Ketika Kita Muda Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 18

Start Ketika Kita Muda Part 18 | Ketika Kita Muda Part 18 Start

The Clown

Aku dan Helen duduk di kantin menunggu Regas yg masih sibuk mengurus himpunan karena ada akan ada acara makrab di jurusannya minggu depan. Rencananya kami akan ke Jakarta langsung sore ini untuk menjenguk Clara seperti yg dipinta oleh Helen.
“Clara sakit apa sih ci? Lo kan bisa nelepon ga perlu jauh-jauh ke Bandung.” ucapku yg saat itu berdiri gelisah menyandar ke pilar kantin dengan posisi Helen yg duduk persis didepanku.
“Gue takutnya kalo cuma nelepon lo g mau dateng nji.” jelasnya dengan tatapan kosong kearah botol minum didepannya.
“Ga segitunya juga kali ci.” jawabku menepis tuduhan Helen.
“Hey sori lama.” sapa Regas yg baru muncul dihadapan kami.
“Terus kita mau langsung jalan ke Jakarta sekarang?” lanjutnya bertanya sambil menoleh kearahku dan Helen menunggu jawaban. Aku hanya mengangguk seraya mengajak untuk jalan ke parkiran mobil.
“Ayo ci.” ajak ku kepada Helen sambil menarik tangannya.

Ilustrasi Helen

Kami pun masuk mobil Helen, aku mengambil posisi menyetir karena kasian Helen baru saja membawa mobil ini dari Jakarta ke Bandung sendirian sedangkan Helen disamping posisiku dan Regas dibelakang. Mobil ini pun kuarahkan keluar gerbang kampus menuju barat ke arah Pasteur.
“Gas lo kenal Andini?” ucap Helen tiba-tiba memecah keheningan didalam mobil.
“Udah deh ci ga usah diperpanjang.” sahut ku memprotes.
“Andini siapa?” jawab Regas heran yg memang belum ku kenalkan dengan Andini.
“Ih lo ga usah pura-pura ga tau deh ama gebetan baru temen lo ini!” balas Helen sambil badannya berbalik ke belakang mengajak Regas ngobrol.
“Siapa nyet? Ko lu ga pernah cerita.” timpal Regas seraya maju mendekat ke posisiku meminta klarifikasi.
“Temen doang nyet.” balasku singkat.
“Bohong! Temen ko mau jalan bareng.” ketus Helen seolah menghakimi perbuatanku.
“Oh temen jurusan lo yg kemaren ketemu di kantin itu nyet? Namanya Andini?” tanya Regas yg hanya kujawab dengan anggukan.
“Regas ga bisa banget diandelin buat jagain Panji.” lanjut Helen memprotes ketidaktahuan Regas.
“Loh? Emang ada yg ngasih gue tugas begitu?” balas Regas protes tak terima.
“Ga ada sih tapi minimal harusnya lo yg tau duluan tentang Panji, kan lo sahabatnya disini masa kalah ama gue yg baru nyampe Bandung udah ngegepin Panji ama cewe.” jawab Helen menjelaskan yg membuatku menggelengkan kepala.
“Angga tau lo ke Bandung?” tanyaku kepada Helen.
“Tau, malam ini juga Angga jalan dari Surabaya.” jawab Helen yg cukup membuatku kaget.
“Clara sakit apa sih? Sampe-sampe Angga juga harus balik dari Surabaya? Lo daritadi ditanya ga jawab ci.” ujarku menyerbu Helen dengan pertanyaan yg daritadi tidak dijawabnya.
“Clara ditabrak mobil gara-gara nyelametin gue yg nyebrang sembarangan di depan kampus!!” jawab Helen sambil sedikit berteriak dan mulai terisak-isak.
“Anjir Helen!! Kenapa ga telepon aja sih? Masa Clara kecelakaan gue ga mau balik!! Lo kesini aja udah ngabisin 5 jam!!” balasku teriak memarahi Helen atas sikap cerobohnya.
“Gue mana tau!! Gue panik!! Disana gue ga bisa ngapa-ngapain nji, makannya gue lari ke Bandung. Gue mau diri gue berguna buat Clara disaat kaya gini. Tapi begini juga salah! Semuanya emang salah gue!!” jawab Helen yg terbawa emosi dan semakin menangis.
“Terus lo pikir dengan lo ke Bandung berguna gitu buat Clara?? Kalo lo telepon pas kejadian, gue ama Regas udah di Jakarta sekarang!!” omelku lagi atas pemikiran bodoh Helen saat itu.
“Nji cukup!! Omelan lo tuh cuma memperkeruh suasana! Sekarang kita udah disini, ga ada waktu buat nyalahin siapa pun. Udah lo fokus nyetir, hati-hati.” ujar Regas mencoba menjadi pendingin suasana. Aku yg masih kesal atas sikap bodoh Helen hanya bisa diam dan memacu mobil ini semakin kencang menuju Jakarta, sedangkan Helen masih menangis terisak-isak disampingku.
“Len, udah jangan nangis. Kita sampe, Clara pasti udah baikan.” ujar Regas mencoba menenangkan Helen.
“Kampret jangan diem aja lo!” lanjut Regas mengomeliku tak terima atas sikapku yg diam saja.
“Maaf ci tadi ngomel-ngomel. Gue juga panik. Tapi ga ada maksud nyalahin lo ko.” jawabku minta maaf dengan nada yg mulai rendah.
“Engga nji, gue emang bego.” timpal Helen yg masih menangis.
Aku menarik tubuhnya untuk mendekat kearahku dan menyenderkan kepala Helen kepelukanku.
“Itu kecelakaan bukan salah siapa-siapa. Gue minta maaf yah.” ujarku seraya mengelus rambut Helen yg membuatnya malah semakin menangis. Helen pasti merasa sangat bersalah atas kecelakaan yg menimpa Clara saat itu.
Kami tiba di Rumah Sakit yg letaknya bersebelahan bahkan satu area dengan kampus Clara dan Helen sekitar pukul 11 malam karena terkena macet di beberapa titik begitu memasuki wilayah Jakarta.
Saat itu kami langsung berjalan menuju ruang ICU dan bertemu dengan orangtua Clara disana, Helen langsung berlari ke arah Ibunya Clara sambil menangis.
“Tante maafin Helen.” ujarnya seraya memeluk tubuh Ibunya Clara yg dibalas pelukan.
“Clara gak apa-apa, ini bukan salah Helen sayang.” ujar Ibunya Clara menenangkan Helen. Aku dan Regas mendekati mereka seraya menyapa kedua orangtua Clara.
“Panji apa kabar kamu sayang?” sapa ramah Ibu Clara yg melihatku sambil tetap memeluk Helen yg masih menangis.
“Baik tante. Clara gimana kondisinya?” balasku yg langsung menanyakan kondisi Clara.
“Kata dokter tinggal nunggu siuman aja. Makannya Helen ga usah nangis yah, nanti juga Claranya bangun.” ucap Ibu Clara menjawab pertanyaanku seraya menghibur Helen.
“Ini kalian dari Bandung?” sahut Ayah Clara yg menghampiri kami dan kujawab dengan anggukan serta senyum.
“Tindakan dari dokter apa aja om?” tanyaku kepada Ayah Clara untuk mendapatkan gambaran kondisi Clara sekarang.
“Kepala belakangnya terbentur dan luka sobek jadi dijahit terus tulang bahu kirinya juga ada yg retak jadi dipasang pen, sejauh ini hanya itu sih nji.” jelas Ayah Clara yg kurespon dengan menganggukan kepala.
“Kalian pasti capek, lebih baik sekarang pulang dulu toh udah jam segini ga diijinin untuk masuk. Besok pagi saja kesini lagi. Om dan Tante juga ini mau pulang.” lanjut Ayah Clara memberikan saran kepada kami.
“Gak apa-apa om, kita sekalian nunggu Angga.” jawabku sambil tersenyum.
“Kalo gitu Om dan Tante pamit dulu ya, oh iya ada Mang Diman kayanya di lobby. Kalo butuh apa-apa bisa minta tolong dia.” timpal Ayah Clara seraya pamit bersamanya Ibunya Clara meninggalkan kami bertiga.
Kami sempat tertidur diruang tunggu yg dibangunkan oleh Angga ketika ia tiba. Saat itu Helen yg mengantuk tetap melanjutkan tidurnya, aku Angga dan Regas mengobrol di ruang tunggu. Awalnya kami membicarakan kondisi Clara yg kujelaskan kepada Angga sesuai informasi dari Ayahnya, sampai akhirnya ngobrol ngalor ngidul menghilangkan suntuk.
“Lo mau di Jakarta sampe kapan nyet?” tanyaku kepada Angga.
“Rencananya minggu sore pulang sih, senin kan kuliah.” jawab Angga yg kujawab dengan mengangguk dan menoleh ke arah Regas meminta jawabannya.
“Sama lah, minggu balik ke Bandung. Lo juga kan nyet?” ujar Regas meminta konfirmasi ku yg kujawab dengan mengangguk ragu.
“Ada ga sih cowo segak tau malu gue yg udah ditinggal, udh tau juga dia udah sayang ama yg baru masih bela-belain datang dari Bandung ke Jakarta karena khawatir.” ujarku tiba-tiba kepada Regas dan Angga ditengah obrolan kami. Cukup lama mereka berdua terdiam sebelum menjawab pertanyaan ku.
“Nyet, kalo hati bisa memilih ga akan ada yg namanya kecewa atau sakit hati. Lo ga bisa milih dengan siapa hati lo harus jatuh cinta. Sama seperti ga bisa milih kapan waktunya berhenti untuk cinta.” jawab Angga menghiburku.
“Kalo dari Film yg pernah gue tonton, lo tau kenapa orang bisa bela-belain naik gunung everest meski dia bisa mati karena itu? kenapa orang bisa bela-belain hill climbing grand canyon meski dia juga bisa mati karena itu? Karena ketika mereka mecintai sesuatu mereka ga butuh alasan apapun untuk tidak melakukan itu. Anggap aja lo lagi mendaki gunung everest atau hill climbing di grand canyon sekarang nyet.” lanjut Regas seraya menepuk pundak ku yg entah mengapa kata-katanya pas dengan apa yg ingin ku dengar. Kalian tahu, terkadang manusia saat curhat bukan mencari solusi terbaik melainkan ingin mendapat pembenaran dari apa yg ia ragukan.

