Ketika Kita Muda Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 3

Start Ketika Kita Muda Part 3 | Ketika Kita Muda Part 3 Start

Game Over

Ilustrasi Vina

“Mau minum apa nji?” tanya Vina yg berlalu lalang dihadapanku sambil merapihkan beberapa majalah didepan meja ruang tamu dan berjalan ke arah dapur.

“Nji ko ga jawab?” tanyanya sekali lagi karena belum mendapatkan jawab dariku.
“Apa aja vin.” jawabku yg baru sadar dari lamunan imajinasiku tadi.
Tak lama Vina kembali membawakan segelas air putih dingin dan satu botol syrup.
“Kalo mau pake syrup tinggal dituang ya nji” ujarnya seraya meletakan gelas dan botol tersebut dimeja dihadapanku dan ia pun duduk tepat disofa yg sama denganku. Posisi kami berselebahan tanpa ada jarak dengan Vina yg berpakaian sangat minim. Aku saat itu hanya berusaha bagaimana membuat kondisi ku terlihat normal dan Vina tidak menyadari pemberontakan dalam celana maupun pikiran kotorku. Ku harap begitu.

“Kamu sendirian Vin?” tanyaku tanpa menoleh kearahnya membuka obrolan untuk menghilangkan aktifitas khayalan biadabku.
“Nyokap single parent nji, harus ngurus dua anaknya yg sekolah dan rumah segede ini. Jadi mana bisa hidup kalo kerjanya ga over.” ceritanya.
“Rumah sepi terus dong yah?” lanjutku bertanya masih tanpa menoleh.
“Pagi ada pembantu cuma buat beres-beres sama masak. Jam 1 juga udah pulang, jadi jarang ketemu. Adiku pulang sekolah pasti main, tapi sebelum jam 6 juga biasanya sudah sampai rumah. Sementara Mami baru pulang jam 9 kadang jam 11.” jawabnya panjang lebar.
“Kamu kenapa daritadi buang muka sih nji?” lanjutnya yg mungkin melihat gelagatku sedikit aneh karena tidak biasanya aku mengalihkan pandanganku padanya ketika berbicara. Aku langsung menjawab dengan gelengan kepala sebagai isyarat bahwa aku baik baik saja walaupun sebenernya tidak, seraya mengambil gelas yg ada didepanku dan meminumnya sedikit hanya untuk mengalihkan perhatiannya.
Namun Vina malah mendekat kearahku meraih gelas yg ada ditangku menaruhnya kembali ke meja dan memegang wajahku tepat didagu dengan tangan lembutnya untuk membuatku menoleh kearahnya. Kami pun saling berpandangan sekarang dengan hanya menyisakan jarak beberapa centimeter saja.
“Kenapa nji?” ujaranya lembut.
“Gak apa-apa vin.” jawabku terbata-bata.
Tanpa menjawab, Vina semakin mendekatkan wajahnya kearahku. Tatapannya dalam, seakan menjelajahi mataku yg juga sedang melihat matanya.

Beberapa detik dalam posisi mematung tersebut, aku yang seperti terhipnotis oleh kecantikan Vina mulai memberanikan diri menghancurkan tembok moralku dan memajukan wajahku semakin dekat kearah wajahnya, mendekatkan bibirku dengan bibirnya yg tipis dan merah muda itu.
Aku menatapnya sekali lagi untuk memastikan bahasa tubuhnya memiliki definisi yg sama dengan maksudku. Mata Vina yg mulai terpejam kuanggap sebagai jawaban ya.

Bibir kami akhirnya bertemu, bersentuhan sesaat dan mulai bergerak untuk saling mencumbu.
Aku berinisiatif mengulum bibir bawahnya yg disambut Vina dengan mengulum bibir atasku, lalu bergantian begitu terus kami berciuman hingga Vina mulai memainkan lidahnya yg kusambut dengan mengulumnya dan ciuman ini semakin basah ketika permainan lidah ini semakin liar.
Saraf sensoriku mulai memerintahkan bagian tubuh lain untuk memuaskan hasratnya, dopamin dalam tubuhku seakan terus meningkat dan membuat tangan ini mulai bergerak kearah bahu Vina yg mulus, tatapanku mencuri pandang kearah toket Vina yg besar dan menantang untukku jamah. Sesaat tanganku mulai menggerayangi bagian dadanya tiba-tiba terdengan suara pintu pagar dibuka.
Sontak membuat aktifitas aku dan Vina berhenti, kami melepas ciuman bibir ini dan saling menatap.

