Ketika Kita Muda Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 14

Start Ketika Kita Muda Part 14 | Ketika Kita Muda Part 14 Start

Vacation

Rabu pagi jam 5.30, kami semua sudah berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk berangkat berlibur ke Belitung sesuai rencana karena mengambil penerbangan pagi sekitar jam 6 lewat 15.
Angga sengaja mengatur perjalanan dari pagi mengingat kami disana hanya 3 hari agar bisa memaksimalkan jadwal itenerary yg sudah disiapkan oleh Travel.
Kami pun cek in, Clara dan Helen yg saat itu membawa barang cukup banyak harus mengantri bagasi dulu. Meski satu koper gedenya sudah masuk bagasi, Clara masih membawa tas ukuran besar serta tas kecil untuk dibawa ke kabin. Aku juga bingung kenapa bawaannya sebanyak itu padahal kita hanya 3 hari di Belitung. Dasar wanita.
Aku berjalan menghampirinya dan mengambil tas besarnya untuk kubawakan meski tanpa menegurnya atau menawarkan bantuan dengan sepatah katapun lalu lanjut berjalan kearah ruang tunggu boarding beriringan dengan Regas.
“Basi lo! Sok ga peduli, liat Clara repot dikit belaga PK!” ledek Regas kepadaku yg maksudnya adalah Pahlawan Kesiangan disingkat.
“Bacot!” timpalku singkat kepadanya.
Di kabin pesawat Angga Helen dan Clara duduk sebaris sedangkan Aku dan Regas terpisah dengan posisi kami yg bersebrangan. Aku pun menaruh tas Clara di bagasi atas tempatnya dengan Angga dan Helen. Saat selesai dan menutup bagasi, pramugari cantik disebelahku terlihat kesulitan mengangkat tas seorang Bapak paruh baya yg cukup besar. Mungkin karena tubuh Bapak tersebut pendek, sehingga pramugari tersebut mencoba membantunya.
Aku pun membantu pramugari itu untuk menaruh koper Bapak tersebut yg cukup besar di bagasi atas. Sebenarnya berat maksimum di kabin setahuku adalah 7 kg dan seharusnya semua pramugari sudah terbiasa mengangkat tas dengan berat itu namun sepertinya tangan ia sedang sakit sehingga tidak bisa bekerja seperti biasa.
“Makasih ya mas.” ujarnya ramah.
“Saya masih SMA kali, mba Rani.” sahutku membalas setelah sesaat melihat namanya di name tagnya yg menggantung di dada kirinya.
“Oh iya maaf, selamat menikmati perjalanannya.” tutupnya bermaksud pamit dan kembali bekerja.
“Happy working kalo gitu untuk mba Rani yg cantik.” sahut ku sedikit menggodanya yg dibalasnya hanya dengan tersenyum cantik.
“Si kampret mulai dah tebar pesona.” tegur Angga kepadaku.
“Bacot.” sungutku menanggapinya.
Aku pun kembali duduk disebelah Regas.
“Nyet nyet. Maen lo ga alus, dari kemaren centil lo keliatan banget cuma mau manasin Clara. Basi lo!” tanggap Regas atas kelakuanku.
“Bodo.” jawabku sambil mengambil headset dan memasangnya di kedua telingaku.
Pesawat pun lepas landas dan mendatat di Bandara Hananjoeddin berkode TJQ atau Tanjung Pandan, Belitung dengan selamat setelah terbang di awan selama 45 menit dari Jakarta.

Disana kami disambut tour guide yg sudah disediakan travel, namanya Bang Iwan dan ia pun segera mempersilahkan kami masuk ke mobil minibusnya seraya memasukan semua tas-tas kami ke bagasi belakang yg dibantu oleh aku Regas dan Angga.
“Oke jadwal hari ini kita langsung ke arah Timur pulau Belitung mengunjungi Kota Manggar yah.” ujar Bang Iwan penuh semangat.
“Sarapan dulu bang, laper.” ujarku yg kebetulan mengambil posisi duduk didepan sebelah Bang Iwan, ditengah Angga Helen dan Clara serta Regas terpencil di bangku paling belakang.
“Mau makan apa?” tanya Bang Iwan menjawab permintaanku.
“Fast Food ada apaan aja disini?” sahut Clara ikut dalam obrolan kami.
“Apaan sih lo ra, jauh-jauh ke Belitung nyari Fast Food.” tanggapku ketus kepada Clara.
“Makanan khas sini aja bang yg enak.” lanjutku meminta saran dari Bang Iwan yg kuperhatikan wajah Clara cemberut atas bentakanku tadi namun tak kuhiraukan.
“Disini pagi-pagi enak makan Mie Atep. Mie khas Belitung, berkuah panas bisa pedes juga. Apalagi yg suka seafood soalnya pake udang ama cumi.” tawar Bang Iwan sambil tetap fokus menyerir.
“Sip! Kita kesana!” jawabku singkat memutuskan perjalan awal kami pagi itu.
Angga sempat menyindirku karena kemarin tidak mau ikut campur sama sekali terkait acara, sedangkan hari ini seolah menjadi pengatur kegiatan kami yg kutanggapi dengan singkat.
“Bodo amat.”
Kami pun pagi itu menyantap Mie Atep yg sampe sekarang buatku adalah makanan paling juara di Belitung. Apalagi dipadu dengan es jeruk kunci melengkapi kesempurnaan kuliner khas Belitung.
“Enak banget sumpah.” ujar Helen meskipun tidak menghabiskan porsi mie miliknya. Ya Clara dan Helen itu tipe cewe yg kalo makan mungkin hanya 1/4 porsi. Biasanya Angga yg akan menghabiskan sisa makanan Helen.
Kuperhatikan Clara sejak kubentak tadi mukanya cemberut, dan tentu melihatnya begitu membuat suasana liburan ini menjadi kurang asik. Saat Clara berjalan ke arah wastafel, aku pun segera menyusulnya.
“Kalo keberadaanku disini bikin kamu bete, aku bisa pulang. Mumpung bandara belum jauh. Daripada liburan tapi semua orang kamu cemberutin.” ujarku sambil mencuci tangan disebelahnya.
“Berlebihan amat. Ga usah segitunya juga kali, cukup ga jadi nyebelin aja bisa?” sahutnya sambil menatap tajam kearahku yg kujawab dengan tawa ringan.
“Bagus kalo kesel. Satu sama kita impas. Jadi sekarang kita balik kesana g usah ada muka ditekuk lagi. Deal?” pintaku yg dijawab Clara hanya dengan anggukan dan menepis uluran tanganku. Sialan gumamku dalam hati.

