Ketika Kita Muda Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Ketika Kita Muda Part 1

Start Ketika Kita Muda Part 1 | Ketika Kita Muda Part 1 Start

The Beginning
Maret, 2019

Perlahan dengan lembut jari lentiknya mengurut batang kontolku seirama dengan gerakan bibir tipis merona yg maju mundur memenuhi isi mulutnya disertai lumuran basah lidahnya. Sungguh terasa nikmat ditambah tatapan nakal matanya yg sayu seakan menyatakan bahwa dirinya begitu ahli dalam memblow job pria. “Hmmm nikkmattthh beib?” ujarnya ditengah hisapannya yg semakin cepat. “Hmmm dikitt lg keluarrh beib” rasa ngilu ini semakin menjadi saat batang kontolku dan bibir tipis serta lidahnya terus beradu bergesekan, basah, geli, lembut ah aku sudah tidak sanggup menahan ujung kontolku yg semakin memanas dan segera ingin menumpahkan seluruh isinya.
Tanpa meminta persetujuan akupun melepas semua sperma itu dalam mulutnya yg masih terus mengulum kontolku.
“Aaakhhh beiibhh”
“Croooot crooot croooot”
Beberapa kali tembakan kontolku menumpahkan sperma memenuhi mulutnya yg kecil itu.

“Mmm kamu ko g bilang mau keluar” ujarnya setelah menelan semua spermaku.
“Hhh sori beb.. gak apa apa tuh kamu telen?” Tanyaku padanya yg heran
“Gp2, itung-itung hadiah buat kamu yg udah bikin aku orgasme tiga kali” jawabnya dengan senyum manis yg kemudian bangkit melingkarkan tangannya dileherku dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
“No, bekas lendirku. G mau” tolaku seraya menolehkan kepala untuk menghindari bibirnya yg masih menyisakan lendir spermaku.
“Ih jahaaat” manjanya.
“Bayaranmu sudah ku transfer, kamu bisa pergi sekarang. Udah sejam, aku g mau bayar over charge.”
“Kamu dingin banget, kamu g perlu bayar over charge ko. Kan aku yg masih mau lama sama kamu” godanya sambil memeluk diriku dari belakang yg sedang menyeduh kopi.
Ya wanita itu bukan istriku bukan pula kekasih ku, ia hanya partner one night stand yg kebetulan sedang menemaniku malam ini.
Kupikir menuntaskan birahi melalui wanita panggilan bisa melepaskan kepenatan hari ini ditengah kesibukan diriku yg baru saja dipindah tugaskan ke Head Office.

Jendela hotel didepan pandangan ku menerawang ke sebuah jalan besar dibawah sana, hiruk pikuk kendaraan bermotor serta padatnya orang-orang yg berlalu-lalang kembali membawaku kepada ingatan 15 tahun lalu. Ya 15 tahun lalu ditempat ini, aku mengahabiskan masa berseragam putih abu-abu. Tawa, tangis, sendu, bahagia, sukacita dan semuanya yg pernah terjadi mengisi kembali memenuhi refleksi dalam proyeksi otaku. Setiabudi, Jakarta, begitu mereka manyebutmu.

Agustus, 2004

Semua murid kelas dua dan tiga berkumpul didepan papan pengumuman, riuh padat bising memenuhi suasana koridor yg sempit itu. Mereka sibuk mencari nama masing-masing, dimana mereka ditempatkan tahun ini. Pembagian kelas adalah pemandangan rutin tiap tahun di sekolahku, ada yg berlomba untuk berada di kelas unggulan, ada juga yg sekedar memastikan mereka dan sahabat-sahabat satu gengnya ditempatkan dikelas yg sama.

Sementara aku hanya berdiri bersandar didepan pintu perpustakaan yg tidak jauh dari papan pengumuman, sambil menunggu kondisi sepi untuk mencari tahu kelasku. Buatku sebenarnya ditempatkan dikelas manapun tak masalah, hanya saja aku ingin segera duduk dan melanjutkan tidurku yg tertunda pagi ini karena harus kembali bangun pagi untuk sekolah setelah hampir sebulan lamanya libur akhir semester.

