Ketika Kita Muda Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 11

Start Ketika Kita Muda Part 11 | Ketika Kita Muda Part 11 Start

Narasi Clara: Fallin Love

Namaku Clara Anastasya biasa dipanggil Clara, suka anjing tapi takut kucing, suka coklat tapi takut gendut. Umurku 18 tahun, sekarang sedang duduk di bangku kelas tiga di salah satu sekolah SMA favorit di Jakarta.

Ilustrasi Clara

Aku punya pacar namanya Panji Darmawan, ia tidak sekeren artis Mandarin tapi dimataku lebih dari cukup untuk membuat keturunanku nanti mirip Primus Yustisio jika menikah dengannya. Aku mengenal Panji sejak kelas dua SMA, saat itu sekitar satu tahun yg lalu aku masuk sebagai anak baru pindahan dari St Augustine High School London dan ditempatkan di kelas 2 IPA 1 sekelas dengannya. Predikat sebagai pindahan dari London tersebut sejujurnya membuatku risih, karena setiap aku berkenalan dengan teman-temanku mereka hanya penasaran tentang Inggris, Bule dan kehidupan disana bukan karena personal atau kepribadian diriku. Meskipun begitu aku tak bisa banyak protes daripada aku tidak punya teman sama sekali.
Aku pindah dari London karena Ayahku memulai bisnis pertambangannya di Kalimantan, karena tidak mungkin mengajak aku dan keluargaku untuk hidup di Kalimantan akhirnya Ayah memutuskan untuk pindah ke Jakarta biar dia yg pulang-pergi ke Kalimantan katanya.
Aku punya Kakak seorang cowo, hanya berbeda 2 tahun dariku namanya Gio. Gio tidak ikut pindah ke Jakarta bersama kami karena usia ia saat itu sudah 19 tahun, sehingga memiliki kebebasan untuk memilih dan tinggal mandiri disana sekaligus melanjutkan kuliah di Birmingham University jurusan Hukum. Aku cukup iri mengapa hanya aku yg harus ikut pindah ke Jakarta, namun hal itu tidak berlangsung lama setelah akhirnya betah di Jakarta dan jatuh cinta dengan pacarku Panji.

Aku ingat pertama kali bagaimana mengenal Panji, hari itu ditengah pelajaran Biologi, Pak Ito guru kami yg terkenal galak membagi kelompok berisi dua orang dan aku kebagian satu kelompok dengan cowo yg bernama Panji Darmawan.
Kesan pertama melihatnya ia cukup ramah, dengan gaya rambut pendek rapih dan wajah putih bersih yg awalnya kukira ia berdarah Minang atau Padang tapi sulit dipercaya jika ternyata ia keturuan Jawa asli. Pokoknya kalo kalian sendiri melihat Panji, dia itu ga punya bakat buat jadi orang jawa. Jangan bilang-bilang Panji tapi ya.
Aku terkesan dengan cara begaulnya, selama kerja kelompok bareng Panji sama sekali tidak pernah menyinggung soal kehidupan ku di London. Ia hanya membahas pelajaran dan beberapa hal lucu tentang sekolah yg membuatku tertawa.
Panji kuakui sangat menonjol dalam pelajaran tapi diluar kebiasaan anak-anak pintar lainnya, ia mau mengajari tanpa terlihat menggurui. Ia pun sangat sabar dalam mengajariku beberapa Glosary dalam ilmu praktikum Biologi, memberi tip mengahafal cepat anatomi mahluk hidup dan bahkan diluar itu kadang ia bersedia mengajariku menyelesaikan beberapa PR Fisika atau Matematika dengan cara unik yg menurutku lebih mudah dari yg guru ajarkan.
Diluar sifat baiknya, ia tetap punya sifat menyebalkan yg membuatku geregetan dengan dirinya. Ia memperlakukan semua temannya sama, jadi bukan hanya aku yg ia bantu dalam pelajaran tapi siapa saja yg memintanya pasti ia bantu artinya aku tidak lebih special dibanding temannya yg lain. Lalu yg paling menyebalkan adalah meski ramah Panji sebenarnya sangat dingin dalam memperlakukan wanita, ia tak pernah mencoba mencari kesempatan untuk terlihat lebih dekat, atau apapun yg dilakukan cowo normal seusianya terhadap cewe untuk punya hubungan lebih dari teman, becanda pun hanya sewajarnya tak pernah kearah gombal. Atau itu semua memang karena aku tidak menarik untuk dijadikan lebih dari teman di mata Panji? Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menebak isi hatinya dan itu membuatku kesal karena penasaran. Ya aku penasaran ia menyukaiku atau tidak karena aku menyukainya, aku menyukai Panji. Aku kesal begitu menyadari perasaanku saat itu.
Hatiku terenyuh dengannya saat ia memberikan hasil praktikum kawin silang tanamannya yg sukses, untuk ditukar dengan hasilku yg gagal. Saat itu ia bilang, nilai buatnya tak penting karena yg penting ia sudah paham pelajarannya. Sedangkan alasan ia menukar dengan miliku, karena tau Pak Ito akan memberikan hukuman tugas tambahan bagi yg gagal jadi buatnya ia merasa tanggungjawab tidak mengingatkanku memberikan pupuk selama masa pengamatan tanaman. Tentu sikap gentlenya saat itu membuatku ingin melompat kegiarangan karena meleleh akan kebaikannya. Ia berhasil membuat rasa penasaranku berubah menjadi cinta. Semenjak hari itu pikiranku dipenuhi oleh dirinya.
Sayangnya kedekatanku dan Panji tidak berlangsung begitu lama hanya beberapa bulan. Seperti yg Panji sudah ceritakan, aku pernah mengajaknya mengobrol ditengah praktikum Biologi untuk mencari perhatiannya tapi ia malah asik dengan Kataknya. Aku kesal dan terus mengajak mengobrol untuk memperhatikanku dan akhirnya ia menyerah lalu kami asik mengobrol hingga bercanda yg membuat Pak Ito menghukum kami berdiri di tiang bendera. Aku heran kenapa ia masih saja dingin denganku yg padahal sudah kegeeran dan dibuat jatuh cinta dengannya, bahkan yg lebih parah sejak hari itu malah ia tak pernah lagi mengajaku berbicara.
Aku menunggu, terus menunggu dan lama menunggu kapan ia akan menyapaku lagi atau mengajaku ngobrol serta bercanda lagi tapi tak ada satupun yg dilakukan olehnya.

