Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21
Part 22Part 23Part 24Part 25Part 26Part 27Part 28
Part 29Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40Part 41Part 42
Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49 END

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 24

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 24

Chapter XXIV
Unexpected Meeting

Pukul 1015

“Ted, kamu dari mana? Sepagi ini sudah tidak di apartement”, tanyanya curiga, aku masih sedikit terkejut dengan kehadira Nita di Apartementku, aku sempat terdiam.

“Aku dari gym dan beli bahan di pasar”, sambil menunjukkan kantongan belanjaku, sepertinya dewi fortuna masih berpihak padaku.

30 menit yang lalu:

Saat sedang berkendara dengan motorku, aku merasa sepertinya stok dapur ku dan kulasku sudah mulai menipis, dalam perjalanan pulang aku bisa mengunjungi pasar tradisional dulu, membeli daging dan sayur, lagipula kalau ingin membeli daging b4b1 aku memang harus masuk pasar tradisional karena tidak di jual di pusat perbelanjaan, jadi akhirnya aku sempatkan untuk membeli kebutuhan dapurku sebelum pulang. Dan itulah yang menyelamatkan nyawaku.

“ada apa Nit, kenapa datang ke mari?”, wajah Nita terlihat sedang berpikir, dan menatap kantung belanjaanku, melihat aku memang tampak lusuh, dengan sendal jepit, celan jins biasa dan kaos oblong, karena memang semalam aku langsung saja berangkat tanpa pikir panjang jadi hanya berpakaian seadanya.

Walau sudah mandi di rumah Inggrid tadi, setelah masuk pasar aku berkeringat lagi dan sudah tampak lusuh, hari minggu pasar tradisional itu penuh sesak, jadi pasti akan berantakan jadinya.

Tanpa menjawab perkataanku, Nita merogoh smartphonenya dan menunjukkan padaku sebuah pesan singkat di handphone tersebut, sebuah sms dari nomor tidak di kenal

+6281352123XXX 08:15

Kekasihmu tidak jujur padamu, buktikan sendiri, datangi saja apartementnya, dan kau tidak akan menemukannya.

Aku terdiam dan berpikir membaca pesan itu. Pesan itu masuk pagi ini, sebelum aku meninggalkan rumah Inggrid, sepertinya seseorang juga sedang membuntutiku dan mengetahui aku sedang berada di tempat Inggrid, atau hanya sekedar pesan usil yang tidak jelas apa tujuannya. Kalau kondisinya seperti ini aku harus minta tolong lagi kepada Bang Andre untuk mencari orang ini, dan mencari tahu motifnya.

Tentunya orang ini mengawasi apartementku, sehingga dia mengetahui bahwa aku tidak berada di apartementku, tapi entah mengapa baru bagi dia kirimkan pesan ini kepada Nita, bukan dari semalam. Ada yang harus ku selidiki.

“Wah, sepertinya ada yang bercanda nih, masa kirim pesan kaya gitu”, jawabku sambil berusaha mencairkan suasana karena Nita terlihat tegang dan merasa bersalah telah mencurigaiku. Tapi walaupun sebenarnya benar aku tidak jujur padanya.

“Mana ada orang bercanda seperti ini, pasti orang yang mengenal kita berdua dan tahu apartementmu, dan bagaimana mungkin juga orang jail sampai tahu kamu sedang keluar apartementmu?”, kata Nita penuh tanya kepadaku, ya pasti dengan karakter Nita yang seperti ini akan berusaha mencari tahu siapa yang mengirimkan pesan itu.

“Aku akan coba cari tahu, aku punya teman untuk hal seperti ini”, jawabku dengan ringan sambil memotret pesan dan tentunya menunjukkan nomor si pengirim.

Aku kemudian sambil merapikan belanjaan ku dan memilah yang mana bisa masuk kabinet dan harus di bersihkan dulu kemudian masuk frezer, dan Nita datang membantuku di dapur.

“Maaf ya Ted, aku curiga padamu hanya karena pesan tidak jelas seperti ini”, kata Nita tertunduk sambil membantuku membereskan belanjaanku. Aku hanya merangkul Nita.