“Adiku.” ucapnya seraya berdiri dan kemudian berjalan kearah sebuah kamar utama yg kupikir adalah kamar Ibunya.
Tak lama kemudian Vina keluar sambil memakaikan cardidan untuk menutupi pakaian minimnya.
Kali ini Vina duduk di sofa yg posisinya bersebrangan denganku dan tersenyum saat wajah kami saling berpandangan. Disaat yg hampir bersamaan adik Vina muncul, dan menyapa kami.

“Ini Miko nji, adiku.” ucap Vina yg memperkenalkan adiknya kepadaku yg hanya berbeda setahun dengannya namun Miko ini lebih memilih bersekolah kejuruan.
“Panji.” salamku seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya.
Kamipun berjabat tangan yg kemudian perkenalanku dijawabnya dengan ledekan.
“Oh kayanya kemarin yg Kak Vina kenalin namanya Bobby, beda lagi kak?”
“Apaan sih Miko.” ujar Vina sambil memukulnya dan mendorongnya untuk meninggalkan kami berdua.
“Hahaha iya becanda, Kak Panji jangan dianggap serius ya.” katanya sambil berlalu setelah diusir oleh Vina.
“Geblek emang tuh anak.” cemooh Vina.
“Ya udah aku pulang ya Vin, ga enak nanti kalo Bobby tau.” ledeku.
“Panjiiiiii.” jawab Vina disertai pukulan bertubi-tubi kepundaku. Pukulan yg lembut, rasanya bukan sakit tapi rindu gumamku dalam hati.

Hari seninnya aku masuk kelas seperti seorang terpidana yg dinanti dalam persidangan, Regas dan Angga yg tidak biasanya datang lebih dulu dari aku kini sudah duduk bersebelahan seakan siap menginterogasiku.
“Tumben lo pada udah dateng jam segini? Mau siap-siap solat ied?” ledeku yg mencoba menghindar dari rencana mereka namun tubuhku segera ditarik oleh Regas untuk duduk dihadapan mereka berdua.
“Ceritalaaaah.” ujar Angga membuka sesi interogasi.
“Bagian mana yang harus gue ceritain?” jawabku dengan muka cengengesan.
“Bagian enak enaknya.” lanjut Angga yg kemudian ditempeleng oleh Regas.
“Udah jadian?” tatap Regas serius.
Aku berpikir lama dan menjawabnya menggelengkan kepala.
“Yaaaaaah” jawab mereka kompak.
“Ga jadi dapet traktiran kita hari ini.” respon Angga.
“Padahal gue udah ga sarapan dari rumah.” lanjut Regas.
“Kampret! Gue kira nunggu kabar bahagia ga taunya nunggu traktiran.” jawabku sambil melempar pulpen kearah mereka yg direspon dengan tertawa penuh hinaan.

Hari itu di jam istirahat pertama aku tidak menemui Vina seperti biasanya karena sibuk menyelesaikan tugas Biologi mencatat pertumbuhan tanaman di Lab bersama teman-teman sekelompok ku. Lalu jam istirahat kedua dimana waktunya makan siang aku tetap ke kantin seperti biasa bersama Angga dan Regas.
Tak lama saat kami sedang asik ngobrol dan menyantap makan siang kami, Regas menegurku untuk menoleh.
“Nji, dicariin Nyonya tuh.”
Mendengar perintah Regas aku pun menoleh untuk mencari tahu siapa yg ia maksud.

Ternyata ia adalah Vina yg sedang berjalan mendekat kearah meja aku bertiga dan melambaikan tangan saat melihat aku menoleh kearahnya.
“Hai cowo. Boleh gabung ga.” tanyanya sedikit centil.
“Silahkan nona.” jawab Angga yg mempersilahkan Vina duduk dikursinya dan segera berpindah posisi dari sebelahku ke sebrang meja bersebelahan dengan Regas.
“Thanks Angga. Pengertian deh.” ucap Vina seraya duduk disebelahku.
“Kamu ko tadi ga nemuin aku kaya biasa sih beb?” tanya Vina yg membuat aku tersedak karena ucapannya. Sejak kapan dia memanggilku beb gumamku dalam hati.
“Lah kampret, tadi pagi ditanya jadian katanya belom.” ucap Angga yg kubalas dengan menaikan kedua pundakku sebagai isyarat tak paham maksud semua ini.
“Oh Panji bilang gitu? Yah aku ga dianggap pacar toh ama dia. Kasian ya aku.” jawabnya dengan memasang wajah cemberut.
Regas yg paham akan situasi segera mengambil alih pembicaraan dengan bahasan humor dan leluconnya. Kami pun berempat asik dalam pembicaraan dan tertawa sepanjang jam makan siang itu.
Thanks gas gumamku dalam hati.