Disaat yg kalo anak sekarang bilang “galau” tentang hubunganku dengan Panji, seorang Kakak Kelas bernama Dicky mendekatiku. Ya yg benar namanya Dicky bukan Kiki, Ayahku salah ucap tapi ga penting juga sih.
Seperti yg Panji juga sempat singgung diawal cerita, Dicky ini ketua karate, aku akui dia tampan dan gayanya yg saat itu mirip artis mandarin didukung fisik yg memang keturunan Cina membuatnya menjadi idola siswi-siswi di sekolahku. Tapi buatku tetap saja Panji jauh lebih menarik dibanding cowo ganjen bernama Dicky.
Dicky hanya mendekati ku beberapa hari yg juga tidak begitu kurespon namun sudah menyatakan perasaannya dan memintaku menjadi pacarnya. Sungguh berbeda dengan Panji, ia sama sekali tidak membuatku berada di fase penasaran apalagi suka kepadanya. Namun sekali lagi yg menyebalkan adalah teman-temanku sangat mendukung hubunganku dengan Dicky, mereka bilang popularitas Dicky dan aku akan membuat kami menjadi pasangan paling fenomenal seantero sekolah. Mendapaat paksaan dari teman-teman terutama Helen yg bilang untuk menerima saja menjadi pacar Dicky, akhirnya akupun menerimanya.
Selama berpacaran dengan Dicky, ia sering memintaku untuk bolos bimbel dan diajaknya jalan-jalan entah itu nonton ke bioskop atau hanya sekedar ngobrol berdua di Cafe. Ia juga selalu mengantarku berangkat dan pulang sekolah dimana sejak berpacaran dengan Dicky aku sudah tak lagi membawa mobil ke sekolah yg saat itu aku beralasan ke Ayah dan Ibuku ikut nebeng mobil Helen.
Dicky juga sering memberikan kejutan kecil setiap harinya dengan hadiah coklat atau bunga yg selalu berada diatas mejaku saat pagi. Pokoknya tipe cowo penggombal yg memang dimata anak-anak SMA saat itu sangat romantis. Lama kelamaan hatikupun luluh juga dengan sikap gentle Dicky dan mulai melupakan Panji yg entah lah mungkin saat itu dia sudah nyemplung ke laut karena aku makin tidak tahu menahu lagi kabarnya meski kami sekelas. Sempat sih mendengar gosip bahwa Panji katanya sedang dekat dengan anak kelas Sosial tapi aku yg saat itu sudah punya Dicky tidak lagi peduli dengannya atau berusaha tidak peduli ya karena kesal telah dilupakan begitu saja oleh Panji. Entahlah.

