Ketika Kita Muda Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 16

Start Ketika Kita Muda Part 16 | Ketika Kita Muda Part 16 Start

Friend

Clara malam itu tertidur dipelukanku setelah puas menangis dan mengeluarkan semua isi hatinya. Sementara di kamar ini aku terdiam sunyi tak bisa memejamkan mata, hanya memandangi atap hotel dan menerawang jauh melewati dimensi khayalku. Malam ini aku merasa sepenuhnya telah memiliki Clara, wanita yg pertama kali membuatku merasa dicintai itu adalah sebuah anugerah yg luar biasa, yg mampu membuat kehidupan menjadi lebih seru untuk dijalani dan selalu antusias untuk bangun menatap hari setiap paginya. Aku selalu berharap ini akan terus berlanjut hingga kami dewasa dan tua bersama nanti.
Meski tak melulu kisah kami penuh dengan hal indah setiap harinya, bahkan sekitar enam bulan yg lalu aku sempat kehilangan sosok Clara dan terpuruk dalam fase tersebut. Sebuah masa dimana hidup tanpa kehadirannya, sebuah masa dimana tak lagi mendengar suara manjanya, sebuah masa dimana tak lagi mendekap erat sosoknya. Itulah masa dimana waktu berdetak lebih lama dari biasanya, bergerak lebih lambat dari kepakan sayap merpati yg patah. Proyeksi itu muncul kembali dipikiranku, kenangan pahit yg tak pernah bisa kuusir dari ingatanku. Namun bagiku itu semua terelaborasi sempurna dalam sebuah cerita cinta yg melengkapi pahit manis hubunganku dengan Clara. Mari kuajak kalian mundur lagi kebelakang sebentar.

Bandung, 2005

Pagi-pagi disaat Bandung masih damai dan sunyi pintu kamar kosanku digedor yg riuhnya memecah keheningan fajar yg tenang itu, dipadu suara cempreng dan sangat ku kenal siapa pemiliknya. Suara yg memaksaku untuk membukakan pintu sebelum berisiknya membuat pengang gendang telingaku.
“Berisik banget kampret!” sungut kepada Regas saat membuka pintu kamar kosan ku.
“Lo udah tiga hari ngerem di kamar kagak kuliah ngapain sih? betelor?” cerocos Regas yg membuatku emosi pagi itu.

Ya sudah tiga hari ini aku tidak keluar kamar, bolos kuliah, merebahkan diriku di kasur dan sesekali hanya terpaku duduk didepan laptopku memandangi foto-foto jaman SMA ketika masih bersama Clara Helen Regas dan Angga.
Semenjak kejadian di Jakarta kemarin saat Clara secara sadar dalam logika otak kirinya bukan perintah bawah sadar untuk memutuskan hubungan kami, harus kuakui hal itu telah sukses membuat diriku tenggelam dan hancur dalam rasa luka yg tak kasat mata. Saat meninggalkan Clara tanpa pamit waktu kejadian itu bersama pria kampret yg datang menganggu hubungan kami, aku langsung terbang kembali ke Bandung. Aku sudah muak dengan Jakarta bahkan aku sama sekali tidak pulang kerumah untuk sekedar mengunjungi orangtuaku. Rasanya hari itu, aku enggan menginjakan kakiku lagi ke Jakarta. Rasanya terlalu sakit buatku untuk kembali ke tempat dimana disana aku jatuh cinta dengan Clara namun di tempat itu pula aku dibuangnya.
Nyeri ini berbeda seperti saat di SMA dulu, rasa sakitnya tak lagi berupa fisik melainkan sebuah kehilangan asa untuk sekedar melanjutkan hidup. Dulu kami break karena kesalahan ku, dimana aku sudah siap menerima konsekuensinya ditambah aku masih tau didalam hati kecilnya Clara masih menyimpan perasaan padaku. Sedangkan saat ini, aku datang untuk memperbaiki hubungan kami, didalam imajinasiku adalah kami kembali berbaikan tapi yg kuterima sebuah penolakan dan bagian terburuknya perasaan Clara untuk ku sudah digantikan oleh cowo kampret itu.
Aku beruntung rasa gengsi diriku sedikit menyelamatkanku, untuk setidaknya menyembunyikan rasa tidak ingin hancur karena percintaan. Hanya saja hati ini masih belum punya gairah untuk beraktifitas normal lagi.

