Ketika Kita Muda Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 10

Start Ketika Kita Muda Part 10 | Ketika Kita Muda Part 10 Start

Recovery

Aku memacu motorku kearah Setiabudi dengan pikiran yg kosong, kupikir aku butuh menyendiri sejenak. Dalam logika ku masih berharap bahwa apa yg telah terjadi di rumah Vina adalah sebuah mimpi tapi ternyata tidak, aku merasakan sakit saat kepala ini aku benturkan ke helmku. Aku memaki diriku atas kebodohan konyol yang kubuat, neurotik yg menguasai saraf sadar ini mengapa selalu kalah dengan dominasi hormon dopamin. Biologi bangsat umpatku dalam hati.
Handphone ku berdering memecah lamunan ku malam itu di pinggir jalan Setiabudi yg ramai namun sepi bagiku.
“Iya mah, Panji pulang.” ujarku menutup telepon dari Ibuku. Aku langsung kembali memacu motorku ke arah rumah.

“Nji bulan depan kakak mu pulang, nanti kamu bantu Mama beresin kamarnya yah.” ujar Ibu ku saat kami sedang di meja makan menemani Ayahku yg sedang makan malam.
“Iya mah.” jawabku singkat yg saat itu padahal bisa dibilang aku tak mendengar satu patah katapun ucapan Ibuku.
“Kau kenalkan juga kakak mu itu dengan Clara biar nanti selama liburan dia ada temannya, tak perlu lagi memintamu mengantarnya kesana kemari.” lanjut Ayah ku sambil mengunyah makan malamnya.
“Iya pah.”
“Kamu daritadi bengong mulu kayanya nji? Kenapa?” selidik ibuku.
“Iya mah.”
“Panji!” panggil Ibuku dengan nada yg agak tinggi mengagetkanku dari lamunanku.
“Eh iya mah? Ada apa?” sahutku.
“Kamu kenapa ngelamun sayang?” tanya Ibuku yg hanya kujawab dengan menggelengkan kepalaku.
“Oh iya gimana kondisi Vina?” lanjut Ibuku.
“Ah kau akhirnya menjenguknya nji? Bagus itu kau harus dewasa.” tambah Ayahku.
“Mulai baikan ko pah mah.” jawabku singkat tanpa memperdulikan nasehat Ayahku.
“Panji pamit tidur yah, ngantuk.” lanjutku seraya pamit dan bangkit meninggalkan Ayah dan Ibu ku di meja makan dengan langkah gontai.
Hari itu aku berharap tidak pernah dilahirkan.

Paginya aku terbangun dari mimpi yg membuatku tak bisa lepas dari masalah kemarin. Aku bermimpi tentang Clara, dalam mimpi itu ia membalas perbuatanku bersetubuh dengan orang lain yg membuat kepala belakangku terasa berat dan pening saat bangkit dari kasur. Mimpi sialan umpatku dalam hati.
Aku memutuskan untuk berangkat sekolah dengan menaiki motorku yg sebelumnya mengabari Clara lewat pesan singkat bahwa ia tak perlu menjemputku ke rumah.
Sesampainya di sekolah saat itu masih cukup pagi sekotar pukul 6.30, aku yg turun dari motor dan berjalan ke dalam sekolah berpapasan dengan Vina dikoridor menuju kelas.

