Ketika Kita Muda Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 29

Start Ketika Kita Muda Part 29 | Ketika Kita Muda Part 29 Start

Truth, Cry & Lies

Jika ada yg membaca judul diatas dan teringat akan sebuah lagu lawas yg dirilis tahun 2005 oleh Band asal Indonesia yaitu Letto, ya anda tidak salah untuk part kali ini ijinkan aku meminjam judul lagu itu. Secara sederhana, lagu yg cukup popoler pada masanya itu mengingatkanku akan sebuah hubungan percintaan ku di masa muda bersama Clara juga beberapa wanita yang hadir dan pergi. Entah mengapa ketika aku mengingat lagi masa itu bahkan menulis kembali cerita ini, begitu banyak kenangan yg aku lewati tak melulu soal bahagia bahkan bisa dibilang lebih banyak konflik yg terjadi menghiasi kehidupan ku dulu.

Ada lirik dalam lagu itu yg menurut pandanganku bermakna bahwa itulah dunia, Cause in every life a little rain must fall, yap! Jika kita memaknai hujan adalah sebuah kesedihan, bagian bumi mana yg tak pernah mendapat jatuhnya bahkan di Gurun Sahara sekalipun. Artinya jika kita berharap seluruh perjalanan hidup di duna adalah kebahagian, itu adalah utopis yg takan pernah terjadi. Lalu selanjutnya pada bagian inti lagu, There’s the truth behind a cry, and there’s a cry behind a lie. On every word that come out wrong, just let them go and let’s get along.

Kenyataan yg menarik lagu ini mengatakan kepada kita bahwa manusia yg paling sering membuat sakit adalah justru dari orang terdekat itu sendiri. Percayalah, jika ada orang yg tidak pernah berkonflik dengan kita maka orang itu dapat dipastikan manusia yg sama sekali tidak pernah ada dalam cerita kita sehingga lagu ini juga menyampaikan jangan pernah menjadikan masalah alasan untuk berpisah melainkan untuk kembali pada hubungan yg lebih baik lagi.
Aku bukan sedang membela diri, namun kupikir pertengkaran atau perbedaan pandangan yg selama masa itu terjadi antara aku dan Clara sebagai bukti bahwa ia adalah sosok yang paling penting didalam hidupku.

Bandung, 2006


Ilustrasi Lala

Setelah shock mendengar apa yg keluar dari lisan Lala, aku semakin mengerutkan dahi mengingat beberapa detik setelahnya ia malah tertawa geli dengan wajah centilnya.
“Muka lo kocak nji! Becanda gue!!” ujarnya yg membuatku menghela nafas panjang.
“Sialan lo, panik gue.” jawabku dengan nada yg sedikit lega. Mendapati jawabanku Lala malah semakin melingkarkan tangannya dileherku dan menatap mataku dengan sangat dalam.
“Ko malah panik, emang kalo gue jatuh cinta salah?” lanjutnya yg mengembalikan suasana menjadi kaku.

“Kan lo yg bilang jangan jatuh cinta sama orang yg udah punya pacar, nanti sakit.” jawabku meniru ucapannya yg sok bijak dan hanya dibalas dengan senyum meledek oleh Lala namun ia tak kunjung melepas rangkulannya dileherku. Saat sedang saling menatap, cuaca Bandung malam itu menambah intim posisi kami karena tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai beberapa gemuruh petir.
“Noh semesta aja mendukung kita buat berbuat lebih dari temen.” ujar Lala dengan nada yg lirih.
Ditengah pikiranku yg berkecamuk akhirnya menyerah pada kemunafikan, sikat aja lah nji gumamku dalam hati. Akhirnya akupun kembali bergerak mengecup bibir Lala dan kami saling berpagutan panas ditengah dinginnya cuaca Bandung malam itu.

Jemariku perlahan mulai menelusuri bagian punggung tubuh Lala sambil sesekali bergerak kearah lengan untuk mengelusnya terus bergantian seperti itu. Dengan posisi kami yg masih saling berciuman, Lala sedikit agak memundurkan badanya seakan memberiku ruang untuk melepas cardigan yg ia pakai dan dengan sekali tarikan pada bahu kanan dan kirinya cardigan tersebut pun lepas dengan hanya menyisakan tanktop tipis di tubuh Lala.

Tanganku kembali meraba area bahunya yg terbuka dan leher belakangnya yg membuat Lala cukup menggelinjang kegelian. Sesaat kemudian Lala melepas kuluman bibirnya dan memandangku lirih seraya mengelus rambutku dengan kedua tangannya.
“Pintunya belom dikunci sayang.” ujarnya dengan senyum menggoda yg membuatku terhipnotis dan bangkit untuk menutup serta mengunci pintu kamar kosku.

Lala kemudian berdiri berjalan menghampiriku lalu kami pun kembali berciuman lebih bergairah tanpa menghiraukan sekitar mengingat suara hujan deras yg turun malam itu seakan menyamarkan desahan dan kecupan yg timbul dari setiap kuluman bibir kami. Rasa geli mulai menjalar keseluruh tubuh kami atas lidah yg saling beradu, tanganku kembali mendapat perintah dari dopamin untuk bergerak menelusuri kulit tangan halus Lala dan perlahan keatas menuju bahunya lalu menarik tali tanktopnya hingga terlepas lah toket kiri Lala yg ukurannya cukup dalam genggam tanganku.
Mendapat rangsangan di toketnya yg mulai ku elus dan remas perlahan, bibirnya pun semakin bernafsu melumat dan menyedot lidahku.

“Hmmm sssshhh” desah Lala yg dipadu dengan derunya deras hujan malam itu benar-benar telah membuat diri ini lupa karena melanggar batas hubungan yg wajar antara teman kos, bahkan bunyi handphone ku yg mendapat panggilan dari Clara pun sama sekali tak terdengar. Benar kata Lala mungkin semesta mendukung kami untuk bertindak lebih dari sekedar teman malam ini.
Saat jemariku mulai bermain memilin puting toket Lala, ia mendesah hebat seraya melepas ciuman bibirnya.
“Ouuuhhhhh ssshhhmmm uhhhhhhhhhh.” lenguhnya panjang.
“Kenapa la?” tanyaku seraya menempelkan hidung ini pada hidungnya untuk mempertahankan suasana intim kami.

“Gak apa-apa, terusin sayang.” pintanya singkat seraya tersenyum dan mengecup hidungku yg balas dengan mengangguk.
Wajahku mulai menuruni lehernya dan memberikan kecupan serta ciuman lembut yg membuat Lala menggelinjang sambil mendesah. Perlahan aku mulai mendekati buah dadanya untuk menikmati toketnya dengan memberikan kecupan dan lumatan.
Lala pun kembali mendesah saat lidahku mulai menikmati setiap centi toketnya hingga akhirnya mengulum putingnya dengan lembut.
“Aahhhh enakkkk nji uuuhhhhhhh.” lenguhnya lagi yg membuatku semakin bernafsu untuk terus mengemut toketnya.

Jemariku bergerak kearah bahu kanan Lala dan melepas tali tanktopnya sehingga kedua toket imutnya sekarang menantang untuk dijamah. Bibirku pun mulai bergerak berpindah menciumi toket kanannya sambil tangan kanan ini lanjut meremas lembut toket kiri Lala.
Tak lama diiring lenguhan dan desahannya, Lala menjatuhkan dirinya pada badanku yg segera ku peluk.
“Diatas kasur aja nji, lemes gue.” lirihnya ditelingaku. Aku pun segera membopong tubuhnya dan menidurinya di kasur.
“Nji.” tegur Lala pelan.
“Hmmm” jawabku singkat sambil membenamkan wajahku pada lehernya dan menciuminya.

“Kalo mau dilanjut lo harus janji sesuatu ama gue?” ujarnya yg membuatku menghentikan sejenak aktifitas mencumbu Lala. Aku hanya memandang wajahnya seakan meminta ia melanjutkan kalimatnya.
“Jangan berharap banyak kalo gue bakal jago muasin lo ya?” lanjutnya dengan wajah memerah.
“Apaan sih la.” sahutku sedikit tertawa.
“Ya kan gue yg godain lo, takutnya lo mikir gue cewe yg biasa begitu dengan sembarangan orang dan jago.” jawabnya lagi dengan malu-malu yg kurespon dengan tertawa ringan.
“Ih ko malah ketawa!!” tegurnya manja sambil memukul dadaku.

