Ketika Kita Muda Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 21

Start Ketika Kita Muda Part 21 | Ketika Kita Muda Part 21 Start

Narasi Clara: Selfish

Sebagai orang yg banyak diceritakan oleh Panji dalam kisahnya, aku merasa punya hak untuk ikut andil bercerita dari sudut pandangku apalagi semenjak kisah putusnya hubungan kami pasti banyak membela Panji dibanding aku.
Oh iya lupa kenalan, tapi sebelumnya juga aku sudah pernah bercerita disini jadi ga perlu lah ya? Namaku masih sama ko Clara Anastasya yg suka anjing tapi takut kucing dan suka coklat tapi takut gendut. Kalo cheese cake bukan suka tapi favorite, seperti Panji di hidupku.

Ilustrasi Clara

Aku juga sekarang sudah berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Salemba, Jakarta. Sebenernya kampus utamanya di Depok, hanya saja untuk Fakultas ku dan Fakultas Helen terpisah lokasinya namun setahu ku sekarang semua perkuliahan yg tadinya di Salemba sudah dipindah ke Depok. Ah menyebalkan kenapa baru sekarang sih, coba kalo dari belasan tahun yg lalu aku kan masih mungkin untuk memaksa Panji kuliah satu kampus denganku tidak perlu jauh-jauh ke Bandung. Benar itu alasan terbesar yg membuatku membenci Panji, aku benci dengan Panji yg memilih kuliah di Bandung dibanding di Jakarta bersamaku. Ya aku yg membenci Panji saat itu adalah Clara yg masih dikuasai hormon puber masa SMA.
Baiklah aku sepertinya tahu harus bercerita mulai dari darimana, masa disaat aku sangat galau yaitu semenjak Panji dimataku yg saat itu masih sebagai siswi SMA beranjak kuliah menggap ia berubah menjadi orang keras kepala, egois dan menyebalkan (eh ralat, kalo yg menyebalkan sudah sifat Panji dari dulu).
Untuk kali ini aku tidak hanya akan bernarasi yah, tapi juga bercerita lengkap seperti Panji meski tetap lebih banyak narasinya.

Jakarta, 2005

Hari pengumuman SPMB adalah hari yg seharusnya menjadi sebuah penantian anak-anak SMA pada umumnya, apalagi buat mereka yg sukses lolos di Perguruan Tinggi incarannya. Tapi tidak bagiku dan Panji, kalian semua sudah tau kami berdua sama-sama keras kepala untuk tidak mengalah soal pilihan kampus masing-masing.
Panji pun sepertinya belum cerita bahwa pada saat sebelum ujian SPMB sebulan yg lalu berlangsung, kami sepakat untuk membuat pertaruhan dimana meletakan pilihan kedua kampus yg bersebrangan dengan keinginan kami. Panji kupaksa memilih Teknik Sipil di kampusku dan aku dipaksa Panji memilih Kedokteran di Jatinangor.
Itu adalah ide gila kami karena emosi, aku tidak membayangkan jika kami berdua gagal pada pilihan pertama harus tetap terpisah ditambah dengan kampus yg tidak kami mau. Tapi ya itulah aku dan Panji, terlalu gengsi dan egois untuk mengalah walaupun hasilnya kami berdua lolos di kampus pilihan pertama masing-masing. Rasa bangga bisa menembus Perguruan Tinggi favorit dijurusan favorit pun langsung hilang begitu mengetahui Panji lulus juga di Bandung. Untuk pertama kalinya selama kurang lebih 8 bulan berpacaran, kebahagian Panji menjadi getir buatku begitu juga sebaliknya.
Sore itu Helen berkunjung kerumah ku, sepulang ia kumpul merayakan kelulusan SPMB bersama Angga dan Regas. Dimana seperti yg Panji ceritakan kami tidak ikut dan memilih pulang. Helen datang untuk menemaniku di kamar yg sedang menangis.
“Non, udah dong jangan nagis mulu.” ujar Helen sambil mengelus kepalaku.
“Gue ga bisa jauh dari Panji ci.” rengeku yg menangis dalam posisi duduk memeluk bantal.
“Belom juga dijalanin, Bandung Jakarta deket lagi bisa ketemu sebulan sekali. Masih bisa telepon tiap hari atau kalo mau romantis kirim-kiriman surat seminggu sekali hihihi.” ujar Helen yg berusaha menghiburku namun aku tidak butuh dihibur, aku butuh Panji merubah pikirannya untuk tidak berkuliah di Bandung.
“Gue lebih parah, ditinggal Angga ke Surabaya.” lanjutnya yg juga sama akan berpisah kuliah dengan Angga.