Ketika Kita Muda Part 10Ilustrasi Vina

“Pagi dung.” sapanya.
“Hai vin, udah mulai masuk lagi hari ini?” sahutku mencoba bersikap normal yg ia jawab dengan anggukan.
“Makasih ya buat kemaren.” ucapnya namun hanya kujawab dengan senyum simpul.
“Oh iya aku lupa di sekolah kamu punya Clara, aku duluan ya. See you.” lanjutnya seraya berlalu meninggalkanku yg lumayan membuatku menghelakan nafas panjang.
Tak lama kemudian dua mahluk astral bernama Regas dan Angga mengagetkanku dari belakang menyapa sambil sedikit berteriak.
“Si kampret!”
“Apaan sih.” sungutku kesal atas teriakan mereka.
“Lo balikan lagi nyet ama Vina?” ujar Regas.
“Tai! Jadian aja ga pernah!” sahutku ketus.
“Terus tadi ngapain? Ketauan Clara abis lo nyet!” lanjut Angga.
Aku menoleh kebelakang kearah parkiran untuk memastikan mobil Clara masih belum datang.
“Ga ada kan Clara nya? Kalo sampe dia tau ya gue tau mulut siapa yg ember.” ujarku berlalu meninggalkan mereka berdua.
“Si kampret mulai main api lagi.” jawab mereka berdua kompak.
Dikelas aku duduk sendiri sementara Regas dan Angga sedang asik membicarakan sesuatu yg tak ku dengar.
“Keboooo!!” suara teriakan Clara menyadarkanku dari lamunan. Ia berlari menghampirku dengan cemberut.
“Kenapa ga bilang dari semalem sih kalo mau berangkat naik motor. Aku tuh udah jalan kearah rumah kamu tadi mana belum sarapan, jadi aku tetep kerumahmu minta sarapan ama Mama.” jelasnya bercerita panjang lebar.
“Oh.” jawabku singkat.
“Ko oh doang sih? Nyebelin kamu bo!” sungutnya kesal.
“Oh iya maksudnya sorry eh maaf ra, aku lupa ngabarin semalem.” lanjut dengan pikiran yg masih kalut.
“Kamu kenapa sih bo? Ada masalah?” tanya Clara menyelidik mungkin mulai menyadari keanehan sikapku.
“Gak apa-apa ra, aku lg pusing aja.” jawabku asal.
“Kamu sakit?” lanjut Clara.
“Bukan, maksudnya aku pusing aja ngurusin anak-anak kelas dua.” ujarku berharap jawaban tersebut bisa memuaskan Clara.
“Bo..” ujar Clara sambil menatapku lembut.
“Kalo kamu capek ngurusin bimbingan anak kelas dua, kamu bilang aja ama Ibu Ida. Ga usah ga enak ama aku. Biar itu urusan aku ama Ibu Ida. Aku ga mau kamu ngerasa terbebani dengan masalahku.” jelas Clara panjang lebar sambil tangannya menggenggam tanganku.
“Ga ko ra aku sama sekali ga beban, cuma hari ini aja lagi ngerasa pusing. Nanti aku bilang Ibu Ida untuk hari ini aku ga bisa ngasih pelajaran tambahan dulu.” jawabku mencoba membuat rasa bersalah Clara hilang yg dijawab Clara dengan anggukan kepala dan tersenyum.
“Kamu mau ke UKS? Yuk aku anter.” tawar Clara.
“Gak apa-apa aku sendiri aja ra, kamu lanjut belajar aja yah.” jawabku sambil mengusap kepalanya agar Clara tidak khawatir.
Aku sebenernya mengumpat dalam hati, rasa bersalah ini sulit untuk kututupi namun sikap bodoh ku dalam menyembunyikan masalah ini malah membuatku terus berbohong kepada Clara. Maafin aku ra.

Bel masuk berbunyi dan akupun bergegas ke UKS untuk mencoba menenangkan pikiranku yg makin kalut. Aku yakin percuma mengikuti pelajaran karena tidak akan fokus mendengarkan sementara pikiranku menerawang entah kemana.
Namun pilihan ke UKS pun sama buruknya begitu masuk aku harus bertemu orang yg sekarang ikut andil dalam membuat pikiranku kacau. Siska.
“Pagi Kak.” sapanya saat aku masuk ruang UKS.
“Kamu anak PMR Sis?” tanyaku tanpa menjawab sapaannya.
“Iya dan hari ini aku yg jaga. Kak Panji sakit apa?” tanyanya ramah.
“Ga jadi, aku balik aja ke kelas.” jawabku singkat yg segera dicegah oleh Siska dengan menarik tanganku.

Ilustrasi Siska

“Peraturannya siswa yg udah dateng ke UKS harus dibuatin laporan dulu.” ujar Siska menjelaskan alasannya mencegah aku keluar dan akhirnya aku pun duduk di salah satu kasur dalam ruang tersebut.
Siska pun terlihat sibuk melakukan prosedur standar anak PMR dalam mengecek siswa yg sakit dan membuatkan laporannya.
“Suhu badan normal, tensi normal. Keluhan Kak Panji apa? Atau cuma alesan aja ke ruang UKS yah biar ketemu aku hihihi.” ucap Siska dengan nada centilnya.
“Pusing doang tadi, cuma kayanya mending lanjut di kelas aja. Aku minta parasetamol aja Sis.” jawabku tanpa merespon sikap centilnya Siska.
“Ga boleh sembarangan minum obat kak.” lanjut Siska seraya mendekatkan wajahnya kerahku untuk mendekatkan bibir kami namun aku sempat mencegahnya dengan menempelkan jariku dibibirnya.
“Ga usah aneh-aneh deh Sis.” protesku.
“Takut ketahuan Kak Clara yah? Hihihi.” sahutnya centil.
“Jadi parasetamolnya ada ga?” ketusku yg mulai kesal dengan tingkah Siska.
“Tadi kan udah mau dikasih, Kak Panji nolak.” jawabnya dengan wajah meledek.
“Itu bukan parasetamol.”
“Paratamol itu penahan rasa sakit kak, ciuman memberi efek..” ujar Siska yg belum sempat menyelesaikan kalimatnya segera kupotong.
“Dopamin. Yg menimbulkan perasaan bahagia, nikmat dan antusias sehingga bisa membantu tubuh menghilangkan rasa sakit.”
“Hampir bener tapi kurang satu lagi, oksitosin atau yg lebih umum dikenal dengan hormon cinta. Selain rasa sakit yg disamarkan oleh dopamin, oksitosin yg dilepas otak bisa bikin Kak Panji fallin love dan lupa deh ama sakitnya.”
“Kamu sebenernya pinter sis. Aku curiga permintaan bimbingan cuma akal-akalan mu aja?” lanjutku menunggu jawaban Siska dengan raut wajah serius.
“Kak Panji nih kaya Shinichi Kudo deh, suka main detektif-detektifan hihihi.” sahutnya lagi tanpa menjawab pertanyaanku yg membuatku menggelengkan kepala seraya langsung beranjak dari kasur dan meninggalkan ruang UKS meski Siska mencoba mencegahku namun tak kuhiraukan.

