Ketika Kita Muda Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 19

Start Ketika Kita Muda Part 19 | Ketika Kita Muda Part 19 Start

Flipped

Aku duduk di kantin sambil memainkan sedotan dalam gelas Milkshake didepanku seraya membuka handhphone untuk mengirimkan pesan singkat kepada Andini. Ya belakangan ini aku mulai sering saling mengirim pesan singkat sekedar menanyakan sedang apa atau mengobrol hal tidak berfaedah lainnya dengan Andini, seperti pagi ini aku mengirimkan pesan singkat hanya untuk menggodanya.

Panji:
Pagi Bandung!
Ku harap kabarmu hari ini tidak merenung.
Karena diriku yg tak datang berkunjung.

Andini:
Hai Pendatang!
Nasibmu sesungguhnya lebih malang.
Punya rindu ingin pulang.
Namun di Jakarta sudah tidak punya Yayang :p

Panji:
Wahai Bandung!
Ketahuilah cuaca di Jakarta sedang tidak mendung.
Jadi untuk apa pundung.
Karena di Bandung, tersimpan jutaan rindu yg tak terbendung.

Andini:
Gembel!! Gila lama-lama kalo sms sama lo nji! XD

Aku hanya tersenyum melihat Andini yg sudah tidak lagi bisa membalas gombalanku meski dalam hati ada tanya, apakah ia punya rasa yg sama denganku. Ya ya ku akui diriku sendiri pun ragu, apakah aku sudah benar melabuhkan rasaku kepada Andini atau hanya pelarian karena tak mampu lagi memiliki hati Clara.
Saat sedang asik memikirkan kata-kata untuk membalas pesan singkat Andini, Regas Angga dan Helen nongol ikut duduk bersamaku di meja kantin yg membuatku langsung menutup handphoneku.
“Lo ngapa tadi nyet?” tanya Regas meledek yg kubalas dengan tatapan penuh dendam.
“Udah Regas ih jangan diledek, masih untung tadi Panji mau naik panggung.” sahut Helen membelaku.
“Bagus ko nji tadi nyanyinya.” lanjut Helen yg kupikir hanya untuk menghiburku.
“Tapi rusak gara-gara nendang mic.” sahut Angga tertawa yg langsung dicubit oleh Helen. Regas yg mau ikut tertawa pun memilih menahan tawanya daripada diserang cubitan oleh Helen.
“Clara mana?” tanyaku heran karena tadi mereka masih bersama saat aku diatas panggung.
“Dijemput Adit.” jawab Helen singkat yg ku respon dengan anggukan.
“I know that feel bro.” ujar Angga menepuk pundak ku yg langsung ku tepis.
“Bodo!” ujarku ketus.
“Kalo gitu mumpung ngumpul, gue mau curhat dong.” lanjutku memohon kepada mereka bertiga untuk mengobrol serius.
“Ayo ayo cerita apa, mau usaha lagi balik ama Clara kan? Kita siap bantu jiwa raga.” sahut Helen semangat.
“Gue lagi mau deketin Andini.” ujarku mengabaikan ocehan Helen sambil menatap serius kepada mereka. Helen terlihat sedikit kecewa dengan kalimat yg keluar dari mulutku.
“Kan udah deket tinggal di tembak.” tembak Regas yg memang kondisinya sudah mengenal dan sering kumpul bersama aku dan Andini di kampus.
“Serius? Sedeket itu nji?” tanya Helen penasaran.
“Justru itu semenjak Enci satu ini ke kampus nyulik gue ngaku-ngaku pacar, dia nolak mulu tiap gue ajak jalan berdua. Alesannya nanti aja gampang.” lanjutku memotong Helen dan bercerita dengan serius.
“Itu artinya dia nolak gue ga sih? Iya ga ci? Lo kan cewe pasti paham.” tanyaku kepada Helen yg membuatnya terdiam untuk berpikir lama dan setelahnya hanya menggelengkan kepala.
“Yaaaah.” jawab aku Regas dan Angga kompak.
“Ya gue kan ga kenal deket sama Andini, jadi ga bisa nebak sifat dia.” elak Helen membela diri.
“Bilang aja lo ga dukung gue move on ci.” balasku sambil cemberut kearah Helen.
“Andini kaya gimana sih orangnya? Penasaran gue.” sahut Angga bertanya ke Regas.
“Ya antara Queen of Spades ama Queen of Diamond lah ama Clara.” jawab Regas asal.
“Apaan sih?” balas Angga tak mengerti dengan analogi aneh Regas.
“Ya udah gini aja, gue punya ide. Kalo dia ga mau diajak jalan berdua, lo ajak bertiga aja ama Regas.” usul Helen yg membuatku mengerutkan dahi.
“Ogah ah. Nanti Andini malah demen ama gue, kasian Panji.” sahut Regas dengan pedenya yg direspon Helen dengan melempar tusuk gigi kearahnya.
“Maksudnya gini loh nji gas, kalian ngajak seolah jalan bareng. Abis itu Regas kabur pura-pura ada urusan kek jadi Panji ama Andini kan tinggal berduaan. Kalo udah gitu Andini ga bisa ngelak lagi.” ujar Helen menjelaskan ide briliannya.
“Cerdas lo ci!!” sahut ku semangat.
“Gue lagi yg jadi korban.” timpal Regas dengan muka males.
“Lo ga mau banget bantu sahabat nyet.” pintaku memohon.
“Nasi goreng kampus ya seminggu?” sahutnya mengambil kesempatan sambil menaikan kedua alisnya.
“Ih Regas matre!” timpal Helen.
“Deal!” sahut ku menyanggupi.
“Senang berbisnis dengan anda anak muda.” jawab Regas dengan suara yg sok dibuat berat seraya ditempeleng oleh Angga.
“For Panji and Andini!!” teriak Regas bersemangat sambil mengangkat gelas Coffe Blendednya.
“For Panji and Andini.” sahut aku Helen dan Angga sambil menaikan gelas minuman kami masing-masing lalu tertawa bersama.
“Clara.” ujar Helen kaget dan juga membuat Regas dan Angga yg disamping kanan kirinya terpaku sambil melihat kearah belakangku. Reflek gerakan mereka membuatku membalik badan dan benar saja Clara berdiri terdiam disana sambil tersenyum simpul.
“Lo bukannya pulang ama Adit ra?” lanjut Helen terbata-bata seraya berdiri untuk berjalan mendekati Clara.
“Iya ini mau pamit ko, gue pulang yah. Dah semua.” sahut Clara seraya berbalik dan berlalu, Helen sempat berteriak untuk memintanya menunggu namun tak dihiraukan. Clara tetap berjalan sedikit berlari kearah gerbang sekolah.
“Panji kejar!!” teriak Helen memerintahku.
“Kenapa gue?” sahut ku bingung dan salah tingkah.
“Tadi tuh Clara ama Adit, sekarang dia sendiri berarti Adit udah pulang ga jadi nganter Clara kali aja mereka berantem. Makannya lo kejar!!” jelas Helen panjang lebar yg masih membuatku tak paham.
“Ko cuma gue?” balasku masih tak terima.
“Siapa lagi kampret!!” balas Regas dan Angga kompak yg geregetan membuatku serba salah tak punya pilihan lain selain mengejar Clara.
Aku pun berlari menyusulnya kearah gerbang sekolah, dan benar saja aku melihat Clara memasuki Taksi sendirian. Aku segera berlari mencegah Taksi yang saat itu akan berjalan.
“Stop stop!!” pintaku sambil mengahalangi Taksi tersebut dari depan dengan badan serta kedua tanganku yg membuatku hampir ditabrak. Supir taksi itu pun membunyikan klakson sambil membuka jendela seakan ingin memaki diriku namun segera ku rogoh kantung celana mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah dan menyerahkan kepadanya.
“Maaf pak cancel yah, ini bayarannya.” pintaku pada supir taksi yg membuatnya heran.
“Loh penumpangnya bukan mas. Ini maksudnya gimana.” balasnya yg tak ku tanggapi melainkan mengetuk kaca belakang untuk berbicara dengan Clara yg dibukakan olehnya.
“Kenapa nji?” sahut Clara heran.
“Turun ra, biar gue yg anter lo pulang.” tawarku kepada Clara yg awalnya masih menolak.
“Ga usah nji makasih, gue naik taksi aja.” lanjut Clara lagi sangat ramah sambil tersenyum simpul.
“Udah gue bayar taksinya, yuk gue bawa mobil ko.” ujarku sambil meminta supir taksi untuk membukakan kunci pintu dan membukanya lalu menarik tangan kanan Clara untuk ikut dengan ku yg akhirnya ia pun menuruti kemauan ku.
Kami pun berjalan kearah parkiran sekolah sambil aku masih tetap menggenggam tangan Clara dan membukakan pintu mobilku untuknya.
Setelah diposisi mengemudi aku pun segera mengarahkan mobil ini keluar gerbang sekolah menuju rumah Clara, setelah hampir beberapa bulan lamanya tidak pernah lagi kesana.
Awalnya kami masih saling diam hingga tiba-tiba aku menyadari sesuatu yg membuatku mengumpat.
“Anjir bego.” umpatku lirih namun masih terdengar oleh Clara yg membuatnya menoleh kearahku namun aku sibuk membuka handphone untuk menelepon Helen.
“Halo ci, masih di sekolah kan?” sapaku kepada Helen.
“Kenapa nji?” tanya Helen disebrang telepon.
“Tas gue ketinggalan ci hehe, tolong dong ambilin dibawah stand kampus gue. Nanti suruh bawa Angga aja biar gue ambil ke rumahnya.” lanjutku masih menjelaskan kepada Helen.
“Oh oke. Clara mana? Udah ama lo kan?” ujar Helen mengkonfirmasi apakah aku sudah bersama Clara.
“Iya ini di jalan pulang ko. Oke makasih ci.” jawabku menutup telepon ini yg direspon Clara dengan tertawa sambil menggelengkan kepala yg membuatku heran.
“Kenapa ra?” tanyaku penasaran sambil mengerutkan dahi.
“Lagian ngejar gue doang sampe tas sendiri ditinggal.” jawabnya sambil tertawa manis.

