Ketika Kita Muda Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 25

Start Ketika Kita Muda Part 25 | Ketika Kita Muda Part 25 Start

Americano & Frappe

Aku bukanlah pecinta Kopi, meski bisa dibilang hampir setiap hari mengkonsumsi minuman bercaffein yg sangat populer itu. Bagiku kopi semacam stimulan yg dibutuhkan apabila mengantuk atau sebagai aditiv untuk menemani dikala suntuk seperti saat mengemudi, membaca atau bekerja didepan laptop.
Aku sendiri tak punya kopi favorit, semacam mood yg sering berubah pesanan kopi ku pun tergantung kondisi saat itu sedang ingin menikmati apa, panas dingin, manis pahit, arabika robusta, tapi memang aku lebih sering memesan Caramel Frappe yg dingin dan manis atau terkadang juga Americano tanpa gula yg pahit ketika lidah ini sudah terlalu bosan akan rasa manis.
Bukan sok berfilosofi, tapi entah mengapa kopi itu seperti merepresentasi sebuah kehidupan. Kalian pasti pernah dengar atau merasakan sendiri ketika kehidupan ini berada dititik jenuh padahal telah mendapatkan semua yg diinginkan bahkan yg diimpikan banyak orang seperti pekerjaan yg baik, pasangan yg sempurna, uang yg lebih serta hidup berkecukupan. Namun terkadang beberapa beranggapan semua itu adalah sebagai zona nyaman, dan ingin bergerak dengan alasan agar menjadi pribadi yg harus berkembang.
Seperti itu lah Americano, meski cita rasanya pahit tetap punya kenikmatan sendiri karena Frappe yg manis terkadang justru hanya membuat tenggorokan ini semakin dahaga.

“Kalo alasan selain Cinta, mungkin karena ego dan gengsi. Ga terima akan kekalahan yg bikin gue ngotot ngerebut Clara lagi dari Adit. Puas aja gitu rasanya menang dari si kampret itu!” jawabku merespon kecurigaan Helen atas upaya ku mengajak balikan Clara yg dianggapnya bukan atas dasar cinta.
“Terus lo sendiri punya pembelaan apa? Ga cerita dari awal kalo Clara saat kejadian dirumah lo itu langsung nyariin dan mau balik lagi ke gue!!” lanjutku protes dengan nada meninggi kepada Helen disampingku yg sedang mengemudi.
“Clara dong yg lebih punya hak untuk ngomong nji bukan gue, kalau misal gue bilang ke lo tapi Clara berubah pikiran gimana?” sahut Helen membela diri.
“Kalo gitu lo ga usah nyalahin gue ketika dalam rentang waktu yg cukup lama itu, Andini sukses masuk mengisi kekosongan gue.” timpalku lagi pada Helen ketus.
“Ya kalo abis balikan ama Clara lo ga sok-sok jadi sahabatan juga belom tentu Andini jatuh cinta ama lo.” balas Helen yg terus menghakimiku.
“Ci please! Semua ini awalnya dari Clara yg sok sandiwara selingkuh. Kalo aja dia ga kekanakan belaga bikin gue sakit hati dan akhirnya mutusin dia, gue ga bakal deketin Andini!!” sahutku membentak Helen karena tak terima.
“Nji jangan munafik! Putus atau engga lo dengan Clara saat itu, takdir akan tetap mempertemukan lo dengan Andini!! Semua juga tergantung sikap elo!!” timpal Helen lagi yg tak mau kalah argumen denganku.
Tak biasanya langit Jakarta menurunkan hujan ditengah bulan Juli yang panas ini, persis seperti suasana didalam mobil antara aku dan Helen. Ya malam itu kami malah bertengkar, Helen menamparku ketika aku tak sengaja menyebut nama Andini saat sedang mencumbunya.
Kelakuanku itu sukses membuat kami langsung adu mulut, Helen menuduhku macam-macam tentang hubunganku dengan Andini. Dalam sekejap ia berbalik menjadi berada dipihak Clara dan menyerang diriku habis-habisan untuk menjelaskan dosa apa saja yg telah kubuat dengan Andini selama jauh dari Clara. Bahkan baginya, yg sebenarnya berselingkuh dan main hati adalah aku bukan Clara. Aku pun akhirnya mengakui tentang hubungan ku dan Andini yg justru semakin dekat ketika sudah balikan dengan Clara. Aku menjawab dan mengakui semua pertanyaan yg lebih terlihat sebagai sebuah penghakiman dari Helen. Meski itu semua lebih banyak hanya sebatas ocehan ku asal agar Helen puas dengan tuduhannya padaku karena percuma rasanya menjelaskan sesuatu kepada orang yg sedang curiga secara buta. Seperti yg dikatakan oleh orang bijak, tak perlu menjelaskan apapun karena yg benci tak akan percaya sedangkan yg menyukaimu tak butuh itu. Malam ini aku telah sukses merusak suasana dengan sempurna.
Aku sendiri bingung mengapa tubuh dan otak ku tiba-tiba mulai mengirimkan sinyal rasa sakit atas kehilangan Andini serta menampilkan proyeksi ingatan ini tentang dirinya hingga menyebut namanya saat sedang mencumbu Helen. Lisan bego umpatku dalam hati.
Mobil Helen pun akhirnya berhenti didepan rumahku saat waktu sudah menunjukan sekitar pukul 1 dini hari. Aku langsung melepas seat belt dan bermaksud untuk pamit pada Helen namun ia menahanku seakan masih ingin membicarakan sesuatu.
“Nji, kayanya mulai sekarang kita mesti jaga jarak.” ucap Helen dengan tatapan kosong kearah setir didepannya.
“Maksud lo apa sih ci. Ga usah segitunya lah.” tolak ku atas permintaan aneh Helen, sudah cukup Andini yg pergi dan menghilang dari hidupku.
“Kalo Andini aja bisa jatuh cinta, bukan ga mungkin gue juga bisa jatuh ke perasaan yg sama ama lo Nji karena kedekatan kita.” sahutnya perlahan.
“Gue ga mau kita ngekhianatin Clara dan Angga.” lanjut Helen lagi dengan nada getir.
“Oke fine kalo itu mau lo, terserah!!” balasku berteriak karena kesal seraya turun dari mobil dan masuk kerumah meninggalkan Helen.
Rasanya belum cukup dengan Andini, semesta pun mengambil Helen diwaktu yang hampir bersamaan dengan memilih pergi menjauh dari hidupku. Aku menoleh ketika suara mesin mobilnya berbunyi, sedan silver itu menjauh dan menghilang bersama riuhnya hujan yang semakin deras.

