Ketika Kita Muda Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 13

Start Ketika Kita Muda Part 13 | Ketika Kita Muda Part 13 Start

Pretending

Hari itu di Cafe TB, kami akhirnya sepakat untuk berlibur bersama ke Pulau Belitung setelah pembagian rapot. Aku yg awalnya masih menolak meski mendapat ijin oleh Clara melalu pesan singkat pun menyerah untuk menuruti kemauan mereka daripada leherku jadi korban penyiksaan Regas.
Aku sebenernya ingin menegur Clara menanyakan apa maksud pesan singkatnya atau sekedar memastikan ia tak salah kirim, karena setelah itu tak ada gerak gerik apapun yg menunjukan bahwa dirinya ikut terlibat dengan Regas Angga dan Helen dalam memaksaku. Namun sikap Clara yg masih terus menghindar membuatku mengurungkan niatku.
Kamipun akhirnya bubar sekitar jam 5 sore, aku Regas dan Angga kembali ke sekolah untuk mengantarku mengambil motor yg ditinggal karena ulah penculikan mereka kepadaku untuk ikut ke Cafe TB tadi. Didalam perjalanan ke sekolah Regas dan Angga mengambil kesempatan untuk menginterogasiku.
“Masalah lo ama Clara ga bisa diselesain baik-baik apa nyet? Lo berdua tuh nyiksa diri kalian sendiri tau ga!” ucap Angga yg duduk di bangku pengemudi tepat disebelahku membuka obrolan yg tak kujawab melainkan hanya menoleh kearahnya sebentar lalu kembali melihat kearah luar jendela.
“Mata lo berdua tuh keliatan masih saling sayang. Balikan sih.” tambah Regas sok tahu sambil memegang pundaku.
Mengingat jarak Cafe TB dan sekolahku sangat dekat kami pun sampai, dan aku segera pamit tanpa menjawab pertanyaan Regas dan Angga.

Hari pembagian rapotpun tiba, dan sesuai dengan harapanku Clara mampu menaikan nilainya yg membuatnya masuk 10 besar dikelas. Aku cukup lega begitu mendengar nama Clara telah disebut dan meninggalkan ruang kelas tanpa peduli bagaimana dengan nilaiku. Biar Ibuku nanti yg menyampaikan langsung kepadaku yg saat itu memang hadir untuk mengambil rapotku.
Aku duduk di kantin sambil memainkan sedotan didalam segelas milkshake yg kupesan, Regas dan Angga tiba-tiba datang menghampirku.
“Nyet nyet, lo gampang banget ditebak sih.” ujar Angga yg duduk disebelahku sambil merangkulku.
“Belaga ga peduli, nyatanya di kelas cuma nungguin nama Clara abis itu cabut. Kampret lo!” tambah Regas dan pertanyaan keduanya tak ada satupun yg kujawab.
“Panggil Helen ama Clara nyet, kita mesti ngerencanain liburan kita yg udah pasti fix jadi nih.” pinta Regas kepada Angga mengalihkan pembicaraan karena mungkin paham aku masih belum bisa diajak buka suara terkait Clara.
Tak lama Clara dan Helen pun datang menghampiri kami, namun saat itu Clara menyentuh pundaku yg membuatku menoleh kepadanya.
“Mama mau ketemu. Ikut sebentar yuk.” pinta Clara singkat.