Ilustrasi Helen

“Lo kan tau ci, gue depends on Panji banget. Tiap hari selalu ketemu, ngobrol bareng, makan bareng, becanda bareng, belajar bareng, apa-apa selalu ama dia. Terus tiba-tiba gue harus jalanin kuliah tanpa Panji, ga bisa liat muka ngangeninnya, kelakuan nyebelinnya, sikap manisnya. Gue ga bisa ci!!” jelasku sambil terus menitihkan air mata. Helen yg daritadi hanya mendengarkan pun mulai memeluk ku seraya mengusap rambut ku, aku menangis sejadi-jadinya dipelukan Helen. Baru membayangkan saja sudah sakit, bagaimana nanti saat menjalaninya. Ya hati ini rasanya sakit kalo harus mengingat hanya punya waktu sekitar sebulan lagi sebelum akhirnya benar-benar berpisah jauh dengan Panji.
Setelah puas menangis, Helen pun pamit pulang karena sudah malam dan berganti Mama ku yg masuk kamar.
“Sayang, makan yuk. Papa udah nunggu tuh mau ngasih selamat anaknya yg udah lulus masuk kampus kedokteran.” ajak Mama ku sambil merangkul bahuku.
“Loh ko anak kesayangan Mama matanya sembab? Kamu nangis kenapa sayang?” tanya Mama ku heran ketika aku menoleh kearahnya yg sedaritadi membenamkan wajahku dibantal.
“Panji mah.” jawabku singkat sambil masih sesekali terisak.
“Berantem?” tanya Mama ku lagi yg kujawab dengan menggelengkan kepala.
“Terus kenapa sayang?” lanjut Mama yg penasaran apa yg membuatku menangis.
“Panji bakal kuliah di Bandung mah.” rengeku sambil memeluk Mama.
“Sayang pisah kuliah itu kan bukan pisah kehidupan, kamu harus belajar dewasa. Setiap hubungan itu ada ujiannya, kalo gagal berarti Tuhan punya rencana lain yg lebih baik. Tapi kalo sukses kamu pasti bahagia. Kamu belom dijalanin udah nyerah.” ceramah Mama ku panjang lebar yg kurang lebih isinya sama seperi yg Helen katakan.
“Udah yuk makan dulu, kasian Papa dibawah udah nunggu.” lanjut Mama ku seraya mengajak aku makan dibawah sambil tetap merangkul bahuku yg kurespon dengan menganggukan kepala.
Di meja makan obrolan Papa ku pun kurang lebih sama, selain memberikan selamat atas kelulusan ku ia menasehatiku untuk belajar mandiri, dewasa dan bertanggungjawab karena sudah bukan anak SMA lagi. Papa pun membela Panji, baginya cowo itu memang harus merasakan tinggal jauh dari orangtua biar kuat katanya. Papa juga dengan pedenya menceritakan bagaimana ia dulu mendapat beasiswa ke London dan hidup mandiri disana, kuliah dan bekerja paruh waktu untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup karena ekonomi orangtuanya tidak berlebihan jadi kiriman bulanan hanya untuk bayar tempat tinggal. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, kenapa sih semua orang membela Panji tak ada satupun yg mengerti perasaanku.
Usai makan ketika kembali ke kamar handphone ku berdering dan begitu melihat panggilan dari Panji tanpa berpikir panjang langsung ku non-aktifkan handphone tersebut karena sedang males berbicara dengannya. Malam itu aku menangis lagi sampai lelah dan akhirnya tertidur.

