Ketika Kita Muda Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 23

Start Ketika Kita Muda Part 23 | Ketika Kita Muda Part 23 Start

Trapped

Ada satu hal yg tidak aku sepakati dalam Ilmu Biologi yaitu tentang mendefinisikan kesempurnaan metamormofosis hanya pada perubahan struktur fisik dengan mengesampingan perubahan psikis. Padahal manusia jauh lebih pantas mendapat predikat metamorfosis sempurna karena memiliki banyak fase perubahan dalam hidupnya secara psikis yg dipengaruhi oleh hormonal meski tanpa perubahan struktur fisik pada setiap tahap perubahan tersebut. Seperti perubahan pola pikir, cara pandang dan hal-hal prinsipil lainnya. Belum lagi stratifikasi dalam setiap tahap tersebut, sebagai contoh saja kita semua pasti mengalami masa kanak-kanak, dimana hidup tanpa rasa beban, tidak punya rasa takut kecuali dengan hantu atau orangtua, serta dianugerahi intuisi keingintahuan yg tinggi. Lalu beranjak remaja kita mulai dipenuhi oleh hormon puber, dimana timbul rasa malu, tertarik dengan lawan jenis dan akhirnya paham bahwa menangis itu rasa sakitnya di hati bukan di mata. Hingga berlanjut ke masa transisi pencarian jati diri lalu dewasa, dan menua. Kupu-kupu tentunya tidak mengalami itu kan saat ia bermetamorfosis dari kepompong, sehingga merasa galau ketika sayapnya ternyata berwarna unggu padahal ia merasa dirinya bukanlah janda. Atau seekor Katak yg awalnya berudu hitam buruk rupa menjadi hijau elegan dan meningkatkan percaya diri hingga merubah tongkorongan dari selokan sawah menjadi di drainase Mall. Bahkan rasanya bagiku kucing lebih mengalami perubahan psikis yg kompleks, kalian pernah lihat kucing dewasa berantem? Perhatikan perbedaannya dengan anak kucing atau kitten yg hanya saling pukul. Kucing dewasa ketika berantem pasti diiring dengan adu mulut yg seolah meributkan masalah yg besar sekali, persis seperti Adit dan Clara.
Oke mulai ngaco, intinya adalah fase-fase tersebut pasti dilalui oleh semua manusia sebagai proses belajar dan tumbuh dalam menjalani kehidupan ini. Seperti aku dan Clara yg telah mengalami fase puber sejak jadian lalu putus dan balikan lagi, oleh karena itu aku merasa cerita kami masih jauh dari kata selesai dan masih akan banyak lagi fase lain yg menanti kami didepan sana. Setidaknya begitu menurutku.