Ketika Kita Muda Part 13Ilustrasi Clara

Aku terdiam sejenak dan akhirnya bangkit, aku menebak sepertinya Clara sama sekali belum cerita soal hubungan kami yg sudah berakhir kepada Ibunya. Aku heran awal jadian kami harus menyembunyikan hubungan ini dari orangtua Clara, sekarang justru sebaliknya kami menyembunyikan ‘putus’ nya hubungan kami dan berakting seolah masih pacaran. Unik yah.
Sampai didepan kelas aku cukup kaget melihat Ibunya Clara ternyata sedang bersama Ibuku.
“Panji. Selamat yah atas juara tiganya.” ucap Ibu Clara menyapaku seraya memberikanku selamat atas hasil Ujian Semesterku yg bahkan aku sendiri saat itu belum tahu hasilnya.
“Makasih Tante.” jawabku sambil tersenyum seraya mencium tangan Ibunya Clara.
“Kalo ga ada Panji, Clara belom tentu bisa masuk 10 besar loh Bu Darmawan.” lanjut Ibunya Clara kepada Ibu ku.
“Iya seneng kalo liat anak-anak bisa tetep tanggungjawab ama pelajarannya walaupun pacaran.” timpal Ibuku kepada Ibunya Clara.
“Main lagi dong kerumah, Om nanyain tuh! Mau diajak modif motor gede barunya. Kan ujiannya udah selesai, jadi libur pacarannya juga udah selesai.” ucap Ibunya Clara ramah yg aku tangkap benar sepertinya Clara belum cerita tentang hubungan kami yg putus dan malah menutupinya dengan alasan sedang ujian jadi aku libur ke rumah Clara.
“Iya tante nanti kesana.” jawabku singkat meski tidak tahu bakal kesana atau tidak. Toh tidak bakal diijinkan juga oleh Clara.
“Oh jadi karena lagi ujian pacaranya libur? Pantes Clara minggu ini ga kerumah.” sahut Ibuku yg juga memang sama-sama belum tahu.
“Kalian pulang bareng kan? Kalo gitu Tante duluan ya Panji.” ujar Ibunya Clara kepada aku dan Clara.
“Mama pulang ya sayang.” lanjut Ibuku dan kami berduapun pamit kepada mereka. Ibuku dan Ibunya Clara pun berlalu kearah parkiran dan meninggalkan kami.
“Jangan salah paham, cuma belum waktunya aja Mama tau.” timpal Clara tiba-tiba.
“Makasih juga buku catetannya.” lanjutnya yg hanya kujawab dengan anggukan. Kami berdua kembali ke kantin bergabung bersama Regas Angga dan Helen tanpa sepatah katapun.

Di kantin Regas, Angga dan Helen sedang asik membuat rencana liburan kami, menetapkan tanggal, perlatan yg dibawa, fasilitas apa yg kami mau dan hal-hal lain. Karena dasarnya aku ikut dengan setengah hati, aku pun ikut saja dengan rencana mereka.
Aku menoleh sesaat dan mendapati wajah Clara sangat antusias dalam obrolan tersebut, ada rasa senang melihatnya kembali ceria seperti itu.
Disaat sedang asik memperhatikan wajah cerinya, lagi-lagi Clara menangkap basah seperti biasanya yg membuatku segera memalingkan wajahku. Sialan ketahuan mulu umpatku dalam hati.
“Gue balik duluan ya.” ujarku yg jadi agak badmood saat itu seraya bangkit dari meja kantin dan memakai jaketku.
“Nanti dulu sih nji, belom kelar ini.” cegah Regas yg diaminkan oleh Angga Helen termasuk Clara.
“Udah gue percaya ama lo semua jadi ikut aja.” jelasku menambahkan.
“Dih mau enaknya aja. Ga bisa! Ikut bantu dong lo.” sahut Clara ketus yg entah kenapa seolah tidak terima dengan jawabanku dan itu cukup membuatku kesal. Belum sempat aku membalas untuk ikut menaikan tensi obrolan karena emosi tiba-tiba datang seseorang melingkarkan tangannya ditanganku. Siska.
“Kak Panji! Makasih ya, aku juara satu loh di kelas!! Yeay!! Semua berkat bantuan Kak Panji yg mau sabar ngajarin selama dua minggu.” ujar Siska panjang lebar sambil memoles daguku diakhir terimakasihnya.

Ilustrasi Siska

“Iya sama-sama.” jawabku singkat sambil melepas rangkulan tangannya. Sesuai dugaanku bahwa Siska pada dasarnya memang pintar, permintaan mengajar kupikir hanyal akal-akalannya saja dengan memanfaatkan teman-temannya.
“Kak Panji sabtu besok ga ada acara kan?” lanjutnya sambil memandangku dengan wajah centilnya.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Aku ama anak-anak mau ngajak Kak Panji makan-makan hadiah terimakasih udah mau ngajarin hehe. Mau ya kak mau ya!!” sahutnya penuh paksa.
“Boleh kan Kak Clara pacarnya dipinjem?” lanjutnya berteriak memanas-manasi Clara.
“Ambil!” sahut Clara singkat.
“Kita ga diajak?” tanya Regas kepada Siska yg tak ditanggapi olehnya.
Aku pun menoleh ke arah Regas dan Angga untuk bertanya.
“Kita jalan hari apa?”
“Rabu.” jawab Angga singkat.
“Oke.” sahutku seraya menoleh kepada Siska menyanggupi permintaannya. Entah kenapa saat itu aku merasa adalah kesempatan untuk memanas-manasi Clara karena kesal oleh sikap juteknya meskipun aku sendiri tidak yakin ia akan cemburu tapi minimal aku puas.
Sisika pun melompat kegirangan sambil pamit dan mengingatkan untuk janjian di salah satu Mall di daerah Casablanca besok sore.
“Centil amat sih tuh anak.” sungut Helen yg daritadi terlihat risih dengan sikap Siska yg diamini oleh Regas dan Angga.