Menjelang akhir semester saat itu Dicky mengajaku untuk berlibur ke Bali setelah ujian, alasannya ia mau merayakan kelulusan serta menghabiskan waktu liburan berdua denganku sebelum pisah mengingat ia akan masuk jenjang kuliah dan tentunya kami tidak lagi bisa bertemu setiap hari. Aku pun menuruti permintaannya dengan beralasan liburan bersama Helen dan teman-teman satu gengku kepada Ayah dan Ibuku lalu akhirnya mereka pun mengijinkan.
Hari pertama di Bali saat itu aku merasa sangat bahagia, Dicky mengajak ketempat-tempat keren dan romantis yg membuat wanita manapun pasti akan luluh atas sikapnya meski simpel seperti memayungi diriku seharian, menyuapin makan siang, menggandeng tanganku tanpa pernah melepasnya namun semua itu berakhir begitu malam dan check in ke hotel.
Aku sangat terkejut begitu mengetahui ia hanya membooking satu kamar hotel. Aku yg saat itu khawatir terjadi apa-apa memutuskan untuk memesan satu kamar lagi meski harus beradu argumen dulu dengan Dicky namun sialnya kamar hotel saat itu sudah full booked karena mungkin sedang high season, dan ketika memutuskan untuk pisah hotel Dicky mencegahku dengan berbagai macam alasan yg akhirnya akupun pasrah satu kamar dengannya.
Kekhawatiranku terbukti ketika mulai masuk kamar, Dicky mulai bertingkah mengambil kesempatan memeluku dan terus menempel denganku yg membuatku sangat risih.
Aku pun memutuskan untuk mandi agar bisa lepas darinya sementara dan berganti pakaian serba panjang karena takut sikap Dicky akan kelewat batas.
Tak lama kemudian setelah Dicky selesai mandi aku pun beranjak ke kasur untuk tidur karena kupikir itu akan membuatnya berhenti melakukan flirting dan aku ingin segera hari esok untuk pindah mencari hotel lain.
Begitu aku mulai memejamkan mata, Dicky naik keatas kasur dan memeluku dari belakang serta mulai menciumi leher belakangku yg membuatku sangat risih namun tak ku cegah. Merasa tidak mendapat penolakan, ciuman Dicky beralih ke wajahku menunju bibirku. Saat itu aku yg mulai menolak ciumannya karena alasan ngantuk malah ditariknya untuk berbalik badan dan ia menindih tubuhku.
Aku langsung berteriak sekencang-kencangnya menyebut nama Panji yg membuat Dicky kaget dan bangkit dari atas tubuhku, kesempatan tersebut tak kusia-siakan untuk bangun dan mengambil termos listrik yg berisi air panas sebagai senjata mengancamnya agar tidak mendekatiku lagi.
Dicky yg sudah merasa bersalah hanya meminta maaf, namun aku sudah muak dan kecewa atas sikapnya saat itu segera mengemas tas serta koperku untuk terbang kembali ke Jakarta. Beruntung masih jam 9 malam dan ketika menelepon travel agent langganan keluargku aku masih mendapat pesawat yg terbang malam ini pukul setengah 11.
Aku pun pergi meninggalkan Dicky tanpa menghiraukan maaf dan upayanya untuk mencegahku lalu menaiki taksi dari depan hotel dan berangkat menuju bandara.
Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis menitihkan air mataku, aku benci Dicky, aku benci hari ini, aku benci pada diriku sendiri yg tidak bisa menjaga diri, membiarkan diriku berada dalam kondisi seperti tadi. Aku membayangkan bagaimana jika tadi aku gagal mencegah perbuatan Dicky. Aku juga benci kenapa Panji menghilang, kamu dimana nji, kamu kenapa ga menghubungiku lagi nji, aku kangen kamu nji, malam itu otaku kembali dipenuhi oleh nama Panji dan aku pun menangis sejadi-jadinya malam itu.
Sesampainya di Jakarta aku menelepon Helen dan memintanya untuk sisa dua hari ini aku menginap di rumahnya karena tidak mungkin pulang ke rumah mengingat sudah ijin kepada orang tuaku akan tiga hari di Bali.

Masalahku masih belum selesai dan malah bertambah runyam ketika Ayah dan Ibuku mengetahui hasil raport semesterku yg lumayan jeblok, serta mendapat informasi dari mentorku bahwa aku sering bolos bimbel. Helen yg saat itu dipanggil oleh Ibuku meminta penjelasan sebagai teman terdekatku, aku pun pasrah dan membiarkan Helen menceritakan semuanya termasuk alasan bolos bimbel karena sering diajak pacaran oleh Dicky.
Mendengar hal itu Ibuku bukan hanya marah namun langsung memintaku untuk kembali ke London dan melanjutkan sekolah disana tinggal bersama Tante Maria dan Uncle Thomas, aku tentu menolak. Aku suka London, tapi apabila kembali kesana harus tinggal satu atap dengan Uncle Tom sama saja dengan mimpi buruk. Aku tidak ingin tinggal sendiri jauh dari keluarga ditambah aku sudah betah di Jakarta.