Waktu liburan hanya ku habiskan dengan main game online di rumah atau sesekali jalan dengan Clara mengitari Jakarta, beberapa kali ia mengajak Helen jalan bersama kami namun selalu ditolak dengan alasan sudah ada janji atau sedang bersama keluarganya. Helen benar-benar sedang menjaga jarak dariku yg membuatku tak bisa berbuat banyak melainkan hanya membiarkannya, beruntung Clara tidak curiga sedikit pun akan perilaku Helen yg berubah itu mengingat ia sendiri yg sebelumnya meminta Clara untuk mengajak main selama liburan.
Seperti hari ini dua minggu setelah kejadian di bar itu, Helen menolak lagi ketika aku dan Clara mengajaknya untuk ke Bogor makan soto mie favorit kami berlima apabila sedang bosan dengan kuliner di Jakarta.

Ilustrasi Clara

“Gimana sih lo nci, kemaren lo yg minta diajak. Sekarang malah sok sibuk” protes Clara atas penolakan Helen yg kesekian kalinya.
“Ya udah kalo gitu beneran ya ga mau ikut. Bye sayang.” tutup Clara mengakhiri teleponnya dengan Helen. Akhirnya lagi-lagi hanya kami berdua yg berangkat ke Bogor menggunakan mobil Clara untuk makan Soto Mie di daerah dekat Regina Pacis. Selepas makan kami pun lanjut ke FO khusus Tas yg memang cukup terkenal di daerah Tajur, Bogor karena permintaan Clara.
“Ini bagus ga bo?” tanya Clara padaku sambil memperlihatkan koper hardcase besar bermotif koran berwarna hitam putih.
“Kamu beli koper buat apa?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyannya.
“Buat bungkus kamu terus taro di kamar aku hahaha.” jawab Clara tertawa sendiri yg hanya kurespon dengan mengerutkan dahi.
“Abis handbag nya ga ada yg bagus.” keluhnya lagi sambil cemberut.
“Emang kalo ga beli apa-apa buat kamu rugi banget yah?” ledek ku merespon jalan pikirnya yg seolah baginya rupiah hari ini tak berlaku jika digunakan besok.
“Aku beli aja ah.” sahutnya tanpa memperdulikan ocehan ku tadi. Jika sudah seperti ini aku hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bisa protes apapun, toh itu uang dia yg mungkin diberikan oleh Ayahnya untuk dihabiskan keluhku dalam hati.
Namun ketika di mobil dalam perjalanan pulang tanpa ku pinta Clara akhirnya menceritakan maksudnya mengapa membeli koper tersebut.
“Bo, kamu jangan nilai aku boros dong sayang. Aku beli koper karena butuh tau buat minggu depan.” ucapnya membuka obrolan saat mobil ini sedang ditengah kemacetan Jalan Pajajaran.
“Oh emang minggu depan ada apa?” tanyaku heran yg memang saat itu belum mengetahui tentang rencana Clara.
“Papa sama Mama ngajak jenguk Ka Gio.” jawab Clara sambil menatapku yg membuatku cukup terpatung mendengarnya. Aku heran mengapa Clara baru memberitahu kepergiannya ke London secara mendadak.
“Jangan salah paham dulu ya bo, ini emang mendadak. Papa juga baru semalem bilang, karena Kak Gio ada rencana ikut pertukaran pelajar gitu ke Irlandia. Jadi Papa mau mastiin semuanya keperluannya Ka Gio.” lanjut Clara menjelaskan seolah paham akan pertanyaanku. Aku hanya meresponnya dengan mengangguk.
“Berapa lama?” tanyaku sambil menoleh kearahnya.
“Rencananya dua minggu, aku tuh sebenernya mau ngajak kamu tapi aku yakin kamu pasti nolak.” jelas Clara sambil menggenggam tanganku yg berada di persneling.
“Next time yah, jangan mendadak biar aku nabung dulu. Lima tahun sebelumnya lah hahaha.” jawabku asal sambil tertawa yg direspon Clara juga dengan ikut tertawa seraya mencubit lenganku.
“Gak lima tahun juga kali!! Nyebelin kamu!” sahut Clara sambil cekikikan dan merangkul lenganku lalu tak lama kemudian terdiam.
“Bo.” lanjut Clara memecah keheningan sebelumnya.
“Kenapa ra?”
“Kamu ga marah kan?” ucapnya sambil memajukan wajahnya menatapku.
“Marah kenapa?” tanyaku heran.
“Aku ninggalin kamu dua minggu di Jakarta, padahal waktu kita ketemu kan cuma liburan doang. Mana kamu udah bela-belain cuti ngajar.” lanjutnya seraya menjatuhkan kepalanya di bahuku.
“Bilang aja kamu minta jatah ditemuin diluar liburan juga.” sahutku mencoba mengalihkan rasa bersalah Clara.
“Hehe mau boooo.” jawabnya manja yg semakin merangkul erat lenganku.
“Iyah.” jawabku sambil tersenyum kearahnya dan dibalas dengan kecupan pada bibirku. Saat sedang berciuman kami diklakson oleh mobil belakang karena lampu sudah hijau yg membuat aku dan Clara tertawa salah tingkah.
“Nanti kita lanjutin rencana yg dulu yuk bo.” ujar Clara yg sedang merapihkan rambutnya.
“Rencana yg mana ra?”
“Gantian saling mengunjungi tiap bulan.” pinta Clara manja seraya tersenyum manis yg kurespon dengan mengangguk.
“Oh iya bo, selama aku ke London kamu mau balik ke Bandung? Kasian kamu di Jakarta sendiri, Regas ama Angga ga ada. Helen juga lagi sibuk sendiri.” tawar Clara yg membuatku cukup heran.
“Serius? Emang boleh?” tanyaku seraya menatapnya dengan senyuman meledek.
“Kamu udah super baik banget sama aku, boleh ko. Kangen kan kamu sama Andini.” jawab Clara balik meledek sambil menyenggol bahunya dengan bahuku.
“Mulai deeeh.” sahutku yg agak malas menanggapi cemburunya Clara.
“Serius bo gak apa-apa. Aku percaya ko sama Andini.”
“Eh iya padahal dia janji waktu itu mau ngehubungin aku buat ketemuan di Jakarta, ko ga ada kabar lagi yah.” lanjut Clara menyerocos seraya memainkan handphonenya.
Deg, aku cukup kaget mendengar omongan Clara. Apa jadinya kalo sampe ia menghubungi Andini.
“Dia lagi sibuk panitia ospek kali ra.” timpalku asal berharap Clara tidak jadi menghubungi Andini karena jawabanku yg ia respon dengan mengangguk, untuk sementara aku bisa menghela nafas lega.

