Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 END

Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 20

Start Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 20 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 20 Start

‘cklek’

Ima mengunci pintu kamarnya tidak beberapa lama setelah aku mendudukkan pantatku di single sofa di ranjangnya yang mewah dan luas. Ima kini sangat terlihat berbeda karena telah memakai kembali pakaiannya. Jilbab lebar warna coklat gelap dipadu dengan daster panjang tanpa lengan. Setelah puas menatap Ima yang mengunci pintu, ku lemparkan kembali pandanganku ke seisi kamar yang besar dan mewah ini. Sepertinya kalau aku tidak salah, kamar ini lebih luas daripada ruang tamu di rumahku. Sebuah ranjang double king size, ranjang mewah pertama yang ku lihat diluar kamar suite hotel tertata anggung di ujung kamar menghadap ke tv LED besar yang melengket di dinding lengkap dengan segala aksesoris audionya yang tidak akan selesai jika ku jelaskan satu persatu. Ah, rupanya menjelaskan isi kamar ini saja membutuhkan banyak tenaga.

Tunggu dulu. Ku perjelas mataku ke arah meja lampu tidur di samping ranjang. Segelas air putih tampaknya masih penuh terlihat oleh mataku. Berarti Ima tidak meminum dua tetes perangsangku. Berarti pertempuran tadi yang terjadi di loteng lantai dua murni tanpa campur tangan obat perangsang. Ah, entah mengapa tiba-tiba aku jadi merasa menang banyak malam ini. pantas saja Ima tidak menunjukkan gelagat yang sama seperti kak Umi atau Rahma. Birahinya menggelegak sebagaimana birahi orang yang bernafsu, bukan birahi yang tiba-tiba menggelegak tak terkendali.

Lamunanku tersadar ketika Ima memutar panel lampu hingga lampu kamar menjadi redup dan sangat romantis. Canggih sekali kamar ini. ah, jadi aku jari iri.

“Hayooo…..Akang kok ngelamun? Mikirin apa, Kang?” kata Ima sambil berdiri di depanku. Perlahan didudukkannya pantatnya di atas pahau dan Kembali dia duduk di pangkuanku serta melingkarkan tangannya di leherku. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku dan membisikkan kata pembuka yang lembut namun membuatku merinding.

“Katanya mau ganas, kok aku gak dibanting, yah….?” Bisiknya yang dicampur dengan desah. Sontak senjataku yang tadi hanya tegang 60% langsung berada pada posisi maksimal.

“Aku tadi mau banting kamu ke kasur tapi Nanti Kasian dedek bayinya….” Balasku juga dengan berbisik.

“Kang….”

“Iya adek iparku…..?”

“Oooohhhhssssshhh….apa, Kang?”

“Apanya, adek iparku?

“Aaaakkhhhh….Sshhhhhh…….”

Ima memelukku dengan erat sedangkan selangkangannya ditekannya ke senjataku. Dari gerakan selangkangannya yang bergetar dan sesekali mengejang, aku tahu kalau adik iparku ini baru saja orgasme. Entah apa sebabnya. Mungkin saja karena perkataanku, atau karena caraku mengatakannya dengan berbisik sambil sesekali menempelkan bibirku di telingannya yang masih tertutup jilbab lebarnya, atau karena kaduanya. Yang masti, Ima sekarang sedang menenggelamkan mukanya di leher kiriku sambil terus menggosokkan selangkanya di selangkanganku.

“Ssshhhhh……hhhhooohhhhh…..” desahnya sambil terus menekan selangkanganku. Senjataku yang tegak mengacung dari balik celana training suami Ima menjadi terasa agak ngilu. Hingga kemudian kuputuskan untuk menepuk pantatnya agar dia berhenti sejenak. Ima menurut. Ku turunkan sedikit celanaku hingga juniorku langsung mengacung dengan gagah. Ima sepertinya mengerti maksudku. Ia mengangkat sedikit pantatnya ketika ku singkap kain daster yang menutupi celahnya. Perlahan namun pasti kedua persunatan kami bertemu. Celah yang sudah licin dan becek ini semakin hangat terasa ketika senjataku dengan pelan tertelan masuk ke dalam liang surgawinya.

“Sshhhhh….Ooohhhh……”

Kami mendesah hampir bersamaan seiring celahnya yang menelan sempurna senjataku. Setiap mili jarak perjalananku masuk ke dalam tubuhnya terbayar oleh serbuan rasa geli, nikmat dan nyaman yang mengkontaminasi setiap jengkal pembuluh darah kami. Selangkangan Ima bergetar halus lalu dia membuat gerakan memutar.

“Immmaaaahhhhh……Hebat kamuhhh….”