Rasanya aku perlu menceritakan sedikit mengapa aku benci dengan Uncle Tom. Tante Maria yg merupakan adik kandung Ibuku pernah ikut tinggal bersamaku keluargaku di London sejak aku lahir. Tante Maria akhirnya menikahi pria berdarah Irlandia bernama Thomas, mereka menikah mungkin disaat usiaku 12 atau 13 Tahun. Rumah kamipun berdekatan hanya beda beberapa Blok saja, sehingga saat itu setiap ada perayaan seperti Thanksgiving, Natal ataupun Tahun Baru pasti keluargaku mengajak Tante Maria dan Uncle Tom.
Awalnya aku sangat dekat dengan Uncle Tom, apalagi semenjak mereka punya anak laki-laki. Aku yg saat itu sudah menginjak Grade 10 High School/ Kelas 1 SMA sering diminta Tante Maria untuk menjaga anaknya yg berarti sepupuku bernama Richard.
Uncle Tom selalu pulang lebih dulu dari Tante Maria, sehingga aku sering bertemu dengannya ketika sedang menjaga Richard. Seiring berjalannya waktu ia jadi sering membawakanku makanan, coklat atau chesse cake kesukaanku sambil mengajaku ngobrol tentang sekolah dan hal-hal lainnya.
Sampai akhirnya Uncle Tom mulai membahsa hal-hal privasi tentang bagaimana hubunganku disekolah dengan teman atau pacar yg tak begitu kutimpali. Ia pun berkomentar terhadap gaya berpakaianku, yg dibilang aku harus lebih dewasa karena bukan lagi anak-anak sehingga sudah tak pantas menggunakan pakaian serba panjang. Hingga suatu hari ia membelikan ku satu stel pakaian tanktop dipadu jaket denim dan rok mini. Aku sebenernya tidak suka namun untuk menghargai pemberianya akupun mencobanya saat sedang dirumahnya seperti biasa.
Ia memintaku membuka pintu kamarnya yg saat itu memang aku sedang berganti pakaian dikamar tersebut, aku menahan kerisihan dengan tanktop dan jaket ketat serta rok yg sangat pendek dan membukakan pintu untuknya.
Cukup lama ia terdiam didepan pintu memperhatikanku dari atas kepala hingga ujung kaki seraya masuk kedalam dan menutup pintunya.
Ia mendekat dengan alasan jaket denimnya saat itu salah bukan untuk dikancing full melainkan hanya semacam outer dan mulai membuka kancing jaket sambil matanya terus memandangi tubuhku yg mulai terbuka hanya dilapisi tanktop ketat pemberiannya.
Ia menyanjungku dengan sebutan cantik dan seksi yg saat itu hanya kubalas dengan senyum simpul karena risih dengan keadaan dan ingin segera ganti pakaian miliku.
Uncle Thomas malah semakin mendekat dan memegang pundaku untuk membalikan tubuhku kearah cermin dengan posisi ia tepat dibelakang tubuhku dan sekali lagi mengatakan bahwa aku lebih cocok berpakaian seperti itu karena cantik dan seksi.
Tanpa kusadari tangan Uncle Tom sudah melingkar diperutku dan memeluku dari belakang sambil menciumi leher belakangku yg membuatku geli.
Aku mencoba melepaskan diri dari posisi ini namun Uncle Tom semakin mendekapku erat dan menggereyangi tubuhku. Tenagaku tak cukup kuat untuk melepasnya dan membuatku semakin takut atas tindakannya.
Rasanya aku ingin menangis sedangkan ia masih terus menciumi leherku dan mulai turun kearah dadaku, aku yg kaget mencoba berontak namun ia segera membantingku ke atas kasur dan menindihku.
Ia sempat mencoba melumat bibirku namun aku lebih dulu menutup bibirku tapi hal itu malah membuatnya langsung kembali mengecup menuruni leher dan payudaraku yg terbungkus tanktop ketat.
Seakan tak puas hanya dengan mencium dari luar, tangganya menarik tali tanktop dan bh ku yg membuat payudara kananku terbuka bebas. Aku ingin teriak namun tidak bisa sehingga hanya menangis dan menjerit dalam hati. Aku malu, aku butuh pertolongan dan sepertinya saat itu Tuhan mengabulkan permintaanku. Sesaat sebelum Uncle Tom bertindak jauh lebih terhadap diriku, bel rumah berbunyi karena Tante Maria pulang.
Aku masih menangis dengan kondisi diriku yg berantakan saat itu, Uncle Tom menghardiku untuk diam, memintaku segera berganti pakaian dan sempat meminta maaf atas perbuatannya tapi disertai ancaman apabila aku membuka mulut ia akan melukai Tanteku.
Sejak saat itu aku tidak mau lagi kerumah Tante Maria, aku beralasan bahwa ikut banyak kegiatan di sekolah. Akupun tidak pernah lagi berbicara dengan Uncle Tom setiap bertemu bahkan aku sering mengumpat di kamarku atau lebih memilih terus menempel Gio kakaku apabila ada acara bersama dengan mereka. Aku tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada Ayah Ibu atau kakaku karena malu. Itulah yg membuatku benci dengan Uncle Tom dan tentu saja tidak akan pernah sudi tinggal dengannya.

