Ketika Kita Muda Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 27

Start Ketika Kita Muda Part 27 | Ketika Kita Muda Part 27 Start

A Letter

Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, kalimat ini seakan menjadi sihir kegalauan putus cinta anak milenial jaman sekarang. Padahal orang yg meninggalkan terkadang masih ada diruang dan waktu yang sama, pilihannya kembali pada kita mau mengejar untuk mendapatkannya lagi atau menyerah pada sebuah intuisi gengsi didalam hati. Artinya dalam hal ini ditinggal dalam kondisi seperti diatas tadi bukanlah definisi dari perpisahan, setidaknya begitu menurutku.
Perpisahan memiliki makna yg jauh lebih dalam dari sekedar putus cinta. Orang bijak pernah berkata ketika kita bertemu atau berkenalan dengan seseorang, maka disaat yg bersamaan Tuhan juga telah menyiapkan takdir perpisahannya.

Ada juga yg bilang pertemuan adalah awal dari perpisahan, itu adalah hukum absolut yg berlaku di dunia. Kenapa absolut? Bukankah satu-satunya yg pasti didunia ini hanya kematian? Karena itu perpisahan sebenarnya ialah ketika raga kita dipisahkan oleh ruang dan waktu yg berbeda.
Aku sendiri masih belum tahu perpisahan apa yg takdir siapkan untukku dan Clara, yg kutahu saat itu hanyalah sebuah keinginan memperjuangkan hubungan kami agar tidak berpisah di dalam ruang dan waktu yg masih sama.

Minggu pagi ketika senja baru saja mengintip dari ufuk timur, aku sudah berada di lobby hotel di daerah Cihampelas tempat Clara menginap. Aku masih mengkhawatirkan tentang kejadian semalam yg membuat Clara meninggalkan acara bahkan memintaku untuk pulang dan tidak menemaninya bermalam di hotel kemarin. Sehingga pagi ini aku ingin menjelaskan semuanya kepada Clara meski ku tahu ini sudah sangat terlambat.

Clara yg keluar dari pintu lift berjalan gontai tak bersemangat kearahku yg berdiri menyapanya.
“Hey, pagi ra.” sapaku canggung.
“Sarapan yuk.” ajaknya sambil tersenyum simpul tanpa menjawab sapaanku dan kubalas dengan anggukan.

Ilustrasi Clara

Kami berduapun berjalan ke restoran di lobby hotel yg letaknya hanya beberapa langkah dari tempat kami berdiri.
Clara hanya mengambil beberapa potong potato wedges dan sosis sementara aku yg masih tidak nafsu makan hanya mengambil omelete lalu kami pun duduk di meja samping dekat kolam renang.
Clara pagi itu lebih pendiam dari biasanya bahkan tatapannya kosong, aku semakin merasa bingung harus memulai pembicaraan ini darimana.

“Masih ada kan maaf buat aku ra?” ucapku membuka keheningan sarapan pagi kami waktu itu. Clara memandang ku sesaat sebelum akhirnya menganggukan kepalanya perlahan seakan ragu dengan jawabannya sendiri.
“Aku bisa jelasin semuanya ra.” lanjutku seraya menggenggam tangan kiri Clara yg berada disamping piringnya.
“Ga usah dibahas lagi ya sayang.” jawab Clara singkat sambil melempar senyum padaku. Entah kenapa aku merasa bahasa tubuh Clara menunjukan hal yg tidak sejalan dengan perkataannya.
“Tapi kamu berhak tau ra.” pintaku lagi untuk menjelaskan tentang Andini agar Clara tak salah paham, ya meskipun jika ia salah paham justru itu kebenarannya. Hati ini ironis, demi keegoisan lagi-lagi aku ingin menjelaskan sebuah kebohongan pada Clara.

“Ga perlu bo, yg perlu aku tau sekarang Andini udah pacaran ama cowo yg mulutnya ember itu. Ya meskipun yg aku tahu beberapa bulan yg lalu Andini itu punya pacar namanya Dika, tapi apapun itu bukan urusan aku.” jawab Clara menunduk sambil memainkan potato wedges dipiringnya.
“Tapi ra.” belum sempat aku menyelesaikan penjelasanku Clara langsung memotong lagi.
“Bo, udah ya plisss.” sahutnya dengan tatapan memohon dan senyum yg entah lah aku tak lagi bisa membaca bahasa tubuh Clara saat itu. Aku merasa penyangkalannya hanya membuat diriku khawatir bahwa masalah ini belum selesai di mata Clara.
“Aku ga tenang ra kalo belom jelasin ke kamu.” jelasku lagi sambil menatap wajahnya yg masih memandangku.

“Panji Darmawan pacarku yg nyebelin dengerin nih ya, aku yakin kamu punya alasan kenapa ga pernah jujur tentang hubungan kamu dan Andini meskipun aku g tau apa itu. Dan aku yakin penjelasan kamu nanti pun masih akan menutupi hal lain untuk alasan yg sama. Karena aku ga mau kamu bohong lagi sama aku, jadi kamu ga perlu jelasin itu sayang.” ujar Clara panjang lebar bagaikan anak panah yg melesat lalu menusuk tepat pada sasaran. Ucapan Clara saat itu ku akui sangat ironis, sekali lagi harus kuamini semuanya tanpa terkecuali. Aku merasa bodoh dihadapannya.

“Maafin aku ra.” hanya itu kata yg mampu keluar lagi dari ucapanku, selain perminta maaf juga sebagai sebuah pengakuan atas tuduhannya.
“Dimaafin mah udah ko bo, dilupainnya yg susah hehe.” jawab Clara yg seolah masih menyindir dan hanya kurespon dengan senyum serta anggukan.
“Mmm bo.” lanjut Clara lagi yg membuatku mengerutkan dahi karena penasaran.
“Iya ra?” tanyaku padanya.
“Kalo misal aku kuliah di Bandung, kamu seneng ga?” ucap Clara yg membuatku menggelengkan kepala.

“Jangan yg aneh-aneh deh ra, ya aku pasti seneng kalo kamu kuliah di Bandung. Tapi untuk saat ini kan ga mungkin lah.” jawabku yg masih tak percaya dengan ucapan yg keluar dari mulut Clara. Aku sangat mengenal Clara, ia adalah orang keras kepala yg apabila punya keinginan apapun terlintas dalam benaknya dan mungkin untuk dilakukan pasti ia akan lakukan apapun resikonya.
“Kenapa?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.
“Loh kan kamu yg pengen kuliah kedokteran di kampus nomor satu di Indonesia, sekarang kamu udah dapetin itu. Ini tahun kedua kamu ra, ga lucu lah kalo kamu tiba-tiba pindah ke Bandung.” sahut ku ketus tak terima atas pola pikir Clara.
“Hmmm gitu yah, tapi kamu salah tuh.” tanggapnya seraya membuang muka kearah kolam renang disamping kami.
“Maksud kamu salah apanya?” tanyaku heran.

“Kamu tau darimana kalo kuliah kedokteran itu keinginan aku?” tanya Clara balik dengan wajah yg berubah ditekuk cemberut.
“Ya kan selama ini kamu yg keras kepala mau kuliah kedokteran di kampus yg sekarang? Ya aku taunya itu keinginan kamu.” jawabku yg masih heran atas omongan Clara.
“Iyalah kamu taunya itu, kamu ga pernah nanya.” sahutnya ketus sambil memakan potato wedges dipiringnya.
“Ya kamu kenapa ga pernah cerita?” sahutku balik bertanya pada Clara.
“Kamu tau ga kenapa Kak Gio tetep kuliah di London ga ikut ke Indonesia?” lanjut Clara yg kurespon dengan menggelengkan kepala.
“Berantem sama Papa karena Kak Gio nolak untuk masuk kedokteran.” jelas Clara dengan tatapan kosong kearah kolam.

