Ketika Kita Muda Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 12

Start Ketika Kita Muda Part 12 | Ketika Kita Muda Part 12 Start

Brake up

Mata Clara yg berkaca-kaca sambil tersipu malu menyudahi cerita panjangnya siangnya itu, ia memukul badanku pelan karena mungkin gengsi telah menceritakan semua pengakuan cintanya terhadapku.

Ilustrasi Clara

“Aku malu bo ngaku ini ke kamu.” ucapannya saat itu yg hanya bisa kujawab dengan senyum simpul.
Cerita Clara hanya membuatku semakin merasakan sesak diuluh hati karena perasaan bersalah. Sungguh ia mencintai sosok Panji yg sempurna, namun Panji yg ia cintai bukanlah diriku melainkan khayalanya. Aku tidak sebaik imajinasi Clara, apalagi kenyataan bahwa aku sama biadabnya dengan Uncle Tom atau Dicky mantanya.
“Bo?” sapa Clara mencoba menyadarkanku dari lamunanku.
“Eh iya ra? Maaf.” sahutku singkat seraya membelai rambutnya.
“Kamu kenapa?”
“Gapapa ra.”
“Gantian sekarang kamu cerita semua yg aku ga tau tentang kamu.” pintanya dengan wajah manis dan seolah berharap keluar cerita romantis yg sama dari lisanku.
Pendirianku sudah teguh saat itu, aku tidak mau Clara mencintai khayalannya. Aku melakukan ini justru karena aku sangat mencintai Clara sehingga ia harus tau semua kebobrokan diriku.
“Ra.” ucapku dengan nada yg lembut.
“Apa sayang?” jawabnya dengan mendekatkan wajahnya kearahku.
“Aku bukan Panji yg kamu cintai.” aku sedikit menarik nafas untuk meyakinkan keputusanku, lalu memulai kembali ucapanku disaat Clara mulai mengkerutkan dahinya karena penasaran.
“Panji yg sekarang dihadapan kamu sama sekali berbeda dengan yg tadi ada diceritamu. Aku sama brengseknya dengan Uncle Tom yg kamu benci. Aku sama brengseknya dengan Dicky yg juga kamu benci. Aku sudah pernah meniduri wanita karena mengambil kesempatan saat ia lemah. Aku adalah cowo brengsek yg jauh dari bayanganmu tentang kebaikanku.” ucapku menyelesaikan kalimat tersebut sambil memejamkan mata. Aku sekali lagi mengambil nafas panjang untuk mempersiapkan telinga ini menerima makian atau hinaan dari Clara. Saat aku perlahan membuka mata, Clara menatapku nanar sambil menutup mulutnya karena mungkin shock atas apa yg baru saja ia dengar dari lisanku.
“Ra..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku ia langsung mengusirku.
“Get away from me!”
“Get away from here!”
“Pergi dari hadapanku nji!”
Mendengar kata terakhir Clara yg memanggilku dengan sebutan nji, aku paham bahwa hubungan ini telah berakhir. Aku bangkit dari gazebo dan berjalan meninggalkan Clara yg sepertinya menangis. Ingin sebenernya memeluk tubuh Clara, menenangkannya tapi aku sudah tidak pantas melakukan itu.
“Forgive me, for disappointing you. Thanks for your amazing love ra.” ucapku berpamitan dengan Clara.
Terimakasih untuk tiga bulan yang menyenangkan.