Kembali ke masalahku, setelah memohon serta meminta maaf atas kesalahanku akhirnya Ayah dan Ibuku memberiku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki nilaiku di kelas tiga hingga semester satu dan apabila gagal maka mereka akan benar-benar mengirimku kembali sekolah di London.
Bagi mereka pendidikan itu sangatlah penting, jadi mereka akan melakukan apapun demi membuatku mendapat pendidikan terbaik. Itulah mengapa mereka sangat ngotot agar aku mendapat nilai-nilai yg bagus karena pendidikan Indonesia di mata mereka yg masih belum menonjol harus ditutupi dengan prestasi yg tinggi. Jika tidak bisa berprestasi, lebih baik sekolah diluar karena predikat lulusan luar negeri pasti akan lebih di hargai di Indonesia. Begitu jalan pikir orangtuaku yang mau tidak mau aku turuti dan bertekad untuk menaikan nilaiku.
Sisa liburan hanya kuhabiskan dengan waktu menemani Ibuku belanja dan ke salon karena masih dalam masa hukuman atas nilaiku sehingga ia melarangku main dengan teman-temanku, tapi hal tersebut lumayan membuatku perlahan melupakan kejadian di Bali. Dicky sempat menemuiku ke rumah yang aku gunakan kesempatan tersebut untuk menampar wajahnya dan memutuskan hubunganku dengannya. Mulai saat itu aku enggan lagi mendengar namanya ditelingaku.

Hari pertama sekolah saat menginjak kelas tiga, kalian semua sudah tahu bahwa namaku tidak ada di daftar siswa kelas 3 IPA 1. Aku tau nilaiku banyak yg turun tapi tidak menyangka akan benar-benar tersisihkan dari kelas tersebut. Sekolah kami satu kelasnya berisi 30-35 siswa, berarti dengan tersisihnya aku dari 3 IPA 1 sama saja aku berada diluar 35 siswa terbaik di sekolah ini.
Yg lebih buruk dari itu adalah, hanya aku seorang diri sedangkan teman satu gengku Helen dan yg lainnya tetap berada di 3 IPA 1. Aku langsung down dan menangis, karena saat itu pikiranku bagaimana mungkin aku bisa meningkatkan nilai sementara terpisah dari kelas unggulan namun Helen tiba-tiba mengajaku untuk menemui Ibu Ida meminta agar dipindahkan ke kelas 3 IPA 1 dengan dalih bahwa akulah siswa terbaik di sekolah ini dalam pelajaran Bahasa Inggris serta telah memenangkan debat Bahasa Inggis tingkat Provinsi. Kalau perlu mengancam tidak akan mau lagi menjadi wakil sekolah dalam kompetisi Bahasa Inggris lainnya, tapi untuk ide yg ini tentu aku menolaknya. Aku akan minta baik-baik dengan Ibu Ida dan bersyukur saat itu ia paham lalu membantu berbicara dengan Kepala Sekolah untuk memindahkanku ke kelas 3 IPA 1.
Saat dibawa oleh Ibu Ida berjalan ke kelas 3 IPA 1, aku sudah menyiapkan mentalku untuk mendapat cibiran sebagai penjilat guru atau gosip buruk lainnya aku tak peduli yg penting aku bisa masuk kelas unggulan dan tidak dikirim kembali ke London. Ketika Ibu Ida menjelaskan didepan kelas terkait alasan memindahkanku, mataku memperhatikan raut seluruh siswa dengan maksud untuk memastikan mana yg terlihat sinis, mana yg terlihat senang atau tidak peduli. Tidak ada maksud apa-apa sih hanya untuk memastikan saja.
Saat mataku keliling bola mataku berhenti ketika melihat tatapan seseorang yg dari kemarin membuatku jengkel sekaligus rindu, Panji. Memoriku seolah memanggil lagi ingatan saat masih dekat dengannya yg membuatku tersenyum sendiri dan memalingkan mataku agar tak disangka sedang melihatnya. Tapi setelah aku kembali untuk memperhatikan wajahnya lagi, ia sudah tak menatapku seolah puas atas penjelasan Ibu Ida lalu melanjuti membaca komik bersama teman sebangkunya Angga. Dasar Panji, selalu saja nyebelin.
Setelah memberikan penjelasan dan beberapa nasihat, Ibu Ida mempersilahkanku duduk yg tentu langsung kupilih bangku disebelah Helen sambil melompat kegirangan lalu kamipun lanjut mengobrol tentang liburan kami. Saat sedang asik mengobrol entah kenapa aku penasaran untuk melirik kearah Panji lagi dan tanpa diduga pandangan ia pun ternyata sedang memperhatikanku. Hal tsb tentu membuatku sangat geer namun tak lama kami bertatapan, ia malah bangkit dari duduknya dan pergi keluar kelas bersama Angga. Dua kali sudah hari ini ia membuatku sebel.