Tak lama berselang terdengar keributan kecil didepan papan pengumuman tersebut, benar saja dugaanku ada seorang wanita yg menangis karena berpisah kelas dengan teman satu gengnya. Kuperhatikan ia adalah Clara, beserta geng centilnya yg kurang lebih ada enam orang. Nanti kuceritakan lebih lanjut siapa Clara.

Melihat situasi didepan papan pengumuman yg berangsur sepi akupun beranjak dari tempatku berdiri sekarang untuk segera melihat dimana kelasku. Tak perlu waktu lama, aku langsung menemukan namaku di kelas paling awal 3 IPA 1.

Panji Darmawan

Ya perkenalkan itulah namaku, biasa dipanggil Panji. Nji. Kebo (kalo yg ini karena tukang tidur di kelas bukan karena gendut). Sepertinya tak perlu detail ilustrasi mengenai diriku, karena pembaca pasti lebih menanti ilustrasi pemeran wanita.

“Hmm lagi lagi di kelas unggulan, alamat ga bisa tidur” keluhku. Ya bisa dibilang di sekolah ini para murid memperebutkan kelas unggulan, selain gengsi di kelas ini juga nantinya diisi para guru terbaik bahkan kelas ini tak akan dibiarkan ada pelajaran kosong. Apabila ada guru yg berhalangan, guru pengganti akan masuk.

Itulah mengapa aku langsung mengeluh begitu tau diriku kembali masuk kelas unggulan tersebut. Kupikir gelar tukang tidur waktu di kelas 2 IPA 1 akan membuatku dicoret dari kandidat murid unggulan. Tapi kutemukan dua sahabatku yg lain juga masuk kelas yg sama, setidaknya itu sedikit menghiburku.

“Kita sekelas lagi nji? Ah kampret. Bosen gue ama lu.” Ujar Regas yg tiba2 muncul mengagetkanku dari belakang.

“Gimana mau sukses kalo temennya lo lagi lo lagi. Koneksi gue ga nambah-nambah” celetuk Angga tak lama kemudian.

“Jodoh kali kita” ujar Regas seraya merangkul aku dan Angga.

“Yeee kita kalo mau homo juga pilih-pilih kali” jawab ku dan Angga kompak sambil melepaskan rangkulan Regas dan berjalan menuju kelas 3 IPA 1.

Seperti biasa hari pertama masuk sekolah belum efektif belajar, beberapa murid hanya berkumpul dengan gengnya masing-masing dan bercerita tentang liburan atau gosip-gosip lainnya. Ada juga yang tidak terlihat terutama para panitia MOS (Masa Orientasi Siswa) yang kebanyakan dari mereka adalah anak OSIS sedang sibuk mengisi acara penyambutan anak baru.

Sementara aku dan Angga hanya duduk dipojok kelas sambil membaca koleksi komik anime miliknya macam dua wibu jomblo yg suram. Sebenernya aku dan Regas lah yg telah mencekoki Angga untuk menyukai anime, namun entah mengapa sekarang dia lebih addict dari kami. Bukan hanya komik bahkan Angga jg mengoleksi barang2 cosplay, ah dasar anak orang kaya.

Oh iya Regas adalah bagian dari anak OSIS sehingga dia ikut sibuk mengurus anak baru, anak itu memang paling narsis diantara kami bertiga, paling stylish dan paling suka tebar pesona makannya momen MOS seperti ini tentu tidak akan dia sia-siakan untuk menggaet anak baru. Walaupun aku yakin tingkah sok asik dan humorisnya masih belum sanggup mengangkat tampang pas-pasannya bahkan untuk menggaet adik kelas. Kalian pasti nanti paham kenapa aku bisa berkomentar seperti pada sahabatku yg satu itu.

Kembali ke kelas kami, sekitar pukul setengah sepuluh murid-murid 3 IPA 1 diminta berkumpul di kelas. Kurang lebih 5 menit kemudian pun kelas ini sudah lengkap (kecuali panita OSIS yg memang tetap diminta bertugas seperti biasa), ya benar-benar ciri khas kelas teladan. Sangat patuh terhadap aturan.

