Ketika Kita Muda Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Cerita Dewasa Ketika Kita Muda Part 30

Cerita Dewasa Ketika Kita Muda Part 30

Metronome

Ada satu keyakinan dalam diriku bahwa antonim atau lawan kata terbesar dari cinta bukanlah benci melainkan jenuh. Benci itu masih memiliki beberapa kesamaan dengan cinta, contohnya yaitu sama-sama perhatian. Hanya saja bedanya yang satu perhatian karena rindu sedangkan yg satunya lagi perhatian karena ingin memastikan mereka menderita atau setidaknya tak boleh lebih bahagia dari kita. Iya kan?
Terkadang membenci seseorang membuat kita ingin tahu tentang kabarnya bahkan secara diam-diam karena gengsi tentunya, itu mengapa aku percaya dengan istilah jangan terlalu benci nanti bisa jadi cinta.

Namun itu bukan berarti aku punya pengalaman dengan hal tersebut.
Buatku jenuh jauh lebih destruktif dibanding benci karena didalam jenuh sudah tidak lagi rasa untuk sekedar ingin tahu. Jadi bagaimana bisa rindu?
Secara sederahana intinya bertengkar itu lebih baik daripada diam, sebuah perdebatan akan menimbulkan rasa ingin lebih mendominasi yang bisa jadi ego dalam diri kita itu sendiri adalah definisi perhatian atau sayang hanya saja dalam bentuk sebuah ketidaksepakatan atau simpelnya tidak sejalan. Sementara diam? Bisa jadi adalah puncak dari kebosanan yg menimbulkan kepenatan bahkan dienyahkan seorang Dian Sastro dalam film AADC agar tak lagi penat. Begitu bukan?


Ilustrasi Clara

“Clara tunggu!!” teriaku sambil berlari mengejarnya,
“Panji.” tegurnya terpatung melihatku yg mengejar dirinya.
“Apa maksud surat ini ra?” ujarku yg berbasuh kuyup hujan serta keringat dengan nafas terpingkal-pingkal setelah berlari mengejar Clara.
“Semua udah jelas tertulis kan nji, aku cuma mau pamit.” lanjutnya dengan wajah datar.

“Gak!! Kamu ga boleh pergi!! Kamu sendiri yg janji sama aku ga akan pernah lagi pergi!!” sangkal ku berteriak tak terima atas sikap Clara seraya menggenggam erat tangannya.
Malam itu di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta sangat dingin, petir gemuruh dan hujan turun dengan sangat derasnya seakan mendukung suasana haru diantara kami. Namun sikap Clara jauh lebih dingin dari cuaca malam itu.

“Clara ayo nak, udah waktunya check-in.” tegur wanita paruh baya yg selama ini biasanya ramah padaku namun hari itu terlihat sama dingin dengan putrinya bahkan bahasa tubuhnya seakan menunjukan ketidakkenalannya terhadap diriku.
“Iya mah.” jawab Clara seraya menoleh kearah wanita tersebut sambil tersenyum.
“Selamat tinggal nji.” lanjut Clara yg melepas tangannya dari genggamanku dan berlalu menyusul kedua orangtuanya.
“Ra plis ra, kamu belom jelasin apa-apa!! Kenapa kamu pergi ra!!!” teriaku kemudian menjatuhkan lututku dilantai namun Clara tak bergeming. Ia memasuki loket imigrasi, melewatinya dan menjauh dari pandanganku hingga menghilang.

Bandung, 2007

Tok tok tok!!
“Nji!! Nji!!”
Awalnya terdengar sayup namun saat aku membuka mata ini, suara tersebut semakin bergema dan pengang ditelingaku.
Tok tok tok!! Tok tok tok!! Pintu kamarku semakin digedor hingga membuat kepalaku yg mulai dipenuhi neuron sadar beranjak pening dan pusing.

“Nji!! Lo kenapa nji!!” terdengar teriakan seorang wanita dari balik pintu yg tak asing ditelingaku. Dengan kesadaran seadanya aku bangkit dari tidurku dan berdiri melangkah kearah pintu lalu membukanya.
“Hey.” sapaku padanya yg terlihat cemas saat kubuka pintu kamarku.
“Lo kenapa lagi? Keringet dingin gini sih badan lo?” ujarnya panik seraya menempelkan tangannya pada keningku.

“Tiduran dulu di kasur.” lanjutnya seraya menuntunku untuk kembali merebahkan tubuhku diatas kasur.
“Gue kan udah bilang jangan di kunci pintu kamar lo, biar kalo ada apa-apa gue ga perlu gedor-gedor pintu lo nji.” cerocosnya panjang lebar menceramahi ku.

Wanita itu terlihat sibuk memanaskan air di termos listrik dan mengeluarkan semua isi kotak P3K di kamarku untuk mencari obat. Ia lanjut mondar mandir mungkin setelah tak menemukan apa yg dicari lalu bergerak membuka lemari pakaian ku dan mengeluarkan beberapa pakaian tebal milikku.
“Ke dokter aja yuk nji.” ajaknya sambil menyerahkan celana panjang training dan jaket hoodie milik ku.
“Gue cuma pusing la, parasetamol aja cukup.” tolak ku pada Lala wanita yg sedari tadi sibuk membantu ku itu terlihat cemberut tak puas atas jawabanku.


Ilustrasi Lala

“Susah banget kalo dibilangin.” ketusnya seraya mengangkat air panas yg sudah mendidih dan menuangnya ke gelas.
“Minum air hangat dulu nih biar badan lo ga kedinginan.” tawarnya seraya menyuapi gelas berisi air hangat kearahku, aku pun sedikit mengangkat badanku dan meminumnya.
“Gue cari bubur dulu yah, biar lo minum obat.” ujarnya seraya bangkit namun segera kucegah.

“Gue tadi udah makan la, langsung minum obat aja gak apa-apa.” pintaku seraya bangkit dari tidur ku dan duduk diatas kasur sambil tersenyum pada Lala.
Lala mengehela nafas panjang sebelum akhirnya mengambil parasetamol dari kotak P3K ku dan memberikannya padaku berserta gelas berisi air hangat yg tadi.
“Lo tuh kenapa sih tiap gue bantu nolak mulu.” tegurnya sesaat setelah aku meminum obat yg tadi ia berikan.

“Gue bukan nolak. Gue itu cuma pusing la, bukan demam. Jadi ga perlu ke dokter.” jawabku meyakinkannya agar tidak perlu khawatir.
“Lo tuh tadi teriak-teriak di kamar.” sanggahnya tak terima dengan statement ku.
“Masa sih? cuma mengigau kali, kecapekan aja belakangan ini di kampus.” lanjutku sambil mengenggam tangannya agar ia yakin bahwa aku baik-baik saja.
“Mimpi buruk lagi?” tanyanya dengan nada sedikit luluh yg kurespon sambil tersenyum dan mengangguk.
“Ya udah tidur lagi sana istirahat, biar obatnya bereaksi. Pintunya ga usah di kunci.” perintahnya kalem tapi dengan tatapan tegas yg ku balas dengan memberi hormat.

“Dasar nyebelin! Gue balik ke kamar yah.” pamitnya dengan tersenyum manis.
“Makasih ya la.” tutupku yg ia balas dengan anggukan sambil menutup pintu kamarku. Aku pun langsung merebahkan lagi tubuh ini ke kasur sambil menutup mata untuk kembali beristirhat.

Keesokan harinya aku hanya menghabiskan waktu di kamar kos ku, badanku masih tidak enak ditambah batuk dan flu yg tiba-tiba muncul saat terbangun sehingga semakin malas untuk keluar apalagi ke kampus. Meski begitu aku masih sambil mengerjakan beberapa paper tugas kuliah ku yg sudah harus dikumpulkan minggu ini.

Saat sedang asik mengerjakan paper siang itu, pintu kamar kosku diketuk. Aku melirik jam ternyata sudah pukul 2 siang, sudah 3 jam aku menghabiskan waktu di depan notebook bahkan belum sarapan apalagi makan siang. Makin jadi aja deh ini flu ga diobatin umpatku dalam hati sambil terbatuk sesekali.
“Iya sebentar.” teriak ku saat pintu kamar kembali diketuk dan ketika kubuka ternyata adalah Regas.
“Lo sakit nyet?” sapanya begitu melihatku dengan wajah heran.
“Flu doang.” sahutku sambil terbatuk-batuk.
“Gue anter berobat yuk.” ajaknya yg ku respon dengan menggelengkan kepala.