Semarang, 2006

Sinta Darmawan, Sarjana Psikologi.
Seorang wanita cantik berbusana kebaya dibalut jubah toga besar itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju panggung sambil tersenyum ketika namanya dipanggil.
“Sinta pah, anak kita.” ujar Ibuku kepada Ayahku yg duduk disampingnya sambil meneteskan air mata, sebuah air mata bahagia melihat hasil pencapaian anaknya yg selama empat tahun jauh dari kota kelahiran dan orangtuanya namun mampu mendapatkan predikat terbaik di hari kelulusannya.
Ayahku mengajak Ibuku bangkit dari duduknya untuk memberikan tepuk tangan ketika tali toga Kak Sinta dipindah oleh Guru Besar Universitasnya dan berbalik tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya.
Inilah salah satu fase kehidupan manusia, ketika mereka sukses melewati masa pendidikan yg telah dienyamnya selama total tujuh belas tahun, dan berita baiknya fase ini masih belum selesai. Fase kehidupan yg sering dilabeli welcome to the junggle oleh para pendahulu akan segera menanti, sebuah masa yg katanya penuh tidak kepastian dan tanggungjawab yang lebih besar dari sebelumnya. Namun setidaknya untuk hari ini, biarlah Kak Sinta merayakan kelulusannya dulu.
“Pah, Mah, Kak Sinta! Senyum dong.” tegurku menyambut mereka bertiga yg baru saja keluar dari gedung aula wisuda seraya membidik dalam bingkai kamera SLR.
“Akunya tampan tidak nji??” teriak Ayahku sesaat setelah aku melihat hasil jepretan tadi yg kubalas dengan tersenyum sambil menaikan jempolku kearahnya.
Aku pun berjalan perlahan mendekati Kak Sinta dengan membawa sebanquet bunga mawar merah muda ditanganku.
“Selamat yah, Sinta Darmawan Es Pe Si.” sambutku padanya mengucapkan selamat dengan sedikit tertawa meledek gelarnya dan memberikan bunga tersebut.
“Makasih adeku sayang.” jawab Kak Sinta sambil tersenyum dan menerima bunganya pemberian ku dan memeluk ku erat.
“I’m proud of you.” lanjutku memuji hasil pencapaian Kak Sinta yg direspon hanya dengan mengangguk.
“Selamat ya Kak Sinta.” ujar wanita cantik berbusana dress terusan selutut yg sedaritadi selalu menempel disampingku, Clara.
“Claraaaa, makasih banget udah dateng.” sahut Kak Sinta melepas pelukannya dariku dan berganti menyambut Clara dan memeluknya. Aku pun kembali membidik kameraku kepada kedua wanita cantik yg ku cintai dalam hidupku dalam bingkai kamera ini.
“Panji ih guenya nangis, lagi jelek.” protes Kak Sinta tak terima saat ku ambil fotonya.
“Foto itu yg penting momennya kak.” timpalku yg direspon Kak Sinta dengan cemberut dan tetap dalam posisi saling merangkul dengan Clara yg sedang sibuk menghapus air mata Kak Sinta dengan sapu tangannya seperti adik-kakak yg sangat akrab.
“Nah sekarang cantik nih, ayo senyum.” lanjutku yg kembali membidik mereka dan direspon dengan senyum anggun keduanya.
“Hey nji kau panggilkan lah orang untuk mengambilkan foto biar bisa bersama.” pinta Ayahku yg membuatku menoleh kanan kiri mencari orang untuk dimintai tolong namun sepertinya mereka semua sedang sibuk larut dalam suasana haru bahagia dengan keluarga serta kerabat masing-masing.
Aku tersenyum saat itu, aku selalu suka suasana wisuda. Sebuah momen kebahagian, haru, rasa bangga semua bercampur menjadi satu. Sebuah momen dimana orang yang paling bahagia menurutku saat itu bukan lah para wisudawan melainkan orangtua mereka.
“Pah Mah kenalin Farid.” ujar Kak Sinta yg membuatku menoleh kearahnya saat ia menggandeng seorang pria berpakaian rapih kepada Ayah dan Ibuku untuk berkenalan.
“Pacar Kak Sinta bo?” tanya Clara yg mendekat seraya merangkul tanganku.
“Ga tau ra, mungkin.” jawabku yg masih memperhatikan mereka berbincang berkenalan.
“Heh mata empat sini!” tegur Kak Sinta berbalik kearahku yg membuatku menunjuk jari telunjuk kearah wajahku untuk memastikan yg ia maksud adalah aku.
“Iyalah siapa lagi.” sahutnya sambil tertawa.
“Sialan lo.” timpalku protes seraya menghampirinya dengan menggandeng Clara disampingku.
“Farid kenalin ini Panji adik ku, dan ini Clara adik iparku. Calon sih hihihi.” ujar Kak Sinta memperkenalkan kami dengannya sambil tertawa centil.
“Panji.” sahutku sambil mengulurkan tanganku kepadanya yg dibalasnya sambil tersenyum ramah dan bergantian dengan Clara.
“Mempekenalkan sebagai apa nih?” lanjutku bertanya kearah Kak Sinta sambil menaikan alisku.
“Temen ko temen. Temen spesial.” jawab Kak Sinta sambil tersenyum ke arah Farid yg juga dibalasnya dengan senyuman ramah.
“Martabak kali ah spesial.” ujarku tak puas mendengar jawaban Kak Sinta dan kami semua pun tertawa.
Aku cukup heran dengan Kak Sinta, semenjak hubungan LDR dengan mantannya dulu sempat gagal karena diselingkuhi oleh sahabat sendiri, ia sudah tidak pernah lagi mau berpacaran. Hubungan pria yg dekat dengannya hanya sebatas teman, tak heran jika banyak diantara mereka yg menyerah karena digantung tanpa status oleh Kak Sinta meski kedekatannya sudah seperti orang berpacaran.
“Jadi cowo yg kemaren lagi deket ama lo udah loss contact lagi? Lo mau sampe kapan sih Kak ga bisa move on gitu?” tanyaku pada Kak Sinta saat kami mengobrol beberapa bulan lalu di jalan pulang dari memancing dengan Ayahku.
“Justru dengan punya prinsip kaya sekarang ini gue udah move on kali nji, gue nyari pasangan yg ga mementingkan status. Dan kalo gue udah nemu pasangan yg satu prinsip sama gue, udah ga perlu pacaran lagi. Gue minta buat nikahin gue langsung” jawabnya mantap yg membuatku mengerutkan dahi, aku tak paham cara bepikirnya hanya saja sekali lagi setiap manusia punya prinsip hidup masing-masing dan buatku hal itu sah-sah saja.
Kembali ke masa sekarang, setelah berfoto bersama dibantu oleh seorang adik kelas temannya Kak Sinta, kami pun beranjak ke restoran di salah satu hotel di Semarang untuk makan siang sambil merayakan kelulusan Kak Sinta.
“Jadi nak Farid ini sekarang sudah kerja di Jakarta?” tanya Ibuku ditengah obrolan makan kami siang itu.
“Iya Tante, sudah delapan bulan.” jawab Farid sambil tersenyum.
“Farid ini setahun diatas aku mah.” lanjut Kak Sinta menambahi.
“Bagus itu, berarti Sinta sudah tidak punya alasan untuk berlama-lama di Semarang dan bisa segera kembali ke Jakarta menemani Mamanya sambil mencari kerja disana.” jelas Ayahku masih dengan nada bataknya yg maksa.
“Betul itu Sinta, kamu setelah selesai semua urusan disini langsung pulang yah.” sahut Ibuku semangat menyambut Kak Sinta kembali.
“Iya maaah.” jawab Kak Sinta menyanggupi sambil tersenyum.
“Kalo gitu, Panji ga harus pulang sering-sering lagi dong.” timpalku semangat mengetahui Kak Sinta yg akan kembali tinggal di Jakarta.
“Heh! Enak aja kamu. Mah bilangin Panji harus tetep pulang kaya biasa.” sahut Clara protes tak terima mengadu pada Ibuku, ya semenjak balikan denganku Clara kembali memanggil Ibuku dengan sebutan Mama.
“Noh nji, bukan cuma Mama loh yg minta.” jawab Ibuku sambil tersenyum kearah Clara. Sementara Clara masih melotot kearahku yg belum memberikan jawaban.
“Iya ra iya pulang.” balasku sambil tertawa meledeknya dan kami semua pun ikut tertawa.
“Oh iya ngomong-ngomong nanti Clara pulang gimana? Panji udah beli tiket kereta kan ke Bandung?” lanjut Ibuku menanyakan rencana kami.
“Clara ikut Panji mah ke Bandung mau ada acara gitu ama Regas juga.” jawab Clara tersenyum namun membuatku mengerutkan dahi mengingat tidak ada rencana seperti itu sebelumnya.
“Oh ya udah kalo gitu, perlu dianter nanti ke stasiunnya?” tanya Ibuku lagi sambil memandang kearahku meminta jawaban.
“Ga usah mah, Panji ama Clara nanti naik taksi aja.” jawabku mengingat Ayah dan Ibuku pun baru sampai Semarang dini hari tadi sehingga pasti masih lelah.
“Oke kalo gitu kalian hati-hati yah. Rencananya Papa, Mama, dan Ka Sinta disini sampe lusa dan besok mau ke Jogja mampir nengok Mbah Romo. Kamu pulang dari Bandungnya nanti aja nji nunggu kami sampe Jakarta.” pinta Ibuku sekalian menjelaskan rencana mereka selama di Semarang yg kujawab dengan mengangguk. Mbah Romo itu orangtua lelaki Ibuku, dengan kata lain Kakek ku dari Ibu.
Kami pun akhirnya pamit berpisah didepan hotel untuk kembali ke Bandung dengan menaiki taksi, sambil salaman dan berpelukan dengan Ayah, Ibu, Kak Sinta dan Farid.
“Kabarin yah kalo sudah sampai Bandung.” sahut Ibuku saat kami membuka kaca taksi untuk melambaikan tangan.
“Salam juga buat Mbah Romo.” timpalku dan taksi ini pun berlalu meninggalkan mereka.
“Bandara ya pak.” ucap Clara saat di taksi yang membuatku mengerutkan dahi.
“Kamu jadinya langsung ke Jakarta?” tanyaku heran yg memang tidak tahu rencana Clara.
“Bandung.” jawabnya singkat seraya menyandarkan kepalanya dibahku.
“Terus kita pisah? Kamu naik pesawat?” tanyaku lagi yg masih tidak paham.
“Bareng kamu lah bo, kita naik pesawat aja biar cepet sampe Bandung jadi bisa jalan-jalan hihihi.” jawabnya centil.
Sejujurnya aku tidak suka dengan sikap Clara yg seperti ini, memutuskan segala sesuatu secara sepihak sehingga harus menghabiskan uang yg tidak sedikit untuk membeli tiket pesawat belum lagi tiket keretaku yg hangus tentunya. Jika aku protes sekarang aku yakin hanya akan membuat kami berdebat tak berujung.
Kalian tahu Clara berasal dari keluarga yg memang kondisi ekonominya diatas rata-rata sehingga uang tidak pernah menjadi masalah baginya, namun aku tidak suka jika ia melibatkan atau memfasilitasiku juga dalam kebebasannya tersebut. Namun saat ini sepertinya bukan waktu yg tepat untuk membahas masalah ini dengannya, mengingat kami masih sama-sama lelah.