“Bacot kalo cuma mau ceramah jauh jauh lu sono!” usirku kepada Regas seraya menutup kembali pintu kamar kosku namun sempat dicegahnya.
“Eit nanti dulu kampret emosi banget kaya bencong.” sahutnya seraya mendorong kembali pintu dan masuk ke kosan ku.
“Mandi sana kita kedatangan tamu jauh hari ini.” lanjutnya memberi perintah yg kuabaikan dan kembali keatas kasur.
“Bangun pengecut!!” pinta Regas sambil menarik tanganku.
“Kampret ga bisa banget liat orang seneng ye.” sungutku yg makin emosi atas kelakuan Regas dan mengambil buku betonku yg tebal untuk dilemparkan kearahnya.
“Kupret! Lo ga ngaca, lo tuh menderita kagak ada seneng-senengnya! Makannya mandi kita cabut ayo!” ajak Regas yg tetap teguh akan pendiriannya. Aku menyerah karena manusia biadab satu ini tidak akan pernah menghentikan bacotnya sebelum aku menurutinya.
“Mau kemana sih? Masih pagi, awas ya ngajak gue ke kampus gue bakar motor lu!” sungutku kesal.
“Bacot! Pagi apanya siang gini, udah pokoknya ikut!” paksanya.
Setelah aku selesai mandi kami pun berangkat dengan motor masing-masing kearah Lengkong menuju lapangan tembak milik Polda Jawa Barat dan berhenti di depannya yg terpampang sebuah poster bertuliskan Shooting Range Club.
“Lo mau ngajarin gue nembak?” ujar bengong begitu sampai dilokasi.
“Biar lo bisa ngeluapin emosi.” balasnya seraya menepuk pundaku dan mengajaku masuk ke dalam.
“The best lo emang!!” sahutku semangat sambil tersenyum lebar penuh antusias.
Kami pun masuk, menyelesaikan administrasi pendaftaran dan bersiap mulai latihan menembak untuk yg pertama kalinya. Entahlah kenapa Regas bisa kepikiran mengajaku kesana hari itu, aku tak peduli yg penting ini adalah ide brilian untuk menghilangkan suntuk ku setelah tiga hari meratapi nasib yg memalukan.
Pertama-tama kami diajari oleh pemandu yaitu dasar-dasar senapan seperti tipe-tipe baik laras pendek ataupun panjang, tipe masing-masing kaliber, cara reload baik yg tipe manual ataupun semi automatic dan juga posisi tubuh untuk cara menembak yg baik. Karena ini adalah kali pertama, kami berdua disarankan untuk menggunakan hand gun pistol colt kaliber 9 mm yg bisa dibilang paling ringan menurut pemandu tsb dibanding jenis lainnya yg tak ku hafal namun beramunisi peluru karet.
Saat sudah siap menggunakan kacamata dan perlengkapan standar lainnya kami pun mulai bermain. Aku langsung dengan penuh percaya diri tanpa membidik serius melepaskan tembakan pertama jauh dari sasaran yg langsung ditertawai oleh Regas.
“Tangan lo tremor! Kebanyakan coli sih! Hahaha.” ujar Regas berteriak puas meledeku.
“Tai lo!” jawabku singkat karena kesal, aku bermaksud melanjutkan tembakan kedua dengan menarik slide tapi cukup kesulitan.
“Reload pistol aja g becus gimana mau reload hidup lo nyet.” ujar biadab kedua yg suaranya tak asing ditelingaku namun sudah lama aku tidak berjumpa dengannya.
“Kampret Angga!” sahutku antusias lalu menaruh pistol tersebut dan berjalan kearahnya untuk memeluknya.
“Udah jangan kelamaan nanti disangka homo.” celetuknya yg langsung ku lepas pelukannya seraya menempeleng kepalanya.
“Apa kabar lo nyet! Kapan sampe?” tanyaku yg masih takjub akan kehadirannya.
“Baru landing tadi jam 10, langsung di sms si kampret katanya udah nunggu disini.” jawab Angga sambil menunjuk Regas. Regas pun berjalan menghampiri kami dan langsung memeluk Angga.
“Langsung dari Surbaya?” lanjutku yg masih penasaran.
“Yoi, kata Regas disini ada keadaan darurat. Sahabat kita mau mati katanya. Ya udah ngapain ditunda gue suruh Regas bawa aja ke lapangan tembak, biar cepet dianter ke surga.” sahut Angga puas meledeku.
“Sialan lo.” sahutku menimpalinya.
“Surprise banget sumpah!” lanjut yg masih senang akan kedatangan Angga, meski selama di Bandung ada Regas namun rasanya tetap belum lengkap kalo hanya berdua apalagi keseringan bertemu membuat kami lebih banyak bertengkar saat main bareng, ya sebenernya pertengkaran dengan Regas pun hanya bagian dari persahabatan kami yg memang sudah terlalu dekat.
Selepas SMA hanya Angga yg memilih kampus berbeda saat kami mengambil ujian SPMB, meski sama-sama mengambil kuliah rumpun Teknik tapi ia lebih memilih kampus di timur pulau jawa.
“Masih ada surprise yg lain ini belom seberapa, tapi sekarang abisin dulu tuh sisa amunisi lo sampe puas.” ujar Angga yg akhirnya ikut bermain bersama aku dan Regas.
Siang itu kami bermain hingga lebih dari sejam, entahlah sudah berapa selongsong peluru karet yg kami habiskan hanya untuk menembakan target sebagai luapan emosi meski sebenarnya hanya aku yg emosi tapi entah kenapa Regas dan Angga seperti terbawa dalam emosiku. Setelah puas Regas mengajak aku dan Angga ke kampus yg tentu ku tolak.
“Kenapa sih nyet? Di kampus kita kan g ada Clara.” ujar Regas heran yg tak kujawab.
“Udah kita ke kampus cuma buat naro motor lo berdua ko, abis itu kita cabut naik mobil.” sahut Angga seperti berusaha memintaku untuk tetap ikut.
“Mobil siapa?” tanyaku heran.
“Gampang tinggal sewa, daripada naik motor sendiri-sendiri. Yuk ah.” ajak Angga seraya menarik aku yg kemudian diikuti oleh Regas.