“Batuk doang nyet.” jawabku pada Regas yg daritadi menatap kearahku seakan menunggu alasanku.
“Batuk doang juga kalo didiemin bisa TBC nyet.” lanjutnya asal yg kurespon dengan mengeplak kepalanya.
“Sembarangan lo kalo ngomong!” ketusku tak terima.
“Udah makan ama minum obat belom lo?” tanyanya seraya masuk kedalam kamar kosku.
“Heh! Ditanya ga jawab.” tegur Regas lagi padaku yg sedang melamun.
“Ga usah nanti juga sembuh.” timpalku sekenanya.
“Masalah Clara lagi?” tembaknya beberapa saat ketika aku kembali duduk didepan notebook ku.

“Ga usah dibahas bisa ga.” jawabku sedikit sewot yg membuat Regas menggelengkan kepala.
“Ya lagi lo selalu kaya gini kalo masalah Clara.” lanjutnya yg tak kuhiraukan.
Entah karena keselak, kesal atau memang dahak yg semakin menumpuk batuk ku tiba-tiba semakin menjadi didepan Regas.
“Noh kan, kalo dibilangin tambeng.” ujar Regas seraya bangkit mengajak ku berobat.
“Gue nitip obat batuk aja deh nyet.” pintaku yg masih menolak Regas.
“Ya udah sekalian makan ye, gue juga belom makan.” tawarnya yg kurespon dengan anggukan. Regas pun menepuk pundak ku dan berjalan keluar kamar kos namun ia berhenti ketika berpapasan dengan seseorang yg datang, orang itu ternyata adalah Lala.

“Hey nji! Hey.” sapa Lala ramah padaku dan kemudian pada Regas.
“Lagi ada temen lo ya? Gue bawain makan siang nih, lo belom makan kan?” lanjutnya padaku dan sempat tersenyum kearah Regas. Regas menoleh padaku seraya mengangkat alisnya seolah bertanya siapa, ya memang sudah sekitar satu semester berlalu mengenal Lala aku sama sekali belom mengenalkannya pada Regas. Selain karena beda kampus, Regas pun memang jarang bahkan hampir tidak pernah ke kos ku jika tidak ada urusan.

“Oh iya nyet, kenalin Lala tetangga sebelah. La kenalin temen gue, Regas.” ujarku memperkenalkan mereka berdua, Regas dan Lala pun saling melempar senyum.
“Eh sori gue bawa makanannya cuma satu, ga tau kalo bakal ada temen lo nji.” ujar Lala agak kikuk dan meminta maaf.
“Gak apa-apa santai, gue ini mau beli ko sekalian beli obat batuk buat Kunyuk satu ini.” sahut Regas pada Lala yg langsung menoleh heran kearahku.

“Batuk juga nji? Ke dokter aja yuk.” ujar Lala khawatir seraya mendekat dan berjongkok dihadapanku sambil mengusap dahi ku.
“Badan lo juga rada anget tau.” lanjutnya dengan wajah cemas.
“Percuma la, udah gue suruh daritadi tambeng ga nurut-nurut.” jawab Regas mencari pembelaan.
Lala pun melotot kearahku yg seakan memaksa agar aku menuruti perintahnya untuk berobat.
“Ya udah iya ke dokter ayo.” jawabku pasrah seraya bangkit dan mengambil jaket hoodieku.

Akhirnya aku berangkat ke klinik yg tak begitu jauh dari kosan ku dengan naik taksi bersama Lala, sementara Regas mengikuti kami dengan motornya.
Sesuai perkiraanku, aku hanya batuk demam biasa karena gejala flu sehingga dokter hanya memberikanku obat dan diminta bed rest paling tidak selama dua hari hari ini.
“Pada lebay sih dibilangin cuma batuk doang.” ujarku meledek Regas dan Lala karena merasa benar setelah selesai berobat.

“Mau cuma batuk doang juga harus diobatin kali nji! Bandel banget sih.” sewot Lala tak terima.
“Percuma la, gengsinya tinggi kaya twin tower. Ga pernah mau kalah. Apalagi kalo bener.” sahut Regas menjelekanku yg respon dengan melempar bantal kearahnya.
“Udah-udah! Malah berantem. Makan terus minum obat!! Gue tinggal ke kamar dulu ya mau mandi ganti baju.” pamit Lala disertai beberapa ceramahnya meski sambil mengomel.
“Gas titip Panji ya.” lanjut Lala yg direspon Regas dengan anggukan.
“Aman, nanti gue iket biar ga kabur.” sahut Regas asal.
Lala pun berlalu ke kamarnya dan bisa ditebak Regas langsung menatapku dengan penuh arti.

“Ga bilang-bilang ye punya simpenan baru di kos.” ledek Regas sambil ketawa cekikikan.
“Tai! Sembarangan lo kalo ngomong!! Temen doang anjir.” sahut ku tak terima yg direspon Regas hanya mengangguk dan senyum penuh ledekan.
“Gue jadi Clara juga makan hati nyet ama cowo kaya lo.” lanjut Regas yg membuatku terdiam. Regas agak salah tingkah melihat respon ku yg seolah merasa tersindir akan omongannya.
“Udah makan dulu yuk nyet. Biar obatnya bisa lo minum.” pinta Regas sambil menyiapkan makanan untuk ku dan juga dirinya.

Regas pun pamit setelah selesai menemaniku makan dan memastikan aku telah meminum obat yg tadi diberikan oleh dokter.
“Gue balik ya, cepet sehat lo.” pamitnya seraya menepuk pundak ku.
“Oiya nyet lo dapet salam.” lanjut Regas sesaat sebelum keluar kamar.
“Dari siapa?” tanyaku heran pada Regas.
“Makannya buruan ngampus nanti gue kasih tau.” sahutnya meledek seraya berlalu bersama motornya.

Aku hanya menggelengkan kepala atas jawaban Regas, sialan si kampret umpatku dalam hati.
Tak lama setelah Regas pamit, Lala pun kembali ke kamarku melihat kondisiku seraya merapihkan kamarku dan mencuci piring bekas makan aku dan Regas tadi sore.
“La udah sih g usah, gue udah kebanyakan ngerepotin lo.” tegurku pada Lala yg baru saja selesai menyiapkan teh panas untuk ku.
“Lo nganggep gue temen bukan sih?” sahutnya seraya mendekatkan wajahnya padaku.
“Ya tapikan ga segitunya juga la.” tepisku yg diresponnya dengan memasang wajah tak bersahabat.
“Iya iya iya.” sahutku lagi pasrah sebelum Lala semakin cemberut.

“Kan elo nji yg ngajarin gue buat jadi orang yg tulus.” ucap Lala seraya menatapku dan menggenggam tanganku.
“Gue waktu nolong lo pas sakit karena emang itu adalah hal urgent yg harus dilakukan. Jangankan sebagai temen, alasan kemanusiaan udah cukup kayanya.” jelasku dengan nada sedikit meledeknya sambil tertawa.
“Bukan cuma masalah itu kali yg buat gue nilai ketulusan lo.” jawab Lala menggantung yg sepertinya sengaja membuatku penasaran.
“Apaan dong?” tanyaku lagi seraya mengerutkan dahiku.

“Lo adalah cowo pertama yg sama sekali ga manfaatin gue bahkan setelah bisa lo tidurin. Gue kagum nji karena setelah kejadian itu, ga pernah sekalipun lo mencoba untuk meminta gue melakukan hal itu lagi. Padahal bisa dibilang lo punya banyak kesempatan, ditambah lo juga punya keuntungan karena gue ga minta ikatan apapun. Tapi lo ga melakukan itu. Lo beda nji dari semua cowo yg pernah gue kenal.” jelas Lala panjang lebar seraya tesenyum kearahku. Jawabanya entah bagaimana membuatku kikuk, meski terdengar sebagai pujian tapi ada sedikit rasa tersindir karena sudah pernah menidurinya. Aku bingung bagaimana menanggapi pernyataan Lala saat itu selain hanya tersenyum.
“Makasih, tapi tetep kebaikan lo nanti bakal gue bales!” ujarku setelah terdiam lama sambil tertawa dan mengacak-acak rambutnya agar suasana tidak kaku.

“Udah ah sana tidur, gue balik ya.” pamitnya sambil bangkit berjalan menuju pintu dan melambaikan tangan padaku.
“Inget jangan dikunci!” perintahkan seraya menutup pintu kamarku.
Malam itu Bandung kembali diguyur hujan dengan derasnya disertai gemuruh petir sesekali. Dingin yg menusuk, deru angin yg menembus ventilasi membuat dinding kamar seakan tak mampu menjadi penghangat. Pikirku kembali menerawang, aku ingin tenang setidaknya untuk malam ini. Kuharap reaksi obat dapat memberikan rasa kantuk agar mataku hanya terbuka jika matahari sudah terbit.

