Ketika Kita Muda Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 28

Start Ketika Kita Muda Part 28 | Ketika Kita Muda Part 28 Start

Venusian

Jika aku punya satu pertanyaan untuk hidup ini, itu adalah mengapa wanita selalu ditakdirkan lebih dewasa dibanding pria. Setidaknya begitu menurut pengalamanku dan itupun kurasa diamini oleh ilmu sains.

Dalam Biologi kita tahu bahwa hormon esterogen pada wanita lebih dulu berproduksi dibanding testosteron pada pria. Hasilnya kita sering melihat anak perempuan selalu tampil menonjol dibanding anak lelaki dalam urusan sosial seperti contoh, anak perempuan biasanya jauh lebih bisa menjadi sosok seorang kakak ketika memiliki adik, mereka bisa mengasuh dan berperan sebagai anak tertua sebagaimana mestinya.

Jika anak lelaki tak jarang akan kita temukan mereka menganggapa adik adalah sebagai saingan atau bahkan penganggu. Bagiku hal itu semakin didukung dengan cara pendidikan usia dini didalam keluarga yaitu ketika anak perempuan diajarkan bermain masak-masakan atau boneka, secara tidak langsung pola pikir mereka sudah dibentuk untuk bertugas dan bertanggungjawab. Sedangkan anak lelaki yg diajarkan main mobil-mobilan atau superhero, seakan dibentuk untuk berimanjinasi menjadi pemimpi dan mendominasi to be the best.

Dalam proses tumbuh menjadi remaja pun anak perempuan sudah lebih dulu berubah menjadi pribadi yg feminim dimana disaat yg bersamaan, biasanya anak lelaki masih tetap menjadi fans kartun dan tokoh superhero bahkan beberapa bertahan hingga usia dewasa. Padahal genital Patriaki lebih umum berlaku dibelahan bumi manapun dibanding Matriaki yg artinya Pria lebih mendominasi dalam keturunan darah begitu juga rumah tangga, namun mengapa seolah disaat bersamaan hal itu tidak didukung dengan struktur biologisnya. Meski tidak semua selalu berlaku seperti itu, tapi kupikir secara common sense mayoritas itulah adanya. Pemikiran ini seakan mempertanyakan alasan mengapa wanita lebih dulu dewasa padahal seharusnya pria lebih perlu untuk itu dan aku belum menemukan jawabanya.

Malam itu setelah puas bercengkrama hingga larut, aku dan Helen pun akhirnya pamit dari rumah Clara.
Clara sempat meminta untuk kupeluk saat berpamitan, meski diprotes oleh Helen yg sudah menunggu di depan gerbang untuk segera pulang.
“Udah ya kasian enci tuh.” ujarku pada Clara yg dibalas dengan anggukan dan tersenyum.
“Hati-hati kabarin kalo udah sampe rumah.” pintanya yg kurespon dengan mengelus rambutnya.
“Buruan Tuan Nyonya mesra-mesraannya udah malem nih!!” teriak Helen protes yg disambut tawa oleh ku dan Clara.

“Bawel enci!!” sahut Clara pada Helen.
Aku pun segera berjalan menyusul Helen seraya melambaikan tangan pada Clara.
“Telepon Taksi nji.” pinta Helen saat kami sudah keluar dari gerbang rumah Clara.
“Jalan aja dulu yuk ci sampe Simprug Raya sana.” ajak ku pada Helen yg awalnya direspon dengan mengerutkan dahi namun dituruti juga.
“Mau ngomongin apa sih?” tanya Helen to the point yg seakan paham maksudku mengajaknya berjalan lebih dari sekedar untuk menunggu taksi di jalan besar.

Ilustrasi Helen

“Lo serius ama Tio? Bukan pelarian?” tanyaku mencoba mengajak Helen basa-basi sebelum membahas masalah inti yg ingin kubicarakan dengannya.
“Serius. Udah deh ga usah ngalihin obrolan, gue tau lo bukan mau bahas itu.” sahut Helen yg sepertinya paham tujuan pembicaraanku bukan itu. Aku sempat terdiam sejenak seraya menghela nafas panjang sebelum memulai obrolanku saat menoleh padanya yg sedari tadi memandangku menunggu jawaban.
“Ada yg Clara tutupin dari gue ga sih ci? Yg lo tau tapi gue g tau? Jujur plis.” tanyaku pada Helen yg membuatnya sedikit meruncingkan bibirnya seolah sedang berpikir.

“Ga ada tuh kayanya, kenapa emang?” ucap Helen balik bertanya padaku.
“Jadi surat tadi itu murni cuma buat ngerjain gue?” tanyaku memastikan pada Helen yg diresponnya dengan mengerutkan dahi.
“Emang isi suratnya apaan sih nji?” ujar Helen yg malah balik nanya dan membuatku menghentikan langkahku.

“Lo ga tau?” tanyaku yg cukup terkejut, karena kupikir Helen mengetahui semua yg Clara rencanakan. Helen pun berhenti berjalan seraya menggelengkan kepalanya.
“Emang apaan?” lanjut Helen yg mulai penasaran.
“Clara pamit ke London.” jawabku seraya kembali melanjutkan langkah ini.
“Hah? Ya tapi cuma bercanda kan nji?” tanya Helen lagi seraya menyusul ku yg berada didepannya sambil menarik tanganku.

Aku hanya menoleh kearah Helen dan menjawab pertanyaannya dengan mengangkat kedua bahuku.
“Ko lo g yakin gitu? Clara ngomong apa emang?” cerocos Helen yg semakin penasaran.
“Lo tau kalo Clara itu ga mau jadi Dokter?” tanyaku pada Helen sebelum menjawab pertanyannya.
Helen sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukan kepala perlahan seperti ragu.
“Sejak kapan? Ko lo g pernah cerita ke gue.” tembak ku padanya yg tak terima karena Helen tak pernah sedikit pun memberitahu ku.

“Ya udah lama sih, Clara yg minta gue buat ga ngasih tau lo nji.” jelas Helen yg terlihat merasa bersalah.
“Tapi itu semua ga ada hubungannya kan nji?” lanjut Helen yg terlihat makin panik dan memaksaku untuk segera menjawab pertanyaannya.
“Justru itu ci, Clara bilang ga semuanya bohong yg tertulis di surat itu. Salah satunya adalah tentang Clara yg udah jujur ama Bokapnya bahwa dia ga mau kuliah kedokteran.” ujarku mulai menjelaskan pada Helen.
“Jangan bilang..” belum sempat Helen menyelesaikan kalimatnya aku segera memotongnya.
“Clara sih bilang selama kuliahnya ga ada masalah, dia g akan pindah.” lanjutku menjelaskan yg langsung disahuti oleh Helen.

