Ketika Kita Muda Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 17

Start Ketika Kita Muda Part 17 | Ketika Kita Muda Part 17 Start

Move On

Malam itu aku berangkat ke rumah Helen menggunakan mobil ayahku dengan perasaan bimbang. Aku enggan bertemu dengan Clara, tapi disatu sisi aku tak bisa menolak permintaan Helen yg sekarang sudah kuanggap sebagai sahabat seperti Regas dan Angga.
“Hey nji, masuk sini.” sapa Helen ketika aku sudah menunggu didepan teras rumahnya yg besar seraya ia menarik tanganku untuk masuk dan dipersilahkan duduk di ruang tamunya.
Aku sengaja datang lebih dulu dari Clara untuk mengobrol dengan Helen terkait maksud permintaannya.
“Mau minum apa nji?” tawarnya seraya berlalu untuk mengambilkan ku minum namun ku cegah dengan menarik tangannya.
“Gampang, duduk dulu sini.” pintaku pada Helen yg diturutinya.

Ketika Kita Muda Part 17Ilustrasi Helen

“Kenapa gue harus ikut ketemu Clara sih len?” lanjutku yg mencoba menghindar dari usulnya. Helen terdiam sesaat.
“Gimana ya nji jelasinnya, gue emang kesel ama Clara dan gue pun disini ada dipihak lo. Tapi..” belum sempat Helen menyelesaikan kalimatnya, pembantunya menghampiri untuk memberitahu Helen bahwa ada temannya yg datang yg tentu saja adalah Clara.
“Non, ada temennya.”
“Suruh masuk aja bi.” jawab Helen singkat.
Clara pun masuk, aku yg sudah lama tak bertemu dengannya segera memalingkan wajahku untuk menghidari bertatap muka dengannya. Aku takut, aku takut hati ini luluh lagi apabila melihat matanya, melihat wajah cantiknya, melihat senyum indah dibibirnya yg selalu menjadi pemandangan favoritku selama ini.
“Hey len.” sapa Clara kaku kepada Helen.
“Hey.” jawab Helen dingin disertai aku yg masih pura-pura memainkan handphone mencoba menghilangkan eksistensiku disana, biar Clara menganggap ku tak ada disini.

Ilustrasi Clara

“Ko ada Panji? Kan gue ngajak ketemu lo doang len.” lanjut Clara heran yg membuatku tak bereaksi seolah tak mendengar ucapannya.
“Gue kebetulan juga janjian ketemu ama Panji malem ini, sekalian aja.” jawab Helen membela posisiku.
“Tapi gue cuma mau ngobrol ama lo len.” sahut Clara yg sepertinya memang tak mengharapkan keberadaanku disini.
“Kenapa sih ko lo ngatur gue? Panji sahabat gue, gue mau dia disini nemenin gue.” ujar Helen yg mulai ketus.
Aku yg mulai gerah pun mendekati Helen dan membisikinya untuk pamit menghindari adu mulut mereka berdua.
“Gue tunggu didepan aja, yg penting gue masih disini kan.” ujarku berbisik kepada Helen.
“Ih lo disini aja.” balas Helen ngotot.
“Udah percaya ama gue, gak apa-apa.” sahutku yg masih berbisik seraya tersenyum kearah Helen. Aku pun bangkit dari sofa dan meninggalkan mereka berdua melewati Clara tanpa menyapa, bahkan untuk sekedar melihat kearahnya pun aku enggan dan memilih untuk membuang muka kearah lain.
Di teras rumah Helen aku menelepon Angga hanya untuk basa-basi menghilangkan rasa salah tingkahku atas kondisi sekarang.
“Halo nyet, lagi ga sibukan kan?” sapa ku ditelepon.
“Ga ko, lagi santai. Kenapa nyet?” balas Angga disebrang telepon.
“Mau ngasih tau aja gue lagi di rumah Helen nih.” ujarku menginformasikan sekalian mencari bahan obrolan dengannya.
“Oh iya Helen udah bilang ko ke gue, udah ketemu ama Clara?” tanya Angga.
“Mereka lagi didalem noh berdua, gue nunggu di teras.” jawabku menjelaskan kepada Angga kondisi disini.
“Loh gue kira lo ikutan ketemu Clara.” sahutnya heran.
“Ya tadinya sih, cuma ga usah lah males ga ada lagi yg mau gue omongin juga ke dia.” balasku dengan nada yg mulai getir.
“Nyet, ga ada salahnya lagi berjuang. Kalo kata gue omongan Helen ada benernya juga. Siapa tau Clara ke cowo kampret itu cuma perasaan sesaat. Lo coba dulu, kemaren tuh lo udah nyerah sebelum perang nyet.” lanjut Angga yg sekarang entah kenapa mencoba membujuk ku.
“Ga tau lah nyet, gue udah nyaman kaya gini. Sementara kalian bertiga udah cukup buat gue.” jawabku yg entah dari hati atau hanya mengingkari kenyataan isi hatiku sendiri.
“Ya semuanya balik lagi ke lo, apapun itu kita selalu siap dukung keputusan lo.” ujar Angga menimpali.
“Thanks nyet.” balasku singkat.
“Ya udah lo mending nemenin Helen lagi sana.” pinta Angga.
“Oke kalo gitu, baek-baek lo di Surabaya.” jawabku singkat mengakhiri telepon ku dengan Angga.
Saat menutup telepon aku menghela nafas panjang dan seakan dibawah kendali saraf tak sadar aku reflek berjalan lagi masuk kedalam dan saat membuka pintu rumah Helen malah harus mendengar sesuatu yg sangat membuatku seperti ditembak persis diuluh hati.
“Tapi gue sekarang udah sayang ama Adit len.” ujar suara yg sangat familiar bagiku siapa pemiliknya yg membuat sekujur saraf-saraf tubuh ini menerima hentakan trauma mati rasa sesaat lalu dengan sisa-sisa kesadaran motorik berjalan gontai mendekati sofa sebelah posisi duduk Helen untuk mengambil jaketku.
Waktu seakan berhenti bergeming, mataku seakan kabur, nafasku sesak. Sekilas Helen tampak nanar melihatku yg tak bisa kubalas meski ingin mencoba tersenyum kepadanya karena rahang ini terasa kaku.
Tatapanku kosong dengan segala sisa perintah hipotalamus untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempat itu.
“Gue duluan ya len, nyokap nelepon.” hanya itu kata yg terucap dari lisanku untuk pamit. Sayu terdengar suara Helen mencoba mencegahku, tapi telinga ini sudah terlalu pengang seperti habis menerima gelombang ultrasonik yg tak lagi mampu merekam dan memerintahkan otak untuk mencerna apa yg Helen katakan. Malam itu aku mati rasa.