Kami mendarat di Bandara Husen Sastranegara sekitar pukul 9 malam lewat karena tadi baru mendapat penerbangan jam 8 dari Semarang.
“Kamu mau nyari hotel lagi?” tanyaku saat kami berjalan kearah lobby utama bandara untuk mencari taksi.
“Kemana aja asal ama kamu bo.” jawabnya centil yg membuatku menggelengkan kepala.
“Besok kamu pulang kan?” tanyaku lagi meminta penjelasan rencananya di Bandung.
“Senin aja ah bareng kamu, aku masih mau jalan-jalan di Bandung.” sahutnya yg kurespon dengan mengerutkan dahi.
“Senin kamu bukannya ada ujian?” lanjutku lagi heran.
“Kamu juga kan pagi? Terakhir kan? Jadi abis itu kita bareng pulang ke Jakarta sekalian kamu nemenin aku ujian sorenya.” balasnya santai.
“Ra? Kamu mending besok aja pulangnya biar bisa istirahat. Aku lusa langsung pulang deh ke Jakarta.” tawarku mencoba menolak rencana Clara yg sangat padat, mendengarnya saja aku sudah lelah.
“Ga mau ih, aku masih kangen sama kamu.” sahutnya ketus sambil cemberut.
“Kita udah tiga hari loh bareng, abis itu juga kan aku bakal di Jakarta sebulan lebih.” hiburku yang masih mencoba menolak idenya karena memang libur semester genap ini lebih panjang dari semester ganjil.
“Siapa suruh nidurin aku, jadi ga bisa lepaskan sekarang maunya nempel terus sama kamu.” jawabnya asal yg membuatku langsung menutup mulutnya.
“Heh kalo ngomong, ga enak ih didenger orang.” sahutku panik.
“Makannya nurut! Anggap aja aku ngidam hamil anak kamu!!” lanjutnya lagi yg langsung kuiyakan sebelum omongan Clara semakin ngaco.
“Iya ra iyaaaa. Tapi itu omongan direm kali.” jawabku protes dan pasrah atas sikap keras kepala Clara yg diresponnya dengan senyum puas penuh kemenangan.
“Untung gue sayang.” celetuk ku yg masih kesal.
“Apa?” tanyanya yg tak mendengar perkataan ku.
“Gak.” jawabku singkat yg dibalas dengan cubitan diperutku.
Aku pun segera menghentikan taksi dan menaikinya sambil dikejar Clara yg masih penasaran dengan perkataanku.
Malam itu akhirnya kami berdua kembali menginap di hotel di daerah Juanda. Mengingat meski kosan ku bebas, namun penjaganya mengenal baik Ayah dan Ibuku sehingga aku tidak enak jika mengajak Clara menginap disana.