“Huff bagus dong.” ujar Helen lega.
“Ya itu sama aja kaya sebuah ancaman lah, kalo gue bikin salah lagi ama Clara dia bisa pergi kapanpun.” protesku atas respon Helen yg tak mengerti maksud ku.
“Lo cinta ga sih ama Clara!?” bentak Helen padaku.
“Masih harus gue jawab?” sahutku yg tak kalah menaikan nada bicaraku karena ikut kesal atas respon Helen.
“Ya kalo gitu bukan masalah dong nji, lo harus bisa buktiin lewat sikap bukan cuma omongan!” jawab Helen menceramahiku.

“Nih yg harus lo tau ya dan inget baik-baik adalah bahwa itu semua bukti satu-satunya alasan Clara masih mau tinggal di Jakarta yaitu cuma karena elo Panjul! Harusnya lo seneng dong punya pacar yg segitu cintanya ama lo!” ujar Helen mempertegas perkataannya yg ditujukan padaku.
“Masalahnya gue ga mau Clara kaya gitu ci! Kita berdua tuh masih pacaran.” sanggah ku pada Helen.
“Oh jadi maksudnya Clara terlalu serius dan lo ga siap untuk itu?” tembak Helen padaku yg harus kuakui memang itu yg menganggu pikiranku.
“Ci kita berdua tuh masih tingkat dua, kuliah kita masih 2 tahun lebih. Apalagi Clara kalo ditambah dengan koasnya. Dia perlu motivasi lebih dari sekedar cinta. Hidup dia, masa depan dia, jauh lebih penting daripada gue ci.” ucapku pada Helen menjelaskan tentang kekhawatiranku pada Clara.

“Kalo di mata Clara lo lebih dari sekedar motivasi? Dan elo adalah masa depannya? Gimana?” balas Helen yg membuatku hanya menggaruk kepala dan terdiam.
“Say something nji!” lanjut Helen yg malah kurespon dengan mengangkat tangan untuk menghentikan taksi yg lewat lalu membukakan pintu untuknya.
“Hati-hati.” jawabku singkat.
“Obrolan kita belom selesai! Inget loh!!” ancam Helen yg tak kuhiraukan lalu menutup pintu taksi dan membiarkannya berlalu dari hadapanku. Mengingat arah rumahku dan Helen berlawan kalo dari rumah Clara, sehingga kami pun berpisah.

Aku sendiri lebih memilih naik ojek agar lebih cepat sampai rumah karena lelah. Malam itu aku masih merasa bahwa ada yg salah dengan cara berpikir Clara jika menyandarkan alasan tinggal di Jakarta hanya karena diriku, bagiku hidup tidak sesedarhana itu.

Ilustrasi Clara

Setelah kejadian malam itu aku masih tinggal di Jakarta sekitar tiga hari sebelum kembali ke Bandung, ya karena seingatku saat itu adalah libur awal puasa. Clara pun hampir setiap sore datang kerumah untuk berkunjung dan juga bersama Ibuku serta Kak Sinta menyiapkan hidangan berbuka lalu pulang ketika kami sudah selesai tarawih.

“Terakhir dua tahun lalu yah aku ikut nimbrung buka bareng keluarga kamu gini.” ucap Clara saat kami berdua duduk di balkon atas rumah ku, mengingat tahun lalu kami sedang berpisah. Aku hanya meresponnya dengan mengangguk dan tersenyum.
“Bo..” lanjutnya sambil berdiri berpegangan pada handle balkon atas rumahku dan menatap ke arah depan. Aku pun kemudian bangkit dan berdiri disamping posisi Clara dan melanjuti obrolannya.
“Iya ra?”
“Aku mau tau lebih banyak tentang agama kamu dong.” pinta Clara seraya menoleh kearah ku yg membuatku tersedak dan terdiam lama menatap wajahnya yg sedang tersenyum.

“Eh?” sahutku yg tak mampu berkata banyak.
“Kamu kan udah tau banyak tentang agama aku, enam tahun di SD.” jawabnya yg kurespon dengan senyum simpul.
Aku memang pernah bercerita pada Clara bahwa saat Ayahku ditugaskan di Medan selama 7 tahun, aku bersekolah di SD swasta milik sebuah Yayasan Kristen. Hal tersebut selain karena jarak SD Negeri yg cukup jauh dari domisili ku, juga fasilitasnya di masa ku saat itu sangat prihatin.

Jadi mungkin itu alasan orangtuaku akhirnya menyekolahkan ku disana, selain juga lebih dekat dengan rumah kami. Seperti yg sudah sering kuceritakan, keluargaku memang jauh lebih moderat sehingga tak terlalu membesarkan masalah perbedaan agama didalam kehidupan bersosial terutama Ayahku. Ya mengingat ia pun menikahi Ibuku yg juga sebelumnya berbeda agama dengannya.
“Bo?” tegur Clara lagi padaku yg masih terdiam sedaritadi.

“Ya aku ngerasa bukan orang yg pas aja buat ngajarin kamu agama ra. Kamu kan tau aku juga ga alim-alim banget.” jawabku karena bingung atas permintaan Clara. Ya aku bingung, tingkah Clara semakin menunjukan keseriusannya dalam menjalin hubungan dengan ku. Aku akui itu sebenarnya bagus, hanya saja untuk saat ini masih terlalu cepat empat hingga enam tahun.

Aku punya alasan yg cukup kuat mengapa untuk serius dengan Clara tidak semudah jatuh cinta dengannya. Kalian semua tahu bahwa Clara berasal dari keluarga terpandang yg status sosialnya pun diatas rata-rata, bisa diterima oleh orangtuanya sebagai pacar saja bagiku sudah suatu keajaiban. Namun jika untuk serius? Aku cukup sadar bahwa saat itu latar belakang diriku hanyalah seorang anak dari seorang Perwira Menengah yg juga tidak memiliki silsilah keluarga berdarah ningrat, ditambah aku sendiri masih mengenyam pendidikan sarjana yg bahkan di jaman sekarang bukan lagi suatu kemewahan.