Mobil ini kupacu kencang ditengah lengangnya Tol Cikampek malam itu, pedal gas kuinjak dalam melewati setiap mobil yg ada didepanku. Manuver menyalipku sangat kasar yg membuat beberapa mobil membunyikan klaksonnya kearahku namun tak ku hiraukan. Tatapanku kosong kedepan tanpa arah, bahkan hanya berharap mobil ini slip dan berbalik ditengah tol tapi sepertinya aku memang belum ditakdirkan untuk mati. Meski memacu mobil dengan kecepatan melewati batas sepanjang Cikampek hingga Cipularang sejauh seratus dua puluhan kilo meter jauhnya, tau-tau aku sudah keluar gerbang tol Pasteur dengan selamat.
Setelah kurang lebih empat jam melaju, akhirnya ku hentikan mobil ini didepan gerbang kampus sekitar jam 1 pagi. Aku keluar dari mobil lalu berjalan ke dalam kampus tanpa arah, mengelilingi kampus yg luas ini sendirian hingga akhirnya berhenti di depan gedung Dept Teknik Kimia. Aku menjatuhkan tubuh ini untuk duduk di selasar tangga utama, sepi dan sunyi seakan semesta mendeskripsikan perasaanku dengan sempurna. Malam itu aku terjaga hingga fajar.
Ketika matahari mulai meninggi, kondisi kampus berangsur mulai menghadirkan kehidupan meski tidak seramai biasanya karena masih waktu liburan.
“Si kampret! Lo dari kapan disini nyet? Anjrit semaleman semua orang nyariin lo!” sahut suara cempreng Regas yg tak sengaja menemukan ku disana.
Aku mengangkat wajahku yg sedari tadi tertunduk untuk menatap Regas sejenak dan menunduk lagi tanpa menjawab pertanyaannya.
“Pindah yuk ke kantin jangan disini.” lanjut Regas seraya menarik tanganku dengan tenaganya yg membuat badanku bangkit dan bergerak namun segera kulepaskan genggaman tangannya.
“Ga usah, gue balik aja.” jawabku lalu berjalan melewatinya.
“Balik kemana? Kosan apa ke Jakarta?” ujarnya bertanya.
“Jakarta.” jawabku singkat.
“Ya udah gue anter.” pintanya.
“Ga usah.” balasku sambil mulai berjalan kearah gerbang kampus.
“Udah gue anter, ga usah protes.” lanjutnya memaksa.
“Gue bawa mobil kampret!” sahutku ketus karena kesal.
“Oh iya ya gue ga bisa nyetir.” ujar Regas pasrah.
“Ya udah minimal gue ikut nemenin lo, gue takut lo kenapa-kenapa dijalan.” lanjut Regas masih dengan pendiriannya yg teguh.
“Kalo mau kenapa-kenapa, pagi ini lo ga bakal ketemu gue disini. Bisa gue lakuin dari semalem.” jawabku seraya berhenti dan menatapnya tajam karena untuk kali ini aku sedang tidak ingin dipaksa menuruti perintah siapapun.
“Oke. Hati-hati kalo gitu. Helen sama Angga semaleman nyariin. Keluarga lo juga pasti khawatir.” akhirnya Regas pasrah dengan kemauanku dan aku pun berlalu meninggalkannya tanpa pamit.