Sesampainya di kampus kami bertiga duduk di kantin sambil mengobrol dan membeli minuman, setelah berpisah kurang lebih 3 bulan akhirnya bisa berkumpul lagi dengan dua manusia cupu yg menemani masa SMA ku lebih dari cukup untuk menghibur diriku saat itu.
“Nyok ke parkiran, mobil pesanan kita udah datang.” ajak Angga penuh semangat yg membuat kami bertiga bangkit dari kursi kantin dan mengikutinya kearah parkiran.
Aku kembali dikejutkan setelah melihat sedan silver membuka kacanya dan memperlihatkan sosok wanita cantik didalamnya. Helen.
“Halo cowo. Ikut tante yuk jalan-jalan.” teriak Helen centil.

Ilustrasi Helen

Ya Angga dan Helen masih awet berpacaran, sepertinya hubungan mereka selalu baik-baik saja yg terkadang membuat ku iri bagaimana bisa mereka menjalani LDR yg bahkan jauhnya melebih aku dengan anak kedokteran itu kemarin. Ya anggap lah aku sedang tidak ingin menyebut namanya meski saat melihat Helen ada rasa berdegup di jantungku apakah teman sekampusnya itu ikut bersamanya namun setelah mendekat dan pintu mobil dibuka hanya ada Helen seorang diri disana. Aku menghela nafas panjang.
“Beb kangen.” teriak Helen seraya memeluk tubuh Angga didalam mobil.
“Mee too beb.” sahut Angga yg kegirangan dipeluk Helen.
“Dibelakang lo pada tuh ada dua jomblo, pengertian dikit napa.” keluhku kepada mereka yg diiring tawa Helen dan Angga.
“Gue single bukan jomblo.” sahut Regas tak terima.
“Sombong Regas! Sini sini Panji aja kalo gitu yg dipeluk.” tawar Helen centil yg kusambut dengan maju mendekati tubuhnya ke jok depan namun segera ditempeleng Angga.
“Cari lagi! Jangan nikung temen sendiri!” sahut Angga kesal.
“Sementara lah Helen milik bersama dulu.” pintaku memohon kepada Angga sambil menaikan alisku.
“Kampret.” sahut Angga seraya melempar tisu dari dashboard mobil kearah wajahku yg diiringi tawa oleh Helen dan Regas.
“Ini anak kayanya merindukan kasih sayang banget ya heran gue. Ayo keliling Bandung, kita cariin mojang buat Panji.” ujar Regas antusias yg kujawab dengan semangat.
“Ikuzoooo!” (Ayo dalam bahasa Jepang)
Angga pun memacu mobil ini kearah utara Bandung menuju Lembang.
Aku bersyukur hari itu memiliki tiga sahabat yg luar biasa pengertian, yg jauh-jauh datang dari Jakarta dan Surabaya hanya untuk mengunjungiku ke Bandung menghiburku yg sedang terpuruk. Meski Regas yg jaraknya paling dekat, tapi aku percaya ia pun akan melakukan hal sama seandainya bukan kuliah di Bandung.
Jika kalian masih ingat, semenjak kepulangan kami berlima dari liburan Belitung semasa SMA. Kami seperti membuat lingkaran persahabatan baru dimana apa-apa jadi selalu berlima baik itu sekedar nongkrong di kantin, kumpul di cafe TB atau hangout mengelilingi Jakarta untuk nonton, karoke dan lain-lain. Bahkan bisa dibilang Helen dan si anak kedokteran itu mendadak jadi jauh dari teman-teman segengnya dulu. Aku Regas dan Angga sempat menanyakan apa alasannya namun mereka hanya menjawab urusan wanita yg tak akan dimengerti oleh pria, kamipun memilih untuk mengabaikan urusan mereka.
Sepanjang jalan kami bercanda dan tertawa mengobrol mengenai kuliah kami masing-masing yg juga disela dengan humornya Regas. Aku merasa bahagia kembali hari itu, mereka sukses membawaku kembali kesebuah keceriaan kenangan di masa SMA dulu meski tanpa si anak kedokteran. Aku merasa apa yg terjadi hari ini lebih dari cukup membuat semangat hidupku kembali.
Kami memutuskan untuk mengunjungi hutan pinus di daerah desa Cikole untuk berjalan menikmati sejuknya udara dan pemandangan alam yg sangat cantik. Disana bahkan sesekali Helen merangkulku dan selalu menggenggam tanganku seolah berupaya menjadi sosok pengganti anak kedokteran yg biasanya selalu melakukan hal itu kepadaku apabila kita sedang berkumpul jalan bersama. Angga yg sepertinya paham upaya Helen dalam menghiburku terlihat membiarkan kami, sambil tetap jalan bersama berempat menikmati dinginnya udara Lembang sore itu.
Kami berhenti disebuah tempat duduk panjang dari potongan batang pohon besar sambil menikmati Bandros panas yg dibeli Angga.
“Gue mungkin dibilang ke geeran kalo nganggep kalian dateng jauh-jauh kesini buat ngehibur gue, kalopun misal alasan kalian ke Bandung buat liburan yg kebetulan sekalian nemenin gue disitu. Gue tetep makasih.” ujarku membuka obrolan kami sambil memandang kearah lembah luas didepan kami.
Aku yg saat itu duduk agak sedikit lebih bawah dengan posisi persis didepan Helen langsung dipeluknya dari belakang diikuti oleh Angga yg disamping Helen dan Regas disampingku.
“Kita tempat lo seneng atau susah nyet.” sahut Angga.
“Kita sekarang boleh bahas Clara ga nji?” tanya Helen yg membuatku heran.
“Apaan lagi yg mau dibahas?” tanyaku seraya berbalik menoleh memandang wajah ketiganya secara bergantian.
“Kenapa lo nyerah sih nji? Kenapa lo ga berjuang buat ngerebut Clara lagi?” lanjut Helen yg membuatku terdiam cukup lama.
“Buat apa mempertahankan sesuatu yg ingin pergi len? Menahan tali yg mengekang bukannya cuma buat tangan kita lecet?” jawabku menjelaskan berharap dapat dipahami oleh mereka.
“Kalo lo berdua putus karena udah saling benci gue ga bakal bujuk lo, tapi disini masih ada elo yg punya perasaan ke Clara. Lo harus ambil lagi milik lo yg diambil cowo itu nji.” ujar Helen yg masih mencoba membujuku namun nada suaranya mulai getir.
“Jungkat jungkit ga bakal berfungsi kalo cuma dipake satu orang len.” sahutku seraya tersenyum kecut.
“Ih gue kesel deh! Kenapa sih Clara milih cowo itu! Gue yakin itu cuma perasaan sesaat dia doang karena jauh dari lo! Clara begoooo!!” teriak Helen yg langsung menangis membuat aku dan Regas langsung bangkit berbalik badan sedangkan Angga langsung memeluk dirinya.
“Clara berubah. Aku ga kenal dia yg sekarang ngga.” lanjut Helen yg masih menangis kejer dipelukan Angga.
“Aku suka kita berlima, aku cinta Angga, aku sayang Clara yg sama Panji, aku nyaman ama Regas. Kenapa cuma Clara yg berubah dan ngerusak semuanya.” cerocos Helen lagi panjang lebar sambil tetap menangis terisak-isak. Kali ini kami bertiga yg mengelilingi Helen dan memeluknya.
Tangisan Helen membuatku tersadar bahwa yg merasa sakit kehilangan Clara bukan hanya diderita olehku seorang diri melainkan kami semua berempat.
Ra andai kamu ada disana hari itu, kamu akan paham sakitnya hati kami bertiga melihat Helen menangis.