“Loh bukannya kemaren kalian ke London karena Papa mau ngurus Internshipnya Kakak kamu?” responku atas pernyataan Clara.
“Iya Papa akhirnya baikan sama Kak Gio semenjak aku kuliah kedokteran sesuai keinginannya.” lanjut Clara seraya tersenyum kecut dan membuatku menghentikan suapanku.
“Maaf ra kalo selama ini aku ga pernah nanyain itu.” jawabku yg cukup terkejut dan merasa bersalah mendengar pengakuan Clara saat itu.
“Lucu ya bo, hampir dua tahun kita pacaran ternyata masih banyak yg kita tutupin.” ujar Clara dengan tatapan nanar seraya mendongakan kepalanya keatas seolah menahan air mata.
“Kamu yg ga pernah cerita kapan jadian dengan Andini lalu..” belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya pun segera kupotong.

“Aku ga cerita karena takut kamu khawatir ra, aku ga mau status mantan dengan Andini menganggu pikiran kamu disaat hubungan kita yg masih LDR.” sanggahku membela diri.
“Aku juga ga cerita tentang masalah kuliah ini karena g mau bikin kamu khawatir. Jujur aku awalnya nunggu kamu nanya tapi ga pernah sekalipun itu keluar dari mulut kamu. Dari situ aku pikir cukup jalanin aja karena ini masalah pribadi aku.” jelas Clara membela diri.
“Oke balik lagi ke topik tadi, tapi itu bukan alasan yg tepat untuk mundur dan pindah ke Bandung ra. Aku g mau kamu berantem sama Papa juga nantinya.” ujarku menasehati Clara.
“Kenapa harus aku yg berkorban? Lagian kenyataanya aku ga sanggup bo kuliah kedokteran, nilai aku jeblok semua.” lanjut Clara yg masih keras kepala dengan pendiriannya.

“Oke sekarang gini, kalo kamu mundur aku mau tanya hal yg ga pernah aku tanya selama ini sama kamu. Apa impian yg mau kamu kejar?” tanyaku balik pada Clara dengan tatapan serius padanya yg juga sedang memandangku. Clara terdiam cukup lama seraya menundukan pandangannya dan mengangkat kedua bahunya.
“Aku cuma mau kamu.” jawab Clara lirih seraya air matanya mulai mengalir perlahan membasahi pipinya yg merona. Aku langsung teringat ucapan Ibuku beberap waktu lalu, hari ini, detik ini, ditempat ini, seakan semesta mengamininya. Aku menarik nafas panjang sebelum merespon pernyataan Clara karena aku yakin jawabanku kali ini tidak boleh salah.
“Ra, aku ngerti kejadian kemarin bikin kamu khawatir sama hubungan kita.”
“Sangat!” potong Clara ditengah penjelasanku sambil terisak karena menangis.

“Sangat membuat kamu khawatir.” ralatku mengikuti maunya.
“Tapi ra, antara aku dan Andini udah selesai. Andini bahkan pernah jadian dengan Dika ketika kami putus dan aku balikan sama kamu. Sekarang pun dia udah ama Giri. Hubungan kita akan baik-baik aja ra.” lanjutku menjelaskan pada Clara seraya mengangkat wajahnya yg tertunduk dan menghapus air matanya.
“Oke anggap aja aku bisa terima itu bo, tapi sekarang aku beneran ga sanggup untuk lanjut kuliah kedokteran.” timpal Clara dengan nada sedikit terisak yg mencoba menahan tangisnya.
“Ra kamu tau ga, berapa banyak anak SMA yg punya impian untuk kuliah ditempat kamu sekarang. Tapi banyak yg ga bisa karena ga lulus seleksi atau yg paling prihatin karena ga punya dana. Kamu sekarang udah disitu tapi mau mundur?” ujarku yg mulai sedikit kesal dengan Clara.

“Kenapa sih kamu ga bisa banget kayanya ngertiin aku!” sahut Clara yg juga ikut emosi karena nada ku yg agak tinggi tadi.
“Kamu yang terlalu manja ra!” sahutku lagi yg kurasa malah terbawa emosi karena tanggapan Clara sebelumnya.
Clara menatapku nanar seraya menggelengkan kepalanya lalu bangkit meninggalkanku, aku pun menghela nafas panjang dan langsung menyusulnya.
“Ra tunggu.” cegahku namun tak dihiraukannya.
“Ra aku minta maaf nada bicaraku tadi ketinggian tapi..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku Clara berbalik dan memotong ucapanku.
“Udah bo, aku mau balik ke Jakarta. Kamu mending sekarang pulang nanti kita omongin lagi.” pintanya dengan wajah muram.

Aku memeluk tubuhnya dan meminta maaf sekali lagi yg hanya ia respon dengan anggukan, dan meski kutawari untuk diantar kembali ke Jakarta ia menolak karena ingin sendiri. Walaupun awalnya aku sempat masih memaksa namun akhirnya aku membiarkan Clara pulang sendiri setelah ia berjanji akan menghubungiku kembali saat tiba di Jakarta.
“Kabarin yah, hati-hati. Aku tunggu.” pintaku saat Clara sudah di mobil yg ia respon dengan mengangguk namun masih memasang wajah datar.
Mobil Clara pun berlalu dari hadapanku dan berjalan keluar meninggalkan parkiran hotel. Pagi ini lagi-lagi aku gagal membuat Clara kembali ceria dan malah menambah masalah kami.

Biasanya aku selalu menghubungi Helen, Regas atau Erik jika sudah seperti ini namun untuk sekarang aku rasa sudah terlalu sering merepotkan mereka semua terutama Helen yg dari awal sudah memperingatkanku untuk tidak membawa Clara ke Bandung namun tak kuhiraukan, aku harus ngomong apa nanti pada Helen keluhku dalam hati.
Sorenya Clara menghubungi lewat pesan singkat untuk memberi kabar bahwa ia sudah sampai di Jakarta namun masih meminta waktu untuk sendiri dan aku tak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya. Hari itu aku hanya menghabiskan waktu di kosan bermain game online di laptop hingga tertidur.

Hari berikutnya aku ke kampus seperti biasa, hanya masuk kelas, dan pulang. Berkali-kali aku menelepon Clara namun tak kunjung diangkat, ia hanya membalas dengan pesan singkat bahwa masih ingin sendiri. Tidak biasanya Clara seperti itu, namun mengingat apa yg telah terjadi kemarin aku memaklumi sikapnya.

Tak terasa seminggu lebih sudah berlalu dan selama itu pula Clara masih belum menunjukan keinginannya untuk menerima telepon dariku, meski sesekali ia masih mengirim pesan singkat di pagi hari hanya untuk mengingatkan ku masuk kuliah. Seminggu itu juga aku belum pernah lagi menghubungi Helen atau sebaliknya, entah ia sudah mendapat curhat dari Clara dan ikut mendiamkan ku atau hanya karena memang sedang sibuk dengan kuliahnya. Sementara di kampus, aku masih hanya masuk kelas, makan siang, masuk kelas, pulang dan terus begitu. Bahkan minggu lalu aku absen kelas sungai karena masih enggan bertemu dengan anak-anak Pocing.