Kalian pasti berpikir aku itu labil, katanya mau fokus belajar tapi begitu bertemu Panji malah kepincut lagi. Tapi ya itulah yg kurasakan, kalian pikir jatuh cinta itu bisa memilih? Tidak! Aku mencoba memalingkan pikiran ku dari Panji dengan belajar, bahkan aku meminta kepada Ibuku agar jadwal bimbelku ditambah dari dua kali seminggu menjadi senin-jumat. Namun selama bimbel coretan buku catatanku malah penuh karena ku tulisi nama Panji, Panji dan Panji. Gila, itu anak punya pelet apasih sampe aku dibuat seperti ini.
Perasaanku makin tak karuan begitu suatu hari melihat ia di kantin bukan hanya sedang bersama Regas dan Angga tetapi seorang siswa yg kutahu namanya Vina anak kelas Sosial. Aku penasaran apa hubungan mereka, apa itu wanita yg dulu digosipi punya hubungan dengan Panji dan apa mereka sudah berpacaran. Aku bingung, aku ingin mencari tahu, tapi bertanya kepada siapa. Teman-temanku sedang tidak mungkin diajak bekerjasama mengingat mereka berlima pun terutama Helen sudah dipesankan oleh Ibuku untuk menjagaku agar tidak lagi berdekatan dengan cowo manapun.
Tapi aku punya rahasia yg belum pernah kuceritakan kepada Panji, bahwa semenjak jatuh hati lagi dengannya aku selalu diparkiran menunggunya hingga pulang. Melihat ia berjalan kearah parkiran sambil bercanda dengan Regas dan Angga, lalu ia menaiki motornya dan berlalu meninggalkan sekolah. Melihatnya selalu pulang sendiri aku yakin ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Vina. Tapi ya itu pun tidak membantu diriku untuk dekat dengan Panji. Sepertinya hari-hariku harus berakhir dengan hanya menjadi pengagum rahasianya, yg menyimpan perasaan kepadanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Entah mengapa untuk kali ini aku merasa hatiku tidak salah, hatiku merasa mencintai Panji adalah benar. Aku yakin mencintainya tidak akan membuatku kecewa seperti hubunganku sebelumnya. Jadi aku tak perlu melupakannya, tunggu saja sampai keajaiban datang.

