Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21
Part 22Part 23Part 24Part 25Part 26Part 27Part 28
Part 29Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40Part 41Part 42
Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49 END

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 30

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 30

Chapter XXX
After Dinner

Malam ini masih awal, masih lama waktu kami untuk di habiskan bersama, tapi entah mengapa setiap bersama Nita, waktu terasa begitu cepat berlalu. Seolah takkan pernah cukup waktu di dunia ini jika ingin ku habiskan bersamanya, selalu kurang, selalu ingin terus bersamanya.

Bibir kami masih terus bertautan, saling memanu kasih, rasa hangat dari tubuh Nita terasa menghangatkan jiwaku. Lengan ku merangkul tubuhnya, mendekapnya dengan erat, lengan Nita melingkar di leherku menarik tubuhku semakin erat dan bibir kami saling mengunci. Gaun backlessnya membuat tanganku dapat merasakan langsung kulit Nita, terasa halus dan hangat. Rambutnya yang sudah terikat pun tidak lagi menggangu tanganku yang bertualang di punggungnya.

Aku kini mendorong tubuh Nita, membuatnya terbaring di sofa, Nita hanya pasrah menerima perlakuanku padanya. Aku kini menidihnya, kini Nita sudah tidak bisa bergerak dengan leluasa, tapi malah lengannya semakin menarik kepalaku, mengecupnya semakin erat dan dalam.

Aku berusaha menyelipkan tanganku melalui rok lebarnya, dan tentu saja dengan mudah aku berhasil meraih bokong sekal Nita. Nita menggeliat, berusaha mengangkat sedikit bokongnya agar lenganku lebih luasa meremasnya, benar-benar pacar yang pengertian. Awalnya aku mengira baju dan rok yang Nita kenakkan terpisah, ternyata merupakan satu kesatuan. Aku menyadarinya ketika tanganku berusaha mencari resliting rok itu, dan tidak menemukannya.

Akupun mengalihkan tanganku, bergerak menuju dadanya. Aku meremas dengan lembut payudara Nita, perasaan nikmat ini, perasaan yang lembut di tangan ini, memberikan perasaan surgawi dunia tersendiri. Terdengar suara desaha halus dari bibir Nita, walau bibir kami terus bertautan.

Tapi kemudian Nita menghentikanku, dia mendorong sedikit tubuhku, menatapku dengan tatapannya yang sayu, yang di terangi cahaya remang.

“Ted, i just want to say i am all yours do what you please”, lalu bibir kecilnya tersungging, tersenyum, dan Nita kembali memejamkan matanya menyambutku. Aku pun kembali merapatkan bibirku pada bibirnya, mengecupnya dengan mesrah. Terasa tnagan Nita tidak tinggal diam, dia berusaha menarik kemejaku keluar dan menyelipkan tangannya di bawah kemejaku. Terasa tangannya yang hangat yang menyelip melewati celah bajuku menyapu punggungku.

Aku kemudian menghentikan ciuman kami, baju ini terasa menggangu, akupun melepaskan kemeja, saat aku akan meraih kancingku untuk ku buka satu persatu, tiba-tiba Nita meraih tanganku dan mencengkram bajuku. Nita kemudian menyentakkannya dan membuat semua kancing baju itu terpental.

“I just want to do it”, sambil tersenyum lebar padaku.

“Itu sebabnya kamu menyiapkan baju ini’, sambil akupun tertawa kecil, melihat ulah Nita ini. Akupun lalu meraih pundak Nita dan memegangi bajunya. Aku kemudian juga langsung menariknya turun, cukup kencang, membuat payudara Nita seolah melompat keluar dari bajunya. Nita puun menjerit kecil karena itu, dan dia berusaha menutupi kedua payudaranya, mungkin karena terkejut. Nita kemudian menatapku dengan tatapan seolah sedang marah padaku dan menggigit bibir bawahnya.

