Ketika Kita Muda Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 15

Start Ketika Kita Muda Part 15 | Ketika Kita Muda Part 15 Start

Second Stage

Maret, 2019

Jakarta masih cukup teduh siang ini karena cuaca mendungnya, meski sudah memasuki musim kemarau nampaknya matahari belum menunjukan dominasinya. Buatku lebih baik begitu, mengingat panas hanya akan membuat energi ditubuh cepat habis.
Aku yg baru saja menyelesaikan meeting siang itu di salah satu kantor client perusahaan ku langsung berjalan ke lobby lalu masuk ke mobil dan meminta supir mengantarku ke salah satu Mall di daerah Bundaran HI yg tak jauh dari situ untuk makan siang.
Di jalan aku membuka notebook dan segera menulis summary hasil meeting tadi mumpung masih tersimpan baik diotaku. Aku menghela nafas panjang setelah selesai mengirimnya ke bos besar agar ia tidak bawel menelepon dan menganggu jam istirahatku.
“Sibuk banget kayanya Pak Panji.” tegur supir kantorku.
“Banget pak, baru pindah dua hari lalu udah harus handle project gede yg ngegantung gara-gara ditinggal Pak Gun pensiun.” jawabku menanggapi.
“Loh Pak Panji gantiin Pak Gun? Hebat dong masih muda udah jadi GM.” pujinya.
“Apaan pak, gantiin kerjaannya doang. Gaji ama posisinya mah masih pion catur. Mana ga dikasih sekretaris. Jadwalin sendiri, eksekusi sendiri, laporin sendiri.” keluhku.
“Sekretarisnya Pak Gun emang ga jadi dibawah Pak Panji?” lanjutnya bertanya.
“Oh jadi, cuma masih cuti hamil pak. Sebulan lagi baru masuk. Bapak kenal?” tanyaku kepadanya.
“Kenal Pak, kan saya selama disini nyupirin Pak Gun. Jadi hampir ketemu Mba Mira setiap hari.” sahutnya lagi seolah pamer karena mengenal dekat Pak Gun serta sekretarisnya.
“Oh namanya Mira. Umur berapa pak?” tanyaku penasaran.
“Masih muda pokoknya Pak. Kalo tidak salah baru setahun lalu menikah, jadi itu hamil anak pertama pak.” jelasnya yg kujawab dengan anggukan.

Aku pun turun di lobby dan segera masuk Mall untuk makan siang, biasanya aku makan siang di restoran yg satu gedung dengan kantorku namun kali ini aku sedang ada janji bertemu seseorang sekalian makan siang.
“Hey, udah lama nunggu?” sapaku kedapa wanita cantik berbusana blazer dipadu dengan rok pendek diatas lutut.
“Panji apa kabar!” sahutnya bersemangat seraya bangkit dari tempat duduknya untuk bersalaman dan cipika cipiki denganku.
“Sehat ko, kamu apa kabar?” tanyaku menimpali.
“How do I look?” jawabnya malah berbalik bertanya.
“Great.” jawabku singkat.
“Ya udah pasti sehat lah, happy juga akhirnya ketemu kamu lagi nji.” sahutnya sambil tersenyum manis.
“Terakhir kita ketemu pas graduation ya?” ujarku menimpali obrolan kami.
“Ah kamu nji ngingetin lagi aja, percuma master cuma jadi karyawan bank.” keluhnya menimpaliku.
“Bank besar di Indonesia loh, Manager Area pula.” lanjutku memujinya.
“Bos perusahaan konstruksi terbesar seasia tuh baru hebat, kaya kamu!” balasnya meledeku.
“Sialan, terbesar seasia apaan sekretaris aja ga punya. Serpihan rengginang aku mah.” timpalku yg diiringi tawa kami berdua.
Kami mengobrol banyak hal siang itu terutama tentang masa-masa saat kami kuliah S2 dulu, dan membuatku kembali mengenang seseorang yg selalu berjuang untuk mendapatkan pendidikan terbaik, ia yg selalu membuat aku jatuh hati berkali-kali.

Bandung, 2006

Aku sedang berada didepan notebook mengetik laporan lab beton yg harus dikumpulkan sekitar 1 jam lagi, kesepuluh jariku seperti atlit maraton yg bergerak tanpa henti serta diiringi mataku yg melirik buku kecil hasil catatan selama di lab kemarin. Sialan gara-gara ngejar tugas tambahan mekanika tanah jadi lupa bikin laporan betonnya Pak Budi umpatku dalam hati.
Tiba-tiba handphone ku berdering panggilan masuk dari Ibuku.
“Halo iya mah.” sapaku membuka telepon sambil tetap melanjutkan laporan lab ku.
“Nji, kamu udah selesai ujian semester kan? Inget minggu ini kakakmu wisuda loh. Kamu pulang kapan? Nanti kita berangkat bareng dari Jakarta yah.” cerocos Ibuku panjang lebar yg membuatku tak fokus. Aku menghentikan sebentar laporanku sambil melepas kacamataku dan mencoba tenang untuk mencerna perintah Ibuku.
“Gimana mah? Maaf tadi ga kedengeran.” sahutku ngeles.
“Kamu tuh kebiasaan kalo orangtua ngomong ga didengerin. Kamu besok jadi pulang kan? Biar kita ke wisuda Kak Sinta bareng dari Jakarta.” pinta Ibuku menjelaskan sekali lagi.
“Oh gitu, tapi kayanya ga bisa pulang besok. Minggu ini Panji masih banyak tugas kuliah mah. Nilai panji banyak yg pas-pasan. Jadi minta tugas tambahan buat ngatrol nilai, biar beasiswa Panji ga ilang.” jawabku menjelaskan alasanku pada Ibuku tak bisa menyanggupi permintaannya.
“Masa kamu ga dateng ke wisuda kakakmu nji?” timpal Ibuku sedikit khawatir.
“Mama transfer ongkosnya aja, nanti Panji berangkat dari sini langsung ketemu di Semarang pas hari Sabtu.” tawarku sebagai win-win solution.
“Oh oke kalo gitu. Kamu ga ngajak pacarmu dong?” tanya Ibuku mengkonfirmasi.
“Nanti coba Panji ajak tapi ga janji. Udah dulu ya mah, lagi ngejar laporan nih.” ujarku pamit.
“Ya sudah hati-hati, jaga diri, jangan lupa makan dan solat. Assalamualaikum.” tutup Ibuku dengan nasehatnya yg selalu keluar setiap mengakhiri telepon.
“Wa’alaikumsalam.” jawabku yg langsung kembali fokus ke laporan.