“Lo cukup tanggungjawab aja udah godain gue.” timpalku seraya mengecup bibir Lala.
“Hmmm satu lagi. Jangan pake hati yah, nanti gue jatuh cinta beneran.” tutup Lala dengan kedipan mata yg menggoda dan membuatku terhipnotis untuk kembali mencumbunya.
Bibirku dan bibirnya terus beradu juga saling memainkan lidah hingga penuh dengan liur birahi kami, tanganku berada dikedua toket Lala terus merangsangnnya dengan mengelus dan memilinnya.
“Ssshhh uhhhh ngilu nji.” desahnya.

“Lagian gemesin.” jawabku asal karena sedang dikuasai birahi.
Ciuman ku pun turun ke leher dan menyupangnya habis-habisan sambil sesekali menggigitnya yg sempat diprotes Lala karena takut merah namun akhirnya ia pun hanya bisa pasrah menikmati perlakuanku.
“Aahhhh nakal banget sih sayangghhhmmmm.” ujar Lala sambil merem melek.
Bibirku akhirnya turun menuju kedua bongkah toketnya yg membusung karena kuremas lalu sambil kujilati kanan dan kiri bergantian. Saat asik menikmati dengan kedua bukit kembar Lala dengan ciuman dan kuluman, badan ia mengejang dan melenguh panjang.

“Aaahhhhh njiiiiiii uhhhhhhhhh.” erangnya dengan nafas tersenggal-senggal.
Aku melepas kuluman bibirku pada toketnya dan menatap wajah Lala yg sedikit memerah.
“Lo keluar?” tanyaku heran yg hanya dijawab Lala dengan anggukan.

“Kan udah dibilang gue ga jago.” jawabnya merengek malu-sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Hahaha seksi ko.” balasku menggodanya yg membuat Lala bangkit dengan wajah cemberut.
“Gantian.” ujarnya singkat sambil menarik celana pendek ku hingga keluarlah batang kejantanaku yg sedaritadi memang sudah berontak karena percumbuan ini. Tanpa menunggu komando Lala langsung melahap seluruh batang kontolku dan mulai mengulumnya maju mundur sambil dikocok dengan tangan kanannya.

“Ssshhhh ohhh enakk laaaa.” erangku menerima perlakuan Lala.
Birahiku semakin meningkat karena melihat bagaimana Lala sedang menservis batang kontolku dengan penuh nafsu, perlahan aku pun mulai menggerakan kontolku maju mundur seirama dengan gerakan Lala dan cenderung semakin cepat, sambil sesekali tanganku kembali nakal menjamah kedua toketnya yg menggantung seksi dengan memilin putingnya.
“Akkhhhh masukin aja nji.” pinta Lala yg pasrah dan segera ku baringkan tubuhnya lalu melepas celana pendeknya serta cd nya bahkan Lala menolak saat aku bermaksud memberikan oral pada kewanitaannya.
“Jangan nji, nanti keluar. Masukin punya lo aja.” ujarnya lagi dengan wajah memerah.
“Masukin apa?” godaku meledeknya.

“Ih panji nyebelin.” jawabnya merengek karena malu.
Aku pun mencumbu bibirnya dan menggigitnya sesekali, entah kenapa kelakuan Lala membuat ku ingin merasakan sensasi yg berbeda seperti agak sedikit kotor dan nakal, berbeda dengan rasa saat mencumbu Clara atau Helen.
“Kasih tau dong daripada salah sayang.” godaku lagi padanya.
“Masukin kontol sayaaaang.” ujar Lala akhirnya mengikuti kemauanku seraya mengelus batangku.
Akhirnya aku pun mengarahkan kontol ini ke memeknya yang memang sudah sangat becek dan licin sehingga dalam satu dorongan langsung masuk meski cukup sempit.

“Ssshhhhhh uhhhhhhhh.” lenguh kami berdua saat menikmati penetrasi.
Saat kemaluan kami mulai bisa saling menempatkan posisi yg pas, aku mulai menggerakan maju mundur dengan tempo yg pelan menikmati setiap gesekan kulit kontolku dengan dinding memek Lala.
“Aaahhhh enak nji terussss.” desah Lala yg sambil mencengkram kuat bahuku hingga sakit namun kuabaikan, mungkin itu memang kebiasaannya pikirku.
Aku perlahan mulai mempercepat tempo genjotanku yg semakin membuat Lala merintih menikmati percumbuan ini.

“Hmmmssshhhh enak banget ngentotin lo laa aahhhhh.” erangku asal tak peduli sekitar karena memang hujan diluar saat itu masih turun dengan derasnya.
“Uhhhh nakal banget sih mulutnya.” ujar Lala sambil agak bangkit dari tidurnya untuk menyumpal mulutku dengan bibirnya, kamipun langsung berciuman penuh birahi saling memainkan lidah dan bibir.
Gerakan tubuh ini semakin bernafsu untuk terus menaikan tempo genjotanku hingga akhirnya Lala melepas ciuman dan tubuhnya mengejang serta melenguh panjang.
“Panjiiiiiii aahhhhhssssshhhhh uhhhhhh.” erangnya dengan wajah seksi dan kemudian tubuhnya ambruk ke kasur, sepertinya Lala sudah mendapatkan orgasme keduanya malam itu.

Melihat kondisi Lala yg sudah seperti kehabisan tenaga aku pun langsung fokus mengejar orgasme ku daripada harus kentang karena Lala yg sudah tidak bertenaga lagi untuk melanjuti percumbuan ini.
Sambil meremas kedua bongkah toketnya yg bergoyang seirama dengan genjotanku beberapa menit hingga akhirnya aku pun mencabut kontolku saat sudah diujung orgasme dan mengocoknya hingga keluar semua diatas perutnya.
Croootttt crooooottttt croooooooooooootttt.
“Sssssssshhhhhhh ahhhhh.” lenguhku mengeluarkan semua birahi malam ini dan langsung menjatuhkan tubuhku disamping Lala.

“Makasih ya nji.” hanya itu yg keluar dari mulut Lala hingga kami berdua tertidur malam itu diiringi gemuruh hujan dan petir sesekali ditambah dinginnya udara Bandung.
Bertambah lagi kebohongan yg harus kurangkai dalam hubungan ku dengan Clara, setidaknya hati ini masih jadi miliknya. Brengsek? Bukan kah hampir semua pria seperti itu? Jika tidak ya anggaplah aku adalah bagian dari pria yg brengsek itu.

Keesokan harinya aku terbangun dengan kondisi Lala sudah tidak ada di kamar, hanya kutemukan secarik kertas diatas meja bertuliskan namanya yg berisi pesan untuk ku.

Gue kuliah pagi, jadi maaf langsung pulang.
Oh iya gara-gara semalem lo jadi ga puasa hari ini.
Diatas meja gue siapin roti ama susu, anggap aja ucapan terimakasih. Dimakan ya.
Lala

Aku pun hanya tersenyum membaca pesannya namun saat membuka handphone senyumku berubah menjadi datar serays melenguhkan nafas yang sangat panjang karena ada belasan missed call dari Clara. Alasan apa lagi ini nanti keluhku dalam hati.
Aku pun akhirnya memilih untuk kembali ke Jakarta hari ini, selain karena kemarin memang sudah berniat kesana kupikir sekalian minta maaf karena tak menjawab telepon Clara yg sudah belasan kali itu, ya begitulah pria jika punya salah pasti akan bertindak lebih daripada biasanya. Setelah menghabiskan susu pemberian Lala aku pun segera mandi dan bersiap.

Sekitar pukul dua siang, aku tiba di kampus Clara dan berjalan kearah kantin untuk menunggunya disana. Sebenarnya aku sendiri belum mengabari Clara bahwa aku ke Jakarta untuk menemuinya, ya anggap saja kejutan karena wanita suka hal seperti itu kan apalagi setelah punya dosa tidak mengangkat teleponnya walaupun alasan sebenarnya lebih dari itu.

Siang itu kantin kampus ini tak ramai seperti biasanya, aku bahkan sampai lupa ini bulan puasa sehingga hanya ada beberapa mahasiswa saja yg sedang makan disana. Aku menoleh kesana kemari sambil mengetik pesan singkat di handphone ku untuk mengabari Clara. Sesaat kemudian karena terlalu fokus mengetik dihandphone entah ditabrak atau menabrak intinya aku bertubrukan dengan wanita hingga sama-sama terjatuh.