“Bangun sayang, ada Panji tuh dibawah kangen katanya ama anak Mama.” ujar Mama yg membangunkan ku pagi itu sambil membuka jendela kamarku.
“Bilang aja Claranya masih tidur.” sahutku yg sebenernya sudah terbangun namun masih enggan menemuinya.
“Percuma kamu pura-pura tidur sayang, Panji lagi sama Papa ngoprek motor. Bisa sampe sore.” jawab Mama ku yg membuatku akhirnya bangkit dari tidurku. Ya semenjak kenal Panji, Papa ku jadi ketularan suka motor gede padahal dipake juga jarang bahkan bisa dibilang ga pernah. BMW K1200 LT tahun 1999 itu pun lebih sering menjadi ornamen di garasi rumah kami. Papa paling make kalo abis diotak-atik ama Panji, dicoba buat keliling komplek setelah itu jadi pajangan lagi.
Aku menghampiri Papa dan Panji digarasi yg sedang asik membongkar motor, entah lah dimana letak menyenangkan membongkar pasang motor padahal tidak ada yg berubah bentuknya.
“Pagi ra.” sapa Panji saat melihatku sesaat yg hanya kurespon dengan senyum simpul dan ia kembali melanjuti kegiatannya dengan Papa ku.
“Nah udah standar lagi kaya kemaren sekarang om.” sahut Panji kepada Papa ku sambil mengambil kain dan mengelap tangannya yg kotor terkena sisa oli.
“Om coba dulu keliling.” jawab Papa ku sambil menaiki motornya.
“Ra ajak Panji masuk sekalian sarapan sana.” pinta Papa ku seraya berlalu mencoba motornya. Panji pun mendekat menghampiriku yg duduk tak jauh dari posisinya.
“Salah satu favorit aku kalo kerumah kamu pagi-pagi itu liat muka polos kamu yg ga pake make up. Cantik banget sih.” tegurnya menggombaliku yg tak kurespon.
“Kamu ngapain pagi-pagi kerumah?” tanyaku judes karena masih kesal dengan Panji.
“Lagian kamu dari semalem ditelepon ga aktif sampe pagi. Aku khawatir lah ra.” jawab Panji dengan suaranya yg lembut, suara favoritku yg selalu ingin kudengar pertama kali setiap pagi. Duh baru gitu aja udah meleleh sih Clara, inget lagi ngambek! umpatku dalam hati.
“Sekarang kamu bisa handphone aku ga aktif paginya langsung kerumah, nanti di Bandung pasti udah ga bisa kan bo?” sahutku menunjukan kekesalan ku padanya tentang perpisahan kami yg terhitungan sebulanan lagi.
“Ra kamu tau kan jarak Jakarta Bandung cuma segini.” jawabnya sambil mengacungkan huruf U dengan jempol dan jari telunjuknya seraya menekuk lutunya memposisikan wajahnya sejajar denganku.
“Kalo dipeta.” lanjutnya lagi yg membuatku ingin tertawa namun kutahan karena gengsi
“Ih nyebelin!” sahutku sambil mengigit bibir bawahku dan Panji memasang wajah polosnya yg lucu membuatku akhirnya tak tahan untuk tertawa.
“Gitu dong, muka polos kamu dipadu ketawa itu selalu bikin aku jatuh cinta lagi lagi lagi kuadrat sejuta faktorial.” gombalnya lagi yg kurespon dengan memukul bahunya sambil tertawa.
“Mandi sana, kita jalan yuk.” pintanya sambil mengusap rambut ku kearah samping.
“Mau kemana?” tanyaku yg juga ikutan mengusap rambutnya walaupun lebih tepat mengacak-ngacaknya dan lupa sedang ngambek kepadanya.
“Maen Bowling, yg kalah harus ngunjungin yg menang di bulan pertama kuliah.” ajaknya yg cukup membuatku mengerutkan dahi.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Iya setelah sama-sama mulai kuliah, kita sebulan sekali harus ketemuan. Biar adil gantian selain aku balik ke Jakarta, kamu juga nanti harus ke Bandung. Giliran pertama yg dikunjungin kita mulai dari yg menang maen bowling nanti.” jelasnya sambil tersenyum kearahku. Jujur rasanya aku langsung meleleh, disaat semalaman nangis khawatir akan hubungan jarak jauh kami nanti ia ternyata sudah membuat rencana sejauh itu. Ajakannya sukses membuatku tersenyum lebar dan kurespon dengan mengangguk semangat.
Setelah selesai mandi dan bersiap aku pun turun menghampiri Panji yg tadi kutinggal di teras rumah karena Papa sudah kembali dari mencoba motornya. Namun saat kutemui di teras untuk mengajaknya berangkat ia malah sedang bersama Mang Diman membersihkan kandang choco anjing chihuahua peliharaan ku.
“Ih katanya mau ngajak jalan ko malah bersihin kandang choco.” tegur ku yg direspon ia dengan wajah innocent dan memperlihatkan bajunya yg cukup basah.
“Liat Mang Diman seru maen air jadi ikutan hahaha tapi udah selesai ko ini. Aku numpang mandi dulu dong, masa bawa jalan Primadona Sekolah akunya gembel gini hahaha.” sahutnya yg membuatku gemas sekali ingin mencubitnya hingga merah karena kesal.
“Ih nyebelin! Kamu emang bawa baju ganti?” tanyaku heran.
“Ada ko Non baju Den Panji bekas minggu lalu yg kehujanan pas nganter Non Clara pulang. Sudah dicuci Bi Tuti, nanti Mang Diman ambilin.” sahut Mang Diman.
“The best emang Mang Diman.” ujarnya pada Mang Diman yg hanya membuatku menggelengkan kepala.
“Sana buruan! Malah bercanda.” ketusku karena kesal sudah dandan rapih, Panji malah mengotori bajunya.
Sebelum ke tempat Bowling di daerah Kelapa Gading kami mengungunjungi Pet Shop dahulu membawa choco untuk grooming dan meninggalkannya yg akan kami ambil lagi nanti sore.
Ajakan Panji bermain Bowling sebenarnya cukup adil, mengingat kami berdua sama-sama tidak ada yg jago. Kebanyakan setiap pin yg jatuh apalagi strike tak lain hanyalah keberuntungan yg kami buat. Setelah main tiga game tetep saja Panji yg menang, ia sempat menawariku untuk maen empat game lagi jika aku masih penasaran namun ku tolak selain karena tangan ini sudah sakit mengangkat bola-bola berat itu, lagian juga kemungkinan menang empat game berturut-turut setelah ketinggalan tiga game dari Panji ibarat mission impossible nya Tom Cruise.
“Oke kalo gitu sampe ketemu di Bandung dua bulan lagi pecundang.” ledeknya mendeklarasikan kemenangan sambil mencubit hidungku yg ku respon dengan serangan cubitan di perutnya.
Hari itu Panji sukses membuatku senang seperti biasanya, namun begitu pulang dan ia pamit rasa takut itu muncul lagi bahkan cenderung semakin sakit. Aku pikir bertemu dan menghabiskan waktu bersama Panji akan membuat rasa kehilangan itu bisa hilang tapi nyatanya tidak. Bertemu dengan Panji hanya membuatku semakin ketergantungan akan dirinya.