Kami terjaga hingga pukul 5 pagi, Helen Regas dan Angga bermaksud untuk pulang dahulu untuk berganti pakaian dan istirahat sebentar baru kemudian kembali lagi sekitar siang. Sementara aku memilih untuk tetap disana menunggu Clara siuman.
“Kalo ada kabar langsung telepon kita ya nji.” pesan Helen kepadaku saat pamit kami pun berpelukan dan mereka bertiga berlalu dari hadapanku.
Aku berjalan menuju toilet untuk cuci muka dan sikat gigi. Kembali ke ruang tunggu sambil membuka notebook ku untuk membuka email, aku berniat meminta maaf kepada Andini melalui email karena aku belum memiliki nomor handphonenya. Tapi tertunda karena terlalu lama berpikir, hingga seorang dokter yg saat itu sedang visit mencari keluarga Clara.
Aku memberanikan diri untuk menghampirinya mencari tahu apa yg diperlukan oleh dokter.
“Permisi dok, tadi saya dengar dokter mencari keluarga Clara?” tanyaku menegur dokter yg sedang menulis rekam medis di ruang suster.
“Mas keluarganya?” sahutnya singkat mungkin karena butuh konfirmasi segera.
“Bukan, tapi saya bisa segera menghubungi keluarganya kalo ada tindakan atau hal lain yg diperlukan..” belum selesai aku berbicara dokter itu memotong omongan ku.
“Tolong sampaikan, pasien kehilangan banyak darah kemarin dan kita sekarang kehabisan stok. Info keluarganya untuk segera mencari donor darah yg sesuai dengan pasien.” pinta tegas dan jelas.
“Oh kalo hanya itu, saya bisa jadi pendonor pasien dok. Kebetulan setahu saya golongan darah kami sama.” jawabku segera merespon.
Ya aku tau kalo golongan darah ku dan Clara sama, kami pernah mengobrol tentang ini saat SMA dulu saat kami masih sering menghabiskan waktu diperpustakaan.
“Bo, zodiak kamu apa sih?” tanya saat itu mengangguku yg sedang meriksa hasil latihan soal Clara.
“Pentingnya zodiak dalam hidup kita tuh apa sih ra. Yg aneh-aneh aja kamu.” jawabku yg masih fokus meriksa hasil latihan Clara.
“Ih ga asik banget jawabnya! Kalo tau zodiak kan kita bisa saling baca sifat masing-masing.” sahutnya polos yg membuatku ingin tertawa.
“Ra ra. Darah nih ya, yg mengalir hampir keseluruh tubuh kita aja ga ada hubungannya ama kepribadian. Apalagi zodiak, bintang nan jauh disana. Hahaha kamu tuh.” respon ku menertawainya yg langsung dibalas dengan muka cemberut.
“Tapi tahu darah pasangan itu penting ra, golongan darah aku O rhesus positif. Kamu tau golongan darah kamu apa?” lanjutku sambil tersenyum kepadanya.
“Ih kita sama! Aku juga O positif! Terus pentingnya apa bo?” lanjut Clara centil yg seakan sengaja bertanya karena pasti menunggu untuk ku gombali.
“Kalo terjadi apa-apa saat kamu butuh donor darah, kamu ga perlu menerima aliran darah dari orang asing. Karena aku sendiri yg akan ngasih darah aku ke kamu. Dengan begitu didarah kamu mengalir darah aku.” jawabku sambil menatap wajahnya yg tersipu malu saat itu.
“Aku sayang kamu.” balas Clara berbisik sambil mencubit tanganku karena salah tingkah.
Aku pun tidak menyangka hari dimana sesuatu itu harus terjadi, bukan masalah mendonorkan darahnya tapi kenapa hari dimana Clara membutuhkan darah harus terjadi. Hal yg menyesakan lainnya buatku adalah ini terjadi disaat aku bukan siapa-siapa Clara melainkan hanya orang lain.
Akhirnya aku diantar ke ruang bank darah untuk mendonorkan darahku dan mereka mengambil satu kantung besar. Clara sebenarnya membutuhkan dua kantung, saat aku meminta untuk diambil lagi dari darahku mereka tentu menolak karena batasnya tidak boleh lebih dari satu. Aku tahu hal itu namun tetap memaksa karena khawatir Clara masih sulit mendapat donor, namun susternya menjelaskan setelah satu kantung diberikan akan dicek kembali membutuhkan tambahan atau tidak. Aku meminta untuk menginformasikan kembali hasilnya dan itu cukup membuatku lega.
Aku memutuskan untuk melihat kondisi Clara, dan masuk ke ruang ICU pagi itu. Aku duduk persis disampingnya yg masih belum sadarkan diri. Aku memegang tangannya yg dingin kemudian ku angkat dan kutempelkan ke dahiku yg hangat.
Saat terpatung dalam posisi tersebut cukup lama, aku melihat seseorang berdiri didekatku dan saat ku mengangkat wajahku ia adalah cowo kampret yg sekarang memiliki Clara, Adit dengan membawa banquet bunga.
Aku bangkit dari posisiku yg tadi tertidur sambil memegang tangan Clara, menaruh tangannya kembali dan mendekati Clara yg masih belum sadarkan diri.
“Ra udah ada Adit, gue tinggal ya.” ujarku singkat kepada Clara yg tertidur tak sadarkan diri seraya pergi meninggalkan Adit tanpa pamit namun saat di luar ruang ICU ia memanggilku.
“Nji tunggu.” tegur Adit yg membuatku menghentikan langkahku.
“Bisa ga lo ga usah muncul lagi di hidup Clara.” lanjut Adit tanpa basa-basi memintaku.
“Lo udah milikin Clara, gue udah dia buang. Apaan lagi yg lo khawatirin?” sahutku menimpali tanpa menjawab permintaannya.
“Ga usah sok jadi sahabat, gue yakin lo masih punya perasaan ama Clara.” lanjutnya menghakimi.
“Gini ya dit, lo udah ambil hatinya, udah ambil juga raganya, lo udah milikin semuanya. Terus lo masih takut? Atau jangan-jangan lo sendiri ragu udah milikin Clara seutuhnya atau belom? Kalo iya, itu masalah lo bukan masalah gue.” jawabku ketus seraya berlalu meninggalkannya dan tak menghiraukan panggilannya lagi.
Aku tidak pulang, aku menemui Mang Diman untuk mengajaknya sarapan di kantin Rumah Sakit.
“Den Panji ko ga pernah ke rumah lagi?” tanya Mang Diman membuka obrolan saat kami sarapan bareng.
“Saya kan sekarang di Bandung mang.” jawabku mencoba mengesampingkan hubungan ku dan Clara sebagai alasan.
“Oh bagus kalo gitu.” jawabnya sambil tersenyum lebar.
“Loh bagus apanya mang?” sahutku heran atas respon Mang Diman.
“Saya pikir karena sudah putus, kalo cuma karena di Bandung ya berarti wajar kan jauh.” timpalnya lagi bahkan yg kali ini sambil tertawa.
“Emang kalo saya sama Clara putus kenapa mang?” tanyaku menimpali responnya.
“Sayang den, kalo menurut Mang Diman Den Panji ini cowo yg paling baik untuk Non Clara. Keliatan tulus karena setiap datang semua ditemuin bukan cuma Non Clara aja Ya Tuan dan Nyona bahkan saya dan Bi Siti aja ditemuin bahkan suka dibawain oleh-oleh, kalo cowo yg lain mah cuma nemuin Non Clara doang den. Modal bunga, emang bunga bisa dimakan. Disimpen aja layu.” ujarnya bercertia antusias yg membuatku tertawa dan menggelengkan kepala.
“Mang Diman, Mang Diman. Ada-ada aja. Tapi kan yg suka bawain bunga itu sekarang pacar barunya Clara. Mang Diman harus mulai deket juga ama dia, pasti sering kerumah kan.” balasku yg masih tertawa karena cerita Mang Diman.
“Boro-boro. Sombong begitu den. Tapi beneran Den Panji dan Non Clara putus?” lanjutnya lagi yg kali ini mulai lemas dan kehilangan antusiasnya.
“Ya begitulah mang.” jawabku singkat sambil tersenyum.
“Tuh kan bener apa kata Mang Diman kalo Den Panji ini tulus. Udah putus aja masih bela-belain nungguin Non Clara di Rumah Sakit semaleman.” jawabnya yg hanya bisa ku respon dengan senyuman. Andai Mang Diman paham bahwa antara tulus dan bodoh itu beda tipis dan aku tidak tahu sedang berdiri diposisi yg mana.
Saat kembali menuju ruang tunggu ICU setelah sarapan, aku melihat Adit sedang mengobrol dengan Ayah dan Ibunya Clara. Melihat itu aku membelokan arahku ke coffe shop didepan lobby utama dan membuka kembali notebook yg tadi belum sempat ku lanjutkan.
Handphone ku berdering panggilan dari Helen dan segera kuangkat.
“Iya ci?” sapaku ditelepon kepada Helen.
“Lo masih disana nji?” jawabnya dengan nada seperti bangun tidur.
“Iya masih.” jawabku singkat.
“Clara gimana udah siuman?” lanjut Helen menanyakan kabar Clara.
“Tadi sekitar sejam yg lalu sih belum. Ga tau sekarang.” timpalku menjelaskan.
“Loh, emang sekarang lo dimana?” tanya Helen heran.
“Coffe shop yg dideket lobby utama.”
“Ko ga nungguin Clara?” lanjut Helen yg masih penasaran.
“Udah ada Adit yg jagain.” sahutku getir dan Helen tidak menjawab cukup lama.
“Sebentar lagi gue kesana nemenin lo. Tungguin ya.” jawab Helen yg kujawab iya dan menutup pembicaraan kami ditelepon.
Aku mengurungkan niatku untuk mengemail Andini dan mengganti dengan mengerjakan tugas Kalkulus Lanjutan karena ada tambahan nilai untuk kuis minggu depan sambil membunuh waktu disini.