Sebelum pulang aku sempat menelepon Helen dan memintanya untuk segera kerumah Clara karena kupikir ia sekarang sangat butuh teman tanpa menceritakan kejadian tadi. Lalu setelah itu aku berpamitan dengan Mang Diman dan melajukan motorku melewati gerbang rumah Clara, yg padahal rumah tersebut baru saja pertama kali kumasuki hari itu dan mendapat sambutan hangat dari keluarganya namun di hari itu juga aku harus meninggalkan rumah Clara yg mungkin tidak akan pernah lagi bisa kembali kesana.
Aku mengarahkan motorku tanpa tujuan, pikiran ku kosong. Hatiku perlahan mulai menunjukan rasa sakit fisik seperti sesak dan nyeri, atau memang begitu sakitnya menerima kenyataan berpisah dengan Clara sehingga hipotalamus dalam otaku mengirimkan sinyal kepada seluruh saraf sensorikku untuk memproduksi hormon rasa sakit.
Pipiku terasa basah, aku tak percaya air mataku jatuh. Pria macam apa yg siang hari panas terik tidak ada hujan namun pipinya basah. Tapi tidak ra, aku tidak malu. Kamu adalah wanita yg memang pantas untuk ku tangisi ketika kehilanganmu. Bagian terburuknya adalah aku kehilanganmu karena kesalahanku sendiri.
Bisakah hari ini aku berharap Rian kembali dibelakangku bersama geng motornya dan memukul ku lagi hingga babak belur, jika perlu stik baseball itu memukul kembali tengkorang belakangku lebih keras sampai aku lupa ingatan agar tak perlu lagi mengingat kenangan indah bersamamu ra gumamku dalam hati.
Setelah berjalan tanpa arah hingga sore hari, aku pun memutuskan untuk pulang kerumah yg langsung disambut Ayahku.
“Tumben kau sudah pulang?” sapanya ketika aku datang namun hanya ku balas dengan salam.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Tak kau jawab rupanya pertanyaanku.” sahut Ayahku protes.
Aku berjalan menaiki tangga langsung menuju kamarku, menguncinya dan membantingkan tubuhku diatas kasur lalu memejamkan mata. Aku berdoa semoga hari ini hanya mimpi.

Setelah lama terlelap mataku terbuka sambil mengumpulkan kesadaran dan mencari handphone untuk mencari tahu jam berapa sekarang yg ternyata sudah semalaman aku tidur. Aku bangkit dari kamarku dan berjalan kebawah menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Tak lama terdengar suara bel berbunyi, menyadari kondisi rumah sepertinya tidak ada orang aku pun berjalan kearah luar untuk membukakan pintu. Kemana ayah dan ibu gumamku dalam hati.
Saat kubuka ternyata Helen yg berdiri didepan pintu rumahku.
“Helen, darimana pagi-pagi.” sapaku yg heran melihatnya.
“Clara dari semalam ngunci diri di kamar ga mau makan. Please nji bantuin.” ujarnya tanpa basa-basi.
Aku cukup lama terdiam sebelum merespon permintaan Helen.
“Len, lo tau ga Clara begitu karena gue? Lo salah alamat kalo nyuruh gue yg menghibur.” jelasku kepada Helen.
“Bodo amat Panji! Clara ga ngomong apa-apa dari semalem, gue ga ngerti lo berdua ada masalah apaan dan gue ga peduli. Yg gue peduli lo harus balikin Clara kaya dulu lagi.” pinta Helen dengan nada mulai menangis.
“Sori len, kali ini gue ga bisa bantu. Lo sahabatnya, harusnya lo yg lebih paham Clara dibanding gue.” jawabku yg masih tetap menolak permintaannya.
“Tega lo nji.” hardik Helen seraya pergi meninggalkan rumahku dengan mobilnya.
Setelah itu aku pun menelepon Angga untuk meminta maaf apabila Helen nanti mengadu atau mengeluh tentangku kepadanya.
“Ada apaan emang nyet?” tanya Angga ditelepon.
“Untuk yg kali ini sori ngga, gue ga bisa cerita. Itu aja makasih ya.” ujarku seraya menutup telepon dengan Angga. Aku menghela nafas panjang dan kembali ke kamarku.

Hari seninnya Clara masuk sekolah seperti biasa, meskipun aku tidak tahu pasti tentang kabarnya. Melihat kearahnya saja aku sudah tidak berani.
Sejak saat itu hubunganku dengan Regas dan Angga pun menjadi sedikit renggang, aku sengaja membuatnya begitu mengingat Angga dan Helen masih berpacaran yg membuat mereka masih selalu bersama termasuk Regas, Clara dan gengnya di kantin saat jam istirahat. Jika aku masih bersama Regas dan Angga, aku khawatir Clara akan menjauh dari Helen atau bahkan yg paling parah Helen menjauh dari Angga. Biarlah aku saja yg keluar dari circle mereka.
Aku tetap melanjuti kegiatan mengajar anak kelas dua di sisa satu minggu menjelang Ujian Semester 1. Siska sendiri masih suka menggodaku tapi sepertinya ia mulai sedikit bosan, mungkin kehilangan Clara untuk diajak berantem. Ditambah siapapun yg melihatku saat itu seperti mayat hidup, tidak akan ada yg tertarik mengajaku berbicara, bahkan bisa dibilang raut wajahku cukup menakutkan. Secara fisik sebenarnya normal, aku tetap makan dan minum seperti biasa hanya saja tatapanku kosong.