Paginya aku bangun sedikit lebih baik, batuk flu sudah mereda dan hari itu aku memutuskan untuk masuk kuliah lagi seperti biasa meski sebelumnya dokter menyarankan untuk istirahat dua hari namun kupikir sudah dua hari kemarin bolos kuliah cukup membuatku tertinggal pelajaran.
Setelah selesai bersiap sambil memakai sepatu, Lala muncul didepan kamarku dan menyapaku dengan senyum cerahnya.
“Cieee pagi-pagi rapih banget mau kuliah, udah sehatan emang?” sapanya yg juga terlihat sudah rapih untuk berangkat kuliah.

“Hehe iya nih udah mendingan la. Dirawat sama suster cantik soalnya.” godaku padanya seraya bangkit menghampirinya.
“Gombalan lo ga mempan ama gue!!” sungutnya dengan wajah manyun.
“Bareng yuk.” ajaku yg diresponnya dengan menganggukan kepala.
Pagi itu aku belok kearah kampusnya dulu untuk mengantar Lala yg meski tak searah dengan kampusku namun tak begitu jauh, kami pun sempat sarapan di tukang bubur yg cukup terkenal di sekitaran Jalan Dipati Ukur pagi itu.

“Ih jorok! Makan bubur tuh jangan diaduk bentuknya jadi aneh tau!!” protes Lala saat aku mengaduk buburku.
“Lah kalo ga diaduk bumbu sama topping yg lain ga nyatu mana enak.” sahutku yg justru malah merasa bubur tidak diaduk itu seperti makanan orang sakit.
“Abangnya tuh udah nyajiin penuh estetika, jadi harus dinikmatin perlahan malah lo ancurin! Barbar tau ga!” lanjutnya sewot yg membuatku menggelengkan kepala.
“Lala cantik, biar dikata lo makan pake prosedur nanti itu perut lo juga bakal nyampur ama yg laen! Sama aja!!” timpalku seraya menarik tudung jaketnya menutupi matanya.

“Ih rese!!” sahutnya lagi sambil memukul bahuku dan kami pun malah asik tertawa.
“Nih cobain makanan manusia beradab wahai manusia barbar.” ujarnya seraya menyerahkan satu sendok bubur yg tak diaduk favoritnya.
“Ogah.” jawabku singkat.
“Cobain dulu!!” paksanya tak terima yg akhirnya kuturuti.
“Enak kan?” tanyanya seraya menaikan kedua alisnya.
“Gantian.” pintaku yg juga menyendok bubur aduk favoritku kemulutnya.

“Ga mau ih jorok!” tolaknya sambil menutup mulutnya.
“Jadi barbar sesekali.” paksaku yg akhirnya Lala pun membuka mulutnya dan menerima suapan ku meski dengan wajah cemberut.
“Sama aja sih, cuma geli aja liatnya.” jelasnya sambil mengunyah. Aku pun yg memperhatikannya hanya tertawa yg ia respon dengan memukul bahuku pelan.
Ada rasa sesaat waktu berhenti ketika kami saling pandang, namun segera ku lempar pandangan ku dan kembali memakan buburku. Entah lah, aku rasa hubungan ini mulai kearah yg tidak seharusnya. Kami pun segera menghabiskan bubur kami masing-masing dan aku mengantar Lala ke kampusnya. Rasanya kami berdua jadi canggung karena kejadian tadi.

Sesampainya di kampusku, aku duduk diselasar Fakultas sambil menunggu kelas yg masih mulai satu jam lagi. Aku pun membuka notebook ku dan memindahkan data ke flashdisk untuk mencetak beberapa tugas yg kemarin sudah selesai aku kerjakan. Saat sedang asik dengan notebook, Regas nongol dari belakangku seraya menepuk pundak ku.
“Udah sehat nyet.” sapanya sambil duduk disampingku.
“Lumayan.” jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya.

“Tumben lo pagi-pagi udah disini? Nyariin gue?” lanjutku heran karena biasanya kami bertemu saat jam makan siang di kantin.
“Yap, ada yg nyariin lo.” jelas Regas yg membuatku menoleh kearahnya seraya mengerutkan dahi.
“Siapa?” tanyaku heran.
“Noh.” ujaranya sambil menunjuk kearah depan dan terlihat seorang wanita cantik yg sedang berjalan menuju arah kami berdua, Mentari.


Ilustrasi Mentari

“Hey nji.” sapanya pada ku sambil tersenyum yg membuatku cukup salah tingkah.
“Doi kemaren yg nitip salam buat lo.” lanjut Regas yg membuatku makin kikuk namun sedikit geer.
“Eh? Serius?” tanyaku agak gugup.
“Iya mau minta tolong dia.” lanjut Regas yg membuat rasa geer ku langsung lenyap dalam sekejap, sialan umpatku dalam hati.
“Minta tolong apa yah?” tanyaku langsung pada Mentari.

“Gini nji, tim padus kita lagi kena musibah. Pianis kita minggu lalu kecelakaan motor.” jelas Mentari yg masih tak ku pahami kemana arah pembicaraannya.
“Terus?” sahutku singkat karena penasaran.
“Ya katanya elo kan bisa maen piano nji, jadi kita berharap lo bisa gantiin pianis kita diacara wisuda dua minggu lagi.” lanjut Mentari menjelaskan.
“Hah? Kata siapa? Regas?” timpalku panik pada Mentari yg diresponnya dengan anggukan.
“Nyet lo tau kan kapan terakhir gue maen piano?” tegurku pada Regas karena tak percaya atas permintaannya. Regas hanya melempar senyum polos tanpa dosa seraya menggelengkan kepalanya.
“SD wey!! Udah lama banget gila!!” jawabku ketus meski sebenernya berbohong karena kesal atas usul Regas sembarangan yg mempromosikan ku pada anak Paduan Suara.

“Tapi kan lo profesional, ditambah lo kan punya penyakit one save memory syndorome. Gue yakin lo belom lupa cara main piano!” tanggap Regas asal yg kurespon dengan mengeplak kepalanya.
“Sembarangan!! Gue cuma ngiringin Padus di Gereja waktu SD.” elak ku tak terima atas pujian berlebihan Regas. Ya kalian tahu aku dulu bersekolah di SD swasta milik Yayasan Nasrani, dari situ aku belajar bermain piano dan menjadi pianis utama sekolah setiap ada acara besar di Gereja dekat Sekolahku. Namun semenjak pindah ke Jakarta dan bersekolah di SMP Negeri aku sudah tidak pernah lagi ikut acara seperti itu, namun memang sesekali masih suka memainkan piano Steinway & Sons peninggalan Romo yg ada dirumah ku. Tapi tentu aku tak mau mengakui itu, karena membantu Tim Paduan Suara tentu akan mempertemukan lagi aku dengan Andini setelah sekian lamanya kami tak pernah lagi jumpa.

“Tapi lo bisa baca partitur kan nji?” tembak Mentari ditengah perdebatan aku dan Regas. Mentari menatap ku penuh harap sementara Regas melirik tajam kearahku seakan memaksaku untuk menjawab jujur.
“Ya bisa sih kalo baca partitur.” jawabku pasrah.
“Nah itu lo punya dasar, intinya lo tetep di tes nanti sama Coach kita. Kalo cocok join, kalo engga ya mau ga mau kita nyari diluar. Tapi gue harap lo serius tes nya jangan disengajain ga bisa karena nyari dari luar itu bener-bener opsi terakhir kita. Plis ya nji.” pinta Mentari memohon yg membuatku tak bisa lagi berbuat banyak selain hanya mengangguk untuk menyanggupi permintaannya.
“Thanks banget ya nji.” responnya bersemangat.

“Tapi ga sekarang kan? Gue masih ada kelas.” jelasku mencoba menunda kegirangan Mentari sambil berpikir ulang apa iya aku mau menerima tawarannya.
“Iya bukan sekarang ko, jam 4 kita tunggu ya di ruang auditorium.” ujar Mentari yg kusanggupi. Ia pun pamit dan berlalu setelah puas mendapat jawaban dariku.
“Kampret lo emang ya. Ga bisa banget kayanya ga nyusahin temen!” sungutku kesal pada Regas yg daritadi hanya cekikikan.