Setelah selesai mengerjakan laporan aku langsung segera memindahkan data tersebut ke flashdisk, menutup notebookku dan berlari menuju koperasi untuk mencetaknya.
Saat menunggu hasil print-out di koperasi, aku membuka handphone ku ada satu panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk. Sepertinya tadi panggilan masuk saat aku berlari ke koperasi sehingga tak kudengar deringnya. Aku pun membuka pesan singkat tersebut.

“Sayang lagi dikelas? Tadi Mama mu nelepon nawarin sabtu ini ikut Wisuda Kak Sinta. Aku ikut bareng kamu yah! Telp balik kalo udah selesai kelas.”

Belum sempatku balas, penjaga koperasi memanggilku untuk menyerahkan hasil laporanku yg telah selesai dicetak. Akupun membayar dan segera berlari ke arah gedung kelas di lantai dua untuk masuk kelas Betonnya Pak Budi.
Akhirnya ujian tertulis tersebut selesai sekitar pukul 5 sore dan sukses membuat otak ini mendidih karena penuh dengan angka-angka fisika terapan yg cukup membuat ku keteteran. Aku berjalan kearah kantin dengan gontai karena lapar belum makan sejak pagi, maklum anak kosan biasanya sarapan dan makan siang digabung namun karena mengejar laporan lab beton tadi makan siang pun terlewat.
Aku memesan mie kocok Bandung sekalian menghangatkan badan ini ditengah guyuran hujan dan dinginnya cuaca sore ini. Saat mau menyantapnya aku dikagetkan oleh biadab satu yg entah kenapa sejak 3 tahun SMA satu kelas masih harus ditambah satu kampus lagi dengannya meski berbeda jurusan. Regas.
“Sendirian aja kek jomblo lo hahaha” sapanya meledek sambil membawa sepiring nasi goreng yg masih panas dan duduk didepanku.
“Heh, kaca noh depan wastafel gede.” sahutku menimpali ledekannya.
“Gue jomblo jelas bebas bisa ngecengin mojang-mojang Bandung. Lah elo? Bandung bisa jadi Lautan Api lagi yg ada hahaha.” tawa Regas puas penuh kemenangan.
“Heh mojang Bandung juga ogah ama jawa gila kaya lo!” sahutku tak mau kalah.
“Aku ini putra keraton, ora bakal ada yg berani nolak.” jawabnya sombong.
“Sampe sekarang jomblo bang.” timpalku lagi.
“Aku aja yg selektif nji. Koe ora ngerti!”
“Bacot! Tanah pasundan nih ga usah sok jawa lu!” sahutku.
“Kita ini sesama turunan keraton mbok ya bangga toh!” lanjut Regas.
“Bapak gue yg asli jawa aja sok-sokan batak, gimana mau nurun jiwa keratonnya ke gue hahaha.” ujarku kepada Regas.
“Hai asik banget, ngomongin apa sih.” sapa wanita cantik yg sudah hampir enam bulan belakangan ini dekat denganku dan tiba-tiba langsung duduk disebelahku sambil membawa seporsi Batagor.
“Eh ini dia mojang Bandungnya, makin gurih aja Andini kaya tahu susu lembang hahaha.” sapa Regas kepadanya.
“Sialan lo gas.” timpalnya diiringi tawa aku dan Andini.
“Kamu tadi aku telepon ko ga diangkat?” lanjut Andini bertanya kepadaku.
“Eh iya tadi lagi kelas, kan udah aku bales smsnya.” sahutku.
“Gimana tadi ujiannya? Bisa?” tanya Andini lagi kepadaku merubah pembicaraan yg kujawab dengan menaikan bahu.
“Gitu lah.”
“Terus laporan lab tanah yg aku kirim kemaren gimana? Udah kamu siapin bahan presentasinya buat besok?” lanjut Andini.
“Aman, abis ini aku kirim bahannya ke kamu.” jawabku.
“Thank you, sekelompok ama kamu tuh selalu bikin aku tenang deh nji.” sahut Andini puas setelah menyerbuku dengan segambreng pertanyaan terkait kuliah. Kelakuan Andini membuatku jadi teringat akan seseorang yg selalu semangat apabila sekelompok denganku dan disaat yg bersamaan hal itu juga membuat Regas tersedak. Aku yg paham maksud Regas langsung menendang kakinya dari bawah meja.
“Kampret.” jawab Regas meringis kesakitan.
“Kenapa gas?” tanya Andini heran melihat tingkah Regas.
“Gak apa-apa. Heran aja lo betah banget ama Panji.” sahut Regas asal yg sepertinya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Gimana dong gas, nyaman sih.” jawab Andini centil seraya meliriku yg kubalas dengan membelai rambutnya.
“Terus aja terus.” tegur Regas yg malas melihat tingkah kami dan direspon tawa oleh aku dan Andini.
“Sabtu lari ke Gasibu yuk. Olahraga sekalian nemenin gue ngecengin mojang Bandung.” lanjut Regas mengajak kami.
“Sabtu ini ga bisa mau ke Semarang, wisuda kakak gue. Minggu depan deh.” jawabku menanggapi ajakan Regas.
“Oh Sinta wisuda nyet? Lama dong lo balik?” tanya Regas.
“Ga ko cuma sehari, berangkat dari sini penerbangan sabtu pagi. Sorenya udah balik lagi pake kereta.” jawabku yg ditanggapi Regas dengan anggukan.
Setelah selesai manghabiskan makanan masing-masing kami pun bangkit dan pamit berpisah untuk pulang terutama dengan Andini yg masih ada urusan dengan UKM Paduan Suaranya. Aku dan Regas berjalan bersama kearah parkiran untuk mengambil motor kami.
“Jadi kisah Andini itu kalo diibaratkan kaya Clara versi kedua ya? Dideketin lewat temen sekelompok terus dibikin jatuh cinta.” tegur Regas sambil berjalan yg langsung ku senggol kakinya hingga terjatuh.
“Kampret.” sahutnya.
“Makannya kalo bacot jangan sembarangan hahaha.” timpalku seraya menaiki motorku.
“Duluan ya.” pamitku kepada Regas setelah menutup kepalaku dengan helm full face dan membuka kacanya.
“Kabur lagi lo!” tanggap Regas yg masih kesakitan. Aku pun meninggalkannya dan memacu motorku ke arah pusat bimbingan belajar yg tak begitu jauh dari kampus.
Ya semenjak kuliah memasuki semester dua hingga kini sudah berjalan 4 bulanan, aku kerja sampingan sebagai mentor di salah satu lembaga bimbel yg cukup terkenal di Bandung. Kupikir melanjuti bakat mengajar apalagi setelah sukses meloloskan Clara dulu di Universitas dan jurusan impiannya lebih dari cukup menjadi modal percaya diriku menjadikan kegiatan ini sebagai pemasukan uang jajan tambahanku.
“Malam Teh Ami.” sapaku kepada Manager tempat bimbel ini.
“Eh panji, masuk. Ada apa? Bukannya hari ini kamu ga ada jadwal ngajar.” sahut Teh Ami kepadaku.
“Gini Teh, sabtu ini saya ada acara keluarga. Wisuda kakak saya. Jadi mau ijin, boleh kan?” ujarku meminta ijin kepadanya.
“Atuh kamu mah mendadak banget. Teteh mesti cari pengganti kamu dulu.” jawabnya sedikit bingung.
“Maaf teh, baru dikasih tau Mama siang ini.” tanggapku berharap mendapat ijin darinya.
Saat Teh Ami mencoba menghubungi mentor yg lain, pintu diketuk dan ia pun mempersilahkan masuk.
“Teh, Kang Helmi info katanya sakit jadi ga bisa ngajar. Ini anak-anaknya udah pada dateng semua.” ujar Tia salah satu staf admin disini.
“Ah kebetulan atuh, kamu malam ini ada acara ga Panji?” tembak Teh Ami kepadaku.
“Ga ada teh.” jawabku singkat.
“Ya udah sekarang kamu gantiin Helmi, nanti sabtu giliran Helmi yg gantiin kamu.” jelas Teh Ami memberikan solusi.
“Siap!” jawabku mantap dan segera pamit meninggalkan ruangannya untuk langsung mengajar.