Ilustrasi Clara

“Bo mandi sana kamu sayang.” ujar Clara kepada aku yg sedang asik didepan notebook untuk mensketsa gambar di aplikasi Autocad.
“Iya ra tanggung.” jawabku yg masih fokus pada notebook tanpa menoleh.
“Emang lebih menarik gambar dibanding aku.” sahut Clara seraya melingkarkan tangannya dileherku dari belakang. Sepertinya Clara baru selesai mandi, basah dan harum aroma sabun memenuhi hidungku yg membuatku menoleh kearahnya dan benar saja ia terlihat hanya menggunakan handuk model kimono yg membuatku darah ku berdesir.
“Heh ko bengong? Perlu ditemenin apa mandinya?” goda Clara sambil melepas kacamata yg menggantung dihidungku dan mengecup pipiku yg membuatku menelan ludah.
“Boleh ra?” jawabku terbata-bata yg direspon Clara dengan menarik tanganku untuk bangkit dan mengikutinya berjalan kearah kamar mandi. Seperti terhipnotis, aku mengikutinya dari belakang dan terpatung begitu didepan pintu kamar mandi. Clara memasuki ruang kotak kaca seraya melepas kimono handuknya hingga terjatuh dilantai tanpa menyisakan satu pakaian pun ditubuhnya lalu menyalakan shower dengan suhu panas yg membuat uap mengembun memenuhi kotak kaca bening tersebut.
Aku hanya diam terpaku memperhatikannya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatku berdiri.
“Sayaaang sini, ga ada tawaran ketiga loh.” ucapnya dari bilik tersebut yg memecah lamunanku untuk segera melepas semua pakaian yg menempel ditubuhku dan menyusul Clara masuk kedalam kotak kaca tersebut.
Clara sudah memenuhi tubuhnya dengan busa sabun yg menutupi bagian vitalnya, lalu berjalan mendekatiku yg masih terpesona akan indah tubuhnya untuk berdiri dibawah shower.
Tangannya melingkar dileherku dan mulai mendekatkan wajah kami untuk berciuman, bibirnya mulai menempel dan bergerak mengecup lembut yg kurespon dengan mengulum bibir bawahnya namun segera dilepas oleh Clara.
“Kamu diem aja.” pintanya dengan wajah sendu yg menambah kecantikannya.
Bibirnya mulai kembali mengecup dan mengulum bibir bawahku sambil sesekali memainkan lidahnya menyapu bibirku yg membuat rasa basah dan geli. Aku yg tidak tahan kembali menggerakan bibirku untuk membalas ciuman Clara namun lagi-lagi ia malah menghentikan aktifitasnya.
“Bisa diem ga?” tatapnya tajam yg membuat darah diotakku berontak melepaskan dopamin karena menahan birahi untuk menikmati bibir Clara.
Ia kembali mendekatkan bibirnya namun kedaguku, dikecupnya lembut lalu naik kearah pipiku hingga menuju bagian belakang telingaku yg menimbulkan rasa linu seperti tersetrum namun nikmat.
“Sshhmmm.” lenguhku karena merasa tak tahan akan perlakuan Clara.
“Katanya jagoan, baru gitu udah ga kuat.” ledek Clara sambil terkekeh manja.
“Kamu nyiksa aku ra.” jawabku sambil memajukan bibirku kearah bibirnya dan melumatnya, kami pun kembali berciuman namun kali ini kami berdua saling memburu nikmat bibir masing-masing. Aku mengulum bibir bawahnya sambil menggigitnya gemas yg dibalas Clara dengan mengecup lembut bibir atasku seraya menyapunya sesekali dengan lidahnya.
Mataku tertuju pada tubuh Clara yang sudah tidak lagi tertutup busa sabun karena terhapus oleh siraman shower yg menyirami kami. Tanganku bergerak ingin merengkuh buah dadanya yg sekal dan menantang namun seakan bisa membaca maksudku tangan ini segera ditepis oleh Clara.
“Kemarin kan kamu yg layanin aku, sekarang gantian. Jadi kamu diem aja sayang.” bisiknya lirih ditelingaku disertai hembusan nafas hangat yg menaikan libidoku.
Bibir Clara turun menciumi leherku memberi kecupan lembut dan sesekali membasahinya dengan sapuan lidahnya seraya tangannya tetap melingkar dileherku mendekatkan badan kami hingga dua bongkah buah dadanya menempel pada dadaku seraya terus bergerak menciumi leherku, puting buah dadanya pun ikut bergerak bergesekan dengan dadaku yg membuat aku kelojotan menahan nikmat rangsangan ini.
“Mmmuach mmhhh.” bunyi setiap kecupan dan desahan lirih Clara yg semakin membuat panas suasan pergumulan ku dengannya didalam bilik kotak kaca kamar mandi ini.
“Ra aku ga kuat.” sahutku yg segera melepas wajahnya yg sedang menciumi leher lalu mendorongnya ke dinding keramik kamar mandi ini dan bergantian menguasai keadaan. Aku langsung kembali melumat habis bibirnya disertai hisapan penuh birahi pada bibir dan lidah Clara, ia awalnya kerepotan mengimbangi ciumanku namun akhirnya perlahan mampu mengikuti pergumulan sehingga bibir kami saling mencumbu dan mengeksplor kenikmatan masing-masing.
“Sshhh mmmmuachhh hmmmm booo.” rintihnya ditengah ciuman kami, tanganku menggenggam erat tangannya menempel didinding keramik kamar mandi ini lalu mengangkatnya keatas. Aku mulai melepas ciumanku dari bibirnya dan berpindah menuruni lehernya dengan memberi kecupan dan jilatan disetiap sentinya.
Kecupan ini semakin bergerak kearah bukit buah dadanya yg sudah membusung seksi, perlahan ciumanku menikmati bagian lingkar buah dadanya dengan gerakan memutar semakin kedalam mendekati wilayah aerolanya yg berwarna coklat muda dan mengulumnya tepat diputing buah dadanya yg membuat Clara langsung menggelinjang menerima rangsangan nikmat diarea vitalnya.
“Aachh sayanggg geliii.” rintihnya sambil menjambak rambutku.
Aku melepas sesaat dan mendongak menatap wajahnya yg sayu dan dibalasnya dengan tatapan seksi sambil tersenyum.
“Suka sayang?” tanyanya berbisik yg hanya kujawab dengan senyum mengangguk lalu melanjutkan aktifitas menikmati buah dadanya.
“Hmmmm booo enak sayaaang.” lanjutnya merintih nikmat ketika kulumanku pada buah dadanya disertai jilatan lidahku.
Tongkat kejantananku yg sedari tadi tegak menggantung mulai dirangsang oleh Clara yg melakukan perlawanan. Tangannya menggenggam perlahan dan mulai bergerak naik turun memberikan kocokan nikmat pada bagian vitalku.
“Enakkk sshh sayaaanggghhh akkuu eluussnh iniii??” tanyanya sambil mendesah nikmat karena aku belum berhenti menikmati buah dada Clara.
“Bangetthhh.” jawabku singkat sambil meneruskan kulumanku.
Tanganku mulai ikut memberikan rangsangan pada buah dada kanan Clara yg juga sedang ku kulum sedaritadi dan menggantinya dengan remasan lembut dan ciuman ini berpindah ke buah dada kiri Clara. Ku kecup langsung puting kirinya yang sudah mengacung keras dan menjilatinya.
“Aaahhh boo kamu appaaiinnn enakkkk.” rintih Clara yg semakin tidak terkontrol karena merasakan nikmat pada kedua bongkah buah dadanya. Kocokannya pada batang kontolku semakin dipercepat yg membuatku harus menahan linu karena semakin nikmat. Aku mulai mengulum buah dadanya yg kanan dan kiri secara bergantian sambil kuremas lembut yg membuat Clara semakin kelojotan menahan nikmat.
“Ahhh udahhh sayannggg lepasss.” sahutnya sambil mendorong kepalaku menjauhi buah dadanya.
“Nakal, aku bales sini.” ujarnya sambil menatap nakal diriku seraya berlutut dan mengenggam erat batang kontolku yg tegak berdiri didepan wajahnya.
Clara menatapku dengan wajah sendu yg membuat sensual dirinya dan sukses membuatku jatuh hati lagi padanya. Ia mulai menggerakan naik turun tangannya pada kontolku dan menjulurkan lidahnya menjilati bagian selangkangan perlahan menuju pangkal batang kejantan ini.
Dijilatnya perlahan menulusuri garis kontol bawahku menyapunya dengan lidahnya sambil sesekali memberi kecupan lembut dan ditutup dengan melahap bagian kepala kontolku kedalam mulutnya. Clara mulai memberikan kuluman pada servis blowjobnya kepadaku yg membuatku terasa tersetrum nikmat.
“Aakhhh raa enakkkkhhh.” teriak ku mendesah kenikmatan menerima kuluman Clara yg membuatnya semakin menaikan tempo kulumannya naik turun sambil tangannya tetap mengocok pangkal batangku yg tidak masuk kedalam mulutnya.
“Hmmmphhh slrrpppp hmmm.” hanya itu bunyi yg terdengar dari mulut Clara yg sedang menikmati batang kejantananku.
Rasa linu geli dan nikmat ini mulai menjalar keujung kepala kontolku yg membuatku merasa seperti akan orgasme namun aku coba sebisa mungkin menahannya.
“Raa udaah rraa ga kuaatt.” desahku menyerah atas servis blowjob Clara sebelum orgasme. Clara pun melepas kulumannya dan bangkit mencium bibirku.
“Pindah yuk sayang.” pintanya manja yg tentu kujawab dengan mengangguk.
Kamipun berjalan keluar kamar mandi tanpa peduli badan ini yg basah dan naik keatas kasur dengan posisi Clara dibawah tubuhku. Senyum wajah sensualnya membuat ku selalu jatuh cinta pada wanita cantik ini.
“Bo, boleh nanya?” ujar Clara saat aku bermaksud mendekati wajahnya untuk kembali mencumbunya.
“Apa ra?” jawabku menunggu pertanyannya.
“Kamu ga nganggep aku murahan kan?” selidiknya dengan muka cemas yg kurespon dengan ketawa.
“Ko ketawa.” sahutnya sambil memukul bahuku.
“Lagian pertanyaan kamu aneh.” jawabku sambil tersenyum.
“Kenapa aku harus berpikir kamu seperti itu Clara Anastasya sayang?” sahutku berbalik bertanya padanya.
“Tadi kan aku yg mulai godain kamu.” balasnya dengan wajah memerah yg membuatku gemas dan mengecup keningnya.
“Itu bukan murah, itu sensual.” jawabku memujinya yg direspon Clara dengan mencubit perutku.
“Boleh aku lanjutin?” pintaku sambil mengelus rambutnya yg ia jawab dengan senyum dan mengangguk.
“Pelan-pelan ya sayang.” pintanya lirih seraya ku kecup bibirnya yg dibalas dengan kuluman lembut.
Kejantanku kembali berontak saat tadi sempat istirahat ditempat karena obrolan dengan Clara.
Tanganku kembali merengkuh buah dada kirinya secara lembut dengan gerakan memutar yg membuat Clara kembali menggelinjang seksi.
“Pake bibir kamu bo.” pintanya lirih yg kuturuti dengan menuruni kecupanku dari bibir menuju leher hingga dadanya dan berpindah ke buah dadanya. Mengulumnya lembut sambil sesekali memainkan lidahku diputingnya. Gerakan tersebut kuulangi bergantian pada buah dada kanan dan kirinya yg membuat Clara semakin mengacak-ngacak rambutku.
“Hmmmm boo sshhh uhhh.” desahnya berbisik menambah suasana pergumulan kami semakin bergolak.
Setelah puas berlama menikmati buah dada Clara yg sekal dan ranum yg membuatnya terus menggelinjang aku mulai turun menuju perut mulusnya yg rata, mengecup dan menyapunya dengan lidahku lalu semakin kearah kewanitaannya yg mulus.
Seakan paham maksudku, Clara membuka lebar selangkangannya membuatku ciuman ku mudah menuju vaginanya dan mulai mengecup bibir vaginanya lembut.
“Hmmm bo.” rintihnya terkejut saat bibirku mengecup belahan vaginanya lalu mulai membuat gerakan ciuman dan kuluman seperti bercumbu dengan bibir Clara.
Perlahan lidahku kumainkan untuk menikmati setiap senti belahan vaginanya terutama dibagian klitoris yg ketika menyentuhnya membuat Clara tersentak hebat.
“Aaakhhh bo gila kaammmuhhh apaainnhh.” desahnya menikmati perlakuanku. Saat ku kulum bagian klitorisnya Clara teriak keenakan dan menjepit dalam wajahku yg terbenam didalam selangkanganya.
“Aaakhhhhhhhh” teriaknya dengan posisi menekukan tubuhnya yg kupikir ia dilanda orgasme. Aku terpatung sejenak karena gerakan Clara tadi yg membuatnya ngos-ngosan.
“Kamu gak apa-apa sayang?” tanyaku bangkit menuju wajahnya.
“Aku keluar bo. Kamu jahat.” jawabnya sambil tersenyum sensual yg membuat kami berciuman. Batang kejantananku semakin tegak dipenuhi birahi mengetahui Clara mendapatkan orgasmenya.
“Aku masukin yah.” ijinku yg sudah tak kuat menahan libido diubun-ubun karena tumpahan dopamin yg begitu menumpuk. Clara hanya mengangguk lemah yg tanpa menunggu persetujuannya lagi aku arahkan batang kontolku ke belahan vaginannya sudah becek karena cairan cintanya.
Sesekali kugesek pelan yg direspon Clara dengan merintih dan dengan sekali hentakan perlahan kontolku memasuki vagina Clara yg membuatnya meringis menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
“Sakit sayang?” tanyaku yg hanya ia respon dengan menggelengkan kepala.
“Lanjutin bo pelan-pelan.” pintanya yg segera kuturuti sambil mengecup bibirnya.
“Sleeeebbbbbb.” suara kelamin kami ketika bersatu yg membuat Clara mendesah lirih sambil merangkul tangannya dileherku.
Perlahan kugerakan pinggulku maju mundur untuk membuat batang kejantanku ini keluar masuk vagina Clara yg sangat sempit dan terasa menjepit nikmat, linu dan geli memenuhi saraf kelaminku.
“Aahhh enak banget kamu raaa.” rintihku disela persetubuhan ini yg direspon Clara dengan tersenyum seksi.
“Buat kamu sayangghhmmmm.” jawabnya sambil mendesah dan menggigit bibirnya menahan nikmat.
Tempo gerakan genjotan ini perlahan ku percepat yg membuat kami semakin berpacu dalam memenuhi nafsu masing-masing.
“Hhmmm boo.” rintih Clara sambil memejamkan matanya.
“Iyahh enakkk yahh ra?” sahutku menimpali desahan Clara.
“Kamuuuhhh amaa Andiniii adaaa hubbungann apaaa?” tanya Clara yg membuatku kaget terdiam dan menghentikan gerakan ku sambil mengatur nafas. Anjir ada apa ini Clara tiba-tiba menanyakan hubungan ku dengan Andini ditengah persetubuhan kami umpatku dalam hati.
“Maksud kamu apa sih ra?” tanyaku balik menyelidik sambil menatap wajahnya yg tersenyum. Clara bangkit dari posisinya dan mendorong tubuhku hingga terlentang lalu mengambil posisi diatas dengan kontolku yg masih tertancap di vaginanya. Ia pun mulai menggerakan pinggulnya naik turun membuat vaginanya melumat habis kontolku.
“Aahhh raa enakkk bangettt.” desahku menerima perlakuan Clara.
“Enakkk kan booo. Jawabb makannyyaa Andini itu yangg dulu kamuuu deketinnn kaaann hmmmm.” lanjut Clara menginterogasiku ditengah persetubuhan kami.
“Sshh hmmm iya raa tapi ga jadi, enakan kamuuuuhhh.” jawabku ngaco karena otak ini sudah dipenuh dopamin kenikmatan atas genjotan Clara diatas batang kejantananku.
“Ahhhh boo, hmmm teruusshh ko masihh dekeetthhh.” lanjut Clara yg melakukan interogasi ditengah pergumulan ini, gila aku dibuatnya. Tak bisa berpikir logis untuk menjawab, aku yakin apabila Clara bertanya soal Helen bisa saja membuatku keceplosan.
Aku yang sudah tak tahan dengan sikap Clara tak membalas jawabannya melainkan hanya bergerak memposiskan selangkanganku sedikit naik seraya menahan pantat bulatnya dengan tanganku lalu menghujam vaginanya dengan tempo cepat.
“Aakhh yg pastiihh ga pernnahhh dibikkinnn enakk kaya kamuuuhhh.” jawabku lagi asal disela genjotan sambil mendesah nikmat.
“Aaw hhmmpphh uuhh boo enakkhh bangettthh aaakkkkkkhhhh.” rintih Clara berteriak menikmati serangan balik diriku atas perlakuannya.
Batang kontolku keluar masuk menggesek dinding vaginanya yg sempit dan licin hingga mentok yg membuat bunyi plok plok plok dari pertumpukan selangkangan kami berdua.
“Aaaaaakhhhh boooo keluaarrrrr.” teriak Clara yg mencapai orgasmenya lagi namun tetap ku genjot tanpa memberinya istirahat karena akupun mengejar orgasmeku. Kuangkat tubuhnya untuk melepas batang kontolku dari vaginanya dan menaruh tubuh Clara disamping lalu menumpahkan semua spermaku di kasur. Croooottt crooooot crooottt croootttt lenguhku saat kontolku menembakan sisa orgasme.
“Enak banget kamu sayang.” jawabku sambil membelai rambut Clara yg terlentang disampingku.
Clara membalik badannya kearahku membiarkan tubuhnya terkena sisa sperma tadi hanya untuk mencium bibirku. Kami berciuman mesra.
“Aku sayang banget sama kamu bo.” ujarnya sambil tersenyum manis.
“Aku lebih sayang banget sama kamu ra.” jawabku sambil merengkuh kepalanya untuk menempel didadaku.
“Bo, kamu ga akan jatuh hati lagi kan sama Andini?” ucap Clara dengan nada getir yg semakin membenamkan wajahnya dalam pelukanku.
“Ra, aku ama Andini cuma temen.” jawabku mencoba mengusir kecurigaan Clara.
“Kamu kira kita sebelumnya apaan? Majikan ama bawahan? Andini cantik gitu, bener kata Helen aku mah lewat.” timpalnya sambil sesegukan seperti menahan tangis.
“Terus kamu mau aku gimana ra? Aku selama ini kan temenan ga cuma berdua tapi ama Regas juga.” jawabku berkilah atas tuduhan Clara yg sepertinya memang cemburu akan hubungan ku dan Andini.
“Ajarin aku percaya sama kamu bo.” lanjut Clara yg mulai meneteskan air mata, aku yakin dalam hatinya sedang bergejolak antara cemburu ingin mengekangku untuk menjauhi Andini dan juga rasa ingin menahan cemburu untuk menjadi dewasa karena tak mau lagi melakukan kesalahan dengan sikap keras kepala seperti yg dulu dan membuat hubungan kami sempat putus.
“Aku juga harus jaga kepercayaan kamu ra, tolong ingetin aku kalo mulai salah.” ujarku menghiburnya sambil memeluknya erat yg dijawab Clara dengan mengagguk dan melanjuti tangisannya sambil terus ku elus rambutnya untuk menenangkannya.

