siang. Kupikir ia sudah lupa, padahal aku hanya basa basi tadi.
“Hahaha ya kagak lah nji, ga usah berlebihan ah. Gue ga kenapa-kenapa kok. Tenang. Paling bekas lukanya aja nih nanti bisa ngerusak tangan mulus gue.” jawabnya lagi dengan nada sedikit menyindir diriku namun kutahu ia pasti bercanda.
“Nanti juga lama-lama ilang kan?” tanggapku singkat.
“Ya ga bisa lah, harus beli derm gel nih mahal.” jawabnya kali ini sepertinya serius.
Aku yg menelepon sambil didepan notebook ku pun segera mengetik harga derm gel di google dan kudapati harganya 200.000 rupiah namun ukurannya sangat kecil paling hanya bisa digunakan untuk seminggu.
“Derm gel sekotak kecil gitu butuh berapa banyak buat sampe bener-bener ilang ra?.” tanyaku polos yang Clara jawab asal namun kupikir serius.
“Dua puluh.”
“What? Empat juta?” teriaku kaget yg reflek menghitung total 20 kotak derm gel dan disambut gelak tawa oleh Clara diujung telepon sana.
“Hahaha cantik itu mahal nji.” jawabnya sambil melanjutkan tertawa.
“Serius ra?” tanyaku meyakinkan permintaan Clara.
“Iya nji.” ujarnya singkat.
“Eh nji udah lama ya kita ga ngobrol, kapan sih terakhir?.” lanjutnya mengalihkan pembicaraan tentang derm gel kampret yg mahal itu.
Aku berpikir sejenak untuk mencoba menjawab tentang kejadian praktikum Biologi itu apa akan membuatnya badmood atau tidak namun belum sempat berpikir lebih jauh Clara sudah menyadarkan ku dari lamunan.
“Nji? Are you ok?” tanya Clara
“Eh ya sorry. I think Lab Biology incident, do you remember?” (Kayanya kejadian praktikum biologi, masih inget?) jawabku reflek.
Lama Clara tidak menjawab yg membuatku agak deg-degan dan sedikit cemas akan responnya namun akhirnya suara Clara disebeang sana pun menjawab.
“So nostalgic, wasn’t it?” (Nostalgia banget ya?) jawabnya singkat yg membuatku sedikit tersenyum. Kalo baginya kejadian itu berarti untuk diingat mengapa setelahnya kami tak lagi saling sapa gumamku dalam hati.

Malam itu kami menelepon cukup lama mulai dari membahas tentang Pak Ito, dan akhirnya Clara bercerita maksud dari perkataanya saat itu tentang Reinkarnasi.
Ternyata Clara selama ini dituntut oleh orang tuanya untuk selalu mendapat prestasi terbaik di sekolah, diluar jadwal fullday school Clara masih harus lanjut bimbel yg cukup terkenal di daerah Tebet hingga pukul 7 malam. Akhirnya aku paham dan baru sadar ternyata itu alasan Clara selalu pulang seorang diri tanpa geng centilnya.
Ia pun akhirnya bercerita juga tentang pengakuannya mengapa ia bisa dipindahkan ke kelas 3 IPA 1 itu karena permintaannya kepada guru-guru terutama Ibu Ida untuk memohon dipindahkan ke kelas 3 IPA 1 karena jika tidak bisa-bisa orangtuanya mengirim Clara kembali untuk bersekolah di London. Menurutnya ia lebih baik mendapat cibiran dari satu sekolah dibanding harus kembali ke London.
Clara pun bercerita bahwa nilai ia turun semenjak berpacaran dengan Dicky dan akhirnya meminta putus sebelum orang tuanya tahu tentang itu.
Mendengar cerita Clara aku bergumam dalam hati, Angga kampret kalo bikin gosip.
Aku pun mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kepadanya mengapa ia memilih untuk masuk kelas 3 IPA 1 dibanding kembali ke London namun belum sempat ia menjawab Clara minta ijin menutup telepon karena orangtuanya mengetuk pintu kamarnya.
“See you nji.” tutupnya yg kubalas.
“See you ra.”

Keesokan harinya aku sedikit bersemangat mengingat hubunganku dengan Clara yang sudah membaik dan berharap nanti disekolah bisa saling sapa seperti dulu lagi. Namun begitu ingat obrolan tentang derm gel, aku hanya bisa mengeluh “Ah fuck.” umpatku.
Saat menyusuri jalan ke sekolah di pagi hari aku menemukan apotik 24 jam dan membelokan motorku kesana untuk mencari derm gel yg sudah kujanjikan pada Clara.
Aku pun hanya membeli satu dahulu, kupikir lebih baik aku beli mingguan sehingga tidak langsung menguras isi tabunganku. “Oh fuck 4 juta” umpatku lagi kalo harus mengingat total semuanya.