Aku yg sedang melamun didepan ruang tamu sekolah menunggu Ibu Ida untuk mengambil buku bank soal yg mau ia pinjamkan padaku sebagai tambahan bahan ajar anak kelas dua saat itu tiba-tiba dikejutkan oleh sapaan seorang wanita paruh baya yg baru minggu lalu kukenal, ya Ibunya Clara.
“Panji.”
“Eh siang tante.” sapa ku mencoba tetap ramah seperti tidak ada masalah dengan anaknya.
“Kamu ga sama Clara?” tanyanya kepadaku yg hanya kujawab dengan senyuman sambil menggelengkan kepala.
“Tante abis darimana?” tanyaku membalas obrolan Ibunya Clara.
“Abis bayaran sekolah sekalian ketemu Ibu Ida, kamu kenal?” balasnya menjawab pertanyaanku.
“Kenal ko, ini juga Panji lagi nungguin Ibu Ida tan.” sahutku.
“Oh iya kebetulan ketemu kamu nji, tadi kan Ibu Ida membahas nilai Clara yg mulai membaik. Tante harap kamu terus bantu Clara yah, apalagi minggu depan kan kalian Ujian Semester. Pokoknya kalo mau belajar dirumah juga boleh. Tante ama Om dengan senang hati menjamu kamu. Kami senang kalian ini pacaran tapi justru saling dukung untuk mendapat nilai yg baik. Beruntung Clara punya kamu nji.”
“Kalo gitu Tante pamit dulu ya nji, ditunggu loh dirumah.” lanjut Ibunya Clara yg kujawab dengan senyuman seraya mengangguk perlahan dan mobilnya pun tak lama berlalu dari pandanganku.
Mengetahui Clara tidak atau belum cerita sama sekali ke Ibunya membuatku segera merubah jalan pikirku. Aku pun berlari kearah kelas dan melupakan buku yg ingin kupinjam ke Ibu Ida.
Sesampainya di kelas dengan kondisi yg masih ngos-ngosan mataku segera mencari Clara, dan seperti biasa ia duduk bersama Helen di bangkunya. Aku pun berlari kearah mereka berdua.
“We need to talk ra.” ujarku sambil mengatur nafas.
Clara memandangku sesaat dengan tatapan yg sangat tidak bersahabat dan menjawab dengan datar.
“Ngomong aja.”
“Mulai besok jam istirahat kedua, kita ke perpus lagi ya lanjutin bimbingan yg sempet berhenti.” pintaku kepada Clara yg membuat ia mengerutkan dahinya.
“Siapa lo ngatur-ngatur gue?” jawabnya ketus.
“That’s an order no complaint.” sahut ku dan berbalik badan untuk kembali ke bangku ku karena tak ingin berdebat dengan Clara.
“Whatever!” jawabnya tak peduli.