Namun hari itu saat sedang makan siang sendirian di kantin kampus, aku mendapat telepon dari Ibuku dan kuangkat.
“Halo iya mah?” sapaku membuka telepon.
“Halo nji, kamu lagi dimana?” sahut Ibuku bertanya.
“Di kampus mah, lagi makan. Kenapa mah? Tumben?” tanyaku heran.
“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Ibuku lagi menyelidik.
“Baik ko mah, ada apaan sih?” timpalku lagi yg semakin penasaran.
“Kamu lagi berantem yah ama Clara?” tembak Ibuku yg kupikir mungkin Clara selama seminggu ini masih sempat mengunjungi rumahku seperti biasa. Jujur saja hal itu sedikit membuatku lega.
“Iya mah. Clara cerita?” jawabku jujur pada Ibuku sekaligus menanyakan sejauh mana Ibuku tahu hal itu.
“Ke Mama sih engga, kayanya cuma cerita ke Kakak kamu.” ucap Ibuku menjelaskan.
“Oh.” timpalku singkat.

“Jangan lama-lama ah berantemnya kasian mantu Mama matanya bengkak masa pulang dari sini.” lanjut Ibuku yg membuatku menyimpulkan bahwa Clara selama curhat dengan Kak Sinta sepertinya menangis dan itu juga mungkin yg membuat Ibuku yakin bahwa Clara sedang ada masalah denganku.
“Iya mah, nanti coba Panji telepon Clara lagi.” sahutku menyanggupi permintaan Ibuku agar ia tak khawatir tentang Clara.
“Ya udah, kamu baik-baik yah di Bandung. Assalamualaikum.” pamit Ibuku menutup telepon yg kujawab salamnya dan mengiyakan nasehatnya seperti biasa. Mendapat telepon dari Ibuku siang itu, aku memutuskan jika Clara masih menolak menerima telepon dari ku maka akhir pekan ini aku akan kembali ke Jakarta untuk menemuinya.
Setelah selesai makan siang dan membayar aku berjalan kearah parkiran untuk langsung pulang ke kosan karena masih enggan masuk kelas sungai namun langkahku terhenti saat ada teriakan suara memanggil namaku dari orang yg cukup familiar ditelingaku.
“Panjul!!” teriaknya keras.

“Anjir enci!! Ga pake teriak berapa sih. Pake acara nyebut Panjul segala lagi!!” sungutku tak terima pada Helen. Jujur saja aku cukup senang melihatnya muncul dihadapanku saat itu.
“Kemana aja ga ada kabar? Nyadar punya dosa sama gue??” sahutnya ketus seraya menyilangkan tangannya didepan dadanya dengan tatapan tak bersahabat.


Ilustrasi Helen

“Iya nyadar.” jawabku pasrah menanggapi Helen.
“Apa?” tanyanya lagi seakan belum puas.
“Iya maaf ga nurut sama omongan lo.” lanjutku menuruti permintaanya.
“Bagus kalo sadar, terus kenapa ga ada kabar?” tanggap Helen berbalik nanya padaku.
“Ya kan tau salah, ya malu lah.” respon ku lagi sambil membuang muka kesana kemari karena salah tingkah menghadapi Helen yg menghakimiku.
“Bagus kalo masih punya malu.” sahutnya lagi masih ketus.
“Ko lu bisa disini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Mastiin lo ga mati.” jawab Helen singkat.
“Jelek banget doanya.” tanggapku cemberut yg direspon Helen dengan memukul badanku serta mencubit habis bahu dan lenganku.
“Anjir sakit ci aduh.” keluhku saat menerima serangan Helen.

“Lagian gregetan gue ama lo! Jadi cowo pinter tapi bego!!” omel Helen yg akhirnya berhenti setelah puas menyiksaku.
“Ya maaf.” sahutku singkat.
“Lo pikir maaf bisa balikin kepercayaannya Clara!”
Deg.
Entah kenapa jawaban Helen serasa tepat menghujam tepat diuluh hatiku, aku baru menyadari bahwa kejadian kemarin tidak sesederhana pikiran ku selama seminggu ini. Aku telah merusak kepercayaan Clara padaku, tak heran seminggu lebih ini ia benar-benar masih belum bisa sepenuhnya memaafkan ku.
Aku berjalan kearah kursi panjang dipinggiran selasar yg menuju arah parkiran dan duduk diatasnya. Tak lama Helen pun menyusul dan ikut duduk disampingku.
“Lo nyadarkan kesalahan lo ga sesimpel itu? Kenapa ga balik ke Jakarta sih? Clara tuh penting ga sih buat lo?” lanjut Helen menghakimiku siang itu yg membuatku rasanya ingin membenturkan kepala ini ke tembok.

Betapa bodohnya aku membiarkan Clara menangis sendirian di Jakarta sementara aku hanya menunggu disini, menungunya sembuh tanpa mencoba mengobatinya. Aku menempelkan kedua telapak tanganku untuk menutupi wajah ini, aku menyesal seminggu ini hanya berdiam diri saja di Bandung. Aku menghela nafas panjang seraya mendongakan kepalaku keatas, kapan coba sekali saja aku membuat keputusan yg benar dalam hidupku gumamku dalam hati.
“Ngopi yuk biar muka lo ga dilipet.” tawar Helen seraya menyerahkan kunci mobilnya padaku. Aku memandangnya sesaat untuk menolak ajakannya saat itu karena ingin segara kembali ke Jakarta menuruti ucapannya.
“Udah tenang nanti sore kita balik ke Jakarta, sekarang temenin gue ke cafe.” ajaknya lagi yg seakaan paham apa yg ada dipikiranku. Helen menyebut salah satu cafe yg cukup membuatku mengerutkan dahi karena aku sama sekali belum pernah mengajaknya kesana, darimana ia tahu Cafe tersebut.

“Lo tau cafe itu darimana?” tanyaku heran saat bangkit mengikuti tangannya yg menarik lenganku.
“Gue janjian ama cowo, lo jagain dari jauh ya.” jawabnya cekikian yg kubalas dengan mengacak-ngacak rambut panjangnya.
“Sialan lo ke Bandung ngedate, kirain khawatirin gue beneran.” timpalku kesal yg masih diresponnya dengan tawa.
“Itu namanya sambil menyelam minum air! Hahaha” balas Helen puas.
“Kembung tau rasa!” sungutku yg masih kesal pada Helen.
“Heh! Inget lo masih jadi jenderal dinasti bejing, tugas lo adalah menjaga gue! Ikut buruan jangan banyak protes.” tegurnya bertolak pinggang bergaya memerintah yg kubalas dengan melempar daun ke wajahnya dan tertawa.

Setelah kami berdua menaiki mobil Helen, aku pun langsung mengarahkan mobil ini menuju ke Cafe tempat Helen janjian dengan teman kencannya di daerah Setiabudi.
Sesampainya disana kami mengambil kursi terpisah sesuai rencana kami tadi di mobil. Aku duduk di pojokan sambil membaca majalah, sementara Helen mengambil posisi ditengah yg masih terlihat oleh ku.
Sekitar sepuluh menit berlalu sambil menikmati Americano pesananku, akhirnya datang sesosok pria menghampiri meja Helen dan mereka berdua pun bersalaman. Sepenglihatanku anaknya cukup rapih, bisa dibilang ganteng atau ya secara fisik cukup lah untuk dibandingkan dengan Angga namun behaviornya? Entah lah, kita dengar saja nanti dari komentar Helen.
Meski jarak kami cukup dekat, aku sama sekali tidak bisa mendengar jelas apa obrolan mereka. Sesekali hanya terdengar suara tawa Helen dan beberapa gurauan pria itu. Sepertinya Helen cukup enjoy dengan kencannya kali ini, aku hanya bisa tersenyum dan lanjut membaca majalah otomotif ditanganku.