Keesokan harinya setelah selesai mengikuti ujian dan menyerahkan tugas lab tanah bersama Andini sekitar jam 5 sore, kami pun berjalan ke kantin dengan bernafas lega karena akhirnya ujian semester dan tugas-tugas tambahan untuk minggu ini telah selesai.
“Akhirnya selesaaaai!!” ujar Andini sambil menaikan tangannya seperti orang meneriakan merdeka.
“Aku minggu depan masih ada Matematika Teknik.” keluhku.
“Kebanyakan ngambil sks sih kamu sukurin!” ledek Andini kepadaku yg hanya kujawab dengan mencubit hidungnya.
“Aduh, sakit ih.” keluhnya yg kuabaikan.
Setibanya di kantin, aku memesan Soto Bandung sedangkan Andini seperti biasa hanya memesan makanan yg minim karbohidrat Somay.
Saat menyantap Soto panas, uapnya langsung mengembun penuh di kacamataku. Fak gumamku dalam hati namun tak lama Andini mengambil kacamataku seraya mengelapnya dan mengembalikannya lagi ketempat semula.
“Thanks.” ujarku singkat yg ia jawab dengan senyuman.
“Jangan berduaan mulu, orang ketiganya nanti setan.” tegur Regas yg tiba-tiba muncul dihadapan kami membawa seporsi Mie Kocok Bandung dan duduk didepanku.
“Elo dong setannya sekarang?” ledek ku menanggapi nasehat Regas.
“Kampret.” jawabnya sambil melempar tisu kearahku yg diiringi tawa aku dan Andini.
“Kalian tuh ya berantem mulu kalo ketemu.” sahut Andini mengomentari aku dan Regas.
“Mau ngejauhin sih. Tp kasian kalo ga ditemenin, nanti doi ga punya temen.” jawabku menimpali Andini yg dijawab Regas dengan sombong.
“Buset, seantero kampus ini siapa yg ga kenal Regas anak Teknik Kimia.”
“Eh kalo ga kenal Panji, gue ga kenal elo loh gas.” jawab Andini menanggapi serius omongan Regas.
“Ah elo din, g bisa banget diajak kompromi.” ujar Regas mengeluh.
“Sukurin!” timpalku yg disertai tawaku dan Andini.
“Nyet, gue perhatiin ko itu cewe kaya Clara yah?” ujar Regas dengan gaya belaga bengong yg tak kutanggapi karena paling ia hanya sedang mengerjaiku.
“Basi lo!” jawabku singkat.
“Ya udah kalo ga percaya.” sahutnya sambil melempar senyum kearah belakangku namun tak kutanggapi.
“Hai non! makin cantik aja, apa kabar?” ujar Regas.
“Baik gas, apa kabar juga?” sahut suara seorang wanita yg sangat ku kenal, yg membuatku langsung membalikan badanku dan menatap keatas kearah wajahnya yg tepat berdiri dibelakangku. Aku pun langsung bangkit dari duduk untuk menyambutnya, menyambut seorang wanita yg sangat aku cintai.
“Halo sayang.” sapa Clara.
“Hey. Kamu ko ga bilang udah sampe ra.” sahutku yg masih takjub atas kehadirannya.
“Anggap aja surprise.” jawabnya centil yg langsung kutarik tubuhnya untuk kupeluk.
“Kangen.” ujarku singkat.
“Banget bo.” jawabnya dan kamipun melepas lagi pelukan ini mengingat masih di kampus.