Ilustrasi Clara

“Soalnya kalo tas gue ketinggalan ga ada yg bakal minat ra, nah kalo elo ditinggal repot yg rebutan banyak hahaha.” timpalku seraya menggombalinya.
“Dih di Bandung lo gaul ama siapa sih? Jadi genit gini hahaha.” balasnya meledeku yg hanya kurespon hanya dengan tersenyum.
“Eh dapet salam dari Siska.” lanjut Clara yg kupikir ia sedang mengerjaiku.
“Assalamualaikum.” jawabku sok bijak padahal males menanggapi ledekan Clara.
“Serius Panji! Tadi dia ke stand kampus gue. Kayanya dia bakal jadi junior gue.” ujar Clara menjelaskan dengan wajah seriusnya.
“Kalo gitu lo harus waspada mulai semester depan, nanti kebalap lagi lulusnya ama Siska.” lanjutku balas meledek Clara.
“Dih nyebelin banget doanya, sialan lo nji!” sahut Clara seraya cemberut sambil memukul bahuku yg kurespon dengan tawa sambil menggelengkan kepala.
Sesampainya didepan rumah Clara aku pun menghentikan mobil ini dan mengatakan pada Clara sudah sampai, aku biasanya dulu langsung mengklakson yg nanti akan dibukakan oleh Mang Diman namun memgingat aku masih gengsi untuk mampir aku pun hanya diam. Tapi justru Clara menawarkan untuk masuk.
“Masuk dulu nji, klakson aja nanti juga dibuka Mang Diman kaya biasa.” jelasnya sambil tersenyum yg membuatku bimbang untuk menerima tawarannya atau menolak.
“Nji.” tegurnya lagi kepada diriku yg melamun dan membuatku reflek menekan klakson lalu tak lama pagar pun dibuka kan oleh Mang Diman. Akhirnya aku pun memasukan mobil ini ke halaman rumah Clara.
“Halo Mang Diman apa kabar?” sapaku kepada Mang Diman yg seolah kaget melihatku mengantar Clara.
“Walah Den Panji, baik Den baik. Wah kalo liat den ama non berdua lagi gini Mang Diman seneng nih.” sahutnya antusias mengomentari aku dan Clara.
“Udah ah jangan gosip mang, majikannya Mang Diman nanti cemburut.” jawabku meledek Clara yg langsung direspon dengan menyubit bahuku.
“Apaan sih!” sahut Clara yg membuat aku dan Mang Diman tertawa.
Aku pun lanjut memajukan mobil ini kearah dalam namun tak lama bahkan belum sempat ku parkirkan sempurna mobil ini tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari belakang yg cukup mengagetkan dan membuat aku serta Clara menoleh.
“Aduh itu anak ngapain lagi kesini.” umpat Clara panik seraya membuka pintu mobil yg segera ku susul dan ternyata manusia yg keluar dari sedan hitam seri 3 itu adalah Adit. Aku pun hanya berdiri menyandar badanku di mobil membiarkan mereka berdua berdebat menyelesaikan permasalahan mereka.
“Jadi kamu maksa masih mau di sekolah dan nolak aku ajak pulang karena pengen dianter ama mantan kamu itu!!” ujar Adit menyambut Clara dengan nada membentak diakhir saat menyebutkan kata mantan kamu itu yg membuatku langsung beranjak dari tempat ku berdiri karena kupingku sedikit panas mendengarnya.
“Bisa ga kalo ngomong ama cewe ga usah pake ngebentak.” tegurku kepada Adit sambil berjalan mendekat kearah mereka berdua.
“Lo ga usah ikut campur nji! Gue ga ngomong ama lo.” jawabnya sambil menatapku dengan penuh amarah dan kembali menoleh kearah Clara.
“Adit cukup! Aku lagi ga mau berantem. Mending kamu pulang sekarang, kita omongin nanti.” pinta Clara kepada Adit lembut yg tak digubris olehnya.
“Ga bisa! Yang harusnya kamu usir tuh dia bukan aku. Aku tuh pacar kamu sayang!” sahut Adit yg masih membentak Clara membuatku mulai naik darah dan berjalan untuk berdiri diantara ia dan Clara.
“Lo ga bisa dikasih tau ya, gue bilang jangan ngebentak Clara!” tegurku kepada Adit sambil menatap wajahnya.
Plakkk
Tinju Adit tepat mengenai pipiku, namun mohon maaf harus kuakui pukulan Adit sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibanding pukulan Rian yg pernah mendarat dipipiku setahun yg lalu. Pukulan Adit justru membuatku hanya pura-pura kesakitan dengan muka meledeknya mumpung Clara dibelakang tubuhku.
“Adit!! Apa-apaan sih!! Pergi dari rumah gue sekarang sebelum gue panggil satpam!!” ujar Clara yg sudah kehabisan kesabaran menanggapi Adit.
“Tapi ra, aku pacar kamu!” sahut Adit sambil mendorong tubuhku dari hadapannya dan mendekat kearah Clara.
“Kita putus! Lo pergi! Gue ga mau liat muka lo lagi!!” ujar Clara dengan tatapan yg sangat marah dimana selama berpacaran dengannya aku tidak pernah melihat ia semarah itu. Tak lama Clara pun beranjak dari tempatnya berdiri untuk masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Adit dan aku. Cowo kampret itu sempat mencoba mencegah Clara namun ditepis.
“Berani ngejar gue teriak!” ancam Clara kepada Adit yg membuatnya berhenti mengejar Clara.
Akhirnya Adit pun pasrah dan mengganti targetnya dengan mendekatiku yg masih berdiri dibelakangnya.
“Gue ga akan pernah lepasin Clara.” ujarnya seakan mengancamku untuk tidak mendekati Clara yg hanya membuatku tersenyum.
“Dude, things are going different from now. We are flipped.” jawabku sombong yg membuatnya pergi tanpa menjawab ocehanku.
Ia pun masuk kedalam mobil sambil membanting pintunya dan pergi berlalu dari rumah Clara.
Saat aku berbalik badan hendak menyusul Clara kedalam rumahnya tiba-tiba Mang Diman nongol dihadapanku.
“Mang Diman ngagetin aja.” sahutku menegurnya.
“Maaf Den Panji.” ujarnya sambil berpikir.
“Kenapa mang?” tanyaku heran seraya mengerutkan dahiku.
“Maaf, Non Clara pesen tadi katanya Den Panji pulang aja. Non Clara lagi pengen sendiri.” lanjutnya menjelaskan pesan Clara kepadaku yg cukup membuatku merasa diusir juga dan menghela nafas panjang.
“Oh ya udah iya makasih ya mang, salam aja buat Om dan Tante.” tutupku seraya pamit kepada Mang Diman dan mengarahkan mobilku kembali ke sekolah untuk mengambil tas ku mumpung Regas Angga dan Helen masih disana.

