Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21
Part 22Part 23Part 24Part 25Part 26Part 27Part 28
Part 29Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40Part 41Part 42
Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49 END

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 19

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 19

Chapter XIX
It’s ON

Akhirnya aku dan Nita berangkat menggunakan motorku, supaya bisa tiba sasana lebih cepat, karena sudah mendekati jam 1500. Sambil dalam perjalan Nita memelukku dengan erat dari arah belakang, untung saja aku juga sudah membeli helm lebih untuk jaga-jaga. Tidak lama akhirnya kami sampai ke sasana Thai boxing.

Mungkin ada yang bertanya bedanya Thai boxing dan Muay Thai itu apa? Thai boxing lebih populer mungkin dengan istilah Kick Boxing, simplenya ini lebih ke pertarungan di ring yang menggunakan aturan tidak boleh menggunakan lutut dan sikut, berbeda dengan Muay Thai yang boleh menggunakan lutut dan sikut.

Saat tiba di sana, aku hanya menemani Nita masuk, rencanaya aku hanya akan menonton dan duduk-duduk saja. Tapi saat kami menghampiri meja admin, untuk mengambil kunci loker.

“Bro, mau free trial nih sehari, boleh kan?” sahut Nita tiba-tiba kepada penjaga dan menunjuk ke arahku. Seharusnya aku tidak perlu kaget dengan ini, harusnya aku sudah siap dengan jebakan Nita yang satu ini, aku terlalu lengah kali ini.

“Boleh saja Sis, isi data dulu dan KTP”, kemudian Nita merogoh tas gymnya dan mengeluarkan dompetku, mengambil KTP dan mengisikan dataku. Amazing, tanpa tanya, memang jebakan Batman ini. Aku pasrah saja lah untuk kali ini, nanti tunggu pembalasan ku saja Nita.

“Masa aku trial pake baju macam ini Nit? Mana bisa gerak”, protesku ke Nita saat aku baru sadar semua pakaian ku adalah pakaian kedodoran, mana bisa memukul dan menendang dengan benar.

“Udah sayang, kamu pake alat saja sayang, ngak usah latihan teknik”, sambil tersenyum padaku, walau suara Nita tidak semanja saat kami berdua, tetap saja terdengar merdu di telingaku. Kemudian aku dan Nita latihan beberapa alat sambil gantian kami saling menjaga, dan sekitar pukul 1600 Nita sudah mau latihan teknik, tapi pelatihnya hari ini katanya berhalangan datang.

Karena tidak ada pelatih, para penghuni senior memutuskan untuk sparring dan partnering. Karena Nita malas partnering maka dia memutuskan sparing, dan daripada aku menyebabkan orang cedera karena berbeda aliran aku memilih partnering.

Alhasil karena dianggap aku penghuni baru, aku di minta partnering dengan seorang Gadis, sebut saja namanya Tamy. Aku yang memegang punch mitt (bantalan pukul), tapi sebelumnya tangaku telah menggunakan hand wrap, jadi gadis itu mencontohkan dulu cara memukul padaku, nanti gantian katanya.

Jadi kami mulai dengan gerakan-gerakan sederhana, mulai dari jab, hook, Strike, dan upper cut. Pukulannya cukup terasa, untuk menggunakan punch mitt ini sebenarnya kami di karate juga menggunakannya, tapi lebih menjadi samsak di bandingkan Thaiboxing yang menyambut pukulan itu sehingga menimbulkan bunyi yang keras.

Setelah dia selesai melakukan gerakan itu sebanyak 8 seri, aku memperhatikan setiap gerakan itu, aku bersyukur memiliki kelebihan mimiking atau meniru yang sangat baik jadi aku mudah menangkapnya. Akhrinya aku berganti dengannya, sekarang aku yang akan memukul dan dia yang akan mitt, jadi karena dia agak pendek, maka aku menurunkan kuda-kudaku, dan alhasil setelah kuda-kuda rendah dan terbawa suasana, aku melepaskan sebuah pukulan yang agak cepat dan kencang, ketika melakukan hook, membuat Tamy sedikit terdorong dan hampir kehilangan keseimbangan.

