Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 END

Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17

Start Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17 Start

Waktu telah menunjukkan pukul 00.23 menit ketika aku terbangun di sofa. Kadang-kadang kalau sudah lelah karena kerjaan ditambah lagi karena dua kali memeras mani membuatku tidak sadar kalau ternyata aku sudah tertidur di sofa ruang keluarga. Sejenak kemudian telingaku menangkap suara yang tak lazim. Kupandangi Arni dan Ani yang tidur di karpet ruang tengah, sedangkan Ima tidak ada di situ. Ku pusatkan konsentrasiku pada pendengaranku hingga aku menyadari bahwa itu adalah suara Ima yang sdang merintih. Pada awalnya aku tidak berfikir yang aneh-aneh, karena Ima sedang hamil dan suaminya sedang terbang. Aku hanya mengira Ima kenapa-kenapa. Ku cari lokasinya hingga aku yakin kalau suara itu datang dari kamar Ima.

Aku mendekat, dengan pelan, ku tempelkan telingaku di daun pintunya.

Deg.

Ima sedang mendesah, lebih tepatnya desahan kenikmatan. Aku semakin penasaran. Senjataku perlahan menegang meskipun hari ini Rahma dan Ani telah menguras isinya. Dengan sangat pelan ku buka pintu kamarnya. Hm, tidak terkunci. Begitu celah terbuka, aku terkejut mendapati pemandangan di depanku. Ima berbaring menyamping di ranjangnya dalam posisi membelakangiku. Bugil, kakinya mengangkan dan jilbab lebarnya telah dibuka. Inilah rambut terpanjang yang pernah ku lihat di antara rambut istri dan ipar-iparku Tangan kirinya menyelusup ke depan selangkanyannya sedangkan tangan kananya digunakan sebagai penopang tubuhnya sambil memegangi ponsel. Oh, Ima masturbasi. Ku kerutkan keningku agar mendengar desahnya lebih jelas.

“Shhhhh…..Kaaakkkkhh…..pulanggghhh donkkkhhh……Aaahhhh….Immaaahhh kanggennnhhh……Ohhhh……….”

Hm….kini aku mengerti kasusnya. Libido Ima meningkat drastic karena pengaruh kehamilan. Meskipun si Ima yang tomboy ini telah bermetamorfosis menjadi seorang akhwat, tetap saja gairah yang menggebu bisa membutakan status dan posisinya. Aku ingat Arni pernah mengalami itu. Dia pernah merengek meminta untuk disetubuhi bahkan pernah sampai empat kali sehari. Hm…Sepertinya Ima juga mengalami ini. Ku perbaiki posisi mengintipku. Dari celah tangannya yang terbuka ku lihat foto suaminya yang tak berbaju terpampang jelas di layar ponsel. Ah, bentuk badannya itu sangat membuatku iri. Perutnya yang kotak dan dadanya yang bidang. Hmm…pasti dia sangat lihai memuaskan Ima. Aku memutar otak. Hasratku untuk ‘memakai’ Ima menjadi semakin besar. Apa yang harus ku lakukan?

Aha! Aku ada ide. Dengan segera aku pergi ke gudang mencari balok kayu.

Kreeekkkk…..

“Aahhhh…..”

Aku masuk dengan cepat sambil membawa balok serta memasang muka panic seolah-olah ada kejadian serius. Ima pun langsung reflek menenggelamkan dirinya di balik selimut.

“Ima….Kamu gak pa-pa? Mana malingnya?” Kataku agak berteriak tapi dengan suara ditahan. Ima yang telah tertutup selimut hanya diam.

“Maaf, tadi aku denger kayaknya ada suara yang masuk ke kamarmu. Ku kira itu maling” sambungku. Ima diam saja. Aku menghela nafas lalu keluar dari kamarnya. Tidak lama kemudian aku kembali dan membawakan segelas air putih, tentunya dengan dua tetes di dalamnya.

“Maaf udah bikin kamu kaget….Ini ku bawakan air putih. Aku mau keluar dulu. Minum airnya trus langsung tidur, ya?”