“Nji udah nganter Claranya?” sapa Helen saat melihatku datang menghampirinya dan Angga yg kujawab dengan mengangguk tanpa berkata seraya mengambil tasku yg dipegang Angga.
“Muka lo kenapa ditekuk gitu sih nyet?” tanya Angga seperti paham mood ku yg tidak biasa namun hanya kujawab dengan menggelengkan kepala sambil pamit untuk pulang namun Helen mencegahku.
“Iya lo kenapa nji? Cerita napa kalo ada apa-apa.” sahut Helen sambil menahan tanganku saat bermaksud berbalik badan untuk pulang.
“Regas mana?” tanyaku kepada mereka mencoba mengalihkan pertanyaan mereka.
“Biasa lagi ama panitia. Lo jelasin kenapa.” jawab Helen yg masih memaksaku untuk bercerita.
“Gue boleh nanya ga ci?” ujarku memulai cerita yg direspon Helen dengan mengangguk.
“Waktu Clara mutusin gue dulu di kampus, Clara langsung pulang apa masih ama Adit?” tanyaku kepada Helen membahas kejadian beberapa bulan yg lalu.
“Kayanya masih di kampus deh, mereka lanjut kelas seinget gue. Kenapa?” jawab Helen meski sambil berpikir mengingat lagi kejadian itu.
“Tadi Adit dateng pas gue nganter Clara ke rumah. Mereka berantem, dan Clara mutusin Adit.” jelasku singkat kepada Angga dan Helen.
“Serius nji? Yey!! Panji ama Clara balikan.” sahut Helen antusias yg kurespon dengan menggelengkan kepala.
“Balikan? Abis mutusin Adit aja, Clara ga mau nemuin gue. Malah minta Mang Diman buat nyuruh gue pulang! Paham kan sekarang siapa yg lebih di mata Clara!” sungutku ketus kepada Helen karena kesal dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Angga sempat mencegahku namun tak kuhiraukan dan terus berjalan untuk pulang.
“Bilangin Regas, gue balik ke Bandung duluan!” teriaku sambil berbalik badan kepada Helen dan Angga kemudian melanjutkan jalan menuju parkiran untuk pulang.

Sore itu juga aku berkemas untuk pulang ke Bandung, meski orangtuaku sempat heran karena rencananya aku baru pulang besok siang bersama Regas. Namun aku beralasan kepada mereka ada tugas kuliah yg harus segara ku kerjakan besok pagi dengan teman kampus.
Saat sedang menunggu ojek langgananku, mobil sedan silver yg tentu bisa ditebak milik Helen berhenti didepan rumahku. Dengan menghela nafas aku pun menghampirinya, meski sedang malas menanggapi masalah hari ini dengan mereka.
Aku cukup heran begitu melihat ternyata hanya Helen seorang diri yg keluar dari mobilnya.
“Sendiri?” tanyaku kepada Helen yg berjalan kearahku sambil mengangguk.
“Angga kemana?” lanjutku yg masih heran mengapa Helen sendirian.
“Pulang, gue udah bilang ke dia mau nemuin lo ko.” jawabnya sambil tersenyum.