Tuhan selalu punya rencana dan itulah yg terjadi, meski harus menunggu lama akhirnya hari dimana aku bisa berbicara lagi dengan Panji pun tiba. Saat itu kelas kami baru saja selesai praktikum Kimia, namun aku ditelpon Ibuku memberikan beberapa pesan karena ia akan pergi dengan Ayah untuk makan malam dengan rekan bisnisnya. Begitu ku tutup telepon, ternyata kelas sudah bubar hanya menyisakan aku dan seseorang yg membuatku ingin loncat kegirangan. Panji.
Aku memperhatikan ia yg sedang anteng merapihkan peralatan lab dengan sangat telaten. Ingin sekali menyapanya, menyapa dirinya, bercanda tawa dengan dirinya. Eh ko malah nyanyi sih. Kalo yg baca tulisan tadi sambil bersenandung ada kemungkinan kita seumuran ya.
Balik lagi ke Panji, aku mencoba memberanikan diri untuk menyapanya mumpung ada alasan yaitu menawarkan bantuan. Namun karena salah tingkah dan terburu-buru aku malah menabrak Panji dan jatuh. Ya itu bukan salah Panji, ia tidak menabraku saat itu tapi aku yg terlalu mendekat padanya padahal ia sedang berjalan mundur dan tidak melihat kearahku. Maafin aku ya nji.
Meskipun aku yg menabrak Panji, tapi tubuhku yg terpental jatuh ke lantai terbentur ujung lantai yg lebih tinggi karena tempat guru mengajar. Ditambah serpihan beling ada yg terkena lenganku dengan goresan yg cukup panjang dan rasanya sangat perih. Tapi aku malu untuk menangis, jadi aku tahan dan bersikap sewajarnya didepan Panji meskipun hati ini bersorak tak karuan. Setelah sekian lamanya tidak berbicara aku kembali mendengar suara Panji, suara yg lembut dan gentle.
Aku terpatung memperhatikan Panji yg sibuk memberikan pertolongan pertama pada luka goresku, dalam hati aku memohon agar kejadian ini di”pause” sampe aku puas atau minimal diperlambat agar bisa menikmati setiap momennya. Ia memecah lamunanku saat meminta untuk menahan kain kassa sementaranya, dan setelah selesai aku mencoba mengontrol diriku untuk lebih bersikap biasa saja dengan mengatur nafas dan ritme jantungku agar tak terihat salah tingkah. Ia mengajaku ke UKS yg tentu saja aku turuti, kapan lagi bisa berjalan dengan Panji meskipun harus sambil menahan rasa perih. Tasku yg dibawakan olehnya akan menjadi tas favoritku sejak hari itu.
Panji membuatku makin salah tingkah saat ia menawarkan diri untuk mengantarkan ke Rumah Sakit namun aku menolak. Apalagi saat ia meninta nomor telponku, saking senangnya aku sampe perlu mengkonfirmasi lagi bahwa ia benar-benar meminta nomor teleponku dengan berpura-pura salah dengar. Akhirnya kami berpisah, aku menyesal sebenarnya menolak tawarannya tapi kasian juga toh sebenernya aku yakin lukanya biasa saja tak perlu sampai kubawa ke dokter dan yg penting ia sudah kuberi nomor teleponku. Aku akan menunggunya.

Benar saja, malamnya Panji meneleponku. Aku langsung tau dari suaranya, tapi karena gengsi aku saat itu mengawali telepon dengan pura-pura bertanya dari siapa.
Ia menanyakan kondisiku yg membuatku sangat senang karena mendapat perhatiannya, ya meskipun bisa saja sih itu tak lebih hanya karena ia merasa bertanggungjawab atas luka ditanganku tapi sah-sah saja kan aku senang?
Kami mengobrol cukup lama apalagi setelah Panji menjawab pertanyaanku dengan benar kapan terakhir kali kami mengobrol, rasanya aku benar-benar luluh. Ingin rasanya lisan ini menyerbu Panji dengan ribuan pertanyaan kenapa kamu tak lagi mengajaku ngobrol sejak saat itu, kenapa kamu tak pernah lagi menyapaku, kenapa kamu tidak berusaha untuk mendekatiku lagi nji! Tapi aku hanya sanggup mengganti semua itu dengan kata-kata nostalgia sebagai kode untuknya yg kuharap ia bisa menangkap maksud asliku yaitu aku kangen kamu Panji. Kangen berbicara dan mengobrol lagi seperti dulu.
Obrolan kami harus berakhir saat Ibuku mengetuk pintu kamarku, padahal aku masih ingin mendengar suaranya hingga terlelap.

Keesokan harinya di sekolah seperti yg Panji sudah ceritakan, aku mengabaikannya yg berjalan kearahku saat istirahat. Aku melakukan itu terpaksa karena belum sempat memberitahu Helen dan teman-temanku tentang kedekatanku dengan Panji. Oke mungkin aku kali ya yg terlalu kegeeran baru satu kali telepon tapi sudah menganggap hubungan dengan Panji dekat, padahal bisa saja kan Panji saat itu ia bukan ingin mengajaku ngobrol berdua melaninkan hanya menyapa atau barangkali ada barangku yg tertinggal terbawa olehnya. Tapi kalian tau Helen sangat overprotektif terhadapku semenjak diultimatum oleh Ibuku. Aku tidak mau Helen nanti memarahi atau hal-hal yg membuatnya bermasalah dengan Panji.
Sebagai rasa bersalah, aku akan menunggunya sepulang sekolah nanti untuk meminta maaf dan menjelaskan alasanku.
Hubungan kami baru kembali dekat, tentu tidak akan aku biarkan renggang kembali. Namun saat menemuinya sepulang sekolah, sepertinya ia masih marah dan berlalu begitu saja. Itu membuatku kesal, aku tidak akan berhenti sampai Panji kembali ramah dan mau mengobrol lagi denganku. Bodo amat dengan gengsi, aku akan mengejarnya kali ini. Cukup hanya di kelas dua aku diam menunggu, aku pasti akan menyesal hingga dewasa jika hingga lulus SMA tidak berusaha untuk mendapatkannya.
Usahaku tidak sia-sia, malamnya ketika ku telepon Panji akhirnya mau memaafkanku meski awalnya masih dingin. Bahkan aku beralasan menanyakan beberapa tugas dan PR agar bisa berlama-lama mengobrol dengannya dan malam itu Panji menutup telepon dengan sangat manis yg membuatku ingin menjerit senang, untuk pertama kalinya ia melakukan hal yg sudah lama aku harapkan yaitu mengucapkan selamat tidur. Ah Panji, jago sekali bikin diriku rindu.