Walau tidak berhasil merobek baju Nita, paling tidak payudara Nita sudah terexposes, karena baju tersebut lengan panjang, tidak seluruhnya baju itu terlepas, hanya hingga sikut nita saja. Hal itu juga membuat Nita kesulitan bergerak. Aku kemudian menarik lagi lengan baju Nita dan membuat kedua lengannya keluar dari bajunya, Kini Nita sudah topless. Karena bentuk gaunnya yang sekarang sedang menggelayut di bagian depan tubuh Nita, akhirnya Nita dengan sendiri melepaskan gaunnya itu dengan memelorotkannya turun. Akhirnya kini Nita hanya mengenakkan celana dalam di hadapanku.

Aku sendiri juga telah melepaskan kemeja tadi dan sekarang kembali mendekap tubuh Nita dalam redupnya cahaya lilin. Aku mengecup kening Nita lalu kembali kami berciuman, sentuhan kulit Nita di dadaku terasa hangat, gesekan kulit kami, membawa kehangatan bagi kami berdua.

Aku melepaskan ciumanku, kemudian beralih ke payudara Nita, ku julurkan lidahku dan bermain di sekitar putting kirinya, dan tangan kananku mulai membelai dan meremas payudara kanannya. Dari jilatan-jilatan kini berganti menjadi kecupan-kecupan dan hisapan-hisapan kecil di putting Nita. Kemudian berganti menjadi gigitan-gigitan kecil yang tentunya membuat Nita meringis halus, tapi bukannya menghentikanku, tapi semakin membenamkan wajahku dalam pelukannya dengan kedua tangannya. Sedikit sulit bernafas sih, tapi tetap saja nikmat. Aku mempercepat aktifitas ku di payudara Nita, bibir maupun tanganku, membuat dada Nita sendiri menjadi naik turun berusaha mengambil nafas.

Aku kemudian berhenti sejenak dan memandang wajah Nita, Nita terlihat masih berusaha mengumpulkan nafsnya dan perlahan membuka matanya dan memandangku, seperti bertanya mengapa aku berhenti. Kemudian aku meraih dagunya dan menyapu tanganku turun menuju lehernya yang jenjang dan mencengkram leher Nita. Nita mendesah halus lalu matanya membelalak, sepertinya dia sadar apa yang ku maksud. Nita kemudian meraih tanganku, melepaskannya dari lehernya lalu mengecup tanganku dan berdiri meninggalkanku.

Merogoh kedalam tas yang ia bawa, dan kemudian kembali dengan mengenakkan chocker pemberianku, sambil tersenyum dia berjalan melenggang kembali padaku.

“Maafkan aku Tuan, aku melupakannya tuan”, Nita pun bersimpuh di hadapanku yang sedang terduduk di sofa itu, tempat kami bergumul tadi. Masih dalam keadaan duduk, ku elus pipinya, lalu Nita menangkap tanganku dan mengecupnya serta menempelkannya di pipinya.

“Lalu hukuman apa yang cocok untuk budakku yang pelupa ini?”, sambil tetap membiarkan Nita bermain dengan tanganku. Tentu saja aku tidak akan benar-benar menghukumnya hanya karena chocker itu.

“Aku akan melaksanakn semua hukuman yang Anda perintahkan Tuan”, sambil Nita menatapku manja, seolah menunggu hukuman apa yang akan aku berikan padanya. AKupun berdiri dari sofa, dan melepaskan ikat pinggang yang aku kenakkan. Lalu aku berdiri dan berjalan ke belakang Nita dan menarik kedua tangannya kebelakang.

Aku mengenakkan ikat pinggang jenis micro-adjust (ikat pinggang tanpa lubang) sehingga dengan mudah dapat aku gunakan untuk mengikat tangan Nita. Cukup di kencangkan dan tangannya sudah tidak bisa bergerak lagi. Kini tangan Nita sudah terikat di belakang, dan Nita menoleh kebelakang dan sedikit tersenyum nakal padaku. Ku kencangkan ikatan itu, membuat Nita kembali meringis dan memejamkan matanya, dia terlihat menikmatinya.

Aku kembali berdiri di hadapan Nita, memegangi dagunya dan mengangkatnya, menatapku.

“Let’s see, what will be your punishment”

***

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja Ngeseks ya Ngeseks Part 30 Bersambung

(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 29)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 31)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game