Tak terasa mereka berdua bangkit untuk berpamitan, saat kuperhatikan jam tanganku waktu sudah berlalu sekitar 40 menit. Ketika kembali menoleh kearah sana tau-tau Helen sudah dihadapanku seraya tersenyum manis.
“Sori lama.” sapanya membuka obrolan setelah meninggalkanku selama hampir sejam tadi.
“Gak apa-apa santai. Gimana?” tanyaku penasaran menunggu komentar Helen.
“Ganteng nji hehe, asik juga orangnya. Nyambung obrolan kita. Menurut lo gimana?” tanyanya balik dengan muka cengengesan seperti sedang bahagia.
“Dia tau lo dari Jakarta?” selidiku memulai penilaianku pada pria itu. Helen hanya menjawab dengan mengangguk dan masih melempar wajah cerianya.

“Terus dia nyuruh lo dateng ke Bandung?” tanyaku lagi dengan wajah serius pada Helen yg membuat wajah cerianya berubah heran seraya mengerutkan dahinya.
“Iya? Kenapa gitu?” jawab Helen polos.
“Ga usah dilanjutin deh, cari yg lain.” tanggapku singkat.
“Ko gitu? Kenapa?” rengek Helen tak terima.
“Cowo macam apa yg ngajak ketemuan tapi minta wanitanya yg dateng jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung. Lo cantik ci, baik, pinter. Ga pantes dapetin cowo pengecut kaya tadi. You’re worth loving for, so you’re worth fighting for.” jelasku panjang lebar pada Helen yg masih diresponnya dengan cemberut.
“Bilang aja lo cemburu!!” sahut Helen menuduh.
“Ci, masih banyak cowo ganteng dan baik diluar sana. Udah ah yg begitu doang, banyak di pasar baru.” hiburku meledek Helen yg dibalasnya dengan mencubit bahuku.

Kami berdua pun bangkit menuju mobil untuk kembali ke Jakarta namun saat ku starter mobil Helen sebuah panggilan masuk ke handphone dari Regas. Aku cukup mengerutkan dahi mengingat belakangan ini kami sudah lama tidak bertemu atau berkomunikasi, selain karena tidak sepaham masalah Angga juga karena Regas semakin sibuk dengan Himpunannya di kampus.
“Halo, iya nyet?” sapaku membuka telepon darinya.
“Halo nyet, lagi dimana?” tanyanya to the point.
“Setiabudi, kenapa sih?” jawabku heran.
“Angga nyet.” ucap Regas tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Ya Angga kenapa?” tanyaku lagi penasaran yg membuat Helen menoleh kearahku karena mendengar nama Angga kusebut.

“Lo becanda kan nyet?” respon ku menerima kabar dari Regas.
“Oke ketemu di kampus.” ujarku menutup telepon yg langsung diserang pertanyaan oleh Helen.
“Angga kenapa nji!?” tanya Helen panik.
“Angga kecelakaan ci.” jawabku lirih yg membuat Helen shock dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kita ke kampus jemput Regas, terus langsung ke Surabaya ya?” pintaku pada Helen yg diresponnya dengan mengangguk setuju. Aku yg lumayan panik langsung membawa mobil ini melaju cepat menuju kampus.
“Pelan-pelan aja nji.” pinta Helen yg hanya kujawab dengan anggukan namun masih membawa memacu mobil ini dikecepatan tinggi.
“Lo ga ngabarin Clara?” lanjut Helen yg sepertinya mencoba mengalihkan perhatianku agar menuruni kecepatan mobil ini.

“Kan dia masih ga mau ngangkat telepon dari gue ci.” jawabku datar.
“Pake handphone gue.” pinta Helen seraya menyodorkan handphonenya padaku. Aku sempat menoleh kearahnya yg memasang wajah khawatir.
“Clara emang tau lo di Bandung?” balasku heran.
“Iya dia tau ko, gue bilang mau kenalan ama cowo sekalian jenguk lo.” jawab Helen yg membuatku menurunkan kecepatan mobil ini dan mengambil handphone dari tangannya lalu menghubungi Clara.
“Halo ci, udah sampe Bandung?” sapa Clara lembut ketika mengangkat telepon dariku, suara yg sudah seminggu ini tidak terdengar ditelingaku. Aku rindu kamu ra.
“Halo ra, ini aku Panji.” sahutku menyapanya.
“Kebo..” jawab Clara yg hanya memanggil singkat.

“Maaf aku tau kamu sebenernya masih belum mau ngomong sama aku. Bukan maksud bohongin kamu juga nelepon pake handphone Helen, tapi aku cuma mau ngasih kabar darurat ra.” jelasku pada Clara berharap ia tidak salah paham.
“Ada apa bo? Helen gak apa-apa kan?” tanya mnya panik dan penasaran.
“Helen baik-baik aja, tapi aku dapet kabar dari Regas kalo Angga kecelakaan.” lanjutku pada Clara yg membuatnya cukup shock.
“Aku, Regas sama Helen berangkat langsung dari Bandung ke Surabaya, kamu nyusul yah dari Jakarta.” pintaku pada Clara.
“Iya bo, nanti aku nyusul. Kalian hati-hati. Keep contact ya.” jawab Clara menyanggupi permintaanku dan kami pun pamit menutup telepon.

Di kampus Regas yg sudah menunggu didepan gerbang pun langsung menaiki mobil ini dan kami bermaksud lanjut ke stasiun.
“Ga naik pesawat aja?” tanya Helen yang tak ku sanggupi dengan Regas. Akhirnya kami pun menuju stasiun Bandung untuk mencari kereta yg ke Surabaya sore itu.
Aku dan Helen duduk di ruang tunggu stasiun menunggu Regas yg sedang mengantri tiket kereta. Helen saat itu sepertinya terlihat sangat gelisah karena mengkhawatirkan Angga.

“Sabar ci, berdoa. Semoga pas kita sampe sana Angga baik-baik aja.” hiburku sekenanya seraya tersenyum pada Helen yg diresponnya dengan mengangguk. Tak lama Regas pun kembali dengan membawa tiket, meski ternyata nanti kami harus transit menuju Jogjakarta dulu karena saat itu jalur dari Bandung tidak ada yg langsung menuju Surabaya. Entah karena tak ada jalurnya atau habis tiketnya aku lupa yg pasti kami berangkat dengan kereta ekonomi sekitar pukul 5 sore.
Di kereta aku melihat beberapa orang didekat kami berpenampilan seperti hendak naik gunung dengan tas besarnya dan aku pun mendengar tujuan mereka ke Malang untuk mendaki Gunung Semeru. Hal itu tentu mengingatku pada Angga, Helen pun hanya tersenyum seakan kami berdua memiliki pemikiran yg sama.

“Gas semeru itu kan di Malang, ini kereta sampe Malang?” tanya Helen pada Regas yg duduk didepan kami berdua.
“Iya sampe Malang tapi ga lewat Surabaya, makannya kita ganti kereta di Jogja.” jelas Regas yg membuat aku dan Helen mengangguk. Regas sepertinya sudah sering naik kereta lintas jawa seperti ini, kalo tidak salah ia pun sebulan yg lalu habis dari Kediri dengan teman Himpunannya untuk kegiatan sosial.