Sekitar jam 10 Helen tiba menghampiriku yg sedang asik mengerjakan kalkulus di Coffe Shop bahkan sesaat aku lupa jika sedang berada di Rumah Sakit menunggu Clara.
“Nji ko masih disini.” sapa Helen saat datang menemuiku.
“Eh iya tanggung sambil ngerjain tugas ci.” jawabku yg direspon Helen dengan menggelengkan kepala.
“Lo tuh ya bener-bener kalo udah belajar, orang mah hobi maen game, maen futsal lah ini ngerjain tugas.” balasnya sambil tertawa meledek ku.
“Ya udah yuk kesana lagi, kali aja Clara udah siuman.” lanjut Helen mengajaku yg kujawab dengan anggukan dan merapihkan notebook ku. Kami pun berjalan menuju ruang tunggu ICU dan disana terlihat Ibunya Clara seorang diri sedang membaca majalah. Aku dan Helen menghampirinya untuk menyapanya.
“Ko sendirian Tante? Bukannya tadi Om ada?” tanyaku yg memang tadi pagi melihat Ayah dan Ibunya Clara bersama Adit.
“Iya Om ada urusan ke pengacara masalah penabrak mobil kemarin.” jelas Ibunya Clara sambil menawarkan kami untuk duduk disebelahnya. Saat tahu orang tua Clara memperpanjang urusan dengan si penabrak aku hanya bergumam dalam hati, supir itu menabrak orang yg salah.
“Oh iya ko kamu tau ada Om disini tadi nji?” lanjut Ibunya Clara yg membuatku memutar otak mencari alasan apabila ditanya kenapa tidak menghampiri mereka.
“Mmm iya tadi liat Om dan Tante lewat dari jauh pas lagi di Coffe Shop depan lobby utama.” jawabku terbata-bata.
“Oh Tante pikir kalian semua udah pulang semalam.” lanjut Ibunya Clara.
“Kita sih pulang tante, cuma Panji yg tinggal sendirian disini nunggu sampe sekarang belum pulang.” sahut Helen seolah sengaja menunjukan kepada Ibunya Clara bahwa aku sudah menjaga Clara semalaman yg membuatku melotot kearahnya sebagai respon tak suka.
“Kalo gitu yg donor darah buat Clara kamu ya nji? Ya ampun makasih ya nak. Takdir banget ya golongan darah kalian sama.” respon Ibunya Clara.
“Hah? Bukan. Adit kali tante.” balasku yg mencoba menutupi sebagai pendonor darah Clara karena tak ingin orang tua Clara merasa berhutang budi padaku.
“Tangan lo itu ada plester bekas suntik nji ga usah sok bohong kalo ga jago.” timpal Helen seraya tertawa melihat tingkah bodohku saat itu. Aku langsung mencopot plester dan tersenyum kearah mereka.
“Panji panji. Ko malu-malu sih.” ledek Ibunya Clara kepadaku yg hanya kujawab dengan menggelengkan kepala sambil menahan tawa atas tingkah bodohku sendiri.
“Clara belum siuman tante?” ucap Helen melanjuti obrolan dengan Ibunya Clara.
“Belum sayang, kamu udah jenguk? Sana lihat mumpung jam segini kan semalem pasti belum sempet.” tawar Ibu Clara kepada Helen.
“Ko Panji ga ditawarin sih tante, dia udah kelojotan tuh dari kemarin sore.” ledek Helen kepadaku.
“Ah Helen payah ya nji, dari mata Panji yg tenang keliatan sekali dia udah nemuin Clara. Iya kan nji?” ujar Ibunya Clara meledeku yg semakin membuatku salah tingkah.
“Panji ikut nemenin Helen aja deh daripada diledekin Tante mulu.” ujarku yg dibalas tawa oleh Helen dan Ibunya Clara. Aku dan Helen pun masuk kedalam untuk melihat kondisi Clara.
“Gue kira ada Adit didalem.” ujar Helen saat kami sudah didalam.
“Tuh.” jawabku singkat menunjuk banquet bunga yg ditaro diatas meja disamping Clara.
“Yaelah nji bunga doang, kagak bisa diajak ngobrol.” sahut Helen berbisik mengomentari bunga pemberian Adit yg hanya kurespon dengan menggelengkan kepala.
“Lo lebih unggul semaleman disini ngasih darah lo juga, Adit dateng bentar langsung kabur.” lanjut Helen masih berbisik membicarakan Adit.
“Nyatanya Clara lebih milih Adit.” timpal ku kepada Helen untuk menskak mat semua opininya yg ia respon dengan cemberut.
Tanganku memegang tangan Clara yg dingin lagi, mencoba menghangatkannya dengan suhu tubuhku yg normal. Helen yg memperhatikan ku kemudian menatapku penuh arti seolah paham, ia meninggalkan ku berdua dengan Clara di ruang ICU.
Aku pun kembali duduk dan memposisikan kembali diriku disamping Clara menempatkan tangannya pada dahi ku dan tertunduk untuk merekam semua momen saat itu. Momen dimana aku menjadi pendaki gunung everest yang meski tahu bisa membunuhku tapi aku tak butuh alasan apapun nekat melakukan hal itu kecuali perasaan kepada Clara yg memang masih ada didalam hati ini.
Sekitar 30 menit berlalu aku merasa tangan Clara bergerak, yg membuatku bangkit dan mendekati wajahnya. Perlahan kelopak mata Clara bergerak hingga akhirnya membuka matanya menatap keatas dan kemudian menatapku yg ku balas dengan senyuman. Aku bersyukur Clara akhirnya sadar, bahkan mataku hingga berkaca-kaca karena senang.
“Panji.” ujar Clara sesaat melihatku, hatiku tertarik lagi mendengarnya mengucap namaku.
Aku tak membalas Clara melainkan hanya menempatkan satu jariku ke mulut sebagai isyarat agar ia tak perlu banyak bicara sambil mengelus dahi dan rambutnya yg ditutupi perban.
“Aku panggilin Mama yah. Kamu diem jangan banyak bicara dulu.” pintaku seraya pamit untuk menemui Ibunya Clara. Aku pun bergantian dengan Ibunya Clara dan Helen yg ingin menemui Clara yg sudah sadar setelah ku beritahu. Aku juga menghampiri suster untuk menginformasikan bahwa pasien atas nama Clara sudah sadarkan diri yg membuatnya langsung menginformasikan ke dokter untuk diperiksa.
Setelah diperiksa oleh dokter dan hasilnya baik itu lebih dari cukup untuk membuatku lega dan tenang untuk pulang. Aku pun pamit kepada Ibunya Clara untuk pulang karena sudah semalaman hingga siang ini di Rumah Sakit.
“Nanti sore Panji kesini lagi tante.” ujarku menjanjikan saat Ibunya Clara sempat menahanku untuk tidak pulang dan akhirnya mengijinkan.
“Gue anter yuk nji.” tawar Helen yg ku jawab dengan anggukan.
Saat aku bermaksud untuk mengambil posisi menyetir, Helen melarangku meski awalnya sempatku paksa ia tetap menolak karena aku semalaman belum tidur. Akhinya aku pasrah diantar Helen pulang dengan disupirin olehnya.
“Makasih ya nji.” ujar Helen memecah keheningan saat kami di mobil.
“Buat apa?” tanyaku heran.
“Masih mau berjuang buat Clara.” jawabnya sambil tetal menatap kearah jalan.
“Nanti juga ada waktunya gue berhenti ci.” sahutku sambil menatap kosong kearah jendela.
“Gue g akan diem aja, gue bakal buat Clara sadar siapa cowo yg pantes buat dia.” ujar Helen bersemangat.
“Cinta bukan buat dipaksakan ci.” jawabku menimpali statemen yg dibuat oleh Helen.
Kamipun akhirnya sampai didepan rumahku, aku menawarkan Helen untuk masuk namun ia hanya terdiam terpaku menatap kedepan.
“Kenapa ci?” tanyaku heran seraya mendekat kepadanya yg membuat Helen menoleh kearahku dan menatap wajahku lama.
“Ci?” sahutku lagi yg dijawabnya dengan mendekatkan wajahnya kearah wajahku tanpa menyisakan jarak dan membuat hidung kami bersentuhan. Aku tidak bisa menebak atau memang sengaja tidak ingin menebak apa yg ingin Helen lakukan sampai akhirnya Helen menempelkan bibirnya ke bibirku. Perlahan kami saling memagut dan akhirnya larut dalam ciuman yg dalam, saling melumat dan mengecup bibir masing-masing. Setelah sekian menit kami akhirnya melepas ciuman bibir kami dan saling menatap, aku bingung dan hanya terdiam seolah tak percaya atas apa yg sudah kami lakukan.
“Sorry nji sorry, bego bego!!” ujar Helen memaki dirinya sendiri.
“Ga ci gue yg salah sorry.” timpalku yg mulai dikuasai logika sadar.
“Nji, jangan salah paham ya. Ciuman tadi datang dari rasa empati gue ke lo. Seandainya gue Clara, itu yg akan gue lakuin kalo ketemu cowo setulus lo. Biar lo tahu usaha lo pasti ga sia-sia.” jelas Helen sambil memeluk ku.
“Gue sayang ama kalian berdua dan gue harap kalian bisa balik lagi kaya dulu.” lanjutnya saat dipelukanku.
Aku yg tidak mau kami larut dalam perasaan bersalah pun meminta pamit kepada Helen seraya mengucapkan terima kasih dan kami sepakat untuk melupakan kejadian itu.
Ayah dan Ibuku heran begitu melihatku pulang, saat kuceritakan apa yg terjadi menimpa Clara mereka juga sama panik dan meminta ikut menjenguk nanti sore yg tentu kuturuti agar punya alasan tidak berlama-lama disana mengingat Clara sudah sadar sehingga aku tidak perlu lagi menunggunya.

