Ketika Kita Muda Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 20

Start Ketika Kita Muda Part 20 | Ketika Kita Muda Part 20 Start

Friendzone

Cuaca terik siang itu seakan ikut menghakimi diri ku yg sedang terpojok dalam kondisi tak mampu membela diri, otak ku pun sulit untuk diajak berpikir mencari sekian banyak diksi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk dirangkai dalam sebuah kalimat menjawab kecurigaan Regas. Wajah cantik Andini pun tidak mampu mendinginkan situasi antara aku dan Regas yg mulai panas. Oke untuk yg wajah cantik Andini memang tidak ada hubungannya, otak ku begitu kacau saat itu.
“Ko kalian pada diem?” tanya Andini yg seakan belum bisa membaca situasi perang dingin antara aku dan Regas.
“Regas kenal Helen kan yah?” lanjut Andini polos.
“Kenal. Kenal banget malah.” jawab Regas dengan penekanan diakhir kalimatnya yg sengaja ditunjukan kepadaku.

Ilustrasi Andini

“Eh cerita dong kalian tuh sahabatan tuh berapa orang sih?” tanya Andini lagi yg seolah malah semakin penasaran.
“Berlima. Gue, Panji, Helen, Clara.” jawab Regas tanpa menoleh kearah Andini namun tetap menatapku tajam dan seperti sengaja menyisakan satu nama untuk ku.
“Satu lagi siapa?” sahut Andini lagi yg mendukung serangan Regas kepadaku untuk jujur kepadanya.
“Angga.” jawabku lalu terdiam beberapa saat.
“Pacarnya Helen.” lanjutku menunjukan kepada Regas bahwa aku masih cukup sadar siapa Angga.
Andini yg mendengar jawaban dari ku akhirnya mulai bisa membaca situasi mengapa sedaritadi dua manusia dihadapannya seakan saling memasang posisi siap perang.
“Oh ko yg lain ga ikut ke Bandung?” lanjut Andini mengatakan hal bodoh yg sepertinya karena salah tingkah terjebak dalam perang dingin antara aku dan Regas.
“Tanya aja dia.” jawab Regas ketus sambil menunjuk jarinya kearah wajahku seraya bangkit dan berjalan meninggalakan kami.
“Anjir bego Andini bego!! Ya ampun Panji sorry gue telat paham.” ujar Andini langsung meminta maaf kepadaku karena merasa apa yg terjadi antar aku dan Regas adalah salahnya.
“Udah gak apa-apa, Regas cuma salah paham. Nanti kalo udah dingin gue jelasin baik-baik juga normal lagi.” jawabku menenangkan Andini agar ia tak perlu merasa bersalah. Terlepas dari ucapannya yg secara polos memberi tahu Regas tentang pertemuan kami bertiga, bagiku ini adalah konsekuensi yg harus siap dihadapi ketika mengajak Helen ke Bandung bersamaku tanpa sepengetahuan Angga.
“Nji? Lo gak apa-apa?” tegur Andini yg menyadarkan ku dari lamunan.
“Eh iya gak apa-apa, kelas yuk.” ajaku kepada Andini yg memang ada kelas bersamanya setelah jam makan siang hari itu.
“Lo ga jadi makan?” tanya Andini yg kujawab dengan menggelengkan kepala seraya bangkit dari meja kantin untuk berjalan kearah kelas.
“Panji tunggu.” sahut Andini segera menyusulku.
“Lo ga kejar Regas aja jelasin? Kita kan di Bandung ketemu rame-rame ga kaya apa yg dipikir Regas.” lanjutnya mencoba memberiku saran.
“Tapi gue ama Helen ke Bandung tanpa sepengetahuan mereka, tetep aja salah kan.” jawabku menjelaskan.
“Udah ga usah dipikirin, itu urusan gue ama Regas.” lanjutku sambil tersenyum kearah Andini untuk meyakinkannya tak perlu khawatir.
Kami pun masuk kelas meski baru akan mulai sekitar 20 menit lagi dan hanya terdiam sepanjang kelas mengikuti kuliah walaupun pikiranku menerawang entah kemana. Setelah selesai kelas aku pun langsung pamit ke Andini untuk pulang duluan karena enggan berlama-lama di kampus setelah apa yg terjadi hari ini. Aku ingin mendinginkan otakku yg terasa mendidih.

Dua hari kemudian setelah aku merasa pikiranku mulai jernih dan tidak dikuasai emosi, aku memutuskan untuk menghampiri Regas menjelaskan semuanya. Siang itu aku menunggu diselasar utama fakultasnya tempat mahasiwa berlalu-lalang yg akan masuk atau selesai kelas berharap bertemu Regas disana.
“Panji.” tegur seseorang menyapaku dan ketika aku menoleh kearah suara tersebut ternyata Ine, teman sekelasku waktu di SMA yg memang satu fakultas dengan Regas namun beda jurusan.
“Hey ne, apa kabar.” sahutku menyapanya kembali.
“Baik, lo tumben kesini. Nyari siapa?” tanyanya seraya berhenti dihadapanku dan berpisah dari teman-teman yg jalan bersamanya tadi.
“Nyari Regas.” jawabku memberitahu alasanku disana.
“Oh gue kira lo punya kecengan baru anak fakultas sini.” ledeknya sambil tertawa.
“Hahaha ga lah, ga laku gue disini.” balasku menanggapi ledekan Ine.
“Masa sih? Di SMA dulu aja bisa dapet Primadona. Perlu gue cariin apa?” tawarnya sambil tertawa.
“Lo sejak kapan buka biro jodoh?” sahutku meledeknya.