Tak lama berselang masuk lah Ibu Ida, guru mata pelajaran Fisika yang juga merangkap Wakasek Kesiswaan bersamaan seorang siswi yang tak asing bagiku. Clara.
“Baik anak-anak, ibu hanya ingin menyampaikan bahwa atas kesepakatan dan pertimbangan Dewan Guru, Clara resmi dipindahkan ke kelas 3 IPA 1 karena prestasinya kemarin memenangkan Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi mewakili sekolah kita. Jadi harapannya dengan bergabungnya Clara di kelas ini akan meningkatkan prestasi kelas ini.” Kurang lebih begitu penjelasan Ibu Ida saat masuk ke kelas kami, tak lama berselang setelah penjelasan panjang disertai nasihat-nasihat beliau meninggalkan kelas kami.

Clara yg sudah dipersilahkan untuk bergabung langsung berlari kearah meja yg berisi kelima temannya di geng centil.

Oke mungkin sekarang waktunya aku cerita sedikit siapa Clara, kenapa ga banyak karena nanti dia bakal banyak ko nongol di cerita ini.

Ilustrasi Clara

Clara ini adalah temen sekelas ku waktu di 2 IPA 1, kita pernah beberapa kali sekelompok bareng dalam tugas. Selain memiliki kecantikan yg diatas rata-rata anak seusianya saat itu, kepribadiannya pun baik, sangat supel, cenderung asik. Clara ini bisa dibilang salah satu Primadona Sekolah, atau untuk ukuran angkatan ku ya dialah juaranya.
Clara berasal dari keluarga kaya, bisa dibilang salah satu keturunan ningrat berdarah Manado, sepengetahuan ku orang tua nya memiliki banyak bisnis dan salah satu alasan dia tenar di sekolah adalah dia lahir dan besar di London, Inggris. Sehingga saat pindah ke sekolah ku, Clara membawa predikat pindahan dari salah satu sekolah di London, kalo tidak salah nama sekolahnya St. Augustine atau apalah. Ya sangat keren buat ukuran anak SMA. Jadi kalian jangan heran apabila kemampuan Bahasa Inggris Clara diatas rata-rata. Kurasa Debat Bahasa Inggris level Provinisi hanya remahan rengginang baginya.

“Dasar anak orang kaya” celetuk Angga melihat keberisikan di meja Clara dan gengnya.
“Sama kaya lu” cemoohku
“Ko lu belain dia sih? Aneh lah masa tiba-tiba pindah kelas? Kalo keputusan guru kenapa ga dari kemarin?” protes Angga
“Jangan su’uzon” jawabku singkat
“Lo suka ya? Dibelain mulu.” Ledek Angga kepadaku
“Hell no!” Tegas ku
“Jadi lo beneran homo nji?” Tanya Angga dengan muka sok serius
“Kagak lah bangsat!” Jawabku sambil menempeleng kepalanya.
“Hahaha kunyuk! Lagian dikasih model Clara belaga nolak”
“Nih ya, pertama doi udh punya pacar. Kedua, gue males punya pacar orang kaya. Rempong!”
“Rempong gimana?” Ujar Angga serius menanggapi percakapakan ku.
“Iya anak orang kaya cowo aja rempong macam lu, apalagi cewe macam dia”
“Sambel lu” ujar Angga kesal
“Eh tapi gue denger dia udah putus loh ama si Dicky” lanjut Angga
“Bodo” jawabku singkat sambil melanjuti membaca komik.

Dicky itu mantan kakak kelas kami yg sekarang telah lulus, dulu ia ketua karate, ya tampang dan gayanya yang mirip artis Mandarin (jamaku Korea belum tenar saat itu) cukup membuat cewe-cewe yang sedang masa puber menjerit-jerit karena karismanya. Tipikal pria idaman cewe SMA saat itu.