Ilustrasi Helen

“Kalo mau ngebahas Clara gue lagi males ci, lagian bentar lagi ojek yg gue pesen dateng. Gue mau ngejar travel yg jam 5.” jelasku kepadanya untuk memintanya pulang secara halus.
“Gue anter yuk.” ajaknya menawarkan.
“Ga usah ci, gue udah mesen ojek.” tolak ku karena yakin apabila diantar oleh Helen akan membahas Clara selama di mobil.
Tanpa menghiraukanku Helen melewatiku untuk masuk kedalam rumah yg segera kususul, ternyata ia menyapa sekalian berpamitan dengan orangtuaku seraya mengatakan akan mengantarku.
“Yuk.” ajaknya lagi sambil tersenyum yg kuanggap ini sebuah pemaksaan.
Aku pun pasrah mengambil tas ku dan mengikuti Helen masuk mobilnya, ia memintaku untuk duduk dikursi penumpang yg kutururti sambil kusimpan tasku di bangku belakang. Mobil ini Helen arahkan menuju Jalan Gatot Subroto tempat pick up point travel yg biasa aku naik namun saat menuruni fly over dari arah Mampang ke Gatot Subroto, Helen malah mengarahkan mobil ini masuk gerbang tol Kuningan.
“Lah ko masuk tol ci?” tanyaku heran.
“Gue anter sampe Bandung.” jawabnya cuek.
“Ci g usah macem-macem deh, nanti lo balik ama siapa nyampe Bandung udah malem.” ujarku tegas karena niat Helen mengantarku ke Bandung sore ini bukan lah ide yg baik, mengingat sabtu sore arah Bandung pasti macet.
“Ci mending keluar lagi di gerbang tol Pancoran, gue nolak kalo lo nganter sampe Bandung.” lanjutku ketus kepada Helen.
“Bawel ih! Tinggal duduk manis aja.” jawabnya masih teguh dengan pendiriannya untuk mengantar ku sampai ke Bandung.
“Ci, emang Angga tau lo mau nganter gue ke Bandung?” sahutku mencoba mencari alasan agar ia segera mengarahkan mobil ini keluar tol.
“Udah sih tenang aja, Angga ga perlu tau ah bawel. Gue lagi pengen sama lo!” jawab Helen yg membuatku mengerutkan dahi.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Ya gue mau nemenin lo, anggap aja permintaan maaf karena selama beberapa bulan ini lebih sering maksa lo buat balik ke Clara daripada move on. Padahal Claranya juga bego ga peka-peka. Malah bikin lo sakit hati lagi. Jadi gue mau minta maaf dengan nemenin lo yg sekarang lagi down.” jelasnya panjang lebar yg masih membuatku tak paham kenapa Helen harus bertindak sejauh itu. Kesalahan masih berharap kepada Clara adalah kesalahan yg kubuat sendiri karena masih menuruti hati daripada otak.
“Oke gue maafin, tapi lo ga usah segitunya ci. Mending kita sekarang keluar tol, gue bisa pulang sendiri ke Bandung. Deal kan?” tawarku kepada Helen mencoba bersikap dingin agar ia menuruti kemauanku.
“Gak! Gue mau ikut lo ke Bandung!!” balas Helen yg semakin bulat pendiriannya untuk mengantarku ke Bandung.
“Kuliah kedokteran gigi bikin lo keras kepala ya.” sahut ku mencemoohnya karena kesal dan pasrah, terserah Helen mau berbuat apa.
Di rest area KM 57 tol Cikampek Helen membelokan mobil ini kearah pom bensin, aku mendapat ide untuk mengambil alih kemudi saat Helen nanti turun untuk membayar.
Saat giliran mobil kami masuk area pengisian, sesuai rencanaku Helen turun dan segera aku berpindah posisi ke sisi pengemudi seraya mengunci pintu sebagai strategi mengancam Helen agar mau duduk di kursi penumpang. Begitu selesai ia kembali kearah pintu pengemudi dan sesuai dugaanku Helen memaksaku untuk pindah.
“Panji! Awas ih. Pindah!” pintanya sambil melotot.
“Lo mending naek ke kursi sebelah atau gue tinggal disini?” ancamku dengan muka meledek yg nongol di kaca jendela yg terbuka setengahnya.
“Ih nyebelin, ini mobil gue. Gue lapor polisi nih!” ancamnya yg tentu membuatku tak takut karena semua barangnya termasuk handphone ada di mobil.
“Gue itung sampe lima kalo ga naik gue tinggal.” tutupku seraya menstarter mobil dan menutup kaca jendela. Helen pun seperti pasrah seraya langsung berlari ke pintu penumpang dan akhirnya naik. Ia terlihat ngambek dengan memasang muka cemberut dan tak berkata apapun sejak mobil ini berada dibawah kemudiku.
“Jangan cemberut, nanti cepet tua loh.” ledeku sambil mencolek bahunya yg direspon dengan menepis tanganku.
“Duilah ngambek beneran. Pulangin yah ke Jakarta biar dicharging lagi ama Mas Angga.” lanjutku yg masih puas meledeknya karena merasa memenangkan situasi setelah sebelumnya dikuasi oleh Helen. Namun sepertinya Helen belum kehabisan akal, ia mengambil kesempatan melihat kondisi aku yg sedang fokus menyetir untuk mengambil handphone miliku yg memang daritadi diletakan di dashboard mobilnya.
“Lo mau ngapain ci?” respon ku mulai panik saat ia memainkan handphone ku dan meletakan ditelinganya seperti sedang mengubungi seseorang
“Halo Andini.” ujarnya ramah sambil tersenyum kearah ku penuh kemenangan.
“Fak!! Lo ngapain anjir!! Enci! Cina! Licik!! Awas lo!!” umpatku kesal kepada Helen dengan nada berbisik.
“Ini gue Helen temennya Panji masih inget ga?” lanjutnya yg memang kuperhatikan benar adanya ia menelepon Andini.
“Temen gue kangen katanya, ketemuan yuk. Kita udah di Cipularang ko ini. Oke jam 8 yah di Cafe deket Juanda. See you Andini.” tutup Helen sambil menjulurkan lidah kearahku puas.
“Kalo mau puter balik ke Jakarta dan membuat pujaan hatimu kecewa untuk kedua kalinya ya silahkan. Tapi gue yakin Panji ga akan setega itu kan?” lanjut Helen meledeku dengan berlaga drama tersedu-sedu yg membuatku melempar tisu kearahnya dan ia pun puas tertawa. Aku pun pasrah tetap melajukan mobil ini memasuki Tol Cipularang kearah Bandung membawa Helen bersama ku.

Sekitat jam 8 lewat kami sampai di Cafe tempat janjian dengan Andini, namun aku terdiam saat melihat disana Andini tidak sendirian. Ia bersama seorang pria seumuran kami yg tak kukenal tapi mereka terlihat akrab. Aku dan Helen saling menoleh seolah kami sama-sama bertanya siapa pria itu.
“Jangan nanya gue nji, sumpah gue tadi cuma ngajak Andini.” ujar Helen seolah menjelaskan bahwa kehadiran pria itu diluar pengetahuannya.
“Panji!” teriak Andini yg sepertinya sudah melihat aku dan melambaikan tangan kearah kami yg kurespon dengan senyuman lalu mengajak Helen untuk menghampiri mereka.
“Hey.” sapaku kaku kepada Andini dan menoleh kearah pria disampingnya sambil melempar senyum.
“Hey nji. Helen apa kabar?” sapa Andini ramah sambil mengajak Helen cipika cipiki yg direspon Helen.