“Tidak apa-apa Nit, kalau kamu curiga itu artinya kamu sayang padaku, kalau kamu biasa saja aku yang curiga jadinya, kamu sayang tidak sama aku…”, jawabku membuatnya sedikit merasa lebih releks.

Nita kemudian menyandarkan kepalanya di pundakku, dan tersenym manis padaku. Aku merasa bersalah telah menghianati ketulusan dan kepercayaannya padaku. Aku sungguh berengsek. Setelah itu tidak lama kami telah selesai membereskan belanjaanku. Akupun bersiap menjalankan rutinitasku yaitu mencuci, walau menggunakan mesin cuci, aku tetap harus memastikan setiap saku pakaianku telah kosong, dan tentunya memisahkan pakaian yang luntur dan yang tidak. Setelah selesai akupun menunggu mesin cuciku bekerja, akupun dan Nita bersantai di ruang tamu ku sambil menonton TV.

Tidak lama ketika menonton televisi aku telah mengirimkan pesan kepada Bang Andre untuk mencari tahu siapa yang sedang mengganggu hubungan ku dengan Nita, dan dengan segera dia katakan akan mengurusnya. Aku dan Nita menonton tv sambil pelukan, aku merangkul Nita dalam pelukanku smabil menikmati acara tv. Sambil menonton TV terasa mataku sangat berat hingga tidak lama akupun tertidur.

***

Entah tertidur berapa lama, tapi saat aku terbangun aku melihat Nita sedang menjemur pakaian ku di teras apartementku, ya walaupun terasku tidak begitu luas paling tidak bisa untuk menjemur pakaian, Nita tampak terlihat anggun saat sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, walaupun dia adalah gambaran wanita karir yang luarbiasa dia tetap memiliki sisi feminim.

Aku beranjang dari sofa dan mendekatinya dari belakang kemudian merangkulnya, Nita sedikit terkejut, namun kemudian turut juga merangkul lenganku. Aku kemudian mendaratkan kecupan ke pundaknya dan mengencangkan pelukanku. Nita hanya mengeluarkan suara manja halus yang terdengar merdu.

“I love you Nita”, lalu aku mengecup telinganya dengan lembut.

“I love you too Ted”, dan Nita pun mengecup bibirku sekilas dan kami saling bertatapan, Nita tidak bisa lama-lama hari ini karena dia harus menemani ibunya ke pusat perbelanjaan, bersama adik-adiknya, setelah makan siang, kemudian melanjutkannya dengan latihan, saat ini sudah hampir jam 1300, itu artinya dia sudah harus beranjak dari apartementku dan menjemput keluarganya. Nita sempat mengajakku, tapi aku masih harus merapikan apartementku, jadi aku menolaknya.

***

Saat termenung sendiri di apartementku aku memikirkan semuanya, aku mencintai Nita dan di saat yang sama pula aku jatuh hati pada Inggrid, aku tidak tahu aku harus berbuat apa. Seperti yang ku katakan dulu, aku kehilangan rasa hormat kepada laki-laki yang plinplan menentukan pilihan di antara dua hati, dan kini aku kehilangan kebanggaanku sebagai lelaku, karena aku telah bimbang di antara kedua pilihan ini.

Selain kebimbangan ku ini, hal lain yang mengganggu pikiranku adalah siapa yang beraninya mengirimkan pesan kepada Nita bahwa aku tidak berada dirumah, dan bagaimana mungkin itu bisa diketahui oleh orang lain. Dan bagaimana juga Inggrid bisa mengetahui bahwa aku akan datang ke rumahnya, apakah aku semudah itu untuk di tebak olehnya. Semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar di pikranku, membuatku tidak tenang, membuatku merasa bimbang.

“Ling kamu dimana?”, aku menelfon Inggrid, pikiranku hanya tertuju padanya, tapi apa alasannya aku belum tahu.

“Aku?Udah kangen lagi ya?”, jawabnya manja dan menggoda.

“We neet to meet”, jawabku singkat dengan tegas, harusnya Inggrid bisa membaca kondisi saat ini aku sedang tidak senang, makanya nada bicaranya pun berubah.