Matahari mulai terbenam, langit pun berangsur gelap kami berempat pun meninggalkan Cikole untuk makan malam didaerah Lembang di sebuah restoran lesehan.
“Udah nangisnya?” tanyaku kepada Helen saat kami berempat duduk bersama di gazebo lesehan yg terpisah dari bangunan utama restoran. Helen hanya menjawab dengan mencubit bahuku seolah malu atas kejadian tadi.
“Gue pikir lo bakal lebih belain Clara len, secara lo kan sahabatnya.” ujarku sambil tersenyum kearahnya.
“Justru karena sahabatnya nji, gue ga akan belain sahabat gue kalo memang dia yg salah.” jawab Helen bijak yg langsung dirangkul oleh Angga.
“Manis banget sih, untung pacarnya Angga. Kalo jomblo gue pacarin lo len.” jawabku bercanda meledeknya.
“Peluk sini peluk.” jawab Helen yg masih menyandar di bahu Angga.
“Panji mulu yg daritadi dipeluk.” protes Angga yg direspon tawa olehku Helen dan Regas.
“Kan nanti malem kamu dapet lebih beb.” jawab Helen centil.
“Yah mesum lagi.” keluh Regas.
“Makannya cari pacar!” sahut Helen dan Angga kompak yg kutambahi dengan menepuk pundak Regas.
Setelah makan Angga pun kembali memacu mobil ini kearah kampusku untuk mengantar aku dan Regas mengambil motor, dan kamipun berpisah disana. Malam itu aku bersyukur atas takdir yg telah menghadirkan Regas Angga dan Helen sejak bersama Clara. Namun disaat keadaan memisahkan aku dan Clara, takdir masih menyisakan mereka bertiga untukku.