Ilustrasi Andini

“Baik ko, Andini ama siapa?” tembak Helen to the point. Dasar Cina ga bisa banget diplomatis umpatku dalam hati karena kesal atas tingkah Helen.
“Oh iya kenalin temen gue, Dika.” ujar Andini memperkenalkan pria itu yg diakuinya sebagai teman.
“Dika ini Helen, ini Panji. Mereka ini sahabtan dari SMA masih akrab sampe sekarang kaya kita.” ujar Andini mejelaskan kepada Dika.
“Dika.” sapanya kepada Helen sambil mengulurkan tanggannya yg disambut Helen dan kemudian kearahku yg juga kubalas.
“Panji.” jawabku singkat.
“Oh kalian juga sahabatan?” tanya Helen mengkonfirmasi statement Andini.
“Ia len, karena lo tadi nelpon bilang mau berdua ketemu gue daripada sendiri jadi biar rame gue ajak Dika aja.” jelasnya kepada Helen yg tentu masih belum membuatku puas karena masih penasaran dengan hubungan mereka apa benar hanya teman.
Kami pun memesan makanan dan minuman sambil lanjut mengobrol meski suasana saat itu sangat canggung terutama aku yg masih berpikir apa hubungan antara Andini dan Dika.
“Malem ini kalian pulang lagi ke Jakarta?” tanya Andini kepada kami yg membuat ku tersedak dan salah tingkah.
“Iyah hehe.” jawab Helen asal.
“Ya ampun jauh-jauh ke Bandung cuma makan malem doang.” sahut Andini menimpali.
“Iya abis Panji udah uring-uringan kangen ama yg di Bandung, kalo ga diturutin nanti ngacak-ngacak rumah tentangga.” bales Helen meledeku yg ku respon dengan menginjak kakinya dan membuat Helen meringis kesakitan.
“Helen ini tadi pagi abis demo praktek tindakan gitu di sekolah ama anak kedokteran, terus kemasukan anastesi satu ampul makannya ngawur sampe sekarang.” sahutku untuk menutupi omongan Helen yg tidak disaring. Kuperhatikan Dika sedikit meliriku saat mendengar Helen berkata aku kangen dengan Bandung.
“Kalian tuh lucu ya, Panji ama Regas juga sama kerjaannya berantem mulu. Ga tau nya ama Helen juga sama berantem mulu.” ujar Andini tertawa melihat tingkah ku dan Helen.
Setelah sekitar sejam kami pun berpisah karena Andini mengaku hanya ijin sampe jam 9 malam kepada orangtuanyya, ia pun pulang diantar oleh Dika.
“Amsyong amsyong.” keluhku saat melihat mereka berdua berlalu dari hadapan kami.
“Lu olang punya hoki amsyong nji ga ada cuan cuannya!” ledek Helen kepadaku yg kurespon dengan melirik tajam kearahnya.
“Positif thinking nak, itu hanya sahabatnya! Sahabat tapi mesra hahahaha.” lanjut Helen yg semakin puas meledeku dan segera ku balas dengan mengkelitiki perutnya.
“Panji!! Geli ih! Panjiii ampuuun! Malu ih panjiii!!” teriaknya sambil menggelinjang dipinggir jalan dan puas kutertawai. Helen pun segera kabur masuk mobil dan ku susul ikut masuk kedalam.
“Panji udah ah sakit perut gue.” rintihnya didalam mobil menyerah atas serangan kelitikan ku kepadanya.
“Sukurin!” sungutku puas melampiaskan kekesalan kepada Helen.
“Terus sekarang kita kemana ci? Gue harus nemenin lo sampe matahari terbit nih biar lo pulang ke Jakarta dengan aman.” tanyaku kepadanya sambil menoleh kearahnya yg duduk disampingku.
“Kemana aja asal bersama dirimu wahai sahabatku dari SMA.” ujarnya meniru suara Andini yg membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak.
“Nangor yuk, makan tahu sumedang.” ajaku yg langsung direspon Helen dengan mengangguk semangat.
Akupun memgarahkan mobil ini kearah pintul tol kopo untuk lanjut menuju timur ke arah Cileunyi.
Sepanjang jalan kami hanya mendengarkan lagu dari radio, Helen sebisa mungkin mencari lagu galau untuk menghinaku dan menyanyikannya sambil menepuk-nepuk pundak ku.
“I’m sick of this lifeeee! I just wanna screaaam!! How could this happen to mee!” teriaknya puas saat radio memutarkan lagu Untitled nya Simple Plan yg sedang hits saat itu.
“Kampreeeey!!” sahutku sambil kami berdua pun tertawa. Malam itu sepertinya sel saraf sadar kami berdua sedang korslet.
Setelah membeli tahu sumedang yg terkenal seantero Jatinangor aku menghentikan mobil ini dipinggir jalan raya Bandung-Sumedang dekat kampus favorit disini yg juga terkenal bagus.
Kami duduk di atas kap bagasi belakang mobil Helen sambil menikmati tahu sumedang dan mengobrol macam dua sejoli yg tak punya modal untuk pacaran.
“Gue yakin orang yg lewat pada ghibahin kita, itu orang punya mobil tapi pacaran ga modal dipinggir jalan hahaha.” ujarku kepada Helen.
“Biarin nji, kan kalo di agama lo katanya di ghibahin ngurangin dosa. Kebetulan banget kan lo banyak dosa! Hahaha.” ledeknya puas yg membuatku melempar cabe rawit kearahnya.
“Lo alesan apaan ke Angga?” tanyaku kepada Helen karena sedaritadi ia sama sekali tak terlihat menghubungi atau sekedar mengirim pesan singkat kepada Angga.
“Dia mah cuek, gue bilang nemenin nyokap belanja juga udah anteng sampe pagi ga bakal ngehubungin lagi.” jawabnya sambil mengunyah tahu sumedang dimulutnya.
“Tapi gue iri ama lo berdua, kayanya ga pernah gitu ada drama atau berantem. Lurus lurus hubungan aja kaya kaya tiang listrik.” sahutku yg memang selau melihat Helen dan Angga tak pernah bertengkar.
“Makannya gue cinta ama Angga hihihi.” jawabnya centil sambil tersenyum yg kurespon dengan mengangguk.
“Eh lupa didepan gue ada jomblo, maafkan apabila perkataanku menyinggung perasaan mu nak.” responnya sambil menempelkan kedua telapak tangannya dan ditaro diatas keningnya yg ku balas ledekannya dengan menempelkan lubang hidungku ke ujung jemari Helen.
“Panji joroook!!” sahut Helen kesal begitu menyadari jarinya masuk lubang hidungku yg membuatku tertawa puas dan lari masuk kedalam mobil dan segera disusul olehnya.
“Cari minum yuk auuus” pinta Helen sambil menempelkan kepalanya kebahuku.
Aku pun kembali mengarahkan mobil ini mencari mini market untuk membeli minum, namun hampir semua toko sudah tutup mengingat sudah pukul 12 malam. Aku membelokan mobil ini kearah jalur Nagreg yg biasanya suka banyak warung pinggir jalan karena ini jalur penguhubung satu-satunya antara Bandung, Garut dan Tasikmalaya jadi meski tengah malam masih cukup ramai.
Kabut mulai turun membuat cuaca dingin malam ini semakin menusuk, parahnya aku hanya menggunakan kaos karena berangkat dari Jakarta tadi dengan pakaian seadanya. Helen pun sama hanya menggunakan kaos ketat dan celana pendek selutut yg saat aku kembali dari membeli minum ia nampak kedinginan.
“Dingin banget sih nji.” ujarnya sambil meringkuk menaikan kakinya sambil memeluk lututnya.
“Nih minum dulu.” tawarku sambil memberikan sebotol air mineral kepadanya yg ia ambil lalu diminumnya.
“Balik ke Bandung aja ya.” ajak ku kepadanya sambil kembali mengarahkan mobil ini putar balik menuju tol cileunyi.
“Kalo ngantuk minggir dulu aja nji bahaya.” ucapnya sambil mendekatkan tubuhnya ketubuhku.
“Badan lo anget nji enak.” lanjut Helen sambil memejamkan matanya dan menyandarkan keseluruhan tubuhnya kepadaku.
Saat beberapa kilometer di tol dan melihat rest area, aku memutuskan untuk membelokan mobil ini untuk berhenti. Selain karena mulai ngantuk, Helen yg tertidur mulai menganggu posisi mengemudiku.
“Dimana ini nji?” tanyanya yg terbangun saat aku menarik tuas rem tangan.
“Rest Area, lo tidur tadi nyusahin bikin gue ga bisa mindahin gigi makannya gue berhenti.” ujarku kepada Helen yg setengah sadar entah ia mendengar atau tidak.