Ilustrasi Clara

Clara pun lanjut bersalaman dengan Regas setelah pembicaraannya tadi sempat terpotong oleh keberadaanku.
Saat Clara menoleh ke arah Andini, keduanya saling melempar senyum.
“Oh iya ra kenalin, Andini temen aku. Andini kenalin ini Clara. Pacar aku.” ujarku memperkenalkan mereka berdua.
“Clara.” ujar Clara ramah yg disambut oleh Andini.
“Andini. Pantes Panji betah jadi jomblo di Bandung, yg nungguin di Jakarta secantik ini toh.” sahut Andini memuji Clara sambil tersenyum.
“Masa sih? Emang disini Panji ga ganjen ya? Dulu waktu masih satu sekolah aja bisa ganjen apalagi sekarang jauh.” timpal Clara sambil melirik kearahku penuh curiga.
“Udah ah malah jadi gosip. Mau makan ga kamu?” tawarku kepada Clara yg dijawabnya dengan menggelengkan kepala.
Kami berdua pun akhirnya duduk bersama lagi di kantin yg membuat ku merasa seperti saat SMA, hanya saja minus Helen dan Angga.
“Naik apa kamu sayang kesini?” ujarku bertanya kepada Clara.
“Taksi.” jawab Clara singkat.
“Dari jakarta?” lanjut Regas bengong.
“Ya dari bandara lah gas! Masa iya dari jakarta, tekor.” sahut Clara.
“Anjir ke Bandung doang naik pesawat.” timpal Regas yg ku respon dengan tawa.
“Gue tadi jam 1 siang masih ada praktikum anatomi, jadi jam setengah 3 baru bisa kabur dari kampus. Kalo naek mobil atau kereta nyampenya kemaleman.” jelas Clara menanggapi pertanyaan Regas.
“Kan ada tol baru.” ujar Andini ikut nimbrung obrolan.
“Masih baru ah din, belom berani sendirian.” jawab Clara dengan wajah takutnya.
Ya saat itu Tol Cipularang baru beberapa bulan diresmikan dan beroperasi, dan banyak cerita-cerita horor yg beredar di masyarakat karena pembangunannya yg menyimpan banyak misteri. Siapa sangka sekarang jalan tersebut malah menjadi penopang utama mobilitas Jakarta-Bandung yg membuatnya menjadi salah satu tol tersibuk di pulau Jawa. Tapi akhirnya tol tersebut juga yg membantu hubungan LDR ku dengan Clara tak terasa lagi berat seperti tahun-tahun awal. Nanti akan kuceritakan lebih lanjut.

Setelah selesai makan di kantin kami pun berpisah, Andini pulang sedangkan Regas masih ada kelas pengganti. Aku dan Clara berjalan menuju parkiran untuk mengambil motorku.
“Tas kamu kemana? Ko tumben biasanya bawaan kamu banyak ra.” tanyaku heran saat menyadari Clara hanya membawa tas tangan.
“Di hotel lah sayang, tadi cek in dulu naro tas masa mau bawa koper kesini.” jelasnya.
“Kamu ko bisa tau sih aku di kantin.” tanyaku heran mengingat kampus ini cukup luas.
“Aku tadinya emang mau nunggu kamu di kantin, baru abis itu ngabarin minta kamu nyamperin aku. Eh malah langsung ketemu, lagi ama cewe cantik pula.” sahutnya dengan wajah penuh curiga.
“Aku bertiga loh ama Regas.” ujarku membela diri.
“Eh salam dari Helen.” lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya, apa kabar dia? Kamu masih sering kumpul ama Helen?” tanyaku menanggapi.
“Ya lumayan tapi ga sesering dulu juga, kan beda jurusan bo.” jawabnya menjelaskan.
Sesampainya di parkiran aku pun menanyakan tujuan kami selanjutnya.
“Jadi mau kemana kita sekarang tuan putri?” tanyaku dengan wajah antusias.
“Ajak pacar kamu keliling Bandung dong.” pintanya manja.
“Dago yuk.” ajaku yg langsung menaiki motor ku dan disusul Clara dibelakang seraya memeluk tubuhku.
“Udah lama ga naik motor centil mu bo.” sahut Clara yg menyebut motorku dengan sebutan motor centil karena posisi duduknya membuat penumpang harus memeluk badan pengemudinya.
“Terakhir pas lulusan SMA yah?” jawabku mengenang kembali kejadian setahun lalu yg dijawab Clara dengan mengangguk.
“Ayo keliling Bandung!” ujarnya semangat begitu posisi kami sudah siap untuk jalan dan langsung kupacu motor ini kearah utara menuju Dago.
Semenjak kuliah memang ini pertama kalinya Clara mengunjungiku ke Bandung seorang diri, ia pernah ikut waktu awal aku pindah ke Bandung bersama orangtuaku tapi hanya untuk sebentar tidak sempat jalan-jalan.
Setelah itu setiap liburan semester, libur lebaran atau libur natal dan akhir tahun selalu aku yg kembali ke Jakarta. Jadi ini pertama kalinya kami ngedate di Bandung.