“Ssshhhh…..sesakk nihhh Kanggghhh……”

“Sempitthhh….hangatthh….luar biasa memekmuhh……”

“Aaaakkhhhh….apa kanghh? Ulangi lagi…..ngomonghhh apaahhh…..?” tiba-tiba Ima menjadi sedikit lebih histeris mendengar ucapanku. Ritme Goyangannya yang memutar teratur menjadi kacau dan justru menjadi semakin nikmat. Tangannya menjambak dan mengacak rambutku. Sepertinya dia sedang menunggu jawabanku.

“Memekkhhhmuuhhh….sempitthhh………” bisikku pelan.

“Aaaakkkhhhhh……Ssshhhhooohhh…..Kanggghhh…..Dapethhh lagiihhhh…..”

Ima orgasme lagi. Dua kali orgasme dalam kamar ini diraihnya hanya kurang dari lima menit. Ku rasakan celahnya mengejang seperti tersengat listrik. Semakin becek dan licin di dalam sana. Bahkan ku rasakan sedikit merembes keluar membasahi paha kami. Rupa-rupanya Ima menjadi lebih terobsesi pada permainan yang dibumbui kata-kata yang sedikit sarkastik.

Aku tidak tahan untuk tidak memfungsikan tanganku di tubuh iparku yang mungil dan mulus ini. ku telusupkan tanganku di balik daster Ima dan mulai membelai pahanya yang mulus. Ku teruskan ke bongkahan pantatnya yang bulat. Ku remas dengan gemas bongkahan pantat itu, lalu ku arahkan telunjuk kiriku untuk mencolek lubang analnya. Sontak tubuh mungil yang sedang menunggangiku ini tersentak dan mengejangkan selangkangannya. Mau tidak mau batangku seperti tersedot ke dalam vagina hangat ibu hamil yang sedang meresapi sisa orgasme keduanya di atasku.

“Iihhhhh….Kaanggghhhh…..” desahnya. Ada perpaduan antara geli, nikmat dan risih dari balik suara dan gesturnya. Ku putuskan untuk meneruskan penjelajahan kedua tanganku ke punggungnya yang tertutup daster dan jilbab lebarnya. Ku garuk kecil dan lembut punggungnya untuk memberikan sensasi geli dan nikmat baginya.

Ima menjauhkan muka dan tubuhnya dariku. Nafasnya sudah mulai teratur dan di bibir mungilnya yang indah tersungging senyum. Terdapat sebuah kebahagiaan dan kepuasan yang tulus jelas tergambar dari balik senyumannya itu.

“Gimana, Ma? Udahan atau lanjut?” tanyaku dengan nada sedikit menyindir. Ima memonyongkan bibirnya dengan pose manja yang natural lalu mencubit lenganku yang sebahagian besarnya telah tenggelam di dalam dasternya.

“Akang mahh…..kok nanya gitu sih…..?” ujarnya.

“Akang serius, Ma. Ini udah jam dua malam lewat lho…..kasian sama dedek bayi” kataku sambil mengelus perutnya di dalam dasternya. Ima merengut manja. Sama sekali tidak tampak kalau anak ini adalah seorang perempuan tomboy sebelum dia menikah. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Cium aku, Kang” katanya pelan. Aku menurut saja. Ku dekatkan wajahku sembari ku miringkan ke kanan. Ku kecup bibirnya pelan.

Cup…..sebuah kecupan ringan ku daratkan di wajah imutnya. Ima memejamkan matanya.

“Lagi, Kang” bisiknya. Ku dekatkan kembali bibirku dan ku kecup bibirnya. Kali ini kecupanku sudah mulai kulakukan berulang-ulang, hingga kurasakan sebuah balasan kecupan dari bibir yang kini bersentuhan dengan bibiku. Ima membalas permainan bibirku dengan bibirnya pula. Jadilah kami saling melumat bibir dengan penuh penghayatan. Kami saling melumatkan bibir sambil sesekali menikmati goyangan pantat Ima yang sedang memanjakan kelaminku. Agak lama kami berciuman, hingga kami saling melepaskan ciuman. Ima lalu tersenyum pelan ke hadapku.

“Kang….mau tau rahasia?” Tanya Ima sambil menatapku.

“Yehhh….kalo aku mau tau berarti bukan rahasia lagi lho….” Ledekku. Ima sewot.

“Iiiihhhhh…..akang usil, ah…..ku patahin ntar nih pentungan” katanya gemas sambil menggoyang pantatnya memutar dengan cepat dan tidak beraturan. Sontak serbuan kenikmatan melandaku.

“Whhoooowwwhhh…….mantap Ma……” ujarku menikmati setiap gesekan yang terjadi di dalam sana. Meskipun sudah sangat licin, tetapi sensasi kenikmatannya tidak pernah berkurang. Dengan semangat tinggi Ima terus menggoyang pantatnya. Bahkan kali ini dia menaik-turunkan pantatnya.