Paginya aku terbangun dalam kondisi belum berpakaian, sepertinya semalam kami berdua tertidur karena lelah. Ketika bangkit dari tidur sambil mencoba menjernihkan penglihatanku dengan mengucek mata ini aku mendapati Clara sedang berdiri disamping tv dengan berbusana dress tanktop sepaha membuatnya sangat anggun dan seksi sambil membuat teh.
“Pagi sayang.” sapanya sambil tersenyum kearah cermin didepannya kearahku.
“Hey pagi.” jawabku yg terpaku melihat wajah cantiknya yg selalu membuat hati ini luluh untuk jatuh cinta. Clara membalikan badannya sambil membawa secangkir teh ke arahku yg segera kutarik tangannya untuk kerengkuh.
“Bo pelan-pelan nanti tumpah.” ucapnya panik sambil menjaga keseimbangan karena tarikan ku pada tangganya tadi membuatnya hampir jatuh.
“Eh iya maaf.” sahutku sambil tertawa. Clara pun menyerahkan teh panasnya yg kuambil dan kuseruput sedikit lalu menaruhnya kembali
“Bilangin Helen dong, kalo dia salah. Ga ada yg lebih cantik dari kamu dan bisa bikin aku jatuh hati berkali-kali gini.” godaku yg terus menerus menatap wajah cantik Clara dan membuat wajahnya merah tersipu malu seraya menggenggam tangannya.
“Gombal.” sahutnya sambil mendekatkan wajahnya kearah ku dan segera kukecup bibirnya.
Sambil tetap berciuman kutarik tubuh Clara untuk jatuh diatas kasur dan segera ku tindih.
“Ihhh ga mau kamu belom mandi!” protesnya saat aku bermaksud mencumbu bibirnya lagi.
“Siapa suruh bikin ketagihan.” godaku lagi sambil membenamkan wajahku kelehernya.
“Centil!” jawab Clara dengan senyuman cantiknya yg menggoda.
Pagi itu rasanya tidak perlu lagi aku ceritakan apa yg terjadi pada kami, dua insan yg sedang jatuh hati dan di mabuk asmara dalam sebuah kamar hotel yg romantis.