“Aduuuuh!! Kalo jalan tuh liat-liat dong!!” teriaknya protes sambil mengusap kepalanya.
“Kayanya kita sama-sama ga liat deh, jadi bukan salah gue doang dong.” balasku menimpali ocehannya.
Sesaat ia menarik telapak tangannya beserta rambutnya kebelakang ternyata wanita itu adalah orang sudah tidak asing dimataku, Helen.


Ilustrasi Helen

“Enci? Gue kira siapa!” tegurku santai.
“Panji!? Ko lo bisa disini!?” sahutnya seolah kaget seraya bangkit.
“Apaan sih kaya ngeliat setan aja. Emang lo kira siapa?” balasku yg juga bangkit sambil mencubit hidungnya.
“Ih!” protesnya kesal seraya menepis tanganku dari hidungnya.

“Clara mana?” lanjutnya yg masih menunjukan raut panik sambil menoleh kanan kiri.
“Ini juga lagi nyariin, udah gue sms belom bales. Lo kenapa sih ci?” tanggapku atas pertanyaanya seraya balik bertanya karena heran atas tingkah Helen.
“Gak apa-apa. Ya udah paling Clara masih kelas. Gue tinggal ya.” jawab Helen pamit terburu-buru sambil merapihkan tas dan bukunya yg tadi terjatuh namun aku langsung menahannya sesaat setelah ia bangkit untuk beranjak dari hadapanku.
“Lo mau kemana sih? Buru-buru banget.” protesku atas sikap Helen yg memang sangat aneh hari itu.

“Gak apa-apa dibilangin. Cuma ada urusan.” sahutnya ketus.
“Ada apa sayang?” ujar seorang pria yg tiba-tiba muncul disamping Helen.
“Hey. Ga ko ini cuma nyapa cowonya Clara.” jawab Helen salah tingkah pada cowo tersebut.
“Gue duluan ya nji, bye!” lanjut Helen langsung pamit dari hadapanku bersama pria tersebut yg hanya melempar senyum padaku dan kubalas dengan senyuman juga walaupun dalam hati kesal dan masih tak terima atas sikap Helen. Awas aja lo ci gerutuku dalam hati.

Sekitar sepuluh menit kemudian sambil memainkan handphone ditanganku, Clara pun muncul dari kejauhan sambil berlari begitu melihatku.
“Hey. Semangat amat.” sapaku padanya yg langsung duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya dibahuku.
“Semangat dooong kan ketemu pacar aku!! Ko kamu tumben sih bo tiba-tiba kesini?! Ada apa?? Punya dosa semalem ga ngangkat telepon?” cerocosnya sambil kembali duduk dan menatap wajahku.

“Engga ko, emang ga boleh kangen ama pacar?” balasku seraya membelai rambut panjangnya.
“Hmmm bohong!! Dikira baru pacaran dua hari kali, pemalas kaya kamu mau ke Jakarta cuma kangen? Mau nelepon aja udah sukur aku mah.” kilahnya protes yg membuatku tertawa seraya mencubit hidungnya.
“Ya udah kalo ga percaya aku pulang lagi aja lah.” jawabku sok mengabaikan Clara yg langsung direspon dengan menarik tanganku.

“Becanda kebo sayaaaang.” ujarnya manja seraya bangkit dan mengajak jalan.
“Yuk ah.” ajaknya yg membuatku mengerutkan dahi.
“Mau kemana?” tanyaku heran.
“Lah kamu kesini mau ngajak aku jalan kan?” ujarnya yg masih semangat.
“Ini kan hari Jumat, kamu bukannya masih ada satu mata kuliah lagi?” lanjutku mengingatkan Clara karena memang aku sudah hafal jadwal kuliahnya.
“Kalo aku masuk kelas kasian kamu bo nungguin sendirian.” jawabnya menjelaskan.
“Alesan! Kan aku bisa ikut masuk kelas kamu, yuk.” ajakku pada Clara seraya menarik tangannya kearah gedung perkuliahan.

“Kamu serius?” tanyanya lagi tak percaya.
“Kuliah di kelas kan? Bukan praktikum?” tanyaku balik untuk memastikan yg Clara jawab dengan menganggukan kepala.
“Aku juga pake kemeja, ga masalah dong?” lanjutku mengkonfirmasi kekhawatiran Clara.
“Iya sih tapi..” ujarnya yg terlihat masih ragu.
“Ga boleh?” selidiku seraya mendekatkan wajahku padanya yg sedang berpikir.
“Bukan gitu cuma ga pernah aja. Tapi ya udah deh boleh juga.” jawabnya sambil tersenyum. Aku pun membuka telapak tangan dengan gesture mempersilahkan Clara agar jalan duluan.
“Aku kan ga tau kelasnya dimana.” sahutku saat ia menatapku.
“Ya kalo kamu tau, aku curiga.” tanggapnya judes namun dilanjut dengan tertawa kecil, akhirnya kami pun berjalan berdua kearah kelas.


Ilustrasi Clara

“Eh iya sahabat kamu si enci glodok satu itu kenapa sih?” tanya ku sedikit ketus pada Clara saat kami berjalan menuju kelasnya.
“Helen?” ujar Clara mengkonfirmasi.
“Iyalah siapa lagi.” sahutku singkat.
“Hahaha emang kenapa? Kalian berantem?” tanya Clara balik penasaran.

“Tadi aku ketemu, judes banget kaya orang ga kenal. Kaya enci-enci yg jualannya ditawar. Terus ngeloyor aja ama pacar barunya.” jelasku mengadu pada Clara atas tingkah Helen tadi.
“Hahaha maklumin bo, cowonya dia itu posesif banget. Nanti juga enci paling minta maaf ama kamu.” jawab Clara sambil tertawa cekikikan.

“Masa sih segitunya? Suruh cari yg lain aja gitu!” ketus ku yg masih tak terima alasan dari tingkah Helen.
“Jangan gitu ah, biarin Helen move on dulu sayaaang.” lanjut Clara bijak yg kurespon dengan menganggukan kepala.
Kami akhirnya tiba di kelas, dosen pun belum hadir karena kelas baru mulai sekitar lima menit lagi. Namun beberapa mahasiswa terlihat sudah duduk, sibuk dengan kegiatan masing-masing entah itu dengan notebooknya atau buku tebalnya.

Beberapa juga ada yg memperhatikan Clara yg sedang membawa diriku, mungkin karena sosok asing yg mereka tahu bukan mahasiswa sini namun aku cuek dan mengikuti Clara yg memilih duduk sedikit dibarisan belakang sebelah kanan.
“Pada serius amat.” ujarku saat kami baru saja duduk.
“Kamu mau ngeledek anak-anak jurusan aku? Pacar kamu tuh anak jurusan ini juga loh!” sahut Clara protes membela teman-temannya dengan wajah cemberut yg kurespon dengan tawa kecil. Clara pun lanjut mengeluarkan buku pegangan dan catatannya, aku yg berada disampingnya hanya diam memperhatikan kesibukan dirinya.
“Ga pernah liat cewe cantik nyatet yah?” tegur Clara tiba-tiba meski ia sama sekali tak menoleh kearahku.
“Di kampus aku yg kaya kamu ga ada.” balasku menggodanya.

“Siapa suruh milih Bandung weeek.” sahutnya meledek sambil menjulurkan lidahnya. Aku hanya tertawa melihat tingkah Clara, kalo dipikir-pikir terakhir kali kami duduk bersama di kelas memang saat SMA.
Tak lama kemudian dosen pun masuk dan membuka kelas dengan bahan presentasinya hari itu. Seingatku ia membahas tentang Digestive/ Pencernaan khususnya Esofagus dan Lambung.
Dosen paruh baya tersebut hanya memberikan materi secara satu arah sehingga perkuliahan hanya mendengarkan ceramahnya. Sepanjang kelas karena bosan aku akhirnya hanya memperhatikan Clara yg sangat fokus mengamati penjelasan dari dosennya.
Mungkin karena Clara menyadari aku sedaritadi asik menatap wajahnya, ia melepas selembar kertas dari bindernya dan menulis sesuatu untuk ku.

Kenapa? Muka aku ada yg aneh?

Aku pun mengambil pulpen dan balik menulis untuknya.

Aneh!! ko bisa manusia secantik kamu ya?