“Ssshhhhh….Rassaaaiinnnnhhh….. Kamuhhhh….Kaangghhh…..sapaa suruhh…..usillll…….” ujarnya di antara birahi dan gemas. Pantatnya yang tadinya sangat kaku kini semakin lancar hingga menimbulkan bunyi khas yang kalian semua pasti sudah tau bunyinya.

“Kamu yang usil, Ma…..Ssshhhh…..Mau ngasih tau rahasia kok pake ngentot dulu sih…..” ujarku di sela desah nikmat yang mendera batangku.

“Ngentot……Aakkkhhhhh……aku tambah naik kang….hhhhhh…..” Ima mengulang kata ngentot lalu histeris meriintih. Aku yakin kata yang tabu itu pasti telah mematik birahinya dan pasti tidak lama lagi dia akan orgasme. Ku ladeni perkataannya dengan mulai mengatainya.

“Emang ngentot ini namanya, Ima…..Ngentotin adek iparku saat suaminya lagi gak ada……enak kan, Ma….?” Pancingku.

“Ooooouuuugghhhhh….Iyaaahhhh Kaaanggghhhhh…..Ennaakkkhhh kaaanggghhhh…..mentanghhhh-men…tanghhh suamikuuhhh gaakkk addaahh……” racau Ima makin menjadi. Momen ini ku manfaatkan untuk melepas jlibab panjangnya dan juga dasternya. Ima terlalu sibuk meladeni birahinya sehingga aku yakin dia tidak menyadari kalau dia telah polos seutuhnya di atas pangkuanku. Ku tatap sepasang payudara yang bergerak mengayun dengan anggun seiring ayunan pantat si empunya. Kencang dan mengacung. Putingnya sedikit membesar dan menggelap khas putting seorang ibu hamil. Perlahan ku arahkan tanganku yang sedari tadi lebih banyak di bongkahan pantatnya perlahan merangkak menuru payudaranya.

“Aaakkkhhhh……Kaaanggg….diremeeesssshhh ddooonnnkkhhh….…..” racau Ima semakin agresif. Goyangan pantatnya juga tidak lagi naik turun tetapi maju mundur tetapi tidak lagi teratur. Sepertinya dera orgasme yang keempat malam ini akan segera tiba.

“Apanya di remesshhh….Imaaa…..?”

“Tetekkku, Kaangghhh…..Kyaaahhhhhh….Uuuhhhh…..”

“Beginiiihhhh…ssshhh…..”

“Mainin putingnyaaaahhhhhh….jugaahhh…..Iiihhhh…..”

“Beginihhh…..?” tanyaku sambil mulai menyentil putingnya dengan jariku. Tidak ketinggalan juga partisipasi dari lidahku yang menjulur dan menjilat putingnya.

“Iyyyaaaahhhhh…..Aaakkkhhhh….datengg lagggiiihhhh…….Kyaaaahhhhh……”

Ima mengejang hebat. Orgasme kali ini aku yakin lebih dahsyat dari orgasme sebelumnya. Terbukti dari leleran cairan kental dari celah kami yang menyatu. Ima seperti tersetrum listrik. Tubuhnya melengkung dan kejang-kejang. Matanya terpejam rapat dan dia menggigit bibir bawahnya sambil kedua tangannya menjambak rambutku dengan keras. Suara lenguhan yang tidak jelas terus terdengar dari mulunya. Sebuah pemandangan yang sangat eksotis. Sangat berbeda dengan kesehariannya.

Memang benar. Ekspresi manusia ketika melakukan kegiatan seksual yang terjadi secara alami adalah wujud paling jujur dari jati dirinya. Wajah yang pada keseharian bisa menjadi topeng untuk menyembunyikan perasaan hati, tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan nikmat yang terus mendera, apalagi ketika si pelakunya mendapatkan puncak kenikmatan yang sempurnya, sama seperti yang di rasakan oleh ipar bungsuku ini. Dengan sabar ku tunggui hingga orgasmenya mereda.

“Ima….?” Tanyaku beberapa saat kemudian. Ima membuka matanya menatapku. Pandangannya sayu menandakan bahwa deraan orgasmenya belum reda. Dia mencoba tersenyum meski dalam tubuh yang masih sesekali menggigil dalam kejang kenikmatan. Perlahan ku rasakan sebuah gerakan dari perutnya yang menyentuh perutku. Dedek bayi terbangun. Rupanya dia terganggu.

“Iya, Kang?” jawabnya pada akhirnya setelah sekian lama tanyaku tidak diperhatikan.

“Pindah, yuk?”