Aku mengajak Clara ke salah satu restoran di Dago Pakar dengan konsep Sky Dinning nya. Memandangi kelap-kelip kota Bandung dari puncak Dago yg dingin ditemani oleh wanita yg sudah hampir dua tahun ini menjalin hubungan cinta denganku, malam ini aku merasa pintu surga sedang terbuka lebar didepan mataku.
“Pantes banyak yg bilang Bandung itu romantis.” ujar Clara yg takjub melihat melihat pemandangan disamping meja kami.
“Buat aku sih kemaren Bandung biasa aja, baru hari ini aja berasa romantisnya. Itu juga karena ada kamu.” sahutku gombal kepada Clara yg membuatnya tersipu malu salah tingkah sambil melempar tisu kearahku.
“Gombal!” balasnya seraya tersenyum manis kearahku. Clara yg selalu terlihat cantik malam ini semakin membuat hatiku luluh, dengan gaya rambut dikuncir kuda, kemeja tanpa lengan berwarna abu dipadu cardigan hitam dan celana 7/8 favoritnya.
“Jadi siapa aja yg udah pernah kamu aja kesini bo?” lanjut Clara memecah lamunan ku.
“Ngajak siapa sih raaa.” ujarku membela diri.
“Andini cantik, masa sih cuma temen?” ledeknya yg masih penuh dengan rasa curiga.
“Mulai deh. Aku ama dia tadi abis kelas bareng ra, kita presentasiin kerja kelompok buat laporan ujian.” jelasku berharap Clara tidak memperpanjang obrolan ini.
“Oh temen sekelompok? Wow, aku dulu waktu SMA jatuh cinta juga gara-gara sekelompok ama pacarku loh!” jawabnya yg tak kujawab melainkan hanya memandang wajah Clara karena tak suka dengan bahasannya. Ia yg sadar akan perubahan wajahku pun akhirnya menyerah melanjuti tuduhannya.
“Maaf bo. Abis aku takut. Takut kamu ngelakuin hal yg sama kaya yg pernah aku lakuin ke kamu.” jawabnya sambil menundukan pandangannya dariku.

Waktu itu masih awal kuliah dimana kami baru menjalani hubungan LDR selama 3 bulan, seperti pasangan yg baru berpisah pada umumnya kami sering bertengkar hanya karena sulitnya komunikasi mulai dari perbedaan jadwal kuliah, perbedaan bahasan dan terbatasnya waktu untuk mengobrol. Hingga suatu hari Clara mendadak berubah, ia mulai jarang menghubungiku. Setiap ku telepon sudah tak lagi antusias bahkan untuk bertengkar pun seakan sudah tak ada gairah, ia lebih banyak mengakhiri telepon dengan sesegera mungkin. Aku yg merasa ingin memperbaiki hubungan ini memutuskan kembali ke Jakarta saat selesai UTS Semester 1. Dari Bandung aku langsung menuju Jakarta ke kampus Clara didearah Salemba tanpa mengabarinya dengan maksud memberinya surprise sambil membawa sekotak cheese cake dari Bandung kesukaannya.
Saat mengelilingi kampusnya aku malah bertemu Helen dan menanyakan dimana Clara namun saat itu ia seolah melarang ku untuk bertemu dengan Clara.
“Mending lo ga nemuin dia dulu deh nji.” ujar Helen.
“Kenapa sih? Ko lo aneh deh, gue jadi curiga.” jawabku menanggapi permintaan Helen.
“Gue ga mau ikut campur, biar Clara sendiri deh yg cerita. Cuma kalo sekarang waktunya ga pas.” lanjut Helen masih dengan pendiriannya.
“Gini deh len, gue siap kalopun Clara disini udah punya cowo lagi. Tapi gue mau ketemu, minimal dia harus mutusin gue. Udah itu aja.” jawabku kesal.
Akhirnya Helen menyerah dan mengantarkan ku ke fakultas Clara namun belum sampai, aku melihat Clara sedang mengobrol dengan seorang pria di sebuah meja dekat kantin. Mereka terlihat akrab, bahkan sepertinya lebih dari itu ketika pria yg tak ku kenal itu membelai rambut Clara. Sekujur tubuhku panas meski tidak demam, namun tetap coba kuatur nafasku untuk bertindak logis. Aku menarik tangan Helen untuk memberitahu aku sudah menemukan Clara.
Aku pun meninggalkan Helen yg terlihat cemas melihatku menghampiri Clara yg sedang asik mengobrol sambil belajar dengan pria asing yg tak ku kenal itu.
“Hey. Apa kabar ra?” sapaku yg sepertinya cukup mengagetkan Clara.
“Panji. Ngapain kamu disini?” tanya Clara yg masih takjub melihat keberadaanku didepannya.
Aku pun menduduki bangku disamping pria yg sedari tadi masih heran akan kedatanganku.
“Kenapa mas, mau kenalan? Panji.” sapaku kepadanya seraya mengulurkan tanganku yg cukup lama membuatnya terdiam namun akhirnya disambutnya juga dengan membalas uluran tanganku.
“Aditya.” balasnya singkat yg kubalas dengan senyum memaksa sesaat dan kembali memasang wajah datar.
“Ikut aku nji.” ujar Clara bermaksud bangkit namun kucegah.
“Ga usah ra disini aja. Ga lama ko.” jawabku seraya membuka isi tasku mengeluarkan Kotak Cheese Cake yg kusiapkan untuk Clara dan buku Mekanika Teknik.
“Buku ini udah ga bisa ngebantu aku untuk memahami kuliah anatomi atau kardiovaskuler kamu. Apalagi ngajarin itu ke kamu.” ucapku seraya mengambil dua buah buku besar yg berada di depan Adit.
“Tapi kalo emang itu cara kamu memilih ku dulu seperti kamu memilih dia sekarang.” lanjutku seraya menunjuk Adit
“Aku ga pernah nyesel buat kamu lolos di kampus ini dan memilih Bandung untuk diriku sendiri yg memisahkan kita.” tambahku dengan nada yg mulai sedikit tinggi.
“Sekarang tolong putusin aku, kayanya itu jalan terbaik buat kamu.” pintaku kepada Clara dengan tatapan tajam. Cukup lama Clara terdiam dan memandang wajahku yg juga penuh amarah.
“Kita putus.” jawabnya singkat.
Setelah mendengar dan mencerna kalimat yg diucapkan Clara dengan sempurna, aku pun bangkit tanpa mengucapkan pamit dan pergi meninggalkan Clara tanpa menoleh.
Hari itu aku baru tahu kalo parasetamol tak mampu menekan rasa sakit karena patah hati.