 Ilustrasi Clara

Kami pun melanjutkan perjalanan sesuai jadwal ke arah Timur menuju Kota Manggar.
“Kota Manggar itu dijuluki kota seribu satu warung kopi, jadi disana wajib nyobain Kopi O khas Manggar.” jelas Bang Iwan kepada kami.
“Oh kirain pantai, terus ke lautnya kapan?” tanyaku yg memang sejak awal tidak tahu menahu itenerary kami.
“Besok kita seharian ke Pulau Lengkuas, Pulau Pasir, ama Pulau Batu Berlayar puas lo snorkling pokoknya.” ujar Angga menginformasikan kepadaku yg kujawab dengan mengangguk.
“Di Manggar juga nanti ada Pantai Burong Mandi, pemandangannya bagus mau nyebur juga bisa tapi sayang waktunya cuma sebentar soalnya hari ini perjalanan kita masih banyak. Kalo urusan laut besok lebih puas lagi.” lanjut Bang Iwan menjelaskan.
Kuperhatian Regas Angga Helen dan Clara nampak tertidur mungkin karena pagi ini kami semua bangun sangat awal untuk mengejar pesawat dan aku pun pamit kepada Bang Iwan untuk tidur mengingat perjalanan masih satu jam lagi.
Setelah hampir sejam, mobil pun berhenti disebuah telaga besar dengan dermaga cantik disampingnya.
“Kita sampai di kecamatan Gantong. Ini sebenernya adalah telaga sisa penambangan yang ditinggal oleh perusahaan tidak bertanggungjawab. Akhirnya karena sangat besar pemerintah pun menyulapnya menjadi dermaga untuk wisata.” jelas Bang Iwan seraya mempersilahkan kami turun untuk melihat dan foto-foto.
Kalau sekarang lokasi telaga ini persis didepan Replika SD Muhammadiyah Gangtong, yg dibuat sejak terkenalnya daerah Gantong karena Film Laskar Pelangi. Seingatku waktu kami kesana, novelnya pun bahkan belum terbit dan Replika SD itu pun belum ada. Jadi aku atau bahkan kami semua saat itu memang tidak punya bayangan tentang Pulau Belitung seperti apa kecuali dari cerita Angga.
“Itu perahu bisa dinaikin?” tanyaku kepada Bang Iwan sambil menunjuk perahu kecil seperti sampan yg bebaris rapi sekitar 6 buah disamping dermaga.
“Bisa, bayarnya ke penjaga disana tapi paling cuma buat foto bukan buat ngelilingin telaga.” jelas Bang Iwan.
“Oh kenapa?”
“Banyak Buaya.” jawab Bang Iwan santai seolah Buaya adalah sejenis hewan peliharaan yg lucu seperti kucing atau anjing sehingga menyebutnya tanpa beban.
“Hah? Serius?” lanjutku mengkonfirmasi sambil mengerutkan alisku yg dijawab Bang Iwan dengan anggukan dan membuatku menelan ludah.
“Aman kan tapi disini?” selidiku yg panik karena setahuku Buaya itu tidak seperti ikan, buaya bisa naik ke darat.
“Ya hati-hati aja.” tanggap Bang Iwan santai. Fak.
Kamipun tetap foto-foto didekat dermaga dan bergantian naik ke perahu untuk foto, mengingat perahu tersebut hanya maksimal diisi oleh dua orang. Jadi hanya Angga dan Helen yg berfoto bersama seperti sedang Prewedding.
“Kampret Angga menang banyak.” sungutku berbisik ke arah Regas.
“Ya lo ajak Clara lah.” tanggap Regas.
“Tawaran lo tadi dikuping gue tuh kedengerannya kaya, ya lo nyebur aja lah. Paham?” jawabku ketus yg membuat Regas puas tertawa.
Setelah puas berfoto kami pun melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Manggar.