Tak terasa satu minggu berlalu, selama seminggu itu pula aku setiap hari menemani Clara kesana kemari mencari kebutuhan untuk ia ke London. Lalu biasanya sekalian mengantarnya pulang, aku menghabiskan waktu dirumahnya hingga makan malam. Ayah dan Ibunya Clara pun beberapa kali menawarkan untuk ikut bersama mereka namun tentu saja kutolak bukan karena tak ingin tapi berlebihan lah status masih pacar sudah harus ikut acara keluarga Clara mana ke luar negeri. Jika saja hanya sebatas Bandung atau Jogja masih bisa kupertimbangkan. Ditambah saat itu aku masih belum memiliki Paspor apalagi Visa, ya meskipun bagi keluarga Clara dokumen seperti itu bisa dipenuhi hanya dengan menjentikan jari seperti Thanos. Oke mulai ngaco, intinya aku beralasan pada Ayah dan Ibunya Clara masih banyak yg harus diurus selama liburan ini.
Sekarang disinilah aku berdiri, mengantar Clara ke Bandara Soekarno-Hatta didepan terminal 2D.
“Jangan bandel kamu disini.” ucapnya yg kurespon dengan mengangguk.
“Bilangin pilotnya hati-hati bawa wanita langka tapi bikin kangen, balikin ke Jakartanya harus utuh dan tepat waktu.” gombal ku pada Clara seraya tertawa.
“Ih ngomong sana sendiri. Hahaha.” balasnya salah tingkah.
“Kabarin kalo udah landing yah.” pesanku sambil mengusap rambutnya yg ia respon dengan sikap hormat.
Percayalah mengantar sampai pintu boarding seperti adegan Cinta dan Rangga tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Jadi di depan keramaian itu kami hanya berpelukan dan Clara sempat mengecup pipiku. Setelah itu ia pun menyusul Ayah dan Ibunya untuk check ini, Clara sempat menoleh dan melambaikan tangan kearahku dengan senyum cantiknya yg kubalas dengan lambaian tangan hingga akhirnya ia hilang dan berlalu. Sampai bertemu dua minggu lagi ra gumamku dalam hati.
Rasanya baru beberapa minggu lalu semua wanita serasa dipelukanku namun entah mengapa sekarang satu per satu mulai pergi. Clara hanya sementara sih, hanya saja ia pergi disaat aku kehilangan Andini serta Helen.

Sesuai dengan rencana, sepulang mengantar dari bandara aku mulai mengemas tas ku untuk kembali ke Bandung besok. Niatnya aku akan kesana selama seminggu karena minggu depan Kak Sinta sudah pulang jadi Ibuku pasti memintaku untuk dirumah.
“Kamu minggu depan pulang lagi loh nji.” pinta Ibuku saat masuk kamar ku memberikan beberapan pakaian yg baru disetrika.
“Iya mah.” jawabku seraya menerima pakaian yg dibawa oleh Ibuku.
“Janji?” lanjut Ibuku seraya menahan pakaian yg ia serahkan.
“Mama nih kaya Clara deh, ga cukup satu kali jawaban. Iya mah pulang nemenin Kak Sinta.” sahutku sambil tertawa karena sikap Ibuku.
“Ngomong-ngomong soal Clara kalian seserius apa sih nji?” ucap Ibuku tiba-tiba menyeledik.
“Mah Panji ama Clara tuh baru naik tingkat dua kuliah loh. Jangan ngasih pertanyaan yg pantesnya buat Kak Sinta ke Panji dong.” protesku atas pertanyaan Ibuku.
“Iya Mama tau sih kalo jawaban kamu, tapi Clara? Kamu yakin jawaban dia bakal sama kaya kamu?” balas Ibuku sambil menatap wajahku.
“Maksud Mama?” tanyaku balik dengan mengerutkan dahi.
“Kamu ga peka atau emang ga peduli sih nji? Clara tuh keliatan sayang banget sama kamu. Semuanya dia lakuin cuma buat kamu, selalu kerumah tiap minggu walaupun g ada kamu, selalu bela-belain ikut kalo ada acara keluarga kita kaya kemaren wisuda Kak Sinta, dia juga selalu ngajak kamu tiap ada acara keluarganya. Dia juga cerita ke Mama tentang putusnya kalian gimana, sampe akhirnya dia ngejar kamu lagi ke Bandung. Perempuan kalo udah kaya gitu, ga bakal bisa lepas dari kamu nji. Mama sayang sama Clara, dan Mama ga mau kamu nyakitin dia.” Ibuku sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan omongannya.
“Tapi ada hal yg bikin Mama khawatir, kalian kan punya perbedaan nji.” lanjut Ibuku setelah berbicara panjang lebar yg bisa kutebak kemana arah pembicaraan ini segera memotongnya.
“Maaah. Stop! Masih terlalu dini untuk ngomongin hal kaya gitu. Biarin mengalir aja lah.” jawabku mencoba mengakhiri pembicaraan ini.
“Cepat atau lambat kalian harus mikirin itu, semakin lama hubungan semakin rumit nantinya kalo ga bisa nyatuin perbedaan.” lanjut Ibuku yg cukup membuatku hanya terdiam.
“Makan yuk mah lapar, Papa pasti udah nunggu.” sahutku mengelak dalam pembahasan yg terlalu serius ini. Aku pun berlalu keluar kamar yg disusul Ibuku menuju meja makan untuk makan malam bersama.
Malam itu kalo boleh jujur aku kepikiran ucapan Ibuku, bukan soal perbedaan keyakinan antara aku dan Clara. Entah mengapa aku tak terlalu ambil pusing soal itu, tapi yg kupikirkan adalah apa benar Clara telah menjatuhkan hatinya untuk menetap selamanya padaku? Belum lagi apa yg sudah kami lakukan di Bandung seolah memperkuat diriku untuk sependapat dengan omongan yg dilontarkan oleh Ibuku. Selain itu, ini adalah kali pertama ia serius membahas hubungan kami, seolah feeling seorang Ibu memang sangat kuat.
Sementara ini aku hanya mampu mengehela nafas panjang dan memejamkan mataku untuk mencoba melupakan sejenakan pikiran itu.