Setelah mengingat kembali saat itu aku hanya mampu tersenyum dan menerima kenyataan yg cukup getir itu namun sekarang yg penting Clara sudah kembali menjadi milik ku.
“Kamu ko malah ngebahas itu lagi.” sahutku seraya memotong cheese cake didepannya dan menyuapi kearahnya. Clara tersenyum dan membuka mulutnya untuk menyambut suapan ku.
“Kita udah sepakat kan buat memulai semuanya dari awal dengan saling percaya. So, enjoy our night.” lanjutku sambil mengangkat gelas berisi coktail untuk mengajak Clara bersulang.
“Pleasure.” jawabnya sambil tersenyum manis sambil menghapus linangan air matanya.
Malam itu kami mengobrol banyak hal setelah hampir sekitar dua bulan lamanya tidak bertemu. Tentang kegiatan kami saat jauh, tentang kampus termasuk keluhan Clara akan susahnya memahami semua mata kuliah maupun praktikum dan tugas-tugasnya yg tidak lagi bisa meminta bantuan diriku serta hal-hal lain yg biasanya kami lakukan berdua semasa SMA namun tak lagi bisa diulang. Bahkan kami memilih meninggalkan cafe setelah Clara ku pakaikan jaketku dan melanjutkan obrolan sambil berjalan kaki di perbukitan Dago Pakar Resort yg merupakan komplek Villa diatas lembah dimana dibawahnya mengalir sungai membuat pemandangan malam itu cukup merekam rasa rindu kami berdua tanpa diketahui siapapun.
“Bo.” ucap Clara lirih saat aku peluk dirinya dari belakang.
“Hmm.” jawabku berbisik.
“Aku ga mau ada lagi yg ketiga kalinya. Aku mau jadi sosok yg selalu ada buat kamu meski jauh. Aku mau kamu selalu ingat tentang aku yg selalu menunggu kamu pulang ke Jakarta. Aku mau jadi Bandung buat kamu bo. Tempat kamu menjalani hari-hari ketika jauh dari aku. Aku juga mau jadi Jakarta, tempat kamu selalu kembali.” ujar Clara panjang lebar seraya melepaskan pelukan ini dan berbalik untuk berhadapan dengan ku.
“Take my whole life bo, I’m yours tonight and ever after.” lanjut Clara seraya menarik kacamataku yg semenjak masuk kuliah menggantung dihidungku. Wajah Clara mendekat tak menyisakan jarak antara hidung kami yg bersentuhan seraya tangannya melingkar dileherku.
“Aku sayang banget sama kamu bo.” ucap Clara lirih yg langsung kujawab.
“Aku juga sayang banget sama kamu ra.” seraya mulai mendekatkan bibir kami untuk saling memagut. Kami pun berciuman diatas tanah hijau yg berembun, dibawah gelapnya langit mendung malam itu, didalam sunyinya aliran air sungai serta kelap-kelip kota Bandung dikejauhan. Malam itu kami seperti baru jatuh cinta lagi.