Kereta ekonomi dimasa itu tidak seperi sekarang, tanpa pendingin udara, tukang berjualan hampir setiap menit berlalu-lalang. Belum lagi bawaan penumpang yg kadang melebihi muatan bagasi atas kepala kami hingga ada yg memenuhi dibawah kaki. Aku cukup kasian melihat Helen yg sepertinya tak terbiasa dengan kondisi seperti itu. Regas pun tersenyum menatapku seakan kami berdua paham bahwa Helen sangat tidak nyaman berada disini.
“Kita ke restorasi aja yuk ngopi sambil ngobrol.” ajak Regas agar Helen sedikit terhibur dan kami pun mengangguk setuju.
“Oh di kereta ada restoran juga toh.” komentar Helen yg sepertinya baru pertama kali menaiki kereta ekonomi, ya sama seperti diriku kala itu. Disini suasananya agak sedikit luang dan tidak sumpek seperti di gerbong tadi meski cukup ramai.
Kami duduk dimeja yg berhadapan, dengan kopi pesanan masing-masing didepan kami sambil bermain kartu remi yg dibawa oleh Regas.

Meski perjalanan cukup panjang dan melelahkan, namun sepanjang malam itu kami tidak tertidur karena asik bermain kartu sambil mengobrol naglor ngidul setelah cukup lama tidak berkumpul lagi. Aku sebenernya agak heran mengapa Regas sama sekali tidak menanyakan atau menyinggung apapun tentang keberadaan Helen di Bandung namun sudah lah bukan waktunya memikirkan hal yg seperti itu sekarang. Aku hanya berharap segera sampai Surabaya untuk memastikan keadaan Angga.
Tak terasa hari sudah menjelang subuh dan kami sudah mendekati stasiun Tugu, Jogjakarta. Pagi itu kami sarapan di stasiun sambil menunggu kereta menuju Surabaya yg berangkat jam 8 atau sekitar dua jam lagi.

Aku sempat meminta Helen menghubungi Clara untuk mencari tahu ia ke Surabaya naik pesawat yg jam berapa, yg dijawab Helen bahwa Clara baru akan berangkat pagi ini.
Kami pun lanjut menaiki kereta dan tiba di Surabaya sekitar pukul 12 siang lalu langsung menuju Rumah Sakit menggunakan Taksi.

Setibanya disana jantungku cukup bernafas lega karena melihat Angga duduk di ruang tunggu meski telihat di dahi kirinya terdapat pelester dengan sedikit perban.
Angga yg melihat kami datang langsung berdiri menyambut seraya aku dan Regas bergantian berpelukan dengannya. Helen sendiri meski awalnya terlihat canggung namun ia yg tak mampu menutupi wajah paniknya pun langsung memeluk Angga.

“Syukur kamu gak kenapa-kenapa ga.” ujar Helen pada Angga.
“Maaf yah udah bikin khawatir.” jawab Angga seraya mengelus rambut Helen.
Aku dan Regas saling berpandangan dengan senyum simpul, kami bingung harus berbuat apa sehingga hanya terpatung membiarkan Angga dan Helen berpelukan. Tak lama mereka pun saling melepas pelukannya dan terlihat Helen seperti meneteskan air matanya. Aku pun mencoba mencari omongan agar suasana tidak menjadi kaku, namun sepertinya pertanyaanku kala itu salah jika dilihat dari sudut pandang Helen.

“Terus lo nunggu apa disini nyet?” tanyaku pada Angga.
“Rani nyet, Rani belum siuman.” jawab Angga dan itu untuk pertama kalinya aku mengetahui nama wanita yg sekarang menjadi pacar Angga adalah Rani.
“Tapi gak apa-apa kan?” lanjut Regas memastikan namun direspon Angga dengan wajah tertunduk dan tak lama ia tersenyum namun dengan meneteskan air matanya.
“Rani keguguran.” ujar Angga lirih yg membuat kami bertiga cukup shock bahkan termasuk Helen yg akhirnya entah reflek atau apa ia kembali memeluk tubuh Angga.

Aku dan Regas pun akhirnya menyusul Helen ikut memeluk tubuh Angga.
Saat itu didalam hati aku bergumam ijinkan kami tahu rasa sakitnya kehilangan karena dipisahkan oleh ruang dan waktu ga, bagi ke kami rasa sakit itu jangan lo rasain sendiri.
Ya Angga hari itu harus berpisah dengan darah daginya sendiri yg bahkan belum sempat dipertemukan, meski belum pernah berada diposisi yg sama namun sepertinya kami sudah tahu rasa sakitnya seperti apa.

Tak sedikit pun terbesit didalam benak ku saat itu yg awalnya tidak sepaham atau tidak setuju dengan jalan pikir Angga yg ingin membesarkan anak itu karena sebenernya keadaan Rani yg keguguran sama saja menyelamatkan masa depan mereka yg masih panjang namun mengingat bagimana Angga dan Rani yg berjuang untuk mempertahankan janin tersebut, bagiku justru janin itulah masa depan mereka. Namun Tuhan berkendak lain.
Kami pun bertiga masih duduk di ruang tunggu, untuk menunggu kondisi Rani yg belum sadar di ruang ICU.

Disaat yg bersamaan ada hal lain yg membuatku khawatir karena Clara tak kunjung ada kabar, beberapa kali aku menelepon ke nomor handphonenya namun tidak aktif.
“Masih di pesawat kali nji.” jawab Helen yg mencoba menghiburku.
Tak lama seorang perawat menghampiri Angga memberitahu bahwa pasien bernama Rani sudah siuman. Angga pun bangkit untuk pamit melihat kondisi Rani yg ditemani oleh Regas, sementara aku dan Helen menunggu untuk gantian.

Selang lima menit Regas keluar untuk mempersilahkan aku atau Helen masuk, namun Helen memintaku duluan dan aku pun menurutinya.
Di ruang ICU itu untuk pertama kalinya aku bertemu Rani, meski hanya berbincang untuk menanyakan kondisinya, mendengarnya menjawab pertanyaanku dan melihat bagimana Rani dan Angga berdua berbicara sepertinya aku paham mengapa Angga kemarin memilih untuk bertanggungjawab atas perbuatannya.

Aku pun pamit untuk bergantian dengan Helen yg dijawab Rani dengan mengucapkan terimakasih dan kurespon menggangguk seraya tersenyum padanya.
Diluar saat menawari Helen untuk gantian, awalnya ia masih nampak ragu namun akhirnya Helen berbesar hati mau untuk masuk melihat kondisi Rani. Aku menepuk bahunya untuk meyakinkan Helen agar ikhlas menerima yg ia jawab dengan senyum dan mengangguk.

Aku dan Regas pun duduk bersebelahan dengan posisi sama-sama tertunduk, entah apa yg ia pikirkan atau hanya lelah namun otak aku sendiripun mengawang entah kemana.
“Nyet.” tegur Regas yg masih tertunduk saat aku melirik kearahnya.
“Hm.” gumamku singkat.