“Ra kamu bener ga mau pulang sore ini aja?” tanyaku yg masih mencoba membujuknya untuk tidak pulang besok saat kami makan siang di restoran hotel tersebut.
“Gak.” jawabnya singkat sambil tetap menikmati tenderloin pesanannya.
“Tapi Clara sayang, kalo ikutin rencana kamu, kita kan harus naik pesawat biar ngejar jadwal ujian kamu sedangkan aku..” belum aku menyelesaikan kalimat ku segera dipotong oleh Clara yg sepertinya paham arah pembicaraan ini.
“Emang kenapa sih bo kalo aku yg bayar tiket pesawatnya? Kan aku yg minta. Kamu bisa ga sih ga usah mikirin hal yg ga pernah aku permasalahkan. Toh hotel ini aja kamu yg bayar kan. Kita impas ko sama-sama.” jelasnya yg mulai kesal. Sesuai dugaanku Clara pasti tidak terima apabila aku membahas hal ini, untuk sementara aku hanya bisa mengalah seraya mengehela nafas panjang.
“Kamu mau kemana hari ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“FO yuk, aku mau belanja. Mama juga mesen sesuatu.” jawabnya semangat seolah lupa dengan masalah tadi yg kujawab hanya dengan mengangguk dan tersenyum kearahnya.
Hari itu kami seharian keliling FO dan Mall didaerah Cihampelas hingga malam baru kembali lagi ke hotel dengan belanjaan seabrek yg sukses membuat kaki ku terasa mati rasa, lain kali aku akan berpikir dua kali sebelum mengiyakan permintaan Clara untuk belanja.

Senin paginya aku berangkat lebih dahulu ke kampus, Clara ku minta menyusul saja sekitar tiga puluh menit sebelum kelas ku bubar agar tak perlu menunggu sendirian di kampus yg ia turuti.
Sesampainya di kampus, aku bertemu wanita cantik yg hari itu berdandan anggun dengan kemeja navy lengan pendek sepaha dipadu celana legging hitam menyapaku ramah di selasar fakultas.
“Hey cowo! Udah jadi jomblo lagi hari ini?” ledeknya padaku yg sedang berjalan sendirian.
“Nyapa ga ada manis-manisnya. Pagi kek, apa kabar kek.” protesku pada Andini yg sedang puas ketawa cekikikan.

Ilustrasi Andini

“Duilah yg ditinggal pacar udah ngambek aja pagi-pagi.” balasnya sambil memoles daguku.
“Sialan lo! Clara masih ada ko, hari ini baru mau pulang.” jawabku merespon balik Andini sambil menjulurkan lidah kearahnya meledek tebakannya yg salah.
“Oh iya? Mana yayangmu?” tanyanya sambil menoleh kanan kiri.
“Nanti nyusul abis kelas.” sahutku lagi pada Andini.
“Yah, masih libur dong jatah pacaran aku sama kamu.” keluhnya manja sambil cemberut.
“Yeee ngarep, sana balik ke pacarmu wahai wanita yg sudah meninggalkanku demi yg lain.” jawabku meledek Andini yg direspon dengan memukul bahu ku.
“Heh! Kamu yg nyuruh aku milih dia, enak aja. Lagian siapa yg ninggalin kamu? Kita belom pernah putus tau!” sahutnya tak terima.
“Bodo. Udah ah aku kelas duluan yah.” ujarku pamit pada Andini seraya meninggalkannya.
“Goodluck ujiannya sayang!!” teriaknya yg kubalas dengan mengacungkan simbol cinta dengan kedua jari tangan jempol dan telunjuk ku kearahnya dan direspon tawa oleh Andini.
Sedekat itu hubungan ku dengan Andini yang kuakui jika mengingat status kami yg sudah sama-sama memiliki kekasih tentu kemesraan kami sudah kelewat batas meski dilabeli predikat sahabat. Aku tau cepat atau lambat hal ini akan berdampak buruk pada hubungan kami dengan pasangan masing-masing, ditambah harus ku akui jika Clara atau Dika melihat kedekatan kami tentu tidak akan terima.
Namun ku rasa aku perlu waktu untuk membicarakan hal ini dengan Andini, ya ya sudah dua bulan ini tak ada sedikitpun usaha ku untuk membahas ini semenjak jadiannya Andini dengan Dika serta balikannya Aku dan Clara. Entah lah, aku merasa bingung harus mulai darimana malah terlarut menikmati kedekatan.
Selepas kelas aku menerima pesan singkat dari Clara yg mengabari sudah menunggu ku di kantin, dan segera aku menyusulnya kesana namun sesampainya di kantin yg kudapati adalah Clara sedang asik berbincang akrab sambil sesekali tertawa dengan Andini. Sejujurnya aku tidak suka pemandangan ini, melihat dua wanita akur entah kenapa membuatku khawatir dan parno.
“Hey.” sapaku pada mereka berdua yg direspon senyum cantik keduanya.
“Sini sayang duduk.” tawar Clara padaku untuk duduk disampingnya.
“Kalian akrab banget kayanya.” tanyaku heran atas sikap keduanya yg bisa dekat dalam waktu singkat.
“Iya dong, Andini mulai sekarang jadi mata-mataku buat ngawasin kamu. Iya kan Andini?” sahut Clara sambil menaikan alisnya kearah Andini yg diresponnya dengan mengangguk semangat.
“Aman ra pokoknya! Ga bakal berani macem-macem cowo mu.” jawab Andini.
“Clara lo racunin apaan?” ketusku curiga pada Andini sambil mengerutkan dahi meminta jawabannya yg membuatnya Andini cukup lama terdiam, aku berpikir mungkin karena aku menggunakan kata ganti lo dari yg biasanya kamu.
“Ada deh, rahasia wanita.” jawabnya sambil melirik kearah Clara dan ikut menaikan alisnya.
“Kamu udah makan bo?” tanya Clara menoleh padaku.
“Gampang nanti aja, mending jalan sekarang yuk.” ajak ku pada Clara yg sesuai rencana kami akan kembali ke Jakarta siang ini.
“Oke. Andini maaf aku pamit yah, kamu liburan ke Jakarta dong kita ketemuan nanti.” pamit Clara ramah seraya bangkit dari duduknya sambil basa-basi mengajaknya liburan di Jakarta, ya entah sih hanya sekedar tawaran atau serius.
“Iya nanti aku ajak Dika yah.” balas Andini yg juga bangkit dan menyambut cipik cipiki Clara.
“Sampe ketemu lagi Andini cantik.” sahut Clara tersenyum.
“Hati-hati juga Clara cantik.” jawab Andini.
“Pamit ya din.” timpalku seraya mendekati Andini memajukan pipiku kearahnya menawarkan cipika cipiki yg menbuat Andini bergerak mundur.
“Ra cowo mu nih genit.” balas Andini mengadu pada Clara.
“Heh! Masih ada aku aja berani ganjen kamu yah.” tegur Clara mencubit perut ku dan disertai tawa kami bertiga. Aku pun hanya pamit bersalaman dengan Andini dan berlalu seraya melambaikan tangan kami berdua kearahnya.
Sesaat sebelum menaiki taksi bersama Clara, handphone ku berbunyi masuk sebuah pesan dan langsung kubuka karena dari Andini.