“Noh temen-temen gue jomblo, tinggal pilih.” jawanya sambil menunjuk kearah teman-temannya tadi yg membuatku menggelengkan kepala.
“Gila lo! Temen lo orang bukan barang.” lanjutku tanpa menjawab tawaran Ine.
“Hahaha ya udah gue duluan ya, oh iya kalo nyari Regas biasanya di selasar lantai dua nji ama anak Himpunan.” pamitnya melambaikan sambil memberiku informasi tempat Regas yg kujawab dengan lamabaian tangan dan berterimakasih padanya.
Aku pun segera menaiki tangga menuju tempat sesuai yg diinformasikan oleh Ine dan benar saja kulihat Regas disana sedang bersama beberapa orang yg mungkin teman Himpunannya. Regas yg melihatku terlihat pamit dari teman-temannya dan berjalan menghampiriku.
“Ikut gue.” sahutnya berjalan melewatiku yg tanpa bertanya akupun segera mengikutinya dari belakang.
Kami berjalan kearah depan Gedung Labtek yg berada tak jauh dari fakultasnya Regas.
“Ngapain kesini? Di Sipil ga punya temen?” ledek Regas sambil tersenyum kecut kearahku.
“Gue mau jelasin masalah Helen.” sahutku to the point enggan menanggapi basa-basinya.
“Lah, yg butuh penjelasan lo tuh Angga bukan gue nyet!” balasnya yg masih terlihat menyalahkan ku.
“Ayolah gas, ini masalah kecil cuma salah paham.” ujarku meminta pengertian Regas.
Mendengar ucapanku Regas merogoh saku celananya dan mengambil handphone miliknya seraya menyerahkannya kepada ku.
“Telepon Angga bilang kalo Helen ikut lo ke Bandung.” pinta Regas.
“Ayo nji, katanya ini cuma masalah kecil.” lanjutnya tak terima dengan statement yg kubuat.
“Oke sorry gue salah. Tapi Helen aja ga ngomong ke Angga kalo mau ke Bandung, gimana gue mau ngasih tau Angga.” jelasku kepada Regas.
“Nji kalo boleh milih, gue mending ga tau sama sekali Helen lo bawa ke Bandung daripada tau dan ikut nyembunyiin ini dari Angga.” jawabnya dengan nada yg mulai meninggi.
“Terus lo nyalahin Andini yg ga sengaja cerita?” tembaku atas penjelasannya.
“Nyet, justru gue kecewa karena gue tau dari mulut orang lain bukan dari mulut lo sendiri.” sahut Regas seraya mendekatiku dan menunjukan jarinya kearah dadaku.
“Oke kalo itu mau lo, gue telepon Angga sekarang.” jawabku yg sudah kehabisan akal atas penghakiman Regas kepadaku.
“Nji Gas tunggu!!” sahut Andini yg tiba-tiba datang menghampiri kami.
“Lo mau ngapain?” tanya Andini to the point seakan mencari tau situasi yg sedang terjadi.
“Nelepon Angga.” jawabku singkat.
“Buat bilang ke Angga kalo Helen sama lo ke Bandung sabtu malem?” lanjutnya seperti sedang menginterogasiku mencari informasi yg kujawab dengan anggukan.
“Gas sorry gue bukan mau belain Panji, gue tau maksud lo sebagai sahabat baik tapi coba pikir baik-baik deh. Panji ama Angga bisa ribut karena salah paham. Sementara biarin masalah ini jadi urusan Helen ama Angga aja sih.” jelas Andini memberikan saran menjadi penengah antara aku dan Regas.
“Lagian Panji itu ama Helen ke Bandung buat ngajak gue ketemuan, makan malem bareng terus pulang. Bukan gue ngegepin Panji ama Helen yg lagi jalan berduaan di Bandung.” lanjut Andini menjelaskan kepada Regas apa yg sebenarnya terjadi waktu itu.
“Lo ga bilang ke Andini kalo malem itu kalian ga langsung pulang ke Jakarta.” tembak Regas yg membuat Andini ikut menoleh kearahku dan menunggu jawaban dariku.
“Tau darimana lo?” sahutku menanggapi pertanyaan Regas.
“Gue di rumah Angga nginep, Helen ga ngabarin Angga sampe siang.” lanjut Regas yg sepertinya kutangkap hal ini yg membuatnya menghakimiku.
“Kita cuma ke Nangor nyet. Nongkrong nunggu pagi biar Helen balik ke Jakarta aman. Ga mungkin lah gue biarin dia pulang sendirian tengah malem.” ucapku menjelaskan kepada Regas untuk menutupi kecurigaannya.
“Gini aja deh nji, kalo masalah ini sampe ke kuping Angga. Tolong janga bawa-bawa gue.” tutup Regas seraya meninggalkan aku dan Andini tanpa sempat ku cegah.
“Sorry ya nji jadi panjang gini masalahnya.” ujar Andini yg seperinya makin merasa bersalah.
“Lo ko bisa disini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan padanya mengingat gedung Labtek ini cukup jauh dari gedung fakultas kami.
“Tadi gue ketemu Ine, katanya lo disini ama Regas. Gue pikir lo pasti mau ngomong ke Regas makannya gue samperin buat bantu jelasin.” jelasnya yg membuatku mengerutkan dahi.
“Lo kenal ama Ine?” tanyaku penasaran.
“Ine kan anak Paduan Suara juga nji.” jawabnya sambil tersenyum yg membuatku mengangguk seraya mengajaknya jalan kembali ke gedung fakultas kami.
“Makasih ya.” ujarku pada Andini.
“Buat apa?” tanyanya sambil menoleh kearahku.
“Udah mau jauh-jauh ke Labtek buat bantu jelasin ke Regas.” jawabku sambil tersenyum kearahnya.