Malamnya dirumah usai makan bareng Ayah dan Ibuku, aku pun masuk kamar dan mendapat handphoneku berdering yg rupanya panggilan dari Clara.
“Halo nji, sorry ganggu.” sapa Clara.
“Ga ganggu ko ra, ada apa?” jawabku seolah ramah namun sebenernya dengan nada yg sangat datar karena masih kesal atas sikapnya tadi.
“Gue bingung nji ngomongnya.” lanjut Clara yg dari nada bicaranya seperti ragu ingin mengatakan sesuatu.
“Ngomong aja dulu, bingungnya nanti pikirin bareng.” jawabku asal yg diresponnya dengan tawa ringan.
“Rese lo! Gini nji, besok bokap ultah.”
“Bagus dong, salam kalo gitu buat Papa kamu.” sahutku memotong omongan Clara yg belum selesai.
“Nyokap ngundang lo buat makan malem besok.” lanjut Clara yg cukup membuatku terdiam.
“Sorry gue tau lo ada janji ama Siska makannya gue bingung, tapi gue juga belom ada ide buat alesan lo ga dateng.” jelas Clara dengan nada agak sedikit memelas.
Aku yg pada dasarnya sedari tadi memang masih kesal dengan Clara ingin rasanya mengucapkan kata-kata masa bodoh itu bukan urusanku lagi, bilang aja ke Papa Mama kita sudah putus toh memang kenyataannya begitu kenapa harus pusing.
“Oh oke ra aku bisa dateng, nanti aku bisa cancel ke Siska alasan keluarga.” ujarku yg entah mengapa malah kata-kata itu yg keluar dari mulutku. Pengecut kampret umpatku dalam hati.
“Beneran nji?” sahutnya lagi mengkonfirmasi.
“Iya ra.” jawabku singkat dan pasrah.
“Langsung ketemu disana ya nji.” ujar Clara menyebut salah satu restoran di Hotel daerah Senayan dan kusanggupi.
“Thanks ya nji. See you.” ujar Clara seraya menutup teleponnya dan tak lama ku lempar handphone ini ke kasur. Fak.
Aku pun segera mengirim pesan singkat kepada Siska yg intinya tidak menyanggupi undangannya dan teman-temannya besok, yg langsung dibalas dengan meneleponku.
Awalnya Siska masih berusaha memintaku untuk tetap hadir dan bersedia menunggu hingga malam namun tetap kutolak. Ia terlihat sangat kecewa dan akhirnya ku janjikan liburan ini akan meluangkan waktu sebagai penganntinya. Siska pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memintaku jalan berdua dengannya dan aku sanggupi yg membuatnya lebih dari senang meskipun membatalkan acara besok.