Saat berjalan keluar ruangan UKS aku melirik jam ditanganku yg masih menunjukan pukul 8.50 dan mengurungkan niat kembali ke kelas karena masih ditengah jam pelajaran. Aku menoleh kearah ruang auditorium yg sepertinya sedang diisi oleh anak kelas 2 IPA 1 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, aku membuka pintu dan menyelinap masuk dan benar Ibu Pinkan sedang memutarkan film Kartun Disney yg kuingat ini adalah sub bab tentang Story Telling dan memutuskan untuk duduk dipojok auditorium.
Aku menjatuhkan kepalaku diatas meja dan tertidur.
“Panji! Bangun ini bukan kelas kamu.” ujar Ibu Pinkan mengagetkanku.
Aku melihat sesisi ruangan auditorium menoleh kearahku seolah melihat pencuri yg tertangkap basah.
“Maaf bu, salah kelas. Permisi.” jawabku asal seraya membungkuk ke arah Ibu Pinkan dan pergi meninggalkan ruang auditorium.

Ternyata bel istirahat pertama sudah berbunyi aku pun segera berlari kearah kelas karena khawatir Clara mencari ku dan benar saja ia sudah berdiri dipintu kelas.
“Hey.” sapaku dengan nada ngos-ngosan setelah berlari.
“Kamu darimana sih? Katanya di UKS. Tadi aku kesana kamu ga ada. Malah ketemu monster itu.” tanya Clara yg mungkin maksudnya adalah bertemu Siska.
“Justru itu aku kabur dari UKS ra. Terus aku liat ruang auditorium lagi dipake Ibu Pinkan muterin film ya udah aku masuk kesana tidur.” jawabku menjelaskan kepada Clara yg langsung dibalas dengan cubitan dibahuku.
“Bandel yah malah bolos pelajaran.” sungutnya.
“Aduh sakit ra.” keluhku dan aku pun ditariknya ke kantin untuk gabung dengan Regas Angga dan Helen. Tapi begitu di kantin Clara mengajak ku duduk terpisah dengan mereka bertiga.
“Ko ga bareng mereka ra?” tanyaku heran namun Clara hanya duduk tepat didepanku dan menatapku dengan wajah yg sangat serius.
“Jujur deh bo ama aku, kamu kenapa?”
“Aku gak apa-apa ra.” jawabku singkat.
“Bo jujur, kamu tuh ga bisa bohong ama aku. Kamu tuh keliatan banget lagi ada masalah. Ada apa sih?” tanya Clara dengan wajah yg mulai khawatir. Aku tidak bisa melihat Clara seperti itu, disatu sisi aku juga tidak mungkin menceritakan hal ini. Aku hanya bisa memaki diriku sendiri dalam diam.
“Aku belum bisa cerita sama kamu ra.” jawabku mencoba jujur yg mungkin itu bisa menenangkannya namun aku salah. Jawaban ku mendadak membuat raut muka Clara berubah seperti kecewa. Ia tertunduk lemah dan bangkit meninggalkan ku berjalan kearah dimana Regas Angga dan Helen duduk meski sempat berkata lirih kepada namun masih bisa kudengar.
“Maaf ya bo kalo aku belum bisa sepenuhnya jadi tempat kamu cerita.”
Rasa bersalah yg semakin memuncak membuatku pergi meninggalkan kantin saat itu.