GOMBAL!!

Kami pun malah asik lanjut saling mengobrol disecarik kertas tersebut.

Semalem kemana?

Ketiduran

KEBO!!

Daripada Pangeran Kodok dapetnya Putri Disney. Mending Kebo dapetnya Bidadari XD

Udah ah! Perhatiin dosennya!!

Dosennya jelek *gambar asal muka karikatur dosennya*

Clara menggigit bibirnya menahan tawa sambil memukul bahuku tanpa menoleh begitu melihat gambar yg kubuat. Aku pun menepuk pundaknya agar ia menoleh kearahku dan begitu Clara berbalik aku langsung memasang wajah manyun seolah meniru raut dosennya hingga kami pun tertawa kecil.
Disaat yg bersamaan dosen itu pun akhrinya menegur ku yg daritadi tidak memperhatikan dirinya.
“Anak muda! Saya lihat daritadi anda sama sekali tidak memperhatikan materi saya! Anda tidak suka dengan kelas saya?!” omelnya yg membuat satu kelas memperhatikan kearah kami.

“Maaf pak.” jawabku mengaku salah.
“Maju kedepan!” perintahnya tegas dengan nada yg masih tinggi. Aku sempat menoleh kearah Clara dan tersenyum sebagai kode agar ia tak usah khawatir atau membelaku. Aku pun bangkit menuju depan kelas dan berdiri menghadap dosen itu.
“Kalo kamu memang merasa pintar coba jelaskan dari yang sudah saya ajarkan tadi, kalo gagal silahkan keluar dari kelas saya.” lanjutnya mengomel yg hanya kujawab dengan anggukan. Aku perhatikan dari kejauhan wajah Clara terlihat cemas namun aku kembali melempar senyum padanya yg malah direspon dengan melotot kearahku.

“Jelaskan sesuai urutan bagaimana cara menangani pasien dengan keluhan Hematemesis!” ujarnya tegas sambil melipat kedua lengannya dan memandang tajam kearahku. Entah beruntung atau sial, mata kuliah yg aku ikuti siang itu dengan Clara adalah Gastrointestinal yg bukunya belakangan ini aku pelajari untuk membantu Clara, aku pun menarik nafas panjang sebelum menjawab mengingat aku tidak punya dasar kedokteran sama sekali hanya berbekal buku yg Clara kirim padaku.
“Pertama Anamnesa.” jawabku agak ragu yg direspon satu kelas dengan tawa.
“Kenapa tertawa? Apa yg salah dengan Anamnesa?” sahut dosen tersebut mengomel pada kelas yg tadi tertawa mendengan jawaban awal diriku.

“Jangan kalian pikir sudah semester tiga sehingga menganggap remeh hal-hal dasar seperti anamnesa!! Kalian tau jika gagal mengambil kesimpulan dari anamnesa itu berpotensi terjadi malpraktik!! Catat itu baik-baik!!” cerocos dosen tersebut panjang lebar menceramahi anak didiknya, aku hanya terdiam karena berharap bisa segera menyelesaikan hukuman ini.
“Lanjutkan anak muda!” ujarnya berbalik menoleh kearah ku dan memintaku untuk menjelaskan kembali.
Aku pun melanjuti penjelaskanku sesuai buku yg kubaca dan beberapa improvisasi dari hasil pengamatan setiap ke Rumah Sakit saat melihat dokter memeriksan seorang pasien.

“Jadi selain empat kondisi umum tadi masih ada beberapa kemungkinan diagnosa yg bisa disimpulkan bergantung kepada hasil identifikasi lanjutan seperti analisa lab darah, endoskopi atau biopsi pada kondisi tertentu.” tutupku yg membuat dosen itu mengangguk dan tersenyum puas.
“Bagus!! Bagus!! Silahkan kembali duduk ketempat kamu.” jawabnya yg kurespon dengan menghela nafas panjang dan mengangguk.
“Terima kasih pak.” sahutku seraya berbalik menuju Clara yg tersenyum kearahku.
“Oh iya anak muda, siapa nama kamu?” tegur dosen itu kembali yg membuatku menghentikan langkahku dan menoleh kearahnya.

“Buat apa ya pak?” tanyaku salah tingkah, aku pun merasa bodoh mengapa keluar pertanyaan itu dari mulutku.
“Anda ini saya tanya nama ko buat apa, saya dosen anda punya hak tau nama mahasiswa saya. Lagipula maksud saya juga mau kasih nilai tambahan untuk anda.” ujarnya protes yg membuatku bingung harus menjawab apa, akhirnya setelah berpikir sejenak aku memilih untuk mengaku.

“Maaf pak tapi bapak ga bisa ngasih saya nilai tambahan karena saya bukan mahasiswa sini pak.” jawabku dengan nada yg lirih yg ia respon dengan mengerutkan dahi.
“Anda sudah mengganggu kelas saya dan bukan mahasiswa sini? Keluar!!” perintahnya ketus dan singkat. Aku pun mengangguk dan segera mengambil tas sambil tersenyum kearah Clara yg memasang wajah khawatir lalu pamit keluar kelas pada dosen itu.

Sekitar lima belas kemudian kelas Clara pun bubar, aku yg semenjak diusir hanya duduk menunggu didepan kelasnya pun bangkit menanti Clara yg muncul dengan muka cemberut seraya memukul bahuku.

“Aduh, sakit ra.” jawabku menanggapi pukulannya yg sebenernya tidak begitu sakit.
“Lagian bandel!! Dibilangin perhatiin aja malah becanda.” lanjutnya mengomel dengan tambahan mencubit bahuku berkali-bali yg membuatku merintih kesakitan.
“Clara cantik ke kantin dong kenalin cowonya.” tegur salah satu temannya bersama beberapa mahasiswi dikelas tadi.
“Iya nanti kesana.” respon Clara singkat tersenyum sebentar kearah teman-temannya lalu kembali menoleh kearahku dengan muka jutek, sepertinya senyum tadi hanya pura-pura.

“Sakit tau cubitan kamu.” tanggapku sambil mengelus bahu bekas cubitan Clara.
“Rasain! Siapa suruh pake acara tebar pesona didepan kelas!!” protes Clara ketus menjelaskan alasan mengapa mencubitku.
“Tebar pesona darimana?” jawabku tak terima atas tuduhannya.
“Sok pinter!! Sampe satu kelas pada nanyain kamu semua!” omelnya kesal yg membuatku gemas.
“Aku kan cuma ngejawab raaa.” sahutku sambil mencubit hidungnya.
“Pokoknya mulai sekarang ga ada lagi acara ikut masuk kelas aku!!” pintanya tegas seraya menarik tanganku untuk mengikutinya.
“Kalo kangen gimana?” tanyaku menggodanya.

“Ketemu.” jawabnya ketus dan singkat.
“Kalo pas kamunya dikelas?” lanjutku yg direspon Clara dengan berhenti dan melotot.
“Nyebelin banget sih! Udah ah yuk jalan.” balasnya pasrah dengan hanya memukul pelan bahuku.
“Mau kemana non?” tanyaku sambil meminta kunci mobilnya.
“Cari makan, kan sebentar lagi kamu buka puasa.” jawabnya seraya menyerahkan kunci mobilnya.
“Aku ga puasa hehe.” ujarku mengaku.
“Ko bisa?” selidik Clara ketus.
“Kesiangan.” jawabku sambil cengengesan.

“Bandel ih! Tiap hari?” lanjutnya menyelidik dengan tatapan judes.
“Hari ini doang ra.” timpalku.
“Ya udah kalo gitu langsung makan aja.” ajaknya sambil merangkul tanganku.
“Ga di kantin kampus kamu aja?” tanyaku balik menggodanya.
“Nyebeliiiiiiiiiin!!!” protes Clara seraya menyerangku dengan cubitannya.
Sore itu kami menghabiskan waktu berdua hanya dengan makan disalah satu restoran favoritnya di daerah Menteng. Setelah itu aku langsung mengantarnya pulang karena Clara ada acara di Gereja malam itu, kami berjanji bertemu lagi besok sehingga aku pun kembali ke rumahku. Sore itu bahkan aku lupa membahas masalah sikap seriusnya Clara dalam hubungan ini yg menjadi tujuanku pulang ke Jakarta namun ya biarlah kupikir semuanya memang baik-baik saja seperti kata Helen.