Hari minggunya begitu mengetahui aku Regas dan Angga akan kembali ke kampus, Helen mengajak untuk menjenguk Clara lagi dan berjanji akan mengantar aku dan Regas ke pick up point travel serta lanjut mengangar Angga ke bandara yg kami setujui.
Clara saat itu sudah dipindahkan ke ruang opname normal tidak lagi di ICU.
“Gue mau nganter jagoan-jagoan kita pamit nih non.” ujar Helen membuka obrolan saat kami disana.
“Makasih yah Angga Regas udah jauh-jauh dari Surabaya ama Bandung.” ucap Clara berterimakasih kepada mereka.

Ilustrasi Clara

“Nji, makasih yah udah jagain gue semaleman” lanjut Clara kepadaku manis yg hanya kujawab dengan anggukan karena malu dan membuat wajahku memerah.
“Ga usah salah tingkah juga kali.” ledek Angga kepadaku yg ku balas dengan melempar tisu kearahnya.
“Cepet sembuh ya ra. Kita pamit.” ucapku menimpali Clara yg tadi sempat terganggu oleh kampret biadab.
“Yah pada pulang g ada yg jagain gue lagi dong.” ujarnya manja sambil tertawa manis kearah kami.
“Noh bunga noh yg jagain lo sampe layu.” sahut Helen meledek Clara.
“Ih Helen jahat! Itu dari yayangku tau!!” balas Clara yg membuat rasa sesak sedikit diuluh hati ku namun sesuai pesan Ayah aku pun hanya menarik nafas panjang untuk mengontrol emosi.
Helen berjalan kearahku dan merangkulku yg membuat kami semua heran apa yg ingin ia lakukan.
“Yakin milih yayangmu yg itu dibanding yg ini? Cowo tulus begini kalo disia-siain banyak yg ngantri loh di Bandung. Gue juga mau.” ujar Helen meledek Clara.
“Heh apa-apaan kamu beb ko kamu ikutan.” protes Angga tak terima.
“Biarin biar Clara iri ama aku punya dua bahkan tiga cowo tulus yg sayang ama aku jauh-jauh datang dari kota lain bolos kuliah bukan cuma bawain bunga lalu hilang entah kemana hihihi.” lanjut Helen centil menyindir Clara.
“Ih Helen ko gitu, tadi dia dateng loh pagi.” sahut Clara membela Adit.
“Udah yuk pulang udah siang nih.” ujarku memotong obrolan Clara dan Helen yg tak penting.
Akhirnya kamipun pamit dan sesuai perjanjian Helen mengantar aku dan Regas ke daerah Gatot Subroto untuk naik travel. Setelah berpamitan Helen pun tak lupa mengingatkan untuk kembali lagi bertemu saat Kampus Expo seraya lanjut mengantar Angga ke Bandara.
Sepanjang jalan dari Jakarta ke Bandung diotaku hanya berpikir bagaimana cara untuk bisa berbicara lagi dengan Andini nanti.
“Heh bengong kenapa lo?” tegur Regas disampingku yg kujawab hanya dengan menggelengkan kepala seraya memasang headset karena tidak ingin diganggu.

Hari seninnya begitu di kampus aku segera mencari Andini untuk meminta maaf dan menjelaskan kejadian tempo hari saat Helen tiba-tiba datang mengaku sebagai pacarku dan akhirnya membatalkan acara ngopi kami berdua secara sepihak. Satu-satunya ide yg kupunya hanyalah menghampirinya dan menjelaskan kepadanya berharap Andini mau mendengarkan.
Aku menunggunya di depan ruang Paduan Suara namun saat ia keluar bersama teman-temannya ia segera pamit dan berupaya lari untuk menghindariku.
“Andini tunggu.” teriak ku sambil mengejarnya.
“Nji please deh jangan bikin malu.” tegurnya sambil menghentikan langkahnya sejenak dan kemudian kembali berjalan namun sempat kutarik tangannya.
“Tunggu, gue mau ngomong.” sahutku mencegahnya.
“Dua menit. Lewat dari itu masih ngejar gue, gue teriak.” jawabnya ketus.