Kenapa aku cemburu yah liat kamu sama Clara.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang saat membacanya, menandainya dan menghapus. Kupikir nanti saja aku bahas langsung dengan Andini lewat telepon saat sudah sampai Jakarta.
Aku menjadi teringat akan omongan Regas beberapa waktu lalu saat ia menanyakan hubunganku dengan Andini yg semakin dekat.
“Kalo lo pernah menghapus pesan atau history telepon karena ga pengen Clara tau, itu artinya lo mengakui sendiri diri lo sebagai seorang yg sedang selingkuh.”
Ah sudah lah aku sedang tidak ingin berpikir apapun, aku lelah. Biarlah semua berjalan sebagaimana adanya dulu.
“Ra ko kamu bisa jadi deket gitu ama Andini? Semalem bukannya..” tanyaku pada Clara yg belum selesai kalimatku segera dipotong olehnya.
“Andini udah punya pacar kan? Dika yah? Aku tadi ketemu mereka. Jadi buat apa cemburu lagi sama kamu? Maafin aku ya bo.” jelasnya sambil tersenyum manis kearahku. Setidaknya untuk sementara waktu itu hal itu bisa menenangkan hati Clara, aku sengaja tidak cerita bahwa Andini sudah memiliki pacar sebelumnya kepada Clara. Biarlah ia menilaiku secara jujur dari penglihatan matanya sendiri bahwa aku hanya mencintainya, sedangkan Andini hanya teman tak lebih.

Sesampainya di Jakarta kami langsung menuju kampus Clara di Salemba menggunakan mobilnya yang sudah empat hari parkir di Bandara, aku yang mengetahui bahwa ia ke Bandara membawa mobil hanya bisa menggelengkan kepala. Sementara ia masuk kelas untuk mengikuti ujian, aku menunggunya di kantin kampus sambil meminum segelas Coffe Blended.
“Panji!” tegur Helen yang melihatku dan berpisah dengan teman-temannya lalu berjalan mendekat ke meja tempat aku duduk.
“Hey, sehat ci?” sapa ku membalasnya sambil tersenyum dan direspon Helen dengan mengangguk.
“Clara mana?” tanyanya sambil menoleh kanan kiri mencari Clara.
“Lagi di kelas.” jawabku singkat.
“Asik bisa berduaan dong kita hihi.” sahutnya centil.
“Ga usah macem-macem deh.” jawabku tertawa sambil menggelengkan kepala atas tingkah Helen.
“Kangen abisnya gue ama lo.” balas Helen sambil duduk disampingku dan melingkarkan tangannya dilenganku.
“Manja lo.” jawabku membiarkan Helen melendot dibahuku.