Sabtu sore aku pun bersiap untuk memenuhi undangan makan malam keluarga Clara. Mengingat acaranya di hotel dan kupikir cukup resmi, aku pun menggunakan pakaian rapi yaitu kemeja lengan panjang berwarna hitam tanpa dasi dipadu jas casual berwarna coklat tua dan celana bahan berwarna coklat muda atau yg sekarang sering disebut celana cinno.
Aku kesana menggunakan mobil Ayahku dan sempat mampir ke sebuah Dept. Store membeli hadiah untuk Ayah Clara berupa sapu tangan bermerk yg cukup mahal jika dibanding harga sapu tangan pada umumnya.
Sesampainya disana aku pun disambut oleh keluarga Clara yang sudah tiba lebih dulu. Aku cukup terpatung melihat dandanan Clara yg sangat luar biasa cantik, menggunakan dress terusan selutut tanpa lengan berwarna hitam dipenuhi gliter yg membuatnya terlihat sangat elegan serta untuk pertama kalinya aku melihat Clara mengikat rambutnya dan aku sangat menyukai dandannya malam itu.
“Panji ko bengong, ayo sini sudah ditunggu.” ujar Ibunya Clara memecah lamunanku yg kujawab dengan senyum dan mendekat kearah mereka.
“Selamat ulang tahun om.” sapaku seraya bersalaman dengan Ayahnya Clara dan memberikan hadiah yg sudah kusiapkan.
“Wah terimakasih Panji! Repot-repot segala bawa hadiah.” jawab Ayahnya Clara seraya tersenyum lebar.
“Sama-sama Om, g seberapa ko.”
“Malam tante, makasih undangannya.” sapaku lagi kepada Ibunya Clara sambil bersalaman.
“Sama-sama sayang. Ayo duduk.” sahut Ibunya Clara.
Aku pun duduk disamping Clara dan didepanku persis adalah Ayah serta Ibunya Clara.
Makan malam pun dimulai dengan welcome drink dan appetizer yg disajikan oleh para pelayan restoran.
“Om denger kamu juara tiga ya nji? Selamat yah.” ujar Ayah Clara membuka obrolan kami di sela makan malam itu yg kujawab dengan senyuman dan mengangguk.
“Tapi yg bikin om bangga kamu bisa bikin Clara masuk 10 besar. Harusnya yg juara satu itu kamu nji, karena ilmu kamu itu bukan buat kamu aja.” lanjut Ayahnya Clara bersemangat.
“Biasa om, guru olahraga sama bahasa perancis sentimen ama Panji.”
“Oh iya? Ko bisa?” tanya Ayahnya Clara penasaran.
“Mungkin karena Panji metermen.” jawabku asal bermaksud bercanda yg disambut tawa oleh Ayah dan Ibunya Clara.
“Panji malah lebih sukses lagi Pah Mah ngajarin anak kelas dua sampe juara 1, Clara mah belom ada apa-apanya.” timpal Clara tiba-tiba menyindirku dengan wajah innocentnya.
“Masa? Emang kamu ngajarin anak kelas dua juga nji?” tanya Ibunya Clara penasaran.
“Iya Tante, bantu Ibu Ida.” jawabku langsung menyebut nama Ibu Ida karena kebetulan memang Ibunya Clara mengenalnya.
“Wah kalo gitu om yakin, kalo Clara terus diajarin kamu pasti bisa lolos Kedokteran UI nanti.” sahut Ayahnya Clara yg kujawab dengan mengamininya.
“Emang Clara mau jadi dokter om?” lanjut ku tak lama kemudian karena memang selama berpacaran kemarin kami belum sempat membahas rencana kuliah jadi tidak pernah tahu dan kupikir ia akan kembali ke London menyusul kakaknya.
“Wah iya harus, kalo ga bisa lolos Kedokteran UI akan Om kirim lagi ke London bareng Kakaknya.” jelas Ayahnya Clara.
“Kalian emang ga pernah ngobrolin rencana kuliah? Ko Panji ga tau rencana Clara.” tanya Ibu Clara yg cukup membuat tersedak, bingung mau jawab apa melainkan hanya senyum dan melirik kearah Clara.
“Udah ko mah, cuma Panji emang gitu gampang lupa kalo tentang aku.” jawab Clara lagi-lagi dengan nada menyindir
Aku cukup kesal dibuatnya, daritadi Clara menunjukan sikap yg sangat tidak bersahabat dan aku yg geram pun menginjak kakinya seraya melirik tajam kearahnya. Clara terlihat menahan sakit namun tak lama setelah aku melepas injakan kakiku ke kakinya justu ia membalas langsung menginjak kakiku dengan sepatu hak tingginya yg lebih keras. Fak gumamku dalam hati seraya menahan sakit.
“Oh iya nanti pulanganya kamu bareng Panji ya sayang.” ujar Ibu Clara ditengah pertengkaran kami yg tersembunyi dan dijawab reflek oleh kami berdua.
“Hah? Ko gitu?”
“Papa dapat voucher menginap di hotel ini, sayang kalo ga dipake iya ga mah.” jawab Ayah Clara sedikit centil menggoda istrinya alias Ibunya Clara yg membuatku sedikit tertawa karena paham maksudnya, tau gitu tadi aku kasih hadiah kotak kecil isi tiga sachet yg biasa dipajang di kasir mini market gumamku dalam hati.
“Kalian kenapa kaget gitu jawabnya?” lanjut Ibu Clara penasaran seolah tak memperdulikan rayuan suaminya alias Ayahnya Clara.
“Gak mah gak apa-apa. Itu Papa apaan sih centil!” protes Clara atas sikap ayahnya yg diiring tawa kami semua.
Setelah makan kamipun berpisah dengan orangtua Clara dan berlagak saling merangkul seolah pasangan yg memang berpacaran, namun ketika orangtuanya menghilang dari pandangan untuk menaiki lift Clara segera menepis lenganku dan mendorongnya.
“Ga usah kesempatan!” sungutnya.
“Balik sono lu sendiri naik taksi!” balasku ketus yg sudah muak atas sikap Clara daritadi dan berjalan meninggalkannya kearah parkiran.
“Panji! Tega amat sih. Udah malem, nanti gue diapa-apain supir taksi ih!” protes Clara seraya mengejarku.
“Bodo!” jawabku singkat.
“Panji! Gue aduin Papa Mama nih!!” ancamnya dan membuat aku berbalik kearahnya.
“Pertama, yang minta bantua adalah elo. Kedua, yang ngajak ribut juga elo!” jawabku kesal.
“Iya maaf, makasih bantuannya. Anterin dong Kak Panji yg ganteng.” ujar Clara meniru gaya Siska.
“Tuh kan mulai lagi.”
“Iya iya becanda hehe.” jawabnya cengengesan yg membuatku ingin menyiramnya dengan formalin untuk kupajang di kamar.