Ilustrasi Andini

“Minta nomor telepon.” balasku singkat.
“Hah? Ga mau nanti lo neror gue lagi.” timpalnya yg masih ketus.
“Lo tadi cuma ngasih gue waktu dua menit, ga cukup. Makannya gue minta nomor telepon. Lo tadi cuma teriak kalo gue ngejar setelah dua menit, artinya selama dua menit berjalan lo wajib jawab pertanyaan gue.” tanggapku merasa memenangkan perderbatan dengan Andini.
Ia pun akhirnya menyebutkan nomor teleponnya yg segera ku simpan di handphone ku.
“Thanks nanti gue telepon.” ujarku yg tidak dijawab melainkan hanya berlalu dari hadapanku.
Malamnya aku menelepon Andini meski awalnya ragu akan diangkat olehnya atau tidak, namun daripada tidak dicoba dan aku salah ternyata Andini mengangkat.
“Halo.” sapanya disebrang telepon.
“Halo, hey.” balasku menyapanya.
“Siapa yah?” tanyanya yg membuatku berpikir ia mengangkat bukan karena memberiku kesempatan melainkan belum tahu kalo ini adalah nomorku sehingga aku langsung menembaknya.
“Kasih gue dua menit.” ujarku to the point.
“Panji. Apaan lagi sih?” sahutnya yg sesuai dugaanku Andini masih ngambek.
“Besok makan siang bareng di kantin yah ada yg mau gue obrolin. Please.” pintaku memohon.
“Kasih gue satu alasan kenapa gue harus mau nerima ajakan lo lagi?” jawabnya yg membuatku berpikir sejenak dan menarik nafas panjang.
“Karena gue masih mau deket ama lo. Lo punya hak buat nolak gue, tapi kalo alasan lo nolak deket lagi ama gue karena kejadian kemarin, please kasih gue kesemeptan buat jelasin.” lanjutku yg entah mengapa berani berkata sedikit frontal seperti itu kepada Andini.
“Ok, udah dua menit ya bye.” sahutnya menutup telepon dariku dan cukup membuatku bingung ia menerima ajakan atau tidak namun kuputuskan untuk mencari tahu besok dengan menunggu Andini di kantin sesuai janji yg tadi aku tawarkan.
Keesokan harinya selepas kelas Fisika Terapan aku menunju kantin untuk menunggu Andini disana, cukup lama sekitar lima belas menit bahkan aku sempat mengira ia tak akan datang namun akhirnya muncul dengan membawa banyak buku ditangannya.
Ia pun langsung duduk dihadapanku.
“Sorry ada urusan td ke perpus, mau ngomong apaan?” tembaknya langsung to the point.
“Maaf kemarin batalin ngopi sepihak padahal gue yg ngajak, temen gue di Jakarta kecelakaan. Helen datang buat jemput gue. Dia sengaja ngaku ke gue sebagai pacar buat batalin acara kita. Karena dia tahu kalo ga gitu, gue belum tentu mau soalnya gue lagi berantem ama temen gue yg kecelakaan itu.” jelasku panjang lebar tanpa menutupi apapun dari Andini kecuali kenyataan bahwa sosok teman yg dimaksud adalah Clara, mantan pacarku.
“Hmm pasti pernah punya hubungan khusus yah ama temen yg kecelakaan itu sampe-sampe udah berantem bela-belain dijemput ke Bandung dari Jakarta.” ucapnya dengan nada menyindir yg membuatku terdiam cukup lama dan selalu bertemu wanita yg punya insting sangat kuat.
“Iya, dia mantan gue.” jawabku jujur kepada Andini yg dia respon dengan mengangguk.
“Oke gue maafin untuk yg urusan pembatalan ngopin secara sepihaknya.” jawabnya sambil tersenyum manis yg membuatku menghela nafas lega.
“Makasih ya din.” jawabku.
“Andini! Jangan dipotong, gue ga suka.” sahutnya ketus yg membuatku heran.
“Kan sama, masa kalo manggil mesti nama lengkap mulu?” protesku heran.
“Bodo! Berlaku buat lo doang biar males temenan ama gue.” jawabnya sambil melotot dan menjulurkan lidahnya.
“Butuh alasan yg lebih kuat kali kalo nyuruh gue ga temenan ama lo.” balasku yg membuatnya salah tingkah menyubit tanganku seraya tawa kami berdua.
“Kenalin kali kalo punya gebetan baru.” tegur Regas yg tiba-tiba datang dan duduk disebelahku membawa seporsi nasi goreng masih panas.
“Udah ngagetin, sotoy lagi.” sungutku kesal sambil menyentil telinga Regas.
“Sakit kampret!” balasnya seraya melempar kerupuk dari piring nasi gorengnya kearahku yg membuat Andini menggelengkan kepala.
“Oh iya Andini, kenalin ini Regas tukang ojek langganan gue dari SMA. Regas ini Andini.” ujarku asal memperkenalkan mereka berdua.
“Andini Sipil 2005.” ujar Andini ramah seraya mengulurkan tangan yg di balas Regas menyambut uluran tangannya.
“Regas Teknik Kimia 2005 juga.” sahut Regas sambil tersenyum.
“Oh beda jurusan ya kita pantes ga pernah liat.” jawab Andini.
“Sejurusan juga belom tentu liat din, remahan rengginang kaya dia mah g ada yg merhatiin.” ucapku menimpali respon Andini.
“Enak aja, Sekjen Himpunan nih.” balas Regas tak terima.
“Halah, dipilih karena g ada yg mau aja bangga.” sahutku meledek Regas.
“Hahaha kalian tuh dari awal ngobrol berantem doang.” ucap Andini mengomentari aku dan Regas yg hanya dijawab senyum seraya saling menempeleng kepala antara aku dan Regas.
“Kalian ko bisa kenal?” tanya Regas yg membuatku tersedak.
“Ia padahal awalnya berantem mulu gas, gara-gara Panji ga terima kertas kalkirnya gue ambil duluan. Cowo kan harus ngalah ya gas?” ujar Andini kepada Regas mencari pembenaran namun yg ku khawatirkan bukan itu melainkan kenyataan bawha Regas akhirnya tahu bahwa Andini adalah wanita perebut kertas kalkir yg tempo hari kuceritakan dimana Regas tuduh nanti akan jatuh cinta dengannya. Fak gumamku dalam hati.
“Ooooh jadi ini yg rebutan kertas kalkir ama Panji? Yg kata lo nenek lampir cantik ya nyet? Hmmm.” sahut Regas membuka aib dan menjawab penuh hinaan kepadaku yg membuatku menendang kakinya dibawah meja.
“Oh jadi gue nenek lampir ya nji?” ucap Andini seraya menatapku dengan tidak bersahabat dan siap menerkam.
“Kenapa cuma nenek lampirnya sih yg diinget, kan ada cantiknya juga Andini.” ujarku ngeles sambil menggombalinya.
“Temen lo nyebelin ya gas.” sahut Andini kepada Regas mencari dukungan.
“Makannya jangan mau!” timpal Regas memanas-manasi. Kami pun jadi mengobrol panjang lebar dan bercanda sambil makan siang saat itu, Regas memang paling bisa diandalkan untuk hal seperti ini kehadirannya membuat aku dan lawan bicara dalam hal ini Andini menjadi hidup. Aku sukses berbaikan dengan Andini dan semenjak hari itu kami semakin sering berkumpul di kantin saat jam kosong, jam makan siang atau jam pulang kampus. Meski begitu entah kenapa Andini selalu menolak jika kuajak jalan berdua lagi dengan alasan yg selalu sama.
“Nanti aja ah gampang.” ujarnya sambil tersenyum manis. Cukup manis untuk menghilangkan rasa pahit karena ditolak.