“Yaelah, ga ada apa-apanya kali dibanding bela-belain dari Jakarta ke Bandung cuma buat ngajak makan bareng sampe harus berantem lagi ama sahabatnya.” sahut Andini sambil tersenyum manis kearahku.
“Itu pujian?” tanyaku lagi padanya.
“Iyalah siapa yg ga meleleh diperjuangin segitunya.” balasnya sambil berjalan mendahuluiku yg mungkin menutupi wajahnya yg memerah karena malu.
“Terus kenapa gue dibawain pawang?” lanjutku menyindir dirinya yg mengajak Dika sahabatnya saat itu.
“Pawang? Dika? Ih jahat! Bilangin loh hahaha. Gue pikir kemaren itu ajang memperkenalkan sahabat biar kalo apa-apa nanti udah saling tau.” jawabnya sambil berbalik badan menghentikan langkahnya dan tertawa yg membuatku geer.
“Apa-apa gimana?” ujarku menggodanya.
“Ga tau ah! Nyebelin.” sahutnya yg mungkin kesal sambil melanjutkan langkahnya mendahului ku namun cegah.
“Kalo gitu gue mau berjuang lagi buat nyari tau maksud apa-apa boleh dong?” ujarku memberanikan diri menyambut sinyal dari Andini untuk memulai lebih dulu.
“Contohnya gimana?” tanyanya dengan muka centil.
“Nyari tempat yg memorable gitu buat jelasin maksud apa-apa.” pintaku sedikit frontal menggodanya.
“Jam 5 di depan ruang padus ga pake telat, ga pake dibatalin lagi yah.” jawabnya menerima ajakanku seraya melambaikan tangan untuk berpisah arah ia menuju ruang padus dan aku menuju kelas.

Sesuai janji selepas kelas aku langsung menuju taman dekat ruang Paduan Suara sambil duduk menunggu Andini disana, karena kelas Kalkulus tadi berakhir lebih awal dari biasanya aku tiba sepuluh menit sebelum waktu janjian kami.
Saat sedang menunggu Andini, handphone ku berdering yg ternyata adalah Helen. Aku yg sudah dari kemarin menunggunya menghubungi ku pun segera mengangkatnya.
“Halo selingkuhan.” sapanya centil disebrang telepon.
“Heh! Sembarangan! Kemana aja sih baru ngehubungin?” cerocosku memprotes.
“Ya ampun segitu kangennya ama gue.” lanjutnya lagi menggodaku.
“Serius ci! Gue dari kemaren mau ngehubungin lo takut salah.” lanjutku menjelaskan.
“Gue baik-baik aja ko, kemaren nyampe Jakarta dengan selamat terus Angga juga ga curiga apa-apa. Cuma dari kemaren lagi banyak tugas aja sih hehe maaf ya.” sahutnya menjelaskan yg cukup membuatku tenang terutama soal Angga.
“Regas tau.” balasku memberitahu tentang keadaan disini.
“Hah? Tau kita ML?” ujarnya panik.
“Ya kagak lah gila! Tau kalo lo ama gue ke Bandung sabtu lalu.” lanjutku menjelaskan kepada Helen.
“Kirain hahaha. Ko bisa sih? Lo ga jago banget jadi selingkuhan! Terus gimana?” protesnya namun terlihat tidak khawatir malah mengajak ku becanda.
“Masih bisa ketawa sih lo. Serius nih, dia sih minta gue buat ngomong ke Angga.” jawabku memberitahu Helen.
“Duh jangan sekarang deh nji, perlu waktu buat jelasin ini ke Angga biar dia g salah paham. Lo urus Regas yah.” sahut Helen yg tentu akupun setuju dengan pemikirannya.
“Gue usahain.” timpalku menanggapi permintaannya.
“I’m counting on you my second dear!! Hihihi.” ujarnya menggodaku.
“Sialan lo! Jangan kebiasaan ah nanti keceplosan aja kalo lagi ama Angga.” jawabku ketus yg daritadi mulai kesal dengan tingkah Helen.
“Terus lo katanya berantem ama Clara, ada apa lagi sih?” lanjutku menanyakan hal lain aku masih penasaran.
“Hmm gimana yaa..” belum sempat Helen menyelesaikan kalimatnya aku melihat Andini sudah keluar Ruang Padus.
“Ci lanjut nanti ya, gue ada janji ama Andini. Bye.” sahutku memotong omongan Helen dan menutup teleponnya meski sempat ia cegah namun tak hiraukan.
“Hey. Daritadi?” sapa Andini ketika sudah berada dihadapanku.
“Sepuluh menit lah, tadi Pak Adang bubarin kelas lebih cepet. Ngejar jadwal terapi kali.” jawabku asal.
“Heh! Ngeledek orang tua. Professor tau gitu-gitu!” tegurnya sambil mencubit bahuku yg kerespon dengan tawa. Aku pun mengajaknya berjalan ke parkiran yg ia jawab dengan mengangguk dan berjalan disamping ku.
Sesampainya di motor saat Andini sudah naik ke jok belakang ku, aku terdiam sesaat sambil menoleh kanan-kiri yg membuatnya heran.
“Nyari apaan sih?” tanyanya penasaran.
“Mastiin aja ga ada yg liat gue bawa Primadona Teknik Sipil, bisa diganyang gue ama mahasiwa satu jurusan.” jawabku menggodanya yg direspon Andini dengan tawa seraya memukul bahuku.
“Gombal!! Udah buruan jalan, nanti ada yg ngaku-ngaku pacar lo gue ditinggal lagi.” balasnya juga menggodaku yg membuat kami tertawa.