Sampai di sekolah aku hampir telat karena tadi cukup lama mampir di apotik, namun setelah negosiasi Pak Karim satpam sekolah kami akhirnya membukakan pintu untuk ku. “Makasih pak karim!” teriaku sambil memasukan motor kearah parkiran. Hari itu aku sedikit beruntung karena meskipun telat, aku tetap datang lebih dulu beberapa detik dari Pak Saiful guru Matematika kami saat itu, jika tidak bisa berakhir dibawah tiang bendera lagi pikirku.
Sepanjang pelajaran beberapa kali aku menoleh kearah meja tempat Clara duduk bersama Helen teman sebangkunya yg juga teman segengnya. Kuperhatian Clara sangat fokus yg mebuatku tersenyum bahwa ceritanya semalam tentang tunturan orang tuanya sepertinya benar begitu adanya. Rasanya aku tak sabar menanti bel jam istirahat pertama berbunyi untuk menyapa Clara dan memberikan derm gel yg ia pinta semalam.

Saat jam istirahat pertama berbunyi seperti biasa Clara dan gengnya beranjak dari meja mereka keluar kelas untuk menuju kantin, aku segera bangkit yg membuat Regas dan Angga heran mengapa aku meninggalkan mereka tanpa mengajak. Aku sedikit berlari untuk mencegat Clara yg saat itu sedang berjalan bersama Helen namun ketika tanganku melambai untuk menyapa, Clara justru membuang muka dan mengacuhkanku.
Whaaaat? teriaku dalam hati.
Regas dan Angga yg heran daritadi segera menyusulku kedepan kelas (mengingat posisi duduk kami paling belakang).
“Lo ngejar apaan sih nyet?” tanya Regas yg kujawab dengan ajakan ke kantin.
“Kantin yuk laper.” jawabku singkat yg direspon Angga dengan melempar tutup pulpen ditangannya. Di kantin meski meja makan aku bertiga bersebelahan dengan meja Clara dan gengnya namun Clara seperti sama sekali tidak mau menoleh kearah ku.

Setelah itu aku tak lagi berusaha mengejar Clara untuk memberikan derm gel ini, aku terlanjur kesal atas sikapnya kepadaku. Namun saat pulang sekolah, aku seperti biasa berjalan keparkiran untuk mengambil motorku mendapati Clara sedang berdiri didepan mobilnya seperti menunggu seseorang.
Aku yg masih kesal mencoba berlalu dan mengabaikan Clara disana namun langkahku tertahan ketika ia memanggilku.
“Nji tunggu.”
Aku berhenti dan menoleh kearahnya, Clara sedikit berlari kearahku yg posisinya saat itu cukup jauh darinya. Sambil ngos-ngosan Clara pun memulai pembicaraannya yang awalnya kurang jelas dan tak terdengar lalu kupinta untuk mengulanginya.
Clara mengambil nafas sebentar dan berjalan untuk memperdekat jarak kami agar suara ia terdengar jelas.
“Sori tadi nyuekin lo nji.” jelasnya.
“Oh sengaja? Salah gue apa emang ra?” tanyaku meminta penjelasannya namun dengan nada rendah.
“Gue yg salah nji bukan lo, tapi gue bisa jelasin.” ujarnya dan menjelaskan bahwa teman-teman segengnya sudah diultimatum oleh orangtuanya untuk menjaga Clara agar fokus belajar dan tidak boleh dekat dengan cowo manapun.

Aku yg mendengar ucapannya membuka tas dan mengambil derm gel lalu memberikannya.
“Gue cuma mau ngasih ini ko.” ucapku lalu pamit meski Clara sempat mencegahku sepertinya masih ada yg ia ingin bicarakan namun aku sudah terlalu malas hari itu menanggapinya. Aku kemudian menaiki motorku dan mengarahkannya langsung kerumah untuk pulang. Bahkan tidak biasanya akupun kehilangan semangat untuk bermain kerumah Angga.