Tak terasa waktu tiga minggu telah berlalu, aku kembali lagi ke Jakarta untuk berkumpul dengan Regas Angga Helen dan ya terpaksa juga harus bertemu Clara di acara Kampus Expo SMA kami dulu.
Jadi Kampus Expo adalah pameran yg dilakukan oleh para alumni untuk memperkenalkan seluk beluk kampus kepada junior kami kelas tiga yg akan lulus tahun ini dan masuk perguruan tinggi. Bagi yg sudah tau tentang tujuan kampusnya, ini bisa menjadi tempat informasi lain seperti lokasi kampus, kos-kosan dsb sedangkan yg belum punya tujuan ini justru menjadi tempat menentukan pilihan kemana mereka akan melanjutkan kuliah.
Acara ini membuatku jadi teringat satu tahun lalu saat kami masih kelas tiga, para alumni melakukan hal yg sama dan tentu saja aku Clara Regas Angga dan Helen sangat antusias mengikuti acara ini. Disana untuk pertama kalinya aku berdebat dengan Clara terkait rencana studi kami.
“Clara jadi ambil kedokteran?” tanya Helen waktu itu saat kami sedang keliling melilihat stand masing-masing kampus dan berhenti di depan stand kampus yg dituju oleh Clara.
“Jadi dong. Selama ada yayangku pasti lolos!! Iya kan bo hihihi.” sahutnya centil.
“Makannya belajar yg rajin jangan ngajak pacaran mulu!” sindirku yg diresponnya dengan cemberut.
“Terus Panji gimana? Ikut Clara?” tanya Helen kepada ku sambil ia menempel dibahu Angga.
“Iyalah!” sahut Clara yg bersamaan denganku menjawab “Enggalah.”
“Kamu becanda kan bo?” respon Clara begitu mendengar jawaban penolakanku.
“Aku kan mau ngambil Teknik Sipil ra.” jawabku menjelaskan kepada Clara.
“Kan di kampus ini juga ada, sama bagusnya!” protesnya yg masih memaksa.
“Bandung punya kampus yg terkenal lebih baik untuk jurusan Teknik ra. Lagian kalopun aku masuk kampus ini, lokasi kampus kita kan beda. Percuma.” lanjutku yg masih teguh pendirianku untuk memilih kuliah Teknik di Bandung.
“Minimal masih di satu kota bo! Kalo di Bandung mana bisa kita ketemu tiap hari, tiap minggu aja belom tentu.” rengeknya menjelaskan alasan mengapa memaksa ku untuk masuk kampus nya yg karena masih di kota yg sama.
“Eh udah udah malah berantem, nanti aja pikirin lagi.” ujar Helen mencoba melerai kami namun sia-sia aku dan Clara kalo sudah berselisih paham sama-sama keras kepala.
“Gak bisa!” jawab aku dan Clara kompak.
“Ya udah kalo gitu kita bertiga ga mau ikut campur, daripada kena benda tumpul melayang.” ujar Angga seraya mengajak Helen dan Regas lanjut keliling meninggalkan aku dan Clara yg masih bertengkar.
“Ya udah sana ke stand Kampus Bandung noh, kali aja nemu mojang Bandung!” ketusnya.
“Ra kuliah itu bukan milih tempat fitness langganan. Kamu disini ngejar impian kamu, aku di Bandung pun sama ngejar impian aku. Hubungan kita kan masih bisa jalan.” lanjutku mencoba memohon pengertiannya.
“Di kampus ini juga ada jurusan yg kamu mau dan sama bagusnya! Kenapa harus jauh-jauh ke Bandung sih bo, kecuali kalo g ada.” sungutnya dengan muka cemberut.
“Di Bandung juga ada kampus yg ada jurusan kedokterannya.” sahutku membalasnya karena tidak terima dengan pemikiran pendek Clara.
“Ih nyebelin kamu.” sahutnya seraya pergi meninggalkanku menyusul Helen Angga dan Regas yg hanya bisa membuatku menghela nafas panjang.
Kalo diingat saat pengumuman kelulusan SPMB yg meloloskan Clara ke kedokteran pilihannya dan aku ke teknik sipil di Bandung, dibanding senang karena lulus kami lebih banyak diam karena tau masing-masing dari kami masih belum ada yg mengalahkan ego untuk menerima perpisahaan ini. Bahkan saat Helen Angga dan Regas mengajak kumpul merayakan kelulusan SPMB kami, aku dan Clara memilih untuk pulang yg tentu kuantar kerumahnya menggunakan motorku. Saat itu Clara hanya tersenyum dan pergi tanpa menawarkan untuk masuk. Aku pikir itulah alasan terbesar mengapa hubungan kami menjadi renggang semenjak kuliah, karena ketidakrelaan kami menjalani kuliah di kota yg berbeda.
Kembali ke acara Kampus Expo sekarang, aku menunggu Angga Helen dan Clara di stand kampusku bersama Taki yg dulu sempat kupinjam kertas kalkirnya. Sebenernya selain kami, masih ada beberapa orang lagi yg masuk kampusku namun entahlah mereka mungkin tidak datang.
“Yg lain mana ki?” sapaku kepada Taki yg sendirian di stand.
“Ga tau nji, mereka katanya banyak tugas. Ine sih bilang mau dateng cuma belom nongol.” jawabnya sambil asik memainkan notebook dihadapannya.
Ine itu temen sekelas ku juga waktu di 3 IPA 1, hanya dia mengambil jurusan Teknik Industri jadi satu fakultas dengan Regas.
“Regas mana?” lanjutnya bertanya kepadaku.
“Yaelah dia mah paling sibuk ama panitia.” sahutku sambil merapikan tasku di bawah stand. Tak lama handphone ku berdering, ternyata Helen menginformasikan sudah sampai bersama Angga dan memintaku untuk menghampirinya di stand kampusnya.
“Gue tinggal ya ki, mau ketemu Angga.” lanjutku kepada Taki yg hanya dijawab dengan anggukan.
Aku berjalan kearah stand kampus Helen yg bersebrangan jauh dengan posisi kampusku, menurut Regas sengaja dibuat begitu oleh panitia mengingat konstrasi peminat kampus kami dan kampus Helen serta Clara biasanya paling banyak.
“Hey!” sapaku yg muncul dari belakang kepada Helen dan Angga yg sedang asik mengobrol.
“Panji!” sahut Helen berteriak seraya melepas rangkulan Angga dan ganti meranggkul tanganku.