Keesokan harinya aku tiba di Bandung sekitar pukul 1 siang dan langsung menuju kosku tanpa mampir kemana pun menggunakan Taksi karena malamnya aku sudah janjian bertemu dengan Erik di Clubnya.
“Katanya sebulan di Jakarta.” ujar Erik menyapaku malam itu saat kami bertemu di Club seraya berpelukan.
“Clara ikut keluarganya jenguk kakak doi di London.” jawabku yg direspon Erik dengan mengangguk.
“Minum.” tawarnya seraya menyerahkan segelas koktail vodka padaku.
“Sunrise Tequilla aja.” jawabku sambil duduk di kursi sebelahnya.
“Anjir udah tau-tauan tequilla ye, gaul ama siapa lo?” ledek Erik padaku yg kerespon dengan menonjok bahunya.
“Kan lo yg ngajarin kampret.” sahutku sambil tertawa. Aku pun menenggak sedikit tequilla pesananku yg sudah disajikan oleh bartender.
“Muka lo kayanya murung amat.” tegur Erik padaku yg memang sempat melamun sesaat.
“Engga.” jawabku singkat sambil menggelengkan kepala.
“Heh! Kita udah kenal dari orok. Gue udah hafal ama kelakuan lo.” ujar Erik yg seakan memang paham akan suasana perasaan ku.
“Clara lagi?” lanjutnya seraya menenggak koktail vodka ditangannya.
“Gue kepikiran omongan nyokap.” ujarku memulai obrolan serius dengan Erik, malam itu aku bercerita semua mulai dari meminta pendapatnya tentang keseriusan Clara di mata Ibuku hingga akhirnya aku pun bercerita tentang hubunganku dengan Andini dan Helen. Erik seperti biasa yg memang paling paham akan diriku, mendengarkan dengan seksama ia hanya akan mengutarakan pendapatnya sampai aku selesai menceritakan semua.
“Hidup lo drama banget sih njul.” respon awal Erik saat aku baru selesai bercerita sambil menenggak habis koktail vodkanya.
Kami sekarang berada di area rooftop Club ini karena tadi cukup terganggu dengan suara musik didalam saat aku bercerita, hingga akhirnya Erik mengajak naik kesini. Mengingat ia talent di Club ini, sehingga tidak mendapat larangan dari pihak pengelola.
“Siapa juga yg mau begini rik.” tanggapku padanya sambil menaiki handle pinggir gedung ini dan duduk diatasnya menghadap kearah kota Bandung.
“Sebagai cowo gue sih ga nyalahin lo njul, keadaan yg buat lo begini. Apalagi Clara sendiri yg mulai permainan anehnya itu yg buat Helen dan Andini bisa masuk ke hidup lo yg membuat hubungan kalian lebih dari temen. Tapi ya walapun begitu dia sekarang udah balik, udah lo perawanin juga lagi. Lo harus bisa komitmen lah kalo emang udah milih Clara, lagian apa sih kurangnya Clara?” cerocos Erik padaku yg ikut naik menduduki handle beton ini.
“Ga ada.” jawabku singkat seraya menggelengkan kepala.
“Terus?” lanjut Erik seakan tak puas dengan jawabanku.
“Ya emang guenya aja yg bajingan, semenjak ada Helen dan Andini jadi keasikan punya banyak tempat berlabuh.” ujarku sambil tertawa kecut.
“Hahaha itu artinya lo normal njul!” sahut Erik yg ikut tertawa.
“Tapi kayanya semesta lagi berpihak ama Clara, buktinya sekarang Andini dan Helen udah kompak ngejauhin gue. Jadi curiga, abis ini Clara tau semuanya dan ninggalin gue.” timpalku seraya menenggak habis tequilla ditanganku.
“Bagus, kalo itu namanya karma hahaha.” tawa Erik puas meledek ku.
“Bukan itu yg jadi pikiran gue rik. Clara udah ngasih segalanya buat gue, tapi yg dia terima dari gue malah pengkhianatan cintanya. Gue takut dia hancur, dan bagian terbaiknya penyebabnya adalah orang yg paling dia sayang.” ucapku getir sambil memandang kosong kearah kelap-kelip Kota Bandung dibawah sana.
“Udah yuk ah masuk lagi, ga usah mikirin sesuatu yg belom jelas. Mending minum dan berharap semuanya bakal baik-baik aja.” lanjut Erik seraya menepuk bahuku untuk turun yg kurespon dengan menganggu dan mengikutinya.
Untuk pertama kalinya malam itu aku minum hingga mabuk bersama Erik, otak ku benar-benar ingin terlepas dari beban pikiran akan kisah cinta picisan diriku sendiri. Seperti Frappe, aku sudah muak dengan manisnya dan untuk kali ini ingin membasahi lidah dengan pahitnya Americano.
Kepalaku pening layaknya mendapat cengkraman pegulat kelas berat dibagian belakang leher, aku membuka mata dan kulihat sinar matahari menerobos masuk dari sela ventilasi kamar ini. Aku bangkit dan terasa pemberontakan dalam perut menyodok hingga ke ujung tenggorokan ku, kepalaku menoleh kanan kiri mencari toilet karena kuyakin ini bukan kamar kos ku. Begitu mendapati pintu pvc berwarna biru yg kuyakini dibaliknya adalah toilet aku segera berjalan gontai seraya membuka handle dan langsung memuntahkan semua isi perutku dikloset toilet.
“Kampret!” umpatku saat merasakan mual dari bau alkohol yg keluar dari muntahanku. Segera kututup dan menekan flush seraya berdiri menuju wastafel untuk mencuci muka lalu berbalik kembali kearah kamar. Aku cukup terkejut diatas kasur ada Erik bersama seorang wanita tak ku kenal karena tertutup bantal yg sepertinya mereka berdua tanpa busana kecuali hanya ditutupi selimut.
Anjir semalem ada apaan ya, ini cewe siapa, ko gue bisa di kamar Erik. Eh bentar ini kamar Erik bukan ya gumamku dalam hati sambil menoleh kanan kiri serta mencoba mengingat apa yg terjadi semalam.
“Pagi nji.” ucap lirih suara seorang yg kuduga berasal dari wanita yg tadi tidur diatas kasur dan betapa terkejutnya aku ketika menoleh kearahnya.
“Manda!?”
“Apaan sih! Kaya ngeliat setan.” jawabnya protes sambil bangkit duduk namun tetap menutupi bagian dadanya dengan selimut.
Akhirnya aku ingat, semalam setelah turun dari rooftop untuk kembali ke bar aku dicekoki minum terus-terusan oleh Erik dan tak lama kemudian Manda datang dihadapan kami seraya cipika cipiki dengan Erik. Malam itu ia memperkenalkan lagi Manda padaku namun sebagai pacarnya, sikampret umpatku dalam hati yg kaget ia masih awet berpacaran dengan Manda yg ku kenal beberapa tahun silam di Cafenya.
“Sori gue baru inget.” sahutku pada Manda seraya berbalik membelakanginya.
“Ko malu-malu sih nji, semalem kan udah ngerasain.” ujar Manda dengan nada centil.
“Hah? Apaan?” jawabku panik dan berbalik menatap wajah Manda yg sedang tertawa cekikikan.
“Kagak lah! Becanda. Lo tepar semalem.” balas Manda yg kurespon dengan menghela nafas lega sementara Lala puas tertawa.
“Sialan lo!” sahutku ketus. Aku kemudian berjalan mendekat kearah kasur dan menepuk kaki Erik.
“Rik! Gue balik ya.” ujarku namun berkali-kali kakinya ku pukul Erik tak menunjukan reaksi sama sekali.
“Pulang aja nji, nanti gue bilangin.” tawar Manda sambil tersenyum kearahku yg kujawab dengan anggukan.
“Ya udah gue duluan ya Manda.” pamitku pada Manda seraya mengambil Jaket dan keluar dari kamar Erik. Aku menaiki motorku dan mengarahkannya langsung ke kosan untuk pulang.