Akhirnya akupun mengantar Clara pulang kerumahnya malam itu karena sebenernya aku pun khawatir jika ia pulang malam sendirian, selain itu alasan lebih jauh juga khawatirku adalah karena aku masih mencintainya.
“Kamu kalo udah ga nyaman sama aku, kenapa ga secepatnya ngomong ama Papa Mama sih ra.” ucapku membuka obrolan kami didalam mobil memancingnya berharap mendapat jawaban yg manis dari lisan Clara.
“Yg ga nyaman kan gue, lo kan ga repot. Tau beres aja sih.” balasnya jutek.
“Tapi lo nyusahin gue!” sahutku ketus atas jawabannya.
“Jangan cuma usaha pas jadian doang, udahin nya juga perlu usaha lah.” ucap Clara yg tak ku mengerti apa maksudnya.
“Bodo amat lah ra.” jawabku tak mau kalah kesal.
Tak lama kamipun sampai ke rumah Clara karena memang jaraknya tidak begitu jauh.
“Makasih Kak Panji.” ujar Clara masih dengan nada menyindir meniru gaya Siska sambil membuka pintu mobil dan keluar kearah pagar rumahnya yg sudah dibukakan oleh Mang Diman.
“Salam buat Papa Mama.” ujarku yg dijawab dengan anggukan dan melambaikan tangan.
“Salam buat Siska.” tutupnya yg membuatku ingin melempar tumpukan koin didashboardku kearahnya.
Kecantikan Clara malam itu ternyata tidak cukup untuk menutupi sifat nenek sihirnya yg sangat menyebalkan dan membuatku naik darah.

Malam itu aku tidak langsung pulang melainkan memacu mobilku kearah Tebet untuk menjemput Vina. Entah kenapa aku kangen dengannya dan tadi dijalan saat mengantar Clara yg penuh dengan pertengkaran, aku mengirimkan pesan singkat untuk mengajaknya keluar malam ini. Jika disebut pelarian mungkin ada benarnya, intinya aku butuh teman untuk meredam kekesalan atas sikap Clara belakangan ini kepadaku.
Aku pun mengajak Vina mengobrol ke Cafe didaerah Tebet yg tak jauh dari rumahnya mengingat hari sudah cukup malam
“Jadi sekarang udah berani nih ngajak selingkuhan jalan keluar?” ledek Vina dengan wajah manisnya kearahku.