“Heh! Lo harus punya banyak kegiatan, biar ga suntuk di kosan doang. Ga tega gue liat lo murung doang kalo di kos sampe sakit kaya kemaren. Mending sibukin diri, banyakin temen, biar gaul di kampus. Nyesel lo nanti pas lulus kuliah cuma kosan kelas kosan kelas.” cerocos Regas yg kupikir ada benarnya juga namun tetap saja belom bisa menahan rasa kesal ku.
“Ya tapi kagak padus juga malih!! Lo kan tau ada Andini disana.” lanjutku sewot karena Regas tak paham maksud asliku.
“Yaelah dia pasti profesional ko, kalo dia ga bisa terima artinya dia yg kenakan bukan lo!!” tutup Regas seraya pamit untuk lanjut ke kelasnya.

Setelah selesai masuk kelas pertama aku pun menuju kantin untuk makan siang dan seperti biasa Regas sudah ada disana.
“Ko Mentari ngurus padus juga sih nyet?” tanyaku pada Regas memulai obrolan kami sambil makan siang.
“Lo tuh kupernya kebangetan ya. Manager padus sekarang kan Mentari dodol!” jelas Regas dengan nada tinggi yg membuat beberapa orang disekitar menoleh kearah meja kami.
“Ga usah pake toa kampret!!” sungutku berbisik yg direspon Regas dengan menempelkan kedua telapak tangannya memohon maaf.

“Terus masih aktif juga di Divsos BEM?” tanyaku lagi yg dijawab Regas dengan anggukan.
“Cuma lo doang kali yg nganggur di kampus ini.” tembak Regas yg kurespon dengan melempar tusuk gigi kearahnya.
Sesaat kemudian handphone ku berdering panggilan dari Helen, Regas sempat menaikan alisnya menanyakan siapa yg kujawab dengan berbisik telepon dari Helen.
“Halo.” sapaku membuka telepon dengan kaku mengingat sudah sekitar sebulan ini belum pernah lagi berkomunikasi dengan Helen.
“Datar banget sih!! Ga suka gue telepon!?” omel Helen merespon sapaanku dengan jutek.
“Ya terus gue harus ngapain ci? Teriak?” tanyaku yg jadi ikutan ngomel karena kesal.

“Lo tau ga ini hari keberapa?” tembak Helen yg terdengar masih sewot.
“Mana gue tau! Emang gue ngitungin.” sahutku yg masih emosi. Helen sempat terdiam beberapa saat hingga suara telepon pun mendadak hening.
“Lo emang kebangetan ya nji jadi cowo. Kayanya selama ini gue udah salah nilai lo.” ujar Helen dengan nada yg berubah menjadi getir. Aku pun terdiam mendengar ucapannya dan bingung harus menjawab apa.
“Terus lo mikir gue yang salah?” timpalku pada Helen menyindir jalan pikirnya yg selalu menghakimiku belakangan ini.

“Nyesel gue nelepon lo nji. Ga ada berubahnya. Clara pantes pergi kalo kaya gini.” pungkas Helen seraya menutup teleponnya dan aku hanya terdiam sambil meletakan handphone tersebut dimeja.
“Masalah Clara lagi?” tanya Regas sesaat setelah aku meletakan handphone ku.
“G usah dibahas lah nyet.” ujarku yg jadi ketus juga pada Regas.
“Mulut lo minta ga dibahas tapi nyatanya itu semua menuhin isi otak lo kan?” sahut Regas yg hanya kurespon dengan menaikan bahu. Aku pun melanjutkan makan siang ku karena enggan membahas masalah itu, Regas pun tak lagi melanjutkan omongannya yang mungkin bisa membaca dari sikapku.

“Oh iya nji, tadi Mentari nitip ini buat lo.” tegur Regas sesaat sebelum kami beranjak dari kantin untuk kembali ke kelas. Regas menyerahkan beberapa buku partitur lagu-lagu klasik aransemen dari Chopin.
“Bukannya acara wisuda paling cuma bawain lagu mars kampus sama lagu nasional gitu kan?” tanyaku heran pada Regas.
“Setau gue sih iya, buat tes doang kali.” sahut Regas yg kurespon dengan anggukan.
“Oke thanks.” jawabku yg akhirnya kami pun berjalan kembali ke kelas masing-masing.

Sorenya sekitar jam 4 sesuai janji selepas kelas Irigasi dan Drainase, aku pun berjalan menuju ruang auditorium tempat anak-anak paduan suara berlatih.
“Sorry, Mentari nya ada?” tegurku kepada salah beberapa anak Padus yg sedang duduk berkumpul mungkin menunggu latihan. Mereka saling menoleh seakaan tak paham maksud ku.
“Mentari siapa ya kak?” tanya balik dari salah seorang diantara mereka yg kupikir adalah junior mengingat memanggilku dengan sebutan kakak.

“Panji!” tiba-tiba seseorang menegurku yg ternyata adalah Ine. Ine ini teman sekelas ku saat SMA yg satu fakultas dengan Regas dan Andini pernah cerita bahwa memang Ine ini anggota Padus.
“Hey ne.” sapaku.
“Tumben kesini. Nyari siapa?” tanyanya penasaran.
“Gue nyari Mentari.” jawabku berharap Ine mengenalnya.
“Eh Kak Meta tadi dimana yah?” tanya Ine pada junior yg tadi sempat ku tanya.
“Ooooh Kak Metaaaa. Di ruang studio sana kak!” ujar mereka kompak menunjuk sebuah ruangan tempat sound set dari auditorium ini sepertinya.

“Junior sini kenalnya Meta nji.” ujar Ine sambil tertawa yg mungkin paham mengapa tadi aku dan junior-junior ini tidak nyambung.
“Oh gitu toh.” sahut ku sambil mengangguk cengengesan karena baru paham bahwa Mentari dan Meta adalah orang yg sama.
“Mau gue temenin kesananya?” tawar Ine padaku.
“Ga usah bisa sendiri ko thanks yah ne.” ujarku seraya pamit padanya untuk menuju kesana yg ia respon dengan senyum dan mengangguk.

Aku melihat didalam ruangan tersebut ada Mentari dengan seorang pria yg lebih tua dari kami mungkin tebakan ku itu adalah yg disebut oleh Mentari sebagai Coach, aku pun mengetuk pintu yg membuat Mentari menoleh kearah luar dan tersenyum pada ku seraya berjalan membuka pintu.
“Hey thanks udah dateng.” sapanya bersemangat yg kurespon dengan mengangguk dan tersenyum.
“Oh iya kenalin ini Mas Arjuna, Coach kita.” lanjut Mentari mengenalkanku pada pelatih padusnya.
“Panji.”
“Arjuna.” balasnya seraya kami saling bersalaman.
“Oke jadi kamu adalah calon pengganti pianis kita, udah nerima buku yg dikasih Meta?” tanya Mas Arjuna to the point.

“Udah mas.” jawabku singkat.
“Dari sekitar enam ya met? Ada yg kamu ga tahu?” lanjut Mas Arjuna seraya mengkonfirmasi pada Mentari jumlah buku yg diberikan padaku.
“Tau semua Mas, paling cuma aransemennya aja yg beda jadi belom pernah mainin.” ujarku yg membuat Mas Arjuna sepertinya tersenyum lebar karena puas atas jawabanku.
“Oke kalo gitu yg mana yg belom pernah kamu mainin?” tembaknya lagi padaku yg kurespon dengan mengambil salah satu buku tersebut dan menunjukannya.
“Etude Op 25 No 5.” timpalku yg memang belum pernah memainkan aransemen tersebut, namun jika untuk Etude Op 10 pernah kumainkan saat lomba di SD dulu.

“Good! Then show me.” tutupnya menintaku untuk memainkannya. Aku pun mengangguk dan berjalan menuju keyboard electric bermerk Korg yg ada di studio itu.
“Nanti pas pertunjukan kita pake yg akustik, ini sementara.” ujar Mas Arjuna menginformasikan padaku.
Aku pun duduk dan membuka buku partitur tersebut pada standing book yg tepat berada didepan keyboard ini. Aku sempat terdiam sesaat dan menoleh kearah Mentari.
“Ada Metronome?” tanyaku padanya yg dijawab dengan anggukan.
“Oh ada bentar!” jawabnya seraya beranjak kearah lemari dipojokan ruangan lalu menyerahkannya padaku.

Aku pun melihat buku partitur dan menyesuaikan dengan temponya lalu menggerakan metronome ditanganku.
Tik tok tik tok tik tok kurang lebih bunyi metronome itu saat bergerak seperti bandul menimbulkan suara yg damai, aku merasa terhipnotis saat itu. Kulihat disampingku Mas Arjuna dan Mentari sangat fokus memperhatikan ku.