Kedekatan kami berlanjut tanpa aku harus meminta Helen dan teman-temanku menyembunyikan hubunganku dengan Panji dari orangtuaku, hal itu terjadi karena seperti yg kalian tahu bahwa Angga dan Helen akhirnya jadian.
Gengku bersama Panji, Angga dan Regas jadi sering kumpul bersama di kantin. Tentu saja aku memanfaatkan hal itu untuk terus bisa dekat dengan Panji. Aku selalu memposisikan diriku duduk berhadapan dengan Panji, aku suka melihat wajahnya saat sedang memperhatikan serius cerita humor Regas atau saat ia menaikan alisnya ketika tidak paham jokes yg dibuat Helen. Tidak jarang Panji mendapati diriku yg sedang memperhatikannya, bukannya salah tingkah aku malah melempar senyum kearahnya agar ia tahu dan peka kalo aku suka padanya.
Sesuai cerita Panji ketika itu siswi yg bernama Vina tiba-tiba datang meminjam Panji, aku cemburu. Ingin rasanya meneriaki Vina, hey Panji itu miliku! Tapi hal itu hanya bisa kulakukan dalam hati, mengingat aku bukan siapa-siapa. Aku jadi penasaran apa sih hubungan mereka, ko bisa-bisanya Vina meminta Panji untuk mengantarnya pulang? Aku juga mau diantar Panji pulang. Pokoknya aku kesal ketika mengetahui Panji menyanggupi permintaan Vina, aku langsung berlagak cuek meski aku tidak tahu apa itu membuatnya sadar atau tidak.
Aku yg dirundung penasaran pun menyerah, aku butuh informasi apa hubungan Panji dengan Vina dan aku yakin Angga pasti tahu. Aku akhirnya mengatakan perasaanku ke Panji kepada Helen, Angga dan Regas hari itu sepulang sekolah.
Tapi itu belum cukup menghilangkan rasa penasaranku, karena Regas dan Angga terlihat ragu untuk menjawab hubungan Panji dengan Vina tapi satu yg kutahu ternyata gosip mereka pernah saling suka benar adanya.

Setelah itu tentang kejadian kecelakaan yg menimpa Panji, jujur saja itu membuatku menangis seharian aku khawatir dan takut hal buruk menimpanya. Jadi kalo di cerita Panji, Helen bilang aku kelojotan ingin segera ke menjenguk dari jam pertama sekolah memang benar adanya.
Tapi aku bingung harus bersyukur atau sedih setelah itu, karena kejadian yg menimpa Panji justru membuatku semakin dekat dengannya bahkan aku tak lagi gengsi menunjukan perhatian dan rasa sukaku kepadanya dengan menjenguk Panji setiap hari sepulang sekolah. Aku merasa ini kesempatan untuk membuat hubunganku dengan Panji semakin dekat dan membuatnya melupakan Vina. Bahkan sejak itu aku sudah menganggap Panji adalah miliku dengan meneleponnya untuk ijin saat tidak bisa menjenguknya di hari Sabtu dan Minggu, walaupun Panji belum menyatakan perasaannya masa bodo. Pokoknya kami sudah dekat lebih dari sekedar teman titik.
Disaat yg bersamaan Panji membuatku sangat jengkel karena ia sama sekali tidak mengabariku bahwa sudah keluar dari Rumah Sakit. Keadaan semakin buruk serta membuatku merasa kalah saat harus melihat Vina dan Ibunya Panji datang kesekolah yg katanya melaporkan pelaku atas kecelakaan yg dialami Panji.
Sudah sedekat itukah Vina dengan keluarganya Panji?
Hari itu aku menangis dipundak Helen seharian dan berjanji untuk menyudahi semua ini. Aku menyerah untuk mengejar Panji, aku berhenti mengaharapkan Panji, aku harus belajar melupakan Panji.
Disaat hati ini sudah beberapa hari menangis karena hilang asa, suara petikan gitar dan senandung merdu suara lembut yg sangat kukenal siapa pemiliknya mengagetkanku di dalam mobil. Tuhan seakan menghibur kesedihanku dengan mengembalikan Panji kehadapanku. Penantianku akhirnya terbayar.

Itu alasanku mencintai kamu, Panji Darmawan.

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 11 | Ketika Kita Muda Part 11 – END

(Ketika Kita Muda Part 10)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 12)