Selepas kejadian itu hubunganku dan Vina tidak ada yg berubah, malah cenderung semakin intens bertemu. Di istirahat pertama aku menemui Vina di kelasnya, jam istirahat kedua Vina terkadang bergabung makan siang bersama aku Regas dan Angga. Pulang sekolah jika tidak ada jam tambahan atau tugas, aku sering mengantarnya pulang dan tidak hanya sampai disitu begitu dirumah Vina sering meneleponku sekitar jam7 meski hanya untuk mengobrol beberapa menit.
Hal tersebut berjalan hampir dua bulan lamanya hingga akhirnya anak kelas tiga akan memulai try out jelang UN dan seperti biasa anak kelas 1 dan 2 diliburkan.

Sehari sebelum liburan, di hari jumat setelah selesai jam istirahat kedua kami hanya beres-beres kelas dan dipulangkan karena para guru akan rapat.
Saat aku Regas dan Angga berjalan keluar kelas, disana sudah berdiri Vina dan menghampiriku.
“Pulang bareng yuk nji.” ajaknya.
Aku menoleh kepada kepada kedua sahabatku yang dijawab dengan anggukan kepala keduanya dan kamipun berpisah.

Ditengah perjalan menuju rumahnya, Vina memintaku untuk berhenti sejenak di sebuah mini market dan membeli beberapa cemilan.
“Yuk nji, kerumah km.” ujarnya mengagetkanku saat kembali dari mini market karena tidak ada rencana itu sebelumnya.
“Loh? Ko ke rumah aku?” tanyaku heran.
“Ga boleh nih ceritanya?” tatapnya dengan wajah sedikit mengancam.
“Oke.” jawabku singkat dan kami pun memutar arah kerumah ku di daerah Mampang.

Sesampainya di rumahku, aku langsung mengajaknya masuk ke dalam.
“Masuk vin.” ajaku yg dijawab dengan anggukan dan berjalan mengikuti dari belakang.
“Mah ada tamu nih.” lanjutku sedikit berteriak dan melepaskan tas serta jaketku diruang tamu.
Vina bukannya duduk namun malah melengos kearah dapur rumah ku. Aku yg masih sibuk merapihkan jaket serta tasku segera kearah dapur untuk menyusul Vina dan ketemukan ia sedang mengobrol dengan Ibuku.
“Nji temennya siapin minum dong, Mama lagi tanggung nih masak.” yg kujawab dengan anggukan dan berjalan kearah kulkas mengambil sebotol minuman dan menuangnya ke gelas yg ada diatas meja dapur.
“Gampang tante, Vina bisa ambil sendiri.” jawab ia disaat yg bersamaan.
“Eeeh ga boleh, tamu itu harus dilayanin. Apalagi pasti ini tamu istimewa. Pertama kalinya loh panji bawa temen perempuan kerumah. Pasti pacarnya Panji yah?.” lanjut Ibuku.
“Kalo masalah itu, tanya Panji aja tante.” jawab Vina sambil tersenyum manja kearah Ibuku.
“Mama apaan sih.” tanggapku.
“Malu-malu tuh dia Vin.” jawab Ibuku seraya tertawa berasama Vina seakan kompak meledek diriku.
Aku mengambil gelas yg sudah kusiapkan untuk aku dan Vina dan berjalan kearah ruang keluarga sambil berkata kepada Vina minumannya aku letakan diatas meja didepan tv sementara Ibuku dan Vina masih asik mengobrol entah apa yg mereka bicarakan. Aku menyalakan telivisi namun sebenernya tidak fokus menonton melainkan memperhatikan Vina yang sedang mengobrol dengan Ibuku. Sejujurnya saat itu aku merasa senang melihat ia akrab dengan Ibuku.