Masa depanku masih penuh tanda tanya mengingat setelah lulus nanti aku masih harus berjuang mencari pekerjaan yg layak, meniti karir hingga mungkin nanti saat bisa masuk tahap mapan barulah dianggap pantas untuk mendampingi seorang Clara. Itupun sekali lagi kalo orangtua Clara dengan rela menyerahkan putri kesayangan satu-satunya itu. Ya anggap saja aku sama sekali tidak naif jika sebagai orangtua Clara akan mencari pria yg jauh lebih baik dari diriku untuk menikahi putrinya.
Kenyataan bahwa menjalin keseriusan dalam suatu hubungan tidak hanya soal cinta tapi jauh lebih daripada itu yg membuatku berpikir untuk tidak membahas atau selalu menghindari apapun dalam hubungan ku dan Clara yg mengarah kesana. Setidaknya bagiku untuk saat ini lebih baik begitu.

“Bukannya di agama kamu itu kalo cowo setelah menikah harus jadi imam yah? Kamu harus bisa dong berarti.” ujar Clara mencoba menjawab elakan ku atas permintaannya. Aku hanya menatap kosong kearah depan rumah sesaat kemudian menoleh kembali menatap wajahnya seraya membelai rambut panjangnya.
“Pulang yuk aku anter.” sahutku mencoba mengakhiri pembicaraan kami.
“Aku kan bawa mobil sayang, nanti kamu repot pulangnya.” jawab Clara heran.
“Gak apa-apa, besok kan aku udah balik ke Bandung biar hari ini lama sama kamunya.” gombalku yg direspon Clara dengan tersenyum salah tingkah seraya memukul bahuku dan mengangguk.

“Tapi nanti lanjutin obrolan kita yah!” pintanya mengancam yg kuiyakan karena aku tahu Clara adalah orang yg mudah lupa apalagi jika nanti aku ajak ia mengobrol hal lain serta bisa membuatnya tertawa dan tertarik pasti ia tak akan membahas ini lagi.

Malam itu aku mengantar Clara hingga rumahnya, sepanjang jalan kami mengobrol banyak tentang kuliah dan rencana kumpul dengan Regas, Angga serta Helen menjelang liburan hari raya nanti. Intinya Clara pun sudah lupa tentang obrolan di balkon rumah ku tadi, meskipun nanti pasti akan dibahas lagi olehnya tapi setidaknya untuk malam ini aku bisa mengelak untuk sementara waktu.

Sepulang kembali dari Jakarta dan tiba di Bandung pada sore hari, aku berpapasan dengan Mang Wira penjaga kos ditempatku ketika turun dari taksi.
“Baru pulang dari Jakarta A Panji?” sapanya ketika aku berjalan menghampirinya.
“Iya nih. Tumben Mang belanjaannya banyak banget?” tanyaku padannya yg memang saat itu ia sedang membawa plastik jinjingan dikedua tangannya.
“Oh ini, soalnya bareng sama belanjaannya Neng Lala.” jelas Mang Wira saat kami berjalan bareng masuk menuju area dalam kosan.

“Lala yg disamping kamar saya?” tanyaku memastikan yg dijawabnya dengan mengangguk.
“Dia suka nyuruh Mang Wira?” lanjutku bertanya lagi dengan wajah heran, karena biasanya anak kos disini selalu belanja sendiri tak pernah menyuruh Mang Wira. Hal itu karena di mata kami para penghuni Kos, Mang Wira adalah bapak kos yg tugasnya menjaga keamanan dan kenyaman bukan seorang pembantu.
“Engga ko A, cuma karena dari kemarin Neng Lala lagi sakit jadi Mang Wira bantu.” jelasnya sambil tersenyum.
“Oh sakit apa mang?” ujarku penasaran.

“Kurang tau den, pokoknya badannya panas.” jawab Mang Wira dengan muka polosnya yg kurespon dengan mengangguk.
Aku pun pamit pada Mang Wira untuk masuk kamarku sementara ia lanjut berjalan ke kamar sebelah untuk menyerahkan belanjaan titipan Lala namun belum selesai membuka kunci kuperhatikan Lala keluar dari kamarnya dan mengambil belanjaan Mang Wira. Aku pun akhirnya menyapanya saat ia menoleh kearahku.

“Hey la apa kabar? katanya sakit?” sapaku padanya yg sore itu terlihat polos hanya dengan ikat rambut asal dipadu kaos dan celana training panjang sebagaimana orang sakit pada umumnya.
“Hai nji. Hahaha iya nih, jadi nyusahin Mang Wira segala.” jawabnya dengan nada suara mindeng sambil tersenyum seraya memberikan kembalian dan berterimakasih pada Mang Wira.
Mang Wira pun berlalu meninggalkan kami berdua dan aku akhirnya berjalan menghampiri Lala yg berdiri didepan kamar kosnya untuk mengobrol.

“Sakit apa?” tanyaku saat berdiri didepan depannya yg sedang menyadar ke sisi pintu dengan wajah yg memang terlihat agak pucat.
“Tau nih udah dua hari demam.” jawabnya sambil cemberut.
“Udah ke dokter?” lanjutku basa basi sebagaimana pertanyaan kepada orang sakit.
“Halah panas doang, minum obat nanti juga sembuh ko.” jawabnya sambil tersenyum yg kurespon dengan menggelengkan kepala.

“Dasar. Ya udah kalo gitu, gue ke kamar dulu. Istirahat sana biar cepet sembuh.” jawabku sekalian pamit dari hadapan Lala.
“Makasih ya nji.” sahut Lala yg kurespon dengan anggukan.
“Kalo butuh sesuatu, ketok aja pintu kamar gue.” tawarku padanya sambil berjalan kearah kamar yg ia balas dengan senyum dan mengacungkan jempolnya, kami berdua pun akhirnya masuk kamar masing-masing.

Ilustrasi Lala

Malamnya selesai mengerjakan tugas sekitar pukul 8 lewat perutku mulai protes untuk segera diisi karena saat magrib tadi hanya minum teh manis dan sebungkus roti. Aku pun memutuskan keluar kamar bermaksud untuk membeli nasi goreng yang tak jauh dari kosan.
Saat didepan kamar, aku mendengar suara seorang wanita yg sedang merintih. Hal itu tentu membuatku penasaran dan ketika kutelusuri aku yakin itu berasal dari kamar Lala, meski ragu aku pun mencoba mengetuk pintu kamarnya.