“Great! Kamu bakat loh!”, bukannya marah malah dia terlihat bersemangat dan senang.

“Thanks”, aku hanya menjawabnya singkat, kemudian kami lanjutkan lagi dengan beberapaka kombinasi berbeda dan berganti-gantian.

Beralih dari latihanku, Nita sepertinya sparringnya mulai serius, dia sekarang mendapat giliran di atas ring, masih dengan kaos abu-abu longgarnya sekarang di tambah sarung tinju, pelindung kepala dan pelindung kaki, dengan bersiap berhadapan dengan seorang pria. Mungkin karena tinggi badan Nita, sehingga dia tidak cocok untuk melawan wanita-wanita disini yang tidak ada setinggi Nita. Pria itu hanya menggunakan boxer untuk boxing dan gear pelingdung yang sama dengan Nita.

Aku dan Tamy berhenti untuk menonton Nita sparring.

“Cowok itu namanya Bram, cukup jago, selama ini sih belum pernah sparr lawan Anita”, tiba-tiba Tamy menjelaskan hal yang tidak ku tanyakan. Secara postur tubuh si Bram ini cukup ripoff, tapi kalau diperhatikan struktur otot yang terbentuk, dia belum memaksimalkannya untuk bela diri.

“Terus selama ini Anita sparr dengan siapa?”, tanyaku penasaran, dari struktur otot Nita sendiri, side absnya cukup terbentuk untuk melontarkan pukulan hook dan jab yang keras dari putaran tubuh.

“Selama ini, Nita selalu sparr dengan coach, she’s good”, jawab Tamy padaku. Benar dugaanku, level Nita masih di atas si Bram ini, terlihat dari bentuk otot saja sudah jelas berbeda. Aku terbiasa melakukan analisa otot karena sejak waktu sering bertanding itulah tugas kami, menganalisa lawan sebelum bertanding.

Buk… Buk… Buk… Sparringnya sudah di mulai, beberapa pukulan dari Nita sudah masuk ke tubuh Bram, kecepatan Nita juga di atas kecepatan si Bram, tinggal dilihat dari kekuatan otot lagi baru bisa di tentukan. Beberapa pukulan yang dilontarkan bram berhasil di blok oleh Nita tanpa kesulitan, sepertinya kekuatannya pun tidak seberapa. Nita menurunkan kecepatan serangannya, mungkin agar rekannya ini tidak terlalu malu jika dikalahkan seorang wanita.

Nita menghindar dengan cekatan dari pukulan dan tendangan Bram, dan beberapakali memberikan pukulan ringan ke tubuh Bram, sepertinya dia hanya akan menang dengan points. Dan benar saja seletah 5 menit, sparringnya selesai dan menghitung points, Nita unggul banyak.

Nita kemudian turun dari ring dengan santai, dan aku mendekatinya memberikannya air minum.

“Kamu tangguh Anita, kamu bisa menjaga diri kamu sendiri diluaran, karena kayanya cowokmu ngak bisa jagain kamu”, Bram berkata seperti itu dari atas ring, sambil melihat Nita dan Aku. This PIECE OF SHIT!!!

“WHAT!” aku auto-naik pitam, IT’S ON ! Anak kemarin sore kaya dia berani mengatakan itu padaku, otot saja masih kaya balon kempes, berani berbicara seperti itu. Aku langsung berjalan mendekati ring, tapi Nita menahanku.

“I want you to knock him out honey, but with the gloves”, sambil menahanku Nita berbisik padaku, lalu kemudian Nita berbalik melihat ke arah ring dan melihat si bram itu.

“On the Ring, pacarku akan melawanmu di ring”, kemudian Nita berbalik memandangku, dan sepertinya aku baru saja kena jebakan lagi oleh Nita, dia ingin aku bertarung di Ring, membuktikan kejantananku. Ya sebagai tuannya aku harus menunjukkan dominasiku, aku harus menunjukkan kemampuanku bukan, itu maumu Nita.