Sepanjang perjalan pulang menuju Hotel di daerah Cihampelas, Clara memeluk tubuhku erat seraya menjatuhkan kepalanya menempel dibahu kananku.
Malam itu tak ada lagi lisan yg terucap dari mulut kami melainkan hanya bahasa tubuh yg saling menyetuh dan saling menggemgam erat untuk tak lagi mau saling melepas.
Lampu-lampu jalanan kota hingga memasuki lobby hotel yg elegan seakan mengiringi langkah kami untuk memasuki bangunan megah tersebut, menaiki lift lalu melewati koridor dengan cahaya sendu di kanan kiri mengantar kami untuk menutup pintu kamar ini dan masuk ditengah kegelapan. Cukuplah saraf ujung jemari ini yg menjadi penglihatan kami untuk menyelami cinta malam itu.
Bibir ini menumpahkan semua rasa rindunya dalam sentuhan basah yg saling merekat, nafas ini tidak mampu mengatur ritmenya untuk mengimbangi antara saraf motorik dan dorongan imajinasi seksual, serta jemari yg terus menjelajah dalam balutan lapisan lembut epidermis mencari hangatnya hemoglobin.
Kacamataku kembali dilepasnya, satu persatu kancing kain yg menutupi tubuh Clara ku lepas. Aku mendekati pemiliknya, meminta ijin melalui sebuah bahasa tubuh dengan mengecup organ jenjang diantara kepala dan badannya dengan lembut lalu mulai menuri bagian sensitifnya, yg selama dua tahun ini bahkan tak pernah ada dalam proyeksi otaku.
Kain rajutan tebal ditubuhku ditariknya melewati kepala dan kedua tanganku. Clara menjatuhkan tubuhnya dipelukanku yg tanpa busana dan berbisik untuk mengijinkannku melakukan hal yg selama ini ditembok oleh dirinya.
Aku melepas ikat rambutnya seraya memandang cantik wajahnya, aku membiarkan diriku dikuasai dopamin untuk menghilangkan akal sehatku dan membiarkan cinta mendominasi bawah sadarku.
“Ra..” ujarku lirih yg dijawabnya dengan anggukan dan memajukan tubuhnya untuk semakin mendekat dengan tubuhku.
Bibir kami kembali bertemu saling memagut liar, seraya memainkan lidah ini untuk saling bersentuhan dan bergesekan. Tanganku mulai menyetuh bahunya yg hanya ditutupi tanktop model kemben tanpa tali untuk naik menjamah leher jenjangnya dan turun kedua bongkah buah dadanya yg sempat membuat Clara terperanjat kaget.
“Please do it gently bo.” ujarnya lirih yg kubalas dengan kembali mengecup bibirnya dan saling berpagutan mesra.
“Mmmhhh.” desahnya lembut saat jemariku mulai kembali merengkuh buah dadanya perlahan. Sesekali ujung jari ini membelai bagian atas dadanya yg menyembul karena tak tertampung ukuran bhnya.
Ciumanku mulai turun dari bibir ke dagunya terus ke leher jenjangnya dengan kecupan dan gigitan pelan serta bermain ke arah bawah telinganya yg membuat Clara menggelinjang geli.
Lidahku terus membasahi setiap centi lehernya sambil tangan ini mulai memainkan buah dada Clara yg membuat tubuhnya bergetar merasakan rangsangan yg diterima setiap saraf tubuhnya.
Wajahku kembali menuruni lehernya menuju dua bongkah buah dadanya dan menciuminya lembut sambil sesekali membasahinya dengan sapuan lidah dan menggigitnya yg dibalas Clara dengan mengacak-ngacak rambutku karena rasa geli, linu dan nikmat yg diterima oleh tubuhnya.
Tanganku pindah kebagian belakang untuk menarik tubuh Clara semakin mendekat hingga tak menyisakan jarak antara wajahku dengan dadanya yg kugunakan untuk menggigit tanktop kemben miliknya kebawah hingga membuat dua bongkah buah dada Clara terlepas dan mengantung indah diatas tubuhnya.
Bulat ranum kenyal dan sekal, buah dada yg masih belum ada satupun pria beruntung untuk menjamahnya kini menjadi miliku seutuhnya. Aku mulai mendekatkan bibir ini dengan permukaan lembut kulit buah dadanya. Kukecup lembut perlahan setiap lekuk buah dadanya, menghirupnya dalam dan mengigitnya sesekali. Lidahku berputar membasahi bulatan buah dadanya hingga aerola merah muda dan menanjaki putingnya yg mancung seraya mengulumnya lembut yg membuat tubuh Clara bergetar.
“Ummhhh bo.” desahnya seksi yg membuatku semangat melakukan hal yang sama di buah dada satunya lagi.
Ciuman ini beralih kembali ke bibirnya, tangan ini tak berhenti meremas lembut kedua bongkah dada Clara yg membuatnya semakin seksi karena desahannya disela ciuman kami.
“Shhh bo mmmpphhh.”
Aku merebahkan tubuh Clara, dan naik keatasnya seraya menciuminya mulai dari kening hidung bibir dagu hingga kembali melumat buah dadanya bergantian kiri dan kanan yg membuat Clara kembali mengacak-ngacak rambutku karena tak tahan akan rangsangan yg kuberikan.
Ciumanku kembali berlanjut untuk menuruni perutnya dan menuju tingkat kenikmatan selanjutnya yg membuat Clara semakin mendesah lirih.
“Uhhh geli sayang shhh.”
Sesampainya dibagian atas celananya tanganku membuka kancing serta membuka seletingnya yg kemudian aku tarik hingga terlepas. Wajah ini kubenamkan di selangkan Clara dan menciuminya meski masih terhalang kain tipis dari celana dalamnya.
Namun hal tersebut tidak membuat rangsangan ini menurun ditubuh Clara, badanya justru semakin bergetar dan menggelinjang kekanan dan kekiri serta mulai basahnya celana dalam yg kuciumi karena cairan yg keluar dari vagina Clara.
“Hmm enak booo uhhhhh.” rintihan seksi Clara yg sedikit berteriak menghipnotis diriku untuk langsung mengigit celana dalamnya dan menariknya hingga terlepas dari ujung kaki Clara.
Tanpa menyisakan nafas, wajah ini kembali ku benamkan diselangkan Clara yg kali ini tanpa dipisahkan sehelai benangpun. Bibir vaginanya yg mulus tanpa sehelai bulu namun menyisakan bintik sisa cukuran membuat ku bernafsu untuk melumat habis vagina Clara yg diresponnya dengan menggelinjang hebat dan berteriak.
“Aakhhh gila kamu bo uhhhh.” rintih Clara yg menggigit bibirnya setelah berteriak.
Rambutku ditariknya seolah memerintahkan ku untuk berhenti menciumi vaginanya dan Clara pun bangkit untuk menyerang bibirku habis-habisan. Kini posisi kami berbalik, Clara yg sudah tak berbusana berada diatas tubuhku yg masih menyisakan celana panjang cinno.