Ketika Kita Muda Part 9Ilutrasi Clara

Selama di kelas setelah jam istirahat pertama berakhir, Regas dan Angga nampak sama sekali tidak berupaya mengajaku ngobrol. Mereka sangat paham sikapku jika sudah seperti ini hanya ingin sendiri tanpa diganggu siapapun.
Ketika jam istirhat kedua berbunyi pun Regas dan Angga jalan ke kantin tanpa mengajaku dan kuperhatikan Clara pun ikut bersama dengan mereka. Aku menundukan kepala ku di meja dan memejamkan mataku, ingin rasanya tidak lagi membuka mata ini.
Selang 10-15 menit kemudian ada seseorang duduk disampingku dan begitu aku mengangkat kepalaku ternyata Clara membawakan satu kotak sterofoam berisi Bubur Ayam yg masih panas, mengaduknya dan mengarahkannya ke mulutku.
“Makan bo, kamu belom makan pasti laper kan.” ujar Clara yg membuatku mengumpat.
Fak berasa dejavu.
Karena tak ingin berdebat aku pun membuka mulutku menerima suapan dari Clara.
“Kamu nanti pulang bareng aku aja yah bo, motor mu tinggal aja disini nanti titip Pak Karim.” usul Clara.
“Ga usah ra, aku masih bisa bawa motor ko. Kamu bimbel aja.” tolak ku halus yg sempat direspon Clara dengan cemberut.
“Besok kan katanya kerumah kamu, kalo aku sekarang sakit nanti batal dong.” ujarku mencoba mengalihkan perhatiannya dan lumayan mampu membuat Clara kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Sikap perhatian Clara kepadaku membuat rasa sakit karena bersalah ini semakin menyesak diuluh hati, entah kenapa rasa sakitnya berubah menjadi fisik.
“I will do anything for you bo, until you rely on me a hundred percent.” ujar Clara sambil sekali lagi melemparkan senyumnya yg anggun.
Mendapat perlakuan itu logika dan hati ku kompak bergumam dalam hati, aku merasa tak pantas lagi menjadi pacar mu ra.

Kondisiku masih dalam tekanan rasa bersalah disisa jam pelajaran hingga bel pulang sekolah berbunyi. Saat itu kupikir hanya Erik yg paham masalahku karena selama ini kami selalu saling bercerita tentang kami masing-masing tanpa ada yg ditutupi. Kami bisa saling terbuka tanpa takut rahasia kami tersebar.
Diparkiran aku pun berpisah dengan Clara dan langsung memacu motorku ke arah Cikini tempat kos Erik yg berdekatan dengan kampusnya. Erik seumuran dengan Kakak perempuan ku, jadi saat itu ia pun seorang mahasiswa yg berkuliah di salah satu perguruan tinggi seni di Jakarta yg entah mengapa mengambil jurusan seni rupa padahal bakat musiknya justru yg sangat bagus.
Sekitar pukul 5 sore aku menunggu didepan kosnya sambil memainkan kucing anggora milik Ibu kos karena ternyata Erik belum pulang kuliah.
30 menit berlalu akhirnya ia datang dengan motor gedenya Kawasaki Z650 Tahun 1983 warisan Ayahnya yg sangat langka.
“Njul! Tumben lo.” sapanya begitu melihatku.
Oh iya keluarga besarku sering memanggilku dengan sebutan Panjul namun karena tak suka dengan panggilan itu aku tak pernah menghiraukannya.
“Fak lo.” jawabku singkat.
“Hahaha masih aja ngambek kalo dipanggil Panjul lo nji.” ujar Erik sambil membuka helm dan jaketnya serta menawarkanku masuk ke kosnya dan aku pun masuk mengikutinya.
“Kalo mau minum di kulkas banyak, kalo makan beli sendiri ya gue aja belom makan.” cerocosnya sambil mondar mandir merapihkan beberapa barang yg berantakan.
“Tunggu gue mandi, abis itu kita langsung cabut. Gue tau lo kesini pasti lagi galau. Daripada bengong di kosan.” lanjutnya tanpa menunggu jawaban dariku berlalu ke kamar mandi.
Sekitar pukul setengah 7 malam setelah berganti pakaian termasuk aku yg dipaksanya mengganti baju SMA ku dengan baju dan celana yg ia pinjamkan dengan alasan malu jalan dengan anak SMA, kami berduapun melaju ketempat yg aku sendiri belum tau kemana menggunakan motor masing-masing dan aku hanya mengikutinya dari belakang namun begitu memasuki Jalan Antasari aku bisa menebak ia mengarahkan perjalanan ini ke Cafe Radio Dalam tempatnya biasa perform.
Begitu tiba dan melepas helm akupun langsung menghampirinya.
“Lo perform?” tanyaku
“Ga, nonton aja ada temen gue yg perform.”
“Temen special hehe.” lanjutnya cengengesan yg kurespon dengan menganggukan kepala.
Erik mengajaku kearah belakang Cafe yg sepertinya ruangan khusus tempat para pengisi acara, ruangan itu cukup luas dengan beberapa sofa dan meja rias.
Ia bersalaman dengan beberapa orang yg tak ku kenal namun dari penampilannya sepertinya mereka semua satu band yg akan mengisi acara di cafe malam ini.
Erik menarik salah satu wanita dan memperkenalkannya kepadaku.
“Nji, kenalin Manda.” ujarnya kepadaku dan seorang yg bernama Manda tersebut mengulurkan tangannya kepadaku dan kusambut. Kami pun berjabat tangan.
“Panji.” sapaku singkat.
“Manda.” jawabnya dengan suara serak basah, begini toh selera Erik gumamku dalam hati.
“Pasti nama lengkapnya Amanda ya?” lanjutku.
“Manda aja sih sebenernya.” jawabnya sambil tertawa ringan.
“Gagal ngelawak ya bro.” ucap Erik sambil menepuk pundak ku yg kujawab hanya dengan cengengesan.
“Selera humor Manda tinggi, ga bakal kena ama lawakan norak lo.” lanjut Erik.
“Kampret.” jawabku singkat namun membuat Manda kembali tertawa.