Motor ini pun ku pacu kearah utara kota Bandung menuju daerah Dago Pakar yg memiliki banyak pilihan Cafe Sky Dining untuk mengajaknya makan disana.
Jika kalian pernah kesana, ada beberapa orang yg suka menjual bunga mawar cantik per tangkai yg sudah di bungkus plastik wrap rapih di depan Cafe.
Saat itu ada anak kecil usia kisaran sepuluh tahun menawarkan mawarnya kepada kami yg baru sampai, kuperhatikan ia membawa enam tangkai dan aku membeli semuanya. Andini melihatku tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Banyak amat belinya.” tanyanya saat kami memasuki lift untuk menuju roof toop Cafe tersebut.
“Nanti juga tau.” ujarku tak menjawab agar membuatnya penasaran.
Kami pun memilih meja persis dipinggir jendela tanpa kaca yg memperlihatkan pemandangan cantik kota Bandung senja itu dengan langit yg mulai menjingga.
Saat pelayan wanita menghampiri kami, aku meminta ia memanggilkan beberapa temannya juga yg sedang bertugas hari itu namun sedang tidak sibuk mengingat masih sore dan bukan diakhir pekan beberapa dari mereka yg sedang santai menghampiri kami.
“Ini saya punya bunga banyak ada yg merah ada yg putih, kalian ambil satu-satu ya pilih aja yg disuka.” tawarku kepada mereka yg membuat mereka cukup heran.
“Ko buat kami mas?” tanya salah satu pelayan yg paling awal menghampiri kami tadi.
“Kebanyakan.” jawabku singkat dan akhirnya masing-masing mereka yg kebetulan berjumlah lima orang pun mengambil satu sambil mengucapkan terimakasih dan kembali bekerja kecuali Mba yg paling awal saat kuperhatikan name tag nya bernama Putri. Andini yg melihat kelakukanku hanya bisa memperhatikan sambil tersenyum seakan bertanya apa tujuanku.
“Yuk pesen.” tawarku pada Andini dan kami pun memesan beberapa makanan dan minuman. Saat Mba Putri selesai mencatat pesanan kami, ia pun pamit namun sekali lagi ku cegah seraya mengambil bunga mawar terakhir diatas meja untuk kuberika lagi kepadanya.
“Nitip dong Mba Putri buat yang masak.” pintaku padanya yg membuatnya mengerutkan dahi.
“Ko semuanya dikasih mas? Pacarnya ga kebagian dong?” tanyanya penasaran dan mengira aku dan Andini adalah sepasang kekasih.
“Sayangnya dia bukan pacar saya mba. Tapi emang saya pantes yah jadi pacar dia?” sahutku menimpali Mba Putri seraya melirik kearah Andini yg tersenyum salah tingkah lalu mencubit lenganku.
“Cocok ko mba ama masnya.” jawab Mba Putri sambil tersenyum manis.
“Kalo gitu dia ga butuh bunga mba, butuhnya saya.” lanjutku menanggapi Mba Putri yg membuatnya tertawa dan Andini makin salah tingkah dengan mukanya yg memerah.
“Geer!” sahut Andini ketus namun sambil tersenyum manis.
Aku pun mempersilahkan Mba Putri untuk kembali bekerja dan tetap memintanya membawa bunga yg kutitipkan untuk rekannya.
“Jadi lo beli bunga cuma buat ngerjain gue doang?” ujar Andini sambil menatap ku cemberut.
“Dih pede! Gue beli bunga karena seneng aja ama anak tadi yg mau usaha buat jualan. She deserved it to be paid for her beatutiful flower. Gue ga punya alasan buat ga beli kecuali kalo ga punya uang.” jawab ku sok bijak yg direspon Andini dengan menganggukan kepalanya.
“Lagian gue beli sebagai cara mengajak orang-orang disini ikut seneng karena kebahagiaan yg lagi gue rasain bisa ngajak dinner Primadona Kampus. Kalo mereka seneng, pelayanan dan masakannya pasti memuaskan hahaha.” lanjutku menggombali Andini yg dibalasnya dengan melempar tisu kearahku.
“Terus ko cuma mereka yg diajak merasakan kesenengan lo, gue engga nih?” sahutnya dengan tatapan melirik centil kearahku.
“Kalo mau ikut ngerasain seneng, ikutin saran Mbanya tadi.” ujarku sambil memajukan posisi badanku mendekatkan wajah kami untuk saling menatap.
“Saran yg mana?” balasnya sambil terus menatap ku dengan wajah cantiknya.
“Jadi pacar aku.” tembak ku yg saat itu langsung merubah konjugasi gue menjadi aku.
Andini yg tidak melepas tatapannya daritadi kearahku sambil menggigit bibir bawahnya menahan senyum manis dan menganggukan kepala tanda menerima.
Hari itu di Dago Bandung kami resmi jadian. Hari itu aku tidak menyesal telah membawa Helen ke Bandung bersama ku yg meski menutupi itu dari Angga dan membuat Regas salah paham. Hari itu aku berterimakasih atas ide gila yg Helen buat mengajak Andini makan malam bareng. Hari itu aku bersyukur telah memilih Bandung sebagai tempat menghabiskan masa kuliahku.
Wahai Bandung, terimakasih telah menpertemukan aku dengan Andini.

Selepas menghabiskan waktu bersama Andini di Sky Dining Cafe dan mengantarnya pulang kerumah aku lanjut mengarahkan motorku ke kosan Regas. Bagiku berita jadian aku dan Andini bisa menjadi alasan kuat agar Regas mau menerima masalah Helen yg ke Bandung bersamaku untuk tidak lagi diperpanjang apalagi kecurigaanya terhadap hubungan kami berdua.
Aku mengetuk pintu kosan Regas dan tersenyum lebar saat ia membukanya.