Dirumah sekitar pukul setengah tujuh malam setelah selesai mandi, aku bersama ayahku sedang menonton tv diruang tengah sambil menunggu makan malam yg disiapkan oleh Ibuku karena biasanya jika berbuka puasa di rumah kami hanya dengan teh manis dan semangkuk kecil kolak baru setelah itu makan malam bersama.
Tak lama kemudian Kak Sinta juga pulang, ia sekarang sudah mulai bekerja disalah satu perusahaan komunikasi. Meski harus menganggur cukup lama, tapi ia akhirnya mendapat pekerjaan yg menurutku pantas untuknya sebagai hasil prestasinya selama ini.
“Eh ada anak kosan, tumben pulang. Perbaikan gizi ya?” sapanya meledek ku.
“Nagih traktiran yg baru dapet kerja.” sahutku menimpali omongan Kak Sinta.

“Belom gajian kali!!” protesnya sambil duduk di sofa sampingku dan mencubit hidungku.
“Aduh sakit ih” protesku seraya membalas cubitan Kak Sinta.
“Udah-udah kebiasaan berantemu mulu. Sinta sana mandi terus makan bareng, sebentar lagi siap.” sahut Ibuku menceramahi Kak Sinta yg kurespon dengan puas menertawainya.
“Sukur.” ledek ku padanya.
Malam itu tentu Ibuku sangat senang karena bisa makan bersama lengkap dengan kedua anaknya, meski suasana makan selalu ramai karena ulah aku dan Kak Sinta yg ribut tak ada habisnya.
Selesai makan saat sedang di kamar, pintu diketuk oleh Kak Sinta yg menongolkan kepalanya.

“Nji? Lagi ngapain?” sapanya seperti menunggu diijinkan masuk.
“Hmmm.” sahutku seraya menoleh kearah pintu.
“Masuk aja sih kaya tamu lo.” lanjutku yg sedang anteng membersihkan Action Figure koleksiku.
“Sibuk ya?” tanyanya sambil berjalan masuk lal merangkul bahuku dari belakang.
“Mau apaan lo?” timpalku sambil meliriknya yg sedang menempelkan wajahnya dibahu kananku.
“Hehe tau aja lo, anterin gue ke Semanggi dong.” pintanya merengek.
“Sekarang?” tanyaku yg diresponnya dengan mengangguk.
“Ngapain?” lanjutku karena waktu sudah jam setengah delapan malam.

Sebenernya masih cukup sore belum lagi hari ini Jumat yg artinya weekend namun mengingat sedang bulan puasa kadang jam segini terasa sudah malam dan malas untuk melakukan kegiatan karena besok harus bangun sangat pagi untuk makan sahur.
“Gue besok ada acara kantor, dress codenya warna merah. Gue ga punya baju merah nji.” jelasnya memelas.
“Lo besok masuk?” tanyaku heran.
“Acara sosial gitu.” jelasnya sambil mengangguk.
Kak Sinta memang kerja dibagian Divisi Public Relation yg juga bertanggungjawab dalam kegiatan CSR, mungkin itu sebabnya ia harus bekerja di acara sosial yg selenggarakan kantornya meski hari libur sekalipun.
“Pizza ya?” jawabku meminta kompensasi atas permintaannya.
“Ih! Dibilangin belom gajian, mana harus beli baju masih aja dipalak.” protesnya seraya memukul bahuku.

“Iya iya! Yuk siap-siap keburu malem.” jawabku menyanggupi permintaannya sambil tertawa cekikikan.
“Thank you adik ku sayang. Ya udah iya nanti dibeliin pizza tapi yg small aja ya?” balasnya semangat yg kurespon dengan menggelengkan kepala dan tertawa.
“Ga usah kak cuma becanda, kenyang ko gue.” sahutku seraya mendorongnya agar keluar kamar sementara aku berganti baju.
Kami pun berangkat menuju Semanggi menggunakan mobil Ayahku, sesampainya disana aku menemani Kak Sinta yg mondar mandir dari satu toko ke toko lain hingga akhirnya berhenti di salah satu Department Store dan ada yg cocoknya dengan seleranya.
“Bagus yg mana nji?” ujarnya seraya menempelkan kedua blouse pilihannya secara bergantian tersebut ke badannya agar aku dapat memilih.

“Bagus ko dua-duanya.” jawabku santai.
“Ih! Serius salah satu aja!!” protesnya tak terima atas jawabanku yg terkesan asal.
“Ya udah dicoba dulu aja kali kak dua-duanya bagus beneran, pilih aja yg nyaman dipake.” usulku yg akhirnya ia mengangguk lalu pamit untuk mencoba kedua blouse tersebut ke fitting room.
Aku pun sambil menunggu hanya berputar mencari tempat duduk karena sudah lelah mengitari Mall ini yg hampir sejam lamanya. Saat sedang berada diarea pakaian wanita tak jauh dari tempat Kak Sinta tadi aku melihat seorang wanita yang tak asing dimataku. Aku yakin bahwa ia adalah orang yg kukenal setelah sekian lamanya tak bertemu, aku memberanikan diri menghampiri untuk menyapanya.


Ilustrasi Vina

“Vina?” sapaku seraya berjalan mendekat kehadapannya.
“Idung.” sahutnya yg juga seperti terkejut melihatku.
“Hey. Apa kabar kamu?” lanjutku seraya menjulurkan tanganku untuk mengajaknya bersalaman. Meski awalnya canggung akhirnya Vina membalas uluran tanganku untuk bersalaman seraya tersenyum simpul.

“Baik ko dung.” jawabnya sambil menaruh pakaian yg tadi ditangannya.
“Masih tinggal di Jakarta vin?” lanjutku yg hanya ia jawab dengan anggukan.
“Terus selama ini kenapa kamu hilang gitu aja ga ada kabar?” tanyaku penasaran mengingat terakhir kali kami bertemu saat SMA setelah selesai Ujian Nasional bahkan di hari perpisahan SMA, Vina sama sekali tidak hadir.
“Setelah apa yang terjadi pada aku waktu SMA, kamu pikir aku bisa gitu aja ketemu dunia luar?” balasnya lirih sambil tersenyum kecut dan aku pun hanya terdiam bingung bagaimana merespon pernyataan Vina.

“Maaf vin.” hanya itu yg keluar dari lisanku.
“Itu bukan salah kamu atau Clara sama sekali dung, aku aja yg ga bisa jaga diri.” lanjutnya seakan paham apa yg ada dipikiranku.
“Tapi..” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Vina memotongnya.
“Aku juga ikut memulai semuanya dung.” jawabnya lagi menyalahkan dirinya sendiri.
Pertemuan ini mengingatkan kembali apa yg pernah terjadi diantara aku, Clara dan Vina semasa SMA dulu. Sebuah cerita yg belum sempat aku ceritakan disini. Kebenaran yang pahit bagi Clara, kebohongan yg Vina buat serta air mata mereka berdua yang harus jatuh.

Jakarta, 2004

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya bahwa semenjak kepulangan dari Belitung, Clara, Helen, Regas, Angga dan aku semakin sering berkumpul bersama berlima yg membuat Clara dan Helen menjauh dari geng centilnya. Kami semakin sering jalan bareng, bahkan berkumpul di Cafe TB sepulang sekolah menjadi rutinitas baru kami. Apalagi saat itu orangtua Clara sudah mempercayakan sepenuhnya urusan pelajan kepadaku, sehingga Clara sudah berhenti dari bimbelnya. Di Cafe TB selain mengobrol kami juga sering mengerjakan tugas dan belajar bersama apabila esok harinya ada ujian, ditambah bimbingan khusus untuk Clara saat jam istirahat pertama kembali berjalan yg membuat nilai-nilainya masih tetap bertahan.
Lalu entah bagaimana semuanya mengalir dengan cepat begitu saja, Vina perlahan masuk kedalam lingkaran persahabatan kami berlima.

Seingatku awalnya saat kami seperti biasa kumpul di Cafe TB dan saat tiba harus bertemu dengan Vina yg sedang seorang diri sambil membaca majalah.
“Wah bakal ada perang dingin nih.” celetuk Angga terkekeh saat kami baru saja duduk di meja yg langsung direspon Helen dengan mencubit perutnya hingga ia meringis kesakitan.
“Gue ga punya masalah ko ama dia.” ujar Clara seakan tak terima atas anggapan Angga bahwa Clara merasa tersaingi dengan kehadiran Vina. Kami semua hanya diam dan menatap kearah Clara, yg mungkin membuat ia merasa seolah aku, Regas, Angga dan Helen tidak ada yg percaya dengan ucapannya.