Aku dan Erik pun akhirnya kembali ke teras Cafe untuk duduk dan menanti band Manda tampil sambil mengobrol ngalur ngidul sebelum curhat masalahku kepadanya.
Manda dan bandnya pun memulai penampilan mereka membawakan lagu jazz yg tak ku kenal namun sangat enak didengar. Mereka menutup penampilan awal dengan sempurna hingga beberapa penonton di cafe memberikan standing aplause.
“She has good appeal point when singing on the stage. I can imagine how you fall in love with her.” ujarku kepada Erik.
“Binggo!” jawab Erik singkat sambil tersenyum tengil seraya menaikan alisnya.
“Eh cerita lo ada masalah apa? Clara?” tanya Erik sambil memajukan badannya mendekat kearah ku seolah siap mendengarkan.
Aku akhirnya memulai ceritaku panjang lebar tanpa ada satu pun yang tak kuceritakan kepada Erik termasuk soal aku telah meniduri Vina yg merupakan inti dari permasalahan ku saat ini. Aku bercerita sambil sesekali Erik pun menanggapi meski lebih banyak mendengar, mungkin sekitar dua jam ia mendengarkan semua cerita masalahku.
Kampretnya setelah cerita panjang lebar dan menceritakan bagian puncak masalahnya Erik hanya merespon dengan tertatawa terbahak-bahak, entah bagian mana dari ceritaku yg ia anggap lucu.
“Tai lo malah ketawa.” ujarku
“Lo mending ikut gue, bentar gue pamit dulu ama mereka.” jawabnya seraya bangkit menghampiri Manda dan temannya, ia terlihat membungkuk untuk pamit.
“Gue kira lo mau nganter Manda pulang.” ujarku sambil bangkit dan memakai jaket.
“Gampang, gue nemenin lo dulu malem ini. Ayo.” jawabnya sambil mengambil jaket diatas meja dan menggunakannya.
“Mau kemana lagi sih udah malem kali.” protesku.
“Udah ikut aja jangan bawel biar lo gede, ini masih sore.” jawabnya yg tak ku mengerti.