“Ya udah tidur dulu aja disini nji.” ajaknya kujawab dengan anggukan dan merebahkan kursi mengemudiku untuk melonjorkan badanku.
“Lo ga bawa jaket nji?” lanjut Helen bertanya yg sepertinya masih kedinginan namun kujawab dengan menggelengkan kepala.
“Peluk sini anggap aja Mas Angga.” ledeku kepadanya yg dibalas dengan memukul bahuku dan tersenyum namun Helen pun mendekat dan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuhku sambil memeluk erat yg membuatku salah tingkah.
Posisi Helen membuatku tak fokus sehingga tak bisa tidur, aku pun merogoh kantung celana untuk mengambil handphoneku.
Membuka kotak masuk yg tidak ada pesan baru dan riawayat panggilan yg juga tidak ada panggilan baru seraya menghela nafas panjang.
“Jantung lo ko deg-degan nji.” ujar Helen lirih yg mengagetkanku.
“Lah lo ga tidur?” tanyaku padanya yg dibalas dengan menggelengkan kepala.
“Kenapa ci?” lanjutku sambil mengelus rambut Helen.
“Nji?” ujar Helen berbisik.
“Hmm?” jawabku yg juga lirih karena mulai mgantuk.
“Waktu kita ciuman, apa yg lo rasain.” tanya Helen membuat ku yg tadinya mengantuk jadi membuka mata lebar lagi untuk berpikir serius.
“Basah.” jawabku asal karena bingung jawaban apa yg harus kulontarkan, yg membuat Helen bangkit dan memukul bahuku.
“Ih nyebelin maksudnya bukan rasa fisik. Rasa di perasaan!!” sahutnya ketus yg sepertinya sudah bener-bener bangun.
“Dilema. Gue ngerasa bersalah ama Angga, disatu sisi ya ga munafik gue nikmatin.” jawabku jujur kepada Helen.
“Tapi g ada rasa cinta kan? Maksudnya beda kan rasanya ama ciuman lo ama Clara.” tanyanya menyelidik yg kujawab dengan anggukan.
“Ya beda sih, kenapa?” tanyaku balik karena heran.
“Buat mastiin aja kalo kemaren kita berdua emang cuma kebawa suasana g ada perasaan apapun.” jelasnya sambil menatap kearahku seraya menarik tanganku seolah memintaku untuk bangkit yg kuturuti.
“Cium gue lagi nji.” pinta Helen yg membuatku kaget.
“Hah? Buat apaan?” sahutku heran.
“Buat mastiin kalo gue juga sama g ada perasaan apa-apa sama lo.” lanjutnya menjelaskan yg membuatku menggelengkan kepala.
“Engga deh ci, udah cukup kemaren kita ngelakuin kesalahan. Lo juga tadi bilang cinta ama Angga, jadi udah ga ada yg perlu lo pastiin lagi.” ujarku nyerocos yg segera ditutupnya mulutku menggunakan bibirnya. Aku dan Helen malam itu kembali berciuman, bahkan kali ini ciuman Helen sedikt lebih memburu memagut dan melumat setiap centi bibirku yg membuatku sulit mengimbangi ciuman bibirnya.
Bibir Helen terus bergerak melumat menelusuri dan menghisap membuat suara dalam setiap kecupan saat bibir kami saling beradu.
“Mmmuach mmuachh smmuachh.”
Nafas kami semakin memburu ditengah lumatan bibir bawahnya olehku yg mulai mengimbangi ciuman Helen. Perlahan tempo lumatan Helen melambat dan mulai melepas bibirnya dari bibirku. Helen menatapku sambil tersenyum.
“Ga ada perasaan apa-apa.” jawabnya senang.
“Boleh dong lagi?” pintaku lirih yg mulai terbawa suasana.
“Genit!” jawab Helen berbisik sambil menganggukan kepalanya yg segera kusambar lagi bibirnya. Sorry ngga malam ini pacar lo buat gue dulu gumamku dalam hati.
Kami pun kembali saling melumat dan memagut liar menikmati bibir kami masing-masing. Tempo ciuman ini semakin cepat disertai nafas kami yg saling memburu seakan menahan hasrat yg lama terpendam.
“Mmmmuahhh mmmuacchh”
Terdengar suara berisik setiap lumatan bibir kami, sesekali aku menggigit bibir Helen gemas yg dibalasnya juga dengan mengigit dan menyedot dalam bibirku yg membuatku kelonjotan mengimbangi ciuman Helen yg luar biasa nikmat, basah serta geli. Tangan Helen melingkar dileherku yg membuat jarak eksplorasi bibir ini semakin puas untuk menghisap bibir dan lidah Helen disaat yg bersamaan. Bibir kami terus melumat dan memagut tanpa lepas sambil tangan ini mulai menggerayangi tubuh Helen menuju dua bongkah toket imutnya yg masih dilapisi kaos ketat.
“Hmmm nakal yah.” lenguh Helen sambil meliriku centil.
“Kata lo tadi boleh ci.” sahut sambil lanjut melumat bibirnya lagi dan mengigit lembut lidahnya. Kami berciuman seperti diburu nafsu, lumatan yg menjelajah bahkan hingga kedagu yg membuat bibirku dan bibir Helen basah oleh lumuran liur kami saat berciuman.
Perlahan tanganku mulai mengelus toket Helen yg membuatnya menggelinjang sambil kami tetap berciuman lalu dari elusan dengan sedikit tenaga aku mulai meremas toket imutnya yg membuat Helen melepaskan ciuman bibir dan melenguh seksi.
“Ooughhh ssshhh terus gitu nji” pinta Helen yg membuatku nafsu ku naik hingga mulai memindahkan ciuman ini kelehernya, menyupang setiap senti leher jenjangnya yg membuat Helen kelonjotan geli.
Bibir Helen kembali menyambar bibirku dan kami kembali berciuman kali ini saling menggigit karena gemas, beberapa kali gigi kami beradu.
Aku menarik tubuh Helen untuk mendekat kearahku dan menyelinapkan tangku kedalam kaosnya untuk menelusuri pinggangnya yg mulus dan naik melepas kaos ketatnya menyisakan beha yg menutupi toketnya yg ukurannya cukup disenggenggaman tanganku. Kubenamkan wajahku diantara kedua toket Helen dan mulai menciuminya dan mengigit pelan yg membuat Helen semakin mendesah.
“Mhhhh uhhh nji hmmm.” desahnya lirih.
Ciuman ku menelusuri tali beha Helen dan mengigitnya lalu kutarik hingga membuat toket kanan Helen meloncat bebas dari bungkusnya.
Toket ranum bulat dengan puting merah muda itu mengacung seksi meski tidak besar namun cukup sekal karena tidak turun sedikitpun yg membuatku bernafsu untuk melumatnya.
Lidahku menelusuri bulatan toket Helen dari pinggir hingga menuju aerolanya berakhir dengan mengecup dan mengemut putingnya yg sudah mancung daritadi.
“Sluurpp ahh sluuurpppp ahhhh.” suara berisik dari lumatanku atas toket Helen yg membuatnya menggelinjang hebat karena menerima rangasangan di toketnya.
“Aaakhhh sayang enakkkhhh teruuusss gitu” rintih Helen yg membuatku semakin mabuk akan toketnya dan terus mengemutnya sambil meremas toket kiri Helen yg masih terbungkus beha.
Tanganku bergerak kearah punggungnya untuk mencari kaitan behanya dan melepasnya sehingga kedua toket Helen sekarang terpampang dihadapanku.
“Seksi banget pacarnya siapa sih?” ujarku lirih menggoda Helen yg dibalasnya dengan mencium bibirku.
“Pacar Angga yg lagi diselingkuhin ama Panji.” ujar Helen centil yg membuatku gemas dan langsung melumat habis kedua bongkah toketnya secara bergantian sambil meremas dan menghisapnya.
“Oochhh iya sayang teruusss” rintih Helen yg melenguh seksi seraya menarik kaosku dan juga dilepasnya.
“Gantian nji.” ujar Helen seraya pindah ke jok sampingku dan mulai membuka kancing celanaku, menurunkan sletingnya hingga menarik celana panjangku hingga bawah. Tangan Helen menyelinap kedalam celana dalam ku dan mengeluarkan kontolku yg sudah mengeras sedari tadi dan mengocoknya lembut.
Dengan memasang wajah seksi Helen mulai menunduk untuk mendekatkan mulutnya ke kontolku dan mulai dikecup dan diciuminya pelan-pelan yg bikin aku tak sabar.
Sambil terus diurut dari pangkal hingga kepala kontolnya Helen terus menciumi dan sesekali menjilatnya menimbulkan rasa ngilu basah dan geli.
Hingga setelah puas membasahi batang kontolku mulutnya mulai membuka dan memasukan kontolku kedalam mulutnya hingga mentok yg membuat ku sel saraf ujung kontol ngilu terkena jepitan tenggorokan Helen yg membuat ku mengerang nikmat.