Sesampainya di rumah menjelang sore setelah memarkiran mobil ini di garasi dan membuka pintu, aku disambut oleh Kak Sinta yang muncul di pintu rumah meski lebih tepatnya mengomeli.
“Mah, nih anak jagoannya baru pulang.” ujar Kak Sinta teriak.
“Kapan sampe kak?” tanyaku seraya berjalan menghampirinya.
“Gara-gara mobil lo bawa kabur nih, gue jadi pulang sendiri tadi dari stasiun.” sungutnya mengomel namun tak kujawab melainkan hanya memeluk dirinya.
“Duh tumben pake acara meluk.” sahut Kak Sinta heran namun seraya membalas pelukanku.
“Kangen.” jawabku singkat.
“Bilang aja lagi galau.” ledeknya seakan paham isi hatiku dan kutebak ia juga sepertinya sudah tahu tentang hubungan ku dengan Clara.
“Tadi temen lo nyariin dari pagi disini.” lanjut Sinta mengalihkan pembicaraan sambil melepas pelukan.
“Helen?” tanyaku mengkonfirmasi yg Sinta jawab dengan anggukan.
“Cowo kok cengeng.” ledek Kak Sinta kepadaku yg tak kutanggapi.
“Panji Darmawan!! Kamu itu kebiasaan banget ilang semaleman ga ada kabar, bikin orangtua khawatir!!” omel Ibuku didepan begitu melihatku pulang.
“Omelin aja mah biar kapok.” sahut Kak Sinta memanasi Ibuku yg membuatku menginjak kakinya karena kesal dan dibalasnya langsung membuat kami malah bertengkar saling menginjak kaki didepan pintu yg membuat Ibuku kembali naik darah.
“Panji Sinta cukup! Malah berantem, masuk!!” omel Ibuku dan perkelahian injakan kaki berhenti seraya masuk ke dalam sebelum benda-benda tumpul melayang kearah kami.
“Panji mandi! Sinta bantu mama siapin makan malam!” lanjut Ibuku memberi perintah yg kalo sudah dalam kondisi marah tidak ada toleransi untuk menolaknya.
“Heran Mama punya anak dua senengnya bikin orangtua naik darah, yg satu tukang ngilang yg satu susah kalo disuruh pulang.” ujar Ibuku membuka obrolan makan malam kami saat itu.
“Baru juga sekali mah, kalo Kak Sinta tuh bener jarang pulang.” protesku membela diri dan mengamini tuduhan Ibuku kepada Kak Sinta.
“Sinta kan udah tingkat akhir mah, lagi fokus skripsi. Biasanya juga pulang mulu. Panji noh kebanyakan di manja, jadi kalo ngambek kabur kaya anak labil.” sahut Kak Sinta yg juga protes dan ikutan menuduh diriku seolah membalas.
“Udah udah! Kalian berdua sama aja! Jarang ketemu, sekalinya ketemu berantem mulu!” tegur Ibuku yg semakin ngomel.
“Panji Sinta. Jangan menjawab kalo Mama kalian sedang cakap.” timpal Ayahku menambahi.
“Kemarin katanya kangen, begitu kumpul malah diomelin.” gerutuku berbisik.
“Masih cakap pula kau. Habis makan ikut aku!” ujar Ayahku sambil melotot kearahku yg langsung kubalas dengan mengangguk pasrah.
“Iya pah.”
Begitulah suasana makan malam keluargaku apabila sedang lengkap, dipenuhi berantemnya aku dan Kak Sinta dilengkapi dengan omelan Ayah dan Ibuku. Meski begitu, aku selalu rindu momen seperti ini apalagi semenjak aku dan Kak Sinta kuliah diluar kota.
Selesai makan ayah mengajaku ke teras atas untuk membantunya membuka meja tenis yg sudah lama tersimpan. Aku bahkan tidak tahu jika Ayah memiliki meja tenis di rumah.
“Masih bagus rupanya, aku tadi beli bola dan bet baru. Kita main.” ujar Ayahku.
“Udah beli baru ngecek mejanya? Untung masih bagus. Kalo mejanya rusak buang-buang duit aja sih pah.” ujarku heran atas tingkah Ayahku.
“Kalo mejanya rusak kan bisa diservis. Sudah jangan banyak cakap, ayo kita tanding. Aku dulu juara sesatuan dimanapun aku bertugas.” lanjut Ayahku sombong.
“Panji ga bisa maen tenis meja pah.” sahut ku jujur. Ya kalian tahu aku payah dalam semua olahraga kecuali renang.
“Coba dulu, belum mencoba sudah menyerah. Memalukan sekali kau anak muda.” timpal Ayahku seraya melalukan servis pertama dan saat ku mengayunkan bet untuk menerima bola tersebut meleset. Bolanya lewat begitu saja dan jatuh ke lantai.
“Baru sekali ayo coba lagi.” sahutnya menyemangatiku.
Akupun melakukan servis dengan meniru gerakan Ayahku, bolanya melompat jauh ke arah belakang.
“Kau itu saat servis harus memantulkan bola ke mejamu dulu, bola berikutnya baru harus jatuhkan dimeja lawanmu dan tenagamu itu harus dikontrol. Tenis meja bukan cuma soal skill power tapi juga kontrol.” jelasnya panjang lebar mengajariku yg hanya kujawab dengan anggukan.
Kami pun memulai lagi permainan servis dari ayahku, perlahan aku mulai bisa mengikuti permainannya meski tidak pernah terjadi rally panjang. Yah aku hanya mampu membalas servis ayah, begitu dibalikan pukulan selanjutnya nyasar kearah luar meja.
“Nji kau tau mengapa tiba-tiba aku mengajari kau bermain tenis meja.” ujarnya ditengah permainan kami yg hanya kujawab dengan menggelengkan kepala.
“Kau itu sudah dewasa. Kau harus mulai belajar mengontrol diri terutama emosimu. Ah kena kau!” lanjutnya menjelaskan seraya memberikan smash keras saat bola pengembalian ku tanggung dan tepat mengenai hidungku.
“Hahaha kena kau!” sahutnya senang setelah sukses mensmash anaknya.
“Niat banget sih nyiksa anak pah.” balasku dengan muka cemberut.
“Jangan pernah kau memberi bola tanggung dalam tenis meja, sama seperti hidup nji. Jangan pernah kau ragu dalam mengambil keputusan. Sekali kau ragu, itu bisa berbalik kepada kau.” lanjut Ayahku menceramahi ditengah permainan ini, aku hanya mendengarkan semua nasehat Ayahku tanpa menyahutnya sambil kami terus bermain.
“Bermain tenis meja mengajarimu kontrol dalam menempatkan bola. Usiamu sekarang, waktunya kau belajar mengontrol emosi nji. Kau harus bisa menempatkan emosimu pada porsinya.” lanjutnya lagi seraya tak sengaja memberikan bola tanggung kepadaku yg aku manfaatkan untuk membalas smashnya barusan namun meleset jauh dari meja dan membentur dinding dibelakang Ayahku hingga pecah.
“Baru ku bilang kontrol emosi.” tegur Ayahku atas pukulanku yg nyasar.
“Kata Papa kalo bola nanggung jangan ragu.” jawabku ngeles.
“Paling bisa kau ngeles.” sahutnya yg paham niat ankanya tadi memang balas dendam.
“Sekarang kita turunkan tempo permainan, kau harus belajar ketahanan konsentrasi. Ini melatih endurance kau.” pintanya sambil terus berceramah selama permainan. Setelah bermain sekitar 30 menit Ayahku akhirnya mengajak berhenti karena lelah.
“Main dengan kau aku lelah ngambil bola.” keluhnya yg kujawab dengan tertawa.
“Kan udah dibilang Panji ga bisa main tenis meja.” jawabku membela diri.
“Intinya aku tak mau kau setiap menghadapi masalah mendahulukan emosi. Otak cerdasmu itu bukan cuma dipake buat soal, tapi mengontrol hidupmu sendiri.” tutup Ayahku seraya menepuk pundak ku dan turun kebawah meninggalkan ku sendirian.
Itulah salah satu cara ayahku mendidik anak-anaknya, ia selalu punya cara unik tersendiri untuk menasehati dan mengajari kami tanpa pernah sedikitpun bermain tangan meski dirinya berlatarbelakang militer. Tapi jangan pernah coba-coba menyalahgunakan kepercayaannya, bisa-bisa nama kami dicoret dari kartu keluarga. Aku bersyukur terlahir di keluarga ini.