“Oke kalo kalian ga percaya, gue buktiin.” sahutnya ketus seraya bangkit dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Vina.
“Ra ga usah.” cegahku berbisik namun tak digubrisnya.
“Mampus lo nyet.” timpal Regas dengan wajah panik yg juga diperlihatkan olehku Helen dan Angga. Helen menarik baju seragamku untuk memintaku segera menyusul Clara namun aku pun bingung mengingat jarak mereka berdua sudah tinggal beberapa langkah lagi.
Akhirnya Clara menyapa Vina yg direspon dengan saling bersalaman, mereka terihat berbincang entah membicarakan apa namun aku berasumsi bahwa Clara mengajak Vina untuk bergabung dengan kami karena ia menarik tangan Vina dan mengajaknya ketempat kami duduk berlima.

“Sini Vin duduk daripada sendirian disana, udah pada kenal kan yah? Jadi ga perlu dong kenalan.” ujar Clara saat mengajak Vina ikut bersama kami yg direspon oleh aku, Helen, Regas dan Angga dengan mengangguk kaku.
“Aku ganggu ga nih?” tanya Vina sambil tersenyum ramah seolah hanya mengajukan pertanyaan fomalitas.
“Ga lah, iya kan?” konfirmasi Clara pada kami berempat dengan masang wajah melotot yg lagi-lagi direspon kompak oleh aku, Helen, Regas dan Angga dengan mengaggukan kepala.
Vina pun duduk di kursi samping Regas berhadapan dengan Clara yang persis disampingku. Suasana saat itu jadi agak canggung bahkan Regas yg biasanya paling jago mencairkan suasana pun kalo itu hanya terdiam.

Kami lanjut mengobrol ngalor ngidul dan cenderung klise seperti membahas film atau artis yg biasanya tidak pernah sekalipun keluar dari obrolan kami yg biasanya ketika sedang berlima. Lalu saat pesanan datang, masing-masing dari kamu pun jadi lebih fokus dengan makanan dibanding mengobrol. Disinilah Clara terlihat bertingkah tidak seperti biasanya. Beberapa kali ia memintaku untuk menyuapi makanan pesananku dengan manja sambil melendot dibahuku padahal biasanya jangankan menyomot makanan ku, makanan ia sendiri pun tak pernah habis. Tapi dibanding manja, saat itu kelakuan Clara lebih terlihat sengaja menunjukan kemesraannya denganku di depan Vina.

Namun seakan gayung bersambut, Vina pun terlihat seperti menerima ajakan perang terbuka Clara dengan merubah sikap yg sedari tadi cenderung diam dan pasif jadi mengambil alih pembicaraan obrolan kami saat itu.
Seperti yg selalu aku singgung, Vina adalah orang yang super supel sehingga tentu mudah baginya untuk berbaur ditambah pengalaman beberapa bulan dekat dengan ku yg membuatnya memiliki keuntungan untuk menguasai keadaan dengan menjadikan Regas dan Angga alatnya untuk selangkah lebih maju dari Clara.

Ya Vina membahas hal-hal nostalgia yg ia ketahui tentang aku, Regas dan Angga membuatnya seolah paling mengerti kami.
“Eh kalian masih suka kan ngunjungin Festival Jepang? Bulan depan ada lagi loh di Kemayoran.” ujar Vina memulai obrolan yg sangat cerdas mengingat Regas dan Angga jika sudah urusan Jepang akan cair dengan sendirinya. Vina, Regas dan Angga pun akhirnya asik membahas Jejepangan termasuk Helen yg ikut nimbrung karena penasaran begitu mengetahui disana bukan hanya ada mainan atau komik melainkan makanan, musik dan juga fashion.
Sesekali pun aku menyahuti obrolan mereka apabila ditanya namun tidak masuk lebih lanjut karena ekspresi Clara yg saat itu sudah berubah 180 derajat menjadi sinis.

Sore itu ajakan perangnya untuk membuat Vina kikuk malah berbalik menjadikan Clara yg kalah dominasi dari Vina didepan sahabat-sahabatnya sendiri.
Dijalan pulang aku yg merasa kejadian tadi bukanlah hal yg wajar dilakukan oleh Clara pun mencoba membahasnya.
“Kamu ngapain sih ra ngajak Vina kumpul gitu kaya tadi? Kasian kan Helen, Regas ama Angga jadi ga nyaman.” ucapku membuka obrolan dijalan saat pulang dengannya.
“Ga nyaman apanya? Mereka segitu asiknya ngobrol. Mereka atau kamu yang ga nyaman?” sahut Clara dengan wajah jutek.
“Ya kita semua ga nyaman, mereka kan pasti begitu karena menghargai Vina aja ra.” jawabku mencoba membela Helen, Regas dan Angga.

“Ga usah berlebihan. Mereka emang keliatan santai ko. Kamu aja kali.” jawab Clara yg membuatku menggelengkan kepala.
“Ya tapi kamu malah bete sendiri kan? Aku jadi ga nyaman.” timpalku.
“Kalo kamu udah ga punya perasaan ama Vina harusnya biasa aja dong, ga usah pake alesan aku segala.” lanjutnya masih sewot.
“Terserah kamu ra.” tutupku tak ingin memperpanjang masalah ini dengannya.
Keras kepalanya memang belum bisa aku bendung, intinya Clara sendiri yg sudah memulai persaingan dengan Vina.

Semenjak hari itu, Vina pun semakin sering ikut kumpul dengan kami termasuk saat di kantin sekolah dan yang membuatnya seperti itu adalah Clara sendiri yg sering mengajaknya gabung untuk melanjutkan persaingan mereka berdua. Namun lagi-lagi Vina hampir selalu lebih menguasai keadaan dibanding Clara seperti mendominasi obrolan, memutuskan lokasi tempat makan atau sekedar ngopi, juga menu minuman yg meski ia memesan duluan tapi mampu mendapatkan celah menang.

Sebagai contoh americano yg kupesan menurutnya lebih cocok dengan cinnamon roll pesanannya hingga ia menawarkan untuk bertukar dengan curry puff ku yg cocok dengan frappenya serta hal-hal lain termasuk outfitnya yg hampir selalu lebih nyambung dengan outfitku dibanding dengan Clara. Bisa dibayangkan bagaimana merahnya wajah Clara menahan kesal atas tiap kekalahannya dari Vina.
Beberapa kali juga aku memintanya untuk menyudahi permainan yg ia buat sendiri sebelum keadaan bertambah buruk namun tak digubrisnya.
“Kenapa kamu takut jatuh cinta lagi?” tembak Clara ketika aku menegurnya saat kami berdua sedang belajar di perpustakaan.
“Ra tolong dong, aku sama Vina udah selesai. Kita emang sempet deket tapi kan sekarang aku udah sama kamu.” jelasku pada Clara agar ia mau berhenti.

“Selesai? Sikap dia tapi ko malah nunjukin masih punya perasaan ya sama kamu.” sahut Clara ketus dengan wajah sinisnya.
“Kamu yang mulai ra.” tegurku padanya mengingat bahwa memang ialah yg membuat masalah ini jadi panjang.
“Dengan dia nanggepin ajakan perang aku, justru itu bukti kalo dia masih punya perasaan sama kamu! Mana masih manggil dang dung dang dung lagi.” lanjut Clara sewot yg hanya membuatku menggelengkan kepala.
“Kalo bagi kamu itu udah bukti, terus dilanjutin biar apa?” tanyaku heran atas tingkahnya yg saat itu dimataku sangat kekanak-kanakan.

“Biar dia sadar untuk berhenti punya perasaan sama kamu!” tutup Clara seraya bangkit meninggalkanku untuk kembali ke kelas, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku akhirnya berpikir apabila Clara sulit untuk diminta berhenti mungkin aku harus berganti meminta Vina agar tak lagi meladeni Clara dalam permainan ini.
Aku pun menemui Vina di Cafe daerah Tebet setelah mengantar Clara pulang, kami sengaja janjian disana tentunya tanpa sepengetahuan Clara maupun Helen, Regas dan Angga.
“Hey udah lama?” sapaku saat tiba dan disana Vina sudah duduk seorang diri.