Kamipun berlalu meninggalkan cafe tersebut sekitar pukul 10 malam lalu kembali memacu motor kami kearah Kemang dan berhenti didepan sebuah Club.
“Lo mau ngajak gue kesini? Umur gue baru 18 tahun bego! Emang boleh?” ujarku ketus kepada Erik setelah memarkirkan motor dan melepas helm kami.
“Gampang itu urusan gue, lo ikut aja.” jawab Erik santai.
Aku yg ragu pun ditarik Erik ke arah pintu masuk Club, Erik menghampiri security dan tampak mengajaknya ngobrol seru sambil tertawa seperti sahabat lama yg sangat dekat.
“Ayo.” ujarnya dan akupun masuk tanpa penolakan yg berarti.
Deru musik dan bau alkohol yg sedikit mirip dengan wangi rum menyergap begitu masuk ruang klub yg ramai dan padat malam itu.
“Pusing gue ama hawanya ngapain sih kita kesini?” ujarku sedikit berteriak kepada Erik.
“Lo bentar lagi kuliah, kalo lo masih polos begini nanti malu-maluin. Udah biasain.” jawabnya yg juga sedikit berteriak.
Aku berjalan ke arah salah satu meja dengan sofa model melingkar disekelilingnya namun ditarik oleh Erik.
“Lo mau kemana?”
“Duduk.” jawabku singkat.
“Kampret.” sahutnya dan aku pun malah ditariknya kedepan meja bartender yg kebetulan ada dua kursi kosong.
“Emang kenapa disana?” tanyaku.
“Nanti juga paham.” jawabnya singkat dan memesan dua gelas koktail vodka kepada bartender.
“Gue ga minum.” tolaku namun ia tetap memintaku mengambil gelasnya.
“Pegang aja.” ujarnya seraya memutarkan badannya ke arah dance floor. Kuperhatikan Erik melambaikan tangannya kearah seseorang yg membuatku ikut memutar badanku karena penasaran siapa yg ia sapa.
“Kenalan gue, namanya Yuli. Gue ketemu dia disini sekali, mabok bareng, pulang nya gue anter doi ke kosan dan kita ML.” jelas Erik sambil menenggak sedikit koktail nya.
“Erik!” tiba-tiba ada wanita disebelahnya yg menyapanya dan merekapun cipika cipiki. Erik terlihat membisikan sesuatu dan wanita itu pun tertawa tak lama kemudian berlalu kembali ke meja dimana ada beberapa temannya disana.
“Kalo yg itu namanya Dea. Gue perlu PDKT dulu sampe akhirnya bisa nidurin dia. Tapi sampe sekarang sesekali kalo lagi sama-sama kosong kadang kita ketemu cuma buat begituan. Ya friend with benefit lah.” lanjutnya bercerita dan kita persingkat saja momen dimana Erik memamerkan beberapa teman wanitanya sekitar 8 orang di Club tersebut yg keseluruhannya sudah pernah ia kencani dan diajak tidur.
“Terus maksud lo apaan cerita kaya gitu ke gue? Pamer?” ujarku sinis.
“Gue kasih tau lo nji common sense dalam menjalin hubungan orang dewasa jaman sekarang. Lo mau tau apa kesamaan dari semua wanita yg udah gue tidurin?” tanyanya dengan gaya sok Playboy seakan paling paham wanita yg kujawab singkat dengan menggelengkan kepala.
“Mereka semua yg melakukannya atas dasar sama-sama mau.”
“And then? What? Ya terus kenapa?” tanyaku penasaran.
“Sometime sex is part of having fun nji! Not always about love.” ujarnya.
“Berdasarkan cerita lo, siapa tuh tadi temen lo? Vina ya? Dia yg ngajak kan? So it’s not a big deal dude!” lanjut Erik dengan wajah seriusnya.
“Apalagi sorry no offense, she’s not virgin. Lo ga ngerusak Vina. Anggap aja kalian lagi sama-sama mau. Jadi lo ga perlu mikirin itu sebagai sebuah kesalahan apalagi merasa bersalah berlebihan ke Clara. Everything is okay nji. Jangan cengeng cuma gara-gara lo nidurin cewe doang. Only sex! No love! No more! Lo semua kan udah pada kelas 3, artinya udah 18 tahun. Come on man! You already enter the real life!!” lanjut Erik melengkapi ceramahnya malam itu kepadaku.
“Kecuali. Kecuali nih ya, kalo lo ada main hati ama Vina.” tutup Erik sambil menunjuk dadaku dengan tatapan tajam yg hanya aku jawab dengan menggelengkan kepala.
Aku sendiri pun berpikir apa maksud gelengan kepalaku, apa aku menolak statement Erik atau tidak mengungkiri statement Erik. Entahlah.
Logikaku masih belum sepenuhnya menerima nasehat Erik, bagiku kesalahan yg aku perbuat secara sadar di rumah Vina tidak sesimpel itu.
“Udah santai jangan dibawa pikiran nanti lo sakit.” ujar Erik.
“Lah katanya ga minum?” lanjut Erik begitu melihatku menenggak koktail vodka yg ia pesan.
Aku yg kaget pun langsung menelannya, rasa hangat pait manis dan sedikit asam menyeruak memenuhi mulutku. Aku menahan rasa mual dan ingin muntah dengan mencoba mengatur nafas dalam karena malu tentunya apabila membuangnya.
“Fak ga sengaja, gue aus dan lupa kalo ini koktail.” ucapku dengan wajah panik.
“Bego!” sahut Erik sambil memukul kepalaku dan tertawa.
Merasa tanggung akupun menghabiskan sisa koktail dalam gelas kecil itu dan cukup membuat kepala ini agak pusing.

Keesokan harinya aku bangun cukup siang karena semalam baru pulang sekitar pukul 1 dini hari dan sempat diomeli oleh Ibuku namun segera di bela Ayahku begitu tau aku keluar bersama Erik.
Aku dibangunkan oleh bunyi handphone yg kulihat panggilan masuk dari nomor Clara.
“Iya ra?” ucapku lemah membuka obrolan ditelpon pagi itu.
“Kebo! Ko baru bangun sih. Kamu kan janji mau ke rumah, pokoknya sebelum makan siang ga mau tau udah sampe rumah aku.” cerocosnya ketus yg kujawab dengan menyanggupi permintaannya dan Clara pun menyudahi teleponnya yg begitu kututup terpampang jam di layar handphoneku membuatku terperanjat dari tidurku. Fak setengah sebelas.