“Hey bengong aja.” sapa Vina yg sudah ada didepanku dan cukup mengagetkan lamunanku.
“Eh, udah ngobrolnya?.” tanyaku yg dijawab dengan anggukan dan duduk tepat disebelahku tanpa menyisakan jarak.
“Mama mu asik yah.” ucapnya memulai obrolan.
“Mami mu juga pasti sama kan.” jawabku sambil menoleh kearahnya
Vina tersenyum dan mengangguk.
“Mau lihat kamar mu dong.” lanjutnya meminta dengan meraih tangan membuat isyarat memohon ditambah senyuman yg mengiba membuatku tak bisa menolaknya.

Kamipun berada di kamarku, aku sembari meletakan jaket dan tas yg kutinggalkan tadi di ruang tamu serta merapikan beberapa komiku yg berantakan sementara Vina asik berputar-putar melihat seisi kamarku yg penuh dengan komik dan poster-poster anime.
“Cowo tuh walaupun udah gede masih aja yah sukanya kartun.” ucapnya mengomentari isi kamarku.
Aku yg telah selesai merapihkan beberapa barang ke posisinya semula segera mengambil remote AC menyalakannya dan duduk di meja belajar seraya menyalakan notebook ku tanpa menanggapi ucapan Vina.
Saat sedang asyik menunggu loading di notebook ku tiba2 Vina memutar kursiku membuat posisiku yg tadinya menghadap notebook berubah menjadi berhadapan dengannya. Wajahnya mendekat kearahku dengan tatapan tajam.
“Orang nanya ko ga dijawab sih nyebelin.” hardiknya kepadaku.
“Tadikan bukan pertanyaan Vina.” jawabku.
“Terus kenapa malah nyalain notebook, akunya dianggurin.” ucapnya sambil sebentar menoleh ke arah notebook dan kembali menatapku dan juga mencolek hidungku.
“Dasar hidung.”

Kami kembali berada pada posisi saling menatap dalam, aku yg duduk dikursi dan Vina yg berdiri sedikit berbungkuk kearah ku dengan kedua tangannya di handle kursi yg kududuki. Lama kami mematung pada posisi tersebut, hanya terdengar suara deru AC dan nafas kami masing-masing yg semakin berat.
“Kangen bibirmu dung.” ucapnya singkat seraya memajukan wajahnya kearahku dan kusambut dengan menarik dagunya untuk menuntun bibir kami saling bertemu.
“Mmmmhhh.” desah Vina disaat bibir kami mulai saling melumat dan mengulum. Dibanding ciuman pertama kami beberapan bulan lalu, ciuman ini jauh lebih panas seakan menumpahkan dopamin yg selama ini tertahan.

Basah, lembut, hangat dan geli semua rasa itu bercampur aduk menjadi sebuah nikmat yang terus kami selami bersama disertai desahan desahan Vina yg menambah panas suasana kamarku yg berAC.
Vina menarik tanganku untuk berdiri dan aku mengikuti geraknya namun kami masih dalam posisi berciuman. Dalam posisi berdiri dan agak menjijit tangannya melingkar dileherku dan tanganku memeluk tubuhnya untuk semakin mendekat kearahku hingga tak menyisakan jarak diantara kami.

Bibir kami masih saling beradu diiring dengan desahan seksi Vina “Hmmmmhh.” lenguhnya sepanjang kami berciuman. Aku yg semakin belingsatan segera mendorong tubuh Vina ke atas kasur kamarku dan saat aku bermaksud menaikan tanganku kearah kedua bongkah toket Vina yg masih dibungkus seragam ketatnya lagi-lagi kami harus berhenti.

“Panjiiii Vinaaaa makan dulu yuk, udah siap nih masakannya.” teriak Ibuku yg langsung sontak kembali menghentikan aktifitas kami berdua.
Vina tersenyum sesaat setelah melepas bibir kami yg kemudian mencolek hidungku seraya berkata.
“Aku aduin ke Mama yah kamu udah berani nidurin-nidurin aku.”
“Aku aduin balik ke Mami kamu.” ledek ku.
Kamipun lalu turun dan makan bersama Ibu ku. Sepanjang waktu makan Vina mengobrol banyak dengan Ibuku tentang hal-hal yg kupikir hanya dimengerti oleh wanita. Setelah makan Vina dan Ibuku lanjut mengobrol sambil mencuci piring bersama yg awalnya ditolak Ibuku namun Vina memaksa tetap melakukannya. Vina benar-benar sangat pandai bergaul yang membuatku semakin mengagumi sifatnya.