“Ga ko dung. Ada apa sih? Pake umpet-umpetan dari yg lain kaya lagi selingkuh aja.” sahutnya centil sambil cekikikan.
“Gini vin..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku dipotong lagi oleh Vina.
“Pesen dulu sana baru cerita.” pintanya yg akhirnya kuturuti.
Sambil menunggu pesanan kami pun ngobrol ngalor ngidul dulu bahkan keterusan hingga minuman habis.
“Jadinya mau ngomongin apa tadi sebenernya ngajak ketemu?” tanya Vina yg membuatku ingat bahwa tujuan kesini bukan untuk berduaan dengannya.
“Astaga lupa.” jawabku sambil menepok jidad.
“Gak apa-apa ko dung, malah seru bisa lama-lama sama kamu.” timpalnya sambil tersenyum dan hanya membuatku mengumpat dalam hati sialan malah kebawa suasana.

“Langsung aja ya, kamu nyadar ga sih kalo Clara lagi..” untuk kedua kalinya Vina memotong omonganku.
“Nyadar ko.” sahutnya sambil menatapku dan malah memasang wajah antusias.
“Oh gitu, tapi ko kamu malah happy?” tanyaku heran.
“Iyalah dia yg ngajak perang, aku ladenin biar dia ngerasain kalah dalam permainannya sendiri.” jelas Vina percaya diri sambil menaikan kedua alisnya.
“Vin udah lah ga usah, tujuan Clara cuma mau kamu berhenti suka sama aku. Kamu juga udah bisa kan? Jadi ini semua g ada gunanya.” jelasku berharap Vina bisa lebih rasional dibanding Clara.

“Kamu salah dung, aku emang udah berhenti ngejar kamu tapi perasaanku belom pernah berubah sedikit pun dan aku meladeni Clara dengan tujuan untuk nunjukin ke dia kalo g ada satu pun yg berhak melarang seseorang untuk mencintai.” jawab Vina seraya bangkit dari tempat duduknya.
“Kamu ga usah khawatir, ini masalah cewe.” tutupnya yg juga sama keras kepala.
“Sampe ketemu besok.” lanjutnya seraya meninggalkanku yg hanya bisa mengacak-acak rambutku sendiri karena kesal. Dasar wanita umpatku dalam hati.

Sebulan berlalu akhirnya hari dimana puncak peperangan itu tiba, tepatnya saat Helen merayakan pesta ulang tahunnya yang ke-18. Hampir sebagian angkatan kami diundang olehnya dan entah ide Helen murni atau karena dipanas-panasi oleh Clara, Helen mensyaratkan yg hadir diantara kami harus membawa pasangan.

“Nanti Regas gimana? Terus Vina? Lagi deket sama siapa nih, kayanya belom pernah cerita ke kita.” ucap Clara yg kuyakin sengaja memanasi Vina saat kami sedang di kantin menerima undangan Helen.
“Eits don’t worry about me, adek kelas banyak yang ngantri nanti kalo gue ajak.” sombong Regas sambil menaikan kedua alisnya yg direspon Angga dengan mengeplak kepalanya.

“Gaya lu jomblo!!” sahut Angga yg membuat mereka semua tertawa. Namun tak lama suasana pun hening dan mengalihkan perhatian pada Clara dan Vina yg sedang perang dalam dunia mereka sendiri.
“Gue juga bakal bawa gebetan ko tenang aja, sekalian ngenalin ke kalian.” jawab Vina menerima tantangan Clara.
“Kalo gitu nanti Vina sama Clara jadi opening MC yah. Nanti gue siapin dress buat kalian!!” respon Helen semangat yg entah polos atau memang sudah merencanakan ini dengan Clara, rasanya aku hanya berharap hari itu masuk Rumah Sakit saja.
Sabtu malam disebuah Hotel di daerah Ancol lah acara ulang tahunnya Helen berlangsung. Aku datang bersama Angga karena Helen, Clara termasuk Vina sudah sejak sore disini menemani sang Birthday Girl persiapan. Sementara Regas belum datang karena masih menjemput adik kelas yg kami pun tidak beritahu siapa.

Acara malam itu cukup mewah dengan tema pool side party, para tamu undangan juga sudah disajikan banyak makanan serta minuman. Aku dan Angga berkeliling sambil mengobrol dan menikmati makanan hingga akhirnya Regas pun datang bersama seorang wanita yg ta ku kenal namun terlihat cukup manis. Regas pun memperkenalkan wanita itu pada kami yg ternyata bukan anak SMA ku namun masih di daerah Jakarta Selatan juga. Hingga akhirnya lampu pun redup, lalu terlihat Clara dan Vina muncul untuk membuka acara dimana ketika lampu menyorot mereka berdua aku hanya bisa membisu.
“Mampus lo nyet!!” ujar Regas dan Angga kompak sambil cekikikan meledek ku karena Clara dan Vina menggunakan dress dengan model dan warna yang sama.

“Lo milih yg mana kampret?” lanjut Angga bertanya pada Regas namun lebih terlihat menyindirku.
“Wah susah bos!!” timpal Regas hingga mereka berdua pun semakin puas tertawa.
“Tai lo pada!” sahutku kesal pada mereka.
Acara berlanjut saat Helen dipanggil untuk muncul diiringi oleh tepuk tangan para undangan. Setelah semua rentetan acara seperti ucapan selamat, pemotongan kue dan doa harapan dari Helen maka para tamu undangan dipersilahkan untuk kembali bebas menyantap hidangan yg semakin melimpah. Regas bersama gebetannya lanjut berkeliling untuk makan sementara Angga menemani Helen yg disibukan dengan para tamu yg memberi selamat serta kado untuk Helen. Aku pun sibuk melihat sekeliling untuk mencari dimana Clara namun dengan sendirinya ia tiba-tiba muncul dari samping ku.

“Halo ganteng!” sapanya sambil tersenyum manis.
“Hey, aku nyariin kamu daritadi.” balasku seraya merangkul dirinya.
“Kamu cantik banget ra.” pujiku saat menatap matanya.
“Oh iya dong kan masih sendiri, kesana yuk pengen tau dimata kamu masih cantik apa engga kalo ada pembandingnya.” sahutnya sinis seraya menarik tanganku yg kupikir ia mengajak untuk bertemu Vina dan aku hanya bisa pasrah serta menghela nafas panjang.
Benar saja, kami berdua menghampiri Vina yg sedang bersama seorang pria yg mungkin adalah gebetannya yg kemarin ia janjikan.

“Hey ra dung. Kenalan dulu dong nih gebetan gue.” sapa Vina saat kami berjalan kearahnya. Ternyata pria itu adalah salah satu anak kelas 3 Sosial 1, seseorang yang bisa dibilang tenar di SMA ku karena ia adalah vokalis salah satu band terbaik di sekolah dan memang dari yg kudengar ia sempat digosipkan sudah lama mengejar-ngejar Vina.
“Riko.” sahutnya seraya menyalami aku dan Clara.

Kami pun akhirnya berbincang sambil menikmati makanan meski agak canggung namun aku berpikir setidaknya suasana perang antara Clara dan Vina untuk saat ini masih aman terkendali.
“Kamu lihat kan, Vina udah punya gebetan. Jadi ga perlu lagi lanjutin persaingan ga penting kamu.” bisik ku pada Clara agar ia mengakui semuanya sudah selesai.
“Yakin? Mau aku buktiin itu cuma pura-pura?” balasnya sambil melirik ku tajam dan hanya ku respon dengan menggelengkan kepala karena memang dugaan Clara benar adanya.
Hari itu dewi fortuna sedang tidak berada dipihak Vina yaitu dimulai ketika home band menawarkan tamu undangan untuk bernyanyi, Clara berteriak dan mendorongku agar mau menyumbang lagu untuk Helen.

Tanpa curiga sedikit pun mengingat Helen juga sangat bersemangat agar aku mau bernyanyi, aku pu menuruti kemauan mereka berdua. Dengan diiringi home band, aku menyanyikan lagu Birthdaynya The Beatles sambil menggila bersama Helen dan Angga sementara Clara terlihat hanya tersenyum sumringah dari kejauhan.
Setelah selesai, aku kembali ke Clara yg bertepuktangan menyambutku dan melakukan sesuatu yg tidak pernah ia lakukan sebelumnya yaitu mencium pipi ku didepan keramaian.
“I love you.” ucapnya sambil tersenyum sedangkan aku hanya kikuk atas apa yg terjadi.
Aku menoleh kearah samping dimana Vina sedang melihat kami karena aku yakin ia melihat kejadian tadi. Tak lama Home Band kembali menawarkan kepada para tamu yg mau menyumbang lagu untuk maju dan disini Clara memulai serangannya pada Vina.