“La? Lala?” ucapku namun tak kunjung ada jawaban. Mengingat suara itu tak kunjung reda dan aku sangat yakin berasal dari kamar Lala, aku pun mengetuk dan memanggilnya lagi lebih keras.

“Lala!? Lala!? Lo kenapa?” ujarku sedikit berteriak seraya mengetuk pintunya berkali-kali dan ketika tanganku menarik handle pintu pun langsung terbuka karena ternyata tak dikunci.
Aku mendapati Lala sedang meringkuk dengan berselimut diatas kasur, ia terlihat menggigil kedinginan. Memang ku akui udara di Bandung sekitar pertengahan Oktober saat itu yg sudah memasuki musim hujan sangat luar biasa dingin di malam hari. Tapi apa yg terjadi pada Lala tidaklah normal, aku yg cukup panik mencoba memegang dahinya dan mendapati suhu tubuhnya sangat panas.

“Ya ampun la, badan lo panas banget. Mending lo sekarang ganti baju, gue cari taksi yah kita ke Rumah Sakit.” pintaku seraya berlari keluar kamar untuk mencari taksi di ujung jalan yg tak jauh dari kos kami.
Setelah mendapat taksi aku pun segera kembali ke kamar Lala namun ia belum juga berganti pakaian karena ku pikir tubuhnya sangat lemas. Aku pun berinisiatif mengambil jaket milik ku di kamar lalu meminta Lala untuk memakainya, kemudian aku mengangkat tubuhnya serta membawa Lala menuju taksi.

Mang Wira yg saat itu muncul melihat kami segera kupinta untuk mengambilkan tas juga handphone Lala dan mengunci pintu kamarnya serta menjaganya selama aku membawa Lala ke Rumah Sakit yg dituruti olehnya. Aku dan Lala pun berdua akhirnya menuju Rumah Sakit dengan menggunakan Taksi.
Setibanya di Rumah Sakit, seorang perawat pria membantu ku untuk membopong Lala ke kursi roda dan membawanya ke Ruang UGD.

Saat itu juga Lala langsung mendapat pemeriksaan dari petugas Rumah Sakit sementara aku hanya menunggu di Ruang Tunggu. Sekitar dua puluh menit, seorang perawat wanita mencari keluarga Lala dan aku pun segera menghampirinya.
“Saya mba yg bawa pasien atas nama Lala.” ucapku saat berjalan kearahnya.
“Oh gini mas, kita perlu beberapa tindakan seperti cek darah untuk memastikan kondisinya karena diganosa sementara dokter pasien menderita DBD.” jelas perawat tersebut yg kurespon dengan mengangguk.

“Lakuin aja mba, saya yg tanggungjawab nanti biayanya.” jawabku yg akhirnya dijawab perawat tersebut dengan memintaku untuk mengurus administrasinya.
Setelah selesai mengurus administrasi dan tindakan yg dilakukan oleh dokter hasilnya adalah Lala positif DBD sehingga harus di opname. Kebetulan saat itu Lala sudah sadar dan akhirnya bersedia untuk di opname seraya memintaku untuk mengambil kartu asuransi ditas miliknya agar dapat diurus administrasi rawat inapnya.

Sambil menunggu pemindahan Lala dari Ruang UGD ke Ruang Perawatan, aku pun kembali duduk disamping kasur Lala.
“Gimana? Mendingan?” tanyaku padanya yg masih terlihat lemas.
“Masih agak panas sih. Tapi pusingnya lumayan reda.” jawabnya sambil tersenyum kearahku.
Aku pun mengambil handphone Lala dari tasnya dan menyerahkannya pada Lala.
“Kalo mau nelepon keluarga lo.” tawarku padanya yg direspon dengan mengangguk dan mengambil handphonenya dari tanganku.

Ia pun menelepon orangtuanya yg sepertinya diangkat oleh Ibunya karena ia memanggil dengan sebutan Mami, entah kenapa panggilan itu mengingatkan ku akan seseorang.
Setelah selesai menelepon Lala menyerahkan kembali handphonenya padaku dan kuambil seraya tersenyum padanya.
“Apa kata Nyokap?” tanyaku padanya yg ia jawab dengan cemberut.

“Besok pagi baru kesini, katanya yg penting gue udah ditanganin dokter.” jelasnya dengan raut wajah kecewa.
“Emang orangtua lo tinggal dimana sih?” tanyaku yg memang belum tahu darimana asal Lala sebenarnya.
“Bogor nji.” jawabnya singkat.
“Oh, jauh juga. Udah malem kali la.” sahutku mencoba menghiburnya yg ia respon dengan anggukan dan tersenyum.

“Mau coba hubungin temen lo?” tawarku lagi dengan maksud untuk mencarikan teman untuknya malam ini.
“Lagi pada pulang nji, kan kampus gue masih libur awal puasa.” jelas Lala yg membuatku jadi kasihan padanya.
“Nji.” panggil Lala lagi padaku.
“Iya?”
“Temenin gue ya malem ini.” pintanya memohon yg memang sedari tadi hal itu mengganggu pikiranku, mengingat keluarga dan temannya sedang tidak ada yg di Bandung. Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya menyanggupi permintaannya.

“Ya udah iya gue temenin, tapi gue keluar dulu ya beli barang kebutuhan buat nginep.” jawabku yg Lala respon dengan mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Selain karena memang ingin membeli beberapa barang dan makanan untuk sahur nanti, aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menghubungi Clara agar ia tak mengkhawatirkanku apabila sulit dihubungi. Aku beralasan sedang di Rumah Sakit menemani teman kosku padanya karena keluarganya baru datang besok pagi, dengan menyembunyikan pada Clara bahwa orang itu adalah seorang wanita bernama Lala yg belum pernah ia jumpai sebelumnya. Clara pun mengerti dan hanya berpesan untuk menghubunginya besok. Kupikir kebohongan ini beralasan, dan aku tak punya pilihan selain membantu Lala saat ini.