Keesokan harinya di jam istirahat kedua aku menunggunya di perpustakaan namun Clara tak kunjung menunjukan batang hidungnya, selang 15 menit aku pun bangkit menuju kantin karena yakin Clara sedang disana dan tebakanku benar.
“Aku nungguin kamu daritadi di perpus.” ujarku langsung to the point kepada Clara.
“I don’t care. I already told you.” jawab Clara dengan wajah yg sangat jutek.
“It’s not about me, it’s about you. Your parent ask me to..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku Clara bangkit dan menaikan nada bicara.
“How dare you talk about my parent!” seraya bangkit meninggalkan kantin.
Aku mengejar Clara meski sempat tanganku dicegah oleh Helen, namun aku meminta Helen untuk melepaskan tangaku dan ia pun menuruti.
“Ra tunggu.” sahutku sambil berlari mengejarnya dan Clara pun menghentikan langkahnya.
“Please jangan bikin gue malu di sekolah, sekali lagi lo maju ngikutin gue, gue teriak.” ancamnya yg membuatku berhenti melangkah mendekatinya.
“Ra, please ijinin aku buat bantu nilai kamu. Kamu boleh benci ama aku ra, tapi kasih aku kesempatan untuk bikin kamu tetep di Jakarta.” ujarku lirih memohon kepada Clara, ya itu alasanku tiba-tiba mengajak Clara kembali belajar karena aku tidak ingin ia dikirim kembali ke London dan tinggal bersama Uncle Thomas. Namun seakan tak peduli, Clara melanjutkan langkahnya meninggalkanku tanpa sepatah katapun.
Hari kedua aku tetap menunggunya di perpustakaan saat jam istirahat kedua seperti biasa namun lagi-lagi Clara tidak datang. Hari ketiga dan keempat Clara pun sama tidak juga datang ke perpustakaan menemuiku yg selama satu jam menunggunya bahkan aku selalu mengirim pesan singkat kepada Clara bahwa aku menunggunya di perpus namun tak dibalasnya.
Hari jumat, hari terakhir menjelang Ujian Semester aku masih menunggunya di perpustakaan dan berharap Clara datang namun yg muncul adalah Regas dan Angga.
“Udah jam 2 nyet, sekolah udah bubar guru-guru pada rapat buat persiapan Ujian Semester. Ayo balik.” ajak Regas sambil menepuk pundaku yg kujawab dengan tatapan kosong sambil menggelengkan kepala.
“Clara juga udah pulang nyet, lo nungguin siapa?” ujar Angga menginformasikan bahwa sudah tidak ada lagi yg perlu aku tunggu.
“Kalian pulang duluan aja, gue masih mau disini.” jawabku singkat dan mereka berdua pun pamit dari hadapanku.
Aku menatap dalam bangku didepanku, bangku yg dulu menjadi tempat Clara duduk saat belajar bersama di perpustakaan. Bangku yg diakui Clara menjadi bangku favoritnya karena bisa sejam penuh melihatku serius mengajarinya, mendengar ocehanku dan memainkan pulpennya untuk mencoret coret tanganku.
Aku ingat satu obrolan kami beberapa bulan lalu yg membuatku sulit lupa, saat aku heran melihat ia menatapku sambil senyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?” tanyaku ditengah pembahasan matematika aljabar kepada Clara.
“Gak apa apa.” jawabnya cengengesan.
“Apa yg lucu? Cowo mu mirip badut? Atau bawel kaya emak-emak?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
“Aku lagi mikir, anaku nanti beruntung banget yah punya Papa yg pinter kaya kamu. Aku bisa hemat g perlu ngeluarin uang untuk bimbel, bisa buat aku shopping hihihi” jawabnya centil yg membuatku menggelengkan kepala, khayalan Clara jauh sekali. Anak? Menikah aja tidak terbesit dalam pikiranku. Kita masih berseragam putih abu bagaimana mungkin berpikir kearah menikah, namun hal itu membuatku sangat rindu terhadap Clara.

“Dung?” tiba-tiba aku mendengar sapaan yg sudah tak asing memecah lamunanku saat itu.
“Eh vin.” jawabku singat.

Ilustrasi Vina

“Kamu ngapain sendirian? Belum pulang?” tanyanya yg hanya ku jawab dengan menggelengkan kepala.
“Clara mana?” tanya Vina sambil menengok ke kanan kiri mencari sosok yg ia tanya.
Vina menatapku lagi seolah meminta jawaban atas pertanyannya yg hanya kujawab dengan menaikan pundak ku.
“Lagi berantem ya.” sahutnya yg mungkin bisa menebak dari caraku merespon pertanyaannya tentang Clara.
Vina tertawa kecil yg membuatku mengerutkan dahi karena penasaran.
“Kamu ketawa kenapa?” tanyaku.
“Aku pikir kamu kalo lagi ngambek ngomongnya irit tuh cuma sama orang yg kamu ambekin. Ternyata semuanya kena ya? Hahaha.” jelasnya sambil melanjutkan tertawa.
“Enak aja.” jawabku menimpali.
“Berantem kenapa sih dung?” tanya Vina seraya duduk didepanku seolah siap mendengarkan ceritaku.
“Biasalah.” jawabku sekenanya.
“Samperin kali dung, aku yg bukan siapa-siapa aja begitu ngambek kamu samperin. Masa pacar sendiri dicuekin.” sahutnya sambil mengambil pulpen ditanganku dan menulis sesuatu ditanganku.
Aku berpikir sejenak tentang ucapan Vina, ada benarnya mengapa harus menunggu jika aku bisa mendatanginya.
“Udah sana jalan.” pintanya sambil melemparkan senyum manis yg kujawab dengan mengangguk yakin.
“Doain ya vin.” ujarku seraya pamit.
“Hati-hati dung.” jawabnya sambil melihatku penuh arti. Terimakasih vin, maaf selama ini selalu salah menilaimu.