Sekitar jam 7 malam setelah makan aku masuk ke kamar dan mendapati handphone ku berdering yg langsung kuangat begitu tahu yg menelepon adalah Clara.
“Malam nji.” sapa Clara.
“Malam ra.” kujawab.
“Nji tadi buru-buru banget sih, gue belom bilang makasih buat derm gelnya. Makasih ya.” ujar Clara.
“Oh iya kan kemarin malem gue udah janji.” jawabku datar.
“Hahaha gue kan cuma becanda panji. Makasih sekali lagi pasti nanti gue pake, tapi udah ini aja ya ga usah dibeliin lagi luka kaya gini mah nanti juga ilang ko.” jelasnya dengan nada yg sangat ramah dan lembut.
“Oh iya ra gak apa-apa.” jawabku masih dengan nada yang datar.
Kami berdua diam sejenak sekitar beberapa detik namun Clara memulai pembicaraan lagi memecah keheningan tadi.
“Nji maaf banget yah soal hari ini di sekolah, kemarin tuh gue sebenernya mau cerita ini juga ke lo cuma keburu udahan teleponnya. Gue belom cerita sama sekali ke temen-temen, takutnya mereka salah paham kalo tiba-tiba lo nongol. Jadi kasih gue waktu buat jelasin ke mereka dulu yah. Mereka sebenernya bisa diajak cincay ko ama gue.” jelas Clara seolah mengkonfirmasi kejadian hari ini dan berupaya agar aku dan dia kedepannya bisa lanjut berkomunikasi yang tentu membuatku sedikit kegeeran.
“Iya ra sori juga, gue tadi agak ketus karena keburu bete ama sikap lo seharian.” jawabku luluh atas penjelasan Clara.
“Gak apa-apa nji, gue yg salah ko. Thanks yah.” jawabnya dengan nada yang terdengar ceria.
Malam itu kami kembali mengobrol cukup lama, bahkan Clara sempat menanyakan benerapa tugas sekolah dan akhirnya kami seperti mengerjakan tugas bersama via telepon hingga kupingku cukup panas.
Akhirnya telepon berakhir dan ditutup dengan ucapan selamat malam dari ku yg mencoba memberanikan diri melangkah lebih dulu dari Clara.
“Goodnight ra, see you.” jawabku dan cemas menunggu jawaban Clara.
“Goodnight too nji. See you tomorrow.” jawabnya manis.

Keesokan harinya ketika baru sampe di kelas dan berjalan menuju mejaku, Regas dan Angga yg sudah duduk disana langsung melempariku dengan gumpalan kertas yg sepertinya sengaja mereka siapkan mengingat jumlahnya cukup banyak. Aku pikir mereka sudah datang dari 30 menit yg lalu.
“Kampret! Ga bilang-bilang kalo langsung pulang. Gue nungguin sampe klinik 24 jam aja tutup.” ujar Regas kesal sambil terus melempari aku dengan gumpalan kertas.
“Sori sori lupa wey! Berhenti dulu napa.” ujarku yg sambil sibuk menghindari kertas lemparan mereka berdua.
“Masih untung cuma pake kertas, kalo pake batu gue dapet pahala jumroh nih tau ga.” balas Angga yg sama kesalnya dengan Regas.
Hingga akhirnya Mutia ketua kelas menegur Regas dan Angga, bukan maksud Mutia membelaku ia hanya menyelematkan dirinya dari teguran guru mengingat hasil lemparan kertas Regas dan Angga sukses membuat berantakan isi kelas.
“Siapa yang tanggungjawab?” ujar Mutia ketus.
Regas dan Angga kompak menunjuk diriku.
Fuck gumamku dalam hati, aku memilih tidak mengelak dari tuduhan dua kampret biadab itu karena apabila mengelak mereka akan merencanakan sesuatu yg lebih dari ini.

Aku pun mengambil sapu dan mulai membersihkan gumpalan kertas yg bertebaran dimana-dimana, Regas dan Angga memasang wajah innocent sambil membaca komik saat aku melihat kearah mereka. Sambel umpatku dalam hati. Kemudian saat aku berputar badan melihat kearah meja Clara kutemui ia sedang memperhatikanku dan tersenyum namun tak kubalas mengingat obrolan semalam namun Clara justru beranjak dari kursinya dan menghampiriku seraya berkata.
“Sini nji gue bantu.” ujarnya sambil mengulurkan tangan meminta sapu yg ditanganku.
“Katanya di sekolah ga boleh nyapa.” jawabku sambil tetap menyapu.
“Hari ini kan emang giliran gue yg piket.” jawabnya ramah.
Aku memperhatikan wajahnya sejenak, yg dibalas dengan senyuman lalu kuberikan sapu tersebut ke Clara.
“Gue ambil pengki dulu, tinggal dibuang ko.” jawabku singkat seraya berjalan mengambil pengki dan kembali ke tempat Clara berdiri.
Namun kuperhatikan Helen tiba-tiba mendekat dan berdiri didepan Clara seolah sedang melindungi Clara dari serangan musuh, aku pun mengekerutkan dahi heran melihat tingkah Helen.
“Heh panji! Lo jadi cowo ga gentle banget sih. Masa cewe secantik Clara disuruh nyapu.” ketusnya.
“Lah kan bukan.” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku Helen memotong lagi.
“Terakhir kali ya gue nemuin kejadian begini, awas lo macem-macem ama temen gue.” hardik Helen dengan nada yg semakin ketus yg membuat seisi kelas memperhatikan kami.
Aku menengok ke arah Clara, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya seolah memberi isyarat padaku tidak usah menanggapi Helen namun saat aku mau menuruti perintah Clara tiba-tiba Regas dan Angga malah menghampiri kami seolah ingin ikut campur.
“Pagi-pagi udah marah aja sih helen, ntar cantiknya ilang loh.” gombal Angga.
Aku yg ingin menarik tangan Angga dicegah oleh Regas, seolah memintaku untuk membiarkan Angga.
Regas Angga dan Helen malah beradu mulut panjang walaupun lebih terlihat bahwa itu hanya upaya Angga mengulur obrolan agar tak berhenti.
Menyadari Helen sedang asik berdebat, Clara perlahan beranjak dari posisinya dan mendekat kearahku lalu menarik tanganku seraya membisiki sesuatu.
“Biarin aja mereka.”
“Loh ko gitu? Mereka berantem loh.” heranku
Clara menoleh ke arah Regas dan berkata
“Kasih tau temen lo gas biar lebih peka.”
“Lo ga bisa banget liat temen hepi ya nyet.” jawab Regas menambahi ucapan Clara.
Setelah berpikir sejenak akupun mulai paham seraya berucap.
“Oh Angga suka sama Helen? Sejak kapan?.” ujarku.
Yang hanya direspon gelengan kepala Regas seolah menjawab kemana aja sih lo bego dan meninggalkanku didepan kelas untuk kembali ke kursinya.
Clara menghampiriku dan membisikan sesuatu yg membuatku sangat geer.
“Kita harus dukung mereka, biar nanti kalo mereka deket kita juga bisa ikutan deket.”
“Mak comblang nih kita.” kataku yg direspon Clara dengan mengangguk dan kami berdua pun tertawa.