Kami mampir ke salah satu kedai kopi paling tua disana, kenapa salah satunya ya karena memang disana kedai kopinya sejak indonesia merdeka semua rata-rata umurnya.
Aku suka ruangan yg ada di kedai kopi ini, nuansa bangunan lama namun terawat serta dihiasi miniatur kapal pinisi dan beberapa ornamen laut.
Aku Regas dan Angga tentu memesan Kopi O sesuai rekomendasi Bang Iwan, Clara dan Helen yg memang tak suka kopi serta tidak penasaran untuk mencoba hanya memesan es coklat milo.
“Lo berdua ya jauh-jauh mesen es coklat, di kantin sekolah juga banyak.” tegurku kepada Clara dan Helen yg ditanggapi mereka dengan masa bodoh.
Angga menawarkan Kopi O nya kepada Helen untuk sekedar menyicip, dan direspon Helen hanya dengan anggukan kepala seolah sudah puas mengetahui rasanya setelah menyeruputnya sedikit.
“Yah gue nyobain punya siapa dong?” ujar Clara manja yg ikut penasaran seraya menyadar ke bahu Helen seolah ingin mencoba. Aku yg memang saat itu kebetulan duduk didepannya menggeser Kopi ku ke depan Clara bermaksud menawarkan. Aku pun meminta sendok kecil kepada nona pemilik kedai dan kuberikan kepada Clara lalu diambilnya.
“Kirain manis.” jawab Clara setelah mencicipi sesendok kopi dari gelasku.
“Itu berasa manis sebenernya kalo aja hidup kamu lebih pahit.” jawabku asal yg disambut gelak tawa Regas Angga dan Helen.
“Ga usah curhat kali.” sahut mereka kompak. Kampret.
Kami cukup lama beristirahat disana sambil mengobrol dan bercanda bahkan kami pun memesan cemilan pisang goreng khas bangka pulau tetangga belitung yg kulitnya bulat seperti molen tapi rasanya tepung goreng biasa namun lebih lembut dan tidak garing. Sensasinya seperti makan pisang cake bukan goreng.
Beberapa kali aku menyuapi Clara karena reflek merespon manjanya terhadap Helen yg tidak digubris oleh Helen. Aku pun tidak tahu saat itu Helen tidak menggubris Clara karena memang sedang asik dengan Angga atau sengaja membiarkan aku yg memenuhi sifat manjanya Clara.
Setelah itu kami lanjut makan siang di kedai restoran pinggir pantai dengan bangunan ala kapal pesiar yg cukup unik.
Bang Iwan pun beberapa kali memfoto kami sebelum akhirnya kami menyantap makan siang yg bisa dibilang membuat Aku Regas dan Angga kalut karena menunya Seafood semua mulai dari Kepiting, Kerang Dara, Cumi serta Udang.
Setelah kenyang, aku mengajak Regas keatas bangunan menara restoran yg gayanya seperti dock atas kapal. Aku membuka sebungkus rokok dan membakarnya seraya menawarkan kepada Regas yg cukup heran mungkin melihatku merokok untuk pertama kalinya.
“Sejak kapan lo ngerokok.” tanya Regas seraya memantik korek untuk ikut membakar rokok.
“Iseng doang.” jawabku singkat sambil menghisap rokok yg sudah menyala ditanganku.
“Lo berubah nyet.” tiba-tiba Regas memulai pembicaraan yg sepertinya sudah lama ia ingin sampaikan.
“Dulu waktu lo dikecewain Vina, ga sampe segininya. Kenapa jadi drama gini sih sekarang?” lanjut Regas.
Aku sekali lagi menghisap dalam rokok ditanganku, untuk berpikir sejenak menanggapi pertanyaan Regas.
“Waktu gue kecewa ama Vina, lo berdua bantu gue ngelupain dia. Tapi sekarang? Angga ama Helen ga mungkin kan ngejauh? Dimana ada Helen disitu ada Clara. Gue recovery diri gue sendiri gas!” jawabku kepada Regas yg kuharap mendapat pengertian dari dirinya.
“Gue ama Angga bantuin lo lupa ama Vina alasannya jelas. Dia udah ninggalin lo. Dia udah bikin lo digebukin ama Rian. Sedangkan Clara? Kita semua ga tau lo putus kenapa! Dan selama yg kita tahu kalian berdua jelas masih sama-sama sayang, makannya kita justru bantuin lo berdua biar balikan.” sahut Regas berdalih dengan pembenaran sikapnya dan Angga.
“Clara yang mutusin gue! Lo tanya dia apa alasannya! Lo cari tau dia masih mau ga nerima gue, baru nyuruh orang balikan!” bentaku kepada Regas yg mulai emosi.
“Asal lo tau ya nyet, kata-kata putus itu selama ini cuma keluar dari mulut lo! Ga pernah sekalipun Clara cerita ke kita kalo dia putus ama lo.” sahut Regas yg sama-sama menaikan nada suaranya dan membuatku terdiam atas ucapannya.
“Maksud lo?” lanjutku.
“Clara setiap ditanya hubungan kalian berdua cuma jawab lagi berantem, ga pernah sekalipun bilang putus. Ketika gue Angga dan Helen bilang ke dia kalo dari mulut lu sendiri yg bilang kalian udah putus. Clara cuma bilang oh kata Panji gitu, tapi kita belum pernah sama-sama bilang putus ko.” jelas Regas melanjuti ceritanya.
Aku terdiam cukup lama, otaku merecall kembali ingatan saat awal kejadian yg kuanggap sebagai putusnya hubungan kami di gazebo ruma Clara dan mengulang kembali satu per satu ingatanku.
“Get away from me!”
“Pergi dari hadapanku!”
“Siapa lo ngatur-ngatur hidup gue.”
“Pergi atau gue teriak.”
“Masih berani dateng setelah gue usir?”
“Buruan sebelum Mama pulang, ga punya alasan buat ngusir.”
“Jangan salah paham, belum waktunya aja Mama tau.”
“Jangan cuma jadiannya aja usaha, udahinnya juga usaha dong!”
Setelah mendapatkan semua ingatanku tentang omongan Clara, memang tidak ada satupun ucapannya yg terucap secara langsung bahwa kita putus. Aku hanya mengambil kesimpulan dari caranya mengusirku, memanggilku dengan sebutan Panji dan hal-hal lainnya yg memang secara tersirat bagiku adalah hubungan ini sudah putus. Namun memang ada kata-kata terakhir Clara yg membuatku bingung.
“Dia bilang jangan usaha cuma pas waktu jadian, udahinnya juga usaha dong. Tapi gue ga ngerti maksudnya apaan gas.” ceritaku kepada Regas.
“Tanya lah ke orangnya!” pinta Regas seraya menghisap terakhir rokoknya yg sudah pendek.
“Sama aja nyuruh gue lompat dari sini lo nyet.” balasku sambil mematikan rokok dan mengajak Regas turun kembali kebawah.