“Ngapa lo malem-malem cengar-cengir.” sahutnya masih ketus menyapaku.
“Gue jadian ama Andini.” jawabku sambil menaikan alis dan cengngesan.
“Bener-bener lo ya masih bisa nembak Andini, abis bawa kabur pacar orang.” ujarnya sambil menggelengkan kepala.
“Yah lo tuh ga ngerti masa, dengan gue jadian ama Andini harusnya lo paham kalo gue ama Helen kemaren Bandung itu hanya upaya Helen ngebantu gue buat deketin Andini. Buktinya hari ini Andini nerima gue karena meleleh udah disamperin dari Jakarta ke Bandung cuma buat gue ajak makan malem bareng.” jelasku panjang lebar kepada Regas agar ia bisa memahami kecurigaannya yg tak perlu itu.
“Tetep aja lo ga jujur ama Angga itu masalahnya, anyway congrats kalo udah jadian. Ya gini aja lah sekarang, anggap gue pernah tau lo pernah ngajak Helen ke Bandung.” sahutnya yg akhirnya mau berbaikan denganku setelah tiga hari yg segera kupeluk Regas karena girang hari itu mendapat Andini dan kepercayaan sahabatku lagi.
“Tai ga usah pake meluk.” tolaknya sambil melepas pelukanku yg kurespon masih dengan cengengesan. Aku pun mengajaknya nongkrong di daerah Jalan Riau karena kangen juga sudah tiga hari kami perang dingin mengingat besok pun aku dan Regas sama-sama tidak ada kelas pagi.
“Oh iya gas, jadi Helen ama Clara berantem kenapa?” tanyaku membuka obrolan sambil menikmati roti bakar pesananku.
“Kata Angga sih ya Helen marah karena ga terima sama cara Clara ngusir lo dari rumahnya tempo hari.” jelas Regas yg juga sambil menyeruput Mie Instant pesanannya.
“Coba aja lo tanya Helen lebih jelasnya.” lanjut Regas memberikan saran padaku namun kutolak dengan menggelengkan kepala.
“Ga usah lah, kalo perlu juga paling Helen nanti cerita langsung.” sahutku menejelaskan alasanku.
“Nyet.” ujar Regas lagi yg berhenti seakan ada hal serius yg ingin ia bicarakan.
“Hmm.” sahutku singkat.
“Lo beneran cinta ama Andini?” tanyanya yg membuatku berhenti mengunyah roti bakar ku dan menoleh kearahnya.
“Kenapa lo tanya gitu? Andini cantik, baik, supel, asik, gue betah ama dia. Apa alasan gue buat ga suka ama dia?” tanyaku heran.
“Nyet, gue tau itu semua. Yg ga gue tau itu hati lo, nyadar ga tadi aja gue tanya cinta atau engga jawaban lo cuma suka.” tembak Regas yg membuat ku terdiam.
“Terserah lo dah gas mau nilai apa.” sahut ketus karena kesal baru kemarin ia mencurigaiku dengan Helen dan seakan tak ada habisnya sekarang lanjut menragukan hubunganku dengan Andini.
“Oke then, forgot it. Sorry.” jawab Regas singkat dan mengakhiri obrolan kami malam itu dan pulang ke kosan masing-masing.

Setelah jadian, hubungan antara aku Andini dan Regas bisa dibilang tak banyak berubah. Kami masih setiap hari bertemu di kantin untuk makan siang, menunggu jam kosong atau sekedar kumpul sebelum pulang. Hanya saja sejak jadian aku selalu mengantar Andini pulang kerumah yg kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari kampus. Andini pun masih sibuk dengan kegiatan Paduan Suaranya, bahkan minggu ini ia dan timnya akan mengisi acara Pemkot Bandung di Gedung Sate.
“Halo pacar.” sapaku kepadanya yg menghampiri aku dan Regas setelah selesai latihan.
“Halo sayang.” jawabnya namun dengan muka cemebrut.
“Halo Regas engga?” protes Regas yg tak disapa oleh Andini.
“Eh iya lupa hehe halo gas.” jawab Andini cengengesan namun lanjut memasang tampang cemberut seraya menyandarkan kepalanya dibahuku.
“Kamu kenapa?” tanya ku heran.
“Bete. Aku berantem ama Dika.” jawabnya singkat yg membuat aku dan Regas saling pandang seraya mengangkat bahu kami.
“Berantemin apa sih?” tanyaku penasaran mengingat setelah sekitar seminggu kami jadian untuk pertama kalinya ia cerita tentang Dika sahabatnya itu. Aku saja bahkan lupa pernah berkenalan, dan cukup kaget begitu mengetahui Andini berantem dengan Dika. Sedekat itu kah mereka?
“Abisnya udah lama janji mau dateng ke acara Pemkot besok, tiba-tiba bilang ga bisa. Alesan udah ada kamu lah, terus banyak tugas lah. Bohong banget sih.” jawabnya uring-uringan.
“Ya udah nanti aku omelin biar mau dateng.” sahutku asal menanggapi uringannya Andini.
“Ga usah. Nanti ngerasa penting lagi dia.” balasnya sambil merobek tisu menjadi potongan kecil. Ini anak jelek juga ngambeknya gumamku dalam hati.
“Ya udah kalo gitu aku pesenin makan aja yah. Batagor sambel kacangnya dikit saosnya dibanyakin ga pake kecap kan?” tawarku yg ia respon dengan mengangguk seraya aku bangkit untuk memesan dan kembali lagi duduk disampingnya yg sedaritadi memperhatikanku.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Baru pacaran seminggu udah hafal aja pesenan aku, manis banget sih kamu sayang.” pujinya sambil tersenyum manis.