Aku pun menaruh metronome tersebut di samping keyboard dan mulai bersenandung dalam hati mengikuti partitur sambil menyamakan temponya.
Perlahan tanganku mulai bergerak diatas tuts namun belum kutekan sebagai pemanasan karena sudah lama tidak bermain piano. Setelah dua kali balikan di tanda Da Capo, jemariku mulai menekan tuts tersebut memulai permainan musik ini. Meski ada beberapa kesalahan dan tak konsisten dalam tempo dibeberapa bar, Mas Arjuna terlihat puas saat aku selesai memainkan setengah lagu tersebut dan memberikan aplause.

“Good!! Ga perfect tapi lebih dari cukup buat jadi pianis kita.” ujarnya seraya menepuk pundak ku.
“Oke Meta, kasih dia partitur lagu yg kita bawain buat wisuda nanti sementara saya melatih tim. Setengah jam lagi langsung elaborate!” tutup Mas Arjuna meninggalkan aku dan Mentari di studio.
“Thanks ya nji.” ujar Mentari tersenyum sumringah yg kurespon dengan mengangguk.
“Doi agak kemayu ya?” ujarku membahas Mas Arjuna pada Mentari yg membuatnya menahan tawa sambil mengangguk.
“Tapi jangan pernah ngomong gitu loh didepan dia nanti ngamuk.” sahut Mentari sambil cekikikan dan aku hanya tertawa.

“Oh iya ko tadi gue nanya anak padus ga ada yg kenal Mentari sih?” tanyaku penasaran soal panggilannya.
“Oh itu. Iya biasanya orang-orang yg udah pada kenal deket mah manggil gue Meta. Mentari kepanjangan kali hihihi.” ujarnya tertawa centil yg kurespon dengan mengangguk.
“Waktu di SMP juga gue dipanggilnya Meta ko nji.” lanjutnya memberitahu seraya menyiapkan beberapa buku partitur.
“Oh gitu, jadi ketahuan ya mana yg baru kenal ama yg udah lama kenal ama lo.” singgungku menanggapi pembicaraannya.

“Ga usah berlebihan deh, gue ga ngebatesin gitu juga kali. Lo mau manggil gue Meta juga boleh, Mentari juga silahkan. Enaknya lo aja lagi.” tawarnya sambil tersenyum manis.
“Siap Bos!” sahutku sumringah.
“Oh iya sekalian pindahin keyboard kedepan yuk, lo latihannya bisa pake headphone. Biar nanti pas cek sound ama anak padus ga perlu pindah lagi.” lanjutnya menawarkan pindah lokasi yg kuturuti.

Dibantu Mentari aku pun memindahkan keyboard ke auditorium utama tempat anak-anak padus berlatih dengan Mas Arjuna. Sejenak kuperhatikan tidak ada sosok Andini disana, entahlah mungkin ia sudah lama tidak aktif atau sedang ijin tidak latihan.
Mentari pun meninggalkanku dengan memberikan headphone agar aku berlatih sementara ia bergabung dengan anak padus lainnya bersama Mas Arjuna.
Sekitar setengah jam berlatih sendiri pundak ku ditepuk oleh Mas Arjuna yg sudah berdiri dihadapanku.
“Iya mas?” tanyaku seraya melepas headphone ku.

“Langsung cek sound yuk, Mas perhatiin kamu kayanya udah lumayan luwes mainnya.” tawarnya yg kurespon dengan mengangguk.
Akhirnya aku pun berlatih langsung dengan tim paduan suara kampus untuk pertama kalinya, cukup grogi pada awalnya namun karena Mas Arjuna sangat atraktif, energik dan asik mimpinnya hingga aku pun dalam waktu setengah jam sudah mulai menyatu dengan anak-anak padus.
“Clap!! Cool!!! Keren!!” ujar Mas Arjuna dengan gaya kemayunya memuji latihan pertama kami yg membuat semua bersorak senang.

“Good job Panji!!” puji lagi Mas Arjuna padaku seraya mengacungkan jempol dari tempatnya berdiri.
Aku cukup puas bisa memberikan kontribusiku membantu tim padus kala itu, hingga suasana kikuk yg aku khawatirkan pun akhirnya tiba.
“Panji kamu tinggal latihan elaborate sama lead vokal kita yah di part solo lagu Hymne Kampus sama Gaudeamus Igitur.” jelas Mas Arjuna padaku.
“Meta, Andini mana?” tanya Mas Arjuna pada Mentari yg membuat degup jantungku langsung interlude.
Deg.

What!? lead vokal mereka Andini gumamku dalam hati.
“Masih kelas kayanya Mas, tadi dia ijin sampe jam 5 mungkin sebentar lagi.” sahut Mentari yg tak lama kemudian sosok yg dicari itu pun memunculkan dirinya.
“Soreeee!! Sori telat Mas Juna tadi dosennya ngasih tugas tambahan.” sapa Andini pada semua anak-anak padus serta menghadap Mas Arjuna juga untuk meminta maaf atas keterlamabatannya.

Ketika Kita Muda Part 24

Ilustrasi Andini

“Ah ini dia Diva kampus kita, buruan latihan kita punya pianis baru.” ujar Mas Arjuna memperkenalkan Andini padaku yg bisa ditebak raut wajahnya cukup kaget melihat keberadaanku disana.
“Kita udah kenal ko mas, satu jurusan dan satu angkatan.” jelasku pada Mas Arjuna.
“Oh bagus kalo gitu, ya udah sana langsung cek ombak.” perintah Mas Arjuna pada Andini.
“Yang lain boleh istirahat!!” lanjut Mas Arjuna mempersilahkan istirahat pada semua anak Padus.
Aku dan Andini sempat terpatung beberapa saat sebelum akhirnya aku mencoba membuka obrolan untuk mencairkan suasana.

“Mmm sori Andini, gue disini maksudnya..” namun belum selesai aku menjelaskan ia memotong seakan tak peduli.
“Dooo.. duh! Tugas kita disini buat latihan bukan ngobrol, langsung aja deh ga usah buang-buang waktu.” sahutnya ketus yg membuatku sedikit kesal namun mencoba mengalah dan segera memposisikan diri untuk memulai mengiringinya bernyanyi.
Selama latihan, sepanjang itu juga aku dan Andini bertengkar karena sering salah. Entah ia yang memang sulit masuk dalam aransemen atau sengaja merusaknya agar membuat kondisi ini tidak nyaman bagiku.
“Duh lo tuh bisa ga sih!! Kecepetan tau ga!!” sewotnya saat tempoku lagi-lagi dibalap olehnya.

“Tempo lo yg kecepetan! Coba sesuaiin ama partitur dong.” tegurku karena mulai kesal.
“Hah? Lo pikir tempo lo udah sempurna? Ada juga tempo piano yg harus nyesuain ama gue!!” ketusnya yg kali ini aku coba respon dengan menghela nafas panjang.
“Oke gue ikutin tempo lo. Repeat!” pintaku mencoba mengalah. Namun setelah aku coba untuk mengikuti temponya, justru Andini seakan sengaja mempercepat atau mengulur agar kami tak pernah bisa selaras yg akhirnya membuat ku kesal.
“Andini tolong dong konsisten temponya!! Gue udah nurutin mau lo!!” sungutku kesal yg membuat Mas Arjuna dan Mentari yg sedang membriefing anak padus menghampiri kearah kami.

“Kenapa ini?” tanya Mas Arjuna padaku dan Andini.
“Tanya dia noh, ga ngerti saya mas mau bikin improvisasi atau apa.” protesku pada Mas Arjuna.
“Kenapa Andini?” tanya Mas Arjuna padanya.
“Heran yang begini bisa dipilih jadi lead vokal.” celetuk ku yg masih kesal.
“Lo kalo ga suka cukup sama gue! Jangan jelekin tim padus atau Mas Juna yg milih gue!!” omelnya seraya berdiri dihadapanku.
“Gue ga bisa diiringi pianis emosional kaya gini, cari lead vokal yg laen deh mas, met.” pungkas Andini pada Mas Arjuna dan Mentari lau beranjak dan pergi dari hadapan kami yg sempat dicegah oleh Mentari namun tak digubrisnya.