Tak lama setelah itu Vina pun pamit dan kuantar dengan motorku, dimana sepanjang jalan tidak seperti biasanya ia memeluk tubuhku erat dan kepalanya menempel dipundaku manja.
Sesampainya di depan rumahnya ia sempat menagajaku mampir namun kutolak karena hari sudah mulai malam, cukup lama kami berdiri didepan rumahnya namun akhirnya ia masuk dan aku pun meninggalkan rumahnya dengan motorku.
“Hati2 dung.” pesannya saat itu. Entah mengapa mulai hari itu Vina memanggilku dengan sebutan hidung.

Tadi aku menolak ajakan Vina mampir kerumahnya karena berniat langsung ke rumah Angga yang disana juga sudah ada Regas seperti biasa.
“Lo udah hampir 4 bulan nji deket ama Vina, makin hari makin nempel. Kalian tuh sebenernya gimana sih?” ucap Regas membuka obrolan kami yg memang sengaja tujuanku kesini untuk menceritakan masalah itu.
“Gue suka ama Vina. Tapi gue ga berani. Bukan ga berani nyatain, tapi gue ngerasa circle (perkumpulan/ geng) gue ama dia beda. Sekarang kita masih masa PDKT, kalo nanti pacaran dan dia maksa gue buat gabung circle dia yg isinya anak-anak sosial serta geng motor begajulan gimana? Gue ga bisa nyet.” jelasku kepada Angga dan Regas.
“Alesan lo cuma itu nji? Pengecut kampret! Terus ngapain kalo gitu deket-deketin dia selama ini? Berharap Vina ikut circle lu?.” tanggap Angga mulai serius.
“Nji, ga ada yg perlu berubah. Jalanin aja. Kalo ga cocok tinggal putus. Daripada kaya sekarang? Kurang yakin apa Vina sama lo sampe bela-belain ngeluluhin hati nyokap lo.” tambah Regas yg kuyakini untuk kali ini semua ucapan benar.
Namun entah mengapa keraguan itu masih ada.
“Kalo jadian hanya untuk putus, gue lebih milih hubungan yang sekarang nyet.” jawabku kepada mereka berdua.
Regas dan Angga saling bertatapan seakan membuat kesepakatan disini mereka akan memberikan argumen sebagai saran penutup cuhatan ku.
“Kalo gue, lebih baik putus dan gue tau itu salah daripada ga pernah ngambil keputusan apa-apa.” tanggap Regas.
“Semuanya balik lagi ke lo nji. Keputusan apapun, kita tetep dukung lo.” tambah Angga.
“Gue pikirin sampe liburan selesai deh.” jawabku lemas.
“Nih anak ga tau benda kotak yg kalo diteken nomor bisa ngobrol sama seseorang disebrang pemilik nomor itu ya?.” ucap Regas kesal seakan tak puas dengan jawaban ku.
“Atau kan lo bisa langsung ke rumahnya nji, tinggal samperin.” ucap Angga menambahi.
“Males ah, gue kan g tau kapan dia ada di rumah. Siapa tau lagi liburan keluar kota.”
“Ya makannya telepon dodoooool!” jawab Regas dan Angga kompak.

Akhirnya seminggu liburan berakhir, dan aku masih tidak melakukan apapun terhadap hubunganku dengan Vina bahkan parahnya selama liburan kami tidak pernah saling berkomunikasi bahkan lewat pesan singkat ataupun telepon.

Aku yg memang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Vina, menanti hari ini untuk mengungkapkan perasaanku padanya sangat gelisah. Jam istirahat pertama hari itu rasanya panjang sekali, aku sangat tidak konsen dalam pelajaran bahkan Pak Ito sempat menegurku saat kelas Biologi.

Bel istirahat pertama berbunyi, akupun dengan perasaan campur aduk dan deg-degan yg luar biasa mengumpulkan keberanian untuk segera menemui Vina. Regas dan Angga yg melihat tingkahku yg bak cacing kepanasan hanya melempari aku dengan obat antimo biar ga mabok kata mereka, kampret memang.