Tangan Clara mulai bergerak kearah sabuk celana ku untuk kemudian ditarik dan dilepasnya dengan tanpa melepaskan bibir ini dari ciuman kami.
Celanaku beserta celana dalam yg ditariknya hingga terlepas membuat batang kontolku langsung tegak berdiri.
“Ini kamu mau aku emut sayang?” tanya Clara dengan wajah seksinya ditengah terpaan cahaya yg menyelinap masuk dari jendela hotel sambil tangannya mengelus batang kontolku naik turun yg kujawab dengan anggukan.
Clara pun turun untuk melayani kebutuhan seksualku atas dirinya yg sudah selama dua tahun ini tak pernah dipenuhi olehnya.
Mulut kecilnya mulai menciumi kepala kontol ini disertai jilatan lidahnya sesekali yg membuat rasa linu serta geli memenuhi ujung kontolku sebelum akhirnya semua batang kontol ini masuk memenuhi mulut Clara meski hanya 3/4 nya.
“Aaaakhhhh raaa.” desahku menerima rangsangan nikmatnya.
Sambil memaju mundurkan mulutnya tangan Clara ikut mengurut batang kontolku membuat sensasi blow job ini terasa nikmat mulai dari geli, linu dan basah. Ditengah kenikmatan ini Clara melepas kulumannya dan bangkit untuk memeluk ku yg kusambut dengan memeluknya.
“Enak banget kuluman kamu sayang.” pujiku berbisik kepadanya
“Maaf sayang ga kuat lama-lama.” jawabnya meminta maaf karena sudah tak mampu lagi melanjuti aktifitas kuluman di kontolku yg kujawab dengan anggukan dan mengecup bibirnya.
Clara menarik tubuhku untuk menindih tubuhnya seraya membisiki sesuatu yg membuatku semakin jatuh hati padanya.
“Take your part bo.” pinta Clara yg langsung kujawab dengan anggukan.
Ku angkat sedikit posisi selangkangan Clara dan menposisikan batang kontolku yg sudah tegak di belahan vaginya yg sudah basah. Aku mulai menggesekan kepala kontol ini dengan belahan vagina Clara yg membuatnya terus mendesah dan merintih nikmat.
“Tahan ya sayang.” pintaku berbisik kepada Clara disertai dorongan pinggul ini untuk menekan kontolku memasuki vagina Clara yg diresponnya dengan sedikit berterikan dan menutup mulutnya.
“Aakh!” sahutnya yg membuatku menghentikan aktifitas ini sejenak.
“Sakit sayang?” tanyaku lirih yg ia jawab dengan anggukan.
Aku mendekatkan wajahku untuk mencium keningnya dan turun untuk mengulum dan memagut lembut bibirnya. Saat kembali asik berciuman, Clara justru mulai menggoyangkan pinggulnya untuk ditekan kearah kontolku yg masih belum ku balas khawatir akan membuatnya kembali kesakitan. Perlahan tapi pasti, cairan vagina Clara membuat dindingnya semakin licin dan kontolku mulai amblas masuk sedikit demi sedikit.
Hingga ketika semua batang kontol ini memenuhi lubang vagina Clara membuatnya merintih hebat.
“Uhhh panjang banget kontol kamu sayang, penuh vagina aku uhhhh. Perih booo.” desah Clara yg meringis sakit bercampur nikmat.
Aku terus menciumi bibirnya sambil sesekali menggoyangkan pinggul ini untuk membuat kontolku beradaptasi dengan vagina sempitnya Clara yg pertama kalinya dimasuki alat kelamin pria, dan itu adalah kontol miliku.
Saat mulai sedikit lebih lancar meski tetap terjepit oleh sempitnya dinding vagina Clara, aku mulai terus menaikan tempo genjotan ku tanpa melepas ciuman bibir kami.
“Enak bangett sayang hmmm.” lenguh Clara yg sepertinya mulai terbiasa menerima hujaman kontolku didalam vaginanya yg membuatku semakin bersemangat untuk terus menaikan tempo genjotanku.
“Nikmatin sayang uhhhh.” desahku membalas rintihan Clara.
“Shhhh ngilu bangett penuh banget vagina aku ama kontol kamuu boo oohhh.” sahut Clara yg mulai terhipnotis menikmati persetubuhan kami.
Aku sedikit bangkit untuk menarik tubuh Clara naik keatasku, dalam posisi tetap kontolku didalam vaginanya Clara kembali mulai menggerakan pinggulnya perlahan yg membuatku kembali mendesah.
Buah dada Clara yg mengantung segera ku kecup dan kulum membuat ia semakin menggelinjang nikmat.
“Teruuss sayang hmmm enakkk.” desah Clara yg membuatku semakin bernafsu.
“Uh bo ngilu bo mau pipis aku uhhhh.” desis Clara merintih panik yg mungkin tidak tahu akan segera dilanda orgasme.
Aku semakin memperceat hujaman pinggulku mengiringi goyangan pinggul Clara yg semakin dalam dan menjepit kontolku.
“Aaaakhhhhh boooo.” rintih Clara berteriak menggelinjang seraya menekan dalam vaginanya ke kontolku.
“Enak sayang?” tanyaku seraya bangkit untuk mengecup bibirnya lembut yg ia jawab dengan anggukan dan nafas yg memburu.
“Barusan aku kenapa bo? Ko enak banget sih.” tanya Clara sambil masih terengah-engah nafasnya.
“Kamu orgasme sayang.” jawabku.
Clara bangkit untuk melepas kontolku dari jepitan vaginya seraya merintih.
“Sshhh sakit lagi sayang, ngeganjel.” ujarnya polos dan saat melihat bercak darah di vaginanya, Clara terdiam cukup lama dan matanya mulai berkaca-kaca.
Aku segera mengenggam erat wajahnya dan mengahdapkannya kearahku, Clara tersenyum sambil meneteskan air matanya. Aku langsung merengkuh kepalanya dan memeluknya erat.
“Aku ga nyesel ko bo ngasih ini ke kamu karena aku sayang banget sama kamu. Aku sadar ngelakuinnya dan aku seneng. Tapi aku nangis karena aku semakin takut kehilangan kamu.” lanjutnya terbata-bata seraya mencengkram tangan dan pelukan ku semakin erat.
“Jangan tinggalin aku booo.” ujarnya seraya menangis kejar sejadi-jadinya dipelukanku.
“Menangislah sepuas kamu ra. Aku ga akan kemana-kemana sampe kamu bilang berhenti.” jawabku sambil memeluk tubuhnya erat.
“Jangan pernah lagi kamu berani biarin aku ngusir kamu dari hidupku bo aku ga bisa. Tolong ingetin aku, kalo aku lagi bodoh!” rengek Clara yg masih menangis terisak-isak.
“Iya ra.” jawabku singkat.

Langit Bandung yg hujan deras malam itu seakan menemani perasaan sendu kami akan cinta, keinginan memiliki selamanya dan takut kehilangan.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 15 | Ketika Kita Muda Part 15 – END

(Ketika Kita Muda Part 14)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 16)