Sesaat sebelum aku naik ke kasur malam itu untuk tidur, handphone ku berdering panggilan dari Helen.
“Hey, udah sampe?” sapaku saat membuka telepon darinya.
“Daritadi, cuma baru sempet aktifin roaming.” balasnya.
“Nji maafin gue ya.” lanjut Helen yg sepertinya masih khawatir atas kejadian kemarin malam.
“Gue kali yg minta maaf udah ngilang gitu aja.” balasku menghiburnya agar tidak memikirkan kejadian kemarin malam sebagai kesalahannya.
“Tapi kan gara-gara gue nji.” lanjutnya masih dengan nada merasa bersalah.
“Udah ga usah dibahas ah. Gue udah gak apa-apa ko. Eh gimana Osaka?” sahut ku mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Gila keren, pokoknya anime maniak kaya lo Angga ama Regas bakal hepi banget kalo kesini.” timpalnya antusias seakan langsung lupa dengan pembahasan sebelumnya yg membuatku lega.
“Somboooong. Pameeeer.” jawabku merespon iri dengan ceritanya.
“Hihihi next time kita harus kesini ya berempat!” sahut Helen centil.
“Amin. Ya udah sana tidur, udah jam 1 kan disana? Biar lo besok puas keliling Kyoto nya.” tutupku untuk mengakhiri teleponnya.
“Iya lagian tekor pulsa gue kalo lama-lama hihihi. Yg penting gue seneng denger suara lo baik-baik aja. Makasih ya nji. Nanti gue bawain oleh-oleh. See you!” sahut Helen menutup telepon. Baik-biak saja, ya ku harap begitu len.

Seminggu aku dan Kak Sinta di rumah, Ayahku mengambil cuti untuk mengajak kami pergi setiap hari mulai dari menginap di puncak sekeluarga, mengajak aku dan Kak Sinta menonton pertandingan Badminton di senayan yg kalo tidak salah saat itu sedang Indonesia Open serta memancing di daerah Karawang yg katanya bagus untuk melatih kesabaran. Ya benar-benar sabar tidak melakukan apa-apa, melainkan hanya menunggu kail kami disambar ikan sambil mendengar ceramah ayah ku selama berjam-jam. Ayah ku menggerutu sendiri saat selesai hanya mendapatkan beberapa ikan dan semuanya hasil tangkapannya tak ada satupun hasil aku maupun Kak Sinta.
“Ah payah kali kalian berdua ini.” protesnya saat itu.
“Sabar pah.” jawab aku dan Kak Sinta kompak seraya tertawa dan masuk mobil untuk segera pulang sebelum Ayah kami ceramah panjang lebar lagi.
Aku dan Kak Sinta juga sempat bertemu Erik di Cafe nya untuk berkumpul dan mengobrol setelah sekian bulan lamanya tak bertemu.
“Jadi lo putus ama Clara? Yg kali ini beneran putus?” respon Erik seraya menoleh kepadaku dengan tawa penuh ledekan saat mendengar cerita dari Kak Sinta tentang hubungan ku dan Clara yg sudah usai.
“Lah udah pernah putus nyambung juga sebelumnya rik? Ko gue ga tau ya yg itu. Najis labil lo nji.” ledek Kak Sinta puas.
“Berisik! Udah ga usah dibahas.” sungutku kesal atas obrolan ini. Ya bahasan kami malam itu penuh dengan pembullyan Kak Sinta dan Erik kepadaku.
“Nanti kalo udah nemu yg baru juga lupa.” ujar Sinta memecah keheningan saat kami berdua di mobil perjalanan pulang malam itu.
“Sekarang juga udah lupa.” jawabku asal untuk menghindari obrolan ini lebih panjang.
“Mata lo ga bisa bohong kali.” sahut Kak Sinta sok tahu, ya walaupun ada benarnya.
“Gue juga kehilangan ko nji, apalagi lo.” lanjut Kak Sinta menjelaskan yg tak kujawab.
Ya Kak Sinta dan Clara sempat dekat, mereka bertemu pertama kali tepatnya waktu aku masih SMA yaitu beberapa hari setelah pulang berlibur dari Belitung. Aku memperkenalkan Clara ke Kak Sinta yg saat itu memaksa ikut aku yg mau ngedate dengan Clara. Saat itu mereka malah asik berduaan belanja dan menjadikan aku seperti pelayan yg membawa belanjaan mereka kesana kemari. Sejak saat itu mereka langsung cocok dan sering jalan bareng meski tanpa diri ku mungkin itu yg membuatnya juga merasa kehilangan.
Hingga akhirnya seminggu telah berlalu, aku Ayah dan Ibuku mengantar Kak Sinta pulang hingga stasiun Gambir. Kak Sinta pun berpamitan seraya memeluk Ayah dan Ibu cukup lama, begitu banyak ceramah yg mereka berikan sebelum Kak Sinta pulang. Padahal ini sudah kesekian kalinya mereka melepas Kak Sinta ke Semarang namun selalu pemandangan ini yg terlihat seperi melepas kali pertama.
“Ketemu di wisuda gue ya. Ga dateng awas lo!” ucap Kak Sinta saat bermaksud pamit kepadaku.
“Emang lo ga ada rencana balik-balik lagi?” tanyaku merespon pamitnya.
“Gue udah semester akhir kali nji, bakal sibuk bimbingan ngejar lulus. Lo yg kudu sering balik, Bandung kan deket apalagi sekarang ada tol. Nanti juga kalo udah lulus gantian gue bakal balik tinggal di Jakarta lagi.” jelasnya yg kurespon dengan anggukan dan kami pun berpelukan.
“Jangan cengeng! Jangan kebawa emosi! Belajar dewasa. Inget kata Papa!” ceramahnya saat melepas pelukan kami.
“Berlaku buat lo juga kali.” sahutku tak terima digurui oleh Kak Sinta.
“Sialan lo. Udah ah bye!” tutupnya seraya melambaikan tangan kearah kami dan masuk ke stasiun.
“Oh iya nanti wisuda gue udah harus gandeng pacar baru ya!” teriak Kak Sinta yg bikin malu, Ayah dan Ibuku hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum padaku.
“Noh kelakuan anak Papa ama Mama noh kelamaan di Semarang gitu tuh.” sahut ku yg segera dirangkul oleh ayahku.
“Besok kau juga pulang ke Bandung. Rumah sepi lagi. Bandelnya kalian itu yg selalu bikin kami rindu.” ujar Ayahku yg hanya bisa kujawab dengan senyum dan merasa berat untuk pulang. Meski begitu disaat yg bersamaan aku pun tak sabar ingin segera besok, kembali ke Bandung dan memulai semua hidupku seperti yg sudah Ayahku ajarkan.