Dua hari menyendiri di kosan tidak membuat kegelisahan tentang hubunganku dengan Clara Helen dan Andini enyah dari pikiranku, aku pun memutuskan ke kampus siang itu untuk mencari makan dan berharap bertemu Regas untuk bercerita disana meski ada kemungkinan ia sedang sibuk dengan kepanitiannya. Toh tujuanku ke Bandung memang untuk refreshing dari kesendirian di Jakarta, jadi jika hanya di kosan untuk apa aku kembali kesini.
Sesampainya di kampus bukannya bertemu Regas, aku malah harus mendapati Andini sedang berduaan di kantin mengobrol dengan salah satu senior yg kalo tak salah mantan Ketua Himpunan Sipil. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Kampret kenapa malah ketemu situasi yg bikin hati panas gini sih umpatku dalam hati.
Aku hanya terpatung dari kejauhan melihat Andini yg bangkit lalu berjalan berdua dengan pria itu meninggalkan kantin, ingin sekali rasanya memanggilnya untuk menoleh, menghampirinya untuk menarik tangannya dan memintanya kembali lagi dihidupku namun tak mungkin. Aku jadi kesal sendiri jika harus menerima kebetulan yg tak lucu ini, sekalinya keluar kosan harus bertemu lagi dengan drama. Ditengah keramaian kampus entah mengapa aku benar-benar merasa sepi hari itu, ya persis seperti lirik lagu Kosong milik Dewa 19. Bahkan seporsi Soto Bandung didepanku saja tidak habis, selera makan ini seakan menghilang entah kemana.
Bunyi handphone mengangetkan lamunanku saat itu dan ketika kulihat ternyata panggilan dari Clara pun segera kuangkat.
“Halo sayang.” sapaku membuka obrolan ditelepon.
“Kebooo kangen. Maaf ya sayang baru sempet neghubungin.” balas suara Clara disebrang telepon sana.
“Iya gak apa-apa ra.”
“Lagi dimana kamu bo?” tanya Clara yg kujawab sedang di kampus makan siang sendirian dengan nada manja seolah mengadu padanya namun kututup dengan tertawa.
“Loh emang ga ketemu Regas? Atau Andini?”
“Pada sibuk ngurus ospek ra.” sahutku singkat yg membuat Clara meminta maaf merasa bersalah sudah meninggalkanku liburan ini.
“Gak apa-apa ra, dua minggu sebentar ko.” hiburku agar Clara tak perlu mengkhawatirkan kondisiku.
“Oh iya bo, Helen atau Angga udah ngehubungin kamu belom?” lanjut Clara bertanya dengan nada serius.
“Ga ra, kenapa?” balasku penasaran.
“Ko tumben yah mereka ga ada yg cerita ke kamu.” ujar Clara yg malah membuatku semakin penasaran.
“Ada apa emang ra?” timpalku dengan nada panik meminta jawaban segera darinya.
“Kemarin Helen nelepon aku, katanya dia ama Angga putus.” jelas Clara yg membuatku cukup lama terdiam.
“Bo?”
“Ko bisa ra?” sahutku bertanya lagi.
“Helen sih cerita katanya Angga bilang udah punya pacar baru di Surabaya. Coba bo kamu hubungin Angga cari tau bener atau engga, kasian Helen aku lagi ga bisa nemenin dia.” pinta Clara padaku.
“Ya udah nanti aku coba hubungin Angga.” jawabku menyanggupi. Dalam hati aku cukup kesal menerima informasi ini dari Clara, setidaknya jika memang benar mengapa Angga sama sekali tidak cerita padaku.
“Bo, kamu baik-baik ya di Bandung. Aku siap-siap mau jalan keluar nanti aku telepon lagi.” pamit Clara mengakhiri teleponnya.
Aku pun segera meninggalkan kantin dan berlari ke arah Fakultas Regas untuk mencari dirinya, kupikir ia pasti tau sesuatu yg terjadi antara Angga dan Helen.
“Ikut gue.” pinta Regas saat kuhampiri dirinya yg sedang bersama teman himpunannya seraya berjalan didepanku yg segera kususul.
“Cerita dulu sih.” protesku karena tak mendapat jawaban dari Regas atas pertanyaanku tentang Angga dan Helen melainkan hanya diminta untuk mengikutinya entah kemana.
“Makannya ikut kalo mau tau.” jawabnya yg membuatku menghela nafas panjang karena mulai kesal.
Regas mengajak ku berjalan kearah parkiran dan kudapati disana terparkir sebuah mobil yg tak asing bagiku, ya mobil Angga.
“Biar lo denger sendiri langsung dari mulut pelakunya.” ucap Regas seraya mengetuk kaca mobil Angga yg membuatnya membuka pintu dan keluar lalu menyapa diriku.
“Si kampret!! Gue kira lo di Jakarta!!” sapa Angga heboh seraya memeluk diriku namun segera kudorong tubuhnya.
“Ga bilang lo ke Bandung. Ga cerita apa-apa juga tentang Helen. Lo tuh masih nganggep gue temen bukan sih?!” sahut ku ketus begitu melihat Angga didepan mataku.
“Tenang dulu nyet satu-satu jelasinnya. Gue baru sampe pagi tadi, Regas juga ga tau gue kesini. Baru ngobrol dan cerita semuanya tadi pagi sekalian sarapan. Terus si kampret lanjut rapat, gue nunggu disini. Tadi gue nelepon lo minta ke Bandung tapi nadanya sibuk.” ujar Angga membela diri yg kupikir masuk akal dan kurespon dengan mengangguk.
“Emosi mulu sih lo kaya cewe PMS.” timpal Regas meledek ku.
“Bacot!” balasku kesal.
“Ya udah lo berdua ngobrol dulu, gue lanjut rapat nanti jam tiga balik kesini lagi.” pamit Regas berlalu meninggalkan aku dan Angga.
“Kantin aja ngga.” ajaku padanya yg ia turuti seraya merangkul bahuku.
“Eh yg namanya Andini cantik juga nyet.” ujar Angga yg membuatku mengerutkan dahi.
“Kapan ketemu?” tanyaku heran.
“Tadi pagi di kantin pas lagi ngobrol ama si kunyuk.” jawabnya sambil cengengesan.
“Kenalan?” tanyaku lagi.
“Kagak lah, ntar dia naksir gue lo nangis bombay lagi.” sahut Angga tertawa meledek ku yg kurespon dengan menonjok perutnya.
“Jadi lo ama Helen ada apaan sih nyet sebenernya.” tembak ku langsung pada Angga saat kami sudah duduk di kantin dan memesan minuman.
“Lo harusnya lebih paham dibanding Regas. Andini adalah jawaban kekosongan Clara selama di Bandung kan? Itu juga yg gue rasain nyet.” jawab Angga menggunakan kisahku sebagai analogi dan pembenaran dirinya.
“Jadian pas di Semeru?” tembak ku pada Angga yg langsung diresponnya dengan mengangguk.
“Ko lo tau? Pulang dari situ sih.” jawabnya heran.
“Kampret lo! Helen uring-uringan tau ga dua hari ga dapet kabar dari lo.” timpalku padanya mengingat malam itu aku tau bagaimana Helen didekati oleh banyak senior dan beberapa teman kampusnya tapi ia tetap memilih setia kepada Angga. Namun disatu sisi aku juga sulit untuk menghakimi Angga, karena apa yg ia lakukan tak jauh beda dengan yg dilakukan oleh ku kepada Clara.