Bo mulai besok kita ga usah ketemu dulu ya. Aku mau belajar jauh dari kamu. Aku sayang kamu bo.

Itu pesan singkat terakhir yg kukirim kepada Panji malam itu, suatu drama yg kupikir sering dilakukan beberapa orang ketika mau berpisah jauh dengan pasangannya yaitu berlatih untuk jauh disaat masih punya waktu untuk bertemu bukan malah memanfaatkan menghabiskan sisa waktu tersebut sepuasnya. Panji tentu tidak terima dengan permintaanku, namun tak kuhiraukan. Bagiku untuk sementara ini yg terbaik.
Beberapa kali Panji mendatangi rumahku namun tak kutemui, telepon darinya pun tak ku angkat, pesan singkat juga tak kubalas. Panji bahkan menggunakan Helen Regas dan Angga untuk membujuk ku mau menemuinya, namun aku terlalu keras kepala untuk tetap tidak berhubungan dengan Panji dulu sementara waktu.
Nyatanya aku hanya kuat selama seminggu atau sebenarnya hanya dua hari, aku sudah uring-uringan tidak bertemu Panji. Karena di lima hari pertama Panji masih mencoba menghubingku sehingga aku merasa ia masih ada didekatku, hanya saja aku yg tidak merespon semua usahanya. Sedangkan dua hari belakangan ini ia akhirnya menuruti kemauanku saat terakhir mencoba mendatangi rumah ku untuk sarapan bersama keluargaku, tapi aku memilih sarapan di kamar. Panji mengetuk kamarku dan mengatakan akan menuruti apapun mauku selama itu memang yg terbaik untukku.
“Ra, aku kangen kamu. Tapi kalo mau kamu begini aku akan jalanin. Selama kamu masih jadi milik aku ra.” ujarnya didepan pintu kamarku dan menyelipkan kertas dibawah pintu yg bertuliskan Nanti malam aku mau berdoa minta Pintu Kemana Saja nya Doraemon! Biar jarak Jakarta Bandung seperti di Peta. Kamu bantu doain juga yah 🙂 yg membuatku tersenyum, dasar Panji disaat begini masih bisa membuatku tertawa.
Minggu sore akhirnya aku menyerah, selepas dari Gereja aku membawa mobilku kerumah Panji untuk bertemu dengannya karena rindu. Aku disambut oleh Papa dan Mamanya Panji, dan tak lama orang yang membuatku tersiksa itu pun nongol menuruni tangga dan menghampiriku di meja makan yg sedang bersama Mamanya.
“Tuhan tuh baik yah, aku doa minta pintu doraemon buat ketemu kamu malah langsung dikasih kamunya.” godanya menyapaku yg datang seraya mengelus rambutku dan kurespon dengan senyum.
“Panji mu itu dari kemaren uring-uringan sayang sakit malaria merindukan kehadiran Clara.” goda Mamanya Panji yg menbuatku tertawa dan Panji cemberut.
“Apa sih mah, maksa.” protesnya.
“Nanti kamu ikut ya sayang nganter Panji pindahan ke Bandung.” tawar Mamanya Panji kepadaku.
“Iya Tante ikut, biar sesekali bisa sidak. Pengen tau aja bandel ga dia di Bandung.” jawabku menyanggupi permintaan Mamanya Panji seraya melirik tajam ke arah Panji yg ia respon dengan menggelengkan kepala.
Malam itu Panji mengajak jalan keluar lagi tapi ku tolak, aku hanya ingin berdua dengannya tanpa ada yg menganggu, di kamar Panji kami tidur sambil berpelukan. Aku merekam setiap momen itu sebagai memori yg akan kugunakan setiap akan tidur nanti ketika Panji di Bandung.
“Bo nanti kalo di Bandung kamu kangen sama aku, kamu bakal ngapain buat ngilangin rasa kangennya?” tanyaku ditengah belaian Panji dirambutku.
“Ga ada satu hal pun yg bisa ngilangin rasa kangen ke kamu kecuali dengan ketemu kamu ra. Aku hanya akan menikmati diriku yg tersiksa akan rindu itu, hingga akhirnya ketemu kamu untuk mengobatinya.” jawabnya yg membuatku tersenyum seraya Panji mengecup keningku.
Terimakasih Panji untuk tidak membuat sesuatu apapun yg menyamakan dengan diriku meski dengan bintang, bulan, langit malam atau gombalan lain dan selalu membuatku merasa menjadi orang yg paling istimewa dihidup kamu. Tapi aku terlalu sayang kamu nji, aku ga akan pernah biarin diri ini membuat kamu merasakan siksaan rindu itu karena aku tahu rasanya seperti apa. Jadilah orang yg bebas, kejarlah impian kamu nji. Aku akan selalu mendoakan yg terbaik buat kamu. Berbahagialah nji, aku tidak akan pernah mau jadi duri sekecil apapun buat kamu. Setelah hari perpisahan nanti akan kuajari kamu cara membenciku dan melupakanku, lalu pergilah sesukamu. Carilah bahagiamu di Bandung, Panji Darmawan.