“Panji tuh punya one save memory syndrom, sekali liat atau denger ga bakal bisa lupa lagi.” timpal Regas yg entah memuji atau meledeku karena tidak ada syndrome semacam itu.
“Sialan lo!” sahutku protes seraya melempar tisu kearahnya.
“Tapi bener kali sayang, aku ga pernah cerita kamu kalo pesenan batagor harus kaya tadi.” jawab Andini mengamini statemen aneh Regas.
“Hampir tiap hari aku liat kamu mesen car! Gimana ga hafal, kecuali kalo siang kamu ga makan baru mesen Soto Bandung pake sambel tiga sendok jeruk nipis dua iris nasinya setengah.” lanjutku yg sudah hafal pesanan rutin Andini.
“Tuh kan. Ih manis banget jadi makin sayang.” responnya seraya mencubit hidungku.
“Salah kamu so predictable.” sahutku sambil membalas mencubit pipinya.
“Ehem. Ga usah mesra-mesraan didepan jomblo juga kali.” protes Regas yg direspon tawa oleh ku dan Andini.
Kami di kantin mengobrol hingga menjelang petang dan kemudian pamit berpisah, Regas ke kosnya sedangkan aku mengantar Andini pulang.
Dijalan aku melajukan motor ini dengan kecepatan lambat karena sambil mengajak Andini mengobrol.
“Car, Dika kuliah dimana sih?” ucapku membuka obrolan dengan Andini saat itu karena aku ingin mulai mencari tahu sejauh apa hubungan mereka.
“Jatinangor sayang. Kenapa?” sahutnya sambil menempelkan kepalanya dibahu kananku.
“Gak apa-apa nanya aja, jurusan apa?” lanjutku menanyakan tentang Dika
“Kedokteran.” jawab Andini singkat yg membuatku terdeseda meski tidak sedang makan apapun dan membuatku terdiam sesaat.
“Kalian gimana ceritanya bisa deket?” tanyaku lagi.
“Kita tuh dulu sering belajar bareng ya lebih pasnya dia sih yg ngajarin aku bantuin PR-PR aku bahkan bisa dibilang aku lulus seleksi ke kampus kita sekarang juga karena diajarin Dika.” jawab Andini yg membuatku bukan hanya tersedak namun mengerem mendadak dan berhenti. Dejavu macam apa ini, tapi bukannya dejavu itu kejadian persis sama yg menimpa diri kira sendiri kalo menimpa orang itu apa. Terus berapa persen sih kemungkinan kesamaan ini bisa terjadi gumamku dalam hati.
“Kamu gak apa-apa sayang?” tanya Andini sedikit panik karena salah tingkah ku.
“Gak apa-apa cuma keselek debu.” jawabku asal sambil melanjutkan motor ini kearah rumah Andini namun tanpa melanjutkan lagi obrolan dengannya karena pikiran ku melayang entah kemana.
Sesampainya di rumah Andini secara kebetulan ada Dika disana sedang duduk di bangku teras rumah Andini yg cukup luas, ia terlihat sudah menunggu lama dan bangkit ketika kami tiba.
“Udah lama?” sapa Andini yg turun dari motorku dan menghampiri Dika yg dijawabnya dengan anggukan.
“Hey dik, apa kabar?” sapaku seraya mengulurkan tangan kearahnya untuk berjabat tangannya.
“Baik nji.” jawabnya singkat sambil membala uluran tanganku.
“Kamu ngapain kesini?” tanya Andini ketus yg mungkin masih kesal dengan Dika.
“Tadi abis ngajar kebetulan lewat rumah kamu jadi sekalian mampir. Cuma udah malem kayanya aku langsung pamit aja din, yuk nji.” jelasnya seraya pamit yg hanya dijawab oleh aku dan Andini dengan mengangguk. Melihat wajah Dika saat itu entah mengapa mengingatku akan seseorang, tapi siapa. Dika pun berlalu meninggalkan rumah Andini dengan mobilnya.
“Katanya nungguin tapi ko pulang?” tanyaku heran pada Andini.
“Biarin aja. Masuk yuk sayang.” sahut Andini yg masih ketus sambil menawarkan ku masuk kerumahnya.
“Aku langsung pulang juga aja deh car. Pamit ama Papa Mama kamu aja yah.” pintaku yg direspon Andini dengan cemberut.
“Kan besok pagi kita ada kelas bareng bisa ketemu lagi.” lanjutku sambil mengelus rambut panjangnya dan direspon Andini dengan mengangguk tak ikhlas.
Setelah pamit aku langsung melajukan motorku kearah kosan namun tak jauh dari perempatan Juanda aku melihat mobil Dika yg terparkir di sebuah Cafe dekat situ, aku mengurungkan niat untuk pulang ke kosan dan menghentikan motorku di Cafe tsb untuk menemui Dika.
“Hey dik, sendirian.” sapaku saat menghampirinya seraya ia menoleh heran kearahku.
“Nji, ko lo bisa disini.” sahutnya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Tadi lewat liat mobil lo, sekalian mampir. Boleh join kan?” tanyaku yg direspon dengan anggukan seraya aku pun duduk didepannya.
“Ada yg mau gue omongin dik.” lanjutku sambil menoleh kearahnya.
“Apa nji? Soal Andini?” tanyanya yg kujawab dengan mengangguk.
“Kalo lo nyuruh gue ngejauhin Andini, sorry nji ga bisa. Kita sahabatan dari SMA.” jawabnya menghakimiku yg padahal belum berkata apapun padanya yg membuatku tertawa.
“Oh iya? Kenapa?” sahutku mengikuti alur pembicaraan yg Dika buat sendiri.