Aku berlari menunju parkiran dan segera menaiki motorku untuk melaju kearah rumah Clara. Ditengah jalan saat lampu merah, aku melihat coretan pulpen bekas Vina dilenganku.
“I belong to you.”
Apaan lagi ini gumamku dalam hati. Ah sudahlah aku sedang tidak ingin memikirkan sesuatu diluar Clara.

Sesampainya disana aku disambut oleh Mang Diman yg mempersilahkanku masuk.
“Non Claranya belum pulang den, mungkin masih les.” ujarnya ramah ketika aku baru selesai memarkirkan motorku di teras rumah Clara sambil melepas helm.
“Gak apa-apa Mang Diman, saya tunggu disini aja.” jawabku sambil tersenyum kearahnya.
“Mau dibuatin minum apa den?” lanjutnya menawarkan kepada ku yg kutolak karena aku belum haus.
“Gampang nanti saya panggil Mang Diman kalo butuh minum, saya nunggu di kursi depan teras aja.” jawabku yg dibalas Mang Diman dengan mengangguk dan meninggalkanku sendiri.
Sambil menunggunya aku memainkan anjing peliharaan Clara, sejenis Chihuahua berbulu putih coklat kecil sangat lucu yg diberi nama Choco. Sarung tanganku habis digigitin oleh Choco selama kurang lebih sejam yg keliatan sangat senang kuajak bermain namun tak lama ia mengonggong kearah pagar dan benar saja tuannya sudah datang, ya Clara dengan jazz hitamnya memasuki garasi rumahnya yg dibukakan oleh Mang Diman. Aku pun bangkit berdiri untuk menyapanya namun lebih dulu disapa atau lebih tepatnya dimaki Clara yg baru turun dari mobil dan berjalan kearahku.
“Ngapain lo kesini? Belum puas gue usir di sekolah?” sapa Clara dengan sangat ketus.
“Please ra kasih aku kesempatan ngomong.” ucapku memohon namun bukannya menjawab permintaanku Clara malah memanggil Mang Diman.
“Papa sama Mama sudah pulang?” tanya Clara pada Mang Diman.
“Bapak tadi sempat pulang non, tapi ga lama jalan lagi katanya ada dinner meeting. Kalo Ibu ama Bi Tuti belanja buat makan malam.” ujar Mang Diman menjelaskan.
“Oh oke mang, makasih.” jawab Clara manis sambil mempersilahkannya untuk kembali melanjutkan aktifitasnya.
“Mau ngomong apalagi sih? Buruan sebelum Nyokap datang. Gue ga mau Nyokap sampe ketemu lo lagi, belom punya alasan buat ngusir.” jelasnya kepadaku sangat judes tapi aku memakluminya.
“Oke ra, aku g ada maksud untuk mencoba mendekati kamu lagi atau memohon kembali hatimu.”
“Siapa juga yg mau.” potongnya dengan wajah yg menoleh kearah lain seolah tak mau mendengarkan ucapanku.
“Aku cuma mau bantu kamu memperbaiki nilai kamu, supaya kamu ga disuruh balik lagi ke London dan tetap di Jakarta.”
“It’s not your business dude.” celetuknya lagi.
“Kalo pun kamu udah ga mau lagi ketemu aku, aku udah siapin ini buat kamu.” lanjutku sambil mengambil buku ditasku.
“Please dibaca. Ini estimasi ku tentang soal yg akan keluar di Ujian Semester. Ga bakal 100% sama tapi ya aku yakin 60-70%, sisanya hanya tipe soal-soal yg biasa kamu kerjakan setiap hari di perpus. Aku yakin ini bisa membantu kamu. Kalo ada yg mau kamu tanya atau g paham, just call me. Aku siap 24 jam jelasin.” ucapku menutup penjelasanku.
Ya selama hampir seminggu di perpustakaan menunggu Clara, aku membuat catatan tentang perkiraan soal yg akan keluar nanti. Itu adalah kebiasaanku setiap ujian, entah mengapa aku bisa membaca pola soal yg dibuat oleh Dinas Pendidikan. Perbedaan paling hanya di angka detail soal itu sendiri, tapi masalah sub bab aku yakin 70% akan sama. Aku membuatnya khusus untuk Clara agar bisa digunakannya belajar sendiri apabila menolaku untuk kembali mengajarnya yg tentu perkiraanku benar adanya.
Clara pun mengambil buku itu dan memintaku untuk pergi dari rumahnya.
“Anyway, makasih catetannya.” jawabnya saat aku menaiki motorku dan kujawab dengan senyum seraya mengangguk.
Setelah itu Clara sama sekali tidak pernah menghubungiku, Ujian Semester ku lewati tanpa pernah berbicara ata sekedar bertegur sapa dengan Clara.
Aku pun selama seminggu itu setelah selesai ujian langsung pulang kerumah, beberapa kali Regas dan Angga mengajaku kumpul sambil belajar namun aku tolak.