“Andini tunggu, Andini!!” cegah Mentari namun sia-sia, Andini sudah berlalu dengan egonya.
“Sori Mas, jadi kacau.” ujarku meminta maaf pada Mas Arjuna karena tidak bisa mengontrol emosi, aku harusnya paham bahwa sikap Andini seperti itu adalah bentuk ketidaksukaannya padaku yg masih muncul dihadapannya.
“Kalian bisa cari pianis lain.” tutupku seraya bangkit dari tempat duduk.
“Nji, plis. Kita udah klop, ini cuma masalah Andini aja. Biar gue yg urus.” pinta Mentari memohon.
“Betul nji, ngehire pianis dari luar belom tentu jaminan bisa klop ama tim secepat ini. Jadi please stay,

Andini biar Meta yg handle yah.” lanjut Mas Arjuna yg akhrinya aku pun mengangguk menuruti permintaan mereka berdua.
Sore itu kami lanjut latihan dengan Tim Paduan Suara meski tanpa Andini, kami dalam sekejap bisa berelaborasi cantik di semua lagu mulai dari Mars Kampus, Hymne Kampus, Gaudeamus Igitur dan beberapa lagu nasional.
“Great!! Good job team!!” puji Mas Arjuna yg sedari tadi mempimpin latihan kami.
“Oke class is over. Thank you!!” tutup Mas Arjuna setelah sedikit briefing dan mempersilahkan semua anak-anak untuk pulang.

Tak kerasa waktu sudah menunjukan jam 7 malam, aku pun bersiap seraya pamit pada Mas Arjuna. Saat bermaksud untuk meninggalkan auditorium aku melihat Mentari masih membereskan beberapa alat kembali ke studio, aku pun menghampirinya.
“Sini gue bantuin met.” ujarku reflek mengambil beberapa buku lagu yg dipakai oleh anak-anak padus tadi.
“Met?” sahut Mentari dengan wajah meledek.
“Ya kan lo yang bilang katanya terserah gue manggil apa, ga boleh nih?” timpalku sedikit salah tingkah dan sok ngambek karena jawaban Mentari.
“Hahaha becanda nji! Sensi banget deh.” sahut Mentari sambil tertawa manis.

“So, start from today boleh dong gue manggil lo Meta.” jawabku seraya berjalan menatapnya yg berada disebelahku, dengan tangan kami yg penuh membawa beberapa barang.
“Pleasure.” ucapnya dengan senyum yg membuat ku terhipnotis akan kecantikannya. Beberapa saat saling bertatapan ia pun membuang mukanya yg sedikit memerah kearah lain yg membuat suasana tiba-tiba menjadi kikuk.

Setelah membisu seraya menyelesaikan merapihkan semua barang latihan tadi, Meta pun membuka kembali obrolan ditengah keheningan kami berdua.
“Thanks ya nji, udah mau jadi pianis sekaligus jadi jongos. Maklum anak padus kebanyakan cewe jadi susah diandelin buat beresin beginian.” ujarnya sambil cengengesan.
“Dih emang gratis? Nanti total invoicenya gue kirim kelar acara.” ledek ku sambil tertawa yg membuatnya cemberut.

“Sialan lo!” pungkasnya seraya memukul bahuku.
Selesai membereskan barang dan mematikan lampu kami berjalan menuju arah parkiran kampus. Aku merasa bodoh disitu karena menanyakan hal yg seharusnya tak ku tanyakan pada Meta.
“Pulang sama siapa met?” tanyaku grogi.
“Dijemput dong ama cowo gue.” jawabnya singkat yg membuatku langsung mengumpat dalam hati. Panji bego kan lo udah tau dia punya cowo.

“Noh orangnya, duluan ya nji. Bye.” pamitnya seraya berlalu dari hadapanku.
Aku masih berdiri disana memperhatikan Meta dan pacarnya yg saling merangkul sambil sesekali tertawa dan kemudian masuk kedalam mobil sedan hitam yg berjalan menjauh hingga menghilang dari pandanganku.

Proyeksi imajinasiku mengingatkan kembali akan sosok Clara, ya sudah sebulan ini aku tidak bertemu dengannya. Aku berbohong pada Helen mengatakan kalo tidak menghitung berapa hari yg sudah lewat, padahal aku selalu menghitungnya bahkan tiap detiknya. Hari ini sudah tepat tiga puluh tiga hari tujuh jam dua puluh delapan menit dua detik kita tidak bertemu ra, bahkan untuk berkomunikasi baik lewat telepon atau pesan singkat pun tidak ada. Do you miss me ra? ratapku dalam hati.

Sementara disaat yang bersamaan otak ku juga berselisih, bukankah diriku sendiri yang tak berusaha menghubunginya. Bahkan malah asik dengan sekumpulan wanita di Bandung, mulai dari Lala hingga sekarang sok-sokan mendekati Meta disaat bertemu Andini pun hati ini kadang masih terpikat akan sosoknya. Bajingan macam apa aku ini ra, pantas jika kamu sekarang lebih memilih begini.
Malam itu aku memacu motor ku mengitari kota Bandung tanpa arah, hingga rintik-rintik hujan kembali membasahi kota ini. Musim hujan beberapa bulan ini di Bandung seperti mewakili tangis yg sudah tak mampu lagi keluar dari mataku.

Selama seminggu tak ada usaha apapun yg aku lakukan tentang hubungan ku dengan Clara, justru aku semakin sibuk di kampus selain kuliah juga latihan bersama anak paduan suara.
Andini seminggu itu pun benar-benar menghilang, Meta dan Mas Arjuna seakan angkat tangan dan memilih menyiapkan lead vokal pengganti seorang mahasiswi satu tingkat dibawah ku namanya Patricia.

Patricia sebenernya memiliki suara yang bagus, konsistensinya dalam tempo dan pitch control cukup baik yg ku yakin merupakan hasil ia aktif menjadi penyanyi di Gereja nya. Namun entah mengapa ada yg kurang, ia sering lupa lirik dan penampilannya sangat terlihat kaku.
“Pat, what’s wrong with you? Kaku banget, apa bedanya ama di Gereja?” tegurku setelah ia salah sudah kelima kalinya.
“Ya ampun maaf Kak Panji, aku gugup banget. Ngerasa belom pantes gantiin posisi Kak Andini. Aku masih ngerasa dibawah standar Mas Juna.” jelasnya mengeluh dengan wajah cemas, aku sendiri bingung harus komentar apa karena jika dibanding Andini aku sendiri belum lihat performa aslinya seperti apa jika dibanding Patricia yg sekarang.

“Kenapa berhenti? Ayo lanjut!!” ujar Mas Arjuna yg tiba-tiba menghampiri kami sambil menepuk tangannya yg membuat aku dan Patricia cukup kaget.
Aku melihat ke arah Patricia, ia seolah meminta ku untuk tidak mengadukan pada Mas Arjuna soal curhatannya tadi.
“Kenapa Panji?” tegur Mas Arjuna lagi karena aku dan Patrica daritadi diam belum menjawabnya.
“Eh iya gak apa-apa mas, masih belom sinkron aja.” elaku yg membuatnya menoleh kearah Patricia.
“Patricia come on!! Show your best!!” teriak Mas Arjuna menyemangati Patricia yg hanya diresponnya dengan mengangguk. Namun setengah jam berlalu Patricia masih belum menunjukan peningkatan, berulang kali ia pun meminta maaf padaku.

Mas Arjuna dan Meta yg sekitar dua menit lalu berdiri melihat latihan kami pun sepertinya mulai berpikir mencari jalan keluar.
“Tinggal dua hari lagi Mas.” ujar Meta cemas.
“Patricia Panji kita langsung elaborate aja yuk, kalo gagal solo part terpaksa kita hapus.” tegas Mas Arjuna yg membuat wajah Patricia memerah mungkin karena panik dan takut.
“Come on!! Come on!! Semua langsung diposisi, waktu kita ga banyak.” teriak Mas Arjuna pada kami untuk segera rehaersal persiapan gladi kotor.

“One two one two three!!” komando Mas Arjuna memulai gladi kotor kami yang pertama. Hasilnya? Patricia masih melakukan kesalahan.
“Oke stop!! Patricia I’m sorry, mas ga mau ambil resiko jadi semuanya attention!! We eliminate solo part.” jelas Mas Arjuna yg membuat semua anggota terlihat kecewa terlebih lagi Patricia, ia bahkan seperti menahan tangisnya.
“I’m sorry team, we have no choice.” lanjut Mas Arjuna mencoba menenangkan mereka.
“Jangan mas!!” tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu masuk auditorium sambil berlari menuju kami.
“Please let me in.” ujar Andini sambil ngos-ngosan.