Semoga saja Clara tak curiga apapun padaku, kuharap begitu.
Sekembalinya dari menelepon Clara dan membeli beberapa barang di mini market dekat Rumah Sakit, Lala ternyata masih terjaga dan belum tidur.
“Ga tidur la?” sapaku saat menaruh barang yg kubeli di meja samping kasurnya seperti air mineral, tissue, peralatan mandi beserta handuk kecil dan sebungkus roti tawar lengkap dengan selai coklatnya.
“Banyak banget nji belinya.” respon Lala tanpa menjawab pertanyaanku.
“Buat jaga-jaga aja.” jawabku seraya duduk kembali disamping kasur Lala yg sedang tersenyum dan tertawa kecil ketika memperhatikanku.
“Kenapa ketawa?” tanyaku heran yg ikut tersenyum melihatnya agak ceria.

“Gue ngerti kenapa ada cewe yg mau jadi selingkuhan lo nji.” ujarnya yg membuatku mengerutkan dahi.
“Apaan sih ngaco deh.” sahutku seraya menggelengkan kepala.
“Hati lo nji.” jelas Lala sambil tersenyum menatapku lembut.
“Kenapa?”
“Tulus.” lanjutnya yg membuatku terdiam sesaat dan hanya kubalas dengan senyum seraya memintanya tidur.
“Udah deh daridapa gosip mending tidur.” perintahku pada Lala seraya membenarkan selimutnya agar menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan kepalanya.

“Lo tidur dimana?” tanyanya yg kujawab dengan menunjuk kursi.
“Makasih ya nji.” lanjutnya lagi dan kubalas dengan mengangguk seraya menyadarkan tubuh ini pada kursi serta memasang penutup mata yg kubeli di mini market tadi.
Malam itu aku menemani Lala, wanita yg belum lama ku kenal ketika bertemu di club tempat Erik biasa tampil. Aku berharap hubungan ini hanya sebatas seorang tetangga kos yg membantu ketika sakit tak lebih.

Keesokan paginya setelah selesai mandi dan bersiap untuk kuliah, aku mendapati Lala yg juga sudah terbangun dari tidurnya.
“Hey pagi.” sapaku padanya yg terlihat masih mengulat.
“Hey. Ada kuliah pagi yah?” jawabnya membalas sapaanku seraya bertanya, mungkin melihat aku yg sudah mandi dan rapih.
“Iya jam 8, gak apa-apa kan gue tinggal?” balasku menanggapi Lala yg ia respon dengan mengangguk dan tersenyum.
“Makasih ya nji udah mau nemenin.” ucap Lala yg kubalas juga dengan tersenyum padanya.

“Istirahat biar cepet sembuh, sarapannya di makan terus obatnya diminum.” pesanku padanya yg direspon dengan mengangkat tangan ke dahi memasang gaya hormat.
“Gue pamit yah.” ucapku berpamitan seraya mengambil tas lalu berjalan keluar kamar namun sempat dicegahnya yg membuatku menoleh kembali kearah Lala.
“Iya la?” tanyaku heran yg melihatnya bangkit dari kasur dan memintaku mendekatinya.
“Butuh sesuatu?” lanjutku yg mencoba mendekati tubuhnya namun yg kudapati justru sebuah kecupan mendarat dipipi kananku dan membuatku terpatung sesaat.
“Hati-hati dijalan, nanti kesini lagi yah.” ucap Lala setelah mengecupku yg kujawab dengan mengangguk salah tingkah. Aku pun kemudian berlalu meninggalkannya tanpa pamit lagi.

Sesampainya di kampus aku cukup banyak melamun karena sikap Lala tadi yg membuatku merasa salah telah menolongnya. Bahkan saat tiba-tiba seseorang menegurku ketika duduk bersandar didepan perpustakaan hampir membuatku jatuh karena kaget.
“Lo kenapa nji.” tanyanya heran mengingat ia menegurku dengan nada biasa bukan mengagetkan. Meski aku justru yg cukup kaget karena orang itu adalah Bimo.
“Gak apa-apa bim.” jawabku yg masih ketus karena sudah malas berurusan dengan anak Pocing.

“Lo kemana aja sih udah tiga kali ga masuk kelas sungai?” tanya Bimo seolah mengkhawatirkan ku padahal alasan ku merelakan kelas sungai adalah untuk menghindar dari anak Pocing.
“Kebanyakan sks.” ujarku berbohong.
“Yaelah nji g ada alesan yg lebih bagus apa.” sahut Bimo yg mungkin bisa membaca kebohonganku, aku hanya diam tak menanggapi omongannya.
“Nji. Lo masih marah karena kejadian Anniv Pocing? Gue mewakili anak-anak minta maaf, tapi kan lo ga perlu ngejauh gitu nji apalagi sampe ngorbanin kelas sungai lo cuma gara-gara masalah sama kita. Kita kan bisa bicarain ini baik-baik.” lanjut Bimo meminta maaf, namun entah mengapa aku merasa kejadian kemarin tidak sesederhana itu. Apalagi disini Giri yg punya masalah denganku seolah tak menganggap hal itu.

“Udahlah mo ga perlu minta maaf, dari awal juga gue bukan bagian dari Pocing. I know where should I belong, bukan Pocing.” jawabku yg tak mau memperpanjang masalah ini terutama sangat enggan untuk kembali kumpul dengan anak-anak Pocing.
“Semenjak kejadian itu Pocing juga udah ga kaya dulu lagi nji, kita kaya ke pecah jadi dua. Team Giri sama Team Tyas, karena Tyas sendiri ngomel malam itu atas kelakuan Giri dan Giri ga terima. Setahu gue sih Tyas ngerasa bersalah ama lo, cuma dia bingung gimana ngomongnya ama lo karena kan belom deket. Makannya gue kesini mau ngajak lo buat baikan.” jelas Bimo yg membuatku sedikit melunak namun bagiku keputusanku untuk tidak gabung lagi dengan mereka sudah final.

“Mo, kalo gue gabung lagi ama Pocing disaat Giri ama Tyas lagi clash gini percaya deh itu malah memperburuk suasana. Gue apreciate banget lo mau nongol didepan gue jelasin semuanya dan minta maaf. Tapi kayanya tempat gue emang bukan disana mo.” ujarku mencoba menjawab sediplomatis mungkin dengan Bimo.
“Oke gue ngerti nji, kita emang ga harus satu tongkrongan. Tapi bukan berarti kita ga bisa temenan kan? Lo juga masih punya kesempatan satu kali lagi buat masuk kelas sungai. Jd gue harap jangan cuma karena masalah ini kelas sungai lo lepas.” jawab Bimo seraya menepuk pundak ku yg kurespon dengan senyum dan menganggukan kepala.