Iam mengangguk. Perlahan dia berdiri untuk mencabut senjataku yang tegak memakunya. Baru saja kedua persunatan kami berpisah, ku lihat cairan putih kental berceceran keluar dari dalam celahnya.

Crreetttt…crrettt…..

Pusar sampai pahaku tidak luput dari basahnya cairan yang rimuntahkan vagianya. Aku kagum dan takjub melihat pemandangan ini.

“Whowwhhh…. Luar biasa kamu, Ma” kataku. Namun rupanya Ima terlalu lemah untuk menjawabku. Setelah berdiri, dia menggelosor turun dari sofa dan bersimpuh dengan lemah di karpet.

“Hehehe…aku lemmess Kang” candanya dalam keadaan lemas. Akuhanya tersenyum dan menghampirinya.

Aku berdiri dan menuntunnya berdiri lalu ku gendong dia dan ku baringkan di ranjangnya. Ima terbaring terlentang pasrah di depanku. Dia tersenyum menatapku yang duduk di samping tubuhnya. Tatapannya turun ke senjataku lalu tersenyum nakal. Dia menjentik pelan senjataku yang masih tegak mengacung.

“Dasar kamu, ya? Penjahat” kata Ima ke senjataku. Ku balas dengan menganggukkan batangku. Ima tersenyum. Aku lalu berbaring di sampingnya dan menatap wajahnya. Kami saling menatap dalam senyum dan diam.

Lalu beberapa saat kemudian Ima meraih tanganku dan menempelkannya di dadanya. Dia tersenyum padaku manis sekali.

“Di remes kang. Yang pelan ya?”

Aku mengangguk dan tersenyum. Ku remas-remas dengan pelan dan lembut gundukan mungil di depanku. Remasan ku ganti dengan belaian lalu ku ganti lagi dengan remasan. Sesekali ku pilin putingnya dengan jariku. Ima menghela nafas. Dia tersenyum padaku.

“Kamu suka, Kang?” tanyanya. Aku tersenyum lalu mengangguk. Lalu Ima merubah posisi tidurnya menjadi miring dan menghadapku. Tangannya menopang kepalanya hingga posisinya sama persis seperti posisiku hanya saja saling berhadapan. Dia tersenyum lagi-lagi kepadaku. Senyum yang sangat manis. Entah mengapa senyuman Ima sangat mirip seperti senyum Arni. Bukan pada kemiripan anatomi tubuh karena mereka ini bersaudara. Tetapi kesan senyuman itu sangat mirip dengan senyuman istriku yang selalu mampu membuatku jatuh cinta setiap hari padanya, meskipun aku sadar hasratku terlalu besar untuk dia tanggung sendiri.

Ku rebahkan lagi Ima agar dia terlentang. Aku belum puas bermain dengan teteknya.

“Ssshhh….Iiihhhh…..” rintih manja Ima terdengar tatkala lidahku perlahan menyisir daerah areolanya. Ku buat gerakan lidahku memutar di sekeliling putingnya lalu ku jilati putingnya dengan lembut. Ima merespon dengan menggeliatkan tubuhnya seperti cacing kepanasan. Ah, entah rahasia apa yang tersimpan di balik dua dada wanita, hingga rasanya semua laki-laki menyukainya.

Sesekali Ima menggigit bibir bawahnya sambil meresapi kegiatanku yang asyik menyusu padanya. Dadanya begitu kencang dan bulat meskipun tidam terlalu besar. Kini dada itu telah sepenuhnya basah oleh liurku dan ini adalah pemandangan yang sangat menggairahkan.

“Kamu nakal, Kang.” Kata Ima pelan dengan mata di picingkan dan dengan bibir yang digigit sedikit hingga mengimbulkan kesan nakal.

“Kamu suka kan?” ledekku.

“Kamu juga mesum” katanya seolah tidak memperhatikan ucapanku sebelumnya. Akan tetapi aku tidak memperhatikan ucapannya karena aku sedang sibuk menciumi sekujur perutnya ke bawah. Aku merayap ke bawah hingga bibirku kini sudah sampai di gundukan vagianya. Ku kecup pelan dengan lembut gundukan yang ditumbuhi rumput tipis dan rapi itu.

“Ihhhh….Kaanngg…..ciumanmu bikin teler…..”katanya.

Aku masih tidak mempedulikan ucapan ipar bungsuku ini karena aku kini telah bedara di celah pahanya. Dengan perlahan ku kangkangkan kedua kaki Ima hingga membuka lebar. Tentu saja celah surgawi yang tersembunyi itu kini langsung terpampang mekar merekah di hadapanku. Bengkak, memerah dan becek. Tanpa menyia-nyiakan waktu, langsung ku arahkan lidahku menyusuri celahnya dari bawah ke atas.