Kemudian Nita mengambilkan sarung tinju, pelindung kepala untukku, kemudian pelindung kaki, sebelum memakaiankan itu padaku Nita membuka kaos sweater kedodoranku, membuat ototku yang dari tadi hanya bersembunyi di balik kaos terlihat oleh seluruh orang di sasana. Si Bram melihatku dari atas ring, sepertinya menyesali perkatannya barusan, ya tubuh tanpa lemak ini akan merobek mu.

“Sepertinya aku tidak akan bisa menendang dengan celana ini, aku akan menjatuhkannya tanpa tendangan”, kataku pada Nita, dan kemudian Nita memasangkan pelindung kaki diluar celana trainingku.

“OK! Aku tahu kamu pasti menang sayang, tapi untuk semangat lagi, aku akan memberikanmu bonus yang nakal”, sambil berbisik padaku, Nita memberikan tiupan nakal ke telingaku. Damn, Nita di saat seperti ini, dia sepertinya menjadi bernafsu.

Aku naik ke atas ring, sudah terlambat si bram untuk mundur, dia sudah kepalang tanggung kalau harus mundur sekarang. Aku memang senang menggunakan baju yang longgar, seperti Bruce Lee, tubuhnya boleh terlihat kecil, tapi ketika bajunya di buka, itulah horror sebenarnya, tapi sepertinya impossible untuk mencapi otot seperti Bruce Lee.

Seorang wasit memandu sparring kami ini, dan dia berdiri di tengah dan mempertemukan kedua sarung tinju kami.

“Tidak ada pukulan di bawah sabuk, tidak ada sikut, tidak ada lutut, play fair”

“Ready… Fight…”, dan si wasit melompat menjauh begitupun kami, mengambil jarak.

Karena sadar bahwa Thaiboxingku belum bagus, aku menggunakan kuda-kuda boxing, yang lebih menyamping, tubuh yang terpampang lebih kecil dan kuda-kuda yang tidak efektif untuk melakukan tendangan, tapi memang janjiku aku tidak akan menggunakan tendangan.

Berbeda dari kuda-kuda Bram, tangannya terangkat tinggi, setinggi wajah, dan kakinya terbuka lebar selebar bahu, dengan ritem kaki depan belakang menumpu dan mengangkat, untuk melancarkan tendangan, tapi itu juga membuat sasaran pukul badan menjadi terekspose, mulai dari rusuk hingga keperut. Ini gaya bertarung Thaiboxing.

Bram mendekatiku, dengan cukup cepat kakinya berusaha menjangkauku dengan tendangan mendorong, tapi aku mundur selangkah, membuat diriku diluar jangkauan. Lalu dia susul dengan sebuah jab lurus dengan tangan kiri padaku, dengan gerakan sederhana aku bisa menghindarinya dan memutarinya berpindah ke sisi kanannya, ku ayunkan hook kiriku ke arah wajahnya, aku tidak peduli walau tangannya disana sudah siap menangkisnya, pukulaku tetap ku lancarkan, putaran dari kaki kiriku, bergerak menghantarkan kekuatan menuju pinggul dan perutku berputar dengan cepat memberikan dorongan pada lengan dan kepalakun.

BAM!!! Hook ku tertangkis lengan kanannya, namun percuma. Kakinya terangkat dari tumpuannya, kuda-kudanya menjadi kosong, wajahnya terkejut ketika seluruh lengannya telah menempel di wajahnya, dan tubuhnya terhempas melayang mendarat di atas ring. Itulah perbedaan kekuatan kami.

Seluruh sasana menjadi tenang, mereka semua sepertinya terkejut, tidak menyangka akan selesai secepat itu, aku juga sebanarnya tidak menyangka akan selesai secepat ini.

Bram lalu berdiri, mengebas-ngebaskan lengan kanannya yang baru saja menerima pukulan langsung dariku. Harusnya lengannya tidak akan patah hanya karena pukulan seperti itu, kecuali dia osteoporosis. Dia kembali memasang kuda-kudanya, aku kemudian mengganti kuda-kudaku, aku meniru kuda-kudanya, sekarang aku berdiri dengan kaki selebar bahu, dengan tangan di angkat sekepala dan memainkan derap kaki ku kedepan dan kebelakang.