Keesokan harinya aku kembali ke kampus, bagiku sudah waktunya melanjuti kehidupan meski rasa kehilangan itu masih ada. Angga dan Helen sore harinya sempat mampir ke kampus untuk bertemu denganku dan Regas sambil berpamitan.
“Yang penting ga sia-sia gue jauh-jauh dari Surabaya bikin lo balik kaya biasa nyet. Walaupun gue yakin belum sembuh tapi berjalan waktu pelan-pelan sakitnya pasti nanti ilang.” ujar Angga panjang lebar sambil memeluku.
“Thanks ngga.” sahutku.
“Jangan percaya Angga tapi, belom pernah sakit hati soalnya.” lanjutnya sombong seraya melepaskan pelukan kami dan berganti merangkul Helen.
“Kampret lo.” balasku menonjok perut Angga yg membuat Helen dan Regas tertawa.
“Baik-baik ya nji, kalo ada apa-apa bilang. Pokoknya liburan semester kita semua kumpul lagi ya di Jakarta.” ujar Helen yg juga maju untuk memeluk tubuhku yg kujawab dengan senyum dan anggukan.
Angga juga lanjut memeluk Regas, dan setelah itu bersama Helen masuk mobil lalu pergi menghilang dari pandangan kami.
“New day. Face it!” ujar Regas seraya menepuk pundak ku.
“Sabtu ini kita lari di Gasibu yuk.” ajak ku yg tentu tak akan ditolak oleh jomblo macam Regas.
“Brilian pemuda!” sahutnya lalu kami pun berpisah untuk pulang ke kosan masing-masing.
Setelah itu aku menjalani hari-hari kuliahku dengan normal, belajar, mengerjakan tugas, masuk kelas, presentasi, praktikum, laporan lab dan rutinitas anak kuliah pada umumnya. Setiap jam makan siang dan pulang kampus hampir selalu di kantin bersama Regas. Hanya saja tak ada lagi pesan singkat sekedar penyemangat kuliah, pengingat makan atau pengingat mengerjakan tugas. Tidak ada lagi suara bawel yg memintaku bangun di pagi hari, atau protes jika telat membalas pesannya. Aku membuka kotak masuk di handphone ku, menandai semua dan menghapusnya. Selamat tinggal Clara.

Menjelang akhir ujian semester 1 kesibukan kuliah meningkat, deadline tugas dan laporan yg semakin menumpuk membuatku menjadi selalu di kampus setiap hari dari pagi hingga sore kadang hingga malam. Bolak-balik ke koperasi menjadi rutinitas untuk sekedar mencetak semua hasil laporan dan tugas untuk dikumpulkan kepada masing-masing dosen.
Hingga suatu hari saat sedang mencetak banyak tugas dipertengahan minggu ujian semester, dimana hampir semua mahasiswa dikejar waktu yg membuat mereka semua serba terburu-buru termasuk wanita cantik yg menganggu minta didahulukan saat aku masih mencetak tugas.
“Sori gue buru-buru banget nih, 10 menit lagi kelas gue mulai. Gue duluan ya. 1 file doang ko paling cuma 15 lembar.” pintanya padaku yg tanpa memperdulikan jawabanku langsung meminta kepada penjaga koperasi untuk didahulukan.
Aku yg memang masih belum ada kelas di sesi jam 10 tersebut pun mengalah dan membiarkan wanita itu mendahului. Setelah ia selesai aku pun melanjuti untuk mencetak tugas-tugasku yg memang lumayan banyak itu.
“Jadi berapa semuanya A?” tanyaku begitu semua cetakan tugas ku sudah selesai.
“Sama yg Teteh tadi jadi delapan puluh ribu.” jawabnya yg membuatku heran.
“Teteh tadi? Yg mana?” sahutku mengkonfirmasi.
“Cewe tadi yg ikutan nyetak bukannya temen mas?” tanya yg ikutan heran yg kujawab dengan menggelengkan kepala.
“Yah terus siapa dong yg bayar, 20 lembar berwarna pake dijilid lagi.” lanjutnya lemas.
“Nanti juga balik kali orangnya mas.” jawabku mencoba membuatnya tenang.
“Setiap hari anak koperasi closing mas, kalo minus saya harus nombok.” ujarnya lagi yg seolah mendapat kerugian jutaan dan akhirnya aku pun mengalah daripada mas penjaga koperasi itu semakin drama.
“Ya udah saya yg bayar semuanya.” jawabku singkat yg membuat mas itu tersenyum lebar. Sialan jatah makan gue kepotong umpatku dalam hati.
Setelah membayar aku pun segera menuju dekanat bertemu dengan Pak Willy dosen Gambar Teknik untuk menyerahkan tugas tambahanku.
Setelah menunggu cukup lama sekitar 30 menit, aku pun bertemu dengan Pak Willy dan berbincang beberapa menit terkait tugas yg kubuat. Saat pamit, aku bertemu wanita tadi yg juga menunggu Pak Willy untuk bertemu. Tadinya aku ingin menagih uang cetakan tugasnya namun mengingat Pak Willy sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu yg tentu apabila aku ajak ia mengobrol pasti akan ditinggal oleh Pak Willy jadi kuurungkan niatku. Akhirnya aku hanya melempar senyum kepada wanita itu dan berlalu meninggalkannya untuk masuk ujian kelas Mekanika Teknik.