“No Andini!! You’re late!! Waktu kita cuma dua hari lagi.” tolak Mas Arjuna.
“Please mas, kasih aku kesempatan sekali lagi. Saya ga minta waktu latihan tambahan. Kita langsung rehaersal, kalo saya tidak memuaskan di mata Mas Juna saya mundur.” lanjut Andini memohon yg membuat Mas Arjuna mondar-mandir untuk berpikir sejenak.
“Oke let’s try! On position team!!” teriak Mas Arjuna yg membuat semua anggota padus terlihat sedikit bersemangat lagi. Andini pun masuk ke posisinya dan bersiap, Mas Arjuna juga bersiap memimpin seraya menoleh kearahku untuk memulai.

Harus ku akui diri ini terpukau ketika memasuki solo part, Andini bernyanyi dengan sempurna layaknya metronome. Tempo dan pitch controlnya menunjukan kelasnya sebagai lead vokal tim paduan suara yg dibanggakan oleh kampus ini. Bukan lagi menyusahkan, kali ini justru ia membalik keadaan karena menyelamatkan diriku yg sempat inkonsisten dalam tempo akibat terpukau dengan penampilannya dengan menyeimbangkan tempoku.

Hampir lebih dari enam bulan dekat dengannya dulu, aku tidak pernah menyangka Andini memiliki kemampuan bernyanyi yg semengagumkan ini.
“Great!! Good job Team!! Good job Andini!!” sahut Mas Arjuna menutup tiga lagu utama yg akan kami bawakan nanti dengan wajah yang sangat bersemangat membuat semua anak-anak padus meloncat kegirangan.
“Panji you have some note!!” lanjutnya menegur diriku yg tadi sempat salah dan kurespon dengan mengangguk sambil cengengesan.

“But it’s okay, almost perfect. Kita lanjut besok latihannya thanks team!!” tutup Mas Arjuna.
Malam itu selesai latihan dan seperti biasa membantu Meta merapihkan buku-buku serta peralatan latihan lainnya aku melihat Andini masih duduk sendiri di depan auditorium dengan headset menempel di telinganya.

Setelah berpamitan dengan Meta, aku pun bermaksud menghampirinya untuk berterimakasih karena ia mau mengalahkan egonya demi anak-anak padus. Ketika aku berjalan menghampirinya, ia terlihat mendapat telepon dari seseorang dan kemudian bersiap untuk beranjak dari tempat duduknya lalu aku pun segera menyusulnya untuk menghentikannya.
“Andini tunggu!” teriak ku untuk menahannya namun ketika menoleh bukannya memperlambat ia justru mempercepat langkahnya seolah enggan berbicara padaku.

“Andini sebentar.” lanjutku lagi berteriak seraya berlari menyusulnya sambil menahan tangannya. Ketika Andini berhenti dan menoleh tanpa jeda sedikit pun sebuah tamparan mendarat sempurna dipipiku.
Plak!!
“Mau lo tuh apa sih! Lo sendiri kan yg janji buat ga muncul lagi dihidup gue.” jelasnya ketus yg belum kujawab karena masih kesakitan akibat tamparannya.
“Tapi Andini..” ketika aku ingin menjawab namun belum selesai lagi-lagi ia memotong omongan ku.
“Jangan lo pikir dengan gue mau gabung padus artinya gue bisa nerima lo lagi ya! Gue tetep ga nganggep lo ada disitu!!” lanjutnya mengomel.

“Dan satu hal lagi, padus itu tempat gue! Setelah pianis utama kita balik, gue harap lo ga nongolin diri lagi di tim padus.” tutupnya jutek seraya berjalan berlalu meninggalkan aku.
Ternyata Andini masih belum bisa menerima kehadiranku dihidupnya, kalo boleh jujur ada rasa berharap ketika diriku ini ikut dalam tim paduan suara. Bahwa itu bisa sedikit banyak memperbaiki atau minimal menetralkan hubungan ku dengan Andini namun sepertinya hal itu belum cukup membuatnya melupakan kesalahan ku di masa lalu.

Aku berjalan sendiri dengan langkah gontai dari auditorium menuju parkiran, saat mengarahkan motor ini kedepan gerbang kampus disana aku melihat Andini yg dijemput oleh Giri. Aku saat itu baru tahu bahwa mereka berdua masih berpacaran, aku hanya menghela nafas panjang dan melanjuti perjalan pulang menuju kosan.
Akhir-akhir ini hidupku sangat abstrak, hubungan dengan Clara semakin tidak jelas arahnya. Di Bandung aku pun malah asik dengan kehidupan ku sendiri, ya entah mengapa aku jadi terbiasa tanpanya. Sibuk dengan aktifitas kampus dan berteman dengan semua orang, aku merasa seperti bebas tanpa ikatan. Kemana rasa rindu itu pergi? Ataukah cinta ini padanya yg memang sudah hilang?

Hari wisuda pun tiba, hari dimana pertunjukan antara aku dan tim paduan suara kampus akan tampil semaksimal mungkin menunjukan yg terbaik mengiringi para senior kami yg lulus tahun ini. Hanya dalam waktu dua minggu ruh semangat anak-anak paduan suara seperti menyatu dalam antusiasme pribadiku, aku sudah merasa bagian dari tim ini. Kami semua bersiap di backstage dengan wajah antusias meski masih terlihat setiap dari kami yg tentu menyisakan rasa gugup.

“Nji lo kurang rapih.” ujar Meta yg tiba-tiba menghampiriku dan merapihkan kerah kemeja ku, dasi kupu-kupu serta handkerchief di saku dada kanan jas ku. Aku sedikit salah tingkah atas perlakuan Meta, wanita yg pertama kali ku kenal di acara baksos sebagai pribadi yg sangat dingin jutek dan menyebalkan kini berubah menjadi wanita cantik manis hangat serta penuh perhatian.
“Sip! Show your best, we can do it!” ujar Meta menyemangatiku namun terlihat sebenarnya ia juga sedang menyemangati dirinya sendiri.
“Let’s make them impress.” ujarku sambil tersenyum yg direspon Meta dengan mengangguk.

“Come team!” ujar Mas Arjuna memberi aba-aba kami untuk memasuki ruang balai sidang wisuda. Dengan posisiku dipaling belakang, kami pun berjalan beriringan memasuki bagian sisi kanan depan panggung sidang ini lalu berbaris. Sementara aku langsung memisahkan diri berjalan menuju piano besar hitam diujung kanan tim padus.

Dengan dipimpin oleh Mas Arjuna sebagai Dirijen, kami pun memulai penampilan kami membuka acara wisuda, mengiringi para Guru Besar Masuk Ruang Sidang, membawa para wisudawan berdiri untuk mengenang perjuangan kehidupan selama kuliah dalam Mars dan Hymne kampus serta menutupnya dengan persembahan lagu yg menjadi khas di kampus ini. Aku terkagum dengan tangan dingin Mas Arjuna, aku salut dengan kekompakan dan konsistensi para tim paduan suara serta terpukau saat mengiringi Andini sang lead vokal dalam tiap solo part nya.

Hari itu menjadi sebuah rekaman manis kenanganku di kampus, aku yg selama hampir dua tahun ini tak pernah aktif di organisasi maupun kegiatan apapun mendapat kesempatan mempersembahkan kemampuanku untuk kampus tercinta ini. Intinya kami menutup penampilan hari itu dengan sempurna.
Setelah acara selesai dan berkumpul di backstage semua orang bersorak sorai atas keberhasilan penampilan kami semua, Mas Arjuna pun memeluk ku erat dan memuji penampilan ku yg mampu mengimbangi team meski hanya dalam waktu persiapan yg hanya dua minggu.

“You’re amazing Panji!! Great!!” pujinya seraya menepuk kedua pundaku, entah kenapa aku sangat bangga hari itu menjadi bagian dari tim ini.
Tak lama kami pun mulai keluar dari backstage karena cukup sempit dan melanjutkan euforia di luar gedung wisuda kebanggaan kampus.
“Panjiiii!! Thankssss!!” teriak Meta yg tiba-tiba langsung menyambar memeluk diriku, meski kaget dan salah tingkah namun akhirnya akupun membalas pelukannya.
“Andini mana?” tanya Meta yg kurespon dengan menggelengkan kepala, ia pun menarik tanganku sambil mencari Andini.

“Andiniiii!! Great job!! You amaze us Diva kampuuuus!!” teriak Meta yg juga langsung menyambar memeluk Andini namun masih sempat menarik diriku kesebelahnya.
“I’m proud of you!! Both of youuu!! Happy bangeeet!!” lanjut Meta yang masih kegirangan seraya merangkul aku dan Andini. Aku sempat menatap wajah Andini dan tersenyum yg dibalasnya.
Ada rasa bahagia ketika melihat Andini merespon senyuman yg kulemparkan padanya yang membuat euforia ini semakin terasa bahagia.