“Caffee xxx 20 menit” jawabnya singkat dan menutup telfonnya. Aku segera bersiap dan langsung berangkat menuju tempat janjian kami.

Saat tiba, sepertinya Inggrid belum tiba, karena aku telah melihat sekitar, aku belum melihat Inggrid. Jadi akupun duduk terlebih dulu dan memberitahu Inggrid kalau aku telah tiba, tapi tidak di balasnya.

Tidak lama berselang Inggrid tiba, dia mengendarai motornya dan tampak casual dengan jaket dan baju kaos.

“Ada apa Koh, sepertinya Serius?” sambil duduk dna merapikan dirinya sehabis berkendara tadi.

“Have any idea?”, tanpa panjang lebar aku langsung menunjukkan foto pesan singkat yang ku ambil dari handphone Nita tadi. Inggrid sepertinya terkejut melihat pesan itu dan memperhatikan pesan itu dengan seksama.

“Do you think I the one who send it?”, sambil terlihat bingung menatapku, sambil kemudian tersenyum.

“Yang bener saja koh”, kemudian Inggrid menggeser kusinya ke sisi ku dan kemudian dia mendekatkan dirinya padaku, dan berbisik.

“Aku memang menginginkanmu koh, tapi tidak dengan cara seperti ini, aku akan menggunakan cara yang picik dari ini”, lalu dia tertawa lepas di sisiku, membuatku terkecut dengan perkataanya, cara picik apa yang dia maksud, she is dangerous.

“bukan aku koh yang kirim itu…”, sambil kembali menarik kursinya menjauh dariku.

“AKu hanya bisa mendugamu, tapi benar juga yang kamu katakan Ling, tidak mungkin caramu akan semudah itu…”, jawabku pada Inggrid, lalu dia hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.

“Yes, caraku pasti akan lebih cantik dari ini koko ku sayang”, lalu dia memanggil pelayan untuk memesan. Sambil berbicara kepada pramusaji, akhirnya Inggrid memesan sesuatu.

“If you want, I can tell a friend to help you find it”, sambil menatapku.

“I had my men on it”, kataku dengan ringan, sepertinya Inggrid memang di jaga oleh orang keluargaku, dan mungkin didik juga seperti cara keluargaku, tapi tidakkah ini sedikit berlebih untuk perlindungan dari “dia”.

“Hahaha, benar juga pasti koko sudah punya ‘orang’ yang bisa mengurusnya”, sambil memainkan ponselnya dan kemudian dia letakkan di meja.

“tapi untuk jaga-jaga aku juga sudah meminta orangku untuk mengikutimu”, sambil tersenyum lagi padaku.

“itulah sebabnya kamu tahu aku akan datang semalam? Orangmu mengawasiku?”, aku menatap Inggrid dengan ketus.

“tidak, semalam karena kamu memang mudah terbaca koh”, sambil tesenyum manis padaku, tapi semakin membuatku panas dingin didekat Inggrid.

“Sepertinya aku semakin tumpul ya”, sambil tersenym pada Inggrid, ya mungkin aku sudah terlalu terlena dengan kehidupanku sekarang, sudah tidak seperti aku yang dulu. Inggrid hanya menatapku dan menyeruput minumannya, entah apa yang dia pesan tadi aku tidak memperhatikannya.

“harusnya kamu lebih menikmati hidup ko, tapi jangan lupa siapa dirimu, karena keluargamu memiliki banyak lawan, tapi jika kamu tahu cara memanfaatkannya, keluargamu juga punya banyak kawan”, sambil menyenderkan tubuhnya ke kursinya. Memang benar keluargaku punya banyak kawan dan lawan, tapi sulit juga mengetahui yang mana kawan dan lawan, maka kami harus selalu berhati-hati.

***

Daripada aku tidak bisa mengistirahatkan pikiranku, aku memutuskan untuk nge-gym tentunya, menguras keringat dan tenagaku, agar malam aku bisa tidur dengan nyenak. Hari ini aku ditemani Inggrid, karena dia juga sedang tidak ada kegiatan akhirnya kami hit the gym bareng.