“Oouggghhh enak sayaaanggg.” rintihku menerima servis blow job dari Helen yg kuakui lebih nikmat dari blow job Vina.
Helen mulai menaikan tempo hisapannya sambil terus disedot dalam dan memainkan lidahnya didalam kepala kontolku.
“Hhhmmmm enak banget emutannya sayaaang uuhhh.” desahku yg mulai merasakan ngilu diujung kontolku. Beruntung Helen menyudahi aktifitasnya memgemut kontol ku, jika tidak aku bisa keluar hanya dengan hanya servis blow job Helen.
“Pindah ke belakang yuk sayang.” ajak Helen centil yg disertai ciuman kami, sambil pindah ke jok belakang mobil. Helen menyandarkan tubuhnya ke jendela samping dan mengangkang yg membuatku paham akan kemauanya. Aku pun menarik celana pendeknya dan menyisakan celana dalam tipis berwarna pink.
Kudekatkan wajahku persis didepan selangkangannya dan mulai mencumbunya. Menghirupnya dalam dan menekannya yg membuat Helen menggelinjang sambil menjenggut rambutku.
“Aakhhhh sayanggg uhhhh geliiii.” rintihnya yg membuatku semakin bernafsu untuk membasahi celana dalamnya.
“Aahhh lepas aja cd nya sayang, nanti becek ga bawa ganti.” rintih Helen memohon namun tak ku hiraukan.
Lidah ini mulaiku mainkan menjilati cdnys hingga basah dan kuputar dengan sedikit menekan agar terasa ke memeknya Helen yg membuatnya terus merintih. Cd Helen mulai basah dan aroma cairan vaginanya membuatku semakin horny dan tanpa melepas cdnya aku hanya singkap ke samping hingga terpampang lah selangkangan seksi Helen yg mulus putih tanpa bulu dan kecoklatan dibagian vaginanya. Aku pun mulai mengecup dan menjilati bibir memek Helen yg membuatnya kelojotan dan menarik rambutku.
“Mmhhh sluurpppp sluurpppphh.” suara emutan bibirku ke memek Helen yg menambah seksi suasana di dalam mobil yg hot ini.
“Aahhhh sayaaanggg uhhh ngiluuuu enakkkk” rintih Helen yg membuatku semakin bersemangat mengemut dan menjliati memeknya. Sambil kumainkan lidahku di clitorisnya dan sesekali menyedotnya yg membuat Helen memekik.
“Ampun sayang udahhh masukin aja.” rintih Helen memohon yg membuatku menghentikan jilatan atas memeknya.
“Boleh sayang dimasukin?” ijinku sambil menatap Helen dengan mupeng.
“Ijin dulu sama pacarku.” timpal Helen genit yg membuatku melumat bibirnya.
“Kan selingkuh masa ijin.” lanjut ku meledeknya yg dijawab Helen dengan mencium kembali bibirku.
“Masukin makannya buruan mumpung pacarnya masih tidur.” balas Helen genit yg membuatku belingsatan untuk segera menyetubuhinya.
Aku sebentar menengok kanan kiri untuk memastikan keadaan sekitar kami aman, ya mengingat sudah pukul 2 pagi dan rest area ini sangat sepi aku pun kembali fokus dengan Helen.
Kuarahkan kontolku persis didepan lubang memek Helen yg sudah becek dan mendorongnya perlahan yg membut Helen mendesis. Begitu kepala kontolku sudah pas dilubang kenikmatan milik Helen, dengan sekali hentakan aku dorong kuat kontolku memasuki memek Helen yg sangat sempit.
“Sleeebbbbb” saat kontolku masuk seluruhnya kedalam memek Helen yg membuatnya mengerang.
“Aakhhhhhh sshshhhh” teriak Helen sambil merintih.
“Sakit sayang?” tanyaku heran karena ini bukan yg pertama kalinya bagi Helen.
“Kontol kamu gede banget sayang. Sakit.” jawab Helen merintih.
Perlahan ku gerakan kontolku maju mundur didelam memek Helen yg sangat becek, sambil Helen masih merintih kesakitan menerima kontolku didalam memeknya. Ku dekati wajahnya sambil kuciumi bibirnya untuk membuat Helen sedikit rileks.
“Shhhh terusin sayang mulai enak.” rintih Helen yg membuatku mulai sedikit menaikan tempo genjotanku. Sesekali toket Helen yang bergoyang ku kecup dan emut lembut yg membuatnya semakin mendesah nikmat.
Kontol ku mulai bergesekan nikmat dengan dinding memek Helen yg licin basah nikmat dan linu yg membuat kami semakin bergoyang cepat.
“Hmmm enak banget kamu sayang.” rintihku memuji permainan Helen yg dibalasnya dengan senyum dan mengecup bibirku.
Aku mengajak Helen bergeser untuk naik keatas tubuhku, kontolku yg sempat terlepas tadi mulai diarahkan lagi kelubang kenikmatan milik Helen dan perlahan masuk memenuhi memek Helen yg membuatnya merintih.
“Ughhhh gilaa kontol kamu panjang banget sayang. Penuh memek akuuhh.” desah Helen seksi yg menbuatku sedikit mengangkat pinggulku dan memberinya hujaman terhadap memeknya.
“Akkhh aku keluar sayaaangggghhh” jerit Helen yg menggelinjang melengkungkan badanya menikmati orgasmenya. Memek Helen yg berkedut terasa menjepit kontolku yg membuat rasa ngilu mulai menjalar.
Aku pun segera memindahkan posisi Helen kembali dibawahku dan mulai kembali menggenjot memeknya.
“Sshhh hmmm uhhh nji enak bangettt” rintih Helen dengan nada yg lemas. Aku terus memacu kontolku menikmati seluruh jepitan yg memek Helen berikan hingga rasa gatal nikmat geli dan panas ini mulai memuncak diujung kontolku.
“Aku mau keluar sayang.” ujarku.
“Bareng sayang hhmmm” jawab Helen.
Kami terus memacu kenikmatan masing-masing dalam memburu orgasme dan akhirnya Helen kembali mendesis ketika mendapatkan orgasme keduanya.
“Aku keluar lagi sayangg hhmmm ahhhh” teriaknya disertai getaran getaran seksi tubuhnya.
Aku yg sudah diujung orgasme pun terus menggenjot memek Helen tanpa memberinya nafas untuk menikmati sisa orgasme. Saat kontol ini mulai terasa linu ingin menumpahkan isi spermanya segera kuberi hentakan terakhir dan mengeluarkan kontolku dari memek Helen yg sudah berada diujung orgasme.
Croooot croott croooootttt croooottttttt beberapa kali kontolku menumpahkan sperma diatas perut Helen yg membuatnya tersenyum seksi dan bangkit untuk mengecup bibirku.
“Nakal kamu nji, pacar sahabat sendiri ditidurin.” ucap Helen centil sambil kami lanjut berciuman.
“Pantes Angga betah, pacarnya enak.” lanjut ku memuji Helen yg dijawabnya dengan memukul bahuku.
Malam itu aku dan Helen telah mengkhianati Angga, aku sadar diriku telah sukses menjadi cowo brengsek yg berpotensi merusak persahabatan kami selama lebih dari tiga tahun ini kedepannya nanti. Bahkan jika tahu diri, seharusnya aku sudah tidak sepantasnya mendapat predikat sahabat dari Angga. Namun aku dan Helen membuat kesepakatan yg menganggap ini hanya hubungan badan tak lebih dari itu, juga menjaga rahasia ini agar tersimpan baik. Hal itu membuatku berharap semoga hubungan kami semua akan baik-baik saja.
Akhirnya setelah selesai bercinta aku dan Helen memutuskan mencari hotel untuk istirahat dan tidur agar Helen tidak mengantuk nanti saat menyetir pulang.
Sekitar pukul 11 siang kami bangun dan tanpa mandi Helen pun langsung bergegas kembali ke Jakarta, aku sempat mengecup keningnya sebelum ia pulang yg dibalas dengan tamparan dipipiku.
“Anjir kampret salah gue apaan enci!” sungutku kesal ketika Helen menamparku.
“Lo tadi nyium jidad gue pake hati bego!! Inget ga boleh ada hati!!” tegur Helen yg kupikir ada benarnya, kuakui saat mengecupnya aku memikirkan Helen yg pulang sendiri dengan mobilnya dan membuat perasaanku khawatir. Sempat terbesit ingin melarangnya agar ku antar lagi saja pulang namun tamparan Helen menyadarkan ku bahwa antara kami hanya teman tak lebih bahkan tak boleh lebih. Akhirnya mobil Helen pun berlalu dari pandanganku, sementara aku pulang kembali ke kosan dengan menggunakan taksi.