Aku segera mandi dan berganti pakaian, hari itu aku menggunakan kaos polos warna putih dipadu kemeja flanel kotak kotak yg sedang ngetren saat itu dan celana panjang denim.
Saat berpamitan, ayah sempat menawarkanku menggunakan mobilnya namun kutolak mengingat aku harus mengejar waktu sebelum makan siang sehingga lebih memungkinkan menggunakan motor.
Siang itu jalanan sangat tidak bersahabat, cuaca panas dan macet yg lumayan panjang di daerah Blok M.
Sesampainya di depan rumah Clara kulirik jam tangan pukul 11.48 lalu bangkit dari jok motorku untuk menekan bel rumahnya yg memiliki pagar tinggi tak kalah dengan rumah Vina.
Seorang pria paruh baya membukakan pagar dan tersenyum ramah ke arah ku serta langsung mempersilahkanku masuk.
Aku ditemani hingga teras depan rumahnya dan ditinggalkan namun ia sempat meminta kunci motorku untuk dipindahkan kedalam, aku awalnya menolak dan berkata akan menindahkan sendiri karena merasa tak enak menyuruhnya tapi ia memaksa untuk memindahkannya akhirnya aku pun menyerahkan kunci motorku.
“Bisa Pak bawa motor gede?” tanyaku meragukan badannya yg memang kecil.
“Aman den. Oh iya panggil aja Mang Diman.” jawabnya seraya pergi meninggalkanku.
Setelah memperhatikan Mang Diman mampu memindahkan motorku aku pun berbalik untuk mengetuk pintu namun terlebih dulu terbuka oleh Clara yg menyambutku dengan wajah cemberutnya.
“Lama banget sih!” sungutnya ketus.
“Macet tadi ra.” jawabku yg tak dihiraukannya malah menarik tanganku untuk segera masuk kedalam rumah mengikutinya.
Hari itu Clara sangat cantik dan anggun, meski kuakui setiap hari dimata ku ia selalu terlihat begitu namun hari ini terlihat lebih dari biasanya. Ia menggunakan baju rajutan lengan panjang model full neck yg ketat berwarna hitam dipadu rok 7/8 berwarna krem model rempel.
“Ngapain sih ra buru-buru? Kaya janjian makan siang ama orang penting aja.” sahutku protes karena sikap Clara berlebihan hanya untuk makan siang berdua dirumahnya namun pertanyaanku terjawab begitu di meja makan ternyata telah ada dua sosok pria dan wanita paruh baya yg menoleh tersenyum kearahku saat aku datang.
“Pah Mah kenalin, ini Panji pacar Clara.”
Jantungku terasa berhenti sejenak begitu mendengar ucapan terakhir Clara, kali ini kejutannya tidak lucu buatku.
“Siang om tante. Maaf nunggu lama.” jawabku sedikit gugup namun berakting seolah tau bahwa akan dikenalkan dengan Ayah dan Ibunya.
“Sini Panji duduk.” pinta Ibu Clara dengan nada yg ramah. Aku dan Clara pun berjalan ke arah meja makan dan sempat kuinjak kaki Clara sebagai bentuk protesku atas kejutannya yg ia balas menginjak kaki ku sambil tersenyum menahan tawa padahal saat itu aku sedang tidak mengajaknya bercanda.
Kami berempat duduk di meja makan yg cukup besar dimana Ayah Clara berada ditengah meja makan posisi tuan rumah pada umumnya serta Ibu Clara berada disamping Ayahnya atau didepan kami berhadapan dengan posisi aku dan Clara.
“Clara daritadi udah uring-uringan loh nungguin kamu.” ucap Ibunya Clara seraya mengangkat alisnya sebagai isyarat meledek anaknya.
“Ih apaan sih mah.” jawab Clara salah tingkah.
“Sudah-sudah ayo makan yg ditunggu juga sudah datang. Silahkan panji, jangan malu-malu.” ujar Ayah Clara yg juga ramah meski suaranya cukup berat khas orangtua galak jaman dulu.
“Iya om.” jawabku singkat sambil tersenyum kearahnya.
Ibunya Clara memulai mengambil makan untuk Ayahnya, aku yg merasa keluarga Clara menjunjung Table Manner hanya diam menunggu instruksi atau minimal bantuan Clara untuk mengambilkan aku makanan.
“Ini yg masak Bi Tuti tapi dibantu Clara, tumben-tumbenan tuh mau ke dapur walaupun cuma ngerepotin doang paling.” ucap Ibu Clara melanjuti obrolan makan siang kami saat itu.
“Mama ih udah napa.” protes Clara dengan nada manja.
“Dirumah Panji, Clara sering ikut Mama Panji masak ko tante.” ujarku menanggapi.
“Oh ya? Ko ga pernah cerita kamu sayang.” tanya Ibu Clara kepadanya.
“Cerita juga paling Mama ga percaya.” jawab Clara sambil manyun.
“Memang sudah berapa lama kalian ini pacaran?” sahut Ayah Clara yg membuatku cukup tersedak, aku hanya menoleh kearah Clara meminta ia untuk menjawabnya.
“Semenjak nilai Clara naik semua dong.” ucap Clara menyombong.
“Padahal Clara itu semenjak kelas dua sudah om masukin bimbel tapi nilainya baru naik signifikan setelah pacaran sama kamu nji. Kamu pernah jadi mentor bimbel? Atau gimana?” lanjut Ayah Clara menyelidik kearahku yg sempat membuatku menggaruk kepala meski tidak gatal.
“Mungkin karena Panji lebih tau pelajaran di sekolah kaya apa, kalo dibimbel kan mereka pake metode yg sama buat semua siswa sedangkan pelajaran mereka di sekolahkan bisa jadi beda om.” jawabku mencoba merendah tapi begitu kucerna lagi aku merasa jawabanku malah terlihat sombong.
Ayah Clara yg mendengar jawabanku hanya mengangguk sambil tetap menikmati makan siangnya.
“Om sebenernya tidak melarang Clara berteman dengan cowo atau lebih jauh berpacaran asal tidak merusak nilai sekolahnya. Jadi yg om tidak suka itu dampak dari pacarannya yg bikin nilai turun, kebanyakan main sampe lupa waktu. Kaya dulu waktu siapa pacarmu ra? Kiki? Nilainya turun semua.”
“Apaan sih pah, ga kenal tuh orang pacar pertama Clara Panji.” ujar Clar ngeles yg disambut tawa oleh Ibunya.
“Kamu itu ra ra.”
Akhirnya kami melanjutkan makan siang hingga selesai sambil mengobrol beberapa hal tentang sekolah, rencana studi setelah lulus dan hal-hal lain. Diluar dugaanku, orangtua Clara sangat ramah walaupun cukup kaku. Mungkin karena mereka keluarga ningrat jadi meski hanya makan siang pun tetap ada normanya.