“Yee kampret, sok lu. Claranya juga belom tentu mau ama lo.” pungkas Angga melanjutkan pembicaraan ini.
“That’s the point! Buat apa usaha untuk sesuatu yg ga mungkin kita dapatkan.” jawabku.
“Eh tapi lo tau ga gosipnya mereka putus kenapa?” Angga malah merubah pembicaraan kearah gosip.
“Don’t care lah nyet” jawabku singkat.
“Nih ya katanya, Dicky itu ngajak Clara liburan ke Bali. Niatnya buat nidurin Clara disana. Eh katanya pas nyampe Bali pas udah sekamar ditolak. Malah diputusin. Melas ye? Tekor tuh duit.” lanjut Angga bercerita dengan antusiasnya.
“Heh dongo! Itu mah delusi wibu jomblo bin hina macam lo aja kali!” ledek ku kepada Angga
“Serius nyet. Lo kan tau cewe bekasan Dicky udah no segel semua. Enak ye jadi doi.”
“Lo dapet info begituan darimana sih?”
“Apanya? Bekas Dicky atau Clara Putus?”
“Semuanyaaaaa” ujarku sedikt menaikan intonasiku yg membuat seisi kelas memperhatikan kami sesaat.

“Pake toa sekalian kampret!” jawab Angga kesal
“Sori” jawabku berbisik seakan tak sabar mendengar jawaban Angga
“Gue denger dari mulut Dicky langsung pas geng mereka lagi pada kumpul diacara perpisahan kelas 3 bulan lalu.”
“Ternyata selama ini Dicky macarin Clara karena tarohan ama temen-temennya. Kalo Dicky bisa nidurin Clara, doi bakal menangin taruhan.” jelas Angga sedikit berbisik kepadaku.

Aku yg mendengar penjelasan Angga sedikit menoleh kearah meja dimana Clara dan teman-temannya sedang asik berbincang. Sebentar kuperhatikan raut wajah Clara yg sedang termangu khusyuk mendengarkan cerita dari salah satu temannya. Entah apa yg sedang mereka obrolkan, tapi melihat wajah Clara yg kulihat tak sedang duka ataupun sedih, kupikir cerita Angga tadi hanyalah bualan.

Pikiranku mengajak melamun untuk mundur kembali ke masa setahun lalu, ketika aku dan Clara masih sering berbincang. Saat itu ditengah praktikum Biologi, aku yg sedang fokus memotong anatomi katak dikagetkan oleh pertanyaannya.
“Lo percaya Reinkarnasi?”
“Hah?” respon ku dengan wajah yang bingung sembari menunjuk wajah sendiri untuk memastikan kepada Clara bahwa ia bertanya kepadaku.
“Iyalah nji, gue ngajak ngomong elo!”
“Reinkarnasi?”
“Iya kondisi dimana kalo kita mati arwah kita akan hidup lagi, tapi bisa jadi apapun. Manusia, hewan atau tumbuhan.” ujarnya menjelaskan kepadaku.
“Lo kebanyakan nonton film ra.”
“Kebayang ga begitu lo hidup lagi lahir sebagai katak terus dijadiin bahan praktikum kaya gini? Di sayat di mutilasi ama anak SMA yang bahkan ga punya dasar ilmu bedah. Pasti sakit.” Lanjutnya tanpa mempedulikan jawabanku tadi.
“Ya jangan jadi katak.” Jawabku singkat enggan menanggapi khayalannya.
“Terus jadi apa dong yg enak?”
Aku meletakan pisau praktikum dan menghentikan aktifitas menyiksa hewan berdarah dingin tersebut untuk mencoba memberikan jawaban kepada Clara agar ia puas dengan obrolan yg tidak berfaedah ini.
“Kalo gue lebih milih jadi Koala, bisa tidur seharian. Dan ga bakal dijadiin bahan praktikum.”
“Ko bisa?”
“Ga bakal ada orang yang tega bedah hewan imut macam koala.”
“Kalo Pak Ito mah tega aja kali hahaha.” ujarnya cengengesan disertai tawa kami berdua.
Pak Ito itu guru Biologi kami, ya memang orangnya terkenal cukup galak. Dan kami sepertinya tidak sedang beruntung hari itu karena sesaat setelah kami menertawakan Pak Ito, orang itu muncul dibelakang kami.
“Sudah puas Clara? Panji? Tugas kalian belom selesai dan masih bisa bercanda? Lebih baik kalian berdua keluar dan berdiri dibawah tiang bendera sampai pelajaran saya selesai!” Hardiknya tegas membuat seisi kelas memperhatikan kami berdua dengan wajah kasihan.
Aku dan Clara segera merapihkan meja praktikum kami, melepas jaket lab, sarung tangan dan masker lalu berjalan kearah pintu keluar tanpa berbicara sepatah katapun.
Dibawah terik matahari yg cukup panas saat itu sekitar pukul sebelasan kami berdiri dibawah tiang bendera. Meskipun ditengah jam pelajaran tapi cukup banyak orang yg memperhatikan dan bahkan beberapa ada yg menertawakan kami.
“Sori ya nji.” ucap Clara memecah keheningan kami saat itu.
“Kan kita sama-sama bercanda ra.”
“Tapi kan gue yang mulai.” potongnya
“Tapi kalo gue ga nanggepin juga g bakal panjang bercandaan kita.” jelasku mencoba meyakinkan Clara untuk tidak mengkhawatirkan kejadian ini.
“Gue mau jadi apa aja nji, asal bukan jadi manusia.” Clara tiba-tiba berkata hal diluar obrolan kami yang membuatku mengkerutkan dahi.
“Maksudnya ra?”
“Iya kalo reinkarnasi itu ada. Jadi manusia capek, kalo kita salah pasti pada ngehakimi, sisanya ngetawain. Kita bener pun kadang dinyinyirin, digosipin.” Lanjutnya sambil terbata-bata. Kulihat butiran air mata perlahan mulai jatuh ke pipinya.