“Ahhh…..Kaangghhhh……Sssshhhhhhh” tubuh Ima terlonjak-lonjak menerima perlakuanku. Mulutnya penuh dengan desisan kenikmatan. Ah,rasanya gurih. Jus vagina yang segar dan gurih, ku nikmati sepenuhnya. Entah mengapa tidak ada sama-sekali rasa jijik ketika aku menjilat vagina berlendir itu, lalu menghisap ledirnya ke dalam mulutku, sambil sesekali meratakan cairan surganya ke celah vagianya.

“Ooooohhhhhhhgggghhhh…..ennnaakkkkhhh……ih….ih….ihhhh…..”

Ima meracau sambil menjambak rambutku dengan kedua tangannya dan menekan kepalaku lebih rapat lagi ke selangkangannya. Ima tengah sibuk menikmati oralnya. Aku pun demikian. Sebenarnya aku sangat suka pada sex jenis ini. oral seks merupakan perilaku seks yang sensasinya luar biasa. Kalian bisa membayangkan, kemaluan atau kelamin yang selalu membuang kotoran, lalu dinikmati bukan oleh sesama kelamin, melainkan mulut yang darinya keluar kata-kata mutiara indah. Ini bukan soal rasa, tetapi lebih pada soal sensasi.

“Kaaanggghhh…..akkuhhhh…sukkkaaa……lagi…lagi……” racau Ima. Dia menggerak-gerakkan pantatnya dan menggesek celahnya di bibir dan lidahku. Ku rasakan rembesan kental yang semakin banyak keluar dari dalam sana. Kali ini bibir dan lidahku tidak tinggal diam. Ku sedot klitrisnya dengan kencang dan kupilin klitorisnya dengan lidahku dengan cepat hingga Ima kelojotan.

“Aaaakkhhhh…..mauuu dapppeeettthhh…..Ooohhhh…..Ooohhh…..Kyyaaaaahhhhh……Dapppettthhhh laggghiiiiii Kaaanggghhh…….”

Ima menggeliat. Pantatnya terangkat tinggi dan menegang disertai dengan gemetar. Dia orgasme lagi. Kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kencang, tetapi itu tidak membuatku menghentikan kegiatanku. Ku masukkan dua jariku yaitu jari tengah dan jari manis ke dalam liangnya lalu ku kocok dengan irama yang sangat cepat hingga Ima kelojotan di atas ranjang.

“Aaahhh….Kaaanghhh….Kaaanggghhh….ammmphuuunnnnhhh…..ooohhhhh…..”

Aku tidak mempedulikan racauan adik iparku ini karena aku sedang gemas mengocok liangnya yang besek dan hangat. Sebuah sensasi yang luar biasa ketika jari-jarimu di jepit di dalam sana. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama, Ima kembali orgasme untuk yang ke sekian kalinya. Orgasme yang luar biasa, karena disertai squirt yang sangat deras….

Seerrrrrr…….squirtnya menyembur desar hingga membasahi sepreinya.

“Aaahhhhhhh……Huuuuuhhhhhh……..” Ima kemudian terbaring lemas tetapi menggigil seakan terkena penyakit ayan. Sungguh pemandangan yang menggairahkan. Salah satu kepuasan batin seorang laki-laki adalah dia bisa membuat rekan seksnya terkapar dalam kepuasan. Kali ini ku cabut jariku dari dalam celahnya dan duduk berlutut di antara kedua kakinya. Aku duduk diam menatap wanita yang kini tengah dilanda badai kenikmatan yang amat dahsyat. Mulutnya menganga dengan liur yang menetes dari sudut bibirnya, mata terpejam dengan rambut yang acak-acakan. Hingga tidak beberapa lama kemudian Ima melemas dan terlentang di atas ranjang. Dia membuka mataku dan tersenyum manis.

“KAaangg…..” ujarnya di sela senyumannya yang manis dan menenangkan.

“Gimana?” tanyaku membalas senyumannya. Ima tidak menjawab kecuali hanya dengan mengangkat dua jempolnya dan mengacungkan jempolnya dalam keaaan lemas.

“Sumpah, Kang……aku lemes banget. Kamu hebat, Kang”

Aku tersenyum.

“Kamu masih kuat, Kang?”

“Masih….emang kenapa?”

“Gak sih. Kalo udah gak kuat akang istirahat saja.”

“Oohh ada yang nantangin ya?….Rasakan ini….” Kataku dengan gemas lalu menerkamnya. Ima yang terkejut hanya menjerit kecil lalu tertawa cekikikan menerima serangan mendadakku..

“Aaawww Kangghhh….hihihi….Kamu nakal Aww hi hi hi…..” kata Ima ketika dengan paksa aku menariknya lalu melentangkannya, kemudian ku kangkangkan kedua pahanya lebar lebar. Ima terus tertawa geli sambil terus menutupi wajahnya. Tanpa membuang waku, senjataku yang telah tegang maksimal ini ku lesakkan ke dalam celahnya yang telah licin hingga membuat tawa gelinya seketika berubah menjadi desah manja.