Hari seninnya di kampus saat jam makan siang Regas menungguku di depan kelas yg membuatku heran karena tak biasanya ia menungguku.
“Kaya pacar gue aja lo nungguin di depan kelas biasanya juga di kantin.” tegurku kepada Regas yg hanya dijawab dengan menarik ku ke kantin.
“Apaan sih nyet?” lanjutku penasaran.
“Helen ama Clara berantem lagi?” tanyanya sambil kami berjalan menuju kantin.
“Hah? Kata siapa?” jawabku balik bertanya karena heran atas statement Regas.
“Lah lo ga tau? Kata Angga kemaren pas lo balik ke sekolah, bilang kalo diusir Clara. Helen langsung kerumah Clara dan berantem disana.” lanjut Regas yg membuatku kaget.
“Hah? Helen kemaren ga cerita apa-apa.” jawabku polos.
“Kemaren? Kemaren kan lo udah di Bandung.” sahut Regas yg membuatku cukup salah tingkah. Hampir aja salah jawab kampret umpatku dalam hati.
“Iya maksudnya kemaren Helen nelepon gue, cuma nanya gue udah sampe Bandung apa belom. Udah itu aja.” jawabku berbohong kepada Regas agar ia tak salah paham.
Seperti biasa kami pun memesan makan di kantin, sambil melanjuti obrolan kami. Aku yg penasaran sebenernya ingin segera menelepom Helen namun mengingat obrolan terakhir kami untuk jaga jarak, aku masin menahan untuk tidak bertindak gegabah.
“Hey cowo gabung dong.” sahut Andini yg tiba-tiba nongol dan duduk disampingku mengagetkan lamunanku.
“Eh mojang Bandung, dari kemaren dicariin.” sahut Regas menyambut Andini.
“Dicariin siapa?” tanya Andini penasaran yg dijawab Regas dengan menunjuk diriku.
“Oh kan kemaren kita udah ketemu ya nji, bareng Helen malah.” jawabnya polos.
Deg. Mampus umpatku dalam hati.
Regas langsung memandangku dengan tatapan menyelidik sambil mengerutkan dahinya, aku terdiam seribu bahasa tak punya diksi apapun untuk menjawab pertanyaan Andini apalagi saat itu tingkah Regas mulai menunjukan kecurigaan pada ku dengan memajukan tubuhnya mendekat kearahku sambil melipat tangannya.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 19 | Ketika Kita Muda Part 19 – END

(Ketika Kita Muda Part 18)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 20)