“Lama banget ngapain sih.” tegur Angga yg sepertinya sudah menunggu kami sedari tadi.
“Nyari wangsit noh si kampret.” jawab Regas sambil menunjuk diriku.
“Wah pas mas, kita sekarang ke Wihara Dewi Kwam Im. Disana ada jasa ramalan terkenal sepulau belitung.” sahut Bang Iwan semangat mengajak kami melanjuti perjalanan yg cukup membuat kami tertawa geli, ramalan yg benar saja.
Tibalah kami di Wihara Dewi Kwam Im yg jaraknya tidak begitu jauh dari restoran tadi. Sekarang ditempat ini bahkan sudah dibangun Patung Dewi Kwam Im setinggi 12 meter yg membuat tempat wisata ini semakin ramai dikunjungi. Pada saat kami kesana itu hanya Wihara dan patung Dewi Kwam Im ukurannya kecil masih di dalam bagian wihara.
Helen pun lari penuh semangat untuk memanjatkan doa disana, ya maklum diantara kami hanya dia lah keturunan Cina asli makannya Clara sering memanggil Helen dengan sebutan enci.
Clara yg berada dibelakang bersama aku Regas dan Angga tak lama ditarik Helen untuk ikut doa bersama disana juga yg membuat kami menggelengkan kepala sambil tertawa.
“Mana tukang ramalnya?” tanya Angga seraya berbalik badan mencari.
“Gue ramal abis ini lo ditarik Helen buat ikutan doa.” timpalku kepada Angga.
“Beb ayo ikutan.” tak lama Helen pun muncul lagi menarik tangan Angga, aku dan Regas tertawa puas melihatnya.
“Regas Panji ayo.” teriak Helen yg juga memanggil kami untuk ikut bersamanya.
“Ga dosa kan yah? Anggap aja menghargai kebudayaan setempat ya nyet.” ujar Regas kepadaku yg kujawab dengan anggukan sambil menahan tawa.
Agar tidak salah paham aku ingin menjelaskan kami yg dalam hal ini aku Regas Angga dan Clara tidak ada yg bermaksud untuk menertawai ibadah agama lain, kami hanya tertawa atas sikap Helen yg polos dalam mengajak kami terutama aku Regas dan Angga untuk ikut doa disana.
Akhirnya kami berlima pun berdiri didepan patung Dewi Kwam Im, membakar dupa dan berdoa mengikuti Helen.
Setelah berdoa, Helen menarik Angga untuk ketempat ramalan dan mereka pun minta diramal tentang hubungan mereka.
“Kira-kira hasilnya apaan nyet?” tanya Regas berbisik kepadaku.
“Paling Angga ga dapet restu dari Baba nya Helen.” tanggapku yg membuat aku dan Regas tertawa.
“Kalian ih! Jahat banget daritadi.” sahut Clara menegur aku dan Regas.
Aku Clara dan Regas menolak ketika ditawari untuk ikut meramal oleh Helen, alasanku hidup lebih seru kalo kedepannya ga bisa ditebak sedangakan Regas bilang takut nanti kita semua iri mendengar hasil ramalan dia yg pasti akan menjadi orang sukses di masa depan.
“Wooooo pede!” sahut kami semua kompak sambil melemparnya dengan kertas ramalan.
Clara? Aku tidak tahu kenapa ia tidak mau diramal karena ia tidak mengatakan apapun alasannya.
Kami berlanjut ke Pantai Burong Mandi, disana kami bermain air dibibir pantai sambil berfoto ria.
Setelah seharian lelah mengunjungi tempat-tempat menarik sebelumnya, menutup hari pertama kami di Pantai Burong Mandi sangat luar biasa sempurna.
Aku duduk di bangku pinggir pantai menikmati angin sepoi-sepoi sementara Regas Angga Helen dan Clara asik berfoto sambil bermain air.
“Panji sini!” teriak Helen memanggilku untuk ikut bergabung bersama mereka dan akupun segera berlarik menyusul mereka setelah puas meregangkan badan ini sebentar.
Kami saling melempar air dan pasir untuk saling mengotori baju kami sambil bercanda serta tertawa senang. Aku tidak menyesal ikut liburan ini.
Kurang lebih sejam puas bermain dan berfoto sekitar pantai, pukul setengah 5 sore kami pun masuk kembali ke mobil untuk kembali ke Kota Tanjung Pandan tempat Hotel kami menginap.
Sepanjang jalan kami semua tertidur lelap karena lelah termasuk aku yg awalnya sempat mengobrol dengan Bang Iwan tapi akhirnya tumbang juga.
Jalan raya yg membelah Pulau Belitung Timur Kota Manggar hingga Belitung Barat Kota Tanjung Pandan benar-benar damai. Jumlah mobil yg hanya terlihat lima sampai sepuluh menit sekali dan motorpun tidak sebanyak di Jakarta membuat Belitung sangat asri dan elegan di mataku.

Kami menginap di Hotel persis didepan Pantai Tanjung Pendam. Kami membooking dua kamar, Clara bersama Helen dan aku bersama Regas serta Angga. Sebelum itu Aku dan Angga sempat membantu Clara dan Helen mambawakan tas-tas milik mereka kekamarnya.
Bang Iwan meminta kami berkumpul lagi jam 8 untuk makan malam di lobby hotel. Waktu selama satu jam lebih kami pergunakan untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah makan di salah satu restoran dengan menu seafood seperi biasa kami pun kembali ke hotel, aku memutuskan untuk berjalan sendiri ke sebrang Hotel ke Pantai Tanjung Pendam. Sementara Regas, Angga, Helen dan Clara memilih untuk kembali ke kamar karena sudah lelah.
Aku duduk disalah satu cafe di dekat bibir pantai ditemani Kopi Kong Djie yg terkenal didaerah Tanjung Pandan sambil membakar kembali rokok ku. Aku masih memikirkan obrolanku dengan Regas siang tadi, hatiku mulai ragu untuk mengingkari statement yg kubuat kemarin terhadap Vina. Tak lama berselang aku dikagetkan oleh telepon dari Clara.
“Iya ra?” sapaku membuka obrolan.
“Lo dimana nji?” tanyanya.
“Masih di seberang Hotel, kenapa ra?”
“Angga ama Helen disana ga?” lanjutnya bertanya.
“Engga, aku sendiri disini.” jawabku singkat.
“Duh kemana ya mereka, gue sendirian nji daritadi di kamar. Helen tadi ijin keluar ama Angga sebentar tapi udah sejam belom balik terus gue telepon ga diangkat.” jelas Clara mulai panik.
“Paling lagi pacaran, tapi disini aku ga liat mereka sih.” sahutku santai.
“Gue takut sendirian di kamar nji.” lanjut Clara manja.
“Ya udah aku jemput nanti kita tunggu mereka di lobby hotel.” tawarku kepada Clara yg disetujuinya dan membuatku bangkit untik kembali ke hotel.
Aku pun mengetuk pintu kamar Clara dan tak lama dibukanya.
“Yuk.” ajaku sambil menarik tangan Clara.
Kamipun menunggu Angga dan Helen di lobby hotel agar saat mereka kembali, Clara bisa kembali ke kamarnya bersama Helen. Mengingat sudah pukul 12 aku meminta Clara untuk tidur di sofa lobby.