“Kaangghhh hihi….hihii…Kamu nakal….hihi….Aaaaaahhhhh……Kaaangghhh…..”

Tidak ada celah untuk mengerti keadaan iparku yang tidak siap dengan serangan mendadak ini. tidak ku berikan dia kesempatan untuk beradaptasi. Begitu senjataku amblas ke dalam, langsung ku genjot dia dengan gerakan yang sangat cepat hingga dia kelojotan.

“Oooohhhhh….Ssshhhhh…..Kaaanggghhh….Ennnaakkkhhh……..”

Ima memejamkan matanya sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan terus meracau. Ku pegangi kedua kakinya yang mengangkang dan ku renggangkan sambil terus berkonsentrasi mengatur pola nafasku. Sendangkan Ima di bawah sana terus meremas payudaranya dengan gemas.

“GImanaaahhhh Maaa….Enakk kan dientot suami kakak sendiri…..?” pancingku.

“Aaaakkhhhh….Kaaanggghhhh……Ammphuuuunnnhhh……” racau Ima. Kini setelah sekian lama kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Sungguh aku ingin sekali telungkup di atas tubuhnya lalu memeluk dan menciumnya. Hanya saja kondisinya yang sedang hamil tidak memungkinkan adegan ini terjadi.

Vagina yang semakin merah membengkak tersaji indah di hadapanku seolah memuaskan lapasnya mataku. Terpampang jelas dengan sedikit bulu lembut yang menghiasinya. Ku turunkan tanganku dan membelai biji yang menonjol dari celah itu. Biji yang seolah memanggilku untuk membelainya.

“Aaakkkhhhh…Kaaanggghhhhh…….Ooohhhh…..”

Ima meracau histeris ketika tanganku membelai dan mengusap clitnya pelan. Terasa di dalam sana semakin sempit dan remasannya semakin nikmat. Sepertinya orgasme akan kembali datang. Dan benar saja. Ima langsung kelojotan menyambut orgasme kelimanya malam ini.

“Hoooohhhhhoohhhhh……Hooohhhh….” Racaunya pelan dalam kejangnya yang sangat indah. Dia menelan ludahnya tanda redanya orgasmenya. Aku tidak memberikannya waktu istirahat lebih lama lagi karena orgasmeku juga sudah mulai di depan mata. Langsung ku genjot lagi tubuh lemah ibu hamil yang terbaring pasrah di bawahku.

“Iiiihhhhh….Kaanggghhhh….Ennnaaakkkhhhhh….Aammmphuuunnnn….Aku gakk kuattt…..” rintih Ima memelas. Namun aku tidak peduli.

“Aku udah bilang aku bisa ganas. Nih rasain…..” geramku sambil terus menggempurnya dengan hebat. Dua kali memeras sperma bukan berarti spermaku sudah habis. Ku beritahuan kepada kalian sebuah rahasia. Setiap hari selama 30-50 menit aku selalu memijit salah satu titik di punggung telapak tangan kananku. Titik itu adalah titik untuk merangsang produksi sperma. Sejauh ini sangat manjur padaku.

“Kaaangghhh…..Kammuhhhh….Akkkuuhhhh….Kaaangghhh….”

Ima meracau semakin ngelantur. Birahi yang telah melanda berkali-kali membuat konsentrasinya sedikit memudar tetapi justru semakin merangsang orgasmeku semakin mendekat.

“Imaaahhhhh….memekkkmuuuhhh….semmmphiitttt…..”

“Kaaangghhhhh……..terrruussshhhh Kaaanggghhh….Oohhhh….nikmatnyaaahhh…..”

Orgasmeku semakin mendekat.

“Imaaaahhh….Aku mau dapetthhhh….di daleemm atau diluarrhhh….???”

“Iyaaahhh….Akuuhh jugaaaahhhh…..di dalem ajaaahhh….Aaaawwwhhh…..”

Orgasmeku tiba.

“Aaakkkhhhh……” aku mendesah lalu ku tusukkan semakin dalam senjataku. Entah berapa kali peluruku dimuntahkan oleh batangku di dalam liangnya. Ima pun semakin liar menggoyang pantatnya, hingga orgasmenya menyusul tidak berapa lama kemudian.

“Kyaaaaahhhhh……Adduhhhh….Kaangggghhhhhhh…….”