Ujian Semester pun berakhir, sekolah kami memasuki minggu bebas dimana diisi dengan kegiatan Class Meeting yaitu kompetisi olahraga antar kelas yg wajib diikuti oleh seluruh kelas.
Kelas unggulan IPA 1 terkenal paling payah dalam hal ini, biasanya hanya aku Regas dan Angga yg akan jadi korban mempermalukan kelas dan diri kami sendiri karena teman sekelas kami yg lain selalu menolak dengan alasan tidak bisa atau apapun. Kalo sudah seperti itu aku Regas dan Angga akan maju sebagai volunteer meski kami tidak bisa bertanding.
Seperti sekarang, kami ditengah pertandingan Basket 3 on 3 melawan anak kelas 2 Sosial 3. Kami seperti badut yg hanya dipermainkan oleh mereka, skor kami tertinggal jauh 22-2. Kami hanya menjadi bahan tertawaan, biasanya kalo sudah seperti itu Regas tidak akan serius bertanding melainkan hanya melawak dengan melakukan kesalahan bodoh yg membuat penonton tertawa. Pertandingan pun berakhir dengan kekalahan telak untuk kelas kami 30-2.
Selesai pertandingan kami duduk di selasar kelas 3 IPA 1, Helen dan Clara menghampiri kami dengan membawa beberapa botol minum. Clara mendekat kearahku dan untuk pertama kalinya setelah seminggu ini ia menyapaku meski sebenarnya hanya menawarkan minuman.
“Minum nji.” tawarnya yg langsung kuambil sambil menatap wajahnya yg selalu terlihat cantik.
“Makasih ra.”
Tanpa membalas ucapan terimakasih ku ia pun kembali berjalan kearah Helen dan duduk disebelahnya sambil mengobrol dengan Regas dan juga Angga.
“Pulang sekolah kita nongkrong yuk di TB!!” ajak Helen kepada kita semua yg dijawab Regas dengan semangat.
“Angga treat us!! Udah tiga bulan jadian belom nraktir.” ujarnya yang langsung dikeplak oleh Angga diikut oleh tawa oleh Clara dan Helen.
“Udah sih beb traktir, bener tau kamu belom traktir.” sahut Helen mengamini permintaan Regas.
“Lah si kampret aja belom nraktir.” ujar Angga sambil menunjuk kearahku dan begitu nyadar becandaan Angga tidak pada tempatnya ia pun langsung diam.
“Eh sorry.” lanjutnya pelan, kami semua hening. Aku pun hanya menenggak habis botol minum ditanganku.
“Ya udah sana pada ganti baju, abis itu langsung ke TB.” seru Helen memecah keheningan.
“Gue balik yah.” jawabku menolak ajakan Helen, aku masih tidak mau merusak suasana hati Clara dengan keberadaanku.
“Yah ko pulang nji? Ikut napa, udah selesai ujian masa masih mau belajar.” sahut Helen.
“Ga ikut, gue buka semua kartu lo nyet.” ancam Regas sambil merangkulku dari belakang seraya tangnnya melingkar dileherku kuat untuk mencekik.
“Ga mau ikut UN kayanya si kamret.” tambah Angga memanasi Regas untuk terus menyiksaku dengan cekikannya.
“Fak sakit kampret.” protesku kepada Regas karena kesakitan yg tak dihiraukannya.