Saat jam sudah memasuki pukul 2 pagi, aku terbangun karena tertidur memunggu Angga dan Helen lalu mendapati Clara juga masih tidur dengan menyenderkan kepalanya di bahuku.
Aku yakin Angga dan Helen belum kembali karena jika sudah kembali tidak mungkin mereka tidak melihat aku dan Clara yg tertidur di lobby.
“Ra bangun ra.” ujarku membangun Clara.
“Udah jam 2, kayanya mereka belum pulang kamu pindah aja ke kamar daripada masuk angin disini.” lanjutku kepada Clara.
“Kemana ya mereka? Helen ngeselin banget ih!” sahut Clara uring-uringan.
“Ya udah kamu lanjut tidur di kamar aja, besok mereka paling balik. Lagi asik pacaran kali.” ujarku yg juga kesal kepada mereka karena tidak mengabari. Kalopun mau enak-enak berduaan kan ga perlu ngumpet-ngumpet gini malah nyusahin umpatku dalam hati.
Sampai didepan kamar Clara menarik tanganku yg berjalan menuju kamarku.
“Gue takut sendirian, temenin nji.” ujar Clara manja.
“Takut apaan sih ra, di rumah kamu juga tidur sendiri kan.” jawabku ketus karena manjanya.
“Beda ih! Ini bukan kamar gue!” sahut Clara masih teguh atas pendiriannya.
“Kamu mau kita sekamar? Emang ga takut? Emang percaya?” sungutku kepada Clara yg dijawabnya dengan memukul badanku.
“Emang lo berani?” jawab Clara menantang sambil bertolak pinggang, melihat sikapnya yg makin ketus aku kembali berbalik badan bermaksud meninggalkannya namun tanganku kembali ditarik oleh Clara.
“Plis nji!” pintanya yg akhirnya kuturuti.
Kami berdua pun masuk ke kamar seraya menutup pintu.
“Lo bisa tidur di sofa.” ujar Clara sambil menunjuk Sofa yg panjang di pinggir kasur.
“Gue diluar aja.” jawabku berjalan kearah balkon hotel dimana terdapat bangku kecil dua buah serta meja ditengahnya.
“Lo kunci aja pintu balkonnya dari dalem.” lanjutku meminta Clara.
“Ga usah segitunya juga kali nji, diluar dingin yg ada lo masuk angin nanti. Gue percaya ko ama lo, masuk.” jawabnya.
“Iya lo percaya, Regas Angga ama Helen engga. Udah kunci.” ujarku seraya menutup pintu kaca tersebut dan duduk di bangku sambil memandang ke arah Pantai Tanjung Pendam.
Clara sempat membuka pintu untuk memberiku selimut dan kembali menawarkan untuk tidur didalam namun kutolak dan akhirnya ditutup kembali pintu kaca balkon ini sesuai permintaan ku. Aku pun mulai memejamkan mata ini yg mulai ngantuk dan tertidur.

Sekitar jam 5 pagi seseorang menggoyangkan tubuhku, dan saat membuka mata ternyata Helen.
“Kampret darimana sih lo.” ujarku sedikit berteriak yg langsung dibekap mulutku oleh Helen sambil menaruh jarinya dimulutnya mengisyaratkanku untuk diam. Aku melirik kearah dalam ada Angga disana cengengesan.
Aku pun segera menepis tangan Helen lalu berjalan kearah Angga sambil menariknya keluar kamar Helen dan Clara seraya pamit.
Setelah di kamar aku pun memaki Angga yg hilang tanpa kabar dan membuatku repot malam itu menuruti manjanya Clara.
“Sori nyet, namanya juga kebawa suasana tadi di lagi berduaan di kolam renang. Helen ngajak buka kamar lagi buat berdua ya ga gue tolak lah.” ujar Angga membela diri.
“Lo enak-enakan gue yg susah!” jawabku ketus.
“Makannya balikan ama Clara biar ikutan enak.” tanggap Angga yg kujawab dengan menonjok perutnya.
“Kampret sakit!” keluh Angga dan aku pun langsung naik ke kasur sebelah Regas untuk melanjutkan tidurku yg tertunda tadi sedangkan Angga lanjut merebahkan badannya di sofa.