Hingga detik ini aku tak pernah tau maksud ucapan Clara saat itu karena hari itu aku hanya bisa diam tanpa membalas sepatah katapun ucapan Clara. Aku bingung, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab atau merespon pernyataan Clara saat itu.
Sejak kejadian hari itu aku mulai jarang bahkan hampir tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Pak Ito sengaja mengganti kelompok praktikum memisahkan aku dan Clara agar tidak lagi mengobrol saat praktikum. Dan aku tak lagi punya keberanian untuk mengajaknya mengobrol atau sekedar menyapanya.

Aku kembali tersadar dari lamunan yang saat itu entah bagaimana mataku sedang menatap kosong kearah Clara dan disaat bersamaan dirinya yg sedang asik mengobrol dengan temannya pun seperti menyadari tatapanku dan melihat ke arahku. Aku yg merasa seperti ketangkap basah sedang memperhatikan Clara langsung salah tingkah. Aku segera meletakan komik ditanganku dan berjalan keluar kelas.
“Nji mau kemana?” tanya Angga yg heran.
“Kantin.” jawabku berlalu
“Ikuuuut” ujarnya seraya berdiri dari meja duduknya dan berlari mengejarku.

Setibanya di kantin aku melihat Regas sedang mengobrol dengan seorang siswi yg tidak kuketahui siapa mengingat posisinya membelakangiku. Namun aku tetap berjalan mendekati mereka dua untuk menyapa Regas.
“Eh nji, panjang umur. Ada yg kangen nih.” Sapa Regas begitu melihatku berjalan menghampirinya.
Aku menganggukan kepala sebagai sebuah isyarat kepada Regas menanyakan siapa wanita yg ia maksud.
Tak perlu waktu lama hampir disaat yg bersamaan siswi itu menoleh dan membalikan badannya kearahku.
“Hey nji. Apa kabar?” sapanya disertai beberapa langkah maju untuk mendekat kearah ku, yang langsung ku respon dengan melangkah mundur bermaksud agak menjaga jarak darinya.
“Vina.”

Bersambung

END – Ketika Kita Muda Part 1 | Ketika Kita Muda Part 1 – END

FIRST CHAPTER |Bersambung(Ketika Kita Muda Part 2)