“Gue kenal Andini lebih dulu dari lo, gue sahabat Andini yg paling deket. Gue jauh mengenal Andini dari lo. Lo ga punya hak buat nyuruh gue jauhin Andini walaupun lo sekarang pacaranya.” cerocosnya menuduhku yg kurespon dengan menggelangkan kepala.
“Lo ngaku paling kenal Andini, tapi lo ga tau apa-apa tentang Andini sebenernya dik.” ujarku merespon semua argumennya.
“Maksud lo apa?” tanya Dika ketus.
“Lo ga tau kan perasaan Andini ke lo! Disaat yg bersamaan lo juga munafik Dik menyangkal perasaan lo ke Andini. Kalo boleh ngomong kasar, kalian berdua itu pengecut saling suka tapi bersembunyi dibalik kata sahabat karena takut akan cinta.” jelasku sambil menatapnya serius yg membuat Dika terdiam lama.
“Oke sekarang gue perhalus kata-kata gue biar lo paham. Lo cinta ama Andini dan Andini juga cinta sama lo. Cuma kalian berdua terlalu naif untuk mengakui itu.” lanjutku sambil melipat kedua tanganku didepanku.
“Gimana ceritanya Andini nerima lo kalo dia cinta sama gue.” sahut Dika dengan wajah herannya.
“Dik gue kasih tau ya. Cinta bisa datang dan pergi, cinta juga bisa memilih. Tapi satu yg ga bisa dilakuin cinta, menunggu. Gue datang diwaktu yg tepat, saat Andini terlalu lelah menunggu cinta dari lo.” jelasku padanya yg membuat Dika menundukan kepalanya mungkin malu mengakui semua kebenaran yg terucap dari mulutku.
“Mending lusa lo dateng ke acara Pemkot, Andini ngarepin lo ada disana. Dan disana gue bakal ngasih kesempatan lo buat ngerebut Andini dari gue.” tawarku yg entah kenapa bisa mengucapkan hal itu kepada Dika, apa aku siap kehilangan Andini gumam ku dalam hati. Aku bangkit dan pamit dari hadapan Dika yg sempat dicegahnya.
“Lo serius nji? Kenapa lo bisa ngelakuin ini? Emang lo ga serius ama Andini?” cerocosnya membuat panas kupingku.
“Kebanyakan nanya lo, jangan sampe gue berubah pikiran deh. Lakuin aja sih kalo masih mau ngejar Andini. Lagian gue cuma ngasih kesempatan lo, kalo Andini milih gue ya lo harus ikhlas.” sahutku ketus yg ia respon dengan mengangguk cepat.
Aku berlalu meninggalkan Dika dan memacu motorku untuk pulang. Saat itu aku menyadari sesuatu akan pertanyaan tatapan Dika yg mengingatkan ku akan seseorang. Ya seseorang itu adalah aku sendiri. Tatapan nanar itu sama dengan ku saat dihadapan Adit, dan aku tau persis rasanya seperti apa. Itu alasan ku memilih untuk tidak menjadi Adit dianatara Andini dan Dika.
Kalo kalian berpikir mustahil terlalu baik atau sama terlalu naif dengan mereka atas keputusan yg aku ambil saat itu, entah lah kalian boleh percaya atau tidak.
Aku akui suka dengan Andini, seminggu berpacaran dengannya membuat hari ku jauh lebih menyenangkan. Tapi karena pernah jatuh cinta dengan Clara, aku bingung bagaimana merasakan jatuh cinta seperti itu lagi. Itu yg tidak kurasakan saat bersama Andini.

Hari sabtu pun tiba, hari dimana Andini akan tampil bersama tim Paduan Suaranya, hari dimana aku akan melepasnya untuk membiarkan Andini bersama orang yg ia cinta.
Aku menunggu Dika di depan pintu masuk Gedung Sate tempat Pemkot Bandung menyelenggarakan acara saat itu untuk menyerahkan undangan, karena itu acara resmi hanya pemegang undangan yg diijinkan masuk mengingat Dika kemarin menolak ajakan Andini sehingga ia tidak memiliki undangan.
Meski tidak masuk kedalam aku berpakain rapih batik dengan celana bahan karena menyesuaikan dengan dress code yg sudah diatur. Maklum acara pemerintah sehingga protokolernya agak ketat daripada diusir karena dianggap bukan tamu undangan. Selain itu juga karena memang aku janjian bertemu Andini sebelum ia mulai masuk dengan tim nya, . Karena Andini tidak tahu tentang rencana ini, jadi kubiarkan ia masih berpikir akulah yg akan menontonnya didalam sana.
“Sorry nji telat.” sapa Dika menghampirku yg kubalas dengan menggelengkan kepala.
“Hobi banget lo ya bikin orang nunggu.” sindirku kepadanya.
Saat ingin menyerahkan undangan aku sempat menahannya sesaat.
“Dik gue serius. Jangan pernah berani lo sakitin Andini, gue ga akan ragu untuk ngambil dia lagi kalo sampe lo ngelakuin itu.” ucapku kaku namun entah mengapa sesaat sempat ada ragu menyerahkan undangan ini ke Dika dan tak rela membiarkannya mengambil hati Andini.
“Thanks nji.” jawabnya seraya berlalu dari hadapanku.
Aku tadinya mau beranjak dari sana untuk pulang, namun kuurungkan karena Andini berhak tau alasanku melakukan hal ini kepadanya jadi aku tetap tinggal disana.
Sekitar dua jam berlalu akhirnya acara selesai, saat itu para tamu undangan yg bubar memenuhi teras utama Gedung Sate untuk berbincang dan berfoto bersama kolega mereka. Saat anak-anak Paduan Suara kampusku keluar aku sedang berdiri bersandar di pilar yg agak jauh dari teras utama mencari Andini namun ia belum menunjukan batang hidungnya.