Setelah selesai makan Ayah dan Ibunya Clara menyuruhku menunggu di ruang keluarga, aku pun duduk menonton tv kabel dengan Clara dan memasang wajah cemberut.
“Kejutan mu ga lucu ra.” ujarku yg hanya ia jawab menjulurkan lidahnya saat aku menoleh kearahnya.
Tak lama kemudian Ayah dan Ibunya kembali dengan membawa koper besar.
“Panji, om dan tante tinggal dulu yah. Nanti kalo ada apa-apa minta ke Bi Tuti atau Mang Diman aja. Titip Clara.” ucap Ibu Clara yang membuatku bangkit dari sofa dan berdiri menghampiri mereka.
“Ra nanti kamu jangan lupa suruh Helen kesini nginep nemenin kamu malem ini.” lanjut Ibu Clara yg dijawabnya dengan mengangguk.
Setelah berpamitan mereka pun keluar sambil kubawakan koper besarnya dan memasukan ke bagasi dibantu oleh suprinya, mobil mercedes benz s-class orangtua Clara pun berlalu dari hadapan kami. Tak lama Clara menarik tanganku untuk kembali masuk ke dalam dan mengajaku ke teras belakang dimana ada kolam renang besar yg diatasnya terdapat gazebo lalu mengajaku mengobrol disana.
“Aku kira rencana Papa Mama kamu ke Manado karangan kamu doang buat bikin suprise yg ga lucu tadi ra.” ucapku yg masih protes tidak terima atas kejutan Clara.
“Aku ga pernah bohong kali bo ama kamu week.” jawabnya seraya menjulurkan lidahnya.
“Terus kenapa ga jujur kalo mau ngenalin aku ke Papa Mama?” lanjutku.
Clara sempat terdiam lama sambil matanya hanya memandang kolam renang dibawah gazebo ini.
“Bo, awalnya aku pun belum berencana buat ngenalin kamu. Takut Papa Mama masih melarang aku pacaran. Tapi sikap kamu kemarin bikin aku merasa kamu belum mau sepenuhnya terbuka sama aku. Aku sadar itu bukan salah kamu, aku sendiri ga terbuka dengan hubungan kita khususnya ke keluarga aku.”
“Makannya bo, aku mau mulai hubungan kita dari keterbukaan dengan mengenalkan kamu ke Papa Mama ku.” lanjut Clara dengan raut wajah yg agak sedih.
“Apa yg bikin kamu yakin Papa Mama kamu mau nerima hubungan kita? Kalo disuruh putus gimana?” tanyaku yang lagi-lagi Clara cukup lama terdiam sebelum menjawabnya.
“Aku lebih baik kehilangan kamu karena perintah Papa Mama bo daripada karena aku ga bisa ngasih yg terbaik buat kamu, kehilangan kepercayaan kamu, kehilangan cinta kamu. Aku ga sanggup kalo pisah karena alesan itu bo.” jawab Clara disertai air matanya yg mulai mengalir.
Aku pun segera mendekap kepalanya didadaku dan memeluknya erat.
“I don’t deserve it ra.” ucapku lirih sambil memaki didalam hati atas kesalahan bodohku, aku ga pantes nerima cinta kamu yg tulus ra gumamku dalam hati melanjuti ucapanku.
“No, you deserve it bo.” sahut Clara sambil mengangkat kepalanya menoleh kearahku.
“Kenapa?” tanyaku lirih.
“I will tell you everything.” jawab Clara sambil mengecup bibirku kamipun berpagutan dalam ciuman yg dalam.

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 10 | Ketika Kita Muda Part 10 – END

(Ketika Kita Muda Part 9)Sebelumnya |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 11)