Bagiku dewasa adalah ketika kita paham bahwa cinta tak harus memiliki, meski yg kualami berbeda karena kami tetap bisa saling memiliki hanya saja aku memilih menjadi pecundang untuk melepasnya. Aku tau ini hanya keegoisan diriku sendiri, yg enggan berjuang, yg menyelamatkan diri dari ketakutan akan siksaan rindu, menyelamatkan diri dari ketakutan akan perpisahaan apabila nanti di Bandung Panji berubah dan mencampakan diriku. Aku hanya membuat perpisahan yg nyaman untuk ku, disaat aku tahu Panji masih menyayangiku. Setelah mengantar Panji ke Bandung bersama keluarganya, kupikir itu adalah hari terakhir bertemu dengannya sebagai sepasang kekasih.
“Good luck bo!” ujarku dari kaca jendela mobil orangtuanya Panji.
“Baik-baik ya kamu di Jakarta, sampe ketemu lagi sayang.” pesan Panji dengan senyum teduhnya.
“Sayonara!” bisiku lirih yg langsung direspon Panji dengan mengerutkan dahinya dan terdiam melihat mobil ini berjalan dan menjauh dari pandangannya. Panji pasti paham bahwa sayonara adalah ungkapan perpisahan seakan tak pernah bertemu lagi. Melihat sosok Panji yg akhirnya menghilang dari pandanganku, aku lanjut menangis dipelukan Kak Sinta saat itu.
Meski begitu untuk move on dari Panji tidaklah mudah, ditambah kedekatan dengan keluarganya yang sudah sangat intens. Kadang aku masih suka mampir kerumah Panji seminggu sekali sepulang dari Gereja untuk bertemu dengan Papa dan Mamanya untuk sedikit mengobati rindu pada anak laki-laki mereka.
“Hey sayang, abis darimana. Masuk-masuk, duh Tante kangen ama anak perempuan calon mantu satu ini.” sapa hangat Mamanya Panji saat aku berkunjung.
“Iya Tante kangen Tante juga. Kangen Om ama Ka Sinta. Kangen Panji juga.” jawabku dengan mata yg berkaca-kaca. Aku dipeluk erat oleh Mama nya Panji, dan membawaku kedalam rumah untuk duduk di meja makan sambil menemaninya masak.
“Panji itu semenjak pacaran sama kamu, sering banget cerita hari-harinya disekolah sama kamu sambil nemenin Tante masak. Sekarang dia udah ke Bandung, Sinta juga masih di Semarang setahun lagi. Jadi kita sama sayang, sama-sama kehilangan Panji.” ujar Mamanya sambil mendekat kearahku. Aku memeluk lagi Mama nya Panji.
“Sabar yah, lama-lama pasti kalian nanti punya cara buat terbiasa berhubungan jarak jauh. Lagian 4 tahun itu ga lama ko sayang.” lanjut Mama nya lagi sambil mengusap rambutku yg akhirnya tak tahan untuk menangis dipelukannya.
“Clara sayang Panji, Clara boleh kan kesini kalo lagi kangen sama Panji?” tanyaku meminta ijin kepada Mamanya yg dijawabnya dengan lembut dan malah membuat tangisku semakin pecah.
“Boleh sayang, anggap aja ini rumah kamu sendiri. Kamu juga mulai sekarang boleh manggil Tante Mama biar kamu ngerasa selalu deket ama Panji.” jawab Mamanya Panji.
“Makasih maaah.” jawabku yg untuk pertama kalinya memanggil Mamanya Panji dengan sebutan Mama sambil merengek. Aku yakin wajahku saat itu yg sedang menangis jelek sekali. Namun semakin mengunjungi keluarga Panji, semakin rindu ini dan rasa takut kehilangan semakin tak terbendung. Kupikir sudah waktunya untuk menjalankan rencanaku.