“Kalo gitu gue cabut duluan. Ketemu lusa di kelas sungai ya.” pamit Bimo seraya berjalan meninggalkan ku.
“Mo!” sahutku padanya yg masih berjarak beberapa langkah dari ku dan membuatnya berbalik.
“Makasih.” lanjutku dengan berteriak yg direspon Bimo dengan mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Aku cukup lega akhirnya masalah dengan Pocing bisa kuanggap sudah selesai.

Saat Bimo sudah berlalu dihadapanku, tak lama Regas pun nongol yg memang kami sudah janjian bertemu di depan perpus.
“Siapa nyet?” tanya Regas yg mungkin melihat aku dan Bimo mengobrol tadi.
“Senior.” jawabku singkat.
“Tumben punya temen.” ledeknya sambil tertawa cengengesan.
“Sialan lo! Yuk jalan sekarang.” sahutku lalu mengajaknya untuk berjalan yg dituruti Regas.

Aku rencananya sore ini akan ikut kegiatan Regas buka bersama anak yatim disalah satu panti yayasan di daerah Buah Batu.
Ya sekarang Regas sudah menjabat sebagai semacam Kepala Divisi Sosial BEM di kampus kami, selain juga menjabat Sekjen Himpunan jurusannya. Aku awalnya mengajak Regas bertemu untuk mengobrol namun karena ada agenda ia malah menawarkanku ikut kegiatannya.
Mengingat tujuanku adalah mencari kesibukan agar ada alasan untuk tidak kembali ke Rumah Sakit untuk menemui Lala, aku pun menyanggupi tawarannya.

Kami berangkat menggunakan motor masing-masing sementara Tim Divsos Regas dengan mobil karena membawa banyak barang sumbangan. Sesampainya disana Tim Divsos Regas sudah lebih dulu sampai dan menunggu kami di depan halaman Panti Asuhan seraya kami berdua pun menyusul masuk bergabung bersama mereka.

“Sori telat. Oh iya kenalin temen gue Panji, dia mau bantu jadi tinggal suruh aja.” sapa Regas sekaligus memperkenalkanku pada Timnya yg sekitar enam orang dengan dua wanita serta empat pria, aku hanya membalas senyum pada mereka semua.
Regas pun disambut oleh pemilik yayasan dan langsung masuk bersama dua wanita di Tim nya tadi untuk memulai acara, sementara aku dan empat pria sisanya masih didepan membantu para pemuda yayasan yg menurunkan barang sumbangan yg dibawa kami.

“Taro sini aja semuanya tapi bawain satu box biru dong ke dalem buat simbolis.” ucap salah satu wanita yg tadi bersama Regas. Mengingat box biru yg dimaksud kebetulan berada ditanganku, aku pun membawanya kedalam dan menyerahkan padanya.
“Sip.” ujarnya lagi singkat dengan wajah datar tanpa berterimakasih yg membuatku bergumam dalam hati jutek amat sih.
Acara pun dimulai dengan sambutan Pimpinan Yayasan, lalu dilanjut sambutan Regas yg mewakili Presiden BEM kami yg kebetulan berhalangan hadir serta dokumentasi serah terima dan pembacaan doa. Setelah ditutup kami pun hanya tinggal ramah tamah sambil berbuka puasa.

Aku sendiri saat itu hanya makan kolak pisang dipinggir teras depan Yayasan sambil memandang kearah dalam dimana anak-anak yatim sedang makan bersama sambil bercanda gurau dengan anak-anak divisi sosial, tak lama Regas pun berjalan menghampiriku.
“Dalem nyet gabung.” ajaknya yg kurespon dengan anggukan.
“Iya gampang, lagi ngadem disini.” jawabku beralasan. Sebenernya sedaritadi aku masih memperhatikan wanita yg tadi memintaku membawakan box, entah kenapa wajahnya tidak asing di kepalaku.
“Mata di sekolahin! Liat bening dikit melotot.” tegur Regas yg sepertinya menangkap basah diriku yg sedang memandang wanita itu.
“Sialan lo.” sahutku sambil tertawa.
“Siapa namanya nyet?” lanjutku menanyakan pada Regas identitas wanita tersebut.

“Loh bukannya temen SMP lo?” jawab Regas yg membuatku mengerutkan dahi.
“Temen SMP? Ga inget.” respon ku seraya menggelengkan kepala.
“Dia juga lulusan SMP lo yg di Pejaten itu loh.” jelas Regas lagi yg membuatku penasaran, meski ku akui wajahnya tak asing tapi aku memang tidak mengenalnya.
“Masa sih? Siapa namanya?” tanyaku lagi yg keheranan.
“Mentari anak Teknik Industri, dia kenal lo ko.” tembak Regas yg tetap belum bisa membuatku ingat apakah benar aku pernah mengenalnya atau tidak.
“Gue kayanya ga kenal dia waktu SMP.” jawabku yakin.

“Ga heran sih, lo kan kuper.” tutup Regas singkat yg kubalas dengan menempeleng kepalanya sementara ia hanya cengengesan.
“Udah yuk masuk ngobrol ama Pak Haji, kelamaan disini nanti lo naksir dia gue diamuk Clara lagi.” ajak Regas yg kuturuti.
Sekitar pukul 8 lewat kami pun akhirnya berniat untuk pamit untuk pulang, setelah sempat berfoto bersama. Namun ketika berpapasan dengan Mentari aku mencoba untuk kembali menyapanya.
“Mentari.” sapaku yg membuatnya menoleh.

“Iya nji?” sahutnya singkat yg terlihat buru-buru.
“Kata Regas lo lulusan SMP Pejaten?” tanyaku yg hanya ditanggapinya dengan mengangguk seraya sibuk memakai sepatunya.
“Ko gue ga pernah liat lo yah di SMP.” jelasku tidak mengenalnya.
“Wajar lah kan kita ga pernah sekelas.” jawabnya singkat seraya kembali berdiri setelah selesai memggunakan sepatunya.
“Ko lo kenal gue?” tanyaku lg penasaran.