“Kita bego ga sih ngajak Helen kesini?” lanjut Regas yg ternyata memikirkan hal yang sama denganku daritadi. Belum sempat aku menjawab, Helen keluar ruang ICU dan berlari melewati kami sambil tertunduk.
“Helen nyet.” tegurku pada Regas dan kami pun langsung bangkit mengejarnya.
“Ci tunggu.” teriak ku meminta Helen berhenti namun tak dihiraukannya. Aku dan Regas menyusulnya ketika Helen sudah sampai sekitar lobby depan Rumah Sakit. Aku menarik tangan Helen yg membuatnya berhenti dan berbalik memeluk ku.

“Sakit ya nji rasanya ngelihat orang yg kita sayang itu sayang ama orang lain. Ko lo dulu kuat sih.” rengek Helen yg akhirnya menangis dipelukanku.
“Karena ada lo, Angga sama Regas. Dan sekarang lo juga punya gue, Regas sama Clara kan ci.” jawabku yg tak lama Regas menyusul ikut memeluk Helen.

“Iya lo ga sendirian len, kita selalu ada buat lo.” lanjut Regas yg ikut menghibur Helen dan diresponnya dengan menganggukan kepala.
Untuk pertama kalinya jika boleh jujur aku tidak tahu harus ada dipihak siapa, Angga dan Rani berhak melanjuti kisah mereka sementara Helen yg masih belum bisa move on pun tak bisa disalahkan perasaannya.
“Makan dulu yuk udah sore nih.” ajak Regas yg kuturuti sambil merangkul Helen mengajaknya untuk makan.

Selesai makan aku menyadari satu hal yg sedaritadi menganggu pikiranku, ya hingga sore ini kami tak kunjung mendapat kabar dari Clara.
“Perasaan gue udah ga enak, gue harus ke Bandara buat mastiin pesawat dari Jakarta ada yg delay atau engga.” pintaku pada Helen dan Regas.
“Ya udah gue temenin nji.” tawar Helen yg juga dituruti oleh Regas.
“Gue juga ikut.”

Kami pun lalu beranjak dari tempat makan untuk pamit kepada Angga karena bermaksud mencari kabar Clara ke Bandara Juanda, Surabaya. Kami kesana menggunakan Taksi dan setibanya disana aku langsung berlari menuju informasi pelayanan publik.
“Semua pesawat dari Jakarta mulai jam 6 pagi sampai jam 2 siang semua sudah mendarat di Surabaya mas, yg sekarang masih mengudara keberangkatan jam 4 sore. Jadwal hingga jam tersebut tidak ada satu pun yg delay.” jelas petugas customer servis yg membuat pikiranku kalut. Kemana perginya Clara sebenarnya gumamku dalam hati.

Aku berjalan gontai keluar ruangan customer servis yg langsung disambut oleh Helen dan Regas yg menunggu diluar.
“Gimana nji?” tanya Helen yg kurespon dengan memandang mereka berdua lirih seraya menggelengkan kepala.
“Clara sama sekali ga ninggalin pesen apapun ke lo ci?” tanyaku penasaran pada Helen yg diresponnya dengan memberikan handphonenya padaku.
“Lo cek sendiri kalo ga percaya.” jawab Helen yg ku balas dengan menghela nafas panjang.
“Gue mesti balik ke Jakarta juga sekarang, gue harus mastiin dimana Clara.” ujarku pada Helen dan Regas yg direspon mereka berdua dengan saling berpandangan.

“Gue ikut nemenin lo.” pinta Helen padaku.
“Mobil lo kan di Bandung ci.” responku mengingatkan Helen.
“Gini aja, kalian berdua ke Jakarta sore ini nanti malem gue ke Bandung naik kereta. Mobil Helen nanti gue yg bawa ke Jakarta.” tawar Regas yg membuatku mengerutkan dahi.
“Lo yakin bisa bawa mobil?” tanyaku meyakinkan Regas.

“Percaya ama gue, lagian mobil Helen kan matic.” jawab Regas yakin.
“Gak apa-apa gas?” lanjut Helen pada Regas.
“Iya gak apa-apa lo temenin Panji aja yah, nanti gue salamin ke Angga.” tutup Regas yg akhirnya kami pun berpamitan. Aku dan Helen segera mencari tiket ke Jakarta dan mendapat penerbangan jam 7 malam.
Selama menunggu aku sangat gelisah dan panik, berkali-kali Helen memintaku tenang namun tentu saja itu sangat tidak menolong ditambah nomor telepon Clara dan keluarganya tak ada satupun yg bisa dihubungi.
“Tenang nji, Clara mungkin punya alesan kenapa ga dateng kesini.” ujar Helen mencoba menenangkanku.

“Ya oke kalo ga bisa kesini, tapi kan bisa ngabarin! Atau minimal handphonenya aktif biar orang bisa ngehubungin. Lah ini kan engga!” jawabku ketus karena kesal. Aku pun sebenarnya tak pantas melampiaskan kekesalan pada Helen karena ini bukan salahnya. Aku kesal pada sikap Clara yg saat itu kuanggap seperti anak kecil dan tidak bertanggungjawab, namun aku tetap khawatir apa yg sebenarnya terjadi padanya.
Di pesawat beberapa kali Helen memintaku untuk tidur agar istirahat sebentar selama penerbangan, karena memang sudah sejak kemarin kami tidak tidur.

“Mana bisa tidur lagi panik begini ci.” jawabku menanggapi permintaan Helen.
“Ya tapi lo belom tidur nji.” bujuk Helen namun tak kuhiraukan. Helen memberikan sebuah penutup mata padaku.
“Minimal istirahatin mata lo sebentar.” lanjutnya lagi yg akhirnya kuturuti.
“Lo sendiri belom tidur.” balasku saat menggunakan penutup mata pemberian Helen.
“Iya gue tidur. Lo juga yah.” jawabnya yg mengakhiri obrolan kami diatas pesawat malam itu.
Perjalanan sekitar dua jam tersebut pun berakhir ketika pesawat ini mendarat di Bandara Soekarno Hatta dengan selamat. Aku membuka penutup mata dan menoleh kearah Helen yg tersenyum.

“Sori ketiduran, lo ga tidur?” tanyaku padanya.
“Tidur ko tadi cuma bangun duluan aja.” jawab Helen lembut.
Akirnya kami pun segera turun lalu berjalan ke arah lobby untuk naik taksi dan langsung menuju rumah Clara sekitar pukul 9 malam itu.
Ketika taksi ini berhenti tepat didepan gerbang rumah Clara, aku langsung turun dan menekan bel yg segera disusul Helen. Tak lama kemudian Mang Diman pun membukakan pagar untuk kami.

“Clara ada mang?” tanyaku langsung to the point pada Mang Diman.
“Eh den Panji, masuk dulu den.” tawarnya padaku yg tak menghiraukan pertanyaanku.
“Claranya mana mang? Saya mau ketemu Clara.” pintaku agak sedikit ketus yg langsung ditarik oleh Helen.
“Udah jangan disini, mending masuk dulu yuk.” ajak Helen padaku sehingga kami pun berjalan masuk ke dalam rumah Clara sambil diantar Mang Diman dan dipersilahkan menunggu di ruang tamunya.
“Mau minum apa den non?” tanya Mang Diman yg lagi-lagi masih kujawab ketus.
“Ga usah mang, saya kesini cuma mau ketemu Clara.” jawabku jutek yg masih berdiri sambil ditarik oleh Helen agar duduk dan kuturuti.