“Emang ga bisa selingkuh aja gitu nyet biar ga pake acara putus?” ujarku mengeluarkan pertanyaannya yg cukup aneh, aku sendiri pun heran mengapa bisa bertanya seperti itu pada Angga.
“Emang gue elo!” sahut Angga yg ku balas dengan melempar sedotan kearahnya.
“Oke itu bego, sorry.” balasku yg direspon Angga dengan tawa namun aku hanya menatapnya datar seraya menghela nafas panjang.
“Gue yg putus, ko lo yg murung nyet.” tanya Angga heran dengan mengerutkan dahinya.
“Kita kan sahabatan berlima nyet, lo berdua putus pasti bikin canggung kaya waktu gue ama Clara.” jawabku sambil menyandarkan pungguku pada kursi dan meletekan kedua telapak tangan menutupi wajahku.
“Gue sih masih mau sahabatan, tapi apa mungkin?” timpal Angga membela diri.
“Jujur deh ngga, lo ga bisa bohong ama gue. Alasan lo bukan karena jatuh cinta lagi kan? Atau itu cuma perasaan sesaat lo doang kan?” selidiku pada Angga seraya melipat kedua lenganku diatas meja dan mendekatkan wajahku pada Angga dengan tatapan serius.
“Kampret lo nji.” jawab Angga tersenyum kecut.
“Lo bukan orang kaya gitu nyet, gue kenal lo.” lanjutku mencoba meminta Angga untuk menjelaskan semuanya.
“Gue ngehamilin anak orang nyet.” ucap Angga yg membuatku terkejut.
“Sianjing! Serius? Demi apa lo? Terus??” sahutku kaget dan penasaran.
“Sekitar beberapa bulan yg lalu gue deket ama salah satu temen jurusan karena acara makrab, kita nyambung banget jadi sering jalan bareng sampe akhirnya kebawa suasana. Awalnya juga gue pikir cuma perasaan sesaat aja pelarian karena lama-lama bosen juga LDR dari Helen serasa pacaran sama handphone. Tapi begonya pas gue nidurin dia, gue bikin dia hamil. Gilanya lagi gue sempet minta dia buat ngegugurin kandungannya. Hal itu bikin dia depresi dan hampir bunuh diri. Beruntung gue sempet nyelametin dia dan janinnya pas pendarahan. Dari situ gue ga tega kalo ninggalin dia lagi nyet, akhirnya pulang dari Semeru waktu itu gue minta dia buat hidup bareng untuk ngerawat anak kita sama-sama. Bener kata orang naik gunung bikin kita bijak.” jelas Angga panjang lebar yg membuatku terdiam saat mendengar pengakuannya.
“Are you nuts? Bijak? Ngerawat anak emang semudah itu?” ketusku heran atas pemikiran Angga.
“Terus lo pikir gue punya pilihan lain? Gue harus tanggungjawab atas apa yg udah gue buat.”
“Darimana lo yakin dia hamil anak lo?” lanjutku menyelidik yg direspon Angga dengan tawa ringan.
“Dia bukan cewe yg kaya gitu. Gue yg merawanin dia nyet. Gue mau nemenin dia ngerawat anak itu. Meski kita sepakat untuk ga nikah dulu bahkan nutupin ini dari keluarga kita masing-masing.” ucap Angga yg membuatku tak percaya akan pemikirannya.
“Helen juga kan sama, lo yang pertama nidurin.” tanggapku mencoba membela Helen atas alasan Angga.
“Iya tapi ga sampe Hamil. Lagian Helen itu beda. Helen mandiri, supel, dia punya banyak temen yg care ama dia. Gue cuma salah satu cowo spesial dari sekian banyak cowo yg deket ama dia, gampang buat Helen nyari pengganti gue nyet.” lanjut Angga menjelaskan alasannya yg masih tak bisa kuterima.
“Helen emang punya gue, Regas dan mungkin temen cowo yg lain. Tapi hati dia cuma buat lo nyet! Helen pernah bilang ke gue, cinta lo emang sederhana tapi itu yg bikin lo beda dan terbaik di mata dia.” balasku mencoba membujuk Angga.
“Kalo gitu gue yg ga pantes dapetin tulusnya cinta Helen karena udah ngekhianatin dia.” tanggap Angga yg membuatku kesal.
“Basi kampret!” sahutku singkat seraya bangkit dari kursi.
“Mau kemana?” tanya Angga heran.
“Dulu Helen yg bantuin gue buat balik ama Clara, sekarang waktunya gue gantian bantuin Helen.” jawabku tanpa menoleh pada Angga.
“Helen bantuin lo karena cinta Clara masih ada buat lo. Sedangkan gue udah sayang ama dia nji.” tambah Angga yg mengingatkanku atas sesuatu yg sama beberapa bulan lalu.
“Lo bukan sayang, lo cuma kasian!” balasku ketus.
“Dia hamil anak gue nyet! Darah daging gue!!” ujar Angga membela diri.
“Helen cinta sama lo. Helen udah ngasih semuanya buat lo. Bedanya, Helen cuma ga hamil. Kalo tau pertimbangan lo dalam bikin keputusan adalah anak, gue yakin Helen lebih milih hamil dibanding harus pisah sama lo. Sorry nyet, kaya yg pernah Helen bilang. Gue ga bisa ada dipihak lo karena sebagai sahabat gue ga akan belain lo ketika salah.” tutupku panjang lebar seraya berbalik badan untuk pergi dari hadapannya.
“Kalo gitu persahabatan kita ga akan kaya dulu lagi?” tanya Angga sedikit berteriak yg membuatku menghentikan langkahku.
“Kalo emang itu pilihan lo, ya mungkin kita berlima belum tentu bisa kaya dulu lagi.” jawabku seraya berbalik untuk menoleh pada Angga.
Aku terdiam sejenak dan menghela nafas panjang lalu kembali berjalan mendekati Angga untuk memeluknya.
“Gue paham posisi lo, dan jujur gue bangga ama tanggungjawab lo. Lo udah dewasa nyet. Tapi sayang, tanggungjawab itu lo kasih ke orang yg menurut gue salah atau minimal buat gue Helen lebih pantes dapetin itu.” cerocosku dalam pelukan Angga hingga tak terasa mata ini berkaca-kaca.
“Thanks nyet udah ngerti, tapi ini pilihan gue.” jawab Angga yg kurespon dengan anggukan seraya melepaskan pelukan kami.
“Gue punya dosa ama lo, Helen pernah gue bawa ke Bandung nemenin gue pas lagi down.” ujarku menceritakan hal yg selama ini kami sembunyikan dari Angga meski tidak semuanya.
“Gue tau, udah feeling ko. Makasih nji udah mau jujur. Titip Helen. Lo sahabat terbaik yg dia punya.” balas Angga tersenyum dan kurespon dengan mengangguk seraya menepuk pundaknya. Aku pun kemudian berbalik badan berlalu meninggalkan Angga yg berdiri disana tanpa sepatah kata lagi yg terucap bahkan saat berpapasan dengan Regas yg datang kebingungan.
“Loh nyet mau kemana?” tanyanya heran namun tak kuhiraukan.
Keberanian Angga untuk mengambil Americano pahitnya membuatku percaya, tak semua suka dengan hal manis. Itulah yg membuat kopi akan selalu memiliki pencintanya sendiri. Aku bangga mengenal orang bahkan menjadi sahabat dari orang seperti Angga.