Aku tidak menyangkan press Inggrid cukup besar untuk ukuran badannya, ya karena sering latihan tentunya, walaupun bentuk ototnya tidak begitu nampak menurutku. Aku menemaninya mengangkat beban dan dia juga menemaniku mengangkat beban, saling menjaga. Akhirnya sudah cukup kami rasnaya latihan dari pukul 1700 hingga sekarang 2000 sudah hampir 3 jam main alat terus, hari minggu ini juga tidak ada kelas gym jadi kami hanya fokus menggunakan segala alat yang ada.

“Mr T…”, terdengar suara Bang Andre yang tiba-tiba menyapaku di gym, aku dan dia lalu berjalan meninggalkan Inggrid yang sedang beristirahat, dan tentu Inggrid melihatku pergi dengan bang Andre.

“Ada sedikit masalah nih, Aku sudah tahu siapa yang ngirim SMS itu Ted”, jawab bang Andre, tapi sepertinya dia sedikit ragu memberitahukannya padaku.

“tapi kenapa Bang…”, aku langsung memburu jawabannya.

“Abang tidak bisa beritahu sama Ted sekarang, harus di temui sendiri”, kata bang Andre semakin ragu-ragu. Membuatku sedikit cemas, siapa yang bisa mengintimidasi bang Andre. Dia tidak takut pada siapapun setahuku, kecuali orang ini adalah orang yang dia hormati, dan itu hanya Koko ku. Tidak mungkin Ko Alex yang mengirimkan pesan itu, dan apapula urusannya dengan hubungan asmaraku, jadi tidak mungkin itu Kokoku.

“Di mana?”, aku tidak ingin lagi berpanjang lebar dengan Bang Andre aku akan segera menemuinya saja. Bang Andrepun hanya menatapku dan ragu mengucapkannya.

“Restoran XxxXxxX, jalan Sudriman”, Kata bang Andre semakin ragu, tidak pernah kulihat bang Andre seragu ini memberitahukanku sesuatu.

Aku lalu berpamitan dulu pada Inggrid. Tetapi dari kejauhan aku melihat bang Andre juga menatap Inggrid dan sedikit membungkuk pada Inggrid seperti memberi hormat. Perasaan bergemuruh di perutku ini, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku merasa orang ini adalah orang yang ku kenal.

***

Setelah 20 menit ku pacu motorku, kini aku sudah tiba di parkiran restoran tersebut. Sebuah restoran yang cukup mewah dan besar, terlihat banyak mobil yang parkir di sini. Walau sudah bukan jam makan malam yang seharusnya, dan banyak juga motor yang parkir, membuatku sedikit kesulitan mencari parkiran, tapi nama restoran ini terasa familiar bagiku.

Saat aku berjalan masuk, dan menghampiri resepsionisnya, manager restoran tersebut langsung mengambil tempat resepsionis itu.

“Anda sudah di tunggu”, jawabnya sambil mengarahkan tangannya, dan dia pun keluar dari stal resepsionis tersebut dan mengantarku. Dia berjalan didepanku. Aku melewati kerumunan tamu yang sedang menikmati makan malamnya di meja mereka masing-masing aroma makanan dan minuman yang pekat, dan wangi, membuat perutku semakin bergemuruh, antara perasa tegang, takut dan lapar.

Akhirnya kami sampai di ujung ruangan di depan sebuah puntu, yang tertutup, sepertinya ruang vip. Lalu dia membukakan pintu tersebut. Di dalamnya cukup luas muat untuk sebuah meja untuk 10 orang dan lengkap dengan pelayan dan juga LCD untuk karaoke.

Seorang wanita tengah duduk membelakangiku sambil menatap layar TV tesebut, sambil sepertinya menikmati lagu. Wanita itu kemudian berdiri dan berbalik, benar dugaan ku orang yang ku kenal, tapi tidak ku duga sama sekali!

“DA JIE!”, (kakak perempuan) seketika terucap dari mulutku.
***

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja Ngeseks ya Ngeseks Part 24 Bersambung

(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 23)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 25)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game