“Air putih aja Mang Diman.” ujar Helen yg terlihat mencoba mendinginkan suasana. Mang Diman pun mengangguk dan meninggalkan kami di ruang tamu berdua. Lalu tak lama kemudian terlihat Bi Surti, pembantu Clara membawakan dua gelas minuman kepada kami dan langsung permisi setelah menyajikan.
“Bisa-bisanya ya dia dirumah dan gak ngabarin.” gerutuku kesal yg langsung dicubit Helen.
“Sabar kenapa sih marah-marah mulu, tunggu penjelasan Clara.” tegur Helen yg membuatku menggelengkan kepala seraya bersandar pada sofa dan menghela nafas panjang.
Sekitar dua atau tiga menit yg muncul dihadapan kami malah hanya Ibunya Clara seorang diri seraya melempar senyum kepada kami berdua dan menyapa.

“Apa kabar Panji Helen.” sapanya ramah.
“Malam tante, sehat ko.” jawab Helen yg bangkit dan bersalaman seraya cipika cipiki dengan Ibunya Clara. Aku pun bangkit tersenyum dan bersalam dengan Ibunya Clara.
“Sehat tante. Clara kemana yah?” balasku menjawab sapaan Ibunya Clara disertai pertanyaan langsung tentang keberadaan anak perempuannya. Ibunya sempat mempersilahkan kami duduk kembali dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.

“Tante tuh udah bilang sama Clara nji buat nemuin kamu langsung, tapi anak itu kalo udah nolak keras kepalanya ga ada yg bisa ngalahin.” jawab Ibunya Clara yg membuat jantung semakin berdebar menunggu lanjutan penjelasannya karena penasaran.
“Dia cuma minta Tante ngasih ini ke kamu.” lanjut Ibunya Clara seraya memberikan sepucuk surat padaku, aku sempat menoleh kearah Helen yg diresponnya dengan menganggukan kepala meyakinkanku untuk mengambil surat itu dan membacanya.
Dengan tangan sedikit gemetar entah karena tremor, grogi atau takut aku pun perlahan membaca surat yg dikirim Clara untuk ku melalui Ibunya.

Dear Panji Darmawan

Aneh yah rasanya manggil nama lengkap kamu, walaupun kamu pasti ngerasa lebih aneh lagi sih nerima secarik surat di jaman sekarang gini.
Bukan kita banget yah.

Panji, aku akhirnya berani bilang ke Papa kalo ga sanggup ngelanjutin kuliah Kedokteran.
Walaupun kecewa tapi Papa akhirnya mau nerima keputusan aku nji.
Lega banget deh rasanya bisa jujur dan ungkapin semuanya ke Papa.
Papa juga ikhlas dan ngasih aku kebebasan untuk milih impian aku sendiri.
Ya walaupun aku masih belum tau sih mau jadi apa, tapi yang penting aku akhirnya tau kalo mau bahagia itu kita harus jujur sama diri kita sendiri nji.

Tapi aku mau minta maaf ya nji apapun pilihan aku nanti satu yang pasti, aku bukan memilih Bandung.
Karena Bandung udah punya cerita kamu sendiri dimana ga lagi ruang untuk aku ikut didalamnya.
Padahal Bandung luas yah, tapi kayanya terlalu sempit untuk aku bisa masuk kedalamnya karena pasti udah terlalu banyak cerita yg kamu buat sendiri disana tanpa aku.
Jadi untuk saat ini aku memilih kembali ke London tinggal bareng Kak Gio, sambil menunggu musim semi berikutnya untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi.
Karena kalo terus di Jakarta, susah buat ga ke Bandung nyari kamu.

Maaf yah karena aku ga sanggup pamit secara langsung.
Maaf karena selama ini aku cengeng.
Maaf karena sering manja dan nyusahin kamu.
Maaf karena ga pernah ngabisin makanan yg aku pesen sendiri.
Maaf karena cerewet dan bawel.
Maaf karena sering gigit bahu kamu.
Maaf karena selalu nyuruh kamu nyetir setiap bawa mobil.
Maaf karena selalu keras kepala dan susah dibilangin.
Maaf karena sampai kapan pun, mungkin aku ga akan pernah bisa ngebuang kamu dari hati ini, kamu punya tempat sendiri yang terkunci rapat dan akan menjadi rahasia kita berdua.

Terimakasih atas cinta dan perhatian luar biasa yg kamu kasih.
Terimakasih udah ngasih keluarga kedua dalam hidup aku.
Titip salam ya buat Mama, Papa dan Kak Sinta.

Satu pesen aku buat kamu, kalo kamu ga bisa itu bilang.
Kamu ga bisa baik sama semua orang Panji sayang.
Walaupun emang itu sifat kamu yg bikin aku jatuh cinta.
Tapi coba deh nji sekali aja untuk mikirin perasaan kamu sendiri, kebahagiaan kamu sendiri, ga ada salahnya ko.

Mulai sekarang kita belajar jalanin hidup masing-masing.
Kamu ga usah khawatir, aku akan mulai cerita aku sendiri di London.
Oh iya kalo udah lulus dan kamu mau rayain liburan kesini, kirim surat yah! Nanti aku jemput di Bandara.

Dari wanita yg akan selalu mengagumi mu,

Clara Anastasya ?

Selesai membacanya aku terpatung tak percaya, seakan langit runtuh menimpa tubuhku dan hancur berkeping-keping. Tanganku meremas surat itu menjadi gumpalan karena tak terima atas isinya.
Aku bangkit berdiri dan berbalik kearah pintu rumah Clara.

“Nji?” tegur Helen padaku yg heran karena mungkin tidak tahu apa isi surat Clara.
“Waktunya berhenti ci, London terlalu jauh buat gue.” jawabku seraya berjalan untuk pulang meninggalkan rumah ini bahkan tanpa sempat berpamitan dengan Ibunya Clara. Pikiran ku terlalu kalut saat itu untuk menerima kenyataannya menyebalkan ini. Kenapa ra, kenapa kamu pergi. Kenapa ga pamit. Kenapa ga cerita. Kenapa ga ngasih kesempatan aku buat ngomong. Bertubi-tubi pertanyaannya muncul didalam otak ku yg serasa ingin pecah namun ketika aku membuka pintu rumah Clara untuk keluar dan pulang.
Seloyang kue tart dengan lilin diatasnya lengkap dengan wanita yg tersenyum cantik memegangnya menyambutku.

“Selamat ulang tahun pacarku yg nyebelin!” sahut Clara yg tersenyum lebar puas mungkin karena telah sukses mengerjaiku hari itu. Bahkan aku sendiri lupa kalo hari itu adalah hari ulang tahun ku.
“Happy birthday to you. Happy birthday to you.” lanjut Clara bersenandung menyanyikan lagu ulang tahun untuk ku.
“Happy birthaday, happy birthday Panjuuul.” lanjut Helen bernyanyi menyusul dibelakangku bersama Ibunya Clara.

“Sumpah ya, ini ga lucu tau!” ujarku karena kesal atas surat yg ia buat tadi. Clara hanya cekikikan sambil tersenyum manis tak berdosa.
“Biarin, gantian biar kamu ngerasain sakitnya ditinggal.” timpalnya padaku.
“Ko kamu ngomong gitu sih.” balasku cemberut.
“Udah tiup dulu ini lilinnya mau abis.” pinta Clara yg akhrinya kuturuti.
Setelah selesai meniup Helen pun memberikan handphonenya padaku yg membuatku mengerutkan dahi.