Selepas ujian sekitar jam 3 aku seperti biasa langsung menuju kantin untuk mendinginkan otak yg sudah keram ini, sambil bermaksud mengisi perut yg tadi siang belum sempat terisi.
Namun ketika baru keluar dari gedung kelas aku ditarik oleh seorang wanita yg tadi bertemu di koperasi dan dekanat.
“Apaan sih narik-narik.” ujarku protes kepadanya.
“Lo tadi bayarin print gue yah? Sori. Gue lupa sumpah. Gue malu anjir.” sahutnya sambil berbisik.
“Sori sih sori, ga usah sambil narik gini kecekek leher gue!” timpalku yg mulai tercekik oleh kerah baju karena ditarik olehnya.
“Eh iya sori-sori.” jawabnya sambil minta maaf dan membantuku membenarkan kerahku.
“Bayar!” sahutku ketus begitu bisa bernafas lega.
“Iya iya berapa sih.” ujarnya sambil cemberut.
“Dua puluh ribu.” jawabku singkat.
“Yaelah dua puluh ribu doang.” sahutnya sambil mengambil uang dari kantongnya dan menyerahkan kepadaku yg langsung kuambil.
“Buat anak kosan ini berharga.” ujarku seraya meninggalkannya.
“Dih gitu doang? Makasih kek.” protesnya kepadaku yg membuatku menghentikan langkah ku.
“Lah? Gue yg bayarin ko gue yg makasih? Elo kali yg harusnya makasih.” sahutku tak terima.
“Nyebelin banget jadi cowo.” tutup wanita itu seraya pergi meninggalkanku yg membuatku menggelengkan kepala.

Keesokan harinya saat aku sedang di koperasi untuk membeli kertas kalkir buat Gambar Teknik, aku kembali bertemu lagi dengan wanita itu yg juga mencari kertas kalkir. Sialnya saat itu di koperasi stok kertas kalkir mereka hanya sisa satu.
“Duh cuma satu nih. Belom nyetok lagi.” ujar penjaga koperasi.
“Gapapa saya cuma butuh satu.” jawabku seraya menyerahkan uang namun dipotong oleh wanita itu.
“Gue juga perlu kali, lo ngalah napa! Buat tugas ujian nih gue.” protesnya.
“Lah gue juga buat ujian, lagian gue duluan yg sampe.” jawabku tak mau kalah.
“A buat gue dong, masa aa ga kasian ama cewe.” lanjutnya memohon kepada penjaga koperasi.
“Lah saya mah siapa aja yg penting dibayar.” jawab penjaga koperasi.
Aku yg sudah kesal atas kelakuan egois wanita tersebut pun pergi meninggalkan koperasi. Mengingat kuliah Regas tidak ada Gambar Teknik aku pun menelepon salah satu teman SMA ku yg lain di jurusan Mesin, siapa tau dia punya stok kertas kalkir untuk kupinjam. Beruntung ia punya lebih beberapa yg tentu aku minta dan akan ku ganti nanti karena sedang urgent kebutuhan ujian.
Entah kenapa aku masih bertemu lagi dengan wanita itu di kelas ujian Gambar Teknik, memang saat kuliah biasa kelas ini dibagi dalam beberapa kelompok yg berbeda hari atau waktu namun ketika ujian semua dijadikan satu waktu karena hanya tinggal mengumpulkan. Beberapa meja gambar tersedia dan bisa digunakan siapapun hingga batas ujian berakhir di pukul 5 sore.
Aku yg saat itu masih punya hutang satu gambar pun menggunakan salah satu meja untuk melanjuti gambarku. Wanita tersebut duduk tepat disebelahku yg memang tidak ada lagi meja gambar kosong tersisa, aku hanya menatapnya sesaat dan kembali fokus pada gambarku.
Sekitar setengah jam berlalu wanita itu berteriak yg membuat seisi ruang gambar menoleh kearahnya.
“Yah! Robek.” ujarnya panik saat kertas kalkir satu-satunya yg ia beli di koperasi hasil merampas dari ku robek.
Aku sebenernya ingin menertawainya puas, namun mengingat masih ditengah ujian ku tahan dan karena merasa kasihan aku pun mengambil kertas kalkir ku yg masih tersisa untuk kuberikan padanya.
“Lain kali jangan suka ngambil hak orang makannya.” ujarku berbisik seraya menyerahkan kertas kalkirku kepadanya.
Ia memandangku dengan tatapan kesal seolah tak terima dengan ucapanku.
“Marahnya nanti lagi aja, udah ambil ga usah malu. Waktunya tinggal sejam lagi loh.” bujuk ku sambil meledeknya.
“Makasih.” sahutnya dengan nada yg terpaksa namun tak punya pilihan lain, aku hanya menggelengkan kepala dan kembali fokus mengerjakan gambarku.

Setelah selesai kuliah hari itu seperti biasa aku di kantin bersama Regas untuk makan dan mengobrol.
“Eh salam dari Taki.” ujarku kepada Regas.
“Kapan ketemu? Tumben.” sahut Regas sambil mengunyah makanannya.
“Tadi gue nelepon doi, minjem kertas kalkir.” jelasku.
“Semiskin itu lo? Emang ga sanggup beli?” balasnya meledeku.
“Kampret! Tadi di koperasi abis.”
“Sebenernya sih ada satu, tapi diambil ama cewe sumpah tuh nenek lampir dari kemaren gue ketemu dia bawaannya sial mulu.” lanjut menceritakan dengan penuh rasa kesal jika mengingatnya.
“Cantik ga?” timpal Regas.
“Ko malah cantik atau engga.” sahutku heran.
“Tinggal jawab aja.” pinta Regas yg seolah memaksaku untuk menjawabnya.
“Ya cantik sih. Tapi kaya nenek lampir egoisnya.” lanjutku memuji serta memprotes kelakuannya yg entah kenapa membuat Regas tersenyum penuh arti.
“Lo kenapa senyum senyum.” tanyaku heran.
“Kaya cewe lo, bentar lagi paling berubah jadi jatuh cinta.” sahut Regas sambil tertawa.
“Tai lo!” balasku kesal sambil melempar kerupuk kearahnya.