Ilustrasi Vina

“Apaan sih vin, ngaco kamu!” jawabku yg memang tak pernah menganggapnya selingkuhan.
“Kamu masih berantem dung ama Clara?” tanya Vina dengan muka serius.
“Masalah apaan sih? Lama amat berantemnya.” lanjutnya lagi.
“Hasil rapot kamu gimana?” tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaan Vina tentang Clara.
“Ya lumayan lah diatas rata-rata hehe.” jawab Vina seadanya.
“Eh kamu udah pernah nyobain ini belom sih? Enak loh.” ujarku yg tiba-tiba membahas Cheese Cake pesananku setelah mencobanya. Aku pun memotong dan mengarahkannya ke mulut Vina.
“Enak sih tapi udah ah bikin gendut.” jawabnya setelah memakan suapan ku tadi.
“Kamu diet? Sejak kapan?” tanyaku sambil tertawa.
“Ko ketawa? Nyebelin banget sih!” sahut Vina protes seraya menendang kakiku dibawah meja.
“Eh aku baru nyadar kamu malem ini rapih banget dung, abis darimana?” tanya Vina heran.
“Kenapa? Malu? Takut dikira pacaran ama Sales Mobil ya?” jawabku asal.
“Emang kita pacaran?” pancing Vina.
“Coba tanya mas pelayan aja yuk.” lanjutku menuruti pancingan Vina yg ditanggapinya dengan memanggil pelayan cafe disana.
“Mas, menurut mas, dia cocok ga jadi pacar saya.” tanya Vina kepada mas pelayan seraya menunjuk diriku.
“Cocok ko mba.” jawab pelayan itu singkat mungkin karena kesal dipanggil bukan untuk memesan makanan.
“Oke mas makasih.” tutup Vina ramah yg hanya dijawab mas pelayan tsb dengan anggukan dan berlalu yg disambut gelak tawa diriku dan Vina.
“Gila kamu!” ujarku.
“Kamu yg ngajarin!” sahutnya.
“Pulang yuk sayang udah malem.” lanjut Vina mengajaku dengan wajah manjanya.
Sepanjang jalan Vina menyenderkan kepalanya ke bahuku sambil tangannya melingkar dilengan kiriku dan sesekali menciumnya. Aku yg mulai terbawa suasana pun membalas menciumi kening Vina.
Ia pun mendongakan wajahnya kearahku yg membuat jarak bibir kami semakin dekat dan akhirnya perlahan aku mulai memagut serta mengulum bibir tipisnya sebentar lalu kembali fokus menyerir kearah depan.
Sesampainya didepan rumah Vina, aku kembali mendekati wajahnya dan kami kembali berciuman. Bibirnya terus kukulum sambil sesekali ku gigit karena gemas yg membuatnya membalas mengigit bibir atas ku. Saat aku bermaksud melepaskan ciumannya, Vina merangkul kepalaku dan menahannya agar terus melanjutkan pagutan bibir ini.
Lidahku pun mulai bermain menelusuri bibir dan saling melumat lidah masing-masing. Lalu Vina menutup ciuman ini dengan mengecup lembut bibirku. Saat membuka matanya, ia menatapku cukup lama.
“Kenapa vin?” tanyaku heran.
“Aku bingung dung ama perasaan aku. Aku harusnya seneng kamu berantem ama Clara, bisa jadi kesempatan aku buat ngambil hati kamu lagi. Tapi jujur ngelihat kamu yg berpura-pura semua baik-baik aja padahal didalammu hancur. Aku ikutan sedih dung, aku ikut sakit kalo kamu sakit.”
“Pas kamu lagi bahagia ama Clara, aku harusnya sedih. Tapi jujur lihat kamu seneng jalanin hidup kamu, aku ikut seneng dung.”
“Aku ga mau lagi ngejar kamu, aku cuma mau nunggu dan selalu ada disaat kamu perlu. Berharap nanti kamu sadar kalo perasaan sayang aku ke kamu lebih besar dari rasa sayang Clara ke kamu.” ujar Vina malam itu dengan mata yg berkaca-kaca namun tidak menangis, ia justru tersenyum.

Malam itu aku membuat kesepakatan dengan hatiku, untuk belajar menghilangkan perasaan kepada Clara yg sudah tidak dibutuhkannya dan memulai mencoba menggali lagi rasa cinta terhadap Vina yg dulu sempat ku kubur. Beri aku waktu vin, meski aku sendiri tidak yakin bisa atau tidak.

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 13 | Ketika Kita Muda Part 13 – END

(Ketika Kita Muda Part 12)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 14)