Pagi harinya aku terbangun sekitar pukul 8 dimana kulihat Angga dan Regas sudah tidak ada di kamar.
Aku bangkit menuju kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi bersiap turun ke bawah sarapan karena aku yakin mereka semua sudah dibawah. Benar saja Regas Angga Helen sedang makan bersama di satu meja.
“Kesiangan lo!” sapa Angga yg membuatku melempar kerupuk dari toples dekat jejeran menu bubur kearahnya.
“Gara-gara lo!” ketusku.
Setelah berputar memilih menu sarapan aku pun mengambil omelete dan beberapa potong potato wedges lalu bergabung dengan mereka.
“Clara mana?” tanyaku kepada mereka sambil menyantap sarapan seraya mataku berkeliling mencari Clara.
“Noh di depan kolam sendirian.” jawab Helen sambil menunjuk kearah Clara duduk.
“Kenapa dia?” tanyaku heran.
“Masih ngambek kali ama gue hahaha.” jawab Helen tanpa raut wajah bersalah.
Aku yg teringat kembali kejadian semalam langsung melempar serbet ke arah Angga dan Helen.
“Minta maaf lo! Dari semalem Clara nungguin sampe ketiduran di lobby hotel.” jelasku dengan nada sedikit ketus.
“Iya bawel ih panji!” jawab Helen yg sepertinya agak malu dan ingin menyembunyikan kejadian semalem.
“Semalem kenapa emang?” tanya Regas polos.
“Makannya jangan tidur mulu!” jawab aku Angga dan Helen kompak.
“Eh gue ada ide sini deh.” Helen tiba-tiba mengajak kami mendekat untuk membisiki sesuatu.
“Gue ga ikutan ah.” sahutku setelah mendengar rencana Helen.
“Ah udah lo ikut aja nji.” paksa Helen yg tak kujawab melainkan melanjuti menghabiskan sarapan ku.
“Kita nanti kumpul lagi jam 9 yah di lobby.” ujar Angga mengingatkan dan kembali ke kamar hotel untuk siap-siap bersama Regas dan Helen.
Aku beranjak mengambil dua gelas orange juice dingin dan berjalan ke arah Clara.
“Hey, pagi.” sapaku seraya menawarkan satu segelas orange juice yg tadi sengaja kuambil untuknya, Clara tersenyum dan mengambil minuman tersebut dari tanganku.
“Hey. Thanks nji.” jawabnya singkat.
Aku meneguk sedikit minuman ditanganku dan kembali menatapnya.
“Masih ngambek ama Helen gara-gara semalem?” tanyaku padanya yg sedang menatap kosong kearah kolam sambil menggelengkan kepalanya.
“Terus ngapain sendirian disini?” lanjutku menanggapi gelengan kepalanya.
Ia menoleh kearahku menatap wajahku seraya tersenyum.
“Gak apa-apa, yuk ah siap-siap.” ajaknya sambil bangkit dan menarik tanganku.
Kamipun akhirnya berjalan kearah kamar kami di lantai tiga hotel tersebut dan Clara tidak melepaskan genggaman tanggannya sampai didepan kamar.
Kami pun berpisah dan aku masuk kamarku yg tepat bersebelahan sambil saling menatap dan kemudian masuk kamar kami masing-masing bersamaan.

Setelah siap dan berkumpul kami pun langsung dijemput oleh Bang Iwan dan meluncur ke arah utara Pulau Belitung menuju Pantai Tanjung Kelayang.
Disana kami berganti menggunakan kapal motor untuk menyebrang ke Pulau Lengkuas. Kami pun diminta membawa barang yg diperlukan dan berganti pakaian mengingat perjalan menyebrang laut dengan kapal motor kecil kemungkinan akan membuat kami basah.
Kami pun satu persatu menaiki perahu dan mulai mengarungi laut, meski cuaca cukup cerah bahkan cenderung panas tapi angin bertiup kencang sehingga kondisi ombak cukup bergelombang maklum saat itu pertengahan bulan Desember.
Posisi kami semua duduk berdekatan mengingat kapal yg memang tidak lalu besar, beberapa kali kapal menerjang ombak tinggi berasa seperti naik wahana kora-kora di Dunia Fantasi. Hanya aku Angga dan Regas tampak ceria dalam perjalanan ini karena memacu adrenalin kami, jadi menurutku sekalian menurunkan rasa takut. Namun tanganku dicengkram kuat oleh Clara yg memang kebetulan duduk disebelahku setiap menerjang ombak yg membuat ku mendekat kearah kupingnya untuk berbisik.
“Kamu kenapa? Takut?” ujarku seraya menjauh dari kupingnya dan menatap wajah Clara yg hanya menjawab dengan anggukan.
“Just remember, a smooth sea never made a skill sailor.” lanjutku yg masih berbisik dan dijawabnya dengan memukul bahuku sambil berteriak.
“I’m not sailor!”
“You will, if you meet the moon.” sahutku yg juga sambil berteriam.
“Sailormoon? Hahaha.” timpal Clara seraya tertawa.
Regas Angga dan Helen memperhatikan kami dengan muka penuh arti, seolah dalam hati mereka berkata. “Terus aja berduaan terus”. Aku dan Clara saling pandang seraya membalas tatapan mereka dengan menjulurkan lidah kami. Minimal hal itu membuat Clara lupa akan takutnya terhadap ombak.