Ujian semester 1 pun akhirnya berlalu, sesuai perjanjian aku dan Regas kembali ke Jakarta untuk berkumpul bersama Helen serta Angga meski masih seminggu lagi mengingat perbedaan jadwal ujian kami.
Aku pun akhirnya pulang kerumah setelah hampir empat bulan lamanya tidak kembali. Ibu ku terlihat sangat antusias menyambutku dengan membuatkan beberapa masakan special untuk ku.
Ayahku sempat memintaku untuk mengundang Clara makan malam bersama karena sudah lama tidak berkunjung yg akhirnya aku pun menjelaskan sejujurnya kalo hubungan aku dan Clara sudah berakhir.
“Kita udah putus pah.” ujarku ditengah kegiatan ku membantu ayah memperbaiki mobil.
“Serius kau? Ah becanda pasti! Becanda kau!” jawab ayahku seolah tak percaya.
“Beneran pah. Dari tiga bulan lalu. Makannya Clara ga pernah kesini lagi kan.” jelasku kepadanya yg membuatnya menghentikan menuang oli mesin seraya menatapku. Ya awalnya meski aku di Bandung, ayah dan ibuku selalu cerita tiap minggu sepulang Clara dari gereja selalu mampir kerumah hanya sekedar untuk mengobrol, membawakan makanan atau ikut makan malam dengan keluargaku. Buatku wajar apabila ayah dan ibu pun merasa kehilangan Clara.
“Ya kalo memang itu yg tebaik buat kalian, aku tak bisa cakap banyak.” ujar ayahku singkat yg kujawab dengan senyum.
Saat makan malam pun ibu ku menanyakan hal yg sama tentang Clara dan kujawab sama seperti saat ayahku menanyakannya. Reaksi ibu ku bisa dibilang sama seperti ayah ku, kehilangan anak perempuan tambahan mengingat kakak ku semenjak kuliah hanya pulang beberapa kali dalam setahun.
“Kak Sinta ga pulang mah?” ujarku mencoba mengalihkan perhatian Ibu ku soal Clara.
“Pulang tapi dua minggu lagi katanya, minggu ini masih ujian terus minggu depannya mau liburan dulu ama temen-temennya.” jawab Ibuku.
“Kamu masih disini kan nji sampe Kak Sinta pulang? Mama kangen kumpul berempat, terakhir kan lebaran kemarin itu juga cuma tiga hari.” lanjut Ibuku yg sepertinya merasa kesepian semenjak ditinggal kedua anaknya kuliah keluar kota.
“Iya mah.” jawabku seraya tersenyum kearahnya.
Malam itu karena sikap ayah dan ibuku, aku menjadi kembali teringat Clara. Anak itu sudah terlalu jauh masuk kedalam hidupku hingga ketika pergi, semuanya membekas tak bisa hilang.