Aku keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai dua mencari balkon untuk menikmati angina malam. Aku duduk selonjoran di balkon sambil membaca status BBM kontakku. Mataku tertuju ke DP BBM Kak Umi yang baru saja berganti. Hm, berarti kak Umi belum tidur, atau setidaknya baru bangun. Gambar DP nya hanyalah sebuah tulisan berwarna hitam dengan latar merah. Tulisannya agak menarikku untuk membacanya:

ENGKAULAH YANG TERBAIK UNTUKKU, KU BERIKAN YANG TERBAIK UNTUKMU, SETIDAKNYA BERIKANLAH JUGA YANG TERBAIK DARIMU

Entah apa maksud Kak Umi dengan gambar DP nya, tetapi yang pasti dia sedang curhat. Lebih baik ku komentari saja gambar DPnya.

Yang Terbaik Pasti Akan Bertemu dengan Yang terbaik. Belum tidur, Kak?
Tidak lama aku menunggu, ponselku langsung bergetar. Hm, rupanya Kak Umi memang tidak tidur.

Belum tidur. Lagi nanggung
Wah menarik nih.

Nanggung apanya? Emang Kakak Lagi Kerja?
Bukan kerja. Tapi dikerjai
Wahh…..Enak donk.
Tiba-tiba senjataku mengeras lagi membayangkan rintihan Kak Umi ketika sedang dalam kendaliku.

Enak Dari Hongkong (disertai Emoji menangis) orang lagi nanggung dibilangin enak.
Nanggung maksudnya? Kakak belon puas?
Agak lama pesanku hanya ditandai ikon R tanpa ada balasan. Daripada bosan menunggu lebih baik aku buka Instagram periksa timeline sekaligus stalking Instagramnya Rahma. Tidak ada foto sama sekali di instagramnya, kecuali hanya gambar-gambar yang berisi pesan-pesan agama. Ah, entah mengapa membayangkan Rahma membuatku terjebak antara syahwat dan kasihan. (Mengapa harus ada syahwa dan kasihan? Nantikan di Thread khusus Rahma – kalo sempat ).

Drrttt……Kak Umi lagi.

Iya. Belum….baru jalan sekitar 6 menit Dia udah K.O
Wah…..pastinya gak enak tuh, Kak
Iya…..
Ku tarik nafas panjang, ku timbang-timbang sejenak, lalu ku ketikkan pesan ini dengan dada berdebar.

Hmmm….Seandainya aku ada di situ, biar aku yang muasin kakak….
Tidak ada balasan. Ku lancarkan lagi seranganku.

Biar kakak teler…….
Tetap tidak ada jawaban.

Sampe kencing-kencing…….
Masih tidak ada jawaban, hingga kemudian, ada balasan dari Kak Umi.

Mau donk, hehehehe……
Wow…..Juniorku langsung menegang setegang-tegangnya. Dengan bergetar dan dada berdebar, ku balas BBM nya.

Aku juga mau. Mau netek sama kakak…..
Ohhhhh….pasti nikmat tuh…..
Trus aku juga mau jilatin itunya kakak
Itu apaan?
Memek
Aduh, aku basah lagi nih, Kang. Kamu musti tanggung jawab.
Tanggung jawab gimana?
Ya, tanggung jawab pokoknya
Tanggung jawab bagaimana? Kakak mau diapain?
Ya, begitulah pokoknya.
Begitu gimana? Mau ku entotin?
Agak lama, aku menunggu jawaban, hingga kemudian ponselku bergetar lagi.

Kang. Tadi baca BBM kamu aku orgasme
Wow…..luar biasa kakak iparku ini. Senjataku sudah semakin tegang, ketika ku dengar suara lembut dari belakangku.

“Kang…..”

“Eh…?”

Ima berdiri di belakangku dengan muka sendu. Jilbab lebarnya kini telah kembali menutupi rambutnya yang panjang.

Bersambung

END – Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17 – END

(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16)Sebelumnya | Selanjutnya(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 18)