“Gue kayanya sekarang harus ngalah yah kalo lagi ama lo nji. Curiga gue lo berdua jangan jangan maen belakang nih.” ujar Angga ketus yg cukup membuatku panik.
“Lah ga gitu nyet.” jawabku panik.
“Tau ih kaya panji orang lain aja sih beb.” balas Helen.
“Hahaha muke lo kocak nji! Becanda kali.” sahut Angga meledek ku.
Aku lumayan salah tingkah atas tuduhan Angga mengingat kejadian di mobil saat Helen mengantarku. Aku mencubit Helen sambil melotot meminta agar ia jaga jarak namun tak digubrisnya.
“Non kangeeen.” tak lama Helen berteriak lagi melihat Clara datang dan lari kearahnya lalu memeluknya.
“Aduh sakit ci pelan-pelan.” keluh Clara saat disambar oleh Helen mungkin karena bahu kirinya masih sakit. Meski Clara sudah tidak menggunakan penyangga tangan namun masih terlihat kaku dan melindungi bahu kirinya, ia pun menggunakan kupluk dengan poni dan rambut panjangnya yg tetap menjuntai indah mungkin untuk menutupi bekas jahitan dikepalanya. Melihat kondisi Clara seperti itu aku merasa tenang karena setidaknya ia masih bisa beraktifitas normal.
“Masih aja merhatiin nyet. Katanya kemaren udah punya yg baru di Bandung.” ledek Angga sambil berbisik kearahku.
“Abis yg ini ngangenin nyet.” jawabku asal yg malah dikeplak oleh Angga.
“Sakit kampret!” ujarku ketus.
“Pada berantemin apa sih.” tanya Helen yg menghampiri aku dan Angga sambil membawa Clara disampingnya.
“Ini Panji kangen sama.. Kampret! Sakit anjir.” ujar Angga yg langsung kuinjak kakinya dengan keras.
“Udah sehat ra?” tanyaku kepadanya yg dijawab dengan anggukan dan senyum.
“Lo kesini naik apa ra?” lanjut Helen kepada Clara.
“Taksi.” jawab Clara singkat.
“Emang Adit kemana?” tanya Helen yg membuat berbalik ke arah panggung karena tidak berminat dengan obrolan mereka.
Tak lama Regas pun muncul berlari kearah kami sambil melambaikan tangannya.
“Hey sorry ya gue sibuk.” sapanya saat menghampiri kami.
“Gaya lo nyet.” sungut Angga menimpali.
“Mumpung udah kumpul, nih gue bawain oleh-oleh dari Jepang sesuai janji.” ucap Helen tiba-tiba menyelinap diantara aku dan Angga. Clara pun pindah ke posisi antara aku dan Regas.
“Taraaaa.” ucap Helen semangat sambil mengeluarkan 4 action figure Fantastic Four.
“Mr Fantastic buat Angga. The Thing buat Regas. Human Torch buat Panji. Invisible woman buat gue.” jelasnya sambil membagikan action figure tersebut.
“Ko Marvel sih ci, lo kan dari Jepang kenapa oleh-olehnya kartun amrik.” protesku sambil tertawa. Namun kuakui action figure ini sangat bagus dengan detail yg sangat tajam.
“Aku kenapa di kasih Mr Fantastic?” tanya Angga kepada Helen.
“Kan Mr Fantastic pacarnya Invisible Woman.” jelas Helen.
“Tapi rambut aku kan ga ubanan.” protes Angga masih tidak terima.
“Ya udah sana tuker kalo ga suka.” ujar Helen yg mulai kesal diprotes.
“Nji tukeran dong.” pinta Angga kepadaku.
“Tapi Helen juga buat gue ya.” balasku meledek Angga.
“Tai lo!” sahutnya kesal yg diiringi tawa oleh aku dan Helen.
“Gue juga kenapa The Thing? Kan gue ga gendut.” lanjut Regas ikutan protes.
“Ih! Udah napa terima aja.” sungut Helen.
“Ko gue ga dikasih?” keluh Clara tiba-tiba menyahut.
“Waktu itu kan kita masih berantem non jadi ga gue beliin. Maaf.” ujar Helen meminta maaf kepada Clara yg diresponnya dengan cemberut.
“Jatah Human Torch Panji buat Clara aja tuh.” tegur Angga memanas-manasi.
“Jangan Clara ga boleh main api.” sahut ku meledeknya yg direspon tawa oleh yg lain seraya Clara memukul bahuku.
“Ih mukul-mukul, dibilangin jangan main api.” ledeku lagi yg membuatnya salah tingkah dan berpindah kesamping Helen.
“Eh iya nyet gue lupa, tiap perwakilan kampus diminta tampil nyumbang acara.” ujar Regas tiba-tiba yg membuatku mengerutkan dahi.
“Maksudnya?” tanyaku heran.
“Selamat Siang teman-teman! Selamat Datang di Kampus Expo. Sambil menemani teman-teman melihat stand kampus, kami akan persembahkan penampilan dari masing-masing alumni. Pertama dari (mereka menyebut nama kampusku) yg diwakili oleh Kak Panji.” ujar MC diatas panggung. Terdengar teriakan anak-anak kelas tiga yg dulu adik kelasku terutama saat kuperhatikan ada Siska juga disana. Mereka bersorak memintaku segera naik keatas panggung. Aku yg melihat kondisi itu langsung melotot menatap Regas.
“Itu maksud gue! Oke sana jangan malu-maluin.” pintanya sambil sok merangkulku.
“Gue ngapain??” sahutku ketus
“Break dance kek, sulap kek, nyanyi kek. Nyanyi aja lah.” usul Regas asal.
“Traktir makan siang ya.” jawabku mengambil kesempatan.
“Iya gampang ada Angga.” jawabnya yg membuatku dan Angga menempeleng kepalanya.
Aku pun dengan terpaksa naik keatas panggung daripada membuat malu namaku sendiri karena sudah dipanggil, aku memilih untuk bernyanyi dengan mengambil gitar akustik dipojok panggung sambil berpikir lagu apa yg akan dimainkan. Seketika aku melihat Clara yg sedang bersama Helen melihat kearah aku diatas panggung dan menatapnya lalu duduk diatas kursi serta mendekatkan mic kearahku.
“Selamat siang kakak kakak alumni, adik adik kelas dan para guru yg saya hormati, sayangi dan rindu. Ini dijebak, karena g ada omongan apa-apa sebelumnya. Jadi maaf kalo amatir nyanyinya.” ujarku menutup sapaanku dan mulai memainkan gitarku.