Ada sebuah rasa tak terkata setiap kali orgasme melanda. Entah bagaimana membahasakannya, tetapi aku yakin, tidak ada satupun sanggup menukar perasaan yang dialami ketika orgasme dengan sebuah kata yang pas. Aku hanya bisa mewakilkan perasaanku ketika orgasme dengan gabungan kata, yaitu nikmat, geli, letih, puas, capek, panas, becek, dan wow. Sejauh ini aku tidak tahu satu redaksi yang pas untuk menceritakan pengalaman orgasmeku.

Ku diamkan sejenak batangku di dalam celahnya. Ku tatap wajah cantik di bawah sana. Wajah yang mendongak dengan kedua mata terpejam. Alis dan dahi mengkerut serta mulut yang terbuka lebar. Deru nafas Ima memburu, bersatu dengan lelahnya perjuangannnya malam ini. wajah itu sangat polos dan jujur menampakkan perasaan yang dia alami. Ah, entah mengapa aku melihat Ima yang sangat mirip dengan Arni, istriku yang sedang tidur dengan Ani di luar kamar.

Ku biarkan kelamin kami saling membiasakan satu dengan yang lain. Aku mencondongkan badanku ke depan dengan bertumpu pada kedua tanganku. Sedangkan Ima masih terkejang-kejang menikmati orgasmenya.

Ku cabut senjataku yang telah melemah di dalam sana lalu aku beringsut disampingnya. Ku kecup kening Ima pelan.ima memejamkan matanya. Aku berusaha keras agas tidak ada emosi dan jiwa yang terlibat di dalamnya. Aku selalu berusaha agar cintaku hanya untuk Arni seorang, meskipun aku sadar batangku bisa untuk siapa saja.

“Makasih, Ma…..” bisikku.Ima membuka matanya dan menatapku. Dia tersenyum.

“Makasih juga, Kang. Kamu hebat”

Aku berbaring di sampingnya dan dia segera meletakkan kepalanya di dadaku. Kali ini dedek bayi lagi-lagi bergerak. Tangannya membelai dadaku dan telunjuknya menari-nari di sana. Tangan kananku yang tertindih lalu merangkulnya dari belakang. Ima lalu memelukku dengan erat. Tidak ada kata. Tidak ada paksaan dan tidak ada kegiatan lain selain terdiam dan menikmati setiap centi dari kulit tubuh kami yang berpelukan.

“Makasih ya,udah boleh ngentotin kamu, hehehe….” Candaku memecah keheningan. Ima mencubitku gemas.

“Ihhh Akang ah….malu atuh kang” protesnya manja aku hanya tersenyum.

“Malu, ya? Hehehe……tapi kalo lagi enak malunya dibuang” kataku.

“Akaaangggg…..” protesnya sambil mencubit putingku.

“Aaahhhh…..nakal banget sih nih tangan”

“Bodo’ ah” Jawab ima sambil mempererat pelukannya. Pahanya menjepit pahaku hingga kurasakan basah di bawah sana. Suasana yang luar biasa.

“Ma. Ngomong-ngomong tadi mau ngomong rahasia apa?”

“Mmmm….kasi tau gak ya?”

“Gak usah. Gak butuh”

“Yeee….yang merajuk. Akang bisa juga merajuk, ya?”

Aku diam saja menatap langit-langit kamar yang berhias lampu Kristal mahal. Ima mengangkat kepalanya dan tersenyum menatapku. Entah mengapa senyuman yang ku lihat sangat berbeda dengan senyuman iparku yang lain. Senyuman ini hanya dimiliki oleh istriku. Senyuman yang tulus, penuh cinta, dan sangat menenangkan. Lalu entah bagaimana Ima juga memiliki senyum seperti ini kepadaku.

“Aku ceritain dua rahasia, ya?”

Aku mengangguk.

“Pertama. Sebenarnya waktu pertama kali kamu datang ke rumah ini waktu mau ta’arufan sama kak Arni, gak tau kok aku juga suka sama kamu, Kang. Padahal kan aku gak pernah tau kamu. Waktu itu aku iseng ngomong sama kak Arni apakah dia suka sama kamu. Sengaja ku jelekin kamu di depannya. Ku bilang, ‘ ngapain kamu ta’arufan ama cowok yang udah item, pendek, gemuk, jelek lagi’ tapi ternyata kak Arni udah kadung cinta ama kamu. Ya aku ngalah kang. Makanya sejak kalian nikah, aku selalu menjaga jarak dari kamu soalnya setiap dekat kamu pasti sakit banget rasanya. Aku ngikut kajian bareng kak Arni kan juga gara-gara aku ingat kak Arni pernah ngomong kalo kamu emang suka sama akhwat gitu…….”

Aku ternganga mendengarkan cerita ipar bungsuku ini. ada rasa tidak percaya namun aku telah terlanjur mendengar apa yang telah ku dengar. Rupanya inilah sebabnya sehingga selama ini Ima lah iparku yang paling tidak dekat denganku. Bicara seperlunya, dan menjawab pun seperlunya. Ternyata dia memliki rahasia hati yang bebannya telah ditanggungnya bertahun ini.