Kapal merapat di pinggir pantai pulau lengkuas, ada sekitar tiga kapal yg sepertinya sudah tiba lebih dulu dari kami.
Bang Iwan pun mempersilahkan kami untuk bermain diarea Pantai Lengkuas dan beberapa spot batu karang besar yg sangat cantik untuk berfoto.
Seperti anak TK yg dilepas di taman bermain, kami berlima langsung berlari bermain air didekat batu karang sambil sesekali berfoto.
Aku Regas dan Angga sempat terpaku saat Helen melepas kain pantainya, otak kami seolah merekam kejadian tersebut tiap per sekian detik untuk menyimpan memori tubuh Helen yg hanya menyisakan Crop Tanktop dan underwear cd model tali disamping.
“Udah udah jatah gue tuh.” sahut Angga sambil mengusap mata aku dan Regas kemudian berjalan ke arah Helen kemudian membopongnya ke arah laut.
“Fak.” sahut Regas tanpa berkedip.
“Heh! Pada mesum amat sih.” sahut Clara meneriaki aku dan Regas.
“Kamu ga ikutan kaya Helen tadi ra?” tanyaku pada Clara yg berdiri disebelahku namun masih memperhatikan Helen tanpa menoleh kapadanya yg langsung dibalas dengan tinjunya kearah perut ku.
“Nyebelin.” sungut Clara.
Regas puas tertawa melihat aku yg di tonjok Clara.
“Ayo sini gabung!” teriak Helen yg sedang asik bermain air dengan Angga setelah sebelumnya dibopong dan melompat ke dalam air.
“Yuk nji ra.” ajak Regas dan berjalan ke arah Helen masih tanpa berkedip.
“Kena patil si kampret, bahaya nih kalo Regas ama Angga rebutan.” ujarku sambil tertawa mengajak ngobrol Clara yg berada disampingku
“Emang elo engga? Kan semua cowo sama. Mesum.” jawab Clara dengan muka juteknya.
“That’s a gift, proses alamiah. Percaya biologi kan?” tanggapku melakukan pembenaran.
“Alesan!” sahut Clara singkat seraya menyusul Regas Angga dan Helen yg segera ku susul.
Setelah puas bermain dibibir pantai, Helen menarik Clara dan mengikat matanya dengan kain pantai miliknya untuk memulai rencana yg tadi sempat mereka siapkan di hotel saat sarapan. Aku hanya mengikuti mereka, tanpa ikut campur membawa Clara ke tempat yg direncanakan.
“Mau kemana sih? Ko daritadi naik tangga mulu.” sahut Clara yg dibimbing oleh Helen dan Angga serta Regas.
“Udah ikut aja ini kejutan.” jawab Helen.
Kamipun sampai ditempat yg sudah direncanakan oleh Helen.
Clara dihadapkan oleh Helen kearah kami, Helen yg tepat berada didepannya membuka kain pantai yg menutupi mata Clara.
“Buka matanya pelan-pelan ya non.” ujar Helen yg dituruti oleh Clara.
Mata Clara melihat kearah Helen dan menoleh ke kanan tempat aku berdiri dan kekiri tempat Angga dan Regas.
“Sekarang balik badan.” pinta Helen dan Clara yg membalik badannya karena penasaran langsung kaget berteriak dan melompat kearahku memeluk tubuhku erat setelah sadar didepanya terampang luas samudera dimana ia sedang berdiri diatas menara mercusuar Pulau Lengkuas.
“Bo aku takut!!”
Aku terpatung mendengar ucapannya, yg lainpun terlihat kaget atas reflek Clara yg membuat mereka terdiam.
Rencana Helen adalah membuat kejutan mengajak Clara yg takut ketinggian ke atas menara mercusuar namun bukannya tertawa melihat kepanikan Clara, kami semua justru terdiam karena respon Clara yg mendadak memeluk tubuhku dan yg paling membuat mereka terutama aku tidak percaya adalah, Clara memanggilku dengan sebutan Bo (Kebo) lagi.
Helen terlihat berbisik kepada Angga dan Regas, tak lama mereka melambaikan tangan kearahku seolah memberi isyarat untuk meninggalkan aku dan Clara disini yg repon dengan melototi mereka dengan maksud jangan pergi kemana-mana namun mereka berlalu tak menghiraukan.
“Bo aku mau turun, plis bo aku takut.” Clara masih merengek dan semakin mencengkram erat tangannya dipelukanku.
Perlahan aku memegang tangan Clara menuntunnya ke pinggir menara dan meletakan tangannya untuk menggenggam pagar bibir menara.
“Pegang yg kuat terus buka mata kamu pelan-pelan kearah depan dan jangan lihat ke bawah.” pintaku pada Clara.
Clara pun perlahan membuka matanya dan terpaku melihata pemandangan laut dari atas Pulau Lengkuas.
“Gila bo keren banget. Bo sumpah ini keren banget.” ujar Clara kegirangan sambil menarik-narik tanganku dan kembali memeluku dengan melingkarkan tangannya dileherku. Pada saat kami bertatapan Clara seolah tersadar dari khayalannya.
“Eh sorry nji.” sahutnya seraya melepaskan rangkulannya dan sedikit mundur dari tubuhku.
“Gak apa-apa ra.” jawabku sambil tersenyum, rasanya aku ingin memakai waktu. Kenapa momen seperti tadi hanya terlewat dalam sepersekian menit dalam hidupku, ulangi lagi plis gumamku dalam hati.
Clara terlihat salah tingkah dan menoleh kesana kemari mencari Regas Angga dan Helen.
“Mereka pada kemana nji?” tanya Clara.
“Noh dibawah.” jawabku saat itu yg memang mereka sedang melihat kearah kami.
Clara yg mendengar jawaban ku langsung reflek melihat kearah bawah mencari Regas Angga dan Helen dan kemudian menyadari berada diketinggian kembali teriak sambil mencengkram tanganku tapi tidak lagi menyebut Kebo.
“Nji gue takut nji. Turun nji ayo.” rengeknya seraya kutarik tangannya untuk menuju tangga menuruni menara mercusuar ini.