Memasuki semester dua, aku mengambil penuh jatah sks karena IP semester satu yg diatas rata-rata. Jadwal kuliahku akan semakin padat, dan parahnya ada beberapa mata kuliah yg jadwalnya berurutan seperti marathon.
“Berani banget lo ngambil mata kuliah beton ama tanah nempel. Pak Budi kalo ngajar suka over, dosen tanah ga ada toleransi kalo lo telat. Jarak kelas beda tiga lantai. Kurus lo nji!” ujar teman satu jurusanku menakuti-nakuti dan sukses membuatku menelan ludah.
Benar saja saat hari pertama di kelas beton ketika waktu lima menit menuju dimulainya kelas tanah, Pak Budi belom menunjukan tanda-tanda akan menyudahi kuliah. Aku mulai panik dan gelisah, dilema antara meninggalkan kelas dan masuk kelas tanah tepat waktu yg mungkin akan mengancam nilai betonku atau lanjut duduk manis dan terlambat masuk kelas tanah yg pasti akan diusir saat mengetuk pintu.
Aku terlalu lama berpikir yg membuat Pak Budi akhirnya menyudahi kuliahnya saat waktu sudah lewat lima menit, aku langsung berlari meninggalkan kelas dan segera menuruni tangga menuju kelas tanah. Aku sedikit beruntung karena selisih kelas tiga lantai ditempuh dengan menuruni anak tangga bukan menaikinya meski aku sempat terpleset namun tidak sampai jatuh.
Begitu didepan pintu kelas tanah, dengan mengumpulkan keberanian aku mengetuk pintu dan membukanya. Pak Soni langsung menatapku dengan wajah tak bersahabat.
“Kau pikir jam berapa ini anak muda?” tegurnya saat aku berdiri didepan pintu.
“Maaf pak, saya abis dari kelas beton yg baru selesai dua menit lalu.” jawabku menjelaskan dan berharap mendapat toleransi darinya.
“Itu bukan alasan. Kalian itu diberikan hak unuk mengatur jadwal kuliah sendiri. Kalo membagi waktu saja sudah tidak becus jangan anggap kalian pantas menjadi sarjana!” omelnya didepan kelas yg sepertinya juga ditunjukan kepada semua mahasiswa bukan hanya aku seorang diri. Aku hanya terpatung didepan pintu berdiri tanpa menjawab apapun.
“Hari ini anda masih saya kasih kesempatan, next time tidak ada toleransi. Silahkan pikirkan caranya untuk datang ke kelas ini tanpa terlambat.” lanjutnya membuatku cukup bernafas lega untuk hari ini.
“Terimakasih pak.” jawabku singkat dan segera duduk dibarisan depan yg masih kosong.
Kuperhatikan didepan selain Pak Soni juga berdiri wanita si perebut kertas kalkir yg sepertinya sedang diminta menyelasikan persamaan momen maksimum pada bidang lengkung.
“Itu kau sebut penyelesaian? Saya heran katanya anda sudah lulus mata kuliah mekanikan teknik.” tegur Pak Soni kepada wanita itu. Saat kuperhatikan sebernya ia hanya membuat kesalahan di dua langkah terakhir namun sepertinya itu karena hanya panik dan cukup membuatku menahan tawa.
“Apa yang anda tertawakan.” tegur Pak Soni saat mendengar respon ku.
“Salah pak menentukan variabel x1 dan x1 aksennya.” jawabku reflek karena takut mendapat omelan lagi setelah tertawa.
“Coba selesaikan.” pintanya yg kujawab dengan anggukan dan segera bangkit berdiri maju untuk menyelesaikan soal itu.
“Bagus. Sekarang bisa anda jelaskan kesalahan yg pertama kepada kelas ini.” lanjut Pak Soni ketika melihat penyelesaian ku yg benar. Aku pun menjelaskan sesuai dengan kesalahan yg dibuat si wanita perebut kertas kalkir terhadap konstanta vektor x1 dan x1 aksen yg membuatnya tadi gagal menyelesaikan soal yg diberikan Pak Soni.
“Pamer.” bisiknya setelah aku selesai menjelaskan seakan tak terima atas kekalahannya.
“Jadi di Bandung gitu ya cara orang berterima kasih? Sama-sama.” balasku yg juga berbisik.
“Siapa nama kamu.” tanya Pak Soni kepadaku.
“Panji Pak.”
“Kamu?” lanjutnya kearah wanita perebut kertas kalkir.
“Andini Pak.”
“Baik Andini, minggu depan tolong buatkan paper lengkap tentang momen pada semua bidang. Kamu belum pantas lulus kelas mekanikan teknik kalo saya dosennya. Kamu bisa minta tolong Panji jika ada kesulitan, Panji tolong bimbing Andini. Sekarang kalian bisa duduk. Saya akan mulai kuliah kita hari ini.” jelasnya panjang lebar yg langsung kami jawab dengan anggukan dan kembali ke bangku kami yg ternyata bersebelahan.
“Gue ga perlu bantuan lo!” ketusnya dengan nada berbisik.
“Bagus, gue juga ga punya waktu.” jawabku seraya melempar senyum kepadanya.
Bukan hanya di kelas tanah, aku dan Andini masih punya tiga mata kuliah lain yg menempatkan kami di kelas yg sama.
“Lo masih inget ga cerita gue bulan lalu tentang nenek lampir yg ngerebut kertas kalkir gue?” ujarku kepada Regas saat makan di kantin.
“Oh yang lu bilang cantik? Kenapa?” jawabnya.
“Semester ini gue ketemu dia sekelas di empat mata kuliah. Kampret kan” keluhku kesal kepada Regas.
“Mmmmm.” sahut Regas yg hanya bergumam.
“Ko mmm doang?” protesku atas responnya.
“Gak apa-apa, hati-hati aja jatuh cinta.” ledeknya dengan senyum penuh arti.
“Tai lo.” sungutku kesal sambil menuang sambel ke mangkok sotonya.
“Ini udah pedes anjir!” protesnya kesal yg kurespon dengan tertawa puas.
“Sukurin.” tutupku seraya meninggalkannya untuk membayar makanan ku tadi dan pulang ke kosan.