“Sayang!” tegur Andini yg malah muncul dari belakang ku.
“Hey. Gimana sukses?” sapaku sambil melihat wajahnya yg cemberut namun tetap cantik dengan rambut dikepal ke belakang ala pramugari.
“Kamu kenapa ga masuk sih sayang, malah dia.” sahutnya ketus sambil menunjuk Dika yg ada dibelakangnya.
“Heh amatir, ngomong buruan.” perintahku pada Dika yg berdiri dibelakang Andini.
“Apaan sih yang?” tanya Andini padaku yg heran akan keadaan.
“Andini. Aku mau ngomong sama kamu kalo aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku mau kita lebih dari sahabat din.” ujar Dika sambil menatap teduh wajah Andini, sedangkan aku berdiri di samping Andini.
“Ini apa-apaan sih, kamu kan tau aku udah punya Panji.” jawab Andini kepada Dika seraya makin mendekat kesampingku.
“Setelah sekian lama nunggu, akhrinya Dika nyatain perasaanya loh ke kamu.” ujarku seraya tersenyum kearah Andini.
“Maksud kamu apa sih yang?” jawab Andini berbalik kearahku menyelidik.
“Mata kamu ga bisa bohong car, aku tau kamu juga punya perasaan yang sama ke Dika. Sahabatan antara cowo dan cewe itu pasti ada rasa ga mungkin engga.” lanjutku kepada Andini untuk meminta ia jujur akan perasaannya.
“Helen ama kamu bisa.” sahutnya mengelak.
“Helen itu pacaran ama Angga.” balasku singkat.
“Clara ama kamu sahabatan juga kan?” tanyanya lagi yg belum puas yg membuatku menarik nafas panjang.
“Clara itu mantan aku.” jawabku mengaku sambil tersenyum kearahnya yg membuatnya terdiam cukup lama seakan tak percaya.
“Aku emang pernah sayang dan cinta sama Dika, tapi sekarang rasa itu udah pindah nji ke kamu.” sahut Andini yg masih mengingkari isi hatinya.
“Plis Andini kasih aku kesempatan untuk ngedapetin sayang dan cinta kamu lagi.” pinta Dika yg kuakui cukup berani mengatakan hal seperti itu disaat kondisi Andini mengakui rasa sayangnya kepada ku.
“Kasih aku alasan yg masuk akal atas sikap kamu nji.” ujar Andini padaku yg belum merespon permintaan Dika.
“Aku tau rasanya Andini. Aku pernah diposisi yg sama kaya kalian.” jawabku sambil menatap kearahnya.
“Terus kamu rela aku diambil Dika gitu aja? Segak berharga itu aku dimata kamu nji? Kamu sayang ga sih nji ama aku?!” respon Andini ketus yg mulai mengeluarkan air mata.
“Andini, aku bukan merelakan kamu diambil Dika. Tapi aku merelakan kamu untuk lebih bahagia.” jawabku sambil mengusap rambutnya yg mulai menangis dan menjatuhkan kepalanya dipelukanku.
“Maafin aku nji kalo masih nyimpen perasaan ke Dika, dan ga bisa buang perasaan ini meski kamu udah baik banget ama aku.” ujar Andini yg akhirnya mengakui rasa didalam hatinya sambil menangis terisak-isak di dadaku.
“Ga usah minta maaf. Belom lebaran.” jawabku menggodanya untuk membuat Andini tertawa yg direspon dengan memukul bahuku.
“Dika!” sahut Andini memanggil Dika.
“Iya din?”
“Aku mau nerima kamu dengan satu syarat!” pinta Andini sambil tetap menempelkan tubuhnya dan merangkul tanganku.
“Apa?” tanya Dika yg seperti tak rela melihat Andini menempel denganku.
“Jangan pernah kamu larang aku buat deket ama Panji.” pintanya yg membuatku menggelengkan kepala.
“Ga mau kehilangan fans mba?” sahutku meledeknya.
“Iyalah, siapa suruh bikin aku sayang sama kamu. Tapi cintanya tetep buat Dika.” jawab Andini centil seraya tertawa meski air matanya masih mengalir.
Dika pun mengangguk menyanggupi permintaan manja Andini untuk tetap bisa dekat denganku, buatku untuk saat ini tak masalah toh memang sejak awal aku dan Andini memulai hubungan ini dari teman makan bareng di kantin dan sekolompok tugas dengannya.
Aku yg saat itu rela melepas Andini tanpa rasa sakit apapun merasa yakin bahwa memang benar rasaku kepada Andini hanyalah sebatas rasa suka seperti yg Regas tuduhkan kepadaku.

Itulah kenapa hingga hari disaat Clara menemuiku di Bandung, hubunganku dengan Andini masih dekat bahkan seperti orang pacaran. Itu juga alasan Regas mengatakan bahwa Andini adalah Clara kedua yg dibikin jatuh cinta lewat teman sekelompok. Ya walapun lebih tepat hanya suka atau sayang karena kata Andini kan cintanya cuma buat Dika. Oh iya aku juga mendapat pekerjaan sampingan mengajar dari Dika. Buatku kehidupan menjadi friendzone Andini sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk menikmati kuliah di Bandung.
Selanjutnya untuk cerita bagaimana aku dan Clara bisa balikan, aku rasa lebih baik Clara saja yg cerita karena dari sudut pandangnya akan lebih banyak hal yg bisa ia ceritakan dan kalian akan mengerti mengapa aku mau balikan dengannya.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 20 | Ketika Kita Muda Part 20 – END

(Ketika Kita Muda Part 19)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 21)