Seperti yg Panji ceritakan, caraku membuatnya membenci dan melupakanku ketika kami memulai kehidupan kami masing-masing adalah berselingkuh dengan Adit. Aku bertemu Adit pertama kali di kelas anatomi, ia yg terlihat menonjol di kelas mengingatkanku dengan Panji hanya saja Adit cenderung sombong. Berbeda 180 derajat dengan Panji, bagi Adit nilai adalah segalanya dan kuliah adalah kompetisi menjadi yg terbaik jadi alasannya belajar giat adalah agar diakui oleh orang-orang.
Adit memenuhi kriteria ku untuk dijadikan selingkuhan, karena aku yakin tidak akan pernah jatuh cinta pada orang seperti itu. Akhirnya aku pun mulai mendekati Adit sekitar sebulan mengenalnya dengan alasan kagum akan kecerdasannya dan meminta ia mengajariku. Tidak sulit membuatnya tertarik padaku, hanya beberapa kali belajar bareng di kantin kampus ia sudah mengajakku untuk jalan. Hubunganku dengan Adit akhirnya diketahui Helen dan ia mengomeliku bahkan kami pun jadi bertengkar karena hal itu.
“Non! Lo apa-apaan sih!” tegur Helen saat aku berpisah dengan Adit dan masuk ke mobilku.
“Eh ci. Apa-apanya gimana?” tanyaku mencoba mencari tahu maksud Helen.
“Pura-pura bego lagi, lo punya hubungan apa sih ama anak cupu itu!” sahut Helen ketus.
“Cupu? Adit maksud lo.” jawabku yg masih heran.
“Mau adit kek, adot, adut bodo amat! Lo tuh masih punya Panji non!!” lanjut Helen mengomeliku.
“Ya abis Panji jauh sih.” ujarku sambil tertawa centil mengajak Helen bercanda, karena aku pikir ia bisa kuajak kongkalikong soal ini.
“Ga lucu lo non! Kecewa gue ama lo! Jangan pernah nyari gue lagi buat nangis-nagis kalo sampe Panji tau!” ketus Helen seraya pergi meninggalkanku namun kucegah.
“Ci tunggu, gue bercanda maksud gue ga gitu.” ucapku mencoba menjelaskan kepada Helen.
“Lo ga punya alasan apapun termasuk bercanda, lo udah ngekhianatin Panji. Gue ga kenal ama lo yg sekarang ra!!” balas Helen yg sudah emosi dan menepis tanganku seraya berjalan berlalu meninggalkanku.
Ya semenjak hari itu, hubungan aku dan Helen pun mulai renggang.
Disaat yg bersamaan hubunganku dengan Panji juga beberapa minggu ini hanya bertengkar, ya pertengkaran yg sengaja kubuat untuk membuatnya risih padaku. Minta ditelepon saat ia di kelas, minta saling mengirim pesan singkat setiap waktu, bahkan Panji balas lebih dari lima belas menit pun sudah aku omeli. Aku rasanya ingin tertawa kalo harus mengingat lagi kejadian itu, karena harus pura-pura marah disaat tidak ingin marah belum lagi kelakuan Panji yg memang sulit dipancing untuk marah. Bahkan ia pun tidak marah ketika aku membatalkan janji untuk menemuinya di Bandung di bulan pertama kami menjalankan kuliah. You’re the best man I’ve ever met nji!
Marahku kebanyakan dibalasnya dengan gombalan dan pura-pura tak paham kalo aku sedang marah, Panji biasanya baru akan marah ketika aku bilang tidak mau makan, tidak mau belajar dan dari situ kujadikan kesempatan untuk bertengkar dengan mengatakan hal yg ia benci yaitu membahas alasan ku adalah karena ia kuliah di Bandung.
Saat Panji datang ke kampus dan memutuskannya, aku tidak percaya bisa melakukan itu. Aku pun kesal ia pergi begitu saja tanpa mencoba untuk memohon kembali atau apa. Hari itu dimana seharusnya aku membuat ia membenciku, justru Panji yg malah membuatku benci kepadanya. Aku kecewa ternyata mudah baginya untuk melepasku begitu saja, kupikir aku sangat berharga baginya tapi tidak. Ya meski ternyata aku salah setelah bertemu Helen dan ia menceritakan bagaimana menderitanya Panji di Bandung setelah putus dariku.
Tapi sayangnya Helen terlambat atau aku yg terlambat berbaikan dengan Helen sehingga ia baru bisa cerita, ketika aku sudah terbiasa tanpa Panji, ketika Adit mulai bisa membuatku nyaman yg awalnya aku tak punya rasa apapun terhadapnya. Seperti yg Panji bilang kan, cinta bisa datang kepada siapapun asal diwaktu yg tepat. Itu yg membuatku mengatakan kepada Helen mulai sayang pada Adit saat kami bertemu dirumahnya yg juga ada Panji disana. Meski aku sendiri tidak tahu benar rasa sayang atau hanya rasa nyaman menjadikan Adit sebagai pelarian.
“Ci lo pasti sengaja ngajak Panji kesini?” tanyaku saat Panji meninggalkan kami berdua di ruang tamu Rumah Helen untuk keluar.