Keesokan harinya saat di perpustakaan aku melihat Andini sedang didepan notebooknya dengan wajah serius. Aku berjalan mendekatinya karena penasaran apa ia sedang mengerjakan paper permintaan Pak Soni atau bukan namun beberapa meter aku melihat buku yg ia sedang gunakan adalah Mekanika Teknik Statis sehingga langsung membuatku berbelok berjalan kearah rak Teknik dan Rekayasa memilih literatur lain yg membahas momen bidang lebih dalam dibanding buku yg sedang ia gunakan.
“Lo mending pake buku ini.” tegur kepadanya yg sedang fokus mengetik sambil menyodorkan buku Mekanika Rekayasa.
Andini berbalik, melihat buku yg ku sodorkan dan mengangkat wajahnya untuk menatapku.
“Belum puas ngeganggu gue?” sahutnya yg sepertinya masih dendam atas sikapku kemarin.

Ilustrasi Andini

“Lo ga bisa bedain ya mana ngebantu mana ngeganggu.” jawabku tak terima atas tuduhannya.
“Kasih gue satu alasan masuk akal kenapa orang sombong, tukang pamer dan nyebelin kaya lo mau sukarela ngebantu gue?” tanya Andini sambil bangkit dari duduknya dan menatapku tajam.
“To prove that I’m better than you.” jawabku dengan senyum tengil kearahnya.
“Mending lo pergi deh sebelum gue emosi terus ditegor penjaga perpustakaan.” balasnya yg tak terima dengan ocehanku.
“Oke-oke gue bercanda. Gue cuma mau bantu aja.” sahutku menjelaskan sambil masih tertawa atas sikapnya yg membuatnya malah menutup notebook, merapikan tasnya dan pergi meninggalkanku. Andini sepertinya tipe wanita yg punya gengsi tinggi gumamku dalam hati.
Saat pertemuan kedua di kelas tanah sesuai permintaan Pak Soni, Andini menyerahkan tugas paper yg diminta. Cukup lama Pak Soni membaca semua paper Andini, dan sesuai tebakanku hasilnya tidak membuat Pak Soni puas.
“Ini paper Momen seorang mahasiswa teknik yg sudah lulus mata kuliah Mekanika Teknik? Anda serius atau tidak kuliah disini?” tegur Pak Soni dengan nada tinggi yg segera ku potong.
“Maaf Pak.” ujarku seraya bangkit dan menuju meja Pak Soni.
“Ini paper Andini, itu tadi dia salah cetak. Ini yg udah saya review dan direvisi oleh Andini pak.” jawabku seraya menyerahkan paper yg memang sengaja kusiapkan sebagai permintaan maaf karena akan menduga kerjaannya ditolak Pak Soni.
Raut wajah Andini memerah seakan menahan amarah dan tak terima atas sikapku, namun segera kudekati seraya berbisik kearahnya.
“Anggap aja permintaan maaf gue, kalo mau marah nanti aja abis kelas tanah kita ke kantin.” ujarku.
“Oke bagus. Ini cukup memuaskan. Silahkan kalian berdua duduk. Kita mulai kuliah kita hari ini.” ucap Pak Soni setelah membaca paper yg kubuat.
Setelah kelas tanah, aku dan Andini berjalan kearah kantin sesuai ajakanku tadi di kelas. Saat itu ia lebih banyak diam, entahlah mungkin karena masih kesal.
“Gue minta maaf kalo bercandaan kemaren agak keterlaluan mungkin dimata lo. Tapi gue ada niat buat ngejatohin lo di depan Pak Soni.” ujarku membuka obrolan kami di kantin saat itu.
“Ga ada niat tapi lo udah melakukan itu! Bikin malu gue didepan kelas tanah dua kali.” sungutnya dengan nada tinggi.
“Oke maaf juga buat yg itu.” jawabku mengalah yg tak dijawabnya melainkan bangkit dari hadapanku. Aku pikir ia sudah habis kesabarannya menanggapiku tapi ternyata memesan batagor dan kembali duduk dihadapanku. Sialan ternyata cuma lapar gumamku dalam hati.
“Oke gue maafin.” jawabnya singkat sambil menikmati batagor pesanannya.
Aku memperhatikan Andini yg sedang asik makan, rambutnya panjang terjuntai beberapa helai kedepan membuat sebuah poni yg manis, wajahnya yg kuakui membuatku berbohong kepada Regas dengan menjawab cantik padahal lebih dari itu sangat cantik, matanya yg sayu dan senyum simpul bibir tipisnya yg anggun membuatku terhiponotis. Kampret masa gue suka ama Andini umpatku dalam hati.
“Heh! Kenapa bengong?” tegur Andini menyadarkan ku dari lamunanku atas dirinya.
“Eh sorry, lo ngomong apa tadi?” sahutku salah tingkah.
“Mekanika Bahan, udah punya kelompok belom? Sekelompok ama gue yuk.” tawarnya.
“Oh belom ko, boleh kalo lo mau.” balasku sambil tersenyum.
“Mau ko apalagi kalo kaya tadi, langsung dikerjain semua ama lo. Hahaha.” jawabnya tertawa puas.
“Sialan lo. Itu karena merasa bersalah.” sahutku tak terima.