“Panji.” ujar Andini padaku yg membuat hati ini seperti bersorak dalam hati, akhirnya hari dimana keegoisan Andini luluh dan mau kembali menyapaku tiba. Dengan semangat akupun langsung merespon panggilannya ketika Meta sudah meninggalkan kami dan bersorak dengan anak-anak padus yg lain.
“Iya Andini?” tanyaku tersenyum lebar.
“Gue harap lo nepatin janji lo, cukup sampai disini. Paduan Suara adalah keluarga gue, jangan lo ambil. Jadi sori gue memohon dan maksa lo buat mengundurkan diri setelah ini.” pintanya yg dalam sekejap membuat senyum sumringah diwajahku berubah seratus delapan puluh derajat menjadi datar.
“Oke kalo itu mau kamu.” jawabku singkat menyanggupi kemauan Andini seraya melepas pin paduan suara dan menyerahkan padanya.

“Seneng bisa ngiringin kamu tadi.” tutupku seraya pergi dari hadapan Andini.
Aku berjalan melewati beberapa junior anggota padus yg sempat menahanku untuk menyalamiku atas kesuksesan penampilan kami tadi. Aku hanya tersenyum simpul dan tak lama meninggalkan mereka semua satu per satu.
“Panji? Mau kemana?” teriak Mas Arjuna dari arah belakang yg membuatku menoleh.

“Maaf mas saya ada urusan penting!!” sahutku yg juga berteriak seraya berjalan meninggalkan kerumunan anak-anak paduan suara.
“Panji kumpul dulu!!” lanjut Mas Arjuna terdengar agak parau karena tak kuhiraukan bersamaan dengan semakin menjauhnya jarak antara aku dan Mas Arjuna. Biarlah aku cukup pamit lewat pesan ke Mentari saja nanti.

Sore itu selepas berganti pakaian dan bermaksud untuk pulang kembali ke kosan aku berpapasan dengan Mentari yg sedang duduk sendirian di Kantin.
“Panji! Sini!” teriaknya seraya melambaikan tangan memintaku untuk menghampirinya.
Kupikir mumpung kampus sepi sekarang waktu yg pas untuk mengundurkan diri dari tim paduan suaranya.
“Hey belom pulang.” basa-basiku seraya duduk di bangku yg berhadapan dengannya yg ia respon dengan menggelengkan kepala.

“Lo tadi kemana? Mas Juna ngomel tuh lo ga ikut briefing. Dia tadi sekalian pamit juga soalnya mau ke Singapore tiga bulan jadi ga bisa ngajarin kita dulu.” jelas Meta sambil memainkan sedotan di gelas minumannya.
“Oh ya? Tapi balik lagi kan nanti? Gue tadi ada urusan penting.” jawabku mengelak meski dalam hati ini ada rasa tidak enak sudah tidak sopan karena pergi tidak pamit pada Mas Juna.
“Ya dia mau persiapan seleksi S2 disana, kalo lolos ya paling balik lagi kesini cuma buat pamit.” jelasnya yg kurespon dengan menganggukan kepala.
“Lo ga apa-apa kan nji? Kayanya daritadi sikap lo ga biasa deh.” lanjut Meta yg membuatku kikuk.

“Hah? Engga ko gak apa-apa met. Hmmm ada yg mau gue omongin sih, lo ada waktu?” tanyaku untuk memulai omongan tentang pengunduran diriku dari tim nya.
“Oh iya! Karena Kak Juna bakal pergi, gue punya rencana buat minta lo resmi bergabung sebagai anggota padus. Nanti eks pianis kita yg gantiin posisinya Mas Juna sebagai dirijennya. Keren kan? Gue yakin tim padus ini bisa main di Athena nanti.” cerocosnya semangat yg membuatku semakin kikuk karena rencananya yg tentu tak bisa kupenuhi.
“Eh sorry gue keasikan sendiri, oiya lo mau ngomongin apa barusan??” tanyanya sambil menatap wajahku.
“Gini met. Gue kayanya ga bisa join tim padus lagi deh.” jawabku yg langsung merubah ekspresi ceria Meta jadi murung dalam sekejap.

“Kenapa nji? Lo punya masalah ama siapa? Ama gue?” responnya panik.
“Ga gitu met. Bukan masalah sama sekali.” sahutku yg gagap karena kaget atas respon Meta yg sangat murung.
“Gue mau fokus kuliah aja.” jawabku klise yg membuatnya terdiam beberapa saat.
“Ya kalo itu keputusan lo, gue bisa apa nji.” ujarnya pasrah seraya mengehela nafas panjang. Kuperhatikan matanya agak berkaca-kaca namun seperti ditahan, tak satupun yg jatuh menetes dipipinya. Aku bingung harus senang atau merasa bersalah melihat Meta yg begitu murungnya hanya karena pengunduran diriku yg bahkan baru bergabung selama dua minggu.
“Sorry ya met.” lanjutku yg hanya ia respon dengan senyum dan anggukan.

“Gue cabut ya.” pamitnya seraya beranjak namun kutahan.
“Met! Tunggu.” cegahku yg membuatnya kembali duduk setelah tadi sempat mengangkat tubuhnya dari kursi kantin.
“Kenapa nji?” tanyanya penasaran.
“Lo ga dijemput cowo lo?” lanjutku yg membuat ia berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya.
“Gue anter yuk.” tawarku yg diresponnya dengan terdiam sepert berpikir sejenak.
“Ga usah nji gue sendiri aja.” tolaknya sambil tersenyum.
“Plis met jangan salah paham. Gue cuma mau nganter lo doang ga lebih, anggap aja permintaan maaf gue yg ga bisa menuhin tawaran lo untuk join paduan suara lagi.” jelasku padanya berharap Meta dapat menerima alasan ku.

“Lebay lo!” jawabnya sambil terkekeh namun entah mengapa justru air matanya mengalir saat itu, aku yakin ia kecewa atas penolakanku meski berusaha menutupinya.
“Udah magrib lagian, ga baik cewe sendirian.” ujarku mencoba mengajaknya bercanda.
“Janji ga pake modus lo ya!!” ancamnya namun sambil tertawa yg kurespon dengan memasang gaya hormat padanya. Kami pun berjalan kearah parkiran setelah aku mempersilahkannya jalan didepanku.

Sepanjang perjalanan kami hanya mengobrol walapun lebih tepatnya aku menjadi pendengarnya yg bercerita tentang dirinya selama di tim paduan suara dengan antusiasnya. Aku senang kecerian Meta kembali hanya dengan mendengarkan dongengnya tentang lingkungan favoritnya. Tak heran jika Andini pun memiliki perasaan yang sama dengan Meta terhadap tim ini, aku pun bahkan yg baru dua minggu merasa hampir seperti itu. Betah dan nyaman, namun aku harus mengalah dari Andini.

Malam itu sesampainya di kosan aku menjatuhkan diriku diatas kasur karena lelah seraya memejamkan mata ini untuk beristirahat sejenak namun tak lama kemudian ditengah keheningan handphone ku berdering yg membuatku terperanjak dari kasur karena kaget dan ketika ku lihat ternyata adalah panggilan dari Helen.
“Halo, apaan!?” sapaku ketus karena masih kesal dengan pembicaraan terakhir ditelepon dengannya tempo hari.

“Gue tuh berharap bisa narik omongan gue yg kemaren tentang lo nji, tapi gue kecewa ternyata itu bener.” cerocos Helen sensi padaku.
“Maksud lo apaan sih ci? Belom puas ngejudge gue?” sahutku yg mulai kesal atas sikap Helen akhir-akhir ini.
“Jadi sekarang udah punya pengganti Clara? Yg harus dianter pulang sampe rumah dari kampus.” tembak Helen yg membuatku degup jantungku meningkat.

“Hah? Lo liat gue tadi? Lo lagi di Bandung ci?” tanyaku panik dan penasaran bahkan aku tak terpikir untuk membela diri bahwa tadi itu yg ku antar pulang adalah Meta yg hanya sebatas temanku.
“Harusnya lo berharap gitu. Tapi sayangnya bagian terburuknya adalah bukan gue yg liat, tapi Clara.” timpal Helen.
“What!? Clara di Bandung!!? Ko bisa?!” teriak ku panik.
“Karena lo terlalu lama berdiam diri.” jawab Helen singkat.

Bersambung