I can’t stand to fly
Aku tak suka terbang
I’m not that naïve
Aku tak senaif itu
I’m just out to find
Aku hanya berusaha temukan
The better part of me
Bagian yang lebih baik dari diriku

I’m more than a bird
Aku lebih dari sekedar burung
I’m more than a plane
Aku lebih dari sekedar pesawat
I’m more than some pretty face beside a train
Aku lebih dari sekedar wajah cantik di samping kereta
It’s not easy to be me
Tidaklah mudah jadi diriku

I wish that I could cry
Andai aku bisa menangis
Fall upon my knees
Bersimpuh berlutut
Find a way to lie
Temukan cara tuk berdusta
‘Bout a home I’ll never see
Tentang rumah yang takkan pernah kulihat

It may sound absurd but don’t be naïve
Mungkin terdengar tak masuk akal tapi janganlah naif
Even heroes have the right to bleed
Bahkan para pahlawan pun berhak terluka
I may be disturbed but won’t you concede
Aku mungkin bingung tapi tak maukah kau mengakui
Even Heroes have the right to dream
Bahkan para pahlawan pun berhak bermimpi
And it’s not easy to be me
Dan tidaklah mudah jadi diriku

Up, up and away, away from me
Tinggi, tinggi dan jauh, jauh dariku
Well, it’s alright
Tak mengapa
You can all sleep sound tonight
Kalian bisa tidur nyenyak malam ini
I’m not crazy or anything
Aku tak gila atau bagaimana

I can’t stand to fly
Aku tak suka terbang
I’m not that naïve
Aku tak senaif itu
Men weren’t meant to ride
Para pria tak ditakdirkan tuk menunggang
With clouds between their knees
Dengan awan di antara lutut mereka

I’m only a man in a silly red sheet
Aku hanyalah seorang pria berjubah merah konyol
Digging for kryptonite on this one way street
Menggali kriptonit di jalan satu arah ini
Only a man in a funny red sheet
Hanya seorang pria berjubah merah lucu
Looking for special things inside of me
Mencari hal istimewa di dalam diriku
Inside of me, inside of me
Di dalam diriku, di dalam diriku

I’m only a man in a funny red sheet
Aku hanyalah seorang pria berjubah merah lucu
I’m only a man looking for her dream
Aku hanyalah seorang pria yang mencari mimpinya
I’m only a man in a funny red sheet
Aku hanyalah seorang pria berjubah merah lucu
It’s not easy
Tak mudah
It’s not easy to be me
Tak mudah jadi diriku

Suara sorakan riuh terdengar ketika aku selesai bernyanyi yg cukup membuatku salah tingkah dan menendang mic hingga terjatuh sehingga suara speaker menggelegar. Aku langsung kabur kantin karena malu.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 18 | Ketika Kita Muda Part 18 – END

(Ketika Kita Muda Part 17)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 19)