“Hehe iya iya. Lo ga makan?” lanjutnya yg membuatku sadar belom makan sedangkan Andini sudah hampir menghabiskan batagornya. Aku pun pamit untuk memesan makanan dan saat kembali Andini sudah selesai.
“Gue duluan ya, mau kumpul ama anak Padus. Bye nji.” pamitnya yg kubalas dengan anggukan dan senyum. Sialan gara-gara bengong jadi ga makan bareng Andini umpatku lagi.
“Tadi siapa?” sapa Regas yg tiba-tiba nongol dihadapanku.
“Kampret ngagetin lo!” sungutku kesal namun tak dijawab Regas melainkan hanya menatapku seolah menunggu jawabanku atas pertanyaannya.
“Oh tadi? Temen sekelas.” lanjutku salah tingkah.
“Gue kira nenek lampir yg lo ceritain tempo hari.” sahut Regas.
“Bukan ko bukan.” jawabku yg entah kenapa menutupi bahwa memang benar itu adalah Andini, nenek lampir cantik menyebalkan yg memenuhi pikiranku akhir-akhir ini namun rasanya saat itu aku malu mengakui itu kepada Regas. Untuk sementara baiknya kupikir begitu.
“Eh tadi Helen sms ngajak conference call.” sahut Regas tiba-tiba mengagetkan lamunanku.
“Hah? Apaan tuh?” ujarku heran yg memang saat itu bisa dibilang gaptek.
“Itu nelepon tapi bisa rame-rame. Bentar gue kabarin dia dulu.” jelas Regas yg hanya kujawab dengan anggukan karena masih tak paham.
Tak lama handphone Regas berdering yg langsung ia angkat.
“Halo, Regas speaking.” sapanya denga gaya sok inggria yg membuatku menggelengkan kepala.
“Iya nih orangnya ada didepan gue.” lanjutnya yg sepertinya membahas diri ku. Handphone ku pun kemudian berdering panggilan masuk dari Helen.
“Moshi moshi konichiwa Heren chan!!” sapaku ramah kepadanya.
“Aaaa Panjiiii san kangen!!” balasnya semangat disebrang telepon.
“Panji langsung dikangenin, pacarnya tadi engga.” terdengar suara Angga disana.
“Lah kampret gue kira ga ada pacarnya hahaha.” jawabku asal meledek Angga.
“Sialan lo nji.” sahut Angga.
“Udah-udah, ada yg kangen juga nih mau nyapa daritadi. Silahkan non.” lanjut Helen yg membuatku menatap Regas sambil mengerutkan dahi yg dibalasnya dengan menaikan bahu.
“Apa kabar semuanya?”
Fak Clara gumamku dalam hati, Helen udah baikan kah ama Clara ko ga cerita sama sekali. Aku menatap Regas tajam seolah tak terima, aku yakin Regas pasti tahu soal ini.
“Halo dokter cantik, apa kabar juga?” sahut Angga membalas.
“Belom jadi dokter kali anggaaa. Baik ko tapi.” balas Clara ramah.
Aku dan Regas sama-sama menaruh handphone dan bertengkar saat itu.
“Ga usah bohong lo nyet, kasih tau gue apa yg ga gue tahu! Helen sejak kapan baikan ama Clara? Ko lo ga ada yg cerita?” ujarku berbisik namun dengan nada yg ketus.
“Sumpah gue ga tau apa-apa.” balas Regas yg juga berbisik.
“Tai lo! Jangan bohong!!” sungutku yg masih kesal dengan sikap Regas.
“Nji? Gas? Kalian masih disana kan?” terdengarsuara Helen agak keras dari handphone kami.
“Iya len, hadir.” sahutku segera menimpali Helen.
“Maap tadi ada kecoa lewat.” jawab Regas yg segera ku tendang kakinya dari bawah meja.
“Sakit kampret!” balas Regas yg terdengar ditelepon yg membuatku melotot kearahnya.
“Regas kenapa?” tanya Helen.
“Lo berdua ga lagi berbuat tidak senonoh kan?” lanjut Angga meledek kami.
“Kagak!!” teriak ku dan Regas kompak.
“Hahahahaha.” tawa manis Clara terdengar yg membuatku terdiam.
“Dih seneng amat non.” tegur Helen kepada Clara.
“Hahaha lucu udah lama ga denger suasana berantem kaya gini, ngangenin.” jelas Clara.
“Cie kangen ama yg mana nih?” ledek Helen kepada Clara.
“Apa sih enci. Kangen ama semua dong.” sahut Clara lagi manis.
“Iya deh percaya. Ya udah pokoknya nanti kita reunian pas Kampus Expo yah! Semuanya harus dateng, Regas ama Panji tadi yg belom jawab.” ujar Helen penuh semangat.
“Gue panitia woy! Pasti dateng.” sahut Regas.
“Panji?” lanjut Helen.
“Iya dateng nagih oleh-oleh dari Jepang.” balasku kepada Helen.
“Hahaha iya udah disiapin ko buat semuanya. Oke sampe ketemu bulan depan yah. Bye semua! Pacarku jangan ganjen di kampus.” tutup Helen yg kami jawab bersamaan.
“Bye!”
Saat telepon ditutup aku tak berhenti menatap wajah Regas.
“Sumpah nyet gue g tau.” ucap Regas masih membela diri.
“Telepon Angga sana, mungkin dia tau.” lanjut Regas memberi saran.
“Ga usah ga penting juga.” jawabku seraya bangkit meninggalkan Regas untuk pulang ke kosan.