“Ada yg mau ngucapin juga.” ujar Helen menjawab keherananku.
“Kampreeeet!! Selamat ulang tahun!!” terdengar suara Regas dan Angga yg berteriak disebrang sana.
“Sialan lo berdua emang ya. Lo juga nyet!! Lagi kena musibah, bisa-bisanya ikut ngerjain.” timpalku pada mereka berdua disebrang telepon terutama kalimat terakhir yg khusus kuberikan pada Angga.
“Hahaha maaf ya nyet, kalo aja ga ada musibah kita berlima nih harusnya di rumah Clara ngerjain elo.” jelas Angga yg membuatku menggelengkan kepala.
“Minta maaf sekali lagi gue tabok lo ya nyet, udah pulihin dulu kesehatan lo ama Rani. Abis itu baru kita kumpul lagi.” jawabku tertawa namun tak lama membuatku terdiam karena tidak enak dengan Helen. Aku menoleh kearahnya yg dibalasnya dengan senyum.

“Hahaha siap. Lo juga, kan sekarang double mesti jagain non Clara sama Helen.” timpal Angga yg tak lama direspon Helen.
“Gue udah gede kali sekarang, ga perlu dijagain lagi.” teriaknya sambil tertawa.
“Apa rasanya nji dapet surprise seharga tiket pesawat Surabaya Jakarta?” celetuk Regas tertawa yg sepertinya mencoba mengalihkan pembicaraan antara Angga dan Helen agar tidak terlalu intim karena kuyakin itu demi Helen juga. Regas memang paling bisa diandalkan dalam hal ini.
“Kampret!!” sahutku kesal namun sambil tertawa.

“Anyway itu kuenya bisa kali dikirim ke Surabaya!” timpal Regas meminta.
“Beli sana di toko kue depan Rumah Sakit tadi, nanti gue ganti duitnya.” balasku meledeknya.
“Ah ga mau, enakan yg disana. Clara pasti beli yg mahal kan tuh.” sahut Regas lagi yg juga diamini oleh Angga sehingga membuat kami semua tertawa.
“Nanti dititip ke Bandung lewat Panji ya gas. Buat Angga nanti aja kalo balik ke Jakarta, biar inget pulang!” jawab Clara menanggapi permintaan Regas dan Angga.

“Oh iya Angga maaf ya ga jadi jenguk kesana.” lanjut Clara meminta maaf.
“Gak apa-apa non lagian juga gue ama Rani udah lebih baik. Itu juga kan demi kelancaran ngerjain kampret kesayangan lo itu.” sahut Angga sambil tertawa yg dibalas Clara dengan terimakasih dan mendoakan kesembuhan Angga dan Rani.
Kami pun malah lanjut asik mengobrol berlima hingga Ibunya Clara pun sampai harus menyuruh kami pindah agar lanjut didalam saja yg akhirnya kami turuti.

Setelah cukup lama mengobrol dimana ketika Helen sedang asik bercanda dengan Angga dan Regas ditelepon, tiba-tiba Clara menarik tanganku untuk mengikutinya berjalan kearah gazebo dibelakang rumahnya.
“Apa rasanya dapet surat kaya tadi?” ucap Clara membuka obrolan kami sambil duduk ditepi gazebo dan memandang senyum kearahku.
“Ga lucu tau, aku ga suka ah. Perpisahan itu bukan buat becandaan.” timpalku seraya berdiri disampingnya memandang kearah kolam renang.
“Kalo bener gimana?” lanjutnya menoleh kearahku.

“Jangan sembarangan kalo ngomong, udah napa ra ga usah dibahas.” balasku yg tak ingin menanggapi Clara.
“Tapi surat itu ga sepenuhnya bohong ko, ada bagian jujurnya.” ucap Clara yg membuatku kaget dan penasaran lalu pindah berdiri dihadapannya.
“Jangan bercanda deh.” sungutku kesal.
“Bagian aku udah cerita jujur ke Papa, itu bener bo.” lanjut Clara sambil mengangkat wajahnya menatapku yg berdiri lebih tinggi didepannya.

“Terus?” tanyaku mulai sedikit panik.
“Papa ngerti.” jawab Clara singkat.
“Ya apa ra tolong jelasin.” pintaku memohon karena mulai khawatir. Clara tersenyum manis dan mengusap rambutku.
“Karena aku belom tau mau apa, ya untuk sementara aku tetep lanjutin kuliah yg sekarang dulu.” jawabnya namun bagiku itu belum menjelaskan apapun.
“Tapi kamu ga akan pergi kan ra?” tanyaku lagi padanya untuk memastikan keputusan Clara.

“Ga tau bo, tapi karena sekarang aku udah bahagia dengan hidupku ditambah juga ada kamu. Jadi selama kuliah aku baik-baik aja buat apa pindah.” jelas Clara yg entah kenapa meski senang mendengarnya namun tetap ada rasa khawatir jika ia berubah pikiran. Sementara ini buatku, ucapan Clara malam itu adalah sebuah ancaman apabila aku kembali membuatnya sakit hati maka ia tak akan ragu untuk pergi.

Saat kami berdua hening terdiam tak lama Helen datang menyusul kami, sambil meledek.
“Hayo berduaan!! Pada mau pamit nih.” tegur Helen seraya menyerahkan handphonenya padaku.
Angga dan Regas pun pamit ditelepon, Regas sempat bilang baru akan ke Bandung besok pagi karena tidak dapat kereta yg malam ini. Jadi kemungkinan sabtu pagi baru bisa ke Jakarta mengembalikan mobil Helen yg disanggupi olehnya tak masalah.

“Oh iya nji non. Mulai sekarang, Panji resmi gue berhentiin sebagai Jenderal Perang Dinasti Beijing.” ujar Helen setelah menutup telepon seraya menepuk bahu kanan dan kiriku.
“Hah? Kenapa?” tanyaku heran.
“Lo udah jadian?” sahut Clara antusias yg dibalas Helen dengan mengangguk salah tingkah.
“Heh ama siapa? Ko gue ga tau??” lanjutku lagi makin penasaran.

“Belom sih, cuma dia udah nembak gue minggu lalu. Daaan sekarang gue yakin mau nerima dia.” jelas Helen yg membuatnya dan Clara melompat-lompat kegirangan.
“Heh heh. Ini kasih tau dulu coba siapa?” tegurku tak terima karena tidak tahu siapa yg mereka bicarakan. Helen tersenyum cengengesan dan saling melirik dengan Clara sebelum menjawab.
“Tio nji.” jawab Helen yg membuatku tak percaya.
“Anjir beneran jadi? Hahaha selamat ci!!” sahutku gantian ikut antusian dan kami bertiga pun berpelukan.

Malam itu rasanya semua telah berakhir bahagia, hubunganku dengan Regas dan Angga sudah kembali normal. Angga dan Rani meski kehilangan janin yg dikandungnya, namun mereka tetap saling memiliki satu sama lain. Helen yg sempat down namun secepat membalikan telapak tangan akhirnya memilih untuk move on dan menerima Tio. Aku dan Clara, setidaknya untuk hari ini kami masih bersama dalam kebahagiaan dan kurharap terus begitu dan selanjutnya.

Jika boleh memilih, ingin rasanya saat itu menjadikan momen ini sebagai ending dari cerita aku bersama mereka. Namun waktu masih panjang, banyak cerita lagi yg masih harus kami tulis dalam kehidupan yg terus berlanjut ini dan yang pasti meski tidak semunya melulu tentang bahagia karena drama seakan sudah menjadi bagian dari cerita kami tapi semua ini selalu menarik untuk terus dijalani.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 27 | Ketika Kita Muda Part 27 – END

(Ketika Kita Muda Part 26)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 28)