Perjalan kami berlanjut menuju Pulau Kepayang untuk makan siang di rumah makan tepat dibibir pantai. Sangat elegan dengan menu seafood lengkap dan kondisi lelah yg membuat kami kelaparan segera melahap makan siang yg disajikan.
“Nji lo doyan kepiting kan, nih jatah gue makan aja.” tawar Clara yg saat itu posisinya berada didepanku.
“Ko nja nji lagi sih? Bukannya tadi udah kebo-keboan?” ledek Helen yg langsung dicubit oleh Clara.
“Perlu ditinggal lagi berduaan apa?” tambah Angga mengompori.
“Angga! Rese!” sungut Clara ketus yg disambut tawa oleh Helen Regas dan Angga sedangkan aku hanya bisa menggelengkan kepala.
Selesai makan kami mengunjungi Pulau Pasir dan Pulau Batu berlayar yg sangat eksotik karena memang pada dasarnya kedua tempat tersebut bukan pulau besar seperti Pulau Lengkuas atau Pulau Kepayang melainkan hanya gundukan pasir putih seluas lapangan futsal sedangkan pulau batu berlayar hanya batu besar seperti kapal layar ditengah laut. Kami disana puas berfoto ria mengingat pemandangannya yg sangat luar biasa keren.
Setelah itu wisata laut kami ditutup dengan snorkeling yg sudah ku nantikan sejak awal, aku memang payah dalam berolahraga seperti basket futsal bulutangkis dan sejenisnya, tapi soal renang aku paling hobi dan berani diadu.
Begitu sampai di spot snorkeling, saat semua sibuk memakai pelampung aku langsung terjun membalikan badan menjatuhkan diri kedalam laut hanya bermodalkan kacamata dan alat bantu nafas.
Surga bawah laut yg sangat luar biasa membuatku semakin penasaran untuk melihat kebawah bermain dengan ikan-ikan, segera kuambil nafas panjang lalu posisi berbalik menjatuhkan kepala kebawah untuk menyelam lebih dalam. Terumbu karang yg eksotis dan ikan-ikan kecil berwarna warni berjalan berkelompok membuat aku selalu takjub serta menyukai snorkeling lebih dari apapun.
Saat sedang memainkan beberapa ikan muncul seseorang didepanku yg juga menyerbu ikan-ikan itu, Clara.
Aku saat itu baru tau kalo Clara juga jago menyelam, dengan memberikan isyarat jari kearah sana Clara mengajaku berenang bersama mengejar ikan-ikan tadi dan aku pun mengikuti idenya sambil kembali keatas sebentar untuk mengambil nafas lalu kembali menyelam diikuti oleh Clara.
Kami berhenti disatu terumbu karang besar bulat seperi batu berwarna oranye dengan rongga-rongga dimana ikan-ikan kecil mengelilingi kami. Bahu kami berdua naik turun yg kuanggap kami berdua sedang tertawa bersama, keindahan bawah laut belitung semakin sempurna dengan adanya sosok bidadari cantik di depanku. Aku selalu jatuh hati padamu ra.
Setelah puas bersnorkling ria, kami pun naik keatas kapal untuk kembali ke Pantai Tanjung Kelayang. Hari itu tak akan pernah aku lupakan.
Sebenenya kami masih punya satu tempat lagi untuk dikunjungi yaitu Pantai Tanjung Tinggi atau yg sekarang lebih dikenal dengan Pantai Laskar Pelangi karena tenar dari Film tersebut. Namun karena sudah kehabisan tenaga, puas berenang serta mengingat hari sudah sore sekitar pukul 5 lewat, kami pun minta kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel kami masuk kamar masing-masing dan akan makan malam seperti biasa jam 8 dijemput oleh Bang Iwan di lobby hotel.

Selesai makan malam seperti kemarin, aku berjalan ke Pantai Tanjung Pendam yg berada sebrang hotel untuk merokok menghilangkan suntuk.
Malam itu aku bahagia atas apa yg terjadi hari ini antara aku dan Clara namun disaat yg bersamaan risau dengan hubungan ini yg tak kunjung membaik dalam arti aku berharap bisa bersama lagi dengan Clara. Sial disaat kemarin sudah mulai kesal dengan sikap Clara, dua hari di Belitung bersamanya sukses membuat hati ini jatuh lagi.
Aku yg sedang khusyuk melamun dikagetkan oleh tangan yg mengambil rokokku dan membuangnya, ketika aku menoleh ternyata Clara.
“Sejak kapan ngerokok sih?” tanya Clara dengan wajah galaknya yg tak kujawab melainkan hanya melempar senyum.
“Kamu kenapa kesini? Angga ama Helen kabur lagi?” tanyku yg ia jawab dengan anggukan.
“Heran, mesum mulu.” sungutnya.
“Kamu sejak kapan ngerokok?”
Deg.
Ada rasa berdegup ketika Clara kembali memanggilku dengan sebutan kamu yg membuatku kembali geer namun segera ku sadarkan diri lagi untuk menjawab pertanyaan Clara.
“Iseng doang ko.” jawabku singkat karena memang tak punya alasan lain.
“Ga usah ngerokok lagi bisa?” lanjut Clara meminta yg membuatku heran ada apa dengannya mau mengatur hidupku lagi namun kujawab dengan anggukan.
“Serius bo.” tegur Clara yg membuatku kembali menoleh kearahnya.
“Bo?” tanyaku lagi memastikan ucapan Clara. Clara terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya dan berputar kanan kiri diatas kursi putarnya.
“Aku boleh ga manggil kamu kebo lagi?” tanya Clara sambil menatap mataku ragu.
“Boleh ko ra.” jawabku disertai degup jantung yg entah mengapa saat itu memompa darah dengan ritme yg sangat cepat.
“Baikan yuk bo.”
“Maksudnya ra?” ujarku mengkonfirmasi dengan sikap salah tingkah.
“Ya kaya kemaren-kemaren lagi.” jawab Clara yg juga salah tingkah.
“Balikan?” tanyaku langsung untuk memastikan maksud Clara.
“Ko balikan? Emang kita pernah putus?” sungutnya sedikit ketus.
“Lah? Kan kamu yg ngusir aku.” sahutku menimpali.
“Diusir bukan diputusin! Lagian bandel!” jawabnya dengan mata melotot kearah ku.
“Aku cuma mau jujur sama kamu ra.” lanjutku menjawab tuduhan Clara yg dijawabnya dengan mengulurkan jari kelingking kearahku.
“Yuk baikan.” ajaknya sambil tersenyum manis dan segera kubalas mengulurkan jari kelingkingku kearahnya dan saling melingkar.

Terimakasih Belitung.

Bersambung.

END – Ketika Kita Muda Part 14 | Ketika Kita Muda Part 14 – END

(Ketika Kita Muda Part 13)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 15)