Sore itu juga aku langsung kembali ke Jakarta untuk menemui Helen, aku bahkan langsung kerumahnya tanpa sempat pulang.
“Non Helennya bilang ga mau diganggu den.” jelas Pembantunya Helen ketika kembali menemui ku setelah tadi sempat kedalam untuk memanggil Helen.
“Biar saya yang langsung temuin deh bi, boleh kan?” pintaku dengan sedikit memaksa yg diresponnya dengan mengangguk dan aku pun diijinkan untuk masuk. Aku langsung kelantai dua rumah ini yg memang hampir jarang ada kedua orangtua Helen dirumahnya, kemudian menuju kamar Helen dan langsung mengetuk pintu kamarnya.
“Ci, ini gue. Tolong ci ijinin gue ketemu ama lo.” ujarku didepan kamar Helen.
“Plis nji pulang! Gue lagi g mau diganggu.” sahut Helen dari dalam kamar dengan nada terisak.
“Lo yg selalu ada buat gue ketika pisah sama Clara, kasih gue kesempatan melakukan hal yang sama kaya udah lo lakuin ke gue ci!!” pintaku memohon didepan pintu kamarnya.
“Waktunya ga tepat nji!! Kedatangan lo disaat gue hancur kaya gini malah bisa bikin rasa cinta ke lo tumbuh. Udah cukup gue kehilangan Angga, gue ga mau kehilangan Clara.” tolak Helen sambil menangis.
“Gue ga peduli ci! Kalo lo bisa bikin gue ngekhianatin Angga, kenapa gue ga boleh bikin lo ngekhianatin Clara!! Jangan egois ci.” ujarku terus membujuk Helen sambil menempelkan dahiku pada pintu kamarnya cukup lama hingga akhirnya dibuka olehnya. Helen muncul dari pintu kamarnya dan menatapku dengan wajah sembabnya yg bengkak karena menangis, pipinya basah penuh air mata yg belum berhenti mengalir, nafas Helen terisak-isak. Aku langsung merengkuhnya dalam pelukan ku, kuraih kepala Helen untuk ku dekap seraya kutempelkan hidung ini pada rambutnya, tangis Helen pecah saat itu juga.