“Ya lo kan dulu hampir tiap bulan pas upacara maju ke depan mulu serah terima piala lomba ini itu ama sekolah.” jelasnya lagi singkat yg terlihat ingin segera pamit.
“Iya juga sih. Eh sori lo mau pulang duluan ya?” ucapku akhirnya menanggapi sikapnya.
“Iya nih udah dijemput, duluan yah.” pamitnya seraya berlalu dari hadapanku.
“Udah lah, udah ada anjingnya. Masih aja dikejar.” tegur Regas yg nongol disampingku.
“Siapa juga yg ngejar, cuma penasaran aja bener apa engga lulusan SMP yg sama ama gue.” sewotku pada Regas yg diresponnya dengan cengengesan sambil menggelengkan kepala,
“Ngeles aja lo kaya bajaj.” sahut Regas.
Kami pun akhirnya pulang setelah berpamitan dengan Pemilik Yayasan dan anak-anak penguhuni Rumah Yatim tersebut serta dengan Tim Divisi Sosialnya Regas.

Sesampainya di kosan malam itu setelah selesai beres-beres, aku menghubungi Helen melalui telepon untuk membicarakan beberapa hal yg membuatku penasaran tentang Clara selama di kampus padanya yg tidak aku ketahui.
“Lo ga tau sih, ga ada satu pun cowo yg berani deketin Yayang lo. Clara itu udah terkenal satu fakultas cewe paling jutek, dingin dan unfriendly kalo sama cowo.” ucap Helen menjelaskan sikap Clara di kampus.
“Masa sih.” sahutku tak percaya sambil tertawa.
“Eh nji lo pikir Adit bisa deket ama Clara gara-gara berani? Boro-boro!! Itu murni Clara yg maju duluan karena ya kita tau lah alasannya apa.” lanjut Helen meyakinkanku.

“Lo kenapa sih tiba-tiba nanya gini? Kemana aja baru ditanya?” tanya balik Helen padaku.
“Ketus amat ci.” protesku pada Helen.
“Ya tumben aja.” sahut balik Helen padaku.
“Jujur gue masih kepikiran tentang sikap Clara yg menganggap keseriusan hubungan ini terlalu jauh dan tebakan gue bener ternyata kalo dia juga di kampus menjaga jarak banget dengan cowo lain.” jelasku pada Helen.
“Terus lo masih ngerasa kalo itu salah? Dia jaga perasaan lo nji.” tanggap Helen membela sikap Clara.
“Kenapa sih harus segitunya? Gue ga pernah sekalipun ngelarang Clara temenan ama cowo. Kenapa cewe kalo udah pacaran seserius itu sih? Membangun komitmen dan kepercayaan dalam hubungan bukan kaya gitu caranya ci.” jawabku mengutarakan jalan pikirku pada Helen.

“Ga semua cewe ko tapi kalo ada yg sampe melakukan itu artinya cewe itu berharap lo pun sebagai cowo melakukan hal yg sama. Menghargai perasaan mereka.” bela Helen atas sikap Clara.
Malam itu aku mengobrol banyak dengan Helen tentang hubunganku dengan Clara. Setelah beberapa hari lalu sikap seriusnya semakin menjadi, aku selalu kepikiran tentangnya. Dan alasan mengapa aku mencari tahu sikap Clara di kampus terhadap temen-temen cowonya adalah karena pertemuan ku dengan Mentari tadi. Entah mengapa sikap dingin Mentari pada cowo karena kupikir ia merasa sudah punya pacar dan sehingga membuat jarak dengan cara jutek pada cowo manapun.

Sikapnya itu membuatku curiga apakah Clara juga memiliki kepribadian dan sikap yg sama di kampusnya, dan jawaban Helen mengamini semua itu. Aku pikir kalian paham, membatasi pergaulan dengan alasan menjaga hubungan pacaran adalah hal yg terlalu konyol buatku dan bahkan aku masih tidak sepaham dengan Helen yg berulang kali mencoba menjelaskan dari sudut pandang wanita. Aku tetap bersikeras dengan pendirianku bahwa Clara harus merubah sudut pandangnya, dan hal pertama adalah dimulai dari terbuka dalam pergaulan dengan siapapun. Malam itu aku memutuskan akan menemui Clara di kampusnya akhir pekan ini untuk bertemu dengannya dan membahas masalah ini.

Empat hari berlalu, selama itu pula aku hampir selalu seharian di kampus bersama Regas yg bahkan sempat ikut bukber himpunannya. Aku pun minggu itu sudah masuk kelas sungai kembali, bertemu serta menyapa lagi Bimo dan Aldo meski hanya sebatas di kelas. Aku masih menolak ketika mereka mengajak untuk kembali kumpul di Pocing dan mereka pun memaklumi keputusanku.
Aku bahkan lupa tentang kejadian beberapa hari lalu saat menolong Lala, membawanya ke Rumah Sakit dan menemaninya serta dikecup olehnya saat pulang. Bukan hanya sukses menghindar, aku bahkan sudah melupakan kejadian itu hingga pada akhirnya ingatan itu kembali ketika suatu malam saat aku baru pulang dari kampus Lala muncul dihadapanku.

“Orangnya belum pulang La.” sapaku bercanda padanya yg sedang berdiri didepan pintu kamarku.
“Hey nji, baru pulang? Pantes kosong.” ujar Lala seraya berbalik menoleh kearahku dan tersenyum.
“Udah lama?” tanyaku seraya menghampirinya.
“Belom ko baru aja.” jawab Lala dengan wajah yg sangat ramah. Padahal aku jadi merasa agak tidak enak setelah menemaninya beberapa hari lalu tak kembali lagi bahkan tanpa mengabarinya.
“Udah makan belom?” tanya Lala yg memang kuperhatikan ditangannya membawa sekotak makanan cepat saji.
“Belom sih.” jawabku singkat yg langsung disambar olehnya.
“Kebetulan, udah gue bawain nih. Makan bareng yuk.” sahut Lala semangat seraya menarik tanganku kearah Ruang Tengah kosan.