“Iya. Biar lo liat sendiri cowo yg udah lo sia-siain!! Kali aja buat lo sadar!!” ketus Helen menjawab pertanyaanku.
“Ci, udah dong gue mau minta maaf. Bisa kan kita kaya kemaren lagi?” pintaku kepada Helen.
“Ra, lo sadar ga sih lo udah nyakitin Panji. Panji cuma punya kita bertiga, gue ga bisa deket ama lo lagi. Gue ga mau ngekhianatin Panji dan bikin dia ngerasa canggung ama gue.” jelas Helen yg membuatku bingung.
“Terus lo ga mau temenan ama gue lagi cuma gara-gara udah ga sama Panji?” tanyaku padanya yg hanya direspon Helen dengan menaikan kedua bahunya.
“Ci ko lo gitu sih, kita udah sahabatan dari kelas 2 SMA loh. Lo kenal gue dulu daripada Panji. Ko sekarang lo ninggalin gue demi Panji.” jawabku lirih tak terima dengan jalan pikir Helen.
“Justru karena lo itu sahabat gue ra!! Gue ga akan pernah belain ketika sahabat gue salah. Gue lebih milih berantem supaya sahabat gue bisa balik lagi kaya yg gue kenal!” jawab Helen yg mulai berkaca-kaca dan air matanya mengalir.
Sikap Helen menampar diriku, aku memaki diriku sendiri yang sudah berbuat sejauh ini hanya untuk mengikuti keegoisan diriku.
“Ci maafin gue.” ujarku yg juga tak sanggup membendung air mata ini lagi, aku berlari mendekap tubuh Helen dan menangis di pelukannya lagi.
“Ini semua salah gue ci karena gue ga bisa terima kenyataan kalo harus pisah kuliah ama Panji. Gue egois udah ngebuang Panji padahal gue sendiri masih sayang ama dia. Gue sok kuat bisa hidup tanpa Panji padahal ga bisa.” lanjutku terisak-isak yg tetap menangis dipelukan Helen. Helen sepertinya luluh melihat ku yg menangis dan sudah berkata jujur padanya sehingga membalas pelukanku.
“Lo mending balik lagi ya ama Panji. Gue aja ama Angga bisa, kalian pasti bisa non.” ujar Helen yg menatap wajahku dimana kami berdua sama-sama berlinang air mata.
“Tapi ga bisa ci. Ga bisa secepat itu, gue emang masih nyimpen rasa cinta ama Panji. Tapi gue juga udah mulai sayang ama Adit.” jawabku yg tak lama terdengar suara pintu dibuka dan ternyata Panji muncul. Aku kaget, ku harap ia tak mendengar apa yg aku ucapkan. Namun melihat ia hanya berjalan gontai seperti tak punya ruh, mengambil jaketnya dan pamit pada Helen. Aku yakin ia mendengar ucapan terakhirku.
Malam itu Helen langsung memaksa ku untuk mengejar Panji, aku yg memang saat itu merasa bersalah pun menuruti kemauan Helen.
Tapi malam itu, Panji menghilang sangat cepat. Aku tidak bisa menemukan mobilnya. Hingga aku sudah menyetir sampai didaerah rumahnya pun tidak kutemukan mobil Panji disana.
“Dia kemana ya ci?” tanyaku panik pada Helen.
“Panji ga bisa ditebak, gue tanya Angga atau Regas juga pasti pada ga bisa jawab.” sahut Helen yg memang kuakui benar adanya.
“Non..” ujar Helen ditengah kekhawatiranku akan Panji.
“Kenapa ci?” tanyaku sambil menjalankan mobil ini kearah Radio Dalam, mungkin Panji sedang bersama Erik.
“Lo mau kan nyoba ngilangin rasa lo ke Adit, terus balik lagi ke Panji.” pinta Helen sambil menatap kearahku yg terdiam lama. Hingga akhirnya aku mengangguk menyanggupi permintaan Helen.
Malam itu kami tak menemui Panji dimanapun, Helen berjanji besok pagi sebelum ia berangkat ke Jepang akan kerumahnya mencari informasi Panji karena aku sudah ada janji dengan Adit sehingga tidak bisa ikut Helen.
Aku mendapat kabar dari Helen yg diberitahu Regas bahwa Panji ada di Bandung yg membuatku menghela nafas lega mengetahui kalo ia baik-baik saja.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Adit disampingku yg sedang menyetir menuju acara nikahan salah satu sepupunya.
“Hah? Engga apa-apa ko dit, cuma itu Helen katanya udah boarding.” sahutku berbohong kepada Adit.
“Oh, dia liburan ke Jepang yah. Kamu mau?” tawar Adit yg membuatku mengerutkan dahi.
“Hah? Mau apaan? Ke Jepang? Engga.” balasku sambil menggelengkan kepala. Tidak akan pernah aku mau dibawa Adit kemana-mana, cuma Panji cowo yg kupercaya untuk mau ikut bersamanya kemanapun. Seperti yg kalian tahu, bahkan saat sekamar dengannya waktu liburan di Belitung ia memilih tidur di balkon. Sungguh manis sikapnya saat itu dan tidak akan pernah bisa hilang dari ingatanku.
“Terus kamu sukanya kemana sayang? Mumpung liburan loh.” tawarnya lagi yg kujawab dengan menggelengkan kepala.
“Gak kemana-mana, pengen dirumah aja.” sahut ketus menolak tawaran Adit.