Aku pun bergegas ke kelas Vina untuk menemuinya, namun tidak seperti biasanya tidak ada seorangpun yg duduk di kursi panjang di depan kelas 2 Sosial 2 tersebut. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam kelas itu untuk mencari Vina namun yg kutemukan hanya Indra dan aku pun menanyakan keberadaan Vina kepada Indra yg ia jawab tidak tahu karena sedari tidak melihat Vina sejak bel berbunyi. Namun ada yg berbeda, Indra tampak menyembunyikan sesuatu dariku.
Mendapati diriku yg tidak menemukan Vina akupun memutuskan untuk ke kantin menyusul Regas dan Angga, dan setibanya di kantin disana sangat ramai tidak seperti biasanya. Ada suara sorak sorai seperti sedang menyebut sesuatu yg tak dapat jelas kudengar. Aku yg penasaran menghampiri kerumunan tersebut dan langsung terpaku begitu melihat apa yang terjadi.

Vina dan Rian sedang dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya dan beberapa anak geng motor temen Rian. Mereka sedang menyoraki dan merayakan Vina dan Rian yang baru jadian.

Regas dan Angga yang sedang berdiri disebrang keramaian itu menyadari keberadaanku dan segera menghampiri aku.
“Lo tau nyet?” selidik Angga.
“Kalo tau, ngapain daritadi pagi gue gelisah kaya orang sakaw kampret.” jawabku kesal kepada Angga dan Regas dan langsung meninggalkan mereka berdua kembali ke kelasku. Hari itu kuanggap hubungan ku dengan Vina hanyalah sebuah delusi yg kunikmati sendiri.

Setelah kejadian itu aku kembali pada aktifitas seperti sebelum aku mengenal Vina, menghabiskan waktu di kelas dan juga main bersama Regas dan Angga. Meski begitu aku sangat terlihat masih belum sepenuhnya normal. Ya otaku masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang membuatku sangat kesal.
Kenapa kita dulu bisa deket sih Vin. Apa maksud ciuman kita Vin. Apa arti pelukan kamu Vin. Kenapa kamu menemui Mama ku Vin. Dan beribu pertanyaan terus terulang dan terngiang memenuhi kepalaku.

Ada hal yang membuatku kenapa sekesal ini dengan Vina, bukan sepenuhnya karena hubungan jadiannya dengan Rian melainkan semenjak hari itu gosip-gosip tentang diriku mulai bermunculan di sekolah dan yang paling membuatu kesal adalah omongan mereka bahwa aku ditikung oleh sahabat ku sendiri Rian.

Rian adalah teman dekatku sejak SMP, bisa dibilang saat SMP Rian adalah Regas dan Angganya dimana kami sering menghabiskan waktu main bersama, belajar kelompok dan lain sebagainya.
Hanya saja sejak masuk SMA kami pisah kelas dan ia yg masuk kelas 1-6 lebih sering berkumpul dengan anak-anak geng motor yg membuatku tidak lagi dekat dengan Rian.

Kembali ke masalah ku, sebenarnya sudah beberapa kali Vina berusaha menemui ku namun selalu saja kuabaikan. Hingga akhirnya ia menelepon kerumahku dan diangkat oleh Ibu ku, aku yg tidak ingin Ibu tahu masalah ku karena tidak enak baru beberapa minggu yg lalu mengajak Vina ke rumah pun memutuskan untuk menjawab telepon Vina.
“Halo dung. Apa kabar? Kamu kemana aja sih? Ada yg mau ceritain ke kamu tapi ko kamu menghindar terus dari aku.” ucapnya disebrang telepon dengan nada yg lembut seakan tak ada masalah apa-apa antara aku dan dirinya membuat rasa kesal dalam dirku semakin memuncak.
“Vin, g ada yg harus kamu ceritain lagi ke aku. Lagian mulai Senin kita ada ujian, aku mau fokus belajar. Udah dulu ya Vin.” ujar ku sambil menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Vina disebrang telepon.

Itulah awal mula perkenalan serta cerita tentang hubunganku dengan Vina, hingga akhirnya sejak telepon Vina malam itu kami benar-benar lost kontak sampai akhirnya ujian kenaikan kelas dan liburan semester selama tiga minggu. Itulah alasan mengapa saat bertemu lagi dengannya di kantin saat itu aku berusaha menghindar darinya.

Hingga akhirnya sekarang setelah hampir dua bulan lamanya tidak berhubungan, Vina kembali lagi muncul dihidupku yg bahkan sekarang sedak duduk didepan ku di sebuah cafe yg dulu sering menjadi tempat nongkrong kami.
“Udah berapa bulan ya dung kita ga kesini?” ucapnya membuka obrolan kami.

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 3 | Ketika Kita Muda Part 3 – END

(Ketika Kita Muda Part 2)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 4)