“Gue ga tau lo doyan apaan, jadi beli fastfood aja yg biasanya semua orang doyan.” ucap Lala sambil sibuk menyajikan makan yg dibelinya dihadapan kami berdua. Aku sendiri masih lebih banyak diam karena canggung dengan Lala.
“Heh diem aja ayo makan.” tegur Lala yg mengagetkanku dari lamunan.
“Eh iya.” jawabku singkat yg akhirnya makan makanan yg sudah disajikan oleh Lala.
“Repot banget la sampe beliin makan gini.” ujarku yg akhirnya membuka obrolan.
“Anggap aja balas budi.” tanggapnya yg sedang asik makan sambil tersenyum ceria.
“Udah sehat ceritanya?” tanyaku balik.
“Udah dong, makasih ya.” jawabnya yg kurespon dengan menganggukan kepala.
“Kapan pulang?” lanjutku menanyakan kepulangannya dari Rumah Sakit, mengingat hari ini Lala terlihat sangat sehat bahkan seolah tidak ada tanda bekas bahwa ia habis di opname.

“Kemaren pagi udah pulang, tapi masih di rumah Uwa di Cimahi soalnya Bokap Nyokap ama Ade gue kan juga pada disini jadi ga mungkin kalo di kosan. Balik ke kosannya baru aja tadi sore dianter Bokap Nyokap terus mereka balik ke Bogor.” jelasnya panjang lebar sambil mengunyah makanannya dan kurespon dengan anggukan seraya tersenyum padanya.
“Ko lo ga balik lagi sih ke Rumah Sakit. Gue nungguin tau.” lanjut Lala menembak ku dengan pertanyaan yg sedaritadi memang sedang kupikirkan bagaimana menjawabannya.
“Eh iya sori lagi banyak tugas di kampus.” ujarku menggunakan alasan klasik yg direspon Lala hanya dengan memgangguk. Kami pun lanjut mengobrol hingga menghabiskan makanan kami masing-masing.
“Duh bosen banget deh gue masih harus di kosan tiga hari ga ngapa-ngapain ga ada temen.” keluh Lala setelah menjelaskan bahwa ia masih harus menjalankan perawatan di rumah pasca opname hingga kondisinya pulih sempurna.

“Enak dong kan bisa nonton film sambil males-malesan.” hiburku pada Lala yg ditanggapinya dengan mengerutkan dahi.
“Film darimana? Gue ga punya koleksi film.” sahutnya sambil cemberut.
“Gue banyak tuh DVD, pinjem aja sesuka lo.” tawarku yg membuat Lala berubah ceria dan antusias.
“Mauuu!!” jawabnya mantap.
Setelah selesai makan dan merapihkan meja Ruang Tengah, aku pun mengajak Lala ke kamarku untuk meminjamkannya beberapa koleksi DVD miliku.

“Masuk la.” ajak ku yg ia turuti dengan mengikutiku dan duduk di meja belajarku setelah kutawarkan sambil aku mengeluarkan koleksi DVD dari sebuah box khusus yg sengaja kusiapkan. Saat ku buka dan menggesernya kedepan posisi Lala duduk ia tak respon karena sedang asik memperhatikan kamar ku.
“La?” tegurku yg membuatnya langsung menoleh.
“Eh iya? Hehe sori. Kamar lo lucu banyak pajangan kartun.” jawabnya cengengesan yg ku respon dengan menyodorkan box berisi kaset DVD ku padanya.
“Gue tinggal kamar mandi bentar ya.” pamitku saat Lala sedang asik memilih kaset yg ingin dia pinjam dan meresponku dengan anggukan.
Sekembalinya dari kamar mandi setelah berganti pakaian santai untuk di kosan, aku mendapati Lala malah sedang asik merapihkan beberapa barangku yg berantakan.

“Hey udah milih Filmnya?” tegurku pada Lala.
“Gue bingung milih yg mana. Ga ada yg tau.” jawabnya sambil masih tetap merapihkan buku dan komiku yg berantakan diatas meja.
“Terus ko malah ngerapihin meja gue, udah biarin aja itu mah.” pintaku yg tak dihiraukan Lala.
“Gak apa-apa, anggap aja bales kebaikan lo.” jawabnya seraya tersenyum manis kearahku.
“Ya ampun kaya punya utang jutaan aja lo. Udah sini gue bantuin milih Film aja.” ujarku padanya agar berhenti merapihkan barang-barangku. Ia pun masih tetap melanjutkan pekerjaannya merapihkan barangku yg tinggal beberapa lagi dan setelah selesai berbelok menghadapkan badannya padaku yg duduk diatas kasur didepannya.

“Lo mau Film apa? Horor Action atau Comedy?” tanyaku yg membuatnya berpikir sejenak.
“Yang bagus aja.” jawab Lala seraya berpindah dari kursi meja belajar ke kasur tepat disampingku tanpa menyisakan jarak. Aku cukup salah tingkah atas kelakuan Lala namun mencoba cuek dengan fokus memilih Film untuknya.
“Udah pernah nonton Back To The Future? Film jadul sih tapi efeknya lumayan. Ada tiga sequel gitu lumayan bisa marathon.” tawarku sambil mengumpulkan ketiga kasetnya.

“Belom.” jawab Lala singkat sambil maju mendekatnya wajahnya padaku untuk melihat kaset yg tadi kutawarkan. Karena terlalu dekat saat aku menoleh, wajah kami saling menatap dengan menyisakan jarak hanya beberapa centimeter. Terpatung dalam posisi tersebut beberapa detik membuat pergolakan penolakan dalam otak ku namun sebagai cowo normal pada umunya yg mudah dikuasai efek dopamin akhirnya hati ini menyerah pada otot motorik yg memajukan kembali wajahku serta membuat bibir ku dan Lala akhirnya bertemu dan cup kami pun berciuman.
Bibir kami saling memagut lembut perlahan dan melumatnya sesekali, tangan Lala pun menggenggam jemariku yg membuat kami semakin tenggelam dalam ciuman. Beberapa menit berlalu dengan turunnya deru nafas kami berdua bibir ini pun perlahan mulai saling melepas dan otak ku kembali dikuasai oleh saraf sadar.

“Sori.” tiba-tiba permintaan maaf keluar dari lisanku.
“Kenapa? Karena nyium gue?” tanya Lala yg kurespon dengan anggukan.
“Kesalahan lo bukan nyium nji, tapi udah bikin gue jatuh cinta.” lanjutnya seraya memegang daguku untuk melihat kearahnya yg membuatku menoleh dan terpatung saling memandang.
Tai umpatku dalam hati.

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 28 | Ketika Kita Muda Part 28 – END

(Ketika Kita Muda Part 27)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 29)