Bram terlihat geram ketika aku melakukan itu, ini adalah salah satu strategi yang picik menurutku, karena ini sama saja menghina teknik yang digunakan lawan, dan ini cukup efekti membuat lawan terpancing amarahnya, dan di tambah dengan senyum menghina dari bibirku, fix dia marah.

Bram melesat padaku, melancarkan tendangan atas menggunakan kaki kanannya, dan dapat ku tangkis dengan mudah. Sebelum dia bisa mengembalikan kuda-kudanya, low hook ku sudah mendarat ke perut kirinya dan kususul dengan jab kiri lurus ke wajahnya, walau tidak sekeras tadi cukup untuk membuatnya oleng dan hampir jatuh.

Dia belum menyerah sepertinya, dia masih memasang kuda-kudanya, walau masih berusaha berdiri dengan tegak. Saat posisinya sudah tegak, sepertinya dia memulai permainan bertahan, dia tidak lagi menyerang dengan agresif, dia bergerak memancingku untuk menyerangnya. Dia berada masih belum berada dalam jangkauanku.

Dengan sedikit gerakan kecil dari kaki kiriku, dia berada dalam jangkauanku. Hook kiri rendah ku arahkan ke rusuknya, dia berhasil menangkisnya dengan lengan kanannya, lalu ku susul dengan segera dengan jab kanan ke arah wajahnya, tapi dengan tangan kirinya berhasil dia ubah arahnya, tapi terlambat untuknya menyadari sebuah hook kiri datang ke arah wajahnya dengan cepat. Tidak keras namun cepat, pukulan itu mengejutkannya.

Dalam terkejutnya, aku sudah semakin dekat dengannya, jaraknya sekarang setengah lengan, sebuah back puch dari tangan kananku mendarat di wajahnya membuatnya kehilangan keseimbangannya, Belum sempat dia sadar apa yang menyerangnya, satu jab lurus kiri masuk ke wajahnya. BUK!!!

Jam terbangnya dalam pertarungan masih sangat rendah, belum pernah ikut kompetisi sepertinya, belum pernah menghadapi pertarungan jalanan, pertarungan jalanan jauh dari konsep adil. Dia kembali berbaring di lantai, dia kini menyadari kecepatan dan kekuatan kami berbeda, pengalaman dan kematangan dalam pertarungan kami juga jauh berbeda.

Akhirnya pertandingan selesai, 1 ronde dan aku pememangnya. Dia hanya bisa tertunduk malu, menerima kekalahannya.

“Hai… kamu bagus, tapi terlalu sombong, jangan anggap remeh siapapun, kamu tidak tahu apa yang akan kamu dapatkan”, kataku sambil mejabat tangannya, lalu menariknya dan menepuk punggungnya. Kemudian aku meninggalkannya di ring, penonton riuh dan menyorakiku, Nita menungguku turun dengan tersenyum dan dengan wajah bangga, seperti tertulis di wajahnya “THIS IS MY MAN”.

“Not Bad… not Bad at all…” lalu membantuku melepaskan sarung tinju dan pelindung lainnya, dan aku kembali mengenakkan pakaianku. Lalu aku menunggu Nita berganti pakaian, aku tidak membawa baju ganti, aku hanya memakai kembali kaos longgarku.

“Thanks bro, you punch me right in my pride”, Bram datang menyapaku, memberikan salam dan pelukan sportif (if you know). Lalu kami sedikit berbincang mengenai beladiri, mengenai beberap teknik yang ku pelajari dari beberapa jenis bela diri yang pernah ku pelajari dan dia terlihat terkesan dan ada beberapa teknik juga yang ku dapatkan darinya tips dan trick dalam thai boxing, cukup menarik menurutku. It from foe to friend, akhir yang bagus untuk sparr.

Setelah beberapa saat Nita sudah selesai dan Siap jalan, dia menggunakan kaos t shirt berwarna biru, dan skiny jins tubuhnya tercetak jelas dalam pakaiannya, lekukan dan bentuk tubuhnya, dan beberapa saat kemudia kami sudah berpacu dengan motorku dan Nita erat di belakangku.
***

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 19 Bersambung

(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 18)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 20)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game