“Riko maju dooong!!” teriaknya semangat yg membuat semua pengunjung dari SMA ku ikut menyoraki ide Clara mengingat mereka semua tau Riko memang seorang vokalis.
“Riko! Riko! Riko!!” teriak para tamu kompak yg akhirnya membuatnya pun maju menuruti.
“Halo selamat malam, terimakasih. Pertama tentunya gue mau ngucapin selamat ulang tahun kepada Helen. Jujur gue agak canggung sebenernya nyanyi disini karena hadir pun atas ajakan temen yg diundang tapi wajar toh gue emang bukan temen sekelas ataupun kenal banget sama Helen. Tapi makasih buat Helen udah diundang juga.” cerocos Riko panjang lebar.

“Gak apa-apa rikoooo!!” teriak Helen menyemangati.
“Kalo gitu nyanyinya buat gebetan aja!!” timpal Clara yg membuatku melotot kearahnya.
“Ra kamu apa-apaan sih!” tegurku karena ia mulai kelewat batas.
“Loh kenapa? Kan kata kamu Vina udah move on? Riko juga suka ama Vina. Salahnya dimana?” jelas Clara dengan wajah menyindir seakan paham bahwa memang Vina hanya pura-pura. Aku sendiri pun tak punya banyak kata lagi untuk membela Vina namun seakan menerima umpan dari Clara, Riko benar-benar mengikuti masukannya entah karena polos atau apa.

“Kalo gitu lagu ini buat yang cantik hari ini. Yaitu yg ulang tahun, dan gebetan yg gue dampingi kesini.” jelas Riko seraya melepas mic dari handlenya untuk menyanyikan lagu Cantiknya Kahitna.
Sambil bernyanyi ia berjalan kearah Vina dan mengajaknya kedepan panggung, meski awalnya menolak namun akhirnya ia ikut karena dipanas-panasi oleh para tamu undangan yg berada disekelilingnya. Aku menoleh kearah Clara yg tersenyum lebar seakan puas merayakan perangkapnya yg bekerja dengan sempurna.
Selepas menyanyikan lagu yg membuat semua tamu undangan bersenandung, mereka semuapun memberikan tepuk tangan yg meriah pada Riko dan Vina yg juga dalam posisi dirangkulnya.
“Cocok!!”

“Mesra banget!!” suara riuh para tamu dan puncaknya sekaligus kemenangan Clara pun tiba.
“Tembak dong!!” teriak salah satu tamu yg tentunya langsung disambut gemuruh seluruh tamu menyemangati Riko.
“Kamu keterlaluan ra.” sahutku ketus pada Clara yg sedang tersenyum puas seraya melirik kearahku
“Loh kalo mereka jadian, salah aku dimana? Harusnya Vina makasih dong ama aku.” jawabnya yg membuatku menggelengkan kepala dan meninggalkannya keluar area acara.
Aku tidak melihat bagaimana kelanjutan yg terjadi di dalam namun yg pasti beberapa menit setelah itu Vina keluar dan bertemu denganku.
“Clara menang dung, aku kalah.” ujarnya terbata-bata seraya air matanya mulai mengalir.

“Clara itu sempurna dung. Dia punya keluarga yang utuh. Dia punya sahabat yg care. Dia juga punya kamu yg selalu mencintainya. Padahal aku ga minta cinta kamu, aku hanya minta diijinkan untuk mencintai kamu tapi dia mau ngambil itu juga dari aku.” jelasnya panjang lebar dan tangisannya pun pecah sejadi-jadinya saat itu. Aku yg paham serta merasakan penderitaan Vina berjalan mendekat kearahnya dan memegang kedua pundaknya.
“Aku udah ga pantes nerima cinta kamu Vin, udah waktunya buat kamu lepasin perasaan itu. Kamu pasti bakal nemuin orang yg pantes nerima itu. Dan untuk apa yg udah Clara lakuin, tolong maafin yah.” ujarku mencoba menangkan Vina namun tiba-tiba Clara muncul dihadapan kami berdua dan tentu dapat ditebak ia salah paham atas kondisi kami.

“Aku minta Vina berhenti suka sama kamu karena aku pikir cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi ternyata aku salah.” geram Clara seraya menampar pipiku dan lari meninggalkan kami dengan berlinang air mata.
“Ra tunggu.” teriaku yg tak digubrisnya.
“Kejar dung!” pinta Vina yg awalnya aku bingung namun terus dipaksa olehnya untuk mengejar Clara. Aku berputar mencarinya keseluruh tempat hingga menemukannya sedang duduk di sofa ruang tunggu lobby hotel sambil menangis.
“Ra..” ujarku seraya berlutut dihadapannya.
“Tolong jangan salah paham, aku tadi cuma minta maaf sama Vina ga lebih.” lanjutku sambil menghapus air mata yg jatuh dipipi Clara.
“Aku segitu jahatnya ya bo makannya kamu sampe harus minta maaf ke dia.” ujarnya sambil sesegukan menangis.

“Ra..” belum sempat aku melanjutkan kalimatku Clara langsung memotong.
“Tapi aku bisa lebih jahat lagi bo! Sama wanita mana pun yg berani ngambil kamu dari aku!!” lanjutnya menaikan nada bicara namun masih terbata-bata karena menangis.
“Aku hanya akan berhenti kalo emang kamu sudah berhenti mencintai aku bo.” tutupnya diiringi tangisannya yg semakin menjadi, aku pun hanya merespon dengan memeluknya.
Malam itu Clara menangis karena ketakutannya akan kebenaran, sementara Vina menangis karena kebohongannya berpura-pura tak memiliki perasaan pada ku didepan Clara. Kenyatannya adalah permainan yg mereka buat tidak memenangkan siapapun melainkan hanya menyakiti keduanya.

Bagian terburuk lainnya adalah setelah kejadian itu Vina tak pernah lagi berkumpul dengan kami dan meratapi kesendiriannya dengan kembali pada kebiasaannya sebelum mengenal ku yaitu sering pergi ke club dan mabuk-mabukan.
Lalu seorang pria brengsek yg merupakan salah satu alumni sekolahku memanfaatkan perasaannya yg sedang kacau, bukan hanya untuk bisa menidurinya namun juga direkamnya serta menyebarkannya.
Dalam waktu seminggu sekitar beberapa hari setelah ujian, sekolah ku gempar dengan beredarnya video skandal tersebut dan semenjak hari itu Vina menghilang tidak pernah terlihat lagi.
Clara sempat memohon kepadaku agar diantarkan bertemu dengan Vina untuk meminta maaf namun saat kami mencoba ke rumahnya, disana sudah kosong tak berpenghuni. Kami sudah tidak lagi bisa menemukan dimana keberadaan Vina saat itu, Clara hanya bisa menangisi rasa bersalahnya.

Itulah yang terjadi diantara kami sampai akhirnya malam itu aku kembali lagi bertemu dengan Vina setelah dua tahun lamanya.

“Kalo aku lebih dewasa dalam bersikap, semua itu ga bakal terjadi dung. Lagian udah lewat, aku mau lupain itu semua.” jelas Vina yg membuatku malah merasa bersalah.
“Pokoknya aku dan juga Clara minta maaf vin atas kejadian itu.” timpalku yg ia jawab dengan senyum dan anggukan, entah mengapa aku selalu salut dengan mental Vina yg sangat kuat dalam menjalani kehidupannya yg tidak senormal anak seusianya.

“Kamu sekarang kuliah? Dimana?” tanyaku sekalian meminta informasi tentangnya.
“Iya aku kuliah dung tapi kamu ga perlu tau dimana. Kayanya cukup, lebih baik hubungan kita sebatas teman lama aja ga perlu berlanjut lagi. Aku harap kamu ngerti.” tutup Vina mengakhiri pertemuan kami malam itu.
“Hati-hati vin.” ujarku saat ia pamit.
“Makasih dung.”

Dear Vina, I should be thanks so much to you for teaching me the trully meaning of life always must go on.

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 29 | Ketika Kita Muda Part 29 – END

(Ketika Kita Muda Part 28)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 30)