Akhirnya hari berkumpul dengan Regas Angga dan Helen pun tiba, kami janjian di pintu masuk Dufan untuk melepas semua beban selama kuliah semester pertama ini.
Aku yg lebih dulu datang bersama Regas duduk menunggu di depan wahana komedi putar hingga tak lama kemudian munculah dua sahabat lelet kami yg selalu telat setiap janjian.
“Panjiiii Regaaaaas.” teriak Helen ketika melihat kami yg langsung melepas rangkulan Angga dan berlari kearah ku untuk berpelukan dan bergantian memeluk Regas. Sepertinya semenjak tak ada Clara, Angga harus mengikhlaskan pacaranya menjadi milik bersama.
“Sori tadi dijalan pelan-pelan, dikasih servis ama Helen soalnya.” ujar Angga tersenyum dengan wajah mesum yg langsung ku tempeleng kepalanya.
“Tai lo pamer mulu.” sahutku kesal.
“Beb ih! Malu.” ujar Helen salah tingkah.
Kami pun akhirnya langsung menuju arena permainan yg dijadikan taruhan oleh kami. Ya siapa yg menolak menaiki satu wahana, harus membayar lima puluh ribu rupiah yang nanti uangnya dikumpulkan untuk membeli makan siang.
Sudah bisa ditebak, Helen menyumbang uang taruhan paling banyak setelah menolak wahana ekstrim seperti kicir-kicir, halilintar dan tornado bahkan jetcoaster mini atau alap-alap.
Regas hanya menolak wahana kicir-kicir setelah muntah akibat sebelumnya menaiki tornado yg membuat aku dan Angga tertawa puas karena akan menikmati makan siang gratis hasil uang Helen dan Regas.
“Ci lo mah kesini buang-buang duit doang wahana ini itu ditolak.” ujarku kepada Helen saat makan siang yg hanya dijawab dengan memukul bahu ku dan terdiam.
“Eh sorry.” lanjutku yg begitu sadar panggilan enci kepada Helen hanya mengingatkan kami kepada Clara.
“Kalo ada Clara pasti tambah seru ya nji.” jawab Helen lirih seraya merangkul tanganku dan menyenderkan kepalanya dibahuku yg kebetulan duduk disebelahnya. Air mata Helen tak lama jatuh beruraian yg membuatnya langsung memeluk tubuhku erat. Aku menatap wajah Angga yg ia balas dengan tersenyum dan menganggukan kepala seolah mengijinkan ku untuk membalas pelukan Helen. Aku pun merengkuh badan Helen dan memeluknya erat yg membuatnya kembali menangis.
“Nanti yah, kalo Clara udah bosen ama Adit lo kasih tau gue. Nanti gue balik ke Jakarta buat ngambil Clara lagi buat kita.” jawabku asal hanya untuk menghibur Helen.
“Beneran ya nji.” sahut Helen sambil terisak-isak.
“Iyah.” jawabku yg membuat Helen semakin memeluku erat dan kembali menangis.
“Udah ya jangan nangis lagi, kan sekarang masih ada Angga Regas ama gue.” lanjutku sambil mengusap rambut panjang Helen. Padahal sudah tiga bulan berlalu sejak putusnya aku dan Clara, menurut pengakuan Helen pun sejak saat itu pula ia enggan bertemu dengan Clara karena tak mau mengkhianatiku. Tapi entah mengapa rasanya bukan hanya aku yg merasa sulitnya move on dari Clara melainkan juga Helen.
Angga pun bergeser dari posisi depan Helen kesampingnya dan menarik tubuh Helen untuk dipeluk olehnya, aku yg paham maksud Angga ingin menenangkan Helen pun melepaskan pelukanku.
Saat Helen mulai mereda aku lanjut menyuapi makannya yg tadi belum sempat ia makan. Sambil dipeluk dan bersandar dibahu Angga, Helen pun mau menerima suapan ku.
Sore itu kami lanjut berjalan kearah pantai ancol, untuk sekedar menikmati hembusan angin laut dan berfoto sesekali. Kami duduk dipasir sambil mengobrol dan bercanda karena lawakan Regas seperti biasa.
“Eh dua bulan lagi kan anak-anak OSIS sekolah kita mau ngadain Kampus Expo, gue sih bakal bantu mereka ngurus. Kalian dateng dong.” ujar Regas tiba-tiba.
“Boleh tuh.” jawab Angga semangat.
“Lo mah wajib ngga, setahu gue alumni angkatan kita yg masuk kampus lo kan cuma elo doang.” sahut Regas.
“Gue ga wajib dong, kan udah ada elo” jawabku menimpali Regas.
“Ih udah ikut aja yuk kumpul lagi.” ajak Helen yg sepertinya tertarik dengan tawaran Regas.
Kamipun akhirnya sepakat untuk ikut hadir diacara itu sekalian reuni dengan teman-teman kami yg lain.
Selama seminggu di Jakarta, kami selalu berkumpul setiap hari entah itu hanya ketemuan di Mall untuk nonton, main bowling, berenang di water park bahkan kami pun ke Puncak Bogor hanya untuk makan mie instant disana. Kami memanfaatkan waktu seminggu tersebut untuk selalu berkumpul karena Regas dan Angga akan segera kembali ke kampus urusan Himpunan. Regas sih tidak aneh mengingat sejak SMA memang selalu aktif dalam kegiatan seperti itu namun Angga cukup mengejutkan ia mau aktif di himpunan, alasan Angga untuk mendapat teman yg banyak karena memang hanya ia dari SMA ku yg masuk kampus tersebut. Sedangkan Helen akan berlibur bersama keluarganya ke Jepang. Hanya aku yg tetap di Jakarta menemani Ibu dan Ayahku menanti Kak Sinta pulang.

Senin sore saat sedang main game online di kamarku melalui notebook, handphone ku berdering dan ku lihat panggilan dari Helen.
“Hey, tumben nelepon.” sapa ku membuka obrolan.
“Nji lagi g ada acara kan?” tanya Helen langsung kepadaku tanpa berbasa-basi.
“Ga ada kenapa len?” sahutku yg penasaran.
“Kerumah gue nanti malem bisa? Clara maksa mau kesini, gue males nemuin sendiri.” jelas Helen yg memang saat itu Angga sudah pulang ke Surabaya begitu juga Regas sudah kembali ke Bandung, jadi mungkin itu alasannya memintaku untuk menemaninya. Helen sendiri baru ke Jepang setahuku besoknya.
“Plis njiiii. Gue males kalo dia ngajak baikan, kalo ada lo disini minimal keberadaan lo bisa bikin rasa kesel gue ke dia ninggi.” lanjut Helen memohon yg tadi belum sempat kujawab.
“Ya udah nanti gue kesana.” jawabku yg menyanggupi permintaan Helen.
“Oke gue tunggu ya.” sahut Helen seraya menutup telepon, aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 16 | Ketika Kita Muda Part 16 – END

(Ketika Kita Muda Part 15)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 17)