Kami pun sekarang berada di Cafe TB, setelah Regas dan Angga berhasil menariku masuk kedalam mobil Angga sesaat sebelum aku menaiki motorku untuk pulang.
Aku mengambil posisi duduk disamping Regas sedangkan Angga Helen dan Clara yg disebrang posisi duduk kami dipisahkan oleh meja. Aku sengaja mengambil posisi jauh dari Clara untuk mengurangi rasa badmoodnya yg mungkin timbul karena keberadaanku disini.
Kami semua hanya memesan minuman dan beberapa cemilan sambil mengobrol, aku lebih banyak diam dan mendengarkan bahkan rasanya jiwaku tidak berada disana.
Sesekali Regas melontarkan beberapa humor yg disambut gelak tawa oleh yg lain namun aku hanya merespon dengan senyum simpul.
“Eh liburan nanti kita jalan yuk berlima.” ajak Helen tiba-tiba yg membuat Angga dan Regas mendadak semangat.
“Kemana kemana?” tanya Angga penuh antusias.
“Jogja yuk, ke kampung gue.” usul Regas yg ditampung oleh Helen.
“Boleh, ada usul lain. Nona cantik mau kemana? Biar ga murung terus.” tegur Helen kepada Clara seraya mencubit pipinya.
“Aduh sakit enci!” protes Clara kepada Helen.
“Gue nunggu nilai dulu, kalo jelek manalah mungkin diijinin.” lanjut Clara menimpali usul Helen.
“Pasti bagus! Kan udah dikasih buku ajaibnya Panji. Pokoknya rencanain dulu aja mau kemana! Tinggal Jalan nanti.” jelas Helen.
“Eh ke Pulau Belitung aja yuk. Kakak gue kmaren abis dari sana, keren banget. Kita ambil paket trip dari travel jadi tau beres.” usul Angga yg langsung disambut antusias oleh Helen, Regas bahkan Clara.
“Mauuuuuu.” ucap Clara dengan nada manjanya.
“Yeay fix lengkap berlima on vacation!!” sahut Regas semangat.
“Jangan itung gue.” jawabku menimpali yg langsung merusak kebahagiaan Regas.
“Kampret!” ujarnya seraya memukul kepalaku.
“Panji daritadi ga asik nih!” protes Helen.
“Sikat bleh.” perintah Angga kepada Regas yg berakhir denga cekikannya lagi dileherku.
“Terus gas! Sampe Panji bilang mau.” sahut Helen menyemangati Regas.
Kampret gumamku dalam hati. Kenapa sahabatku tak ada satupun yg paham akan kondisiku dengan Clara, kehadiran ku akan merusak liburan Clara dan aku tak mau itu terjadi. Sudah cukup aku membuatnya kecewa dan selalu menangis. Tak lama aku merasa handphoneku bergetar tanda pesan masuk karena hanya sekali.
Akupun meminta Regas untuk melepaskan cekikannya namun tak digubris.
“Iya dulu ga?” ancam Regas.
“Fak! Bentar ini ada telepon.” jelasku berbohong agar Regas melepaskan cekikannya dan ia pun akhirnya memberi nafas.
Aku segera mengambil handphone lalu setelah ku baca cukup membuatku kaget.

1 Pesan dari Clara

Aku menoleh kearah Clara sebelum membacanya, namun ia sedang memalingkan wajahnya kearah lain. Begitu kubuka isinya membuatku mengerutkan dahi.

“Ikut aja nji.”

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 12 | Ketika Kita Muda Part 12 – END

(Ketika Kita Muda Part 11)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 13)