Ilustrasi Helen

“Kenapa bukan gue yg Angga bikin hamil njiiii, kenapa Angga malah ninggalin gue!!” rengek Helen yg menangis namun aku tak bisa menjawab apapun selain hanya memeluknya. Helen menangis sangat kencang, entah mengapa perasaan ini ikut sakit melihatnya menderita seperti itu.
Setelah tangisnya sedikit mereda, aku genggam tangan Helen dan menariknya untuk turun kebawah lalu memintanya duduk di sofa ruang tv rumahnya.
“Lo pasti belom makan kan? Gue masakin mie instant ya?” tawarku yg masih berdiri pada Helen.
“Keluar aja yuk nji.” pintanya sambil menarik kembali tanganku dan kurespon dengan mengangguk.
“Tapi makan yah.” pintaku seraya mengusap pipinya yg basah.
“Iyah.” jawabnya seraya berlalu dari hadapanku kembali ke kamarnya, mungkin untuk mengambil kunci mobilnya.
Setelah bersiap sekitar sepuluh menit Helen kembali dan menyerahkan kunci mobilnya padaku dan aku pun menjalankan mobil ini meninggalkan rumah Helen.
“Mau makan apa ci?” tanyaku pada Helen yg masih terlihat murung.
“Mie instant.” jawabnya yg membuatku mengerutkan dahi.
“Hah? Dimana?”
“Puncak aja tempat biasa.” pintanya yg kujawab dengan mengangguk. Maksud Helen adalah tempat makan mie instan yg biasa dikunjungi oleh kami berlima ketika sedang jalan ke puncak.
Tak butuh waktu lama hanya sekitar tiga puluh menit kami sudah sampai di kawasan dekat Masjid At-Ta’awun Puncak Bogor karena bukan hari libur sehingga kawasan ini relatif lancar.
Kami mengambil tempat disamping dekat jendela tak berkaca sehingga bisa menikmati pemandangan kota Bogor yg berkelip dari kejauhan serta semilir angin sejuk. Namun Helen terlihat hanya memainkan mie instannya setelah makan dua sendok sambil menatap kosong. Memang sedaritadi kami lebih banyak diam, mengingat beberapa kali saat kutanya Helen selalu melamun bahkan tak menjawab pertanyaanku sehingga aku membiarkannya dulu dengan pikirannya.
Aku pun menarik mangkuk mie instan didepannya lalu menyendok dan mengarahkan ke mulut Helen untuk menyuapinya. Helen menatap ku sesaat seperti ingin menolak namun akhirnya ia pun membuka mulutnya dan memakan suapanku.
“Gimana Andini ga jatuh cinta ama lo, kalo perhatian yg dia dapet kaya gini.” ucap Helen yg akhirnya mengeluarkan suaranya.
“Udah deh ga usah bahas yg ga ada.” elak ku sambil kembali mengarahkan suapan ke mulutnya.
“Gue kurang apa sih nji?” lanjut Helen yg kembali murung.
“Kurang banyak makannya, abisin dulu ini.” jawabku asal sambil mengarahkan lagi satu sendok mie instan ini ke mulutnya.
“Serius panjul ih! Nyebelin.” sahut Helen protes namun tetap menerima suapan ku yg kurespon demgan tawa.
“Lo kemaren kenapa sih ci? Kalo lo ama Angga ga putus, lo masih mau ngilang sampe kapan?” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Ga tau kenapa gue udah feeling aja nji kalo Angga itu selingkuh, dia berubah jadi dingin. Dari awal gue tau dia udah sibuk ko, tapi selalu sempet buat ngehubungin gue walaupun cuma beberapa menit. Pas Angga ngilang empat hari itu gue yakin hubungan kita ga bakal lama lagi. Orang yg pertama gue cari waktu itu adalah elo, gue inget kita bisa sedeket ini bahkan kebablasan karena gue nemenin elo yg lagi patah hati ama Clara. Gue takut saat perasaan kita berubah jadi cinta kalo lo nanti nemenin gue yg patah hati. Waktu denger elo nyebut nama Andini aja gue mulai cemburu nji. Jadi gue pikir lebih baik kita saling jauh. Tapi pas beneran diputusin dan ngerasain sakitnya, gue ga kuat sendirian nji.” jelas Helen panjang lebar dengan air mata yg sesekali menetes ke pipinya.
“Kalo gitu jangan pernah pergi lagi.” pintaku pada Helen seraya menggenggam tangannya.
“Jangan pernah biarin gue pergi juga dong.” balas Helen sambil tersenyum meski air matanya masih menetes dan ku jawab dengan mengangguk.
“Pulang yuk.” ajaku setelah mie instant pesanan kami habis dan mengingat hari sudah malam.
“Puncak Pass yuk.” tolak Helen yg malah mengajak naik lagi keatas namun aku pun menuruti maunya.
Sesampainya disana kami duduk dipinggiran turap sambil memakan jagung bakar dan bajigur panas, sesekali aku memperhatikan wajah Helen yg entah kenapa saat itu sedang tersenyum sendiri.
“Apa yg lucu ci?” tanyaku padanya yg membuat Helen menoleh kearahku.
“Engga bukan apa-apa.” ujarnya salah tingkah namun aku tetap memperhatikannya karena tak puas atas jawaban Helen.
“Apa sih!” lanjut Helen sambil menutup wajahku dengan tangannya.
“Lagian masih aja rahasia-rahasiaan.” balasku padanya.
“Gue cuma inget Angga, waktu itu kita pernah kesini berdua. Dia ngajak gue naik ke bukit atas sana dan ngasih gue rangkaian bunga yg ditaro di kepala gitu, terus dia bilang gue ratu dihatinya. Ih sumpah norak banget.” cerita Helen sambil tertawa geli.
“Waktu itu gue bilang ke Angga kalo ratu kan harus punya pasukan perang yg selalu siap melindungi, dan Angga berlutut minta dilantik jadi Jendral Perang. Dinasti Beijing katanya. Sialan banget kan hahaha.” lanjut Helen cengengesan menertawai ceritanya sendiri namun air matanya tetap jatuh menetes dipipinya. Aku pun melompat turun dari turap dan berdiri didepan Helen seraya menghadap padanya.
“Kalo gitu sekarang lantik gue jadi Jenderal Perang Baru di Dinasti Beijing.” pintaku pada Helen sambil tersenyum.
“Apaan sih Panjul ih! Malu tau.” tanggap Helen sambil memukul bahuku. Aku menoleh ke kanan dan kiri lalu mengambil sebuah ranting panjang menjadikannya seperti pedang lalu berlutut didepan Helen.
“Aku adalah Pendekar Platina dengan Pedang Kesetiaan yg akan mengabdi pada Dinasti Baginda Ratu. Terimalah aku sebagai Jenderal Perang Baru di Dinasti Beijing.” ucapku sedikit berteriak dengan nada berat yg membuat Helen salah tingkah karena malu diperhatian oleh beberapa orang disekitar kami.
“Panji ih berdiri gak!” bisik Helen padaku yg kuhiraukan.
“Aku tidak akan beregerak sampai Baginda Ratu menerimaku dan melantik diriku.” jawabku pada Helen seraya mengangkat wajahku dan tersenyum menahan tawa.
Helen pun akhirnya bangkit dari duduknya. Mengambil ranting pohon yg berada ditanganku dengan tangannya lalu mengarahkan ranting pohon itu menempel pada bahu kanan kemudian bahu kiriku.
“Mulai sekarang dengan resmi saya melantik anda sebagai Jenderal Perang Dinasti Beijing.” ucap Helen sambil cengengesan menahan tawa.
Setidaknya malam itu aku bisa membuat Helen kembali tertawa lepas meski aku tahu jauh didalam hatinya ia masih merasakan sakit, namun seperti trauma aku yakin itu akan hilang seiring jalannya waktu.
Dear Angga, untuk saat ini ijinin gue menjadi Frappe bagi Helen. Americano yg lo kasih terlalu pahit baginya, mungkin ada saatnya nanti Helen menemukan Americano nya sendiri. Sampe tiba hari itu, sesuai janji gue akan selalu jaga Helen buat lo.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 25 | Ketika Kita Muda Part 25 – END

(Ketika Kita Muda Part 24)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 26)