Entah bagaimana kejadian pagi tadi justru membuat aku Regas dan Angga serta geng Clara termasuk Helen sekarang berkumpul satu meja di kantin siang ini di jam istirahat kedua. Oh iya sepertinya aku tidak perlu menyebutkan sisa nama-nama teman segeng Clara mengingat tidak akan banyak nongol dicerita ini kecuali Helen.
“Angga jago juga ya sepiknya.” ucapku kepada Regas berbisik.
“Kalo dia mau ngembat Vina, lo udah abis dari awal nyet.” ujar Regas meledeku yg kujawab dengan tempelengan kepala dan berucap.
“Kampret!”
Clara yg tepat berada didepan aku dan Regas memperhatikan kami dan aku tak tahu apa ia mendengar percakapan ku dengan Regas namun melihat ia tersenyum dan menggelengkan kepala sepertinya tidak.

Tak lama aku dikagetkan oleh seseorang yg menyapaku dengan nada dan suara yg sangat kukenal, Vina.
“Hai sori ganggu nih, boleh pinjem panji sebentar kan.” ucap Vina kepada semua orang dimejaku dan tanpa persetujuan menarik tanganku untuk mengikutinya namun hanya beberapa langkah sehingga obrolan kami pun masih terdengar dari meja sana.
“Nanti pulang sekolah anter aku ya dung plis, adiku lagi sakit. Indra ada acara ama temen-temennya.” ucapnya dengan suara yg cukup keras yg kuyakin terdengar sampai ke meja dimana teman-temanku tadi duduk termasuk Clara.
“Tapi.” belum sempat aku melanjutkan ucapanku Vina malah memutuskan deal secara sepihak.
“Udah pokoknya aku tunggu nanti pulang sekolah di kelasku.” tutupnya sambil meninggalkan kami namun sempat melambaikan tangan ke arah Regas dan Angga.
Aku pun kembali ke meja tempat ku duduk tadi dengan muka yg bingung dan ditegur Regas.
“Kenapa sih nyet, cuma nganterin doang. Sesekali gak apa-apa kali.”
Pertanyaan Regas hanya bisa kujawab dalam hati, lo ga tau gas gue sekarang lagi ngedeketin Clara dan tadi kelakuan Vina bisa sedikit banyak ngerusak usaha gue anjir umpatku.
Aku pun tak berani bertatapan muka dengan Clara, Regas pun semakin heran melihat tingkahku namun kuabaikan termasuk Clara yg kuperhatikan sejak kedatangan Vina lebih memilih untuk mengobrol dengan Angga dan teman-temannya.
Aku memaki keadaan, aku yakin betul bahwa Vina tidak tahu menahu soal aku dan Clara ditambah di meja ini kami beramai-ramai jadi aku tak menaruh sedikitpun kecurigaan pada Vina.
Ya ini hanya kebetulan tapi kenapa waktunya sangat tidak memihak sekali.
Taiiiiii umpatku dalam hati.

Dear Angga, tukeran nasib please.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 4 | Ketika Kita Muda Part 4 – END

(Ketika Kita Muda Part 3)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 5)