“Sampe akhirnya Kak Adi datang kenalan ama aku. Aku nyaman sama dia. Kenapa? Karena dia itu kamu banget, Kang. Cuman versi kurusnya. Tapi jujur, Kang. Kak Adi itu lelaki kedua yang pernah masuk di sini” Ima menunjuk dadanya. “Yang pertama itu kamu, Kang. Jujur aku cinta sama kamu dari dulu. Gak tau kenapa. Aku juga gak mau perasaan ini ada. tau-tau udah ada gitu aja, Kang”

Ada setitik bening yang mengalir pelan menciptakan segaris tipis di pipinya. Ima menarik nafasnya dan menghelanya….

“Hhhhhuuuuuffftttthhhh…… aku udah lega, Kang. Akhirnya kamu tau juga. Bebanku udah hilang, Kang. Sekarang aku bisa mencintai Kak Adi dengan tulus tanpa bayang-bayang kamu lagi”

Dia tersenyum. Entah mengapa kini tenggorokanku tercekat. Seakan aku tidak tau bagaimana caranya bicara. Aku terdiam dalam perasaan yang entah bagaimana cara menggambarkannya. Tidak ada kata yang keluar untuk menanggapinya, selain sebuah kecupan hangat di keningnya yang disambutnya dengan memejamkan matanya. Dia tersenyum dengan senyuman itu lagi. Ah, Ima.

“Trus….rahasia yang kedua, apa?”

“Eh….? Ohh itu…hi hi hi….kasih tau gak ya?”

Ima kembali bertingkah menggemaskan tak tampak kalau sebenarnya dia itu adalah seorang ibu hamil.

“Ayo dong….kan penasaran nih…..”

“Hehehe…itu Kang….selama ini aku cuman orgasme satu kali, itupun jarang banget, soalnya sekitar 9 atau 10 menitan kak Adi udah kelar hehehe….”

“Eh…?”

“Udah ah, malu atuh kang. Malah rahasia suamiku sampe kamu tau segala. Jangan dibilangin ya?”

“Ih ngapain juga kali, neng” ujarku sambil memeluknya kembali tapi Ima melepaskan pelukanku dan duduk.

“Aku haus kang. Gempor nih abis dihajar sama kamu” katanya sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar hingga terhenti pada segelas air yang terletak di samping ranjang di rak lampu tidur. Eh, tunggu dulu. Sepertinya ada yang tidak beres, tapi apa ya?

“Kang, ini air minum kamu yang bawa tadi, ya? Wah makasih akangku yang baik….” Katanya sambil meraih air minum itu.

Deg!

Aku tersentak. Air itu adalah air yang ku tetesi obat perangsang. Wah gawat nih kalau sampai di meminumnya. Segera ku bangkit dan mencegahnya.

“Ehhh…tunggu du….”

Terlambat. Seluruh air dalam gelas itu kini telah mengalir dengan lancar menuju tenggorokannya.

“Aahhhh….segarnya, makasih ya, Kang” kata ima tersenyum padaku sambil meletakkan gelas yang kosong itu di meja. Setelah itu di lalu beringsut ke ranjang dan berbaring di pahaku yang terlipat. Wajahnya persis menghadap senjataku yang telah pulas tertidur. Dikecupnya pelan senjata andalanku itu.

“capek yah kamu?” bisiknya pelan.

Kini aku hanya duduk mematung menhadapi kenyataan bahwa sepuluh menit lagi,zat dalam air itu akan segera bereaksi. Gawat!

TAMAT

EPILOG

Terima kasih kepada para pembaca yang masih tetap setia mengikuti dan membaca cerita yang telah saya tulis. Berhubung karena ini adalah pengalaman nyata, maka dalam cerita-cerita saya tidak ada alur sebagaimana layaknya sebuah cerita. Tidak ada konflik dan tidak ada klimaks cerita. Lalu ada yang bertanya. Kok udahan? Maka jawabannya adalah, emang sudah harus udahan karena misi telah selesai. Seluruh ipar telah ditaklukkan. Apakah hanya sampai di sini? Tidak. Cerita ini hanyalah awal dari petualangan-petualangan gila saya beserta istri dan ipar juga dengan suami-suami mereka. Apabila saya memiliki kusempatan maka saya akan membuat jilid dua dari judul ini, menceritakan tentang pengalaman saya Threesome, Foursome atau pengalaman ketika akhirnya skandal ini terbongkar. termasuk cerita ketika saya menguji coba perangsang bikinan sendiri.

Salam.

END – Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 20 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 20 – END

(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 19)Sebelumnya | TAMAT