Ilustrasi Helen

“Eh kalian bukannya ke Semarang?” lanjutnya bertanya sambil menoleh kanan-kiri mencari pelayan kantin.
“Udah dari hari sabtu kali.” jelasku pada Helen.
“Oh terus kapan sampe Jakarta?” tanya Helen lagi seraya memanggil pelayan untuk meminta menu dan memesan beberapa makanan serta minuman.
“Baru aja sampe. Dari bandara langsung kesini.” jawabku lagi pada Helen ketika selesai memesan yg membuatnya beralih melirik ku penuh makna.
“Roman-romannya abis puas nginep bareng sampe ga bisa lepas nih.” ledek Helen sambil cekikikan.
“Sialan lo!” sahutku singkat karena tak bisa mengelak lagi dari tuduhan Helen.
“Ya elah nji, paham kali masih aja pura-pura sama gue hahaha.” lanjutnya puas meledeku yang kurespon dengan melempar tusuk gigi kearahnya. Helen yg penasaran semakin mendekatkan wajahnya kearahku yg ku respon mengerutkan dahi.
“Apaan?” tanyaku curiga kearahnya.
“Enakan mana sama gue?” sahutnya centil sambil tertawa dan membuatku salah tingkah.
“Masih aja ya dibahas.” timpalku seraya menempelkan buku tebal pegangannya ke muka Helan diiringi oleh tawa kami berdua.
“Udah lama nih gue ga dikelonin ama Angga.” lanjut Helen sambil menaikan alisnya menggodaku.
“Sana ke Surabaya.” balasku gantian meledeknya.
“Kalo di Jakarta ada yang lebih enak ngapain ke Surabaya.” sahutnya lagi sambil cekikikan yang membuatku menggelengkan kepala.
“Mesum banget lo ya ci, udah ah jangan dibahas.” elak ku yang mulai tidak ingin terbawa suasana dengan Helen.
Tak lama pelayan kantin pun menaruh pesanan Helen didepan meja kami, seporsi kwetiau goreng, kentang goreng dan Ice Lemon Tea.
“Banyak banget makan lo.” tanyaku heran karena biasanya Helen tak pernah makan sebanyak itu, ya ia tipe pemakan secuil porsi, sebelas dua belas dengan Clara.
“Pengen doang, bantuin ya.” ucapnya sambil mulai menyantap kwetiau gorengnya.
“Ngidam?” tanyaku meledeknya sambil tertawa.
“Iya kali, hamil anak lo.” balasnya asal yang langsung kubalas dengan menyumpal kentang goreng kemulutnya.
“Bacotnya ga di sekolahin ya.” sahutku.
“Orang terakhir yang nidurin gue itu elo Panjul!” timpal Helen cuek sambil menyendok kwetiau dan mengarahkannya kemulutnya.
“Anjir itu udah dua bulanan yang lalu ya, lo emang belom haid lagi?” tanyaku panik.
“Hahaha udah lah bego!” balasnya lalu tertawa puas karena sukses mengerjaiku.
“Sialan lo! Panik gue anjir!!” sahutku kesal atas bercandaan Helen. Ya begitulah ketika orang bersalah selalu terlihat panik, sialan umpatku dalam hati.
“Makannya jangan nidurin anak orang sembarangan, tanggungjawab ga mau huuuuu!” lanjutnya yg puas meledek ku.
“Heh kita ngelakuinnya sama-sama mau ya.” protesku tak terima tuduhannya.
“Ih elo yg godain gue duluan enak aja.” balasnya sambil melempar potongan kentang kearahku.
“Siapa suruh menggoda.” gombalku yg membuat kita berdua tertawa.
“Udah ah g enak didenger orang.” sahutnya sambil cekikikan.
Sambil lanjut mengobrol dan bercanda, Helen pun sesekali menyuapi kwetiau miliknya kepadaku yang aku balas dengan menyuapi kentang goreng kepadanya.
“Mesranya pacarku sama selingkuhannya.” tegur Clara yang sudah kembali dari kelas dan cukup membuatku salah tingkah.
“Salah sendiri punya pacar ganteng malah ditinggal sendirian di kampus, ya eke godain lah.” sahut Helen membalas candaan Clara.
“Salah sendiri punya pacar jauh di Surabaya.” timpal Clara kepada Helen sambil mencubit pipinya.
“Eh dulu waktu Panji jomblo, Angga tuh merelakan gue sebagai pacar bersama. Sekarang gue jauh dari Angga, gantian lo harus merelakan Panji jadi pacar bersama.” lanjut Helen sambil cekikikan yang membuat Clara ikut tertawa.
“Ambil ci ambil asal ga dibawa pulang.” sahut Clara menuruti permintaan gila Helen dan mereka berdua pun semakin asik tertawa.
“Bo?” lanjut Clara menegurku yang melamun memperhatikan sebuah meja dan bangku yg berjarak sekitar tiga meter dari tempat kami. Ya meja yg dulu menjadi tempat aku bertemu Clara pertama kali di kampus ini, meja yg dulu menjadi tempat Clara memutuskan hubungan kami.
“Eh iya ra? Sorry. Mau mesen apa kamu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan seraya bangkit dari tempat duduk.
“Ga usah bo, kita pulang aja yuk.” ajaknya sambil tersenyum kearahku seolah mengerti apa yg ada dikepalaku dan kurespon dengan mengangguk.
“Eh kalian kalo ada rencana jalan selama liburan ajak gue dong, Angga katanya ga pulang sibuk ngurus Ospek anak baru.” pinta Helen sebelum kami pamit.
“Oh Angga juga? Gue kira Regas doang yang ga bakal pulang liburan kali ini.” jawabku menanggapi omongan Helen.
“Iya enci sayang nanti kita omongin ditelepon aja, pamit yah bye.” sahut Clara sambil cipika cipiki dengan Helen dan kami pun berlalu meninggalkannya.

“Bo, kamu nanti di rumah sama siapa? Papa Mama sama Kak Sinta masih di Jogja kan?” tanya Clara saat aku sedang menyetir mobil ini kearah Senayan untuk makan malam.
“Sendiri lah ra, aku bawa kunci ko. Lagian paling besok malem atau lusa juga mereka udah pada nyampe.” jawabku sambil mengelus rambutnya.
“Kamu nemenin aku di kampus lagi aja besok daripada di rumah bo.” tawar Clara yang hanya kujawab dengan tersenyum.
“Gampang lah ra.”
Malam itu kami makan di Cafe Radio Dalam tempat Erik biasa tampil, namun sayang kami tak bertemu dengannya disana padahal sudah lama tak bertemu. Hari itu mungkin Erik sedang libur karena aku pun sudah tidak hafal jadwal manggungnya. Setelah selesai aku mengantar Clara ke rumahnya dan sempat mampir sebentar untuk berbincang dengan Ibunya Clara, Ayahnya saat itu sedang di Kalimantan survey rutin bulanan.
Tak lama aku pun pamit kepada Clara dan Ibunya lalu langsung pulang menggunakan taksi ke rumahku, hari itu sangat melelahkan sehingga sesampainya di kamar aku langsung menjatuhkan diriku diatas kasur. Sesaat sebelum terlelap entah mengapa aku teringat akan pesan singkat Andini siang tadi. Aku merogoh kantung celanaku mengambil handphone dan menelepon Andini.
“Hey.” sapaku saat ia mengangkat telepon dariku.
“Hey nji. Tumben nelepon.” sahutnya disebrang telepon.
“Kamu lagi di rumah kan?” tanyaku memastikan ia tidak sedang bersama Dika.
“Kamu? Bukannya udah jadi lo gue sekarang?” ledek Andini menyindir sikapku tadi siang.
“Iya aku minta maaf, Clara belum tahu apapun tentang hubungan kita Andini. Aku ga mau dia salah paham.” jelasku pada Andini tentang alasan memanggilnya dengan sebutan “lo” siang tadi.
“Hmm g usah minta maaf kali nji, aku cuma selingkuhan mu bisa apa hahaha.” timpal Andini sok bijak mengajak ku bercanda namun justru kupikir sikapnya masih belum bisa menerima alasanku.
“Heh dua bulan di Bandung aku cuma jadi ban serepnya Dika yah, kebalik kali justru aku selama ini yang kamu anggap selingkuhan. Giliran yang punya aku datang, ga terima.” balasku pada Andini yang menyindir sikapnya.
“Justru itu yg aku takut nji, aku takut Clara minta kamu ngejauhin aku disaat aku udah nyaman sama kamu, sama hubungan kita.” ucap Andini dengan nada lirih yang membuatku terdiam cukup lama.
“Kalo boleh minta waktu diulang lagi, aku mau nolak permintaan kamu. Aku mau kamu tetep jadi cowoku aja deh nji.” lanjut Andini dengan nada sedikit terbata-bata.
“Andini, perasaan kamu ke aku itu ga lebih dari temen. Waktu itu kita cuma sama-sama jatuh pada perasaan sesaat dan sekarang pun cuma karena kebawa suasana kedekatan kita aja karena jauh dari pasangan masing-masing. Kamu udah milik Dika, aku juga udah milik Clara.” balasku mencoba menenangkan Andini.
“Iya sih tapi gimana kalo selama ini aku salah nji? Dan baru sadar ketika ada wanita yang ngambil kamu tepat didepan mataku. Buktinya aku cemburu liat kamu sama Clara. Apalagi kalo kita merasa jauh lebih nyaman berdua, dibanding saat dengan pasangan kita masing-masing. Kalo sudah seperti itu, siapa yg salah?” lanjut Andini yg terdengar seperti mulai terisak-isak.
“Kita yang salah, udah terlalu melewai batas hubungan selayaknya teman.” jawabku yg entah mengapa agak getir saat mengucapkan kalimat tersebut.
“Egois kamu nji.” pungkasnya seraya menutup teleponnya.

Another level of complicated problem has coming. I’m trapped on my own games. Kapan sih aku bisa berdamai dengan masalah. Fak umpatku dalam hati.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 23 | Ketika Kita Muda Part 23 – END

(Ketika Kita Muda Part 22)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 24)