Beberapa hari berikutnya seingatku hari Jumat saat sedang mengerjakan tugas Kalkulus Lanjutan di selasar utama Fakultas, aku dikagetkan oleh keisengan Andini yg awalnya kupikir Regas.
“Woy!” sahutnya setengah berteriak.
“Kampret!” responku panik dan begitu melihat kebelakang ternyata Andini, aku menarik nafas panjang sebelum mengomel.
“Usil banget sih! Untung jantung gue normal.” sungutku protes atas kelakuannya.
“Hehe maaf abis khusyuk amat.” balasnya manis sambil tersenyum dan duduk disebelahku yg cukup membuatku salah tingkah.
“Lo udah ngambil Kalkulus Lanjutan? Berapa sks sih lo semster ini banyak amat?” lanjutnya mengomentari kuliahku.
“24.” jawabku singkat.
“Oh jadi IP semester lalu diatas 3,6 pantes sok pinter.” balasnya meledeku.
“Mata kuliah semester satu tuh dasar semua kali, belom ada apa-apanya.” sahutku menanggapi ledekannya tentang diriku yg ia anggap sok pinter.
“Tuh kan sombong lagi, gue Kalkulus Satu aja D. Makannya belom ngambil yg lanjutan.” jelasnya yg tak terima atas sikapku.
“Oke kecuali kalkulus.” balasku menanggapi komentar Andini.
“Ajarin dong.” pintanya seraya mendekatkan wajahnya dan menaikan kedua alisnya memohon.
“Kemaren katanya tukang pamer, sombong dan nyebelin kaya gue ga punya alasan buat bantu lo.” ledek ku membalas tuduhannya tempo hari.
“Tuh kan keluar nyebelinnya. Iya deh I admit that you better than me! Please teach me master!” balasnya sambil meragakan gaya memohon ala Kungfu menaikan kedua tangannya keatas kepala kearahku.
“Good girl. Oke liat nanti yah kalo saya punya waktu untuk anda.” balasku menirukan gaya Pak Soni yg direspon tawa oleh Andini.
“Hahaha sialan lo!” ucapnya seraya memukulku.
“Bilang apa dulu kalo dibantu coba?” timpalku sambil menatapnya.
“Kan belom dibantu.” protesnya.
“Ya udah kalo ga mau.” balasku sambil melanjuti tugasku.
“Iya iya, makasih.” jawab Andini sambil tersenyum menatapku yg saat ku menoleh untuk menatapnya juga membuatku salah tingkah. Kampret kalo senyum jangan kemanisan napa umpatku dalam hati.
“Abis ini masih ada kelas apaan lo?” tanyaku melanjutkan obrolan kami.
“Ga ada, cuma latihan Padus sampe jam 5.” jawab Andini sambil mengambil buku kalkulus ku dan membolak-baliknya.
“Ngopi yuk ke Dago.” tawarku yg entah mengapa saat itu memiliki keberanian untuk mengajak Andini jalan berdua.
“Lo ngajak gue ngedate?” balasnya sambil meliriku centil.
“Gue sih ngajak ngopi, kalo dianggap ngedate ya terserah anda.” ujarku sambil tersenyum meledeknya.
“Tapi gue ga doyan kopi, gimana dong?” sahutnya berlaga cuek.
“Ya udah kalo ga mau ngopi, ngedate aja.” ucapku frontal seraya menatap wajahnya, ia menoleh dan memegang kepala seolah berpikir.
“Ngopi aja ah, ngedate mah kegeeran lo nanti. Ketemu jam 5 ya. Bye!” ujarnya seraya tersenyum bangkit meninggalkanku sambil melambaikan tangan. Tuhan sedang tersenyum kepadaku sepertinya hari itu.
Sesuai janji aku menunggu di sebuah tempat duduk didekat ruang UKM Paduan Suara, dan begitu Andini keluar bersama teman-temannya ia yg melihatku segera pamit dan berjalan kearahku.
“Hey udah nunggu lama?” sapanya manis saat dihadapanku.
“Baru dua menit, yuk.” ajaku dan kami pun berjalan kearah parkiran motor sambil mengobrol.
Saat melewati selasar gedung fakultas ku dan menyebrang menuju parkiran motor aku melihat sebuah mobil sedan silver yg tak asing baru saja parkir.
“Helen.” sahutku saat melihat ia keluar dari mobilnya.
“Siapa?” respon Andini menanyakan Helen yg berjalan menghampiri kami.
“Temen gue.” jawabku singkat.
“Panji gue mau ngomong.” ujar Helen sedikit berteriak seolah memintaku untuk berhenti dan menunggunya.
“Dari Jakarta?” tanyaku saat Helen tepat berada didepanku.
“Iyah, ini siapa?” balas Helen menanyakan Andini yg berdiri disampingku.
“Oh iya kenalin len ini Andini, Andini ini Helen.” ujarku memperkenalkan mereka.
“Andini.” sapa Andini seraya menyodorkan tangannya kepada Helen.
Helen terlihat menatapku sesaat dan membalas sodoran tangan Andini.
“Helen pacarnya Panji.” sahut Helen yg tentu membuatku kaget.
“What!?” timpalku sambil melotot kearah Helen.
“Maksud lo apaan sih!?” lanjutku kesal atas statement yg dibuat Helen.
“Pokoknya aku mau ngomong ama kamu beb. Maaf ya Andini, aku ada urusan ama pacarku.” ujar Helen kepada Andini.
“Okey kalo gitu gue duluan ya nji, bye.” balas Andini singkat seraya berjalan meninggalkan kami berdua dan tak sempat ku cegah.
“Andini tunggu.” sahutku namun ia tak bergeming dan tetap berjalan menjauh berlalu dari hadapan kami saat aku hendak mengejarnya tanganku ditahan oleh Helen. Aku menoleh kearah Helen sambil melepas tangan tanganku lalu berdiri tepat dihadapannya dan menarik nafas panjang
“Gue harap lo punya alasan yg masuk akal ya len atas kelakuan lo?” sungutku kesal kepada Helen.
“Ga mungkin juga gue jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung kalo ga penting dan cuma buat nemuin lo Panji Darmawan!” balasnya yg juga ngotot.
“Apaan?” jawabku singkat.
“Clara masuk rumah sakit.”

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 17 | Ketika Kita Muda Part 17 – END

(Ketika Kita Muda Part 16)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 18)