Saat mulai kuliah semester dua di minggu pertama aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Helen dibanding Adit, kami pun mulai sering bertengkar. Walaupun sebenarnya lebih tepat ia marah-marah karena aku tak pernah meladeninya ketika ia mulai marah.
Seperti hari ini aku dan Helen berdua di kantin menunggu info dari Regas untuk menelepon Panji dengan alasan mengajak conference call bersama. Saat itu akhirnya aku mendengar lagi suara Panji yg ceria, meski aku sempat mencubit Helen karena dia menggoda Panji dengan bilang kangen padanya.
Aku juga tertawa ketika mendengar Panji dan Regas berantem, suasana yg sangat membuatku rindu akan masa SMA saat masih sering berkumpul berlima.
Helen yg menggodaku saat itu tak berani ku tanggapi, aku tak mau terlihat sebagai wanita yg tak punya komitmen dihadapan Panji mengingaat saat itu masih punya Adit. Aku kenal Panji, sebesar apapun rasa cintanya padaku tapi ketika aku masih menjadi milik orang lain ia tak akan pernah respect apabila aku mendekatinya atau sekedar menggodanya. Rasanya aku tidak sabar menunggu hari pameran Kampus di SMA tiba untuk bertemu dengan Panji lagi.
Namun seperti yg diceritakan Panji, hari Jumatnya aku mengalami kecelakaan. Sebenarnya itu sama sekali bukan salah Helen, justru akulah yg membuat Helen hampir celaka. Saat itu aku dan Helen sedang makan siang diluar kampus tapi masih disekitaran yg tidak jauh. Kami berjalan kaki kesana mengingat jaraknya dekat hanya tinggal menyebrang saja. Ketika akan pulang kembali ke kampus, aku merengek kepada Helen untuk melakukan conference call lagi berlima karena kangen dengan suara Panji.
“Ciii please gue kangen Panji. Ayo teleponan lagi.” pintaku pada Helen yg awalnya ditolak tapi mungkin karena pusing mendengar rengekanku akhirnya ia pun menuruti.
“Iya iya ini gue telepon.” sahutnya sambil berjalan dan mau menyebrang.
“Nanti aja kali di kampus, bahaya ah.” ujarku yg tak dihiraukannya melainkan hanya menyebrang tanpa menengok kanan kiri, muncul sebuah mobil yg sedang melaju kencang dari balik bus yg distop oleh Helen. Aku reflek menarik tanggan Helen dan mungkin karena tergesa-gesa aku kehilangan keseimbangan lalu berbalik melompat kearah datangnya mobil itu.
Aku tidak ingat apa-apa lagi saat itu kecuali saat sadar dan membuka mata ini aku melihat Panji dengan wajahnya yg tersenyum lebar namun matanya berkaca-kaca. Aku ingin bertanya ia kenapa namun dilarangnya, bahkan ia malah pergi berganti dengan Helen dan Mamaku.
“Tadi ada Panji ci?” tanyaku pada Helen.
“Iyah, udah semaleman disini.” jawab Helen yg membuatku tersenyum girang meski kepala dan bahu ini masih linu sakitnya.
Kupikir ia akan menemaniku lagi di Rumah Sakit namun ternyata aku hanya melihatnya pagi itu dan Panji tak muncul lagi. Sorenya hanya Papa dan Mama nya Panji datang berkunjung, Panji katanya ada diruang tunggu namun entah kenapa ia tidak masuk.
Helen malamnya menginformasikan bahwa Panji Regas dan Angga besok akan kembali ke Bandung dan Surabaya, aku pun memohon lagi kepada Helen untuk membawa Panji ke Rumah Sakit sebelum ia kembali ke Bandung.
Sesuai cerita Panji, Helen berhasil mengajak mereka termasuk Panji untuk menjenguk ku lagi meski hanya untuk pamit. Aku pun berterimakasih dengan Angga dan Regas serta Panji yg sudah semalaman kemarin menunggu ku di Rumah Sakit. Aku sempat menggoda Panji dengan mengatakan siapa lagi yg menungguku namun ia hanya diam, ya sesuai dugaanku selama aku masih ada status dengan Adit ia akan seperti itu. Bercandaan Helen pun jadi kurespon dengan membela Adit karena malu dengan Panji, tapi saat itu Helen benar-benar mencari kesemptan memanasiku dengan menempel pada Panjiku. Ya ya aku bukan siapa-siapanya lagi jadi tidak berhak cemburu apalagi melarang Helen dekat dengan Panji tapi aku yakin akan kembali lagi memiliki Panji.
Buatku apa yg sudah terjadi belakangin ini lebih dari cukup untuk membuatku terhibur, apalagi aku sangat kelojotan bahagia begitu dapat info dari Mama ku bahwa Panji telah mendonorkan darahnya untuk ku. Aku anggap Panji sudah menyatu dengan diriku dan kami sudah tidak akan lagi bisa dipisahkan, hanya tinggal tunggu waktu yg tepat untuk memutuskan Adit dan mengejar Panji kembali. Tunggu aku ya Panji sayang, Kebo ku yg menyebalkan.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 21 | Ketika Kita Muda Part 21 – END

(Ketika Kita Muda Part 20)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 22)